Aku baru aja menjejakkan kakiku di halaman depan rumah untuk istirahat dan makan siang ketika dua tetangga yang masih ada hubungan kerabat denganku memberi tau sebuah kabar.
"Put, Mbak Nti meninggal".
"Nti" adalah panggilan akrab teman kecilku, Tri. Kabarnya, dia meninggal di rumah sakit.
Rasanya speechless banget. Beberapa hari sebelumnya, kami masih sempat chat via WhatsApp. Waktu itu dia upload foto keponakannya, Zayn, yang sedang terbaring di rumah sakit. Kutanya, "Sakit apa dedenya, Enti?"
Dia jawab, keponakannya itu sakit demam udah beberapa hari, dan itu lumayan bikin dia uring-uringan, padahal dia sendiri saat itu dalam kondisi kurang fit. Waktu itu Tri mengeluh bahwa dia muntah-muntah terus.
Aku sempat bingung harus merespons gimana, karena saat itu aku pun sedang dalam kondisi sakit. Jadi aku cuma bisa mendoakan dia agar kondisinya segera membaik. Tri sendirian. Nggak ada yang nemenin dia saat itu.
Yang nggak aku tau, kondisi dia makin memburuk. Hari Minggu dia sesak napas, dan minta tolong sama tetangga untuk pergi ke rumah sakit. Tapi karena nggak ada yang kuat memapahnya, akhirnya mereka panggil ambulance. Sayangnya, semua kamar rumah sakit penuh saat itu.
Tri kemudian dirawat di ICU. Tapi Senin siang, sekitar jam 11, dia berpulang. Sedihnya, nggak ada keluarga yang sempat mendampinginya di saat-saat terakhir itu, karena kakaknya nemenin Zayn, keponakan Tri yang sejak kecil nempel banget sama dia. Zayn bahkan memanggil Tri dengan sebutan "Ibu", bukan "Tante".
Sumpah, rasanya kayak mimpi. Seseorang yang beberapa hari lalu masih bisa aku chat, sekarang udah nggak bisa meresponku ataupun ngechat apa-apa lagi. Dan yang paling membuatku overthinking adalah, aku nggak nyangka bahwa waktu kami waktu itu tinggal sebentar.
Aku udah nggak peduli lagi dengan ayam goreng krispi kesukaanku yang baru aja kubeli untuk makan siang. Aku langsung menghubungi Dewi, memberi tau kabar itu. Aku dan Hardi yang semula cuma ijin pulang untuk istirahat makan siang, memutuskan untuk pulang lebih awal. Kami kembali ke kantor sebentar untuk mengambil tas dan mengajukan ijin, lalu pulang lagi untuk segera bersiap melayat.
Jam dua siang. Ketika kami bertiga tiba, jenazah Tri udah dibaringkan di ruang tengah. Udah dikafani dan ditutup kain. Di atas kakinya ada secarik kertas yang menuliskan nama lengkapnya, tanggal lahir, dan tanggal dia berpulang. Jujur, aku jarang banget menghadiri acara layat. Jadi suasananya terasa... well, I dunno. Aku merasa speechless, sedih, sekaligus canggung. Aku juga berpikir bahwa para tetangga yang juga hadir melayat waktu itu mungkin membatin betapa tumbennya aku keluar rumah, karena biasanya aku keluar rumah untuk kerja, beli makan, atau pergi bareng suami dan anak doang. Kalo pun main sama teman biasanya kulakukan langsung sepulang kerja.
Kami menyalami kakak perempuan Tri yang menyambut kami dengan mata sembap. Kami mengucapkan belasungkawa, lalu duduk di dekat jenazahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Lalu seorang kerabat menawarkan diri untuk membuka kain yang menutup wajah Tri dan mempersilahkan kami untuk melihat wajah Tri untuk terakhir kalinya. Ketika kain itu perlahan disingkap, rasanya seperti ada yang menggelosor di dalam dada, kayak.... lessss gitu, I dunno. Mixed feelings banget saat itu. Aku melihatnya dari samping. Nggak ada ekspresi judes yang kukenal, cuma wajah Tri yang nampak "tidur".
Kami duduk di sana selama beberapa waktu, mengirimkan doa, kemudian pamit.
Sekitar ba'da ashar, aku dibonceng Hardi. Dewi datang dengan motornya sendiri. Kami pergi mengantar Tri ke peristirahatan terakhirnya. Dia dimakamkan di TPU Sunyaragi, di lokasi yang sama dengan makam mamanya.
Kami berdiri dan memandang prosesi pemakaman itu dengan nanar. Aku melihat Zayn digendong seorang perempuan, yang aku nggak tau itu siapa. Tapi perempuan itu membimbing Zayn untuk berdoa, "Ya Allah... semoga ibu masuk surga", dan diikuti Zayn dengan suara kecilnya. Aku terharu. Zayn mungkin belum sepenuhnya mengerti tentang apa yang terjadi, bahwa "Ibu"-nya nggak akan bisa nemenin dia lagi, nganterin dia sekolah lagi, dan buatin dia bekal yang enak-enak lagi.
Aku melihat rangkaian bunga melati yang diletakkan di atas makamnya. Dan entah kenapa, aku malah jadi keingat ke salah satu status WhatsApp Tri, di mana saat itu dia bertanya-tanya apakah dirinya bisa melepas masa lajang sebelum berusia 30 tahun. Teringat juga kata-kata Tri selama ini, tentang betapa dia sering kangen sama mama papanya, tentang betapa pinginnya dia memimpikan mereka berdua, tentang keinginannya untuk menyusul mereka karena terlalu sering kangen dan capek sendirian, sedangkan dua kakaknya udah pada berkeluarga.
"Kalo bunuh diri nggak dosa sih, udah aku lakuin dari dulu", ucapnya padaku suatu hari dengan nada becanda setengah serius. Mungkin itu salah satu bentuk keluhannya pas dia lagi capek banget kali ya. Dia juga percaya arwah orang yang bunuh diri bakal "nyangkut", seperti yang sering dia tonton di channel Youtube favoritnya. Haha. Jujur, aku yang skeptis tentang arwah gentayangan ini seringkali dibuat tergelitik dengan pola pikirnya, tapi juga bersyukur, karena seenggaknya dia punya keyakinan untuk tetap bertahan sejauh ini.
Kami nggak tau apa yang bakal Tri ucapin andai dia bisa melihat kami. Tapi kalo boleh membayangkan sedikit aja, mungkin dia bakal cengar-cengir sambil bilang gini, "Akhirnya mama-papa jemput aku, Gaeeeeesss. Dadaaaah, jangan kangen aku eaaa". Ahh, Nti banget :')
Tri adalah salah satu teman masa kecilku. Rumah kami bisa dibilang dekat, jadi sejak kecil kami udah sering main bareng. Yah, walaupun sebenarnya kami baru benar-benar dekat sekitar tahun 2009-an sih.
Aku sendiri lahir tahun 1994.
Dewi lahir Desember 1996.
Tri, Februari 1997.
Dan Hardi, adikku, September 1997.
Jadi sebenarnya Tri lebih seumuran dengan Hardi. Mereka bahkan pernah satu sekolah di TK dan SD. Tapi karena rumah kami dekat dan sejak kecil sering main bareng, akhirnya kami tumbuh dalam circle pertemanan yang kurang lebih sama lah ya.
Aku udah berteman dekat dengan Dewi sejak sekitar tahun 2002-an. Tapi lucunya, frekuensi mainku dengan Tri justru lebih sering. Mungkin karena aku dan Tri sama-sama introvert kali ya, jadi mainnya ya sama orang itu-itu aja. Sedangkan Dewi lebih kayak social butterfly. Dia bisa berteman sama siapa aja, jadi nongkrongnya nggak sama kami mulu.
Meskipun nggak banyak cerita masa kecil bareng Tri, tapi kami akhirnya punya cukup banyak cerita masa remaja bersama. Kami sama-sama tau aku lagi naksir siapa, Tri lagi naksir siapa. Kami bahkan pernah menggalau bareng di laut, ngegalauin crush kami masing-masing, yang padahal kalo dipikir-pikir sekarang, itu cringe banget. Wkwkwk.
Dulu juga kami sering main ke warnet berdua, menyewa dua bilik komputer yang bersebelahan. Kuajari dia download lagu-lagu MP3 boyband Korea favoritnya, juga ngajarin dia membuat akun Facebook dan gimana caranya mencari teman orang Korea asli lewat sosial media. Setelah dia udah lebih "jago", kami sibuk dengan minat masing-masing. Aku dengan all about Emo, My Chemical Romance, dan Black Veil Brides, Tri dengan all about K-Pop dan K-Drama. Kadang dia juga meminta aku menemaninya ke Balong Indah Plaza buat beli beberapa keping CD bajakan boyband idolanya atau K-Drama yang jadi watchlistnya.
Aku jadi ingat satu kejadian di momen itu, di mana ketika kami berjalan keluar plaza, aku iseng menggerakkan badanku mengikuti irama lagu Gemu Famire yang diputar oleh salah seorang penjual CD di sana. Maksudku ingin menggodanya, karena dia kan receh orangnya. Tapi ternyata dia nggak melihat kekonyolan garing yang kubuat itu karena dia berjalan lebih cepat di depanku. Nggak sabar mau nonton CD yang baru dia borong kayaknya. Alih-alih dinotice olehnya, aku malah hampir jatuh karena nggak melihat turunan tangga. Dia masih nggak ngeh juga waktu itu. Akhirnya kukejar dia. Ketika kuceritakan padanya tentang apa yang kualami itu, dia ketawa terbahak-bahak sepanjang jalan.
Aku, Hardi, dan Dewi juga sama-sama tau sifat Tri yang paling melekat. Dia moody dan gampang tersinggung. Tri nggak suka dilihatin. Bahkan lirikan mata seseorang kadang bisa dia tangkap sebagai bentuk judgement. Kalo kami lagi hangout, aku beberapa kali mendapati dia ngejudesin orang yang menurutnya sedang ngelihat atau ngejudge dia. Padahal yaa kita juga nggak tau orang itu sebenarnya memang sengaja ngelihatin dia atau cuma kebetulan arah matanya ke sana, yekan?
Tapi kami cukup memahami juga kenapa dia bisa punya mode "senggol bacok" kayak gitu. Sejak dulu Tri sering dibully karena berat badannya. Jadi mungkin sikap defensif itu terbentuk dari pengalaman nggak mengenakkan yang dialaminya. Walaupun yaahh jadi orang yang memahami dia bukan berarti kami nggak pernah dibuat capek sama dia ya. Kami juga pernah berkonflik karena hal-hal receh.
Kalo udah emosi, Tri bisa meledak-ledak. Kata-kata kasar bisa keluar semua. Anehnya, dia juga gampang ketawa karena lawakan receh. Tri bisa ketawa sampai terkentut-kentut hanya karena lawakan yang menurut kami sebenarnya garing.
Anyway, di luar sifatnya yang kadang menyebalkan dan melelahkan itu, Tri sebenarnya baik juga. Dia punya teman dari Korea yang kadang mengiriminya produk-produk asli sana. Dan sering kali juga dia membaginya kepadaku, entah itu kopi, cokelat, sampai collagen peptide.
Dia juga hobi masak, dan masakannya enak-enak. Dia sering membagi kreasi masakannya ke kami. Aku pertama kali makan kimchi dan tteokbokki justru dari masakannya. Surprisingly, sampai sekarang aku nggak pernah menemukan tteokbokki yang lebih enak daripada buatan dia.
Tri juga teman karaokeku. Meskipun genre musik kami beda jauh, tapi dia nggak protes kalo aku bawain lagu rock atau metal, malah kadang merekamku tanpa kuminta. Kalo dikatain "kesurupan" perkara teriak-teriak sih udah biasa. Tapi dia nggak mengejek kalo screamku jelek. Sebaliknya aku bakal ikut bergerak mengikuti irama kalo dia bawain lagu-lagu Korea, walaupun aku sendiri nggak tau lagunya. Lagu Korea yang bisa kunyanyikan bareng dia palingan Un Myung (OST Full House), dan beberapa OST Boys Before Flowers. Selebihnya, aku awam banget. Aah, aku bakal kangen banget momen ini kayaknya. Kalo masih ada waktu, aku pingin banget bilang, mending 2 jam nemenin kamu karaokean full lagu Korea deh, Tri. Beneran. Sayangnya, sekarang udah nggak ada waktu lagi.
Setahun terakhir justru jadi hal cukup berat dari pertemanan kami. Ada konflik yang membuat hubungan kami berubah, dan berjarak. Baik aku, Tri, Hardi, dan Dewi punya versi masing-masing tentang apa yang terjadi, dan itu lumayan bikin emotionally exhausted. Meskipun aku dan Tri masih berkomunikasi, masih beberapa kali main bareng, tapi rasanya nggak sama lagi.
Ini bukan lagi sekedar konflik receh di malam idul fitri sekitar 16 tahun silam di mana Dewi memplesetkan lirik lagu Bonamana milik Super Junior dari yang harusnya "Neon algga malgga algga malgga..." menjadi "Meke meke meke meke..." sehingga membuat Tri mengamuk karena merasa idolanya dilecehkan. Aku dan Hardi juga kebawa awkward karena ikut cengengesan waktu itu. Kami baru baikan tiga bulan kemudian.
Tapi kali ini... tragically we can't fix it anymore. Hari ini tepat satu tahun kami berkonflik. Kata maaf dan ajakan untuk berdamai seperti sedia kala belum sempat terucap, dia keburu pergi.
Beberapa saat setelah menghadiri pemakaman Tri, aku dan Dewi mengirimkan chat ke grup pertemanan yang pernah kami buat. Kami sama-sama say sorry, karena setelah semua ini, kami sama-sama sadar bahwa ajal nggak bisa menunggu. Kami nggak mau terlambat mengucapkan kata maaf sebagaimana kami nggak sempat mengucapkannya pada Tri.
Aku berandai-andai kalo aja ada sesuatu yang bisa aku ubah dari masa lalu, aku pingin bisa mendapatkan satu kesempatan kecil lagi. Bukan buat menyelesaikan semuanya, dan bukan juga buat ngomongin siapa yang benar dan salah. Cuma mau duduk di ruang karaoke aja sama dia, seperti ajakannya di bulan Januari lalu yang belum sempat kami realisasikan.
Allahummaghfirlaha warhamha wa 'aafiha wa'fu'anha. I'm sorry for the things left unsaid, Nti. I wish things had been different.
Rest well. You’ll be missed 🤍






















.jpeg)



.jpeg)


- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact