Minggu, 26 Juli 2026 0 komentar

First Hellprint, First 510

What an incredible night! Dua hari lalu, tepatnya hari Jum'at 24 Juli, aku dan adikku, Hardi, menghadiri event Shout of Sound Showcase di Erion Space Kuningan. Hal ini udah kami rencanakan jauh-jauh hari sejak awal Juli lalu, itu pun adikku yang kasih info.

Hari itu, tanggal 3 Juli, Hardi ngetag aku di salah satu postingan akun Superfriends Kuningan yang mengumumkan bahwa 510, band favorit kami, akan perform di Kabupaten Kuningan. 

Well, sebelum cerita tentang pengalaman kami di sana, aku pingin menceritakan dulu gimana ceritanya aku bisa mengenal band ini.

Aku lupa kapan tepatnya, tapi waktu itu sekitar tahun 2024, salah satu rekan kerja yang satu ruangan denganku ngeplay lagu-lagu rock di komputer demi mengusir rasa kantuk. Saat sebuah lagu mengalun, aku sempat tertegun sejenak demi mendengar suara yang begitu familiar: suara Faizal "Ical" Permana. 

Tahun 2020 silam, yang kutau, Ical adalah vokalis baru Kilms (sebelumnya Killing Me Inside). Kilms kan dikenal sering gonta-ganti vokalis ya. Tapi bergabungnya Ical ke Kilms, membuatku berharap bahwa Ical akan jadi vokalis tetap di sana, karena menurutku, selama Killing Me Inside berdiri pasca keluarnya Sansan, Ical adalah yang paling pas. Dengerin deh lagu-lagu mereka yang Numb dan Do You See What I See. Astaga, cinta banget aku :')

Tapi rupanya, Kilms masih tetap dalam drama gonta-ganti vokalis ini. Tahun 2023, Ical hengkang dari Kilms. Aku patah hati, tapi juga nggak mencari tau Ical ke mana setelah itu. Aku pernah mencoba mendengar lagu-lagu Slap It Out, band Ical sebelum join Kilms, untuk mengobati patah hatiku, tapi ternyata kurang cocok. Kupikir Ical sempurna bersama Kilms.

Lalu ketika kudengar lagi suara Ical dari speaker komputer rekan kantorku itu, rasa penasaranku bangkit. Aku tanya rekan kerjaku itu. Agak lupa sih gimana percakapannya, tapi kira-kira gini:
Aku : "Ini lagunya siapa, Mas? Slap It Out bukan?"
Rekan Kerjaku: "Bukan, Put. Ini Lima Sepuluh".

Yakin banget bahwa itu suara Ical, aku pun mencari tau. Judul lagu itu "Mama", dibawakan oleh band post-hardcore bernama 510. Kucari tau siapa vokalisnya, dan rupanya benar... Faizal "Ical" Permana. Aku sempat pangling juga lihat look dia di 510, kayak beda orang, karena setauku dia kurus dan berambut gondrong. Tapi looknya di 510 lebih fresh, badannya lebih berisi. 

Setelah itu, I finally found out bahwa 510 adalah identitas baru dari Slap It Out. 510  sendiri sekilas mirip huruf "S", "I", dan "O" yang merupakan inisial dari Slap It Out. Aku pun memfollow Ical di Instagram, tapi tidak dengan band "baru"-nya.

Lalu, aku coba dengerin lagu-lagu mereka selain Mama, kayak Esa, Mimbar, Alive, Emotional Renegades (karena itu yang ada di Top Songs mereka di Spotify kala itu). Anehnya, aku masih merasa kurang klop, karena menurutku kurang "keras". Setelah itu, aku udah nggak sengajain dengar lagu-lagu mereka lagi, palingan dengar kalo diplay sama rekan kerjaku aja. Adikku yang udah lebih dulu ngefans sama mereka sampai heran, kenapa aku sesusah itu move-on dari keberadaan Ical di Kilms

Tahun 2025, 510 merilis album baru. Ical cukup sering memposting lagu-lagu barunya, sampai akhirnya aku mendengar lagu Ritual. Part lagu yang kudengar saat itu memang bagian yang "keras" ya, dan itu yang membuatku penasaran untuk  mendengar 510 sekali lagi.

Lagu ini memang dibuka dengan tenang lewat clean vokal Ical ditemani piano solo, tapi ketenangan itu kemudian terpecah oleh ledakan scream "HELP MEEEE" lalu disambut hentakan beat yang lebih agresif. Kalo boleh kubilang, dengar lagu ini tuh rasanya kayak dibawa naik roller coaster. Tenang, lalu tiba-tiba brutal, lalu tenang lagi, tiba-tiba dihentak lagi. Anehnya, hal itu yang justru membuatku jatuh cinta.

Pas part lirik yang "Follow me under the wa-teeeer" lalu disambut melodi gitar selama setengah menitan, dan disambung lirik yang dinyanyikan dengan vokal berlapis, menciptakan harmoni yang... astaga, aku susah deskripsiinnya. Vibesnya tuh kayak dengar orang yang lagi putus asa, kecewa, dan marah, lalu pas part ini muncul rasanya kayak ada harapan gitu. Lagunya berdurasi hampir enam menit, tapi sama sekali nggak membosankan buat didengar berulang-ulang.

Setelah mendengar lagu Ritual, aku menemukan Dead Clown, Collapsed, The Last Suffer, Death Parade, dan Callout yang padahal rilis sebelum Ritual ya, tapi entah kenapa aku malah lebih dulu diperkenalkan dengan lagu-lagu lain yang kubilang kurang sesuai ekspektasi itu. Padahal kalo langsung nemu lima lagu itu, hatiku bakal langsung nyangkut di mereka kayaknya. Wkwkwk.

Long story short, mereka akhirnya diumumkan bakal manggung di Kuningan. Jaraknya sekitar 38 kilometer dari tempat tinggalku. Tiketnya mulai dijual pada tanggal 8 Juli. Sebelum memesan tiket, tentunya aku meminta izin dari suamiku dulu. Kujelaskan bahwa aku akan pergi bareng Hardi, dan acaranya diselenggarakan di cafe, jadi kemungkinan besar bakal aman banget. Dan tanpa butuh merayu-rayu sedemikian rupa, ia mengizinkan. Sayangnya gara-gara menunda-nunda checkout, kami jadi kehabisan tiket presale. Nggak nyangka juga sih tiketnya bakal habis secepat itu. Jadi aku terus pantengin akun @superfriendskuningan biar gercep kalo ada info penjualan tiket kedua.

Maka di tanggal 10, sekitar jam setengah satu dini hari, 12 menit setelah @superfriendskuningan memposting pengumuman penjualan tiket online kedua, aku langsung scan barcode dan mencheckout dua buah tiket. 

Meskipun tiketnya nggak langsung kuterima sesaat setelah checkout, tapi aku merasa lebih tenang, karena ternyata itu penjualan tiket online terakhir. Setelah itu, mereka hanya punya 50 sisa tiket yang dijual secara offline tanggal 18 dan 19 Juli, masing-masing 25 tiket. FYI, penjualan tiket untuk Shout of Sound di Kuningan ini yang paling laris kayaknya, karena nggak ada penjualan tiket on the spot. Tiket milik aku dan Hardi sendiri baru kami terima di H-4.

***

Dan hari itu pun tiba. Jum'at, 24 Juli, aku berangkat kerja seperti biasanya. Sedangkan Hardi memutuskan untuk izin nggak ngantor karena ia merasa kurang enak badan sejak hari Kamis sore. Jadi ia mau istirahat sekaligus memastikan kondisi motornya cukup prima sebelum menempuh perjalanan yang bisa dibilang cukup jauh ini. Well, sebenarnya sih acaranya mulai dari jam dua siang, tapi aku nggak enak kalo ambil cuti atau izin pulang cepat mengingat bulan ini aku udah beberapa kali izin untuk urusan motherhood. Toh, aku dan Hardi cuma ngincar penampilan band utama yang kemungkinan besar bakal tampil di penghujung acara, dan mereka baru close gate jam 7 malam, so, yah masih aman lah ya.

Jam lima sore kurang lima belas menit, aku mengganti baju batikku dengan kaos hitam dan jaket jeans. Begitu bel jam kerja berakhir berbunyi, aku langsung absen keluar dan melompat ke jok belakang motor Hardi yang menunggu di warung madura sebelah kantor. Perjalanan terasa nggak membosankan, karena sepanjang jalan kami bisa melihat gunung Ciremai yang berdiri gagah tanpa terhalang awan, berpadu dengan semburat jingga. Golden hour. Aku sempat mengabadikan momen itu dengan video. Ketika itu, aku harus menggenggam hapeku dengan benar-benar erat, karena angin bertiup kencang banget. Aku khawatir hapeku terbang. Udara Kuningan yang udah dasarnya dingin pun, jadi semakin dingin.

Sekitar jam enam sore, kami tiba di lokasi. Pertama-tama, kami menuju ticket booth untuk scan tiket masuk. Kami dipakaikan wristband sebagai bukti bahwa kami adalah pengunjung resmi, dan diberi dua bungkus produk sponsor berupa rokok dan satu voucher untuk ditukar dengan sebotol kopi. Setelah itu, panitia juga memeriksa tubuh dan isi tas kami untuk memastikan kami nggak membawa makanan atau minuman dari luar, dan nggak ada barang-barang berbahaya yang kami bawa, termasuk cermin dan parfum dengan botol kaca. Karena aku membawa parfum dengan botol kaca, jadi benda itu harus dititipkan ke panitia. Kami juga diminta untuk memastikan nggak ada barang yang tertinggal di kendaraan, karena kalo udah masuk, kami nggak boleh keluar dan masuk lagi.



Setelah menjalani prosedur scan tiket dan pemeriksaan, kami pun masuk. Rupanya suasana udah lumayan rame. Nggak ada meja kosong untuk kami tempati, jadi setelah menukar voucher dengan kopi, aku dan Hardi duduk-duduk di undakan menuju venue bareng beberapa pengunjung lainnya yang juga nggak kebagian tempat. Waktu itu suasana sedang istirahat. Jujur, meski bukan pertama kalinya hadir ke acara musik (tapi ini acara Hellprint pertama yang aku dan Hardi datangi), rasanya sedikit nervous. Itu lah kenapa, selama di sana aku memutuskan untuk memakai masker, karena selain meminimalisir terhirupnya asap rokok, memakai masker juga ajaibnya bisa sedikit mengurangi rasa gugup.

Singkat cerita, acara kembali dimulai. Masih menampilkan band-band lokal. Band lokal pertama yang kami lihat saat itu adalah band punk hardcore bernama Monarki, yang membawakan lagu milik mereka sendiri berjudul "Maniak Api". Meskipun membawakan lagu sendiri, tapi beberapa penonton tampak nggak ragu maju ke depan panggung untuk melakukan moshing, atau sekadar lompat-lompat di bibir panggung. Sebagian lagi menonton dari kejauhan sambil menggerakkan kaki dan headbang tipis-tipis. Aku termasuk dalam golongan yang memilih menonton dari kejauhan ini. 

Setelah Monarki, ada penampilan dari band Ashes Vireth. Band ini menarik buatku. Vokalisnya cewek yang masih sangat belia. Usianya mungkin masih belasan atau awal dua puluhan. Wajahnya kawaii gitu, dari segi fisik lebih cocok jadi vokalis J-Pop. Tapi yang membagongkan, malam itu dia bawain lagu hardcore yang nggak ada clean vokalnya sama sekali. Badass!! 

Lalu ada One Blood. Band ini punya dua vokalis, cewek-cowok. Mereka membawakan lagu yang liriknya menyentil orang-orang yang suka cari muka di lingkungan kerja. Jujur, aku suka banget sama style vokalis ceweknya. Dia pakai outfit dominan hitam berupa outer crop asimetris dipadu inner berwarna merah, celana longgar dengan aksesori rantai perak di pinggang, turban hitam, dan gelang. Looknya kayak gothic streetwear gitu. Keren, naksir banget aku. Ini style yang kepingin banget aku pakai (kecuali bagian turban), tapi aku nggak punya cukup rasa percaya diri buat pakainya. Lagipula celana gombrong malah bikin tubuhku yang kecil dan pendek ini makin tenggelam kali yah. 

Selanjutnya ada Breeze. Vokalisnya cowok, dan punya vokal yang unik. Suaranya tinggi melengking gitu. 

Yang terakhir, ada Twistlet. Band yang vokalisnya cewek berkacamata ini membawakan lagu yang liriknya lagi relate banget sama kondisi negeri kita saat ini, judulnya Hajar Jahanam. 

Oiya, setiap kali jeda pergantian band, MC bakal mengisinya dengan mewawancara satu pengunjung yang datang. Lucunya, setiap kali MC mencari satu pengunjung buat diwawancara ini, orang-orang, termasuk aku dan Hardi bakal mundur menjauh, karena takut bakal dipilih. Wkwkwk. Sebenarnya MC cuma nanya-nanya sedikit dan sesimple, "Tujuan datang ke sini mau lihat performnya siapa?", atau "Gimana kesannya datang ke acara ini?", tapi kadang MC juga iseng minta yang diwawancara buat nyanyi atau two-step gitu. Wkwk.

Sekitar jam setengah sembilan, naik Mustika Kamal. Vokalis band W.A.I.T yang juga akrab dipanggil "Mimi" ini adalah salah satu guest yang aku tunggu performancenya. Sayangnya aku kurang cepat mengambil tempat di dekat stage. Malam itu dia menciptakan emo night vibes dengan mengcover tiga lagu: I Don't Love You (MCR), Decode (Paramore), dan All The Small Things (Blink-182). I Don't Love You pecah bangeeett doong, karena hampir semua penonton ikut sing along. Malam itu aku baru banget merasakan betapa puasnya menyanyikan lagu favorit selepas itu, sangat berbeda rasanya dengan cuma karaoke. Entahlah, aku juga bingung gimana menjelaskannya. Yang jelas kayak ada sensasi berdebar-debarnya gitu.

Penampilan Mustika Kamal membawakan "Decode" 

Setelah penampilan seru Mimi, ada jeda sekitar setengah jam sebelum penampilan puncak dari band utama, 510. Jeda yang lumayan panjang ini membuat kerumunan penonton di depan stage melonggar, sehingga memberi kesempatan untuk aku dan Hardi untuk maju. Sambil menunggu, kami berfoto-foto sejenak. Awalnya Hardi yang memfotoku, dia sendiri nggak mau aku fotokan. Malu. Lalu tiba-tiba sepasang cowok-cewek menawarkan diri untuk memfotokan kami berdua. Hardi sedikit ragu, tapi kubujuk, buat kenang-kenangan. Apalagi meskipun sibling, kami jarang banget berfoto bareng, khususnya foto berdua gitu. Setelah mengambil foto dua kali, aku gantian memfotokan mereka berdua. 

Di menit-menit terakhir menjelang 510 naik, Hardi mendorongku semakin mendekat ke depan panggung. Nggak di depan panggung banget sih, tapi bisa dibilang cukup dekat lah. Tiba-tiba...
"Lho, Putri!" seorang laki-laki di sebelahku tampak terkejut melihatku. Surprisingly, dia mengenaliku meskipun aku memakai masker. Eh tapi mungkin karena ada Hardi juga sih. Dia merupakan kenalan kami. Tapi ketika itu, jujur aku agak canggung karena saat itu dia terlihat dalam kondisi teler, yang kurasa bukan teler karena minuman mengingat cafe itu nggak menjual minuman beralkohol, dan nggak memperkenankan pengunjung membawa minuman dari luar. Setauku dia mengkonsumsi obat psikiatri untuk mengatasi gangguan kecemasan. 15 tahun silam, aku pernah punya kenalan lain yang juga mengkonsumsi obat-obatan semacam itu untuk mengatasi masalah yang sama. Dia bilang efeknya bisa membuat seseorang menjadi seperti "zombie". Aku nggak tau apakah "zombie" yang dia maksud adalah "teler" seperti itu. Tapi kalo dikonsumsi sesuai resep dokter, harusnya nggak akan seteler itu kan? Well, entahlah.

Anyway, tibalah saatnya Ical CS perform. Musik Where Do We Came From mengalun. Kami dag-dig-dug menunggu para personil muncul, sebelum akhirnya mereka naik satu per satu. Ical muncul paling akhir. Ketika ia naik sambil melambaikan tangannya, aku menjerit, "ICAAAALL!!", yah meskipun aku sadar banget suaraku nggak akan terdengar sama dia. Wkwkwk. Aku bersyukur banget karena di posisiku itu, aku bisa melihatnya dengan cukup jelas, meskipun kadang juga ketutupan kepala orang. Hahaha. Malam itu dia mengenakan celana jeans panjang warna hitam, dan kaos raw hem sleeveless warna abu-abu gelap, sehingga terlihat jelas tato-tato di lengannya. 

Setelah cukup dengan dadah-dadahan itu, Ical mengangkat mikrofon ke depan mulutnya dan berteriak, "WE'RE ALL...!" dan langsung disambut penonton, ".... DISASTER! SO COME LIT UP THE FIRE!!"
Sejurus kemudian, barisan penonton pun mulai membentuk crowd wave di mana kami melompat dan headbang bareng mengikuti hentakan lagu Collapsed.

"Collapsed" 

The Last Suffer dan Mama menambah atmosfer menjadi lebih panas. Di bagian chorus Mama, semua penonton ikut sing along. 

Yang paling kusuka adalah saat Dead Clown dan Ritual. Gila, pecaaaahh banget! 

Di tengah-tengah Dead Clown, seperti yang sering kulihat di video performance mereka sebelumnya, tiba-tiba muncul seorang tokoh badut. Badut ini mondar-mandir di atas stage, berinteraksi dengan kami dan juga Ical, sampai akhirnya menjelang klimaks, Ical melakukan adegan seolah-olah meng-headshot si badut. Well, meskipun ini bukan pertama kalinya aku lihat adegan itu, tetap aja rasanya seru banget ditonton secara langsung. Apalagi si Ical benar-benar pakai properti berupa pistol mainan gitu. Ya know, kayak lagi nonton sebuah pertunjukan teatrikal yang diselipkan di tengah konser.

Detik-detik menjelang Mr Clown
di-headshot di "Dead Clown"

Masuk ke Ritual, suasananya berubah lagi. Seperti yang udah kuceritakan sebelumnya, lagu ini memang favoritku sejak pertama kali mendengarnya. Tapi melihatnya dibawakan secara live ternyata jauuuuh lebih memuaskan. Di bagian klimaks, aku melihat sebagian penonton udah membentuk circle pit. Lalu beberapa penonton cowok mulai berlari memutari lingkaran itu sebelum akhirnya saling bertabrakan dan moshing. Lumayan brutal sih kelihatannya, tapi tetap terkendali. Posisiku tepat berada di depan circle pit itu. Jujur sempat deg-degan juga takut tiba-tiba ada yang menabrakku. Untungnya enggak. Alhamdulillah.

Circle pit saat "Ritual" 

Surprisingly, aku juga suka banget vibe saat Mimbar dibawakan. Lagu ini bukan lagu 510 yang sering kuputar, karena kurang sesuai ekspektasiku. Tapi ternyata... this song hits different when it's played live. Asli, merinding banget waktu masuk bagian piano + petikan gitar gitu, lalu hampir semua penonton kompak menyanyikan part,

"Ku tau kau memikulnya... kurasakan hal yang sama... Kita terkurung dalam duka lara..."

Mendengar penonton sing along di bagian itu sambil mengangkat tangan ke udara benar-benar menciptakan suasana yang susah dijelaskan. Momen itu jadi salah satu favoritku malam itu.

"Mimbar" live hits different <\3

Nggak terasa, satu demi satu lagu berlalu. Malam itu 510 membawakan sebelas lagu secara berurutan: Where Do We Came From, Collapsed, The Last Suffer, Mama, Plastic Faith, Esa, Sorry, Dead Clown, Ritual, Mimbar, dan ditutup dengan Emotional Renegades. Menurutku susunan setlistnya enak banget. Energinya naik terus, sempat diturunkan sedikit di Esa, dibikin galau massal di lagu Sorry, lalu dibakar lagi sama Dead Clown dan Ritual, agak turun lagi sedikit di Mimbar, lalu ditutup lagi dengan ledakan energi di Emotional Renegades.

BTW ada momen lumayan berkesan saat 510 membawakan lagu terakhir ini. Menjelang akhir lagu, Ical tiba-tiba membalikkan badan membelakangi penonton, lalu menjatuhkan dirinya ke arah kami. Stage dive!

Untungnya aku nggak berada tepat di bawah posisi saat ia menjatuhkan diri. Tapi tangan-tangan penonton yang menopang tubuh Ical perlahan menggiringnya ke arah tempatku berdiri, membuatnya crowd surfing di atas kami. Dan tau-tau... aku berada tepat di bawah punggungnya. Wkwkwkwk. Untung tubuh seukuran botol Yakult ini nggak ketimpa beneran. Yah, cuma oleng dikit.

Momen Ical stage-diving di
"Emotional Renegades" 

Sepanjang penampilan 510 itu juga, Hardi always had my back. Posisi dia selalu berdiri tepat di belakangku. Kadang kedua lengannya terulur di kanan dan kiriku buat menghalau orang-orang yang terdorong saat moshing. Bahkan kenalan kami yang teler itu berkali-kali melakukan crowd surfing, dan berkali-kali juga jatuh menimpa penonton. Jadi keberadaan Hardi di belakangku lumayan menyelamatkanku sih.

Oiya, karena malam itu Mustika Kamal dan 510 sama-sama menjadi special guest, aku sempat berharap mereka bakal membawakan Deeper Than The Ocean. Tapi ternyata, enggak. Yaah, bisa dipahami sih. Lagu itu terlalu mellow. Kalo dibawakan di tengah gigs yang sedang panas-panasnya, mungkin malah jadi kurang pas yah.

Anyway, soal kenalan kami itu, ada satu hal yang baru kami sadari setelah acara selesai.

Pas awal ketemu di tengah kerumunan, dia sempat ngomong sesuatu soal "dokumentasi". Karena dia ngomong sambil teler, aku dan Hardi sama-sama nggak menangkap apa maksudnya. Setelah acara selesai kami baru ngeh. Rupanya yang dimaksud "dokumentasi" itu adalah foto bareng para personil 510 dan teman-teman komunitas 510 Squad.

Memang benar sih, mereka ada sesi foto bareng setelah acara. Tapi yaa... kami nggak nyesel juga sih nggak join. Soalnya jujur aja, bahkan kalopun waktu itu kami paham maksud ajakannya, kemungkinan besar kami tetap bakal nolak. Bukan karena nggak mau, tapi lebih karena malu dan canggung aja 😂

Sekitar jam sepuluh malam, acara akhirnya benar-benar selesai. Sebelum pulang, aku dan Hardi menyempatkan diri foto-foto sekali lagi di sekitar venue, sambil menonton hasil fancam kami, dan sesekali ngetawain suara sumbang diri sendiri yang ikut kerekam. Wkwkwk. Dari situ aku belajar, lain kali kalo ambil fancam, mending mulut ini diam kali ya 😂

Setelah itu kami berjalan menuju parkiran. Di perjalanan menuju parkir itu, kami ketemu lagi dengan kenalan kami tadi. Kondisinya masih sedikit teler. Dia sempat memanggilku dan bertanya apakah kami langsung pulang malam itu. Setelah basa-basi bentar, aku pun pamit.

Well, kalo dipikir-pikir, lucu nggak sih? Awalnya aku sempat susah move on dari Ical versi Kilms. Bahkan sempat merasa lagu-lagu 510 kurang cocok di kupingku. Tapi beberapa tahun kemudian aku justru berdiri di barisan depan, ikut headbang, ikut sing along, menyaksikan langsung penampilan mereka, bahkan nyaris ketimpa Ical saat crowd surfing. Wkwkwk. Yah, mungkin memang benar sih ya, kadang kita butuh waktu buat jatuh cinta sama sesuatu yang sebelumnya belum bisa kita nikmati.

Dan satu hal yang paling kusyukuri malam itu bukan cuma akhirnya bisa nonton live performance 510, tapi juga bersyukur bisa hang out bareng sibling, mengingat jarang banget kami spending time berdua selama ini. Rasanya menyenangkan punya seseorang yang sama-sama menikmati musik yang kita suka.

Sumpah, puaaaas banget rasanya. I wish this isn't my last Hellprint experience🤘

Kamis, 21 Mei 2026 0 komentar

The Party's Over, But The Feelings Aren't

One Ok Rockers, masih PCD alias Post-Concert Depression? Kayaknya pertanyaan itu udah nggak perlu dijawab lagi deh ya. Siapa juga yang bisa langsung move on dari konser se-dar-der-dor itu, yekan?

Well, I didn't make it to the party, but my heart was there. Aku masih jadi penonton feed dan story orang-orang, as always :') I thank you all yang ngepost dokumentasi banyak-banyak. Euforianya benar-benar nembus layar sampai aku yang cuma nonton dari timeline aja malah ikutan PCD. Normal nggak sih? Atau ini efek doom scrolling fancam tiga hari berturut-turut? Wkwkwk. Jujur, meskipun ikut happy, rasa iri dan sedih itu tetap ada. Tapi, konser One Ok Rock kali ini buatku rasa sedihnya double karena bercampur kecewa.

FYI, aslinya aku baru dengar album Detox-nya One Ok Rock ini secara keseluruhan itu di awal April lalu, karena sebelumnya aku masih belum move on dari album Luxury Disease, hingga kemudian kabar itu muncul : CGV dan Cinepolis akan menayangkan Konser One Ok Rock DETOX Japan Tour 2025 At Nissan Stadium.

Pas baca pengumuman itu, aku langsung excited sendiri. Pasti asik banget ya kalo bisa nonton konser OOR di layar lebar dan nyanyi bareng. Fangirling pun bisa lebih diekspresikan, nggak sebatas teriakan tertahan kayak kalo nonton sendirian di Youtube. Dan karena merasa ini masih mungkin dijangkau, tanpa pikir panjang aku langsung memutuskan buat nonton. Toh walaupun nggak bisa menggantikan konser asli, seenggaknya aku bisa ikut merasakan hype-nya dengan harga yang jauh lebih realistis untuk dompet kaum mendang-mending. Wkwk.

Tapi nonton konser nggak afdol kalo nggak hafal atau minimal tau lagunya dong ya? Jadilah aku dengar semua lagu di album itu sambil terus mantengin info tentang penayangannya. Udah pede banget gitu kan bakal nonton. But my hopes ended up torn into tiny pieces. Begitu pengumuman lokasi penayangan keluar, rupanya CGV di kotaku nggak kebagian. Kenapa siiiih? Kenapaaa? Memangnya One Ok Rockers di Cirebon sesedikit itu kah? Begitu batinku.

Lalu tanggal 10 April, seseorang mengirim DM ke akun Instagramku. Isinya ajakan untuk ngevote di polling yang diadakan oleh Kimochi Management, komunitas jejepangan di kotaku. Mereka lagi cek ombak gitu buat ngajuin penayangan konser itu di CGV Cirebon kalo peminatnya tembus 60 orang. Of course, aku langsung ngevote dengan penuh harapan.

Dan yahh... setelah ditunggu berhari-hari, nggak ada kabar lanjutan lagi. Harapanku pupus untuk kedua kalinya. Kecewa. Berat. Banget, karena bahkan dalam hal yang kukira bisa kujangkau pun aku nggak punya kesempatan. 

Selain itu, mungkin salah satu alasan kenapa konser ini terasa begitu emosional buatku adalah, karena aku sadar bahwa ternyata aku udah mengagumi mereka selama kurang lebih 12 tahun. Aku memang bukan fans yang mengikuti mereka sejak awal debut sih, tapi cukup lama untuk melihat bagaimana mereka berkembang.

Aku masih ingat dulu pelafalan English Taka tuh masih "Jepang banget", kayak "from" jadi "flom", "wherever" jadi "whelevel", "everybody" jadi "evelybody".
Tapi sekarang? Kerasa banget kan perkembangan pronunciation dia? Udah jauh lebih natural dan "ngenglish" dibanding dulu. Dan entah kenapa, sebagai fans lama, melihat perkembangan itu tuh rasanya membuatku bangga :')

Bukan cuma soal kemampuan bahasa aja, tapi juga karena setelah semua kritik, perubahan musik, sampai masa-masa berat yang mereka lewati, mereka tetap bertahan dan berkembang. Makanya mungkin rasa sedih karena belum pernah nonton mereka secara langsung itu juga datang dari sana kali yaa.

Tapi hikmah dari semua ini adalah, aku jadi dengerin semua lagu di album Detox, yang ternyata sebagian besar lagu dalam album ini tuh terdengar sangat emosional.


DELUSION:ALL

Aku yakin semua pendengar pasti setuju bahwa lagu ini adalah suara hati rakyat, khususnya mereka yang frustrasi dan kecewa pada sistem dan demokrasi. Dalam lagu ini, One Ok Rock menyuarakan kritik terhadap perpecahan sosial dan politik, dan menekankan pentingnya persatuan dan perlawanan terhadap manipulasi. Dan ketika melihat bagaimana lagu ini menggema di Indonesian Arena di tengah kondisi negara yang rasanya absurd banget belakangan ini, astaga, aku merinding. Sebagai WNI, rasanya lagu ini sangat relate dengan isi hati kita sekarang ya?

PUPPETS CAN'T CONTROL YOU
Masih membawa tema serupa, lewat lagu ini, Taka CS mengkritik para penguasa yang mencoba mengendalikan masyarakat, seperti manipulasi, politisi yang nggak jujur, dan media yang bias. Lagu ini juga mengingatkan kita untuk nggak gampang tertipu oleh kebohongan yang disebarkan kepada publik, apalagi di tengah gempuran teknologi AI, di mana kebenaran dan kebohongan bisa dengan mudah dipelintir, dan... para buzzer di sekitar kita 🙃

NASTY
Ini lagu yang ketika pertama kali dengar, rasanya kayak, "Gila, liar banget". Vibes berontaknya tuh terasa banget. Aku merasa lagu ini seperti ditujukan untuk para pendengar One Ok Rock, khususnya untuk mereka yang belakangan ini ngejudge perubahan musik mereka. Kalian pasti tau kan bahwa setelah album Ambitions, banyak banget yang berpendapat bahwa One Ok Rock tuh kayak kehilangan identitas? Mereka udah nggak se-jepang dulu lagi, akhirnya banyak fans lama yang menuntut mereka untuk kembali seperti dulu. Tapi faktanya, One Ok Rock jadi mendunia karena musik mereka yang sekarang. So, lewat lagu ini tuh, Taka CS seolah mengungkapkan, "Kami udah dengar semua opini kalian. Intinya ini kami yang sekarang. Kalian mau dengar, syukur. Mau nggak dengar pun, terserah. Kami nggak peduli", gitu. Ini menurutku yaa. CMIIW. Oiya, yang "unik", One Ok Rock menyisipkan sound mirip desahan perempuan di beberapa part lagu. Jujur, aku sempat kaget pas pertama dengar (untung pakai earphones).

PARTY'S OVER
Lagu ini seperti ungkapan getir bercampur amarah dan muak atas hubungan yang membuat seseorang akhirnya benar-benar capek secara emosional. Capek ngasih kesempatan terus-menerus ke orang yang sama, capek dibohongi, dimanfaatkan, dan dikhianati berulang kali. 

TINY PIECES
Kadang kita baru bisa merasakan betapa berharganya seseorang setelaeh orang itu pergi meninggalkan kita. Mungkin itu yang diungkapkan dalam lagu ini. Lagu ini menceritakan tentang sepasang kekasih yang terjebak dalam hubungan toxic (kusebut toxic karena ada part lirik yang menyebutkan bahwa mereka bertengkar untuk masalah yang sama selama dua puluh kali), hingga akhirnya si wanita memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu, menyisakan penyesalan yang sangat dalam bagi pasangannya.

BTW aku lihat fan-project One Ok Rockers di konser kemarin. Mereka bersama-sama menyalakan flashlight yang ditempel stiker dengan warna-warna berbeda ketika lagu ini dibawakan. Indaaah banget. Dengar-dengar Taka sempat nangis yah?

DYSTOPIA
Lewat lagu ini, One Ok Rock ingin mengajak pendengar untuk nggak menyerah, tetap semangat, dan terus berpegang teguh pada iman meskipun tengah berada di masa-masa sulit dan titik terendah. 

TROPICAL THERAPY
Lagu ini kayaknya bakal jadi one of my anthems kalo lagi penaaaaat banget sih, kayak, "Ya Allah, pingin healing", karena liriknya sangat relate untuk aku dan mungkin kalian yang jenuh sama rutinitas, para budak korporat yang udah too exhausted sama tekanan pekerjaan, atau ibu-ibu rumah tangga yang overstimulated sama toddlernya yang nempel melulu. Wkwkwk. Part "My spirit is guiding me to a place where demons can't find me. I'm looking for heaven like golden gates surrounded by palm trees" tuh menggambarkan suatu keinginan yang kuat untuk berada di suatu tempat yang tenang dan indaaah banget, saking indahnya rasanya kayak ada di surga, sampai lupa sama semua rasa sakit dan hal-hal yang stressful.

+MATTER
Aku pernah membaca sebuah komik digital (aku lupa siapa pembuatnya) yang dishare di sebuah platform sosial media. Ceritanya tentang seseorang yang merasa dirinya nggak berguna dan nggak berarti bagi siapapun. Dia mengeluhkan hal itu sambil membuang air dari botol minumnya. Air itu tertampung dalam sebuah wadah. Beberapa lama kemudian, datang seekor burung yang sangat kehausan. Ia meminum air dari wadah itu, dan merasa sangat bersyukur.

Sama seperti yang digambarkan di komik itu, lagu ini maknanya dalam dan heartwarming banget. Lewat lagu ini One Ok Rock ingin mengingatkan bahwa meskipun hidup terasa berat, kita nggak pernah sendirian. Setiap individu bernilai. Mungkin banyak dari kita yang merasa nggak berarti bagi siapapun, tapi kita nggak sadar bahwa keberadaan kita berarti untuk individu lain. "Do I matter to you? You matter to me. You matter, and we all matter". 

C.U.R.I.O.S.I.T.Y
Jujur, aku kurang paham sih sama makna lagu ini. Tapi kalo dari part lirik "We can stay walking on the dotted line, or we can make our own", sepertinya lagu ini mengungkapkan ajakan untuk berani menjadi diri sendiri, bahkan jika itu melawan arus. Sesuai dengan makna lagunya, beat dari lagu ini juga membakar semangat banget sih. Apalagi ada part scream dan rap yang bikin lagunya semakin ciamik. Di lagu ini, bagian rap diisi oleh Chico Carlito, tapi di konser kemarin bagian ini diisi oleh Toru. Hayo, siapa yang senyam-senyum dan teriak-teriak lihat Toru ngerap? Aku sih melongo lihat Taka yang muter-muter setelah headbang sambil menghentak-hentakan kaki, lalu berdiri tegak sambil mengulurkan tangan ke depan dengan jari-jari yang membentuk cakram dan berseru, "MY CURIOSITY!"
Haisshhh... sugooooiiii!!

THIS CAN'T BE US
I think... ini lagu paling sedih di album ini. Awalnya vibe lagu ini sedikit terasa kayak Pierce, tapi kemudian ketika masuk ke Verse 2, aku merasa makna lagu ini jauh lebih menyesakkan. Bayangkan, kamu punya seseorang yang kamu anggap "rumah" dan jadi bagian terpenting dalam hidupmu, lalu kamu harus kehilangan orang itu secara tiba-tiba. Part "This can't be us, I don't know how to say goodbye" dan "This can't be us, I think I'm going outta my mind" itu mencerminkan guncangan dan ketidakpercayaan yang mendalam atas kehilangan itu.

Awalnya aku nggak tau lagu ini ditujukan untuk siapa. Hingga suatu hari ketika lagu ini kumainkan di Youtube Music, official lyrics videonya ikut terputar. Bentuknya cuma animasi sederhana, diawali sosok anak kecil yang menangis. Lalu seorang wanita tua dengan senyum lembut menghampiri sambil mengulurkan kedua tangannya. Anak kecil itu pun lantas tersenyum. Lalu mereka berdua berjalan bergandengan tangan, tampak bahagia. Waktu-waktu berlalu, anak kecil itu semakin tumbuh dewasa dan mulai mandiri, nggak lagi dituntun. Ketika anak itu berbalik, perempuan tua itu masih tersenyum hangat. Dari situ, dan dari beberapa komentar di video itu, aku bari tau... bahwa lagu itu, didedikasikan Taka untuk mendiang neneknya yang selalu mendukung dan merawatnya selama masa-masa sulit dalam hidupnya 🥲

THE PILOT <\3
Aah, ini dia. Kemarin-kemarin aku sempat berniat untuk nulis tentang lagu ini di blog terpisah, tapi karena belum sempat, jadi kutulis sekalian di sini aja. Karena itu, tulisan tentang lagu ini bakal agak panjang, dan disisipi curhat pribadi. Hehehe.

The Pilot<\3 adalah salah satu karya Taka yang paling personal, karena menceritakan hubungan antara ia dan ayahnya. As we know, Taka dan adik-adiknya tumbuh dari keluarga broken home. Melihat kedua orangtuanya bertengkar, ditambah keinginan anak-orangtua yang berseberangan, nggak mudah untuk diterima oleh Taka yang saat itu baru beranjak remaja. 

Banyak One Ok Rockers yang menjadikan lagu ini sebagai anthem of the broken home kid. Tapi menurutku, nggak hanya anak-anak yang mengalami broken home, anak yang memiliki orangtua yang utuh tapi nggak dekat secara emosional pun agaknya cukup relate, dan aku adalah salah satunya.

Aku tumbuh di bawah didikan seorang bapak yang cukup keras. Kalo bahasa anak-anak sekarang sih "didikan VOC" ya. Selain itu, beliau juga tipe yang terlalu serius, judgemental, dan otoriter. Bahkan hal kecil yang kulakukan, yang sebenarnya sangat wajar dilakukan oleh anak kecil pun nggak lepas dari pengadilannya. Dampaknya lumayan besar, aku jadi takut salah ngomong dan nggak berani untuk melakukan hal spontan, terlebih di depan beliau. Semua hal yang beliau lontarkan padaku, cuma bisa kutelan mentah-mentah tanpa berani kubantah, meskipun hal itu bertentangan. 

Dan ya, hubungan emosional kami pun jadi nggak dekat. Kami jarang ngobrol, apalagi bercanda. Pernah beliau membuka obrolan, tapi karena canggung, aku cuma bisa merespon pendek dan sekenanya. Sering aku merasa kasihan dengan beliau yang tampak kesepian di hari tuanya. Sehari-hari menghabiskan waktu di teras, sendirian. Tapi ketika beliau mulai menegurku dengan nada tingginya, kali ini aku bisa melawan, meresponnya dengan nada yang juga tinggi, meskipun sejurus itu, di dalam hati aku menyesal. "If I break your heart, forgive my broken heart", this line hits me so hard.

Tapi part yang paling perih menurutku ada di Verse 2:
"I'm going home, wherever home is
I've gotten used to having nobody around
I was asleep behind a bar, but I was dreaming of your arms
Within myself I've come to find my safe and sound"

Part yang sangat relate untuk anak-anak yang kedua orangtuanya udah berpisah. Aku tentunya nggak di level ini, tapi sedikit yang bisa kugambarkan, part ini tuh kayak ungkapan kerinduan seorang anak yang teramat sangat ke orangtuanya. Kayak... kangen pelukan hangat, tapi dia nggak punya "rumah" karena yang dia miliki hanya dirinya sendiri. Akhirnya kerinduan itu cuma bisa dia bawa tidur karena kenyataannya dia nggak bisa dapat pelukan itu lagi. 

Dan kenapa judulnya The Pilot? Aku merasa "pilot" di lagu ini bukan cuma tentang sosok bapak, tapi tentang sosok yang memegang arah dan harusnya membuat kita merasa aman. Dan keluarga itu ibarat pesawat. Maka ketika sosok itu gagal menjalankan perannya, rumah jadi nggak lagi terasa seperti tempat pulang. 

***

Hmm rasanya vibe album ini tuh kayak gloomy gitu yah? Well, Taka dan yang lainnya juga memang mengakui hal itu sih. Hal ini Taka ungkapkan di konser kemarin, bahwa tema di album ini lebih berat ketimbang album-album sebelumnya, karena selain lagu-lagunya yang penuh lirik mendalam tentang hidup, mereka juga mengangkat isu sosial, politik, dan pemerintah yang korup. Taka CS menyadari betapa dunia saat ini begitu chaos, dan sebagai musisi rock, mereka merasa harus bersuara.

Doc : @selvselv on Threads


Dan kalian juga pasti notice kan, selama konser kemarin mereka tuh kayak yang capek banget? Aku lihat nggak sedikit juga yang membandingkan performance mereka kemarin dengan konser tur Luxury Disease tiga tahun silam. Yah, perjalanan mereka selama tur album Detox ini memang nggak mudah sih. Mulai dari Taka yang cedera kaki, kena panic attack, sakit tenggorokan sampai suara serak, ditambah konser mereka di Hongkong dan Shanghai pun terpaksa dicancel karena ketegangan politik antara Cina dan Jepang. Tapi mereka tetap tampil all out untuk konser penutup tur mereka ini.

Taka juga sempat curhat di postingan Instagramnya pasca konser kemarin. Jujur, ih kayak sedih nggak sih baca captionnya? 

"Jujur, aku merasa lelah baik mental maupun fisik. Tapi aku merasa semuanya pantas. Untuk sementara waktu, aku akan fokus bertumbuh sebagai seorang individu sambil menghadapi kesepian yang besar selama melalui album dan tur ini, dan aku akan kembali lebih kuat dari sebelumnya". 

Banyak juga yang mengira Taka CS bakal hiatus selama beberapa lama. Tapi... enggak kan yah? Kurasa dia dan kawan-kawan cuma butuh istirahat sejenak. So, just let them get their tropical therapy lah ya, Guys.

Dan mungkin suatu hari nanti, aku benar-benar bisa nonton mereka secara langsung. Bukan cuma lewat fancam, livestream, atau layar bioskop. Sebenarnya kalo dipikir-pikir, bukan berarti hal itu mustahil banget buatku sih. Aku masih bisa nabung untuk tiket dan transport, meskipun mungkin cuma sanggup ambil kategori paling murah. Wkwk. Tapiiii masalah terbesarnya adalah mental “mendang-mending” yang selalu muncul.
“Mending buat liburan sama anak dan suami.”
“Mending buat upgrade HP.”
“Mending buat invest emas.”
“Mending buat kebutuhan lain.”

Dan ujung-ujungnya, keinginan buat nonton konser selalu kalah prioritas.

Jadi kalo someday akhirnya aku benar-benar bisa hadir di venue mereka sambil nyanyi sekeras mungkin bareng ribuan One Ok Rockers lainnya… semoga saat itu aku udah nggak lagi merasa bersalah untuk memilih sesuatu yang sebenarnya juga aku inginkan ^^


Kamis, 12 Maret 2026 0 komentar

Tinggal Meninggal : Seberapa Jauh Kita Berpura-pura Demi Dilihat?

Aku yakin banyak di antara kita yang pernah atau bahkan sering merasa invisible di tengah keramaian. Ada di kantor, ada di grup chat, tapi nggak pernah benar-benar terlibat. Tinggal Meninggal, mengajak kita menyelami sisi gelap kebutuhan manusia akan perhatian, lewat kisah Gema, seorang cowok awkward yang selama ini "nggak terlihat", tapi tiba-tiba jadi pusat perhatian karena satu kabar duka. Dengan dibalut komedi, film ini nggak cuma bikin cengengesan, tapi juga membuat kita bertanya pada diri sendiri tentang seberapa jauh kita akan berpura-pura demi dilihat orang lain.

Sejak kecil, Gema tumbuh dalam keluarga yang tampak sempurna di mata publik, tapi kosong di dalam. Papanya merupakan seorang pendiri investasi bodong yang dalam setiap akhir sesi seminar selalu memeluk anak dan istrinya di depan para calon investornya. Yang nggak mereka tau, adegan tadi adalah sesuatu yang dilatih puluhan kali, agar tercipta image keluarga bahagia. Sementara mamanya selalu sibuk dengan kegiatan arisan. Gema terbiasa ditinggal sendiri di rumah, dibiarkan asik bermain, menggambar, atau nonton TV sendiri. Orangtuanya tampak nggak pernah punya waktu untuknya, bahkan untuk sekedar mendengar pendapat dan keinginannya. Di sekolah pun, Gema nggak punya teman.


Long story short, orangtua Gema bercerai. Papanya menikah dengan wanita lain, dan mamanya pacaran lagi. Tragisnya, Gema dipaksa harus memanggil mamanya dengan sebutan "Kakak", karena mamanya takut pacar barunya tau bahwa dia adalah janda beranak satu. Gema juga terpaksa tinggal di rumah sendirian karena mamanya jarang pulang. Karena kurang punya tempat untuk berbagi, Gema jadi memiliki satu kebiasaan, bicara dengan diri sendiri. Nggak hanya sebagai bentuk self regulation, tapi juga sebagai cara untuk mengurai isi kepalanya karena kekosongan interaksi. Kebiasaan ini pun ia bawa sampai dewasa.

Gema bekerja di sebuah agensi kreatif. Di tempat kerjanya pun, Gema nggak punya teman. Interaksi di kantor hanya sebatas urusan pekerjaan. Namun semuanya berubah ketika papanya meninggal dunia. Tiba-tiba Gema dihujani ucapan belasungkawa dan perhatian dari rekan-rekan kerjanya, termasuk diajak nongkrong dan makan siang bareng di London Fried Chicken, resto favoritnya. Segala perhatian dari rekan-rekan kerjanya itu membuat Gema merasakan kehangatan yang selama ini cuma ada di wish-listnya. Namun seiring berlalunya masa duka, suasana kembali dingin. Rekan-rekannya mulai bosan makan di London Fried Chicken, mereka juga mulai kembali asyik ngobrol tanpa melibatkan Gema.

Merasa kosong dan kesepian, Gema mulai merancang strategi agar perhatian mereka kembali tertuju padanya. Dalam keputusasaan, ia mengambil jalan pintas dengan berbohong bertubi-tubi, berpura-pura ada keluarganya yang meninggal lagi. Kebohongan kecil yang semula hanya akal-akalan kecil itu perlahan menjadi pusaran masalah yang menjebak Gema ke dalam kekacauan.

Menjelang akhir, ada twist menarik yang membuat kita sadar bahwa Gema bukanlah satu-satunya orang yang haus perhatian dan rela berpura-pura. Dari sini kita diingatkan bahwa sebenarnya banyak dari kita yang menyimpan kebohongan kecil demi mendapatkan validasi di lingkungan kerja atau sosial.

Jujur, kalo nggak dibungkus komedi, kayaknya aku bakal nangis di 20 menit pertama deh. Melihat Gema yang harus memanggil mamanya "Kakak" dan melihat mamanya bersenang-senang dengan laki-laki asing, sementara ia ditinggal sendirian di rumah, itu sedih banget. Lalu di pertengahan film juga ada scene di mana Gema dan papanya berlatih image keluarga bahagia : Papa merentangkan kedua tangan menghadap Gema sambil teriak, "Gema!", lantas Gema akan berlari ke pelukan papanya sambil teriak, "Papa!" Lalu papa akan mengangkat Gema tinggi-tinggi, sambil keduanya tertawa-tawa. Setelah sesi latihan berakhir, Gema minta papanya main bola sama dia. Tapi alih-alih nemenin anaknya, papanya malah panggil ART mereka untuk nemenin Gema :')

Dalam beberapa hal, aku merasa relate sama Gema. Bukan relate tentang kebohongan-kebohongan yang dia lakukan, bukan juga tentang latar belakang keluarganya, tapi tentang bagaimana dia berbicara pada diri sendiri, atau merasa awkward saat di situasi sosial. Misalnya ketika melihat rekan-rekan kerjanya berkumpul di kantin, Gema ingin menghampiri mereka tapi bingung gimana caranya menyapa mereka. Trus ada satu momen di mana Gema berhasil melemparkan satu lelucon yang bikin rekan-rekannya ketawa, dan dia terus mengulang-ulang hal itu di kepalanya dengan bangga seolah dia baru aja melemparkan lelucon paling konyol yang pernah ada, lalu kemudian merevisinya kayak "harusnya gue tadi bilang gini ya" dengan anggapan bahwa kalo dia bilang gitu leluconnya saat itu bakal lebih pecah. Asliiii, aku pernah kayak gitu. Wkwkwk. Nggak cuma lelucon sih, tapi juga kata-kataku yang kupikir nggak seharusnya kuucapkan begitu ke orang lain.

Sedikit spoiler, endingnya menurutku nyesek banget ANDAI AJA nggak ada adegan di surga, karena adegan itu cringe banget menurutku. Kalo adegannya di-cut di satu scene sebelum itu, kurasa efeknya bakal lebih "ngena". Tapi yah, mungkin karena ini film komedi, jadi terciptalah adegan di surga itu.

Well, overall, menurutku Tinggal Meninggal sukses jadi film dark comedy yang lucu, absurd, tapi juga menyentuh. Two thumbs up juga buat aktingnya Omara Esteghlal as Gema yang bagus banget (beneran kayak orang sakit mental, OMG!). Meskipun endingnya kurang sesuai ekspektasi (yaa karena cringe tadi), tapi film ini berhasil mengajak kita merenung tentang betapa rapuhnya kebutuhan manusia akan validasi.

Sabtu, 17 Januari 2026 0 komentar

STRANGER THINGS S5 : Akhir yang Bittersweet Dari Petualangan Hawkins

Setelah sekian lama menunggu kelanjutan petualangan Eleven, Mike, dan kawan-kawan, akhirnya Stranger Things Season 5 rilis juga. Aku sempat menuliskannya dalam satu tulisan yang lumayan panjang di Ngobrolin Stranger Things. Dan untuk Season 5 ini juga aku juga bakal menuliskan sinopsis yang panjang juga nih, dan yah bakal spoiler berat!. Well, Season 5 ini bukan cuma penutup series, tapi juga perpisahan emosional yang bikin perasaan campur aduk.

Lebih dari satu tahun berlalu setelah gerbang raksasa menuju Upside Down terbuka, kawasan itu menjadi area terbatas dan dijaga sangat ketat oleh pasukan militer yang mereka sebut Military Access Control Zone atau MAC-Z. Robin menjadi penyiar radio dengan Steve sebagai technical support-nya, Dustin masih setia dengan Hellfire Club dan sering berziarah ke makam Eddie, Lucas masih setia mendampingi Max yang masih terbaring koma dan nggak berhenti berharap, Eleven berlatih bersama Hopper untuk persiapan mengalahkan Vecna di tengah ancaman pasukan militer yang memburunya.

Well, biar nggak terlalu panjang, kita sebut The Party untuk tim Mike, Will, Lucas, Dustin, Eleven, dan Max; Steve CS untuk tim Steve, Robin, Jonathan, dan Nancy; dan Hopper CS untuk tim Hopper, Joyce, dan Murray ya.

Malam itu, The Party (minus Max), Steve CS, dan Hopper CS merencanakan penyusupan ke Upside Down melalui gerbang utama MAC-Z yang dijaga militer. Penyusupan itu dilakukan oleh Hopper dan El, dan disupport oleh yang lainnya. Tujuan mereka nggak lain dan nggak bukan adalah memburu Vecna dan membunuhnya. Namun tanpa diduga, ancaman justru hadir di dunia nyata: Holly Wheeler diculik Demogorgon, menyisakan Mr dan Mrs Wheeler yang terluka parah akibat serangan monster itu, dan rumah keluarga mereka yang porak-poranda.

The Party menduga, tragedi hilangnya Will Byers beberapa tahun silam akan terulang. Dugaan mereka diperkuat dengan kemampuan Will yang mampu "melihat" melalui mata Demogorgon dan Vecna. Will melihat Holly yang disekap di dalam dinding mirip daging dengan semacam selang di mulutnya, sama seperti dirinya dulu. Dengan kemampuan ini, Will jadi mampu membaca rencana Vecna selanjutnya. Ia yakin bahwa setelah Holly, Vecna masih akan memburu beberapa anak lainnya, hingga mencapai 12 anak. Mereka pun segera menyusun rencana pencarian Holly, dan pencegahan penculikan anak-anak lainnya terjadi. Tentunya hal itu dibantu juga oleh Steve CS dan Hopper CS.

Sementara itu, Henry a.k.a. Vecna memanipulasi pikiran Holly, seakan-akan gadis kecil itu berada di rumah Henry yang nyaman, dan segala kebutuhannya terpenuhi. Henry berpesan bahwa Holly boleh melakukan apapun di rumah itu, kecuali pergi ke hutan yang berada nggak jauh dari rumah. Henry memperkenalkan dirinya sebagai Mr Whatsit, orang yang mencoba melindunginya dari monster jahat. Namun tanpa Henry ketahui, seseorang berhasil memancing Holly masuk ke dalam hutan.

Seseorang itu adalah Max Mayfield. Iya, Holly pun tentunya heran kenapa Max ada di sana, padahal jelas-jelas Max masih terbaring koma di rumah sakit. Max menjelaskan bahwa saat ini mereka berada dalam "penjara Henry", sebuah alam yang dibangun dari sekumpulan ingatan. Selama ini Max mencoba keluar dari penjara itu, namun selalu gagal. Satu-satunya tempat aman di penjara itu hanyalah sebuah gua yang entah kenapa Henry takuti.

Long story short, penglihatan Will berkembang pesat. Ia akhirnya menyadari bahwa dirinya, Vecna, dan makhluk-makhluk dari Upside Down lainnya merupakan satu kesatuan yang selain bisa saling melihat, juga bisa saling merasakan. Bahkan lebih hebatnya lagi, Will mampu mengendalikan serangan Demogorgon. Sumpah, di bagian ini rasanya aku mau teriak banget, karena Will, sosok yang selama ini terlihat paling rapuh, jadi badass banget woi! Bahkan Joyce, sang ibu yang selama ini begitu protektif terhadapnya, mendorong Will agar memanfaatkan kemampuannya itu untuk melawan Vecna.

Selain itu, Max akhirnya berhasil "pulang" dan bangun dari komanya. Meski begitu, ia nggak bisa membawa serta Holly, dan misi penyelamatan yang dilakukan oleh The Party, Steve CS, dan Hopper CS gagal karena Vecna akhirnya berhasil menculik 12 anak ke dalam sarangnya.

Yang mereka rasa, berada di sebuah rumah yang nyaman,
padahal aslinya ada di sarang Vecna.

Dari penelusuran Dustin, Steve, Nancy, dan Jonathan di Hawkins Lab di Upside Down, Dustin akhirnya menyadari bahwa apa yang mereka pelajari tentang Upside Down ternyata selama ini salah besar. Upside Down bukanlah dunia buatan Vecna ataupun Mind Flayer, melainkan sains. Mind Flayer berasal dari sebuah dimensi yang Dustin sebut "Abyss". Sedangkan Upside Down adalah "lubang cacing/wormhole" atau jembatan yang distabilkan oleh sesuatu yang disebut materi eksotis sehingga dapat menghubungkan dunia nyata dan Abyss. Mind Flayer memanfaatkan tubuh Henry sebagai wadah, menjadikannya sosok Vecna. Dengan kekuatan yang dimilikinya, Vecna ingin menggabungkan dua dunia menjadi satu: dunia nyata dan Abyss. Dan untuk menggabungkan dua dunia secara permanen ini tentunya membutuhkan kekuatan yang sangat besar. Itulah kenapa Vecna membutuhkan 12 orang anak buat mentransfer energi ke dia.

Oh ya, aku belum cerita ya tentang Kali? Masih ingat kan, Kali Prasad a.k.a Eight yang muncul di Season 2? Seperti dugaanku (dan mungkin dugaan kalian juga), Kali akhirnya muncul kembali di season ini. Meski sempat lolos berkali-kali dari kejaran polisi, ia akhirnya ditangkap, dan ditahan oleh pemerintah Hawkins untuk menjadi subjek eksperimen Dr. Kay, ilmuwan yang meneruskan eksperimen Dr. Brenner. Dalam satu kesempatan menyusup ke dalam MAC-Z, El dan Hopper menyelamatkannya. Kali pun bergabung dengan tim dalam misi penyelamatan anak-anak sekaligus perburuan Vecna.

The Party, Steve CS, dan Hopper CS pun kembali menyusun strategi untuk menggagalkan rencana Vecna. Dan dalam menjalankan strategi itu, mereka terbagi dalam beberapa tim. Well, as always.

Mike CS (Mike, Will, Lucas, Dustin), Steve CS (Steve, Robin, Jonathan, Nancy), dan Joyce memanjat tower radio dengan baju taktikal dan senjata. Rencana mereka adalah, saat Abyss mulai turun dan puncak tower menembusnya, mereka akan masuk ke Abyss untuk menghadapi Vecna secara fisik. Sementara El, Kali, dan Max menyusup ke alam pikiran Vecna untuk menyelamatkan Holly serta 11 anak lainnya dari ritual yang dilakukan Henry.

Dengan bantuan Mr. Clarke (guru sains Mike CS) yang mengakali gerbang utama MAC-Z biar bisa diakses, dan Erica Sinclair (adik Lucas) yang memantau dari menara gereja, seluruh tim (minus Max) plus Kali berhasil masuk Upside Down naik truk yang dikendarai Murray. Dr. Kay dan pasukan militer yang mengetahui penyusupan itu pun nggak tinggal diam mengejar mereka.


Hopper, El, dan Kali sempat tertangkap oleh pasukan militer. Saat pasukan militer memblock kekuatan El dan Kali melalui helikopter, Murray melemparkan granat ke arah helikopter itu hingga meledak dan terbakar hebat. Hopper dan El pun selamat, namun sayangnya Kali tertembak oleh salah seorang anggota militer dan tewas di pelukan El. Such a heartbreaking moment, padahal momen El & Kali VS Vecna ditunggu banget! Huhu.

Di Abyss, Mike CS, Steve CS, dan Joyce berhadapan dengan Mind Flayer dalam bentuk fisik monster laba-laba raksasa. Mereka pun dengan cepat mengatur strategi untuk berpencar dan menyerang dari segala sisi. Nancy tanpa ragu maju menjadi umpan dan memancing Mind Flayer mendekat ke celah tebing yang sempit, lalu menghujaninya dengan peluru. Jonathan, Robin, Lucas, dan Mike menyerang monster itu dari atas. Jonathan menyerang dengan flamethrower, Robin menghujani dengan molotov, Lucas melepaskan balon berisi bahan bakar, dan Mike menembakkan flare gun. Api berkobar di sekujur tubuh monster, yang bisa dirasakan juga oleh Vecna, membuatnya semakin lemah. Steve dan Dustin menyerang dari bawah perutnya. Mereka menusuk benda-benda mirip telur di perut monster itu hingga pecah. Mereka berteriak, "This is for Eddie!" sambil menghantamkan ujung tombak mereka.




Sementara itu, El yang berhasil masuk ke dalam tubuh monster, menyerang Vecna dari sana. Vecna hampir aja menyerang El dengan tentacle-nya, tapi Will dengan kemampuannya, menghentikan serangan itu. Ia bahkan mematahkan satu lengan Vecna sambil berkata, "We're not afraid of you anymore!" Sumpah, scene ini tuh... super duper epic!! Melihat Will yang melawan Vecna, yang selama ini menganggapnya rapuh dan lemah, membuatku merinding sebadan-badan :')



Lalu di satu kesempatan itu, El langsung mengerahkan kekuatan kinetiknya untuk memberikan serangan terakhir bagi Vecna. Dalam satu kali hentakan, ia mendorong tubuh Vecna ke sebuah duri raksasa.

Mind Flayer terbakar hebat seiring dengan jantungnya yang menyusut. Anak-anak pun selamat. Mereka memuntahkan partikel Mind Flayer dari tubuh mereka. Apakah Vecna mati? Belum. Dia masih sakaratul maut di duri itu. Tubuhnya tertancap kuat, mulutnya mengeluarkan darah hitam. Joyce maju menghampirinya, dengan sebilah kapak di tangan. "You fucked with the wrong family", ucapnya. Lalu ia mengayunkan kapaknya kuat-kuat ke leher Vecna, disaksikan oleh Will, El, Mike, Dustin, Lucas, Jonathan, dan Nancy. Segala ingatan tentang rasa sakit dan trauma yang selama ini mereka lalui (nyawa-nyawa yang hilang, rasa takut, dan kebahagiaan yang terenggut) berkelebat di kepala mereka, seiring dengan ayunan kapak Joyce yang menghantam leher Vecna berkali-kali. Pada hentakan yang kesekian kalinya, ayunan kapak Joyce memutus kepala Vecna dari tubuhnya, membuatnya mati.


Sebelum seluruh tim dan anak-anak yang mereka selamatkan meninggalkan Upside Down, Hopper dan Murray mengatur timer bom di dekat material eksotis yang menyangga wormhole. Bom itu menghancurkan wormhole Upside Down secara permanen, membuat semua portal tertutup.

Seluruh member tim dan anak-anak selamat. Ya, kecuali Kali. Sedikit mengecewakan bagi aku dan penonton yang mengharapkan kolaborasi El dan Kali sampai akhir. Namun meski nggak bertarung sampai akhir, tanpa Kali, mungkin El dan Max nggak akan berhasil membongkar kebohongan Henry di depan anak-anak dan membawa mereka keluar dari rumah Henry. Dan El, pada akhirnya memutuskan untuk mengorbankan dirinya. Saat seluruh member keluar dari Upside Down, dia tampak berdiri di gerbang Upside Down, say goodbye sama Mike, dan membiarkan dirinya musnah bersama Upside Down agar eksperimen Dr. Kay tidak terus berlanjut.

18 bulan setelah peristiwa itu, Hawkins mulai pulih, Steve CS menjalani kehidupan barunya masing-masing, dan The Party merayakan kelulusan mereka. Dustin menjadi siswa terbaik di sekolahnya dan memberikan pidato yang berkesan. Di sini ada scene yang awkward sekaligus gemes banget. Ingat kan, di Season 2 Dustin mendapat banyak penolakan dari cewek-cewek yang ia ajak berdansa di Snowball Party? Nggak ada satupun yang mau menghabiskan waktu bersamanya di acara itu, sampai akhirnya Nancy mengulurkan tangan, mengajak Dustin berdansa sama dia. Ketika itu Nancy bilang bahwa suatu saat nanti, Dustin akan membuat cewek-cewek tergila-gila. Dan kini, kata-kata Nancy itu agaknya terbukti.

Setelah memberikan pidato dan turun dari podium, Dustin dihampiri oleh Stacy, cewek yang menolaknya dulu. Stacy memuji pidato Dustin yang keren. Kalo pujian semacam itu dilemparkan ke Dustin beberapa tahun lalu, mungkin Dustin bakal semaput mendengarnya. Tapi kali ini, wajah cantik aja nggak cukup buat seorang Dustin Henderson. Sumpah, dia savage banget waktu bilang, "Aku meniru sedikit gaya Belushi, tapi ala film-film John Hughes. Entahlah kau paham tidak?"

Dan ekspresi Stacy kayak yang bingung gitu, tapi maksa bilang, "Paham kok". But poor Stacy, Dustin is not into her anymore. Wkwkwk.

Malam itu, Mike, Will, Dustin, Lucas, dan Max menghabiskan waktu bersama, bermain D&D di basement rumah Mike. Menjelang akhir permainan, Mike yang berperan sebagai Dungeon Master menuturkan kisah akhir Penyihir dalam tokoh permainannya (dalam hal ini, Eleven) yang sebenarnya belum mati. Ia hanya menghilang dengan kemampuan ilusi yang Kali ciptakan sesaat sebelum ia meninggal untuk memalsukan kematiannya agar dapat pergi jauh ke tempat yang nggak diketahui siapapun, memulai kehidupannya yang baru.

Dengan kata lain, ending Eleven ini kayak dibuat ambigu gitu. Kita diajak untuk memilih, percaya yang mana : El masih hidup, atau musnah bersama Upside Down. Meski hanya teori, tapi Mike, Will, Dustin, Lucas, dan Max memutuskan untuk percaya. Aku pribadi sih memilih untuk meyakini bahwa El udah musnah bersama Upside Down yaa, karena aku nggak yakin kekuatan ilusi milik Kali akan bertahan sedemikian lamanya, bahkan setelah si pemilik kekuatan meninggal. 

Mereka mengakhiri permainan dengan penuh haru, dan satu persatu meninggalkan basement. Holly dan empat kawannya bergegas mengambil alih tempat itu untuk bermain D&D. Sebelum meninggalkan basement, Mike menatap kelima anak itu. Well, melihat mereka mungkin Mike seperti melihat dirinya dan teman-temannya beberapa tahun lalu.

So, this is the end. 


***

Sumpah, nggak pernah rasanya aku sesedih ini menamatkan series. Mengikuti mereka sejak masih uwu-uwu sampai dewasa kayak gini rasanya kayak melihat mereka bertumbuh. Kayaknya aku bakal susah move on deh, apalagi banyak momen emosional di season ini.

Perselisihan Dustin dan Steve.

Saat menyusup ke Hawkins Lab di Upside Down, Dustin dan Steve sempat berselisih hingga keduanya terlibat perkelahian fisik. Lalu ada satu momen di mana Steve ceroboh meletakkan tangga besi di dinding yang nggak stabil dan berpotensi runtuh, namun Steve bersikeras ingin memanjatnya meskipun Dustin udah memperingatkan. Dustin langsung menarik Steve dan memeluknya erat. Sambil menangis, Dustin bilang bahwa dirinya nggak mau kehilangan Steve seperti saat ia kehilangan Eddie. Tepat beberapa saat setelah Dustin mengucapkannya, dinding itu runtuh, menyisakan Dustin dan Steve yang tertegun.

Pengakuan Nancy dan Jonathan.

Sesaat setelah Nancy menembak material eksotis di atas Hawkins Lab di Upside Down karena mengira itu adalah lapisan pelindung yang menghalangi akses ke Vecna, dan membuat Upside Down hampir musnah, ia dan Jonathan sempat terjebak di dalam sebuah ruangan yang meleleh dan dibanjiri cairan berwarna abu-abu mirip semen dari lelehan itu. Mengira nyawa keduanya akan berakhir di sana, mereka pun saling jujur tentang hubungan mereka yang udah nggak baik-baik aja sejak di Season 4. Jonathan mengungkap bahwa selama ini dirinya nggak pernah daftar kuliah di Emerson, dia juga malas baca artikel Nancy, Nancy bilang bahwa sebenarnya dia benci The Clash (band favorit Jonathan), dia juga benci kebiasaan Jonathan yang sering telat meskipun dia nggak pernah berkomentar soal itu, dan kejujuran-kejujuran lainnya. Setelah mengungkapkan semua itu, Jonathan mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya, dan bilang, "Nancy Wheeler, would you NOT marry me?" yang disambut Nancy dengan anggukan. Mereka pun saling berpelukan dan mengucap "I love you". Jonathan melempar cincin itu, dan entah bagaimana ruangan itu berhenti meleleh. Mereka pun selamat. Aku sempat berpikir hubungan mereka bakal naik ke jenjang yang lebih serius, tapi rupanya justru sebaliknya, they officially break up, karena mereka sadar bahwa melanjutkan hubungan justru akan membuat segalanya lebih buruk.

Pengakuan Will.

Beberapa waktu sebelum berangkat ke "medan pertempuran", Will mengumpulkan seluruh tim untuk mendengar pengakuannya. Dengan gugup, ia mengungkapkan jati dirinya, tentang orientasi seksualnya yang berbeda dengan kawan-kawannya. Ketika mengungkapkan itu, ia sempat berhenti sejenak (entah menunggu reaksi pendengar, atau menyusun kata-kata selanjutnya). Ketika itu, ekspresi ibu dan kawan-kawannya tampak heran, namun Jonathan dan Robin tersenyum penuh arti, karena cuma mereka berdua yang notice soal itu. Will bilang bahwa Vecna menunjukkan padanya bahwa suatu saat ia akan ditinggalkan oleh semua orang karena orientasinya itu, dan ia takut. Mendengar itu, Joyce langsung meyakinkan Will bahwa putranya itu nggak akan kehilangannya. Lalu Jonathan, sang abang menyusul berkata, "Kau takkan kehilangan aku", lantas berdiri dan memeluknya, disusul Lucas, Dustin, Mike, dan El.

Masa Lalu Henry.

Max yang mengetahui bahwa Henry takut masuk ke dalam gua, memandu Holly dan 11 anak lainnya masuk ke dalam gua itu. Namun menyadari ritualnya yang tinggal sedikit lagi, Henry memutuskan untuk melawan rasa takutnya. Perlahan-lahan, ia masuk ke dalam gua itu, meski bayangan masa lalu berkelebat di pikirannya. Ia melihat Henry kecil yang menemukan seorang ilmuwan yang terluka di dalam gua. Henry kecil ingin menolongnya, namun ilmuwan itu tampak panik. Ia memeluk erat sebuah koper sambil mengacungkan pistol pada Henry kecil, lalu melepaskan tembakan hingga melukai tangannya. Henry kecil yang merasa dirinya diserang pun menghantamkan batu berkali-kali ke kepala ilmuwan itu. Setelah ilmuwan itu nggak berdaya, Henry kecil membuka isi koper itu. Di dalamnya terdapat batu hitam dengan garis-garis yang menyala merah. Henry kecil menggenggamnya di tangan. Yang nggak ia ketahui, batu itu berasal dari Abyss dan berisi partikel Mind Flayer. Mind Flayer pun "menginfeksi" Henry kecil melalui luka tembak di tangannya, dan mengunci kekuatan jahatnya di dalam tubuh Henry.


Will yang juga melihat dan merasakan masa lalu Henry, berbisik padanya agar melawan. "Itu bukan kau. Sama sekali bukan kau. Kau masih kecil, sepertiku. Ia memanfaatkanmu untuk membawanya ke sini. Kau sama sepertiku, Henry. Sebuah wadah. Tapi kau bisa melawannya. Bantu kami. Jangan biarkan ia menang".

Henry menangis mengingat semua itu. Scene ini menunjukkan bahwa Henry sebenarnya masih memiliki sisi manusia dalam dirinya dan punya pilihan untuk melawan Mind Flayer, sama seperti Will. Bedanya, Will punya keluarga dan para sahabat yang menjadi support system-nya, sedangkan Henry tidak. Ia memilih untuk tetap bergabung dengan Mind Flayer.


***

Entah harus senang atau kecewa dengan ending-nya yang bisa dibilang terlalu sempurna. Rasanya lega memang karena hampir seluruh member tim selamat, tapi ya gitu deh. It's too unreal nggak sih? Aku heran, kenapa yah Demogorgon terkesan pilih-pilih kalo mau nyerang? Mereka bisa menyerang para anggota militer bersenjata lengkap, bisa menyerang Mr & Mrs Wheeler hingga luka berat, tapi ditendang Lucas aja mental, bahkan mundur ketika diancam Joyce pakai kapak. Aku juga sebenarnya bertanya-tanya mengenai koneksi pikiran antara Will, Vecna dan Mind Flayer. Ada adegan di mana Will bisa merasakan ketakutan dan rasa sakit yang Vecna rasakan. Tapi di final battle, kenapa Will nggak bereaksi apapun saat Mind Flayer terbakar, Vecna sekarat, dan kepalanya dipenggal?

Selain itu, sebagian besar tokoh utama dalam series ini kan nggak punya superpower, tapi mereka bisa mengalahkan monster berkali-kali tanpa luka sedikitpun. Bahkan saat dikejar monster laba-laba raksasa. Harusnya yah, minimal ada satu orang yang keinjak, atau ketiban batu gitu 😅 Sedangkan di sini, yang kena imbas pertarungan melawan monster laba-laba raksasa itu cuma Dustin dan Steve: badannya bau telor, entah bau tahi. Wkwkwk. Yah, kolaborasi Dustin-Steve memang selalu hilarious ya? Jujur, duet mereka berdua adalah yang paling sering kutunggu. I can't imagine kalo sampai Steve mati di insiden tangga itu 🥲

Lalu apakah pada akhirnya Steve balikan sama Nancy? Jawabannya adalah TIDAK ya. Di season sebelumnya, aku memang sempat berharap mereka berdua balikan. Tapi mengetahui Steve pingin punya enam anak membuatku bersyukur hal itu nggak terjadi. I mean, yang benar aja, seorang Nancy beranak enam? Gile lu, Steve 😭 Udah benar endingnya, Nancy jadi wanita single happy. Sementara Steve, jadi seorang pelatih baseball anak-anak sekaligus guru pendidikan seks, yang yaahh cocok banget lah ya buat dia.

Daaaan, biasanya dalam film itu ada tokoh yang jadi beban, sering membuat keputusan bodoh, dan cenderung tidak menguntungkan, tapi di Stranger Things enggak. Seluruh member tim memegang peran krusial masing-masing. Mike sebagai penyusun strategi, El dan Hopper sebagai eksekutor, Dustin sebagai pemecah teori (well, semua member juga sering kasih teori dan gagasan sih, tapi Dustin lebih dominan di sini), Steve dan Murray sebagai pengemudi handal, Will sebagai penahan serangan Vecna, Robin dan Joyce sebagai moral support untuk Will, serta Jonathan, Nancy, dan Lucas sebagai fighter yang tangguh.

Mungkin memang ada scene yang membuatku (dan mungkin penonton lainnya) geregetan karena hal yang entah bisa dibilang ceroboh atau enggak. Misalnya keputusan keliru Nancy yang menembak material eksotis sehingga membuat Upside Down gonjang-ganjing dan dirinya hampir mati bareng Jonathan. Atau Lucas yang tetap memutar lagu untuk Max meskipun nyawa mereka tengah di ujung tanduk, dikejar Demogorgon bareng Robin dan pasangan lesbinya. Tapi dua hal itu nggak lantas membuatku sebal sama mereka karena "kontribusi" mereka lebih banyak ketimbang nyusahinnya. Wkwk.

Material eksotis yang "marah" pasca ditembak Nancy


Lucas tetap memutar Running Up That Hill
untuk Max meskipun dikejar Demogorgon


***

Per hari ini udah lima hari berlalu pasca nonton, dan aku belum tertarik nonton film atau series lain, malah rewatch Stranger Things season-season sebelumnya. Dan menulis ini sambil mendengarkan Running Up That Hill - Epic Version milik Samuel Kim membuatku merinding sekaligus hampa, menyadari petualangan ini udah berakhir. Menurutku, series ini bukan cuma tentang monster dan supernatural, melainkan tentang pertemanan, keluarga, tumbuh dewasa, dan menghadapi trauma bersama.

Total Tayangan Halaman

 
;