Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 Juli 2026 0 komentar

First Hellprint, First 510

What an incredible night! Dua hari lalu, tepatnya hari Jum'at 24 Juli, aku dan adikku, Hardi, menghadiri event Shout of Sound Showcase di Erion Space Kuningan. Hal ini udah kami rencanakan jauh-jauh hari sejak awal Juli lalu, itu pun adikku yang kasih info.

Hari itu, tanggal 3 Juli, Hardi ngetag aku di salah satu postingan akun Superfriends Kuningan yang mengumumkan bahwa 510, band favorit kami, akan perform di Kabupaten Kuningan. 

Well, sebelum cerita tentang pengalaman kami di sana, aku pingin menceritakan dulu gimana ceritanya aku bisa mengenal band ini.

Aku lupa kapan tepatnya, tapi waktu itu sekitar tahun 2024, salah satu rekan kerja yang satu ruangan denganku ngeplay lagu-lagu rock di komputer demi mengusir rasa kantuk. Saat sebuah lagu mengalun, aku sempat tertegun sejenak demi mendengar suara yang begitu familiar: suara Faizal "Ical" Permana. 

Tahun 2020 silam, yang kutau, Ical adalah vokalis baru Kilms (sebelumnya Killing Me Inside). Kilms kan dikenal sering gonta-ganti vokalis ya. Tapi bergabungnya Ical ke Kilms, membuatku berharap bahwa Ical akan jadi vokalis tetap di sana, karena menurutku, selama Killing Me Inside berdiri pasca keluarnya Sansan, Ical adalah yang paling pas. Dengerin deh lagu-lagu mereka yang Numb dan Do You See What I See. Astaga, cinta banget aku :')

Tapi rupanya, Kilms masih tetap dalam drama gonta-ganti vokalis ini. Tahun 2023, Ical hengkang dari Kilms. Aku patah hati, tapi juga nggak mencari tau Ical ke mana setelah itu. Aku pernah mencoba mendengar lagu-lagu Slap It Out, band Ical sebelum join Kilms, untuk mengobati patah hatiku, tapi ternyata kurang cocok. Kupikir Ical sempurna bersama Kilms.

Lalu ketika kudengar lagi suara Ical dari speaker komputer rekan kantorku itu, rasa penasaranku bangkit. Aku tanya rekan kerjaku itu. Agak lupa sih gimana percakapannya, tapi kira-kira gini:
Aku : "Ini lagunya siapa, Mas? Slap It Out bukan?"
Rekan Kerjaku: "Bukan, Put. Ini Lima Sepuluh".

Yakin banget bahwa itu suara Ical, aku pun mencari tau. Judul lagu itu "Mama", dibawakan oleh band post-hardcore bernama 510. Kucari tau siapa vokalisnya, dan rupanya benar... Faizal "Ical" Permana. Aku sempat pangling juga lihat look dia di 510, kayak beda orang, karena setauku dia kurus dan berambut gondrong. Tapi looknya di 510 lebih fresh, badannya lebih berisi. 

Setelah itu, I finally found out bahwa 510 adalah identitas baru dari Slap It Out. 510  sendiri sekilas mirip huruf "S", "I", dan "O" yang merupakan inisial dari Slap It Out. Aku pun memfollow Ical di Instagram, tapi tidak dengan band "baru"-nya.

Lalu, aku coba dengerin lagu-lagu mereka selain Mama, kayak Esa, Mimbar, Alive, Emotional Renegades (karena itu yang ada di Top Songs mereka di Spotify kala itu). Anehnya, aku masih merasa kurang klop, karena menurutku kurang "keras". Setelah itu, aku udah nggak sengajain dengar lagu-lagu mereka lagi, palingan dengar kalo diplay sama rekan kerjaku aja. Adikku yang udah lebih dulu ngefans sama mereka sampai heran, kenapa aku sesusah itu move-on dari keberadaan Ical di Kilms

Tahun 2025, 510 merilis album baru. Ical cukup sering memposting lagu-lagu barunya, sampai akhirnya aku mendengar lagu Ritual. Part lagu yang kudengar saat itu memang bagian yang "keras" ya, dan itu yang membuatku penasaran untuk  mendengar 510 sekali lagi.

Lagu ini memang dibuka dengan tenang lewat clean vokal Ical ditemani piano solo, tapi ketenangan itu kemudian terpecah oleh ledakan scream "HELP MEEEE" lalu disambut hentakan beat yang lebih agresif. Kalo boleh kubilang, dengar lagu ini tuh rasanya kayak dibawa naik roller coaster. Tenang, lalu tiba-tiba brutal, lalu tenang lagi, tiba-tiba dihentak lagi. Anehnya, hal itu yang justru membuatku jatuh cinta.

Pas part lirik yang "Follow me under the wa-teeeer" lalu disambut melodi gitar selama setengah menitan, dan disambung lirik yang dinyanyikan dengan vokal berlapis, menciptakan harmoni yang... astaga, aku susah deskripsiinnya. Vibesnya tuh kayak dengar orang yang lagi putus asa, kecewa, dan marah, lalu pas part ini muncul rasanya kayak ada harapan gitu. Lagunya berdurasi hampir enam menit, tapi sama sekali nggak membosankan buat didengar berulang-ulang.

Setelah mendengar lagu Ritual, aku menemukan Dead Clown, Collapsed, The Last Suffer, Death Parade, dan Callout yang padahal rilis sebelum Ritual ya, tapi entah kenapa aku malah lebih dulu diperkenalkan dengan lagu-lagu lain yang kubilang kurang sesuai ekspektasi itu. Padahal kalo langsung nemu lima lagu itu, hatiku bakal langsung nyangkut di mereka kayaknya. Wkwkwk.

Long story short, mereka akhirnya diumumkan bakal manggung di Kuningan. Jaraknya sekitar 38 kilometer dari tempat tinggalku. Tiketnya mulai dijual pada tanggal 8 Juli. Sebelum memesan tiket, tentunya aku meminta izin dari suamiku dulu. Kujelaskan bahwa aku akan pergi bareng Hardi, dan acaranya diselenggarakan di cafe, jadi kemungkinan besar bakal aman banget. Dan tanpa butuh merayu-rayu sedemikian rupa, ia mengizinkan. Sayangnya gara-gara menunda-nunda checkout, kami jadi kehabisan tiket presale. Nggak nyangka juga sih tiketnya bakal habis secepat itu. Jadi aku terus pantengin akun @superfriendskuningan biar gercep kalo ada info penjualan tiket kedua.

Maka di tanggal 10, sekitar jam setengah satu dini hari, 12 menit setelah @superfriendskuningan memposting pengumuman penjualan tiket online kedua, aku langsung scan barcode dan mencheckout dua buah tiket. 

Meskipun tiketnya nggak langsung kuterima sesaat setelah checkout, tapi aku merasa lebih tenang, karena ternyata itu penjualan tiket online terakhir. Setelah itu, mereka hanya punya 50 sisa tiket yang dijual secara offline tanggal 18 dan 19 Juli, masing-masing 25 tiket. FYI, penjualan tiket untuk Shout of Sound di Kuningan ini yang paling laris kayaknya, karena nggak ada penjualan tiket on the spot. Tiket milik aku dan Hardi sendiri baru kami terima di H-4.

***

Dan hari itu pun tiba. Jum'at, 24 Juli, aku berangkat kerja seperti biasanya. Sedangkan Hardi memutuskan untuk izin nggak ngantor karena ia merasa kurang enak badan sejak hari Kamis sore. Jadi ia mau istirahat sekaligus memastikan kondisi motornya cukup prima sebelum menempuh perjalanan yang bisa dibilang cukup jauh ini. Well, sebenarnya sih acaranya mulai dari jam dua siang, tapi aku nggak enak kalo ambil cuti atau izin pulang cepat mengingat bulan ini aku udah beberapa kali izin untuk urusan motherhood. Toh, aku dan Hardi cuma ngincar penampilan band utama yang kemungkinan besar bakal tampil di penghujung acara, dan mereka baru close gate jam 7 malam, so, yah masih aman lah ya.

Jam lima sore kurang lima belas menit, aku mengganti baju batikku dengan kaos hitam dan jaket jeans. Begitu bel jam kerja berakhir berbunyi, aku langsung absen keluar dan melompat ke jok belakang motor Hardi yang menunggu di warung madura sebelah kantor. Perjalanan terasa nggak membosankan, karena sepanjang jalan kami bisa melihat gunung Ciremai yang berdiri gagah tanpa terhalang awan, berpadu dengan semburat jingga. Golden hour. Aku sempat mengabadikan momen itu dengan video. Ketika itu, aku harus menggenggam hapeku dengan benar-benar erat, karena angin bertiup kencang banget. Aku khawatir hapeku terbang. Udara Kuningan yang udah dasarnya dingin pun, jadi semakin dingin.

Sekitar jam enam sore, kami tiba di lokasi. Pertama-tama, kami menuju ticket booth untuk scan tiket masuk. Kami dipakaikan wristband sebagai bukti bahwa kami adalah pengunjung resmi, dan diberi dua bungkus produk sponsor berupa rokok dan satu voucher untuk ditukar dengan sebotol kopi. Setelah itu, panitia juga memeriksa tubuh dan isi tas kami untuk memastikan kami nggak membawa makanan atau minuman dari luar, dan nggak ada barang-barang berbahaya yang kami bawa, termasuk cermin dan parfum dengan botol kaca. Karena aku membawa parfum dengan botol kaca, jadi benda itu harus dititipkan ke panitia. Kami juga diminta untuk memastikan nggak ada barang yang tertinggal di kendaraan, karena kalo udah masuk, kami nggak boleh keluar dan masuk lagi.



Setelah menjalani prosedur scan tiket dan pemeriksaan, kami pun masuk. Rupanya suasana udah lumayan rame. Nggak ada meja kosong untuk kami tempati, jadi setelah menukar voucher dengan kopi, aku dan Hardi duduk-duduk di undakan menuju venue bareng beberapa pengunjung lainnya yang juga nggak kebagian tempat. Waktu itu suasana sedang istirahat. Jujur, meski bukan pertama kalinya hadir ke acara musik (tapi ini acara Hellprint pertama yang aku dan Hardi datangi), rasanya sedikit nervous. Itu lah kenapa, selama di sana aku memutuskan untuk memakai masker, karena selain meminimalisir terhirupnya asap rokok, memakai masker juga ajaibnya bisa sedikit mengurangi rasa gugup.

Singkat cerita, acara kembali dimulai. Masih menampilkan band-band lokal. Band lokal pertama yang kami lihat saat itu adalah band punk hardcore bernama Monarki, yang membawakan lagu milik mereka sendiri berjudul "Maniak Api". Meskipun membawakan lagu sendiri, tapi beberapa penonton tampak nggak ragu maju ke depan panggung untuk melakukan moshing, atau sekadar lompat-lompat di bibir panggung. Sebagian lagi menonton dari kejauhan sambil menggerakkan kaki dan headbang tipis-tipis. Aku termasuk dalam golongan yang memilih menonton dari kejauhan ini. 

Setelah Monarki, ada penampilan dari band Ashes Vireth. Band ini menarik buatku. Vokalisnya cewek yang masih sangat belia. Usianya mungkin masih belasan atau awal dua puluhan. Wajahnya kawaii gitu, dari segi fisik lebih cocok jadi vokalis J-Pop. Tapi yang membagongkan, malam itu dia bawain lagu hardcore yang nggak ada clean vokalnya sama sekali. Badass!! 

Lalu ada One Blood. Band ini punya dua vokalis, cewek-cowok. Mereka membawakan lagu yang liriknya menyentil orang-orang yang suka cari muka di lingkungan kerja. Jujur, aku suka banget sama style vokalis ceweknya. Dia pakai outfit dominan hitam berupa outer crop asimetris dipadu inner berwarna merah, celana longgar dengan aksesori rantai perak di pinggang, turban hitam, dan gelang. Looknya kayak gothic streetwear gitu. Keren, naksir banget aku. Ini style yang kepingin banget aku pakai (kecuali bagian turban), tapi aku nggak punya cukup rasa percaya diri buat pakainya. Lagipula celana gombrong malah bikin tubuhku yang kecil dan pendek ini makin tenggelam kali yah. 

Selanjutnya ada Breeze. Vokalisnya cowok, dan punya vokal yang unik. Suaranya tinggi melengking gitu. 

Yang terakhir, ada Twistlet. Band yang vokalisnya cewek berkacamata ini membawakan lagu yang liriknya lagi relate banget sama kondisi negeri kita saat ini, judulnya Hajar Jahanam. 

Oiya, setiap kali jeda pergantian band, MC bakal mengisinya dengan mewawancara satu pengunjung yang datang. Lucunya, setiap kali MC mencari satu pengunjung buat diwawancara ini, orang-orang, termasuk aku dan Hardi bakal mundur menjauh, karena takut bakal dipilih. Wkwkwk. Sebenarnya MC cuma nanya-nanya sedikit dan sesimple, "Tujuan datang ke sini mau lihat performnya siapa?", atau "Gimana kesannya datang ke acara ini?", tapi kadang MC juga iseng minta yang diwawancara buat nyanyi atau two-step gitu. Wkwk.

Sekitar jam setengah sembilan, naik Mustika Kamal. Vokalis band W.A.I.T yang juga akrab dipanggil "Mimi" ini adalah salah satu guest yang aku tunggu performancenya. Sayangnya aku kurang cepat mengambil tempat di dekat stage. Malam itu dia menciptakan emo night vibes dengan mengcover tiga lagu: I Don't Love You (MCR), Decode (Paramore), dan All The Small Things (Blink-182). I Don't Love You pecah bangeeett doong, karena hampir semua penonton ikut sing along. Malam itu aku baru banget merasakan betapa puasnya menyanyikan lagu favorit selepas itu, sangat berbeda rasanya dengan cuma karaoke. Entahlah, aku juga bingung gimana menjelaskannya. Yang jelas kayak ada sensasi berdebar-debarnya gitu.

Penampilan Mustika Kamal membawakan "Decode" 

Setelah penampilan seru Mimi, ada jeda sekitar setengah jam sebelum penampilan puncak dari band utama, 510. Jeda yang lumayan panjang ini membuat kerumunan penonton di depan stage melonggar, sehingga memberi kesempatan untuk aku dan Hardi untuk maju. Sambil menunggu, kami berfoto-foto sejenak. Awalnya Hardi yang memfotoku, dia sendiri nggak mau aku fotokan. Malu. Lalu tiba-tiba sepasang cowok-cewek menawarkan diri untuk memfotokan kami berdua. Hardi sedikit ragu, tapi kubujuk, buat kenang-kenangan. Apalagi meskipun sibling, kami jarang banget berfoto bareng, khususnya foto berdua gitu. Setelah mengambil foto dua kali, aku gantian memfotokan mereka berdua. 

Di menit-menit terakhir menjelang 510 naik, Hardi mendorongku semakin mendekat ke depan panggung. Nggak di depan panggung banget sih, tapi bisa dibilang cukup dekat lah. Tiba-tiba...
"Lho, Putri!" seorang laki-laki di sebelahku tampak terkejut melihatku. Surprisingly, dia mengenaliku meskipun aku memakai masker. Eh tapi mungkin karena ada Hardi juga sih. Dia merupakan kenalan kami. Tapi ketika itu, jujur aku agak canggung karena saat itu dia terlihat dalam kondisi teler, yang kurasa bukan teler karena minuman mengingat cafe itu nggak menjual minuman beralkohol, dan nggak memperkenankan pengunjung membawa minuman dari luar. Setauku dia mengkonsumsi obat psikiatri untuk mengatasi gangguan kecemasan. 15 tahun silam, aku pernah punya kenalan lain yang juga mengkonsumsi obat-obatan semacam itu untuk mengatasi masalah yang sama. Dia bilang efeknya bisa membuat seseorang menjadi seperti "zombie". Aku nggak tau apakah "zombie" yang dia maksud adalah "teler" seperti itu. Tapi kalo dikonsumsi sesuai resep dokter, harusnya nggak akan seteler itu kan? Well, entahlah.

Anyway, tibalah saatnya Ical CS perform. Musik Where Do We Came From mengalun. Kami dag-dig-dug menunggu para personil muncul, sebelum akhirnya mereka naik satu per satu. Ical muncul paling akhir. Ketika ia naik sambil melambaikan tangannya, aku menjerit, "ICAAAALL!!", yah meskipun aku sadar banget suaraku nggak akan terdengar sama dia. Wkwkwk. Aku bersyukur banget karena di posisiku itu, aku bisa melihatnya dengan cukup jelas, meskipun kadang juga ketutupan kepala orang. Hahaha. Malam itu dia mengenakan celana jeans panjang warna hitam, dan kaos raw hem sleeveless warna abu-abu gelap, sehingga terlihat jelas tato-tato di lengannya. 

Setelah cukup dengan dadah-dadahan itu, Ical mengangkat mikrofon ke depan mulutnya dan berteriak, "WE'RE ALL...!" dan langsung disambut penonton, ".... DISASTER! SO COME LIT UP THE FIRE!!"
Sejurus kemudian, barisan penonton pun mulai membentuk crowd wave di mana kami melompat dan headbang bareng mengikuti hentakan lagu Collapsed.

"Collapsed" 

The Last Suffer dan Mama menambah atmosfer menjadi lebih panas. Di bagian chorus Mama, semua penonton ikut sing along. 

Yang paling kusuka adalah saat Dead Clown dan Ritual. Gila, pecaaaahh banget! 

Di tengah-tengah Dead Clown, seperti yang sering kulihat di video performance mereka sebelumnya, tiba-tiba muncul seorang tokoh badut. Badut ini mondar-mandir di atas stage, berinteraksi dengan kami dan juga Ical, sampai akhirnya menjelang klimaks, Ical melakukan adegan seolah-olah meng-headshot si badut. Well, meskipun ini bukan pertama kalinya aku lihat adegan itu, tetap aja rasanya seru banget ditonton secara langsung. Apalagi si Ical benar-benar pakai properti berupa pistol mainan gitu. Ya know, kayak lagi nonton sebuah pertunjukan teatrikal yang diselipkan di tengah konser.

Detik-detik menjelang Mr Clown
di-headshot di "Dead Clown"

Masuk ke Ritual, suasananya berubah lagi. Seperti yang udah kuceritakan sebelumnya, lagu ini memang favoritku sejak pertama kali mendengarnya. Tapi melihatnya dibawakan secara live ternyata jauuuuh lebih memuaskan. Di bagian klimaks, aku melihat sebagian penonton udah membentuk circle pit. Lalu beberapa penonton cowok mulai berlari memutari lingkaran itu sebelum akhirnya saling bertabrakan dan moshing. Lumayan brutal sih kelihatannya, tapi tetap terkendali. Posisiku tepat berada di depan circle pit itu. Jujur sempat deg-degan juga takut tiba-tiba ada yang menabrakku. Untungnya enggak. Alhamdulillah.

Circle pit saat "Ritual" 

Surprisingly, aku juga suka banget vibe saat Mimbar dibawakan. Lagu ini bukan lagu 510 yang sering kuputar, karena kurang sesuai ekspektasiku. Tapi ternyata... this song hits different when it's played live. Asli, merinding banget waktu masuk bagian piano + petikan gitar gitu, lalu hampir semua penonton kompak menyanyikan part,

"Ku tau kau memikulnya... kurasakan hal yang sama... Kita terkurung dalam duka lara..."

Mendengar penonton sing along di bagian itu sambil mengangkat tangan ke udara benar-benar menciptakan suasana yang susah dijelaskan. Momen itu jadi salah satu favoritku malam itu.

"Mimbar" live hits different <\3

Nggak terasa, satu demi satu lagu berlalu. Malam itu 510 membawakan sebelas lagu secara berurutan: Where Do We Came From, Collapsed, The Last Suffer, Mama, Plastic Faith, Esa, Sorry, Dead Clown, Ritual, Mimbar, dan ditutup dengan Emotional Renegades. Menurutku susunan setlistnya enak banget. Energinya naik terus, sempat diturunkan sedikit di Esa, dibikin galau massal di lagu Sorry, lalu dibakar lagi sama Dead Clown dan Ritual, agak turun lagi sedikit di Mimbar, lalu ditutup lagi dengan ledakan energi di Emotional Renegades.

BTW ada momen lumayan berkesan saat 510 membawakan lagu terakhir ini. Menjelang akhir lagu, Ical tiba-tiba membalikkan badan membelakangi penonton, lalu menjatuhkan dirinya ke arah kami. Stage dive!

Untungnya aku nggak berada tepat di bawah posisi saat ia menjatuhkan diri. Tapi tangan-tangan penonton yang menopang tubuh Ical perlahan menggiringnya ke arah tempatku berdiri, membuatnya crowd surfing di atas kami. Dan tau-tau... aku berada tepat di bawah punggungnya. Wkwkwkwk. Untung tubuh seukuran botol Yakult ini nggak ketimpa beneran. Yah, cuma oleng dikit.

Momen Ical stage-diving di
"Emotional Renegades" 

Sepanjang penampilan 510 itu juga, Hardi always had my back. Posisi dia selalu berdiri tepat di belakangku. Kadang kedua lengannya terulur di kanan dan kiriku buat menghalau orang-orang yang terdorong saat moshing. Bahkan kenalan kami yang teler itu berkali-kali melakukan crowd surfing, dan berkali-kali juga jatuh menimpa penonton. Jadi keberadaan Hardi di belakangku lumayan menyelamatkanku sih.

Oiya, karena malam itu Mustika Kamal dan 510 sama-sama menjadi special guest, aku sempat berharap mereka bakal membawakan Deeper Than The Ocean. Tapi ternyata, enggak. Yaah, bisa dipahami sih. Lagu itu terlalu mellow. Kalo dibawakan di tengah gigs yang sedang panas-panasnya, mungkin malah jadi kurang pas yah.

Anyway, soal kenalan kami itu, ada satu hal yang baru kami sadari setelah acara selesai.

Pas awal ketemu di tengah kerumunan, dia sempat ngomong sesuatu soal "dokumentasi". Karena dia ngomong sambil teler, aku dan Hardi sama-sama nggak menangkap apa maksudnya. Setelah acara selesai kami baru ngeh. Rupanya yang dimaksud "dokumentasi" itu adalah foto bareng para personil 510 dan teman-teman komunitas 510 Squad.

Memang benar sih, mereka ada sesi foto bareng setelah acara. Tapi yaa... kami nggak nyesel juga sih nggak join. Soalnya jujur aja, bahkan kalopun waktu itu kami paham maksud ajakannya, kemungkinan besar kami tetap bakal nolak. Bukan karena nggak mau, tapi lebih karena malu dan canggung aja 😂

Sekitar jam sepuluh malam, acara akhirnya benar-benar selesai. Sebelum pulang, aku dan Hardi menyempatkan diri foto-foto sekali lagi di sekitar venue, sambil menonton hasil fancam kami, dan sesekali ngetawain suara sumbang diri sendiri yang ikut kerekam. Wkwkwk. Dari situ aku belajar, lain kali kalo ambil fancam, mending mulut ini diam kali ya 😂

Setelah itu kami berjalan menuju parkiran. Di perjalanan menuju parkir itu, kami ketemu lagi dengan kenalan kami tadi. Kondisinya masih sedikit teler. Dia sempat memanggilku dan bertanya apakah kami langsung pulang malam itu. Setelah basa-basi bentar, aku pun pamit.

Well, kalo dipikir-pikir, lucu nggak sih? Awalnya aku sempat susah move on dari Ical versi Kilms. Bahkan sempat merasa lagu-lagu 510 kurang cocok di kupingku. Tapi beberapa tahun kemudian aku justru berdiri di barisan depan, ikut headbang, ikut sing along, menyaksikan langsung penampilan mereka, bahkan nyaris ketimpa Ical saat crowd surfing. Wkwkwk. Yah, mungkin memang benar sih ya, kadang kita butuh waktu buat jatuh cinta sama sesuatu yang sebelumnya belum bisa kita nikmati.

Dan satu hal yang paling kusyukuri malam itu bukan cuma akhirnya bisa nonton live performance 510, tapi juga bersyukur bisa hang out bareng sibling, mengingat jarang banget kami spending time berdua selama ini. Rasanya menyenangkan punya seseorang yang sama-sama menikmati musik yang kita suka.

Sumpah, puaaaas banget rasanya. I wish this isn't my last Hellprint experience🤘

Jumat, 21 Desember 2018 0 komentar

Review Lagu Minang

Mungkin Pembaca bertanya-tanya kenapa aku menulis ini. Apakah aku adalah orang Minang? Jawabannya adalah, bukan. Aku orang Cirebon. Bapakku pun orang Cirebon, dan ibuku orang Kuningan, nggak ada darah Minang sama sekali dalam silsilah keluarga kami, meski ada saudara yang tinggal di Sumatera sana. Tapi soal selera musik, bebas kan? Kamu nggak harus jadi orang Inggris ataupun Amrik untuk menyukai lagu-lagu Western, begitu juga lagu-lagu Minang, nggak harus jadi orang Sumatera Barat dulu untuk menyukai lagu-lagu Minang. Sebenarnya sudah cukup lama aku terdorong untuk menuliskan opiniku tentang lagu-lagu Minang yang ada di playlist-ku, tapi baru sekarang aku sempat menulis ini. Yah, siapa tau ada yang mau coba dengar lagu-lagu Minang, mungkin beberapa judul lagu ini bisa menjadi rekomendasi buat kamu.

Alright then. Langsung aja ya. BTW, lagu-lagu dibawah ini nggak berdasarkan urutan lho yaa, karena semuanya menurutku bagus dan aku nggak bisa menentukan lagu mana yang paling enak didengar,. Hehe.. Well, let’s check this out!

 Bakilah Ka Rantau – Ipank feat. Kintani
Lagu ini adalah lagu Minang pertama yang aku dengar setelah Kampuang Nan Jauh Di Mato yang dinyanyikan Chiquita Meidy di tahun 90-an. Hahaha.. it means, sebelumnya aku nggak pernah (dengan sengaja) mendengarkan lagu Minang selain lagu anak-anak yang satu itu. Itupun dengarnya sudah lama banget, pas aku masih kecil. Aku mendengar lagu Bakilah Ka Rantau ini pertama kali sekitar awal tahun 2018 lalu dan langsung terkesan sama suara penyanyinya yang merdu mendayu-dayu. Nah, lagu inilah yang membuatku mulai mengagumi Uda Ipank. Hmm.. siapa penikmat lagu Minang yang nggak tau musisi hebat ini? Suaranya itu lho.. ya ampun. Coba deh dengar part lagu yang dinyanyikannya ini :"Sayang.. Kok cinto usah camehkanDoakanlah, Sayang, denai ko capek pulang”Part itu dinyanyikan dengan nada tinggi dan panjang, namun ia mampu menjangkaunya dengan tanpa mengambil jeda untuk menarik nafas! Durasinya kurang lebih dua puluh dua detik. Awesome! And one more good point is, ia nggak hanya bersuara merdu, tapi juga piawai menciptakan lagu dengan lirik yang puitis. FYI, hampir semua lagu yang dinyanyikannya adalah lagu ciptaannya sendiri. Dan lagu ini, selain enak didengar juga memiliki lirik yang manis. Lagu ini menceritakan tentang sepasang kekasih yang berpisah untuk sementara waktu. Si Perempuan dengan ikhlas melepas lelakinya yang pergi merantau dan berjanji akan selalu menunggunya, sedang Si Lelaki dengan berat hati meninggalkan kekasihnya dan meminta untuk selalu mendoakannya agar cepat pulang.

Rantau Den Pajauah – Ipank feat. Rayola
Ah, siapa penikmat lagu Minang yang nggak tau lagu ini? Lagu ini cukup terkenal. Di kantorku sendiri ada beberapa orang karyawan yang menyukai lagu ini meski mereka bukan orang Minang. Waktu itu aku pernah nggak sengaja dengar lagu itu diputar di Ruang Staf Gudang, dan dua orang karyawan yang menggunakan lagu itu sebagai ringtone. Wkwk..Berbeda dengan lagu yang aku rekomendasikan sebelumnya, lagu ini menceritakan tentang kisah cinta yang cukup tragis. Dalam lagu ini diceritakan Si Lelaki sedang dalam perantauan ketika kekasihnya dijodohkan oleh orangtuanya dengan laki-laki lain dan Si Perempuan dengan berat hati mengikuti kehendak orangtuanya. Jleb banget kan..

Bintang Manari Bulan Marayu – Ipank feat. Kintani

Ada yang tengah menjalani LDR? Kalo ada, lagu ini cocok banget buat kamu. Lagu ini menceritakan tentang sepasang kekasih yang galau berat karena merindukan satu sama lain sampai-sampai air yang diminum berasa duri dan nasi yang dimakan berasa batu. Wah, wah, berat banget..

Sayang Samo Di Limau – Ipank feat. Kintani
      Lagu ini menceritakan tentang seorang perempuan yang mencemaskan kekasihnya yang ada di perantauan dan nggak ada kabar hingga dirinya merasa takut dalam penantian.

      Basamo Manjago Cinto – Ipank feat. Kintani
Sama seperti lagu sebelumnya, lagu ini juga menceritakan tentang seorang perempuan yang menantikan kabar dari kekasihnya di perantauan dan berharap Si Lelaki akan menikahinya sepulang dari rantau.

      Sangkutan Hati – Ipank feat. Kintani
Masih duet maut antara Uda Ipank dan Uni Kintani. Lagu kali ini mengisahkan tentang seorang lelaki yang mencemaskan pasangannya berpaling, kemudian mereka berjanji untuk setia satu sama lain.

Kawin Tapaso – Ipank feat. Kintani
Lagi, sebuah lagu yang menceritakan kisah cinta tragis. Lagu ini mengisahkan tentang laki-laki yang ditinggal pasangan perempuannya saat sedang melangsungkan pernikahan karena Si Perempuan sebenarnya sudah menaruh hati pada orang lain dan merasa terpaksa menikah dengan Si Lelaki. Hal itu menyebabkan Si Lelaki merasa malu kepada para tamu undangan. Sadis banget ya.
BTW, lagu ini sebenarnya memiliki dua versi. Versi satunya rilis lebih dulu pada tahun 2014 dan dinyanyikan secara solo oleh Uda Ipank, sedangkan versi duetnya rilis tiga tahun kemudian. Kalo menurutku sih versi duetnya lebih asik, karena feel-nya lebih terasa. Lebih emosional gitu, karena dalam versi duet ini seolah-olah Si Lelaki dan Si Perempuan saling mengutarakan perasaannya masing-masing. Selain itu, di lagu versi duetnya, suara Uda Ipank terdengar lebih stabil ketimbang di versi solo. Tentunya karena skill bernyanyi Uda Ipank yang semakin matang ya.

Ratok Buaian – Ipank
Ah, lagu ini sedih banget deh. Dalam lagu ini Uda Ipank memposisikan dirinya sebagai seorang ayah yang membesarkan anak bayinya seorang diri karena ibunya telah meninggal dunia. Correct me if I’m wrong ya, karena ini bahasanya Minang banget dan sebenarnya aku nggak terlalu paham. Hihi..
Setiap kali aku mendengar lagu ini, aku membayangkan seorang ayah yang menimang-nimang bayinya yang terus menangis karena mencari ibunya, dan dengan lembut berkata,
“Cepatlah besar, Nak, doakan ibumu di surga”.
Selain liriknya yang menyayat hati, pembawaan dan penghayatan Uda Ipank juga benar-benar patut diacungi jempol, karena selama bernyanyi, Uda Ipank kayak yang terisak-isak gitu. Dapet banget deh sedihnya :’)

Mandeh Pai Ayah Bajalan – Ipank
Suka banget sama opening lagu ini. Begitu lagu ini diputar, Pendengar akan disambut suara gemuruh, disusul suara Uda Ipank yang menyanyi dengan hanya diiringi suara saluang dan sound effect kayak hembusan angin gitu. Syahdu banget..
Meski nggak semendayu-dayu lagu sebelumnya, namun makna dari lagu ini nggak kalah sedih lho. Kalau pada lagu Ratok Buaian sang penyanyi memposisikan diri sebagai seorang ayah, kali ini ia memposisikan diri sebagai anak sulung yang harus menanggung beban hidup berdua bersama adiknya karena ibunya telah meninggal dan ayahnya pergi entah kemana.

Ba Ayah Lai Babako Tido – Ipank
Sebuah lagu tentang hubungan terlarang. Dikisahkan seorang anak di perantauan baru mengetahui bahwa ibunya menjalin cinta dengan pamannya sendiri. Hal ini membuat anak itu malu untuk pulang ke ranah Minang, apalagi pamannya adalah orang terpandang di kampungnya.

Salendang Biru – Rayola feat. Ipank
Lagu ini menceritakan tentang seorang perempuan yang akan pergi merantau dan dengan berat hati meninggalkan kekasihnya di kampungnya. Sebelum ia pergi, ia meninggalkan sehelai selendang biru untuk kekasihnya sebagai ‘pengganti’ dirinya selama berada di perantauan. BTW, kok jadi ingat scene film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk pas Hayati ngasih kerudung putihnya buat Zainuddin. Wkwk..

Basandiang Bukan Jo Cinto – Rayola
Tau kisah legendaris Siti Nurbaya dong pastinya? Nah, kisah itu ada dalam lagu ini. Mendengar lagu ini seolah mendengar ratapan seorang gadis piatu yang ‘dijual’ oleh ayah kandungnya sendiri. Ayahnya yang memiliki banyak hutang nggak mampu melunasi hutang-hutangnya, sehingga ia tega ‘membayarnya’ dengan menjodohkan anak gadisnya pada orang yang ia hutangi. Tragis.

Bayang-Bayang Rindu – Rayola
Ada yang sedang berusaha move-on? Lagu ini sepertinya cocok, karena menceritakan tentang seorang perempuan yang tengah berusaha melupakan mantan kekasihnya.

Cinto Hanyo Di Denai – Rayola
Lagu ini mengisahkan tentang seorang perempuan yang baru saja ditinggal kekasihnya yang berkhianat. Sudah dikasih janji ini itu, terus dikhianati. Uh, sadis banget..

Cameh – Rayola
Makna lagu ini hampir sama kayak lagu Basamo Manjago Cinto di atas tadi sih, yakni tentang seorang perempuan yang cemas menanti kekasihnya di perantauan dan berharap untuk segera dipersunting. *Uhuk

Manunggu Janji – Ovhi Firsty feat. Andra Respati
Sebuah lagu yang berdurasi cukup panjang. Delapan menit. Haha.. Anyway, lagu Minang kayaknya nggak ada yang pendek sih. Di playlist-ku, durasi paling pendek itu empat menit lebih tiga puluh lima detik. Tapi meskipun begitu lagunya enak didengar kok, jadi meski panjang pun nggak bosan rasanya. Oh ya, makna lagu ini nggak jauh beda sama beberapa lagu duet yang sebelumnya aku sebutkan, yakni tentang seorang perempuan yang menunggu lelakinya pulang dari perantauan. Well, lagu-lagu Minang memang kebanyakan mengangkat kisah perantauan ya, karena memang merantau adalah suatu budaya yang identik dengan masyarakat Minangkabau. Mereka menganggap bahwa merantau adalah simbol kedewasaan dan kemandirian, khususnya bagi para pemuda *CMIIW

Mati Raso – Ratu Sikumbang
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Iya dong, kalo datang di awal bukan penyesalan namanya. Hihi..
Lagu ini mengisahkan tentang perempuan yang dikhianati kekasihnya. Bertahun-tahun kemudian, kekasih yang berkhianat itu datang kembali dan menyatakan penyesalannya, namun semuanya terlambat karena Si Perempuan sudah mematikan perasaannya untuk Si Lelaki. BTW lagu ini juga dinyanyikan oleh Rayola, hanya aja aku pribadi lebih suka versi Ratu Sikumbang. Hehe..

Nyao Pulang Ka Badan – Ratu Sikumbang
Ini nih yang namanya cinta datang terlambat. Dalam lagu ini dikisahkan bahwa Si Perempuan menyimpan perasaan terhadap seseorang namun belum terbalas, dan saking lamanya perasaan itu ia simpan, akhirnya ia memutuskan untuk mengubur perasaannya dalam-dalam. Namun ketika perasaan itu sudah ia kubur, cinta lamanya justru datang menghampiri.

Tirai Palaminan – Ratu Sikumbang
Lagu ini menceritakan tentang sepasang kekasih yang saling mencintai tapi nggak bisa saling memiliki karena perjodohan yang dikehendaki orangtua masing-masing. Hmm.. so sad..

Di Mimpi Datang Juo – Ratu Sikumbang
Hmm.. aku kurang paham sih sama makna lagu ini. Wkwkwk..
Kalo dari interpretasiku sendiri sih sepertinya menceritakan tentang  seseorang yang sedang kasmaran gitu, sampai-sampai terus terbayang sama pujaan hatinya. Bener nggak sih? Haha.. Correct me if I’m wrong ya.

Takicuah Di Nan Tarang – Ratu Sikumbang
Takicuah Di Nan Tarang merupakan sebuah ungkapan atau pepatah daerah Minang yang kalau diterjemahkan kedalam bahasan Indonesia sama pengertiannya dengan “Tertipu di tempat terang, atau terkecoh pada sesuatu yang sudah jelas atau nyata” (Sumber : www.ysalma.com)
Dalam lagu ini dikisahkan ada sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama tiga tahun lamanya. Si Lelaki berjanji bahwa mereka akan selalu bersama-sama selamanya. Namun ketika Si Perempuan sudah yakin, Si Lelaki justru mengingkari janjinya dengan menerima pinangan dari orang lain.


Marawa – Ratu Sikumbang
Pernah dengar lagu Just A Dream yang dipopulerkan Carrie Underwood? Nah, ini adalah versi Minang dari lagu itu. Wkwk.. Ya, makna lagunya hampir sama, yakni sama-sama menceritakan tentang kisah tragis calon pengantin yang ditinggal mati pasangannya menjelang pernikahan mereka. Tragis banget.

 Aia Mato Mandeh – Ratu Sikumbang
Lagu yang menceritakan tentang kasih sayang orangtua memang selalu menyentuh, contohnya lagu ini. Lagu ini menceritakan tentang ketabahan seorang ibu yang merawat anaknya seorang diri karena suaminya telah pergi meninggalkannya.

Talambek Pulang – Ratu Sikumbang
Aku nggak pernah nggak merinding setiap kali mendengarkan lagu ini. Lagunya sedih banget, menceritakan tentang seorang anak rantau yang pulang ke kampung dengan suka cita, berharap bisa menyenangkan ibunya yang dulu susah payah membesarkannya. Namun ketika tiba di rumah, ia terkejut melihat rumah yang dulu mereka tinggali sudah rusak dan ibunya telah tiada. Terlambat pulang :’)

 Jambangan Perak – Ratu Sikumbang
Nggak tau deh mau ngasih pendapat apa soal lagu ini. Pokoknya lagu ini cocok banget buat yang lagi fall in love.

Maulang Sayang – Ratu Sikumbang feat. Dafa Sikumbang
Ada yang memendam perasaan sama sahabat sendiri? Nah, lagu ini mengisahkan tentang seseorang yang memiliki perasaan terhadap sahabatnya, namun nggak berani menyatakan, sampai kemudian sahabatnya berpacaran dengan orang lain dan ia menyesal karena nggak menyatakan perasaannya sejak dulu. Hal itu membuat ia merasa canggung untuk tetap menjalin pertemanan dengan sahabatnya itu.

That’s all, Guys, lagu-lagu Minang yang menurutku recommended banget.
Eh, kok list-nya Ratu Sikumbang paling banyak?
Well, entahlah, aku suka banget sama lagu-lagu dan suara dia. Dulu waktu awal-awal jadi penikmat lagu-lagu Pop Minang, aku justru lebih terkesan sama Rayola. Cengkoknya mantap banget, dan suaranya merdu, apalagi pembawaannya di lagu Rantau Den Pajauah. No wonder, aku nggak pernah bosan dengerin lagu itu.

Tapi kemudian suatu hari aku iseng cari rekomendasi buat nambah playlist-ku. Dari penelusuranku, aku menemukan sebuah blog yang ngasih rekomendasi beberapa puluh lagu-lagu Pop Minang. Nah, dari daftar itu, lagu-lagu Ratu Sikumbang lah yang paling banyak membuatku terkesan.

Kalo soal suara dan skill bernyanyi, Rayola dan Ratu Sikumbang sama-sama memiliki cengkok yang mantap dan suara yang merdu mendayu-dayu, hanya aja suara Ratu Sikumbang lebih melengking dan range-nya lebih tinggi ketimbang Rayola, itulah yang jadi nilai plus. 

Honestly, salah satu keinginanku adalah bisa menyanyikan lagu Minang dengan baik. Ya, selain menikmati lagu-lagu Pop Minang, aku juga suka menyanyikannya. Setiap kali dengar lagu Minang yang aku tau, aku selalu terdorong untuk ikut bernyanyi, tapi aku nggak pernah melakukannya dengan baik. Kalo untuk menghafal lagunya sih, itu mudah. Lagu-lagu yang aku sebut di atas tadi bahkan banyak yang sudah aku hafal liriknya meski hanya dari mendengar lagunya (tanpa melihat teks liriknya). Tapi kalo untuk menyanyikannya, ya ampun.. ancur banget. Wkwk..
Maka dari dua puluh enam lagu yang kusebutkan di atas tadi, lagu yang bagiku paling mudah dinyanyikan itu cuma Ba Ayah Lai Babako Tido dan Kawin Tapaso doang, karena dua lagu itu nadanya nggak begitu tinggi dan cengkoknya masih terbilang mudah.

Entahlah, aku merasa seseorang yang ingin menyanyikan lagu-lagu Pop Minang dengan baik membutuhkan skill bernyanyi yang jauh lebih tinggi ketimbang menyanyikan lagu-lagu Pop lainnya. Rata-rata penyanyi Minang yang aku nikmati lagunya memiliki range suara yang tinggi dan suara yang ‘meliuk’ aduhai. Oke, kalo soal nada, itu bisa diturunkan menjadi lebih rendah. Kalo memang nggak bisa menyanyikan dengan nada tinggi seperti penyanyi aslinya, ya tinggal jangan ambil nada tinggi. Tapi kalo cengkok? Wah, itu pasti membutuhkan latihan yang nggak sedikit, karena kalo dinyanyikan tanpa cengkok, lagunya jadi kurang enak. Iya nggak sih? Haha..
Jumat, 20 Januari 2017 5 komentar

ONE OK ROCK : Ambitions

Well, I know it's quite late buat mengulas album terbaru dari grup band yang super-duper-gile-bener ini. Album bertajuk Ambitions ini resmi rilis pada tanggal 11 Januari 2017 lalu, tapi aku baru sempat mengulasnya sekarang. Aku yakin teman-teman One Ok Rockers semuanya udah memiliki album ini dalam genggaman masing-masing baik dalam bentuk album fisik, MP3 file, ataupun album bajakan *eh* :v

Sebenarnya sih udah cukup lama aku nggak update info tentang One Ok Rock, termasuk perihal rilisnya album Ambitions ini. Bukan karena aku udah resign jadi penggemar mereka, tapi karena nggak sempat. Apalagi belakangan ini aku udah jarang banget buka medsos. Album ini pun mungkin belum sampai ke tanganku sekarang kalo aja Tifanny nggak berbaik hati membaginya padaku hari itu.

Jum'at, 13 Januari 2017, sohibku yang nun jauh di Magelang itu menyapaku via Line. "Vidiaaaa.. sudah dapat belum album barunya OOR?" katanya. Nggak cuma nanya gitu doang, dia juga menyertakan download link. Yah, da kita mah apa atuh, cuma bisa dapetin yang ilegal. We are so sorry, Bang Tak, Bang Tor, Bang Tom, dan Bang Ryota :'v

Singkat cerita, keesokan harinya album Ambitions udah masuk kedalam music playlist di laptopku, baik yang International Version maupun yang Japanese Version. Luar biasa memang band yang satu ini. Bikin dua versi album lho. Jadi inget Nidji pas baru muncul dulu. Album debut mereka yang bertajuk Breakthru' itu kan dibuat dua versi, yakni versi Indonesia dan versi Inggris. Gimana aku nggak jatuh cinta coba?

Oke, lupakan soal Nidji. Aku bukan lagi mau bahas mereka. Hahaha..

Begitu dapat albumnya, aku langsung play lagu-lagu di album itu pakai Winamp. Sementara kupingku menikmati musik mereka, jari-jariku menari di atas keyboard (tugas kantor yang rutin kubawa pulang tiap weekend : membuat pengajuan Tunjangan Operasional Sales). Waktu denger album ini untuk pertama kali, honestly rasanya agak kecewa. Aku merasa mereka agak berbeda, kayak bukan One Ok Rock yang selama ini aku kenal. Gimana enggak? Album ini didominasi sama suara-suara keyboard dan synth, bukan raungan gitar Toru yang biasa kita dengar di album-album One Ok Rock yang sebelumnya. Gebukan drum Tomoya juga terasa kurang bandel di album ini. Rasanya kayak ada yang hilang aja. Apalagi kalo dengar album International Version-nya. Gosh! Sooooo Americanized, karena keseluruhan lagunya berbahasa Inggris. Tapi lama kelamaan, kupingku bisa beradaptasi juga. I swear it, kalo lagu-lagu dalam album ini adalah obat-obatan, aku pasti udah over dosis.

Now, let's talk about the album. Baik album International Version maupun Japanese Version memiliki empat belas track. Yang berbeda adalah list lagu dan tentu aja perbedaan bahasa di beberapa bagian lirik.

Song List album Ambitions versi Internasional

Song List album Ambitions versi Jepang

Awalnya aku sempat heran, kenapa sih cover albumnya warna kuning? Kenapa nggak warna gelap? Ternyata eh ternyata, pemilihan warna ini nggak sembarangan, Guys. Dalam interview bersama majalah Kerrang edisi 10 Desember 2016, Taka menjelaskan bahwa kuning adalah warna untuk 'harapan'. Yup, album ini memang memiliki tiga tema, yakni harapan, ambisi, dan bernyanyi bersama. "Kami ingin membuat album dimana kita semua bisa bernyanyi bersama-sama. Dengan bernyanyi secara serempak. kami berharap timbul niat di hati masing-masing untuk tidak menyerah," katanya. Keren yaa..

Sekarang kita bahas satu persatu lagu-lagunya.
  1. Ambitions (Introduction)
    Ini cuma musik pembuka, so jangan harap bisa dengar suara Taka disini. Jangankan suara dia nyanyi, suara napas dia aja nggak ada.
  2. Bombs Away
    Lagu yang ngajak jingkrak-jingkrak ini bukan menceritakan tentang perang atau teroris lho ya (mentang-mentang ada embel-embel 'bom'-nya gitu), melainkan tentang perlawanan pada diri sendiri.
  3. Taking Off
    Ah, kalo lagu ini sih pasti udah akrab banget di kuping teman-teman One Ok Rockers mengingat lagu ini udah rilis sejak bulan September lalu dan bahkan menjadi theme song film Jepang berjudul Museum. Nggak cuma lagunya aja yang keren, music video-nya juga asli, keren banget! Lagu ini mengajarkan bahwa untuk mencapai sebuah ambisi besar itu nggak mudah. Pasti ada yang namanya jatuh bangun dalam prosesnya.
  4. We Are
    Ini yang aku suka dari One Ok Rock. Mereka nggak pernah absen menyisipkan lagu-lagu yang memotivasi dan membangkitkan semangat di album-album mereka. Salah satunya lagu ini. Dengar aja liriknya..
    "Never tell yourself you should be someone else
    Stand up tall and say I'm not afraid, I'm not afraid.."
    Dan part ini nih yang aku suka banget..
    "When you're standing on the edge
    So young and hopeless
    Got demons in your head
    WE ARE.. WE ARE..
    No ground beneath your feet
    Now here to hold you
    CAUSE WE ARE.. WE ARE..
    THE COLORS IN THE DARK.."
    Mendengarkan lagu ini saat lagi down rasanya kayak jatuh, namun kemudian akhirnya bangkit dan kembali berdiri tegak. Teriakan lantang si Taka itu lho.. Duh! Bikin merinding.
    Intinya, dalam lagu ini Taka dkk berpesan pada kita untuk menjadi diri kita sendiri dan nggak mendengar kata-kata orang lain yang bersifat menjatuhkan dan menyurutkan semangat kita. Spirit booster banget lah! Dari keseluruhan lagu di album ini, menurutku lagu ini sih yang paling One Ok Rock banget.
  5. Jaded
    Sama seperti lagu We Are, lagu yang dibawakan bersama Alex Gaskarth ALL TIME LOW ini juga bersifat memotivasi. Pesan yang tersirat dalam lagu ini adalah, bahwa semua orang punya mimpi, dan kita nggak bisa cuma MENUNGGU mimpi itu menjadi nyata, melainkan BERJUANG untuk mewujudkannya. Liriknya bagus banget sih, tapi musik di akhir lagunya itu lho.. Wakakak.. Mengingatkan aku sama musik Harlem Shake yang dulu pernah viral :v
  6. 20/20
    Nah, kalo lagu ini menceritakan tentang perselingkuhan. Hahaha..
    "Now I can see that you were never honest with me
    I will never let you back into my life.."
  7. Hard to Love
    It's really a beautiful song, didedikasikan Taka untuk ayahnya, one of my favorites. Aku selalu terharu setiap mendengar lagu yang secara keseluruhan dibawakan dengan iringan gitar akustik ini. Bikin pengen meluk bapak :')
  8. Always Coming Back
    Sama seperti lagu Hard to Love, lagu Always Coming Back ini juga merupakan lagu yang didedikasikan Taka untuk ayahnya. Jujur, meskipun lagu ini udah cukup lama ada di playlist-ku, tapi aku baru tau tentang hal ini. Kukira lagu cinta :v
  9. Bedroom Warfare
    Lupakan makna vulgar dalam lagu ini. Pokoknya ini lagu sumpah-asik-banget. Siapa yang nggak goyang-goyang kepala dengar lagu ini?
  10. American Girls
    Sebuah lagu yang membuatku curiga kalo Taka atau salah satu (atau bahkan beberapa?) member One Ok Rock lainnya kepincut sama cewek Amrik. Whatever. Intinya lagu ini juga asik banget. MV-nya juga keren. Taka keliatan cute banget disitu :3
  11. Lost in Tonight
    Kalo yang satu ini menceritakan tentang pesta. It sounds like, "Lupakan semua beban. Malam ini milik kita, bersenang-senanglah!"
  12. I Was King
    Banyak yang bilang lagu ini sangat bukan One Ok Rock. Tapi aku pribadi enjoy-enjoy aja sih dengernya. Sering di-repeat malah. Menurutku musiknya lumayan keren dan agak unik juga sih, karena sepertinya baru kali ini One Ok Rock bikin musik dengan iringan cello.
  13. Listen
    Nah ini nih, lagu yang bikin aku jatuh cinta sama album ini untuk pertama kalinya, sekaligus juga lagu yang paling bikin penasaran. Gimana enggak? Di lagu ini (tepatnya di album Ambitions Japanese Edition, One Ok Rock menggandeng Avril Lavigne untuk ikut sumbang suara. Rasanya seneng banget bisa denger dua musisi favoritku berkolaborasi. Oh ya, lagu ini juga punya makna yang bagus banget. Didedikasikan untuk orang-orang yang mengalami depresi dan memiliki kecenderungan untuk bunuh diri, One Ok Rock ingin membuka mata mereka agar nggak menyerah dalam menjalani hidup.
  14. One Way Ticket
    Sebuah lagu yang menceritakan tentang kerinduan seseorang kepada kekasihnya. Lagu ini benar-benar ngajakin galau. Ngaku deh, kalian yang menjalani LDR alias long distance relationship alias hubungan jarak jauh, pasti baper kan pas dengar lagu ini? :3 BTW, lagu ini mengingatkanku sama lagu jadul milik Britney Spears yang berjudul Everytime, karena nada di bagian reff-nya yang agak mirip.
  15. Bon Voyage
  16. Start Again
  17. Take What You Want

Oh ya, bukan hanya warna musik mereka aja yang berubah, aku perhatikan English pronunciation Taka juga udah makin mantap sekarang. Dia udah nggak cadel lagi dalam pengucapan huruf 'r' di tengah kata. Damn! Kemajuan mereka benar-benar mengagumkan!

Kalo ditanya pilih mana antara album Ambitions edisi International atau Japanese, jujur aku lebih prefer yang Japanese Version. Entahlah. Lebih One Ok Rock aja gitu. Aku berharap besar bahwa One Ok Rock nggak akan menghilangkan bahasa Jepang di karya-karya mereka selanjutnya. Rasanya nggak rela aja kalo One Ok Rock sampai kehilangan identitas. Geezz.. sekarang-sekarang aja udah banyak media yang mengatakan demikian kan? Belum lagi para penggemar yang kecewa karena perubahan ini. But however, meskipun nggak sedikit yang merasa kurang sreg sama album ini, Ambitions tetap berhasil lho menduduki posisi satu di Jepang dengan penjualan album sebanyak 232 ribu kopi di minggu pertama album ini dirilis. Salut!
Minggu, 18 September 2016 0 komentar

The Black Parade Tribute Album


Sekitar dua bulan yang lalu, keluarga MCRmy sempat dibikin heboh dengan kemunculan sebuah video teaser yang diunggah di official account Facebook My Chemical Romance. Video dengan durasi sekitar tiga puluh detik itu menampilkan sebuah bendera dengan logo (baru) My Chemical Romance yang berkibar perlahan dengan intro lagu Welcome To The Black Parade sebagai backsound. Yup, cuma video bendera berlogo My Chemical Romance yang berkibar. Tapi di akhir video, sebuah angka misterius muncul.

9/23/16.
Sebuah tanggal. Mereka nggak menjelaskan apapun, sehingga kemunculan video misterius itu memunculkan beberapa asumsi dari para MCRmy, khususnya mereka yang belum sukses move on dari band yang memutuskan 'turun panggung' di tahun 2013 ini. Ada yang menduga bahwa mereka bakal meluncurkan album baru, ada yang menduga bahwa mereka bakal reunian, ada yang ngarep mereka bakal mengadakan tour.. Nggak terkecuali aku. Tapi ada juga sih yang menanggapinya dengan biasa aja tanpa banyak berasumsi dan berharap. Maklumlah, kami memang udah beberapa kali di-PHP-in. But however, sebagian besar dari kami excited banget karena kemunculan video teaser itu. Ngaku deh, kamu yang MCRmy pasti sempat berharap sama kan?

Eh, nggak taunya apa?
Keesokan harinya, mereka (official account Facebook My Chemical Romance) memupuskan harapan kami. Mereka update status gini,
"We've been really touched and blown away by the response to the teaser trailer. We are not touring and there is no reunion planned. Only a release for the anniversary of The Black Parade. Thanks so much for continuing to keep MCR in your minds and in your hearts".

Haaaahh.. kecewa deh jadinya. Rupanya video teaser itu cuma untuk menyambut peringatan anniversary album The Black Parade yang kesepuluh tahun. Well, semenjak saat itu, aku benar-benar berhenti berharap akan kembalinya My Chemical Romance, hanya aja memang ada rasa penasaran sama tanggal yang tertera di video teaser itu. Kira-kira ada apa ya di tanggal 23 September 2016?

Daaaaann.. sebulan setelah itu, aku dibuat surprised sama postingan yang di-share sama salah satu teman One Ok Rocker-ku di Line. Postingan itu menyebutkan tentang One Ok Rock yang bakal meng-cover lagu The End yang merupakan salah satu dari lagu My Chemical Romance di album The Black Parade. One Ok Rock bukan satu-satunya band yang meng-cover lagu dalam album ini, tapi ada dua belas band lainnya yang ikut berkontribusi dalam peluncuran album bertajuk The Black Parade Tribute ini. Dua diantaranya adalah Asking Alexandria dan Crown The Empire yang merupakan band-band favoritku.

Saat itu, rasanya rasa kecewaku sama My Chemical Romance cukup terpulihkan. Aku kembali bersemangat dan nggak sabar kepengin cepat-cepat bulan September tiba. Yah, gimana nggak excited coba? Band-band favoritku ikut campur tangan dalam peluncuran album tribute band favoritku juga. It was more than just a good news! Aku sempat luar biasa nggak sabaran waktu nyimak teaser albumnya di Line.

Dan sekarang, album itu finally udah masuk ke playlist-ku! Big thanks to Putri dan Tifanny yang berbaik hati nge-share download link-nya ke aku. Kalian care sekali ^^
Tanpa banyak cingcong, setelah dapet link itu dari mereka berdua, malam harinya aku langsung download tuh album. Kenapa harus download malam? Ya karena aku memang cuma bisa mengandalkan kuota malam buat download file-file besar. Hahahaha..
Karena downloadnya lumayan lama sementara mataku udah lumayan berat, akhirnya downloadannya aku tinggal tidur deh.

Besok paginya, sambil prepare berangkat ngantor, aku play semua lagu dalam album itu. Nah, berikut ini adalah urutan lagu-lagu dalam album The Black Parade Tribute ini dari yang paling aku suka :
1.     House Of Wolves – Palisades. I never listened to their songs before, tapi sumpah.. denger coveran mereka yang satu ini, aku langsung jatuh cinta. Lagunya asik banget, bikin aku nge-dance dan jingkrak-jingkrak sendiri di kamar sepanjang lagu.
2.     Sleep – New Years Day. You know what? Waktu awal dengar lagu ini, aku sempat berpikir kalo penyanyinya cowok. Hahaha.. Tapi setelah dengar lagu ini untuk kedua kalinya plus browsing, aku jadi tau bahwa penyanyinya cewek. Suaranya keren banget, apalagi di bagian teriakan.. ugh, dapet banget feel-nya.
3.     Cancer – Twenty One Pilots. Awal dengar lagu ini, jujur rasanya agak bosan karena ada beberapa part yang liriknya diulang-ulang. Tapi setelah dengar lagu ini untuk kedua kalinya, penilaianku tentang lagu ini berubah. Aku pikir Twenty One Pilots ini keren banget ya. Karena apa? Ketika mostly para musisi meng-cover lagu-lagu dalam album ini mirip dengan versi aslinya, Twenty One Pilots justru berani beda.
4.     Teenagers – Against The Currents. Sejak pertama kali dengar band ini duet bareng Taka di lagu Dreaming Alone, aku udah jatuh cinta banget sama suara lembut-lembut empuknya Crissy. Dan aku pikir lagu ini lumayan asik dibawakan sama mereka.
5.     Dead – Escape The Fate. Dari segi musik, menurutku ini terlalu mirip sama versi aslinya, tapi keren laah..
6.     Famous Last Words – Asking Alexandria. Jujur, aku agak kecewa sama yang satu ini. Aku sama sekali nggak berpendapat bahwa coveran mereka jelek, sama sekali enggak. Hanya aja aku berpikir ini nggak sesuai dengan ekspektasiku. Serasa bukan Asking Alexandria.
7.     Welcome To The Black Parade – Crown The Empire. Ini apalagi. Duuuhh.. sumpah, sebenarnya aku berharap banyak sama mereka. Karena apa? Pertama, lagu ini adalah the best song-nya album ini; kedua, Crown The Empire adalah salah satu band favoritku. Aku jatuh cinta setengah mati sama lagu The Fallout dan Johnny Ringo-nya mereka.  Tapi pas dengar lagu ini versi mereka.. well entahlah, aku nggak merasa lagi dengar Crown The Empire. Tapi yaaah.. walaupun lagu Welcome To The Black Parade versi mereka nggak mampu bikin aku merinding kayak versi aslinya, tapi not bad lah..
8.     Mama – Ghost Town. Dua kata buat lagu ini. Musiknya asik. Bikin goyang. Dan satu lagi.. suara vokalisnya seksi. I dunno. Hahaha..
9.     The End – One Ok Rock. Alright, mungkin teman-teman One Ok Rocker bakal mengutukku habis-habisan karena menempatkan band sekelas One Ok Rock pada posisi ini. Well, entahlah.. Aku kecewa, kenapa One Ok Rock justru kebagian lagu dengan durasi paling sedikit dalam album ini. Dan nggak tau kenapa, kok rasanya menurutku lagu ini kurang cocok aja dibawakan sama mereka. Kalo aja One Ok Rock meng-cover lagu lain (I Don’t Love You, atau The Sharpest Lives, misalnya), mungkin coveran mereka bakal lebih memuaskan. I’m so sorry for that..
10. Disenchanted – Chunk! No, Captain Chunk. Sebenarnya ini lagu favoritku banget. Tapi sayang, CNCC nggak berhasil membuatku merinding seperti kalo aku dengerin lagu versi aslinya.
11. The Sharpest Lives – State Champs
12. This Is How I Disappear – Creeper
13. I Don’t Love You – Mouse Blood


That’s all, Guys. Intinya, menurutku sih album ini cukup sukses ya. Cover-nya bagus-bagus, walau TETEP nggak mengalahkan versi aslinya yang menurutku berasa banget emosionalnya. Dan yang paling penting, album ini benar-benar memberiku nostalgic feeling. Andai keluarga MCRmy masih sesolid dulu, wah, pasti grup MCRmy udah rame banget deh, pada diskusi tentang album ini. Tapi sekarang, yang bisa kami lakukan cuma mengutarakan pendapat mereka tentang album ini di status media sosial masing-masing. Aku sendiri cuma sharing sama Tifanny dan pembaca blogku ini. And one more thing, aku nggak ragu untuk bilang bahwa The Black Parade adalah album musik terbaik yang pernah aku dengar. Aku nggak pernah suka sama sebuah album yang seluruh lagunya aku suka. Pasti aja ada satu-dua lagu yang kurang klop di kuping. But The Black Parade album is the exception. Aku suka sama semua lagu dalam album itu, dan meskipun udah enam tahun berlalu (karena aku telat banget kenal MCR dan baru punya album itu di playlist-ku pada tahun 2010), rasanya lagu-lagu dalam album The Black Parade tetap nggak pernah bosan kudengar dan kunyanyikan sampai sekarang. So I think The Black Parade is not dead, and never gonna die :)
Senin, 21 Desember 2015 46 komentar

Tato One Ok Rock

Setelah beberapa bulan belakangan ini aku menulis tentang One Ok Rock di blog ini, tampaknya ada beberapa penggemar mereka yang penasaran dengan arti tato di tubuh para personil One Ok Rock. Alhasil aku jadi termotivasi untuk mengorek informasi, daaaaann.. inilah yang aku peroleh..


TATO TAKA


1.       Lengan atas sebelah kanan


·         Yang paling atas itu, adalah tato berbentuk matahari dengan dua garis-garis sinarnya menunjuk ke angka 12 dan angka 1 yang berarti jam 1 tepat (one o’clock)
·         Di bawah gambar matahari itu, terdapat tato bertuliskan ‘CHAOSMYTH’. Seperti yang kita ketahui, CHAOSMYTH merupakan salah satu judul lagu One Ok Rock yang didedikasikan untuk teman-temannya

2.       Lengan bawah sebelah kanan


·         Bertuliskan :
Watch your thoughts they become words
Watch your words because they will become actions
Watch your actions for they become habits
Watch your habits they become your character
And finally watch your character because it will ultimately become your destiny

.. yang artinya ‘Perhatikan pikiranmu, ia akan menjadi kata-katamu. Perhatikan kata-katamu, ia akan menjadi tindakanmu. Perhatikan tindakanmu, ia akan menjadi kebiasaanmu. Perhatikan kebiasaanmu, mereka akan menjadi karaktermu. Dan perhatikan karaktermu, karena akhirnya ia akan menentukan takdirmu’.

Kalo diperhatikan dari jauh, tato ini berbentuk seperti sebuah tanda panah.

3.       Lengan atas sebelah kiri


Banyak tato yang tergambar disini, diantaranya adalah 4 simbol, yakni simbol hati, otak, tanda tanya dengan huruf ‘y’ didalamnya—yang berarti ‘why?’, dan sebuah segitiga dengan satu mata yang disebut-sebut sebagai simbol all seing eye. Nah, simbol-simbol inilah yang paling bikin para fans penasaran, dan beberapa ada yang salah paham dengan beberapa simbol yang tergambar disitu.  Padahal, dari letak simbol-simbol itu, keempat simbol itu merupakan satu kesatuan yang mewakili ‘pandangan, perasaan, dan pemikiran’.
·         Simbol otak, digambarkan memiliki dua sisi, yakni sisi kiri dan sisi kanan, yang berarti otak kiri dan otak kanan, dan terletak dibagian tengah atas.
·         Simbol hati, terletak di bagian bawah dari simbol otak sebelah kanan, karena seperti yang kita ketahui bahwa otak kanan bertugas mengontrol emosi atau perasaan
·         Simbol ‘?’ dengan huruf ‘y’ didalamnya—yang berarti ‘why?’ terletak di bagian bawah dari simbol otak sebelah kiri untuk mewakili pikiran atau logika
·         Sedangkan simbol all seeing eye yang digambarkan dengan simbol segitiga dan mata satu adalah simbol yang mewakili ketiga simbol di atas tadi
·         Ada juga gambar sepasang telapak tangan. Gambar telapak tangan sebelah kanan bertuliskan ‘LOVE’—cinta, sedangkan gambar telapak tangan sebelah kiri bertuliskan ‘HATE’—benci. Tangan menggambarkan keputusan seseorang. Dengan kata lain, masing-masing orang berhak memutuskan untuk ‘mencintai’ ataupun ‘membenci’
·         Taka juga memiliki tato bergambar tiga simbol petir, dan tato bertuliskan ‘TTR’ yang berarti ‘Toru, Tomoya, Ryota’
·         Ada juga sebaris tato dengan simbol-simbol berukuran kecil : gigi geraham, bintang, salib-salib, obat nyamuk bakar (?) dan apalah itu.. nggak keliatan. Nggak tau tuh artinya apaan..

4.       Lengan bawah sebelah kiri


·         Bertuliskan ‘xx.xv’ yang merupakan angka romawi dari ‘35’. Taka percaya bahwa ‘35’ adalah angka keberuntungannya.
·         Bertuliskan sebuah kutipan dari Elmer G. Letterman, “A man may fall many times, but he won’t be a failure until he says that someone pushed him”
5.       Pergelangan tangan sebelah kiri
·         Bergambar seekor kelelawar


TATO TOMOYA

1.       Lengan sebelah kanan
·         Bertuliskan sebuah kutipan, “If not us, who? If not now, when?”

2.       Lengan sebelah kiri
·         Bertuliskan “TTR” yang berarti ‘Taka, Toru, Ryota’
3.       Area dada



·         Bergambar mirip pagar gitu deh. Tomoya dapetin tato ini saat ia dan One Ok Rock tour ke Thailand. Tomoya percaya bahwa tato itu merupakan jimat yang bisa melindungi dirinya.
4.       Punggung



·         Bergambar sepasang Ganesha—salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu yang digambarkan berkepala gajah dan berperut buncit
5.       Kaki


·         Tato yang melingkar di betis sebelah kiri, dan tato yang memanjang di sekitar punggung kaki kanan itu.. entahlah artinya apaan (=__=)


TATO RYOTA

1.       Bintang-bintang di area dada


2.       Tato berbentuk mirip segitiga-segitiga di area tulang rusuknya


3.       Tato bintang bertuliskan TTT—yang berarti Taka, Toru, Tomoya—didalamnya yang terletak di salah satu lengannya
4.       Tato bertuliskan ‘STAY COOL’ di lengan sebelah kiri, dan ‘STAY FOOL’ di lengan sebelah kanan


5.       Tiga simbol petir di lengan sebelah kanan

6.       Ada tulisan ‘Kiss my bass’, dan tato bergambar buku di lengan sebelah kiri. Well, seperti yang kita ketahui, Ryota suka baca buku ^^


TATO TORU

Hah? Emang Toru punya tato?
Jawabannya adalah 'enggak', Pembaca. Coz seperti yang kita ketahui, Toru takut alias fobia sama jarum, maka nggak ada satupun tato di tubuhnya, kecuali kalo dia nge-doodle tubuhnya sendiri pake marker :v



Yup, mungkin cuma segitu yang bisa aku tuliskan. Well, sebenernya aku bukan tipe cewek yang suka sama cowok bertato. Tapi dalam hal ini beda lho ya. Mereka adalah para musisi yang aku kagumi karyanya. Jadi mau bertato ataupun enggak ya nggak masalah. That's all, One Ok Rockers. Semoga informasinya bermanfaat. Maaf kalo ada yang kurang ^^


Sumber : Pera Pera Sakura, ONE OK ROCK Wiki, dan sumber lainnya

Total Tayangan Halaman

 
;