Pagi ini aku berangkat ke kantor dengan perasaan setengah santai, setengah waswas. Santai karena acaranya nggak sebesar tahun lalu, waswas karena pengalaman mengajarkanku satu hal: acara kantor jarang berjalan benar-benar sesuai rencana. Dan benar aja, hari ini banyak kejutan kecil yang layak dikenang.
Aku sedikit bersyukur karena di perayaan HUT perusahaan tahun ini, nggak segedebak-gedebuk tahun lalu. Walaupun yaaah, di H-1 aku tetap repot dan terpaksa lembur juga sih karena ada beberapa hal yang perlu kupersiapkan untuk ditampilkan lewat presentasi Power Point. Kenapa nggak dipersiapkan jauh-jauh hari? Well, beberapa hari sebelumnya aku udah bertanya sama rekan kerjaku, bakal ada yang ditampilkan nggak? Beliau jawab, nggak ada. Katanya aku hanya perlu mempersiapkan slide show Power Point yang biasa ditampilkan untuk ceremonial meeting bulanan aja. Eh, benar aja. H-1 beliau baru ngasih instruksi ini itu :')
Singkat cerita, tibalah hari keberangkatan. Sekitar jam setengah delapan pagi, aku dan adikku, Hardi, tiba di kantor. Dan rupanyaaa, kami hampir aja telat. Mas Dian, Office Boy kantor baru aja mau menutup gerbang kantor sebelum aku keburu mencegahnya. "Mau ambil laptop dulu, Mas", ucapku sambil berlari masuk. Aku pun bergegas naik ke lantai dua, menuju ruang kerjaku. Lorong kantor udah gelap semua waktu itu. Setibanya di depan pintu ruang kerjaku, aku baru sadar bahwa pintu ruangan itu udah dikunci oleh Mas Dian. Akhirnya aku terpaksa turun lagi deh untuk minta kunci.
Haahh, boro-boro mau ngecek ulang hasil presentasi Power Point yang kemarin kubuat, sempat ngeprint form absensi manual dan ambil barang-barang yang perlu dibawa aja udah syukur banget.
Setelah mengambil laptop dan segala hal yang perlu dibawa, aku pun bergegas melompat ke jok belakang motor Hardi, lalu menuju lokasi di mana acara akan digelar. Aku bertugas mengawasi Google Maps dan mengarahkan Hardi mengenai rute perjalanan kami.
Perjalanan terasa jauuuuh banget. Aku nggak tau juga sih apakah memang sejauh itu, atau karena kami kelewat satu belokan gara-gara aku telat kasih tau Hardi. Wkwkwkwkwk. Intinya gara-gara itu, kami jadi lewat jalan perkampungan dan selebihnya sawah-sawah yang cukup sepi sama kendaraan lewat gitu.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari setengah jam, kami pun tiba di Salaka Land. Kami pun memarkirkan kendaraan di tempat yang udah disediakan. Dari situ, kami perlu berjalan lagi menaiki puluhan anak tangga buat tiba di resto tempat acara digelar. Di sana, udah lumayan banyak juga yang hadir. Beberapa bahkan udah ada yang duduk santai sambil menyesap kopi.
Aku langsung mencari meja yang dekat dengan stop kontak. Maklum, baterai laptopku udah harus banget diganti. Alhasil laptopku nggak bisa nyala kalo nggak dicolok. Di situ aku ngecek ulang file Power Pointku, juga memastikan musik-musik yang udah dipersiapkan bisa diputar. Cukup lama juga aku berada di situ bareng rekan-rekan lainnya. Ada yang ngopi, ngeteh, merokok, ada juga yang menikmati singkong dan ubi rebus yang disajikan panas-panas di atas nampan bambu oleh pihak resto. Padahal berdasarkan rundown acara, harusnya saat itu aku udah naik ke lantai tiga buat memutar musik sambutan. Tapi sayangnya saat itu perlengkapan sound belum siap.
Sekitar jam sembilan, aku naik ke lantai tiga bersama Viona. Kami ikut nimbrung Pak Ikin dan Pak Dicky yang sedang mempersiapkan sound dan layar LED. Kami juga bekerjasama untuk menempelkan nomor urut tempat duduk di atas rumput sintetis yang nantinya akan jadi tempat lesehan kami sepanjang acara berlangsung. Pihak resto juga udah mempersiapkan beberapa lembar daun pisang yang ditata melingkar, karena nantinya kami akan menikmati hidangan dengan cara bancakan. Tujuannya adalah agar kami bisa berbaur dengan rekan-rekan yang lain, nggak terpisah-pisah sama geng atau circle masing-masing.
Setelah selesai menempelkan nomor urut tempat duduk dan memutar musik, aku dan Viona pun turun ke halaman. Di sana, rekan-rekan kami udah berkumpul untuk melakukan sesi bakar dokumen. Hah, bakar dokumen?
Iya. Ini adalah acara simbolis untuk menegaskan bahwa kami akan beralih dari cara kerja konvensional ke cara digital. Nggak ada lagi arsip dokumen bertumpuk di gudang yang berpotensi rusak dimakan rayap. Sebagai gantinya, sebagian besar pekerjaan kami akan didukung aplikasi berbasis web, dengan harapan operasional kantor akan lebih efisien.
Kami berbaris rapi sambil masing-masing membawa satu dokumen lama di tangan. Lalu satu persatu dari kami maju, mengucapkan sepatah dua patah kata, sebelum akhirnya memasukkan dokumen ke dalam perapian. Setelah itu, kami menandatangani spanduk acara dengan spidol hitam sebagai bukti bahwa kami telah menyetujui perubahan ini.
Setelah sesi pembakaran dokumen, kami semua naik ke lantai tiga untuk memulai acara perayaan HUT. Acara dibuka dengan pembacaan doa, dilanjut menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars perusahaan bersama-sama. Jujur, saat itu aku khawatir banget lagu yang diputar bakal putus-putus, karena selama persiapan sound tadi, laptopku terkendala dengan koneksi ke speaker bluetooth yang udah dipersiapkan. Entah karena posisi yang terlalu jauh, atau gimana, aku juga kurang paham. Tapi alhamdulillah, kekhawatiranku nggak benar-benar terjadi.
Meskipun begitu, tapi masalah musik yang putus-putus ini tetap kualami juga. Entah kenapa koneksi speaker bluetooth ke laptopku itu putus-nyambung, sehingga musik yang kuputar berhenti, tapi kemudian speaker memainkan lagu yang sama sekali nggak ada di playlistku. Besar kemungkinan speaker bluetooth itu otomatis tersambung ke perangkat lain. Mana lagunya aneh-aneh pula. Viona udah berkoar-koar kepada para peserta untuk mematikan bluetooth di perangkat mereka masing-masing, juga memastikan pihak resto melakukan hal yang sama. Tapi yah, entah kenapa tetap seperti itu.
Selain itu, saat tiba waktu untuk sesi undian doorprize, aku sempat panik karena kantong plastik hitam tempat aku menaruh nomor-nomor undian, hilang entah ke mana. Aku merogoh tasku, juga tas laptopku. Aku berjalan berkeliling mencari keberadaan kantong plastik itu, bolak-balik lantai tiga ke lantai satu, bahkan dua kali menyisir halaman di mana kami bakar dokumen tadi, hasilnya tetap nihil : plastik hitam itu nggak ketemu juga. Sementara Pak Imam udah ngomel-ngomel. Saat aku kembali ke lantai tiga dengan hopeless, tiba-tiba Viona melemparkan benda yang kucari-cari itu ke tanganku. Rupanya benda yang kucari itu terselip di antara barang-barang bawaan kami. "Thank you for saving my life", ucapku padanya, yang dia balas dengan cibiran meledek.
Singkat cerita, sesi undian doordprize pun dimulai. Pembagian doorprize ini nggak serumit undian tahun lalu yang bergantung pada banyaknya kupon prestasi. Tahun ini, MC cukup mengundi beberapa nomor, memanggil para pemilik nomor tersebut, lalu meminta para pemilik nomor untuk mengambil satu gulungan kertas dalam akuarium. Siapapun yang mendapatkan gulungan kertas berisi tulisan hadiah, dia berhak atas hadiah itu. Sedangkan pemilik nomor yang mengambil gulungan berisi tulisan yang menyatakan ketidakberuntungan, yaa dengan terpaksa harus pulang dengan tangan hampa. Aku alhamdulillah mendapatkan satu unit lampu emergency 😆
Menjelang sore, hujan turun. Awalnya hanya berupa rintik-rintik, tapi kemudian menderas hingga lantai tiga yang berupa ruangan semi indoor itu tempias. Aku pun bergegas mengamankan laptopku agar nggak basah. Pak Ikin, Pak Dicky, dan kru lainnya juga segera mengamankan LED, speaker, kabel-kabel, juga makanan biar nggak mandi mendadak.
Karena hal itu, sepanjang sisa acara, kami nggak lagi pakai slide show PowerPoint dan lagu dari laptop. Lagu pengiring kami play dari Youtube di HP aja, sementara pengumuman prestasi karyawan terbaik dan reward karyawan terloyal hanya disampaikan secara lisan melalui MC. Daaan itu artinya, file PowerPoint yang kubuat kemarin sampai lembur di kantor itu percuma, nggak kepakai 🥲
Setelah pengumuman karyawan terbaik dan terloyal, acara dilanjut dengan tukar kado. Sebelumnya seluruh peserta diminta untuk menyiapkan kado senilai minimal sepuluh ribu rupiah yang dibungkus dengan kertas polos warna coklat. Aku menghadiahi sebuah wadah pulpen dari kain dan 15 buah pulpen dengan bentuk-bentuk unik. Sebenarnya aku berharap penerimanya adalah orang staf, mengingat staf adalah orang-orang yang paling sering menggunakan sekaligus kehilangan pulpen. Tapi ternyata yang mendapatkannya adalah sales. Aku sendiri mendapatkan sebuah steker T 3 lubang. Entah apa hubunganku dengan steker T 3 lubang. Jujur, ini kedua kalinya aku mendapatkan benda itu dari acara tukar kado 🙃
Setelah tukar kado, Viona dibantu Mbak Eka, sekretaris direksi, untuk membagi-bagikan souvenir berupa tumbler kaca dengan logo tema acara hari ini. Di dalam tumbler itu juga ada kejutannya. 3 peserta beruntung mendapatkan voucher uang yang bisa ditukarkan ke kasir, dan beberapa peserta apes mendapatkan kertas yang berisi "hukuman" untuk memainkan games. Alhamdulillah, aku menjadi salah satu peserta yang beruntung. Wkwk.
Acara gathering akhirnya ditutup dengan doa dan berfoto bersama. Tadinya sih mau ada acara berenang dan main game di air, tapi karena hujan, acara itu terpaksa dibatalkan. Tapi panitia nggak melarang kalo pun ada peserta yang mau berenang.
Hujan masih rintik-rintik ketika kami pulang, dan perjalanan terasa mencekam. Gimana enggak? Udahlah hujan, magrib, lewat area pesawahan yang sepi dan tanpa penerangan pula. Meski merinding dengan suara serangga dan kodok sawah yang terdengar nyaring sepanjang area pesawahan yang kami lewati itu, jujur kami lebih takut lagi kalo-kalo ada begal atau celaka di jalan karena kondisi jalan yang benar-benar gelap.
Setelah melalui jalan-jalan dengan suasana sepi mencekam, rasanya lega banget saat kami masuk ke area jalan besar yang banyak dilalui kendaraan. Hujan rupanya turun merata, karena wilayah kota sama basahnya. Bahkan kawasan Mohammad Toha yang biasanya ramai banget sama para pemburu kuliner terlihat sepi. Saking sepinya, aku dan Hardi sempat kaget saat melihat seorang tukang pria dengan jas hujan warna putih menutupi badannya dari ujung kepala hingga kaki, tengah berdiri diam di sebelah gerobak salah satu pedagang. "Kirain pocong", ucap adikku yang segera kuiyakan. Sumpah, rasanya mak 'deg' gitu lho, kayak dapat jumpscare. Lagian kok ngide banget pakai jas hujan warna putih yang kontras banget sama warna kulit dan gelapnya malam 🥲
Well, meski penuh drama kecil, salah teknis, dan deg-degan, gathering tetap menyisakan kesan. Bukan karena acaranya sempurna, tapi karena dijalani bersama. Kadang yang paling diingat bukan rundownnya, tapi momen-momen absurd di antaranya.



- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact