Senin, 16 Juni 2014 1 komentar

I Think I Got Thailand Fever!

Sawasdee ka!

Eaaa.. Belakangan ini aku lagi keranjingan banget nonton film Thailand. Semenjak aku nonton film Suckseed, My True Friend dan A Crazy Little Thing Called Love, aku jadi ketagihan nonton film-film dari negara tetangga Indonesia yang disebut sebagai Negeri Gajah Putih tersebut. Sebut aja film Hello Stranger, Love of Siam, My Name is Love, Pee Mak Phrakanong, The Billionaire, dan yang baru aku tonton kemaren-kemaren Yes or No. Well, sebenernya sih sebelum nonton Yes or No, aku sempet nonton film ATM Errak Error, tapi sayangnya videonya corrupt gitu deh. Jadi sebelum filmnya selesai, videonya udah stop duluan. Damn banget!!

Sebenernya bukan belakangan ini aja sih aku suka nontonin film Thailand, tapi udah sejak sekitar sepuluh atau sebelas tahun yang lalu. Pagi ini aku nonton film Thailand jadul di salah satu stasiun TV swasta Indonesia. Judulnya The Trek. Ada yang tau film ini? Yak, film ini adalah film Thailand yang diluncurkan pas jaman-jaman aku masih kelas dua SD, tepatnya tahun 2002. Ceritanya sih sebenernya pasaran banget. Tentang beberapa orang yang berpetualang kemudian ketemu ular besar pemangsa.


The Trek

Pas jaman-jaman SD dulu, aku suka banget nonton film-film legenda Thailand semacem itu. Yah, selain The Trek, aku juga suka Body Jumper, 9999999, Hantu Pemakan Bayi.. dan beberapa film Thailand yang aku lupa judulnya apa. Dan aku juga paling suka kalo liat aksinya Danai Smuthkochorn. Itu lho, pemeran utama cowok di film The Trek dan Body Jumper. Liat deh gambar yang diatas tadi! Dia yang ditengah itu. He's cool, isn't he? Haha..

Well, lemme show you his other pictures..


Entahlah, buatku dia tuh cute gimana gitu.. mwahaha.. Apalagi waktu dia main film itu, umurnya masih 21 taun. Ya lagi ganteng-gantengnya lah. Dulu, kalo aku liat TV nayangin film Thailand yang ada dia, aku pasti nonton sampe selesai. Yak, dulu aku ngefans banget sama dia. Malah sampe kebawa mimpi gitu. Well, dia adalah seleb Thailand pertama yang aku suka. Kalo diibaratkan, dia itu kayak Mario Maurer versi jadul kali yak. Haha.. Yah, bukannya mereka mirip, tapi pesona mereka tuh hampir sama menurut aku. BTW, denger-denger si Danai ini Muslim lho..

Nah, sekian lama aku nggak nonton film-film Thailand itu, akhirnya aku kembali dipertemukan dengan film Thailand ketika Teh Tyas memberiku saran buat nonton film SuckSeed. Akhirnya sampe sekarang deh aku kena Thai Movie Fever alias demam film Thailand. 

Soooo.. kalo dulu cuma ada Dan, satu-satunya aktor Thailand yang bikin aku demen, sekarang udah ada lumayan banyak juga aktor Thailand muda yang cakep yang aku tau. Diantaranya..

1. Mario Maurer

Aku nggak perlu banyak cingcong tentang dia lah ya. Coz siapa yang nggak kenal aktor muda blasteran Thailand-Jerman kelahiran 4 Desember 1988 yang satu ini? Yang nggak tau atau belum kena virusnya, coba deh nonton film My True FriendCrazy Little Thing Called Love, dan Friendship. Girls, I bet he will make you fascinated! Well, sebenernya banyak sih film yang udah dia bintangin. Tapi cukuplah aku kasih suggest tiga film itu. Coz berdasarkan pengamatanku, tiga film itu termasuk kedalam daftar film Thailand yang paling jadi favorit para remaja.

2. Natcha Jantapan

Aksinya bareng Mario Maurer cukup memukau di film My True Friend. Di film itu dia berperan sebagai Song. BTW, sebenernya aku bingung siapa nama cowok ini sebenernya. Natcha Jantapan, Kamolnet Reungsri, ataukah Pravit Kadkaseam? Waktu browsing artikel tentang pemeran-pemeran dalam film My True Friend, artikel yang aku baca menyebutkan bahwa pemeran Song itu bernama Kamolnet Reungsri. Artikel yang aku baca mengenai film Love at 4 Size yang juga dia bintangin malah menyebutkan bahwa namanya adalah Pravit Kadkaseam. Tapi ketika aku browsing dengan keyword dua nama itu, nggak banyak data yang aku temuin tentang dia. Akhirnya aku menemukan artikel-artikel lain yang menyebutkan bahwa nama cowok ini adalah Natcha Jantapan, alias Mouse (kenapa namanya Mouse? apakah dia mirip binatang pengerat? o.O). Dan ketika aku browsing pake keyword nama itu, baru deh.. TREEEETTT.. munculah sederet data dan foto-fotonya. Ternyata.. he's so damn charming! Huaaahh.. foto selfie-nya banyak banget, dan keren-keren semua! Padahal di film My True Friend dia keliatan rada cupu gitu. Haha.. :P

3. Jirayu Laongmanee

Sejak pertama kalinya aku nonton aksi dia di film SuckSeed, aku langsung suka sama cowok yang satu ini. Apalagi pas denger lagu duetnya bareng Nattasha Nauljam di OST. SuckSeed. Suaranya soft banget. Adem dengernya. Yang nggak nyangka, ternyata umurnya masih muda banget. Dia kelahiran tahun 1995. Oh iya, banyak yang bilang cowok yang dipanggil Kao ini mirip Morgan Tunggal Oey (ex SM*SH). Yah, nggak salah sih. Emang mirip. Tapi tetep gantengan Kao kemana-mana lah ya.. :v

4. Pachara Chirathivat

Sama seperti Kao, aku baru nonton aksi cowok yang biasa dipanggil Peach ini ketika berperan sebagai si kembar Khung dan Kae di film SuckSeed. Tapi aku baru terpesona sama dia pas dia main di film The Billionaire. BTW, nggak cuma di film The Billionaire aja lho si Peach dikenal sebagai milyarder, tapi dalam dunia nyata pun dia terkenal sebagai salah satu orang paling tajir di Thailand. Well, sebenernya yang tajir bukan dia sih, tapi ortunya. Ayahnya adalah seorang pemilik pusat perbelanjaan terbesar di Thailand. Sedangkan ibunya adalah pemilik jewelry collection Diamond Today dan watches collection ToyWatch. Huaaahh.. kebayang kan tajirnya nih orang? Tapi meskipun begitu, katanya dia nggak sombong lho. Kyaaa.. I really wanna know him in person. Coz kalo liat akting dia di film, kayaknya dia anaknya nyenengin deh. Gokil-gokil gemesin gitu :3

5. Chantavit Dhanasevi

Awalnya biasa aja sih waktu nonton dia di film Hello Stranger. Tapi lama-lama aku terpesona juga sama orang ini. Senyumnya itu lho.. lucu! Sama kayak Pachara Chirathivat, dia juga kayaknya nyenengin deh. Liat aja tingkahnya di film Hello Stranger pas dia main-main di patung Bae Yong Joon. How cute! :3

6. Alex Rendell

Waktu nonton nih cowok di film Love at 4 Size, aku ngerasa bahwa aktor blasteran Thailand-Inggris ini punya wajah yang familiar buatku. Kayak mirip siapa gitu, aku nggak inget. BTW, you know what? Ternyata dia lahir di Jakarta, Indonesia lho. Tapi cuma beberapa tahun doang dia tinggal disini. Coz pas dia umur empat tahun, dia pindah ke Bangkok, Thailand dan memulai karier beraktingnya disana.

Dan nggak cuman aktor-aktornya aja yang punya tampilan enak diliat, tapi aktris-aktrisnya juga. Well, ini dia beberapa aktris-aktris Thailand muda dan good-looking yang sejauh ini aku tau..

1. Suppanad Jittaleela

Aku bingung mau bilang nih cewek cantik atau ganteng. Hah? Cewek?!
Well, Thailand Movie lover pasti kenal deh sama dia. Aktingnya sebagai butch (cewek lesbi yang berposisi sebagai cowok) di film Yes or No yang merupakan film pertamanya, sukses bikin cewek normal pun dibikin klepek-klepek sama dia. Film ini juga lah yang melambungkan nama cewek yang biasa dipanggil Tina ini. Kabarnya dia adalah seleb tomboy paling terkenal di Thailand. Selain berprofesi sebagai aktris, Tina juga berprofesi sebagai model, penyanyi, dan DJ di salah satu stasiun radio terkenal di Bangkok, Pynk98 FM. Mau tau tampilan Tina kalo jadi cewek tulen? Ini dia..


Looks pretty, isn't it? Yah, aku nggak yakin sih kalo itu foto original. Kayaknya foto editan photoshop gitu deh. Tapi it's OK. Toh, fotonya keliatan nyata kan? So, nggak penting mau bilang dia ganteng kek, cantik kek.. yang jelas dia charming!

2. Aom Sucharat  Manaying

Nah, ini nih lawan mainnya Tina di film Yes or No. Di film itu, dia Aom berperan sebagai pasangan lesbi Tina. Dan walaupun mereka berdua menjadi pasangan lesbi didalam film, tapi para fans mereka selalu memasangkan mereka di dunia nyata lho.. padahal Aom sendiri mengaku bahwa dia normal, nggak lesbi. Dan meskipun dia deket sama Tina, tapi mereka hanyalah sepasang sahabat, nggak seperti yang ada di film. Well, kalo ngeliat mereka berdua, aku jadi inget Mitha dan = Dara THE VIRGIN. Hmm..

3. Pimchanok Luevisadpaibul

Namanya melambung setelah dia beradu akting bersama Mario Maurer di film A Crazy Little Thing Called Love (I love this movie so bad!). Dan karena film itulah, cewek kelahiran 30 September 1992 ini berhasil meraih penghargaan TOP AWARDS 2011 dalam kategori Best Film Rising Star Female for A Crazy Little Thing Called Love dan Mthai Award 2011 dalam kategori Top-talk Star Couple 2011 for A Crazy Little Thing Called Love. Selain itu banyak yang menobatkan dia sebagai salah satu aktris muda tercantik di Thailand.

3. Monchanok Saengchaipiangpen

Manis dan imut, itulah kesan yang didapet dari sosok cewek pemeran Name di film My True Friend ini.

4. Nattasha Nauljam

T-Movie lover pasti nggak asing deh sama cewek ini. Yak, cewek yang biasa disapa Nat ini adalah lawan main Kao alias Jirayu Laongmanee di film SuckSeed. Dan gara-gara film itulah, Nat jadi punya banyak penggemar, nggak hanya di negara asalnya, tapi juga di Indonesia. Malah setauku ada komunitas Nattasha Fans Club Indonesia gitu deh. Ya iyalah, gimana penggemarnya nggak banyak? Dia nggak cuma cantik dan piawai dalam berakting, tapi dia juga piawai dalam bermain gitar dan bernyanyi, kayak di filmnya. Well, kabarnya sih bakatnya itu nurun dari bapaknya yang juga merupakan seorang musisi. Selain itu, penikmat musik Muse, Clash dan Dashboard ini juga suka dan bisa menari tradisional. Keren yaa..
Anyway, kalo diliat-liat, dia kok rada mirip Bunga Citra Lestari yak? Yah, entah emang mirip atau cuma menurut pandanganku doang sih. Hmm..

See? Keren-keren kan mereka? Dan pastinya, tampang mereka emang udah keren, murni dari sananya. Yeah, they're naturally awesome, without plastic surgery. Nggak ada tuh yang namanya oplas-oplasan. Hahaha.. :P

Segitu dulu deh postinganku yang satu ini. BTW, kalo readers punya rekomen Thai movie remaja yang lain, aku minta ya. Hehe..
Sabtu, 07 Juni 2014 0 komentar

Sepenggal Cerita Tentang Si Pusi

Udah lebih dari sebulan ini kayaknya rumah aku kedatangan seekor kucing betina berwarna item putih. Awalnya aku dan keluargaku mengira kalo kucing itu milik tetangga, coz tingkahnya manis banget. Dia nggak suka naik-naik keatas meja buat nyolong makanan, juga nggak suka ngeroyok orang yang lagi makan kayak kebanyakan kucing kampung lainnya. Tapi ternyata kucing itu bukan milik siapa-siapa. Dan karena dia nggak nakal, akhirnya keluargaku welcome deh sama dia.

Setiap Subuh, dia dateng kerumah.. mengeong minta dibukain pintu. Kalo pintu udah dibuka, biasanya dia betah dirumahku. Kerjanya cuma makan, tidur, makan, tidur.. Tapi lebih sering tidur sih. Tidurnya juga pindah-pindah. Kadang diatas kursi makan, di kolong meja, di kardus yang disediain ibu.. tapi lebih sering dia tidur di lantai, ngehalangin jalan. Pernah waktu itu ekornya keinjek aku. Lagian suruh siapa dia tidur ngehalangin jalan kayak gitu? Dan setelah kejadian itu, dia nggak mau aku elus-elus selama beberapa waktu. Marah mungkin. Hahaha..
Kalo malem, kami suruh dia keluar. Entah dimana dia tidur kalo malem.

Oh ya, aku belum kasih tau namanya ya?
Namanya Pusi, coz dia nengok kalo dipanggil Pus.. Well, kebanyakan kucing juga gitu kali ya. Yah, mau gimana lagi? Dia mau aku kasih nama Shima, tapi dia nggak nengok kalo dipanggil dengan nama itu. Beda dengan adik aku. Adik aku malah menamainya dengan nama yang agak vulgar, Pantat. Koplak kan? (=__=')

Si Pusi betah banget tidur berjam-jam. Pokoknya dia main kerumah cuma buat tidur dan makan doang. Kalo main atau buang air, biasanya dia keluar. Gemes banget deh kalo liat tingkah dia yang tidur terus kayak gitu. Dan kalo minum, biasanya dia masuk ke WC dan minum air di kloset. Iiewwwhh.. Aku pernah nanya, "Gimana, Pus, rasa air WC?" dia cuma jawab, "Meong.."
Mungkin maksudnya, "Kamu rasain aja sendiri.."

Well, kalo liat kebiasaan dia minum disitu, mungkin buat dia enak kali ya.. Ada aroma-aroma apa gitu.. Coz kalo menurut dia nggak enak, nggak mungkin kan dia minum disitu terus-terusan? Jadi yaaahh.. aku sih cukup tau aja lah, nggak usah pake ikut ngerasain juga :P






Oh ya, belakangan ini dia jadi agak bandel deh. Nggak kayak waktu dia pertama dateng dulu. Kalo ngeliat orang makan, dia langsung nimbrung, naik ke pangkuan orang yang lagi makan. Padahal kalo dulu, boro-boro dia berani kayak gitu.. paling cuma nyerudukin kaki. Trus pernah waktu itu juga dia boker di pangkuan aku. Kurang ajar banget nggak coba?
Jadi ceritanya waktu itu kan aku lagi main laptop. Tiba-tiba si Pusi yang tadinya lagi main di luar masuk kerumah, dan naik ke pangkuan aku. Biasanya kalo dia kayak gitu artinya dia minta dielus-elus. Ya aku elus-elus aja deh. Pas lagi ngelus-ngelus dia, idung aku nangkep bau nggak enak. Pas dia bangun dari duduknya, aku liat pantatnya. Dan ternyata di pantatnya itu ada kotoran nempel gitu deh. Dan kotoran dia udah nempel aja gitu di celana aku. Ieeewwwhh..

Langsung aja aku bangun dan ngeganti celana jeans yang aku pake. Aaaa.. apa salahku padamu, Pusiiii..??! Dan sejak kejadian itu, aku jadi waspada banget kalo dia naik ke pangkuan aku. Aku periksa dulu pantatnya, ada kotoran nempel atau nggak.

Si Pusi adalah kucing yang pasrah. Dia pasrah banget kalo di-bully. Hahaha..
Aku dan adikku sering ngebully dia. Bukan ngebully kayak mukul, nyiram pake air panas, nyemprot dia pake obat nyamuk, giles dia pake buldozer, atau mutilasi dia pake kapak segala macem lho ya.. Tapi ngebully kayak nempelin stiker di kepalanya, maksa dia jalan pake dua kaki (kayak ngebelajarin anak kecil jalan), nyuruh dia tidur terlentang, gangguin dia pas lagi tidur.. dll. Tapi dia pasrah aja gitu. Nggak berontak, apalagi nyerang. Adeeem banget.. bikin kami jadi makin semangat ngebully-nya. Mwahahaha..

Oh ya, kemaren juga aku sempet ngakak hebat gara-gara ngeliat ekspresi dia nyium walang sangit. Jadi ceritanya, kemaren malem pas aku lagi main laptop, adikku cerita tentang kejahilannya ngasih walang sangit ke si Pusi. Adikku juga sempet mengekspreksikan ekspresi si Pusi setelah nyium walang sangit itu. Kemudian setelah itu, adikku ngasih walang sangit itu lagi ke si Pusi. Si Pusi deketin si walang. Ketika hidungnya mendekat, dia langsung loncat kaget gitu, dan seketika menggosok-gosokan hidungnya dengan kaki depannya. Dia juga berkali-kali mengeluarkan lidahnya, persis kayak ekspresi mau muntah gitu. Kemudian adikku ngebukain pintu depan, dan si Pusi langsung lari ke luar. Mau muntah mungkin. Hahaha.. Aku ngakak sampe sakit perut. Eh, pas lagi ngakak, adikku malah ngelemparin walang sangit itu ke aku. Asli, bau banget!

Dan tadi, aku ngelemparin walang sangit itu lagi ke si Pusi. Hanya aja si walang udah mati gitu, jadi baunya udah nggak menyengat lagi. Tapi si Pusi lagi-lagi kaget waktu disodorin walang itu. Dan meskipun walang itu udah mati, dia tetep nggak mau deket-deket.. kayak yang trauma atau fobia gitu deh. Hahaha.. lucu banget.

Tapi biar gimanapun, aku dan keluarga sayang sama dia. Bapakku yang nggak suka kucing aja sering kok ngebelai-belai dia, walau emang sering marahin juga sih.. coz Si Pusi juga yang kadang suka bandel nyakar-nyakar kursi atau ngeroyok beliau pas lagi makan.


Oh ya, satu hal yang paling aku suka dari si Pusi adalah, dia sering nengok kalo ada kamera yang mengarah ke dia. Nih liat..









Okay, sekian dulu ceritaku tentang si Pusi. See yaa..
Kamis, 05 Juni 2014 0 komentar

Aku, Film THE BILLIONAIRE, dan Tao Kae Noi

Berawal dari keisengan aku nonton film. Tepat akhir bulan Mei lalu, aku nonton film Billionaire yang udah ada di netbookku. Sebenernya sih film ini udah aku download sejak Agustus tahun lalu, tapi aku baru nonton akhir bulan kemaren. Hahaha.. terlalu ya.. :P

***

Film ini menceritakan tentang kisah dibalik produk rumput laut goreng asal Thailand, TAO KAE NOI.




Hiduplah seorang remaja bernama Top Ittipat (diperankan oleh Pachara Chirathivat) yang merupakan seorang gamer alias orang yang hobinya main game. Dia hobi banget main game sejak SMA. Dan dari hobinya itu, dia bisa memperoleh banyak uang berkat usahanya berjualan senjata game online, bahkan dia bisa beli mobil dari uang hasil usahanya itu. Tapi biarpun Top udah bisa nyari duit sendiri, ortunya sama sekali nggak merestui apa yang anaknya itu lakuin. Mereka bahkan sangat geram waktu mengetahui Top nggak lulus masuk universitas negeri karena terlalu berambisi menjadi pengusaha senjata game online dan nggak mementingkan pendidikannya sendiri.

Suatu hari, akun Top dihapus oleh admin game online karena dia dianggap menyalahgunakan akun itu untuk keperluan komersial. Top pun bingung gimana caranya dia dapetin uang lagi. Apalagi dia udah keburu bilang ke ortunya kalo dia bisa cari uang sendiri dan sama sekali nggak butuh uang bapaknya. Kemudian dia berniat membuka toko DVD Player. Dengan sisa uang tabungannya, Top membeli 50 unit DVD Player seharga 500 Baht perunit untuk dia jual kembali. Apesnya, ternyata dia ditipu sama si penjual DVD itu, karena ternyata 50 unit DVD Player yang dia beli itu adalah DVD Player bajakan yang cepet banget rusak karena cuma buat satu kali pake.

Setelah gagal membuka usaha penjualan DVD Player, Top mencoba untuk berjualan kacang. Dia menyewa sebuah mesin pembuat kacang yang canggih dengan harga 50 Baht. Dia nggak peduli dengan bapaknya yang marah-marah karena kelakuannya itu. Kemudian Top melakukan survey dan uji coba demi menghasilkan kacang yang enak dan diminati pasar. Setelah berhasil membuat kacang yang enak, Top pun mulai berjualan kacang dengan dibantu pamannya yang setia. Top menyewa lokasi di sebuah mall untuk membuka gerai kacangnya. Sayangnya, karena lokasinya kurang strategis, kacang yang mereka jual menjadi kurang laku. Kemudian Top berpindah lokasi ke tempat yang lebih strategis, yaitu didepan pintu masuk mall. Usaha inipun berbuah manis. Baru hari pertama berjualan di lokasi yang baru, kacang yang Top jual laku keras. Saking larisnya, Top nekat membuka cabang baru. Eh, baru aja buka cabang, usaha penjualan kacang milik Top malah terancam diberhentikan oleh pihak mall karena asap dari mesin penggoreng kacang yang Top gunain mengotori atap mall. Tapi Top bersikeras buat tetep berjualan. Dia bahkan menyanggupi permintaan pihak mall untuk membersihkan atap mall setiap selesai berjualan. Hari itu juga, ibunya mengajak Top untuk pindah ke China bersama kedua orangtuanya. Tapi Top bersikeras untuk tetap tinggal di Thailand dan melanjutkan bisnisnya. Sayangnya bisnis berjualan kacang itu diberhentikan oleh pihak mall karena lokasi tempat berjualan Top udah disewakan ke penjual lain.

Suatu pagi, Top menemukan Surat Pemberitahuan Penyitaan yang ditempel didepan pagar rumahnya. Dia sangat terpukul mengetahui hal itu. Ia pun menyendiri di sebuah rumah makan. Pulang dari rumah makan itu, Top bertemu dengan ceweknya yang baru pulang dari Provinsi Rayong dan ngebawa oleh-oleh cemilan rumput laut. Top bertanya sama ceweknya, "Kok belinya jauh banget? Emangnya disini nggak ada yang jual?"
Ceweknya jawab, "Nggak ada.."
Kemudian mereka berdua menikmati cemilan rumput laut tersebut. Ternyata rasanya enak. Dari situlah Top melihat peluang memulai bisnis baru, yaitu berjualan cemilan rumput laut.

Dia mencoba bertanya sana-sini tentang bagaimana caranya agar rumput laut mentah yang dia beli bisa tahan lebih dari tiga hari, tapi nggak ada yang tau caranya. Sampe akhirnya dia belajar pada seorang dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Pangan di Kasetsart University. Dari situ, ia mendapat ilmu bahwa agar makanan atau bahan makanan lebih awet, makanan atau bahan makanan tersebut harus dikemas dengan baik dan nggak boleh dibiarkan terbuka agar terbebas dari bakteri. Setelah itu, ia pun memborong beberapa kardus rumput laut dan mencoba menggorengnya dirumah bersama pamannya. Awalnya, rumput laut yang mereka goreng nggak ada yang berhasil. Rasanya pait gitu deh. Mereka mencoba berkali-kali, sampe-sampe Top rela menjual semua komputernya untuk membeli beberapa kardus rumput laut, tapi selalu aja gagal. Hingga pada akhirnya, terjadilah suatu insiden dimana paman Top jatuh sakit. Beliau pingsan di dapur dalam keadaan basah kuyup kena air hujan. Disebelahnya ada sebungkus rumput laut yang belum digoreng yang juga basah kena air hujan. Top membawa pamannya ke rumah sakit.

Selama pamannya dirawat di rumah sakit, Top menggoreng berkardus-kardus rumput laut itu sendirian sampe abis, tapi belum berhasil juga. Sampe akhirnya hanya tersisa satu bungkus rumput laut yang kena air hujan itu. Karena nggak ada rumput laut yang tersisa lagi (selain rumput laut yang kehujanan itu), akhirnya Top menggoreng rumput laut itu, dan ternyata.. rasanya enak! Rupanya rumput laut itu harus dibasahin dulu sebelum digoreng. Akhirnya, Top pun menjual rumput laut goreng buatannya ke pusat perbelanjaan dan laku keras. Dan hari itu juga dia tau bahwa bapaknya punya utang ke bank sebesar 40 juta Bath alias 12 milyar Rupiah.

Kemudian Top mencoba buat bekerjasama dengan 7-Eleven dengan menawarkan produk rumput laut goreng buatannya. Sayangnya, produk rumput laut gorengnya itu ditolak dengan alasan kemasannya yang nggak layak jual, ukuran yang terlalu besar, dan harganya yang dianggap terlalu mahal. Tapi meskipun begitu, Top nggak nyerah. Dia mendatangi seorang designer untuk membuatkan desain kemasan yang bagus untuk produknya. Dan ia menamakan produknya itu TAO KAE NOI, yang artinya Pengusaha Muda.

Setelah memberi sedikit perubahan pada produknya, Top kembali ke 7-Eleven, membawa beberapa bungkus TAO KAE NOI. Sayangnya, hari itu dia nggak ketemu sama manager perusahaan itu. Akhirnya dengan perasaan kecewa, Top memberikan semua TAO KAE NOI yang dia bawa kepada satpam penjaga di kantor itu. Tanpa diduga, para karyawan perusahaan itu mencoba produk rumput laut milik Top itu dan mereka menyukainya. Akhirnya Top dihubungi oleh pihak 7-Eleven yang menyatakan bahwa produknya diterima. Top pun menandatangani kontrak. Ia harus memproduksi 72.000 pcs TAO KAE NOI untuk dikirim ke 6000 cabang.

Mendengar persyaratan itu, Top kembali bingung. Bagaimana ia bisa memproduksi 72.000 pcs kalo dia cuma memproduksinya dirumah hanya dengan dibantu pamannya? Apalagi dalam waktu sebulan, ia harus menunjukkan pabrik miliknya karena pihak 7-Eleven & GMP akan segera melakukan inspeksi. Sementara dia sendiri kan nggak punya pabrik. Kemudian Top mencoba untuk meminjam uang ke bank untuk membangun pabrik. Sayangnya permintaannya ditolak oleh pihak bank, karena Top dianggap terlalu muda untuk meminjam uang ke bank. Umurnya masih 19 tahun (seumuran aku! huaaahh..)

Lagi-lagi, Top nggak menyerah. Ia menjual mobil miliknya, kemudian menyulap kantor kecil milik keluarganya menjadi sebuah pabrik kecil dan mempekerjakan beberapa orang karyawan. Tapi ketika manager 7-Eleven dan pihak GMP menginspeksi pabrik kecil Top, mereka menganggap bahwa pabrik kecil itu belum memenuhi standar.. mulai dari lampu neonnya yang nggak pake penutup, pemasangan saluran air yang belum benar, dan cara pengoperasian wastafel yang kurang baik. Namun dengan segera Top menyempurnakan kekurangan pabriknya hingga akhirnya kontraknya disetujui.

Akhirnya, setelah 2 tahun Top bekersama dengan 7-Eleven, Top bisa melunasi utang bapaknya dan bisa menempati rumah bersama kedua ortunya lagi. Ketika film ini dibuat (sekitar tahun 2011), Top memiliki 2500 karyawan, mengirim produknya ke 6000 cabang 7-Eleven, dan mengekspor produknya tersebut ke 27 negara didunia termasuk Indonesia. Bahkan ia telah memiliki perkebunan rumput laut di Korea Selatan. Tahun 2010 ia meraup keuntungan sebesar 1.500 juta Bath atau sekitar 450 milyar Rupiah, dan umurnya baru 26 tahun.

***

Nah, gara-gara film itu tuh, aku jadi penasaran sama rasa Tao Kae Noi. Hahaha.. aneh nggak sih? Bukannya penasaran sama tips suksesnya Top, ini malah penasaran sama produknya. Waktu aku ngeliat si Top makan rumput laut goreng itu kok keliatannya kayak enak banget gitu. Makanya aku penasaran. Aku emang udah lama ngeliat cemilan itu nangkring di rak supermarket, tapi aku nggak pernah tertarik buat nyobain. Coz selain harganya yang mahal tapi isinya sedikit juga karena ibu aku yang pernah nyobain bilang kalo makan Tao Kae Noi tuh kayak makan kertas. Selain itu juga katanya rasanya aneh. Maka dari itu, boro-boro aku pengen beli.

Tapi gara-gara nonton film itu, aku jadi penasaran setengah mati sama rasanya. Sampe kebayang-bayang gitu deh. Pernah nonton SpongeBob Squarepants yang episode si Squidward ketagihan Krabby Patty nggak? Ya begitulah kira-kira rasa penasaran aku. Mwahaha..

Kemudian, aku browsing deh. Mulai dari Google sampe Twitter aku jelajahin buat nyari tau gimana rasanya cemilan yang satu ini. Aku juga nyari tau berapa harganya, berapa isinya, dan varian rasa apa yang paling enak. Eh, ternyata bukan cuma aku lho yang penasaran sama Tao Kae Noi setelah nonton film itu, tapi banyak. Haha.. Entahlah. Kayaknya film itu punya efek hipnotis gitu deh. Makanya orang-orang yang nonton film itu jadi penasaran sama Tao Kae Noi dan ketagihan :P *sok tau*

Yaahh.. mungkin pembuatan film ini termasuk strategi pemasaran kali ya, biar Tao Kae Noi makin laku dipasaran.

Banyak yang bilang Tao Kae Noi itu rasanya unik dan bikin kantong bolong karena harganya yang mahal tapi rasanya yang bikin nagih. Gara-gara itu, aku jadi makin penasaran. Kebetulan tadi siang aku dan ibu main ke PGC buat beli blazer. Setelah itu, kami mampir ke Asia Toserba. Disana aku beli Tao Kae Noi. Tadinya aku mau beli dua sachet Tao Kae Noi.. satu yang ukuran 5gr harga Rp 3500 rasa Spicy, dan yang satunya lagi ukuran 20gr harga Rp 12500 rasa Original. Tapi pas aku nunjukin itu ke ibu, beliau kurang setuju gitu. Katanya coba sebungkus aja dulu, jangan langsung beli dua. Sayang kalo nggak doyan dan nggak dimakan. Akhirnya aku beli yang ukuran 20gr deh.


Ini dia penampakannya..




Begitu pulang dari supermarket, aku langsung buka snack itu. Ternyata ya.. isinya tuh BANYAK BANGET! Bener-bener nggak sebanding dengan harganya yang MURAH BANGET! 11 lembar rumput laut goreng. Luar biasa kan banyaknya? Ngahahaha.. *ketawa miris*




Awalnya, aku cium dulu baunya. Ya gitu deh, ada aroma amis-amis gitu. Wajar lah ya, namanya juga makanan laut. Lalu aku cicipin sedikit. Ternyataaaa.. rasanya kayak ikan asin! Beneran, kayak ikan asin. Mirip banget. Trus aku makan dengan gigitan besar. Enak sih.. Unik gimana gitu.. Kayak makan daun kering rasa ikan asin. Tapi yaaa kalo dipikir-pikir, harga Rp 12500 terlalu mahal cuma buat beli sebungkus snack dengan berat 20gr yang berisi sebelas lembar rumput laut rasa ikan asin kayak gini. Padahal kalo beli snack kentang Lays, bisa dapet dua bungkus isi 40gr, plus uang kembalian. Jadi menurutku, daripada kantong bolong cuma buat beli beberapa lembar rumput laut goreng doang, mending beli rempeyek ikan asin aja di pasar. Rp 12500 dapet banyak tuh. Mwahahaha.. :P

Pas aku lagi makan snack itu, ibu minta. Pas beliau makan, katanya rasanya enak. Padahal sebelumnya beliau bilang rasanya aneh. Haha.. Yah, mungkin snack ini baru kerasa enak kalo udah makan lebih dari satu kali. Entahlah..
Trus aku cari si Pusi. Aku tawarin Tao Kae Noi ke dia. Tadinya Tao Kae Noi yang aku kasih cuma dia endus-endus doang, nggak dimakan. Akhirnya aku suapin. Eh, ternyata dia doyan juga. Malah nagih gitu. Aku udah kasih dia selembar, dia masih nongkrongin aku makan.




Haaahh.. sekarang aku nggak penasaran lagi deh sama snack rumput laut yang satu ini. Yah, sebenernya aku masih penasaran sama rasa Tao Kae Noi yang balut tepung sih. Tapi kalo mengingat harganya yang selangit, kayaknya aku harus mikir-mikir lagi deh. Sayang uangnya. Hahaha.. Lain kali aja deh.

***

Sekarang kembali lagi ke si pemilik produk, Top Ittipat. Aku kagum banget sama dia. Dia masih muda, tapi pinter ngeliat peluang, pantang menyerah dan berani ngambil resiko. Padahal dia nggak kuliah. Sekolah aja kerjanya main game terus. Tapi dia bisa sukses. Ini nih yang namanya bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian. Top rela menghabiskan semua hartanya buat memulai usaha, sampe akhirnya usaha keras dia berbuah manis. Well, emang itu sih sikap yang harus dimilikin sama calon pengusaha sukses. Ah, keren deh pokoknya!


Ini dia si pengusaha muda, Top Ittipat yang asli :D

Satu quote berharga dari Top,
Jangan patah semangat walau apapun yang terjadi. Jika kita menyerah, maka habislah sudah.
Jumat, 16 Mei 2014 2 komentar

Magang Sendirian Itu..

Nggak kerasa udah sekitar dua minggu aku magang disini sendirian, tanpa Adel yang selama hampir dua bulan kemaren nemenin aku. Yah, pasalnya si Adel yang magangnya selisih sebulan sama aku, udah selesai menyelesaikan masa magangnya. Sementara aku sendiri harus magang satu bulan lagi disini, itupun kalo nggak diperpanjang.

Magang tanpa ada temen disini tuh rasanya beda banget. Kalo dulu.. biasanya menjelang istirahat, aku dan Adel selalu ke kantin bareng-bareng buat beli makan ataupun sekedar beli jajan dan es. Biasanya dia sih yang sering beli makan, sedangkan aku biasanya cuman jajan doang. Jajanan favorit kami adalah pisang coklat keju yang dijual di koperasi. Jarak dari kantor Mechanical Departement ke koperasi lumayan juga jauhnya. Kalo jalan, kira-kira membutuhkan waktu sekitar lima belas menit. Oleh karena itu, kalo nggak ada temen, rasanya males banget jalan sendirian kesana. So, selama Adel nggak ada, aku jadi nggak pernah ke koperasi lagi kalo istirahat tiba.

Kalo nggak ada kerjaan, aku dan Adel biasanya duduk-duduk diem di ruangan khusus anak-anak PKL. Biasanya kami ngobrol-ngobrol. Kalo nggak ada obrolan ya paling diem-dieman, mainin HP masing-masing. Seringkali dia ngobrol sama cowoknya di telepon, sedangkan aku tetep sibuk sama Facebook aku.. itupun susah payah nyari sinyalnya. Kadang-kadang kami nonton aktifitas di luar jendela, curi-curi pandang sama para kontraktor berompi oranye. Well, sebenernya kami benci banget sama orang-orang itu, coz mereka seringkali ngegodain cewek-cewek yang lewat didepan mata mereka. Apalagi kami juga pernah digodain sama salah seorang kontraktor berompi oranye yang rada-rada ngondek gitu deh. Jadi, waktu itu aku dan Adel lagi jalan mau pulang. Eh, kontraktor ngondek itu lewat. Dia duduk di bagian belakang mobil omprengan sambil senyum-senyum sumringah sok kenal pada kami berdua. Bahkan Adel juga pernah dikagetin sama orang itu. Waktu itu dia lagi ngeliat keluar jendela, dan tiba-tiba muka kontraktor ngondek itu muncul didepan mukanya. That's why, kami sebel banget sama mereka.

Aku dan Adel seringkali menganggap para kontraktor berompi oranye itu sebagai musuh yang harus dihindarin. Makanya kami selalu males lewatin mereka, apalagi kalo mereka lagi nongkrong banyakan. Tapi semenjak kami ngeliat seorang kontraktor yang cakep secara nggak sengaja, kami jadi sering curi-curi pandang gitu ke arah mereka cuma buat nyariin kontraktor cakep itu diantara kontraktor-kontraktor berompi oranye lainnya. Yak, hanya sekedar curi-curi pandang lho ya, bukan genit-genitan (OMG, ogah banget! itu bukan kita!). Sayangnya, kami jarang banget liat dia. Adel baru liat cowok itu satu kali. Sementara aku sendiri lebih beruntung, dua kali. Kami sendiri heran, kenapa ada cowok secakep anak boyband bisa jadi kontraktor di perusahaan ini? Kenapa dia nggak jadi model atau artis aja? Bukankah dengan begitu hidupnya bakal jadi lebih enak? Entahlah..

Selain curi-curi pandang sama para iblis berompi oranye itu, kadang aku dan Adel juga nontonin kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di sekitar halaman kantor. Kadang ada mobil pengeruk reot yang kalo lewat berisik banget. Aku dan Adel sering ketawa-ketawa kalo ngeliat mobil itu lewat. Coz mobil itu nggak cuma berisik, tapi juga jalannya lambat banget. Karena lambat, kalo kita balapan jalan sama mobil itupun kemungkinan kita bisa menang.

Kalo lagi kumpul banyakan bareng anak-anak UNDIP di ruangan khusus anak-anak PKL, kami selalu diem-dieman.. sedangkan mereka rame sendiri, ngobrol sama temen-temen mereka yang sesama anak UNDIP. Aku dan Adel emang nggak pernah berkomunikasi sama mereka. Entahlah, kami ngerasa kok kayaknya mereka nggak suka sama kami berdua. Tapi semenjak beberapa hari sebelum Adel selesai magang, kami nggak pernah ngeliat mereka lagi.

Kadang kalo nggak ada kerjaan, kami tidur di ruangan itu sambil menelungkupkan kepala ke meja, dan bangun dengan terkaget-kaget kalo ada karyawan yang masuk. Well, sebenernya kami bisa aja tidur sambil sandaran di kursi dan menyelonjorkan kaki ke kursi yang lain. Tapi kan kesannya gimana gitu kalo sampe diliat sama karyawan yang lain. Yaaah, tau sendiri laaahh..

Pernah kami dibikin geger gara-gara beberapa keramik di ruangan itu anjlok. Jadi ceritanya, waktu itu Adel lagi ngerjain tugas yang dikasih Pak Dian di ruang Maximo. Sementara aku duduk di ruang anak PKL sambil ngutak-atik HP bareng beberapa anak PKL cowok dari UNDIP. Mereka lagi pada ngutak-atik laptop gitu. Tiba-tiba ada suara ledakan disebelah aku. Aku lupa suaranya gimana, yang pasti suara ledakan. Dan cowok yang duduk sekitar satu meter disebelah aku pun meloncat dari tempat duduknya. Mereka ribut gitu, terheran-heran dan bertanya-tanya suara apakah itu. Sementara aku adem ayem aja walaupun aku sendiri penasaran. "Keramiknya anjlok eh.. mejanya naik!" gitu katanya sambil nunjuk-nunjuk ke arah lantai. Aku celingukan ngeliat bagian yang ditunjuk, dan emang meja didepan kami agak naik gitu deh. Gara-gara hal itu, mereka nggak mau duduk dideket lantai yang anjlok itu, sementara aku masih tenang-tenang aja walaupun pikiran aku mulai ngebayangin yang aneh-aneh. Setelah anak-anak UNDIP itu pergi dan Adel selesai dengan tugasnya, aku pun menceritakan kejadian itu ke dia, plus nunjukin lantai yang meledak itu. Dia kaget dan langsung nyuruh aku buat ngelaporin kejadian itu ke karyawan lain. Akhirnya aku lapor deh ke Mas Manda. Kemudian Mas Manda meriksa lantai itu. Sempet diinjek-injek juga. Trus dia bilang, "Nggak apa-apa kok ini. Yaa.. palingan nanti meledak". Dia ngomongnya nyantai gitu, jadi kami pikir itu pasti bukan masalah serius. Lagian kayaknya hal itu udah terbiasa terjadi gitu deh disitu. Pas pulang, aku nyeritain tentang kejadian itu ke Riris. Trus Riris bilang katanya hal itu terjadi karena lantai kekurangan semen. Huaaahh.. ternyata cuma karena itu toh? Padahal tadinya aku sempet mikir kalo disekitar lantai itu ada gas-nya. Tapi kalo dipikir-pikir aneh juga sih.. ini kan perusahaan semen, kok bangunannya bisa kekurangan semen? (o.O)a

***

Haaahh.. begitu banyak hal yang terjadi selama dua bulan terakhir ini yang aku laluin bareng Adel. Pas dia keluar, aku jadi the prettiest one disini. Ya iyalah, aku cewek sendiri di departemen ini!

Anehnya, ketika temen-temen yang lain ngerasa nggak betah dan nggak kuat mental magang disini, aku malah ngerasa kerasan. Meskipun aku cewek sendiri disini dan meskipun aku hampir nggak pernah diajak ngobrol sama karyawan-karyawan disini, tapi asalkan ada kerjaan, aku ngerasa enjoy-enjoy aja tuh. Dan aku ngerasa kok kayaknya lebih nyaman kerja bareng bapak-bapak dan mas-mas gitu deh ketimbang kerja bareng ibu-ibu dan mbak-mbak. Coz menurut aku, bapak-bapak dan mas-mas kalo kerja ya kerja, pake tangan dan kaki, dengan sepenuh hati. Mereka juga baik-baik. Karyawan yang senior bersedia ngebimbing karyawan yang junior, juga anak-anak PKL, sampe mereka ngerti. Beda rasanya dengan kerja bareng ibu-ibu dan mbak-mbak yang kalo kerja kebanyakan pake mulut dan sering main jutek-jutekan. Waktunya kerja malah kebanyakan ngobrol dan ngomongin orang, kadang ngomongin karyawan lain gitu. Trus kebanyakan karyawan senior jutek sama karyawan junior, apalagi kalo sama anak-anak PKL. Kalo ngebimbing setengah-setengah, kayak nggak niat. Huaaahh.. malesin banget. Yak, dalam hal ini, aku pikir cowok lebih dewasa ketimbang cewek. -- Oke, aku yakin para pembaca mungkin sekarang terheran-heran apa jenis kelamin aku sebenarnya. Wahahaha.. --

Well, emang sih, waktu masih ada Adel disini, aku tuh ngerasa magang disini rasanya ngebetein banget. Pasalnya hampir nggak ada yang bisa aku kerjain disini, coz aku emang hampir nggak pernah dikasih kerjaan. Yang dikasih kerjaan si Adel lagi, Adel lagi. Sementara aku lebih sering duduk diem dan tidur. Magang macam apa ini?!
Tapi pas masa magang dia selesai, jadi aku deh yang sering dikasih kerjaan. Ya iyalah, Pak Dian mau minta tolong siapa lagi selain aku? Kerjaan beliau segunung!
Waktu hari pertama aku magang sendirian, aku ngerasa was-was dan nervous banget. Tapi langit pagi itu cerah banget. Waktu itu, aku berharap hari aku secerah langit pagi itu.

Pas udah di kantor, ternyata semuanya berjalan baik-baik aja! Awalnya emang rasanya kurang nyaman. Berasa ada yang kurang gimana gitu. Tapi lama kelamaan, aku terbiasa juga. Apalagi Pak Dian ngebimbing aku dengan baik. Ngejelasinnya nggak blibet, jadi aku bisa langsung ngerti. Honestly ya, dulu waktu pertama kali aku menginjakkan kaki di kantor ini, kesan yang langsung aku tangkep dari sosok Pak Dian adalah dingin dan jutek. Siapapun yang ngeliat mukanya pasti berpendapat demikian. Tapi kalo udah ngomong.. biasa aja tuh. Malah baik banget. Well, kita nggak akan tau sifat seseorang kalo cuma liat tampangnya doang. Tapi sampe sekarang aku masih belum berani ngobrol banyak apalagi bercanda sama beliau. Ya itu tadi.. mukanya serius banget.

Pekerjaan utama aku disini adalah : Mengetik Daily Activities yang ditulis sama manager di papan tulis kedalem Microsoft Office, mencetaknya, lalu menyerahkan kepada pimpinan; mengolah data aktifitas harian, menulis daftar belanja perusahaan kedalem buku Purchase Request, mengerjakan Material Issue Slip, dan mengoperasikan Maximo.

Waktu itu Pak Dian pernah nanya ke aku, "Kapan selesai magang?"
Aku jawab, "Akhir bulan ini, Pak."
Dia bilang, "Trus nanti ada yang gantiin nggak? Saya bingung kalo nggak ada yang bantuin. Kerjaan saya banyak."
Waktu itu aku mikir, apa sebaiknya waktu magang aku diperpanjang aja ya?

Yaaahh.. nggak masalah sih kalo masa magang aku diperpanjang. Tapi masalahnya bulan depan kan bulan Juni, dan di bulan Juni itu kan kita udah mulai puasa. Kantor Mechanical Departement kan jauh banget dari jalan raya. Capek banget kalo jalan kaki. Bisa-bisa puasa aku sering batal lagi gara-gara buka puasa sebelum waktunya.

Coba aja kalo mereka nawarin aku kerja disini buat ngerjain apa yang biasa aku kerjain disini, wah langsung deh aku terima tanpa pikir panjang! Gimana nggak terima? Kerjanya santai, lumayan nyaman, nggak ada yang jail-jail gitu, lingkungannya pun udah aku kenal. Gajinya jauh dibawah karyawan lain juga nggak apa-apa deh, asal nggak kurang dari UMR aja. Haha.. Lagian ortu aku juga ngedukung tuh.


Temen-temen aku heran lho, kenapa aku bisa betah magang disini. Coz kebanyakan dari mereka banyak yang nggak betah gitu magang di perusahaan ini. Aneh sih emang. Mereka kan lebih supel dari aku, lebih gampang bersosialisasi daripada aku.. tapi mereka justru banyak yang nggak betah. Dan aku yakin para karyawan disini juga pasti banyak yang mikir demikian. Mereka nggak tau aja bahwa betapa pengennya aku kerja disini.. cuma aku nggak berani ngomong. Huaahhh..
Kamis, 01 Mei 2014 0 komentar

LP3I Goes to Jakarta

Pagi ini aku baru aja pulang dari Jakarta. Yak, hari Selasa kemaren, aku dan temen-temen satu angkatan di kampus mengadakan Company Visit ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Karena hal itu, aku dan Adel izin nggak magang untuk hari Rabu.

Pulang magang, aku langsung pulang dan prepare. Aku bawa tas punggung aku yang bermotif tengkorak dan sebuah handbag yang bermotif mirip kulit macan tutul. Aku pergi dengan mengenakan kaos lengan panjang abu-abu, jaket bertopi tanpa lengan (aku nyebutnya jaket Rocker. haha..), celana jeans, dan sepatu kets abu-abu. Ibu aku mengomentari penampilan aku waktu itu, "Kamu lebih keliatan kayak anak SMA dibanding anak kuliahan.." Dikomentarin kayak gitu aku cuek aja. Toh, udah sering aku denger komentar kayak gitu.

Ibu nganterin aku sampe ke jalan raya. Waktu itu aku rada pesimis nggak dapet angkot. Coz biasanya kalo udah lebih dari jam tujuh gitu, angkot udah mulai sepi. Tapi untungnya aku masih kebagian angkot. Sebelum naik angkot, aku sempat melambaikan tangan ke ibu. Dan entah kenapa setelah itu ngerasa rada sedih gitu deh. Yak, sebuah perasaan yang selalu aku rasain kalo mau pergi jauh.

Turun dari angkot, aku pun menuju kost-an Riris, temen aku. Rencananya kami mau bareng berangkat ke kampus. Tapi karena Riris pengen jemput temennya dulu, akhirnya aku ke kost-an Sherly, Nur, dan Ecin aja. Selain mereka bertiga, disana juga ada Eny dan Linda, kemudian disusul Ayu yang juga dateng kesitu. Aku pun ke kampus bareng mereka.

Sampe di kampus, kami nggak langsung berangkat, coz busnya belum dateng. Kami duduk-duduk dulu di halaman dan mengisi daftar absen. Kami juga membaca denah lokasi tempat duduk yang ditempel di depan front office. Rupanya masing-masing siswa udah ditentuin tempat duduknya. Aku kebagian duduk disebelah Riris di barisan sebelah kiri, dan kursi aku tepat disebelah jendela! Ah, syukurlah..

Ada tiga buah mobil yang disewa kampus malem itu. Dua buah bus dan sebuah elf yang semuanya adalah mobil-mobil pariwisata, of course! Aku dan temen-temen satu jurusan kebagian duduk di bis dua. Sekitar jam sembilan malem, kami masuk mobil. Setelah tempat duduk teratur dengan baik, tepatnya sekitar jam sepuluh malem, kami mulai berangkat dengan membaca doa yang dipimpin oleh salah satu dosen kami, Abi Suwarsan.

Selama perjalanan, aku sempet ngobrol-ngobrol sebentar sama Riris, kemudian aku tidur dan bangun sekitar jam satu kurang. Suasana didalem bus udah sepi. Aku ngeliat temen-temen aku, semuanya udah pada tidur. Aku liat ke luar jendela. Pemandangan bener-bener gelap. Cuma lampu dari mobil kami yang bisa ngasih sedikit penerangan. Di luar sana yang aku liat cuma tanah luas yang ditumbuhin banyak pepohonan dan rumput-rumput. Jalan yang kami lewatin jelek banget, nggak mulus, sehingga membuat bus yang kami tumpangin bergoyang ke kanan-ke kiri. Aku mencoba mencari plang apapun, berharap aku tau di lokasi mana kami berada waktu itu. Aku sempet ngeliat plang yang bertuliskan Gunung Kerti, Indramayu. Aku baru denger nama gunung itu. Sumpah, aku bener-bener ngerasa kayak berada di suatu tempat yang asing, kosong, mati, dan mengerikan. Suasana bener-bener sepi. Satu-satunya suara yang aku denger cuma suara kreot, kreot, kreot yang berasal dari bus yang kami tumpangin. Well, bus itu berbunyi demikian setiap kali berguncang, sehingga membuat aku ngerasa kayak naikin bus hantu. Akhirnya aku dengerin musik aja deh. Lagu Dear God-nya Avenged Sevenfold menjadi lagu pilihan aku waktu itu. Nggak tau kenapa aku ngerasa lagu itu selalu cocok buat nemenin perjalanan, apalagi perjalanan yang lagi aku laluin malem itu. Liriknya itu lho, "A lonely road crossed another cold state line.." Rasanya aku kayak lagi berada didalem video klip lagu itu. Mwahaha..

***

Menjelang Subuh, kami tiba di Masjid Istiqlal, Jakarta. Itulah tempat tujuan pertama kami. Bus yang kami tumpangin sempet muter-muter gitu di sekitar komplek Istiqlal gara-gara bingung nyari tempat parkir. Hahaha.. Untungnya ketemu.

Kami pun masuk ke lokasi masjid. Kami cuma dikasih waktu sekitar satu jam buat mandi, sholat Subuh, dan sarapan. Lumayan juga nunggu antrean di kamer mandi. Lamaaa banget. Yang paling ngerasa gondok adalah aku dan Nur. Kami berdua udah nunggu lama banget didepan dua kamer mandi yang masing-masing mau kami tempatin. Eh, ternyata dua kamer mandi itu sebenernya kosong alias belum ada yang make  dan belum dibuka sama pengelolanya. OMG.. (=__=')

Setelah kamer mandi itu dibuka kuncinya, aku masuk dan mandi. Sialnya aku nggak bawa sabun mandi. Akhirnya aku sabunan pake sabun cuci muka. Aaazzz..
Mending lah, daripada nggak sabunan sama sekali.

Habis membersihkan diri, mengganti pakaian dengan jas almamater, dan merias diri, kami pun kembali ke arena depan masjid buat berfoto-foto. Ada juga yang beli makanan buat sarapan.

Karena waktu satu jam nggak cukup buat mempersiapkan diri, kami berada di komplek Istiqlal sampe sekitar jam setengah sembilan pagi. Kemudian kami berangkat menuju Mbah Priok, lalu ke PT Pelindo Tanjung Priok, tempat tujuan utama kami.

Jalan-jalan menuju Tanjung Priok bener-bener memprihatinkan. Sungai-sungai keruh tinggi airnya, sampah menggunung dimana-mana, dan rumah-rumah yang berdempet-dempet tak beraturan, sehingga menyebabkan lingkungan tampak kumuh.

Ini kelima kalinya aku ke Jakarta, walaupun beberapa diantaranya cuma sekedar mampir. Dulu, setiap kali ke Jakarta, aku selalu berharap bisa ketemu artis, khususnya Nidji. Dan aku selalu siap bawa binder atau notes dan pulpen buat minta tanda tangan. Sepanjang perjalanan, kepala aku muter-muter, aku pikir siapa tau ada artis lewat. Hahaha.. Silly banget kan?
Tapi setelah aku sadar bahwa rasanya ketemu artis itu nggak jauh beda dengan ketemu orang-orang biasa (ya iyalah, wong sama-sama manusia), aku jadi nggak pernah ngarep-ngarep ketemu artis lagi. Namun kali ini, aku berharap ketemu sama Pak Jokowi yang lagi blusukan.

Di PT Pelindo, kami menyimak sebuah presentasi mengenai Pelabuhan Tanjung Priok yang katanya merupakan pelabuhan terbesar di Indonesia. Dari presentasi itu kami tau bahwa sekitar 60% perekonomian Indonesia berasal dari pelabuhan itu. Sebagian dari kami juga tertarik buat bekerja disana karena upahnya yang sangat menjanjikan dan menggiurkan. Bayangin aja, karyawan baru aja upahnya lebih dari 10 juta perbulan. Pegawai Humasnya aja dapet sekitar 80 juta perbulan. Aku nggak bisa bayangin berapa upah atasan-atasannya.

Untuk bisa bekerja disana, kami harus memiliki IP minimal tiga koma lima, dan skor TOEFL minimal 700. Well, untuk IP sih aku nyampe, tapi kalo untuk TOEFL aku nggak tau deh. Coz aku nggak pernah tes TOEFL. Lagian aku juga nggak yakin sih apakah mental aku kuat kalo bekerja disana. Hahaha..


Sekitar jam dua siang, kami kembali ke bus untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan. Sialnya, aku nggak bisa menikmati dan mencerna makanan dengan baik karena sariawan di lidah aku yang lagi sakit-sakitnya. Awalnya aku berniat ngasihin nasi kotak aku ke gelandangan yang mungkin aku temuin di jalan, tapi aku bingung dimana bisa menemukan gelandangan (yang bukan gelandangan palsu yang kemaren-kemaren rame diberitakan di media itu). Akhirnya, aku makan sendiri nasi kotak itu. Itupun makannya sambil megap-megap dan asal telen, karena lidah aku yang sakit nggak ketulungan.

Tujuan kami selanjutnya yaitu ke studio Trans Corp. You know what? Kami jadi pengisi acara Bukan Empat Mata! Ralat, bukan pengisi acara deng. Lebih tepatnya, penonton. Well, sebenernya aku sih ngarepnya jadi penonton Hitam Putih. Coz aku kan pengen banget ngeliat Om Deddy Corbuzier secara langsung. Eh, kami malah kebagian nonton Om Tukul. Kalopun kebagiannya nonton Om Tukul, kenapa bukan ke Mister Tukul Jalan-Jalan aja? Pasti lebih seru kan tuh? Tapi aku  maklum lah.. kami kan rombongan anak-anak kampus, bukan rombongan anak-anak kuliah keparanormalan atau Ghostbusters.

Perjalanan dari PT Pelindo ke studio Trans Corp harusnya nggak menelan waktu lama. Tapi karena kami terjebak macet, kami baru nyampe disana sekitar jam empat sore.Sesampainya disana, kami berdiri didepan pintu keluar-masuk. Aku ngeliatin temen-temen aku yang berfoto-foto ria dan selfie-selfie didepan meja yang ada lambang Trans Media-nya. Beberapa dari mereka ngajak temen deketnya buat berfoto bareng. Sementara aku? Aku hanya melongo ngeliatin mereka, sesekali aku jadi tukang foto dadakan, lebih ngenesnya lagi kadang aku disuruh minggir karena menghalangi pemandangan.. (=__=')

Kami nunggu didepan pintu keluar-masuk itu lumayan lama. Tiba-tiba seorang ibu berbaju putih dan bercelana panjang item lewat didepan kami dan keluar dari pintu disebelah kami berdiri. Itu Mpok Atiek! Begitu beliau keluar, seseorang meminta foto bareng. Aku dan temen-temen pun ikut menyerbunya. Kami berfoto bareng beliau. Beberapa lama kemudian, munculah seorang cewek cantik, berpostur tubuh tinggi semampai dan bergaun merah menyala. Itu Vicky Shu! Ia berjalan melewati kami dan keluar dari pintu yang sama seperti Mpok Atiek tadi. Seperti Mpok Atiek, ia juga diserbu beberapa orang yang memintanya foto bareng. Lagi-lagi aku dan temen-temen ikutan.

Hari mulai gelap, acara belum juga dimulai. Aku dan beberapa temen aku duduk-duduk di samping studio 9. Kadang-kadang terdengar suara musik dari dalem. Mungkin band Bukan Empat Mata lagi latihan. Kami juga sempet ngeliat Om Pepi lho. Tadinya kami mau berfoto bareng, tapi kami keduluan anak-anak dari rombongan lain.

Sekitar jam setengah tujuh, kami baru diizinkan masuk ke studio. Tapi sebelum itu, tas kami digeledah. Kami dilarang membawa kamera digital, makanan dan minuman. Aku yang waktu itu ngebawa sebotol air Aqua (yang isinya tinggal sepertiganya), sebungkus Qtela, dan sekotak snack dari Pelabuhan Tanjung Priok terpaksa menitipkan semua itu ke salah satu temen dari kelas lain yang emang ditugasin jadi koordinator pengumpulan makanan dan minuman dadakan.

Setelah tas digeledah, kami pun masuk. Aku menggandeng Ayu. Kami kebagian duduk di atas podium. Karena penonton dari kampus kami banyak, nggak semua mahasiswa LP3I kebagian duduk diatas podium, sehingga mereka-mereka yang nggak kebagian kursi itu duduk di depan panggung band Bukan Empat Mata. Seorang kru cowok mengajak kami ngobrol. Dia nanyain asal kami dan ngasih kami pengarahan tentang aturan-aturan yang harus kami ikutin selama syuting berlangsung. Aturannya adalah, kami harus seheboh mungkin (tau sendiri lah hebohnya penonton acara Bukan Empat Mata itu kayak gimana) dan kami juga dilarang mengaktifkan HP selama syuting berlangsung.

Tempat duduk penonton diatur dulu, biar tertib
Mahasiswa-mahasiswi LP3I yang nggak kebagian duduk di podium

Kru memberikan arahan sebelum syuting berlangsung

Jujur nih ya, crew-crew cowoknya keren-keren bangeeeeett.. Huaaahh..
Sayangnya aku nggak tau nama-namanya. Kalo tau, aku incer deh Facebook atau Twitter-nya, terus aku follow deh.

Sebelum syuting dimulai, kami disuguhi hiburan dari seorang kakek-kakek nyentrik berkacamata item dan berkaos ijo. Aku lupa siapa namanya. Kakek itu bernyanyi buat kami.

Beberapa lama kemudian, Mbak Vega si pendamping host muncul. Malem itu, Mbak Vega cantik banget. Dia pake kaos pink dan rok rempel diatas lutut warna putih. Rambutnya yang ikal disatuin ke belakang membentuk buntut kuda, sementara poninya dibiarin jatoh didepan kening. Badannya yang tinggi tampak makin tinggi dengan high heels silver yang blink-blink di kakinya. Kemudian muncul Om Tukul dari balik pintu kaca. Hey, percaya atau tidak.. ternyata Om Tukul lebih ganteng dari yang selama ini terlihat! Malem itu dia pake Polo Shirt warna oranye dan kaos lengan panjang (atau sweater?) warna ungu tua. Bajunya keliatan sempit banget, sehingga perutnya yang buncit keliatan buletnya. Sementara Om Pepi berdiri di belakang bareng band Bukan Empat Mata. Dia megang drum.

You know what? Ternyata walaupun gokil, Om Tukul tuh sebenernya tegas banget lho. Dia nggak segan memprotes hal-hal yang nggak sesuai dengan keinginannya demi kelancaran acara.

Sekitar jam setengah delapan, syuting pun dimulai. Syuting dibuka dengan penampilan Om Tukul dan Mbak Vega yang menyanyikan lagu Hello Dangdut secara duet. Setelah itu, Om Tukul pun membuka acara dengan gaya khasnya.

Tema Bukan Empat Mata malem itu adalah Sang Juara. Bintang tamu yang paling pertama dipanggil yakni Bapak Gita Wirjawan! Ternyata aslinya ganteng lho, langsing dan tampak muda gitu. Beda banget sama tampilan beliau yang aku liat di foto yang nongol di iklan Facebook tempo hari.

Pak Gita sempet menunjukkan keahliannya bermain piano lho. Aku yang suka banget ngeliat permainan piano jelas aja takjub ngeliat permainan beliau. Keren!

Dan bintang tamu selanjutnya adalah.. Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad! Siapa yang nggak tau? Mereka adalah pasangan pemain bulu tangkis ganda campuran yang pada tahun 2012 lalu membawa pulang gelar juara untuk Indonesia yang udah mengalami penantian panjang selama 33 tahun untuk prestasi ganda campuran All England. Mereka keliatan ganteng-ganteng banget malem itu. BTW, aku salah nggak sih bilang ganteng-ganteng? Liliyana Natsir juga ganteng soalnya. Aku aja naksir :P Oke, aku bercanda doang tadi.

Eh, ternyata yaaa.. meskipun cuma jadi penonton, capeknya tetep lho. Kami harus bener-bener heboh. Kalo Om Tukul ngegerak-gerakin tangannya kayak kepala ular kobra (tau sendiri lah ya), maka kami harus berseru "Ea! Ea! Eaa! Eeeaaa!!". Kalo Om Tukul bertanya, maka kami harus menjawab secara kompak dan serempak.. dan masih banyak lagi. Selain menjawab dan berseru secara kompak, kami juga harus banyak-banyak bertepuk tangan.

Dulu, kalo nonton acara-acara hiburan di TV dan ngeliat penonton yang heboh, aku selalu mikir : Penonton-penonton itu kenapa sih? Orang acara dan artisnya biasa aja kok pada heboh? Alay banget!
Tapi sekarang aku sadar bahwa ternyata penonton emang dituntut buat bersikap demikian. Mungkin tepuk tangan dan seru-seruan itu sebagai bentuk sikap menghargai sang penghibur, biar acara tampak hidup dan nggak terkesan membosankan.

Aku yang menderita sariawan akut mana bisa heboh-hebohan secara maksimal. Bukannya tepuk tangan dan berseru, aku malah tepuk tangan dan berseru sambil meringis. Well, kalo nanti ada diantara kalian (para pembaca blog ini, itu juga kalo ada) yang nonton acara Bukan Empat Mata dengan tema Sang Juara di TV ngeliat ada penonton di podium yang bermuka ngenes dan tampak meringis menahan sakit, maka itulah aku.

***

Sekitar jam sembilan malem, syuting selesai. Kami harus cepet-cepet keluar dari studio itu, coz para kru dan artis harus segera bersiap-siap untuk syuting acara live Bukan Empat Mata, sehingga kami nggak punya kesempatan buat berfoto bersama para artis dan awak Bukan Empat Mata. Sayang banget. Padahal tadinya aku udah berharap bisa foto bareng sama Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad.. (=__=')

Setelah keluar dari Studio 9, aku dan temen-temen duduk-duduk di depan kantor Trans Corp. Disana kami dibagiin snack (lagi, untuk ketiga kalinya). Sumpah ya, aku nyesel banget bawa makanan banyak dari rumah, dan semuanya hampir belum ada yang aku makan. Udah gitu aku dan temen-temen dapet makanan lagi, dapet makanan lagi. Makanan-makanan itu cuma bisa aku taruh didalem tas tanpa bisa aku makan hari itu. Gimana mau makan kalo sariawan di lidah aku sakitnya luar biasa? Alhasil, makanan-makanan itu cuma numpuk di tas aku. Tas aku isinya penuh sama makanan doang!

Setelah duduk-duduk beberapa lama didepan kantor Trans Corp, kami pun diperintahkan masuk mobil dan pulang. Perjalanan pulang terasa lebih cepet dibanding perjalanan waktu menuju ke Jakarta. Dan karena capek, aku pun banyak tidur selama di perjalanan. Yah, mungkin itulah yang menyebabkan perjalanan terasa lebih cepet.


Sekitar jam setengah tujuh pagi, kami turun didepan kampus. Aku mampir dulu ke kost-an Sherly dkk buat ngambil beberapa botol multivitamin yang ditugasin dosen buat dijual untuk mata kuliah Enterpreneur dan Marketing sekalian minjem sisir. Setelah itu aku pulang deh.. nggak bawa oleh-oleh apapun, kecuali makanan-makanan yang nggak sempet aku makan.

Total Tayangan Halaman

 
;