Senin, 22 Desember 2025

Belajar Jadi Ibu di Hari Ibu

Hari ini pertama kalinya aku menghadiri rapat orangtua murid sekaligus pembagian rapot. Dan selalu ada rasa gugup dalam setiap "pertama kali" yang kualami. Dan gugup yang ini membuatku cukup deg-degan, sama seperti saat mendaftarkan Fathian sekolah bulan November lalu, karena ini artinya aku akan bertemu dengan para wali murid, bertemu orang-orang baru. Ya, walaupun Fathian baru resmi masuk bulan November lalu, aku tetap diminta hadir. Jadwalnya pun sempat berubah-ubah: awalnya tanggal 23 Desember, lalu dimajukan ke tanggal 22, dan jamnya ikut geser dari 09.00 ke 08.00. 

Setelah aku antar Fathian ke kelas, aku langsung masuk ke office. Di sana baru ada satu orangtua. Ia duduk paling belakang, dekat pintu masuk.  Sebagai seseorang yang sulit berinteraksi dengan orang baru, sebenarnya hati nuraniku udah teriak-teriak untuk ambil tempat duduk di depan. Bodohnya, aku malah memutuskan duduk di samping orangtua murid itu setelah sebelumnya memastikan kursi itu nggak ada yang punya. Aku sempat berbasa-basi tipis khas orangtua murid. Dari situ aku tahu kalau beliau mama dari salah satu murid kelas A-Besar, yang juga merupakan koordinator para orangtua murid kalo ada patungan atau acara gitu. Tapi ya gitu, nggak ada obrolan yang mengalir di antara kami, meskipun aku mencoba memancingnya dengan satu-dua pertanyaan. Yah, mungkin dia juga canggung, sama sepertiku.

Nggak lama, datang satu mama lagi dan duduk di sebelahku, yang setelah basa-basi lagi (iya, lagi), diketahui bahwa beliau adalah mamanya Dani, murid kelas A-Kecil, teman sekelas Fathian.

Karena Dani ini teman pertama Fathian, aku langsung semangat cerita kalau Fathian senang main sama anaknya. Aku juga cerita bahwa setiap kali ditanya siapa nama teman-temannya di sekolah, Dani adalah nama yang paling pertama Fathian sebut. Dalam hati, aku berharap bisa sekalian dapat teman juga. Tapi respons mamanya… ternyata yaa biasa aja. Datar. Aku yang keburu berharap malah jadi nggak enak sendiri. Wkwk. Ya sudahlah, hidup terus berjalan. Tapi karena aku merasa awkward dan nggak enak sendiri, akhirnya saat ada kesempatan untuk pindah tempat duduk, aku memutuskan pindah ke tempat duduk yang sedikit jauh dari mereka. Harusnya kuturuti aja apa kata hati nuraniku tadi ya 😅

Rapat pun dimulai. Miss Putri, salah satu staf sekolah, menyampaikan beberapa hal penting. Kepala Sekolah yang sekarang, Ibu Madyawati, udah selesai masa tugasnya. Sementara itu, Ibu Maria—yang sebelumnya aku kira beliau adalah Kepala Sekolah—akan resign untuk fokus ke kegiatan lain. Untuk Kepala Sekolah baru, masih belum diputuskan.

Miss Put juga menjelaskan kalo di sekolah Fathian ini nggak ada pelajaran calistung. Anak-anak benar-benar “dibiarkan” main, bereksplorasi, dan berkegiatan dengan fokus melatih motorik serta kemampuan bersosialisasi. Jujur, di titik itu aku sempat galau. Kukira PAUD mengajarkan calistung dasar. Aku sempat mikir, jangan-jangan aku salah masukin Fathian ke sekolah ini? Aku khawatir pas masuk TK atau SD nanti, Fathian keteteran mengejar pelajaran. Tapi Tuhan baik banget. Secara kebetulan, aku nemu diskusi di Threads soal “PAUD vs Bimba vs TK”. Aku ikut nimbrung, baca-baca, dan dapat insight yang lumayan menenangkan. Dari situ aku baru tau bahwa PAUD memang nggak mengajarkan calistung, beda sama Bimba.

Salah satu pengguna bilang, keputusanku masukin anak ke PAUD itu justru tepat. Di sini anak bisa eksplor banyak hal, melatih jari sebelum benar-benar siap pegang alat tulis, dan menyalurkan energi. Sedangkan Bimba bisa menyusul nanti, di usia lima tahun. Setelah baca itu, rasanya kayak ditepuk pundaknya sambil dibilang, “Tenang, kamu nggak salah jalan kok.”

Singkat cerita, rapatnya sendiri ternyata nggak sampai dua puluh menit. Setelah rapat selesai, baru deh masuk ke acara pembagian rapot. Aku sempat bingung sistem pembagiannya kayak gimana. Tapi melihat para orangtua murid yang menunggu di luar kelas, aku ikut aja. Rupanya kami dipanggil satu per satu sesuai kelas.

Akhirnya Ibu Satina, wali kelas Fathian memanggilku. Karena Fathian baru masuk November, Ibu Satina bilang beliau belum bisa melihat potensi anakku itu secara utuh. Fathian masih sering malu-malu, dan kadang menolak melakukan beberapa aktivitas, misalnya menempel gambar pakai lem, atau latihan toilet training.

Tapi bukan berarti nggak ada kabar baik. Menurut beliau, Fathian punya rasa ingin tahu yang tinggi. Ia suka mengamati, bisa fokus saat mewarnai atau membentuk sesuatu dengan pasir. Sementara yang perlu dikembangkan adalah pengenalan tekstur, yang dinilai masih kurang.

Selesai pembagian rapot, aku dijemput Mas. Tadinya aku mau langsung berangkat ke kantor, tapi karena sebelumnya aku udah ijin ke kantor sampai jam sebelas siang, jadi rasanya sayang banget kalo sisa waktunya nggak kumanfaatkan untuk menjemput Fathian pulang sekolah. Akhirnya aku pun memutuskan pulang dulu.

Oiya, berapa waktu setelah pulang dari acara bagi rapot itu, mamanya Dani pamit di grup chat wali murid, bilang bahwa Dani memutuskan nggak melanjutkan sekolah di sana. Aku tentunya nggak tau apa alasannya, tapi entah kenapa aku merasa sedikit sedih, mengingat teman pertama anakku ini pamit. Ketika aku menceritakan hal itu ke Fathian, responnya biasa aja, bahkan tampaknya nggak peduli. Mungkin Fathian belum ngerti perpisahan ya. Meski begitu, bukan nggak mungkin di sekolah nanti Fathian bakal tanya, "Mana Dani?" 

Long story short, akhirnya tiba waktunya Fathian pulang sekolah. Kondisi sekolah sepi waktu itu, tapi masih ada suara anak-anak di dalam kelas. Di depan pintu kelas, aku bertemu Bu Dhedo. Beliau pun memanggil Fathian ke luar. Saat melihatku, mata anak itu berbinar. Ia tersenyum sumringah dan berseru, "Mama!"

Uuh, meleleh banget rasanya hatiku melihat Fathian yang sehappy itu : bilang "mama" berulang-ulang, dengan senyum yang terus mengembang. Mungkin karena ini bisa dibilang momen langka, baik untukku, ataupun Fathian, mengingat selama ini aku selalu jadi bagian yang mengantar dan meninggalkan Fathian di sekolah, sedangkan menjemput Fathian pulang sekolah menjadi tugas papanya.

Jujur, pulang dari acara bagi rapot tadi membuat perasaanku campur aduk banget. Hari ini Hari Ibu. Nggak ada bunga, nggak ada ucapan khusus. Tapi duduk di depan wali kelas anakku, mendengar cerita tentangnya, dan melihat senyum anakku saat aku menjemputnya tadi rasanya cukup menenangkan hati. Terima kasih udah tumbuh sejauh ini ya, Nak. Mama bangga banget sama kamu ❤️

2 komentar:

T I F A N N Y mengatakan...

Wah baru baca dan baru update kabar terbaru Fathian. Sudah sekolah yaaa keren lho sudah fokus mewarnainya.

Yg kamu rasain itu jg kurasain oas awal sekolahin Bening. Selama ini aku bener2 terlalu membebaskan Bening. Ngga pernah ngajarin baca meski ada tetangga yang seusia Bening uda belajar baca malahan pakai metode phonetic. Tapi ternyata pas di PAUD rasanya cara carakku di rumah justru sejalan. Anak bener2 eksplorasi sesuatu dgn cr main sepuasnya tapi tetap terarah.

Semangat terus ya Fathian. Mama Vidia keren sekaliii

Oh iya btw soal basa basi wkwk aku juga sering merasakan hal yg sama. Sering kali aku ada di posisi itu. Niatnya pngn ngobrol luwes tp ternyata ngga semua orng bisa menyambutnya. Ya bagus sih mereka uda netapin bounderies dari awal 🤣🤣

Putri Vidialesta mengatakan...

Makasih banyak, Tif. Hu'um, ternyata momen ambil rapot tuh bikin campur aduk ya :') Makasih juga udah sharing soal Bening, juga pengalamanmu soal basa-basi. Wkwkwk. Entah kenapa aku merasa lega karena ada yang relate. Kemarin itu aku terlalu overthinking. Padahal nervous pas ketemu orang baru di lingkungan baru kan wajar ya. Cara didik kita ke anak juga nggak perlu sama kayak orang lain.

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

 
;