Rabu, 30 Juni 2021 4 komentar

#27 : Greatest Gift

Awal bulan Juni lalu, tepat di tanggal 1, Tuhan memberiku hadiah besar. Pagi itu, aku mendapati dua garis merah pada testpack yang kugunakan. Tanganku bergetar saat menggenggamnya. Rasanya hampir nggak percaya, ada yang sedang bertumbuh dalam tubuh ini.

Kuusap pelan kepala Mas Kesayangan yang masih terlelap, "Mas.."
Ia hanya menggumam dengan mata yang masih terpejam. Kugoyang sedikit bahunya, "Mas, lihat, lihat!" kataku sambil menyodorkan testpack itu di hadapannya. Ia menggeliat sejenak dan membuka mata perlahan.
"Siap jadi bapak?" kataku lagi dengan suara bergetar. Ia lantas tersenyum, kemudian merengkuhku ke dalam pelukannya sambil mengucap syukur, "Alhamdulillah".

Selanjutnya, aku mengabarkan berita itu pada ibu lewat pesan WhatsApp yang langsung disambut dengan ucapan syukur dan sedikit wejangan. Hihi..

Well, menjelang akhir bulan Mei lalu, aku memang sudah mulai merasa kurang enak badan. Perutku seringkali terasa kembung, terkadang pula terasa sedikit kram, namun haid nggak kunjung datang. Setelah browsing sana-sini, aku dan Mas mulai menduga bahwa aku hamil. Untuk menguatkan dugaan kami itu, diputuskanlah untuk mendeteksinya dengan testpack. Dan rupanya benar aja, hasilnya positif.

Beberapa hari setelah itu, perutku mulai diserang rasa mual. Nggak sampai muntah, tapi cukup membuatku pusing karena terus 'hoekk hoekk'. Nafsu makanku juga berkurang, bahkan es krim Haku Tiramisu yang biasanya menjadi salah satu es krim favoritku nggak lagi terasa nikmat. Dan, ya.. sifat magerku pun semakin meningkat. Wkwk..

Aku sangat bersyukur karena Mas sangat mengerti kondisiku. Sebenarnya untuk urusan pekerjaan rumah, kami memiliki tugas masing-masing. Namun semenjak mengetahui kehamilanku, disamping mengerjakan bagiannya, Mas juga ikut membantu menyelesaikan bagianku. Dan karena nafsu makanku berkurang, rasanya diri ini malas sekali untuk makan nasi, lontong, ataupun bubur sekalipun, tapi nggak menolak untuk makan bakso atau mie instan. Huhu.. Tapi bukan berarti aku makan bakso dan mie instan terus lho ya. Aku tetap mengisi perutku dengan nasi kok (meski seringkali harus disuapi Mas. wkwk..). Selebihnya, aku banyak ngemil biskuit, roti, dan buah.

***

Pada hari Selasa 8 Juni, aku diantar ibu ke Puskesmas untuk pemeriksaan laboratorium. Sayangnya sesampainya di sana, laboratorium Puskesmas sedang digunakan untuk apa gitu, aku kurang tau persis. Intinya aku belum bisa menjalani pemeriksaan laboratorium hari itu. Akhirnya hari Selasa itu, aku cuma ditimbang berat badan (yang ternyata masih bertahan di angka 38 kg sejak terakhir aku menimbang berat badanku tahun lalu. Hiks), diukur lingkar lengan atas, diperiksa tekanan darah, dan mendaftar untuk mendapatkan buku KIA (buku Kesehatan Ibu dan Anak). Ketika itu bidan juga menanyaiku beberapa hal, seperti rencana melahirkan di mana, dan rencana pakai KB jenis apa, yang sama sekali nggak aku duga bakal dipertanyakan. Alhasil kebanyakan dari pertanyaan itu aku jawab sekenanya dan dengan rasa gugup luar biasa. Sebelum keluar dari Puskesmas, bidan memberiku beberapa tablet vitamin yang berguna mendukung perkembangan janin; beberapa tablet obat yang boleh kuminum saat pusing, demam, ataupun mual; dan satu boks makanan tambahan ibu hamil berupa biskuit dengan krim nanas. Aku sebenarnya senang ketika diberi biskuit itu, karena aku pernah melihat postingan menfess Twitter di salah satu base seputar makanan yang menyebutkan bahwa biskuit itu sangat enak. Sayangnya yang aku terima bukan biskuit dengan krim stroberi. Huhu.. 

Kamis 10 Juni, aku dan ibu kembali ke Puskesmas untuk pemeriksaan laboratorium yang tertunda. Pertama-tama, bidan menanyakan apakah aku siap untuk suntik TT atau enggak. Ketika mendengar hal itu untuk pertama kalinya, aku merasa jeri. Aku kira yang disebut bidan adalah suntik tete (suntik payudara), tapi ternyata yang ia maksud adalah suntik imunisasi Tetanus Toxoid. Wkwkwk.
Ketika itulah, setelah bertahun-tahun nggak berhadapan dengan jarum suntik, baru kali ini aku merasakan nyerinya ditusuk jarum suntik lagi. Belum cukup sampai disitu, menjelang pemeriksaan laboratorium, aku kembali disuntik di bagian lipatan lengan untuk diambil sampel darah. Tapi rasa sakit pada bekas suntikan di bagian lipatan lengan ini nggak begitu terasa lagi setelahnya. Berbeda dengan bekas suntik TT yang rasa sakitnya terasa hingga berhari-hari. Aku bahkan sempat menangis di hari ketiga pasca suntik karena rasa sakitnya yang menjadi-jadi. Namun syukurlah, hasil pemeriksaan lab semuanya menunjukkan hasil yang baik. 

***

Kemarin sore, untuk pertama kalinya aku menjalani pemeriksaan USG. Setelah bertanya sana-sini, berdasarkan rekomendasi dari istri salah satu teman Mas, kami pun memutuskan untuk mengunjungi salah satu maternity clinic di kota kami. Waktu itu jam tujuh malam. Ketika sampai di klinik tersebut, aku diminta Staff Admin untuk mendaftar terlebih dahulu. Aku ditanyai beberapa informasi mengenai data diri dan beberapa hal mengenai kehamilanku. Aku juga diminta menimbang berat badan (yang masih stuck di angka 38kg). Alhamdulillah, seenggaknya berat badanku nggak turun. Kami mendapat antrian ke enam, sehingga mengharuskan kami untuk menunggu. Singkat cerita, tibalah giliranku untuk masuk ke ruang dokter. Disitu terdapat meja dokter beserta kursi dokter dan dua kursi untuk pasien dan pendamping, satu buah sofa panjang, satu buah ranjang pasien dan satu peralatan USG di sisinya, satu layar LED besar di depan ranjang pasien, dan satu buah kursi untuk Asisten Dokter. Aku duduk di salah satu kursi di seberang meja dokter, sementara Mas memilih duduk di sofa.

Di sana, aku kembali ditanya beberapa hal oleh dokter. Setelah itu, beliau mempersilahkan aku untuk berbaring di ranjang pasien. Mbak Asisten Dokter membantu menyingkap sedikit pakaianku sehingga hanya bagian perutku yang terlihat. Ia pun mengoleskan semacam gel di atas perutku, yang awalnya aku bingung untuk apa, tapi kemudian aku mengerti bahwa gel itu berfungsi agar kulitku nggak bergesekan dengan transducer. Setelah itu, dokter pun memulai pemeriksaannya. Ia menggerakkan transducer di atas perut bagian bawahku hingga muncul sebuah citra di layar.
"Eh, sudah kelihatan", ucap dokter. Jantungku berdebar. Layar itu menunjukkan sebentuk sosok kecil yang bergerak. Ah, itu calon bayiku yah?

Sebelum dokter menjelaskan, Mas meminta ijin untuk merekam momen itu dengan kamera hape.
"Boleh kok. Bahkan kalo Mas mau bikin live IG atau video call keluarga di rumah juga gapapa", jawab dokter. Mas hanya senyum-senyum mendengar kelakar dokter. Setelah Mas siap dengan video recording-nya, dokter pun mulai menjelaskan bagian-bagian yang ditampilkan oleh monitor. Dan ya, dugaanku sama sekali nggak salah. Sosok kecil bergerak itu memanglah janin, calon bayi aku dan Mas. Ia dikelilingi cairan ketuban yang ditampilkan monitor dengan warna gelap. Ukurannya baru 2,5 cm, namun aku sudah bisa melihat bakal kaki dan tangannya yang mungil. Ah, aku merasa hatiku menghangat melihat kedua kaki dan tangan calon bayiku yang aktif bergerak lucu.
"Pada usia kehamilan ini, kita juga sudah bisa mendengar detak jantungnya. Mau dengar?" tanya dokter. Tentu aja aku mau. Kemudian dokter pun memperdengarkan suara detak jantung si janin pada kami. Detak jantungnya terdengar cepat, namun kata dokter itu adalah detak jantung normal untuk janin usia kehamilan sembilan minggu ini.

Ada momen awkward dan memalukan ketika kami selesai menjalani pemeriksaan USG. Setelah keluar dari ruang dokter, aku dan Mas pun langsung berjalan menuju pintu keluar klinik. Namun Mbak Asisten Dokter memanggilku.
"Hasil foto USG-nya belum diambil, Teh", katanya. Ketika itu, aku langsung istighfar. Astaga, kami kan belum bayar. Mas tampaknya nggak menyadari hal itu. Ia terus saja berjalan ke arah parkiran, sementara aku putar balik ke loket di sebelah ruang dokter.
"Ini, Teh", ucap Mbak Asisten Dokter sambil menyerahkan amplop kecil berisi foto hasil USG.
"Jadi berapa, Teh?" tanyaku. Ia pun menyebutkan sebuah nominal, namun kemudian aku sadar bahwa dompetku ada di tas Mas. Aku pun meminta Si Mbak untuk menunggu sebentar, sementara aku memanggil Mas yang sudah keburu naik ke atas motor. Setelah membayar, kami pun segera berlalu dari klinik. Di tengah perjalanan kami ketawa-ketawa geli mengingat kebodohan kami itu. Haduuuhh.. sepertinya kami terlalu bahagia sampai-sampai lupa bayar 😂 Malu banget. Mana di depan loket banyak pengunjung klinik pula. Untung saja kami pakai masker, dan Mbak Asistennya pun nggak sampai berteriak "Teh, belum bayar". Kalo saja kami nggak pakai masker dan Mbak Asistennya berteriak seperti itu.. huh, mau ditaruh di mana muka kami? Wkwkwk.

***

Sore tadi.

"Kulkas di rumah kayaknya mulai nggak beres nih. Pintunya nyetrum", ucap Mas ketika datang menjemputku sepulang kerja. "Ini aja tangan Mas kena, kaget banget pas buka. Eh, kok nyetrum", katanya lagi.
"Hah, kok bisa, Mas?" sahutku sambil naik ke atas motor.
"Nggak tau. Kayaknya dalemannya ada yang rusak. Kamu jangan buka-buka kulkas dulu ya. Bahaya."
"Hmm.. Udah coba browsing Google belum, Mas? Barangkali bisa dibenerin sendiri kayak mesin cuci waktu itu".
"Belum. Nanti deh di rumah".
Aku hanya manggut-manggut, meski sedikit kecewa. Teringat dengan manisan mangga buatan ibu di dalam kulkas yang tadinya ingin segera kunikmati sepulang ngantor.

Sesampainya di rumah, "Kamu cepat mandi, mumpung belum Magrib. Lagi musim penyakit gini, takutnya kamu bawa virus dari kantor".
Lagi-lagi aku manut pada Mas. Nggak salah sih kalo ia begitu khawatir, karena belakangan ini wabah C19 nampaknya semakin mengganas. Belum lagi melihat kondisi kantor yang semakin sepi karena satu persatu karyawan jatuh sakit :')

Selepas mandi, aku langsung berwudhu karena adzan Magrib sudah berkumandang. Well, semenjak hamil, aku nggak berani lagi berlama-lama di kamar mandi. Padahal sebelum hamil, aku bisa betah berlama-lama di kamar mandi, entah itu luluran, atau maskeran. Namun sekarang, asal sudah mandi rasanya cukup, kemudian bergegas menuju kamar. Dengan hanya berbalut handuk, kudorong pintu kamar yang setengah terbuka.

"SELAMAT ULANG TAHUN, SAYAAAANGG!"
Aku memekik. Surprised. Di hadapanku, Mas Kesayangan tersenyum lebar. Kedua tangannya memegang kue ulang tahun dengan dua lilin menyala di atasnya. Aku lantas memeluknya, tanpa peduli dengan handuk dan rambutku yang setengah basah membasahi kausnya.
"Hey, ini ditiup dulu dong lilinnya. Capek ini tangan Mas pegang kue dari tadi", protes Mas. Kulepas pelukanku. "Make a wish dulu dong", ucapnya lagi.
Aku pun memejamkan mata dan melangitkan doa, agar keluarga kami senantiasa rukun dan bahagia sampai akhir hayat, dan selalu berada dalam lindungan-Nya :')


Bergetar rasanya bibirku saat itu. Rasanya ingin menangis, tapi nggak bisa. Jujur ini pertama kalinya aku mendapat kejutan seperti ini. Dikerjai plus diberi kejutan untuk tiup lilin. Ingat kan, sebelumnya Mas bercerita bahwa pintu kulkas rusak, dan ia menyuruhku untuk segera mandi sepulang kerja? Rupanya itu hanya akal-akalannya agar bisa mempersiapkan itu semua. Ia melarangku membuka kulkas karena ia menyimpan kue itu di sana. Rupanya siang tadi ia sempat minta ijin keluar sebentar dari tempat kerja untuk mengambil kue dari toko. Setelah mengambil kue dari toko, ia menyimpannya di kulkas, dan kembali lagi ke tempat kerja. Mas juga menyuruhku untuk bergegas mandi agar ia bisa menaruh lilin menyala di atasnya dan bersiap mengejutkanku dari balik pintu kamar. Anehnya aku sama sekali nggak curiga dengan semua akal-akalan itu, karena dia ngomongnya meyakinkan banget. Huhu..

Mungkin juga karena sebenarnya aku nggak berharap diberi apa-apa di hari ulangtahun kali yah. Selama ini aku nggak pernah menanti-nanti tanggal ulangtahun. Aku nggak memunculkan tanggal ulangtahunku di media sosial. Aku juga enggan menjawab saat teman atau siapapun bertanya kapan aku berulangtahun (kecuali tanggal lahir, untuk data penting). Entahlah, rasanya sedih aja gitu diingatkan bahwa diri ini semakin tua. Hiks.

Tapi hari ini, aku hanya ingin bersyukur. Tuhan baik sekali. Di usia ini aku mendapatkan hadiah terhebat-Nya. This year has been amazing. Aku menikah. Aku dinyatakan hamil setelah empat bulan pernikahan. Aku diberi kesempatan untuk melihat pergerakan dan denyut jantung calon bayiku. Dan ada sosok pria pengertian di sampingku, yang mengerti sifat manjaku, yang ingin selalu ndusel-ndusel di punggung dan ketiaknya setiap saat. Wkwk.

Semoga bahagia ini selamanya. Aamiin.

Jumat, 14 Mei 2021 0 komentar

Eid Mubarak : 1442 H

Bulan Ramadhan sudah berlalu, masih dalam kondisi pandemi yang sampai saat ini masih belum ada tanda-tanda membaik (malah nampaknya semakin semrawut dengan peraturan yang plin-plan dan nggak merata). Hmm..

Tentunya Ramadhan tahun ini terasa begitu berbeda bagiku yang awal tahun ini baru aja berubah status dari single menjadi double. Memang sih, aku dan Mas nggak seperti kebanyakan pasutri baru yang mengikuti trend upload foto masakan pertama di hari pertama Ramadhan. Seperti Dewiteman masa kecilku yang menikah tahun 2020 lalumisalnya, yang Ramadhan tahun lalu pamer ayam goreng, oseng kangkung, tempe goreng, dan sambel ulek buatannya di WhatsApp Story. Bukan karena nggak mau alay (karena aku dan Mas juga kadang alay kok), tapi lebih karena aku memang nggak pandai masak. Muehehe. Eh, 'belum pandai' sih lebih tepatnya, karena sebenarnya aku suka menonton acara atau tutorial memasak gitu dan kadang kepingin mencoba resep-resep sederhana. Hanya aja sayangnya saat ini dorongan niatku masih kalah oleh dorongan untuk mager. Wkwk. Maka setiap buka puasa dan sahur, kami selalu mengandalkan menu yang kami beli di luar. Terkadang Mas juga sudah cukup puas dengan telur dadar campur tahu orak-arik dan daun bawang yang kubuat. Kecuali hari Sabtu, karena setiap hari Sabtu sore, kami pulang ke rumah ibu dan berbuka puasa di sana, kemudian pulang hari Minggu siang.

Well, bulan Ramadhan di awal-awal pernikahan sedikitnya memberiku pelajaran. Salah satunya adalah pelajaran untuk membiasakan diri bangun tidur lebih awal. Meski mengantuk, mau nggak mau aku harus bangun pukul tiga. Padahal dulu sebelum menikah aku biasa bangun menjelang subuh meskipun sudah memasang alarm berlapis, itupun seringkali dibantu teriakan ibu ataupun ketukan pintu dari bapak. Dan yah, tentunya juga harus membiasakan diri dengan minyak panas dan penggorengan yang kerapkali 'mengamuk'. Meski bukan pertama kali, tapi aku masih takut dengan minyak panas yang meletup saat menggoreng ayam. Dan aku juga ingat ketika minyak panas yang kugunakan untuk mengolah sarden meletup. Setelah menumis bawang, alih-alih menuangkan air, aku justru langsung menuangkan sarden ke wajan. Sontak minyak panas pun berloncatan dari sana. Aku reflek mundur dan menabrak Masku yang tengah membawa kandang burung. Beruntung kandang yang dibawanya nggak jatuh.
"Mundurnya kurang jauh, Yang", ledeknya. Aku jadi sejenak merenung dan menyadari bahwa selama ini sifat magerku benar-benar kelewatan, karena bahkan mengolah makanan yang mudah pun aku masih terlalu kaku. Huhu.

Dan sama seperti Ramadhan tahun lalu, aku melaksanakan sholat tarawih di rumah. Hanya aja sholat tarawih di rumah tahun ini lebih tenang karena nggak ada kucing yang berputar-putar, berbaring, ataupun berguling-guling di atas sajadah saat kami sholat, karena memang di rumah yang aku dan Mas tinggali, kami nggak memelihara kucing seperti di rumah orangtuaku. Mas sih sebenarnya kepingin banget pelihara anak kucing putih, sedangkan aku merasa cukup pelihara kucing di rumah orangtuaku aja, karena rumah tempat kami tinggal nggak memiliki halaman dan nggak ada lahan bertanah di sekitar hunian kami. Berbeda dengan rumah orangtuaku yang memiliki halaman luas dengan tanah dan berbagai tanaman yang bisa menjadi arena para kucing untuk bermain ataupun buang air.

***

Idul Fitri tahun ini, aku dan rekan-rekan staf berkesempatan menikmati hari libur selama empat hari, yakni dari tanggal 13 sampai dengan tanggal 16. Seminggu sebelum libur kerja, aku dan beberapa rekan kantor mengadakan buka puasa bersama di Hotel MD7. Ada Pak Ben, Bu Hani, Bu Lia, Mbak Tika, Mas Febri, Pak Dedi, Mister Chokai, Bu Rohayati, A' Putra, dan MilaA Putra's wife to be. Sebenarnya awalnya aku menolak untuk ikut karena kasihan sama Mas yang berbuka puasa sendirian di rumah. Namun teman-temanku memaksa aku untuk ikut. Syukurlah, Mas sama sekali nggak keberatan. Sebenarnya kalo Mas mau, aku boleh mengajaknya ikut serta, tapi dia menolak. Malu, katanya.

Hari itu sepulang ngantor, aku, Bu Hani, Pak Ben, Pak Dedi, Mbak Tika, dan Bu Lia berangkat bersama-sama langsung dari kantor. Sementara yang lainnya berangkat  dari rumah masing-masing. Aku pergi dengan nebeng motor Bu Hani. Sore itu jalanan ramai, dan kondisi itu diperparah dengan adanya penutupan jalan di beberapa lokasi, salah satunya di wilayah balai kota. Hal ini membuat kami terpaksa mencari jalan alternatif. Hmm.. Sering aku berpikir, kenapa sih harus ada penutupan jalan? I think, kalo untuk mencegah masyarakat bepergian dan berkerumun di tempat publik, rasanya kurang efektif, karena masyarakat pasti akan mencari jalan alternatif yang justru menimbulkan macet di titik tertentu. Dengan kata lain, yaa percuma aja gituu.

Sesampainya di hotel, kami nggak langsung masuk ke ruang makan, melainkan duduk-duduk dulu di teras hotel, dan sempat foto-foto juga di depan gerbang masuk. Menjelang waktu berbuka puasa, baru lah kami memasuki ruang makan dan menempati meja yang sudah disediakan untuk kami. Kemudian masing-masing kami mengambil makanan, minuman, dan irisan buah segar yang disajikan hotel secara prasmanan. Kami pun menikmati hidangan sambil mengobrol-ngobrol santai. Setelah tandas, kami kembali melakukan foto bersama di area hotel.

Ki-Ka : Pak Dedi, Pak Ben, Mbak Tika, Bu Lia, Bu Rohayati,
aku, Bu Hani, A Putra, Mas Febri, Mila, Mister Chokai



Di malam takbiran, tepatnya ba'da Isya, aku dan Mas pulang ke rumah orangtuaku. Kami sedikitnya tampak seperti sepasang pemudik, karena membawa tas dan kantong-kantong plastik berisi pakaian kami dan baju-baju mendiang mamayang akan kami berikan untuk ibu. Sayang kalo baju-bajunya nggak dipakai lagi, begitu kata Mas. Waktu itu sekitar jam delapan malam. Jalanan tampak ramai, suara takbir terdengar dimana-mana, walaupun nggak ada takbir keliling seperti dulu. Alun-alun kota pun nggak kalah ramai. Tempat itu dipadati pengunjung, juga para pedagang yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Selama perjalanan, aku asyik melihat-lihat sekitar. Tiba-tiba hatiku trenyuh. Melihat pedagang yang duduk di belakang gerobak dagangannya yang sepi, tukang rongsok yang memanggul karung di pundaknya, tukang becak tanpa penumpang yang menunggu lampu lalu lintas berubah hijau.. Ah, semoga diberikan rezeki yang melimpah kepada para pejuang nafkah yang tetap mengabdikan dirinya untuk keluarga bahkan di malam takbiran sekalipun. Aamiin.

Hari H Lebaran, aku bangun tidur pagi-pagi sekali. Sekitar jam tiga dini hari, aku sudah mengalungkan handuk di leher. Nggak langsung mandi, karena saat itu kamar mandi tengah dipakai bapak yang akan bersiap ke masjid. Sebagai seorang pengurus masjid, bapak memang terbiasa bangun jam tiga dini hari, kemudian pergi ke masjid sekitar pukul setengah empat. Setelah menunggu bapak selesai menggunakan kamar mandi (sambil berburu nyamuk yang sudah gendut-gendut, entah menghisap darah Mas atau aku), aku pun bergegas mandi, bergantian dengan Mas, kemudian ibu, lalu yang terakhir adikku.

Sedihnya, pada Idul Fitri tahun ini, aku sama sekali nggak menikmati opor ayam buatan ibu. Jadi ceritanya, menjelang buka puasa di malam lebaran, ibu memasak opor dengan satu setengah kilogram daging ayam. Saat waktu berbuka puasa tiba, ibu, bapak, dan adikku menikmatinya sebagai menu buka puasa terakhir. Mas juga menikmatinya saat makan malam menjelang tidur. Sementara aku saat itu belum lapar karena masih kenyang. Pagi harinya, saat aku mandi, tiba-tiba ibu yang sedang berada di dapur memekik. Rupanya beliau lupa menghangatkan opor. Bisa ditebak kan, apa yang terjadi dengan opor itu? Kuah opornya basi, Pemirsa. Sayang banget. Akhirnya daging ayam yang tersisa pun terpaksa digoreng agar bisa dimakan. Huhu.. Beruntungnya Mas yang sempat menikmati opor ayam buatan ibu :')

Aku dan Mas juga sempat kecewa dengan baju yang kami kenakan untuk berlebaran. Jadi, saat Ramadhan kemarin, kami berdua berencana memakai baju couple. Tapi ternyata mencari baju couple yang sesuai itu nggak gampang. Ada yang model bajunya Mas suka, tapi aku nggak suka, begitu juga sebaliknya. Memang kalo pingin pakai baju couple itu sebaiknya pesan ke penjahit pakaian lah ya, biar sesuai dengan ukuran dan keinginan. Tapi rasanya waktu sudah nggak memungkinkan. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli pakaian secara terpisah. Yang penting warnanya sama, pikir kami. Kami memilih pakaian dengan warna navy. Eh, setelah pakaian kami disandingkan, ternyata warna navy kemeja milik Mas lebih gelap dibanding warna navy gamis milikku. Huhu..

Sekitar jam enam pagi, aku, Mas, ibu, dan adik bersama-sama pergi ke masjid Al-Amin, tempat biasa kami melaksanakan sholat Ied setiap tahunnya. Namun tentunya melaksanakan sholat Ied di masjid Al-Amin adalah yang pertama kalinya untuk Mas. Kenapa bapak nggak bareng kami? Ya karena beliau di masjid sejak Subuh dan terus lanjut sampai selesai sholat Ied. 

Setelah melaksanakan sholat Ied, kami bersalam-salaman dengan para jamaah lainnya, kemudian pulang dan saling bermaafan dengan anggota keluarga kami.

Kami bersyukur karena Idul Fitri tahun ini, kami kembali melakukan silaturahmi dari rumah ke rumah. Nggak seperti Idul Fitri tahun 2020 lalu dimana kami hanya berdiam diri di rumah karena saat itu pandemi Covid19 baru saja masuk ke Indonesia dan masih sangat menakutkan bagi kami, jadi yah rasanya kayak bukan hari lebaran. Bersilaturahmi dari rumah ke rumah membuat suasana Idul Fitri benar-benar terasa, meski rasanya agak menyebalkan karena masih ada aja tetangga yang melontarkan pertanyaan mainstream. You know lah ya.. Dulu ketika belum nikah, ditanya terus 'kapan nikah'. Sekarang ketika aku datang dalam kondisi sudah menggandeng pasangan sah, pertanyaan berubah jadi 'kapan ngisi', dan ketika dijawab 'belum', mereka tampak memandang kami dengan penuh prihatin. Haduuuh.. orang-orang seperti ini kok ya kelewat peduli gitu deh sama kehidupan pribadi orang lain. Padahal orang yang bersangkutan lagi enjoy pacaran 😌

Meski sudah bisa melakukan tradisi lebaran dengan bersilaturahmi dari rumah ke rumah, namun untuk bersilaturahmi ke keluarga besar nenek di Kuningan masih nggak bisa kami lakukan tahun ini karena kondisi kesehatan nenek yang sedang nggak memungkinkan untuk dibawa bepergian jauh. Sayang banget, nggak bisa nostalgia masa kecil lagi deh.

Sore harinya, sebagai kunjungan terakhir di hari lebaran, aku dan Mas mengunjungi makam mama, papa, dan juga A' Hendri. Aku ingat, Idul Fitri tahun lalu adalah kali pertama aku diajak Mas mengunjungi makam mereka. Waktu itu, beberapa bulan setelah kami break-up, aku berharap saat itu bukan yang terakhir kalinya aku berkunjung ke makam mereka. Dan harapanku benar-benar terwujud, karena berkunjung ke makam mama, papa, dan A' Hendri kini akan menjadi agenda rutin kami setiap hari raya Idul Fitri.

 

Well, demikianlah ceritaku tentang Idul Fitri tahun ini yang biasa-biasa saja. Huhu..
Seperti biasa, aku mohon maaf apabila ada kata-kata dalam postinganku yang menyinggung perasaan Teman-Teman Pembaca. Semoga ibadah kita semua selama bulan Ramadhan diterima Allah dan semoga kita semua diberikan umur panjang agar bisa bertemu Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Aamiin yaa robbal alamiin. Selamat Idul Fitri!

Jumat, 30 April 2021 0 komentar

BUKU : Mereka Ada VOL. 2 by Mystic Waves

Setelah menerbitkan buku pertamanya pada Februari 2019, Mystic Waves (atau mwv.mystic), akun Instagram favoritku yang biasa memposting cerita-cerita horor based on true story akhirnya menerbitkan buku keduanya pada tanggal 1 April kemarin. 

Well, pada awalnya, buku ini dijadwalkan terbit pada 25 Maret. Aku sudah ambil ancang-ancang untuk segera check-out via Shopee. Namun beberapa hari sebelum tanggal tersebut, pihak Loveable selaku penerbit memundurkan jadwalnya menjadi tanggal 1 April. Aku sempat menanyakan hal ini saat Admin AGP, pengelola akun Mystic Waves melakukan live streaming di Instagram, katanya pemunduran jadwal ini dilakukan karena masih adanya beberapa hal yang musti disempurnakan. 

Yup, berbeda dengan penerbitan buku pertamanya, pada penerbitan buku kedua ini, aku antusias banget ikut pre-order. Untuk program pre-order ini, selain mendapatkan harga buku yang lebih murah dari harga normal, peserta pre-order juga berhak mendapatkan bonus, tergantung dari paket yang peserta pre-order pilih. Aku memilih Paket Delima yang mendapatkan bonus berupa sticker packpouch, voucher diskon Loveable Store, subsidi ongkir, game Ouija digital, dan satu buah buku terbitan Loveable. 

Kukira buku ini baru akan datang bulan Mei, namun rupanya buku ini tiba lebih cepat dari perkiraanku. Kamis 22 April, buku ini mendarat di kantorku, dan aku langsung menelanjanginya untuk mengecek kelengkapan paket yang kupesan, dan syukurlah semuanya ada, kecuali game Ouija digital yang masih belum aku ngerti aksesnya dimana. Wkwkwk. 

Oke, sekarang pindah ke pembahasan isi bukunya. 

Nggak seperti Mereka Ada VOL 1 yang terdiri dari empat kisah yang ditulis oleh empat narasumber berbeda, empat cerita dalam Mereka Ada VOL 2 ini ditulis oleh satu orang narasumber, yakni Mas Rama Eka Putra, yang memang merupakan narasumber sekaligus MWVers senior. Mas Rama ini bisa dibilang adalah seorang pegiat alam karena hobinya naik turun gunung. Oleh karena itu, sebagian besar kisah yang ia bagikan adalah pengalaman-pengalaman mistisnya selama muncak. Maka dalam buku ini, ia sendiri lah yang menjadi tokoh utamanya. 

Si Cantik Merah Delima

Selain merupakan seorang pegiat alam, Rama merupakan seorang karyawan di sebuah perusahaan asing di Jakarta. Tinggal di kota besar sejak kecil membuatnya tumbuh menjadi seseorang yang skeptis terhadap hal-hal gaib. Suatu hari di tahun 2009, Om Bertus, salah satu kliennya, memberinya sebuah batu merah delima. Karena cantiknya batu itu, Rama menjulukinya 'Si Cantik'. Namun yang nggak ia sadari, batu pemberian kliennya itu rupanya merupakan batu bertuah yang memiliki khodam berupa sesosok jin yang kerapkali menampakkan wujudnya sebagai wanita cantik dengan pakaian adat Dayak. Gangguan demi gangguan Rama alami dari sosok itu. Hanya gangguan-gangguan kecil sebenarnya, karena memang ia hanya ingin menunjukkan eksistensinya kepada Rama. Hingga suatu hari, sosok itu merasuki Vero, rekan kerja Rama di kantor. Melalui Vero, ia memperkenalkan dirinya sebagai 'Rimbun' dan menyatakan ketertarikannya untuk menjadi penjaga untuk Rama. Sejak saat itu, pandangan Rama terhadap dunia gaib perlahan berubah. Ia pun mulai terbiasa dengan hal-hal gaib yang terjadi di sekitarnya. 

Di Balik Pesona Gunung Salak

Sekitar satu bulan setelah Rama berkenalan dengan Rimbun, Rama dan teman-temannya melakukan diklat bersama orang-orang yang tergabung dalam organisasi pecinta alam. Diklat ini dilaksanakan di Gunung Salak. Di tengah-tengah kegiatan tersebut, Rama bertemu dengan seorang pendaki wanita yang kehabisan bekal. Merasa iba pada pendaki wanita yang tampaknya terpisah dari rombongannya tersebut, Rama memberinya bekal yang ia bawa tanpa menaruh kecurigaan apapun. Well, di antara empat cerita dalam buku ini, entah kenapa cerita ini yang paling membuatku merinding. Bahkan meski sudah membaca isi ceritanya sebelum dibukukan, ketika membaca kembali kisah ini di buku, aku masih merasa merinding. Aku membayangkan berada di posisi Rama : Di tengah hutan, berkali-kali bertemu satu orang asing yang sama, ngobrol nyambung, namun kemudian menemukan fakta bahwa orang itu sesungguhnya bukanlah manusia. Hiii..

Satu Suro di Gunung Lawu

Dalam kalender Jawa, ada satu hari yang dianggap keramat, yakni malam Satu Suro, atau kalo dalam kalender hijriyah itu sama dengan tanggal satu Muharram. Cerita pada bab ini berlatar antara tahun 2009 atau 2010. Dua hari menjelang malam Satu Suro, Rama dan enam orang junior di kampusnya pergi mendaki ke Gunung Lawu. Kebetulan pada Malam Satu Suro, Gunung Lawu biasanya ramai dengan pendakian, baik dari kelompok pendaki maupun warga sekitar yang ingin menyaksikan upacara Malam Satu Suro, berbeda dengan rombongan Rama yang hanya berniat muncak lalu kembali ke Jakarta sebelum upacara tersebut dilaksanakan. Namun di pagi hari menjelang kepulangan mereka, mereka mendadak harus memecah tim menjadi dua karena ada beberapa orang yang berubah pikiran, ingin menyaksikan upacara Malam Satu Suro. Rama adalah salah satu orang yang memutuskan untuk tetap pulang hari itu. Ia nggak peduli dengan ucapan beberapa warga yang ia temui, yang mengatakan bahwa pendaki pantang turun sebelum upacara Malam Satu Suro dilaksanakan, tanpa ia tau bahwa keputusannya itu membuat jiwanya terancam.

Astana Ratu Anjani

Cerita pada bab ini berlatar di tahun 2013. Rama dan teman perempuannya, Jani, kembali mendaki ke Gunung Rinjani setelah pertemuan mereka satu tahun sebelumnya. Mereka berencana untuk menyelesaikan pendakian. Namun tanpa Rama ketahui, sebenarnya di balik itu Jani memiliki misi rahasia yang beresiko membahayakan nyawa mereka berdua. 


Well, dari segi cerita, menurutku buku Mereka Ada VOL 2 ini sama serunya ya dengan Mereka Ada VOL 1. Hanya aja penyampaian alurnya lebih rapi dan ketikannya minim typo dibanding buku sebelumnya. Cuma jujur, aku bingung banget sama percakapan antara Rama dan Hana tentang madu dan spiritus di halaman 141. Rama menyuruh Hana pilih salah satu di antara madu dan spiritus, lalu Hana pilih madu. Rama tanya, "Kenapa kamu pilih madu?" tapi alih-alih menjawab pertanyaan itu, Hana malah bilang, "Tumben kamu pinter, Ram. Kirain otakmu isinya bokep doang". Itu maksudnya gimanaaa? Otakku nggak nangkep sama sekali maksudnya. Sayangnya setelah percakapan itu nggak ada penjelasan sama sekali mengenai maksud percakapan madu dan spiritus itu. Huhu. 

Aku berharap Mystic Waves nggak sampai di sini aja menerbitkan buku fisik, mengingat udah banyak banget cerita seru yang diposting di akun Instagramnya, biar nggak perlu repot scroll kalo pingin baca ulang. 

Senin, 22 Maret 2021 1 komentar

BUKU : White Wedding by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Siang ini, di tengah-tengah kesibukanku menyelesaikan pekerjaan kantor, tiba-tiba aja muncul perasaan kangen mengulas buku yang sudah kubaca. Sebenarnya cukup banyak buku yang sudah kubaca dan ingin sekali kuulas, hanya aja nggak sempat dan akhirnya keburu lupa. Haahh.. entahlah, aku sebenarnya kesal sama diri sendiri karena semakin kesini minat bacaku semakin berkurang. Bukan hanya membaca, tapi hal-hal yang dulu gemar kulakukan sedikit demi sedikit rasanya makin memudar, seperti menggambar dan menulis catatan harian. Yah, aku memang masih suka membaca buku, tapi proses menyelesaikannya itu bisa lamaaa banget.

***

Aku menemukan buku ini diantara tumpukan buku-buku di acara bazar buku murah di Living Plaza bulan Januari tahun 2020 lalu. Aku menelusuri satu persatu rak yang berisi tumpukan novel, sambil chatting via WhatsApp dengan Zahara. Well, hampir setiap ada bazar buku murah di kotaku, Zahara yang tinggal di Indramayu selalu jadi yang paling tau dan selalu mengabariku karena ia tau aku pasti mau datang ke bazar itu. Setibanya di bazar, biasanya aku akan langsung mengabarinya, dan mengirimkan foto rak-rak yang kulewati, siapa tau ada buku yang membuatnya tertarik dan ingin ia beli.

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, penulis dengan nama yang sulit ini sebenarnya nggak (atau lebih tepatnya belum) ada dalam daftar penulis favoritku, dan tentunya buku ini pun nggak ada dalam daftar buku yang ingin kubeli. Namun saat kukirimkan foto rak dimana buku ini tersimpan, Zahara sempat meliriknya, meski nggak jadi membelinya. Alih-alih mengembalikan buku ini ke tempatnya, aku yang tertarik dengan sinopsis buku ini akhirnya memutuskan untuk membawanya pulang.


Buku ini menceritakan tentang kehidupan seorang gadis berusia sebelas tahun yang terlahir albino bernama Elphira. Ia tinggal berempat bersama neneknya, ayahnya yang menderita leukemia, dan ibunya yang pernah menderita gangguan jiwa setelah mengetahui bayi yang dilahirkannya menderita albino. Semua keadaan menyedihkan itu membuat Elphira sangat membenci warna putih. Baginya warna putih adalah warna yang buruk. Ayahnya sakit karena kelainan sel darah putih, ibunya mengalami gangguan jiwa karena melahirkan anak albino, dan warna putih yang dominan di tubuhnya membuat Elphira merasa bahwa dirinya tampak seperti hantu. 

Photo of fashion model Kimi Nastya Zhidkova - ID 629739 | Models | The FMD
Model : Nastya Zhidkova


Kondisi fisik Elphira yang demikian tentunya sangat membatasi ruang geraknya. Elphira nggak bisa bersekolah dan beraktifitas di luar rumah seperti anak-anak lainnya karena kondisi kulit dan matanya yang rentan terhadap sinar matahari. Oleh karena itu, ayahnya meminta Sierra, seorang pemuda berusia lima belas tahun, untuk memberinya les privat. Bahkan nggak hanya mengajarkan banyak hal, Sierra pun menjadi sahabat Elphira.

Setiap waktu, Sierra selalu mencoba untuk mengubah pandangan Elphira terhadap warna putih. Dengan sabar, Sierra meyakinkan Elphira bahwa begitu banyak hal baik yang dilambangkan dengan warna putih : Perdamaian, ketulusan, harapan, pengorbanan.. Segala cara dilakukan Sierra agar Elphira nggak lagi membenci warna putih, dan yang terpenting adalah berdamai dengan keadaan dan mulai mencintai dirinya sendiri, hingga suatu hari Elphira menyadari sesuatu : Sierra bukanlah manusia.

***

Disebut dongeng, tapi buku ini mengandung sains dan filosofi yang bisa menambah wawasan pembaca. Dibilang bukan dongeng, tapi isi ceritanya 'ngelantur' banget. Di awal-awal membaca, aku sempat menebak-nebak bahwa Elphira ini nggak hanya menderita albino, tapi juga menderita skizofrenia. Aku sempat mengira bahwa semua kebersamaan Elphira dengan Sierra sebenarnya hanya ada di dalam imajinasi Elphira. Wkwkwk. Tapi perlahan-lahan jati diri Sierra terkuak, bahwa dirinya memang merupakan sosok malaikat, bukan sosok fiktif yang ada di kepala Elphira.

Sedikit out of topic. Membaca buku ini sedikit mengingatkanku pada buku berjudul Lucian karya Isabel Abedi karena sama-sama menceritakan tentang sosok malaikat yang jatuh cinta pada manusia. Namun meski akhir cerita Lucian di luar dugaan, jujur aku kurang sreg dengan romantismenya yang menurutku terlalu berlebihan dan menggambarkan hubungan antara malaikat dan manusia yang menurutku terlalu intim. I wish you know what I mean. Yah mungkin karena Rebecca (tokoh utama dalam buku itu) merupakan sosok remaja kali ya, jadi isi ceritanya lebih 'dewasa' gitu. Aku nggak bilang Lucian buruk, just not kind of my favorite romance sih. Hehehe.

Untuk White Wedding sendiri, entah kenapa akhir ceritanya dengan mudahnya bisa kutebak. Tapi aku suka cara Sierra mencintai Elphira dengan sederhana, seperti seorang kakak yang selalu membimbing dan melindungi, dan aku justru lebih baper dengan kisah seperti ini. Huhu. Ada satu percakapan antara Sierra dan Elphira yang membuatku tertarik.
"Bagaimana caranya hidup tanpa papa? Bagaimana caranya hidup sendiri, Sierra?"
"Kamu nggak akan hidup sendiri, Elphira"
"Aku akan hidup sendiri suatu hari nanti. Aku tahu kok. Meskipun aku masih kecil, aku tahu. Hanya saja kurasa, suatu hari itu akan datang lebih cepat. Dan kurasa, aku belum siap menghadapinya."
"Papamu cuma satu orang. Yang mencintaimu bukan hanya satu orang". Hal. 56-57
Percakapan itu membuatku sebentar merenung, bahwa ketika sedang berada di titik terendah, kita, manusia seringkali berpikir sempit. Kita terlalu berfokus pada masalah yang kita hadapi. Seperti pada kasus Elphira, ia terlalu fokus pada rasa takut kehilangan ayah yang dicintainya. Ia berpikir bahwa kehilangan ayahnya berarti akhir dari segalanya. Ia berpikir kepergian ayahnya hanya akan membawanya pada kesendirian. Ia nggak ingat bahwa ibu, nenek, dan orang-orang di sekelilingnya pun juga mencintainya.

Yah, sebagai sebuah buku yang dibeli secara random, buku ini nggak membuatku menyesal setelah menebusnya. Kayaknya kalo next time ketemu lagi dengan karya lain Mbak Ziggy di bazar, aku bakal ambil. Penasaran juga dengan Jakarta Sebelum Pagi :)

Selasa, 16 Maret 2021 0 komentar

My New Chapter : After Story

Dua bulan berlalu pasca membuka lembar baru dalam hidup. Sebenarnya banyak banget yang kami rasakan selama dan pasca resepsi pernikahan antara aku dan Mas. Tepatnya sih perasaan kecewa yang dominan kami rasakan terhadap beberapa pihak. Bahkan setelah berminggu-minggu pun kami masih membahas hal itu, karena yaah rasanya masih mengganjal aja gitu.

Seperti yang kusampaikan pada postingan sebelumnya, bahwa aku akan menceritakan bagian-bagian menyebalkan itu dalam tulisan terpisah. Ya, dalam postingan kali ini.


***

Kamis 7 Januari—dua hari menjelang hari pernikahan, aku membaca status WhatsApp Mbak Dea (bukan nama sebenarnya; MUA kami) yang isinya tampaknya menyindir si empunya hajat. Memang sih dia nggak sebut nama, tapi berhubung saat itu dirinya sedang menangani persiapan acara pernikahanku, perasaanku jadi nggak enak.

Jum'at 8 Januarikeesokan harinya, ia kembali meng-update status serupa, dan saat itu dirinya sedang berada di rumahku bersama crew dekorasi. Aku jadi semakin yakin bahwa sejak kemarin, ia memang menyindir keluargaku. Intinya status itu menyindir-nyindir bahwa keluargaku terlalu cuek dan nggak peduli padanya.

Aku pun menceritakan hal itu pada Mas dan pada keluargaku, dan kami bertanya-tanya mengenai alasan mengapa dia tiba-tiba update status seperti itu, karena kami nggak merasa melakukan kesalahan apapun padanya. Kami juga yakin bahwa kami sudah menjamu dia dan crew-nya dengan baik setiap kali mereka datang ke rumah.

"Apa mungkin selama ngawasi crew tenda dan dekorasi, dia kepingin ditemani kali ya?" pikir ibuku.

FYI, Mas adalah anak tunggal. Kedua orangtuanya sudah meninggal beberapa tahun silam, dan ia nggak memiliki sanak saudara di kota ini. Mereka tinggal di Magelang, Jakarta, Depok, dan Kalimantan. Satu-satunya kerabat yang ia miliki di kota ini hanyalah uwaknya (kakak dari almarhum ayahnya) yang kadang berkunjung ke rumah keponakannya itu untuk menjenguk. Karena hal ini, maka kegiatan persiapan pernikahan kami (khususnya dalam hal masak-memasak untuk prasmanan dan menjamu tamu) sebagian besar dilakukan oleh keluargaku. Oleh karena itu, tentunya kami menjadi sangat sibuk, dan menemani Mbak Dea selama mengawasi crew tenda dan dekorasi adalah hal yang hampir mustahil.

Mendengar ceritaku, nenek menghampiri Mbak Dea. Sambil membawa kue di atas piring, nenek menuturkan permintaan maaf padanya.
"Maaf ya, Bu, kalo disini (sikap kami) mungkin nggak mengenakkan. Mohon maklum, yang bantu-bantu disini semuanya tamu dan semuanya sibuk di dapur. Jadi kalo Ibu butuh minum atau butuh apa-apa, langsung bilang aja."
Namun alih-alih menjawab dengan sopan, Mbak Dea justru menjawab ucapan nenek dengan nada ketus, "Sibuk apa?" 

Hal itu tentunya membuat aku dan keluarga menjadi hilang respect padanya, mengingat ia dan timnya adalah penyedia jasa. Jika ada masalah atau sesuatu yang nggak berkenan baginya, bukankah ia bisa sampaikan langsung pada klien? Bukannya menyindir-nyindir klien via status seperti anak ABG labil, ditambah lagi berkata dengan nada ketus pada orang lain yang bahkan usianya puluhan tahun diatas usianya.


Belum cukup sampai disitu.

Ibuku bercerita, bahwa pada saat menyiapkan salah satu kamar kos di rumahku sebagai kamar rias, ibu sempat bertanya pada Mbak Dea, apakah ruangan itu cukup potensial dijadikan kamar rias pengantin dan pagar ayu. Namun yang ditanya malah nggak memberikan respon apapun. Hmm.. lagi-lagi krisis etika 🙂

Sekitar jam setengah enam pagi, aku menemui Mbak Dea dan timnya untuk dirias. Wajah Mbak Dea tampak nggak ada ramah-ramahnya saat itu. Aku hanya melempar senyum, tapi nggak mood untuk mengajaknya ngobrol. Namun di tengah-tengah pekerjaannya meriasku, ia sempat menyinggung soal ibuku yang menurutnya sok sibuk.
"Ibu hajat kok keluar-masuk-keluar-masuk rumah aja", katanya waktu itu.
"Kayak ingus ya, Mbak", salah satu asistennya ikut menimpali, diikuti suara cengengesan satu asisten lainnya. Kurang ajar nggak sih? Mungkin maksudnya becanda kali yah, tapi sorry to say menurutku itu lancang dan nggak lucu sama sekali.
"Iya, keluar-masuk-keluar-masuk rumah aja. Sebentar nemuin kita, trus masuk lagi. Kesannya kayak nggak menghargai kita."

What the hell?
Aku hanya mengernyitkan dahi. Nggak menghargai bagaimana?
Seperti yang sudah kutuliskan di atas, selama menangani persiapan pernikahanku, ibu selalu menjamu Mbak Dea dan timnya dengan baik. Kopi panas dan es manis ibu sediakan sesuai permintaan, nggak lupa juga beberapa piring camilan dan rokok dengan merk yang mereka suka. Bagian mana yang mereka sebut nggak menghargai?

Yah, mungkin ibuku memang nggak memiliki cukup waktu untuk menemani Mbak Dea dan crew-nya sepanjang waktu, but please anyone tell me, apakah menjamu mereka seperti itu belum cukup untuk disebut menghargai?

Dan aku nggak tau ya, apakah masalah keluargaku-yang-dianggap-nggak-menghargai-mereka itu mempengaruhi pelayanan mereka. Pasalnya, menurut kami pelayanan Mbak Dea dan timnya itu benar-benar kurang memuaskan.

Pertama, dekorasi pelaminan yang berbeda dengan yang Mbak Dea tunjukkan di foto.
Di foto yang Mbak Dea tunjukkan saat kunjungan pertama kami ke salonnya, bagian atas background pelaminan tampak penuh dengan bunga-bunga. Namun bunga-bunga di bagian atas background pelaminan kami tampak jarang-jarang.

Kedua, Mbak Dea berkata bahwa timnya akan meminjamkan satu standing frame yang bisa kami gunakan untuk memajang foto aku dan Mas di depan pintu masuk. Namun pada saat resepsi, standing frame itu nggak ada.

Ketiga, gaun pernikahan warna pink yang kukenakan pada saat resepsi berbeda dengan gaun pernikahan yang kucoba saat fitting.
Saat fitting, aku memilih gaun pernikahan warna pink muda dengan model mermaid. Namun pada saat resepsi, yang kukenakan malah gaun pernikahan warna pink cerah dengan rok petticoat. Tapi yang satu ini nggak begitu mengecewakan sih, karena alhamdulillah aku menyukai modelnya.

Keempat, pada H-1, aku berpesan pada Mbak Dea agar ia mengirim salah satu asistennya untuk merias Tiara dan Aura. Namun alih-alih merias dua gadis kecil itu, asisten Mbak Dea malah merias dua kerabat Mas. Kasihan, padahal Tiara dan Aura sudah antusias sekali ingin didandani. Bahkan sejak jauh-jauh hari, Tiara selalu mengingatkanku setiap kali kami bertemu, "Teh, nanti di acara nikahan Teteh, aku dirias ya!" :')

Kelima, riasan yang kurang rapi.
Pada postinganku yang sebelumnya, aku menceritakan bahwa shade di pipiku terlalu gelap. Tapi nggak cuma itu aja. Ketika memakai gaun dan riasan terakhir, hijab yang kukenakan nggak sempurna menutup leherku. Aku nggak akan menyadari itu kalo aja Mas nggak bilang. Anehnya, biasanya Mbak Dea selalu memotret dan membuat postingan before-after setiap kali merias customernya, tapi dalam menangani pesta pernikahanku itu, dia nggak melakukannya. Semoga aja cuma karena pengaruh badmood ya 🙃

Well, cukup mengoreksi Mbak Dea dan tim riasnya. Kali ini soal foto.

FYI, aku dan Mas sama-sama merupakan tipe orang yang kurang suka berpose tersenyum saat difoto. Aku sendiri kurang pede dengan bentuk gigiku yang kurang rata. Gigi seri di sebelah gigi taring kananku tumbuh dengan posisi yang kurang tepat sehingga membuat senyumku terlihat aneh.

Ironisnya, ketika sesi foto, Mas Fotografer justru terus-terusan meminta kami untuk berpose tersenyum. Sebenarnya gapapa sih, karena ini kan memang momen bahagia yang sepantasnya diekspresikan dengan senyuman. Tapi aku dan Mas kan pinginnya pose kami ada variasinya gitu, nggak begitu-begitu aja.

Sedihnya lagi, foto bersama sepupu dekatku, foto bersama teman-teman kecilku, foto bersama teman-teman kantorku, foto bersama Teh Indri, dan foto bersama Rohayati nggak ada di antara semua foto yang diabadikan Mas Fotografer di momen penting itu :')

Haahh.. kalo mengingat itu semua, rasanya pingin banget mengulang dan memperbaiki hal-hal nggak mengenakkan yang terjadi di resepsi kemarin. Seenggaknya kami ingin memakai jasa MUA yang lebih profesional dan memiliki attitude lebih baik ketimbang MUA yang kemarin itu. Serius deh, pakai jasa beliau itu membuat kami merasa diperlakukan seperti customer yang nunggak, padahal kami bayar jasanya tepat waktu dan nggak nunggak satu haripun. Well, sebenarnya aku nggak begitu mempermasalahkan kekurangan-kekurangan pelayanannya yang kusebutkan di atas tadi. Gaun pernikahan yang berbeda, ketidak-adaan standing frame, atau kekeliruan Mbak Dea dalam merealisasikan pesanku mungkin aja terjadi karena miskomunikasi diantara kami. Namun aku dan keluarga sangat menyayangkan attitude-nya yang menurut kami kurang baik. Kalo begitu sih, boro-boro mau merekomendasikan jasanya ke orang lain kan ya 😌

Total Tayangan Halaman

 
;