Tampilkan postingan dengan label Kaleidoskop. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kaleidoskop. Tampilkan semua postingan
Jumat, 01 Januari 2021 0 komentar

New Year : 2021

Tahun 2020 telah usai, dan ya.. aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang berpikir betapa menyebalkannya tahun ini. Bagaimana enggak? Baru memasuki awal tahun, kita digemparkan dengan adanya pandemi C*v*d-19. Di awal kemunculannya, aku sempat mengalami paranoid dan kecemasan berlebihan. Saking paranoid dan cemasnya, aku bahkan berpikir bahwa hidupku akan berakhir tahun ini. Wkwk.. konyol sekali.

Kalo sekarang, aku sudah nggak separanoid dan secemas dulu sih, tapi bukan berarti aku mengabaikan protokol kesehatan. Yah, hanya lebih tenang aja menghadapi pandemi ini. Hanya aja rasa kesalnya tetap ada. Pandemi ini membuat banyak hal berubah. Ingat kan ketika lockdown dan PSBB beberapa bulan lalu? Ruang gerak kita menjadi terbatas. Euforia Ramadhan dan Idul Fitri nggak lagi sama seperti dulu. Nggak ada acara berbuka puasa bersama teman-teman dan keluarga besar, nggak ada jabat tangan, nggak ada silaturahmi. Aku dan keluarga besar dari pihak ibu selalu bersilaturahmi ke rumah kerabat-kerabat di Kuningan setiap tahunnya, tapi tahun ini enggak. Sepi banget rasanya.

Masa PSBB juga membuat aku yang nggak membawa kendaraan pribadi menjadi sangat repot. Jalan-jalan ditutup, angkot menjadi sangat jarang ditemui, sementara tarif ojek online menjadi lebih mahal. Sebal rasanya ketika pergi dan pulang kerja menjadi terlambat karena terlalu banyak waktu yang terbuang hanya untuk menunggu angkot. Huhu.

Namun meski rasa kesalnya lebih dominan, tetap ada hikmah yang bisa dipetik di tahun ini. Tahun ini banyak mengajariku rasa syukur. Bersyukur karena perusahaan tempatku bekerja masih mampu berdiri ketika sekian banyak perusahaan collapse disapu pandemi, bersyukur karena aku masih diberi kesempatan untuk tetap bekerja ketika banyak pegawai perusahaan yang dirumahkan. Melihat fenomena menyedihkan ini, aku benar-benar merasa menyesal karena sebelumnya sering mengeluh tentang pendapatan yang kuterima dari pekerjaanku. Kini aku sadar bahwa bisa jadi pekerjaan yang kukeluhkan adalah pekerjaan yang orang lain inginkan.

Daaaan yah, rupanya meski terbiasa menjadi anak rumahan, ada kalanya di masa pandemi dan lockdown kemarin aku merasa sangat bosan dan ingin melakukan apa yang dulu cukup sering kulakukan di luar rumah. Aku kangen jalan-jalan bareng temanku, Tri. Aku kangen berboncengan naik motor dengannya; hunting jajanan, menemaninya membeli CD drama Korea di Pasar Balong atau membeli kuteks di Heartwarmer, atau meski hanya sekedar mutar-mutar nggak jelas karena hanya dengan hal itu pun kami bisa cukup terhibur dengan hal-hal aneh yang kami temui di jalan. Aku kangen curhat face to face bersama Rohayati, atau mendengar celoteh Putri Ayu. Aku kangen pergi karaoke sendirian, memesan Small Room selama dua jam dan berteriak-teriak sesuka hati untuk melepas penat. Aku kangen nongkrong di outlet fast food, meski hanya sekedar untuk menyesap es kopi susu atau minuman dingin dengan toping es krim sambil menunggu jadwal nge-band. 

Kini masa PSBB sudah berlalu. Kegiatan ngeband sudah bisa kembali dilakukan, meski hanya sekedar latihan dan nggak ada manggung. Aku menginjakkan kaki terakhir kali di atas stage bersama MUSTunable pada tanggal 16 Agustus lalu saat kami mengisi acara peringatan kemerdekaan RI di wilayah tempat tinggal Mister Chokai (FYI : 'Mister Chokai' adalah panggilan akrabku kepada gitaris sekaligus leader kami, karena kalo bicara denganku, ia kadang suka ngenglish nyeleneh gitu. Dia juga kayaknya senang senang aja dipanggil begitu). Okay, back to the topic. Tadinya pertengahan Desember kemarin, kami sempat berencana untuk ikut serta dalam acara Sangkan Park Music Festival. Namun melihat pesertanya yang berjumlah ratusan, belum lagi penontonnya yang bisa jadi nggak kalah banyak, Pak Yosep melarang kami ikut karena terlalu beresiko di masa pandemi ini. Akhirnya kami pun batal ikut serta. Kegiatan nongkrong dan karaokean juga bisa kembali kulakukan kalo aku mau (dan ada budget lebih tentunya. wkwk). Aku juga sudah mulai bisa meet up bersama Rohayati.

Namun sedihnya, aku merasa hubungan pertemananku dengan Tri dan Putri Ayu sedikit merenggang. Khususnya dengan Ayu. Sedih rasanya mengingat betapa dulu, aku, Rohayati, dan Ayu sering meet up seenggaknya sekali dalam sebulan. Tapi kali ini yang kuingat, aku dan Rohayati terakhir kali bertemu dengannya pada tanggal 27 Desember 2019. Itu artinya selama setahun penuh kami nggak ketemu dia. Aku dan Roha masih nggak habis pikir kenapa begitu sulit bagi kami untuk ketemu dia, padahal kami masih berada di kota yang sama. Setiap kali diajak meet up, ada aja alasannya, seolah-olah dirinya nggak memiliki waktu luang. Well, aku dan Roha tau betul, Ayu adalah perempuan yang sangat rajin. Setiap hari ia selalu disibukkan dengan pekerjaan rumah, karena sepeninggal ibundanya sembilan tahun silam, hampir seluruh pekerjaan rumah ia yang mengerjakan. Tapi meskipun sibuk, ia selalu antusias setiap kali kami merencanakan pertemuan. Dan kalo sudah bertemu, ia bahkan bisa memberikan seluruh waktunya pada hari itu untuk kami habiskan bersama. Namun semenjak pandemi ini, ia jadi sulit diajak janjian. Alasannya kalo nggak sibuk, ya karena kekhawatirannya terhadap penularan virus C*v*d19 dari luar dan ayahnya nggak mengijinkan ia keluar rumah. Awalnya aku dan Roha bisa memaklumi, tapi lama kelamaan kami heran juga. Kalo soal sibuk, aku dan Roha juga sibuk kok, terlebih Roha yang sudah berstatus sebagai ibu rumah tangga beranak satu. Tapi kami masih bisa meluangkan waktu untuk bertemu kok. Kalo soal kekhawatirannya terhadap penularan virus C*v*d19 dari luar sehingga ayahnya nggak mengijinkan ia keluar rumah, aku rasa itu nggak make sense mengingat dirinya sering kedatangan saudara dari luar kota. Ia bahkan pernah update status jalan-jalan bersama mereka ke sebuah wisata danau di kabupaten. Aneh aja, orang-orang dari daerah sendiri di waspadai, tapi dirinya nggak aware sama orang-orang dari luar kota. Ia bahkan menolak untuk foto studio bertiga dengan kostum seragam, padahal itu rencana kami sejak jaman kuliah :') Kami jadi berpikir, apa ia sengaja menjauhi kami ya? Tapi kenapa? Well, aku dan Ayu memang sempat memiliki konflik yang sebenarnya orang-orang terdekat kami pun nggak menganggap itu konflik sih. Aku dan Roha sama-sama berpikir mungkin itu alasannya. Aku pernah meminta maaf padanya jika memang ia sengaja menjauh karena hal itu. Tapi ia mengaku dan bersumpah bawah bukan itu alasannya. Aku dan Roha jadi benar-benar bingung. Yah, sangat disayangkan aja, karena pertemanan kami bukan pertemanan yang hanya dua-tiga tahun.

Lewat pertengahan tahun 2020, begitu banyak hal nggak terduga terjadi yang mungkin akan aku tuliskan di entri terpisah, dan yaahh.. nggak pernah menyangka juga bahwa aku akan secepat ini berada di one step closer to the next life chapter. Well, you'll know. I'll write it ASAP.

Aaah.. entah julukan apa yang pantas disandang untuk tahun luar biasa ini. Dibilang tahun terbaik, tapi dominan kecewa, kesal, dan capeknya. Rasanya setiap hari bawaannya pingin sambaaaat terus. Dibilang tahun terburuk, tapi banyak pelajaran hebat yang didapat. 

Ah, dahlah. Intinya aku sangat bersyukur karena Tuhan masih memberi aku dan keluargaku kekuatan untuk tetap survive di tengah pandemi ini, dan juga berterimakasih atas keajaiban-keajaiban doa yang Tuhan tunjukkan sepanjang tahun ini. Now welcome 2021. Aku cuma berharap tahun ini segalanya berjalan baik, dan pandemi C*v*d19 segera berakhir. So 2021, please, please be good :)

Selasa, 31 Desember 2019 0 komentar

New Year : 2020

Hmm.. Nggak terasa kita udah sampai di penghujung tahun 2019 ya. How do you feel, Guys?
Kalo aku pribadi, jujur, sedih. Yah, hampir setiap pergantian tahun, aku selalu merasakan ini sih, terlebih jika tahun itu memiliki banyak momen indah dan berharga yang nggak akan terulang lagi. Aku orangnya hobi banget flashback sih ya, suka banget mengenang hal-hal berkesan di masa lalu. Jadi ketika tahun berganti, itu artinya makin banyak momen indah di masa lalu yang bakal kurindukan di masa mendatang.

Tahun ini kurasakan baik, sangat baik, meski diawali dengan momen buruk, karena bulan Januari ibuku sakit selama sekitar sebulan lamanya sampai harus rawat inap di Rumah Sakit. Apalagi ketika dugaan awal dokter menyebutkan bahwa ibu terkena gejala kanker. Ketika itu perasaanku hancur banget. Namun setelah dirujuk ke Rumah Sakit dan menjalani pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa ibu hanya kelelahan aja karena memang sebelum jatuh sakit, ibu sering banget tidur larut malam lantaran disibukkan dengan tugas-tugas kadernya. Alhamdulillah di bulan Februari, kondisi ibu membaik dan bisa kembali beraktifitas.

Di bulan Februari juga aku bertemu kembali dengan salah satu penulis favoritku, Fiersa Besari. Ini adalah pertemuan kedua kami setelah sebelumnya kami bersua pada tahun 2017, tepatnya saat ia mengadakan tur untuk promosi Albuk Konspirasi Alam Semesta. Kali ini kami bersua dalam perjalannnya mempromosikan Albuk 11:11 yang rilis pada bulan November 2018 lalu. Pertemuan kami saat itu harusnya jauh lebih berkesan ketimbang pertemuan sebelumnya, karena di pertemuan kali ini kami nggak hanya bisa minta tanda tangan, tapi juga foto berdua dengan dia. Namun yang terjadi adalah mood-ku jatuh begitu aja ketika hasil foto yang kuterima sangat-sangat nggak memuaskan. Huhu..

Pada bulan Maret, perusahaan tempatku bekerja merayakan hari jadinya yang ke-7 tahun di Gedung Auditorium Perundingan Linggarjati. Hari itu, untuk pertama kalinya aku bersama MUSTunable perform di hadapan rekan-rekan kantor cabang Cirebon. It was so fun, meski kami harus perform tanpa Mas Win yang awal tahun 2019 lalu mengundurkan diri dari perusahaan karena penglihatannya bermasalah. Sedih banget rasanya waktu dengar kabar itu. Kabar terakhir yang kudengar darinya, sekarang ia menjadi pedagang keliling. Semoga rejekimu lancar ya, Mas :')
Hengkangnya Mas Win dari perusahaan nggak lantas membuat personil MUSTunable Band berkurang, namun justru bertambah, karena Inggit dan Badar resmi bergabung dengan kami. Inggit pada posisi Vokalis, mendampingiku, sementara Badar pada posisi Drummer, bergantian dengan Mas Febri yang terkadang mengisi posisi Rhythm.

Di bulan April, aku membeli sebuah gitar akustik berukuran sedang. Pada awalnya aku memang niat belajar bermain gitar. Tapi kok ternyata susah banget. Huhu.. Jariku juga gampang banget sakit. Kata temanku sih, senar gitar itu terlalu tebal. Harus ganti yang lebih tipis kalo mau lebih nyaman dipakai. Nanti deh, aku kumpulkan niat dulu buat belajar lagi, baru aku ganti senarnya. Wkwk..
Di bulan April ini juga, aku kehilangan kucing kesayanganku, Toothless. Aku yakin seseorang membawanya, karena terakhir kali aku melihatnya, dia sehat, nggak sakit. Sampai sekarang aku nggak tau dimana dia berada, dan sampai sekarang juga aku masih mencoba buat ikhlas. Aku berharap dia bersama orang yang memelihara dan menjaganya dengan baik. I miss him so bad :')

Bulan Mei bertepatan dengan bulan Ramadhan, dan bulan Ramadhan rasanya kurang afdol kalo nggak mengadakan buka puasa bersama. Di bulan Ramadhan tahun ini, aku mengadakan buka puasa bareng keluarga pada tanggal 12 Mei yang mana terasa sedikit lebih spesial dengan kehadiran Naura di tengah-tengah kami. Kemudian tanggal 29 Mei, aku berbuka puasa di kantor bersama rekan-rekan, namun rasanya kurang berkesan karena banyak karyawan yang nggak hadir. Huhu..
Tanggal 30 Mei berkesan banget. Aku berkunjung ke rumah Rohayati yang baru aja melahirkan anak pertamanya. Sore harinya, aku berbuka puasa bersama adik dan dua teman rumah kami di D'Forty Cafe & Resto, dan dilanjut dengan berkumpul di rumahku sampai malam.
Di penghujung bulan Mei, aku berbuka puasa di Hotel Amaris bersama beberapa rekan kantorku yang paling dekat. Ada Pak Ben, Bu Hani, Bu Lia, Mbak Tika, Mas Febri, A' Putra, Bu Rohayati, dan Pak Ading. Acaranya kurang berkesan, tapi tetap senang sih rasanya.

Bulan Juni, one of the best months of 2019. Pada bulan ini, seluruh umat muslim merayakan Idul Fitri. Meski perayaan Idul Fitri dirasa kurang berkesan lantaran banyaknya kerabat yang nggak sempat ketemu karena tinggal di kota lain, tapi kami tetap menyambutnya dengan suka cita. Di hari kedua lebaran, aku bertemu dengan Emak (ibu tiri bapak). Ketika kuhampiri, beliau langsung memeluk dan menciumku. Kangen katanya. Hanya aja aku agak prihatin karena kondisi beliau nggak seprima dulu. Beliau yang dulu nggak pernah betah duduk diam, kini cuma bisa duduk karena kedua kakinya nggak lagi kuat untuk berjalan tanpa bantuan. Bicaranya pun udah sedikit nggak karuan, yah seperti orang lanjut usia pada umumnya.
Kemudian pada tanggal 16, Empit, anak kedua Wak Agus menikah. Hari itu untuk pertama kalinya aku perform didepan keluargaku dengan menyumbang beberapa buah lagu. Meski perform di depan keluarga sendiri, tapi entah kenapa rasanya tetap nervous. Mending perform di depan teman-teman kantor, serius 😂
Lalu di penghujung bulan Juni, tepat di hari ulang tahunku, aku berkenalan dengan Mas Ipank dan Bang Fais, serta bertemu kembali dengan Mas Adhe yang kukenal di tempat les vokalku tahun lalu. Pertemuan dan perkenalan inilah yang menjadi awal terbentuknya Black Party. Sampai sekarang, meski udah nggak aktif ngeband bareng mereka lagi (karena Mas Adhe dan Bang Fais mau fokus cari duit) dan udah lumayan lama juga nggak ketemu Bang Fais (kami terakhir ketemu dan ngeband bareng pada bulan Oktober), tapi aku sangat-sangat bersyukur bisa mengenal mereka. They're one of the greatest birthday gifts I have 🙂

Bulan Juli, adalah bulan dimana aku dan teman-teman dari Black Party sering menghabiskan waktu bareng. Entah itu latihan di studio, kumpul bareng, atau beres-beres studio bareng, studio yang pernah kami rencanakan akan menjadi studio pribadi kami, tapi nggak kunjung terwujud. Haha..
Kami juga sempat bergabung dengan DCDC meski akhirnya kami memutuskan untuk nggak lanjut.

Bulan Agustus, another best month of 2019. Pada bulan ini, Mas Ipank melepas masa lajangnya dengan meminang teteh cantik, Teh Indri. Aku datang ke pesta pernikahannya bersama Bang Fais. Hari itu, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan para personil Aghatri (salah satu band Mas Adhe) dan diminta untuk berduet bersama Wangi (ex-vokalis Last Dream yang kini menjadi vokalis di Aghatri). Senang sih rasanya bisa kenal dan berduet sama dia. Tapi rasanya minder eh, coz her voice is gold :')
Tanggal 11-nya, aku dan teman-teman Black Party merayakan hari ulang tahun Mas Adhe di kediamannya di kawasan Drajat. Nggak cuma kami berempat, ada juga Teh Indri, Mas Diwan, Mas Bagas, dan Mas Anjar yang bergabung bersama kami. Hari ultah Mas Adhe yang bertepatan dengan hari raya qurban itu kami rayakan dengan bakar sate dan makan bersama. Sederhana, tapi berkesan banget.
Kemudian pada tanggal 17, bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan RI, aku, Teh Indri, Mas Adhe, Mas Ipank, Mas Awal beserta istri dan keponakannya jalan-jalan ke Pondok Pinus, Kuningan. Namun sesampainya disana, kami malah jadi bingung mau ngapain, dan akhirnya cuma foto-foto doang. Wkwk..

Di bulan September, Black Party melakukan rekaman single pertama kami. Proses rekaman yang dilaksanakan di salah satu home recording di kawasan Beber ini memakan waktu sekitar enam jam. Namun meskipun waktunya nggak sebentar, rasanya enjoy aja gitu bareng mereka, nggak bete sama sekali, dan nggak secapek waktu rekaman bareng MUSTunable dulu.
Akhir bulan September ini juga, Black Party perform perdana di acara launching perumahan baru milik Om Fajar. Performance kami saat itu memang jauh dari kata memuaskan sih, khususnya aku yang memang messing up our whole performance dengan kegugupanku. Tapi beruntungnya abang-abang keceku nggak ambil pusing dengan hal itu :')

Bulan Oktober. Ah, lagi-lagi ini adalah salah satu bulan terbaik di 2019. Banyak kejutan dan hal manis yang terjadi di bulan ini. Pada bulan ini, untuk pertama kalinya di hidupku, salah satu teman laki-lakiku datang ke rumah dan memberanikan diri menghadap orangtuaku untuk meminta restu menjadi menantu mereka :') It's funny to remember how silly it was, ketika dia mengutarakan niatnya pada orangtuaku, aku malah meninggalkan mereka karena malu dan gugup. Sounds uwu, huh? Tapi kenyataannya nggak juga, karena orangtuaku nggak lantas memberinya restu, tapi juga nggak melarang kami untuk tetap berhubungan. However I really appreciate his courage. Semenjak hari itu, hubungan kami nggak lantas merenggang, tapi justru jadi makin dekat, and every moment spent with him is precious. I love the way he treats me, seperti betapa ia menghargai prinsipku yang nggak mau memanggil dengan panggilan sayang atau berpegangan tangan seperti pasangan pada umumnya, kecuali kalo udah sah di mata agama dan hukum :)

Pada bulan November, aku dan rekan-rekan kantor melakukan perjalanan ke Jogjakarta. Jogja adalah salah satu kota yang ingin aku kunjungi sejak dulu, dan baru kesampaian tahun ini. Meski perjalanannya panjang dan melelahkan, tapi rasanya senang banget bisa berkesempatan mengunjungi Candi Borobudur dan Tebing Breksi, terlebih kami bisa sempurna menikmati pesona sunset disana. Nggak lupa aku juga membelikan oleh-oleh untuk Mas Kesayangan : sehelai kaos Jogja warna putih dengan motif hitam, yang sebenarnya mungkin akan ia protes karena ia pernah bilang bahwa ia nggak PD mengenakan pakaian putih karena warna kulitnya yang gelap. Tapi aku justru berpikir ia akan terlihat keren dengan kaos itu. And that's true. Moreover I'm glad he loves it 😊
Namun pada bulan November ini juga kami memutuskan untuk break up. Nggak ada yang salah, kami berpisah baik-baik. Namun biar berpisah baik-baik, jujur nggak mudah juga sih. Aku nggak ingat kapan terakhir kali aku nangis, dan baru kali ini nangis lagi, entah itu saat sedang sendirian di kamar, atau saat bibirku melangitkan namanya dalam doa. Minggu-minggu awal itu berat banget rasanya. Bukan karena kecewa, toh kecewa karena apa? Tapi masalahnya, menghilangkan dan memalingkan dia itu susah banget rasanya. I missed him so bad. Setiap hari dalam doaku, aku selalu meminta agar aku bisa ikhlas melepasnya. Tapi terkadang kalo rasa kangen sedang berat-beratnya, aku sering meminta pada Tuhan agar Ia membagi rasa kangen itu padanya, biar aku nggak memikul rasa itu sendirian. Haha.. Dan aku percaya doaku menembus langit dan didengar Tuhan, karena udah beberapa kali Ia mengijabah doaku secara instan. Namun bodohnya sampai sekarang aku nggak mengerti apakah doa yang Tuhan ijabah itu adalah bukti sayang-Nya padaku atau bentuk pelajaran yang ingin Ia beri, karena setiap kali rasa rinduku terobati dengan chatting, telepon, atau pertemuan dengan dia, rasa rinduku akan terasa dua kali lipat lebih berat di hari selanjutnya. Seperti candu :')

Bulan Desember, bulan yang kurasa cukup berat. Entah kenapa pada bulan ini aku merasa Tuhan lagi senang mengajakku bercanda. Banyak banget kejutan-kejutan dari-Nya yang menguras perasaan dan terkadang membuatku merasa sedang menjadi tokoh utama dalam serial FTV.
Hal baiknya, pada bulan ini aku diajak bergabung dengan Ophelia, band yang digawangi Ryan dan dua temannya. Rasa hausku dengan kegiatan ngeband sekaligus tekadku untuk meningkatkan rasa percaya diri mendorongku untuk menerima ajakan itu. Bersama mereka, aku tampil perdana di acara Juunigatsu Festival yang diselenggarakan di Gramedia World Cipto tanggal 15 lalu. Rencananya sih, bulan depan kami akan mengisi acara Japan Festival lagi. Doakan penampilan kami lebih baik ya ^^
Dan kembali lagi ke soal hubunganku dengan Mas Kesayangan yang sekarang udah jadi Ex. Huhu..
Hubungan kami sampai sekarang tetap baik. Kami tetap berteman dan masih cukup sering ketemu, meski rasanya nggak sama lagi dengan pertemanan kami yang dulu. Nggak ada benci di antara kami, dan aku harap selamanya akan seperti itu. Mungkin ya.. Mungkin suatu saat nanti, cepat atau lambat, dia bakal menjauh. Terlebih saat dia udah menemukan perempuan baik yang akan mendampinginya dan menjadi penyempurnanya, begitu juga sebaliknya, sangat mungkin bagi kami untuk kembali menjadi asing. Sebenarnya aku nggak mau itu terjadi. Maksudku, aku ingin agar pertemanan kami nggak putus. Tapi mau nggak mau, aku harus terima kan? Karena nggak baik untuk hubungan kami dengan pasangan masing-masing nantinya.

Aaah.. Jujur, rasanya berat banget ninggalin tahun ini. It was a great year! Yah memang sih, seperti yang udah aku sebutkan di awal tulisan ini, rasanya hampir setiap tahun aku merasakan hal seperti ini, berat melangkah ke masa yang akan datang. Kayak pengen stay aja gitu di waktu sekarang, nggak mau kemana-mana. Malah kalo bisa, pengen putar balik waktu aja. Haha.. Konyol ya.




Entah kejutan apalagi yang akan Tuhan kasih di masa mendatang. Yang pasti, di tahun 2020 mendatang aku berharap agar aku bisa lebih ikhlas menerima segala rencana dan ketetapan Tuhan. He knows what's better for me. Aku harus yakin bahwa skenario-Nya indah. Aku juga ingin belajar untuk lebih mencintai diriku sendiri, dan mulai untuk kembali banyak membaca. Kemarin aku baru sadar bahwa mengisi waktu luang dengan membaca atau menonton film jauh lebih baik ketimbang nge-scroll feeds Instagram atau Facebook, atau ngecek WhatsApp tapi nggak ada pesan baru disana. Wkwk.. 🤭 Kurasa dengan kegiatan membaca atau menonton film itu, aku bisa lebih bahagia 😊

Alright, that's all Kaleidoskop untuk tahun ini. Aku berterima kasih untuk teman-teman yang berpartisipasi menjadikan tahun 2019 ini sangat berkesan. I wish you a happy new year! 😄
Senin, 31 Desember 2018 0 komentar

New Year : 2019

Hey Everyone!

Hmm.. nggak terasa, kita sudah berada di penghujung tahun 2018. Rasanya tahun ini berlalu begitu cepat. Lebih cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya. 2018 bisa jadi merupakan tahun yang kelam bagi tanah air kita. Bagaimana tidak? Berbagai musibah besar yang menelan banyak korban jiwa terjadi beberapa kali di tahun ini, mulai dari meletusnya Gunung Sinabung, gempa dan tsunami di Palu (disusul gempa-gempa di wilayah lainnya), jatuhnya pesawat Lion Air, sampai yang baru kemarin terjadi, yakni erupsi anak Gunung Krakatau yang mengakibatkan tsunami di kawasan Anyer dan sekitarnya. Di Cirebon sendiri kemarin sempat terjadi angin puting beliung di kawasan Panguragan, seolah-olah memberi tanda bahwa alam sudah mulai muak dengan tingkah manusia. Astaghfirulloh.. Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua. Aamiin.

Bagiku pribadi, 2018 adalah tahun yang sangat-sangat berkesan. 2018 bisa dibilang tahun terburukku, bisa juga dibilang sebagai tahun terbaikku, tergantung dari sisi mana aku melihat. Jika aku melihatnya dari sisi negatif, tentu saja ia buruk, namun jika dilihat dari sisi positif, ia bisa dibilang sebagai salah satu tahun terbaik yang pernah aku lewati.

Di tahun ini, banyak banget pengalaman-pengalaman pertama yang aku alami. Di bulan Januari, sahabatku, Rohayati melepas masa lajangnya. Itu pertama kalinya aku melihatnya dekat dengan lawan jenis, setelah sekian lama mengenal dia sebagai seseorang yang ‘alergi’ dekat dengan laki-laki karena sifatnya yang sangat tertutup :) Waktu itu aku menyesal banget nggak bisa nemenin dia. Padahal dua hari sebelum hari pernikahannya, aku berniat pingin dampingi dia dari pagi, pingin lihat akad nikahnya.. Tapi sayangnya, hari itu bertepatan dengan closing penjualan. Aku wajib ngantor. Alhasil, aku baru bisa hadir ketika resepsi pernikahan sudah dimulai.

Di bulan Maret, setelah sekian lama menikmati berkaraoke dengan Smule, untuk pertama kalinya aku mencoba bernyanyi dengan diiringi band betulan saat band yang terdiri dari rekan-rekan kantorku berlatih di studio sebelah kantor. Saat itu aku direkomendasikan seorang teman untuk ikut menyumbang suara pada perayaan hari anniversary perusahaan yang ke-enam. Namun saat itu, aku hanya sekedar iseng ikutan latihan, sedangkan saat hari perayaan anniversary itu, aku nggak tampil karena memang nggak siap. Barulah beberapa minggu kemudian aku resmi bergabung dengan band yang semula bernama MusTanG dan kini berubah menjadi MusTunable itu. Hari itu juga adalah kali kedua aku ikut andil dalam acara perayaan anniversary perusahaan, namun baru kali ini aku merasa benar-benar enjoy. Mungkin karena tahun lalu aku masih berstatus karyawan baru kali ya, jadi masih canggung gitu. Berbeda dengan aku yang kini sudah sedikit lebih pede berbaur sana-sini.

Di bulan Mei, untuk pertama kalinya aku bernyanyi di depan publik. Saat itu ada acara job fair yang diselenggarakan di mall terbesar di kotaku, dan MusTunable menjadi salah satu band yang ikut memeriahkan acara itu. Rasanya nervousbanget. Aku bahkan geli sendiri melihat performance-ku dalam rekaman video yang dikirimkan Pak Yosep di grup Whatsapp band kami. Tapi aku bersyukur karena nggak ada kejadian memalukan yang terjadi selama aku tampil saat itu.

Di bulan Juni, umurku bertambah satu tahun. Untuk pertama kalinya aku melewatinya dengan merenung, betapa aku pernah melewati masa-masa sulit, dan menyadari bahwa sebenarnya Tuhan menyayangiku dengan memberiku nikmat hidup hingga detik ini. Menyesal rasanya mengingat betapa dulu aku sering banyak mengeluh pada Tuhan. Aku bahkan cenderung membenci hidupku. Sekarang aku sadar bahwa hidupku berharga, dan banyak yang sepatutnya aku syukuri dari ini semua.

Di bulan Juli, untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kawasan wisata Tangkuban Perahu. Rasanya senang banget bisa kembali menginjakkan kaki di Bandung. Well, Bandung is always been one of my favorite cities mengingat segala daya tariknya yang mampu membuatku jatuh cinta berulang kali.

Di bulan Agustus, untuk pertama kalinya aku nge-camp bareng rekan-rekan kantor di Kuningan. Yah, memang bukan bareng sesama rekan staff sih, melainkan bareng rekan-rekan dari tenaga penjualan Tim Kedawung dan Tim Sumber (tapi yaa ada juga sih beberapa orang yang sesama). Rasanya menyenangkan dan berkesan banget, meski ada sedikit kejadian yang menegangkan dan kurang mengenakkan waktu itu, tapi justru itu yang membuatnya jadi berkesan.

Bulan September, bulan penuh cerita. Untuk pertama kalinya aku dan teman-teman dari MusTunable menginjakkan kaki di Pekanbaru. Yap, kami manggung di pulau orang. Saat itu, untuk pertama kalinya juga aku merasakan naik pesawat. Meski sensasinya nggak jauh beda dengan saat naik lift, namun naik pesawat rasanya lebih menakjubkan, karena pemandangan dari atas kelihatan indah banget. Memang sempat ada sedikit kejadian menegangkan sih waktu itu, yakni ketika dalam penerbangan menuju Sultan Syarif Kasim International Airport, salah satu awak pesawat sempat memberi tahu penumpang bahwa cuaca sedang buruk. “Bagi penumpang yang sedang berada di toilet, harap segera kembali ke tempat duduk Anda dan mengenakan seat-belt”, begitu katanya. Aku sempat khawatir, takut hal yang nggak diinginkan terjadi pada kami. Tapi alhamdulillah, kami tiba di Pekanbaru dan kembali ke Cirebon dengan selamat. Empat hari berada di Kota Madani, rasanya cukup berkesan. Dan empat hari bersama Mister Chokai, Mas Febri, dan yang lainnya itu membuatku merasa memiliki kakak, sedangkan Pak Faisal dan Pak Yosep adalah orangtua kami. Hihi.. Oh ya, one more thing. Aku suka kota itu. Yah, walau pesonanya nggak sekuat kota Bandung yang mampu membuatku jatuh hati berkali-kali, tapi harus kuakui bahwa aku jatuh cinta pada tata kota dan keramahan orang-orangnya. Hanya aja di Pekanbaru sana hawanya gerah banget, bahkan ketika mendung sekalipun.

Di bulan Oktober, aku punya keponakan baruuuuu.. Sepupuku, Gege melahirkan anak pertamanya dengan selamat pada tanggal 23 dengan persalinan normal. Alhamdulillah ia lahir dengan sehat. Pipinya gembul, dan rambutnya lebat. Bayi cantik itu diberi nama Adeeva Naura Putri. Pada bulan Oktober itu juga, MusTunable sempat ‘berantakan’ ketika Mas Febri dan Mas Win memutuskan untuk mengundurkan diri. Hal itu membuat kami kesulitan mencari personil pengganti. Jujur, waktu itu aku merasa kehilangan, walau aku nggak bilang sama mereka. Kami pernah beberapa kali latihan di studio tanpa mereka berdua, dan rasanya hampa banget, nggak ada excited excited nya kayak biasanya.

Di bulan November, Mister Chokai berhasil membujuk Mas Febri untuk kembali bergabung dengan MusTunable, namun kali ini giliran aku yang mengajukan pengunduran diri dari band. Aku mulai mogok ikut latihan, padahal waktu itu kami seharusnya mempersiapkan diri untuk rekaman perdana. Namun setelah mempertimbangkan kembali keputusanku, akhirnya aku bergabung kembali dengan MusTunable, berikut juga Mas Win.

Daaan.. finally di bulan Desember, bulan yang juga penuh cerita, dilaksanakanlah rekaman perdana MusTunable. Sayangnya, di rekaman perdana ini, aku harus bernyanyi sendirian, karena Dhea, partner duetku menyatakan nggak siap. Well, katanya sih dia mau mengundurkan diri dari band, tapi nggak tau juga sih jadi atau enggaknya. Di bulan ini, untuk pertama kalinya juga, aku mengikuti les vokal. Meski hanya beberapa kali pertemuan, tapi rasanya cukup berkesan, karena di tempat les aku bertemu orang-orang yang ramah. Ada Mas Verry, Mas Ade, Mas Didi, dan Mas Apip. Dan karena hal itu, di hari terakhirku les disana, aku merasa sedikit terharu ketika pamit sama mereka. Yah, rasanya pengen lebih lama aja gitu les disana (kalo bisa sih les alat musik yaa, karena kalo hanya latihan vokal aku pikir berlatih sendiri dengan aplikasi karaoke pun cukup), apalagi ketika mengetahui bahwa Mas Ade dan bandnya cukup sering bawain lagu-lagu rock Western, termasuk Paramore. Yah, kali aja gitu dia bisa jadi sharingpartner dalam hal musik. Hihi..

Oh ya, di pertengahan Desember juga aku sempat hangout bareng Tri, Shinta, dan Yuda. Awalnya sih karena aku iseng ngupload foto voucher buy one get one free-nya Masterpiece di status WhatsApp-ku. Tanpa diduga, ketiga sohibku itu merespon. Diawali oleh Shinta, kemudian menyusul Yuda dan Tri. Akhirnya aku ajak aja mereka berempat, dan mereka mau. Lagian Yuda dan Shinta sebenarnya sama-sama teman sekelasku di SMP sih, palingan Tri aja yang nggak kenal mereka berdua. Jujur sebenarnya aku nggak nyangka Yuda pengen gabung, karena aku pikir dia bukan tipe orang yang hobi sing song, meski dia sendiri mengaku suaranya nggak jelek. Wkwk.. Dan hari itu, menjadi hari pertama dimana aku mendengar dia nyanyi, termasuk juga Shinta. Sayangnya Shinta cuma nyanyi satu kali, seterusnya dia nggak mau nyanyi lagi meski udah kita bujuk, nggak tau kenapa. Sedangkan Yuda sendiri memilih lagu yang aneh-aneh. FYI, dia ini punya selera tua. Favoritnya itu lagu-lagu Western jadul. Alhasil, lagu yang dia cari banyak yang nggak ada. Haha.. Anehnya lagu macam Wikwikwik yang kemarin sempat viral itu justru ada. Aku iseng ngeplay dan kami sukses ngakak-ngakak.

Hahh.. Jika melihat apa-apa aja yang aku lewati selama satu tahun ini, rasanya banyak banget yang mau aku tulis. Banyaaaaak banget. Hahaha.. Well, I was happy too much, but also disappointed too much, and sad too much. Aku ingat hari pertama di tahun 2018 yang kuawali dengan cukup baik. Aku bertekad untuk memperbaiki diri dan mengubah sedikit penampilanku yang membuat sebagian orang yang mengenalku tercengang. Aku pun biasanya nggak banyak berharap di awal tahun, namun berbeda dengan di awal tahun 2018 kemarin. Aku menggantung harapan-harapan besar yang sebelumnya nggak pernah aku utarakan pada Tuhan, di tahun inipula aku mulai berani bermimpi untuk sesuatu yang nggak pernah berani aku impikan sebelumnya, namun nampaknya semua itu menurut Tuhan terlalu berlebihan, atau bahkan kurang baik untukku sehingga harapan-harapan yang kugantung di awal tahun lalu menguap begitu saja tanpa pernah terwujud.

Kapan itu terjadi dan bagaimana, kurasa aku nggak perlu menuliskannya, karena aku memang nggak mau menuliskannya. Semua itu biar aku, dia, dan Tuhan yang tau. Ya, ini memang menyangkut tentang seseorang. Rasanya konyol sekali mengingat betapa bodohnya aku waktu itu. Ketika seseorang membawaku ke darat setelah sekian lama terombang-ambing di tengah laut, kukira ia akan menyelamatkanku, nyatanya ia justru menjebloskanku ke lahar panas, membuatku menyesal sedalam-dalamnya. Kuakui aku sempat terpuruk. Tapi hal itu pulalah yang membuat mata hatiku lebih terbuka. Aku sadar bahwa saat itu aku terlalu banyak menggantung harapan dan kepercayaan pada manusia ketimbang pada Tuhan. Aku lupa bahwa Tuhan itu pencemburu. I had never been in relationship before. Namun sekalinya itu terjadi, rasanya benar-benar buruk, meski awalnya manis. Well, seringkali Tuhan memang perlu menegur hamba-Nya agar sadar, meski dengan tamparan keras sekalipun. Aku bersyukur Tuhan telah ‘menamparku’, karena kalo enggak, yang terjadi bisa jadi lebih buruk dari ini. Dan, ya.. aku berterima kasih kepada orang yang telah Tuhan kirimkan untuk memberiku pelajaran berharga. Semoga kamu membaca ini. Kudoakan kamu seperti aku mendoakan mereka yang juga pernah memberiku pelajaran berharga, meski dengan cara yang menyakitkan. Semoga Tuhan senantiasa memberimu kesehatan dan umur panjang, agar kamu bisa memiliki kesempatan untuk menjadi baik dan semakin baik :)

 


Sungguh aku berterima kasih pada tahun 2018 yang telah memberiku pengalaman dan pelajaran yang begitu berharga. Pahit dan manisnya aku terima. Yah, beberapa waktu lalu aku memang sempat berpikir bahwa tahun ini terasa begitu berat, tapi jika aku melihat segalanya dari sisi yang lain, segala yang memberatkan itu justru terasa sebaliknya. Nyatanya hidupku nggak jadi lebih buruk hanya karena semua itu. Hidupku masih sempurna. Aku masih diriku yang bebas, yang bisa melakukan apapun yang aku suka : ngeblog, nge-Smule, baca novel, nonton film.. dan yang terpenting, aku semakin percaya bahwa Tuhan masih sayang aku.


Akhir kata, selamat datang, 2019. Jadilah tahun yang baik, lebih baik dari seniormu ^_^


posted from Bloggeroid
Selasa, 02 Januari 2018 0 komentar

New Year : 2018

Selamat tahun baru, Everyone! Kuharap ini belum terlalu telat untuk mengucapkannya, mengingat sekarang udah hari kedua di tahun 2018.

Sooo this is my first post in 2018. Kalo biasanya kau banyak menuliskan momen-momen berkesan selama satu tahun terakhir, kali ini rasanya nggak banyak hal yang ingin aku tuliskan. Tahun kemarin benar-benar tahun paling melelahkan, karena sebagian besar waktuku kuhabiskan di kantor, bekerja, melakukan aktifitas yang sama berulang-ulang. Rasanya hampir nggak ada waktu untuk memanjakan diri sendiri. Bahkan enam buah novel yang kubeli beberapa bulan lalu masih tersegel utuh.

Namun tahun 2017 berjalan bukan tanpa hal berkesan, entah itu kesan nggak menyenangkan ataupun sebaliknya. Bagiku sendiri, hal paling nggak menyenangkan terjadi pada bulan Maret. Tepatnya pada tanggal 11. Hari itu Kantor Cabang menggelar acara ulang tahun yang cukup besar. Biasanya hanya dirayakan bersama orang-orang internal kantor, kali ini kami mengundang beberapa perwakilan dari Kantor Pusat dan Kantor-Kantor Cabang lain, para Supplier, perwakilan konsumen, dan beberapa pihak eksternal lainnya. Aku menjadi salah satu panitia acara. Baru kali ini aku menjadi panitia acara besar, dan rasanya gugup banget. Rasa gugupku benar-benar parah, dan itu cukup fatal karena hingga menyebabkan beberapa sesi acara berantakan. Hal itu menjadi perbincangan para tamu undangan, beberapa orang menertawaiku. Belum lagi aku harus menelan mentah-mentah teguran dari atasan. Rasanya malu luar biasa, dan itu nggak hilang selama dua minggu lamanya.

Yang menyenangkan itu waktu meet and greet bareng Bvng Fiersa Besari di awal Juli. Rasanya kayak mimpi, meski nggak sempat foto bareng karena keterbatasan waktu, tapi bisa dengerin dia bercerita dan bernyanyi, serta bertegur sapa itu rasanya udah seneng banget. Ternyata Bvng Fie memang pribadi yang ramah dan hangat.

Di tahun ini juga aku medapatkan banyak teman baru. Ada Nunung, Narita, dan Aldi yang merupakan mahasiswa magang dari universitas di Bandung. Lalu ada juga Ryan dan Jaka yang merupakan rekan kerjaku (meski kemudian Jaka resign di bulan September), yang ternyata menyukai all about Jepang dan ngefans banget sama Laruku. Well, pertemanan kami memang nggak bisa disebut akrab, tapi aku cukup senang karena pernah menghabiskan waktu bareng mereka, khususnya bareng Ryan, Jaka, dan juga Inggit—Ryan’s GF, rekan kerjaku juga. Kami pernah pergi karaoke berempat, dan nonton J-Rocks bertiga (minus Jaka) sampai larut malam.

Di bulan November, sepupu terdekatku melepas masa lajangnya, sesuatu yang membuatku merasa bahagia sekaligus takut. Bahagia karena dia bahagia, takut karena khawatir keakraban kami memudar pasca ia berkeluarga. Tapi ternyata kekhawatiranku nggak terbukti kok. Kami tetap akrab, bahkan hampir setiap Minggu pagi jalan-jalan pagi menikmati Car Free Day.

***

Biasanya aku hampir nggak peduli dengan pergantian tahun. Yah, aku memang selalu punya harapan setiap tahunnya, sama seperti kebanyakan orang. Hanya aja seringkali harapan-harapan itu nggak terwujud karena memang pada dasarnya aku kurang usaha. Wkwkwk.. Karenanya, setiap tahun tampak sama, hampir nggak ada yang berubah. Tapi untuk tahun ini, aku bertekad untuk memperbaiki diri. Aku ingin berubah menjadi lebih baik, itu ikrarku di awal tahun ini. Well, mungkin nggak dalam waktu singkat, karena negative thoughts dan kemalasan masih menjadi musuh terbesarku hingga saat ini. Tapi aku akan mencobanya pelan-pelan.

Daaaaaaaann.. hal pertama yang aku ubah adalah dari penampilan. Mulai awal tahun ini, aku ingin konsisten mengenakan hijab, dan meninggalkan kebiasaanku berpenampilan tomboy. Yap, seperti yang beberapa kali kukatakan di beberapa postinganku sebelumnya, bahwa mungkin orang-orang yang akrab mengenalku menilai aku sebagai pribadi yang tomboy dan hampir nggak pernah mau mengenakan rok. Sekalinya pake rok itu hanya saat Idul Fitri, which is cuma satu tahun sekali, itupun cuma paginya doang. Hahaha.. Dan kali ini aku ingin meninggalkan kesan itu dari diriku. Aku memang nggak (atau mungkin belum) total menghilangkan kebiasaanku mengenakan celana panjang, hanya aja mulai sekarang aku nggak mau cuma setahun sekali mengenakan rok.

Jadiiiii mulai hari ini juga hal itu aku terapkan. Pagi tadi kukeluarkan dua helai rok panjang yang udah hampir jamuran di lemari karena saking lamanya disimpan tanpa sekalipun pernah dipakai (perihal jamuran itu cuma becanda lho ya, jangan dianggap serius. Yakali pakaian jamuran dipake). Pagi ini aku melenggang ke kantor mengenakan rok abu-abu dan blouse biru dongker.

Dan kalian tau apa? Sesampainya di kantor, sebagian besar rekan kerjaku heboh dengan perubahan penampilanku. Terlihat manis, anggun dan dewasa, kata mereka. Oke, it means secara nggak langsung sebelumnya mereka menilaiku kayak anak kecil. Haha..

Yah, yang namanya perubahan memang terasa sulit di awal. Rasanya kaku, tapi pasti lama kelamaan akan terbiasa juga kan. Semoga aku bisa. Seenggaknya pujian dan support dari teman-teman membuatku merasa lebih percaya diri J

Selain ituuuuu.. aku rasa tahun ini akan menjadi tahun yang nggak biasa. Apapun itu, semoga itu baik, terlebih untuk satu hal yang sangat aku tunggu di tahun ini. Apa itu? Well, nanti juga kalian tau kok. I’ll tell you later, kalo memang udah tiba waktunya bagiku untuk menceritakannya.


So, 2018.. please, be good J
Minggu, 01 Januari 2017 0 komentar

New Year : 2017

Happy new year, Everyone! *sambil nguap dan ngucek-ngucek mata*
Jujur aja, aku baru aja bangun. Seriously! Haha.. konyol ya? Apa cuma aku yang new year eve-nya dihabiskan dengan ngasur dan meluk guling? :P

Well, sebenarnya  tadi pagi aku dan ibu berencana buat jalan-jalan malam berdua ke pusat kota. Tapi sayangnya, bapak melarang kami keluar rumah meskipun jaraknya hanya beberapa ratus meter. Maklum, beberapa tahun terakhir ini, tiap malam tahun baru memang ada aja hal nggak mengenakkan yang terjadi di bumi Cirebon ini, khususnya aksi para gank motor nakal. Makanya beliau jadi parno, khawatir kami kenapa-kenapa. Jadi, mau nggak mau kami nurut.

Karena dilarang ke luar rumah, akhirnya aku ngamer deh. Niatnya sih mau karaokean semalaman gitu pake Smule, online sosmed juga.. tapi sayang seribu sayang, aku lupa ngisi kuota. “New year eve macam apa ini!?” gitu pikirku. Kemudian aku ingat bahwa di laptopku banyak film yang belum sempat aku tonton, akhirnya aku memutuskan buat movie marathon aja. 

Dari sekian puluh film di laptopku yang belum aku tonton itu, pilihanku jatuh pada film The Conjuring 2 yang katanya serem banget itu. BTW, film ini ternyata nggak seseram yang aku kira. Hantu Valak yang katanya bikin susah tidur itu kok menurutku masih kalah serem sama Hantu Rumah Ampera yang aku tonton beberapa tahun silam. Melihat Valak, aku masih berani ke kamar mandi sendirian. Tapi melihat Hantu Rumah Ampera itu.. wuuhh.. aku masih ingat, dulu aku bahkan nggak berani sholat sendirian di kamar gara-gara ada scene dimana ketika si empunya rumah sholat, tiba-tiba ada makhluk lain yang ‘sholat’ di sampingnya :v

Back to the topic. Rupa-rupanya, rencanaku untuk movie marathon ini pun juga gagal. Karena apa? Karena aku ngantuk, Pemirsa. Jadi setelah menonton The Conjuring 2, aku langsung mematikan laptop dan membereskan cemilan yang berserakan di lantai, trus tidur deh, sampai akhirnya aku bangun setahun kemudian. Wakakak..

Aaaanyway.. Tahun 2016 adalah tahun rasa nano-nano buatku. Berbagai suka duka banyak terjadi di tahun ini. Well, lebih banyak dukanya sih kayaknya. Entahlah, aku merasa tahun ini aku banyak galaunya. Hahaha.. Apalagi di pertengahan tahun. Hadeehh.. Orang-orang datang dan pergi. Dari yang tadinya akrab banget dan bahkan ada yang udah dianggap seperti kakak sendiri malah jadi saling canggung, bahkan lost contact.

Di tahun ini, untuk pertama kalinya aku merasakan betapa susahnya cari kerja sendiri. Maklum, sebelumnya aku bekerja di Trusmi Group berkat jasa Coorporate and Placement (C&P) Departement di kampusku yang memang bertanggung jawab menyalurkan mahasiswa-mahasiswanya ke perusahaan-perusahaan. Dan sekarang aku udah menjabat sebagai Admin Marketing & HRD di sebuah perusahaan sewa-beli elektronik dan furniture dengan usahaku sendiri, setelah sebelumnya mencoba peruntungan menjadi Staff Admin di sebuah lembaga pendidikan anak dan Admin Warehouse di sebuah percetakan kecil di kawasan Kanggraksan. Yah, memang bukan pekerjaan terbaik, karena jujur aku masih sering tertekan disini karena tanggung jawab yang cukup besar. Tapi terlepas dari hal itu, aku merasa nyaman karena rekan-rekan kerjaku yang ramah. Aku masih ingat bagaimana mereka menyambutku di hari perkenalan. Hangat dan bersahabat. Dan baru kali ini aku merasa keberadaanku dianggap dalam lingkungan 'keluarga kedua' ini. Well, mungkin karena jabatanku yang berhubungan dengan semua karyawan kali ya. Kalo aja aku bukan seorang staf HRD, mungkin yang terjadi adalah seperti yang udah-udah, antara ada dan tiada, kayak siluman :v

Di tahun ini juga aku pertama kalinya merasa dikagumi (well, seenggaknya mereka bilang demikian) sama beberapa orang yang menurutku freak. Ada yang hobi nge-text tiap hari, rajin nge-SMS untuk menanyakan apakah aku udah sholat atau belum (dan dia bakal terus bertanya sampe aku menjawab pertanyaannya itu), ada pula yang diam-diam memotretku dengan ponselnya (dia yang cerita sendiri padaku via telepon. Waktu itu malam-malam, dia meneleponku dan mengaku bahwa dia memotretku diam-diam saat aku sedang mengetik dan menyimpan foto itu di ponselnya untuk dia pandangi. Kan serem..). Aku juga heran, apa yang dikagumi dari seorang cewek batu membosankan ini?

Pada bulan Maret, aku berkesempatan mengunjungi Monas dan menikmati panorama kota Jakarta dari puncaknya. Yah, meskipun kesal karena lama mengantre dan ketika sampai di puncak, aku malah nggak bisa menikmati pemandangan dengan puas (karena postur tubuhku pendek, dan butuh alat bantu untuk bisa melongok ke luar menara), namun pengalaman ini menjadi sebuah pengalaman yang cukup berharga bagiku, karena saat itu memang pertama kalinya aku melihat pemandangan dari ketinggian ratusan meter.

Di bulan Juni 2016, aku menginjak usia ke-22 tahun. Dan lagi-lagi aku sulit menerimanya, karena dalam ingatanku, baru kemarin aku merayakan hari ultahku yang ke-18 dengan dua teman dekatku. Well, dengan kata lain, aku sulit menerima kenyataan bahwa aku semakin tua. Nggak ada yang spesial di hari ultahku pada saat itu, kecuali ucapan tulus dari seorang sahabat asal Temanggung yang udah setahunan ini nemenin via chat, Tifanny. Dia mengucapkan selamat ulang tahun untukku, mendoakanku, dan menulis sedikit tentangku di blognya. Lewat tulisannya itu, ia juga menyatakan keinginan dan harapannya untuk menjelajah beberapa tempat bersamaku. Ketika membacanya, nggak tau kenapa aku terharu. Tulisannya itu kini kusimpan di laptopku, biar bisa sering kubaca, sebagai reminder pula bahwa kami punya harapan yang sama. Harapan untuk bisa bertemu, dan bertualang bersama. Semoga harapan itu bisa terwujud suatu hari nanti. Aamiin yaa robbal alamiin..

Juli.. Banyak hal tak terduga terjadi di bulan Juli, dan hampir semuanya menguras perasaan. Untuk hal-hal ini, aku males banget mengulasnya. Next..

Agustus.. Sama halnya dengan orang-orang di sekitarku, di awal bulan aku juga sempat make a wish agar bulan Agustus bisa lebih berbaik hati padaku ketimbang seniornya. Tapi nyatanya enggak. Di tanggal tiga, aku dan keluargaku harus mengalami kehilangan. Mutun, kucing kesayangan kami mati. Aku dan adikku menangis berdua sambil mengelilingi jasadnya di lantai dapur. Sampai sekarang, kami masih sering kangen sama dia. Bahkan meskipun di rumah udah ada dua kucing baru yang sama lucunya, tetap nggak ada yang bisa menggantikan posisi Mutun di hati kami.

Di bulan September, aku menerima kabar bahwa kakak seniorku di SMA—yang dulu pernah jadi orang yang spesial selama bertahun-tahun—udah menemukan pendamping hidupnya dan menikah. Beberapa hari sebelumnya, aku dipertemukan sama seorang cowok berinisial R yang mengingatkanku dengan kakak seniorku itu. Bukan, bukan karena mirip. Entahlah, menurutku mereka punya senyum yang sama-sama manis. Selain itu, menurutku mereka juga sama-sama kalem dan religius sehingga membuatku kagum.. Yah, seenggaknya pada saat itu, sampai kemudian suatu hari aku menemukan suatu fakta bahwa si R ini nggak sebaik itu. Well, apakah seseorang bisa disebut religius apabila memiliki pacar lebih dari satu?

Di bulan September ini juga keluarga kami kedatangan satu anggota keluarga baru, Si Totton. Kucing kecil jenis Persia berbulu kuning ini diberi oleh salah seorang teman ibuku, lengkap dengan kandang, pasir untuk buang hajat, obat anti jamur, dan makanannya. Saat pertama kali datang ke rumahku, kondisi tubuh Totton benar-benar memprihatinkan. Beberapa bagian tubuhnya botak dan penuh jamur. Akhirnya dimandiin deh dia plus disemprot obat anti jamur itu yang baunya nggak enak minta ampun. BTW, Si Totton atau Si Kuning yang oleh majikan lamanya diberi nama Vokall ini punya panggilan paling banyak dibanding kucing-kucingku yang lain. Yah, tergantung siapa yang manggil sih. Aku lebih sering memanggilnya ‘Tutun’, bapakku memanggilnya ‘Bendet’, ibuku memanggilnya ‘Dodot’ atau ‘Ndut’, sedangkan adikku memanggilnya dengan sebutan sak karepe dewe.. kadang manggil ‘Dede’, kadang ‘Otong Kuning’, kadang ‘Bujang’, kadang juga ‘Si Gendut’.

Di bulan Oktober, untuk pertama kalinya aku diajak pergi bersama seseorang plus anggota keluarga dari orang yang sama sekali bukan keluargaku. Dia—rekan kerjaku—mengajakku beserta kakak perempuan dan kakak iparnya ke sebuah ‘surga’ yang belum pernah kami jamah sebelumnya, Bumi Perkemahan Ipukan. Pemandangannya indah dan udaranya sejuk, nggak heran kalo tempat ini cukup hits di media sosial. Sayangnya, karakter kami—aku dan rekan kerjaku itu—yang sama-sama jaim membuat kami lebih banyak diam selama disana. Aku sendiri lebih sering mengajak ngobrol kakaknya ketimbang dia. Mungkin karena aku dan kakaknya itu sama-sama perempuan, jadi rasanya lebih nyaman. Hahaha..

Di bulan November, lagi-lagi kami kedatangan satu anggota keluarga baru. Kali ini seekor kucing remaja berbulu solid white. Kucing ini dibawa adikku dari rumah nenek. Awalnya Rizky—sepupuku—memang nggak mengijinkan kami untuk membawa kucing itu ke rumah. Tapi setelah dibujuk adikku, baru deh Rizky bisa merelakannya. Karena bingung mau diberi nama apa, akhirnya dia cukup kami panggil dengan sebutan ‘Si Putih’. Sedangkan bapakku lebih suka memanggilnya ‘Si Cantik’. Beliau pernah bilang gini, “Kalo kucing ini manusia, dia ini ayu (cantik). Beda sama Si Mutun. Kalo Mutun anggun,” gitu. Tapi emang iya juga sih..

Di bulan Desember, kantorku kebanjiran. Wakakakak..
Hari itu hari Senin 26 Desember, air menggenangi ruang Marketing dan HRD di lantai dua kantor. Yup, memang hanya dua ruangan itu aja yang tergenang air, sementara ruang lainnya, termasuk lantai bawah kering. Aku yang sengaja datang lebih pagi untuk menge-print pengajuan Tunjangan Operasional Sales jadi tertahan di Ruang Collector bersama rekan-rekan Marketing karena lorong menuju ruang Marketing dan HRD yang banjirnya di atas mata kaki itu nggak memungkinkan buat dilalui kami yang semuanya mengenakan sepatu. Pak Maman yang mengenakan sepatu karet langsung menyebrangi lorong dan mengecek keadaan ruangan.
“Di dalam becek, Mbak. Di ruangan Mbak Putri juga, kotak-kotak undian kena basah, tapi udah saya pindahkan ke atas lemari,” kata Pak Maman. Untungnya beberapa hari sebelumnya, CPU komputerku keburu dibawa duluan ke Service Center. Coba kalo belum dibawa, bisa matot deh tuh kena air. Kami tertahan di Ruang Collector sampai akhirnya OB membawa sebuah ban mobil besar untuk dijadikan jembatan menuju ruang Marketing dan HRD.  Satu persatu, kami menyebrangi lorong dengan jembatan darurat itu. Ketika sampai di ruangan, bener aja, ruangan Marketing dan separuh ruang HRD tergenang air walau nggak setinggi banjir di lorong. Sialnya, ruang HRD yang tergenang air itu adalah ruanganku. Sementara ruangan Kepala HRD dan Instruktur baik-baik aja. Karena hal itu, jadwal briefing Marketing pun diganti jadi jadwal kerja bakti. Team Marketing dan HRD pun bahu membahu menyingkirkan air. Awalnya kami pikir, air itu berasal dari kebocoran atap. Tapi rupanya kami salah, karena kenyataannya meskipun air yang menggenang itu udah kami buang melalui saluran, air tetap menggenang, kayak ada sumber air yang bocor gitu. Selain itu, airnya pun bening dan nggak berbau. Masalah ini berlangsung sampai keesokan harinya. Setelah ditelusuri, ternyata air itu berasal dari pipa saluran pompa air yang patah. Di hari kedua itu, kami kerja bakti lagi deh. Hanya aja bedanya kali ini HRD dibantu Warehouse Staff. Setelah itu kami ditraktir nasi padang sama Pak Kepala HRD. Wiii.. ^^

Menjelang penghujung bulan Desember, adikku mendapat panggilan kerja di sebuah pabrik otomotif di Karawang. Alhamdulillah, setelah penantian dan ikhtiar yang nggak sebentar, akhirnya adikku satu-satunya itu kesampaian juga merantau kesana.

Harapanku di tahun 2017?
Well, yang pasti bukan nikah, karena calonnya aja jelas-jelas belum ada dan aku sendiri pun sama sekali belum siap lahir batin :v
Yang pasti sih, aku berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dalam dunia kerja, aku berharap bisa jadi lebih profesional, karena aku sadar aku masih payah banget dan masih sering salah.


Akhir kata, SELAMAT TAHUN BARU 2017, EVERYONE! ^^
Kamis, 31 Desember 2015 2 komentar

My New Year : 2016

Suara bledak-bleduk kembang api semakin keras terdengar sejak sekitar setengah jam yang lalu, tapi aku sama sekali nggak berminat buat ngeliat bunga-bunga api itu bermekaran di langit. Well, aku suka kembang api. Aku selalu takjub setiap kali ngeliat mereka langsung walau suaranya berisik minta ampun. Tapi malam ini rasanya males banget buat beranjak dari kasur. Rasanya kamar ini adalah tempat paling nyaman buatku saat ini dibanding tempat manapun di dunia. Tapi sesuka-sukanya aku sama kembang api, di sisi lain, aku juga menyayangkan apa yang orang-orang itu lakukan. Nggak kebayang berapa banyak uang yang ‘dibakar’ dan terbuang cuma-cuma, sementara di luar sana banyak orang yang susah-susah cari uang cuma buat makan.

Dulu, selain malam tahun baru, aku selalu merengek minta jalan-jalan sama ibu. Aku selalu pengen ngerasain rasanya jalan-jalan malam di pusat kota, berbaur sama masyarakat lainnya. Yah, sebenernya aku memang nggak suka tempat ramai. Tapi selama aku bareng sama orang yang udah sangat akrab, itu nggak masalah. Selain itu, jalan-jalan di tempat ramai pada malam hari lebih bisa bikin aku nyaman ketimbang di waktu terang. Haha.. Vampir kali. Tapi memang begitulah..

Sekarang, keinginanku buat jalan-jalan di malam tahun baru udah menguap. Cirebon udah nggak aman lagi sekarang. Gank motor nakal berkeliaran, belum lagi para begal. Mereka buas dan liar, cari mangsa nggak liat-liat, nggak peduli apa dan siapa yang mereka serang. Mereka kayak orang-orang yang nggak kenal apa itu hukum dan dosa. Aku nggak ngerti kenapa di bumi Indonesia ini semakin banyak aja manusia-manusia sebusuk itu. Meresahkan masyarakat. Semoga mereka cepet dapet hidayah. Aamiin.

Semenjak tahun 2010 menuju ke 2011, malam tahun baru seenggaknya selalu aku lewatin dengan makan malam bareng keluarga besar dari ibuku, tapi enggak untuk tahun ini. Acara malam tahun baruan bareng keluarga besar ini biasanya diadakan sama adik ibuku yang paling tua. Tapi berhubung suami bibiku itu meninggal bulan Juli lalu, keadaan ekonomi keluarga bibiku itu jadi berubah. Alhasil kalo mau ngadain acara, beliau pasti harus berpikir beberapa kali dulu mengingat masih banyak hal lain yang lebih penting yang harus dipenuhi.

Nggak seperti yang aku harapkan, tahun 2015 rupanya berjalan biasa-biasa aja, nggak seberkesan tahun 2014 dimana begitu banyak hal baru dan mengesankan yang aku peroleh di tahun itu. Walaupun good moments-nya ada, tapi rasanya hal-hal yang bikin kecewanya lebih banyak terjadi di tahun 2015.

Tahun 2015 adalah tahun terakhir aku kuliah. Jadwal kuliah nggak sepadat dulu, tapi aku malah semakin males. I dunno.. rasanya semenjak kerja, kuliah jadi nggak semangat lagi. Apalagi di semester-semester akhir, jam kuliah diadakan pada pukul lima—jam-jamnya para karyawan pulang dari tempat kerjanya masing-masing. Alhasil, tiap ngampus pasti bawaannya lapar, ngantuk, dan yang pasti capek. Selain itu, mata kuliah pada semester-semester akhir kebanyakan boring buatku. Business Plan, Statistika, Service Excellence, MICE.. Sama sekali nggak ada mata kuliah bahasa, ditambah suasana kelas yang sangat jauh berubah karena disatukan dengan anak-anak dari jurusan lain yang mostly nggak cocok dengan kepribadianku. Alhasil moment ngampus jadi moment yang nge-BT-in banget buatku.

Di bulan Mei, aku mulai kehilangan semangat kerja dan rasa nyaman di kantor karena beberapa karyawan kantor yang aku anggap penting hengkang dari tempat kerja. Belum lagi lokasi kantor yang berpindah membuat suasana kerja jadi berubah total, nggak sekompak dan sehangat dulu lagi. Bahkan kedatangan temen lamaku pada jaman SD dulu sebagai karyawan baru di perusahaan itu nggak mampu bikin semangat kerja dan rasa nyamanku di kantor kembali lagi.

Di bulan Juni 2015, aku juga menginjak umur 21 tahun. Aku kesel karena dikerjain rekan-rekan satu kantor di hari ultah. Aku bukan tipe orang yang suka jadi pusat perhatian.  Jadi walau ngerjainnya nggak keterlaluan, tapi keadaan saat itu cukup bikin aku merasa kurang nyaman. Apalagi itu pertama kalinya aku dikerjain di hari ultah.

Beberapa bulan di tahun 2015 juga aku lewati dengan menyusun tugas akhir. Betapa bulan-bulan yang penuh perjuangan, karena selama itu aku harus rela bolak-balik kampus buat bimbingan Tugas Akhir. Aku harus bolak-balik ke Batik Store buat minta Company Profile sekaligus mewawancarai karyawan disana  di sela-sela kesibukan ngantor. Aku juga harus bolak-balik perpustakaan, toko dan lapak buku buat nyari buku untuk referensi karya ilmiahku, walau akhirnya malah dapet sedikit. Dan karena cuma dapet sedikit buku referensi, aku kudu sedia banyak kuota buat download E-Book. Belum lagi malemnya aku harus perang sama nyamuk-nyamuk yang seperti nggak ada habisnya itu disela-sela penulisan Tugas Akhir. Gila deh!

Sampe akhirnya di bulan Juli, aku menjalani Sidang Tugas Akhir. Saat itu adalah ujian banget buatku. Bukan hanya karena aku deg-degan, tapi juga karena sidang itu digelar di kampus pusat di Bandung, udah gitu suasananya pun suasana bulan puasa, dan diuji langsung oleh dosen-dosen kampus pusat. Sangat berbeda dengan Sidang Tugas Akhir yang dijalani sama temen-temen seangkatanku yang udah lebih dulu menjalani sidang di gelombang pertama. Tapi syukurnya semuanya berjalan baik dan lancar.

Empat hari setelah aku menjalani Sidang Tugas Akhir di bulan Juli, tepatnya pada tanggal sembilan, om-ku meninggal dunia karena penyakit stroke dan diabetes yang dideritanya. Kabar duka itu terlalu pagi untuk kami dengar. Saat itu kurang dari jam empat subuh, aku dan keluargaku sedang sahur ketika nenek menelepon ibuku dan menyampaikan berita duka itu. Dan karena hal itu, aku dan keluarga besar ibuku melewati hari Idul Fitri tanpa almarhum om-ku itu untuk pertama kalinya. Di hari Idul Fitri itu juga, untuk pertama kalinya aku bisa bagi-bagi rejeki sama adik, orangtua, sepupu-sepupu dan keponakan-keponakanku. Kertas-kertas bergambar pahlawan itu aku masukkan kedalem amplop-amplop kecil warna-warni yang aku buat sendiri pake kertas origami. Yah, walau jumlahnya nggak seberapa sih, tapi cukuplah bikin mereka senyum.

Di bulan Agustus, long time no see, akhirnya aku bisa ngeliat kakak itu lagi—youwillknowwhoishimifyouknowmewell—di acara Agustusan. Rasanya seneng, walau aku sempat kecewa karena dia nggak nyanyi sekaligus main gitar kayak yang dia lakukan beberapa tahun lalu. Pada bulan ini juga aku mengajukan surat resign-ku kepada Mbak Ati dan General Manager perusahaan. Waktu itu memang bertepatan dengan berakhirnya kontrak kerjaku selama satu tahun di perusahaan itu. Tapi alasanku resign sama sekali bukan karena kontrak kerjaku berakhir, melainkan karena aku udah ngerasa kurang nyaman bekerja disana. Selain itu juga karena jarak kantor yang terlalu jauh. Duitku tekor cuma buat transport. Tapi pengajuan resign-ku itu nggak dipenuhi atasan karena General Manager baru aja mengajukan agar kontrak kerjaku diperpanjang. “Minimal kamu disini tiga bulan lagi deh,” kata beliau waktu itu. Akhirnya aku mengiyakan juga. Toh mereka belum punya penggantiku. Aku juga masih punya tanggung jawab buat serah terima jabatan dan membimbing Admin Purchasing penggantiku nanti.

Di bulan September, aku seneng karena bisa ngasih special gift di hari ulang tahun adikku yang ke-18 tahun. Waktu itu adikku ngiler sama Zenfone yang beberapa hari sebelumnya aku beli dan merengek minta dibelikan sama ibuku. Karena aku tau ibu nggak mungkin ngabulin permintaan adikku itu dan aku tau adikku nggak bakal berhenti minta sebelum dibelikan, akhirnya aku yang beli dan aku kasih sebagai hadiah ultahnya. Seneng deh bisa liat dia girang gitu pas nerima hadiahnya ^^

Di bulan November.. haaahh.. banyak kekecewaan yang terjadi di bulan ini. Mulai dari cuaca yang panas banget, hujan yang jarang banget turun walau udah masuk di musim penghujan, kabar nggak enak tentang kampusku, dan kabar bahwa wisuda aku dan temen-temenku harus diundur bulan berikutnya. Di bulan ini juga untuk pertama kalinya aku jalan-jalan bareng rekan-rekan kantor ke Trans Studio Bandung. Tapi tetep aja sih, ujung-ujungnya disana juga kecewa karena entah kenapa aku kurang menikmati moment­ jalan-jalan disana. Kemudian di akhir bulan, aku pamit sama rekan-rekan kantor setelah tiga bulan sebelumnya aku mengajukan surat resign-ku, dan setelah seminggu sebelumnya aku menjalani serah terima jabatan sama Mbak Pipit—Admin Purchasing penggantiku.

Finally, di bulan Desember aku dan temen-temen seangkatan di kampus resmi melepas status kami sebagai mahasiswa. Tapi berbeda dengan temen-temenku yang menyambutnya dengan suka cita, aku justru ngerasa luar biasa hampa. Hampa karena beberapa orang yang aku harapkan dateng tapi nggak dateng hari itu, hampa karena moment wisuda yang aku rasa kurang berkesan, hampa karena aku belum merasa puas atas apa yang aku dapatkan selama kuliah, dan hampa karena.. ah untuk alasan lainnya biar cuma aku dan Tuhan aja yang tau. Pokoknya bad mood banget rasanya waktu itu. But however.. aku juga seneng karena keesokan harinya dua temen baikku main kerumah, pake bawa gifts pula. Kemudian besoknya lagi, untuk pertama kalinya aku dapet kiriman paket hadiah dari seorang temen dari luar kota.

Dan malam ini, di penghujung tahun 2015 ini, rasanya nggak ada hal lain yang mau aku lakuin selain berbaring-baring di kamar sambil menulis tulisan ini (walau harus kutulis di handphone dulu sebelum akhirnya kuketik ulang di netbook karena netbook-ku ada di ruang tengah) dan menggoreskan drawing pen diatas kertas.

Harapanku di tahun 2016?
Aku berharap bisa segera menerima sertifikat D2 dan ijazah D3-ku.
Aku berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan penghasilan yang lebih tinggi dari sebelumnya, biar bisa bantu ibu dan bapak.
Aku berharap bisa ngirim adikku ke perguruan tinggi, sekaligus bisa kuliah lagi di jurusan yang aku inginkan dengan uang hasil jerih payahku sendiri.
Aku berharap bisa bikin ibu dan bapak bahagia dan bangga sama aku.
Aku berharap bisa jadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.
Dan terakhir.. harapan yang selalu aku panjatkan setiap tahun, setiap hari, setiap saat.. aku berharap KEBAHAGIAAN. Karena satu kata itu mewakili segalanya :)


Well, akhir kata.. Happy new year, Everyone :) 
Kamis, 01 Januari 2015 0 komentar

My New Year : 2015

Selamat tanggal 1 Januari 2015! Haaahh.. waktu cepet banget berlalu ya. Banyak banget yang udah aku lewatin dan pengalaman baru yang aku dapet di tahun 2014 ini.

Tahun 2014 adalah tahun awal dimana aku mulai menginjak usia kepala dua. 20 tahun. Usia yang kata orang adalah puncaknya usia remaja, dimana seorang remaja udah mulai disebut 'dewasa'. Beberapa temen deket aku bahkan udah menghadapi masa dewasa yang sesungguhnya, karena di tahun itu mereka udah pada membangun keluarga. Say hello dulu ah buat dua temen aku, Safira dan Rizka yang sekarang ini lagi hamil anak pertama mereka. Hello, para calon ibu! :D Kabarnya bulan ini juga salah satu temen deket aku pas SMP bakal menempuh hidup baru tuh (hello, Nurwulan! ^^). Sementara aku sendiri masih live freely in my own world dan masih membutuhkan orang yang bisa meyakinkan aku bahwa kehidupan orang dewasa tuh nggak seburuk yang terlihat dan yang terdengar, dan bahwa cinta tulus dan abadi buat semua makhluk Tuhan tuh beneran ada :)

Di tahun itu pula aku mulai ikut berpartisipasi dalam pemilihan presiden yang disebut-sebut sebagai Pemilihan Umum terpanas sepanjang sejarah Indonesia.

Di tahun 2014 itu, keinginan aku untuk punya kucing akhirnya terwujud. Mpush dateng, kemudian hamil dan melahirkan anak-anaknya di rumah keluarga aku. Dan sekitar sebulan kemudian, kami mulai menganggap Mpush dan anaknya, Mutun, sebagai bagian dari keluarga kami.. bahkan sampe Mutun punya adik. Saat ini kemungkinan Mutun lagi hamil anak pertamanya (padahal umurnya masih enam bulan.. terlalu muda bagi seekor kucing buat hamil), tapi Mutun tetep jadi kucing kesayangan kami.

Di tahun itu juga, aku ngerasain rasanya kehilangan seseorang yang klop dan udah aku anggep sebagai soulmate aku karena kami seolah bisa transfer isi pikiran masing-masing, entah kenapa bisa kayak gitu. Rasanya berat banget buat kehilangan dia, apalagi kalo udah denger lagu-lagu yang waktu itu sering aku denger pas lagi chat sama dia atau lagu-lagu yang pernah dia tulis di statusnya. Rasa kangennya tuh berasa banget.. :')

Bulan Januari, aku pertama kalinya ngerasain yang namanya kerja secara sukarela alias nggak dikasih upah selama sebulan lebih beberapa hari di sebuah perusahaan industri rotan di kabupaten. Well, hal itu udah nggak aku anggap sebagai suatu hal yang menyebalkan lagi sih.. coz setelah aku pikir-pikir aku mendapatkan sesuatu yang berharga, yakni pengalaman. Karena saat itu jugalah aku pertama kalinya terjun ke dunia kerja, walau sebenernya title aku waktu itu masih 'mahasiswa magang', bukan 'karyawan'.

Kemudian setelah itu aku dapet panggilan magang lagi di sebuah cabang perusahaan industri semen terbesar di Indonesia. Saat itu adalah masa-masa magang yang nggak sebentar buat aku dan beberapa temen kampus aku yang juga magang disana. Tiga bulan. Tapi kadang aku juga kangen masa-masa itu. Aku juga nggak tau pasti sih, sebenernya apa yang aku kangenin di masa itu? Suasananya kah? Piscokeju yang biasa aku beli pas jam istirahat kah? Atau hal-hal yang terjadi di masa itu? Aku nggak tau. Yang pasti aku bukan kangen sama orang-orang sononya lho ya..

Sekitar pertengahan tahun, itu pertama kalinya aku ngadepin yang namanya Job Interview beneran (bukan praktek dalam mata kuliah), dan rasanya greget banget karena aku ngadepin first job interview beneran pake bahasa Inggris.

Sekitar pertengahan Agustus, aku ngedapetin pekerjaan pertama aku sekaligus pertama kalinya aku menyandang status sebagai karyawan perusahaan, dan alhamdulillah-nya semua itu masih berjalan hingga saat ini.

Di tahun 2014 juga aku ngerasain pertama kalinya pegang kartu kredit, pertama kalinya dapet upah atas pekerjaan aku sendiri, ngasih duit hasil keringet sendiri ke ortu walau nggak banyak, ngasih mini blackforest dan jaket di 17th birthday adik pake duit kasbon pertama, nraktir temen dan bayar kuliah pake duit sendiri. Saat itu juga aku mulai sadar bahwa nyari duit itu nggak segampang nyari masalah :v Dan di tahun 2014 itu juga aku mulai pake hape andro dan belajar nyetir motor, walau sampe sekarang belom berani terjun ke jalanan yang rame.

Yah, banyak deh yang nggak bisa aku sebutin satu persatu disini. Dan aku yakin semua itu bakal jadi kenangan yang suatu saat bakal aku kangenin, khususnya momen-momen di bulan Januari sampe Juni ^^

Lalu gimana dengan malem tahun baru tahun ini?
Yah, just like usual. Aku sangat menyesal karena nggak bisa bersenang-senang di malem tahun baru semalem. Kenapa? Karena aku sakit, pemirsa.

Sebenernya di tempat kerja aku ada event seru-seruan gitu deh. Katanya sih acaranya wajib diikutin sama para karyawan. Tadinya aku terpikir buat ikutan.. tapi berhubung pulangnya malem banget, aku mengurungkan niat aku. Yah, nggak enak juga sih rasanya, coz selama ini aku sering nggak hadir dalam acara-acara kantor. Tapi bukan apa-apa, bukannya aku nggak mau.. Masalahnya adalah rumah aku jauh banget dari tempat kerja. Kalo aku pulang malem, tentu aja udah nggak ada angkot yang lewat, sementara adik aku nggak bakal mau jemput aku malem-malem ke tempat yang jauh dari rumah kayak gitu. Hal ini diperparah dengan menurunnya kondisi badan aku.

Sepulang kerja, badan aku meriang dan lemes banget. Sebenernya aku udah ngerasa kurang sehat sejak dua hari yang lalu. Tenggorokan aku sakit, idung aku banjir, dan aku ngerasain panas dari dalem. Dan kemaren itu, rasanya kondisi aku makin nurun aja. Tapi walaupun begitu, aku nggak mau ngelewatin malem tahun baru sendirian. So, aku dan adik aku keukeuh ngajak ibu kumpul bareng keluarga dirumah nenek. Aku pikir disana aku bisa istirahat, tapi juga bisa ngelewatin malem tahun baru rame-rame.

Jadi sore itu, sekitar jam setengah delapan, aku dan ibu dibonceng adik aku naik motor kerumah nenek. Saat itu aku udah ngerasa lemes banget, dan aku ngerasain panas dingin bersamaan. Untungnya aku pake jaket, jadi bisa sedikit ngurangin rasa dingin yang aku rasain. Aku disuruh duduk di tengah, tapi aku nggak mau. Aku duduk di jok paling belakang, sementara jari-jari tangan ibu aku meluk jari-jari tangan aku.

Sampe dirumah nenek, ternyata rumahnya kosong. Kami langsung ngeduga kalo mereka pasti kumpul dirumah Bibi Cicih—yang rumahnya cuman berjarak beberapa puluh meter doang dari rumah nenek. Akhirnya kami susul mereka. Ternyata bener, mereka disana. Daaann.. sampe dirumah Bibi Cicih, aku malah ambruk. Aku ngerasa lemes banget, dan akhirnya tidur.

Aku kebangun ketika ngedenger suara riuh kembang api di luar. Pas aku liat jam, ternyata udah jam dua belas malem aja gitu. Aku baru sadar kalo aku udah tidur selama sekitar tiga jam lebih. Tadinya aku pengen ikut sodara-sodara aku liat kembang api di luar, tapi berhubung aku masih lemes banget, akhirnya aku kembali lagi ke sofa tempat aku tidur tadi.

Sekitar jam setengah satu, kami dinner bareng sekeluarga. Menu utamanya adalah ikan salmon bakar dan sate ayam. Rasanya nikmat banget. Aku bersyukur aku masih bisa ngerasain nikmatnya dinner semalem, coz biasanya orang sakit kan nafsu makannya ilang gitu karena perasaannya serba nggak enak. Setelah makan, aku tidur lagi.

Dan hari ini, karena masih ngerasa lemes, aku nggak berangkat kerja. Anyway, tempat kerja aku nggak meliburkan karyawannya walau tanggal merah sekalipun. Perasaan meriang itu aku rasain sampe sore. Kalo sekarang sih udah mendingan. Tinggal idung aja nih yang masih mampet-meler-mampet-meler gitu. Mudah-mudahan aja besok udah enakan deh, biar bisa ngelakuin aktivitas kayak biasa lagi gitu. Nggak enak juga kalo sering ijin nggak berangkat kerja.

Well, harapan aku buat tahun 2015 sih, aku bisa jadi makhluk Tuhan yang lebih baik lagi, dan segala sesuatunya juga jadi lebih baik lagi. Yup, hopefully.

Akhir kata, HAPPY NEW YEAR 2015, guys!! :D

Total Tayangan Halaman

 
;