Rabu, 03 Mei 2017 2 komentar
Hari ini benar-benar kusut. Lagi-lagi aku melakukan kesalahan dalam perhitungan kompensasi Sales dan Pramuniaga. Sore tadi, setelah para tenaga Marketing menerima hasil jerih payah mereka selama satu bulan, salah satu dari mereka menghampiriku dan mengajukan protes karena nominal uang yang diterimanya kurang. Memang sih, dia nggak marah, toh kekurangan itu bisa ia terima setelah aku mengajukan Berita Acara Revisi Perhitungan Kompensasi kepada Bapak Kepala Cabang. Tapi tetap aja aku merasa nggak enak. Apalagi ia berkata bahwa saat ini ia benar-benar butuh uang.

Setelah aku telusuri, ternyata kesalahan itu terjadi karena input rumus fungsi yang nggak sesuai. Aku sendiri nggak ngerti kenapa itu bisa terjadi karena sebelum Laporan Perhitungan Kompensasi Marketing itu aku serahkan kepada Staff Akunting, aku udah yakin kalo apa yang aku kerjakan itu udah benar semua. Apalagi laporan itu pun melalui beberapa tahapan dulu sebelum akhirnya ditandatangani Kepala Cabang dan uangnya cair. Hal ini benar-benar bikin mood-ku berantakan. Bukannya apa-apa. Aku bukan cuma nggak enak sama Sales yang bersangkutan, tapi juga sama Bapak Kepala HRD selaku atasan langsung. Aku juga malas kalo harus mendengar ocehan Bapak Kepala Akunting. Beliau paling cerewet, apalagi kalo ada revisi-revisi kayak gini. Lebih-lebih kalo dia pun menyalahkan anak buahnya karena dinilai kurang teliti memeriksa hasil pekerjaanku. Entah apa yang akan terjadi besok. Semoga nggak seburuk yang kupikirkan.


***

Hari ini pula dua orang tenaga Marketing dari showroom cabang mengajukan pengunduran diri mereka. Sore tadi, menjelang jam pulang, mereka menemuiku untuk mengambil dokumen jaminan mereka—ijazah asli—sekaligus pamit. Nggak tau kenapa, kok aku rada sedih ya sama kepergian mereka? Anyway.. salah satu dari mereka adalah One Ok Rocker juga, sama sepertiku. Sedangkan satu orang lainnya bukan One Ok Rocker, tapi well, entahlah.. setiap kali melihat matanya, aku seakan melihat tatapan yang bersahabat. Aku menyesal karena selama kami sama-sama bekerja di perusahaan ini, kami belum sempat berteman akrab dan ngobrol seru, meskipun rasanya sangat ingin. Nggak tau kenapa, aku merasa mereka berdua adalah orang-orang yang mungkin banget dijadikan teman baik. Haaaahh.. if only they know how I wanna hug them before they go. Will we be good friends, someday?
Senin, 24 April 2017 0 komentar

Deep Web

Aku selalu tertarik pada hal-hal berbau misterius. Apapun itu, mulai dari yang nyata sampai yang gaib, rasional maupun irasional. Seperti misalnya tentang alien dan UFO, misteri Segitiga Bermuda dan blackhole, foto-foto misterius yang terekam Google Earth, astral projection, kisah-kisah mistis dan urban legend, psikologi manusia, dan lain-lain, termasuk yang lagi banyak disebut-sebut di sosial media saat ini : Deep Web.

Berawal dari hobiku menonton film-film gore—film-film yang banyak menampilkan adegan sadis dan berdarah-darah. Pertama kali aku menonton film jenis ini adalah sekitar tiga tahun yang lalu, yakni saat adikku menyimpan film House of Wax di notebook. Awalnya kukira film hantu, eh nggak taunya film psikopat yang penuh dengan adegan penyiksaan dan pembunuhan. Memang, rasanya ngeri dan ngilu melihat adegan-adegan itu. Tapi lama kelamaan aku pikir, kok seru ya, dibanding nonton film hantu-hantuan. Lebih dapet aja gitu tegangnya. Sejak saat itu, aku malah jadi addicted sama film-film gore. Aku nggak peduli sama nasehat adikku untuk nggak terlalu sering nonton film-film semacam itu. Toh, memang nggak sering kok. Film-film gore di laptopku pun nggak sampai dua puluh, dan itupun hanya sekelas Final Destination, The Brain Man, I Saw the Devil, Rumah Dara, Pintu Terlarang, The Lesson of the Evil, dan Belenggu, belum sekelas The Human Centipede yang dilarang tayang karena konon terlalu disturbing.

Suatu hari, adikku memperkenalkanku pada sebuah nama : Deep Web.
"Coba cari di Youtube deh, banyak gambar-gambar greget, " katanya waktu itu.
Aneh memang adikku yang satu itu. Dia melarang kakaknya ini untuk menonton adegan-adegan sadis, tapi dia juga ngasih 'jalan' untuk menonton lebih banyak lagi.


Kemudian aku carilah Si Deep Web di Youtube, seperti yang disebut-sebut adikku. Awalnya kukira Deep Web itu semacam nama fanspage, nama akun Youtube, atau nama sebuah web, tapi rupanya aku salah besar. Aku sempat berharap keyword 'Deep Web' yang kumasukkan di kolom pencarian Youtube akan mengantarku ke deretan video-video 'menarik', tapi nyatanya yang aku temukan justru video-video yang menampilkan foto-foto aneh (creepy lebih tepatnya) dan juga penjelasan apa itu Deep Web.

Deep Web merupakan bagian dari World Wide Web namun nggak termasuk dalam web-web yang dapat dicari dengan mudah dengan search enginee seperti Google, Yahoo, dll. Dengan kata lain, kita nggak bisa mengakses situs-situs tersebut dengan sekedar browsing. Kenapa? Karena Deep Web adalah sarang iblis! Bukan iblis macam jin dan dedemit lho ya, melainkan para pelaku kriminal kelas kakap. Well, untuk informasi lebih jelasnya, silahkan baca Wikipedia atau artikel lain yang khusus membahas tentang ini ya. Bisa panjang kalo aku bahas detail disini, apalagi dengan pengetahuanku yang terbatas. Haha..

Intinya, di Deep Web ini kita bisa menemukan hal-hal gila dan video-video adegan yang biasa kita lihat di film-film gore. Bedanya, adegan di film gore itu settingan, fiktif. Sedangkan yang kita saksikan di Deep Web adalah nyata, benar-benar terjadi, mulai dari pemerkosaan, penyiksaan dan pembunuhan secara live, sampai human experiment. Yang lebih gilanya lagi, dalam live streaming, audience bisa berpartisipasi dengan menyuruh Si Oknum (melalui chat) untuk melakukan penyiksaan kepada korban, dengan bitcoin—mata uang virtual—sebagai bayarannya. Dan nggak hanya itu, di tempat ini pula jual beli narkoba, jual beli organ tubuh, jasa kontrak pembunuh bayaran, prostitusi anak, dan perdagangan manusia dapat dilakukan secara bebas.

Mengerikan kan? Iya, tapi juga bikin penasaran (apalagi buat yang naluri keponya gede kayak aku gini), nggak cukup hanya dengan menyimak penjelasan. Tapi kalaupun aku memiliki kemampuan untuk bisa mengaksesnya, aku memilih untuk nggak melakukannya. Pertama, karena virus-virus komputer yang disebarkan lewat Deep Web itu kelas berat dan nggak bisa disembuhkan, Kedua, karena Deep Web juga merupakan sarang hacker. Memangnya mau data-data di komputer hilang gara-gara dibegal hacker?

Dan sekarang, rasa penasaranku (dan rasa penasaran orang-orang yang juga kepo soal konten Deep Web) sedikitnya terjawab. Belakangan ini udah cukup banyak situs dan akun sosmed yang menampilkan konten-konten Deep Web baik berupa foto atau video, dan semuanya serba creepy, gelap, dan misterius. Yang sering aku temui sih mostly di Instagram, karena aku memang mengikuti beberapa akun yang khusus memposting segala sesuatu yang berbau mistis dan creepy. Video-video tersebut diantaranya adalah video berjudul I Feel Fantastic. Video ini sebenarnya hanya menampilkan sebuah manekin wanita yang bisa bergerak dan bernyanyi dengan suara aneh. Tapi entah kenapa hanya dengan mendengarnya aja, feeling-ku jadi nggak enak. Lalu ada Blank Room Soup yang menampilkan video seorang pria yang tengah memakan sup sambil ditemani dua orang yang mengenakan topeng. Konon, dua orang bertopeng itu adalah para pembunuh yang udah membunuh istri dari pria tersebut, dan sup yang dimakan Si Pria adalah sup yang berisi usus istrinya sendiri. Ada juga sebuah video yang kuduga adalah bentuk dari human experiment. Aku nggak tau apa judulnya, yang jelas video itu menampilkan seorang pria dengan tangan dan kaki terikat tampak memohon (dari bahasanya sih kayak bahasa Thailand). Namun anehnya, lengan Si Pria lebih terlihat seperti kaki. Kukira posisi kaki dan lengan ditukar gitu, tapi ternyata aku salah, karena yang terpasang di posisi kaki justru sepasang kaki hewan (entah kaki kuda, atau kambing). Benar-benar gila!

Selain video-video tersebut, akun-akun tersebut juga menampilkan video-video disturbing diluar konten Deep Web seperti video-video kecelakaan tragis, bunuh diri, penyiksaan, dan pembunuhan sadis, baik itu yang sengaja direkam atau terekam kamera pengawas, dan semuanya ditampilkan tanpa sensor. Dari video-video itu, aku jadi tau bahwa di dunia ini banyak banget manusia-manusia nggak berperasaan dan entah gimana pola pikirnya. Yang paling membuatku geram adalah video seorang remaja laki-laki yang dipukuli oleh beberapa orang yang sebaya dengannya dengan menggunakan kayu. Entah kesalahan apa yang udah diperbuat anak itu, tapi menurutku apa yang dilakukan sama beberapa orang itu sama sekali nggak jantan. Udah keroyokan, pake senjata lagi. Dan mereka melakukannya bertubi-tubi hingga kayu-kayu yang mereka gunakan patah dan Si Remaja tersebut nggak berdaya. Lalu ada video tawuran anak-anak SMA yang mirisnya terjadi di Indonesia (tepatnya di kawasan flyover Pasar Rebo, Jakarta). Video itu menampilkan adegan kejar-kejaran antara siswa-siswa dari sekolah satu dengan sekolah lainnya. Kemudian salah satu dari mereka yang mengenakan hoodie terjatuh di aspal dan menjadi korban serangan anak-anak SMA dari pihak lawan. Parahnya, mereka menyerang dengan menggunakan senjata tajam berupa celurit dengan membabi buta. Nggak puas dengan hanya membacok, mereka juga menendang dan meninju si korban sampai nggak bergerak. Gilaaaa.. Nggak habis pikir aja, kok gini banget ya generasi muda Indonesia. Masalah sepele diperbesar, nyawa manusia seakan nggak ada harganya.

Trus yang nggak habis pikir lagi, para commenters di postingan-postingan itu lho. Kok banyak yang freak, bilang "Mantap banget. Posting yang lebih sadis dong!" atau "Nggak greget banget, Min. Kurang banyak darahnya, jadi kurang keren". What the hell did you mean 'keren', Peps?  Aneh aja, kok bisa-bisanya musibah orang lain seolah jadi hiburan. Ini real lho, bukan adegan film! Yang lebih aneh lagi, ada orang yang seneng disebut psycho, atau bahkan dengan bangga ngaku psikopat. Mana ada psikopat nyadar bahwa dia psycho? Lagian psycho kan penyakit kejiwaan ya. Sakit jiwa kok bangga (=.=')

BTW, semenjak nonton video-video itu nggak tau kenapa aku jadi rada parnoan. Berasa kayak ada yang mengawasi gitu. Udah gitu sering kepikiran yang aneh-aneh. Masuk pom bensin, takut pom bensin meledak; naik motor, takut jatoh; lewatin truk, takut truknya keguling.. begitulah, nggak jauh-jauh sama segala sesuatu berbau death. Am I the only one who feels this way?

Tapi hal positifnya, dengan mengingat itu, aku jadi berpikir bahwa yang namanya kematian itu bisa terjadi dengan cara apa aja dan kapan aja, sehingga bisa lebih waspada dan berhati-hati dalam bertindak. Well, may Allah bless and protect us :)
Senin, 20 Maret 2017 4 komentar

Nyata VS Maya

Beberapa minggu yang lalu, aku sempat dibuat envy berat gara-gara melihat beberapa foto yang diunggah sohibku, Yuda, di akun Facebooknya. Foto-foto itu menunjukkan moment-moment dimana dia lagi have fun sama Teh Tyas (aku biasa memanggilnya Teh Yaz). Well, ini kesekian kalinya dia bikin aku envy. Gimana nggak envy coba? Aku udah lama lhoo kenal sama Teh Yaz, dan udah lama pula punya keinginan buat meet-up sama dia dari jaman ngalay bareng dan geng-gengan gitu, tapi belom kesampaian juga sampai sekarang. Eh, Si Kuda Yuda yang baru kenal malah ketemu Teh Yaz duluan. Udah beberapa kali pula. Dan pas dia tau kalo aku ngiri, dia malah ngakak. Kan kesel..

Dan tercetuslah ide itu : Liburan bareng ke Cibinong dan menemui Teh Yaz.
Saat itu aku pikir, that's not a bad idea. Pasti bakalan seru banget kalo ngumpul sama dua manusia setengah koplak ini.

Tapi sekarang aku jadi bimbang sama ide itu. Aku ragu. Apa iya bakal seru? Apa iya bakal menyenangkan? Kalo mengingat karakterku yang serupa patung bernapas ini sepertinya hal itu hampir mustahil.

Bukannya aku pesimis. Beberapa tahun yang lalu, saat komunikasi antara aku dan teman-teman Facebook-ku masih kuat, aku, Teh Tyas, dan Maya pernah melakukan conference call. Tapi bukannya ngobrol seru, yang terjadi justru aku lebih banyak diam mendengarkan karena bingung mau ngomong apa dan nervous juga. Padahal selama ini kalo chat di Facebook obrolannya selalu seru-seru aja dan nggak pernah garing.

Selama ini aku selalu berharap besar bisa bertemu dengan teman-teman dunia mayaku yang kukenal baik dan klop banget, termasuk Tifanny yang kuharap someday bisa explore bareng surga-surga di atas bumi. Juga mereka yang memiliki kesukaan sama sepertiku, khususnya dalam hal hobi dan selera musik. Iya, kami memang klop ngobrol di instant messenger, tapi apa iya bakal klop juga kalo ngobrol secara nyata? Bisa jadi mereka malah menganggapku garing dan membosankan. Hahaha..

Dulu juga aku sering berpikir, alangkah menyenangkan kalo orang-orang yang memiliki kesukaan yang sama sepertiku itu nggak jauh dari tempat tinggalku. Masih satu kota misalnya, tentu kami akan berteman baik. Tapi apa?
Zezet, salah satu teman MCRmy yang kukenal via Facebook saat jaman My Chemical Romance masih berjaya merupakan orang Cirebon asli dan tinggal disini, tapi sekalipun kami nggak pernah bertemu langsung. Bahkan chatting pun hampir nggak pernah. Lalu ada Yuli, rekan satu perusahaan di tempatku bekerja yang ternyata merupakan seorang One Ok Rockers. Ya ampun, padahal bisa aja kan kami ngobrol-ngobrol seru, diskusi tentang album baru mereka, dateng bareng ke gath, ketemu sama teman-teman baru yang memiliki kesukaan sama juga? Huaaaahh..

Trus aku harus gimana? Lanjutkan, atau urungkan?
Sabtu, 18 Maret 2017 0 komentar

Gangguan Orang Asing

Tadi malam aku benar-benar kurang tidur. Aku baru memejamkan mata menjelang jam satu dini hari karena mengerjakan tugas kantor yang kubawa pulang, kemudian terbangun sekitar jam setengah dua karena terganggu oleh nyamuk dan mencoba buat tidur lagi. Baru beberapa detik mataku terpejam, aku dikejutkan sama suara-suara gaduh di luar. Awalnya sih hanya suara langkah kaki, tapi setelah itu yang terdengar adalah suara orang berbicara. Awalnya kupikir orang yang ngekos di sebelah rumahku sedang mengobrol dengan temannya. Aku cuekin aja. Tapi kok lama kelamaan makin berisik. Nggak hanya suara seseorang berbicara, tapi juga disertai suara gedebak gedebuk, suara nafas, dan erangan.

Akhirnya aku memutuskan buat keluar kamar dan mengecek keadaan di luar lewat jendela ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu, rupanya ibu dan bapak udah lebih dulu keluar kamar dan mengecek keadaan di luar. Pintu depan tertutup, ibuku memandang ke luar jendela, sementara bapak berbicara dengan seseorang—si pembuat gaduh itu.
"Siapa itu, Bu?" tanyaku. Ibu menggeleng nggak tau dengan ekspresi wajah cemas. Si pembuat gaduh itu—laki-laki yang mungkin usianya nggak jauh dari usia bapak—meracau dengan kata-kata yang kurang jelas, seperti orang yang terganggu akalnya. Ia duduk di beranda rumah kami dengan nafas terengah-engah. Bapak memberinya beberapa uang logam dan menyuruhnya pulang, tapi ia menolak. Ia memang sempat berdiri dan hampir meninggalkan rumah ini. Tapi sesampainya di ujung jalan masuk rumahku, ia malah berteriak-teriak, menjatuhkan diri, dan menggelepar di atas jalan beraspal seperti kerasukan. Terkadang ia seperti ketakutan pada sesuatu yang nggak kami lihat dan dengar. Mungkin dia berhalusinasi atau.. entahlah.

Setelah menggelepar, laki-laki itu bangkit dan berjalan cepat ke arah kami sampai hampir menubruk pintu depan. Bapak menahannya dan meminta ibu untuk mengunci pintu. Aku dan ibu yang masih berdiri di ruang tamu benar-benar bingung harus berbuat apa. Kami khawatir sama bapak. Tubuh laki-laki itu lumayan besar jika dibandingkan sama bapakku yang kurus. Lebih-lebih kalo mengingat rumor yang lagi santer belakangan ini tentang pelaku kriminal yang berpura-pura gila. Well, memang sih, keluargaku bukan termasuk keluarga yang bisa dibilang cukup berada dan sangat jauh dari kriteria target perampokan, tapi kan tetep aja khawatir. Mana si om yang ngekos di sebelah rumah malah cuma nonton doang, nggak berbuat apa-apa.

Saking khawatirnya, ibu sampai menelpon Pak RW dan Wak Apip—kakak kandung bapak yang kebetulan masih tetangga. Namun respon yang kami terima dari Pak RW sungguh mengecewakan.
"Cuekin aja, Bu", gitu katanya. Gimana nyuekinnya coba? Meresahkan gitu. Sementara Wak Apip datang dengan membawa pentungan kayu. Yah, nggak bermaksud menyakiti sih, buat jaga-jaga aja kalau-kalau terjadi hal yang nggak diinginkan.

Tiga orang membujuk laki-laki itu pergi : Bapak, Wak Apip, dan A' Maman—sepupuku, tapi nggak berhasil. Laki-laki itu tetap bersikeras untuk tetap disitu. Takut anjing, katanya, padahal nggak ada apa-apa. Wak Apip dan A' Maman nyerah duluan, dan lagi-lagi bapak harus menghadapi laki-laki itu sendirian. Tapi untungnya sih dia nggak ngamuk-ngamuk lagi, sehingga setelah dirasa aman dan yakin bahwa laki-laki itu nggak berbahaya, kami pun meninggalkan dia di luar rumah. Waktu itu jam menunjukkan hampir jam setengah empat dini hari, kami baru bisa kembali ke kamar masing-masing.

Laki-laki itu baru mau pergi ketika pagi datang. Haaahh.. syukurlah. Semoga besok-besok nggak ada lagi hal-hal menegangkan kayak gitu. Seriously, semenjak kejadian semalam itu, aku jadi trauma kalo melihat pintu depan yang dibiarkan terbuka saat hari udah gelap. Entahlah.. Serem aja kalo keinget gimana laki-laki itu berjalan cepat ke arah pintu. Mungkin besok-besok akan lebih baik kalo didepan rumah dibangun pagar, biar lebih aman.
Jumat, 20 Januari 2017 5 komentar

ONE OK ROCK : Ambitions

Well, I know it's quite late buat mengulas album terbaru dari grup band yang super-duper-gile-bener ini. Album bertajuk Ambitions ini resmi rilis pada tanggal 11 Januari 2017 lalu, tapi aku baru sempat mengulasnya sekarang. Aku yakin teman-teman One Ok Rockers semuanya udah memiliki album ini dalam genggaman masing-masing baik dalam bentuk album fisik, MP3 file, ataupun album bajakan *eh* :v

Sebenarnya sih udah cukup lama aku nggak update info tentang One Ok Rock, termasuk perihal rilisnya album Ambitions ini. Bukan karena aku udah resign jadi penggemar mereka, tapi karena nggak sempat. Apalagi belakangan ini aku udah jarang banget buka medsos. Album ini pun mungkin belum sampai ke tanganku sekarang kalo aja Tifanny nggak berbaik hati membaginya padaku hari itu.

Jum'at, 13 Januari 2017, sohibku yang nun jauh di Magelang itu menyapaku via Line. "Vidiaaaa.. sudah dapat belum album barunya OOR?" katanya. Nggak cuma nanya gitu doang, dia juga menyertakan download link. Yah, da kita mah apa atuh, cuma bisa dapetin yang ilegal. We are so sorry, Bang Tak, Bang Tor, Bang Tom, dan Bang Ryota :'v

Singkat cerita, keesokan harinya album Ambitions udah masuk kedalam music playlist di laptopku, baik yang International Version maupun yang Japanese Version. Luar biasa memang band yang satu ini. Bikin dua versi album lho. Jadi inget Nidji pas baru muncul dulu. Album debut mereka yang bertajuk Breakthru' itu kan dibuat dua versi, yakni versi Indonesia dan versi Inggris. Gimana aku nggak jatuh cinta coba?

Oke, lupakan soal Nidji. Aku bukan lagi mau bahas mereka. Hahaha..

Begitu dapat albumnya, aku langsung play lagu-lagu di album itu pakai Winamp. Sementara kupingku menikmati musik mereka, jari-jariku menari di atas keyboard (tugas kantor yang rutin kubawa pulang tiap weekend : membuat pengajuan Tunjangan Operasional Sales). Waktu denger album ini untuk pertama kali, honestly rasanya agak kecewa. Aku merasa mereka agak berbeda, kayak bukan One Ok Rock yang selama ini aku kenal. Gimana enggak? Album ini didominasi sama suara-suara keyboard dan synth, bukan raungan gitar Toru yang biasa kita dengar di album-album One Ok Rock yang sebelumnya. Gebukan drum Tomoya juga terasa kurang bandel di album ini. Rasanya kayak ada yang hilang aja. Apalagi kalo dengar album International Version-nya. Gosh! Sooooo Americanized, karena keseluruhan lagunya berbahasa Inggris. Tapi lama kelamaan, kupingku bisa beradaptasi juga. I swear it, kalo lagu-lagu dalam album ini adalah obat-obatan, aku pasti udah over dosis.

Now, let's talk about the album. Baik album International Version maupun Japanese Version memiliki empat belas track. Yang berbeda adalah list lagu dan tentu aja perbedaan bahasa di beberapa bagian lirik.

Song List album Ambitions versi Internasional

Song List album Ambitions versi Jepang

Awalnya aku sempat heran, kenapa sih cover albumnya warna kuning? Kenapa nggak warna gelap? Ternyata eh ternyata, pemilihan warna ini nggak sembarangan, Guys. Dalam interview bersama majalah Kerrang edisi 10 Desember 2016, Taka menjelaskan bahwa kuning adalah warna untuk 'harapan'. Yup, album ini memang memiliki tiga tema, yakni harapan, ambisi, dan bernyanyi bersama. "Kami ingin membuat album dimana kita semua bisa bernyanyi bersama-sama. Dengan bernyanyi secara serempak. kami berharap timbul niat di hati masing-masing untuk tidak menyerah," katanya. Keren yaa..

Sekarang kita bahas satu persatu lagu-lagunya.
  1. Ambitions (Introduction)
    Ini cuma musik pembuka, so jangan harap bisa dengar suara Taka disini. Jangankan suara dia nyanyi, suara napas dia aja nggak ada.
  2. Bombs Away
    Lagu yang ngajak jingkrak-jingkrak ini bukan menceritakan tentang perang atau teroris lho ya (mentang-mentang ada embel-embel 'bom'-nya gitu), melainkan tentang perlawanan pada diri sendiri.
  3. Taking Off
    Ah, kalo lagu ini sih pasti udah akrab banget di kuping teman-teman One Ok Rockers mengingat lagu ini udah rilis sejak bulan September lalu dan bahkan menjadi theme song film Jepang berjudul Museum. Nggak cuma lagunya aja yang keren, music video-nya juga asli, keren banget! Lagu ini mengajarkan bahwa untuk mencapai sebuah ambisi besar itu nggak mudah. Pasti ada yang namanya jatuh bangun dalam prosesnya.
  4. We Are
    Ini yang aku suka dari One Ok Rock. Mereka nggak pernah absen menyisipkan lagu-lagu yang memotivasi dan membangkitkan semangat di album-album mereka. Salah satunya lagu ini. Dengar aja liriknya..
    "Never tell yourself you should be someone else
    Stand up tall and say I'm not afraid, I'm not afraid.."
    Dan part ini nih yang aku suka banget..
    "When you're standing on the edge
    So young and hopeless
    Got demons in your head
    WE ARE.. WE ARE..
    No ground beneath your feet
    Now here to hold you
    CAUSE WE ARE.. WE ARE..
    THE COLORS IN THE DARK.."
    Mendengarkan lagu ini saat lagi down rasanya kayak jatuh, namun kemudian akhirnya bangkit dan kembali berdiri tegak. Teriakan lantang si Taka itu lho.. Duh! Bikin merinding.
    Intinya, dalam lagu ini Taka dkk berpesan pada kita untuk menjadi diri kita sendiri dan nggak mendengar kata-kata orang lain yang bersifat menjatuhkan dan menyurutkan semangat kita. Spirit booster banget lah! Dari keseluruhan lagu di album ini, menurutku lagu ini sih yang paling One Ok Rock banget.
  5. Jaded
    Sama seperti lagu We Are, lagu yang dibawakan bersama Alex Gaskarth ALL TIME LOW ini juga bersifat memotivasi. Pesan yang tersirat dalam lagu ini adalah, bahwa semua orang punya mimpi, dan kita nggak bisa cuma MENUNGGU mimpi itu menjadi nyata, melainkan BERJUANG untuk mewujudkannya. Liriknya bagus banget sih, tapi musik di akhir lagunya itu lho.. Wakakak.. Mengingatkan aku sama musik Harlem Shake yang dulu pernah viral :v
  6. 20/20
    Nah, kalo lagu ini menceritakan tentang perselingkuhan. Hahaha..
    "Now I can see that you were never honest with me
    I will never let you back into my life.."
  7. Hard to Love
    It's really a beautiful song, didedikasikan Taka untuk ayahnya, one of my favorites. Aku selalu terharu setiap mendengar lagu yang secara keseluruhan dibawakan dengan iringan gitar akustik ini. Bikin pengen meluk bapak :')
  8. Always Coming Back
    Sama seperti lagu Hard to Love, lagu Always Coming Back ini juga merupakan lagu yang didedikasikan Taka untuk ayahnya. Jujur, meskipun lagu ini udah cukup lama ada di playlist-ku, tapi aku baru tau tentang hal ini. Kukira lagu cinta :v
  9. Bedroom Warfare
    Lupakan makna vulgar dalam lagu ini. Pokoknya ini lagu sumpah-asik-banget. Siapa yang nggak goyang-goyang kepala dengar lagu ini?
  10. American Girls
    Sebuah lagu yang membuatku curiga kalo Taka atau salah satu (atau bahkan beberapa?) member One Ok Rock lainnya kepincut sama cewek Amrik. Whatever. Intinya lagu ini juga asik banget. MV-nya juga keren. Taka keliatan cute banget disitu :3
  11. Lost in Tonight
    Kalo yang satu ini menceritakan tentang pesta. It sounds like, "Lupakan semua beban. Malam ini milik kita, bersenang-senanglah!"
  12. I Was King
    Banyak yang bilang lagu ini sangat bukan One Ok Rock. Tapi aku pribadi enjoy-enjoy aja sih dengernya. Sering di-repeat malah. Menurutku musiknya lumayan keren dan agak unik juga sih, karena sepertinya baru kali ini One Ok Rock bikin musik dengan iringan cello.
  13. Listen
    Nah ini nih, lagu yang bikin aku jatuh cinta sama album ini untuk pertama kalinya, sekaligus juga lagu yang paling bikin penasaran. Gimana enggak? Di lagu ini (tepatnya di album Ambitions Japanese Edition, One Ok Rock menggandeng Avril Lavigne untuk ikut sumbang suara. Rasanya seneng banget bisa denger dua musisi favoritku berkolaborasi. Oh ya, lagu ini juga punya makna yang bagus banget. Didedikasikan untuk orang-orang yang mengalami depresi dan memiliki kecenderungan untuk bunuh diri, One Ok Rock ingin membuka mata mereka agar nggak menyerah dalam menjalani hidup.
  14. One Way Ticket
    Sebuah lagu yang menceritakan tentang kerinduan seseorang kepada kekasihnya. Lagu ini benar-benar ngajakin galau. Ngaku deh, kalian yang menjalani LDR alias long distance relationship alias hubungan jarak jauh, pasti baper kan pas dengar lagu ini? :3 BTW, lagu ini mengingatkanku sama lagu jadul milik Britney Spears yang berjudul Everytime, karena nada di bagian reff-nya yang agak mirip.
  15. Bon Voyage
  16. Start Again
  17. Take What You Want

Oh ya, bukan hanya warna musik mereka aja yang berubah, aku perhatikan English pronunciation Taka juga udah makin mantap sekarang. Dia udah nggak cadel lagi dalam pengucapan huruf 'r' di tengah kata. Damn! Kemajuan mereka benar-benar mengagumkan!

Kalo ditanya pilih mana antara album Ambitions edisi International atau Japanese, jujur aku lebih prefer yang Japanese Version. Entahlah. Lebih One Ok Rock aja gitu. Aku berharap besar bahwa One Ok Rock nggak akan menghilangkan bahasa Jepang di karya-karya mereka selanjutnya. Rasanya nggak rela aja kalo One Ok Rock sampai kehilangan identitas. Geezz.. sekarang-sekarang aja udah banyak media yang mengatakan demikian kan? Belum lagi para penggemar yang kecewa karena perubahan ini. But however, meskipun nggak sedikit yang merasa kurang sreg sama album ini, Ambitions tetap berhasil lho menduduki posisi satu di Jepang dengan penjualan album sebanyak 232 ribu kopi di minggu pertama album ini dirilis. Salut!

Total Tayangan Halaman

 
;