Tampilkan postingan dengan label College Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label College Life. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 12 Desember 2015 0 komentar

Wisuda Rasa Biasa

Bagi sebagian besar orang, moment wisuda adalah salah satu moment paling membahagiakan, moment paling berkesan, dan moment paling ditunggu oleh para mahasiswa. Tapi enggak bagiku.

Hari ini perasaanku berkecamuk. Seneng sih, tapi bad feeling-nya lebih banyak. Moment yang menurut kebanyakan orang itu membahagiakan, justru biasa banget buatku. Biasa, nggak ada spesial-spesialnya, bahkan lebih buruk. Sedih, hampa, kecewa.. Rasanya nggak ada menarik-menariknya buat di-share. Tapi belum lega rasanya kalo belum aku lampiaskan.

Hari Jum’at malam, aku sempet susah tidur. Harusnya aku tidur lebih sore, nyimpen tenaga. Tapi yang terjadi justru aku tidur larut malam, lalu terbangun dan terbangun lagi di jam-jam tertentu. Pagi harinya, aku emang berhasil bangun pagi, tapi rasanya mataku masih pengen merem. I dunno.. Malam itu rasanya aku nggak mau kalo malam berlalu lebih cepet. Berbeda dengan kebanyakan orang, aku justru nggak mau kalo hari wisuda itu cepet tiba. Feeling-ku nggak enak.

Keesokan paginya, tepatnya pagi tadi, jam setengah enam, aku dan ibu ke rumah Bu Syawal buat minta didandani. Awalnya aku sempet risih ngeliat alat-alat make up yang banyak banget itu. Agak trauma juga, takut kulit mukaku sensitif lagi kayak dulu. Tapi mengingat hari ini adalah hari wisuda, dan kami—anak-anak perempuan—diwajibkan pake kebaya, jadi aku pikir rasanya nggak cocok kalo wajah kami polos-polos aja. Toh make up ini dipake untuk hari ini aja.

Setelah didandani, aku sempet mematut diri didepan cermin beberapa kali. Sekilas aku kayak nggak mengenali sosok berkebaya merah hati didepanku. Beda banget, kayak bukan aku. Jelas aja wong biasanya aku nggak dandan. Kalopun dandan ya cukup pake bedak dan lipgloss aja, udah.

Sekitar jam tujuh kurang, aku dan ibu pulang. Kami jemput bapak di rumah, sekalian bawa barang-barang yang harus dibawa. Aku juga pake togaku dari rumah. Kemudian kami bareng-bareng naik mobil A’ Maman ke Apita Ballroom, tempat dimana acara wisudaku digelar. Halaman Apita Ballroom udah lumayan rame juga waktu itu. Banyak pedagang, banyak tukang foto, banyak mobil, dan tampaknya nggak sedikit keluarga wisudawan yang datang dari jauh, coz aku lihat ada beberapa keluarga yang kelihatan menggelar tikar di halaman ballroom sambil makan bersama.

Seperti yang udah diinstruksikan Mr Rudi pas acara geladi resik kemarin, aku—dan para wisudawan lainnya—masuk dari pintu belakang dan langsung berbaris sesuai dengan prodi dan nomor urut, sementara para pendamping kami—orangtua kami dan para undangan—masuk dari pintu samping dan langsung duduk di tempat yang udah disediakan.
Dan disinilah hal nggak mengenakkan mulai terjadi. Baru beberapa menit dipake, bandul dari kalung togaku copot dari talinya dan nggak bisa dipasang lagi, kecuali kalo aku menemukan lem dan menempelkannya lagi. Tapi siapa coba yang bawa lem di acara wisuda? Akhirnya dengan terpaksa aku pake kalung tanpa bandul itu selama acara wisuda berlangsung. Belum lagi topi togaku yang selalu copot dari kepalaku. Well, salah aku juga sih yang nggak bawa jarum pentul atau peniti. Untungnya Sherly mau ngasih sebatang jarumnya buatku.

Acara dimulai dengan masuknya para wisudawan dari pintu belakang gedung dengan diiringi musik instrumen orkestra. Setelah seluruh wisudawan masuk dan berdiri di depan kursinya masing-masing, para senat pun masuk, kali ini diiringi musik choral dan penari-penari yang menabur-naburkan bunga. Setelah itu, lagu Indonesia Raya dan Mengheningkan Cipta dinyanyikan, dan acara pun berlangsung. Ada drama kabaret selama beberapa menit, ada tari-tarian, ada pengibaran bendera almamater, ada sambutan-sambutan, ada paduan suara juga.. Sayangnya semua itu nggak bisa aku lihat dengan jelas karena tempat dudukku nggak di depan, kecuali untuk paduan suara, aku bisa lihat dan dengar dengan jelas karena posisi mereka yang berada di pojok sebelah kanan ruangan. Asli, aku merinding waktu dengar mereka membawakan mars kampus. Aah.. kompak banget, dan sama sekali nggak sumbang.

Ternyata duduk dalam waktu lama disitu nggak enak juga. Leherku pegal, tangan dan kakiku juga. Berkali-kali aku berganti posisi duduk. Belum lagi entah kenapa tiba-tiba gigi geraham kananku sakit sehingga berpengaruh sama kepala bagian kanan yang kebawa sakit juga. Rasanya tersiksa banget. Udah gitu, aku juga mulai BT dan ngantuk. Aku nyesel udah ngikutin aturan untuk nggak bawa HP, sementara banyak dari para wisudawan yang melanggar aturan itu dan pada sibuk selfie-selfie sendiri. Huh, tau kayak gitu, mending aku bawa aja hapeku. Kalo aku bawa kan, aku nggak perlu susah payah nahan kantuk. Aku bisa BBM-an, bisa nge-tweet, bisa ngurusin Sims peliharaanku.. Aku jadi pengin cepet pulang. Tapi acara masih lama, bahkan belum sampai ke acara inti.

Akhirnya sekitar jam sebelas siang, tibalah saatnya prosesi pemindahan tali toga oleh rektor. Nama kami dipanggil satu persatu untuk naik ke atas panggung. Disana kami difoto tiga kali, yakni saat pemindahan tali toga, saat menerima map, dan saat turun dari panggung. Berhubung kalung togaku nggak berbandul, akhirnya aku pinjem kalung toga milik Endah. Yah, nggak lucu aja kalo aku difoto dengan mengenakan kalung tanpa bandul. Dan nggak taulah ekspresiku saat difoto itu kayak apa. Aku tersenyum dengan setengah meringis waktu itu. Gimana enggak? Gigi dan kepalaku senut-senut, ditambah sariawan yang entah kapan munculnya—yang juga sakit. Dan gara-gara itu, aku juga jadi salah langkah. Harusnya begitu turun dari panggung, aku langsung nyamperin ibu dan bapak untuk menyalami mereka, tapi yang terjadi justru aku langsung duduk ke tempatku :’v

Setelah itu, acara terus berlanjut. Masih ada pembacaan janji mahasiswa, pengumuman dan penyerahan penghargaan bagi para mahasiswa terbaik, pembacaan puisi oleh salah satu mahasiswi kampus cabang Indramayu, paduan suara, ada yang nyumbang suara juga.. banyak deh, sampai akhirnya acara ditutup dengan doa. Begitu acara selesai, aku langsung nyamperin ibu dan bapakku yang duduk tepat di belakang kursi para wisudawan. Aku salami mereka berdua. Aku peluk dan cium kedua belah pipi ibu. But damn! Aku nggak bisa melakukan hal yang sama kepada bapak. Masih. Selalu. Padahal jauh sebelum hari ini, aku udah berjanji kepada diriku sendiri kalo aku bakal menyampaikan terima kasihku pada beliau. Tapi yang terjadi hari ini justru aku speechless. Aku kesel, kesel dan kecewa sama diriku sendiri. Dan entahlah.. saat itu aku badmood berat.

Saat itu, setelah acara wisuda selesai, sebenernya aku pengen banget seru-seruan dan foto-foto sepuasnya bareng temen-temenku. Sherly, Ayu, Desi, Fatimah, Eni, Gia, Adel.. Coz aku nggak tau kapan kami bisa ketemu lagi setelah ini. Aku juga pengen foto-foto sepuasnya bareng kedua orangtuaku. Momentnya pas banget. Kapan lagi aku bisa foto-foto bareng mereka—terlebih bapak, karena biasanya beliau menolak kalo diajak foto bareng. Tapi ngeliat temen-temenku yang sibuk sendiri-sendiri sama keluarga besar, dan para kenalannya, suasana hatiku memburuk.

Aneh ya? Yah, badmood-nya sih jujur bukan hanya karena aku nggak sempet foto-foto bareng mereka, tapi juga lebih-lebih karena aku envy ngeliat temen-temenku yang nggak cuma didatengin sama orangtuanya. Ada yang didatengin kakaknya, adiknya, keluarga besarnya, calon pasangannya, temen-temennya.. Aku juga envy ngeliat temen-temenku yang nerima hadiah-hadiah. Well, aku seneng dengan kehadiran kedua orangtuaku. Aku seneng mereka bersedia menyempatkan waktunya untuk dateng ke acara wisudaku, tapi aku nggak bisa bohong kalo aku berharap lebih.

Bodohnya, aku nggak bisa menyembunyikan perasaan badmood-ku. Setelah berfoto-foto sebentar, aku minta pulang cepat, dan rasanya sulit banget buat senyum. Ini yang bikin aku nyesel setengah mati. Apalagi kalo inget bapak yang dari kemarin malam keliatan semangat dateng ke acara wisudaku. Beliau yang biasanya cuek sama penampilan fisiknya, semalam aku dengar beliau minta pendapat ibu, “Bu, bapak lebih bagus pakai baju yang mana?”
Beliau juga ngomel-ngomel waktu kami pulang telat dari rumah Bu Syawal. Kalo inget semua itu,  aku bener-bener nyesel banget sama sikapku. Harusnya aku nggak boleh begitu.
Dan berbeda dengan temen-temen dan para wisudawan pada umumnya yang foto-foto sepuasnya di hari wisuda. Aku nggak demikian. Bukan hanya karena aku nggak pegang hape selama acara wisuda berlangsung, tapi juga karena aku bukanlah tipe orang yang gemar berselfie-selfie ria di keramaian—kecuali kalo ada yang ngajak. Alhasil foto yang ada di hapeku cuma foto bareng ibu, foto bareng Adel, dan foto bareng Ayu. Selebihnya, foto-foto itu ada di hapenya Rahman, kameranya Sherly, dan kameranya fotografer yang diutus pihak kampus buat mengabadikan prosesi wisuda, dan sampe sekarang aku belum nerima foto-foto itu dari mereka :’(

Intinya hari ini aku kecewa, dan kecewanya tuh multiple. Terlepas dari insiden copotnya bandul almamater, gigi yang tiba-tiba sakit, dan sariawan yang entah kapan munculnya, aku kecewa karena mengingkari janjiku kepada diri sendiri untuk bisa ‘ngomong’ sama bapak, aku kecewa karena aku nggak seberuntung temen-temenku (ya, ya, aku tau ini salahku yang terlalu kuper dan nggak bisa menciptakan hubungan pertemanan yang baik, kompak dan super klop banget kayak mereka), aku kecewa karena nggak banyak moment yang aku abadikan dengan kamera (well, ini juga salahku yang memutuskan untuk pulang lebih cepet), aku kecewa karena nggak bisa menyembunyikan suasana hatiku yang buruk, dan yang terakhir.. aku kecewa karena nggak bisa lulus dengan predikat cum laude seperti yang dulu pernah aku cita-citakan. Oke, aku paham. Kampus mana sih yang mau ngasih predikat cum laude buat mahasiswanya yang ‘antara ada dan tiada’ kayak aku gini? Maaf, Bu, Pak.. Saya nggak berhasil membuat kalian bangga hari ini. Anyway, selamat untuk Juningsih, Teh Ai, dan Deden yang berhasil meraih predikat ini.

Haaahh.. rasanya nggak percaya kalo aku udah menamatkan pendidikan akhirku. Padahal rasanya baru kemarin aku dan temen-temen seangkatan beridiot-idiot ria di acara PSPL kampus. Sekarang aku udah bukan pelajar lagi. Dan mungkin berbeda dengan temen-temenku yang para wisudawan pada umumnya yang ngerasa lega atas kelulusannya, aku justru ngerasa masih ada yang mengganjal. Seumur hidup, sebagian besar waktuku aku habiskan untuk sekolah, termasuk menjalani pendidikan akhir di lembaga yang aku rasa bukan duniaku. Dan ketika title-ku bukan lagi seorang pelajar, aku ngerasa ganjil. Aku masih merasa kosong. Aku masih haus. Aku masih pengen sekolah. Dan aku yakin perasaan ini akan terus ada sebelum aku bener-bener terjun ke duniaku, passion-ku. Mungkin inilah yang menyebabkan bandul almamaterku copot dari tempatnya. Dia nggak sudi dikenakan sama mahasiswa kayak aku—mahasiswa yang berusaha keras mencintai almamater dan menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus tapi nggak pernah berhasil.


Jika aja ada kesempatan bagiku buat sekolah lagi, aku pengen banget menempati salah satu kursi didalem sebuah kelas di fakultas sastra. Sastra Inggris, lebih tepatnya. Aku pengen banget memperdalam skill bahasa Inggrisku—yang udah aku pelajari jauh sebelum Bahasa Inggris dipelajari secara resmi di SD-ku tapi belum berhasil aku kuasai sampe sekarang. Aku juga pengen banget mempelajari ilmu sastra seperti yang dimiliki penulis-penulis favoritku. Aku yakin, disana aku bisa lebih ‘hidup’. But is there still a chance? I can only wish..
Senin, 07 Desember 2015 0 komentar

Graduation Day is Coming Soon

Graduation Day. Aku yakin bukan aku aja yang menghitung hari sampe saat itu tiba. Tujuh hari lagi. Yup, tujuh hari lagi kami bakal menemukan diri kami berdiri didepan cermin dengan cantik dan gagah, lengkap dengan toga.

Dua hari yang lalu, aku dan temen-temen kampus menghadiri acara sosialisasi pelaksanaan geladi resik dan acara wisuda tanggal 11 dan 12 Desember nanti. Selain sosialisasi, kami juga diminta mengumpulkan hardcopy Tugas Akhir, dan dibagikan undangan dan toga yang bakal kami pake pas hari wisuda nanti.

Karena ada beberapa halaman Tugas Akhir-ku yang belom sempet di-print dan ada beberapa halaman juga yang mengalami perbaikan, akhirnya sore itu aku mendadak nge-print deh ke penyedia jasa printing. Mahal banget, selembarnya seribu, padahal aku pake kertas sendiri—karena untuk Tugas Akhir, kami wajib pake kertas 80 gram, nggak bisa sembarangan. Untung nge-print-nya nggak banyak, coz sebagian besar udah aku print—gratis—di kantor beberapa hari sebelum aku mengajukan resign. Wehehe..

Jam lima sore, aku ke kampus, dengan terburu-buru, coz aku nyusun Tugas Akhir-ku dulu di rumah sekaligus memeriksanya, kali aja ada halaman yang double atau kelewat gitu. Itu juga nyusun dan ngeceknya belom selesai. Waktunya mepet banget soalnya. Sampe di kampus, aku nggak langsung masuk kelas, melainkan nunggu Adel dulu di deket balkon. Tapi akhirnya aku masuk kelas duluan juga, coz pas aku BBM ternyata si Adel bilang katanya masih di daerah Cilimus, dan itu masih jauh banget dari kampus (=__=’)

Kelas ternyata udah rame, dan sosialisasi  udah dimulai. Singkat cerita, disana kami dibagikan undangan wisuda dan toga yang dua-duanya bikin aku kecewa. Kenapa?

Pertama. Undangan itu cuma diperuntukkan bagi dua orang selain wisudawan atau wisudawati. Dengan kata lain, kalo wisudawan atau wisudawati pengen bawa rekan atau anggota keluarga sebanyak lebih dari dua orang, maka dengan terpaksa beberapa orang harus rela nunggu di luar. Geez.. padahal aku pengen banget ngundang keluarga besarku : nenek, bibi-bibi, sepupu-sepupu.. Yah, kalo enggak, minimal bawa satu orang lagi deh, adikku. Aku pengen banget keluargaku lengkap, empat orang. Kan kasian kalo ada yang harus nunggu di luar. Mana acaranya nggak sebentar.

Kedua. Ukuran toganya terlalu besaaaarr..
Aku sempet protes sama pihak kampus soal ini. Pasalnya, sebelumnya mereka sempet membroadcast pilihan ukuran toga ke semua calon wisudawan dan wisudawati. Ada ukuran S, M, dan L. Aku yang sadar dengan postur badanku yang tini wini biti of course memilih ukuran toga paling kecil, S.  Tapiii.. pas hari pembagian malah dikasih ukuran yang nggak sesuai. Eh, pas aku minta tuker, mereka malah bilang, “Nggak ada ukuran S, Neng. Ukuran M itu paling kecil”.
Nah lho.. Kalo nggak ada ukuran S kenapa ada pilihan ukuran S di broadcast BBM-nyaaa? (-__-”)

Deeeeyyymm.. Ini mah bener-bener baju kebesaran namanya. Well, kegedean lebih tepatnya. Dan kegedeannya tuh keterlaluan banget. Bener-bener harus digunting dan dijahit lagi buat mengecilkannya. Geli aja ngeliat bayanganku di cermin. Aku berharap bisa ngeliat bayangan seorang murid sekolah Hogwarts disitu (sotoy, padahal nonton Harry Potter aja enggak :v), tapi yang terlihat disitu justru sesosok bebegig sawah (T_T)
Aku kecewa, tersinggung juga. Gimana enggak? Ini bener-bener bentuk diskriminasi terhadap orang kecil. Aku nggak habis pikir kenapa pihak kampus bisa sejahat itu sama orang kecil kayak aku. Mereka seneng kali ya kalo liat aku tenggelam  di baju kebesaran itu. Huaaah..

Beralih ke topik lain. Malem itu juga aku nggak tidur sendirian. Aku tidur bareng Adel. Yups, malem itu Adel nginep dirumahku, coz pas pulang dari kampus, hari udah gelap dan udah terlalu malem bagi Adel buat pulang ke rumahnya yang jauh banget dari kampus. Ya udah deh, alhasil sepanjang malem itu kami ngobrol bareng, makan malem bareng, baca novel bareng, dan of course tidur bareng :v

Kami tidur di kamar kost-an milik ortu-ku yang kebetulan lagi kosong. Adel baru pulang besok paginya, tapi sampe sekarang aku masih pake kamer itu. Wehehe.. Nggak tau kenapa, lebih nyaman aja dibanding kamerku. Ya mungkin karena di kamer itu nggak terlalu banyak barang, dan ada kipas angin juga, jadi lebih kerasa nyaman gitu.

***

Hari ini aku kembali ke kampus buat nyerahin hardcopy Tugas Akhir yang hari Sabtu kemaren belum sempet aku serahin. Well, mungkin ini terakhir kalinya aku mengunjungi kampus sebelum hari wisuda tiba. Haaahh.. Nggak kerasa, udah tiga tahun aku menempuh pendidikan di kampus itu. Kampus yang bahkan masih terasa seperti tempat asing buatku. I dunno.. Aku selalu ngerasa tempat itu bukan tempatku, bukan duniaku. Aku nggak pernah bermimpi buat mempelajari cara menjadi ‘pendamping’ pimpinan, memahami analisis SWOT dan ilmu marketing, mempelajari Service Exellence, dan segala sesuatu yang menurutku membosankan itu. Aku cuma merasa hidup pas mata kuliah bahasa, ya karena aku pikir duniaku yang sebenernya itu disana.. di Fakultas Sastra dan Bahasa.

But however.. seasing-asingnya tempat itu buatku, dan sebanyak apapun hal-hal bikin nyesek yang terjadi disana, tempat itu tetep nyimpen cukup banyak unforgettable moments, kenangan bareng mereka yang bikin aku ngerasa lebih hidup selama di kampus. Aam, Riris, Ayu, Sherly, Mbak Erna, Fatimah, Desi, Nur, Ecin, Lidia, Maella.. Aku nggak ngerasa asing kalo ada mereka.

Di kampus itu, kami nonton film pas dosen nggak dateng, bolos ke kantin pas mata kuliah Statistika, ngocol pas mata kuliah Bahasa Jepang, kerja sama pas mata kuliah Akuntansi, foto-foto pas mata kuliah terasa membosankan, makan siomay—paling enak sejagat kampus—pas jam istirahat, online pas pulang ngampus.. banyak deh.

Di tempat itu, aku mengenal kakak-kakak senior yang baik dan bener-bener berjasa dalam perkembangan bahasa Inggrisku, dari yang dulu aku nggak paham tenses, sekarang udah lumayan paham (walau belom pake banget :v). Yup, they’re Kak Sudan dan Kak Oman yang setia jadi pembimbing di komunitas SICE. Apa kabar ya mereka? :3

Disana, aku pernah memperjuangkan mimpiku buat studi banding di negeri orang, ngikutin jejak dua senior yang aku sebutin di atas tadi. Walau akhirnya tiket emas itu nggak berhasil aku raih, tapi seenggaknya aku jadi ngerti bahwa pemahaman teori aja nggak cukup kalo nggak didukung sama communication skill dan kepercayaan diri yang tinggi.

Kampus juga yang memperkenalkan aku sama dunia kerja. Awalnya aku pikir dunia kerja itu serem, tapi ternyata pas udah terjun langsung ke dunia kerja, rasanya enjoy—selama kita mencintai apa yang jadi pekerjaan kita. Apalagi kalo hari gajian. Haha.. Hey, siapa yang nggak suka itu? :p


So, that’s all ceritaku di hari-hari menjelang hari terakhirku menjadi mahasiswa ini (halah..). Mohon doanya, agar wisudaku hari Sabtu nanti lancar dan aku nggak terlihat konyol dengan baju kebesaranku :’)
Minggu, 08 November 2015 0 komentar

Hello, November

Well, aku tau ini udah terlalu telat buat menyambut bulan November dengan postingan ini. Aku nggak tau harus seneng atau gimana menyambut bulan November ini, bulan yang selalu jadi bulan favoritku. Senengnya kenapa? Ya itu tadi, karena bulan November adalah bulan yang paling aku sukai dari bulan-bulan lainnya dalam satu tahun, mengingat musim hujan biasanya dimulai pada bulan ini, musim yang paling membahagiakan buat seorang pluviophile sepertiku. Tapi aku nggak bisa boong sih, kalo bulan ini (bahkan sejak bulan lalu pun) aku dipaksa menelan cukup banyak kekecewaan.. mulai dari isu nggak enak tentang kampusku yang katanya bermasalah, juga kenyataan yang harus aku dan temen-temen seperjuangan terima bahwa wisuda kami diundur dan dilaksanain di Cirebon, nggak di Bandung seperti lulusan-lulusan sebelumnya.

Tadi pagi aku ke kampus, setelah beberapa hari sebelumnya aku dikirimin pesan broadcast via BBM dari dosen yang isinya undangan buat menghadiri sosialisasi teknis pelaksanaan wisuda. Sebelum ke kampus, aku sempet berharap kalo di kampus nanti aku bakal denger informasi bagus walau sebenernya aku yakin bahwa apa yang bakal aku denger justru sebaliknya. Aku juga berharap bisa seru-seruan lagi sama temen-temen. Kangen juga sama mereka.

Sesampainya disana, aku langsung masuk ke ruang dua, tempat dimana sosialisasi itu dilaksanain. Aku milih kursi di barisan paling depan, sendirian pula. Padahal biasanya aku lebih suka duduk di pojok, tapi karena Sherly duduk di deket-deket situ, aku nggak punya pilihan lain, karena kalo milih duduk di kursi lain aku pasti bakal ngebangke karena nggak ada temen ngobrol :’v

You know what? Baru masuk ruangan aja aku udah bisa ngebaca air muka Mr Rudi yang tampak tegang. Sedikitnya aku ngerti apa yang beliau rasain dan pikirkan. Nggak perlu disebut disini lah. Haha.. :v
Aku dan temen-temen sempet bete berat karena waktu dimulainya sosialisasi itu ngaret lumayan panjang. Harusnya dimulai jam sembilan pagi, tapi kenyataannya sosialisasi itu malah baru dimulai jam sepuluh lewat. Belum lagi kami harus terlebih dahulu menyimak siraman motivasi dulu dari pihak kampus pusat. Siraman motivasinya lamaaaa banget. Ketika adzan Dzuhur berkumandang, Branch Manager kampus baru menyampaikan informasi intinya. Ironisnya, penyampaian informasi inti itu justru singkat banget, nggak sampe sepuluh menit. Jadi tujuan utama dari sosialisasi ini adalah untuk menyampaikan bahwa acara wisuda kami yang harusnya diselenggarakan tanggal 18 November ini diundur ke tanggal 12 Desember, dan menegaskan bahwa acara wisuda itu dilaksanakan di Cirebon, bukan di Bandung.

Rasanya kecewa. Kecewa banget. Lebih kecewa ketimbang saat aku mengetahui bahwa Yupi DinoLand yang tadinya berbobot 10 gram menyusut jadi 8,5 gram (=__=’)
Aku udah seneng bakal main lagi ke kota sejuk yang juga merupakan salah satu kota favoritku itu. Eh, malah batal. Diundur lagi.. (x__x’)

Dan rasa kecewaku nggak cuma sampe disitu. Keiginanku buat seru-seruan bareng temen-temen deket hari ini juga nggak terwujud. Tadi aku cuman ketemu Sherly doang, sementara Ayu, Fatimah, dan Desi nggak keliatan. Sooo, yea, jadi double mengecewakan.


Yah, harapanku sih, semoga kedepannya nggak ada PHP-PHP dan hal-hal mengecewakan lagi. Aku lelah (=__=’)
Minggu, 05 Juli 2015 0 komentar

Saatnya Perang!

Finallyyy.. setelah selama dua bulan terakhir ini waktu istirahatku tersita, tidurku kurang, tenaga diforsir, kantung mata makin nampak, dan gaji terpotong karena sering ijin (nggak berangkat kerja, dateng terlambat, atau pulang cepat), akhirnya semua itu berakhir juga. Hari ini adalah hari dimana aku dan temen-temen kuliah seangkatan mempertanggungjawabkan karya tulis ilmiah—buah perjuangan kami—didepan para dewan penguji. Yak, Sidang Tugas Akhir!

Sidang Tugas Akhir ataupun Skripsi adalah salah satu hal yang paling menegangkan dan berkesan buat sebagian besar mahasiswa, termasuk aku dan temen-temen. Saking tegang dan parnonya, aku sampe browsing artikel mengenai prosesi jalannya sidang skripsi berikut tips-tips cara menghadapinya. Nggak puas dengan cuma ngebaca, aku pun nonton video prosesi jalannya sidang skripsi. Maksudnya sih biar ada gambaran gitu, jadi nggak terlalu kaget pas udah tiba saatnya. Eh, bukannya tenang, aku malah makin tegang :v

Anyway, aku dan temen-temen sempet kecewa karena acara sidang yang harusnya dilaksanain hari Sabtu itu diundur satu hari. Dan nggak seperti angkatan sebelumnya yang ngejalanin sidang di kampus sendiri, angkatan kami justru ngejalanin sidang di kampus pusat, Politeknik LP3I Bandung. Aku nggak ngerti alesannya apa, yang jelas situasinya sangat nggak memungkinkan kami buat ngejalanin sidang di Cirebon.

Yah, aku seneng sih bisa jalan-jalan keluar kota, ke salah satu kota favoritku, apalagi semua biaya ditanggung sama pihak kampus. Tapi, yang jadi sumber kecemasanku adalah : kalo kami ngejalanin sidang di kampus pusat, otomatis penguji sidang kami juga adalah dosen-dosen dari kampus pusat. Pasti tegangnya jadi berlipat deh kalo disidang sama orang-orang yang nggak kita kenal, gitu pikir aku. Beberapa mahasiswa bahkan berpikir bahwa kemungkinan dosen-dosen yang asing itu bakal mempersulit kelulusan kami. Terlepas dari alasan itu, aku juga kecewa karena acara buka puasa bareng Ayu dan Rohayati harus aku batalkan. Satu-satunya hal positif yang bisa kita ambil adalah, dengan diundurnya waktu sidang, maka kami bisa melakukan persiapan dengan lebih matang.

Di malam keberangkatan, aku sempet nggak bisa tidur saking gelisah dan tegangnya. Tidur sih, tapi cuman satu jam. Kemudian subuhnya—setelah sahur—tepatnya sekitar jam tiga, aku berangkat ke kampus dianter adek. Lumayan lama juga aku dan temen-temen nunggu bus di kampus. Sebelumnya Mr Rudi bilang kalo kami bakal berangkat jam setengah empat, tapi ternyata malah ngaret satu jam. Aku duduk sendirian di bus itu. How nice! Aku bisa milih dimana aja aku mau. Of course, aku bisa duduk dideket jendela tanpa harus rebutan sama temen dan dengan posisi sesukaku. Anehnya, temen-temenku malah mandang aku dengan tatapan kasian. Hey, I felt better even though I was sitting alone on two seats. Toh aku selalu suka menikmati pemandangan luar ketimbang ngobrol sama temen selama perjalanan. But I hate the way they looked at me, seriously  (=__=’)

Sekitar jam sembilan, sampailah kami di Politeknik LP3I Bandung. Huaaahh.. seneng deh bisa menghirup aroma Bandung lagi. Aku selalu suka sama suasana, udara, dan pemandangan kota itu. Rapi, bersih, sejuk, dan masih banyak tumbuhan hijau disana sini.

Begitu turun dari bus, kami langsung disuruh untuk segera ganti baju—dengan seragam kampus lengkap—dan tampil serapi mungkin. Aku dan beberapa orang temen—yang tentunya adalah para cewek—masuk ke salah satu toilet di lantai kampus paling atas.

Setelah ganti baju dan berdandan, kami pun menuju kantin kampus. Disana Mr Rudi dan temen-temen kami yang lain udah berkumpul. Kami pun dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompokku sendiri terdiri dari enam orang. Selain aku, ada Kiki, Masrifah, Rani, Apung, dan Rahman. Kami ditempatkan di ruang B-11 (kalo nggak salah), dan letaknya di lantai tiga (kalo nggak salah juga).

Satu kelompok diuji oleh dua orang. Penguji untuk kelompok kami adalah Bu Melly dan Pak Heri. Anyway, ngeliat Bu Melly, aku jadi inget dua dosenku, Bu Aji dan Bu Lilis. Secara fisik, beliau mirip Bu Aji. Hanya aja dalam berpakaian, Bu Aji agak tomboy dan berambut pendek. Sedangkan secara gaya bicara, Bu Melly mirip Bu Lilis. Nada bicaranya ramah dan enak didenger. Aku jadi ngerasa nyaman dan nggak tegang berlebihan karena para penguji kami yang friendly itu.

Well, awalnya aku emang sempat tegang karena temen kami yang maju pertama kali mendapat kritikan cukup keras. Yaa nggak keras-keras banget sih, hanya aja nada Bapak dan Ibu Penguji saat itu agak meninggi karena temen kami itu nggak mampu jawab pertanyaan mereka. Tapi karena temen yang dapet giliran kedua untuk disidang maju dengan lancar jaya tanpa kendala, aku jadi rada tenangan.

Aku mendapat giliran ketiga, sedikit agak pesimis karena ngeliat presentasi peserta kedua yang bagus banget menurutku. Tapi karena udah giliran maju, ya udah.. positive thinking aja.

Aku memutuskan untuk membuka presentasiku dengan bahasa Inggris. Coz menurut dosen, hal ini jadi nilai plus di mata penguji, walaupun berbahasa Inggris-nya cuman di perkenalan doang. Setelah itu, baru deh aku menjabarkan hasil penelitianku, yakni mengenai pelayanan prima di gerai batik terbesar di kotaku, yang letaknya tentu nggak jauh—bahkan deket banget—dari tempat kerjaku. Maksudnya biar memudahkan proses penelitian gitu. Presentasiku nggak lama, itu sih yang aku rasa. Kayaknya nggak sampe tujuh menit, sesuai dengan waktu yang diberikan Penguji. Yah, selain karena bicaraku yang cepet, pas sidang tadi juga ada slide yang harus di-skip atas permintaan Penguji. Saking paniknya (takut slide-nya diminta di-skip lagi), eh, bagian ‘Saran’-nya malah kelewat, nggak dijelasin. Padahal itu part terpenting yang greget banget pengen aku sampein (=__=’)

Masuk waktu Dzuhur, kami break istirahat. Waktu itu baru empat orang yang udah disidang. Berarti setelah istirahat, tinggal dua orang lagi yang berjuang. Selama break, aku ngumpul bareng temen-temenku yang lain. Diem-diem aku ngerasa beruntung diuji sama Pak Heri dan Bu Melly. Coz ketika duduk-duduk di koridor tadi, Adel cerita kalo penguji di ruangannya galak banget. Pake ngancem-ngancem nggak dilulusin segala. Beda lagi penguji yang di ruangan Desi. Kata Desi, pengujinya suka godain dia gitu. Desi diminta menceritakan tentang dirinya sendiri pake bahasa Inggris, dengan iming-iming nilai bagus. Hahaha.. gokil deh..

Setelah acara sidang selesai, kami dipersilahkan buat jalan-jalan di sekitar kampus. Aku, Sherly, Ayu, Fatimah, dan Desi memilih buat berfoto-foto didepan bus rombongan kami. Sekitar jam setengah tiga, kami pun masuk ke bus buat pulaaaanngg..

Aneh juga sih, coz setelah sidang kami langsung pulang, nggak ada sidang yudisium dulu. Padahal kami udah nggak sabar banget pengen tau hasilnya. Entahlah, mungkin dosen-dosen kami lelah (-__-‘) Mudah-mudahan aja nunggu sidang yudisiumnya nggak lama. Aamiin..


Well,  aku berterima kasih banget kepada semua pihak yang udah bantuin aku. Buat Allah yang udah ngasih kemudahan; buat ortu yang selalu doain; buat Pak Muangsal yang udah ngebimbing; buat Bu Titi yang udah bersedia diwawancarain; buat Mbak Ati dan Bu Neng yang sering ngasih ijin keluar kantor; buat komputer dan printer kantor yang sering aku pake buat nge-print Tugas Akhir dan persyaratannya (tapi aku pake kertas sendiri lho ya, nggak korup); buat Yiruma, Depapepe, dan musisi-musisi yang senantiasa nemenin aku dengan musiknya selama penyusunan Tugas Akhir; dan buat nyamuk-nyamuk yang juga ikut nemenin selama aku begadang (semoga arwah nyamuk-nyamuk yang telah mati di tanganku diterima disisi-Nya). Terima kasih, semuanya. Doain aku lulus ya..
Minggu, 07 Juni 2015 0 komentar

Sabtu Nano Nano

Tanggal enam, bulan enam. Mungkin angka kembar inilah yang jadi alesan kenapa begitu banyak orang yang ngadain hajatan hari Sabtu kemaren.

 Minggu ini aku menerima tiga undangan hajatan yang dua-duanya digelar tanggal enam Juni. Undangan pertama adalah undangan milik Mbak Nita—adik Mbak Ati. Yang kedua adalah undangan dari pasangan Mas Rizki dan Bu Neng. Dan yang terakhir adalah undangan hajatan anak salah satu pemborong yang bekerja di perusahaan tempat aku kerja.

Pada awalnya aku berpikir bahwa kayaknya aku cuman bisa dateng ke satu hajatan aja, yakni hajatan Mbak Nita. Coz selain yang ngundang adalah adik kandung dari leader aku, juga karena lokasi hajatnya nggak begitu jauh dari tempat kerja kami. Aku pengen banget dateng ke hajatan Mas Rizki, tapi lokasinya jauh. Di Majalengka gitu lho.. Sedangkan undangan ketiga nggak aku hadiri karena aku nggak mengenal si pengundang. Hahahaha..

Tapi yang terjadi justru berlawanan. Karena nggak mau kondangan sendirian, aku nelpon bagian Keuangan buat ngasih tau mereka kalo aku pengen kondangan bareng mereka. Beberapa menit kemudian, Bapak General Manager menghampiri aku dan nawarin kondangan bareng naik mobilnya (bareng Mas Daus dan rekan-rekan yang lain). Aku setuju.

Karena perut aku sakit, aku ke toilet deh. Sebelum ke toilet, aku bilang lagi ke bagian Keuangan, “Ntar kondangannya bareng yak. Kasih tau saya kalo mau pada berangkat, saya mau ke toilet dulu.”

Setelah dari toilet, aku lega karena rombongan belom pada berangkat. Aku bahkan sempet papasan sama Pak General Manager. Karena masih ada waktu, aku bener-benerin kerudung aku deh. Eh, pas udah kelar beres-beres, aku nggak denger suara rekan-rekan aku. Aku pun langsung ke parkiran, ternyata mobil Pak General Manager udah nggak ada. Trus aku BBM rekan-rekan aku, “Pada kumpul dimana nih?” tapi nggak ada yang bales. Damn!
Lantas aku nelpon Security di pos, memastikan kalo rombongan itu belom berangkat.
“Halo, Pak. Mobil Bapak General Manager Properti udah keluar belum ya?”
“Oh, baru aja berangkat, Bu. Baru aja tadi.”
Haissshh..

Pas rombongan itu udah berangkat, mereka malah baru bales BBM aku. Nyebelin kan? Mereka bilang, “Maap ya, Mbak.. bla, bla, bla..”
Aku bales, “Iya, gapapa,” tapi sambil nangis di pojokan. Da saya mah apa atuh.. Gaib, nggak keliatan. Kondangan ge ditinggal ku rombongan..

Asli, aku kesel banget waktu itu, khususnya sama bagian Keuangan yang sebelumnya udah aku titipin pesan. Aku nyampein pesan itu dua kali lhooo.. Dua kali.. (=__=’)
Well, kalo yang punya hajat itu bukan keluarga leader aku, aku pasti nggak akan sekesel itu. Aku khawatir aja gitu kalo leader aku kecewa karena aku nggak dateng. Masa rekan-rekan dari divisi lain dateng, aku yang tangan kanannya justru nggak keliatan. Aku mencoba berpikir, siapa lagi orang yang bisa aku ajak kondangan bareng. Ada Mas Kholik, tapi dia bilang katanya mau kondangan bareng gebetannya. So, aku nggak mungkin kondangan bareng dia. Ada anak-anak Marketing Promotion, tapi rupanya mereka nggak diundang. Masa iya aku kudu nelpon Admin Lapangan gitu buat jemput aku ke kantor dankondangan bareng? Lha emang aku siapa?

Lalu kata Mbak Cindy, “Sama Mas Rahmat aja, Mbak.”
Ah ya.. si gempal itu. Tapi emangnya dia mau? Gitu pikir aku. Tapi aku coba juga tanya dia. Karena dia nggak ada di kantor, aku SMS aja, “Yung, kamu lagi dimana?”
Dia bales, “Lagi di Grage.”
“Kamu nggak kondangan?” tanya aku basa-basi. Trus dia bales apa gitu, yang pasti agak nggak nyambung sama pertanyaan aku.

Nggak lama kemudian, dia dateng dan nyariin aku, kemudian nanya, “Lu nggak kondangan?”
Aku jawab, “Ditinggal sama rombongan.”
Aku pikir dia bakal langsung ngeledekin aku pas denger jawaban aku itu. Eh, dia malah bilang, “Mau ikut kondangan nggak lu?”
“Kemana?” tanya aku.
“Ke Mas Rizki.”
Deeeeyymm.. nih bocah malah ngajak kondangan ke yang jauh.

Karena aku udah hopeless gara-gara nggak ada lagi yang bisa aku ajak kondangan ke Mbak Nita, dan karena aku pikir daripada nggak kondangan sama sekali, akhirnya aku terima juga ajakan si gempal itu. Karena nggak bawa helm, aku minta izin Mas Kholik yang waktu itu lagi duduk bareng Mas Didin—driver Properti—buat pake helmnya. Eh, pas aku mau ngambil helm Mas Kholik, ternyata Buyung udah bawa helm orang lain duluan. “Lu pake ini aja,” katanya.
“Helm siapa nih?”
“Punya Haris.”
Haissshh..  Si Buyung nggak tau aja kalo kurang akrab sama Haris, jadi nggak enak aja gitu kalo aku pake helmnya tanpa minta ijin dulu. Tapi aku nggak berani nolak. Akhirnya aku pake aja tuh helm sambil berharap yang punya nggak nyariin.

Akhirnya, kami pun keluar kantor dan menuju Masjid Agung Sumber. Yap, kami nggak cuman berdua aja ke Majalengka, tapi bareng Pak Zuhri dan Mas Uki juga. Ya iyalah, kalo aku dan Buyung doang yang ke Majalengka, yang ada kami sukses nyasar :v

Ternyata, Pak Zuhri nggak sendirian, tapi bareng Mbak Bere (sebenernya namanya Siti Badriah, tapi karena namanya mirip penyanyi yang mempopulerkan lagu Bara Bere, jadilah dia dipanggil demikian). Di depan masjid itu, kami berempat nunggu Mas Uki. Tapi karena Mas Uki nggak kunjung dateng, akhirnya kami memutuskan buat langsung jalan aja sambil berharap ketemu Mas Uki di jalan (coz katanya Mas Uki udah OTW, hanya aja nggak tau lokasi kami dimana). Baru beberapa ratus meter jalan, akhirnya ketemu juga si Abang Cungkring itu. Dia lagi celingukan kayak anak ilang aja gitu di seberang jalan. Sumpah, lucu banget ekspresinya. Kami ngakak aja gitu pas manggil-manggil dia.

Lalu mulailah perjalanan kami. Perjalanan naik motor ke Majalengka ternyata lumayan lama. Kami berangkat sekitar jam satu, nyampe disana udah jam tiga. Seneng juga sih ketemu Mas Rizki lagi. Dia sempet bilang, “Jangan kangen sama saya ya..”
Haisshh.. Jangan kangen gimana, Bang? Suasana kantor jadi garing gitu semenjak Bang Rizki hengkang (=__=’)

Setelah makan, kami foto-foto sejenak, kemudian pamit pulang. Sayangnya pas pulang, hujan turun. Awalnya cuman gerimis kecil, tapi pas kami tiba di jalan raya, hujan turun lumayan deras. Jadilah kami naik motor sambil ujan-ujanan. Jadi inget pas pulang dari hajatan Mas Aris bulan Maret lalu. Hanya aja waktu itu aku dibonceng Mas Rafik yang nyetirnya nyeremin. Anyway, nyetirnya Mas Rafik dan Buyung sama-sama kenceng dan suka selap-selip. Hanya aja Mas Rafik lebih sering ngerem mendadak, jadi gimana gitu..

Karena jalanan rada banjir, otomatis roda kendaraan yang melintas pada nyipratin air dong. Nah, pas lewatin motor yang ditumpangin aku dan Buyung, Mas Uki malah sengaja nge-gas gitu, sehingga bikin air yang menggenang di jalan nyiprat ke aku dan Buyung. Nyipratnya nggak tanggung-tanggung, sampe ke bahu aku. Haissshh.. Sepatu aku yang tadinya cuman basah aja sampe kemasukan air. Aku dan Buyung berseru protes, sementara si Abang Cungkring itu malah ketawa-ketawa girang. Tapi akhirnya aku dan Buyung ketawa-ketawa juga sih. Ternyata asik juga basah-basahan di jalan sambil naik motor. Wakakak.. xD

Aku dan Buyung sampe di kantor sekitar jam lima sore. So, aku nggak lama-lama di kantor. Aku pulang aja, coz jam tujuhnya aku harus ke kampus buat ngehadirin sosialisasi pemberkasan sidang Tugas Akhir. Aku berharap begitu nyampe rumah, aku bisa mandi, sholat Magrib, dan ganti baju dulu. Tapi ternyata, di jalan macet banget, coz banyak orang-orang berkeliaran di jalan. Denger-denger sih mereka mau pada nonton konser Iwan Fals gitu. Alhasil, aku nyampe rumah sekitar jam setengah tujuh, cuman sempet buat sholat doang, trus langsung ke kampus dianter adik aku.

Eh, udah buru-buru ngampus, ternyata disana sosialisasinya cuman setengah jam-an. Baru aja aku duduk beberapa menit udah wassalam aja gitu. WTF?! Tau gitu sih mending nggak usah dateng. Nanya ke temen aja kan bisa (=__=’)
Tapi informasi yang aku dapet di kampus tadi lumayan bikin jantungan sih. Kata Mr Rudi, tanggal 25 bulan ini adalah deadline alias batas waktu pengumpulan proposal Tugas Akhir. Damn! Aku baru juga nyampe bab dua dan tiga, itu pun masih dalam proses pengerjaan. Ironis yak.. Aku biasa nulis, tapi nyusun Tugas Akhir aja nggak kelar-kelar, padahal temen-temen aku yang lain udah nyampe bab-bab akhir, bahkan ada yang udah selesai. Entahlah kenapa bisa gitu. Apa karena akunya yang terlalu sibuk karena dari Senin sampe Sabtu aku di kantor selama sepuluh jam sehingga aku cuman punya waktu buat nyusun Tugas Akhir di hari Minggu? Atau karena yang aku tulis bukanlah passion aku? Aku nggak bener-bener tau. Tapi aku tetep bertekad sih. Target aku, Tugas Akhir aku selesai tanggal 20.

Balik ke cerita.. Daripada keluarga aku heran kenapa aku pulang terlalu cepet (karena yang namanya ngampus paling bentar ya satu sampe dua jam), akhirnya aku ikut Ayu nemenin Sherly beli perlengkapan mandi ke supermarket, yah sekalian jalan-jalan gitu. Kebetulan udah lama kami nggak spending time bareng. Awalnya sih aku nggak niat beli apa-apa. Tapi ya karena jalan-jalannya ke supermarket, namanya penyakit cewek, kalo liat banyak barang ya pengennya beli. Akhirnya aku beli Lay’s dan dua bungkus Whiskas. See? Aku jalan-jalan juga masih inget sama kucing aku, si Mutun.

Setelah jalan-jalan, otomatis kami laper lah. Akhirnya kami cari makan deh. Awalnya sih sempet bingung mau makan apa dan dimana, tapi akhirnya kami memutuskan buat makan di salah satu kedai makan kaki lima didepan Alun-alun Kejaksan. Aku dan Ayu pesen nasi goreng, Sherly pesen seporsi nasi putih dan seporsi capcay goreng. Jangan salah, walaupun cewek satu itu ber-body slim, tapi porsi makannya kayak laki. Makanan yang dia pesen bisa abis, masa? Si Ayu yang pesen nasi goreng seporsi aja masih nyisa banyak :v


Huaaahh.. pokoknya hari ini super banget lah. Dan mungkin ini pertama kalinya aku malem mingguan sama temen-temen sampe larut malem, sesuatu yang pengen banget aku rasain dari jaman teenager dulu.  Sekitar jam sepuluh aku baru pulang coba. Haha.. Well, aku jarang banget ngerasain moment kayak gini. Hampir nggak pernah malah. So, sekali-kali jalan-jalan kayak gitu gapapa kali ya :)
Kamis, 01 Mei 2014 0 komentar

LP3I Goes to Jakarta

Pagi ini aku baru aja pulang dari Jakarta. Yak, hari Selasa kemaren, aku dan temen-temen satu angkatan di kampus mengadakan Company Visit ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Karena hal itu, aku dan Adel izin nggak magang untuk hari Rabu.

Pulang magang, aku langsung pulang dan prepare. Aku bawa tas punggung aku yang bermotif tengkorak dan sebuah handbag yang bermotif mirip kulit macan tutul. Aku pergi dengan mengenakan kaos lengan panjang abu-abu, jaket bertopi tanpa lengan (aku nyebutnya jaket Rocker. haha..), celana jeans, dan sepatu kets abu-abu. Ibu aku mengomentari penampilan aku waktu itu, "Kamu lebih keliatan kayak anak SMA dibanding anak kuliahan.." Dikomentarin kayak gitu aku cuek aja. Toh, udah sering aku denger komentar kayak gitu.

Ibu nganterin aku sampe ke jalan raya. Waktu itu aku rada pesimis nggak dapet angkot. Coz biasanya kalo udah lebih dari jam tujuh gitu, angkot udah mulai sepi. Tapi untungnya aku masih kebagian angkot. Sebelum naik angkot, aku sempat melambaikan tangan ke ibu. Dan entah kenapa setelah itu ngerasa rada sedih gitu deh. Yak, sebuah perasaan yang selalu aku rasain kalo mau pergi jauh.

Turun dari angkot, aku pun menuju kost-an Riris, temen aku. Rencananya kami mau bareng berangkat ke kampus. Tapi karena Riris pengen jemput temennya dulu, akhirnya aku ke kost-an Sherly, Nur, dan Ecin aja. Selain mereka bertiga, disana juga ada Eny dan Linda, kemudian disusul Ayu yang juga dateng kesitu. Aku pun ke kampus bareng mereka.

Sampe di kampus, kami nggak langsung berangkat, coz busnya belum dateng. Kami duduk-duduk dulu di halaman dan mengisi daftar absen. Kami juga membaca denah lokasi tempat duduk yang ditempel di depan front office. Rupanya masing-masing siswa udah ditentuin tempat duduknya. Aku kebagian duduk disebelah Riris di barisan sebelah kiri, dan kursi aku tepat disebelah jendela! Ah, syukurlah..

Ada tiga buah mobil yang disewa kampus malem itu. Dua buah bus dan sebuah elf yang semuanya adalah mobil-mobil pariwisata, of course! Aku dan temen-temen satu jurusan kebagian duduk di bis dua. Sekitar jam sembilan malem, kami masuk mobil. Setelah tempat duduk teratur dengan baik, tepatnya sekitar jam sepuluh malem, kami mulai berangkat dengan membaca doa yang dipimpin oleh salah satu dosen kami, Abi Suwarsan.

Selama perjalanan, aku sempet ngobrol-ngobrol sebentar sama Riris, kemudian aku tidur dan bangun sekitar jam satu kurang. Suasana didalem bus udah sepi. Aku ngeliat temen-temen aku, semuanya udah pada tidur. Aku liat ke luar jendela. Pemandangan bener-bener gelap. Cuma lampu dari mobil kami yang bisa ngasih sedikit penerangan. Di luar sana yang aku liat cuma tanah luas yang ditumbuhin banyak pepohonan dan rumput-rumput. Jalan yang kami lewatin jelek banget, nggak mulus, sehingga membuat bus yang kami tumpangin bergoyang ke kanan-ke kiri. Aku mencoba mencari plang apapun, berharap aku tau di lokasi mana kami berada waktu itu. Aku sempet ngeliat plang yang bertuliskan Gunung Kerti, Indramayu. Aku baru denger nama gunung itu. Sumpah, aku bener-bener ngerasa kayak berada di suatu tempat yang asing, kosong, mati, dan mengerikan. Suasana bener-bener sepi. Satu-satunya suara yang aku denger cuma suara kreot, kreot, kreot yang berasal dari bus yang kami tumpangin. Well, bus itu berbunyi demikian setiap kali berguncang, sehingga membuat aku ngerasa kayak naikin bus hantu. Akhirnya aku dengerin musik aja deh. Lagu Dear God-nya Avenged Sevenfold menjadi lagu pilihan aku waktu itu. Nggak tau kenapa aku ngerasa lagu itu selalu cocok buat nemenin perjalanan, apalagi perjalanan yang lagi aku laluin malem itu. Liriknya itu lho, "A lonely road crossed another cold state line.." Rasanya aku kayak lagi berada didalem video klip lagu itu. Mwahaha..

***

Menjelang Subuh, kami tiba di Masjid Istiqlal, Jakarta. Itulah tempat tujuan pertama kami. Bus yang kami tumpangin sempet muter-muter gitu di sekitar komplek Istiqlal gara-gara bingung nyari tempat parkir. Hahaha.. Untungnya ketemu.

Kami pun masuk ke lokasi masjid. Kami cuma dikasih waktu sekitar satu jam buat mandi, sholat Subuh, dan sarapan. Lumayan juga nunggu antrean di kamer mandi. Lamaaa banget. Yang paling ngerasa gondok adalah aku dan Nur. Kami berdua udah nunggu lama banget didepan dua kamer mandi yang masing-masing mau kami tempatin. Eh, ternyata dua kamer mandi itu sebenernya kosong alias belum ada yang make  dan belum dibuka sama pengelolanya. OMG.. (=__=')

Setelah kamer mandi itu dibuka kuncinya, aku masuk dan mandi. Sialnya aku nggak bawa sabun mandi. Akhirnya aku sabunan pake sabun cuci muka. Aaazzz..
Mending lah, daripada nggak sabunan sama sekali.

Habis membersihkan diri, mengganti pakaian dengan jas almamater, dan merias diri, kami pun kembali ke arena depan masjid buat berfoto-foto. Ada juga yang beli makanan buat sarapan.

Karena waktu satu jam nggak cukup buat mempersiapkan diri, kami berada di komplek Istiqlal sampe sekitar jam setengah sembilan pagi. Kemudian kami berangkat menuju Mbah Priok, lalu ke PT Pelindo Tanjung Priok, tempat tujuan utama kami.

Jalan-jalan menuju Tanjung Priok bener-bener memprihatinkan. Sungai-sungai keruh tinggi airnya, sampah menggunung dimana-mana, dan rumah-rumah yang berdempet-dempet tak beraturan, sehingga menyebabkan lingkungan tampak kumuh.

Ini kelima kalinya aku ke Jakarta, walaupun beberapa diantaranya cuma sekedar mampir. Dulu, setiap kali ke Jakarta, aku selalu berharap bisa ketemu artis, khususnya Nidji. Dan aku selalu siap bawa binder atau notes dan pulpen buat minta tanda tangan. Sepanjang perjalanan, kepala aku muter-muter, aku pikir siapa tau ada artis lewat. Hahaha.. Silly banget kan?
Tapi setelah aku sadar bahwa rasanya ketemu artis itu nggak jauh beda dengan ketemu orang-orang biasa (ya iyalah, wong sama-sama manusia), aku jadi nggak pernah ngarep-ngarep ketemu artis lagi. Namun kali ini, aku berharap ketemu sama Pak Jokowi yang lagi blusukan.

Di PT Pelindo, kami menyimak sebuah presentasi mengenai Pelabuhan Tanjung Priok yang katanya merupakan pelabuhan terbesar di Indonesia. Dari presentasi itu kami tau bahwa sekitar 60% perekonomian Indonesia berasal dari pelabuhan itu. Sebagian dari kami juga tertarik buat bekerja disana karena upahnya yang sangat menjanjikan dan menggiurkan. Bayangin aja, karyawan baru aja upahnya lebih dari 10 juta perbulan. Pegawai Humasnya aja dapet sekitar 80 juta perbulan. Aku nggak bisa bayangin berapa upah atasan-atasannya.

Untuk bisa bekerja disana, kami harus memiliki IP minimal tiga koma lima, dan skor TOEFL minimal 700. Well, untuk IP sih aku nyampe, tapi kalo untuk TOEFL aku nggak tau deh. Coz aku nggak pernah tes TOEFL. Lagian aku juga nggak yakin sih apakah mental aku kuat kalo bekerja disana. Hahaha..


Sekitar jam dua siang, kami kembali ke bus untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan. Sialnya, aku nggak bisa menikmati dan mencerna makanan dengan baik karena sariawan di lidah aku yang lagi sakit-sakitnya. Awalnya aku berniat ngasihin nasi kotak aku ke gelandangan yang mungkin aku temuin di jalan, tapi aku bingung dimana bisa menemukan gelandangan (yang bukan gelandangan palsu yang kemaren-kemaren rame diberitakan di media itu). Akhirnya, aku makan sendiri nasi kotak itu. Itupun makannya sambil megap-megap dan asal telen, karena lidah aku yang sakit nggak ketulungan.

Tujuan kami selanjutnya yaitu ke studio Trans Corp. You know what? Kami jadi pengisi acara Bukan Empat Mata! Ralat, bukan pengisi acara deng. Lebih tepatnya, penonton. Well, sebenernya aku sih ngarepnya jadi penonton Hitam Putih. Coz aku kan pengen banget ngeliat Om Deddy Corbuzier secara langsung. Eh, kami malah kebagian nonton Om Tukul. Kalopun kebagiannya nonton Om Tukul, kenapa bukan ke Mister Tukul Jalan-Jalan aja? Pasti lebih seru kan tuh? Tapi aku  maklum lah.. kami kan rombongan anak-anak kampus, bukan rombongan anak-anak kuliah keparanormalan atau Ghostbusters.

Perjalanan dari PT Pelindo ke studio Trans Corp harusnya nggak menelan waktu lama. Tapi karena kami terjebak macet, kami baru nyampe disana sekitar jam empat sore.Sesampainya disana, kami berdiri didepan pintu keluar-masuk. Aku ngeliatin temen-temen aku yang berfoto-foto ria dan selfie-selfie didepan meja yang ada lambang Trans Media-nya. Beberapa dari mereka ngajak temen deketnya buat berfoto bareng. Sementara aku? Aku hanya melongo ngeliatin mereka, sesekali aku jadi tukang foto dadakan, lebih ngenesnya lagi kadang aku disuruh minggir karena menghalangi pemandangan.. (=__=')

Kami nunggu didepan pintu keluar-masuk itu lumayan lama. Tiba-tiba seorang ibu berbaju putih dan bercelana panjang item lewat didepan kami dan keluar dari pintu disebelah kami berdiri. Itu Mpok Atiek! Begitu beliau keluar, seseorang meminta foto bareng. Aku dan temen-temen pun ikut menyerbunya. Kami berfoto bareng beliau. Beberapa lama kemudian, munculah seorang cewek cantik, berpostur tubuh tinggi semampai dan bergaun merah menyala. Itu Vicky Shu! Ia berjalan melewati kami dan keluar dari pintu yang sama seperti Mpok Atiek tadi. Seperti Mpok Atiek, ia juga diserbu beberapa orang yang memintanya foto bareng. Lagi-lagi aku dan temen-temen ikutan.

Hari mulai gelap, acara belum juga dimulai. Aku dan beberapa temen aku duduk-duduk di samping studio 9. Kadang-kadang terdengar suara musik dari dalem. Mungkin band Bukan Empat Mata lagi latihan. Kami juga sempet ngeliat Om Pepi lho. Tadinya kami mau berfoto bareng, tapi kami keduluan anak-anak dari rombongan lain.

Sekitar jam setengah tujuh, kami baru diizinkan masuk ke studio. Tapi sebelum itu, tas kami digeledah. Kami dilarang membawa kamera digital, makanan dan minuman. Aku yang waktu itu ngebawa sebotol air Aqua (yang isinya tinggal sepertiganya), sebungkus Qtela, dan sekotak snack dari Pelabuhan Tanjung Priok terpaksa menitipkan semua itu ke salah satu temen dari kelas lain yang emang ditugasin jadi koordinator pengumpulan makanan dan minuman dadakan.

Setelah tas digeledah, kami pun masuk. Aku menggandeng Ayu. Kami kebagian duduk di atas podium. Karena penonton dari kampus kami banyak, nggak semua mahasiswa LP3I kebagian duduk diatas podium, sehingga mereka-mereka yang nggak kebagian kursi itu duduk di depan panggung band Bukan Empat Mata. Seorang kru cowok mengajak kami ngobrol. Dia nanyain asal kami dan ngasih kami pengarahan tentang aturan-aturan yang harus kami ikutin selama syuting berlangsung. Aturannya adalah, kami harus seheboh mungkin (tau sendiri lah hebohnya penonton acara Bukan Empat Mata itu kayak gimana) dan kami juga dilarang mengaktifkan HP selama syuting berlangsung.

Tempat duduk penonton diatur dulu, biar tertib
Mahasiswa-mahasiswi LP3I yang nggak kebagian duduk di podium

Kru memberikan arahan sebelum syuting berlangsung

Jujur nih ya, crew-crew cowoknya keren-keren bangeeeeett.. Huaaahh..
Sayangnya aku nggak tau nama-namanya. Kalo tau, aku incer deh Facebook atau Twitter-nya, terus aku follow deh.

Sebelum syuting dimulai, kami disuguhi hiburan dari seorang kakek-kakek nyentrik berkacamata item dan berkaos ijo. Aku lupa siapa namanya. Kakek itu bernyanyi buat kami.

Beberapa lama kemudian, Mbak Vega si pendamping host muncul. Malem itu, Mbak Vega cantik banget. Dia pake kaos pink dan rok rempel diatas lutut warna putih. Rambutnya yang ikal disatuin ke belakang membentuk buntut kuda, sementara poninya dibiarin jatoh didepan kening. Badannya yang tinggi tampak makin tinggi dengan high heels silver yang blink-blink di kakinya. Kemudian muncul Om Tukul dari balik pintu kaca. Hey, percaya atau tidak.. ternyata Om Tukul lebih ganteng dari yang selama ini terlihat! Malem itu dia pake Polo Shirt warna oranye dan kaos lengan panjang (atau sweater?) warna ungu tua. Bajunya keliatan sempit banget, sehingga perutnya yang buncit keliatan buletnya. Sementara Om Pepi berdiri di belakang bareng band Bukan Empat Mata. Dia megang drum.

You know what? Ternyata walaupun gokil, Om Tukul tuh sebenernya tegas banget lho. Dia nggak segan memprotes hal-hal yang nggak sesuai dengan keinginannya demi kelancaran acara.

Sekitar jam setengah delapan, syuting pun dimulai. Syuting dibuka dengan penampilan Om Tukul dan Mbak Vega yang menyanyikan lagu Hello Dangdut secara duet. Setelah itu, Om Tukul pun membuka acara dengan gaya khasnya.

Tema Bukan Empat Mata malem itu adalah Sang Juara. Bintang tamu yang paling pertama dipanggil yakni Bapak Gita Wirjawan! Ternyata aslinya ganteng lho, langsing dan tampak muda gitu. Beda banget sama tampilan beliau yang aku liat di foto yang nongol di iklan Facebook tempo hari.

Pak Gita sempet menunjukkan keahliannya bermain piano lho. Aku yang suka banget ngeliat permainan piano jelas aja takjub ngeliat permainan beliau. Keren!

Dan bintang tamu selanjutnya adalah.. Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad! Siapa yang nggak tau? Mereka adalah pasangan pemain bulu tangkis ganda campuran yang pada tahun 2012 lalu membawa pulang gelar juara untuk Indonesia yang udah mengalami penantian panjang selama 33 tahun untuk prestasi ganda campuran All England. Mereka keliatan ganteng-ganteng banget malem itu. BTW, aku salah nggak sih bilang ganteng-ganteng? Liliyana Natsir juga ganteng soalnya. Aku aja naksir :P Oke, aku bercanda doang tadi.

Eh, ternyata yaaa.. meskipun cuma jadi penonton, capeknya tetep lho. Kami harus bener-bener heboh. Kalo Om Tukul ngegerak-gerakin tangannya kayak kepala ular kobra (tau sendiri lah ya), maka kami harus berseru "Ea! Ea! Eaa! Eeeaaa!!". Kalo Om Tukul bertanya, maka kami harus menjawab secara kompak dan serempak.. dan masih banyak lagi. Selain menjawab dan berseru secara kompak, kami juga harus banyak-banyak bertepuk tangan.

Dulu, kalo nonton acara-acara hiburan di TV dan ngeliat penonton yang heboh, aku selalu mikir : Penonton-penonton itu kenapa sih? Orang acara dan artisnya biasa aja kok pada heboh? Alay banget!
Tapi sekarang aku sadar bahwa ternyata penonton emang dituntut buat bersikap demikian. Mungkin tepuk tangan dan seru-seruan itu sebagai bentuk sikap menghargai sang penghibur, biar acara tampak hidup dan nggak terkesan membosankan.

Aku yang menderita sariawan akut mana bisa heboh-hebohan secara maksimal. Bukannya tepuk tangan dan berseru, aku malah tepuk tangan dan berseru sambil meringis. Well, kalo nanti ada diantara kalian (para pembaca blog ini, itu juga kalo ada) yang nonton acara Bukan Empat Mata dengan tema Sang Juara di TV ngeliat ada penonton di podium yang bermuka ngenes dan tampak meringis menahan sakit, maka itulah aku.

***

Sekitar jam sembilan malem, syuting selesai. Kami harus cepet-cepet keluar dari studio itu, coz para kru dan artis harus segera bersiap-siap untuk syuting acara live Bukan Empat Mata, sehingga kami nggak punya kesempatan buat berfoto bersama para artis dan awak Bukan Empat Mata. Sayang banget. Padahal tadinya aku udah berharap bisa foto bareng sama Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad.. (=__=')

Setelah keluar dari Studio 9, aku dan temen-temen duduk-duduk di depan kantor Trans Corp. Disana kami dibagiin snack (lagi, untuk ketiga kalinya). Sumpah ya, aku nyesel banget bawa makanan banyak dari rumah, dan semuanya hampir belum ada yang aku makan. Udah gitu aku dan temen-temen dapet makanan lagi, dapet makanan lagi. Makanan-makanan itu cuma bisa aku taruh didalem tas tanpa bisa aku makan hari itu. Gimana mau makan kalo sariawan di lidah aku sakitnya luar biasa? Alhasil, makanan-makanan itu cuma numpuk di tas aku. Tas aku isinya penuh sama makanan doang!

Setelah duduk-duduk beberapa lama didepan kantor Trans Corp, kami pun diperintahkan masuk mobil dan pulang. Perjalanan pulang terasa lebih cepet dibanding perjalanan waktu menuju ke Jakarta. Dan karena capek, aku pun banyak tidur selama di perjalanan. Yah, mungkin itulah yang menyebabkan perjalanan terasa lebih cepet.


Sekitar jam setengah tujuh pagi, kami turun didepan kampus. Aku mampir dulu ke kost-an Sherly dkk buat ngambil beberapa botol multivitamin yang ditugasin dosen buat dijual untuk mata kuliah Enterpreneur dan Marketing sekalian minjem sisir. Setelah itu aku pulang deh.. nggak bawa oleh-oleh apapun, kecuali makanan-makanan yang nggak sempet aku makan.
Rabu, 26 Maret 2014 0 komentar

English Spelling Competition

Nggak selalu lho yang namanya Senior tuh selalu unggul dari Junior. Aku ngebuktiin sendiri hari ini.

Well, hari ini adalah hari dimana aku menghadapi English Spelling Competition di kampus bareng temenku, Mitro. Parahnya, kemaren aku sempet lupa tentang kompetisi ini. Aku baru inget pas malemnya Mitro nge-SMS aku buat dateng ke kampus jam delapan pagi dan kumpul di ruang dua. Waktu nerima SMS itu, aku sempet mikir, buat apa Mitro nyuruh aku dateng ke kampus jam delapan pagi?

Aku langsung liat kalender. "Ohmygee.. besok kan tanggal 26!" Aku shock sendiri liat tanggalan. Aku baru inget kalo tanggal 26 Maret ini kan aku terdaftar sebagai peserta English Spelling Competition sebagai ganti Speech Competition yang nggak jadi itu. Parah, parah! Kenapa aku bisa lupa coba? Ckckck.. waktu cepet banget larinya.

Dan pagi ini pun aku memenuhi panggilan itu. Aku nyampe di kampus jam delapan pagi (lebih dikit. mwehehehe..). Pas aku nyampe kampus, Mitro udah nungguin aku didepan front office. Kami pun langsung masuk kedalem kampus. Dan betapa terkejutnya aku bahwa ternyata kami berdua nggak jadi ditanding sama anak-anak dari LP3I cabang lain, melainkan sama anak-anak junior dari kampus sendiri!

OMG.. Kok kayaknya nggak fear ya? Yah, bukannya aku memandang remeh anak-anak junior lho ya. Bukan itu. Tapi aku mikirnya gini lho. Kalo misalnya Senior menang, Junior pasti bakal mikir, "Udah pasti lah Senior menang, ilmu mereka kan lebih banyak". Dan kalo Junior yang menang, kemungkinan mereka bakal mikir, "Ish.. malu-maluin banget. Masa Senior kalah sama Junior".

Tapi ya mau gimana lagi? Kami udah terlanjur terdaftar sebagai peserta kompetisi ini. Parahnya peserta kompetisi ini yang dari Senior cuma aku dan Mitro doang, dan kami tergabung dalam satu regu. Kami ditanding sama enam regu yang semuanya adalah anak-anak Junior. Aku dan Mitro pun mengisi formulir dan menandatangani daftar hadir, lalu mengalungkan kartu tanda peserta di leher masing-masing. Kemudian kami nunggu di koridor.

Sekitar jam sembilan, kompetisi pun dimulai. Aturan mainnya adalah :

  • Pada babak pertama, setiap regu wajib memilih salah satu amplop yang disediakan oleh panitia. Didalem masing-masing amplop itu udah tertulis 15 kata yang berbeda di tiap amplopnya.
  • Juri bakal membacakan satu persatu dari 15 kata yang terdapat dalam masing-masing amplop itu kepada masing-masing regu, sementara anggota regu dari si pemilik amplop itu mengeja kata yang juri ucapkan. Kalo mengejanya bener, otomatis mereka dapet poin.
  • Pada babak kedua, adalah babak rebutan. Setiap anggota regu diberi satu lembar kertas yang berisi kotak-kotak gitu. Juri mengucapkan kata, setiap anggota menuliskan kata yang diucapkan juri diatas kertas itu (satu huruf, satu kotak). Siapa yang paling cepat menuliskan kata tersebut diatas kertas, langsung mengacungkan tangan, lalu mengeja kata tersebut setelah dipersilahkan juri. Peserta dilarang menjawab sebelum mereka selesai menulis atau sebelum juri mempersilahkan mereka menjawab.

Aku dan Mitro gondok banget sama aturan main di babak kedua. Pasalnya, kami nggak bisa nulis cepet. Ya kalo nulisnya nggak satu huruf, satu kotak mah mungkin kami bisa. Tapi peraturan tetaplah peraturan. Kalo kami ngelanggar ya otomatis jawabannya jadi nggak sah.

You know what? Walaupun title mereka adalah Junior, tapi mereka pinter-pinter lho. Mereka punya vocabulary knowledge yang luas, dan juga jago dalam menulis cepat. Nggak heran deh kalo mereka sukses menyikat aku dan Mitro. Aaarrgghh.. gila! Kagum aku sama mereka!

Lucunya, sebenernya aku dan Mitro udah kalah sejak Semi Final. Tapi anehnya, para juri dan Mr Rudi menyuruh kami buat maju ke Final. Well, aku pikir ini cuma akal-akalan beliau-beliau aja biar Senior nggak terlihat begitu memalukan karena kalah sebelum Final. Entahlah..

Honestly, aku rada menyesal ngikutin kompetisi ini. Coz kayaknya Mr Rudi dan para juri yang semuanya dosen Bahasa Inggris itu kecewa gitu. Kayaknya mereka nggak sreg gitu kalo Mitro disandingkan sama aku dalam kompetisi. Apalagi aku liat Mitro itu kayak anak emas mereka. Gimana nggak? Walau rada koplak, tapi dia pinter. Famous lagi di kampus! Sementara aku? Siapa yang kenal aku selain temen-temen sekelas aku sendiri? Bahkan dosen-dosen Bahasa Inggris yang jadi juri tadi pun nggak ada yang mengenal aku dengan baik, kecuali Mrs Yani.. Ah, she's my favorite lecturer! I miss her so bad! (#_#)

Ketika pulang, aku nerima SMS dari Mitro. Dia bilang, "Maaf, Put kalo mengecewakan.."
Aih, Mitrooo.. yang minta maaf harusnya saya, bukan kamu!

Yah, sudahlah. The poin is.. we have done our best. Nggak ada yang perlu disesalkan lagi lah. Just forget it!
Selasa, 18 Maret 2014 0 komentar

The Competition is Canceled

Jangan heran kenapa hari ini, detik ini aku masih disini dan menulis blog, padahal udah aku ceritakan di postinganku sebelumnya bahwa (harusnya) hari ini aku ada di Jakarta atau dalam perjalanan pulang dari perjuangan mewakili LP3I Cirebon dalam mengikuti Speech Competition di LP3I pusat.

Lalu apa alesannya hari ini, detik ini aku masih disini?
Aku ceritain deh..

Seperti yang udah aku ceritakan di postinganku yang sebelumnya, hari Selasa yang lalu aku dipanggil Mr Rudi ke ruangannya, dan disana beliau menyampaikan maksudnya bahwa beliau ingin mengirim aku untuk ikut serta dalam Speech Competition di LP3I pusat di Jakarta. Dan semenjak hari itu, aku bener-bener mempersiapkan mentalku. Aku mencoba untuk optimis dan nggak mikir macem-macem. Pikiran buruk tentang kejadian memalukan di Debate Competition beberapa tahun yang lalu susah payah aku singkirin.

Di hari Jum'atnya, aku ngirim SMS ke Mr Rudi buat nanyain tema apa yang harus aku angkat di kompetisi nanti. Dan beliau memberi beberapa pilihan tema yang bebas aku pilih salah satu :
  • Goverment school should be free for everyone
  • How to stop Global Warming
  • The role of English in the era of globalization
  • Corruption problem in Indonesia
  • Preserving traditional Indonesia culture in the era of globalization
Karena dari jaman SD aku udah hobi banget yang namanya ngebahas tentang masalah global warming alias pemanasan global, akhirnya aku pun memutuskan untuk mengangkat tema tentang masalah yang satu itu, coz aku pikir pasti bakal lebih mudah menguasainya.

Kemudian aku cari deh artikel-artikel yang ngebahas tentang pemanasan global. Pas lagi nyari artikel, Mitro, salah satu temenku dari jurusan Akuntansi nge-SMS aku. Dia bilang bahwa dia juga diutus Mr Rudi buat ngikutin Speech Competition bareng aku. Dan aku baru tau bahwa sebenernya Mitro lah yang mengajukan aku ke Mr Rudi buat ngikutin kompetisi itu. Dia yang ngaku sendiri.

Setelah dapet, aku modifikasi sedikit, lalu aku terjemahkan kedalam bahasa Inggris, kemudian mempelajari dan menghafalkannya. Eh, ternyata Mitro juga ngangkat tema yang sama dengan punyaku, hanya aja isinya beda dan lebih sedikit. Artikel yang dia pelajari cuma setengah halaman kertas folio, sedangkan punya aku dua halaman!

Di tengah-tengah perjuangan, aku dan Mitro saling curhat via SMS gitu deh. Kami memiliki problem yang sama, yaitu kepala pusing dan kesulitan menghafal! Nah lho.. dia yang cuma setengah halaman aja begitu, apalagi aku!

Lumayan susah juga lho ngapalin segitu banyak. Walau udah mencoba untuk berimprovisasi dan nggak terpaku sama teks, tapi tetep aja ada kagok-kagoknya. Bahkan hal itu terus berlanjut sampe hari Minggunya alias dua hari sebelum kompetisi dimulai. Walaupun gitu, tetep aja dong aku harus usaha keras. Nggak mungkin banget aku nyerah gitu aja. Aku kan nggak mau kalo sampe kejadian buruk di Debate Competition beberapa tahun yang lalu keulang lagi. Akhirnya aku mengurangi beberapa kalimat, dan kemudian.. hafal deh aku! Syukurlah :D


Keesokan harinya, Senin 17 Januari.. pagi-pagi aku nge-SMS temen-temen yang satu tempat magang sama aku buat ngasih tau bahwa hari ini dan besok aku nggak berangkat magang. Aku juga nge-SMS Pak Dion buat minta izin nggak berangkat magang hari ini sampe besok, dengan alasan bahwa aku harus ke LP3I pusat dan memang begitulah adanya. Baru aja aku kirim SMS ke mereka, eh.. aku dapet SMS dari Mitro. Here it is..




Ngebaca kata-kata awalnya yang udah nggak enak, mendadak otakku jadi rada lola dan mengakibatkan aku nggak bisa menterjemahkan kalimat dalam SMS itu secara sempurna. Aku pun bales SMS itu,
"Hah?! What does it mean, Mitro? I don't get it exactly".
Kemudian Mitro bales,
"Katanya Mr Rudi takut kalo waktunya nggak pas, Put. Pagi ini beliau bakal nanya ke management dulu apakah sebaiknya LP3I Cirebon ngirim peserta ke Jakarta atau nggak..."

JEGEEEERRR!!
Bagai kesamber petir di pagi hari yang cerah, aku serasa pengen semaput saat itu juga. Oh-mai-gaaaaawwwd!! Aku udah begadang semalaman suntuk buat nyiapin semuanya, aku udah menghafal dan mempelajari teks yang serasa sepanjang koran itu mati-matian (untung nggak mati beneran aja), aku udah berlatih ngomong berulang-ulang sampe lidah terasa terbelit, dan aku juga udah minta izin ke Pak Dion untuk nggak berangkat magang.. eh, akhirnya malah dapet kabar kayak gitu. Masih pagi pula. Aku serasa kena bengek mendadak. Aaaa.. nyesek, nyesek!!

Tapi setelah denger kabar itu, rasa cemas dan rasa nervous yang aku rasain tiba-tiba ilang! Well, sisi positif dari kabar mengejutkan ini adalah.. aku nggak perlu spot jantung sambil ngomong didepan banyak orang di kompetisi itu. Tapi kalo mengingat perjuanganku dalam mempersiapkan semuanya, plus keterlanjuran aku minta izin nggak magang dua hari, tetep aja aku ngerasa nyesek.

Malemnya di kampus, tepatnya menjelang istirahat berakhir, aku ketemuan sebentar sama Mitro didepan pintu kelas. Kebetulan kelas aku dan kelas dia agak berhadap-hadapan gitu deh.  Aku denger, kami sempet di-ciecie-in gitu sama temenku, Fatimah. Yak, sebuah hal jail yang udah membudaya di Indonesia kalo seorang cewek ketemu sama cowok.. (=__=)
Tapi kami cuek aja. Aku tanya, "Gimana, Mitro?"
Dia jawab, "Ya kita nggak jadi ke Jakarta, Put..."
"Oh ya?"
"Iya. Soalnya ternyata kompetisi yang di Jakarta itu kompetisi debat, bukan kompetisi pidato. Kalo kompetisi debat, udah pasti dong kita harus punya persiapan yang lebih dari ini. Makanya kita nggak jadi kesana. Tapi kita tetep ikut lomba kok, tanggal 26. Bukan lomba debat sih, tapi lomba spelling.."
"Hah? Lomba spelling?"
"Iya. Gampang kok, cuma ngeja kata-kata dalam bahasa Inggris aja. Udah gitu, digelarnya juga disini. Jadi kita nggak perlu capek-capek ke Jakarta..." begitu katanya panjang lebar.

Huaaahh.. ya udah deh. Kalo emang gitu keputusannya mau gimana lagi. Kembali, aku liat sisi positifnya aja. Aku nggak perlu nervous lagi, aku nggak perlu cemas lagi, dan aku nggak perlu ngeluarin banyak duit buat uang saku aku ke Jakarta.


Nah, berhubung ke Jakarta-nya nggak jadi, aku pun berangkat magang tadi pagi, meskipun kemarennya aku udah izin nggak berangkat dua hari. Aku pikir kayaknya Pak Dion heran gitu deh sama kehadiran aku. Tapi beliau nggak nanya sih. Sumpah, aku takut banget kalo beliau mikir aku bo'ong tentang kepergian aku ke LP3I pusat itu. Padahal aku kan sama sekali nggak ada niat buat bo'ong. Mudah-mudahan beliau nggak negatif thinking deh ke aku.
Selasa, 11 Maret 2014 0 komentar

Good News? Or Bad News?

Dear, Blogger. Udah seminggu ini aku magang lagi setelah beberapa bulan yang lalu aku resign magang dari perusahaan industri rotan yang pernah aku ceritain itu. Kali ini aku magang di salah satu cabang dari perusahaan terbesar di Indonesia. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri semen.

Well, aku nggak magang sendirian disini. Jadi ceritanya, hari Senin tanggal 3 Maret lalu, aku dipanggil salah satu staff CnP di kampus. Aku ditugasin buat magang di perusahaan itu bareng Riris  keesokan harinya. Sebenernya sih sebelumnya CnP nelpon aku buat nawarin aku ngikutin interview kerja di salah satu perusahaan furniture sebagai receptionist. Tapi aku tolak, coz aku ngerasa kurang mampu bekerja di posisi itu. Yaaahh.. tau sendiri lah, pekerjaan receptionist kan gitu, mengandalkan kemampuan berkomunikasi yang baik. Sedangkan aku sadar kalo communication skill-ku masih jauh dari kata baik. Lagian pengalaman kerjaku kan belum banyak. Aku magang di perusahaan industri rotan itu juga baru sekitar sebulan. Dan karena hal itu, aku minta ke CnP buat magang dulu, sampe akhirnya aku terdampar di perusahaan industri semen ini deh.

Awalnya, aku kira cuman aku dan Riris yang ditugasin magang disitu. Eh, ternyata ada lima orang lagi selain kami, dan semuanya cewek. Hari Selasa itu, aku dateng paling telat. Mobil kampus yang nganter kami udah mulai jalan buat ninggalin halaman depan kampus gitu. Untung aja aku nggak sampe ditinggal. Aku duduk didalem mobil bagian tengah bareng Ati, Riris, dan seorang temen yang aku nggak tau siapa namanya. Wakakak..

Waktu itu rasanya aku nervous banget, plus takut. Takut nggak bisa beradaptasi, takut karyawan-karyawannya jutek.. macem-macem deh. Apalagi Pak Andi mengatakan bahwa tantangan magang atau bekerja buat cewek di perusahaan tersebut lumayan berat, coz kebanyakan karyawan di perusahaan itu tuh cowok. Hanya cewek-cewek bermental kuatlah yang bisa lama bertahan disana. Denger hal itu, aku jadi makin was-was dan stress.  Aku bertanya-tanya, seperti apakah suasana bekerja disana, sampe-sampe kita harus punya mental kuat buat bisa bertahan? Aku doa sepanjang jalan biar Tuhan memperlancar jalanku, dan ngilangin rasa cemas di hati dan pikiranku.

Lagu Opick menemani perjalanan kami waktu itu. Ajaibnya, lirik lagunya rada ngena gitu buat aku..

Tenang.. tenang.. tenang.. tenanglah..
Bersabarlah, Allah mendengarmu
Oh, tenang.. tenang.. tenanglah..
Percayalah, Allah menyayangimu

Ngedenger lagu itu, aku ngerasa seolah-olah Opick ada disebelah aku sambil memotivasiku buat tenang dan nggak cemas. Eh, efeknya ada lho. Aku jadi rada tenang walau sedikit.

Akhirnya mobil yang kami tumpangi memasuki halaman perusahaan yang luas banget itu. Kami langsung dibawa Aam (temen sekelasku yang udah kerja disana) ke sebuah ruangan yg ternyata adalah ruang khusus acara orientasi siswa-siswi serta mahasiswa-mahasiswi yang bakal ngadain Praktek Kerja Lapangan (PKL) di perusahaan itu. Ternyata yang bakal magang nggak cuma kami doang lho, tapi banyak. Mereka dateng dari beberapa SMK dan universitas. Malah ada mahasiswa-mahasiswi dari Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang juga. Gila, jauh-jauh magang kesini!

Di ruangan itu, kami diberi materi tentang berbagai hal mengenai perusahaan tersebut, mulai dari sejarah, visi misi, info produk, sampe aturan-aturan yang harus ditaati selama bekerja disana. Kami juga dibagi untuk magang di departemen yang berbeda-beda. Enam temenku diberi tugas menempati tiga departemen yang berbeda secara berpasangan. Jadi satu departemen, dua orang gitu. Sementara aku nggak punya pasangan karena jumlah kami ganjil, tujuh orang. Aku kebagian nempatin departemen yang udah ditentukan itu sendirian. Mechanical Department. Nggak kebayang, aku bakal jadi satu-satunya karyawan cewek disana.

Hari itu, kami bener-bener full ngedengerin pengarahan, belum kerja. Kami juga dikasih berbagai perlengkapan keamanan seperti helmet, safety shoes, dan masker, serta kartu pengenal. Lucunya, ukuran safety shoes-nya itu gede-gede semua. Menurut Aam, ukuran paling kecil adalah nomer 38, itupun ukurannya lebih besar ketimbang sepatu biasa. Belum lagi sepatunya juga berat gitu. Sementara ukuran sepatuku adalah nomer 36, itupun masih rada longgar dikit. Bisa dibayangkan betapa kecilnya kakiku. Belum lagi badanku yang juga kecil bagai hobitt, sehingga badanku pun bisa ketelen safety shoes itu kalo aku pake. OK, untuk kalimat yang terakhir itu aku nggak bener-bener serius :P

Karena nggak ada ukuran yang pas, aku belum dapet safety shoes itu. Begitu juga dengan temen-temenku yang lain. Satu-satunya dari kami yang udah dapet safety shoes itu cuma Riris. Masker juga belum dikasih, sehingga mengharuskan kami buat bawa masker sendiri dari rumah.

Keesokan harinya, aku dan enam temenku dipanggil ke sebuah ruangan. Disana kami duduk-duduk sebentar, sampe akhirnya kami dikirim ke departemen masing-masing. Aku dianter seorang karyawan ke Mechanical Departement dengan menumpang motornya. Ternyataaaa.. Mechanical Departement terletak paling ujung. Kantornya deket banget sama pabrik dan gunung kapur, sehingga banyak debu-debu beterbangan. Benda-benda disekitar tempat itu aja pada kotor ketempelan debu gitu. Sumpah, nggak nyangka banget aku ditempatin disitu. Aku kan alergi banget sama debu. Tapi untungnya selama aku magang disana, aku nggak sampe kenapa-kenapa sih, asal ditutupin aja idungnya pake masker. Honestly, aku benci sama gambar di maskerku. Doraemon gitu lho! Hadeeehh.. yang gambar tengkorak ada nggak sih? Aku mau beli.. (=__=')

Anyway, satu-satunya yang bikin aku bengek adalah jarak dari jalan raya ke Mechanical Department yang lumayan jauhnya, sehingga kalo mau kesana lebih baik minta anter sama supir mobil kontraktor buat nganterin. Tapi karena aku ngerasa nggak enak kalo minta anter (karena nggak ada yang kenal), aku lebih sering jalan kaki. Walhasil, perjalanan dari jalan raya ke Mechanical Department atau dari Mechanical Department ke jalan raya selalu membuat aku ngos-ngosan dan pegel di kaki setiap malem. Ah, gapapa deh. Ini namanya bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Untungnya, ternyata aku bukan satu-satunya karyawan cewek disana. Ada salah satu anak LP3I dari jurusan lain juga yang magang disana. Adelia namanya. Dia seangkatan sama aku dari jurusan Office Management. Udah sekitar sebulan dia magang disana.

Hari pertama di Mechanical Departement, aku dikasih materi tentang hal-hal yang berkaitan dengan Mechanical Departement oleh Pak Aris di ruang meeting. Aku nggak sendirian. Ada Adel dan dua orang cowok juga yang ngikutin kegiatan itu. Anyway, dua orang cowok itu berasal dari Universitas Diponegoro Semarang. Selama seminggu magang ini, aku hampir nggak pernah ngobrol sama mereka. Begitu juga dengan Adel. Aku komunikasi sama mereka cuma pas hari pertama masuk Mechanical Departement aja. Waktu itu cuman nanyain asal universitas. Haha..
Setelah dapet materi dari Pak Aris, kami kembali dikasih materi oleh Pak Febri. Kali ini kami dikasih materi tentang bagaimana cara Mechanical Department menangani masalah limbah di sekitar pabrik mereka.

Hari-hari pertama magang disitu, rasanya bete banget. Aku cuma duduk-duduk disebuah ruangan khusus berkumpulnya anak-anak PKL. Nggak ada kerjaan, nggak bisa online karena sinyalnya suka ilang-ilang gitu, nggak ada yang bisa diajak ngobrol pula. Satu-satunya hiburanku disana hanyalah kursi beroda yang bisa muter itu. Entah kenapa aku suka banget duduk sambil muter-muterin kursi. Yah, sedikit ngehibur diri aja sih, walaupun nggak banyak ngilangin BT. Sebenernya aku udah beberapa kali ngajak Adel ngobrol, tapi dia cuma jawab seperlunya gitu. Ya mungkin masih canggung kali ya.

Tapi semua berubah setelah sebuah insiden terjadi. Waktu itu aku ngikutin Adel yang lagi ngerjain tugas yang dikasih sama salah satu karyawan. Dia ditugasin buat nge-scan beberapa file gitu. Nah, pas dia lagi nge-rename hasil scan-nya, ekstensi file yang berformat jpg itu keapus sehingga menyebabkan hasil scan-nya nggak bisa dibuka. Trus aku kasih tau aja, "Coba deh kamu rename file-nya, terus kasih format .jpg  di belakang nama file-nya".
Awalnya dia kayak yang canggung gitu ngikutin saran aku, tapi akhirnya dia ikutin juga.. dan TADAAA..!! File-nya bisa kebuka lagi deh. Dan, semenjak itu Adel pun jadi akrab sama aku. Kalo biasanya aku yang memancing obrolan, sekarang malah dia yang sering mancing obrolan dan punya banyak cerita. Awalnya aku kira dia pendiem kayak aku, ternyata nggak. Haha..

Jadi, selama semingguan magang ini, aku bareng-bareng Adel terus.

Oh ya, pernah waktu itu sepatu aku copot haknya. Kalo nggak salah hari Jumat. Waktu itu aku lagi ngerjain tugas yang dikasih sama Pak Dion. Aku duduk didepan komputer, ngerjain tugas, dan kakiku bergerak kesana kemari, ngegoyangin kursi ke kanan dan kekiri. Dan tiba-tiba hak sepatu sebelah kananku copot! Gee! How come?! Padahal baru beli kemaren lho, masa udah copot aja? Mana di tempat kerja lagi! Aku rada bingung, tapi aku coba buat tenang. Aku selesain kerjaanku sampe istirahat tiba. Pas istirahat, kantor sepi, coz hampir semua karyawan pada sholat Jumat. Aku kembali ke ruangan anak-anak PKL dengan menyeret kakiku. Konyol.

Karena nggak menemukan lem buat nempelin hak sepatuku yang copot itu, aku pun memutuskan buat nempelin hak sepatu itu pake permen. Yak, aku nggak becanda. Aku nempelin sepatu itu pake PERMEN! Permen yang mirip permen Sugus itu tinggal satu-satunya di tas aku. Sebenernya buat ngilangin ngantuk. Tapi karena terpaksa, aku pake permen itu sebagai pengganti lem. Dan, VOILA! Hak sepatu aku pun kembali nempel pada tempatnya.

Tapi ternyata hal itu nggak berlangsung lama. Namanya juga permen biasa. Kelengketannya nggak kuat rupanya. Hak sepatuku kembali copot. Hopeless, aku telepon ibuku deh. Aku minta solusi gitu. Eh, tanpa diduga, ibu malah ngotot banget nyamperin aku ke perusahaan itu sambil bawain sepatu baru. Padahal aku nggak minta, coz aku tau perusahaan itu jauh dari rumah. Perjalanannya aja lebih dari setengah jam mungkin. Oh, Mom! Terharu aku..

Ketika ibu aku dateng, aku diminta ke Security Post 1, coz ibuku nunggu disana. OMG! Security Post 1 kan letaknya dideket jalan raya. Karena aku bingung tentang siapa yang bisa aku minta tolong anterin, aku mutusin buat jalan kaki sendirian kesana. Aku pinjem sendal jepit salah satu karyawan. Itupun ukurannya kegedean. Bodo amat lah. Ibuku udah nyamperin aku jauh-jauh dari rumah demi ngeganti sepatuku yang haknya copot itu dengan sepatu baru, masa iya mau aku cuekin? Akhirnya aku pun terselamatkan, nggak harus nyeret kaki lagi. Hahaha..

Oh ya, di hari yang sama, kami kedatengan anak PKL baru. Cowok. Hmm.. sebenernya nggak baru juga sih. Aku udah liat dia sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di perusahaan itu, hanya aja dia pindah dari Technical Services Division ke Mechanical Department ini. Aku juga nggak banyak komunikasi sih sama cowok itu. Mungkin akunya juga yang terlalu cuek. Dia lebih sering ngobrol sama Adel. Itu juga nggak sering-sering banget sih. Adel ngaku kurang suka sama cowok itu, coz menurutnya cowok itu terlalu cerewet. Sedangkan aku sendiri ngerasa biasa aja sih, hanya aja dia ngingetin aku sama seseorang (bukan someone special lho ya!). Nggak tau kenapa aku ngerasa ada beberapa hal dalam diri cowok itu yang mirip sama dia. Cara ngomongnya, nada bicaranya, cara jalannya, bahasa tubuhnya.. mirip. Cuma fisiknya aja yang beda. Waktu aku magang di perusahaan rotan itu juga yang mirip sama seseorang itu, yaitu Factory Manager-nya. Well, lagi-lagi dia bukan mirip secara fisik, tapi cara ngomongnya, nada bicaranya, cara jalannya, bahasa tubuhnya, bahkan nada ketawanya.. mirip. Aku sempet curhat tentang cowok itu ke Riris. Eh, aku malah dikira terkesan sama cowok itu. Hadeeehh.. apa banget coba? Padahal aku ngerasanya biasa aja tuh. Bahkan aku rada geli juga sama tuh cowok. Coz tuh cowok kalo ngeluarin sesuatu dari dalem tasnya selalu berisik. BRAK BRUK BRAK BRUK!! Seolah-olah barang-barang yang dia keluarin itu sengaja dia banting-banting ke atas meja. Sering banget aku dibikin kaget sama dia karena keberisikannya itu. Ckckck..

By the way, klo dibandingin antara tempat magang aku yang dulu dengan yang sekarang, jujur aku lebih suka magang di tempat yang sekarang sih. Kenapa? Coz walaupun disitu rekan kerja yang sama-sama cewek cuma Adel doang, dan letak kantor yang jauh amat serta krisis sinyal, tapi aku ngerasa nyaman kerjanya. Di tempat magang yang dulu, aku selalu ngerasa kayak diawasin. Apalagi managernya itu lho, rada killer.. trus sering ngasih tugas ngitung. Aku kan paling nggak suka kalo harus ngadepin itungan. Tapi ditempat ini, aku bisa kerja dengan tenang tanpa ngerasa diawasin. Nyaman aja gitu. Nggak ada tugas itungan pula. Haha..

Oh ya, Kak Oman juga masih PKL disini rupanya. Dia itu kakak seniorku sekaligus salah satu pembimbing di klub SICE dulu. Aku sempet nyapa dia beberapa hari yang lalu, tapi aku nggak sempet nanya di departemen mana dia magang.

***

Dan hari ini, aku mendapat sebuah kabar yang aku sendiri nggak tau apakah lebih pantes disebut good news atau bad news buatku. Aku ditunjuk Mr Rudi buat ngikutin Speech Competition di LP3I Jakarta!

Jadi ceritanya, sore tadi sebelum dimulainya kuis mata kuliah Export Import, aku nemenin Desy ke ruang pendidikan buat minta kertas folio. Pas aku keluar dari kelas, tiba-tiba Mr Rudi manggil,
"Hey, Putri, Putri!" spontan aku nengok. "Kamu Putri kan?" tanyanya. Well, rada nyesek juga sih pas beliau nanya gitu. Gimana bisa beliau kurang ngenalin aku setelah beberapa waktu yang lalu beliau terlibat dalam penyeleksian kandidat mahasiswa-mahasiswi peserta LP3I Sit in Malaysia dimana aku adalah salah satu pesertanya? Yah, tapi aku sadar juga sih kalo ini salah aku, kurang gaul, dan kurang terkenal.. (=__=')
"Ya, Pak," jawabku. Aku pun dipanggil ke ruangannya, dan disanalah beliau memaparkan maksudnya.

Awalnya sih beliau nanya-nanya gitu.. apakah aku udah magang atau kerja belum, mulai magang kapan, pulang jam berapa, hari liburnya kapan, di tempat magang sibuk atau nggak.. macem-macem deh. Tapi selama beliau nanya-nanya gitu, aku udah bisa ngira-ngira sih bahwa kalo udah disuruh menghadap beliau, pasti masalah yang dibahas nggak jauh-jauh dari bahasa Inggris. Aku pun nanya, "Kalo boleh tau ada apa ya, Pak?"
Baru deh beliau jawab, "Begini, saya bermaksud mendaftarkan kamu untuk mengikuti Speech Competition."

JGEEEERR!!
Bagai denger petir di siang yang terik, aku kaget.. tapi nggak sampe jantungan. "Dimana, Pak?" tanyaku. "Di Jakarta," jawab Mr Rudi.
JGEEERR!! Petir kedua bunyi.
My Gee! Ngikutin Speech Competition di kota sendiri aja rasanya gimanaaaa gitu, apalagi di pusat, melawan anak-anak LP3I dari kota-kota lainnya. Bawa nama kota gitu lho!
"Berdasarkan pertimbangan saya setelah kamu mengikuti seleksi kandidat LP3I Sit in Malaysia itu, saya melihat kamu punya skill komunikasi berbahasa Inggris yang cukup baik dibanding yang lain. Makanya untuk Speech Competition ini, saya menunjuk kamu".
What? Begitukah? Padahal aku sendiri ngerasa gagap.

"Lombanya tanggal 18 Maret, tapi kalo kamu sibuk magang gitu, saya bingung.." kata Mr Rudi. Matanya menatap lantai seolah memikirkan sesuatu. Entah dapet dorongan kekuatan darimana, aku bilang gini, "Saya bisa minta ijin nggak masuk magang kok, Pak". Aissshh! Itu kan berarti aku bersedia mengajukan diri buat ikut kompetisi itu, padahal hati aku sendiri bimbang luar biasa.
"Hmm.. kalo begitu nanti saya mintakan surat ijin ke Pak Andi untuk dikirimkan ke tempat magang kamu, dan blablablablabla.." beliau menjelaskan. Beliau juga minta no HP aku dan berjanji bakal ngasih tau tema apa yang harus aku bahas di pidatoku nanti.
"Jadi gimana? Siap ya? Harus siap dong.." katanya.
"Insya Allah, Pak," jawabku.
Kemudian kami mengakhiri pertemuan singkat kami.

***

Aku memasuki kelas dengan perasaan berkecamuk. Ngikutin Speech Competition? Could I?
Ingatan tentang pengalaman buruk ngikutin English Debat Competition empat tahun yang lalu pun kembali mengusik pikiran. That was one of the worst moments I've ever had! Aku gagal bawa nama sekolah. Aku trauma, takut kejadian yang sama keulang lagi. Untungnya aku dapet dukungan dari temen-temen. Yah, sedikit tenang lah. Sedikit.

Well, sekarang waktunya aku buat mempersiapkan diri. Yak! Aku harus bisa! Bismillah..


Wish me luck ya.. :D

Total Tayangan Halaman

 
;