Selasa, 15 September 2026 0 komentar

I Wish We Had More Time

Aku baru aja menjejakkan kakiku di halaman depan rumah untuk istirahat dan makan siang ketika dua tetangga yang masih ada hubungan kerabat denganku memberi tau sebuah kabar.

"Put, Mbak Nti meninggal".

"Nti" adalah panggilan akrab teman kecilku, Tri. Kabarnya, dia meninggal di rumah sakit.

Rasanya speechless banget. Beberapa hari sebelumnya, kami masih sempat chat via WhatsApp. Waktu itu dia upload foto keponakannya, Zayn, yang sedang terbaring di rumah sakit. Kutanya, "Sakit apa dedenya, Enti?"

Dia jawab, keponakannya itu sakit demam udah beberapa hari, dan itu lumayan bikin dia uring-uringan, padahal dia sendiri saat itu dalam kondisi kurang fit. Waktu itu Tri mengeluh bahwa dia muntah-muntah terus.

Aku sempat bingung harus merespons gimana, karena saat itu aku pun sedang dalam kondisi sakit. Jadi aku cuma bisa mendoakan dia agar kondisinya segera membaik. Tri sendirian. Nggak ada yang nemenin dia saat itu. 

Yang nggak aku tau, kondisi dia makin memburuk. Hari Minggu dia sesak napas, dan minta tolong sama tetangga untuk pergi ke rumah sakit. Tapi karena nggak ada yang kuat memapahnya, akhirnya mereka panggil ambulance. Sayangnya, semua kamar rumah sakit penuh saat itu.

Tri kemudian dirawat di ICU. Tapi Senin siang, sekitar jam 11, dia berpulang. Sedihnya, nggak ada keluarga yang sempat mendampinginya di saat-saat terakhir itu, karena kakaknya nemenin Zayn, keponakan Tri yang sejak kecil nempel banget sama dia. Zayn bahkan memanggil Tri dengan sebutan "Ibu", bukan "Tante".

Sumpah, rasanya kayak mimpi. Seseorang yang beberapa hari lalu masih bisa aku chat, sekarang udah nggak bisa meresponku ataupun ngechat apa-apa lagi. Dan yang paling membuatku overthinking adalah, aku nggak nyangka bahwa waktu kami waktu itu tinggal sebentar.

Aku udah nggak peduli lagi dengan ayam goreng krispi kesukaanku yang baru aja kubeli untuk makan siang. Aku langsung menghubungi Dewi, memberi tau kabar itu. Aku dan Hardi yang semula cuma ijin pulang untuk istirahat makan siang, memutuskan untuk pulang lebih awal. Kami kembali ke kantor sebentar untuk mengambil tas dan mengajukan ijin, lalu pulang lagi untuk segera bersiap melayat.

Jam dua siang. Ketika kami bertiga tiba, jenazah Tri udah dibaringkan di ruang tengah. Udah dikafani dan ditutup kain. Di atas kakinya ada secarik kertas yang menuliskan nama lengkapnya, tanggal lahir, dan tanggal dia berpulang. Jujur, aku jarang banget menghadiri acara layat. Jadi suasananya terasa... well, I dunno. Aku merasa speechless, sedih, sekaligus canggung. Aku juga berpikir bahwa para tetangga yang juga hadir melayat waktu itu mungkin membatin betapa tumbennya aku keluar rumah, karena biasanya aku keluar rumah untuk kerja, beli makan, atau pergi bareng suami dan anak doang. Kalo pun main sama teman biasanya kulakukan langsung sepulang kerja.

Kami menyalami kakak perempuan Tri yang menyambut kami dengan mata sembap. Kami mengucapkan belasungkawa, lalu duduk di dekat jenazahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Lalu seorang kerabat menawarkan diri untuk membuka kain yang menutup wajah Tri dan mempersilahkan kami untuk melihat wajah Tri untuk terakhir kalinya. Ketika kain itu perlahan disingkap, rasanya seperti ada yang menggelosor di dalam dada, kayak.... lessss gitu, I dunno. Mixed feelings banget saat itu. Aku melihatnya dari samping. Nggak ada ekspresi judes yang kukenal, cuma wajah Tri yang nampak "tidur".

Kami duduk di sana selama beberapa waktu, mengirimkan doa, kemudian pamit.

Sekitar ba'da ashar, aku dibonceng Hardi. Dewi datang dengan motornya sendiri. Kami pergi mengantar Tri ke peristirahatan terakhirnya. Dia dimakamkan di TPU Sunyaragi, di lokasi yang sama dengan makam mamanya.

Kami berdiri dan memandang prosesi pemakaman itu dengan nanar. Aku melihat Zayn digendong seorang perempuan, yang aku nggak tau itu siapa. Tapi perempuan itu membimbing Zayn untuk berdoa, "Ya Allah... semoga ibu masuk surga", dan diikuti Zayn dengan suara kecilnya. Aku terharu. Zayn mungkin belum sepenuhnya mengerti tentang apa yang terjadi, bahwa "Ibu"-nya nggak akan bisa nemenin dia lagi, nganterin dia sekolah lagi, dan buatin dia bekal yang enak-enak lagi.

Aku melihat rangkaian bunga melati yang diletakkan di atas makamnya. Dan entah kenapa, aku malah jadi keingat ke salah satu status WhatsApp Tri, di mana saat itu dia bertanya-tanya apakah dirinya bisa melepas masa lajang sebelum berusia 30 tahun. Teringat juga kata-kata Tri selama ini, tentang betapa dia sering kangen sama mama papanya, tentang betapa pinginnya dia memimpikan mereka berdua, tentang keinginannya untuk menyusul mereka karena terlalu sering kangen dan capek sendirian, sedangkan dua kakaknya udah pada berkeluarga.

"Kalo bunuh diri nggak dosa sih, udah aku lakuin dari dulu", ucapnya padaku suatu hari dengan nada becanda setengah serius. Mungkin itu salah satu bentuk keluhannya pas dia lagi capek banget kali ya. Dia juga percaya arwah orang yang bunuh diri bakal "nyangkut", seperti yang sering dia tonton di channel Youtube favoritnya. Haha. Jujur, aku yang skeptis tentang arwah gentayangan ini seringkali dibuat tergelitik dengan pola pikirnya, tapi juga bersyukur, karena seenggaknya dia punya keyakinan untuk tetap bertahan sejauh ini.

Kami nggak tau apa yang bakal Tri ucapin andai dia bisa melihat kami. Tapi kalo boleh membayangkan sedikit aja, mungkin dia bakal cengar-cengir sambil bilang gini, "Akhirnya mama-papa jemput aku, Gaeeeeesss. Dadaaaah, jangan kangen aku eaaa". Ahh, Nti banget :')


Tri adalah salah satu teman masa kecilku. Rumah kami bisa dibilang dekat, jadi sejak kecil kami udah sering main bareng. Yah, walaupun sebenarnya kami baru benar-benar dekat sekitar tahun 2009-an sih.

Aku sendiri lahir tahun 1994.

Dewi lahir Desember 1996.

Tri, Februari 1997.

Dan Hardi, adikku, September 1997.

Jadi sebenarnya Tri lebih seumuran dengan Hardi. Mereka bahkan pernah satu sekolah di TK dan SD. Tapi karena rumah kami dekat dan sejak kecil sering main bareng, akhirnya kami tumbuh dalam circle pertemanan yang kurang lebih sama lah ya.

Aku udah berteman dekat dengan Dewi sejak sekitar tahun 2002-an. Tapi lucunya, frekuensi mainku dengan Tri justru lebih sering. Mungkin karena aku dan Tri sama-sama introvert kali ya, jadi mainnya ya sama orang itu-itu aja. Sedangkan Dewi lebih kayak social butterfly. Dia bisa berteman sama siapa aja, jadi nongkrongnya nggak sama kami mulu.

Meskipun nggak banyak cerita masa kecil bareng Tri, tapi kami akhirnya punya cukup banyak cerita masa remaja bersama. Kami sama-sama tau aku lagi naksir siapa, Tri lagi naksir siapa. Kami bahkan pernah menggalau bareng di laut, ngegalauin crush kami masing-masing, yang padahal kalo dipikir-pikir sekarang, itu cringe banget. Wkwkwk.

Dulu juga kami sering main ke warnet berdua, menyewa dua bilik komputer yang bersebelahan. Kuajari dia download lagu-lagu MP3 boyband Korea favoritnya, juga ngajarin dia membuat akun Facebook dan gimana caranya mencari teman orang Korea asli lewat sosial media. Setelah dia udah lebih "jago", kami sibuk dengan minat masing-masing. Aku dengan all about Emo, My Chemical Romance, dan Black Veil Brides, Tri dengan all about K-Pop dan K-Drama. Kadang dia juga meminta aku menemaninya ke Balong Indah Plaza buat beli beberapa keping CD bajakan boyband idolanya atau K-Drama yang jadi watchlistnya.

Aku jadi ingat satu kejadian di momen itu, di mana ketika kami berjalan keluar plaza, aku iseng menggerakkan badanku mengikuti irama lagu Gemu Famire yang diputar oleh salah seorang penjual CD di sana. Maksudku ingin menggodanya, karena dia kan receh orangnya. Tapi ternyata dia nggak melihat kekonyolan garing yang kubuat itu karena dia berjalan lebih cepat di depanku. Nggak sabar mau nonton CD yang baru dia borong kayaknya. Alih-alih dinotice olehnya, aku malah hampir jatuh karena nggak melihat turunan tangga. Dia masih nggak ngeh juga waktu itu. Akhirnya kukejar dia. Ketika kuceritakan padanya tentang apa yang kualami itu, dia ketawa terbahak-bahak sepanjang jalan.

Aku, Hardi, dan Dewi juga sama-sama tau sifat Tri yang paling melekat. Dia moody dan gampang tersinggung. Tri nggak suka dilihatin. Bahkan lirikan mata seseorang kadang bisa dia tangkap sebagai bentuk judgement. Kalo kami lagi hangout, aku beberapa kali mendapati dia ngejudesin orang yang menurutnya sedang ngelihat atau ngejudge dia. Padahal yaa kita juga nggak tau orang itu sebenarnya memang sengaja ngelihatin dia atau cuma kebetulan arah matanya ke sana, yekan?

Tapi kami cukup memahami juga kenapa dia bisa punya mode "senggol bacok" kayak gitu. Sejak dulu Tri sering dibully karena berat badannya. Jadi mungkin sikap defensif itu terbentuk dari pengalaman nggak mengenakkan yang dialaminya. Walaupun yaahh jadi orang yang memahami dia bukan berarti kami nggak pernah dibuat capek sama dia ya. Kami juga pernah berkonflik karena hal-hal receh.

Kalo udah emosi, Tri bisa meledak-ledak. Kata-kata kasar bisa keluar semua. Anehnya, dia juga gampang ketawa karena lawakan receh. Tri bisa ketawa sampai terkentut-kentut hanya karena lawakan yang menurut kami sebenarnya garing.

Anyway, di luar sifatnya yang kadang menyebalkan dan melelahkan itu, Tri sebenarnya baik juga. Dia punya teman dari Korea yang kadang mengiriminya produk-produk asli sana. Dan sering kali juga dia membaginya kepadaku, entah itu kopi, cokelat, sampai collagen peptide.

Dia juga hobi masak, dan masakannya enak-enak. Dia sering membagi kreasi masakannya ke kami. Aku pertama kali makan kimchi dan tteokbokki justru dari masakannya. Surprisingly, sampai sekarang aku nggak pernah menemukan tteokbokki yang lebih enak daripada buatan dia.

Tri juga teman karaokeku. Meskipun genre musik kami beda jauh, tapi dia nggak protes kalo aku bawain lagu rock atau metal, malah kadang merekamku tanpa kuminta. Kalo dikatain "kesurupan" perkara teriak-teriak sih udah biasa. Tapi dia nggak mengejek kalo screamku jelek. Sebaliknya aku bakal ikut bergerak mengikuti irama kalo dia bawain lagu-lagu Korea, walaupun aku sendiri nggak tau lagunya. Lagu Korea yang bisa kunyanyikan bareng dia palingan Un Myung (OST Full House), dan beberapa OST Boys Before Flowers. Selebihnya, aku awam banget. Aah, aku bakal kangen banget momen ini kayaknya. Kalo masih ada waktu, aku pingin banget bilang, mending 2 jam nemenin kamu karaokean full lagu Korea deh, Tri. Beneran. Sayangnya, sekarang udah nggak ada waktu lagi.

Setahun terakhir justru jadi hal cukup berat dari pertemanan kami. Ada konflik yang membuat hubungan kami berubah, dan berjarak. Baik aku, Tri, Hardi, dan Dewi punya versi masing-masing tentang apa yang terjadi, dan itu lumayan bikin emotionally exhausted. Meskipun aku dan Tri masih berkomunikasi, masih beberapa kali main bareng, tapi rasanya nggak sama lagi.

Ini bukan lagi sekedar konflik receh di malam idul fitri sekitar 16 tahun silam di mana Dewi memplesetkan lirik lagu Bonamana milik Super Junior dari yang harusnya "Neon algga malgga algga malgga..." menjadi "Meke meke meke meke..." sehingga membuat Tri mengamuk karena merasa idolanya dilecehkan. Aku dan Hardi juga kebawa awkward karena ikut cengengesan waktu itu. Kami baru baikan tiga bulan kemudian.

Tapi kali ini... tragically we can't fix it anymore. Hari ini tepat satu tahun kami berkonflik. Kata maaf dan ajakan untuk berdamai seperti sedia kala belum sempat terucap, dia keburu pergi.

Beberapa saat setelah menghadiri pemakaman Tri, aku dan Dewi mengirimkan chat ke grup pertemanan yang pernah kami buat. Kami sama-sama say sorry, karena setelah semua ini, kami sama-sama sadar bahwa ajal nggak bisa menunggu. Kami nggak mau terlambat mengucapkan kata maaf sebagaimana kami nggak sempat mengucapkannya pada Tri.

Aku berandai-andai kalo aja ada sesuatu yang bisa aku ubah dari masa lalu, aku pingin bisa mendapatkan satu kesempatan kecil lagi. Bukan buat menyelesaikan semuanya, dan bukan juga buat ngomongin siapa yang benar dan salah. Cuma mau duduk di ruang karaoke aja sama dia, seperti ajakannya di bulan Januari lalu yang belum sempat kami realisasikan.

Allahummaghfirlaha warhamha wa 'aafiha wa'fu'anha. I'm sorry for the things left unsaid, Nti. I wish things had been different.

Rest well. You’ll be missed 🤍


Minggu, 23 Agustus 2026 0 komentar

Curhat Rakyat

Belakangan ini sedih banget rasanya lihat berita yang seliweran tentang negeri ini. Well, aku sebenernya jarang banget bahas politik karena jujur, ini di luar kapasitasku. Aku awam soal politik, ekonomi, apalagi tata kelola negara. Tapi sebagai rakyat, rasanya kali ini aku nggak tahan buat ngeluarin unek-unekku, or at least ngeluarin sedikit energi negatif, karena rasanya mengganjal banget di hati dan kepala.

Ada beberapa hal yang belakangan ini bikin aku overthinking.

Sehari setelah pesta peringatan kemerdekaan RI beberapa hari lalu, mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) melakukan demo dengan membawa delapan tuntutan utama, di antaranya penghentian penjajahan negara atas rakyat sendiri, pemberantasan KKN, perwujudan reforma agraria sejati, serta penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM. Beritanya rame banget di sosmed, meskipun nggak di-up di TV nasional (kecuali Kompas TV. Hats off to them). I dunno why 🙃

Sumber: Instagram @kaynaraleica

Banyak rakyat yang mendukung karena merasa tuntutan mereka mewakili suara masyarakat. Tapi nggak sedikit juga yang malah mencemooh dengan sebutan "mahasewa".

Yang aku heran, orang-orang yang teriak "mahasewa, mahasewa" itu sebenarnya mikir para mahasiswa ini dibayar sama siapa buat demo? Kalo mereka dibayar buat membela pemerintah, ya mungkin masuk akal buat curiga ada pihak yang punya kepentingan kan yaa? Tapi ini mereka turun ke jalan justru menentang kebijakan pemerintah. Siapa yang mau bayar? Rakyat patungan bayar mereka gitu?

Lagipula orang gila mana yang segitunya ngarep recehan sampai mau panas-panasan, capek-capek teriak orasi, belum lagi berhadapan dengan aparat yang jumlahnya bahkan jauh lebih banyak dari peserta orasi? Memangngnya dibayar berapa sampai sebanding dengan resiko begitu? 🙃

Lain halnya kalo yang disebut pendemo sewaan ini para emak-emak dukung MBG di Monas tanggal 22 Juni lalu (sumber: Tribunnews). Naaaahhh.. berbeda banget sama demo para mahasiswa UI yang dihadang-hadang aparat, demo yang satu ini malah dikawal, bahkan dapat duit transport, wajan, roti, susu, dan buah-buahan. Hmmm...

Rasanya topik tentang MBG ini memang nggak ada hentinya disorot yah? Habisnya begitu-begitu mulu sih, kayak nggak ada perubahan. Aku bersyukur sih karena MBG di kawasan tempat tinggalku cukup baik, tapi di luar sana masih banyak MBG yang jauh dari kata layak, bahkan kasus keracunan massal masih terjadi. Di sisi lain, sedih juga lihat makanan yang banyak terbuang, padahal dana yang digelontorkan untuk program ini nggak kecil, dan itu diambil dari pajak-pajak kita. Mana harga bahan-bahan pokok jadi pada naik pula, bikin puyeng para emak-emak.

"Halah, beli kopi Butterscotch harga 40 ribu biasa aja, tapi harga ayam naik protes", begitu kata manusia anomali, dia pikir semua orang minum kopi harga 40 ribu kali ya?

Selain itu tentang Kopdes Merah Putih. Aku pernah lihat postingan yang menunjukkan bangunan Kopdes di tempat yang terpenciiiil banget, sangat jauh dari pemukiman warga, di kaki Gunung Ciremai (sumber: Suara Nusantara). Pertanyaanku, siapa yang mau belanja kalo lokasinya kayak gitu? Dedemit?

Kalo memakai dana APBN untuk makanan yang mubazir di banyak tempat dan membangun bangunan yang akhirnya berpotensi nggak berfungsi sebagaimana mestinya, kenapa memperbaiki sekolah yang bangunannya kurang layak dan jembatan yang menjadi akses warga kok susah banget direalisasikan? Padahal itu kan mendasar banget ya, kenapa sulit banget gitu? 

Terus ada juga Aceh yang terkena banjir besar dan kayu gelondongan tahun lalu dan sampai sekarang masih belum sepenuhnya pulih. Soal bantuan dari pusat, aku sendiri nggak tahu mana informasi yang benar ya, karena infonya sendiri pun simpang siur. Ada yang bilang bantuan nggak datang, ada juga yang bilang bantuan udah datang tapi ditimbun sama pemda.

Tapi kalo benar ada pihak yang sengaja menahan bantuan buat masyarakat yang lagi susah, entah itu bantuan dari pusat ataupun bantuan yang harusnya jadi hak warga, aku benar-benar nggak habis pikir sih, gila.

Orang udah kehilangan rumah, kehilangan harta benda, banyak juga yang kehilangan anggota keluarga. Orang udah susah, kok tega-teganyaa masih dibikin lebih susah?

Baru-baru ini NTT diguncang gempa dan hutan di Kalimantan kembali terbakar. Perihal kebakaran hutannya, aku pribadi bahkan masih wondering sih apakah semuanya benar-benar murni karena faktor alam atau ada pembakaran yang disengaja, karena aku nggak punya bukti buat memastikan itu. Tapi kalo memang ada yang sengaja membakar hutan demi kepentingannya, jujur aku nggak ngerti lagi.

Aku pernah nonton film dokumenter tentang dinosaurus yang terjebak dalam kebakaran hutan pasca bumi dihantam meteor. Filmnya dibuat dengan teknologi yang kelihatan nyata banget sampai aku dibuat merinding dan sedih melihat hewan-hewan itu berusaha menyelamatkan diri. Bahkan Ankylosaurus yang dijuluki dinosaurus berbaju zirah karena kulitnya yang tebal kayak mesin tempur aja nggak mampu selamat dari kobaran api.

Tapi itu film, sedangkan yang terjadi di Kalimantan bukan film. Aku lihat foto bangkai ular dan trenggiling yang mati terpanggang, lihat video orangutan yang "tersesat" sampai masuk ke pemukiman dan jalan-jalan karena habitatnya terbakar. Dan aku jadi kepikiran hewan-hewan lain yang bahkan nggak punya kemampuan untuk lari secepat dan sejauh itu.

Mereka mau menyelamatkan diri ke mana? Habitatnya dibakar, dirusak manusia yang merasa bahwa mereka adalah pusat semesta. Pas hidup di tempat lain, mereka dianggap mengganggu, bahkan dibunuh dan diburu. I'll never forget ibu gajah yang hamil dan mati karena diberi makan nanas berisi petasan sama manusia dajjal. Memang kejadiannya bukan di Indonesia, tapi tetap merupakan bentuk kekejaman yang dilakukan oleh manusia. That's one of the saddest things I've ever known, masih nyesek sampai sekarang rasanya. Ditaruh di kebun binatang, ada yang dana pakannya dikorupsi. Mereka diam di habitat, habitatnya dirusak.

Ya Allah, perih banget hatiku, sumpah. This world is too cruel buat makhluk-makhluk nggak berdaya seperti mereka. Manusia-manusia tamak dan biadab ini, I hope they'll burn in hell. Rot in hell.

Jujur, aku juga resah melihat respons Presiden terhadap kritik masyarakat. Statement kayak "emang gue pikirin" dan gesture "nyenyenye" itu menurutku terkesan tonedeaf dan kayak mengejek rakyat. Entah memang maksudnya begitu atau bukan, tapi menurutku statement seperti itu nggak sepantasnya dilontarkan sama orang yang harusnya punya tanggungjawab paling besar buat memikirkan rakyat dan negara :')

Suatu hari, aku sempat ngobrol dengan seorang temanku yang mengaku menyesal karena dulu memilih presiden sekarang. Tapi dari obrolan itu, aku nggak lantas lega mendengar penyesalannya, kayak, apa penyesalan itu bakal membuat mereka yang menyesal ini benar-benar belajar ya?

Waktu itu kami sempat ngobrol soal uang hasil korupsi yang berhasil disita negara, juga tentang tunjangan anggota DPR yang waktu itu lagi panas banget dibahas. Kami membahas kira-kira uang sebanyak itu lebih baik digunakan buat apa.

Aku bilang, menurutku akan jauh lebih bermanfaat kalo dialokasikan ke pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan. Karena selain banyak sekolah, jembatan, dan jalan yang bobrok, miris juga nggak sih mendengar banyak masyarakat yang BPJS Kesehatannya tiba-tiba nonaktif (kebetulan temanku ini salah satunya), atau masih aktif tapi ketika sakit malah mendapat penanganan yang lambat.

Nah, temanku ini malah punya pikiran:

"Bisa nggak sih ya itu duit sitaan dibagiin aja ke rakyat? Daeipada mubazir didiemin aja".

Dan soal uang tunjangan DPR yang terlalu banyak itu dia berpendapat:

"Bagiin aja duitnya ke rakyat apa nggak bisa? Serumah minimal 3 juta aja, pasti kebagi tiap bulan"

Aku ngerti sih mungkin sebagai orang awam, yang dia bayangkan uang hasil korupsi yang jumlahnya triliunan ditambah uang tunjangan pejabat yang dianggap terlalu besar setiap bulannya itu kalo dibagi ke rakyat Indonesia bakal lumayan banget, bisa dapat jutaan.

Tapi rakyat Indonesia itu juga kan banyak banget yak, ada 280 jutaan kepala. Kalo uang sitaan korupsi sebanyak apa pun dibagi rata ke ratusan juta orang, belum tentu masing-masing dapat banyak. Dan itu bakal habis dipakai buat kebutuhan sehari-hari doang. 

Dan kalo setiap rumah tangga dapat minimal 3 juta setiap bulan hasil dari pemangkasan tunjangan anggota DPR, itu artinya negara harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang luar biasa besar dan terus-terusan. Waduuuhh, utang negara aja udah banyak, masa mau ditambah lagi, yekan? Selain itu, hal ini sangat bisa membuka peluang korup. MBG yang dananya belasan ribu perorang aja yaaah, you know how lah ya gimana pelaksanaan dan penyalurannya. Gimana dengan uang yang jumlahnya sebesar itu?

Sementara kalo uang itu dipakai memperbaiki sekolah, satu bangunan bisa dipakai ratusan anak selama bertahun-tahun. Kalo dipakai membangun jembatan, satu jembatan bisa dipakai satu kampung atau bahkan lebih banyak lagi. Kalo dialokasikan ke bidang kesehatan, manfaatnya juga bakal besar banget buat banyak orang.

Well, sebagai orang awam juga, mungkin banyak pemikiranku yang masih naif yah. Tapi jujur, aku kayak hopeless gitu lho. Bukan hanya soal pemerintah kita yang kayak gini, tapi juga rakyatnya yang nggak belajar dari kesalahan. Temanku menyesal udah memilih orang yang sekarang. Itu bagus lah ya, seenggaknya ada evaluasi. Tapi kalo setelah menyesal, mindsetnya masih sama kayak sebelumnya, masih kegoda sama keuntungan instan yang ditawarkan, bukan nggak mungkin kita bakal mengulangi kesalahan yang sama kan?

Haaaahh.. masih banyak banget sebenarnya yang mau kuutarakan, tapi biar segini dulu deh. Seenggaknya beban di kepalaku udah sedikit berkurang sekarang.

Aku nggak punya jawaban tentang gimana negara ini harus dibenahi. Aku nggak punya kapasitas di situ. Aku cuma rakyat biasa yang belakangan ini terlalu sering melihat berita, terlalu overthinking, dan akhirnya malah sedih dan mumet sendiri. Tiap hari nengok feed sosmed bawaannya istighfar melulu, kayak nggak ada berita baik gitu. 

Lihat foto lewat di feed, gambar anak gelandangan tidur di lantai stasiun, sementara di belakang tubuh kecilnya ada spanduk bertuliskan "Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur". Hhhh.. how ironic. Sedih banget lihatnya, ya Allah. Rakyat mana yang makmur? Kutanya. Rakyat yang duduk di kursi-kursi gedung DPR? Atau yang mana?

Sumber: Instagram @undercover.id

Banyak juga statement yang bilang negara ini baik-baik aja, mau apa aja semuanya ada, masih bisa hidup tenang dan bahagia. Tapi mereka lupa, hidup tenang dan bahagia versi mereka dan versi orang lain itu beda. "Mau apa aja semuanya ada", katanya. Memang iya. Tapi apa itu terjangkau bagi mereka yang memenuhi kebutuhan dasar aja kudu benar-benar berjuang keras?

Aku cuma berharap Indonesia suatu hari nanti nggak cuma terlihat merdeka di upacara dan spanduk, tapi benar-benar terasa merdeka bagi rakyatnya. Kita.

Dan semoga, sebelum memilih lagi, kita semua nggak cuma mikir kita bakal dapat apa nantinya, karena negara ini tuh bukan cuma punya kita hari ini doang. Ada anak-anak kita yang suatu hari kelak hidup di dalamnya.

Minggu, 26 Juli 2026 0 komentar

First Hellprint, First 510

What an incredible night! Dua hari lalu, tepatnya hari Jum'at 24 Juli, aku dan adikku, Hardi, menghadiri event Shout of Sound Showcase di Erion Space Kuningan. Hal ini udah kami rencanakan jauh-jauh hari sejak awal Juli lalu, itu pun adikku yang kasih info.

Hari itu, tanggal 3 Juli, Hardi ngetag aku di salah satu postingan akun Superfriends Kuningan yang mengumumkan bahwa 510, band favorit kami, akan perform di Kabupaten Kuningan. 

Well, sebelum cerita tentang pengalaman kami di sana, aku pingin menceritakan dulu gimana ceritanya aku bisa mengenal band ini.

Aku lupa kapan tepatnya, tapi waktu itu sekitar tahun 2024, salah satu rekan kerja yang satu ruangan denganku ngeplay lagu-lagu rock di komputer demi mengusir rasa kantuk. Saat sebuah lagu mengalun, aku sempat tertegun sejenak demi mendengar suara yang begitu familiar: suara Faizal "Ical" Permana. 

Tahun 2020 silam, yang kutau, Ical adalah vokalis baru Kilms (sebelumnya Killing Me Inside). Kilms kan dikenal sering gonta-ganti vokalis ya. Tapi bergabungnya Ical ke Kilms, membuatku berharap bahwa Ical akan jadi vokalis tetap di sana, karena menurutku, selama Killing Me Inside berdiri pasca keluarnya Sansan, Ical adalah yang paling pas. Dengerin deh lagu-lagu mereka yang Numb dan Do You See What I See. Astaga, cinta banget aku :')

Tapi rupanya, Kilms masih tetap dalam drama gonta-ganti vokalis ini. Tahun 2023, Ical hengkang dari Kilms. Aku patah hati, tapi juga nggak mencari tau Ical ke mana setelah itu. Aku pernah mencoba mendengar lagu-lagu Slap It Out, band Ical sebelum join Kilms, untuk mengobati patah hatiku, tapi ternyata kurang cocok. Kupikir Ical sempurna bersama Kilms.

Lalu ketika kudengar lagi suara Ical dari speaker komputer rekan kantorku itu, rasa penasaranku bangkit. Aku tanya rekan kerjaku itu. Agak lupa sih gimana percakapannya, tapi kira-kira gini:
Aku : "Ini lagunya siapa, Mas? Slap It Out bukan?"
Rekan Kerjaku: "Bukan, Put. Ini Lima Sepuluh".

Yakin banget bahwa itu suara Ical, aku pun mencari tau. Judul lagu itu "Mama", dibawakan oleh band post-hardcore bernama 510. Kucari tau siapa vokalisnya, dan rupanya benar... Faizal "Ical" Permana. Aku sempat pangling juga lihat look dia di 510, kayak beda orang, karena setauku dia kurus dan berambut gondrong. Tapi looknya di 510 lebih fresh, badannya lebih berisi. 

Setelah itu, I finally found out bahwa 510 adalah identitas baru dari Slap It Out. 510  sendiri sekilas mirip huruf "S", "I", dan "O" yang merupakan inisial dari Slap It Out. Aku pun memfollow Ical di Instagram, tapi tidak dengan band "baru"-nya.

Lalu, aku coba dengerin lagu-lagu mereka selain Mama, kayak Esa, Mimbar, Alive, Emotional Renegades (karena itu yang ada di Top Songs mereka di Spotify kala itu). Anehnya, aku masih merasa kurang klop, karena menurutku kurang "keras". Setelah itu, aku udah nggak sengajain dengar lagu-lagu mereka lagi, palingan dengar kalo diplay sama rekan kerjaku aja. Adikku yang udah lebih dulu ngefans sama mereka sampai heran, kenapa aku sesusah itu move-on dari keberadaan Ical di Kilms

Tahun 2025, 510 merilis album baru. Ical cukup sering memposting lagu-lagu barunya, sampai akhirnya aku mendengar lagu Ritual. Part lagu yang kudengar saat itu memang bagian yang "keras" ya, dan itu yang membuatku penasaran untuk  mendengar 510 sekali lagi.

Lagu ini memang dibuka dengan tenang lewat clean vokal Ical ditemani piano solo, tapi ketenangan itu kemudian terpecah oleh ledakan scream "HELP MEEEE" lalu disambut hentakan beat yang lebih agresif. Kalo boleh kubilang, dengar lagu ini tuh rasanya kayak dibawa naik roller coaster. Tenang, lalu tiba-tiba brutal, lalu tenang lagi, tiba-tiba dihentak lagi. Anehnya, hal itu yang justru membuatku jatuh cinta.

Pas part lirik yang "Follow me under the wa-teeeer" lalu disambut melodi gitar selama setengah menitan, dan disambung lirik yang dinyanyikan dengan vokal berlapis, menciptakan harmoni yang... astaga, aku susah deskripsiinnya. Vibesnya tuh kayak dengar orang yang lagi putus asa, kecewa, dan marah, lalu pas part ini muncul rasanya kayak ada harapan gitu. Lagunya berdurasi hampir enam menit, tapi sama sekali nggak membosankan buat didengar berulang-ulang.

Setelah mendengar lagu Ritual, aku menemukan Dead Clown, Collapsed, The Last Suffer, Death Parade, dan Callout yang padahal rilis sebelum Ritual ya, tapi entah kenapa aku malah lebih dulu diperkenalkan dengan lagu-lagu lain yang kubilang kurang sesuai ekspektasi itu. Padahal kalo langsung nemu lima lagu itu, hatiku bakal langsung nyangkut di mereka kayaknya. Wkwkwk.

Long story short, mereka akhirnya diumumkan bakal manggung di Kuningan. Jaraknya sekitar 38 kilometer dari tempat tinggalku. Tiketnya mulai dijual pada tanggal 8 Juli. Sebelum memesan tiket, tentunya aku meminta izin dari suamiku dulu. Kujelaskan bahwa aku akan pergi bareng Hardi, dan acaranya diselenggarakan di cafe, jadi kemungkinan besar bakal aman banget. Dan tanpa butuh merayu-rayu sedemikian rupa, ia mengizinkan. Sayangnya gara-gara menunda-nunda checkout, kami jadi kehabisan tiket presale. Nggak nyangka juga sih tiketnya bakal habis secepat itu. Jadi aku terus pantengin akun @superfriendskuningan biar gercep kalo ada info penjualan tiket kedua.

Maka di tanggal 10, sekitar jam setengah satu dini hari, 12 menit setelah @superfriendskuningan memposting pengumuman penjualan tiket online kedua, aku langsung scan barcode dan mencheckout dua buah tiket. 

Meskipun tiketnya nggak langsung kuterima sesaat setelah checkout, tapi aku merasa lebih tenang, karena ternyata itu penjualan tiket online terakhir. Setelah itu, mereka hanya punya 50 sisa tiket yang dijual secara offline tanggal 18 dan 19 Juli, masing-masing 25 tiket. FYI, penjualan tiket untuk Shout of Sound di Kuningan ini yang paling laris kayaknya, karena nggak ada penjualan tiket on the spot. Tiket milik aku dan Hardi sendiri baru kami terima di H-4.

***

Dan hari itu pun tiba. Jum'at, 24 Juli, aku berangkat kerja seperti biasanya. Sedangkan Hardi memutuskan untuk izin nggak ngantor karena ia merasa kurang enak badan sejak hari Kamis sore. Jadi ia mau istirahat sekaligus memastikan kondisi motornya cukup prima sebelum menempuh perjalanan yang bisa dibilang cukup jauh ini. Well, sebenarnya sih acaranya mulai dari jam dua siang, tapi aku nggak enak kalo ambil cuti atau izin pulang cepat mengingat bulan ini aku udah beberapa kali izin untuk urusan motherhood. Toh, aku dan Hardi cuma ngincar penampilan band utama yang kemungkinan besar bakal tampil di penghujung acara, dan mereka baru close gate jam 7 malam, so, yah masih aman lah ya.

Jam lima sore kurang lima belas menit, aku mengganti baju batikku dengan kaos hitam dan jaket jeans. Begitu bel jam kerja berakhir berbunyi, aku langsung absen keluar dan melompat ke jok belakang motor Hardi yang menunggu di warung madura sebelah kantor. Perjalanan terasa nggak membosankan, karena sepanjang jalan kami bisa melihat gunung Ciremai yang berdiri gagah tanpa terhalang awan, berpadu dengan semburat jingga. Golden hour. Aku sempat mengabadikan momen itu dengan video. Ketika itu, aku harus menggenggam hapeku dengan benar-benar erat, karena angin bertiup kencang banget. Aku khawatir hapeku terbang. Udara Kuningan yang udah dasarnya dingin pun, jadi semakin dingin.

Sekitar jam enam sore, kami tiba di lokasi. Pertama-tama, kami menuju ticket booth untuk scan tiket masuk. Kami dipakaikan wristband sebagai bukti bahwa kami adalah pengunjung resmi, dan diberi dua bungkus produk sponsor berupa rokok dan satu voucher untuk ditukar dengan sebotol kopi. Setelah itu, panitia juga memeriksa tubuh dan isi tas kami untuk memastikan kami nggak membawa makanan atau minuman dari luar, dan nggak ada barang-barang berbahaya yang kami bawa, termasuk cermin dan parfum dengan botol kaca. Karena aku membawa parfum dengan botol kaca, jadi benda itu harus dititipkan ke panitia. Kami juga diminta untuk memastikan nggak ada barang yang tertinggal di kendaraan, karena kalo udah masuk, kami nggak boleh keluar dan masuk lagi.



Setelah menjalani prosedur scan tiket dan pemeriksaan, kami pun masuk. Rupanya suasana udah lumayan rame. Nggak ada meja kosong untuk kami tempati, jadi setelah menukar voucher dengan kopi, aku dan Hardi duduk-duduk di undakan menuju venue bareng beberapa pengunjung lainnya yang juga nggak kebagian tempat. Waktu itu suasana sedang istirahat. Jujur, meski bukan pertama kalinya hadir ke acara musik (tapi ini acara Hellprint pertama yang aku dan Hardi datangi), rasanya sedikit nervous. Itu lah kenapa, selama di sana aku memutuskan untuk memakai masker, karena selain meminimalisir terhirupnya asap rokok, memakai masker juga ajaibnya bisa sedikit mengurangi rasa gugup.

Singkat cerita, acara kembali dimulai. Masih menampilkan band-band lokal. Band lokal pertama yang kami lihat saat itu adalah band punk hardcore bernama Monarki, yang membawakan lagu milik mereka sendiri berjudul "Maniak Api". Meskipun membawakan lagu sendiri, tapi beberapa penonton tampak nggak ragu maju ke depan panggung untuk melakukan moshing, atau sekadar lompat-lompat di bibir panggung. Sebagian lagi menonton dari kejauhan sambil menggerakkan kaki dan headbang tipis-tipis. Aku termasuk dalam golongan yang memilih menonton dari kejauhan ini. 

Setelah Monarki, ada penampilan dari band Ashes Vireth. Band ini menarik buatku. Vokalisnya cewek yang masih sangat belia. Usianya mungkin masih belasan atau awal dua puluhan. Wajahnya kawaii gitu, dari segi fisik lebih cocok jadi vokalis J-Pop. Tapi yang membagongkan, malam itu dia bawain lagu hardcore yang nggak ada clean vokalnya sama sekali. Badass!! 

Lalu ada One Blood. Band ini punya dua vokalis, cewek-cowok. Mereka membawakan lagu yang liriknya menyentil orang-orang yang suka cari muka di lingkungan kerja. Jujur, aku suka banget sama style vokalis ceweknya. Dia pakai outfit dominan hitam berupa outer crop asimetris dipadu inner berwarna merah, celana longgar dengan aksesori rantai perak di pinggang, turban hitam, dan gelang. Looknya kayak gothic streetwear gitu. Keren, naksir banget aku. Ini style yang kepingin banget aku pakai (kecuali bagian turban), tapi aku nggak punya cukup rasa percaya diri buat pakainya. Lagipula celana gombrong malah bikin tubuhku yang kecil dan pendek ini makin tenggelam kali yah. 

Selanjutnya ada Breeze. Vokalisnya cowok, dan punya vokal yang unik. Suaranya tinggi melengking gitu. 

Yang terakhir, ada Twistlet. Band yang vokalisnya cewek berkacamata ini membawakan lagu yang liriknya lagi relate banget sama kondisi negeri kita saat ini, judulnya Hajar Jahanam. 

Oiya, setiap kali jeda pergantian band, MC bakal mengisinya dengan mewawancara satu pengunjung yang datang. Lucunya, setiap kali MC mencari satu pengunjung buat diwawancara ini, orang-orang, termasuk aku dan Hardi bakal mundur menjauh, karena takut bakal dipilih. Wkwkwk. Sebenarnya MC cuma nanya-nanya sedikit dan sesimple, "Tujuan datang ke sini mau lihat performnya siapa?", atau "Gimana kesannya datang ke acara ini?", tapi kadang MC juga iseng minta yang diwawancara buat nyanyi atau two-step gitu. Wkwk.

Sekitar jam setengah sembilan, naik Mustika Kamal. Vokalis band W.A.I.T yang juga akrab dipanggil "Mimi" ini adalah salah satu guest yang aku tunggu performancenya. Sayangnya aku kurang cepat mengambil tempat di dekat stage. Malam itu dia menciptakan emo night vibes dengan mengcover tiga lagu: I Don't Love You (MCR), Decode (Paramore), dan All The Small Things (Blink-182). I Don't Love You pecah bangeeett doong, karena hampir semua penonton ikut sing along. Malam itu aku baru banget merasakan betapa puasnya menyanyikan lagu favorit selepas itu, sangat berbeda rasanya dengan cuma karaoke. Entahlah, aku juga bingung gimana menjelaskannya. Yang jelas kayak ada sensasi berdebar-debarnya gitu.

Penampilan Mustika Kamal membawakan "Decode" 

Setelah penampilan seru Mimi, ada jeda sekitar setengah jam sebelum penampilan puncak dari band utama, 510. Jeda yang lumayan panjang ini membuat kerumunan penonton di depan stage melonggar, sehingga memberi kesempatan untuk aku dan Hardi untuk maju. Sambil menunggu, kami berfoto-foto sejenak. Awalnya Hardi yang memfotoku, dia sendiri nggak mau aku fotokan. Malu. Lalu tiba-tiba sepasang cowok-cewek menawarkan diri untuk memfotokan kami berdua. Hardi sedikit ragu, tapi kubujuk, buat kenang-kenangan. Apalagi meskipun sibling, kami jarang banget berfoto bareng, khususnya foto berdua gitu. Setelah mengambil foto dua kali, aku gantian memfotokan mereka berdua. 

Di menit-menit terakhir menjelang 510 naik, Hardi mendorongku semakin mendekat ke depan panggung. Nggak di depan panggung banget sih, tapi bisa dibilang cukup dekat lah. Tiba-tiba...
"Lho, Putri!" seorang laki-laki di sebelahku tampak terkejut melihatku. Surprisingly, dia mengenaliku meskipun aku memakai masker. Eh tapi mungkin karena ada Hardi juga sih. Dia merupakan kenalan kami. Tapi ketika itu, jujur aku agak canggung karena saat itu dia terlihat dalam kondisi teler, yang kurasa bukan teler karena minuman mengingat cafe itu nggak menjual minuman beralkohol, dan nggak memperkenankan pengunjung membawa minuman dari luar. Setauku dia mengkonsumsi obat psikiatri untuk mengatasi gangguan kecemasan. 15 tahun silam, aku pernah punya kenalan lain yang juga mengkonsumsi obat-obatan semacam itu untuk mengatasi masalah yang sama. Dia bilang efeknya bisa membuat seseorang menjadi seperti "zombie". Aku nggak tau apakah "zombie" yang dia maksud adalah "teler" seperti itu. Tapi kalo dikonsumsi sesuai resep dokter, harusnya nggak akan seteler itu kan? Well, entahlah.

Anyway, tibalah saatnya Ical CS perform. Musik Where Do We Came From mengalun. Kami dag-dig-dug menunggu para personil muncul, sebelum akhirnya mereka naik satu per satu. Ical muncul paling akhir. Ketika ia naik sambil melambaikan tangannya, aku menjerit, "ICAAAALL!!", yah meskipun aku sadar banget suaraku nggak akan terdengar sama dia. Wkwkwk. Aku bersyukur banget karena di posisiku itu, aku bisa melihatnya dengan cukup jelas, meskipun kadang juga ketutupan kepala orang. Hahaha. Malam itu dia mengenakan celana jeans panjang warna hitam, dan kaos raw hem sleeveless warna abu-abu gelap, sehingga terlihat jelas tato-tato di lengannya. 

Setelah cukup dengan dadah-dadahan itu, Ical mengangkat mikrofon ke depan mulutnya dan berteriak, "WE'RE ALL...!" dan langsung disambut penonton, ".... DISASTER! SO COME LIT UP THE FIRE!!"
Sejurus kemudian, barisan penonton pun mulai membentuk crowd wave di mana kami melompat dan headbang bareng mengikuti hentakan lagu Collapsed.

"Collapsed" 

The Last Suffer dan Mama menambah atmosfer menjadi lebih panas. Di bagian chorus Mama, semua penonton ikut sing along. 

Yang paling kusuka adalah saat Dead Clown dan Ritual. Gila, pecaaaahh banget! 

Di tengah-tengah Dead Clown, seperti yang sering kulihat di video performance mereka sebelumnya, tiba-tiba muncul seorang tokoh badut. Badut ini mondar-mandir di atas stage, berinteraksi dengan kami dan juga Ical, sampai akhirnya menjelang klimaks, Ical melakukan adegan seolah-olah meng-headshot si badut. Well, meskipun ini bukan pertama kalinya aku lihat adegan itu, tetap aja rasanya seru banget ditonton secara langsung. Apalagi si Ical benar-benar pakai properti berupa pistol mainan gitu. Ya know, kayak lagi nonton sebuah pertunjukan teatrikal yang diselipkan di tengah konser.

Detik-detik menjelang Mr Clown
di-headshot di "Dead Clown"

Masuk ke Ritual, suasananya berubah lagi. Seperti yang udah kuceritakan sebelumnya, lagu ini memang favoritku sejak pertama kali mendengarnya. Tapi melihatnya dibawakan secara live ternyata jauuuuh lebih memuaskan. Di bagian klimaks, aku melihat sebagian penonton udah membentuk circle pit. Lalu beberapa penonton cowok mulai berlari memutari lingkaran itu sebelum akhirnya saling bertabrakan dan moshing. Lumayan brutal sih kelihatannya, tapi tetap terkendali. Posisiku tepat berada di depan circle pit itu. Jujur sempat deg-degan juga takut tiba-tiba ada yang menabrakku. Untungnya enggak. Alhamdulillah.

Circle pit saat "Ritual" 

Surprisingly, aku juga suka banget vibe saat Mimbar dibawakan. Lagu ini bukan lagu 510 yang sering kuputar, karena kurang sesuai ekspektasiku. Tapi ternyata... this song hits different when it's played live. Asli, merinding banget waktu masuk bagian piano + petikan gitar gitu, lalu hampir semua penonton kompak menyanyikan part,

"Ku tau kau memikulnya... kurasakan hal yang sama... Kita terkurung dalam duka lara..."

Mendengar penonton sing along di bagian itu sambil mengangkat tangan ke udara benar-benar menciptakan suasana yang susah dijelaskan. Momen itu jadi salah satu favoritku malam itu.

"Mimbar" live hits different <\3

Nggak terasa, satu demi satu lagu berlalu. Malam itu 510 membawakan sebelas lagu secara berurutan: Where Do We Came From, Collapsed, The Last Suffer, Mama, Plastic Faith, Esa, Sorry, Dead Clown, Ritual, Mimbar, dan ditutup dengan Emotional Renegades. Menurutku susunan setlistnya enak banget. Energinya naik terus, sempat diturunkan sedikit di Esa, dibikin galau massal di lagu Sorry, lalu dibakar lagi sama Dead Clown dan Ritual, agak turun lagi sedikit di Mimbar, lalu ditutup lagi dengan ledakan energi di Emotional Renegades.

BTW ada momen lumayan berkesan saat 510 membawakan lagu terakhir ini. Menjelang akhir lagu, Ical tiba-tiba membalikkan badan membelakangi penonton, lalu menjatuhkan dirinya ke arah kami. Stage dive!

Untungnya aku nggak berada tepat di bawah posisi saat ia menjatuhkan diri. Tapi tangan-tangan penonton yang menopang tubuh Ical perlahan menggiringnya ke arah tempatku berdiri, membuatnya crowd surfing di atas kami. Dan tau-tau... aku berada tepat di bawah punggungnya. Wkwkwkwk. Untung tubuh seukuran botol Yakult ini nggak ketimpa beneran. Yah, cuma oleng dikit.

Momen Ical stage-diving di
"Emotional Renegades" 

Sepanjang penampilan 510 itu juga, Hardi always had my back. Posisi dia selalu berdiri tepat di belakangku. Kadang kedua lengannya terulur di kanan dan kiriku buat menghalau orang-orang yang terdorong saat moshing. Bahkan kenalan kami yang teler itu berkali-kali melakukan crowd surfing, dan berkali-kali juga jatuh menimpa penonton. Jadi keberadaan Hardi di belakangku lumayan menyelamatkanku sih.

Oiya, karena malam itu Mustika Kamal dan 510 sama-sama menjadi special guest, aku sempat berharap mereka bakal membawakan Deeper Than The Ocean. Tapi ternyata, enggak. Yaah, bisa dipahami sih. Lagu itu terlalu mellow. Kalo dibawakan di tengah gigs yang sedang panas-panasnya, mungkin malah jadi kurang pas yah.

Anyway, soal kenalan kami itu, ada satu hal yang baru kami sadari setelah acara selesai.

Pas awal ketemu di tengah kerumunan, dia sempat ngomong sesuatu soal "dokumentasi". Karena dia ngomong sambil teler, aku dan Hardi sama-sama nggak menangkap apa maksudnya. Setelah acara selesai kami baru ngeh. Rupanya yang dimaksud "dokumentasi" itu adalah foto bareng para personil 510 dan teman-teman komunitas 510 Squad.

Memang benar sih, mereka ada sesi foto bareng setelah acara. Tapi yaa... kami nggak nyesel juga sih nggak join. Soalnya jujur aja, bahkan kalopun waktu itu kami paham maksud ajakannya, kemungkinan besar kami tetap bakal nolak. Bukan karena nggak mau, tapi lebih karena malu dan canggung aja 😂

Sekitar jam sepuluh malam, acara akhirnya benar-benar selesai. Sebelum pulang, aku dan Hardi menyempatkan diri foto-foto sekali lagi di sekitar venue, sambil menonton hasil fancam kami, dan sesekali ngetawain suara sumbang diri sendiri yang ikut kerekam. Wkwkwk. Dari situ aku belajar, lain kali kalo ambil fancam, mending mulut ini diam kali ya 😂

Setelah itu kami berjalan menuju parkiran. Di perjalanan menuju parkir itu, kami ketemu lagi dengan kenalan kami tadi. Kondisinya masih sedikit teler. Dia sempat memanggilku dan bertanya apakah kami langsung pulang malam itu. Setelah basa-basi bentar, aku pun pamit.

Well, kalo dipikir-pikir, lucu nggak sih? Awalnya aku sempat susah move on dari Ical versi Kilms. Bahkan sempat merasa lagu-lagu 510 kurang cocok di kupingku. Tapi beberapa tahun kemudian aku justru berdiri di barisan depan, ikut headbang, ikut sing along, menyaksikan langsung penampilan mereka, bahkan nyaris ketimpa Ical saat crowd surfing. Wkwkwk. Yah, mungkin memang benar sih ya, kadang kita butuh waktu buat jatuh cinta sama sesuatu yang sebelumnya belum bisa kita nikmati.

Dan satu hal yang paling kusyukuri malam itu bukan cuma akhirnya bisa nonton live performance 510, tapi juga bersyukur bisa hang out bareng sibling, mengingat jarang banget kami spending time berdua selama ini. Rasanya menyenangkan punya seseorang yang sama-sama menikmati musik yang kita suka.

Sumpah, puaaaas banget rasanya. I wish this isn't my last Hellprint experience🤘

Kamis, 21 Mei 2026 0 komentar

The Party's Over, But The Feelings Aren't

One Ok Rockers, masih PCD alias Post-Concert Depression? Kayaknya pertanyaan itu udah nggak perlu dijawab lagi deh ya. Siapa juga yang bisa langsung move on dari konser se-dar-der-dor itu, yekan?

Well, I didn't make it to the party, but my heart was there. Aku masih jadi penonton feed dan story orang-orang, as always :') I thank you all yang ngepost dokumentasi banyak-banyak. Euforianya benar-benar nembus layar sampai aku yang cuma nonton dari timeline aja malah ikutan PCD. Normal nggak sih? Atau ini efek doom scrolling fancam tiga hari berturut-turut? Wkwkwk. Jujur, meskipun ikut happy, rasa iri dan sedih itu tetap ada. Tapi, konser One Ok Rock kali ini buatku rasa sedihnya double karena bercampur kecewa.

FYI, aslinya aku baru dengar album Detox-nya One Ok Rock ini secara keseluruhan itu di awal April lalu, karena sebelumnya aku masih belum move on dari album Luxury Disease, hingga kemudian kabar itu muncul : CGV dan Cinepolis akan menayangkan Konser One Ok Rock DETOX Japan Tour 2025 At Nissan Stadium.

Pas baca pengumuman itu, aku langsung excited sendiri. Pasti asik banget ya kalo bisa nonton konser OOR di layar lebar dan nyanyi bareng. Fangirling pun bisa lebih diekspresikan, nggak sebatas teriakan tertahan kayak kalo nonton sendirian di Youtube. Dan karena merasa ini masih mungkin dijangkau, tanpa pikir panjang aku langsung memutuskan buat nonton. Toh walaupun nggak bisa menggantikan konser asli, seenggaknya aku bisa ikut merasakan hype-nya dengan harga yang jauh lebih realistis untuk dompet kaum mendang-mending. Wkwk.

Tapi nonton konser nggak afdol kalo nggak hafal atau minimal tau lagunya dong ya? Jadilah aku dengar semua lagu di album itu sambil terus mantengin info tentang penayangannya. Udah pede banget gitu kan bakal nonton. But my hopes ended up torn into tiny pieces. Begitu pengumuman lokasi penayangan keluar, rupanya CGV di kotaku nggak kebagian. Kenapa siiiih? Kenapaaa? Memangnya One Ok Rockers di Cirebon sesedikit itu kah? Begitu batinku.

Lalu tanggal 10 April, seseorang mengirim DM ke akun Instagramku. Isinya ajakan untuk ngevote di polling yang diadakan oleh Kimochi Management, komunitas jejepangan di kotaku. Mereka lagi cek ombak gitu buat ngajuin penayangan konser itu di CGV Cirebon kalo peminatnya tembus 60 orang. Of course, aku langsung ngevote dengan penuh harapan.

Dan yahh... setelah ditunggu berhari-hari, nggak ada kabar lanjutan lagi. Harapanku pupus untuk kedua kalinya. Kecewa. Berat. Banget, karena bahkan dalam hal yang kukira bisa kujangkau pun aku nggak punya kesempatan. 

Selain itu, mungkin salah satu alasan kenapa konser ini terasa begitu emosional buatku adalah, karena aku sadar bahwa ternyata aku udah mengagumi mereka selama kurang lebih 12 tahun. Aku memang bukan fans yang mengikuti mereka sejak awal debut sih, tapi cukup lama untuk melihat bagaimana mereka berkembang.

Aku masih ingat dulu pelafalan English Taka tuh masih "Jepang banget", kayak "from" jadi "flom", "wherever" jadi "whelevel", "everybody" jadi "evelybody".
Tapi sekarang? Kerasa banget kan perkembangan pronunciation dia? Udah jauh lebih natural dan "ngenglish" dibanding dulu. Dan entah kenapa, sebagai fans lama, melihat perkembangan itu tuh rasanya membuatku bangga :')

Bukan cuma soal kemampuan bahasa aja, tapi juga karena setelah semua kritik, perubahan musik, sampai masa-masa berat yang mereka lewati, mereka tetap bertahan dan berkembang. Makanya mungkin rasa sedih karena belum pernah nonton mereka secara langsung itu juga datang dari sana kali yaa.

Tapi hikmah dari semua ini adalah, aku jadi dengerin semua lagu di album Detox, yang ternyata sebagian besar lagu dalam album ini tuh terdengar sangat emosional.


DELUSION:ALL

Aku yakin semua pendengar pasti setuju bahwa lagu ini adalah suara hati rakyat, khususnya mereka yang frustrasi dan kecewa pada sistem dan demokrasi. Dalam lagu ini, One Ok Rock menyuarakan kritik terhadap perpecahan sosial dan politik, dan menekankan pentingnya persatuan dan perlawanan terhadap manipulasi. Dan ketika melihat bagaimana lagu ini menggema di Indonesian Arena di tengah kondisi negara yang rasanya absurd banget belakangan ini, astaga, aku merinding. Sebagai WNI, rasanya lagu ini sangat relate dengan isi hati kita sekarang ya?

PUPPETS CAN'T CONTROL YOU
Masih membawa tema serupa, lewat lagu ini, Taka CS mengkritik para penguasa yang mencoba mengendalikan masyarakat, seperti manipulasi, politisi yang nggak jujur, dan media yang bias. Lagu ini juga mengingatkan kita untuk nggak gampang tertipu oleh kebohongan yang disebarkan kepada publik, apalagi di tengah gempuran teknologi AI, di mana kebenaran dan kebohongan bisa dengan mudah dipelintir, dan... para buzzer di sekitar kita 🙃

NASTY
Ini lagu yang ketika pertama kali dengar, rasanya kayak, "Gila, liar banget". Vibes berontaknya tuh terasa banget. Aku merasa lagu ini seperti ditujukan untuk para pendengar One Ok Rock, khususnya untuk mereka yang belakangan ini ngejudge perubahan musik mereka. Kalian pasti tau kan bahwa setelah album Ambitions, banyak banget yang berpendapat bahwa One Ok Rock tuh kayak kehilangan identitas? Mereka udah nggak se-jepang dulu lagi, akhirnya banyak fans lama yang menuntut mereka untuk kembali seperti dulu. Tapi faktanya, One Ok Rock jadi mendunia karena musik mereka yang sekarang. So, lewat lagu ini tuh, Taka CS seolah mengungkapkan, "Kami udah dengar semua opini kalian. Intinya ini kami yang sekarang. Kalian mau dengar, syukur. Mau nggak dengar pun, terserah. Kami nggak peduli", gitu. Ini menurutku yaa. CMIIW. Oiya, yang "unik", One Ok Rock menyisipkan sound mirip desahan perempuan di beberapa part lagu. Jujur, aku sempat kaget pas pertama dengar (untung pakai earphones).

PARTY'S OVER
Lagu ini seperti ungkapan getir bercampur amarah dan muak atas hubungan yang membuat seseorang akhirnya benar-benar capek secara emosional. Capek ngasih kesempatan terus-menerus ke orang yang sama, capek dibohongi, dimanfaatkan, dan dikhianati berulang kali. 

TINY PIECES
Kadang kita baru bisa merasakan betapa berharganya seseorang setelaeh orang itu pergi meninggalkan kita. Mungkin itu yang diungkapkan dalam lagu ini. Lagu ini menceritakan tentang sepasang kekasih yang terjebak dalam hubungan toxic (kusebut toxic karena ada part lirik yang menyebutkan bahwa mereka bertengkar untuk masalah yang sama selama dua puluh kali), hingga akhirnya si wanita memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu, menyisakan penyesalan yang sangat dalam bagi pasangannya.

BTW aku lihat fan-project One Ok Rockers di konser kemarin. Mereka bersama-sama menyalakan flashlight yang ditempel stiker dengan warna-warna berbeda ketika lagu ini dibawakan. Indaaah banget. Dengar-dengar Taka sempat nangis yah?

DYSTOPIA
Lewat lagu ini, One Ok Rock ingin mengajak pendengar untuk nggak menyerah, tetap semangat, dan terus berpegang teguh pada iman meskipun tengah berada di masa-masa sulit dan titik terendah. 

TROPICAL THERAPY
Lagu ini kayaknya bakal jadi one of my anthems kalo lagi penaaaaat banget sih, kayak, "Ya Allah, pingin healing", karena liriknya sangat relate untuk aku dan mungkin kalian yang jenuh sama rutinitas, para budak korporat yang udah too exhausted sama tekanan pekerjaan, atau ibu-ibu rumah tangga yang overstimulated sama toddlernya yang nempel melulu. Wkwkwk. Part "My spirit is guiding me to a place where demons can't find me. I'm looking for heaven like golden gates surrounded by palm trees" tuh menggambarkan suatu keinginan yang kuat untuk berada di suatu tempat yang tenang dan indaaah banget, saking indahnya rasanya kayak ada di surga, sampai lupa sama semua rasa sakit dan hal-hal yang stressful.

+MATTER
Aku pernah membaca sebuah komik digital (aku lupa siapa pembuatnya) yang dishare di sebuah platform sosial media. Ceritanya tentang seseorang yang merasa dirinya nggak berguna dan nggak berarti bagi siapapun. Dia mengeluhkan hal itu sambil membuang air dari botol minumnya. Air itu tertampung dalam sebuah wadah. Beberapa lama kemudian, datang seekor burung yang sangat kehausan. Ia meminum air dari wadah itu, dan merasa sangat bersyukur.

Sama seperti yang digambarkan di komik itu, lagu ini maknanya dalam dan heartwarming banget. Lewat lagu ini One Ok Rock ingin mengingatkan bahwa meskipun hidup terasa berat, kita nggak pernah sendirian. Setiap individu bernilai. Mungkin banyak dari kita yang merasa nggak berarti bagi siapapun, tapi kita nggak sadar bahwa keberadaan kita berarti untuk individu lain. "Do I matter to you? You matter to me. You matter, and we all matter". 

C.U.R.I.O.S.I.T.Y
Jujur, aku kurang paham sih sama makna lagu ini. Tapi kalo dari part lirik "We can stay walking on the dotted line, or we can make our own", sepertinya lagu ini mengungkapkan ajakan untuk berani menjadi diri sendiri, bahkan jika itu melawan arus. Sesuai dengan makna lagunya, beat dari lagu ini juga membakar semangat banget sih. Apalagi ada part scream dan rap yang bikin lagunya semakin ciamik. Di lagu ini, bagian rap diisi oleh Chico Carlito, tapi di konser kemarin bagian ini diisi oleh Toru. Hayo, siapa yang senyam-senyum dan teriak-teriak lihat Toru ngerap? Aku sih melongo lihat Taka yang muter-muter setelah headbang sambil menghentak-hentakan kaki, lalu berdiri tegak sambil mengulurkan tangan ke depan dengan jari-jari yang membentuk cakram dan berseru, "MY CURIOSITY!"
Haisshhh... sugooooiiii!!

THIS CAN'T BE US
I think... ini lagu paling sedih di album ini. Awalnya vibe lagu ini sedikit terasa kayak Pierce, tapi kemudian ketika masuk ke Verse 2, aku merasa makna lagu ini jauh lebih menyesakkan. Bayangkan, kamu punya seseorang yang kamu anggap "rumah" dan jadi bagian terpenting dalam hidupmu, lalu kamu harus kehilangan orang itu secara tiba-tiba. Part "This can't be us, I don't know how to say goodbye" dan "This can't be us, I think I'm going outta my mind" itu mencerminkan guncangan dan ketidakpercayaan yang mendalam atas kehilangan itu.

Awalnya aku nggak tau lagu ini ditujukan untuk siapa. Hingga suatu hari ketika lagu ini kumainkan di Youtube Music, official lyrics videonya ikut terputar. Bentuknya cuma animasi sederhana, diawali sosok anak kecil yang menangis. Lalu seorang wanita tua dengan senyum lembut menghampiri sambil mengulurkan kedua tangannya. Anak kecil itu pun lantas tersenyum. Lalu mereka berdua berjalan bergandengan tangan, tampak bahagia. Waktu-waktu berlalu, anak kecil itu semakin tumbuh dewasa dan mulai mandiri, nggak lagi dituntun. Ketika anak itu berbalik, perempuan tua itu masih tersenyum hangat. Dari situ, dan dari beberapa komentar di video itu, aku bari tau... bahwa lagu itu, didedikasikan Taka untuk mendiang neneknya yang selalu mendukung dan merawatnya selama masa-masa sulit dalam hidupnya 🥲

THE PILOT <\3
Aah, ini dia. Kemarin-kemarin aku sempat berniat untuk nulis tentang lagu ini di blog terpisah, tapi karena belum sempat, jadi kutulis sekalian di sini aja. Karena itu, tulisan tentang lagu ini bakal agak panjang, dan disisipi curhat pribadi. Hehehe.

The Pilot<\3 adalah salah satu karya Taka yang paling personal, karena menceritakan hubungan antara ia dan ayahnya. As we know, Taka dan adik-adiknya tumbuh dari keluarga broken home. Melihat kedua orangtuanya bertengkar, ditambah keinginan anak-orangtua yang berseberangan, nggak mudah untuk diterima oleh Taka yang saat itu baru beranjak remaja. 

Banyak One Ok Rockers yang menjadikan lagu ini sebagai anthem of the broken home kid. Tapi menurutku, nggak hanya anak-anak yang mengalami broken home, anak yang memiliki orangtua yang utuh tapi nggak dekat secara emosional pun agaknya cukup relate, dan aku adalah salah satunya.

Aku tumbuh di bawah didikan seorang bapak yang cukup keras. Kalo bahasa anak-anak sekarang sih "didikan VOC" ya. Selain itu, beliau juga tipe yang terlalu serius, judgemental, dan otoriter. Bahkan hal kecil yang kulakukan, yang sebenarnya sangat wajar dilakukan oleh anak kecil pun nggak lepas dari pengadilannya. Dampaknya lumayan besar, aku jadi takut salah ngomong dan nggak berani untuk melakukan hal spontan, terlebih di depan beliau. Semua hal yang beliau lontarkan padaku, cuma bisa kutelan mentah-mentah tanpa berani kubantah, meskipun hal itu bertentangan. 

Dan ya, hubungan emosional kami pun jadi nggak dekat. Kami jarang ngobrol, apalagi bercanda. Pernah beliau membuka obrolan, tapi karena canggung, aku cuma bisa merespon pendek dan sekenanya. Sering aku merasa kasihan dengan beliau yang tampak kesepian di hari tuanya. Sehari-hari menghabiskan waktu di teras, sendirian. Tapi ketika beliau mulai menegurku dengan nada tingginya, kali ini aku bisa melawan, meresponnya dengan nada yang juga tinggi, meskipun sejurus itu, di dalam hati aku menyesal. "If I break your heart, forgive my broken heart", this line hits me so hard.

Tapi part yang paling perih menurutku ada di Verse 2:
"I'm going home, wherever home is
I've gotten used to having nobody around
I was asleep behind a bar, but I was dreaming of your arms
Within myself I've come to find my safe and sound"

Part yang sangat relate untuk anak-anak yang kedua orangtuanya udah berpisah. Aku tentunya nggak di level ini, tapi sedikit yang bisa kugambarkan, part ini tuh kayak ungkapan kerinduan seorang anak yang teramat sangat ke orangtuanya. Kayak... kangen pelukan hangat, tapi dia nggak punya "rumah" karena yang dia miliki hanya dirinya sendiri. Akhirnya kerinduan itu cuma bisa dia bawa tidur karena kenyataannya dia nggak bisa dapat pelukan itu lagi. 

Dan kenapa judulnya The Pilot? Aku merasa "pilot" di lagu ini bukan cuma tentang sosok bapak, tapi tentang sosok yang memegang arah dan harusnya membuat kita merasa aman. Dan keluarga itu ibarat pesawat. Maka ketika sosok itu gagal menjalankan perannya, rumah jadi nggak lagi terasa seperti tempat pulang. 

***

Hmm rasanya vibe album ini tuh kayak gloomy gitu yah? Well, Taka dan yang lainnya juga memang mengakui hal itu sih. Hal ini Taka ungkapkan di konser kemarin, bahwa tema di album ini lebih berat ketimbang album-album sebelumnya, karena selain lagu-lagunya yang penuh lirik mendalam tentang hidup, mereka juga mengangkat isu sosial, politik, dan pemerintah yang korup. Taka CS menyadari betapa dunia saat ini begitu chaos, dan sebagai musisi rock, mereka merasa harus bersuara.

Doc : @selvselv on Threads


Dan kalian juga pasti notice kan, selama konser kemarin mereka tuh kayak yang capek banget? Aku lihat nggak sedikit juga yang membandingkan performance mereka kemarin dengan konser tur Luxury Disease tiga tahun silam. Yah, perjalanan mereka selama tur album Detox ini memang nggak mudah sih. Mulai dari Taka yang cedera kaki, kena panic attack, sakit tenggorokan sampai suara serak, ditambah konser mereka di Hongkong dan Shanghai pun terpaksa dicancel karena ketegangan politik antara Cina dan Jepang. Tapi mereka tetap tampil all out untuk konser penutup tur mereka ini.

Taka juga sempat curhat di postingan Instagramnya pasca konser kemarin. Jujur, ih kayak sedih nggak sih baca captionnya? 

"Jujur, aku merasa lelah baik mental maupun fisik. Tapi aku merasa semuanya pantas. Untuk sementara waktu, aku akan fokus bertumbuh sebagai seorang individu sambil menghadapi kesepian yang besar selama melalui album dan tur ini, dan aku akan kembali lebih kuat dari sebelumnya". 

Banyak juga yang mengira Taka CS bakal hiatus selama beberapa lama. Tapi... enggak kan yah? Kurasa dia dan kawan-kawan cuma butuh istirahat sejenak. So, just let them get their tropical therapy lah ya, Guys.

Dan mungkin suatu hari nanti, aku benar-benar bisa nonton mereka secara langsung. Bukan cuma lewat fancam, livestream, atau layar bioskop. Sebenarnya kalo dipikir-pikir, bukan berarti hal itu mustahil banget buatku sih. Aku masih bisa nabung untuk tiket dan transport, meskipun mungkin cuma sanggup ambil kategori paling murah. Wkwk. Tapiiii masalah terbesarnya adalah mental “mendang-mending” yang selalu muncul.
“Mending buat liburan sama anak dan suami.”
“Mending buat upgrade HP.”
“Mending buat invest emas.”
“Mending buat kebutuhan lain.”

Dan ujung-ujungnya, keinginan buat nonton konser selalu kalah prioritas.

Jadi kalo someday akhirnya aku benar-benar bisa hadir di venue mereka sambil nyanyi sekeras mungkin bareng ribuan One Ok Rockers lainnya… semoga saat itu aku udah nggak lagi merasa bersalah untuk memilih sesuatu yang sebenarnya juga aku inginkan ^^


Kamis, 12 Maret 2026 0 komentar

Tinggal Meninggal : Seberapa Jauh Kita Berpura-pura Demi Dilihat?

Aku yakin banyak di antara kita yang pernah atau bahkan sering merasa invisible di tengah keramaian. Ada di kantor, ada di grup chat, tapi nggak pernah benar-benar terlibat. Tinggal Meninggal, mengajak kita menyelami sisi gelap kebutuhan manusia akan perhatian, lewat kisah Gema, seorang cowok awkward yang selama ini "nggak terlihat", tapi tiba-tiba jadi pusat perhatian karena satu kabar duka. Dengan dibalut komedi, film ini nggak cuma bikin cengengesan, tapi juga membuat kita bertanya pada diri sendiri tentang seberapa jauh kita akan berpura-pura demi dilihat orang lain.

Sejak kecil, Gema tumbuh dalam keluarga yang tampak sempurna di mata publik, tapi kosong di dalam. Papanya merupakan seorang pendiri investasi bodong yang dalam setiap akhir sesi seminar selalu memeluk anak dan istrinya di depan para calon investornya. Yang nggak mereka tau, adegan tadi adalah sesuatu yang dilatih puluhan kali, agar tercipta image keluarga bahagia. Sementara mamanya selalu sibuk dengan kegiatan arisan. Gema terbiasa ditinggal sendiri di rumah, dibiarkan asik bermain, menggambar, atau nonton TV sendiri. Orangtuanya tampak nggak pernah punya waktu untuknya, bahkan untuk sekedar mendengar pendapat dan keinginannya. Di sekolah pun, Gema nggak punya teman.


Long story short, orangtua Gema bercerai. Papanya menikah dengan wanita lain, dan mamanya pacaran lagi. Tragisnya, Gema dipaksa harus memanggil mamanya dengan sebutan "Kakak", karena mamanya takut pacar barunya tau bahwa dia adalah janda beranak satu. Gema juga terpaksa tinggal di rumah sendirian karena mamanya jarang pulang. Karena kurang punya tempat untuk berbagi, Gema jadi memiliki satu kebiasaan, bicara dengan diri sendiri. Nggak hanya sebagai bentuk self regulation, tapi juga sebagai cara untuk mengurai isi kepalanya karena kekosongan interaksi. Kebiasaan ini pun ia bawa sampai dewasa.

Gema bekerja di sebuah agensi kreatif. Di tempat kerjanya pun, Gema nggak punya teman. Interaksi di kantor hanya sebatas urusan pekerjaan. Namun semuanya berubah ketika papanya meninggal dunia. Tiba-tiba Gema dihujani ucapan belasungkawa dan perhatian dari rekan-rekan kerjanya, termasuk diajak nongkrong dan makan siang bareng di London Fried Chicken, resto favoritnya. Segala perhatian dari rekan-rekan kerjanya itu membuat Gema merasakan kehangatan yang selama ini cuma ada di wish-listnya. Namun seiring berlalunya masa duka, suasana kembali dingin. Rekan-rekannya mulai bosan makan di London Fried Chicken, mereka juga mulai kembali asyik ngobrol tanpa melibatkan Gema.

Merasa kosong dan kesepian, Gema mulai merancang strategi agar perhatian mereka kembali tertuju padanya. Dalam keputusasaan, ia mengambil jalan pintas dengan berbohong bertubi-tubi, berpura-pura ada keluarganya yang meninggal lagi. Kebohongan kecil yang semula hanya akal-akalan kecil itu perlahan menjadi pusaran masalah yang menjebak Gema ke dalam kekacauan.

Menjelang akhir, ada twist menarik yang membuat kita sadar bahwa Gema bukanlah satu-satunya orang yang haus perhatian dan rela berpura-pura. Dari sini kita diingatkan bahwa sebenarnya banyak dari kita yang menyimpan kebohongan kecil demi mendapatkan validasi di lingkungan kerja atau sosial.

Jujur, kalo nggak dibungkus komedi, kayaknya aku bakal nangis di 20 menit pertama deh. Melihat Gema yang harus memanggil mamanya "Kakak" dan melihat mamanya bersenang-senang dengan laki-laki asing, sementara ia ditinggal sendirian di rumah, itu sedih banget. Lalu di pertengahan film juga ada scene di mana Gema dan papanya berlatih image keluarga bahagia : Papa merentangkan kedua tangan menghadap Gema sambil teriak, "Gema!", lantas Gema akan berlari ke pelukan papanya sambil teriak, "Papa!" Lalu papa akan mengangkat Gema tinggi-tinggi, sambil keduanya tertawa-tawa. Setelah sesi latihan berakhir, Gema minta papanya main bola sama dia. Tapi alih-alih nemenin anaknya, papanya malah panggil ART mereka untuk nemenin Gema :')

Dalam beberapa hal, aku merasa relate sama Gema. Bukan relate tentang kebohongan-kebohongan yang dia lakukan, bukan juga tentang latar belakang keluarganya, tapi tentang bagaimana dia berbicara pada diri sendiri, atau merasa awkward saat di situasi sosial. Misalnya ketika melihat rekan-rekan kerjanya berkumpul di kantin, Gema ingin menghampiri mereka tapi bingung gimana caranya menyapa mereka. Trus ada satu momen di mana Gema berhasil melemparkan satu lelucon yang bikin rekan-rekannya ketawa, dan dia terus mengulang-ulang hal itu di kepalanya dengan bangga seolah dia baru aja melemparkan lelucon paling konyol yang pernah ada, lalu kemudian merevisinya kayak "harusnya gue tadi bilang gini ya" dengan anggapan bahwa kalo dia bilang gitu leluconnya saat itu bakal lebih pecah. Asliiii, aku pernah kayak gitu. Wkwkwk. Nggak cuma lelucon sih, tapi juga kata-kataku yang kupikir nggak seharusnya kuucapkan begitu ke orang lain.

Sedikit spoiler, endingnya menurutku nyesek banget ANDAI AJA nggak ada adegan di surga, karena adegan itu cringe banget menurutku. Kalo adegannya di-cut di satu scene sebelum itu, kurasa efeknya bakal lebih "ngena". Tapi yah, mungkin karena ini film komedi, jadi terciptalah adegan di surga itu.

Well, overall, menurutku Tinggal Meninggal sukses jadi film dark comedy yang lucu, absurd, tapi juga menyentuh. Two thumbs up juga buat aktingnya Omara Esteghlal as Gema yang bagus banget (beneran kayak orang sakit mental, OMG!). Meskipun endingnya kurang sesuai ekspektasi (yaa karena cringe tadi), tapi film ini berhasil mengajak kita merenung tentang betapa rapuhnya kebutuhan manusia akan validasi.

Total Tayangan Halaman

 
;