Senin, 11 November 2019 0 komentar

Trip to Jogja

Bagi sebagian teman-temanku, melancong ke Jogjakarta udah bukan pengalaman baru lagi. Beberapa dari mereka bahkan udah bosan pergi kesana. Tapi bagiku, ini adalah pengalaman yang sangat baru.

Tanggal 8 November kemarin, perusahaan tempatku bekerja mengadakan tour bersama ke Jogjakarta. Seluruh karyawan wajib ikut (kecuali bagi yang benar-benar berhalangan untuk ikut). Hal ini tentunya disambut dengan sangat antusias oleh seluruh karyawan, mengingat selama delapan tahun perusahaan ini berdiri, perusahaan ini sama sekali belum pernah melakukan rekreasi ke luar kota untuk seluruh karyawannya. Kalopun ada rekreasi, palingan untuk tim-tim tertentu aja. Tapi kali ini, seluruh karyawan bisa menikmatinya, bukan hanya untuk para karyawan kantor cabang Cirebon, tapi juga untuk para karyawan kantor cabang Bekasi, Tasikmalaya, Pekanbaru, dan tentu aja kantor pusat.

Saking antusiasnya, rekan-rekanku di kantor, khususnya para ladies udah mempersiapkan perlengkapan tour jauh-jauh hari. Bahkan ada aja gitu yang kepikiran buat beli tas baru, jaket baru, hijab baru, sepatu baru, sandal baru, sampai make-up baru. Aku mah boro-boro kepikiran beli barang baru, ingat bawa sikat gigi dan lotion ketiak aja udah bersyukur banget.


***

Hari Jum'at 8 November, pukul 16.00, seluruh peserta tour dari kantor cabang Cirebon diimbau untuk berkumpul di kantor dengan mengenakan kaos seragam dengan logo perusahaan. Aku baru tiba di kantor menjelang pukul lima sore dengan menumpang ojek online. Kukira aku datang terlambat, karena ketika aku tiba, seluruh peserta udah berkumpul di halaman dan berfoto bersama dengan memegang spanduk besar, nyatanya kami masih harus menunggu cukup lama karena Bus I belum tiba (FYI, kantor cabang Cirebon menyewa dua unit bus untuk mengangkut 87 peserta tour dari kantor cabang Cirebon ini). Seriously, waktu itu rasanya BT dan kesel banget nunggunya. Kalo tau busnya bakal datang terlambat sih, mending nge-charge powerbank aja dulu di rumah.

Sementara menunggu Bus I datang, sebagian rekan-rekan kerjaku memanfatkan waktu dengan berselfie, sedangkan aku sendiri cuma sibuk mondar-mandir nggak jelas (karena memang nggak ada yang ngajakin selfie. Huhu..).

Hingga waktu Magrib tiba, Bus I belum juga datang. Akhirnya kami pun memutuskan buat sholat Magrib dulu, itu pun gantian, mengingat ruang mushola kantor yang nggak luas.

Setelah sholat Magrib, aku kembali ke showroom dan duduk di sebelah Bu Herlina yang langsung mengajakku buat selfie bareng. Kuajak pula Mbak Aam yang berdiri nggak jauh dari situ.
"Sini, Mbak. Kita foto bareng", kataku sambil menepuk ruang kosong di sofa yang kududuki. Mbak Aam pun manut. Bertiga, kami mengambil beberapa gambar. Habis itu, kami pun ngobrol-ngobrol.


Ki-Ka : Bu Herlina, aku, Mbak Aam

Can you see that sadness on her face?
Ki-Ka : Mbak Aam, aku, Bu Herlina, Bu Ade


BTW Mbak Aam ini salah satu sales di perusahaan ini. Belum lama bekerja, baru sekitar dua bulan. Orangnya pendiam banget. Dia sering banget menyendiri dan melamun. Kalo ngobrol pun ia selalu tampak gugup dan terbata-bata. Menurut Supervisornya, ia mengalami pressure dari keluarganya yang membuat kondisi mentalnya agak terganggu.

Namun meskipun begitu, Mbak Aam memiliki obsesi yang begitu besar terhadap musik. Ia hobi menyanyi dan mendengarkan musik, juga semangat belajar memainkan piano. Ajaibnya, musik membuatnya bisa begitu percaya diri. Ia memiliki akun Youtube yang berisi puluhan video yang merekam dirinya sendiri sedang bernyanyi. Ia juga pernah beberapa kali mengikuti audisi pencarian bakat di radio, meski hasilnya belum sesuai harapan. Salut! Aku aja nggak se-PD itu. Huhuu..

Oh ya, Mbak Aam juga bahkan memiliki beberapa buah karya berupa lirik lagu yang ia tulis di buku khusus dan berharap suatu saat ada musisi yang menyempurnakan karyanya menjadi sebuah lagu. Makanya, ketika pertama kali melamar kerja ke perusahaan ini dan mendengar bahwa perusahaan ini memiliki band sendiri (MUSTunable Band) ia begitu bersemangat. Setiap kali aku dan teman-teman MUSTunable akan latihan, Mbak Aam selalu berharap bisa ikut. Sayangnya rumah dia jauh banget, sedangkan setiap kali band kami latihan, kami selalu pulang malam. Kasihan kalo dia pulang terlalu larut, apalagi dia perempuan. Andai kami nggak latihan malam hari atau rumahnya nggak sejauh itu, aku akan dengan senang hati mengajaknya ikut latihan. Yah, biar dia nggak merasa sendirian terus. Setiap kali aku melihat dia, aku selalu ingat lagu 'Samar' milik Bung Fiersa : Wahai gadis bermata sendu.. Mengapa kau merenung? Tertunduk di sudut dunia.. Apa yang kau sesali? Tak tahukah dirimu hidup tak kan menunggu? Buka sedikit hati.. Agar kau tahu kau tidak sendiri..

Hari itu, kami ngobrol-ngobrol soal musik. Ia juga bertanya tentang bagaimana awal mula aku bergabung dengan MUSTunable dan Black Party. Aku pun menjawabnya dengan antusias. Sayangnya kesempatan itu terlalu singkat, karena Koordinator Bus sudah memerintahkan para peserta tour untuk bergegas masuk ke bus masing-masing dan menempati tempat duduk yang sudah ditentukan sehari sebelumnya.


Andai boleh tukar tempat duduk, rasanya aku pingin duduk di sebelah Mbak Aam aja deh, biar kami bisa sharing lebih lama. Habisnya, ini kesempatan langka banget. Biasanya kalo di kantor, Mbak Aam lebih banyak diam, atau diledekin sama rekan-rekan gitu.

Dalam acara tour ini, partner seperjalananku adalah Bu Damayanti. Ketika mengetahui partner seperjalananku adalah beliau, beberapa rekan kerjaku menyarankanku untuk selalu sedia earphones mengingat sifat beliau yang memang agak cerewet. Well, Bu Damayanti yang merupakan seorang Sales ini memang terkenal suka ngomong dan suaranya nyaring, berbanding terbalik denganku yang banyak diam, terlebih saat dalam perjalanan, karena aku lebih suka melihat ke luar jendela sambil mendengarkan musik. Nggak tau kenapa, serasa di video klip gitu. Wkwkwk.. Adakah yang juga merasa demikian, atau cuma aku aja?

Sebelum berangkat, kami pun berdoa dipimpin oleh seorang senior yang sebenarnya bukan karyawan perusahaan sih, tapi sedikit punya peran gitu di perusahaan ini. Hanya aja doanya agak ngaco dan menjurus ke musyrik gitu, jadi aku memutuskan untuk nggak mengikuti beliau.

Pukul 07.14, bus kami pun bergerak. Beberapa menit setelah bus berangkat, Koordinator Bus membagikan air mineral dan sekotak nasi padang untuk makan malam. Yup, kami makan malam dalam perjalanan. Musik koplo yang diputar Pak Sopir menemani perjalanan kami malam itu. Ada yang asik bernyanyi mengikuti musik, ada yang berselfie, ada yang ngemil, dan ada yang cuma ngobrol-ngobrol. Semakin malam, suasana bus semakin sepi karena satu persatu, penumpang memutuskan untuk tidur. Ketika itulah Mas Febri selaku Seksi Dokumentasi beraksi. Ia mendekati rekan-rekan yang tidur dengan mulut terbuka dan iseng memotretnya. Aku sudah mengira keisengan semacam ini bakal terjadi, makanya aku jaga-jaga, bawa masker dari rumah. Wkwk..

Sekitar jam dua dini hari, kami baru tiba di Jogjakarta. Bus kami singgah di RM Dapur Limasan Borobudur untuk beristirahat. Sedikit kecewa sih, karena kami pikir kami bakal istirahat di penginapan gitu. Tapi ya sudahlah. Seenggaknya di tempat ini aku bisa mengisi daya handphone dan powerbank-ku serta berbaring dan meluruskan kaki meski hanya beralas bangku kayu panjang. Huhu..

Rupanya aku sempat tertidur ketika berbaring di bangku itu. Aku terbangun sekitar jam empat subuh dan melihat rekan-rekanku tengah mengantre kamar mandi. Aku pun bergabung bersama mereka. Waktu itu rasanya kesal banget, karena beberapa kali giliranku disalip, sehingga aku baru kebagian masuk kamar mandi sekitar pukul setengah enam (derita orang terlalu sabar tuh gini nih). Karena udah terlalu siang dan takut nggak sempat sholat Subuh, akhirnya aku pun memutuskan untuk sikat gigi, cuci muka, dan wudhu aja.

Selesai sholat dan berdandan kilat, aku bergabung bersama rekan-rekanku untuk sarapan. Pagi itu kami sarapan dengan lauk lele goreng. Habis itu, kami foto-foto. Kami juga dibagikan kaos seragam Tour Jogja yang harus langsung kami kenakan saat itu juga. Sekitar jam tujuh, kami baru berpindah lokasi, yakni menuju lokasi wisata tujuan pertama kami : Candi Borobudur.

Setibanya di kawasan wisata Candi Borobudur, seluruh karyawan peserta tour, baik itu dari kantor pusat maupun kantor cabang berkumpul jadi satu kemudian berfoto bersama. Habis itu, baru deh kami berpencar-pencar dari rombongan. Aku berjalan bersama Mbak Tika, Bu Hani, dan Bu Lia. Kami berfoto-foto bersama sampai puas. Alhamdulillah hari itu cuaca sangat cerah, sehingga kami bisa menikmati betapa cantiknya pemandangan dari puncak Borobudur. Mataharinya memang terbilang terik sih, tapi nggak masalah karena kami mengenakan kacamata hitam. Bu Hani dan Bu Lia bahkan membawa topi bundar agar kepala dan wajah mereka juga terlindung dari panas dan paparan sinar matahari. 





Setelah puas berfoto-foto, kami pun turun dari kawasan candi, tapi nggak langsung ke mobil sih, karena di area taman, kami foto-foto lagi, kali ini bareng Pak Teguh, Pak Wirja, Pak Ben, A Putra, Badar, dan Mas Febri. Begitu keluar dari area wisata, kami disambut oleh para pedagang keliling yang langsung menawarkan dagangannya pada kami. Ada yang menjual minuman, makanan, tapi mostly mereka jual cenderamata sih. Mereka mengerubuti kami seperti wartawan yang akan mewawancarai tokoh publik, sementara kami sedikit kewalahan menghadapi mereka. Bu Hani dan Bu Lia membeli beberapa cenderamata dari mereka. Lucunya, ketika tawar menawar, Bu Hani menggunakan bahasa Cirebon saat berbicara dengan pedagang, sedangkan pedagangnya menggunakan bahasa Jawa. Tapi bisa nyambung gitu lho. Wkwkwk..

Kami berjalan terus hingga memasuki area pasar. Di pasar ini, penjual cenderamatanya lebih banyak lagi, hanya aja mereka menjajakan dagangannya di kios-kios gitu, nggak keliling seperti pedagang-pedagang yang kami temui sebelumnya. Aku ingat, adikku kepingin punya kain ikat kepala. Akhirnya aku pun mampir ke salah satu kios dan membeli selembar kain ikat kepala bercorak batik warna coklat. Disitu juga aku membeli dua buah tas rajut warna navy untuk Rohayati dan Ayu. Murah-murah deh harganya. Tiga item itu total kudapatkan dengan harga tujuh puluh ribu rupiah. Sebenarnya mungkin bisa lebih murah lagi sih, hanya aja aku bukan tipe cewek yang pandai menawar. Huhu..

Sayangnya waktu kami nggak banyak disana. Padahal yaa kalo waktu kami banyak di kawasan Magelang sana, bisa kali ya meet up sama Tifanny. Toh, waktu tempuh dari Magelang ke Kertosari, Temanggung hanya sekitar satu jam. Ini kesempatan yang langka banget. Tapi jangankan meet up sama Tif deh, aku bahkan nggak sempat melihat-lihat dan mencari cenderamata untuk yang lainnya, karena Pak Yosep sudah memerintahkan kami untuk segera kembali ke bus. Mister Chokai dan Inggit bahkan berkali-kali meneleponku untuk bergegas.
“Gimana sih kamu? Kan udah dikasih tau, jam sepuluh harus udah kumpul di mobil Pak Yosep”, omel Mister Chokai dari telepon. Hah, kok kumpul di mobil Pak Yosep?
Well, berbeda dengan rekan-rekanku yang lain yang harus segera kembali ke bus, aku dan teman-teman dari MUSTunable Band justru diharuskan berkumpul di mobil Direktur Utama kami itu. Kenapaaa? Karena kami harus tiba lebih dulu di lokasi selanjutnya untuk segera melakukan check sound. Yup, kami bakal perform di lokasi wisata tujuan kami selanjutnya, yakni Tebing Breksi. Sialnya, aku dan teman-teman nggak bisa langsung menemukan dimana lokasi parkir kendaraan kami. Alhasil, jadinya malah mutar-mutar nggak karuan. Wkwkwk..

Akhirnya kami ketemu Mister Chokai dan rekan-rekan lain yang sudah lebih dulu kumpul. Belum sempat dia ngomel-ngomel, aku omelin dia duluan. Habisnya kesel juga. Masa di telepon dia bilang, “Udah kamu jalan duluan aja sini, nggak usah nungguin Bu Hani dan yang lainnya”. Lah, kalo aku nyasar gimana coba?

Pak Yosep pun mempersilahkan aku untuk masuk mobil. Didalam situ sudah ada Dhea, Badar, Mas Febri, Ryan, dan Inggit, yang berarti semua personil sudah lengkap. Aku duduk di kursi belakang bersama Inggit dan Ryan. Setelah semua personil masuk mobil, Pak Yosep pun langsung menyetir mobilnya keluar dari kawasan itu. Sumpah deh ya, waktu itu rasanya posisi duduk nggak nyaman banget. Mobil yang dikemudikan Pak Yosep saat itu bukanlah jenis mobil yang bisa menampung banyak penumpang. Ruangnya terlalu sempit untuk kami yang keseluruhan berjumlah delapan orang. Terlebih perjalanan yang kami tempuh memakan waktu sekitar satu setengah jam. Alhasil sepanjang perjalanan aku harus menahan kaki dan punggung yang pegal. Rasanya pengen cepat-cepat sampai aja.

Sesampainya di lokasi Tebing Breksi, Pak Yosep langsung mengendarai mobilnya sampai ke puncak tertinggi lokasi. Bukan di puncak tebing seperti yang gambarnya berseliweran di Google itu sih, tapi di sebuah lokasi dimana terdapat sebuah pendopo untuk acara tertentu gitu. Tapi dari tempat itu, kita tetap bisa kok menikmati pemandangan Jogja dari ketinggian. Begitu turun dari mobil, Pak Yosep membagikan kaos band kepada kami yang harus langsung kami kenakan. Baru deh, setelah mengenakan kaos MUSTunable, kami pun melakukan check sound. Sesi check sound sempat kacau di awal karena suaraku fals banget dan nggak pernah berhasil masuk di nada. Waktu itu rasanya khawatir banget. Khawatir performance-ku nanti memalukan dan mengecewakan. Setelah check sound, kami pun makan siang sembari menunggu rekan-rekan lainnya tiba.

Check sound duluuu..

Singkat cerita, sebagian peserta tour sudah berkumpul di lokasi dan duduk bersila di tempat yang sudah disediakan. Sementara mereka menikmati makan siang (yang sebenarnya bisa dibilang telat karena waktu sudah menjelang sore), aku dan teman-teman MUSTunable pun mulai menghibur mereka dengan beberapa lagu. Aku bersyukur banget karena apa yang kukhawatirkan di awal (tentang nada yang selalu gagal masuk), nggak terjadi saat kami perform. Dan yang terpenting, aku sama sekali nggak merasa nervous saat perform. Aku bahkan bisa sedikit berinteraksi dengan penonton tanpa berkata dengan terbata-bata seperti yang sudah-sudah. Bisa dibilang ajaib sih ini. Huhu.. Makasih ya Allah :')
BTW, saat kami perform kemarin, ada seorang penonton cewek berwajah manis (yang sepertinya merupakan karyawan kantor cabang Tasik) yang terus memperhatikanku. Setiap kali pandangan mataku tertuju ke dia, dia selalu tersenyum. Rasanya seneng deh kalo lagi perform diperhatiin kayak gitu. Kayaknya dia ramah sih orangnya. Hmm.. Jadi pengen temenan deh.

Setelah seluruh peserta berkumpul, acara inti pun dimulai yang dibuka dengan pemberian sambutan-sambutan, kemudian dilanjut dengan pengumuman pemenang lomba fotografi (yang nantinya akan dimuat di kalender perusahaan), pengenalan sistem pembayaran yang terbaru (FYI buat yang belum tau, kami adalah perusahaan yang bergerak di bidang cash & kredit), dan pembagian doorprize. Pembagian doorprize ini tentunya nggak dilakukan sekaligus, melainkan diselingi oleh penampilan band kami. Yang paling kusukai adalah momen ketika kami membawakan salah satu jingle perusahaan yang berjudul Bersama Kita Bisa. Saat itu seluruh peserta diminta berdiri sambil bernyanyi bersama. Rasanya seneng banget melihat rekan-rekan yang bernyanyi dengan semangat, khususnya rekan-rekan dari kantor cabang Cirebon. Ketika aku menyanyikan bagian lirik, "Kita rayakan.." kemudian kuserahkan microphone ke arah mereka yang serempak menyambut dengan lirik, ".. BERSAMA KITA PASTI BISA". Acara berakhir menjelang magrib diiringi lagu pamungkas berjudul Kemesraan dengan latar belakang sunset. Huhu.. syahdu banget..

 
Sementara sinar surya perlahan mulai tenggelam
Suara gitarmu mengalunkan melodi tentang cintaaa..


Setelah acara selesai, kami pun nggak menyia-nyiakan waktu. Mumpung matahari belum sempurna tenggelam, kami pun berfoto dengan sunset sebagai latar belakang. Uuh.. benar-benar momen yang aku inginkan dari dulu deh :')



MUSTunable dan fans. Wkwk..



Setelah seluruh peserta bubar, aku dan teman-teman dari MUSTunable pun bersiap-siap kembali ke bus. Karena kami malas turun ke parkiran dengan berjalan kaki, akhirnya kami pun sepakat menumpang mobil Pak Faisal. Tapi sayangnya, ditengah perjalanan turun, mobil kami terjebak macet.
"Gimana nih?" teman-temanku mulai bimbang.
"Ya udah, jalan kaki aja yuk. Daripada kejebak macet gini".
Akhirnya aku, Inggit, Ryan, Mas Febri, dan Badar pun memutuskan keluar dari mobil Pak Faisal dan turun ke parkiran dengan berjalan kaki, sementara Mister Chokai tetap bersama Pak Faisal. Namun sial, bus-bus kami rupanya sudah bergerak. Kondisi lokasi yang sulit sinyal membuat komunikasi kami dengan rekan-rekan kami yang lain terhambat. Alhasil kami berlima pun berlari-larian hilir mudik mencari bus kami.
"Ngenes banget ya kita, artis kok gini amat nasibnya".
" Iya, udah manggung nggak dibayar, sekarang malah ditinggal bus".
Kami ngedumel sepanjang jalan. Yah, sambil ketawa-ketawa juga sih karena geli sendiri sama nasib kami. Syukurlah, bus kami masih belum jauh dari area parkir. Sesampainya di bus, kami malah diketawain sama rekan-rekan. Huhu..

Kami pun melanjutkan perjalanan untuk mencari oleh-oleh. Waktu itu waktu menunjukan sekitar pukul sepuluh malam. Bus kami berhenti di area parkir Ngabean. Dari situ, seluruh peserta tour berpencar-pencar. Aku, Bu Lia, Bu Hani, Mbak Tika, Bu Yeyen, dan Mbak Selvi pergi ke pusat oleh-oleh dengan menumpang bentor. Kami berhenti di salah satu toko oleh-oleh. Teman-temanku pun langsung mengambil keranjang untuk berbelanja, sementara aku menunggu di luar setelah nggak menemukan apa yang kucari di toko itu, yakni kue mochi dan wingko babat. Lho, kenapa nggak beli bakpia kayak yang lain? Karenaaa beberapa hari yang lalu ibuku juga baru dari Jogja dan membawa pulang beberapa kotak bakpia. Makanya aku cari oleh-oleh jajanan yang lain.

Kondisi udara di luar toko itu rasanya pengap banget. Banyak pengemudi bentor yang mangkal disitu. Asap knalpot dan rokok berbaur jadi satu, nggak heran kalo jadinya pengap. Setelah teman-temanku selesai belanja di toko itu, kami pun berpindah lokasi untuk melihat-lihat batik dan kaos. Aku nggak ingat nama jalannya, tapi di tempat itu harga barangnya mahal-mahal gitu. Atau apa memang standarnya segitu ya? Habisnya kalo dibandingkan dengan harga barang di pasar yang di dekat Borobudur itu kok jauh banget bedanya. Huhu.. Rasanya pengen banget balik ke pasar itu lagi, karena bahkan hingga ke Malioboro, aku belum juga membeli satupun oleh-oleh.

Ada kejadian mengesalkan ketika kami tiba di Malioboro. Saat itu, Bu Hani ditelepon Bu Ati yang merupakan perwakilan dari salah satu supplier. Dari telepon, Bu Ati meminta tolong untuk dijemput di suatu tempat. Jadi ceritanya, sore tadi Bu Ati berencana pulang duluan ke Cirebon dengan menumpang kereta jam delapan. Namun karena situasi dan kondisi yang nggak bisa ditebak, ia terlambat datang ke stasiun dan ketinggalan kereta. Waktu itu sekitar jam sebelas malam, itu artinya Bu Ati sudah sekitar tiga jam kebingungan sendiri di posisinya saat itu.

"Ya udah, Mbak Ati kesini aja, ke titik nol kilometer, depan gedung Bank BNI. Saya lagi disini, bareng Bu Lia, Tika, dan Putri", ucap Bu Hani.
Namun mengarahkannya ternyata nggak mudah. Ada kali satu jam kami disitu, nggak kemana-mana. Bu Hani sudah kesal mengarahkan, Mbak Tika dan Bu Lia ngedumel, aku sendiri bersungut-sungut dalam hati. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk berburu oleh-oleh jadi terbuang hanya untuk menunggu satu orang aja. Bukannya gimana-gimana, hanya aja sebelumnya teman-temanku sudah menyarankan Bu Ati untuk lebih bersabar dan pulang bareng-bareng dengan rombongan, namun ia tetap bersikeras untuk pulang sendiri. Nah, akhirnya terjadi hal yang nggak diinginkan kan. Kalo sudah begitu, bukan dia sendiri yang rugi, tapi kami pun jadi kehilangan waktu.

Kawasan Malioboro saat itu penuh dengan manusia, mayoritas anak-anak mudah sih. Mungkin karena malam minggu, ditambah lagi hari itu bertepatan dengan pelaksanaan upacara panjang jimat di keraton. Jadi boro-boro deh bisa nunggu sambil foto-foto disana.

Singkat cerita, Bu Ati pun akhirnya menemukan kami. Masih terlihat jelas raut kepanikan di wajahnya. Ia bahkan terlihat hampir menangis saat menceritakan apa-apa yang ia alami dan rasakan saat 'nyasar'. Sambil ngobrol-ngobrol, kami lanjut jalan. Namun sayang, karena waktu sudah larut malam, banyak toko oleh-oleh jajanan yang sudah tutup. Hanya pedagang pakaian dan souvenir yang tampak masih banyak menjajakan dagangannya, selebihnya adalah pedagang-pedagang makanan seperti bakso, telur gulung, gudeg, dan sebagainya. Aku menghampiri salah satu pedagang kaus dan membeli dua helai kaus. Kaus biru oleh-oleh untuk bapak, dan kaus putih oleh-oleh untuk Mas Pacar (plus beberapa buah cenderamata dalam kotak kecil berhias pita hijau). Muehehe..
"Orang Jogja kok dikasih oleh-oleh dari Jogja", kata dia. Masih untung dibawain oleh-oleh kamu tuh, Mas 😛

Sekitar jam setengah dua dini hari, kami baru kembali ke bus untuk pulang ke kota kami, Cirebon. Awalnya aku sempat kecewa sih karena nggak bawa oleh-oleh jajanan buat orang-orang rumah. Tapi ketika bus kami berhenti di salah satu rest area di Semarang, aku melihat sebuah kios yang menjajakan oleh-oleh jajanan gitu, jadi aku memutuskan untuk membeli oleh-oleh disitu. Aku membeli dua kotak kue mochi dan dua bungkus wingko babat. Alhamdulillah, akhirnya dapat juga apa yang dicari walau bukan dari Jogja. Hehe..

Kami baru tiba di Cirebon hari Minggu sekitar jam tujuh pagi. Setibanya di rumah, setelah membagikan oleh-oleh kepada orang-orang rumah, aku langsung mandi. Seger banget rasanya, ya ampun. Maklum, dua hari nggak mandi. Wkwk.. Habis itu tidur deh sampai sore, nyenyak banget kayak orang pingsan. Saking apanya coba 😂
Jumat, 12 Juli 2019 4 komentar

BUKU : MEREKA ADA by Mystic Waves

Rasanya sudah cukup lama aku nggak mengulas tentang buku ya. Kali ini, tanganku gatal banget mau mengulas tentang buku yang satu ini. Tapi sebelumnya, aku mau bahas sedikit tentang alasan aku membeli buku ini. Jujur, meski aku menyukai kisah horor, tapi aku kurang tertarik dengan buku ataupun novel horor, karena kebanyakan ceritanya terlalu berlebihan. Dibuat seram, tapi nggak memberi efek merinding gitu, salah satunya buku kumpulan cerpen horor yang beberapa bulan lalu kubeli di bazaar buku. Baru baca beberapa halaman, rasanya udah malas aja gitu. Akhirnya buku itu nggak aku baca sampai tuntas. Tapi, buku yang mau aku ulas sekarang ini berbeda.

Pernah baca postinganku tentang Mystic Waves? Well, biar kujelaskan lagi. Mystic Waves (atau mwv.mystic) adalah sebuah akun Instagram yang sebagian besar postingannya adalah cerita-cerita horor yang diangkat berdasarkan true story, atau kisah nyata. Di postinganku waktu itu, aku menceritakan sedikit tentang adminnya yang membuat aku dan pembaca lainnya penasaran karena Si Admin ini nggak pernah mau menunjukkan wajahnya.

Kali ini aku bukan lagi mau membahas tentang Si Admin ya, karena disamping jati dirinya yang belum terungkap juga karena yaa nggak penting juga sih buat dibahas. Wkwkwk.. Sorry buat Admin AGP yang mungkin baca postingan ini. Maksudku bukan nggak penting yang gimana-gimana sih. Maksudku, nggak peduli bagaimana tampang Admin dan bagaimana latar belakang Admin, tapi selama Admin AGP masih bersama Mystic Waves dan Mystic Waves masih konsisten dengan konten Instagramnya, kami pasti bakal terus support.

Aku nggak ingat kapan pertama kali aku mem-follow akun ini, yang jelas, itu beberapa tahun yang lalu, kemungkinan tahun 2016. Adikku yang merekomendasikan akun ini, karena dia tau aku menyukai hal-hal mistis. Haha.. Dulu lumayan banyak akun horror yang aku ikuti. Tapi dari akun-akun itu, Mystic Waves adalah yang paling lama menempati kolom Following di akunku. Kenapa?

Karena cerita true story yang diposting di akun ini nggak sembarangan copy paste dari narasumber, melainkan dipilah-pilih dulu oleh admin. Cerita-cerita itu harus memiliki kriteria tertentu untuk bisa terpilih. Bukan hanya menarik dan seram, tapi juga harus berasal dari sumber yang terpercaya (narasumber harus berusia minimal 17 tahun atau dalam artian sudah dewasa dan bisa membedakan mana halusinasi, mana kenyataan, dan mengalami sendiri kejadian tersebut atau diceritakan langsung oleh orang yang mengalami, untuk menghindari hoax). Selain itu, Admin juga seringkali menyisipkan berbagai opini dan teori yang bertujuan untuk meluruskan persepsi-persepsi yang salah. Misalnya, kebanyakan orang kan percaya kalo arwah orang meninggal itu bisa gentayangan, padahal sebenarnya (khususnya dalam kepercayaan agama Islam) nggak ada itu yang namanya arwah gentayangan, melainkan adalah jin qarin yang menyerupai. Intinya buatku pribadi, akun ini nggak hanya menyajikan hiburan bagi penikmat cerita horor, tapi juga memberikan informasi yang bermanfaat.

Nah, bulan Februari lalu, akun ini menerbitkan buku horor pertamanya. Tapi baru tanggal 21 Juni kemarin aku mendapatkan buku ini dari toko buku online. Sama seperti Mystic Waves, buku ini berisi kumpulan cerita horor true story yang pernah dimuat di akun Instagram Mystic Waves, hanya aja tentu, cerita-cerita yang dimuat adalah cerita-cerita terbaik dan mendapat banyak respon positif dari para Followers, karena ya nggak mungkin juga mereka memuat semua cerita yang pernah diposting di akun Mystic Waves, mengingat cerita yang pernah diposting banyak banget jumlahnya.




Ada empat judul cerita terbaik yang dimuat dalam buku ini :

  1. Petaka Dukun Beranak
    Kisah ini diambil dari sudut pandang narasumber yang merupakan seorang anak dukun bayi yang bersekutu dengan jin dalam pelaksanaan praktiknya. Narasumber ini memiliki orangtua yang keluarganya bertolak belakang pandangan. Ibunya berasal dari keluarga yang menganut kepercayaan kejawen, sedangkan ayahnya merupakan seorang muslim yang taat. Perbedaan pandangan ini membuat keluarga mereka mengalami konflik yang sangat pelik. Disini diceritakan bagaimana si narasumber yang memilih berada di jalan yang lurus bertahan dari serangan mental maupun fisik yang dikirimkan oleh keluarga besar ibunya sendiri dengan maksud agar ia mengikuti jejak mereka.
  2. Teror Santet Cinta yang didasari oleh nafsu yang menggebu memang bahaya banget. Bisa bikin buta, hingga menghalalkan segala cara. Kisah ini menceritakan tentang kakak narasumber yang mengalami teror santet menjelang pernikahannya. Membaca kisah ini sukses membuatku jadi lebih berhati-hati kalo buang sampah ataupun memajang foto, karena semua media itu rupanya bisa banget jadi media santet ataupun pelet. 
  3. Hadi Sebuah cerita cinta beda dunia. Bermula ketika si narasumber mengalami 'ketempelan' sosok makhluk laki-laki tak kasat mata yang disebut-sebut naksir dengan dirinya. Lambat laun, si narasumber merasa nyaman dengan kehadiran sosok ini hingga akhirnya mereka terlibat hubungan asmara. Gokil banget sih. Namun hubungan itu justru menjadi boomerang bagi si narasumber sendiri ketika sosok itu menjadi semakin posesif terhadap dirinya. Kisah ini sukses banget bikin para pembaca cewek baper dan penasaran dengan sosok Hadi saat masih utuh sebagai manusia. Malah ada orang iseng yang bikin akun palsu atas nama Hadi. Ckckck..
  4. Dozer Nah ini dia, kisah yang paling ditunggu oleh sebagian besar MWVers. Saking ditunggunya, komentar pembaca tentang kelanjutan kisah ini selalu ada di hampir setiap postingan MWV. Nggak salah sih, karena kisah si Dozer ini memang paling menegangkan dan menguras emosi. Bercerita tentang hilangnya seorang sahabat pada saat pendakian. Kisahnya panjang banget, mulai dari pengalaman mereka berkemah di kawasan Ranca Upas, teror pocong yang menghantui mereka sekembalinya dari kegiatan berkemah, hilangnya sahabat mereka, hingga proses pencarian sahabat yang hilang ini yang tentunya melewati berbagai konflik yang nggak mudah karena penuh dengan hal-hal di luar nalar. 

That's all. Sebenarnya, sebelum memiliki buku ini pun, aku udah terlebih dahulu baca semua kisah itu di postingan Instagram MWV. Tapiii karena aku ngefans sama akun Instagram satu ini (best horror page, I think, walau memang kadang kalo penyakit gajenya kumat, si admin suka posting sesuatu di luar tema horor. Video kucing misalnya), aku jadi merasa wajib punya. Plus, di buku ini juga dimuat bagaimana akhir kisah si Dozer yang banyak ditunggu MWVers. Dan bagi kalian yang merupakan pembaca baru ataupun pengikut baru Mystic Waves yang mencari kisah-kisah di atas tadi di akun Mystic Waves, kalian nggak akan menemukannya secara utuh, karena postingan-postingan itu sudah di take down dari Instagram. Tentu dong.. Kalo nggak gitu, ntar sedikit orang yang penasaran dan beli bukunya, ya kan?

Well, sekarang beralih ke pendapatku mengenai buku ini. Hmm.. Tentunya karena berbentuk buku, tulisannya jadi lebih rapi dan nyaman dibaca lah ya. Hanya aja cukup banyak typo, penggunaan huruf kapital yang nggak pada tempatnya, kesalahan penulisan, dan kurangnya peletakan tanda koma sebelum kata sapaan. Misalnya pada kalimat, "Guru Dozer pak?", harusnya ditulis " Guru Dozer, Pak?". Lalu ada juga kalimat "for you information" yang seharusnya ditulis "for your information". CMIIW.

Tapi yah, itu bisa dibilang kesalahan kecil lah ya. Nggak terlalu jadi masalah kok. Bukunya tetap enak dibaca. Semoga jika dibuat cetakan kedua, kesalahan-kesalahan penulisan itu bisa lebih disempurnakan.
Kamis, 06 Juni 2019 0 komentar

Eid Mubarak : 1440H


Aku harap ini belum terlambat untuk mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri bagi teman-teman Muslim yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin yaa, khususnya jika mungkin ada kata-kataku yang kurang berkenan di hati teman-teman yang membaca blog ini. Taqobbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum, taqabbal yaa kariim, ja’alanallahu wa’iyyakum minal aidin wal faizin. Aamiin..

Hmm.. Ngerasa nggak sih kalo semakin bertambahnya umur, Lebaran itu rasanya makin biasa aja? Yaa kayak kurang aja gitu suasana Lebarannya. Beda sama waktu dulu, jauh beberapa tahun silam, hari Lebaran selalu disambut dengan sukacita, khususnya buat kita yang waktu itu masih kecil. Iya nggak sih?

Mungkin ada benarnya bahwa dulu, ketika masih kecil, kita belum memahami makna Idul Fitri. Kita taunya Idul Fitri itu yaa ada baju baru, banyak permen dan kue-kue enak, serta dapat uang banyak dari orangtua, sepupu, om, dan tante. Beda dengan sekarang, yang justru rasanya sedih dan menyesal ketika Ramadhan berakhir, karena merasa belum maksimal beribadah di moment yang tepat. Selain itu, dulu keluarga besar masih lengkap. Jadi setiap Lebaran pasti ramai-ramai berkumpul di rumah anggota keluarga yang paling tua. Kalo sekarang, banyak sepupu-sepupu yang udah menikah dan tinggal di kota lain, ada pula beberapa anggota keluarga yang udah meninggal. Jadi untuk berkumpul bersama dalam satu waktu itu rasanya kurang memungkinkan.

***

Ramadhan tahun ini, aku belum merasa udah melakukan ibadah sebaik mungkin sih. Tapi alhamdulillah, rasanya lebih baik ketimbang tahun lalu.

Oh ya, di bulan Ramadhan, rasanya acara buka puasa bersama selalu jadi tradisi ya. Nggak terkecuali aku. Tanggal 12 Mei lalu, aku dan keluarga besar dari ibuku mengadakan buka puasa bersama di rumahku. Rasanya seneng banget, mengingat rasanya udah cukup lama kami nggak berkumpul bersama. Menu buka puasanya banyak banget, Untuk menu pembuka ada es kelapa, so’un, dan kerupuk sambel. Hidangan utamanya ada nasi, empal daging, opor ayam, dan tempe goreng tepung. Sedangkan dessert-nya adalah puding mangga. It was so fun, seperti acara buka puasa bersama keluarga sebelum-sebelumnya. Yang membedakan hanyalah kehadiran Naura (putri kecil Gege—sepupuku) di tengah-tengah kami.

Kemudian tanggal 29 Mei, aku berbuka puasa di kantor bersama rekan-rekan. Sayangnya acaranya kurang berkesan kurasa, entah kenapa. Mungkin karena banyak yang nggak hadir kali ya..

Tanggal 30-nya, aku berbuka puasa bersama adik dan dua teman rumahku, Dewi dan Tri di sebuah cafe & resto di kawasan Ampera. Boleh dibilang, tanggal 30 itu hari yang cukup berkesan. Jadi hari itu, pagi harinya aku berkunjung ke rumah Rohayati yang hari Sabtu lalu baru melahirkan anak pertamanya yang diberi nama Rizky Ramadhan. Sebuah nama yang bagus. Ia dianggap sebgai rezeki di bulan Ramadhan oleh kedua orangtuanya yang baru aja ‘terlahir’ sebagai ibu dan bapak :) Lucu deh anaknya. Matanya sipit, kepala & alisnya gundul, dan pipinya gembul. Kalo kata Mas Hansol sih ‘ginuk ginuk’. Hihi.. Rizky lahir secara normal dengan berat 3 kg dan panjang 30 cm. Aku nggak menjenguk sendirian. Beberapa menit setelah aku tiba, Ayu datang. Seperti biasa, kami ngobrol-ngobrol. Rasanya seneng banget. Kebetulan, udah lama kami nggak meet up. 





Sepulang dari rumah Rohayati, aku mengantar ibu ke PGC untuk menukar baju yang beliau beli tempo hari karena ukurannya kekecilan. Namun sayang, sepulang dari sana, dompet ibu hilang. Isinya sih nggak seberapa, kemungkinan dua ratus ribuan. Tapi tetap aja namanya duit :( Nah, sore harinya, baru deh, aku, adik, Tri, dan Dewi berangkat ke cafe & resto tersebut. Hari itu kami menyantap nasi putih dengan kwetiaw siram seafood, udang kriuk, cumi saus padang, ayam saus mentega, tauge jambal roti, buncis balacan, dan segelas lemon tea. Makanannya enak sih, hanya aja sayangnya acara makan kami sedikit terganggu dengan aroma nggak sedap dari selokan di sebelah resto. Yah, dasar lagi kurang beruntung sih, dapat tempat outdoor. Padahal kalo kebagian tempatnya di bagian indoor, mungkin kami terhindar dari aroma nggak sedap itu. Nggak puas dengan hanya berkumpul di resto, sepulang dari sana kami berkumpul di rumahku sampai malam. Haaahh.. what an impressive day!





Tanggal 31-nya, aku kembali berbuka puasa bersama rekan-rekan kantor. Hanya aja kali ini, aku berbuka puasa bersama beberapa orang rekan kantor yang paling dekat.  Ada Pak Ben, Bu Hani, Bu Lia, Mbak Tika, Mas Febri, A’ Putra, Bu Rohayati, dan Pak Ading. Kami berbuka puasa di Hotel Amaris Siliwangi. Sepulang ngantor, aku, Bu Hani, dan Bu Lia berangkat bersama Mas Febri dengan menumpang mobilnya, sementara sisanya naik motor. Sialnya, karena menumpang mobil, kami terjebak macet di kawasan Tuparev sehingga tiba belakangan. Singkat cerita, kami tiba di Hotel Amaris dan kebagian tempat di dalam ruangan dengan beberapa meja persegi yang disejajarkan sehingga membentuk meja panjang. Kami pun langsung mengambil menu karena udah mendekati waktu berbuka puasa. Sebenarnya makanan dan minumannya sih biasa aja ya, hanya aja pilihannya banyak. Ada kopi, teh, infused water, sirup, sop buah, agar-agar, aneka gorengan, karedok, kerupuk sambel, pedesan ayam, ayam kecap, kentang & tempe saus asam manis, sayur sop, lalapan, so’un, dan kerupuk. Sebenarnya ada dadar gulung juga sih, hanya aja kayaknya udah habis, jadi kami nggak kebagian. Wkwkwk..




Dan tibalah saatnya, hari Lebaran. Seperti yang kubilang di awal tadi, Lebaran tahun ini terasa biasa aja dan nggak begitu berkesan. Banyak kerabat yang bahkan hingga hari ini belum kutemui karena tinggal di kota lain. Yang berkesan cuma acara kumpul-kumpul di rumah nenek (ibu dari ibuku), karena disana ada Naura yang bisa selalu aku uwel-uwel pipinya.



Si pipi mochi


Lalu hari ini, di hari kedua Lebaran ini, aku dan keluarga besar dari ibu bersilaturahmi ke daerah Kuningan. Ini juga merupakan kegiatan rutin setiap Idul Fitri mengingat banyaknya keluarga besar nenek yang tinggal disana. Kami berangkat pagi-pagi. Beberapa pergi dengan motor, yakni aku yang dibonceng adikku, Gege & Empit yang dibonceng suaminya masing-masing, dan Rizky yang dibonceng Fahrul. Sementara sisanya yakni ibuku, nenek, Bi Elly, Bi Cicih, Wak Agus, Wak Ning, Agis, dan Naura pergi dengan angkutan umum yang kami sewa untuk hari ini.

Karena masih pagi, jalanan belum terlalu ramai. Memang sih, di kawasan Beber agak macet, namun kami yang pergi dengan motor nggak sampai terjebak macet karena masih bisa melipir-melipir. Hihi..
Sebelum bersilaturahmi, kami ziarah dulu ke makam kakek.





Ada bunga cantik di sebelah makam.

Setelah ziarah, baru deh kami bersilaturahmi, mengunjungi satu persatu rumah saudara nenek, mulai dari rumah Abah Rukana, kemudian rumah Mak Encang, Mak Eem, Mak Eni, dan terakhir rumah Mak Neng yang terletak di kaki Gunung Ciremai—rumah yang sederhana namun menyimpan kenangan masa kecil kami. Sayangnya, kami nggak bisa melihat Ciremai sepanjang hari ini, karena tampaknya hari ini ia malu menampakkan diri. Tubuhnya yang tinggi besar tersembunyi awan, hanya kakinya yang terlihat.



Kunjungan di rumah Mak Encang


Oh ya, Fahrul excited banget saat berkunjung ke rumah Mak Neng. Ingat ceritaku tentang kunjungan kami di Lebaran tahun lalu? Saat itu dia mengalami love at the first sight sama tetangga Mak Neng ketika cewek itu sedang mengangkat jemuran di halaman rumahnya. Sayangnya hari ini, Si Cewek nggak terlihat sama sekali. FYI, rumah Si Cewek dengan rumah Mak Neng itu benar-benar bersebelahan. Jaraknya kira-kira cuma dua meteran. Ketika tiba di halaman rumah Mak Neng, Fahrul memanggil-manggil cewek itu, “Neeeng.. Neeengg..”. Nggak keras sih suaranya, tapi cukup membuat aku, adik, dan sepupu terpingkal-pingkal dan menganggap Fahrul lancang.
“Nang, neng, nang, neng, kayak manggil teman sebangku”, celetuk adikku sambil menahan tawa.
Fahrul lupa kalo kami sedang mengunjungi rumah Mak Neng. Gimana kalo Mak Neng dengar dan mengira anak itu lagi manggil beliau? Wkwkwk.. Sampai ketika Mak Neng menyambut kami dan mempersilahkan kami masuk, kami masih terkikik-kikik karena hal itu. Kemudian Fahrul memberanikan diri bertanya pada Mak Neng, “Mak, kalo eneng yang disitu ada nggak sih?” tanyanya sambil menunjuk rumah sebelah.
“Oh, ada di dalam”, jawab beliau, kemudian melanjutkan dengan berbisik, “Mau kawin dua minggu lagi”.
Mendengar hal itu, kami semangat menyorakinya, kecuali Fahrul yang langsung memasang tampang ngenes. Wkwkwk.. Kasihan banget. Baru ketemu tahun lalu dan langsung naksir, tahun berikutnya kesana lagi malah udah mau nikah aja. Haha..

Sore harinya, kami pun pulang. Jalanan menuju Cirebon benar-benar padat. Sialnya lagi, aku, adik, Fahrul, dan Rizky sempat nyasar sehingga membuat waktu yang kami tempuh selama perjalanan benar-benar panjang. Lepas Magrib, kami baru tiba di rumah nenek. Haaahh.. melelahkan.

Sekitar jam setengah delapan, aku, ibu, dan adik pamit untuk pulang. Namun sebelum pulang kami mampir dulu ke rumah Ang Be’ah (adik tiri bapak) di kawasan Arya Kemuning. Disana juga ada nenek kami (ibu tiri bapak yang biasa kami panggil ‘Emak’) yang baru tiba dari Bogor. Begitu kuhampiri, Emak langsung memeluk dan menciumku.
“Emak kangen Puput katanya,” kata Ang Be’ah.
Kondisi tubuh Emak udah nggak sesegar dulu. Tahun lalu beliau masih sehat. Meski jalannya tertatih-tatih, namun tubuhnya nggak bungkuk. Beliau pun masih bisa berjalan sendiri. Emak memang rajin, kelewat rajin malah. Beliau nggak pernah betah duduk diam. Beberapa tahun lalu, beliau pernah jatuh dari tangga bambu saat sedang membersihkan langit-langit rumah seorang diri, sehingga gigi depannya rontok semua. Namun beliau nggak pernah kapok. Ada aja yang beliau kerjakan, entah itu berkebun, memberi makan ayam, atau sekedar berjalan-jalan di lingkungan sekitar rumahnya. Namun sekarang, beliau cuma bisa duduk dan berjalan dengan menggunakan alat bantu. Bicaranya pun udah sedikit nggak karuan. Memprihatinkan banget.

Well, that’s all ceritaku hari ini. Selamat Lebaran, selamat liburan, selamat makan enak ^^

Jumat, 10 Mei 2019 0 komentar

Little Gift

Ada yang spesial di bulan Mei ini. Yah, khususnya buatku dan Kawan Mengagumkan Cirebon. Kenapaaa..?? Look at this!

Iseng motret pas lewat sepulang kerja. Haha..

Yup, coba lihat tulisan di bagian tengah sebelah kiri. FIERSA BESARI!
Bung Fie akan perform tanggal 19 mendatang di Grage City Mall.

Well, kabar ini nggak lantas membuatku senang sih, karena jujur aku dilema. Aku selalu ragu untuk menghadiri event yang diselenggarakan secara outdoor seperti itu. Beberapa waktu sebelumnya, Bung Fie datang ke Cirebon dan tanpa berpikir panjang aku langsung memutuskan untuk hadir. Kenapa nggak ragu? Karena acaranya indoor, di dalam Gramedia, dengan seluruh penonton yang duduk dengan tertib. Aku jadi merasa aman, meski datang kesana sendirian.

Tapi untuk event kali ini, Bung Fie akan tampil bersama beberapa musisi lainnya secara outdoor (kemungkinan sih di Amphitheater). Itu pasti bakal rameeeeeeee banget. Aku jadi ingat acara ulang tahun salah satu radio lokal Cirebon yang mendatangkan J-Rocks dua tahun lalu. Penonton saling dorong, bahkan di luar pagar ada yang rusuh. Serem banget. Kalo bukan karena ada teman yang juga datang kesana, aku juga nggak bakal hadir. 

Ah, kalo ada teman yang bisa diajak kesana sih, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk datang. Sebenarnya ada sih dua orang temanku yang interest sama Bung Fie. Tapi sepertinya mereka cuma menyukai karyanya aja deh, nggak ngefans kayak aku gini.

***
Beralih ke cerita lainnya. Masih sedikit tentang Bung Fiersa sih. Jadi ceritanya, satu bulan kemarin, tiga buku karya Bung Fie milikku dipinjam Zahara, salah satu teman sesama book lover yang aku kenal di dunia maya. How could I do that? Kok bisa-bisanya pinjamin buku kesayangan ke orang lain?

Yup, biasanya sih aku merasa keberatan kalo ada teman yang pinjam novel milikku, karena selama ini, hampir semua novel ataupun buku yang aku pinjamkan kepada orang lain, kalo nggak kembali dengan kondisi terlipat ya robek (seperti buku Perahu Kertas yang covernya terlipat, Cinta Brontosaurus yang kembali dalam kondisi cover yang kotor dan lecek, dan Manusia Setengah Salmon yang robek di salah satu bagian halaman). Tapi itupun masih syukur bisa balik. Beberapa buku malah ada yang nggak balik sama sekali (seperti buku Koala Kumal, Sunshine Becomes You, Rindu, dan buku catatan Bahasa Jepang yang kupelajari bersama Erni Sensei semasa kuliah, yang kutulis dengan sepenuh hati). Entah kenapa kok banyak orang-orang yang nggak menghargai buku seperti itu. Tapi Zahara, dia itu beda.

Kami saling kenal di dunia maya sekitar tahun 2014 silam, berkat salah satu entri yang aku tulis di blog ini. Waktu itu kami sama-sama menyukai beberapa seleb tomboy Thailand. Mula-mula kami saling berkirim komentar di blog, kemudian obrolan berlanjut ke BBM, lalu ke Line, juga WhatsApp. Awalnya kami banyak mengobrol soal seleb tomboy Thailand yang kami suka itu, trus lama kelamaan merambah ke film, hingga akhirnya kami mengetahui bahwa kami juga sama-sama memiliki ketertarikan pada buku.

Memang sih, genre dan theme yang kami sukai itu jauh berbeda. Dalam hal musik, misalnya. Dia menyukai K-Pop, sementara aku suka musik Rock. Dan untuk buku, ia sangat menyukai bacaan dengan tema romantis, sementara aku suka bacaan dengan tema persahabatan. Aku juga sangat menggilai bacaan horror true story, sementara dia sangat menghindari bacaan seperti itu. Tapi meski demikian, kami tetap saling sharing tentang buku-buku yang pernah ataupun sedang kami baca. Paling sering dia sih yang sharing, karena kalo kulihat, koleksi bukunya jauh lebih banyak dibanding buku-bukuku. Ia juga mengetahui banyak nama-nama penulis yang bahkan masih sangat asing di telingaku. Bahkan akun Instagramnya penuh dengan foto buku-buku yang pernah ia baca yang ia upload dengan sangat rapi, lengkap dengan review-nya. 

Tau nggak apa persamaan dan perbedaan Penyuka Buku dengan Pecinta Buku?
Mereka sama-sama gemar membaca buku. Yang membedakan adalah perlakuannya terhadap buku. Pecinta Buku cenderung menggunakan pembatas buku untuk menandai batas baca. Bahkan meskipun di bukunya nggak disediakan pembatas buku pun, mereka akan mencari benda lain untuk dijadikan pembatas. Daun kering misalnya, atau bulu burung. Sedangkan bagi penyuka buku, menandai batas baca dengan melipat ujung halaman aja cukup. Wkwk.. Nah, Si Zahara ini orangnya sama kayak aku, paling risih kalo ada bagian buku yang terlipat. Hal inilah yang membuatku mempercayakan buku-buku kesayanganku itu untuk ia pinjam, lengkap dengan CD musiknya.

Dua hari yang lalu, ia mengembalikan buku-buku itu melalui kurir yang tiba kemarin siang. Bungkusannya benar-benar rapi, lengkap dengan kotak karton tebal dan stiker bertuliskan 'fragile'. Ya ampun, padahal aku sendiri mengirimkan buku-buku itu ke dia nggak sampai segitunya. Cuma modal plastik dan kertas bekas pembungkus HVS. Dengan kondisi paket yang ia kirimkan seperti itu, aku yakin buku-bukuku semuanya kembali dalam kondisi baik, maka aku nggak membukanya dan hanya menaruhnya di kamar.

Dan tadiiii.. Zahara mengirimkan pesan WhatsApp, memastikan bahwa buku-buku yang kuterima dalam keadaan lengkap. Saat itulah aku baru membuka paket itu, dan.. seketika aku terharu.

Nggak hanya membungkusnya dengan kotak karton tebal dan stiker 'fragile', Zahara juga membungkus buku-buku itu dengan bubble wrap. Selain itu.. yang membuatku benar-benar tersentuh adalah, ia menyisipkan 'hadiah kecil' di dalamnya : sebungkus Nextar cokelat, dua sachet kopi Esprecielo, dan dua lembar pembatas buku yang cantik. Seriouslyyyy.. this is too much! Dia menjaga dan mengembalikan buku-buku kesayanganku dengan sebaik-baiknya aja, aku berterima kasih banget, tapi ia justru repot-repot memberiku 'hadiah kecil' yang.. ah, bahkan aku sama sekali nggak menganggap ini sebagai hadiah kecil karena aku suka dan dia tulus banget ngasihnya. Sumpah, aku bahkan nggak nyangka dia tau merk dan rasa kopi favoritku.




Thanks a lot, Za. You’re the best 💙
Rabu, 24 April 2019 0 komentar
It happens again. I lost one of my beloved ones. Toothless, kucing kesayanganku hilang. Awalnya aku dan keluarga berpikir ia hanya menginap di rumah tetangga barang satu sampai dua hari (karena kucingku yang lain pernah seperti itu). Apalagi dia sedang birahi. Kami pikir ia pergi mencari betina, dan akan pulang dengan sendirinya. Namun ini udah hari keenam dia nggak pulang, and it really breaks my heart.

Aku jadi ingat ketika Mutun 'pergi' tahun 2016 silam. Meski berbeda kasus, yang satu mati, yang satu hilang, tapi rasa sakitnya sama. Aku memang nggak menangis mengetahui Toothless nggak pulang selama lebih dari dua hari, berbeda dengan ketika Mutun menghembuskan napas terakhirnya di pangkuanku, aku menangis sesenggukan saat itu juga. Tapi kemarin lusa, melihat video Toothless yang diupload adikku di Instagram, tangisku pecah. Untung aja saat itu nggak ada orang lain disana. Aku menangis sendiri di ruang kerjaku.

Rasanya buruk, buruk banget. Karena beberapa waktu setelah Mutun yang kami sayangi pergi, Toothless lahir dan jadi obat bagi aku dan adik yang paling terpukul dengan kepergiannya. Kami bahkan menganggap Toothless adalah reinkarnasi dari Mutun, meski sebenarnya mereka sangat berbeda jauh. Mutun betina, dan Toothless jantan; Mutun manja, Toothless cuek; bulu mereka sama-sama panjang, namun bulu-bulu Toothless lebih panjang sehingga membuat kepalanya yang sebenarnya kecil dan tirus terlihat bulat dan besar. Persamaan mereka hanya dari warna matanya yang sama-sama kuning kehijauan dan warna bulunya yang sama-sama hitam putih. 

Kami udah mencarinya kemanapun, ke rumah tetangga, ke rumah sepupu-sepupuku yang tinggal nggak jauh dari rumah, adikku bahkan mencarinya hingga ke Pasar Kanoman, siapa tau ada orang yang membawanya dan menjualnya disana. Aku juga memposting berita kehilangan di Twitter, WhatsApp, dan Instagram, serta mencarinya di forum jual beli kucing Cirebon, tapi hasilnya nihil. Kucing berbulu panjang memang rawan hilang, apalagi kalo bebas berkeliaran seperti kucing-kucingku. Moli, kucing persia milik tetanggaku aja hilang, padahal dia jarang keluar rumah. Kalo kucing-kucingku sih memang sering kami biarkan berkeliaran, karena di rumah kan ada warung, jadi pintu rumah jarang ditutup, sedangkan kalo dimasukkan ke kandang, kami nggak tega. Toh selama ini kami nggak pernah kehilangan kucing, karena seperti yang udah kukatakan di atas tadi, kucing-kucingku yang main jauh selalu pulang dengan sendirinya, dan nggak pernah lebih dari dua hari. Setiap hari, aku seringkali mengecek WhatsApp, berharap menemukan kabar dari adikku bahwa Toothless pulang. Setiap hari, sepulang kerja, aku selalu berharap dia ada di teras, berbaring dengan santainya. Atau berlari-lari dengan ekor fluffy-nya yang bergoyang-goyang.

Aku berharap banget suatu hari dia bakal pulang. Rasanya nggak tega membayangkan dia dikurung di tempat sempit, diperjual belikan, terlantar, atau sampai pada tangan orang yang salah. Toothless itu pendiam dan penakut banget. Dia nggak bisa berkelahi, dan nggak bisa manjat, sama kayak bapaknya, tapi dia lebih parah. Dia takut suara motor, suara deru mesin cuci, dan suara geluduk. Setiap kali ada suara geluduk, dia bakal lari terbirit-birit dan bersembunyi di kolong meja. Meski bukan kitten lagi, dia tetep aja kayak kucing kecil yang selalu butuh perlindungan :')




Kalaupun memang dia nggak pulang, aku berharap siapapun yang menemukannya akan memperlakukan dan memeliharanya dengan baik, lebih baik dari kami.

Baik-baik ya, Anak Ganteng, dimanapun kamu berada ❤

Total Tayangan Halaman

 
;