Rabu, 13 April 2022 0 komentar

Back to Work Day-1

Akhirnya setelah tiga bulan beristirahat dari kegiatan kantor, hari ini aku kembali pada rutinitasku sebagai karyawan perusahaan. Perasaanku campur aduk. Meski senang, tapi aku juga sedih karena harus ninggalin Fathian dari pagi hingga sore. Gimana nggak sedih? Tiga bulan lamanya, hampir seluruh waktuku buat dia, dan ketika masa cutiku habis, aku harus rela membagi waktuku. Pagi tadi sebelum berangkat, kutatap lamat-lamat wajahnya yang sedang tertidur pulas. Rasanya kayak berat banget, nggak tega.

Sesampainya di kantor, aku bertemu Bu Mila di parkiran. Ia menyambutku dengan gaya lebay khasnya. Rata-rata mereka yang kutemui menyapaku, menanyakan kabar, dan tentunya pertanyaan-pertanyaan umum seperti "anaknya perempuan atau laki-laki?", "nama anaknya siapa?", "dedenya di rumah sama siapa?" Yaaah begitulah.

Everything went well sampai aku masuk ke Ruang HRD untuk menemui Pak Teguh dan Pak Ben. Kami berbasa-basi sebentar, dan tiba-tiba Pak Teguh meminta Pak Ben untuk ke luar ruangan karena mau bicara empat mata denganku. Tiba-tiba perasaanku nggak enak. Dari dulu aku selalu gugup setiap kali ada orang yang tiba-tiba pingin bicara empat mata. Entahlah, aku takut mendengar berita buruk, atau diberi pertanyaan yang nggak bisa kujawab. 

Setelah Pak Ben ke luar ruangan, beliau langsung mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan yang intinya adalah mengenai jabatanku di perusahaan. Selama menjadi bagian dari Divisi HRD, aku seringkali dituntut untuk pulang terlambat, dan aku nggak begitu merasa keberatan dengan hal itu. Tapi melihat kondisiku sekarang yang sudah berkeluarga, Pak Teguh khawatir aku jadi nggak bisa bekerja dengan tuntutan seperti itu lagi. Oleh karena itu, beliau bermaksud untuk memindahkanku ke Divisi Collection sebagai Admin AR (Account Receivable), karena menurutnya dengan bekerja sebagai Admin AR, aku bisa pulang tepat waktu dan nggak sering-sering dituntut pulang terlambat. Tapi beliau nggak langsung memutuskan, melainkan memintaku untuk memilih.

Intinya beliau memberiku pilihan, apakah ingin tetap menjadi Admin HRD dengan tuntutan sering pulang terlambat atau pindah ke posisi Admin AR. Saat itu aku bingung. Aku sempat berpikir, apakah Pak Teguh sebenarnya ingin menggantiku dengan Diah, karyawan baru yang kemarin meng-handle pekerjaanku selama cuti, namun dengan cara yang halus? Karena jujur aja, aku sudah nyaman dengan jabatanku saat ini, dan ketika kuutarakan hal itu, beliau membanding-bandingkan kinerjaku dengan kinerja Diah (yang menyiratkan bahwa kinerjanya lebih baik dari kinerjaku). "Kerjanya cepat. Yang lain belum selesai, dia sudah bisa santai," katanya. Siapa coba yang nggak panas dibanding-bandingkan seperti itu? I'm pretty sure I'm better than her. Jelas kerjanya cepat, karena sebagai karyawan baru, tuntutan pekerjaannya belum sebanyak pekerjaan yang selama ini aku handle. Aku bisa aja bilang begitu, tapi aku nggak berani. Jadi kutelan mentah-mentah aja kata-kata beliau. 

Beliau nggak menuntutku untuk memutuskan saat itu juga. Maka aku pun menemui Bu Mila untuk menanyakan alur pekerjaan Admin AR itu seperti apa. Alih-alih menjawab pertanyaanku, Bu Mila malah bilang bahwa pekerjaan di divisinya ribet banget 😂 Ia pun meminta tolong pada Ryan untuk menjelaskan padaku mengenai alur pekerjaannya.

Jadi lah siang itu Ryan menjelaskan alur pekerjaan Admin AR, panjang lebar, dari awal hingga akhir. Hebatnya Ryan mengelola data konsumen yang bejibun itu dengan caranya sendiri, tapi tetap terarah, dan surprisingly minim kesalahan. Dan yah, seperti yang kukhawatirkan di awal, bahwa pressure di Divisi AR itu berat. Kita dituntut untuk sangat teliti dan tegas, khususnya pada Collector, karena jika ada di antara mereka yang bermain curang dengan uang angsuran konsumen, maka Admin AR pun akan kecipratan imbasnya. Belum lagi berkomunikasi dengan konsumen dengan berbagai karakter.

Setelah diberi penjelasan oleh Ryan dan mengucapkan 'terima kasih', aku pun ke luar dari Ruang AR dan duduk di depan mushola. Di sana aku menelepon Mas untuk meminta pendapatnya. Melihat pressure pekerjaan di AR lebih berat, tentunya Mas menyarankan aku untuk tetap pada jabatanku yang sekarang, di mana aku hanya berhubungan dengan karyawan dan calon karyawan. Nggak masalah pulang terlambat, toh nggak setiap hari, dan nggak sampai larut malam. Daripada being under pressure setiap hari.

Selesai menelepon Mas, aku pun pergi ke ruangan Pak Teguh untuk mengutarakan keputusanku. Kubilang aku ingin tetap pada jabatanku yang sekarang. Setelah memastikan keyakinanku atas keputusan yang kubuat, Pak Teguh pun memintaku untuk memanggil Diah. Kami berbicara enam mata di ruangan itu. Singkat cerita, ditetapkanlah bahwa aku tetap pada jabatanku sebagai Admin HRD, dan Diah sebagai Admin AR. Win win solution, karena Diah sendiri puas dengan keputusan itu.

Dan yah, setelah melakukan serah terima tugas dengan Diah, aku pun mulai bekerja. Namun karena baru kembali bekerja setelah sekian lama libur, rasanya agak bingung. Apalagi aku juga dituntut untuk segera melakukan update data karyawan dan menyiapkan data untuk pengajuan THR, aku bingung mana dulu yang harus lebih dulu kukerjakan. Ditambah suasana hati yang tiba-tiba berubah melankolis. I miss my lil boi. Dia lagi apa? Apakah anteng bersama ibu dan bapak di rumah?

Sepulang bekerja, Fathian sedang bersama bapak di teras. Ia berbaring di stroller, sementara bapak mengajaknya ngobrol. Ketika motor kami masuk ke halaman, tiba-tiba ia merengek.
"Lhaaa.. mau anteng. Mbok karo bapae teka jeh nangis (tadi anteng. Mama papanya dateng kok nangis)", kata bapak. Wkwkwk.

Yaaaaah begitulah pengalaman hari pertama bekerja lagi. Rasanya masih agak bingung, juga pusing melihat tumpukan berkas formulir pengajuan kredit calon konsumen beserta hasil survey Analis di bawah kursi yang harus kuarsip (karena Diah nggak mengarsip itu semua). Mungkin hari Sabtu nanti akan kubereskan. Semoga aku bisa menuntaskan semuanya.

Jumat, 08 April 2022 0 komentar

 Kemarin sore, aku membuka kembali akun Facebookku. Well, memang semenjak menikah, aku akhirnya memutuskan untuk menutup akun Facebookku, meski nggak secara permanen, karena biar bagaimanapun, aku nggak rela untuk kehilangan momen-momen yang pernah terjadi di sana : kenangan-kenangan bersama teman-teman MCRmy, keluh kesah di status, bahkan status-status alayku yang udah aku private semua. Wkwkwk. 

Alasanku menutup akun Facebookku karena untuk menghindari hal yang nggak diinginkan sih. Sedikit trauma karena beberapa hari sebelum menikah, aku sempat ada selisih paham dengan Mas gara-gara Facebook. Makanya untuk menghindari hal semacam itu terjadi lagi, aku memutuskan untuk menutupnya, meski sebenarnya Mas nggak pernah menyuruhku untuk melakukannya.

Nah, kemarin entah kenapa tiba-tiba aku penasaran dengan kabar teman-teman MCRmy yang masih aktif di sana. Tentunya sebagian besar dari mereka udah berkeluarga, dan tentunya ada juga yang masih mencari kebahagiaannya.

Satu akun yang nggak luput dari perhatianku adalah akun milik seorang teman MCRmy berinisial VS. Hmm.. Sebenarnya aku nggak yakin apakah hubungan kami bisa disebut teman, karena sebenarnya kami hanya terhubung di Facebook dan hampir nggak pernah berinteraksi. Kami hanya pernah beberapa kali berinteraksi pada statusku atau statusnya, entah itu dengan komentar singkat atau sekedar 'like'. Hanya aja, selama kami terhubung di Facebook, aku selalu tertarik dengan status-status yang ia tulis. Entah kenapa apa yang ia tuliskan seringkali relate dengan apa yang aku rasakan. Seperti bercermin. Jujur, aku pingin banget mengenalnya dan jadi temannya, tapi aku selalu khawatir nggak bisa jadi teman yang baik dan akhirnya mengecewakannya, karena kurasa aku bukan tipe orang yang bisa menjaga komunikasi dan pertemanan dengan baik 😕

Bertahun-tahun aku mengenalnya dalam diam, sampai akhirnya ia berhenti aktif di Facebook. Status terakhirnya diupdate pada Oktober 2018. Sebelum menutup akunku, aku masih sering menjenguk akunnya, berharap ada kabar darinya yang kuharap kabar baik mengingat selama ini ia sering mengeluh soal kehidupan yang ia rasa nggak seindah cerita-cerita dalam novel yang ia baca. Namun isinya tetap nihil.

Dan yah, kemarin sore pun akun milik VS nggak menunjukkan aktifitas baru. Namun kali ini, aku melihat ada dua pesan dinding yang dikirim oleh seorang teman dekatnya. Pesan itu dikirim pada Februari dan November 2021, isinya menanyakan kabar dan harapan bahwa dirinya baik-baik aja.

Aku terkejut, karena bahkan teman dekatnya pun nggak mengetahui kabar VS dan jujur, ini membuatku khawatir. Bahkan hingga saat ini. Beberapa menit lalu, ketika kubuka playlist Spotify-ku dan menekan 'play' pada lagu Disenchanted milik My Chemical Romance, tiba-tiba aku kembali teringat dia. Sungguh, aku berharap di manapun VS berada, aku harap dirinya baik-baik aja. Dulu ia merasa dunia lebih berwarna saat ia menutup mata, aku harap kini ia bisa melihat dunia yang berwarna dengan mata terbuka. Kuharap ia hidup bahagia. May Allah bless her wherever she is.

Minggu, 06 Februari 2022 1 komentar

Dunia Baru

Kini aku betul-betul paham kenapa Allah begitu memuliakan ibu ketimbang bapak. Satu minggu ini benar-benar luar biasa buatku, ketika Allah menunjukkan bagaimana perjuangan ibu begitu berat, dan kuasa Allah begitu besar.

Dini hari Minggu, 30 Januari, aku merasa tidurku kurang nyenyak. Ada saat di mana aku merasakan kram perut dan nyeri pinggang hingga membuatku terbangun. Hal itu terjadi berulang-ulang meski nggak terjadi dalam waktu yang berdekatan.

Pagi harinya, aku menemukan lendir bercampur darah di pakaian dalamku. Sebenarnya aku sudah mengalami hal itu beberapa hari belakangan, namun kali ini berjumlah lebih banyak ketimbang sebelumnya. Aku menceritakan hal itu pada Mas, namun hal itu nggak menyurutkan niat kami untuk jalan-jalan pagi.

Memang, pada minggu-minggu terakhir menjelang persalinan, aku dan Mas rutin berjalan-jalan ke alun-alun kota setiap hari Minggu pagi. Kami membeli beberapa potong gorengan, kemudian menyantapnya berdua di alun-alun. Kami juga sempat membeli dan menyantap beberapa tusuk dadar gulung di sana. Setelah cukup kenyang, Mas baru menemani aku berjalan kaki memutari alun-alun, namun kali ini aku hanya kuat memutarinya sebanyak dua putaran, padahal biasanya bisa lebih dari itu. Perutku benar-benar nggak nyaman waktu itu. Akhirnya kami pun pulang.

Beberapa jam kemudian, aku merasakan kontraksi. Hal itu terjadi selama sekitar satu menit dalam interval waktu kira-kira setengah jam. Karena terjadi beberapa kali, akhirnya setelah Dhuhur, aku dan Mas memutuskan untuk memeriksakan kondisiku ke bidan. Awalnya kami berencana menghubungi Bidan Oom, namun karena kliniknya tutup dan pesan WhatsApp yang dikirim Mas nggak direspon, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke klinik Bidan Evi di kawasan Suratno.

Singkat cerita, pertama-tama Asisten Bidan melakukan pemeriksaan berat badan dan tekanan darahku. Alhamdulillah tekanan darahku normal, padahal aku sudah khawatir tekanan darahku tinggi karena stres menjelang persalinan. Setelah itu, Bidan Evi mempersilahkan aku masuk ke Ruang Pemeriksaan di mana ia melakukan pemeriksaan bagian dalam untuk mengetahui apakah jalan lahirku sudah terbuka atau belum.

Setelah itu, bidan pun berkata pada Mas bahwa waktu persalinan sudah dekat, dan jalan lahirku sudah masuk pembukaan dua yang berarti kami masih harus menunggu delapan pembukaan lagi. Aku pun diperbolehkan untuk kembali ke rumah. 

"Kalo sudah merasa mulas seperti mau BAB, langsung kesini lagi ya. Tapi langsung dibawa semua perlengkapan ibu dan bayinya", katanya. Bidan Evi ramah sekali. Ia bicara kepada pasien seperti seorang ibu yang bicara pada anaknya. Hangat dan bersahabat. Sesekali ia juga melemparkan candaan yang membuat kami terkekeh.

Akhirnya aku dan Mas pun kembali ke rumah dengan membawa beberapa plastik obat yang diberikan bidan. Sesampainya di rumah, aku meminum obat seperti yang sudah dianjurkan sebelumnya oleh Bidan Evi.

Menjelang jam tiga sore, aku merasakan kontraksi dengan jarak waktu yang lebih dekat, yakni durasi sekitar satu menit dalam interval waktu sekitar tiga menit. Mas pun mendesakku untuk segera kembali ke bidan karena aku masih bilang 'nanti aja'. 

"Kalo nunggu nanti-nanti, Mas khawatir kamu bakal susah jalan", katanya.

Akhirnya aku dan Mas kembali ke klinik tersebut, namun kali ini kami membawa dua tas besar berisi perlengkapan keperluan aku dan bayi. Awalnya ibu dan adikku mau ikut, namun aku menyarankan mereka untuk menunggu kabar dariku. Kasihan juga kalo mereka harus ikut menunggu terlalu lama. 

Sesampainya di sana, bagian dalamku diperiksa oleh salah satu asisten bidan. Ternyata pembukaannya masih bukaan dua setengah. Waktu itu aku diperiksa dua kali. Pertama dengan asisten bidan, selanjutnya dengan Bidan Evi sendiri. Mungkin untuk memastikan. Jujur, mengecek pembukaan jalan lahir adalah tindakan yang membuatku ngilu.

Karena aku sudah merasakan mulas-mulas yang cukup sering, Bidan Evi mempersilahkan aku untuk berbaring dan menunggu di Ruang Bersalin. Ruang yang dihiasi wallpaper bermotif flamingo dan didominasi warna pink itu terdiri dari dua ranjang pasien, satu baby box, satu meja panjang, satu meja kecil, satu wastafel, pendingin ruangan, kipas angin, dan berbagai peralatan lainnya.

Aku memilih berbaring di ranjang pasien yang paling dekat dengan pintu. Sementara Mas menyiapkan segala perlengkapan aku dan bayi, sambil menemani dan sesekali menenangkan aku.

Sekitar jam lima sore, aku diminta asisten bidan untuk pindah ke ranjang sebelahnya karena spacenya lebih luas. Waktu itu rasa mulasku semakin menjadi. Di situ, aku dipasangi selang infus. Ini pertama kalinya dalam hidup aku mengenakan infus. Aku selalu membayangkan sesakit apa rasanya, ditusuk di pergelangan tangan selama berjam-jam. Namun kini ketika merasakannya sendiri, rasanya nggak lebih sakit ketimbang rasa mulas yang saat itu aku rasakan. Setiap kali bidan melakukan pemeriksaan bukaan jalan lahir membuat aku meringis. Mas dan ibu (yang datang setelah dikabari oleh Mas) berdiri di sisi kiri dan kananku. 

Seiring berjalannya waktu, pemeriksaan bukaan nggak lagi membuat aku meringis, melainkan berteriak. Rasa mulasku semakin nggak tertahankan. Aku mulai meracau, mengaduh, dan meneriakkan istighfar. Terkadang aku terdorong untuk mengejan, namun bidan dan para asistennya melarang aku melakukannya dan menyuruh aku untuk mengatur napas.

"Mules banget, Teh. Pingin ngeden!" sergahku.

"Belum boleh, Sayang. Masih bukaan lima. Kalo ngeden, nanti jalan lahirnya bengkak". Masya Allah, baru bukaan lima sudah sesakit ini, bagaimana di bukaan-bukaan selanjutnya, pikirku.

Pada bukaan ke tujuh, ketubanku pecah (tapi menurut ibu dan Mas sengaja dipecahkan oleh bidan). Rasanya seperti ada yang meletus di dalam, kemudian aku merasa ada cairan hangat merembes begitu aja. Rasa mulas yang aku rasakan pun sudah nggak bisa digambarkan lagi. Aku dipaksa untuk terus berbaring ke kiri untuk mempertahankan detak jantung bayiku. Namun berbaring ke kiri benar-benar membuatku begitu tersiksa. Setiap kali aku mengubah posisi, bidan dan asistennya akan mendorong punggungku agar tetap berbaring ke kiri. Ketika itulah aku akan berteriak-teriak. Sakit sekali rasanya. Kakiku juga kram. Mereka bilang, itu karena kakiku terlalu tegang. Aku diminta untuk melemaskan kakiku, namun sulit sekali. Setiap kali rasa mulas mendera, aku nggak bisa menahannya. Kakiku menjejak-jejak, keringat menjalari tubuhku, namun aku merasakan dingin hingga tanganku gemetar. Bahkan infus yang terpasang pun sempat terlepas dari lenganku, dan Asisten Bidan segera memasangkannya lagi. Aku peluk Mas yang terus menerus membisikkan istighfar dan kata-kata penyemangat di telingaku. Sementara ibu yang juga menemani aku terus memperingatkan aku untuk melafalkan doa. Saat itu rasanya seperti berada dalam penantian panjang. Menanti untuk mengejan dan mengakhiri semua itu dengan air mata bahagia.

Akhirnya tiba lah waktu di mana Bidan mulai meminta aku untuk mengejan. Aku pun mengejan sekuat tenaga. Namun rupanya cara mengejanku dianggap kurang tepat.

"Nok, tarik napas dari hidung, trus ngeden. Jangan bersuara! Matanya lihat ke perut!" katanya. Aku pun menurut. Namun seringkali rasa mulasnya tiba-tiba hilang ketika aku tengah mengejan. Hal itu membuat tenaga yang aku keluarkan menjadi nggak maksimal. Salah satu asisten bidan pun meminta Mas untuk menyingkir dari sisiku, karena waktu persalinan benar-benar akan dimulai.

Mas pun pindah ke sudut ruangan, menunggu bersama ibu. Aku dipasangi selang kateter. Dan mungkin karena melihat kondisiku yang banyak membuang tenaga untuk berteriak, Bidan Evi memasang selang oksigen untukku. Ia juga memanggil seorang temannya yang merupakan salah satu dokter dari RS Sumber Kasih untuk membantunya. Selama proses persalinanku, Bidan Evi didampingi oleh dua asistennya dan dokter tadi. Bidan yang memberi komando, satu asisten bidan menahan paha kiri aku agar terbuka, sementara asisten bidan yang satunya dan dokter itu bertugas untuk mendorong perutku. Namun lagi-lagi ketika mereka tengah berusaha mendorong bayi untuk ke luar, rasa mulasku hilang dan aku berhenti mengejan. Ketika itulah Bidan Evi murka. Yah, memang bukan marah-marah, melainkan memperingatkan aku untuk terus mengejan jika ia perintahkan, karena akan fatal akibatnya jika aku terus berhenti mengejan di tengah-tengah usaha mereka mengeluarkan bayi. Bidan juga menyuruh aku untuk membuka pahaku dan menahannya dengan kedua tangan.

Akhirnya, dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki, aku mengejan dan terus mengejan. Mungkin karena pegangan di pahaku kurang kencang, di detik-detik terakhir, Bidan Evi memanggil Mas dan memintanya untuk membantu memegangi pahaku. Mas yang tengah berdiri di sudut ruangan hanya bisa manut. Aku bisa melihat raut kecemasan di wajahnya.

"Ya! Terus, terus! Sedikit lagi!" Bidan Evi memberi komando. Aku mengejan sekuat tenaga. Kemudian kris, kris, kris, aku mendengar suara gunting. Seketika rasa sakit dan mulas luar biasa yang aku rasakan bertambah dengan rasa perih. Seketika aku berteriak-teriak, sakit. Entahlah, sepertinya hari ini aku mengguncang seantero klinik dengan teriakan-teriakanku.

Hana waladat Maryam, Maryam waladat 'Iisa, ukhruj ayyuhal mauluud, biqudratil malikil ma'buud.

Dan yah, malam ini, sekitar pukul setengah sembilan malam, Si Kecil lahir. Ketika bayi keluar, aku bisa melihat perutku yang bergetar sesaat. Namun salah satu Asisten Bidan mengatakan bahwa bayiku terlilit tali pusar. Nggak ada tangisan bayi terdengar. Sesaat setelah mereka mengeluarkan bayiku dari rahim, mereka menjatuhkannya ke pangkuanku, kemudian membungkusnya dengan kain, dan membawanya ke meja panjang. Entah apa yang mereka lakukan, hingga akhirnya suara tangis bayi pecah di ruangan itu. Seketika ungkapan syukur menggema. Alhamdulillah. Bayi kami selamat. Nggak terbayang rasanya jika sampai segala perjuanganku tadi berakhir sia-sia.

"Makasih, Sayang", ucap Mas sambil memeluk dan mencium keningku. Suaranya bergetar menahan tangis bahagia. Baru kali ini aku melihatnya menangis. Yah, bagaimana enggak? Hari ini kami terlahir sebagai orang tua :') 

Setelah membersihkan bayi dan memakaikannya popok dan topi, Bidan meletakkan bayi mungil itu ke dadaku. Aku lantas memeluk dan menciumnya.

"Makasih ya, Sayang. Sudah berjuang bareng sama Mama".

Ya Allah, rasanya baru kemarin aku merengek pada ibu minta dibelikan gelang Panji Manusia Milenium, dan kini aku resmi menjadi seorang ibu.

"Alhamdulillah. Sudah ya. Sekarang tenang, nggak usah ngeden-ngeden lagi. Sisanya tinggal tugas kita", ucap Bidan Evi. Aku pun menghembuskan napas lega. Mereka lantas melepaskan selang oksigen dan selang kateter di tubuhku karena sudah nggak dibutuhkan lagi.

Tapi rupanya aku merasa lega terlalu cepat. Masih ada satu tindakan lagi yang harus mereka lakukan kepadaku : menjahit luka bekas guntingan tadi. Aku meringis. Periiiih sekali rasanya.

"Nok fokus sama dedenya aja, jangan sama rasa sakitnya. Seneng kan udah ada dede?"

Ya senang sih, tapi ya tetap ajaaa.. :')

Selesai menjahit lukaku dan memakaikan aku popok dewasa, mereka pun membawa bayiku untuk dibersihkan lagi, karena ia sempat buang air besar. Bahkan kotorannya menempel di perutku. Hahaha. Kali ini bayiku nggak hanya dibersihkan, tapi juga dibedong agar ia merasa hangat. Setelahnya, Mas mengadzankan bayi kami. 

Aku yang masih berbaring di ranjang pun membersihkan kotoran bayi yang menempel di atas perutku dengan tisu basah. Ibu memanggil adikku yang sedari sore setia menunggu di luar, memperkenalkan ia pada keponakan barunya.

Singkat cerita, aku dipindahkan dari Ruang Bersalin ke Ruang Nifas yang terletak di seberangnya. Saat itu klinik kedatangan satu orang lagi yang akan bersalin. Sepasang suami-istri yang segera akan memiliki anak ketiga. Aku dipindahkan dengan menggunakan kursi roda. Ruangan Nifas tentunya berukuran lebih kecil. Luasnya mungkin hanya 2,5m x 2,5m dan hanya terdiri dari satu ranjang pasien, satu boks bayi, satu bangku sudut panjang, satu meja dengan laci-laci yang bisa digunakan untuk menyimpan barang-barang dan pakaian pasien, dan sebuah gym ball.

Setelah membantu membaringkan aku dan menyimpan segala perlengkapanku, ibu dan adikku pamit. Malam itu, kami hanya bertiga : Aku, Mas, dan bayi kami.

Malam itu menjadi malam yang panjang bagi kami. Bayi kami menangis terus, dan kami nggak tau harus melakukan apa. Aku belum bisa duduk, namun aku juga nggak tega melihat Mas yang terus begadang menjaga dan menenangkan bayi kami. Sesekali ia membaringkan badannya di kursi sudut atau di lantai untuk meluruskan tubuhnya, namun ketika bayi kami menangis, ia langsung sigap menghampirinya. Begitu terus berulang-ulang. Ia tentu capek sekali. Nggak sabar rasanya menunggu pagi datang.

Dan yah, sejak hari itu, lembar baru aku dan Mas dimulai. Tidur kami tentu aja nggak lagi setenang dulu karena ada Si Jagoan yang harus kami prioritaskan kebutuhannya. Jika ia tidur, kami ikut tidur. Jika ia terbangun, kami ikut bangun. Kadang aku dan Mas menjaga bergantian. Melelahkan memang, tapi kami jadi belajar bahwa menjadi orangtua itu nggak mudah. 

***

Fathian, nama bayi kami, dengan tambahan satu nama tengah, dan satu nama belakang. Awalnya aku ingin menambahkan nama lain di depannya, namun Mas berpikir nama itu terlalu panjang dan khawatir memberatkan anak kami di kemudian hari. Akhirnya kami memutuskan untuk lebih menyederhanakannya.

Nama 'Fathian' dipilih Mas, memiliki arti 'kemenangan' atau 'keberuntungan'. Nama tengahnya diambil dari nama tengah Mas yang juga merupakan versi laki-laki dari namaku. Sedangkan nama belakangnya aku yang pilih, terinspirasi dari nama 'Zafran' yang muncul di film 5 Cm. Wkwkwk. Entahlah, menurutku nama itu terdengar sangat laki-laki dan seperti menggambarkan sosok laki-laki yang tampan, penuh semangat, dan percaya diri. Selain itu, nama itu juga memiliki arti yang bagus, yakni 'bunga yang berwarna keemasan'. Bunga identik dengan keindahan, dan emas identik dengan kesuksesan. Dengan begitu kami berharap anak kami kelak akan menjadi anak laki-laki tampan yang selalu beruntung dan sukses. Aamiin. 

Fathian lahir dengan berat 2,9 kg dan panjang 48 cm, ukuran yang terbilang normal untuk bayi baru lahir. Ia lahir tepat pada HPL, yang Bidan Evi bilang jarang terjadi. Bidan Evi juga mengaku bahwa awalnya ia pesimis bisa membantuku. Melihat postur tubuhku yang kurus, pendek, dan ringkih, kecil rasanya kemungkinan untukku melahirkan secara normal. 

Ah, jangankan Bidan Evi, orang awam pun mungkin akan berpikir demikian. Bahkan sejak awal hamil, aku sudah banyak di-underestimate orang. Teman-teman kantorku misalnya. 

"Lahiran caesar aja, Put. Enak, nggak sakit".

" Nggak mau ah, Pak. Nggak sakit, tapi pemulihannya lama. Pingin normal aja, biar pemulihannya cepat", jawabku. 

"Lahiran normal? Memang kamu bisa?" ejeknya. 

Ada juga yang selalu julid mengomentari apa yang aku makan dan minum, menanyakan hasil pemeriksaan berat badan bayiku kemudian menyebut bahwa berat badan bayiku kurang, mengomentari bentuk perutku yang menurutnya terlalu turun, dan yah.. meragukan bahwa aku bisa melahirkan secara normal. 

But see? Takdir bukan berasal dari omongan orang lain. Tuhan yang punya kuasa atas segalanya. Aku benar-benar bersyukur, sangat bersyukur bahwa aku bisa, meski aku nggak yakin komentar mereka akan berhenti sampai di sini. Ke depannya, pasti akan tetap ada komentar-komentar baru. Aku harus bisa kebal. 

Sabtu, 22 Januari 2022 0 komentar

Minggu-Minggu Menjelang Persalinan

Sudah sebelas hari sejak aku resmi cuti dari kantor. Sebenarnya dengan hari kelahiran bayi yang diperkirakan jatuh pada tanggal 30 Januari, aku berencana mengajukan cuti mulai tanggal 18 Januari. Maksudnya agar tanggalnya nggak terlalu jauh dari HPL, sehingga aku bisa berada di rumah lebih lama selama waktu pemulihan setelah melahirkan. Namun Dokter Wildan menyarankanku untuk mengambil cuti lebih awal.
"Karena ibu hamil itu nggak hanya butuh mempersiapkan materi, tapi juga fisik dan mental. Jangan sampai ketika mendekati HPL, bumil terlalu capek dan banyak pikiran karena pengaruh omongan sana-sini", katanya.

Akhirnya, aku pun merevisi surat cutiku. Tanggal cuti yang semula dimulai pada tanggal 18 kumajukan ke tanggal 11, itu pun nggak langsung di-acc karena Pak Teguh memintaku untuk bekerja satu hari lagi lantaran karyawan penggantiku dikhawatirkan belum begitu memahami job desk-nya. 

Jadi, sejak akhir bulan Desember lalu, kami mulai sibuk merekrut karyawan baru untuk meng-handle pekerjaanku selama aku cuti. Aku bertugas memasang iklan lowongan kerja dan memberikan tes komputer, Pak Ben bertugas menyortir lamaran yang masuk dan memberi tes tertulis, sementara Pak Teguh dan Pak Faisal yang mewawancarai para calon karyawan. 

Meski peminat untuk posisi Staf Admin sangat bejibun, namun mendapatkan kandidat yang cocok rasanya lumayan sulit. Ada yang nggak meminta upah tinggi dan nggak keberatan dengan ketentuan perusahaan namun hasil tesnya kurang baik. Ada yang sesuai kriteria namun keberatan dengan ketentuan perusahaan. Ada yang hasil tesnya baik tapi mengajukan gaji yang tinggi. Ada pula yang hasil tesnya kurang baik tapi berani meminta gaji tinggi. Wkwkwk.

Karena sulit mendapatkan kandidat yang benar-benar cocok, akhirnya kami pun memilih untuk memanggil calon karyawan dengan hasil tes yang dinilai cukup. Hari Senin tanggal 10 Januari, penandatanganan surat kontrak kerja dan serah terima jabatan pun dilakukan. Nama karyawan baru itu, Diah. Hari itu, dari pagi sampai sore aku sibuk menjelaskan apa-apa aja tugas yang kukerjakan setiap harinya yang nantinya akan ia handle selama aku cuti. Namun tampaknya ia masih bingung, sehingga sore harinya, ketika aku berpamitan pada Pak Teguh, atasanku itu memintaku untuk bekerja satu hari lagi untuk memastikan bahwa Diah sudah benar-benar paham dengan tugasnya.
"Kali ini Putri hanya mengawasi aja, biar dia yang kerjakan tugasnya", kata beliau. Akhirnya aku menyetujuinya. Keesokan harinya, aku membiarkan Diah mengerjakan sendiri tugasnya, sementara aku hanya mengawasi, membimbing, dan mengoreksi apabila ada sesuatu dari tugasnya yang belum dikerjakan dengan benar. Berbeda dengan hari kemarin yang benar-benar sibuk, hari Selasa itu aku benar-benar kebanyakan nganggur sehingga waktu terasa berjalan sangat lambat.

Jujur, menghabiskan waktu di rumah tentunya membuatku cukup jenuh dan kesepian. Meski memiliki banyak waktu untuk melakukan senam hamil, tapi entah kenapa rasanya lebih menyenangkan 'berolahraga' dengan berjalan bolak-balik dari satu ruangan ke ruangan lain seperti yang biasa kulakukan di kantor. Wkwk. Tapi di sisi lain, ada baiknya juga sih aku mengambil cuti lebih cepat, pasalnya belakangan ini kulit wajahku breakout parah sehingga membuatku nggak PD untuk bertemu orang lain.

Duluuuu sebelum menikah dan akhirnya hamil, aku mengira bahwa keluhan wanita hamil hanya sebatas pada perut yang membuncit, mual muntah, berat badan meningkat, dan kaki bengkak. Tapi ternyata, setelah mengalaminya sendiri, realitanya keluhan ibu hamil bisa bermacam-macam dan lebih dari itu. Selain berbagai hal tadi, aku juga mengalami sakit gigi, migrain, pusing, napas terasa engap, nyeri punggung dan selangkangan, perut ngilu, dan yah.. kulit kering dan gatal.

Mula-mula hanya masalah kulit kering dan mengelupas di bawah mata. Keluhan ini muncul ketika usia kehamilanku memasuki delapan bulan. Namun lama kelamaan, area tersebut terasa gatal, mendorongku untuk menggaruk hingga akhirnya timbul luka. Seiring bertambahnya usia kehamilan, kulit kering dan gatal itu terasa semakin parah hingga meninggalkan bekas berwarna merah kehitaman. Di hari-hari terakhir aku ngantor, teman-temanku sudah memperhatikan kondisi kulitku itu. Beberapa mengira aku kena herpes, sementara ibuku bilang wajahku terlihat seperti wanita yang babak belur karena KDRT. Huhu..

Dokter Wildan menyarankanku untuk berkonsultasi ke dokter kulit. Awalnya aku berpikir nggak perlu, karena dari yang aku dengar dan aku baca katanya kondisi ini muncul karena hormon kehamilan. Aku pikir toh sebentar lagi aku akan melahirkan dan kondisi kulitku akan kembali normal. Lagipula berkonsultasi dan berobat ke dokter kulit tentunya memerlukan biaya yang nggak sedikit. Sayang uangnya. Namun karena kondisinya semakin parah dan membuatku uring-uringan, aku pun akhirnya memutuskan untuk mengkonsultasikan kondisi kulitku ke salah satu klinik kecantikan di kotaku secara online. Dari reviewnya sih, klinik ini cukup bagus dan terkenal karena memiliki beberapa cabang di kota lain, selain itu harga resepnya pun nggak terlalu mahal.

Namun rupanya, pelayanan klinik yang kuharapkan bisa menangani permasalahanku dengan cepat itu nggak sesuai ekspektasi. Aku mengajukan permintaan konsultasi pada hari Rabu 12 Januari, dan baru ditanggapi keesokan harinya. Itu pun responnya lambat sekali hingga aku merasa akan meledak. Bayangkan, aku mengajukan permintaan konsultasi di hari Rabu, dan baru menerima resep yang kubutuhkan pada hari Sabtu :')

Dari konsultasi itu, aku menerima satu botol sabun pembersih wajah, satu botol toner, dan dua krim wajah. Sejauh ini, semua itu belum memberi hasil yang signifikan. Tapi alhamdulillah aku merasa kondisi kulitku cukup membaik meski jejak-jejak berwarna merah kehitaman itu belum hilang dan kini terlihat seperti bekas luka bakar. Ya Allah, sabar, sabar :')

Dan oh ya, tanggal 17 lalu, untuk pertama kalinya aku merasakan gelombang cinta dari Si Kecil. Malam itu, aku merasakan kram yang cukup hebat di sekitar perut. Rasa kram itu bukan hanya kurasakan di area perut bawah, tapi juga menjalar hingga pinggang, punggung, dan kaki, persis seperti nyeri haid hari pertama. Senyum Mas merekah. Ia memang sangat menantikan kelahiran bayi kami, namun ia juga tampak bingung dengan apa yang harus kami lakukan. Apakah kami perlu segera ke bidan saat itu juga?
"Nanti aja, Mas", ucapku sambil menahan sakit. Aku masih yakin ini belum saatnya. Selama belum muncul flek (seperti yang kudengar dan kubaca dari berbagai sumber), sepertinya kami harus menahan diri. Alhasil, malam itu Mas hanya bisa menenangkan seraya mengelus-elus pinggangku

Hingga lebih dari pukul tiga dini hari aku sulit sekali untuk tidur, karena disamping merasakan kontraksi yang hilang timbul, aku juga terus menerus ke toilet untuk buang air kecil. Kontraksi yang aku rasakan bisa dibilang cukup intens. Frekuensinya bisa mencapai tiga sampai lima menit tiap waktu dua menit hingga aku merasa bayi kami mungkin akan lahir hari itu juga. 

Namun hingga hari ini, gelombang cinta selanjutnya belum lagi aku rasakan. Padahal waktu itu aku sudah yakin sekali bahwa aku akan melahirkan dalam waktu dekat. Mungkin memang belum saatnya kali yah. Toh, HPL-nya masih satu minggu lagi. Jujur aku cemas, namun tetap berusaha untuk tenang dan nggak terlalu overthinking. Semoga semuanya akan baik-baik aja.

Selasa, 21 Desember 2021 0 komentar

Menghadiri Kelas Ibu Hamil di Puskesmas

Hari ini aku diundang untuk mengikuti Kelas Ibu Hamil di Puskesmas Kejaksan. Karena diselenggarakan secara gratis, tentunya aku nggak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Sebelumnya aku meminta ijin atasanku untuk terlambat ngantor karena acara itu digelar jam setengah sembilan pagi.
"Setelah acara selesai, saya langsung ke kantor, Pak", begitu isi pesan WhatsApp yang kukirimkan pada beliau.

Singkat cerita, aku dan ibu tiba di Puskesmas. Acara itu digelar di lantai dua, di sebuah ruang rapat. Kami tiba sekitar dua puluh menit lebih lambat dari jadwal, namun ruangan itu tampak sepi. Hanya ada satu peserta kelas yang tengah berpangku tangan di salah satu meja peserta paling depan dan satu staf Puskesmas yang tengah mempersiapkan bahan persentasi. Staf itu langsung mengenali ibuku. Kebetulan ibu memang Kader Posyandu, jadi tentunya sudah kenal dan cukup sering berinteraksi dengan para staf di sana. 

Di ruangan itu, ada enam meja panjang dan delapan belas kursi yang disediakan untuk peserta. Meja-meja dan kursi-kursi itu diatur menjadi dua baris. Aku mengambil tempat duduk di meja peserta paling depan di sebelah kiri ruangan. Entah berapa orang sebenarnya yang diundang untuk menghadiri kelas tersebut karena nggak semua kursi peserta terisi. Mungkin karena cuaca mendung, jadi banyak yang lebih memilih untuk diam di rumah kali yah.

Topik yang dibahas pada kelas ini adalah mengenai kondisi stunting pada anak, pentingnya pemberian ASI, dan 1000 hari pertama kehidupan yang disampaikan oleh tiga orang pembicara. Pembicara pertama sempat bertanya mengenai usia kehamilanku dan tampak kaget ketika aku bilang bahwa usia kandunganku sudah 34 minggu. Katanya aku nggak tampak seperti ibu hamil. Ia pun memintaku untuk berdiri, dan ketika itu lah ia melihat perutku yang besar. Well, beliau bukan orang pertama yang bilang begitu. Entah aku harus bersyukur atau bersedih dengan kondisi ini, karena ketika sebagian besar ibu hamil begitu mudah membuat tubuhnya lebih berisi, aku justru segini-segini aja :')

Sumber : Instagram @kejaksanpuskesmas

Di sela-sela pemberian materi, para peserta juga dipanggil satu persatu untuk mengukur lingkar lengan dan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan hemoglobin. Dan yah, bisa ditebak, ukuran lingkar lengan dan kadar hemoglobinku masih kurang. Padahal di pemeriksaan Hb yang pertama beberapa bulan lalu, kadar hemoglobinku dinyatakan cukup. Huhu..

Total Tayangan Halaman

 
;