Senin, 22 Desember 2025 2 komentar

Belajar Jadi Ibu di Hari Ibu

Hari ini pertama kalinya aku menghadiri rapat orangtua murid sekaligus pembagian rapot. Dan selalu ada rasa gugup dalam setiap "pertama kali" yang kualami. Dan gugup yang ini membuatku cukup deg-degan, sama seperti saat mendaftarkan Fathian sekolah bulan November lalu, karena ini artinya aku akan bertemu dengan para wali murid, bertemu orang-orang baru. Ya, walaupun Fathian baru resmi masuk bulan November lalu, aku tetap diminta hadir. Jadwalnya pun sempat berubah-ubah: awalnya tanggal 23 Desember, lalu dimajukan ke tanggal 22, dan jamnya ikut geser dari 09.00 ke 08.00. 

Setelah aku antar Fathian ke kelas, aku langsung masuk ke office. Di sana baru ada satu orangtua. Ia duduk paling belakang, dekat pintu masuk.  Sebagai seseorang yang sulit berinteraksi dengan orang baru, sebenarnya hati nuraniku udah teriak-teriak untuk ambil tempat duduk di depan. Bodohnya, aku malah memutuskan duduk di samping orangtua murid itu setelah sebelumnya memastikan kursi itu nggak ada yang punya. Aku sempat berbasa-basi tipis khas orangtua murid. Dari situ aku tahu kalau beliau mama dari salah satu murid kelas A-Besar, yang juga merupakan koordinator para orangtua murid kalo ada patungan atau acara gitu. Tapi ya gitu, nggak ada obrolan yang mengalir di antara kami, meskipun aku mencoba memancingnya dengan satu-dua pertanyaan. Yah, mungkin dia juga canggung, sama sepertiku.

Nggak lama, datang satu mama lagi dan duduk di sebelahku, yang setelah basa-basi lagi (iya, lagi), diketahui bahwa beliau adalah mamanya Dani, murid kelas A-Kecil, teman sekelas Fathian.

Karena Dani ini teman pertama Fathian, aku langsung semangat cerita kalau Fathian senang main sama anaknya. Aku juga cerita bahwa setiap kali ditanya siapa nama teman-temannya di sekolah, Dani adalah nama yang paling pertama Fathian sebut. Dalam hati, aku berharap bisa sekalian dapat teman juga. Tapi respons mamanya… ternyata yaa biasa aja. Datar. Aku yang keburu berharap malah jadi nggak enak sendiri. Wkwk. Ya sudahlah, hidup terus berjalan. Tapi karena aku merasa awkward dan nggak enak sendiri, akhirnya saat ada kesempatan untuk pindah tempat duduk, aku memutuskan pindah ke tempat duduk yang sedikit jauh dari mereka. Harusnya kuturuti aja apa kata hati nuraniku tadi ya 😅

Rapat pun dimulai. Miss Putri, salah satu staf sekolah, menyampaikan beberapa hal penting. Kepala Sekolah yang sekarang, Ibu Madyawati, udah selesai masa tugasnya. Sementara itu, Ibu Maria—yang sebelumnya aku kira beliau adalah Kepala Sekolah—akan resign untuk fokus ke kegiatan lain. Untuk Kepala Sekolah baru, masih belum diputuskan.

Miss Put juga menjelaskan kalo di sekolah Fathian ini nggak ada pelajaran calistung. Anak-anak benar-benar “dibiarkan” main, bereksplorasi, dan berkegiatan dengan fokus melatih motorik serta kemampuan bersosialisasi. Jujur, di titik itu aku sempat galau. Kukira PAUD mengajarkan calistung dasar. Aku sempat mikir, jangan-jangan aku salah masukin Fathian ke sekolah ini? Aku khawatir pas masuk TK atau SD nanti, Fathian keteteran mengejar pelajaran. Tapi Tuhan baik banget. Secara kebetulan, aku nemu diskusi di Threads soal “PAUD vs Bimba vs TK”. Aku ikut nimbrung, baca-baca, dan dapat insight yang lumayan menenangkan. Dari situ aku baru tau bahwa PAUD memang nggak mengajarkan calistung, beda sama Bimba.

Salah satu pengguna bilang, keputusanku masukin anak ke PAUD itu justru tepat. Di sini anak bisa eksplor banyak hal, melatih jari sebelum benar-benar siap pegang alat tulis, dan menyalurkan energi. Sedangkan Bimba bisa menyusul nanti, di usia lima tahun. Setelah baca itu, rasanya kayak ditepuk pundaknya sambil dibilang, “Tenang, kamu nggak salah jalan kok.”

Singkat cerita, rapatnya sendiri ternyata nggak sampai dua puluh menit. Setelah rapat selesai, baru deh masuk ke acara pembagian rapot. Aku sempat bingung sistem pembagiannya kayak gimana. Tapi melihat para orangtua murid yang menunggu di luar kelas, aku ikut aja. Rupanya kami dipanggil satu per satu sesuai kelas.

Akhirnya Ibu Satina, wali kelas Fathian memanggilku. Karena Fathian baru masuk November, Ibu Satina bilang beliau belum bisa melihat potensi anakku itu secara utuh. Fathian masih sering malu-malu, dan kadang menolak melakukan beberapa aktivitas, misalnya menempel gambar pakai lem, atau latihan toilet training.

Tapi bukan berarti nggak ada kabar baik. Menurut beliau, Fathian punya rasa ingin tahu yang tinggi. Ia suka mengamati, bisa fokus saat mewarnai atau membentuk sesuatu dengan pasir. Sementara yang perlu dikembangkan adalah pengenalan tekstur, yang dinilai masih kurang.

Selesai pembagian rapot, aku dijemput Mas. Tadinya aku mau langsung berangkat ke kantor, tapi karena sebelumnya aku udah ijin ke kantor sampai jam sebelas siang, jadi rasanya sayang banget kalo sisa waktunya nggak kumanfaatkan untuk menjemput Fathian pulang sekolah. Akhirnya aku pun memutuskan pulang dulu.

Oiya, berapa waktu setelah pulang dari acara bagi rapot itu, mamanya Dani pamit di grup chat wali murid, bilang bahwa Dani memutuskan nggak melanjutkan sekolah di sana. Aku tentunya nggak tau apa alasannya, tapi entah kenapa aku merasa sedikit sedih, mengingat teman pertama anakku ini pamit. Ketika aku menceritakan hal itu ke Fathian, responnya biasa aja, bahkan tampaknya nggak peduli. Mungkin Fathian belum ngerti perpisahan ya. Meski begitu, bukan nggak mungkin di sekolah nanti Fathian bakal tanya, "Mana Dani?" 

Long story short, akhirnya tiba waktunya Fathian pulang sekolah. Kondisi sekolah sepi waktu itu, tapi masih ada suara anak-anak di dalam kelas. Di depan pintu kelas, aku bertemu Bu Dhedo. Beliau pun memanggil Fathian ke luar. Saat melihatku, mata anak itu berbinar. Ia tersenyum sumringah dan berseru, "Mama!"

Uuh, meleleh banget rasanya hatiku melihat Fathian yang sehappy itu : bilang "mama" berulang-ulang, dengan senyum yang terus mengembang. Mungkin karena ini bisa dibilang momen langka, baik untukku, ataupun Fathian, mengingat selama ini aku selalu jadi bagian yang mengantar dan meninggalkan Fathian di sekolah, sedangkan menjemput Fathian pulang sekolah menjadi tugas papanya.

Jujur, pulang dari acara bagi rapot tadi membuat perasaanku campur aduk banget. Hari ini Hari Ibu. Nggak ada bunga, nggak ada ucapan khusus. Tapi duduk di depan wali kelas anakku, mendengar cerita tentangnya, dan melihat senyum anakku saat aku menjemputnya tadi rasanya cukup menenangkan hati. Terima kasih udah tumbuh sejauh ini ya, Nak. Mama bangga banget sama kamu ❤️

Selasa, 11 November 2025 0 komentar

Sehari yang Panjang di Salaka Land

Pagi ini aku berangkat ke kantor dengan perasaan setengah santai, setengah waswas. Santai karena acaranya nggak sebesar tahun lalu, waswas karena pengalaman mengajarkanku satu hal: acara kantor jarang berjalan benar-benar sesuai rencana. Dan benar aja, hari ini banyak kejutan kecil yang layak dikenang.

Aku sedikit bersyukur karena di perayaan HUT perusahaan tahun ini, nggak segedebak-gedebuk tahun lalu. Walaupun yaaah, di H-1 aku tetap repot dan terpaksa lembur juga sih karena ada beberapa hal yang perlu kupersiapkan untuk ditampilkan lewat presentasi Power Point. Kenapa nggak dipersiapkan jauh-jauh hari? Well, beberapa hari sebelumnya aku udah bertanya sama rekan kerjaku, bakal ada yang ditampilkan nggak? Beliau jawab, nggak ada. Katanya aku hanya perlu mempersiapkan slide show Power Point yang biasa ditampilkan untuk ceremonial meeting bulanan aja. Eh, benar aja. H-1 beliau baru ngasih instruksi ini itu :')

Singkat cerita, tibalah hari keberangkatan. Sekitar jam setengah delapan pagi, aku dan adikku, Hardi, tiba di kantor. Dan rupanyaaa, kami hampir aja telat. Mas Dian, Office Boy kantor baru aja mau menutup gerbang kantor sebelum aku keburu mencegahnya. "Mau ambil laptop dulu, Mas", ucapku sambil berlari masuk. Aku pun bergegas naik ke lantai dua, menuju ruang kerjaku. Lorong kantor udah gelap semua waktu itu. Setibanya di depan pintu ruang kerjaku, aku baru sadar bahwa pintu ruangan itu udah dikunci oleh Mas Dian. Akhirnya aku terpaksa turun lagi deh untuk minta kunci. 

Haahh, boro-boro mau ngecek ulang hasil presentasi Power Point yang kemarin kubuat, sempat ngeprint form absensi manual dan ambil barang-barang yang perlu dibawa aja udah syukur banget.

Setelah mengambil laptop dan segala hal yang perlu dibawa, aku pun bergegas melompat ke jok belakang motor Hardi, lalu menuju lokasi di mana acara akan digelar. Aku bertugas mengawasi Google Maps dan mengarahkan Hardi mengenai rute perjalanan kami.

Perjalanan terasa jauuuuh banget. Aku nggak tau juga sih apakah memang sejauh itu, atau karena kami kelewat satu belokan gara-gara aku telat kasih tau Hardi. Wkwkwkwkwk. Intinya gara-gara itu, kami jadi lewat jalan perkampungan dan selebihnya sawah-sawah yang cukup sepi sama kendaraan lewat gitu.

Setelah menempuh perjalanan lebih dari setengah jam, kami pun tiba di Salaka Land. Kami pun memarkirkan kendaraan di tempat yang udah disediakan. Dari situ, kami perlu berjalan lagi menaiki puluhan anak tangga buat tiba di resto tempat acara digelar. Di sana, udah lumayan banyak juga yang hadir. Beberapa bahkan udah ada yang duduk santai sambil menyesap kopi.

Aku langsung mencari meja yang dekat dengan stop kontak. Maklum, baterai laptopku udah harus banget diganti. Alhasil laptopku nggak bisa nyala kalo nggak dicolok. Di situ aku ngecek ulang file Power Pointku, juga memastikan musik-musik yang udah dipersiapkan bisa diputar. Cukup lama juga aku berada di situ bareng rekan-rekan lainnya. Ada yang ngopi, ngeteh, merokok, ada juga yang menikmati singkong dan ubi rebus yang disajikan panas-panas di atas nampan bambu oleh pihak resto. Padahal berdasarkan rundown acara, harusnya saat itu aku udah naik ke lantai tiga buat memutar musik sambutan. Tapi sayangnya saat itu perlengkapan sound belum siap.

Sekitar jam sembilan, aku naik ke lantai tiga bersama Viona. Kami ikut nimbrung Pak Ikin dan Pak Dicky yang sedang mempersiapkan sound dan layar LED. Kami juga bekerjasama untuk menempelkan nomor urut tempat duduk di atas rumput sintetis yang nantinya akan jadi tempat lesehan kami sepanjang acara berlangsung. Pihak resto juga udah mempersiapkan beberapa lembar daun pisang yang ditata melingkar, karena nantinya kami akan menikmati hidangan dengan cara bancakan. Tujuannya adalah agar kami bisa berbaur dengan rekan-rekan yang lain, nggak terpisah-pisah sama geng atau circle masing-masing.

Setelah selesai menempelkan nomor urut tempat duduk dan memutar musik, aku dan Viona pun turun ke halaman. Di sana, rekan-rekan kami udah berkumpul untuk melakukan sesi bakar dokumen. Hah, bakar dokumen?

Iya. Ini adalah acara simbolis untuk menegaskan bahwa kami akan beralih dari cara kerja konvensional ke cara digital. Nggak ada lagi arsip dokumen bertumpuk di gudang yang berpotensi rusak dimakan rayap. Sebagai gantinya, sebagian besar pekerjaan kami akan didukung aplikasi berbasis web, dengan harapan operasional kantor akan lebih efisien.

Kami berbaris rapi sambil masing-masing membawa satu dokumen lama di tangan. Lalu satu persatu dari kami maju, mengucapkan sepatah dua patah kata, sebelum akhirnya memasukkan dokumen ke dalam perapian. Setelah itu, kami menandatangani spanduk acara dengan spidol hitam sebagai bukti bahwa kami telah menyetujui perubahan ini.

Setelah sesi pembakaran dokumen, kami semua naik ke lantai tiga untuk memulai acara perayaan HUT. Acara dibuka dengan pembacaan doa, dilanjut menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars perusahaan bersama-sama. Jujur, saat itu aku khawatir banget lagu yang diputar bakal putus-putus, karena selama persiapan sound tadi, laptopku terkendala dengan koneksi ke speaker bluetooth yang udah dipersiapkan. Entah karena posisi yang terlalu jauh, atau gimana, aku juga kurang paham. Tapi alhamdulillah, kekhawatiranku nggak benar-benar terjadi.

Meskipun begitu, tapi masalah musik yang putus-putus ini tetap kualami juga. Entah kenapa koneksi speaker bluetooth ke laptopku itu putus-nyambung, sehingga musik yang kuputar berhenti, tapi kemudian speaker memainkan lagu yang sama sekali nggak ada di playlistku. Besar kemungkinan speaker bluetooth itu otomatis tersambung ke perangkat lain. Mana lagunya aneh-aneh pula. Viona udah berkoar-koar kepada para peserta untuk mematikan bluetooth di perangkat mereka masing-masing, juga memastikan pihak resto melakukan hal yang sama. Tapi yah, entah kenapa tetap seperti itu.

Selain itu, saat tiba waktu untuk sesi undian doorprize, aku sempat panik karena kantong plastik hitam tempat aku menaruh nomor-nomor undian, hilang entah ke mana. Aku merogoh tasku, juga tas laptopku. Aku berjalan berkeliling mencari keberadaan kantong plastik itu, bolak-balik lantai tiga ke lantai satu, bahkan dua kali menyisir halaman di mana kami bakar dokumen tadi, hasilnya tetap nihil : plastik hitam itu nggak ketemu juga. Sementara Pak Imam udah ngomel-ngomel. Saat aku kembali ke lantai tiga dengan hopeless, tiba-tiba Viona melemparkan benda yang kucari-cari itu ke tanganku. Rupanya benda yang kucari itu terselip di antara barang-barang bawaan kami. "Thank you for saving my life", ucapku padanya, yang dia balas dengan cibiran meledek.

Singkat cerita, sesi undian doordprize pun dimulai. Pembagian doorprize ini nggak serumit undian tahun lalu yang bergantung pada banyaknya kupon prestasi. Tahun ini, MC cukup mengundi beberapa nomor, memanggil para pemilik nomor tersebut, lalu meminta para pemilik nomor untuk mengambil satu gulungan kertas dalam akuarium. Siapapun yang mendapatkan gulungan kertas berisi tulisan hadiah, dia berhak atas hadiah itu. Sedangkan pemilik nomor yang mengambil gulungan berisi tulisan yang menyatakan ketidakberuntungan, yaa dengan terpaksa harus pulang dengan tangan hampa. Aku alhamdulillah mendapatkan satu unit lampu emergency 😆

Menjelang sore, hujan turun. Awalnya hanya berupa rintik-rintik, tapi kemudian menderas hingga lantai tiga yang berupa ruangan semi indoor itu tempias. Aku pun bergegas mengamankan laptopku agar nggak basah. Pak Ikin, Pak Dicky, dan kru lainnya juga segera mengamankan LED, speaker, kabel-kabel, juga makanan biar nggak mandi mendadak.

Karena hal itu, sepanjang sisa acara, kami nggak lagi pakai slide show PowerPoint dan lagu dari laptop. Lagu pengiring kami play dari Youtube di HP aja, sementara pengumuman prestasi karyawan terbaik dan reward karyawan terloyal hanya disampaikan secara lisan melalui MC. Daaan itu artinya, file PowerPoint yang kubuat kemarin sampai lembur di kantor itu percuma, nggak kepakai 🥲

Setelah pengumuman karyawan terbaik dan terloyal, acara dilanjut dengan tukar kado. Sebelumnya seluruh peserta diminta untuk menyiapkan kado senilai minimal sepuluh ribu rupiah yang dibungkus dengan kertas polos warna coklat. Aku menghadiahi sebuah wadah pulpen dari kain dan 15 buah pulpen dengan bentuk-bentuk unik. Sebenarnya aku berharap penerimanya adalah orang staf, mengingat staf adalah orang-orang yang paling sering menggunakan sekaligus kehilangan pulpen. Tapi ternyata yang mendapatkannya adalah sales. Aku sendiri mendapatkan sebuah steker T 3 lubang. Entah apa hubunganku dengan steker T 3 lubang. Jujur, ini kedua kalinya aku mendapatkan benda itu dari acara tukar kado 🙃

Setelah tukar kado, Viona dibantu Mbak Eka, sekretaris direksi, untuk membagi-bagikan souvenir berupa tumbler kaca dengan logo tema acara hari ini. Di dalam tumbler itu juga ada kejutannya. 3 peserta beruntung mendapatkan voucher uang yang bisa ditukarkan ke kasir, dan beberapa peserta apes mendapatkan kertas yang berisi "hukuman" untuk memainkan games. Alhamdulillah, aku menjadi salah satu peserta yang beruntung. Wkwk. 

Acara gathering akhirnya ditutup dengan doa dan berfoto bersama. Tadinya sih mau ada acara berenang dan main game di air, tapi karena hujan, acara itu terpaksa dibatalkan. Tapi panitia nggak melarang kalo pun ada peserta yang mau berenang. 

Hujan masih rintik-rintik ketika kami pulang, dan perjalanan terasa mencekam. Gimana enggak? Udahlah hujan, magrib, lewat area pesawahan yang sepi dan tanpa penerangan pula. Meski merinding dengan suara serangga dan kodok sawah yang terdengar nyaring sepanjang area pesawahan yang kami lewati itu, jujur kami lebih takut lagi kalo-kalo ada begal atau celaka di jalan karena kondisi jalan yang benar-benar gelap. 

Setelah melalui jalan-jalan dengan suasana sepi mencekam, rasanya lega banget saat kami masuk ke area jalan besar yang banyak dilalui kendaraan. Hujan rupanya turun merata, karena wilayah kota sama basahnya. Bahkan kawasan Mohammad Toha yang biasanya ramai banget sama para pemburu kuliner terlihat sepi. Saking sepinya, aku dan Hardi sempat kaget saat melihat seorang tukang pria dengan jas hujan warna putih menutupi badannya dari ujung kepala hingga kaki, tengah berdiri diam di sebelah gerobak salah satu pedagang. "Kirain pocong", ucap adikku yang segera kuiyakan. Sumpah, rasanya mak 'deg' gitu lho, kayak dapat jumpscare. Lagian kok ngide banget pakai jas hujan warna putih yang kontras banget sama warna kulit dan gelapnya malam 🥲

Well, meski penuh drama kecil, salah teknis, dan deg-degan, gathering tetap menyisakan kesan. Bukan karena acaranya sempurna, tapi karena dijalani bersama. Kadang yang paling diingat bukan rundownnya, tapi momen-momen absurd di antaranya. 

Jumat, 04 Juli 2025 0 komentar

SQUID GAME SEASON 3 : Ketika Detektif Lebih Cocok Jadi Dora The Explorer

Setelah digantung di Squid Game Season 2, akhirnya Season 3 muncul nih, menjawab semua rasa penasaran para penikmat film survival thriller ini tentang gimana sih akhir dari perjuangan Seong Gi-hun di Squid Game Arena yang penuh kebrutalan dan dilema ini?

Pemberontakan dan penyerangan terhadap orang-orang di balik Squid Game yang dipimpin oleh Gi-hun menyebabkan banyaknya prajurit dan pemain Squid Game yang gugur, terutama para pemain yang ada di pihak Gi-hun. Gi-hun yang berhasil dilumpuhkan, dibawa kembali ke bangsal. Dan karena dianggap sebagai otak dari pemberontakan, prajurit Squid Game memborgol kedua tangannya di sisi ranjangnya untuk membatasi geraknya. Namun meski begitu, tentunya Gi-hun tetap diberikan hak untuk memvoting dan mengikuti permainan. Squid Game dengan cepat merekrut prajurit-prajurit baru untuk menggantikan prajurit mereka yang gugur, sementara permainan tetap berlanjut. 

Pasca pemberontakan itu, Gi-hun merasa sangat frustrasi. Ia marah pada diri sendiri. Ia terpukul atas kematian dua sahabatnya : Jung-bae, dan Young-il (yang sebenarnya masih hidup, karena dia adalah si frontman yang menyamar, Hwang In-ho). Namun rasa marah yang lebih besar ia rasakan terhadap Dae-ho, pemuda yang diberi amanah kembali ke bangsal untuk membawakan amunisi, tapi malah jadi pengecut dan mundur dari pertempuran. Gi-hun pun menjadi dendam dan terobsesi untuk menghabisi Dae-ho.

Permainan selanjutnya adalah Petak Umpet. Pada permainan ini, para pemain dibagi dua kelompok : satu kelompok memegang kunci, kelompok lainnya memegang pisau. Pemain pemegang kunci harus lari dan bersembunyi (now let's just call them 'Penyembunyi'), sementara pemain pemegang pisau akan memburu mereka (call them 'Pemburu'). Oh ya, kunci yang dipegang oleh Penyembunyi memiliki bentuk ujung berbeda : lingkaran, segitiga, dan segi empat. Masing-masing Penyembunyi hanya diberi satu kunci, dan mereka hanya bisa membuka pintu ruang persembunyian (termasuk pintu keluar permainan) dengan lubang kunci yang cocok dengan bentuk ujung kunci yang mereka pegang. Pemain berstatus Pemburu harus membunuh setidaknya satu Penyembunyi dan dilarang untuk menyerang sesama Pemburu. Jika Pemburu nggak bisa membunuh satupun Penyembunyi, maka Pemburu itu akan gugur. Sebelum permainan dimulai, peserta dibolehkan untuk tukar posisi dengan peserta lainnya. Gi-hun yang menjadi Pemburu merasa ini adalah kesempatan besar untuknya menghabisi Dae-ho yang menjadi Penyembunyi dalam permainan ini.

Benar aja, saat permainan dimulai, Gi-hun nggak memburu siapapun selain Dae-ho. Sampai satu waktu, di mana Dae-ho benar-benar terdesak, dia nggak punya kesempatan apapun selain melawan. Ia mengkonfrontasi Gi-hun bahwa banyaknya pemain yang gugur adalah karena Gi-hun berambisi untuk memenangkan permainan sendirian. Mereka pun berkelahi dengan sengit yang berujung pada kematian Dae-ho di tangan Gi-hun.

Oh ya, di postinganku sebelumnya tentang Squid Game Season 2, aku menyebutkan bahwa aku menjagokan Hyun-ju, karakter transgender yang merupakan mantan tentara, di series ini. Dalam permainan ini, ia menjadi peserta pemegang kunci bersama Jun-hee si perempuan hamil dan Geum-ja si ibu tua. Sebagai yang terkuat di antara dua peserta yang rapuh ini, Hyun-ju memimpin di depan. Ia memegang tiga kunci : kunci miliknya, milik Jun-hee, dan milik Geum-ja, yang secara kebetulan memiliki tiga bentuk berbeda : segitiga, segi empat, dan lingkaran. Jun-hee dan Geum-ja mempercayakan kunci mereka dipegang oleh Hyun-ju karena hal itu memungkinkan mereka buat membuka pintu tempat persembunyian dengan lebih cepat.

Di tengah permainan, Jun-hee terjatuh dari tangga saat tim mereka mencoba kabur dari kejaran Pemburu. Hal ini menyebabkan pergelangan kaki Jun-hee cidera parah. Mereka bertiga pun bersembunyi di dalam sebuah ruangan. Namun ketegangan mereka nggak hanya sampai di situ. Air ketuban Jun-hee tiba-tiba pecah, dan ia terpaksa harus melahirkan di situ. Alhasil dibagilah tugas : Geum-ja membantu Jun-hee melahirkan, sementara Hyun-ju berjaga di depan pintu. 

Singkat cerita, Jun-hee melahirkan bayinya dengan selamat. Kelahiran bayi itu disambut senyum suka cita bercampur haru dari mereka bertiga. Namun di tengah-tengah suasana haru itu, seorang Pemburu tiba-tiba masuk. Ia sempat terpaku sejenak. Well, siapa yang nggak shocked melihat seorang ibu yang baru aja melahirkan seorang bayi di tengah-tengah situasi mematikan? Saat Pemburu itu mulai menyerang, Hyun-ju langsung sigap melawan dan menjauhkan Pemburu itu dari Geum-ja, Jun-hee, dan bayinya. 

Mereka bertarung sengit hingga masuk ke ruangan lain. Meski sempat tertusuk di perut bagian kirinya, Hyun-ju berhasil memenangkan pertarungan itu setelah menghujamkan pisau berkali-kali ke dada si Pemburu. Saat akan meninggalkan ruangan itu, Hyun-ju tersadar bahwa ruangan tempat ia berada memiliki pintu keluar. Pintu itu terkunci dan hanya bisa dibuka dengan tiga kunci dengan bentuk berbeda. Masih ingat kan kalo Hyun-ju membawa tiga kunci? Ia pun segera memasukkan kunci-kunci itu dan membuka... Seketika, sebuah ruangan bercahaya terang terbuka, disusul dengan alunan lagu berirama riang, "Congratulations.. and celebrations...". Ia pun melangkah maju sebelum akhirnya menoleh ke belakang, tersadar bahwa timnya masih tertinggal.


Dengan langkah tertatih-tatih dan darah segar mengalir dari luka di perutnya, Hyun-ju menghampiri ruangan di mana timnya berada. Dengan mata berbinar dan senyum lebar, ia kabarkan pada mereka bahwa pintu keluar berada nggak jauh dari situ. Namun belum sedikit pun Jun-hee dan Geum-ja beranjak dari duduknya, seseorang menusuk pinggang Hyun-ju dari belakang berkali-kali hingga tewas, memupuskan harapan tim mereka untuk keluar bersama dari permainan. Sumpah, scene ini tuh heartbreaking banget. Bayangkan, alih-alih mengambil kemenangan yang udah di depan matanya, Hyun-ju memilih untuk menjemput timnya, karena dia nggak mau menang sendirian. Dan yang lebih menyesakkan lagi, yang membunuhnya adalah Myung-gi, mantan pacar Jun-hee yang juga merupakan ayah dari bayi yang dilahirkannya. 

Beberapa saat sebelum permainan Petak Umpet dimulai, Jun-hee yang seharusnya menjadi Pemburu, bertukar posisi dengan Myung-gi yang harusnya menjadi Penyembunyi. Myung-gi yang memintanya duluan, karena dia tau mantannya itu bukan tipe orang yang tega membunuh orang. Myung-gi juga berjanji akan melindungi Jun-hee dari Pemburu lain. Tapi keserakahan nampaknya membuat Myung-gi lupa. Meski udah berhasil membunuh satu Penyembunyi, Myung-gi nggak lantas berhenti. Ia terus memburu Penyembunyi lainnya, biar dia bisa dapat duit lebih banyak, hingga tanpa sadar dia membunuh orang yang justru paling peduli dan protektif terhadap Jun-hee, dengan pisau yang Jun-hee berikan padanya. Haiiissh, Hyun-ju's death left me traumatized deh, kayak kematian Ali di Season 1 dulu. Huhu. 

Permainan Petak Umpet juga meninggalkan kesedihan mendalam untuk Geum-ja. Putranya yang menjadi Pemburu gugur dalam permainan karena nggak bisa membunuh siapapun. Beberapa waktu sebelum permainan berakhir, ia sempat menemui Geum-ja dan berniat untuk menghabisi Jun-hee. Namun meski sangat menyayangi putranya, Geum-ja nggak bisa membiarkan ia membunuh Jun-hee. Maka ia pun menghujamkan tusuk kondenya pada punggung putranya. Hal itu memang nggak secara langsung menewaskan putranya, tapi mampu mencegah ia untuk membunuh Jun-hee. Putra Geum-ja tewas setelah timah panas prajurit Squid Game menembus tubuhnya sebagai hukuman karena gagal sebagai Pemburu. Geum-ja yang dihantui rasa bersalah karena merasa telah membunuh putranya sendiri, akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Namun sebelum kepergiannya, Geum-ja sempat mendatangi Gi-hun dan meyakinkannya bahwa Gi-hun adalah orang baik yang hadir di tengah mereka untuk menyelamatkan semua orang. Ia juga memohon pada Gi-hun untuk menyelamatkan Jun-hee dan bayinya. 

Kehilangan seorang sahabat dan seorang wanita yang telah dianggapnya sebagai ibu sendiri membuat Jun-hee merasa sangat-sangat terpukul. Ia menangis sambil memeluk erat bayinya, sadar bahwa hanya bayinyalah yang dia miliki saat ini. Di adegan ini rasanya aku pingin banget noyor kepalanya Myung-gi yang doing nothing but memandang Jun-hee dari kejauhan, such a fuckin' coward.

Kata-kata dari mendiang Geum-ja nampaknya mampu menggugah kembali nurani Gi-hun. Menjelang permainan berikutnya, ia menghampiri Jun-hee yang masih dihantui rasa bersalah karena menganggap bahwa dirinya adalah penyebab kematian Hyun-ju dan Geum-ja. Seperti Geum-ja yang meyakinkan Gi-hun, Gi-hun pun meyakinkan Jun-hee bahwa semua itu bukan salahnya, karena setiap orang memiliki keputusannya masing-masing. Gi-hun juga berkata pada Jun-hee untuk menjaga bayinya apapun yang terjadi, dan berjanji akan membantunya.


Permainan berikutnya adalah Lompat Tali. Untuk menyelesaikan permainan ini, pemain harus menyeberangi jembatan sempit dalam waktu 20 menit, sambil melompat untuk menghindari tali logam yang berputar yang kecepatannya bertambah seiring berjalannya waktu. Nggak hanya itu, di tengah jembatan juga terdapat celah yang menambah kesulitan permainan. Pemain yang gagal melewati jembatan, tentunya bakal terjun bebas dari ketinggian sebelum akhirnya tubuh mereka mendarat di lantai. Sebelum permainan dimulai, Gi-hun berlutut untuk memeriksa kondisi pergelangan kaki Jun-hee yang ternyata udah bengkak parah dengan permukaannya yang berwarna biru keunguan, sangat nggak memungkinkan buat mengikuti permainan. Namun Gi-hun mengajak Jun-hee untuk melewati jembatan itu bersama-sama (dengan cara Gi-hun menggendong Jun-hee, maybe). Sementara bayi Jun-hee akan mereka tinggalkan dulu sampai permainan usai. Tapi tiba-tiba seorang prajurit berkata, bahwa siapapun yang ada di sana adalah pemain, tanpa terkecuali. Dengan kata lain, bayi Jun-hee pun harus mengikuti permainan.

Gi-hun pun menyusun strategi baru. Ia akan menggendong bayi Jun-hee hingga ke seberang dan meletakannya di sana, lalu kembali untuk menjemput dan kemudian menggendong Jun-hee melewati jembatan. Hal ini tentunya jadi dilema besar buat Jun-hee. Saat tiba gilirannya menyeberang, Gi-hun memang berhasil membawa bayinya. Tapi apakah Gi-hun bakal mampu buat menjemput dan menggendongnya? Apalagi waktu mereka semakin terbatas, dan suasana udah chaos banget, karena pemain yang serakah berusaha untuk menghalang-halangi pemain lain untuk melewati jembatan, bahkan ada juga yang sengaja didorong jatuh oleh pemain lain begitu tiba di seberang.

Di tengah-tengah suasana chaos dan menegangkan itu, Myung-gi menghampiri Jun-hee. Dia menarik tangan Jun-hee untuk mengajaknya mulai bermain, karena sebentar lagi mereka bakal kehabisan waktu. Namun Jun-hee menepis tangan Myung-gi, masih kecewa berat karena dia udah membunuh Hyun-ju. Toh, Jun-hee juga nggak yakin Myung-gi rela berkorban untuknya. Saat Jun-hee memperlihatkan kondisi kakinya, Myung-gi hanya menatap nanar dan nggak berkomentar apapun lagi. Ia pun berbalik badan perlahan dan mulai bermain.

Waktu tersisa satu menit lebih sepuluh detik, tinggal Jun-hee seorang. Sementara Myung-gi yang paling terakhir bermain, udah berhasil sampai di seberang. Saat Gi-hun bersiap untuk menjemputnya, Jun-hee berseru agar Gi-hun tetap berada di tempatnya. Ia berjalan perlahan ke tepi 'jurang' sambil berkata bahwa Gi-hun nggak perlu menjemputnya, karena jika Gi-hun gagal menyeberang, maka bayinya pun nggak akan selamat. Jun-hee nggak ingin mengorbankan orang lain lagi. Well, menurutku keputusan Jun-hee untuk nggak menerima bantuan Gi-hun ini cukup realistis sih. Jun-hee, dan semua penonton juga pasti udah desperate dan nggak melihat kemungkinan rencana Gi-hun bakal berhasil terealisasi dalam sisa waktu sesingkat itu.
"Kau bilang padaku untuk menjaga bayiku apapun yang terjadi. Itu lah yang sedang aku lakukan saat ini. Tolong bantu aku," tuturnya sebelum ia menjatuhkan diri dan gugur, meninggalkan Gi-hun yang masih terpaku dan Myung-gi yang terisak.


Jujur, meskipun sepanjang menonton Squid Game, aku selalu menganggap Jun-hee sebagai beban orang lain, tapi melihat dia mati dengan cara seperti itu, rasanya miris juga. Ia mati dengan menyimpan banyak rasa sakit hati dan penyesalan : dua sahabatnya tewas karena melindunginya, kekasihnya meninggalkannya, dan ia telah membawa serta bayinya yang nggak berdosa ke 'neraka' itu, kemudian membebankannya lagi pada orang lain. 

Anyway, bukan Squid Game namanya kalo nggak mencetuskan ide-ide gila yang membuat para pemainnya tercengang. Kehadiran bayi Jun-hee di tengah-tengah permainan lah yang melahirkan ide gila itu. Nomor peserta 222 milik Jun-hee yang semula dinyatakan gugur, kembali masuk ke permainan. Tentu bukan Jun-hee yang bangkit dari kematian, melainkan bayinya lah yang menggantikan dirinya. Hal ini tentunya menyulut kemarahan beberapa pemain yang merasa dirugikan, karena nggak rela membagi hadiah uang mereka dengan bayi itu. Mereka pun mulai merangsek maju ke arah Gi-hun untuk merebut bayi itu dan menyingkirkannya. Namun prajurit Squid Game meletuskan tembakan peringatan dan menyatakan bahwa mereka nggak diperkenankan lagi buat melakukan kekerasan fisik antar pemain.

Malam itu, saat semua pemain tertidur, Gi-hun diundang untuk bertemu dengan frontman di ruangannya. Di sanalah si frontman mengungkapkan identitasnya, bahwa ia adalah Hwang In-ho yang menyamar sebagai pemain 001 bernama Young-il, peserta yang sangat Gi-hun percaya, sama seperti mendiang Oh Il-nam dulu. Gi-hun pun tentunya merasa dicurangi buat yang kedua kalinya. Pada pertemuan itu, In-ho memberi Gi-hun sebilah pisau. Ia menuturkan bahwa saat ini adalah kesempatan bagi Gi-hun untuk membunuh semua pemain yang tersisa dengan pisau itu, sehingga Gi-hun dan bayi Jun-hee bisa pulang dengan membawa semua hadiah. Gi-hun memang menerima pisau itu, tapi ia memutuskan untuk nggak mengikuti saran In-ho.

Tibalah Gi-hun dan para pemain lainnya di permainan selanjutnya, yakni Sky Squid Game. Pemain memainkan permainan ini di atas tiga menara tinggi berbentuk persegi, segitiga, dan lingkaran. Untuk memulai permainan di setiap menara, pemain harus menginjak tombol di tengah menara. Saat permainan dimulai, pemain memiliki waktu 15 menit untuk mengeliminasi atau menjatuhkan setidaknya satu orang pemain. Setelah 15 menit berlalu dan satu atau lebih pemain tereliminasi, sebuah jembatan akan muncul, memungkinkan pemain yang tersisa untuk pergi ke menara di sebelahnya. Jika seorang pemain tereliminasi sebelum tombol di tengah menara ditekan, maka eliminasi ini nggak akan dihitung. Jika waktu habis dan nggak ada yang tereliminasi, maka semua pemain yang tersisa akan dibunuh oleh prajurit.

Jujur, scene ini rada boring dan aneh, like, kamu dan teman-teman satu circle-mu berencana untuk menjatuhkan seseorang dari atas menara, tapi kasak-kusuknya tuh di hadapan orangnya gitu. Meski begitu, tapi rasanya tetap tegang juga karena permainan yang satu ini benar-benar menentukan gimana nasib Gi-hun dan bayi itu nantinya. Dan permainan ini juga menunjukkan bahwa kamu nggak bisa sepenuhnya menaruh kepercayaan sama circle-mu, apalagi kalo kamu tau mereka itu orang-orang yang toxic. Mungkin sekarang kalian bisa berdiskusi bareng untuk mengeliminasi seseorang, tapi sejurus nanti, saat kalian gagal mengeliminasi target, bisa jadi kamu yang bakal didorong jatuh dari menara, bahkan lebih jahatnya lagi, kamu dilumpuhkan buat jadi 'bekal' untuk dijatuhkan dari menara selanjutnya.

Singkat cerita, setelah para pemain melakukan aksi saling dorong di atas menara, mengkhianati satu sama lain, tersisalah tiga orang pemain : Gi-hun, bayi Jun-hee, dan Myung-gi. Ini adalah ronde terakhir, dan salah satu dari tiga pemain ini harus tereliminasi untuk mengakhiri permainan. Myung-gi memaksa Gi-hun untuk menyerahkan bayinya. Namun Gi-hun yang udah berjanji pada Jun-hee untuk menjaga bayinya, memilih untuk bertarung.

BTW kalian bertanya-tanya nggak sih, Myung-gi ini sebenarnya laki-laki macam apa? Jujur, aku sih dibikin bingung banget sama karakter dia. Sometimes he looks so care about Jun-hee and the baby, but sometimes he looks like an egoistic bastard who cares for himself. Tapi menurutku pribadi, dia mungkin memang peduli dan sayang sama mereka, tapi bukan peduli dan sayang yang ugal-ugalan gitu lho. Dalam situasi kepepet, Myung-gi bisa aja mengorbankan mereka berdua. Dengan kata lain, prioritasnya tetap duit dan keselamatannya sendiri. Well, how do you think, Guys?

Berbekal pisau dari In-ho, Gi-hun melawan Myung-gi di atas menara lingkaran. Mereka bertarung sengit hingga keduanya jatuh dari sisi menara. Gi-hun berpegangan pada tepi menara, sedangkan Myung-gi berpegangan pada lengannya. Namun pegangannya terlepas dan Myung-gi pun jatuh, tereliminasi. Gi-hun memanjat kembali ke atas menara. Ia tertegun melihat tombol yang belum ditekan, sehingga kematian Myung-gi nggak dihitung.

Kini hanya tersisa Gi-hun dan bayi Jun-hee. Gi-hun menekan tombol di tengah menara. Seiring berjalannya waktu, Gi-hun menghabiskan sebagian besar waktunya menggendong bayi, mencium, dan memeluknya di dadanya. Sumpah, scene ini tuh sedih banget, seolah Gi-hun mau mengucapkan selamat tinggal sekaligus meminta maaf karena cuma bisa menemani bayi Jun-hee sampai di situ. Gi-hun meletakkan bayi Jun-hee perlahan. Kemudian ia berdiri sambil melangkah mundur perlahan ke tepi puncak menara. "Kita bukan kuda. Kita manusia. Dan manusia adalah...", ucapnya sebelum akhirnya menjatuhkan diri dari sana, meninggalkan bayi Jun-hee sendiri di atas menara, menjadikannya pemenang Squid Game malam itu. Para tamu VIP Squid Game yang semula riuh dan saling bertaruh, seketika bungkam melihat pengorbanan tanpa pamrih di depan mata mereka. 




Anyway, dari tadi kita ngobrolin tentang perjuangan Gi-hun di Squid Game Arena melulu yah? Ke mana nih Jun-ho CS yang dikerahkan buat mengikuti Gi-hun dan menemukan pulau misterius? Kok sampai Gi-hun kehilangan nyawanya, mereka nggak ada satu pun yang muncul batang hidungnya? 

Well, kalo boleh jujur, I think Detective Jun-ho is the so-called hero yang benar-benar nggak penting di series ini. Sejak season pertama, dia memberi harapan besar pada penonton, but in the end dia mengecewakan kita semua. Bayangkaaaann, dia ini polisi detektif lho. Tapi dia sama sekali nggak curiga sama kapten kapal mereka yang ternyata merupakan sekutu dari Squid Game. Bahkan ketika Woo-seok mengungkapkan kecurigaannya terhadap kapten kapal mereka pun, Jun-ho tetap bebal. Dia baru sadar bahwa ucapan Woo-seok benar setelah semuanya terlambat : hampir semua pasukannya ditembak mati oleh sang kapten. Jadi rasanya yang lebih cocok jadi detektif itu si Woo-seok deh. Meski dari luar tampak seperti orang bodoh, tapi insting dan nalarnya tuh jalan gitu. Sedangkan Jun-ho, kayaknya satu-satunya hal berguna yang dia lakukan di series ini cuma menyelamatkan salah seorang peserta Squid Game yang kabur dari permainan dan sedang dikejar prajurit. Selebihnya, I think Jun-ho ini sebenarnya pulici Konoha cabang Korea :')

Setelah pencarian panjang dan mengorbankan banyak nyawa, Jun-ho akhirnya menemukan pulau misterius itu, sekaligus tempat di mana Squid Game diselenggarakan. But again, semuanya terlambat. Permainan udah berakhir dan tempat itu bakal segera dihancurkan. Ia memang berhasil menemukan kakaknya, si Hwang In-ho, tapi mereka cuma bertemu mata dari kejauhan. Jun-ho nggak sempat mengatakan apapun, kecuali, "KENAPA!?" sebelum akhirnya In-ho kembali menghilang dari pandangannya. 

Daaaaan hal yang paling kamvret di series ini adalah... enam bulan setelah tempat penyelenggaraan Squid Game dihancurkan, Jun-ho menemukan baby crib berisi bayi di ruang tengah rumahnya. Siapa bayi itu? Ya, dia adalah bayi Jun-hee, lengkap dengan sebuah amplop hitam berpita merah berisi sebuah kartu ATM dengan saldo 45,6 milyar won. Dengan kata lain, setelah semua hal nggak berguna yang Jun-ho lakukan, dia dapat give away bayi tajir, plus duit-duitnya 😭

Yah, lupakan aja lah segala ending yang membagongkan itu. Hal positifnya, dari Squid Game kita bisa belajar bahwa trauma nggak selalu bisa membuat kita mati rasa. Mungkin ada orang-orang seperti In-ho yang kehilangan empati karena mengalami trauma dari pengkhianatan dan kekejaman orang lain dan memilih untuk menjadi bagian dari orang-orang yang kejam itu, tapi kita bisa menjadi seperti Gi-hun yang juga mengalami trauma yang sama, tapi memilih untuk merespon luka dengan lebih bijak, memilih untuk tetap menolong dan berempati. Menyakitkan memang, tapi seenggaknya kita nggak lupa menjadi manusia. Dan... oh ya, satu lagi. Kalo kamu merasa rendah diri karena umur dua bulan belum bisa naik haji kayak Thoriq Halilintar, ingatlah bahwa ada bayi yang baru umur dua hari udah menang Squid Game.

Sabtu, 12 April 2025 0 komentar

Us in a Frame

Lama banget nggak foto studio. Terakhir kali aku berfoto studio itu sekitar empat tahun lalu, saat aku dan Mas melakukan foto simple pre-wedding di sebuah studio foto yang cukup ternama di kota kami, tapi berujung kesal tiada tara gara-gara hasilnya yang sangat jauh dari ekspektasi : dinding background belang-belang dan mengelupas di beberapa bagian, lantai cuma beralaskan kain alakadarnya. Benar-benar nggak worth the price (pernah aku ceritakan di sini). Sejak saat itu aku jadi rada trust issue, karena ternyata nama besar dan harga mahal pun nggak menjamin hasil yang bagus.

Tapi tanggal 3 lalu, aku, Mas, dan Fathian melakukan foto keluarga di sebuah studio foto yang udah lumayan lama juga aku follow di Instagram, namanya HD Photography. Aku tertarik dengan studio ini karena selain tarifnya yang terjangkau, mereka juga sering kasih promo diskon, dan foto-foto yang ditampilkan di Instagram mereka cukup menjanjikan, nggak beda jauh sama foto-foto yang ditampilkan di Instagram studio foto yang aku ceritakan sebelumnya. Dan rencana buat berfoto keluarga ini juga udah lamaaa banget kami rencanakan, namun baru terealisasi sekarang karena sebelumnya kami berpikir Fathian masih terlalu kecil. Kami khawatir alih-alih mau berpose, dia malah menangis atau bahkan tantrum. Kali ini kami cukup yakin bahwa Fathian udah lebih siap karena dalam beberapa kesempatan berfoto, dia udah ngerti cara berpose. 

Saat itu studio foto ini sedang memberikan promo spesial Idul Fitri dengan tarif 100.000 aja untuk sesi foto selama 15 menit dan tiga lembar foto cetak ukuran 4R. Karena jadwal foto kami adalah jam tiga sore, jadi setengah jam sebelumnya, kami berangkat di rumah. Agak kesal juga di perjalanan, karena banyak akses jalan yang ditutup selama arus balik lebaran ini. Jadi kami harus ambil jalan memutar yang bisa dibilang jauh banget. 

Sesampainya di tempat (a bit surprised karena tempatnya rupanya lumayan kecil, but it's okay kalo hasilnya bagus), kami pun menunggu di luar bersama beberapa orang lainnya yang nampaknya juga tengah menunggu giliran sesi fotonya. Sebenarnya di dalam juga ada tempat duduk sih, tapi penuh dengan customer lainnya yang udah lebih dulu datang. Cukup lama juga kami nunggu di sana. Kayaknya hampir satu jam deh. 

Saat giliran kami berfoto, pertama-tama, kami diminta untuk memilih warna background. Hari itu aku dan Mas sama-sama mengenakan pakaian berwarna olive-hitam, sedangkan Fathian mengenakan pakaian hitam, jadi sepertinya akan cocok dengan background warna coklat. Awalnya sesi berfoto berjalan mulus. Namun itu hanya berlangsung beberapa menit sebelum Fathian merasa nggak nyaman dan mulai ngereog. Nggak sampai nangis apalagi ngamuk sih, tapi kami cukup kewalahan untuk mengajaknya berpose dengan benar. Jadi saat itu kami benar-benar nggak berekspektasi apapun, kayak, "Ya udah deh, ikhlas aja kalo hasil fotonya nanti nggak ada yang bagus", gitu.

Setelah berfoto, kasir menginformasikan bahwa semua file foto akan dikirimkan melalui Google Drive, sedangkan hasil foto cetaknya baru jadi beberapa minggu ke depan (mereka bakal informasikan via chat WhatsApp nantinya). Kami pulang sekitar jam setengah lima sore. Hujan turun saat itu. Awalnya cuma gerimis, tapi begitu kami keluar dari tempat parkir, hujan mulai menderas. Sialnya, kami cuma bawa satu jas hujan yang akhirnya hanya aku pakai bagian atasnya aja buat menutupi Fathian biar dia nggak kebasahan. Sisanya? Kami basah kuyup kayak tikus kecebur got. Padahal rencananya setelah berfoto tadi, kami mau mampir untuk makan di luar, tapi dengan keadaan kami yang basah kuyup kayak gitu, rasanya nggak memungkinkan. Akhirnya kami pun memutuskan untuk langsung pulang. Wkwkwk. 

Berasa apes banget gitu ya? Udah sesi berfotonya chaos, ditambah pulangnya harus basah-basahan. Tapi alhamdulillah nggak juga, karena kabar baiknya, hasil foto-foto kami banyak juga yang bagus. Huhuhu. Memang sih ada beberapa foto-foto kami yang kelihatan kacau di mana kamera saat itu mengabadikan ekspresi Fathian yang sedang ngereog : ada yang ngucek mata, ada yang berontak, ada yang merem sambil teriak. Haduuuh. Tapi hal itu rupanya cukup ngasih 'warna' yang unik dari hasil foto-foto kami.

Daaan, karena hasil foto keluarga kemarin cukup memuaskan, minggu lalu, tepatnya tanggal 5 kemarin, aku mengusulkan pada adikku, Dewi, dan Tri buat berfoto di situ juga. FYI, usulan buat berfoto studio ini pertama kali dicetuskan oleh Tri di WhatsApp Group kami. Tadinya kami mau berfoto studio di sebuah studio kecil yang mirip-mirip photobox gitu. Tapi melihat hasil foto di HD Photography yang jauh lebih banyak dan memuaskan dengan tarif yang sangat affordable, aku jadi berani buat merekomendasikan tempat itu sebagai tempat untuk mengabadikan momen bersama kami.

Jam setengah tiga sore, kami berangkat bareng dari rumah Tri. Aku dibonceng Tri, Dewi dibonceng Hardi. Sesampainya di sana, aku bisa melihat ekspresi mereka yang nampak nggak yakin dengan studio foto itu. Yah, sama aja kayak waktu aku pertama kali ke sana lah ya. Alhamdulillah, di sana kami nggak perlu menunggu terlalu lama kayak waktu aku berfoto bareng Mas dan Fathian minggu lalu. Kayaknya cuma sepuluh menitan deh. Dengan dresscode kami yang berwarna hitam dan nude, kami sepakat memilih background warna putih. 

Singkat cerita, sesi foto pun dimulai. Selama sesi foto itu, Hardi nampaknya sedikit tertekan dengan banyaknya variasi pose yang diminta fotografer. Sebagai satu-satunya cowok di antara kami, pose-pose foto yang cenderung lebih cocok buat cewek membuatnya merasa kurang nyaman. Wkwk. Sesi foto itu berlangsung selama lima belas menitan. 

Setelah membayar, kami pun keluar dari studio dan menuju tempat lain buat nongkrong. Kebetulan Dewi punya rekomendasi cafe baru yang katanya punya menu kopi yang enak, Stone Hand Cafe. Saat tiba di parkiran, aku menerima link Google Drive dari HD Photography yang menandakan bahwa foto-foto kami udah diupload ke situ dan siap untuk kami unduh. Aku pun memforward link itu ke Hardi, Tri, dan Dewi biar mereka juga bisa lihat hasil foto-foto kami tadi. 

Sesi foto yang berlangsung selama lima belas menitan itu menghasilkan ratusan foto yang hampir semuanya bagus. Ditambah nantinya kami juga bakal dikasih masing-masing empat foto cetak. Dengan cukup patungan 25.000 perorang aja, kami bisa mendapatkan itu semua. Aku bisa melihat raut puas di wajah teman-temanku itu. Syukurlah. 

Di Stone Hand Cafe, kami memilih sebuah meja dekat jendela yang menghadap ke arah parkiran. Aku dan Dewi memesan es kopi, Hardi memesan es cokelat, dan Tri memesan es matcha. Aku juga memesan seporsi Stony's Sourdough untuk kami nikmati berempat.


Sambil menyesap es dan melihat-lihat hasil foto kami, kami jadi sedikit bernostalgia tentang masa kecil kami dulu. Aku pernah menceritakan tentang masa kecil kami itu di postingan lamaku di sini. Yah meskipun momen bersama Tri bisa dibilang sedikit banget saat itu, karena kami baru berteman dekat dengan Tri di tahun 2009-an, dan saat itu kami udah remaja, tapi kami tetap membahas momen-momen lama bersamanya. Rasanya selalu lucu membahas momen-momen itu. Our childhood was fun. Kami bertumbuh, tapi tawa kami belum tua :')

Senin, 07 April 2025 0 komentar

TV Series : HI BYE, MAMA!

Apa yang akan kamu lakukan kalo dikasih kesempatan oleh Tuhan untuk kembali ke orang-orang yang kamu sayang, tapi cuma 49 hari? Hi, Bye Mama! nggak cuma soal keajaiban, tapi juga soal hati yang luka, keluarga yang berusaha utuh, dan pilihan yang nggak mudah diputuskan.

Series ini menceritakan tentang sesosok arwah bernama Cha Yu-ri yang menyesali kematiannya karena nggak bisa membersamai anak perempuannya sejak sang anak lahir. Yu-ri meninggal akibat kecelakaan yang dialaminya saat ia tengah hamil besar. Karena kecelakaan itu, sang anak, Cho Seo-woo, lahir tanpa seorang ibu.

Selama lima tahun, arwah Yu-ri selalu mengikuti Seo-wo, bahkan setelah sang suami, Cho Gang-hwa menikah lagi. Dan karena Yu-ri selalu 'menempeli' Seo-woo sejak lahir, anaknya itu jadi bisa melihat arwah. Hal ini membuat tumbuh kembang Seo-woo terganggu, bahkan berpotensi membahayakan nyawanya. Pernah Seo-woo hampir meninggal setelah terjebak di dalam kulkas karena mengikuti arwah seorang anak laki-laki di sekolahnya yang mengajak Seo-woo bermain, dan Yu-ri hanya bisa menangis dan berteriak histeris karena nggak bisa melakukan apapun buat menyelamatkannya (karena dia arwah, nggak bisa menyentuh Seo-woo). Setelah kejadian itu, Yu-ri merasa sangat bersalah. Ia pun menangis sambil memaki dewa. Tanpa diduga, sebuah keajaiban terjadi : Yu-ri kembali menjadi manusia.

Ibu Mi Dong-daek, seorang praktisi spiritual alias dukun yang dikenal Yu-ri, mendatanginya dan menjelaskan bahwa setiap arwah orang yang meninggal, memiliki waktu 49 hari untuk diadili sebelum akhirnya mereka bereinkarnasi menjadi manusia ataupun hewan, berbeda dengan Yu-ri yang diadili dengan diberi kesempatan hidup kembali oleh dewa selama jangka waktu tersebut. Jika selama 49 hari, Yu-ri bisa menemukan kembali 'tempatnya'—dalam artian kembali menjadi istri dari Cho Gang-hwa, dan ibu dari Cho Seo-woo—maka ia bisa benar-benar hidup kembali di dunia. Tapi jika sebaliknya, maka Yu-ri akan langsung bereinkarnasi menjadi sosok baru yang ditetapkan oleh dewa. Mendengar hal itu, tentunya Yu-ri merasa keberatan. Ia sadar bahwa Gang-hwa udah menikah lagi, dan dia nggak mungkin merebut posisi Oh Min-jeong yang saat ini berstatus sebagai istri Gang-hwa.

Namun kesempatan hidup kedua ini tentunya nggak pingin Yu-ri sia-siakan begitu aja. Keesokan paginya, Yu-ri yang merindukan sang anak, mendatangi sekolah Seo-woo. Batapa bahagianya Yu-ri waktu bisa memeluk dan menyentuh Seo-woo buat pertama kalinya. Ia mengajak Seo-woo jalan-jalan dan bermain hingga malam hari. Gang-hwa dan Min-jeong tentunya khawatir dan panik karena Seo-woo nggak ada di sekolah. Mereka pun berpencar untuk mencari Seo-woo ke tempat-tempat yang memungkinkan keberadaan gadis kecil itu. Beberapa waktu berselang, akhirnya Gang-hwa pun menemukannya. Namun betapa kagetnya ia melihat siapa yang saat itu bersama Seo-woo : istri tercintanya yang meninggal lima tahun lalu :')

Meski nggak percaya bahwa seseorang yang udah meninggal bisa hidup kembali, tapi Gang-hwa yakin bahwa yang ada di hadapannya saat itu adalah benar mendiang istrinya, terlihat dari kebiasaan Yu-ri yang ia tunjukkan tanpa sadar saat Gang-hwa menginterogasinya, Yu-ri nggak bilang ke Gang-hwa tentang apa yang ia ketahui dari Bu Mi Dong. Yu-ri cuma bilang bahwa ia terbangun di rumah duka dan nggak ingat apapun.

Karena Yu-ri nggak punya tempat tinggal pasca hidup kembali (dia nggak mau pulang ke rumahnya dan bikin keluarganya kaget), akhirnya Gang-hwa pun memesankan kamar hotel untuk Yu-ri tinggal sementara waktu. Gang-hwa juga meminjamkan kartu kreditnya biar Yu-ri bisa beli makanan, dan semua itu tentu Gang-hwa sembunyikan dari istri sahnya, Min-jeong. Min-jeongmeski curiga melihat notif penggunaan kartu kredit di HP Gang-hwa dan gelagat suaminya yang mendadak jadi sering kayak orang linglung—nggak pernah berani bertanya lebih lanjut, karena setiap kali ditanya, Gang-hwa selalu bilang 'gapapa' dan cenderung mengalihkan pembicaraan.

Yu-ri akhirnya melamar pekerjaan sebagai asisten dapur di sekolah Seo-woo, tentunya dengan identitas palsu ya. Hal ini dilakukan bukan hanya karena ia ingin dekat dengan putrinya, tapi juga karena ingin melindungi Seo-woo dari arwah-arwah penasaran. Meski nggak bisa mendapatkan tempatnya lagi sebagai bagian dari keluarga Cho, Yu-ri memiliki misi, mempergunakan waktu 49 harinya untuk mengusir arwah-arwah di sekitar Seo-woo, agar putrinya itu 'sembuh' alias nggak bisa lihat arwah lagi.

Target pertamanya adalah Kim Hyeok-jin, arwah anak kecil yang pernah bikin Seo-woo hampir meninggal di dalam kulkas. Yu-ri udah berkali-kali mencoba mengusirnya dengan berbagai cara, tapi nggak pernah berhasil. Hyeok-jin selalu mengira kalo Yu-ri mau ngajak dia main.


Suatu hari, Yu-ri menemukan foto Hyeok-jin masih terpajang di mading sekolah. Yu-ri pun punya ide untuk memulangkan foto itu, sekaligus 'mengembalikan' Hyeok-jin pada orangtuanya. Scene Hyeok-jin kembali ke orangtuanya ini mengharukan banget menurutku. Jadi  Hyeok-jin kan tiap sore selalu nunggu dijemput orangtuanya bareng anak-anak lain. Setiap hari ia selalu kecewa karena orangtuanya nggak kunjung menjemputnya. Tapi hari itu, ibunya yang dipanggil pihak sekolah untuk mengambil foto Hyeok-jin datang. Seketika Hyeok-jin happy banget saat melihat wajah ibunya muncul di layar interkom. Ia pun berlari ke koridor, diikuti oleh Seo-woo yang membawakan mobil-mobilan milik Hyeok-jin. Karena Hyeok-jin berhenti di depan ibunya, Seo-woo juga otomatis berhenti di situ. Ibu Hyeok-jin yang nggak bisa melihat kehadiran Hyeok-jin heran melihat Seo-woo tiba-tiba berlari ke hadapannya sambil tampak menyodorkan mobil-mobilan kepada seseorang yang nggak terlihat. Saat melihat nama anaknya di balik mobil-mobilan itu, seketika tangisnya pecah. Di situ ia baru sadar bahwa mendiang anaknya hadir di sana :')


Misi pertama Yu-ri pun berhasil. Tapi pasca hidup kembali, Yu-ri nggak cuma sibuk cari cara buat dekat sama Seo-woo dan melindunginya dari para arwah penasaran. Keluarga Jang yang terdiri dari Seo Bong-yeon, Jang Dae-choon, dan Jang Young-sim—keluarga arwah yang Yu-ri kenal semasa di dunia arwah—selalu mengejar-ngejarnya. Mereka adalah mendiang ibu, ayah, dan kakak dari Jang Pil-seung, cowok yang ditinggal mati keluarganya saat ia masih berumur tujuh tahun. Selama 20 tahun, Pil-seung hidup sendiri di apartemennya yang selalu berantakan, dan nggak pernah lagi merasakan hangatnya masakan rumahan. Keluarga arwah ini mengejar-ngejar Yu-ri—yang sekarang bisa menyentuh dunia nyata—untuk meminta tolong membereskan apartemen Pil-seung dan membuatkannya masakan. Meski merasa terganggu dan kesal—apalagi Pil-seung ini tipe cowok yang tengil gitu—tapi Yu-ri luluh juga dengan permintaan keluarga Jang.


Karena Yu-ri bekerja di sekolah Seo-woo, Yu-ri juga jadi lebih sering bertemu dengan Gang-hwa dan Min-jeong, bahkan juga Go Hyeon-jeong dan Gye Geun-sang, pasutri yang merupakan bestienya Yu-ri dan Gang-hwa. Di antara mereka, cuma Gang-hwa, Hyeon-jeong, dan Geun-sang yang tau identitas asli Yu-ri. Min-jeong cuma notice kalo asisten dapur di sekolah anaknya itu mirip banget sama mendiang istri Gang-hwa, karena pernah lihat di foto, tapi nggak tau kalo itu benar-benar Yu-ri.

Uniknya, Yu-ri, Hyeon-jeong, dan Min-jeong jadi bestiean dan sering hangout bareng. Min-jeong yang sebelumnya penyendiri, merasa sefrekuensi banget sama mereka berdua, terlebih sama Yu-ri yang ia rasa mengenal dirinya lebih dari Min-jeong mengenal dirinya sendiri. Iya lah, wong Yu-ri udah 'menempeli' keluarganya selama lima tahun kok. Wkwkwk. Min-jeong bahkan mengijinkan Yu-ri untuk menjadi pengasuh pribadi Seo-woo selama ia dan Gang-hwa bekerja.


Long story short, orangtua dan adik Yu-ri akhirnya juga tau bahwa Yu-ri hidup kembali. Namun sebuah insiden terjadi. Seo-woo hilang saat dititipkan pada keluarga Yu-ri. Hal ini menciptakan ketegangan di antara Min-jeong dan Yu-ri.

Seo-woo akhirnya ditemukan di dalam sebuah lorong perosotan taman bermain. Yang nggak mereka tau, Seo-woo sebelumnya tersesat karena mengikuti anak-anak sebayanya yang tengah bermain. Ketika itu, ia hampir diganggu oleh Guk-bong, dukun saingan Mi Dong. Keluarga Jang kebetulan melihat hal itu. Mereka pun mencoba menyelamatkan Seo-woo. Dae-choon mengalihkan perhatian Guk-bong, sedangkan Bong-yeon dan Young-sim 'menuntun' Seo-woo pergi ke taman bermain dan memintanya bersembunyi di sana. Keluarga Jang memang berhasil menyelamatan Seo-woo dari Guk-bong, namun bayarannya mahal banget. Guk-bong yang marah pun mengirim keluarga arwah itu ke akhirat dengan paksa, padahal mereka masih punya satu mimpi, yakni melihat Pil-seung menikah. Mengetahui hal itu, Yu-ri merasa bersalah banget sama Keluarga Jang. Ia nggak pernah nyangka, keluarga arwah yang dulu ia anggap nyusahin, memberikan pengorbanan sebesar itu untuk Seo-woo. Dari situ, Yu-ri merasa berutang budi pada Keluarga Jang.


Pasca insiden hilangnya Seo-woo, Min-jeong jadi kehilangan kepercayaan sama Yu-ri yang ia anggap udah lalai menjaga anak sambungnya itu. Di samping itu, Min-jeong juga merasa menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri karena udah memilih Yu-ri sebagai pengasuh Seo-woo, dan memilih untuk bekerja lagi. Dia merasa gagal jadi ibu karena nggak bisa menjaga dan menstimulasi tumbuh kembang Seo-woo dengan baik. Namun mendengar semua keluh kesah Min-jeong, Gang-hwa cuma bisa bilang 'maaf' dan 'gapapa'. Di situ Min-jeong merasa muak banget, dan menumpahkan semua perasaannya. Selama ini ia selalu menahan diri untuk nggak pernah membahas bahkan menyebut nama 'Cha Yu-ri' di depan Gang-hwa karena ingin menjaga perasaan suaminya itu, meski sebenarnya ia sendiri sedih banget, karena Hyeon-jeong dan Geun-sang aja tau siapa Cha Yu-ri, sementara Min-jeong yang berstatus sebagai istri Gang-hwa sendiri nggak tau mendiang istri dari suaminya itu. Min-jeong merasa Gang-hwa kayak punya sebuah ruangan yang pintunya tertutup dan terkunci hanya untuknya, like, "Aku ini istrimu lho, Mas. Kok selama menikah, kamu nggak pernah terbuka sama aku!" gitu.

Dan di situ lah, Gang-hwa akhirnya mengaku bahwa asisten dapur sekaligus pengasuh Seo-woo adalah Cha Yu-ri yang kembali bangkit dari kematiannya. Mendengar hal itu tentunya Min-jeong kaget dan nggak percaya, bahkan mungkin mengira Gang-hwa udah gila. Meski begitu, ia tetap mencari tau kebenaran itu seorang diri, hingga akhirnya ia yakin bahwa apa yang dikatakan suaminya itu benar. Min-jeong jadi memikirkan kembali niatnya untuk bercerai dari Gang-hwa.

Well, beberapa waktu lalu, Min-jeong memang punya niat buat bercerai dari suaminya yang tertutup itu. Tapi setiap kali niat itu muncul, ia selalu memikirkan bagaimana saat ia dulu jatuh cinta sama Gang-hwa, juga segala hal baik yang selama ini Gang-hwa lakukan untuknya. Ia juga selalu melihat betapa manisnya Seo-woo padanya, dan menyadari bahwa cintanya pada Seo-woo pun terlalu besar. Tapi karena Yu-ri kembali, Min-jeong jadi merasa nggak berhak ada di posisinya saat itu, dan berniat untuk mengembalikan Gang-hwa dan Seo-woo pada Yu-ri.


Kira-kira, Yu-ri berhasil nggak ya menemukan 'tempatnya'? 

Sebelum cerita tentang endingnya, aku pingin tanya dulu, menurutmu, apakah Yu-ri akhirnya akan mengambil posisi Min-jeong dan hidup kembali sebagai manusia bersama Gang-hwa dan Seo-woo? Atau memutuskan untuk pergi setelah waktu hidup 49 harinya berakhir? Bagi kamu yang udah menonton seriesnya, apa kamu sempat menebak-nebak gimana ending story-nya?

Jujur, aku sempat menebak-nebak beberapa hal yang kemungkinan jadi ending story dari series ini :

  1. Yu-ri memilih pergi setelah waktu hidup 49 harinya berakhir
  2. Min-jeong jadi bercerai dari Gang-hwa sehingga Yu-ri memiliki kesempatan untuk hidup bersama Gang-hwa dan Seo-woo selamanya. Lalu Min-jeong nikah sama Jang Pil-seung.
Wkwk. Aku tau, yang poin ke dua itu mungkin ngaco. Aku bisa kepikiran kayak gitu karena Gang-hwa, Pil-seung, Yu-ri, dan Min-jeong pernah ada di satu scene yang sama, bahkan satu frame gitu. But then, I realize bahwa kemungkinan ending seperti itu hanya akan terjadi di sinetron Indonesia. Wkwkwk.

Soooo, after all of the dramas and tears, apa yang akhirnya Yu-ri pilih?

Dalam drama ini, Yu-ri digambarkan sebagai seseorang yang nggak selfish, Gaes. Dia bukan tipe orang yang dikasih kesempatan hidup sekali lagi sama Tuhan, lantas kesempatannya itu ia gunakan untuk merebut kebahagiaan orang lain. Enggak, dia nggak gitu. Sekali lagi, ini bukan sinetron Indonesia ya, Gaaaaess.

Selama lima tahun 'menempeli' keluarganya yang udah memiliki sosok pengganti dirinya, Yu-ri tau banget apa yang terjadi pada mereka pasca kepergiannya. Mungkin di series ini, Gang-hwa tampak seperti pria yang gagal move-on. Sejak sepeninggal istrinya, ia nggak berani lagi melakukan praktek bedah, bahkan masuk ke ruang operasi aja pun bisa membuatnya sesak napas, akibat trauma melihat istrinya yang meninggal di ruang operasi, padahal dulu ia adalah dokter bedah toraks terbaik di rumah sakit itu.


Sepeninggal istrinya, Gang-hwa udah kayak kehilangan separuh nyawanya. Oh Min-jeong adalah orang pertama yang bisa membuat senyumnya kembali. Min-jeong juga sayang banget sama Seo-woo, meskipun gadis cilik itu anak sambungnya. Jujur, she's my fave character di series ini karena sebagai ibu sambung atau ibu tiri, dia tuh too good to be true. Udah punya suami gagal move-on dari istri pertama, kurang terbuka dan kurang tegas, perkembangan anaknya kurang, digibahin pula sama emak-emak di sekolah anaknya (yang paling nyelekit : dianggap cuma ngincer duid Gang-hwa), padahal dia sukarela resign dari pekerjaan demi menjaga dan mengurus Seo-woo. Pokoknya dia dikasih stok sabar banyak banget deh sama story-writer. Tapi meskipun sering overthinking sama semua itu (bahkan sempat ada keinginan ingin cerai), sikap dia pada suami dan anaknya nggak pernah berubah.

Kamu dan banyak penonton lainnya mungkin berpikir, Gang-hwa sebenernya cinta nggak sih sama Min-jeong? Kok kesannya dia menikahi Min-jeong cuma buat ngurus anaknya doang? Aku juga sempat mempertanyakan hal ini. Tapi, Gaes, dia cinta kok sama Min-jeong. Dulu, waktu masih bersama Yu-ri, Gang-hwa tuh nggak suka dan nggak bisa makan makanan pedas. Tapi setelah nikah dengan Min-jeong yang juga penyuka makanan pedas, Gang-hwa berusaha untuk ikut menyukai makanan favorit istrinya. Dulu juga Gang-hwa teledor banget : sering lupa bawa payung, sering naruh barang sembarangan setelah dipakai, sampai Yu-ri tuh sering sebal sama dia. Tapi setelah menikah dengan Min-jeong, Gang-hwa jadi lebih 'apik'. Min-jeong jadi nggak perlu mengingatkan, apalagi sampai ngomel-ngomel. Tetangga aja sampai bilang, kalo Min-jeong adalah istri yang beruntung, karena jarang banget ada suami yang sepengertian Gang-hwa.

Lho, berarti dulu dia nggak sayang sama Yu-ri? Nooo, bukan begitu. Kalo nggak sayang, nggak mungkin dia sampai gagal move-on begitu. Gang-hwa cinta kok sama istrinya, baik Yu-ri, maupun Min-jeong. Hanya, cara Gang-hwa mencintai Yu-ri dengan cara Gang-hwa mencintai Min-jeong itu yang berbeda. Gang-hwa mencintai Yu-ri dengan api cinta pertama yang sulit padam dan banyak kenangan manis. Sedangkan rasa cintanya pada Min-jeong didasari oleh perasaan menyesal dan bersalah terhadap mendiang istrinya : Kenapa dulu aku nggak berusaha buat ikut menyukai makanan kesukaannya juga, biar kami bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama? Kenapa dulu aku nggak nurutin apa keinginan istriku, biar dia bahagia? Gang-hwa nggak pingin kehilangan istrinya lagi buat kedua kalinya dengan penyesalan yang sama.



Salahnya, Gang-hwa menempatkan Yu-ri pada satu 'ruang' di hatinya. Ia sengaja membiarkan rasa traumanya pada ruang operasi terus menghantui, agar ia nggak melupakan mendiang sang istri. Padahal rekan-rekan kerjanya udah menyarankannya untuk terapi, biar ia sembuh, tapi Gang-hwa nggak peduli. Makanya ketika Yu-ri kembali, kapal yang udah Gang-hwa bangun untuk Min-jeong jadi goyah.

Begitu juga Yu-ri. Ketika mengetahui Min-jeong ingin bercerai dari Gang-hwa, ia pun jadi melihat kesempatan untuk mendapatkan 'tempatnya' lagi sebagai bagian dari keluarga Cho. Ia pun menemui Bu Mi Dong untuk mengungkapkan niatnya itu. Tapi Bu Mi Dong berkata bahwa sosok Yu-ri saat ini adalah manusia setengah arwah, dan wujudnya akan terus seperti itu meskipun ia bisa hidup lagi di dunia. Maka jika itu terjadi, Yu-ri harus rela Seo-woo bisa melihat arwah sepanjang hidupnya, dan hal itu tentu berpotensi mempengaruhi kualitas hidup dan masa depan Seo-woo. Sebagai ibu, Yu-ri tentu nggak mau hal itu terjadi pada putrinya. Apalagi niat awal dia kan pingin melindungi dan menyembuhkan Seo-woo dari kemampuan melihat arwah.

Jadi, Yu-ri pun menemui Min-jeong, meminta maaf karena udah membohonginya dengan identitas palsu. Ia juga meminta maaf karena gara-gara dia, Min-jeong jadi banyak memendam rasa kecewa dan sakit hati terhadap Gang-hwa. "Aku melukai Gang-hwa hingga mengubahnya menjadi kaktus berduri, dan kau memeluknya tanpa sadar kau telah terluka", ungkap Yu-ri pada Min-jeong. Yu-ri juga mengungkapkan bahwa ia sangat bersyukur karena Min-jeong ditakdirkan untuk menjadi ibu sambung Seo-woo.


So, udah tau kan keputusan Yu-ri apa? Ya, Yu-ri memutuskan pergi setelah hari ke-49. Di sisa hari-hari terakhirnya, Yu-ri benar-benar memanfaatkan waktu sebaik-baiknya bersama orang-orang yang ia sayangi, termasuk Gang-hwa. Ia meminta Gang-hwa untuk merelakannya, agar Gang-hwa nggak lagi hidup dengan rasa bersalah.


Oh ya, rasanya kurang juga kalo aku nggak bahas satu lagi tokoh kuat di series ini.

Sebelum tiba di episode-episode akhir, penonton pasti bertanya-tanya, kenapa di antara banyaknya arwah penasaran, cuma Yu-ri yang dikasih kesempatan hidup lagi sama dewa? Padahal mereka juga memiliki penyesalan masing-masing, dan kalo Yu-ri bisa hidup lagi gara-gara memaki dewa, arwah lain juga mengikuti jejak Yu-ri, tapi nggak dapet 'hadiah' kayak dia. Well, jawabannya ada di sosok Ibu Jeon Eun-Sik, ibunya Yu-ri, yang diam-diam jadi pahlawan di balik layar cerita ini.


Ibu Jeon ini, di awal series, mungkin kelihatan kayak ibu mertua yang 'dingin'. Saat Yu-ri meninggal dan Gang-hwa menitipkan Seo-woo ke keluarganya, Bu Jeon menolak mentah-mentah. Ia membiarkan Gang-hwa mengurus Seo-woo sendirian. Wih, jahat banget, itu kan cucunya sendiri, begitu pikirku saat melihat adegan penolakan itu. Tapi di balik itu, Bu Jeon sebenarnya khawatir, kalo Seo-woo diasuh keluarganya, Gang-hwa bakal kehilangan alasan buat hidup.

Bahkan saat Gang-hwa menikah lagi sama Min-jeong, Bu Jeon selalu mengajak suami dan anak bungsunya untuk jaga jarak. Bukan karena nggak kangen. Diam-diam, Bu Jeon sering duduk di taman, cuma untuk melihat Seo-woo main bersama ibu sambungnya dari kejauhan. Dan Min-jeong, yang somehow tau bahwa itu neneknya Seo-woo, pura-pura nggak notice dan melanjutkan main sama Seo-woo sampai Bu Jeon pulang. 

Dan balik lagi ke pertanyaan 'kenapa cuma Yu-ri yang terpilih? Bu Mi Dong berdoa tanpa henti untuk mencari jawaban ini, dan dalam satu kesempatan ia melihat satu kertas permohonan yang bergoyang di antara ratusan kertas-kertas permohonan lainnya yang digantung di langit-langit kuil. Kertas 
itu bertuliskan: “Aku ingin melihat anakku sekali lagi". Siapa yang menulis itu? Iya, Ibu Jeon. Jujur, part ini lumayan bikin merinding buatku. Selama bertahun-tahun, Bu Jeon berdoa di kuil setiap hari untuk Yu-ri, dan cinta Ibu Jeon yang nggak pernah pudar itu lah yang bikin keajaiban ini terjadi.

Makanya, saat tau Yu-ri cuma 'mampir' dan akan pergi lagi, Ibu Jeon tegar banget. Ia memanfaatkan waktu sebaik-baiknya bersama Yu-ri. Setiap malam, Ibu Jeon mendekap putrinya itu dengan erat, seakan nggak mau Yu-ri pergi lagi, tapi ia juga siap kalo suatu saat ia harus melepas Yu-ri lagi untuk kedua kalinya. 

Nggak hanya sebaik itu sama Yu-ri, Ibu Jeon juga baik banget sama Min-jeong. Saat Min-jeong menyendiri di taman pasca tau identitas asli Yu-ri dan berat buat melepas Seo-woo, Ibu Jeon menghampirinya. Tanpa Min-jeong cerita apapun, Bu Jeon seakan bisa membaca isi hatinya. Ia meyakinkan Min-jeong bahwa apa yang ia khawatirkan nggak akan terjadi, karena ia tau Yu-ri dan Min-jeong sama-sama sayang Seo-woo dengan caranya masing-masing. Ia juga mengucapkan terima kasih karena selama ini Min-jeong udah care banget sama dia dengan membiarkan ia melihat cucunya bermain, walaupun dari kejauhan.



Sumpah, series ini memang benar-benar worth to watch banget sih. Banyak banget pesan positif yang bisa diambil. Nggak cuma pelajaran melepas dan mengikhlaskan dari kisah Yu-ri, tapi sekelumit kisah dari arwah-arwah lainnya juga bisa banget kita ambil hikmah hidupnya. Misalnya arwah Pak Baek Sam-dong yang semasa hidupnya kaya raya, tapi ketika ia meninggal, anak-anaknya malah sibuk berebut warisan, bahkan menjenguk abu kremasinya di rumah duka aja nggak pernah. Kisahnya mengingatkan kita bahwa kunci kebahagiaan adalah cinta, perhatian, dan kasih sayang, bukan harta dan materi. Atau arwah Park Hye-jin yang menyesal telah memutuskan bunuh diri akibat tekanan di lingkungan tempat kerjanya. Pasca ia bunuh diri, ibunya sangat sedih dan terpukul. Hye-jin menyesal karena saat di titik terendahnya, ia hanya fokus pada orang-orang yang membencinya, bukannya pada orang yang mencintai dan dicintainya.


Akting pemainnya juga bagus-bagus banget dan bisa membawa penonton buat merasakan apa yang dirasakan para tokoh yang dibawakannya. Aku kagum banget dengan gimana pemeran Gang-hwa dan Min-jeong bisa netesin air mata dalam kondisi wajah tanpa ekspresi dan mata yang menatap kosong. Itu bikin penonton kayak, "Ish, ini sakit banget sih", gitu. Selain itu, aku pasti bakal kangen banget sama Cho Seo-woo sih. Sumpah, dia kiyowo bangeeett (dan aku baru tau kalo pemerannya itu sebenernya anak laki-laki).


Jujur, I like it so much, walau sedikiiiit kurang sesuai ekspektasi, karena banyak orang berpendapat bahwa series ini tuh sedihnya lumayan brutal dan bikin beberapa orang nangis di tiap episode, bahkan sampai mata bengkak, but aku nggak mengalaminya. Satu-satunya episode yang membuatku nangis justru di scene pemulangan arwah Hyeok-jin dari sekolah Seo-woo. Melihat Hyeok-jin yang menunggu dijemput sang mama, dan sang mama yang nggak bisa lihat Hyeok-jin lagi itu yang membuatku terpukul. Huhu. Mungkin karena aku nontonnya sambil nyambi nemenin Fathian kali yah, jadi saat scene menyedihkan muncul, aku nggak terlalu fokus sama vibesnya. Wkwk. Next, kayaknya aku pingin coba nonton series terbaru, When Lifes Gives You Tangerines. Kira-kira bakal bikin nangis bengkak nggak yah?

Total Tayangan Halaman

 
;