Belakangan ini sedih banget rasanya lihat berita yang seliweran tentang negeri ini. Well, aku sebenernya jarang banget bahas politik karena jujur, ini di luar kapasitasku. Aku awam soal politik, ekonomi, apalagi tata kelola negara. Tapi sebagai rakyat, rasanya kali ini aku nggak tahan buat ngeluarin unek-unekku, or at least ngeluarin sedikit energi negatif, karena rasanya mengganjal banget di hati dan kepala.
Ada beberapa hal yang belakangan ini bikin aku overthinking.
Sehari setelah pesta peringatan kemerdekaan RI beberapa hari lalu, mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) melakukan demo dengan membawa delapan tuntutan utama, di antaranya penghentian penjajahan negara atas rakyat sendiri, pemberantasan KKN, perwujudan reforma agraria sejati, serta penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM. Beritanya rame banget di sosmed, meskipun nggak di-up di TV nasional (kecuali Kompas TV. Hats off to them). I dunno why 🙃
![]() |
| Sumber: Instagram @kaynaraleica |
Banyak rakyat yang mendukung karena merasa tuntutan mereka mewakili suara masyarakat. Tapi nggak sedikit juga yang malah mencemooh dengan sebutan "mahasewa".
Yang aku heran, orang-orang yang teriak "mahasewa, mahasewa" itu sebenarnya mikir para mahasiswa ini dibayar sama siapa buat demo? Kalo mereka dibayar buat membela pemerintah, ya mungkin masuk akal buat curiga ada pihak yang punya kepentingan kan yaa? Tapi ini mereka turun ke jalan justru menentang kebijakan pemerintah. Siapa yang mau bayar? Rakyat patungan bayar mereka gitu?
Lagipula orang gila mana yang segitunya ngarep recehan sampai mau panas-panasan, capek-capek teriak orasi, belum lagi berhadapan dengan aparat yang jumlahnya bahkan jauh lebih banyak dari peserta orasi? Memangngnya dibayar berapa sampai sebanding dengan resiko begitu? 🙃
Lain halnya kalo yang disebut pendemo sewaan ini para emak-emak dukung MBG di Monas tanggal 22 Juni lalu (sumber: Tribunnews). Naaaahhh.. berbeda banget sama demo para mahasiswa UI yang dihadang-hadang aparat, demo yang satu ini malah dikawal, bahkan dapat duit transport, wajan, roti, susu, dan buah-buahan. Hmmm...
Rasanya topik tentang MBG ini memang nggak ada hentinya disorot yah? Habisnya begitu-begitu mulu sih, kayak nggak ada perubahan. Aku bersyukur sih karena MBG di kawasan tempat tinggalku cukup baik, tapi di luar sana masih banyak MBG yang jauh dari kata layak, bahkan kasus keracunan massal masih terjadi. Di sisi lain, sedih juga lihat makanan yang banyak terbuang, padahal dana yang digelontorkan untuk program ini nggak kecil, dan itu diambil dari pajak-pajak kita. Mana harga bahan-bahan pokok jadi pada naik pula, bikin puyeng para emak-emak.
"Halah, beli kopi Butterscotch harga 40 ribu biasa aja, tapi harga ayam naik protes", begitu kata manusia anomali, dia pikir semua orang minum kopi harga 40 ribu kali ya?
Selain itu tentang Kopdes Merah Putih. Aku pernah lihat postingan yang menunjukkan bangunan Kopdes di tempat yang terpenciiiil banget, sangat jauh dari pemukiman warga, di kaki Gunung Ciremai (sumber: Suara Nusantara). Pertanyaanku, siapa yang mau belanja kalo lokasinya kayak gitu? Dedemit?
Kalo memakai dana APBN untuk makanan yang mubazir di banyak tempat dan membangun bangunan yang akhirnya berpotensi nggak berfungsi sebagaimana mestinya, kenapa memperbaiki sekolah yang bangunannya kurang layak dan jembatan yang menjadi akses warga kok susah banget direalisasikan? Padahal itu kan mendasar banget ya, kenapa sulit banget gitu?
Terus ada juga Aceh yang terkena banjir besar dan kayu gelondongan tahun lalu dan sampai sekarang masih belum sepenuhnya pulih. Soal bantuan dari pusat, aku sendiri nggak tahu mana informasi yang benar ya, karena infonya sendiri pun simpang siur. Ada yang bilang bantuan nggak datang, ada juga yang bilang bantuan udah datang tapi ditimbun sama pemda.
Tapi kalo benar ada pihak yang sengaja menahan bantuan buat masyarakat yang lagi susah, entah itu bantuan dari pusat ataupun bantuan yang harusnya jadi hak warga, aku benar-benar nggak habis pikir sih, gila.
Orang udah kehilangan rumah, kehilangan harta benda, banyak juga yang kehilangan anggota keluarga. Orang udah susah, kok tega-teganyaa masih dibikin lebih susah?
Baru-baru ini NTT diguncang gempa dan hutan di Kalimantan kembali terbakar. Perihal kebakaran hutannya, aku pribadi bahkan masih wondering sih apakah semuanya benar-benar murni karena faktor alam atau ada pembakaran yang disengaja, karena aku nggak punya bukti buat memastikan itu. Tapi kalo memang ada yang sengaja membakar hutan demi kepentingannya, jujur aku nggak ngerti lagi.
Aku pernah nonton film dokumenter tentang dinosaurus yang terjebak dalam kebakaran hutan pasca bumi dihantam meteor. Filmnya dibuat dengan teknologi yang kelihatan nyata banget sampai aku dibuat merinding dan sedih melihat hewan-hewan itu berusaha menyelamatkan diri. Bahkan Ankylosaurus yang dijuluki dinosaurus berbaju zirah karena kulitnya yang tebal kayak mesin tempur aja nggak mampu selamat dari kobaran api.
Tapi itu film, sedangkan yang terjadi di Kalimantan bukan film. Aku lihat foto bangkai ular dan trenggiling yang mati terpanggang, lihat video orangutan yang "tersesat" sampai masuk ke pemukiman dan jalan-jalan karena habitatnya terbakar. Dan aku jadi kepikiran hewan-hewan lain yang bahkan nggak punya kemampuan untuk lari secepat dan sejauh itu.
Mereka mau menyelamatkan diri ke mana? Habitatnya dibakar, dirusak manusia yang merasa bahwa mereka adalah pusat semesta. Pas hidup di tempat lain, mereka dianggap mengganggu, bahkan dibunuh dan diburu. I'll never forget ibu gajah yang hamil dan mati karena diberi makan nanas berisi petasan sama manusia dajjal. Memang kejadiannya bukan di Indonesia, tapi tetap merupakan bentuk kekejaman yang dilakukan oleh manusia. That's one of the saddest things I've ever known, masih nyesek sampai sekarang rasanya. Ditaruh di kebun binatang, ada yang dana pakannya dikorupsi. Mereka diam di habitat, habitatnya dirusak.
Ya Allah, perih banget hatiku, sumpah. This world is too cruel buat makhluk-makhluk nggak berdaya seperti mereka. Manusia-manusia tamak dan biadab ini, I hope they'll burn in hell. Rot in hell.
Jujur, aku juga resah melihat respons Presiden terhadap kritik masyarakat. Statement kayak "emang gue pikirin" dan gesture "nyenyenye" itu menurutku terkesan tonedeaf dan kayak mengejek rakyat. Entah memang maksudnya begitu atau bukan, tapi menurutku statement seperti itu nggak sepantasnya dilontarkan sama orang yang harusnya punya tanggungjawab paling besar buat memikirkan rakyat dan negara :')
Suatu hari, aku sempat ngobrol dengan seorang temanku yang mengaku menyesal karena dulu memilih presiden sekarang. Tapi dari obrolan itu, aku nggak lantas lega mendengar penyesalannya, kayak, apa penyesalan itu bakal membuat mereka yang menyesal ini benar-benar belajar ya?
Waktu itu kami sempat ngobrol soal uang hasil korupsi yang berhasil disita negara, juga tentang tunjangan anggota DPR yang waktu itu lagi panas banget dibahas. Kami membahas kira-kira uang sebanyak itu lebih baik digunakan buat apa.
Aku bilang, menurutku akan jauh lebih bermanfaat kalo dialokasikan ke pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan. Karena selain banyak sekolah, jembatan, dan jalan yang bobrok, miris juga nggak sih mendengar banyak masyarakat yang BPJS Kesehatannya tiba-tiba nonaktif (kebetulan temanku ini salah satunya), atau masih aktif tapi ketika sakit malah mendapat penanganan yang lambat.
Nah, temanku ini malah punya pikiran:
"Bisa nggak sih ya itu duit sitaan dibagiin aja ke rakyat? Daeipada mubazir didiemin aja".
Dan soal uang tunjangan DPR yang terlalu banyak itu dia berpendapat:
"Bagiin aja duitnya ke rakyat apa nggak bisa? Serumah minimal 3 juta aja, pasti kebagi tiap bulan"
Aku ngerti sih mungkin sebagai orang awam, yang dia bayangkan uang hasil korupsi yang jumlahnya triliunan ditambah uang tunjangan pejabat yang dianggap terlalu besar setiap bulannya itu kalo dibagi ke rakyat Indonesia bakal lumayan banget, bisa dapat jutaan.
Tapi rakyat Indonesia itu juga kan banyak banget yak, ada 280 jutaan kepala. Kalo uang sitaan korupsi sebanyak apa pun dibagi rata ke ratusan juta orang, belum tentu masing-masing dapat banyak. Dan itu bakal habis dipakai buat kebutuhan sehari-hari doang.
Dan kalo setiap rumah tangga dapat minimal 3 juta setiap bulan hasil dari pemangkasan tunjangan anggota DPR, itu artinya negara harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang luar biasa besar dan terus-terusan. Waduuuhh, utang negara aja udah banyak, masa mau ditambah lagi, yekan?
Sementara kalo uang itu dipakai memperbaiki sekolah, satu bangunan bisa dipakai ratusan anak selama bertahun-tahun. Kalo dipakai membangun jembatan, satu jembatan bisa dipakai satu kampung atau bahkan lebih banyak lagi. Kalo dialokasikan ke bidang kesehatan, manfaatnya juga bakal besar banget buat banyak orang.
Well, sebagai orang awam juga, mungkin banyak pemikiranku yang masih naif yah. Tapi jujur, aku kayak hopeless gitu lho. Bukan hanya soal pemerintah kita yang kayak gini, tapi juga rakyatnya yang nggak belajar dari kesalahan. Temanku menyesal udah memilih orang yang sekarang. Itu bagus lah ya, seenggaknya ada evaluasi. Tapi kalo setelah menyesal, mindsetnya masih sama kayak sebelumnya, masih kegoda sama keuntungan instan yang ditawarkan, bukan nggak mungkin kita bakal mengulangi kesalahan yang sama kan?
Haaaahh.. masih banyak banget sebenarnya yang mau kuutarakan, tapi biar segini dulu deh. Seenggaknya beban di kepalaku udah sedikit berkurang sekarang.
Aku nggak punya jawaban tentang gimana negara ini harus dibenahi. Aku nggak punya kapasitas di situ. Aku cuma rakyat biasa yang belakangan ini terlalu sering melihat berita, terlalu overthinking, dan akhirnya malah sedih dan mumet sendiri. Tiap hari nengok feed sosmed bawaannya istighfar melulu, kayak nggak ada berita baik gitu.
Lihat foto lewat di feed, gambar anak gelandangan tidur di lantai stasiun, sementara di belakang tubuh kecilnya ada spanduk bertuliskan "Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur". Hhhh.. how ironic. Sedih banget lihatnya, ya Allah. Rakyat mana yang makmur? Kutanya. Rakyat yang duduk di kursi-kursi gedung DPR? Atau yang mana?
![]() |
| Sumber: Instagram @undercover.id |
Aku cuma berharap Indonesia suatu hari nanti nggak cuma terlihat merdeka di upacara dan spanduk, tapi benar-benar terasa merdeka bagi rakyatnya. Kita.
Dan semoga, sebelum memilih lagi, kita semua nggak cuma mikir kita bakal dapat apa nantinya, karena negara ini tuh bukan cuma punya kita hari ini doang. Ada anak-anak kita yang suatu hari kelak hidup di dalamnya.




















.jpeg)



.jpeg)






























- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact