Baru-baru ini aku menonton film yang bagus banget. Film ini diangkat dari kisah nyata kecelakaan pesawat Angkatan Udara Uruguay di Pegunungan Andes pada tahun 1972, bahkan nama-nama tokoh dalam filmnya pun menggunakan nama-nama dari para korban dan survivor aslinya. Judulnya Society of the Snow.
Dalam ulasan ini tentunya aku akan lebih banyak membahas tentang filmnya ya, karena bagaimana pun terkadang ada beberapa hal dalam film yang agak didramatisir demi kebutuhan produksi. Kisah tentang kejadian nyatanya bisa kamu baca di banyak sumber lainnya.
Cerita dimulai pada Oktober 1972 di Uruguay. Sekelompok pemain rugby dari klub Old Christians Club akan berangkat ke Chili bersama keluarga, teman, dan beberapa penumpang lain menggunakan pesawat milik Angkatan Udara Uruguay. Salah satu penumpangnya adalah Numa Turcatti, seorang mahasiswa hukum yang sebenarnya bukan pemain tim rugby ini. Dia dibujuk sahabatnya, Pancho, untuk ikut, karena menurut Pancho sebentar lagi Numa bakal lulus trus jadi pengacara terkenal. Jadi, kapan lagi bisa have fun bareng? Gitu. Nah, Numa ini jadi tokoh utama sekaligus narator di sepanjang film ini.
![]() |
| Numa Turcatti |
Long story short, dimulailah penerbangan mereka. Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba pesawat mereka mengalami masalah. Seingatku di filmnya nggak dimention penyebab kecelakaannya sih. Tapi dari yang kudengar dan kubaca tentang tragedi aslinya, pesawat turun lebih cepat sebelum melintasi pegunungan, lalu menabrak lereng bersalju. Bagian sayap dan ekor pesawat terlepas. Badan pesawat meluncur di atas salju sebelum akhirnya berhenti di tengah pegunungan.
Sebagian penumpang tewas seketika karena benturan, bahkan ada juga yang terlempar keluar saat ekor pesawat terpisah dari badannya. Banyak juga yang mengalami luka berat, salah satunya adalah Nando Parrado, yang mengalami cedera kepala parah.
Dari 45 orang di dalam pesawat, hanya sebagian yang selamat dari kecelakaan itu. Namun meskipun selamat, mereka berada di tengah pegunungan bersalju yang terpencil. Nggak ada hewan, nggak ada tumbuhan. Hanya salju di mana-mana. Pilot mereka tewas, radio pesawat pun rusak, nggak ada cara buat minta pertolongan. Mereka pun mulai bahu-membahu mengeluarkan kursi-kursi dari dalam pesawat biar semua penumpang yang selamat dan terluka bisa muat berbaring dan berlindung di dalamnya. Mereka juga menggunakan koper, pakaian, dan apa pun yang mereka temukan buat melindungi diri dari cuaca dingin. Para penumpang yang terluka dirawat dengan perlengkapan seadanya.
Awalnya, mereka masih punya sedikit makanan yang dibawa sebagai bekal perjalanan. Ada cokelat, permen, biskuit, dan persediaan kecil lainnya. Makanan itu dibagi sehemat mungkin. Tapi jumlah makanan rupanya nggak sebanding dengan jumlah orang dan lamanya mereka harus bertahan hidup. Meskipun udah dihemat sedemikian rupa, persediaan makanan mereka akhirnya habis. Mereka juga mencairkan salju buat mendapatkan air minum. Tapi air aja nggak cukup buat memenuhi kebutuhan tubuh mereka.
Sementara itu, mereka terus berharap pesawat dari tim penyelamat bakal menemukan lokasi kecelakaan mereka. Ketika mendengar suara pesawat melintas, mereka pun berusaha menarik perhatian dengan melambaikan tangan dan berteriak sekeras mungkin. Mereka sempat yakin bahwa pesawat itu melihat keberadaan mereka, karena salah satu dari mereka notice bahwa pesawat itu menggoyangkan sayapnya. Tapi di hari ketiga, saat Numa, Fito, Roberto, dan Carlito mencoba mendaki buat mencari ekor pesawat, Fito baru notice bahwa dari ketinggian, pesawat mereka sama sekali nggak kelihatan karena nyaru sama salju. Jadi mustahil bahwa pesawat penyelamat melihat mereka.
Well, untuk yang belum nonton filmnya dan nggak mau kena spoiler, STOP SAMPAI SINI YA! Karena tulisanku yang selanjutnya bakal spoiler berat.
***
Karena semua persediaan makanan habis, para survivor menghadapi kenyataan bahwa mereka bisa meninggal karena kelaparan sebelum tim penyelamat menemukan mereka. Di sekitar mereka ada jasad para penumpang. Beberapa orang mulai mempertimbangkan kemungkinan memakan daging dari jasad-jasad itu. Tentunya mereka juga nggak mengambil keputusan itu dengan mudah ya. Ada yang jijik, takut, atau bersalah. Ada juga yang mempertanyakan apakah hal itu bertentangan sama agama dan keyakinan mereka. Apalagi jasad-jasad itu kan teman, saudara, dan orang-orang yang mereka kenal.
Akhirnya, setelah melalui banyak pertimbangan dan musyawarah bersama, mereka sepakat bahwa kalo di antara mereka ada yang meninggal, jasadnya boleh "dimanfaatkan" buat membantu yang lain tetap hidup sebagai bentuk pengorbanan dan solidaritas. Setelah itu, satu persatu dari mereka pun mulai memakan potongan daging dari jasad penumpang yang udah meninggal.
Singkat cerita, mereka mencoba menghidupkan radio pesawat biar mereka bisa minta tolong atau seenggaknya tau informasi apakah tim penyelamat masih berusaha mencari keberadaan mereka.
Tapi sayangnya berita yang mereka dengar justru membuat harapan mereka pupus seketika, karena rupanya operasi pencarian mereka udah dihentikan setelah 10 hari lamanya pencarian tanpa hasil. Bahkan Marcelo yang sejak awal paling optimis dan menentang mengkonsumsi jasad manusia, akhirnya hopeless dan nggak bisa memberikan motivasi apapun lagi ke survivor yang lain, karena nggak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain bertahan hidup dan mencari jalan keluar sendiri.
Namun ternyata, terjebak di pegunungan terpencil dengan cuaca ekstrim tanpa adanya sumber makanan bukan hal terburuk yang bisa terjadi. Suatu malam, longsoran salju menghantam badan pesawat yang menjadi tempat berlindung mereka. Salju masuk dan menimbun bagian dalam pesawat. Beberapa orang meninggal akibat longsoran tersebut. Di sini heartbreaking banget menurutku, karena hanya beberapa waktu sebelum hal itu terjadi, mereka tuh lagi ngobrol sambil ketawa-ketawa seolah udah berdamai dengan keadaan mereka.
Mereka berusaha menggali jalan keluar dari timbunan salju. Dalam kondisi yang sangat lemah, mereka harus menggunakan sisa tenaga buat membebaskan diri dan teman-temannya. Setelah berhasil keluar, mereka kembali menghadapi kenyataan pahit, yakni jumlah mereka yang semakin sedikit. Yang berhasil selamat dari timbunan salju pun nggak semuanya dalam kondisi baik. Ada yang luka-luka. Ada juga yang paru-parunya kemasukan banyak air karena menghirup lelehan salju saat tertimbun.
Sepanjang cerita, Numa digambarkan sebagai seseorang yang berusaha tetap berpegang pada keyakinannya, bahkan meskipun keadaan memaksanya menghadapi keputusan yang sulit banget. Ia adalah penumpang yang paling pendiam, tapi juga banyak membantu teman-temannya dan ikut berusaha mencari jalan keluar. Tapi kondisinya semakin memburuk. Apalagi pasca tragedi longsor itu, kakinya luka setelah ia berusaha menendang-nendang jendela kokpit sampai pecah agar udara segar bisa masuk. Luka itu menjadi infeksi karena nggak ada obat-obatan yang memadai. Ia nggak lagi mampu berjalan jauh dan terpaksa harus lebih banyak beristirahat di dalam pesawat. Kondisinya terus menurun, sampai akhirnya Numa meninggal saat dirinya tengah tidur. Jujur, ketika Numa meninggal, aku merasa patah hati banget, karena aku sempat berpikir bahwa dia adalah tokoh yang bakal survive sampai akhir mengingat dari awal kita mengikuti perjalanan mereka melalui POV dia :')
Numa meninggalkan sebuah catatan kematian berbunyi, "Tiada kasih lebih besar dari kasih orang yang memberikan nyawanya bagi sahabatnya" yang kemudian kuketahui bahwa itu adalah kutipan salah satu ayat alkitab.
Sepeninggal Numa, Nando Parrado, Roberto Canessa, dan Antonio Vizintin alias Tintin memutuskan untuk segera melakukan pendakian melintasi pegunungan buat mencari pertolongan, meskipun dengan perlengkapan mendaki yang nggak memadai. Bahkan kantung tidur anti air aja mereka improv dari pelindung pipa yang mereka temukan di ekor pesawat.
Ketika tiba di puncak gunung, Nando mengira-ngira bahwa mungkin perjalanan mereka bakal membutuhkan waktu 10-12 hari, dan Roberto yakin bahwa jatah makan yang mereka bawa nggak akan cukup untuk mereka bertiga. Akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan, Tintin memutuskan kembali ke bangkai pesawat biar jatah makan yang dibawanya cukup untuk Nando dan Roberto.
Keduanya terus mendaki melewati hamparan salju dan puncak-puncak gunung yang seolah nggak ada habisnya. Sumpah, aku lihatnya aja udah stres banget, gila.
Daaaan, setelah perjalanan panjang yang melelahkan, Nando dan Roberto akhirnya tiba di sebuah sungai, dengan tumbuhan dan makhluk hidup di sekitarnya. Mereka pun meminum air sungai sebanyak-banyaknya. Dan ketika itulah, Roberto melihat seorang penggembala kuda di seberang sungai
Karena suara arus sungai begitu keras, mereka kesulitan berkomunikasi. Penggembala kuda itu pun melemparkan pensil dan kertas yang diberi pemberat agar bisa sampai ke seberang sungai. Nando lalu menulis pesan yang menjelaskan bahwa ia dan teman-temannya adalah survivor kecelakaan pesawat AU Uruguay yang selama lebih dari dua bulan ini hilang.
Begitu membaca pesan itu, penggembala itu pun segera menyampaikan kabar kepada pihak berwenang. Sumpaaah, ikut deg-degan banget pas part ini.
Tim penyelamat pun mengirimkan helikopter untuk mencari dan mengevakuasi orang-orang yang masih ada di lokasi kecelakaan. Ketika itu para survivor sedang menunggu dalam hening dan dingin dengan iringan lagu Ave Maria yang diputar dalam siaran radio. Mereka sepertinya udah benar-benar di mode sangat pasrah. Tiba-tiba penyiar menyela siaran dengan menyampaikan sebuah informasi bahwa dua penumpang korban kecelakaan pesawat AU Uruguay, Nando dan Roberto udah tiba di Chili dengan membawa berita bahwa ada 14 survivor lain yang masih hidup dan menunggu di bangkai pesawat untuk diselamatkan. Ketika mendengar hal itu, harapan hidup mereka pun kembali. Mereka mulai menyikat gigi, memakai krim rambut dan menyisirnya. Saking udah lama nggak merawat diri, sisirnya sampai patah :')
Ketika satu persatu nama survivor disebut, kamera juga menyorot wajah mereka satu persatu. Setelah itu mereka mendengar suara helikopter mendekat, hingga akhirnya terbang rendah di atas mereka. Ketika itu lah mereka langsung bersorak sorai merayakan penyelamatan itu. Asli, merinding dan terharu banget. Bayangkan, sepanjang film kita diajak ikut stres mengikuti perjuangan mereka, merasakan dinginnya, merasakan laparnya, merasakan sakitnya, merasakan sedih dan putus asanya. Jadi ketika tim penyelamat tiba, rasanya ikut lega.
Setelah 72 hari lamanya bertahan hidup di Pegunungan Andes, para survivor yang tersisa akhirnya berhasil diselamatkan. Total hanya 16 dari 45 orang yang berhasil survive. Mereka akhirnya meninggalkan gunung yang selama dua bulan lamanya telah menjadi tempat tinggal sekaligus kuburan bagi banyak teman mereka.
Oiya, ada satu hal yang lumayan menyentuh banget. Salah satu survivor, namanya Gustavo Zerbino bersikeras membawa koper saat tim penyelamat menjemput mereka. Ketika itu, salah satu anggota tim bilang, "Tinggalkan, tinggalkan semuanya! Jangan ada beban lagi". Maksudnya Gustavo disuruh meninggalkan koper itu biar helikopternya nggak overload. Tapi Gustavo malah balik lagi, lalu duduk di atas koper itu sambil bilang, "Aku tidak mau pergi tanpa koperku!"
Akhirnya karena Gustavo ngeyel, pilot pun membolehkan Gustavo membawa kopernya. Tau nggak? Aku sempat suudzon sama dia, karena selama 72 hari, dia sibuk banget ngumpulin barang-barang milik para penumpang yang meninggal, entah itu kalung, jam tangan, dan lain-lain. Kukira dia mau memanfaatkan semua itu buat keuntungan pribadinya. Ternyata apa?
Rupanya barang-barang itu merupakan kenangan terakhir yang bisa dia bawa pulang untuk menghormati teman-teman mereka yang nggak berhasil survive dan keluarga mereka yang menunggu di rumah. Benda-benda itu dia pisah-pisahkan berdasarkan nama pemiliknya masing-masing. Meskipun mereka nggak pernah pulang dengan selamat, seenggaknya ada "jejak" yang mereka tinggalkan :')
Selain itu, beberapa waktu setelah kejadian longsor di bangkai pesawat itu, Arturo Npgueira dan Numa saling berbincang. Sebuah perbincangan yang menurutku cukup menyentuh. Arturo mengungkapkan bahwa dirinya udah nggak kuat lagi. Lalu Numa bilang, "Jangan begitu Arturo. Jangan hilang iman".
Arturo menjawab, "Saat ini aku sangat beriman dibanding dulu".
Dan kalimat lanjutan Arturo membuat Numa tertegun, bahwa Arturo nggak lagi beriman dengan Tuhan yang sama dengan Numa. Karena menurutnya, Tuhan itu hanya memberi tau cara mereka di rumah, tapi nggak memberi tau gimana cara bertahan dalam kondisi mereka saat itu. Dia percaya pada Tuhan yang lain: percaya pada Tuhan yang ada di pikiran Roberto saat merawat lukanya, percaya Tuhan di kaki Nando yang berjalan di kondisi apapun, percaya keberanian Daniel saat memotong daging dan Fito saat membagikan tanpa bilang itu daging siapa. Intinya, Arturo percaya pada Tuhan yang terlihat lebih nyata di depan matanya, yakni tindakan Nando, Roberto, Daniel, dan Fito dalam menjaga mereka.
Memang benar. Meskipun mengalami cedera parah di kepala dan duka kehilangan ibu dan adik perempuannya dalam kecelakaan pesawat itu, Nando sama sekali nggak gentar. Dia selalu terlibat dalam pendakian, nggak betah hanya duduk diam. Roberto, si mahasiswa kedokteran, memanfaatkan ilmu yang dimilikinya buat merawat orang-orang yang sakit, mengobati, dan menyuapi mereka. Daniel yang berani memotong daging di tempat yang tersembunyi, biar teman-temannya nggak harus melihat dan merasa bersalah. Dan Fito yang membagikan daging sama rata tanpa menyebut nama, biar mereka nggak overthinking kalo ternyata yang mereka makan adalah teman sendiri.
Tapi sebagai orang yang beragama, tentunya aku nggak membenarkan bulat-bulat kata-kata Arturo. Karena balik lagi, doa tanpa usaha itu kesia-siaan. Dan usaha tanpa doa itu kesombongan. Sedikit banyak tetap ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Atau mungkin bisa jadi memang itu makna yang sebenarnya mau disampaikan Arturo kali ya. Bahwa doa tanpa usaha memang sia-sia, dan tindakan Nando, Roberto, Daniel, dan Fito itulah bentuk doa yang paling nyata, karena nggak cuma diucapkan, tapi juga dikerjakan.
Jujur, aku lega banget karena sepanjang film ini nggak ada satupun peran antagonis. Padahal awalnya aku sempat khawatir akan ada tokoh antagonis yang muncul dengan segala keserakahannya, misalnya menimbun makanan demi kebutuhan perut sendiri. Tapi ternyata, not at all. Semua survivor berperan baik, saling merawat, membagi makanan, menghangatkan tubuh, dan membantu orang lain selama masih mampu.
Aku suka banget dengan bagaimana film ini memperlihatkan bahwa harapan nggak selalu datang dalam bentuk keajaiban yang "wah" gitu, tapi juga bisa melalui sikap seseorang yang memilih untuk nggak menyerah, atau tetap peduli sama orang lain ketika dirinya sendiri sedang kesulitan.


































.jpeg)

- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact