Sabtu, 17 Januari 2026 0 komentar

STRANGER THINGS S5 : Akhir yang Bittersweet Dari Petualangan Hawkins

Setelah sekian lama menunggu kelanjutan petualangan Eleven, Mike, dan kawan-kawan, akhirnya Stranger Things Season 5 rilis juga. Aku sempat menuliskannya dalam satu tulisan yang lumayan panjang di Ngobrolin Stranger Things. Dan untuk Season 5 ini juga aku juga bakal menuliskan sinopsis yang panjang juga nih, dan yah bakal spoiler berat!. Well, Season 5 ini bukan cuma penutup series, tapi juga perpisahan emosional yang bikin perasaan campur aduk.

Lebih dari satu tahun berlalu setelah gerbang raksasa menuju Upside Down terbuka, kawasan itu menjadi area terbatas dan dijaga sangat ketat oleh pasukan militer yang mereka sebut Military Access Control Zone atau MAC-Z. Robin menjadi penyiar radio dengan Steve sebagai technical support-nya, Dustin masih setia dengan Hellfire Club dan sering berziarah ke makam Eddie, Lucas masih setia mendampingi Max yang masih terbaring koma dan nggak berhenti berharap, Eleven berlatih bersama Hopper untuk persiapan mengalahkan Vecna di tengah ancaman pasukan militer yang memburunya.

Well, biar nggak terlalu panjang, kita sebut The Party untuk tim Mike, Will, Lucas, Dustin, Eleven, dan Max; Steve CS untuk tim Steve, Robin, Jonathan, dan Nancy; dan Hopper CS untuk tim Hopper, Joyce, dan Murray ya.

Malam itu, The Party (minus Max), Steve CS, dan Hopper CS merencanakan penyusupan ke Upside Down melalui gerbang utama MAC-Z yang dijaga militer. Penyusupan itu dilakukan oleh Hopper dan El, dan disupport oleh yang lainnya. Tujuan mereka nggak lain dan nggak bukan adalah memburu Vecna dan membunuhnya. Namun tanpa diduga, ancaman justru hadir di dunia nyata: Holly Wheeler diculik Demogorgon, menyisakan Mr dan Mrs Wheeler yang terluka parah akibat serangan monster itu, dan rumah keluarga mereka yang porak-poranda.

The Party menduga, tragedi hilangnya Will Byers beberapa tahun silam akan terulang. Dugaan mereka diperkuat dengan kemampuan Will yang mampu "melihat" melalui mata Demogorgon dan Vecna. Will melihat Holly yang disekap di dalam dinding mirip daging dengan semacam selang di mulutnya, sama seperti dirinya dulu. Dengan kemampuan ini, Will jadi mampu membaca rencana Vecna selanjutnya. Ia yakin bahwa setelah Holly, Vecna masih akan memburu beberapa anak lainnya, hingga mencapai 12 anak. Mereka pun segera menyusun rencana pencarian Holly, dan pencegahan penculikan anak-anak lainnya terjadi. Tentunya hal itu dibantu juga oleh Steve CS dan Hopper CS.

Sementara itu, Henry a.k.a. Vecna memanipulasi pikiran Holly, seakan-akan gadis kecil itu berada di rumah Henry yang nyaman, dan segala kebutuhannya terpenuhi. Henry berpesan bahwa Holly boleh melakukan apapun di rumah itu, kecuali pergi ke hutan yang berada nggak jauh dari rumah. Henry memperkenalkan dirinya sebagai Mr Whatsit, orang yang mencoba melindunginya dari monster jahat. Namun tanpa Henry ketahui, seseorang berhasil memancing Holly masuk ke dalam hutan.

Seseorang itu adalah Max Mayfield. Iya, Holly pun tentunya heran kenapa Max ada di sana, padahal jelas-jelas Max masih terbaring koma di rumah sakit. Max menjelaskan bahwa saat ini mereka berada dalam "penjara Henry", sebuah alam yang dibangun dari sekumpulan ingatan. Selama ini Max mencoba keluar dari penjara itu, namun selalu gagal. Satu-satunya tempat aman di penjara itu hanyalah sebuah gua yang entah kenapa Henry takuti.

Long story short, penglihatan Will berkembang pesat. Ia akhirnya menyadari bahwa dirinya, Vecna, dan makhluk-makhluk dari Upside Down lainnya merupakan satu kesatuan yang selain bisa saling melihat, juga bisa saling merasakan. Bahkan lebih hebatnya lagi, Will mampu mengendalikan serangan Demogorgon. Sumpah, di bagian ini rasanya aku mau teriak banget, karena Will, sosok yang selama ini terlihat paling rapuh, jadi badass banget woi! Bahkan Joyce, sang ibu yang selama ini begitu protektif terhadapnya, mendorong Will agar memanfaatkan kemampuannya itu untuk melawan Vecna.

Selain itu, Max akhirnya berhasil "pulang" dan bangun dari komanya. Meski begitu, ia nggak bisa membawa serta Holly, dan misi penyelamatan yang dilakukan oleh The Party, Steve CS, dan Hopper CS gagal karena Vecna akhirnya berhasil menculik 12 anak ke dalam sarangnya.

Yang mereka rasa, berada di sebuah rumah yang nyaman,
padahal aslinya ada di sarang Vecna.

Dari penelusuran Dustin, Steve, Nancy, dan Jonathan di Hawkins Lab di Upside Down, Dustin akhirnya menyadari bahwa apa yang mereka pelajari tentang Upside Down ternyata selama ini salah besar. Upside Down bukanlah dunia buatan Vecna ataupun Mind Flayer, melainkan sains. Mind Flayer berasal dari sebuah dimensi yang Dustin sebut "Abyss". Sedangkan Upside Down adalah "lubang cacing/wormhole" atau jembatan yang distabilkan oleh sesuatu yang disebut materi eksotis sehingga dapat menghubungkan dunia nyata dan Abyss. Mind Flayer memanfaatkan tubuh Henry sebagai wadah, menjadikannya sosok Vecna. Dengan kekuatan yang dimilikinya, Vecna ingin menggabungkan dua dunia menjadi satu: dunia nyata dan Abyss. Dan untuk menggabungkan dua dunia secara permanen ini tentunya membutuhkan kekuatan yang sangat besar. Itulah kenapa Vecna membutuhkan 12 orang anak buat mentransfer energi ke dia.

Oh ya, aku belum cerita ya tentang Kali? Masih ingat kan, Kali Prasad a.k.a Eight yang muncul di Season 2? Seperti dugaanku (dan mungkin dugaan kalian juga), Kali akhirnya muncul kembali di season ini. Meski sempat lolos berkali-kali dari kejaran polisi, ia akhirnya ditangkap, dan ditahan oleh pemerintah Hawkins untuk menjadi subjek eksperimen Dr. Kay, ilmuwan yang meneruskan eksperimen Dr. Brenner. Dalam satu kesempatan menyusup ke dalam MAC-Z, El dan Hopper menyelamatkannya. Kali pun bergabung dengan tim dalam misi penyelamatan anak-anak sekaligus perburuan Vecna.

The Party, Steve CS, dan Hopper CS pun kembali menyusun strategi untuk menggagalkan rencana Vecna. Dan dalam menjalankan strategi itu, mereka terbagi dalam beberapa tim. Well, as always.

Mike CS (Mike, Will, Lucas, Dustin), Steve CS (Steve, Robin, Jonathan, Nancy), dan Joyce memanjat tower radio dengan baju taktikal dan senjata. Rencana mereka adalah, saat Abyss mulai turun dan puncak tower menembusnya, mereka akan masuk ke Abyss untuk menghadapi Vecna secara fisik. Sementara El, Kali, dan Max menyusup ke alam pikiran Vecna untuk menyelamatkan Holly serta 11 anak lainnya dari ritual yang dilakukan Henry.

Dengan bantuan Mr. Clarke (guru sains Mike CS) yang mengakali gerbang utama MAC-Z biar bisa diakses, dan Erica Sinclair (adik Lucas) yang memantau dari menara gereja, seluruh tim (minus Max) plus Kali berhasil masuk Upside Down naik truk yang dikendarai Murray. Dr. Kay dan pasukan militer yang mengetahui penyusupan itu pun nggak tinggal diam mengejar mereka.


Hopper, El, dan Kali sempat tertangkap oleh pasukan militer. Saat pasukan militer memblock kekuatan El dan Kali melalui helikopter, Murray melemparkan granat ke arah helikopter itu hingga meledak dan terbakar hebat. Hopper dan El pun selamat, namun sayangnya Kali tertembak oleh salah seorang anggota militer dan tewas di pelukan El. Such a heartbreaking moment, padahal momen El & Kali VS Vecna ditunggu banget! Huhu.

Di Abyss, Mike CS, Steve CS, dan Joyce berhadapan dengan Mind Flayer dalam bentuk fisik monster laba-laba raksasa. Mereka pun dengan cepat mengatur strategi untuk berpencar dan menyerang dari segala sisi. Nancy tanpa ragu maju menjadi umpan dan memancing Mind Flayer mendekat ke celah tebing yang sempit, lalu menghujaninya dengan peluru. Jonathan, Robin, Lucas, dan Mike menyerang monster itu dari atas. Jonathan menyerang dengan flamethrower, Robin menghujani dengan molotov, Lucas melepaskan balon berisi bahan bakar, dan Mike menembakkan flare gun. Api berkobar di sekujur tubuh monster, yang bisa dirasakan juga oleh Vecna, membuatnya semakin lemah. Steve dan Dustin menyerang dari bawah perutnya. Mereka menusuk benda-benda mirip telur di perut monster itu hingga pecah. Mereka berteriak, "This is for Eddie!" sambil menghantamkan ujung tombak mereka.




Sementara itu, El yang berhasil masuk ke dalam tubuh monster, menyerang Vecna dari sana. Vecna hampir aja menyerang El dengan tentacle-nya, tapi Will dengan kemampuannya, menghentikan serangan itu. Ia bahkan mematahkan satu lengan Vecna sambil berkata, "We're not afraid of you anymore!" Sumpah, scene ini tuh... super duper epic!! Melihat Will yang melawan Vecna, yang selama ini menganggapnya rapuh dan lemah, membuatku merinding sebadan-badan :')



Lalu di satu kesempatan itu, El langsung mengerahkan kekuatan kinetiknya untuk memberikan serangan terakhir bagi Vecna. Dalam satu kali hentakan, ia mendorong tubuh Vecna ke sebuah duri raksasa.

Mind Flayer terbakar hebat seiring dengan jantungnya yang menyusut. Anak-anak pun selamat. Mereka memuntahkan partikel Mind Flayer dari tubuh mereka. Apakah Vecna mati? Belum. Dia masih sakaratul maut di duri itu. Tubuhnya tertancap kuat, mulutnya mengeluarkan darah hitam. Joyce maju menghampirinya, dengan sebilah kapak di tangan. "You fucked with the wrong family", ucapnya. Lalu ia mengayunkan kapaknya kuat-kuat ke leher Vecna, disaksikan oleh Will, El, Mike, Dustin, Lucas, Jonathan, dan Nancy. Segala ingatan tentang rasa sakit dan trauma yang selama ini mereka lalui (nyawa-nyawa yang hilang, rasa takut, dan kebahagiaan yang terenggut) berkelebat di kepala mereka, seiring dengan ayunan kapak Joyce yang menghantam leher Vecna berkali-kali. Pada hentakan yang kesekian kalinya, ayunan kapak Joyce memutus kepala Vecna dari tubuhnya, membuatnya mati.


Sebelum seluruh tim dan anak-anak yang mereka selamatkan meninggalkan Upside Down, Hopper dan Murray mengatur timer bom di dekat material eksotis yang menyangga wormhole. Bom itu menghancurkan wormhole Upside Down secara permanen, membuat semua portal tertutup.

Seluruh member tim dan anak-anak selamat. Ya, kecuali Kali. Sedikit mengecewakan bagi aku dan penonton yang mengharapkan kolaborasi El dan Kali sampai akhir. Namun meski nggak bertarung sampai akhir, tanpa Kali, mungkin El dan Max nggak akan berhasil membongkar kebohongan Henry di depan anak-anak dan membawa mereka keluar dari rumah Henry. Dan El, pada akhirnya memutuskan untuk mengorbankan dirinya. Saat seluruh member keluar dari Upside Down, dia tampak berdiri di gerbang Upside Down, say goodbye sama Mike, dan membiarkan dirinya musnah bersama Upside Down agar eksperimen Dr. Kay tidak terus berlanjut.

18 bulan setelah peristiwa itu, Hawkins mulai pulih, Steve CS menjalani kehidupan barunya masing-masing, dan The Party merayakan kelulusan mereka. Dustin menjadi siswa terbaik di sekolahnya dan memberikan pidato yang berkesan. Di sini ada scene yang awkward sekaligus gemes banget. Ingat kan, di Season 2 Dustin mendapat banyak penolakan dari cewek-cewek yang ia ajak berdansa di Snowball Party? Nggak ada satupun yang mau menghabiskan waktu bersamanya di acara itu, sampai akhirnya Nancy mengulurkan tangan, mengajak Dustin berdansa sama dia. Ketika itu Nancy bilang bahwa suatu saat nanti, Dustin akan membuat cewek-cewek tergila-gila. Dan kini, kata-kata Nancy itu agaknya terbukti.

Setelah memberikan pidato dan turun dari podium, Dustin dihampiri oleh Stacy, cewek yang menolaknya dulu. Stacy memuji pidato Dustin yang keren. Kalo pujian semacam itu dilemparkan ke Dustin beberapa tahun lalu, mungkin Dustin bakal semaput mendengarnya. Tapi kali ini, wajah cantik aja nggak cukup buat seorang Dustin Henderson. Sumpah, dia savage banget waktu bilang, "Aku meniru sedikit gaya Belushi, tapi ala film-film John Hughes. Entahlah kau paham tidak?"

Dan ekspresi Stacy kayak yang bingung gitu, tapi maksa bilang, "Paham kok". But poor Stacy, Dustin is not into her anymore. Wkwkwk.

Malam itu, Mike, Will, Dustin, Lucas, dan Max menghabiskan waktu bersama, bermain D&D di basement rumah Mike. Menjelang akhir permainan, Mike yang berperan sebagai Dungeon Master menuturkan kisah akhir Penyihir dalam tokoh permainannya (dalam hal ini, Eleven) yang sebenarnya belum mati. Ia hanya menghilang dengan kemampuan ilusi yang Kali ciptakan sesaat sebelum ia meninggal untuk memalsukan kematiannya agar dapat pergi jauh ke tempat yang nggak diketahui siapapun, memulai kehidupannya yang baru.

Dengan kata lain, ending Eleven ini kayak dibuat ambigu gitu. Kita diajak untuk memilih, percaya yang mana : El masih hidup, atau musnah bersama Upside Down. Meski hanya teori, tapi Mike, Will, Dustin, Lucas, dan Max memutuskan untuk percaya. Aku pribadi sih memilih untuk meyakini bahwa El udah musnah bersama Upside Down yaa, karena aku nggak yakin kekuatan ilusi milik Kali akan bertahan sedemikian lamanya, bahkan setelah si pemilik kekuatan meninggal. 

Mereka mengakhiri permainan dengan penuh haru, dan satu persatu meninggalkan basement. Holly dan empat kawannya bergegas mengambil alih tempat itu untuk bermain D&D. Sebelum meninggalkan basement, Mike menatap kelima anak itu. Well, melihat mereka mungkin Mike seperti melihat dirinya dan teman-temannya beberapa tahun lalu.

So, this is the end. 


***

Sumpah, nggak pernah rasanya aku sesedih ini menamatkan series. Mengikuti mereka sejak masih uwu-uwu sampai dewasa kayak gini rasanya kayak melihat mereka bertumbuh. Kayaknya aku bakal susah move on deh, apalagi banyak momen emosional di season ini.

Perselisihan Dustin dan Steve.

Saat menyusup ke Hawkins Lab di Upside Down, Dustin dan Steve sempat berselisih hingga keduanya terlibat perkelahian fisik. Lalu ada satu momen di mana Steve ceroboh meletakkan tangga besi di dinding yang nggak stabil dan berpotensi runtuh, namun Steve bersikeras ingin memanjatnya meskipun Dustin udah memperingatkan. Dustin langsung menarik Steve dan memeluknya erat. Sambil menangis, Dustin bilang bahwa dirinya nggak mau kehilangan Steve seperti saat ia kehilangan Eddie. Tepat beberapa saat setelah Dustin mengucapkannya, dinding itu runtuh, menyisakan Dustin dan Steve yang tertegun.

Pengakuan Nancy dan Jonathan.

Sesaat setelah Nancy menembak material eksotis di atas Hawkins Lab di Upside Down karena mengira itu adalah lapisan pelindung yang menghalangi akses ke Vecna, dan membuat Upside Down hampir musnah, ia dan Jonathan sempat terjebak di dalam sebuah ruangan yang meleleh dan dibanjiri cairan berwarna abu-abu mirip semen dari lelehan itu. Mengira nyawa keduanya akan berakhir di sana, mereka pun saling jujur tentang hubungan mereka yang udah nggak baik-baik aja sejak di Season 4. Jonathan mengungkap bahwa selama ini dirinya nggak pernah daftar kuliah di Emerson, dia juga malas baca artikel Nancy, Nancy bilang bahwa sebenarnya dia benci The Clash (band favorit Jonathan), dia juga benci kebiasaan Jonathan yang sering telat meskipun dia nggak pernah berkomentar soal itu, dan kejujuran-kejujuran lainnya. Setelah mengungkapkan semua itu, Jonathan mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya, dan bilang, "Nancy Wheeler, would you NOT marry me?" yang disambut Nancy dengan anggukan. Mereka pun saling berpelukan dan mengucap "I love you". Jonathan melempar cincin itu, dan entah bagaimana ruangan itu berhenti meleleh. Mereka pun selamat. Aku sempat berpikir hubungan mereka bakal naik ke jenjang yang lebih serius, tapi rupanya justru sebaliknya, they officially break up, karena mereka sadar bahwa melanjutkan hubungan justru akan membuat segalanya lebih buruk.

Pengakuan Will.

Beberapa waktu sebelum berangkat ke "medan pertempuran", Will mengumpulkan seluruh tim untuk mendengar pengakuannya. Dengan gugup, ia mengungkapkan jati dirinya, tentang orientasi seksualnya yang berbeda dengan kawan-kawannya. Ketika mengungkapkan itu, ia sempat berhenti sejenak (entah menunggu reaksi pendengar, atau menyusun kata-kata selanjutnya). Ketika itu, ekspresi ibu dan kawan-kawannya tampak heran, namun Jonathan dan Robin tersenyum penuh arti, karena cuma mereka berdua yang notice soal itu. Will bilang bahwa Vecna menunjukkan padanya bahwa suatu saat ia akan ditinggalkan oleh semua orang karena orientasinya itu, dan ia takut. Mendengar itu, Joyce langsung meyakinkan Will bahwa putranya itu nggak akan kehilangannya. Lalu Jonathan, sang abang menyusul berkata, "Kau takkan kehilangan aku", lantas berdiri dan memeluknya, disusul Lucas, Dustin, Mike, dan El.

Masa Lalu Henry.

Max yang mengetahui bahwa Henry takut masuk ke dalam gua, memandu Holly dan 11 anak lainnya masuk ke dalam gua itu. Namun menyadari ritualnya yang tinggal sedikit lagi, Henry memutuskan untuk melawan rasa takutnya. Perlahan-lahan, ia masuk ke dalam gua itu, meski bayangan masa lalu berkelebat di pikirannya. Ia melihat Henry kecil yang menemukan seorang ilmuwan yang terluka di dalam gua. Henry kecil ingin menolongnya, namun ilmuwan itu tampak panik. Ia memeluk erat sebuah koper sambil mengacungkan pistol pada Henry kecil, lalu melepaskan tembakan hingga melukai tangannya. Henry kecil yang merasa dirinya diserang pun menghantamkan batu berkali-kali ke kepala ilmuwan itu. Setelah ilmuwan itu nggak berdaya, Henry kecil membuka isi koper itu. Di dalamnya terdapat batu hitam dengan garis-garis yang menyala merah. Henry kecil menggenggamnya di tangan. Yang nggak ia ketahui, batu itu berasal dari Abyss dan berisi partikel Mind Flayer. Mind Flayer pun "menginfeksi" Henry kecil melalui luka tembak di tangannya, dan mengunci kekuatan jahatnya di dalam tubuh Henry.


Will yang juga melihat dan merasakan masa lalu Henry, berbisik padanya agar melawan. "Itu bukan kau. Sama sekali bukan kau. Kau masih kecil, sepertiku. Ia memanfaatkanmu untuk membawanya ke sini. Kau sama sepertiku, Henry. Sebuah wadah. Tapi kau bisa melawannya. Bantu kami. Jangan biarkan ia menang".

Henry menangis mengingat semua itu. Scene ini menunjukkan bahwa Henry sebenarnya masih memiliki sisi manusia dalam dirinya dan punya pilihan untuk melawan Mind Flayer, sama seperti Will. Bedanya, Will punya keluarga dan para sahabat yang menjadi support system-nya, sedangkan Henry tidak. Ia memilih untuk tetap bergabung dengan Mind Flayer.


***

Entah harus senang atau kecewa dengan ending-nya yang bisa dibilang terlalu sempurna. Rasanya lega memang karena hampir seluruh member tim selamat, tapi ya gitu deh. It's too unreal nggak sih? Aku heran, kenapa yah Demogorgon terkesan pilih-pilih kalo mau nyerang? Mereka bisa menyerang para anggota militer bersenjata lengkap, bisa menyerang Mr & Mrs Wheeler hingga luka berat, tapi ditendang Lucas aja mental, bahkan mundur ketika diancam Joyce pakai kapak. Aku juga sebenarnya bertanya-tanya mengenai koneksi pikiran antara Will, Vecna dan Mind Flayer. Ada adegan di mana Will bisa merasakan ketakutan dan rasa sakit yang Vecna rasakan. Tapi di final battle, kenapa Will nggak bereaksi apapun saat Mind Flayer terbakar, Vecna sekarat, dan kepalanya dipenggal?

Selain itu, sebagian besar tokoh utama dalam series ini kan nggak punya superpower, tapi mereka bisa mengalahkan monster berkali-kali tanpa luka sedikitpun. Bahkan saat dikejar monster laba-laba raksasa. Harusnya yah, minimal ada satu orang yang keinjak, atau ketiban batu gitu 😅 Sedangkan di sini, yang kena imbas pertarungan melawan monster laba-laba raksasa itu cuma Dustin dan Steve: badannya bau telor, entah bau tahi. Wkwkwk. Yah, kolaborasi Dustin-Steve memang selalu hilarious ya? Jujur, duet mereka berdua adalah yang paling sering kutunggu. I can't imagine kalo sampai Steve mati di insiden tangga itu 🥲

Lalu apakah pada akhirnya Steve balikan sama Nancy? Jawabannya adalah TIDAK ya. Di season sebelumnya, aku memang sempat berharap mereka berdua balikan. Tapi mengetahui Steve pingin punya enam anak membuatku bersyukur hal itu nggak terjadi. I mean, yang benar aja, seorang Nancy beranak enam? Gile lu, Steve 😭 Udah benar endingnya, Nancy jadi wanita single happy. Sementara Steve, jadi seorang pelatih baseball anak-anak sekaligus guru pendidikan seks, yang yaahh cocok banget lah ya buat dia.

Daaaan, biasanya dalam film itu ada tokoh yang jadi beban, sering membuat keputusan bodoh, dan cenderung tidak menguntungkan, tapi di Stranger Things enggak. Seluruh member tim memegang peran krusial masing-masing. Mike sebagai penyusun strategi, El dan Hopper sebagai eksekutor, Dustin sebagai pemecah teori (well, semua member juga sering kasih teori dan gagasan sih, tapi Dustin lebih dominan di sini), Steve dan Murray sebagai pengemudi handal, Will sebagai penahan serangan Vecna, Robin dan Joyce sebagai moral support untuk Will, serta Jonathan, Nancy, dan Lucas sebagai fighter yang tangguh.

Mungkin memang ada scene yang membuatku (dan mungkin penonton lainnya) geregetan karena hal yang entah bisa dibilang ceroboh atau enggak. Misalnya keputusan keliru Nancy yang menembak material eksotis sehingga membuat Upside Down gonjang-ganjing dan dirinya hampir mati bareng Jonathan. Atau Lucas yang tetap memutar lagu untuk Max meskipun nyawa mereka tengah di ujung tanduk, dikejar Demogorgon bareng Robin dan pasangan lesbinya. Tapi dua hal itu nggak lantas membuatku sebal sama mereka karena "kontribusi" mereka lebih banyak ketimbang nyusahinnya. Wkwk.

Material eksotis yang "marah" pasca ditembak Nancy


Lucas tetap memutar Running Up That Hill
untuk Max meskipun dikejar Demogorgon


***

Per hari ini udah lima hari berlalu pasca nonton, dan aku belum tertarik nonton film atau series lain, malah rewatch Stranger Things season-season sebelumnya. Dan menulis ini sambil mendengarkan Running Up That Hill - Epic Version milik Samuel Kim membuatku merinding sekaligus hampa, menyadari petualangan ini udah berakhir. Menurutku, series ini bukan cuma tentang monster dan supernatural, melainkan tentang pertemanan, keluarga, tumbuh dewasa, dan menghadapi trauma bersama.

Senin, 22 Desember 2025 2 komentar

Belajar Jadi Ibu di Hari Ibu

Hari ini pertama kalinya aku menghadiri rapat orangtua murid sekaligus pembagian rapot. Dan selalu ada rasa gugup dalam setiap "pertama kali" yang kualami. Dan gugup yang ini membuatku cukup deg-degan, sama seperti saat mendaftarkan Fathian sekolah bulan November lalu, karena ini artinya aku akan bertemu dengan para wali murid, bertemu orang-orang baru. Ya, walaupun Fathian baru resmi masuk bulan November lalu, aku tetap diminta hadir. Jadwalnya pun sempat berubah-ubah: awalnya tanggal 23 Desember, lalu dimajukan ke tanggal 22, dan jamnya ikut geser dari 09.00 ke 08.00. 

Setelah aku antar Fathian ke kelas, aku langsung masuk ke office. Di sana baru ada satu orangtua. Ia duduk paling belakang, dekat pintu masuk.  Sebagai seseorang yang sulit berinteraksi dengan orang baru, sebenarnya hati nuraniku udah teriak-teriak untuk ambil tempat duduk di depan. Bodohnya, aku malah memutuskan duduk di samping orangtua murid itu setelah sebelumnya memastikan kursi itu nggak ada yang punya. Aku sempat berbasa-basi tipis khas orangtua murid. Dari situ aku tahu kalau beliau mama dari salah satu murid kelas A-Besar, yang juga merupakan koordinator para orangtua murid kalo ada patungan atau acara gitu. Tapi ya gitu, nggak ada obrolan yang mengalir di antara kami, meskipun aku mencoba memancingnya dengan satu-dua pertanyaan. Yah, mungkin dia juga canggung, sama sepertiku.

Nggak lama, datang satu mama lagi dan duduk di sebelahku, yang setelah basa-basi lagi (iya, lagi), diketahui bahwa beliau adalah mamanya Dani, murid kelas A-Kecil, teman sekelas Fathian.

Karena Dani ini teman pertama Fathian, aku langsung semangat cerita kalau Fathian senang main sama anaknya. Aku juga cerita bahwa setiap kali ditanya siapa nama teman-temannya di sekolah, Dani adalah nama yang paling pertama Fathian sebut. Dalam hati, aku berharap bisa sekalian dapat teman juga. Tapi respons mamanya… ternyata yaa biasa aja. Datar. Aku yang keburu berharap malah jadi nggak enak sendiri. Wkwk. Ya sudahlah, hidup terus berjalan. Tapi karena aku merasa awkward dan nggak enak sendiri, akhirnya saat ada kesempatan untuk pindah tempat duduk, aku memutuskan pindah ke tempat duduk yang sedikit jauh dari mereka. Harusnya kuturuti aja apa kata hati nuraniku tadi ya 😅

Rapat pun dimulai. Miss Putri, salah satu staf sekolah, menyampaikan beberapa hal penting. Kepala Sekolah yang sekarang, Ibu Madyawati, udah selesai masa tugasnya. Sementara itu, Ibu Maria—yang sebelumnya aku kira beliau adalah Kepala Sekolah—akan resign untuk fokus ke kegiatan lain. Untuk Kepala Sekolah baru, masih belum diputuskan.

Miss Put juga menjelaskan kalo di sekolah Fathian ini nggak ada pelajaran calistung. Anak-anak benar-benar “dibiarkan” main, bereksplorasi, dan berkegiatan dengan fokus melatih motorik serta kemampuan bersosialisasi. Jujur, di titik itu aku sempat galau. Kukira PAUD mengajarkan calistung dasar. Aku sempat mikir, jangan-jangan aku salah masukin Fathian ke sekolah ini? Aku khawatir pas masuk TK atau SD nanti, Fathian keteteran mengejar pelajaran. Tapi Tuhan baik banget. Secara kebetulan, aku nemu diskusi di Threads soal “PAUD vs Bimba vs TK”. Aku ikut nimbrung, baca-baca, dan dapat insight yang lumayan menenangkan. Dari situ aku baru tau bahwa PAUD memang nggak mengajarkan calistung, beda sama Bimba.

Salah satu pengguna bilang, keputusanku masukin anak ke PAUD itu justru tepat. Di sini anak bisa eksplor banyak hal, melatih jari sebelum benar-benar siap pegang alat tulis, dan menyalurkan energi. Sedangkan Bimba bisa menyusul nanti, di usia lima tahun. Setelah baca itu, rasanya kayak ditepuk pundaknya sambil dibilang, “Tenang, kamu nggak salah jalan kok.”

Singkat cerita, rapatnya sendiri ternyata nggak sampai dua puluh menit. Setelah rapat selesai, baru deh masuk ke acara pembagian rapot. Aku sempat bingung sistem pembagiannya kayak gimana. Tapi melihat para orangtua murid yang menunggu di luar kelas, aku ikut aja. Rupanya kami dipanggil satu per satu sesuai kelas.

Akhirnya Ibu Satina, wali kelas Fathian memanggilku. Karena Fathian baru masuk November, Ibu Satina bilang beliau belum bisa melihat potensi anakku itu secara utuh. Fathian masih sering malu-malu, dan kadang menolak melakukan beberapa aktivitas, misalnya menempel gambar pakai lem, atau latihan toilet training.

Tapi bukan berarti nggak ada kabar baik. Menurut beliau, Fathian punya rasa ingin tahu yang tinggi. Ia suka mengamati, bisa fokus saat mewarnai atau membentuk sesuatu dengan pasir. Sementara yang perlu dikembangkan adalah pengenalan tekstur, yang dinilai masih kurang.

Selesai pembagian rapot, aku dijemput Mas. Tadinya aku mau langsung berangkat ke kantor, tapi karena sebelumnya aku udah ijin ke kantor sampai jam sebelas siang, jadi rasanya sayang banget kalo sisa waktunya nggak kumanfaatkan untuk menjemput Fathian pulang sekolah. Akhirnya aku pun memutuskan pulang dulu.

Oiya, berapa waktu setelah pulang dari acara bagi rapot itu, mamanya Dani pamit di grup chat wali murid, bilang bahwa Dani memutuskan nggak melanjutkan sekolah di sana. Aku tentunya nggak tau apa alasannya, tapi entah kenapa aku merasa sedikit sedih, mengingat teman pertama anakku ini pamit. Ketika aku menceritakan hal itu ke Fathian, responnya biasa aja, bahkan tampaknya nggak peduli. Mungkin Fathian belum ngerti perpisahan ya. Meski begitu, bukan nggak mungkin di sekolah nanti Fathian bakal tanya, "Mana Dani?" 

Long story short, akhirnya tiba waktunya Fathian pulang sekolah. Kondisi sekolah sepi waktu itu, tapi masih ada suara anak-anak di dalam kelas. Di depan pintu kelas, aku bertemu Bu Dhedo. Beliau pun memanggil Fathian ke luar. Saat melihatku, mata anak itu berbinar. Ia tersenyum sumringah dan berseru, "Mama!"

Uuh, meleleh banget rasanya hatiku melihat Fathian yang sehappy itu : bilang "mama" berulang-ulang, dengan senyum yang terus mengembang. Mungkin karena ini bisa dibilang momen langka, baik untukku, ataupun Fathian, mengingat selama ini aku selalu jadi bagian yang mengantar dan meninggalkan Fathian di sekolah, sedangkan menjemput Fathian pulang sekolah menjadi tugas papanya.

Jujur, pulang dari acara bagi rapot tadi membuat perasaanku campur aduk banget. Hari ini Hari Ibu. Nggak ada bunga, nggak ada ucapan khusus. Tapi duduk di depan wali kelas anakku, mendengar cerita tentangnya, dan melihat senyum anakku saat aku menjemputnya tadi rasanya cukup menenangkan hati. Terima kasih udah tumbuh sejauh ini ya, Nak. Mama bangga banget sama kamu ❤️

Selasa, 11 November 2025 0 komentar

Sehari yang Panjang di Salaka Land

Pagi ini aku berangkat ke kantor dengan perasaan setengah santai, setengah waswas. Santai karena acaranya nggak sebesar tahun lalu, waswas karena pengalaman mengajarkanku satu hal: acara kantor jarang berjalan benar-benar sesuai rencana. Dan benar aja, hari ini banyak kejutan kecil yang layak dikenang.

Aku sedikit bersyukur karena di perayaan HUT perusahaan tahun ini, nggak segedebak-gedebuk tahun lalu. Walaupun yaaah, di H-1 aku tetap repot dan terpaksa lembur juga sih karena ada beberapa hal yang perlu kupersiapkan untuk ditampilkan lewat presentasi Power Point. Kenapa nggak dipersiapkan jauh-jauh hari? Well, beberapa hari sebelumnya aku udah bertanya sama rekan kerjaku, bakal ada yang ditampilkan nggak? Beliau jawab, nggak ada. Katanya aku hanya perlu mempersiapkan slide show Power Point yang biasa ditampilkan untuk ceremonial meeting bulanan aja. Eh, benar aja. H-1 beliau baru ngasih instruksi ini itu :')

Singkat cerita, tibalah hari keberangkatan. Sekitar jam setengah delapan pagi, aku dan adikku, Hardi, tiba di kantor. Dan rupanyaaa, kami hampir aja telat. Mas Dian, Office Boy kantor baru aja mau menutup gerbang kantor sebelum aku keburu mencegahnya. "Mau ambil laptop dulu, Mas", ucapku sambil berlari masuk. Aku pun bergegas naik ke lantai dua, menuju ruang kerjaku. Lorong kantor udah gelap semua waktu itu. Setibanya di depan pintu ruang kerjaku, aku baru sadar bahwa pintu ruangan itu udah dikunci oleh Mas Dian. Akhirnya aku terpaksa turun lagi deh untuk minta kunci. 

Haahh, boro-boro mau ngecek ulang hasil presentasi Power Point yang kemarin kubuat, sempat ngeprint form absensi manual dan ambil barang-barang yang perlu dibawa aja udah syukur banget.

Setelah mengambil laptop dan segala hal yang perlu dibawa, aku pun bergegas melompat ke jok belakang motor Hardi, lalu menuju lokasi di mana acara akan digelar. Aku bertugas mengawasi Google Maps dan mengarahkan Hardi mengenai rute perjalanan kami.

Perjalanan terasa jauuuuh banget. Aku nggak tau juga sih apakah memang sejauh itu, atau karena kami kelewat satu belokan gara-gara aku telat kasih tau Hardi. Wkwkwkwkwk. Intinya gara-gara itu, kami jadi lewat jalan perkampungan dan selebihnya sawah-sawah yang cukup sepi sama kendaraan lewat gitu.

Setelah menempuh perjalanan lebih dari setengah jam, kami pun tiba di Salaka Land. Kami pun memarkirkan kendaraan di tempat yang udah disediakan. Dari situ, kami perlu berjalan lagi menaiki puluhan anak tangga buat tiba di resto tempat acara digelar. Di sana, udah lumayan banyak juga yang hadir. Beberapa bahkan udah ada yang duduk santai sambil menyesap kopi.

Aku langsung mencari meja yang dekat dengan stop kontak. Maklum, baterai laptopku udah harus banget diganti. Alhasil laptopku nggak bisa nyala kalo nggak dicolok. Di situ aku ngecek ulang file Power Pointku, juga memastikan musik-musik yang udah dipersiapkan bisa diputar. Cukup lama juga aku berada di situ bareng rekan-rekan lainnya. Ada yang ngopi, ngeteh, merokok, ada juga yang menikmati singkong dan ubi rebus yang disajikan panas-panas di atas nampan bambu oleh pihak resto. Padahal berdasarkan rundown acara, harusnya saat itu aku udah naik ke lantai tiga buat memutar musik sambutan. Tapi sayangnya saat itu perlengkapan sound belum siap.

Sekitar jam sembilan, aku naik ke lantai tiga bersama Viona. Kami ikut nimbrung Pak Ikin dan Pak Dicky yang sedang mempersiapkan sound dan layar LED. Kami juga bekerjasama untuk menempelkan nomor urut tempat duduk di atas rumput sintetis yang nantinya akan jadi tempat lesehan kami sepanjang acara berlangsung. Pihak resto juga udah mempersiapkan beberapa lembar daun pisang yang ditata melingkar, karena nantinya kami akan menikmati hidangan dengan cara bancakan. Tujuannya adalah agar kami bisa berbaur dengan rekan-rekan yang lain, nggak terpisah-pisah sama geng atau circle masing-masing.

Setelah selesai menempelkan nomor urut tempat duduk dan memutar musik, aku dan Viona pun turun ke halaman. Di sana, rekan-rekan kami udah berkumpul untuk melakukan sesi bakar dokumen. Hah, bakar dokumen?

Iya. Ini adalah acara simbolis untuk menegaskan bahwa kami akan beralih dari cara kerja konvensional ke cara digital. Nggak ada lagi arsip dokumen bertumpuk di gudang yang berpotensi rusak dimakan rayap. Sebagai gantinya, sebagian besar pekerjaan kami akan didukung aplikasi berbasis web, dengan harapan operasional kantor akan lebih efisien.

Kami berbaris rapi sambil masing-masing membawa satu dokumen lama di tangan. Lalu satu persatu dari kami maju, mengucapkan sepatah dua patah kata, sebelum akhirnya memasukkan dokumen ke dalam perapian. Setelah itu, kami menandatangani spanduk acara dengan spidol hitam sebagai bukti bahwa kami telah menyetujui perubahan ini.

Setelah sesi pembakaran dokumen, kami semua naik ke lantai tiga untuk memulai acara perayaan HUT. Acara dibuka dengan pembacaan doa, dilanjut menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars perusahaan bersama-sama. Jujur, saat itu aku khawatir banget lagu yang diputar bakal putus-putus, karena selama persiapan sound tadi, laptopku terkendala dengan koneksi ke speaker bluetooth yang udah dipersiapkan. Entah karena posisi yang terlalu jauh, atau gimana, aku juga kurang paham. Tapi alhamdulillah, kekhawatiranku nggak benar-benar terjadi.

Meskipun begitu, tapi masalah musik yang putus-putus ini tetap kualami juga. Entah kenapa koneksi speaker bluetooth ke laptopku itu putus-nyambung, sehingga musik yang kuputar berhenti, tapi kemudian speaker memainkan lagu yang sama sekali nggak ada di playlistku. Besar kemungkinan speaker bluetooth itu otomatis tersambung ke perangkat lain. Mana lagunya aneh-aneh pula. Viona udah berkoar-koar kepada para peserta untuk mematikan bluetooth di perangkat mereka masing-masing, juga memastikan pihak resto melakukan hal yang sama. Tapi yah, entah kenapa tetap seperti itu.

Selain itu, saat tiba waktu untuk sesi undian doorprize, aku sempat panik karena kantong plastik hitam tempat aku menaruh nomor-nomor undian, hilang entah ke mana. Aku merogoh tasku, juga tas laptopku. Aku berjalan berkeliling mencari keberadaan kantong plastik itu, bolak-balik lantai tiga ke lantai satu, bahkan dua kali menyisir halaman di mana kami bakar dokumen tadi, hasilnya tetap nihil : plastik hitam itu nggak ketemu juga. Sementara Pak Imam udah ngomel-ngomel. Saat aku kembali ke lantai tiga dengan hopeless, tiba-tiba Viona melemparkan benda yang kucari-cari itu ke tanganku. Rupanya benda yang kucari itu terselip di antara barang-barang bawaan kami. "Thank you for saving my life", ucapku padanya, yang dia balas dengan cibiran meledek.

Singkat cerita, sesi undian doordprize pun dimulai. Pembagian doorprize ini nggak serumit undian tahun lalu yang bergantung pada banyaknya kupon prestasi. Tahun ini, MC cukup mengundi beberapa nomor, memanggil para pemilik nomor tersebut, lalu meminta para pemilik nomor untuk mengambil satu gulungan kertas dalam akuarium. Siapapun yang mendapatkan gulungan kertas berisi tulisan hadiah, dia berhak atas hadiah itu. Sedangkan pemilik nomor yang mengambil gulungan berisi tulisan yang menyatakan ketidakberuntungan, yaa dengan terpaksa harus pulang dengan tangan hampa. Aku alhamdulillah mendapatkan satu unit lampu emergency 😆

Menjelang sore, hujan turun. Awalnya hanya berupa rintik-rintik, tapi kemudian menderas hingga lantai tiga yang berupa ruangan semi indoor itu tempias. Aku pun bergegas mengamankan laptopku agar nggak basah. Pak Ikin, Pak Dicky, dan kru lainnya juga segera mengamankan LED, speaker, kabel-kabel, juga makanan biar nggak mandi mendadak.

Karena hal itu, sepanjang sisa acara, kami nggak lagi pakai slide show PowerPoint dan lagu dari laptop. Lagu pengiring kami play dari Youtube di HP aja, sementara pengumuman prestasi karyawan terbaik dan reward karyawan terloyal hanya disampaikan secara lisan melalui MC. Daaan itu artinya, file PowerPoint yang kubuat kemarin sampai lembur di kantor itu percuma, nggak kepakai 🥲

Setelah pengumuman karyawan terbaik dan terloyal, acara dilanjut dengan tukar kado. Sebelumnya seluruh peserta diminta untuk menyiapkan kado senilai minimal sepuluh ribu rupiah yang dibungkus dengan kertas polos warna coklat. Aku menghadiahi sebuah wadah pulpen dari kain dan 15 buah pulpen dengan bentuk-bentuk unik. Sebenarnya aku berharap penerimanya adalah orang staf, mengingat staf adalah orang-orang yang paling sering menggunakan sekaligus kehilangan pulpen. Tapi ternyata yang mendapatkannya adalah sales. Aku sendiri mendapatkan sebuah steker T 3 lubang. Entah apa hubunganku dengan steker T 3 lubang. Jujur, ini kedua kalinya aku mendapatkan benda itu dari acara tukar kado 🙃

Setelah tukar kado, Viona dibantu Mbak Eka, sekretaris direksi, untuk membagi-bagikan souvenir berupa tumbler kaca dengan logo tema acara hari ini. Di dalam tumbler itu juga ada kejutannya. 3 peserta beruntung mendapatkan voucher uang yang bisa ditukarkan ke kasir, dan beberapa peserta apes mendapatkan kertas yang berisi "hukuman" untuk memainkan games. Alhamdulillah, aku menjadi salah satu peserta yang beruntung. Wkwk. 

Acara gathering akhirnya ditutup dengan doa dan berfoto bersama. Tadinya sih mau ada acara berenang dan main game di air, tapi karena hujan, acara itu terpaksa dibatalkan. Tapi panitia nggak melarang kalo pun ada peserta yang mau berenang. 

Hujan masih rintik-rintik ketika kami pulang, dan perjalanan terasa mencekam. Gimana enggak? Udahlah hujan, magrib, lewat area pesawahan yang sepi dan tanpa penerangan pula. Meski merinding dengan suara serangga dan kodok sawah yang terdengar nyaring sepanjang area pesawahan yang kami lewati itu, jujur kami lebih takut lagi kalo-kalo ada begal atau celaka di jalan karena kondisi jalan yang benar-benar gelap. 

Setelah melalui jalan-jalan dengan suasana sepi mencekam, rasanya lega banget saat kami masuk ke area jalan besar yang banyak dilalui kendaraan. Hujan rupanya turun merata, karena wilayah kota sama basahnya. Bahkan kawasan Mohammad Toha yang biasanya ramai banget sama para pemburu kuliner terlihat sepi. Saking sepinya, aku dan Hardi sempat kaget saat melihat seorang pria dengan jas hujan warna putih menutupi badannya dari ujung kepala hingga kaki, tengah berdiri diam di sebelah gerobak salah satu pedagang. "Kirain pocong", ucap adikku yang segera kuiyakan. Sumpah, rasanya mak 'deg' gitu lho, kayak dapat jumpscare. Lagian kok ngide banget pakai jas hujan warna putih yang kontras banget sama warna kulit dan gelapnya malam 🥲

Well, meski penuh drama kecil, salah teknis, dan deg-degan, gathering tetap menyisakan kesan. Bukan karena acaranya sempurna, tapi karena dijalani bersama. Kadang yang paling diingat bukan rundownnya, tapi momen-momen absurd di antaranya. 

Jumat, 04 Juli 2025 0 komentar

SQUID GAME SEASON 3 : Ketika Detektif Lebih Cocok Jadi Dora The Explorer

Setelah digantung di Squid Game Season 2, akhirnya Season 3 muncul nih, menjawab semua rasa penasaran para penikmat film survival thriller ini tentang gimana sih akhir dari perjuangan Seong Gi-hun di Squid Game Arena yang penuh kebrutalan dan dilema ini?

Pemberontakan dan penyerangan terhadap orang-orang di balik Squid Game yang dipimpin oleh Gi-hun menyebabkan banyaknya prajurit dan pemain Squid Game yang gugur, terutama para pemain yang ada di pihak Gi-hun. Gi-hun yang berhasil dilumpuhkan, dibawa kembali ke bangsal. Dan karena dianggap sebagai otak dari pemberontakan, prajurit Squid Game memborgol kedua tangannya di sisi ranjangnya untuk membatasi geraknya. Namun meski begitu, tentunya Gi-hun tetap diberikan hak untuk memvoting dan mengikuti permainan. Squid Game dengan cepat merekrut prajurit-prajurit baru untuk menggantikan prajurit mereka yang gugur, sementara permainan tetap berlanjut. 

Pasca pemberontakan itu, Gi-hun merasa sangat frustrasi. Ia marah pada diri sendiri. Ia terpukul atas kematian dua sahabatnya : Jung-bae, dan Young-il (yang sebenarnya masih hidup, karena dia adalah si frontman yang menyamar, Hwang In-ho). Namun rasa marah yang lebih besar ia rasakan terhadap Dae-ho, pemuda yang diberi amanah kembali ke bangsal untuk membawakan amunisi, tapi malah jadi pengecut dan mundur dari pertempuran. Gi-hun pun menjadi dendam dan terobsesi untuk menghabisi Dae-ho.

Permainan selanjutnya adalah Petak Umpet. Pada permainan ini, para pemain dibagi dua kelompok : satu kelompok memegang kunci, kelompok lainnya memegang pisau. Pemain pemegang kunci harus lari dan bersembunyi (now let's just call them 'Penyembunyi'), sementara pemain pemegang pisau akan memburu mereka (call them 'Pemburu'). Oh ya, kunci yang dipegang oleh Penyembunyi memiliki bentuk ujung berbeda : lingkaran, segitiga, dan segi empat. Masing-masing Penyembunyi hanya diberi satu kunci, dan mereka hanya bisa membuka pintu ruang persembunyian (termasuk pintu keluar permainan) dengan lubang kunci yang cocok dengan bentuk ujung kunci yang mereka pegang. Pemain berstatus Pemburu harus membunuh setidaknya satu Penyembunyi dan dilarang untuk menyerang sesama Pemburu. Jika Pemburu nggak bisa membunuh satupun Penyembunyi, maka Pemburu itu akan gugur. Sebelum permainan dimulai, peserta dibolehkan untuk tukar posisi dengan peserta lainnya. Gi-hun yang menjadi Pemburu merasa ini adalah kesempatan besar untuknya menghabisi Dae-ho yang menjadi Penyembunyi dalam permainan ini.

Benar aja, saat permainan dimulai, Gi-hun nggak memburu siapapun selain Dae-ho. Sampai satu waktu, di mana Dae-ho benar-benar terdesak, dia nggak punya kesempatan apapun selain melawan. Ia mengkonfrontasi Gi-hun bahwa banyaknya pemain yang gugur adalah karena Gi-hun berambisi untuk memenangkan permainan sendirian. Mereka pun berkelahi dengan sengit yang berujung pada kematian Dae-ho di tangan Gi-hun.

Oh ya, di postinganku sebelumnya tentang Squid Game Season 2, aku menyebutkan bahwa aku menjagokan Hyun-ju, karakter transgender yang merupakan mantan tentara, di series ini. Dalam permainan ini, ia menjadi peserta pemegang kunci bersama Jun-hee si perempuan hamil dan Geum-ja si ibu tua. Sebagai yang terkuat di antara dua peserta yang rapuh ini, Hyun-ju memimpin di depan. Ia memegang tiga kunci : kunci miliknya, milik Jun-hee, dan milik Geum-ja, yang secara kebetulan memiliki tiga bentuk berbeda : segitiga, segi empat, dan lingkaran. Jun-hee dan Geum-ja mempercayakan kunci mereka dipegang oleh Hyun-ju karena hal itu memungkinkan mereka buat membuka pintu tempat persembunyian dengan lebih cepat.

Di tengah permainan, Jun-hee terjatuh dari tangga saat tim mereka mencoba kabur dari kejaran Pemburu. Hal ini menyebabkan pergelangan kaki Jun-hee cidera parah. Mereka bertiga pun bersembunyi di dalam sebuah ruangan. Namun ketegangan mereka nggak hanya sampai di situ. Air ketuban Jun-hee tiba-tiba pecah, dan ia terpaksa harus melahirkan di situ. Alhasil dibagilah tugas : Geum-ja membantu Jun-hee melahirkan, sementara Hyun-ju berjaga di depan pintu. 

Singkat cerita, Jun-hee melahirkan bayinya dengan selamat. Kelahiran bayi itu disambut senyum suka cita bercampur haru dari mereka bertiga. Namun di tengah-tengah suasana haru itu, seorang Pemburu tiba-tiba masuk. Ia sempat terpaku sejenak. Well, siapa yang nggak shocked melihat seorang ibu yang baru aja melahirkan seorang bayi di tengah-tengah situasi mematikan? Saat Pemburu itu mulai menyerang, Hyun-ju langsung sigap melawan dan menjauhkan Pemburu itu dari Geum-ja, Jun-hee, dan bayinya. 

Mereka bertarung sengit hingga masuk ke ruangan lain. Meski sempat tertusuk di perut bagian kirinya, Hyun-ju berhasil memenangkan pertarungan itu setelah menghujamkan pisau berkali-kali ke dada si Pemburu. Saat akan meninggalkan ruangan itu, Hyun-ju tersadar bahwa ruangan tempat ia berada memiliki pintu keluar. Pintu itu terkunci dan hanya bisa dibuka dengan tiga kunci dengan bentuk berbeda. Masih ingat kan kalo Hyun-ju membawa tiga kunci? Ia pun segera memasukkan kunci-kunci itu dan membuka... Seketika, sebuah ruangan bercahaya terang terbuka, disusul dengan alunan lagu berirama riang, "Congratulations.. and celebrations...". Ia pun melangkah maju sebelum akhirnya menoleh ke belakang, tersadar bahwa timnya masih tertinggal.


Dengan langkah tertatih-tatih dan darah segar mengalir dari luka di perutnya, Hyun-ju menghampiri ruangan di mana timnya berada. Dengan mata berbinar dan senyum lebar, ia kabarkan pada mereka bahwa pintu keluar berada nggak jauh dari situ. Namun belum sedikit pun Jun-hee dan Geum-ja beranjak dari duduknya, seseorang menusuk pinggang Hyun-ju dari belakang berkali-kali hingga tewas, memupuskan harapan tim mereka untuk keluar bersama dari permainan. Sumpah, scene ini tuh heartbreaking banget. Bayangkan, alih-alih mengambil kemenangan yang udah di depan matanya, Hyun-ju memilih untuk menjemput timnya, karena dia nggak mau menang sendirian. Dan yang lebih menyesakkan lagi, yang membunuhnya adalah Myung-gi, mantan pacar Jun-hee yang juga merupakan ayah dari bayi yang dilahirkannya. 

Beberapa saat sebelum permainan Petak Umpet dimulai, Jun-hee yang seharusnya menjadi Pemburu, bertukar posisi dengan Myung-gi yang harusnya menjadi Penyembunyi. Myung-gi yang memintanya duluan, karena dia tau mantannya itu bukan tipe orang yang tega membunuh orang. Myung-gi juga berjanji akan melindungi Jun-hee dari Pemburu lain. Tapi keserakahan nampaknya membuat Myung-gi lupa. Meski udah berhasil membunuh satu Penyembunyi, Myung-gi nggak lantas berhenti. Ia terus memburu Penyembunyi lainnya, biar dia bisa dapat duit lebih banyak, hingga tanpa sadar dia membunuh orang yang justru paling peduli dan protektif terhadap Jun-hee, dengan pisau yang Jun-hee berikan padanya. Haiiissh, Hyun-ju's death left me traumatized deh, kayak kematian Ali di Season 1 dulu. Huhu. 

Permainan Petak Umpet juga meninggalkan kesedihan mendalam untuk Geum-ja. Putranya yang menjadi Pemburu gugur dalam permainan karena nggak bisa membunuh siapapun. Beberapa waktu sebelum permainan berakhir, ia sempat menemui Geum-ja dan berniat untuk menghabisi Jun-hee. Namun meski sangat menyayangi putranya, Geum-ja nggak bisa membiarkan ia membunuh Jun-hee. Maka ia pun menghujamkan tusuk kondenya pada punggung putranya. Hal itu memang nggak secara langsung menewaskan putranya, tapi mampu mencegah ia untuk membunuh Jun-hee. Putra Geum-ja tewas setelah timah panas prajurit Squid Game menembus tubuhnya sebagai hukuman karena gagal sebagai Pemburu. Geum-ja yang dihantui rasa bersalah karena merasa telah membunuh putranya sendiri, akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Namun sebelum kepergiannya, Geum-ja sempat mendatangi Gi-hun dan meyakinkannya bahwa Gi-hun adalah orang baik yang hadir di tengah mereka untuk menyelamatkan semua orang. Ia juga memohon pada Gi-hun untuk menyelamatkan Jun-hee dan bayinya. 

Kehilangan seorang sahabat dan seorang wanita yang telah dianggapnya sebagai ibu sendiri membuat Jun-hee merasa sangat-sangat terpukul. Ia menangis sambil memeluk erat bayinya, sadar bahwa hanya bayinyalah yang dia miliki saat ini. Di adegan ini rasanya aku pingin banget noyor kepalanya Myung-gi yang doing nothing but memandang Jun-hee dari kejauhan, such a fuckin' coward.

Kata-kata dari mendiang Geum-ja nampaknya mampu menggugah kembali nurani Gi-hun. Menjelang permainan berikutnya, ia menghampiri Jun-hee yang masih dihantui rasa bersalah karena menganggap bahwa dirinya adalah penyebab kematian Hyun-ju dan Geum-ja. Seperti Geum-ja yang meyakinkan Gi-hun, Gi-hun pun meyakinkan Jun-hee bahwa semua itu bukan salahnya, karena setiap orang memiliki keputusannya masing-masing. Gi-hun juga berkata pada Jun-hee untuk menjaga bayinya apapun yang terjadi, dan berjanji akan membantunya.


Permainan berikutnya adalah Lompat Tali. Untuk menyelesaikan permainan ini, pemain harus menyeberangi jembatan sempit dalam waktu 20 menit, sambil melompat untuk menghindari tali logam yang berputar yang kecepatannya bertambah seiring berjalannya waktu. Nggak hanya itu, di tengah jembatan juga terdapat celah yang menambah kesulitan permainan. Pemain yang gagal melewati jembatan, tentunya bakal terjun bebas dari ketinggian sebelum akhirnya tubuh mereka mendarat di lantai. Sebelum permainan dimulai, Gi-hun berlutut untuk memeriksa kondisi pergelangan kaki Jun-hee yang ternyata udah bengkak parah dengan permukaannya yang berwarna biru keunguan, sangat nggak memungkinkan buat mengikuti permainan. Namun Gi-hun mengajak Jun-hee untuk melewati jembatan itu bersama-sama (dengan cara Gi-hun menggendong Jun-hee, maybe). Sementara bayi Jun-hee akan mereka tinggalkan dulu sampai permainan usai. Tapi tiba-tiba seorang prajurit berkata, bahwa siapapun yang ada di sana adalah pemain, tanpa terkecuali. Dengan kata lain, bayi Jun-hee pun harus mengikuti permainan.

Gi-hun pun menyusun strategi baru. Ia akan menggendong bayi Jun-hee hingga ke seberang dan meletakannya di sana, lalu kembali untuk menjemput dan kemudian menggendong Jun-hee melewati jembatan. Hal ini tentunya jadi dilema besar buat Jun-hee. Saat tiba gilirannya menyeberang, Gi-hun memang berhasil membawa bayinya. Tapi apakah Gi-hun bakal mampu buat menjemput dan menggendongnya? Apalagi waktu mereka semakin terbatas, dan suasana udah chaos banget, karena pemain yang serakah berusaha untuk menghalang-halangi pemain lain untuk melewati jembatan, bahkan ada juga yang sengaja didorong jatuh oleh pemain lain begitu tiba di seberang.

Di tengah-tengah suasana chaos dan menegangkan itu, Myung-gi menghampiri Jun-hee. Dia menarik tangan Jun-hee untuk mengajaknya mulai bermain, karena sebentar lagi mereka bakal kehabisan waktu. Namun Jun-hee menepis tangan Myung-gi, masih kecewa berat karena dia udah membunuh Hyun-ju. Toh, Jun-hee juga nggak yakin Myung-gi rela berkorban untuknya. Saat Jun-hee memperlihatkan kondisi kakinya, Myung-gi hanya menatap nanar dan nggak berkomentar apapun lagi. Ia pun berbalik badan perlahan dan mulai bermain.

Waktu tersisa satu menit lebih sepuluh detik, tinggal Jun-hee seorang. Sementara Myung-gi yang paling terakhir bermain, udah berhasil sampai di seberang. Saat Gi-hun bersiap untuk menjemputnya, Jun-hee berseru agar Gi-hun tetap berada di tempatnya. Ia berjalan perlahan ke tepi 'jurang' sambil berkata bahwa Gi-hun nggak perlu menjemputnya, karena jika Gi-hun gagal menyeberang, maka bayinya pun nggak akan selamat. Jun-hee nggak ingin mengorbankan orang lain lagi. Well, menurutku keputusan Jun-hee untuk nggak menerima bantuan Gi-hun ini cukup realistis sih. Jun-hee, dan semua penonton juga pasti udah desperate dan nggak melihat kemungkinan rencana Gi-hun bakal berhasil terealisasi dalam sisa waktu sesingkat itu.
"Kau bilang padaku untuk menjaga bayiku apapun yang terjadi. Itu lah yang sedang aku lakukan saat ini. Tolong bantu aku," tuturnya sebelum ia menjatuhkan diri dan gugur, meninggalkan Gi-hun yang masih terpaku dan Myung-gi yang terisak.


Jujur, meskipun sepanjang menonton Squid Game, aku selalu menganggap Jun-hee sebagai beban orang lain, tapi melihat dia mati dengan cara seperti itu, rasanya miris juga. Ia mati dengan menyimpan banyak rasa sakit hati dan penyesalan : dua sahabatnya tewas karena melindunginya, kekasihnya meninggalkannya, dan ia telah membawa serta bayinya yang nggak berdosa ke 'neraka' itu, kemudian membebankannya lagi pada orang lain. 

Anyway, bukan Squid Game namanya kalo nggak mencetuskan ide-ide gila yang membuat para pemainnya tercengang. Kehadiran bayi Jun-hee di tengah-tengah permainan lah yang melahirkan ide gila itu. Nomor peserta 222 milik Jun-hee yang semula dinyatakan gugur, kembali masuk ke permainan. Tentu bukan Jun-hee yang bangkit dari kematian, melainkan bayinya lah yang menggantikan dirinya. Hal ini tentunya menyulut kemarahan beberapa pemain yang merasa dirugikan, karena nggak rela membagi hadiah uang mereka dengan bayi itu. Mereka pun mulai merangsek maju ke arah Gi-hun untuk merebut bayi itu dan menyingkirkannya. Namun prajurit Squid Game meletuskan tembakan peringatan dan menyatakan bahwa mereka nggak diperkenankan lagi buat melakukan kekerasan fisik antar pemain.

Malam itu, saat semua pemain tertidur, Gi-hun diundang untuk bertemu dengan frontman di ruangannya. Di sanalah si frontman mengungkapkan identitasnya, bahwa ia adalah Hwang In-ho yang menyamar sebagai pemain 001 bernama Young-il, peserta yang sangat Gi-hun percaya, sama seperti mendiang Oh Il-nam dulu. Gi-hun pun tentunya merasa dicurangi buat yang kedua kalinya. Pada pertemuan itu, In-ho memberi Gi-hun sebilah pisau. Ia menuturkan bahwa saat ini adalah kesempatan bagi Gi-hun untuk membunuh semua pemain yang tersisa dengan pisau itu, sehingga Gi-hun dan bayi Jun-hee bisa pulang dengan membawa semua hadiah. Gi-hun memang menerima pisau itu, tapi ia memutuskan untuk nggak mengikuti saran In-ho.

Tibalah Gi-hun dan para pemain lainnya di permainan selanjutnya, yakni Sky Squid Game. Pemain memainkan permainan ini di atas tiga menara tinggi berbentuk persegi, segitiga, dan lingkaran. Untuk memulai permainan di setiap menara, pemain harus menginjak tombol di tengah menara. Saat permainan dimulai, pemain memiliki waktu 15 menit untuk mengeliminasi atau menjatuhkan setidaknya satu orang pemain. Setelah 15 menit berlalu dan satu atau lebih pemain tereliminasi, sebuah jembatan akan muncul, memungkinkan pemain yang tersisa untuk pergi ke menara di sebelahnya. Jika seorang pemain tereliminasi sebelum tombol di tengah menara ditekan, maka eliminasi ini nggak akan dihitung. Jika waktu habis dan nggak ada yang tereliminasi, maka semua pemain yang tersisa akan dibunuh oleh prajurit.

Jujur, scene ini rada boring dan aneh, like, kamu dan teman-teman satu circle-mu berencana untuk menjatuhkan seseorang dari atas menara, tapi kasak-kusuknya tuh di hadapan orangnya gitu. Meski begitu, tapi rasanya tetap tegang juga karena permainan yang satu ini benar-benar menentukan gimana nasib Gi-hun dan bayi itu nantinya. Dan permainan ini juga menunjukkan bahwa kamu nggak bisa sepenuhnya menaruh kepercayaan sama circle-mu, apalagi kalo kamu tau mereka itu orang-orang yang toxic. Mungkin sekarang kalian bisa berdiskusi bareng untuk mengeliminasi seseorang, tapi sejurus nanti, saat kalian gagal mengeliminasi target, bisa jadi kamu yang bakal didorong jatuh dari menara, bahkan lebih jahatnya lagi, kamu dilumpuhkan buat jadi 'bekal' untuk dijatuhkan dari menara selanjutnya.

Singkat cerita, setelah para pemain melakukan aksi saling dorong di atas menara, mengkhianati satu sama lain, tersisalah tiga orang pemain : Gi-hun, bayi Jun-hee, dan Myung-gi. Ini adalah ronde terakhir, dan salah satu dari tiga pemain ini harus tereliminasi untuk mengakhiri permainan. Myung-gi memaksa Gi-hun untuk menyerahkan bayinya. Namun Gi-hun yang udah berjanji pada Jun-hee untuk menjaga bayinya, memilih untuk bertarung.

BTW kalian bertanya-tanya nggak sih, Myung-gi ini sebenarnya laki-laki macam apa? Jujur, aku sih dibikin bingung banget sama karakter dia. Sometimes he looks so care about Jun-hee and the baby, but sometimes he looks like an egoistic bastard who cares for himself. Tapi menurutku pribadi, dia mungkin memang peduli dan sayang sama mereka, tapi bukan peduli dan sayang yang ugal-ugalan gitu lho. Dalam situasi kepepet, Myung-gi bisa aja mengorbankan mereka berdua. Dengan kata lain, prioritasnya tetap duit dan keselamatannya sendiri. Well, how do you think, Guys?

Berbekal pisau dari In-ho, Gi-hun melawan Myung-gi di atas menara lingkaran. Mereka bertarung sengit hingga keduanya jatuh dari sisi menara. Gi-hun berpegangan pada tepi menara, sedangkan Myung-gi berpegangan pada lengannya. Namun pegangannya terlepas dan Myung-gi pun jatuh, tereliminasi. Gi-hun memanjat kembali ke atas menara. Ia tertegun melihat tombol yang belum ditekan, sehingga kematian Myung-gi nggak dihitung.

Kini hanya tersisa Gi-hun dan bayi Jun-hee. Gi-hun menekan tombol di tengah menara. Seiring berjalannya waktu, Gi-hun menghabiskan sebagian besar waktunya menggendong bayi, mencium, dan memeluknya di dadanya. Sumpah, scene ini tuh sedih banget, seolah Gi-hun mau mengucapkan selamat tinggal sekaligus meminta maaf karena cuma bisa menemani bayi Jun-hee sampai di situ. Gi-hun meletakkan bayi Jun-hee perlahan. Kemudian ia berdiri sambil melangkah mundur perlahan ke tepi puncak menara. "Kita bukan kuda. Kita manusia. Dan manusia adalah...", ucapnya sebelum akhirnya menjatuhkan diri dari sana, meninggalkan bayi Jun-hee sendiri di atas menara, menjadikannya pemenang Squid Game malam itu. Para tamu VIP Squid Game yang semula riuh dan saling bertaruh, seketika bungkam melihat pengorbanan tanpa pamrih di depan mata mereka. 




Anyway, dari tadi kita ngobrolin tentang perjuangan Gi-hun di Squid Game Arena melulu yah? Ke mana nih Jun-ho CS yang dikerahkan buat mengikuti Gi-hun dan menemukan pulau misterius? Kok sampai Gi-hun kehilangan nyawanya, mereka nggak ada satu pun yang muncul batang hidungnya? 

Well, kalo boleh jujur, I think Detective Jun-ho is the so-called hero yang benar-benar nggak penting di series ini. Sejak season pertama, dia memberi harapan besar pada penonton, but in the end dia mengecewakan kita semua. Bayangkaaaann, dia ini polisi detektif lho. Tapi dia sama sekali nggak curiga sama kapten kapal mereka yang ternyata merupakan sekutu dari Squid Game. Bahkan ketika Woo-seok mengungkapkan kecurigaannya terhadap kapten kapal mereka pun, Jun-ho tetap bebal. Dia baru sadar bahwa ucapan Woo-seok benar setelah semuanya terlambat : hampir semua pasukannya ditembak mati oleh sang kapten. Jadi rasanya yang lebih cocok jadi detektif itu si Woo-seok deh. Meski dari luar tampak seperti orang bodoh, tapi insting dan nalarnya tuh jalan gitu. Sedangkan Jun-ho, kayaknya satu-satunya hal berguna yang dia lakukan di series ini cuma menyelamatkan salah seorang peserta Squid Game yang kabur dari permainan dan sedang dikejar prajurit. Selebihnya, I think Jun-ho ini sebenarnya pulici Konoha cabang Korea :')

Setelah pencarian panjang dan mengorbankan banyak nyawa, Jun-ho akhirnya menemukan pulau misterius itu, sekaligus tempat di mana Squid Game diselenggarakan. But again, semuanya terlambat. Permainan udah berakhir dan tempat itu bakal segera dihancurkan. Ia memang berhasil menemukan kakaknya, si Hwang In-ho, tapi mereka cuma bertemu mata dari kejauhan. Jun-ho nggak sempat mengatakan apapun, kecuali, "KENAPA!?" sebelum akhirnya In-ho kembali menghilang dari pandangannya. 

Daaaaan hal yang paling kamvret di series ini adalah... enam bulan setelah tempat penyelenggaraan Squid Game dihancurkan, Jun-ho menemukan baby crib berisi bayi di ruang tengah rumahnya. Siapa bayi itu? Ya, dia adalah bayi Jun-hee, lengkap dengan sebuah amplop hitam berpita merah berisi sebuah kartu ATM dengan saldo 45,6 milyar won. Dengan kata lain, setelah semua hal nggak berguna yang Jun-ho lakukan, dia dapat give away bayi tajir, plus duit-duitnya 😭

Yah, lupakan aja lah segala ending yang membagongkan itu. Hal positifnya, dari Squid Game kita bisa belajar bahwa trauma nggak selalu bisa membuat kita mati rasa. Mungkin ada orang-orang seperti In-ho yang kehilangan empati karena mengalami trauma dari pengkhianatan dan kekejaman orang lain dan memilih untuk menjadi bagian dari orang-orang yang kejam itu, tapi kita bisa menjadi seperti Gi-hun yang juga mengalami trauma yang sama, tapi memilih untuk merespon luka dengan lebih bijak, memilih untuk tetap menolong dan berempati. Menyakitkan memang, tapi seenggaknya kita nggak lupa menjadi manusia. Dan... oh ya, satu lagi. Kalo kamu merasa rendah diri karena umur dua bulan belum bisa naik haji kayak Thoriq Halilintar, ingatlah bahwa ada bayi yang baru umur dua hari udah menang Squid Game.

Total Tayangan Halaman

 
;