Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 08 Maret 2025 0 komentar

BUKU : SURAU by Mystic Waves. Kepada Siapa Kamu Menyembah?

Another book by Mystic Waves alias mwv.mystic, yang singkatnya kita sebut MWV aja lah yaa. Dari empat buku karya mereka, ini buku ketiga mereka yang kupunya. Lucunya, aku sempat berpikir bahwa ini benar-benar buku ketiga mereka. Wkwkwk. Asli, malu banget waktu adminnya ngepost foto buku terbarunya ini di Instastory akun pribadinya dengan caption "anak keempat" gitu, aku komen, "Satunya apaan?", dan malah tadinya aku pikir anak satunya itu anak beneran a.k.a his daughter (ngaco banget, Ya Allah, untung nggak disebut di komen). Wkwkwk. Aku lupa kalo aku nge-skip buku ketiga mereka yang berjudul Jaga Mayit. Well, the story is good tho', as always. Hanya aja kupikir, untuk Jaga Mayit ini, baca versi feed pun cukup buatku.

Nah, berbeda dengan dua buku sebelumnya yang pernah kuulas di blog ini (Mereka Ada Vol. 1 dan Mereka Ada Vol. 2) yang memuat kisah-kisah dari narasumber sekaligus pengikut MWV, cerita Surau berasal dari urband legend yang beredar di sebuah daerah di Sumatera Barat tentang adanya sebuah surau yang dijadikan lokasi gantung diri. Dalam sebuah live streaming bersama Penerbit Moka di Instagram, Admin AGP menjelaskan bahwa penutur kisah ini adalah ibunya sendiri, yang mengalami langsung masa ketika peristiwa tersebut terjadi. Cerita yang disampaikan sang ibu kemudian dikembangkannya menjadi sebuah novel yang sarat dengan pesan-pesan mendalam dan 'bumbu' horor khas MWV.

MWV mulai memposting Surau di akun Instagramnya pada akhir bulan September 2023 dan selesai pada awal Desember 2023. Mungkin karena melihat banyaknya respon positif dari para pembaca, plus dukungan atas ide untuk menerbitkan kisah Surau versi cetak yang disampaikan lewat Instagram Channel-nya, akhirnya Admin AGP memutuskan untuk mencetak novel fisiknya.

Pre-order dibuka pada tanggal 24 sampai dengan 28 Januari 2025. Aku memilih checkout di pre-order hari kedua alias tanggal 25, karena kupikir harganya bakal jadi lebih murah dengan adanya event payday sale, tapi ternyata sama aja. Wkwk. But, at least aku dapat diskon live sih. Lumayan kaget juga waktu kulihat tanggal estimasi pengirimannya jatuh di menjelang akhir bulan Maret. Tapi alhamdulillah, di tanggal 11 Februari, buku ini udah sampai ke tangan.

Ada tiga paket yang ditawarkan pada program pre-order ini : Paket Baruak, Paket Niko, dan Paket Marhan. Aku sendiri memilih Paket Niko dengan merchies berupa sebuah kalender, selembar fan-art, sebuah pouch, selembar stiker, dan sebuah kitab hitam (buat nyatet dosa ceunah). Tadinya kukira kitab hitam ini bakal mirip-mirip Death Note. Wkwk. Tapi ternyata lebih kayak buku notes kecil gitu. Aku suka banget pouch-nya. Di paket pre-order Mereka Ada Vol 2 yang kubeli dulu juga MWV ngasih merch berupa pouch sih. Tapi tipis dan kecil gitu, kupakai buat naruh charger dan earphones. Tapi pouch yang dikasih di pre-order Surau ini tebel banget dan ukurannya lumayan besar. Kurasa muat buat tempat mukena travel.

Alright, now let's dive into the book!



Niko dan Marhan adalah sepasang sahabat yang sama-sama menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren di Sumatera Barat. Mereka memiliki latar belakang dan kepribadian berbeda. Niko merupakan keturunan asli Minang. Pribadinya yang riang, penuh semangat, cuek, humoris, dan ceplas-ceplos membuatnya sangat easy-going. Sedangkan Marhan merupakan pelajar pindahan dari pulau Jawa. Berbanding terbalik dengan Niko, Marhan lebih pendiam, agak pemalu, dan emosional. Meskipun begitu, Marhan adalah pelajar yang berprestasi hingga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke Mesir.

Namun sebelum keberangkatannya ke Negeri Piramida, Marhan berkeinginan untuk menikah dengan pujaan hatinya yang merupakan salah satu santriwati di pondok pesantren yang sama, Salma. Oleh karena itu, di hari kelulusan, dengan 'didorong' Niko, Marhan menghadap ayah Salma dan mengungkapkan niat untuk meminang putrinya. Niat itu disambut baik oleh ayah Salma yang dikenal dengan nama Datuak Kayo itu. Pak Datuak pun meminta Marhan untuk datang ke rumahnya agar mereka bisa ngobrol lebih jauh.

Long story short, tiga hari kemudian setelah pertemuan di hari kelulusan itu, dengan ditemani Niko, Marhan menepati janjinya untuk menemui Datuak Kayo di rumahnya, di sebuah kampung bernama Limau Bareh. Berbekal segudang prestasi dan ilmu agama yang dimilikinya, Marhan merasa cukup percaya diri. Namun rupanya, dua hal tersebut belum cukup bisa meyakinkan ayahanda sang pujaan hati. Ada satu tantangan lagi yang harus dipenuhi Marhan untuk bisa meminang Salma, yakni meramaikan kembali surau Nurul Falah, rumah ibadah yang didirikan Datuak Kayo yang telah lama ditinggalkan jamaahnya. Mendengar hal itu, Marhan dan Niko tertegun. Rumah ibadah seharusnya menjadi pusat kehidupan, bukannya ditinggalkan dan dilupakan. Bersama Niko, Marhan pun menerima tantangan itu. 

Tapi, perjuangan mereka nggak semudah yang dibayangkan. Di tengah usaha Marhan dan Niko menghidupkan kembali nurani warga kampung Limau Bareh, berbagai kejadian aneh di luar nalar terjadi, mulai dari gangguan pocong, penampakan dan bayangan wanita yang gantung diri, serta gangguan-gangguan mistis lainnya, mengguncang hati dan keyakinan mereka. Niko yang semula termotivasi untuk mengajak anak-anak kampung belajar mengaji dan menuai pahala, mulai ragu untuk melanjutkan perjuangannya. Namun Marhan yang meyakini bahwa ini adalah tantangan terakhir untuk bisa mendapatkan restu Datuak Kayo, bersikukuh untuk tetap bertahan. Mampukah Marhan membuktikan dirinya di tengah misteri yang meliputi kampung Limau Bareh, atau justru terjebak dalam ambisi yang perlahan menggerogoti ketulusannya?

 ***

Well, seperti yang udah kusebutkan di awal, buku ini nggak hanya menawarkan kisah yang ngeri dan menegangkan, tapi juga banyak pesan-pesan positif yang bisa kita petik di dalamnya, khususnya buat kita-kita yang beragama Islam ya. Aku bener-bener menyayangkan salah satu tokoh agamis dalam kisah ini (yang nggak bisa aku sebutkan, karena bakal jadi spoiler). Selama hidupnya dia baik dan merupakan ahli ibadah, tapi gara-gara 'kepeleset' minta tolong dukun, akhir hidupnya jadi setragis itu. 

Buatku pribadi, kisah dalam buku ini membuatku merenung, bahwa betapa celakanya kita jika menempatkan rasa cinta terhadap manusia di atas rasa cinta kita terhadap Tuhan, dan bahwa kadar keimanan seseorang itu naik turun. Kadang seseorang bisa merasa dekat banget sama keyakinannya, tapi ada saat-saat tertentu di mana keraguan membuat iman itu goyah, dan Tuhan bisa dengan mudahnya hinakan seseorang agar kita sadar bahwa Tuhan itu nggak main-main dalam urusan keyakinan.

Daaaan.. sebagai pembaca cerita-cerita MWV sejak 2016, aku merasakan banget penulisan adminnya yang makin baik, mulai dari yang apa adanya sesuai penyampaian narasumber, sampai penulisan seperti sekarang yang begitu detail sampai terasa 'hidup', bahkan menyentuh hati pembaca. Beberapa waktu sebelum kisah Surau ini dipost di feed Instagram MWV, aku sempat melihat Admin AGP memposting sebuah buku berjudul Save The Cat! Write a Novel karya Jessica Brody di Instastory akun pribadinya. Lewat Instastory-nya itu dia mengungkapkan bahwa saat itu dia baru selesai baca buku itu.

FYI, buku Save The Cat! Write a Novel ini bukan novel ya, melainkan buku yang menjelaskan tentang gimana caranya menulis novel dengan baik dan menarik. Bukan soal gaya bahasa atau keindahan kata-kata, tapi lebih kepada gimana caranya membangun plot yang kuat dan menyusun narasi yang memikat. Nah, ternyata bener, Surau adalah cerita pertama yang dia tulis dengan menerapkan ilmu-ilmu yang dia ambil dari buku Save The Cat! Write a Novel ini. Boom banget sih, penerapannya sukses lho.

Tapi memang Gamang Ranah Minang—tulisan-tulisan karya MWV yang berlatar belakang di Minangkabau, Sumatera Barat—nggak ada yang gagal sih. Selain Surau, kisah yang paling aku suka adalah Kemarin Paman Pulang yang diangkat dari sebuah tragedi pembunuhan yang dilakukan seorang kakak terhadap adik kandungnya sendiri di Kabupaten Agam. Kalo nggak salah, Admin AGP pernah mengungkapkan bahwa pelaku dan korban ini masih ada hubungan keluarga dengan dia. Trus ada juga Palasik Mayik yang nggak hanya kuharapkan bakal jadi the next book after Surau, tapi juga berharap banget bisa difilmkan, karena jujur, bosen banget nggak sih lihat film-film horor Indonesia itu latar belakangnya dari Jawa melulu? 😔

Oke, back to the Surau yah. Menurutku di buku ini ada beberapa tulisan yang sedikit mengganjal buatku dan kayaknya perlu revisi deh.
  1. Di halaman 77-79, diceritakan Marhan sedang sholat tahajud dan memasuki rokaat kedua. Tapi di menjelang akhir bacaan Al Fatihah-nya, tiba-tiba dia denger suara kayak orang tercekik gitu di belakangnya. Karena suara itu terdengar beberapa kali, konsentrasi Marhan pun terpecah. Dia pun memutus sholatnya dan berbalik. Ketika itulah Marhan melihat sesosok penampakan yang bersuara kayak orang tercekik tadi. Tapi anehnya di halaman 79 ditulis, "Dalam posisi duduknya, ia menyaksikan sosok itu yang semakin tinggi dan melayang."
    Menurutku, bagian ini rancu, karena Marhan kan tadi sedang baca Al Fatihah ya, yang berarti dia tuh sedang dalam posisi berdiri. Kok tiba-tiba posisinya jadi duduk? Kecuali kalo sebelumnya diceritakan bahwa dia kaget sampai jatuh terduduk.
  2. "Niko yang sebelumnya diam, kini segera bergerak dan bacaan-bacaan Darwis agar tidak sampai melukai sahabatnya". (Hal. 99)
    Kalimat ini rasanya kurang bisa dipahami dan bahkan janggal menurutku. Kayaknya harusnya ditulis "... kini segera bergerak agar Darwis tidak sampai melukai sahabatnya" kali yaa.
  3. "Namun ternyata teror jin yang sudah tidak bisa ia tahan hingga membuat kepercayaan kecokelatan itu goyah". (Hal. 117)
    Kalimat ini juga janggal banget. Kata 'kecokelatan' itu kayaknya nggak seharusnya ada di situ.
Dan selain tulisan-tulisan yang janggal di atas, banyak juga kutipan-kutipan yang bagus banget buat dijadikan renungan.
  1. "Quran itu bisa sekadar sampai tenggorokan saja jika tidak ada akhlak yang baik dan keimanan yang kuat. Lama kelamaan ia akan terangkat, lalu tanpa kalian sadari, ketika ia tidak lagi kalian jaga, ia akan menghilang. Maka genggamlah dengan erat. Jaga dia hingga kita bertemu dengan maut yang sudah Allah janjikan". (Hal. 10)
  2. "Kecintaan manusia dengan manusia lainnya itu harus ada di bawah kecintaan manusia pada Allah, Bang... Kalau Abang cinta sama Allah, Allah akan selalu ada, Bang. Tapi kalau Abang cinta sama aku, aku nggak akan selalu ada. Ada waktunya nanti masing-masing orang selesai". (Hal. 252)
  3. "Ingin dipuji hanyalah satu cabang di antara cabang-cabang riya. Riya secara garis besar adalah menjadikan makhluk ciptaan Allah sebagai alasan kamu beribadah.... Maka dari itu Allah memberikan tempat yang begitu mulia bagi orang-orang yang ikhlas dalam beribadah atas dasar ketakwaan. Dan yakinlah, ikhlas dan riya ini sebenarnya hanya dibatasi oleh satu benang tipis yang sangat sulit dikira-kira oleh manusia.... Allah itu Maha Membolak Balikkan Hati seseorang. Tentu orang akan memberikan rasa ikhlas itu hadir bagi hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Namun bukan berarti kita hanya menunggu hidayah datang begitu saja, kita harus sadar akan apa yang kita lakukan, apakah sudah terjerumus ke riya atau masih berada di jalan yang lurus. Kalau kita sudah terjerumus, segera muhasabah diri dan kembali ke hakikatnya seorang hamba melakukan ibadah. Mohon ampun atas kesalahan kita, dan minta Allah kokohkan kita lagi dalam keikhlasan serta keistiqomahan." (Hal. 333-334)
  4. "Karena riya ini adalah seburuk-buruknya pencuri amal. Kalian punya ibadah apa saja, maka ia akan disapu bersih Allah begitu saja". (Hal. 334)
  5. "Allah ciptakan kematian dan perpisahan agar hamba-Nya hanya boleh berharap pada-Nya. Satu-satunya Dzat yang kekal dan selalu ada. Bukan pada makhluk yang akan mati dan binasa. Allah ancamkan orang-orang dengan neraka agar seseorang tidak bertindak sewenang-wenang selama hidupnya. Namun ini bukan bentuk Allah menyengsarakan manusia, karena Allah juga memberikan janji akan mengampuni seluruh dosa orang-orang yang bertaubat tanpa terkecuali dengan sifat Maha Pemurah dan Maha Penyayang yang Dia miliki. Allah memberikan kita rasa takut, agar kita berharap dan menggantungkan diri hanya kepada diri-Nya, yang menciptakan rasa takut itu sendiri". (Hal. 347)
That's all, Guys. Menurutku sih worth reading banget yah. Buat yang penasaran dengan cerita lengkap perjuangan Marhan dan Niko, langsung aja simak ceritanya di Instagram @mwv.mystic kalo kamu kaum mendang-mending dan suka bacaan gratis, KaryaKarsa kalo kamu males scroll Instagram, atau bisa juga langsung checkout bukunya di sini.
Jumat, 30 April 2021 0 komentar

BUKU : Mereka Ada VOL. 2 by Mystic Waves

Setelah menerbitkan buku pertamanya pada Februari 2019, Mystic Waves (atau mwv.mystic), akun Instagram favoritku yang biasa memposting cerita-cerita horor based on true story akhirnya menerbitkan buku keduanya pada tanggal 1 April kemarin. 

Well, pada awalnya, buku ini dijadwalkan terbit pada 25 Maret. Aku sudah ambil ancang-ancang untuk segera check-out via Shopee. Namun beberapa hari sebelum tanggal tersebut, pihak Loveable selaku penerbit memundurkan jadwalnya menjadi tanggal 1 April. Aku sempat menanyakan hal ini saat Admin AGP, pengelola akun Mystic Waves melakukan live streaming di Instagram, katanya pemunduran jadwal ini dilakukan karena masih adanya beberapa hal yang musti disempurnakan. 

Yup, berbeda dengan penerbitan buku pertamanya, pada penerbitan buku kedua ini, aku antusias banget ikut pre-order. Untuk program pre-order ini, selain mendapatkan harga buku yang lebih murah dari harga normal, peserta pre-order juga berhak mendapatkan bonus, tergantung dari paket yang peserta pre-order pilih. Aku memilih Paket Delima yang mendapatkan bonus berupa sticker pack, pouch, voucher diskon Loveable Store, subsidi ongkir, game Ouija digital, dan satu buah buku terbitan Loveable. 

Kukira buku ini baru akan datang bulan Mei, namun rupanya buku ini tiba lebih cepat dari perkiraanku. Kamis 22 April, buku ini mendarat di kantorku, dan aku langsung menelanjanginya untuk mengecek kelengkapan paket yang kupesan, dan syukurlah semuanya ada, kecuali game Ouija digital yang masih belum aku ngerti aksesnya dimana. Wkwkwk. 

Oke, sekarang pindah ke pembahasan isi bukunya. 

Nggak seperti Mereka Ada VOL 1 yang terdiri dari empat kisah yang ditulis oleh empat narasumber berbeda, empat cerita dalam Mereka Ada VOL 2 ini ditulis oleh satu orang narasumber, yakni Mas Rama Eka Putra, yang memang merupakan narasumber sekaligus MWVers senior. Mas Rama ini bisa dibilang adalah seorang pegiat alam karena hobinya naik turun gunung. Oleh karena itu, sebagian besar kisah yang ia bagikan adalah pengalaman-pengalaman mistisnya selama muncak. Maka dalam buku ini, ia sendiri lah yang menjadi tokoh utamanya. 

Si Cantik Merah Delima

Selain merupakan seorang pegiat alam, Rama merupakan seorang karyawan di sebuah perusahaan asing di Jakarta. Tinggal di kota besar sejak kecil membuatnya tumbuh menjadi seseorang yang skeptis terhadap hal-hal gaib. Suatu hari di tahun 2009, Om Bertus, salah satu kliennya, memberinya sebuah batu merah delima. Karena cantiknya batu itu, Rama menjulukinya 'Si Cantik'. Namun yang nggak ia sadari, batu pemberian kliennya itu rupanya merupakan batu bertuah yang memiliki khodam berupa sesosok jin yang kerapkali menampakkan wujudnya sebagai wanita cantik dengan pakaian adat Dayak. Gangguan demi gangguan Rama alami dari sosok itu. Hanya gangguan-gangguan kecil sebenarnya, karena memang ia hanya ingin menunjukkan eksistensinya kepada Rama. Hingga suatu hari, sosok itu merasuki Vero, rekan kerja Rama di kantor. Melalui Vero, ia memperkenalkan dirinya sebagai 'Rimbun' dan menyatakan ketertarikannya untuk menjadi penjaga untuk Rama. Sejak saat itu, pandangan Rama terhadap dunia gaib perlahan berubah. Ia pun mulai terbiasa dengan hal-hal gaib yang terjadi di sekitarnya. 

Di Balik Pesona Gunung Salak

Sekitar satu bulan setelah Rama berkenalan dengan Rimbun, Rama dan teman-temannya melakukan diklat bersama orang-orang yang tergabung dalam organisasi pecinta alam. Diklat ini dilaksanakan di Gunung Salak. Di tengah-tengah kegiatan tersebut, Rama bertemu dengan seorang pendaki wanita yang kehabisan bekal. Merasa iba pada pendaki wanita yang tampaknya terpisah dari rombongannya tersebut, Rama memberinya bekal yang ia bawa tanpa menaruh kecurigaan apapun. Well, di antara empat cerita dalam buku ini, entah kenapa cerita ini yang paling membuatku merinding. Bahkan meski sudah membaca isi ceritanya sebelum dibukukan, ketika membaca kembali kisah ini di buku, aku masih merasa merinding. Aku membayangkan berada di posisi Rama : Di tengah hutan, berkali-kali bertemu satu orang asing yang sama, ngobrol nyambung, namun kemudian menemukan fakta bahwa orang itu sesungguhnya bukanlah manusia. Hiii..

Satu Suro di Gunung Lawu

Dalam kalender Jawa, ada satu hari yang dianggap keramat, yakni malam Satu Suro, atau kalo dalam kalender hijriyah itu sama dengan tanggal satu Muharram. Cerita pada bab ini berlatar antara tahun 2009 atau 2010. Dua hari menjelang malam Satu Suro, Rama dan enam orang junior di kampusnya pergi mendaki ke Gunung Lawu. Kebetulan pada Malam Satu Suro, Gunung Lawu biasanya ramai dengan pendakian, baik dari kelompok pendaki maupun warga sekitar yang ingin menyaksikan upacara Malam Satu Suro, berbeda dengan rombongan Rama yang hanya berniat muncak lalu kembali ke Jakarta sebelum upacara tersebut dilaksanakan. Namun di pagi hari menjelang kepulangan mereka, mereka mendadak harus memecah tim menjadi dua karena ada beberapa orang yang berubah pikiran, ingin menyaksikan upacara Malam Satu Suro. Rama adalah salah satu orang yang memutuskan untuk tetap pulang hari itu. Ia nggak peduli dengan ucapan beberapa warga yang ia temui, yang mengatakan bahwa pendaki pantang turun sebelum upacara Malam Satu Suro dilaksanakan, tanpa ia tau bahwa keputusannya itu membuat jiwanya terancam.

Astana Ratu Anjani

Cerita pada bab ini berlatar di tahun 2013. Rama dan teman perempuannya, Jani, kembali mendaki ke Gunung Rinjani setelah pertemuan mereka satu tahun sebelumnya. Mereka berencana untuk menyelesaikan pendakian. Namun tanpa Rama ketahui, sebenarnya di balik itu Jani memiliki misi rahasia yang beresiko membahayakan nyawa mereka berdua. 


Well, dari segi cerita, menurutku buku Mereka Ada VOL 2 ini sama serunya ya dengan Mereka Ada VOL 1. Hanya aja penyampaian alurnya lebih rapi dan ketikannya minim typo dibanding buku sebelumnya. Cuma jujur, aku bingung banget sama percakapan antara Rama dan Hana tentang madu dan spiritus di halaman 141. Rama menyuruh Hana pilih salah satu di antara madu dan spiritus, lalu Hana pilih madu. Rama tanya, "Kenapa kamu pilih madu?" tapi alih-alih menjawab pertanyaan itu, Hana malah bilang, "Tumben kamu pinter, Ram. Kirain otakmu isinya bokep doang". Itu maksudnya gimanaaa? Otakku nggak nangkep sama sekali maksudnya. Sayangnya setelah percakapan itu nggak ada penjelasan sama sekali mengenai maksud percakapan madu dan spiritus itu. Huhu. 

Aku berharap Mystic Waves nggak sampai di sini aja menerbitkan buku fisik, mengingat udah banyak banget cerita seru yang diposting di akun Instagramnya, biar nggak perlu repot scroll kalo pingin baca ulang. 

Senin, 22 Maret 2021 1 komentar

BUKU : White Wedding by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Siang ini, di tengah-tengah kesibukanku menyelesaikan pekerjaan kantor, tiba-tiba aja muncul perasaan kangen mengulas buku yang sudah kubaca. Sebenarnya cukup banyak buku yang sudah kubaca dan ingin sekali kuulas, hanya aja nggak sempat dan akhirnya keburu lupa. Haahh.. entahlah, aku sebenarnya kesal sama diri sendiri karena semakin kesini minat bacaku semakin berkurang. Bukan hanya membaca, tapi hal-hal yang dulu gemar kulakukan sedikit demi sedikit rasanya makin memudar, seperti menggambar dan menulis catatan harian. Yah, aku memang masih suka membaca buku, tapi proses menyelesaikannya itu bisa lamaaa banget.

***

Aku menemukan buku ini diantara tumpukan buku-buku di acara bazar buku murah di Living Plaza bulan Januari tahun 2020 lalu. Aku menelusuri satu persatu rak yang berisi tumpukan novel, sambil chatting via WhatsApp dengan Zahara. Well, hampir setiap ada bazar buku murah di kotaku, Zahara yang tinggal di Indramayu selalu jadi yang paling tau dan selalu mengabariku karena ia tau aku pasti mau datang ke bazar itu. Setibanya di bazar, biasanya aku akan langsung mengabarinya, dan mengirimkan foto rak-rak yang kulewati, siapa tau ada buku yang membuatnya tertarik dan ingin ia beli.

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, penulis dengan nama yang sulit ini sebenarnya nggak (atau lebih tepatnya belum) ada dalam daftar penulis favoritku, dan tentunya buku ini pun nggak ada dalam daftar buku yang ingin kubeli. Namun saat kukirimkan foto rak dimana buku ini tersimpan, Zahara sempat meliriknya, meski nggak jadi membelinya. Alih-alih mengembalikan buku ini ke tempatnya, aku yang tertarik dengan sinopsis buku ini akhirnya memutuskan untuk membawanya pulang.


Buku ini menceritakan tentang kehidupan seorang gadis berusia sebelas tahun yang terlahir albino bernama Elphira. Ia tinggal berempat bersama neneknya, ayahnya yang menderita leukemia, dan ibunya yang pernah menderita gangguan jiwa setelah mengetahui bayi yang dilahirkannya menderita albino. Semua keadaan menyedihkan itu membuat Elphira sangat membenci warna putih. Baginya warna putih adalah warna yang buruk. Ayahnya sakit karena kelainan sel darah putih, ibunya mengalami gangguan jiwa karena melahirkan anak albino, dan warna putih yang dominan di tubuhnya membuat Elphira merasa bahwa dirinya tampak seperti hantu. 

Photo of fashion model Kimi Nastya Zhidkova - ID 629739 | Models | The FMD
Model : Nastya Zhidkova


Kondisi fisik Elphira yang demikian tentunya sangat membatasi ruang geraknya. Elphira nggak bisa bersekolah dan beraktifitas di luar rumah seperti anak-anak lainnya karena kondisi kulit dan matanya yang rentan terhadap sinar matahari. Oleh karena itu, ayahnya meminta Sierra, seorang pemuda berusia lima belas tahun, untuk memberinya les privat. Bahkan nggak hanya mengajarkan banyak hal, Sierra pun menjadi sahabat Elphira.

Setiap waktu, Sierra selalu mencoba untuk mengubah pandangan Elphira terhadap warna putih. Dengan sabar, Sierra meyakinkan Elphira bahwa begitu banyak hal baik yang dilambangkan dengan warna putih : Perdamaian, ketulusan, harapan, pengorbanan.. Segala cara dilakukan Sierra agar Elphira nggak lagi membenci warna putih, dan yang terpenting adalah berdamai dengan keadaan dan mulai mencintai dirinya sendiri, hingga suatu hari Elphira menyadari sesuatu : Sierra bukanlah manusia.

***

Disebut dongeng, tapi buku ini mengandung sains dan filosofi yang bisa menambah wawasan pembaca. Dibilang bukan dongeng, tapi isi ceritanya 'ngelantur' banget. Di awal-awal membaca, aku sempat menebak-nebak bahwa Elphira ini nggak hanya menderita albino, tapi juga menderita skizofrenia. Aku sempat mengira bahwa semua kebersamaan Elphira dengan Sierra sebenarnya hanya ada di dalam imajinasi Elphira. Wkwkwk. Tapi perlahan-lahan jati diri Sierra terkuak, bahwa dirinya memang merupakan sosok malaikat, bukan sosok fiktif yang ada di kepala Elphira.

Sedikit out of topic. Membaca buku ini sedikit mengingatkanku pada buku berjudul Lucian karya Isabel Abedi karena sama-sama menceritakan tentang sosok malaikat yang jatuh cinta pada manusia. Namun meski akhir cerita Lucian di luar dugaan, jujur aku kurang sreg dengan romantismenya yang menurutku terlalu berlebihan dan menggambarkan hubungan antara malaikat dan manusia yang menurutku terlalu intim. I wish you know what I mean. Yah mungkin karena Rebecca (tokoh utama dalam buku itu) merupakan sosok remaja kali ya, jadi isi ceritanya lebih 'dewasa' gitu. Aku nggak bilang Lucian buruk, just not kind of my favorite romance sih. Hehehe.

Untuk White Wedding sendiri, entah kenapa akhir ceritanya dengan mudahnya bisa kutebak. Tapi aku suka cara Sierra mencintai Elphira dengan sederhana, seperti seorang kakak yang selalu membimbing dan melindungi, dan aku justru lebih baper dengan kisah seperti ini. Huhu. Ada satu percakapan antara Sierra dan Elphira yang membuatku tertarik.
"Bagaimana caranya hidup tanpa papa? Bagaimana caranya hidup sendiri, Sierra?"
"Kamu nggak akan hidup sendiri, Elphira"
"Aku akan hidup sendiri suatu hari nanti. Aku tahu kok. Meskipun aku masih kecil, aku tahu. Hanya saja kurasa, suatu hari itu akan datang lebih cepat. Dan kurasa, aku belum siap menghadapinya."
"Papamu cuma satu orang. Yang mencintaimu bukan hanya satu orang". Hal. 56-57
Percakapan itu membuatku sebentar merenung, bahwa ketika sedang berada di titik terendah, kita, manusia seringkali berpikir sempit. Kita terlalu berfokus pada masalah yang kita hadapi. Seperti pada kasus Elphira, ia terlalu fokus pada rasa takut kehilangan ayah yang dicintainya. Ia berpikir bahwa kehilangan ayahnya berarti akhir dari segalanya. Ia berpikir kepergian ayahnya hanya akan membawanya pada kesendirian. Ia nggak ingat bahwa ibu, nenek, dan orang-orang di sekelilingnya pun juga mencintainya.

Yah, sebagai sebuah buku yang dibeli secara random, buku ini nggak membuatku menyesal setelah menebusnya. Kayaknya kalo next time ketemu lagi dengan karya lain Mbak Ziggy di bazar, aku bakal ambil. Penasaran juga dengan Jakarta Sebelum Pagi :)

Jumat, 12 Juli 2019 4 komentar

BUKU : MEREKA ADA by Mystic Waves

Rasanya sudah cukup lama aku nggak mengulas tentang buku ya. Kali ini, tanganku gatal banget mau mengulas tentang buku yang satu ini. Tapi sebelumnya, aku mau bahas sedikit tentang alasan aku membeli buku ini. Jujur, meski aku menyukai kisah horor, tapi aku kurang tertarik dengan buku ataupun novel horor, karena kebanyakan ceritanya terlalu berlebihan. Dibuat seram, tapi nggak memberi efek merinding gitu, salah satunya buku kumpulan cerpen horor yang beberapa bulan lalu kubeli di bazaar buku. Baru baca beberapa halaman, rasanya udah malas aja gitu. Akhirnya buku itu nggak aku baca sampai tuntas. Tapi, buku yang mau aku ulas sekarang ini berbeda.

Pernah baca postinganku tentang Mystic Waves? Well, biar kujelaskan lagi. Mystic Waves (atau mwv.mystic) adalah sebuah akun Instagram yang sebagian besar postingannya adalah cerita-cerita horor yang diangkat berdasarkan true story, atau kisah nyata. Di postinganku waktu itu, aku menceritakan sedikit tentang adminnya yang membuat aku dan pembaca lainnya penasaran karena Si Admin ini nggak pernah mau menunjukkan wajahnya.

Kali ini aku bukan lagi mau membahas tentang Si Admin ya, karena disamping jati dirinya yang belum terungkap juga karena yaa nggak penting juga sih buat dibahas. Wkwkwk.. Sorry buat Admin AGP yang mungkin baca postingan ini. Maksudku bukan nggak penting yang gimana-gimana sih. Maksudku, nggak peduli bagaimana tampang Admin dan bagaimana latar belakang Admin, tapi selama Admin AGP masih bersama Mystic Waves dan Mystic Waves masih konsisten dengan konten Instagramnya, kami pasti bakal terus support.

Aku nggak ingat kapan pertama kali aku mem-follow akun ini, yang jelas, itu beberapa tahun yang lalu, kemungkinan tahun 2016. Adikku yang merekomendasikan akun ini, karena dia tau aku menyukai hal-hal mistis. Haha.. Dulu lumayan banyak akun horror yang aku ikuti. Tapi dari akun-akun itu, Mystic Waves adalah yang paling lama menempati kolom Following di akunku. Kenapa?

Karena cerita true story yang diposting di akun ini nggak sembarangan copy paste dari narasumber, melainkan dipilah-pilih dulu oleh admin. Cerita-cerita itu harus memiliki kriteria tertentu untuk bisa terpilih. Bukan hanya menarik dan seram, tapi juga harus berasal dari sumber yang terpercaya (narasumber harus berusia minimal 17 tahun atau dalam artian sudah dewasa dan bisa membedakan mana halusinasi, mana kenyataan, dan mengalami sendiri kejadian tersebut atau diceritakan langsung oleh orang yang mengalami, untuk menghindari hoax). Selain itu, Admin juga seringkali menyisipkan berbagai opini dan teori yang bertujuan untuk meluruskan persepsi-persepsi yang salah. Misalnya, kebanyakan orang kan percaya kalo arwah orang meninggal itu bisa gentayangan, padahal sebenarnya (khususnya dalam kepercayaan agama Islam) nggak ada itu yang namanya arwah gentayangan, melainkan adalah jin qarin yang menyerupai. Intinya buatku pribadi, akun ini nggak hanya menyajikan hiburan bagi penikmat cerita horor, tapi juga memberikan informasi yang bermanfaat.

Nah, bulan Februari lalu, akun ini menerbitkan buku horor pertamanya. Tapi baru tanggal 21 Juni kemarin aku mendapatkan buku ini dari toko buku online. Sama seperti Mystic Waves, buku ini berisi kumpulan cerita horor true story yang pernah dimuat di akun Instagram Mystic Waves, hanya aja tentu, cerita-cerita yang dimuat adalah cerita-cerita terbaik dan mendapat banyak respon positif dari para Followers, karena ya nggak mungkin juga mereka memuat semua cerita yang pernah diposting di akun Mystic Waves, mengingat cerita yang pernah diposting banyak banget jumlahnya.




Ada empat judul cerita terbaik yang dimuat dalam buku ini :

  1. Petaka Dukun Beranak
    Kisah ini diambil dari sudut pandang narasumber yang merupakan seorang anak dukun bayi yang bersekutu dengan jin dalam pelaksanaan praktiknya. Narasumber ini memiliki orangtua yang keluarganya bertolak belakang pandangan. Ibunya berasal dari keluarga yang menganut kepercayaan kejawen, sedangkan ayahnya merupakan seorang muslim yang taat. Perbedaan pandangan ini membuat keluarga mereka mengalami konflik yang sangat pelik. Disini diceritakan bagaimana si narasumber yang memilih berada di jalan yang lurus bertahan dari serangan mental maupun fisik yang dikirimkan oleh keluarga besar ibunya sendiri dengan maksud agar ia mengikuti jejak mereka.
  2. Teror Santet Cinta yang didasari oleh nafsu yang menggebu memang bahaya banget. Bisa bikin buta, hingga menghalalkan segala cara. Kisah ini menceritakan tentang kakak narasumber yang mengalami teror santet menjelang pernikahannya. Membaca kisah ini sukses membuatku jadi lebih berhati-hati kalo buang sampah ataupun memajang foto, karena semua media itu rupanya bisa banget jadi media santet ataupun pelet. 
  3. Hadi Sebuah cerita cinta beda dunia. Bermula ketika si narasumber mengalami 'ketempelan' sosok makhluk laki-laki tak kasat mata yang disebut-sebut naksir dengan dirinya. Lambat laun, si narasumber merasa nyaman dengan kehadiran sosok ini hingga akhirnya mereka terlibat hubungan asmara. Gokil banget sih. Namun hubungan itu justru menjadi boomerang bagi si narasumber sendiri ketika sosok itu menjadi semakin posesif terhadap dirinya. Kisah ini sukses banget bikin para pembaca cewek baper dan penasaran dengan sosok Hadi saat masih utuh sebagai manusia. Malah ada orang iseng yang bikin akun palsu atas nama Hadi. Ckckck..
  4. Dozer Nah ini dia, kisah yang paling ditunggu oleh sebagian besar MWVers. Saking ditunggunya, komentar pembaca tentang kelanjutan kisah ini selalu ada di hampir setiap postingan MWV. Nggak salah sih, karena kisah si Dozer ini memang paling menegangkan dan menguras emosi. Bercerita tentang hilangnya seorang sahabat pada saat pendakian. Kisahnya panjang banget, mulai dari pengalaman mereka berkemah di kawasan Ranca Upas, teror pocong yang menghantui mereka sekembalinya dari kegiatan berkemah, hilangnya sahabat mereka, hingga proses pencarian sahabat yang hilang ini yang tentunya melewati berbagai konflik yang nggak mudah karena penuh dengan hal-hal di luar nalar. 

That's all. Sebenarnya, sebelum memiliki buku ini pun, aku udah terlebih dahulu baca semua kisah itu di postingan Instagram MWV. Tapiii karena aku ngefans sama akun Instagram satu ini (best horror page, I think, walau memang kadang kalo penyakit gajenya kumat, si admin suka posting sesuatu di luar tema horor. Video kucing misalnya), aku jadi merasa wajib punya. Plus, di buku ini juga dimuat bagaimana akhir kisah si Dozer yang banyak ditunggu MWVers. Dan bagi kalian yang merupakan pembaca baru ataupun pengikut baru Mystic Waves yang mencari kisah-kisah di atas tadi di akun Mystic Waves, kalian nggak akan menemukannya secara utuh, karena postingan-postingan itu sudah di take down dari Instagram. Tentu dong.. Kalo nggak gitu, ntar sedikit orang yang penasaran dan beli bukunya, ya kan?

Well, sekarang beralih ke pendapatku mengenai buku ini. Hmm.. Tentunya karena berbentuk buku, tulisannya jadi lebih rapi dan nyaman dibaca lah ya. Hanya aja cukup banyak typo, penggunaan huruf kapital yang nggak pada tempatnya, kesalahan penulisan, dan kurangnya peletakan tanda koma sebelum kata sapaan. Misalnya pada kalimat, "Guru Dozer pak?", harusnya ditulis " Guru Dozer, Pak?". Lalu ada juga kalimat "for you information" yang seharusnya ditulis "for your information". CMIIW.

Tapi yah, itu bisa dibilang kesalahan kecil lah ya. Nggak terlalu jadi masalah kok. Bukunya tetap enak dibaca. Semoga jika dibuat cetakan kedua, kesalahan-kesalahan penulisan itu bisa lebih disempurnakan.
Selasa, 05 Juni 2018 0 komentar

BUKU : Tentang Kamu by Tere Liye

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita. Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi. Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.




Aaargh.. I really thank to Bang Darwis ‘Tere Liye’ for writing this super-awesome book!
Sebuah kisah yang benar-benar menggugah. Ini bukan pertama kalinya aku terkesan dengan karya Tere Liye. Dari sepuluh buku tulisan Tere Liye yang aku punya sebelumnya, yakni Rindu, Hujan, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Pulang, Negeri Para Bedebah, Serial Bumi (Bumi, Bulan, Matahari, Bintang), aku suka semuanya. Dan sejauh ini, buku inilah yang entah kenapa aku rasa paling mengena. I dunno.. Mungkin karena belakangan ini perasaanku sedang melankolis. Mood swing selama dua pekan terakhir. Dan aku bersyukur buku ini aku baca di saat yang tepat—padahal belinya tahun lalu. Well, rasanya seperti oase di tengah gurun.

***

Kisah berawal ketika Thompson & Co., sebuah firma hukum di Belgrave Square, London, menerima kabar dari sebuah panti jompo di Paris, bahwa salah satu kliennya meninggal dunia. Tak tanggung-tanggung, sang klien yang meninggal di usia tujuh puluh tahun itu meninggalkan harta warisan sebesar satu miliar poundsterling, atau setara sembilan belas triliun rupiah. Namun Sri Ningsih, nama klien tersebut nggak meninggalkan surat wasiat sebelum meninggal, kecuali selembar surat keterangan yang menerangkan jika sang klien adalah pemilik sah 1% surat saham di perusahaan besar, dan amanat kepada firma hukum tersebut untuk menyelesaikan masalah harta warisannya dengan seadil-adilnya sesuai hukum yang berlaku.

Adalah Zaman Zulkarnaen, seorang pengacara muda dari firma hukum tersebut yang ditugaskan untuk mengusut kasus itu (dengan alasan karena sama-sama orang Indonesia). Dengan penuh tanggung jawab, Zaman menelusuri latar belakang dan perjalanan hidup Sri demi mencari siapa pewaris yang berhak atas harta kliennya tersebut. Dari penelusurannya, terkuaklah pahit getir hidup yang dijalani Sri selama puluhan tahun.

Sejak lahir, Sri tinggal di sebuah rumah panggung di Pulau Bungin, Sumbawa, bersama ayahnya yang berprofesi sebagai seorang nelayan besar. Ibu kandungnya meninggal, sesaat setelah melahirkannya. Beberapa tahun kemudian, sang ayah menikah lagi dengan seorang kembang desa di pulau itu. Awalnya segalanya berjalan baik dan indah, sampai pada suatu hari, takdir merenggut kebahagiaan mereka. Ayah Sri meninggal saat berlayar. Ibu tiri Sri yang sangat terpukul dengan kepergian suaminya perlahan-lahan berubah tabiatnya. Ia yang awalnya sangat menyayangi Sri seperti anak kandungnya sendiri, berubah menjadi membencinya. Tanpa belas kasihan, ia menyuruh Sri mengerjakan semua pekerjaan rumah. Ia bahkan tega menyebut Sri dengan sebutan ‘anak kecil yang dikutuk’. Namun Sri selalu menerima segala perlakuan dan nasib buruknya itu dengan hati lapang. Ia bahkan sama sekali nggak membenci ibu tirinya, padahal usianya masih delapan tahun saat itu.

Di usia empat belas tahun, Sri meninggalkan Pulau Bungin untuk mengenyam pendidikan madrasah di Surakarta, Jawa Tengah. Selama empat tahun, Sri menjalani kehidupannya sebagai seorang pelajar di madrasah itu, hingga akhirnya ia lulus dan diangkat menjadi guru pengajar. Namun kesabarannya kembali diuji ketika salah seorang sahabat tega mengkhianatinya.

Di usia ke dua puluh satu tahun, Sri merantau ke ibu kota, Jakarta. Memulai hidup baru. Dengan gigih ia mencari pekerjaan disana, kemudian mengumpulkan modal dan mulai membangun bisnis. Mulai dari berjualan nasi goreng, bakso, mie ayam, hingga berjualan sayur keliling dengan gerobak. Sukses mengumpulkan uang dengan berdagang, Sri berubah haluan menjadi pengusaha rental mobil. Namun sayangnya, sebuah insiden memaksa Sri untuk memulai semuanya dari awal. Setelah insiden itu, Sri bekerja sebagai seorang pengawas pabrik di sebuah pabrik sabun cuci. Di tahun ketiga, Sri berhenti dari pekerjaannya dan kembali memulai bisnis sendiri dengan membangun pabrik sabun mandi. Namun entah kenapa, di puncak karier bisnisnya, Sri justru memilih pergi meninggalkan Indonesia dan memulai kehidupannya lagi dari nol di London. Ia tinggal di sebuah apartemen sederhana, menjalani hidup sebagai seorang supir bus, dan menemukan cinta sejatinya disana.

Well, aku sering menghindari hal-hal berbau romantis dalam cerita. Tapi entah kenapa aku selalu suka bagian romantis dari cerita yang ditulis Tere Liye. Manis, tapi nggak berlebihan. Aku terkesan dengan kisah cinta antara Sri dan Hakan, lelaki asal Turki yang ia temui di bus. Hakan yang tampan dan pemalu jatuh cinta dengan Sri yang digambarkan bertubuh pendek, gempal, dan berkulit gelap. Setiap hari, Hakan selalu menumpang bus yang dikemudikan Sri hanya demi mendapat kesempatan mengobrol bersama Sri selama lima menit, meski Sri sendiri hanya menanggapinya dengan kalimat-kalimat pendek. Karena sering bertemu, akhirnya Sri takluk. Saat itu usianya sudah menginjak tiga puluh tujuh tahun, Sri pertama kalinya merasakan jatuh cinta. Ia akhirnya menikah dengan Hakan. Namun kebahagiaan mereka terenggut tatkala mereka harus kehilangan bayi mereka sebanyak dua kali. Hal itu benar-benar membuat Sri terpukul. Ia benar-benar kehilangan separuh semangat hidup. Namun Hakan berkomitmen penuh menemani istrinya melewati fase itu, selalu ada di sampingnya apapun yang terjadi.

“Kamu tahu, Sri.. Apa yang membuat pernikahan orang tua dulu langgeng berpuluh-puluh tahun? Karena mereka jatuh cinta setiap hari pada orang yang sama. Itulah yang terjadi. Maka, kesedihan apapun, ujian seberat apapun bisa dilewati dengan baik. Aku berjanji, Sri. Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi padaku. Agar aku bisa menyaksikan Sri yang selalu riang. Sri yang selalu sederhana menatap kehidupan ini”. (hal. 385)

Di usia pernikahan mereka yang ketiga belas tahun, Hakan meninggal dunia. Sri kembali banyak merenung, memikirkan betapa banyak pengorbanan yang dulu dilakukan suaminya, sejak PDKT hingga akhir hayatnya.

“Kamu tahu, Sri, kenapa aku baru menikah di usia tiga puluh sembilan tahun?” Hakan bertanya pelan.
“Karena kamu laki-laki yang pemalu”, Sri menjawab.
“Bukan, Sri.” Hakan menggeleng, “Melainkan agar kita bisa bertemu dan menikah.”

***

Seriously, I was crying again and again! Nggak bermaksud berlebihan, tapi setiap lembar buku ini benar-benar mengesankan. Seperti biasanya, Tere Liye mampu menggambarkan sesuatu secara detail, mampu membawa pembaca seakan benar-benar ada disitu, menyaksikan seluruh kejadian yang ada dalam cerita. Dan hampir setiap episode dalam hidup Sri benar-benar mengaduk-aduk perasaan. Saat ia digambarkan bersedih, pembaca ikut merana. Saat ia bersuka cita, pembaca ikut bahagia. Saat ia jatuh cinta, pembaca pun ikut kasmaran. Really, I feel that! Dan kisah asmara antara Sri dan Hakan ini mengingatkanku pada sesuatu.

Someone used to ask me a question, “Mana yang akan kamu pilih : Ditinggalkan oleh seseorang yang kamu sayang (dalam artian pasangan) karena suatu hal? Atau ditinggalkan karena seseorang yang kamu sayang itu meninggal dunia?”
Waktu itu aku memilih pilihan jawaban yang kedua, dengan alasan bahwa aku nggak mau melihat orang yang aku sayangi dimiliki oleh orang lain, dan rasanya tentu sangat menyakitkan ketika kita ditinggalkan seseorang karena orang itu udah nggak sayang lagi, bosan, atau menemukan seseorang yang lebih menarik dari kita. Sekarang aku memiliki alasan lain kenapa aku memilih pilihan jawaban yang kedua. Karena meski rasa sakit karena ditinggalkan itu tetap dan tentu saja ada, tapi seenggaknya kita tau bahwa orang yang kita sayangi itu pun juga menyayangi kita hingga hembusan napas terakhirnya. That’s it :)

Anyway, aku nggak mau spoiler tentang kisah perjalanan hidup Sri Ningsih secara detail, atau kepada siapa harta Sri itu diwariskan, dan bagaimana ending ceritanya. You should read this if you wanna know how powerful this book is. Intinya, lewat novel ini, Tere Liye ingin mengajarkan pembacanya tentang kesabaran tanpa batas melalui sosok Sri Ningsih yang begitu tegar menjalani kisah hidupnya yang begitu pelik.

***

Ibu, Bapak, bagaimana agar kita bisa berdamai dengan begitu banyak kejadian menyakitkan? Bagaimana jika semua hal menyesakkan itu ibarat hujand deras di tengah lapangan, kita harus melewati lapangan menuju tempat berteduh di seberang, dan setiap tetes air hujan laksana setiap hal menyakitkan dalam hidup? Bagaimana agar Sri bisa tiba di tempat tujuan tanpa terkena satu tetes airnya? Sri sekarang tahu jawabannya. Yaitu justru dengan lompatlah ke tengah hujan, biarkan seluruh tubuh kuyup. Menarilah bersama setiap tetesnya, tarian penerimaan, jangan pernah dilawan, karena sia-sia saja, kita pasti basah. Di sini, di kota dengan Menara Eiffel yang indah dipandang mata, Sungai Seine mengalir elok. Di sini, di jantung peradaban budaya dunia, terima kasih telah mengajariku tentang hakikat kehidupan. Sri akan memeluk semua rasa sakit. Dulu. Sekarang. Esok lusa hingga kita bertemu lagi. (hal. 457)
Minggu, 11 Juni 2017 0 komentar

BUKU : HUJAN by Tere Liye

Apa yang akan kamu lakukan jika memiliki kesempatan untuk menghapus kenangan masa lalumu yang menyakitkan? Memilih menghilangkannya dari ingatanmu? Atau justru memeluk semua kenangan itu? Mengikhlaskan? Menerimanya sebagai bagian dari hidupmu?




Satu lagi karya Tere Liye yang berhasil mengaduk-aduk perasaanku. Kali ini novel bergenre romance dengan balutan science-fiction berjudul 'Hujan'.

Kisah berawal dari seorang gadis bernama Lail yang datang kepada seorang paramedis bernama Elijah untuk meminta kenangan menyakitkan di masa lalunya dihapus. Ketika itu, tahun 2050, dimana teknologi sudah sangat canggih, bahkan ingatan aja bisa dimodifikasi.

Kemudian alur cerita mundur ke delapan tahun lalu, dimana sebuah bencana besar melanda negeri. Gunung purba meletus, menyebabkan semburan abu panas ribuan Celcius dan gempa vulkanik berkekuatan 10 skala Richter. Hanya sepuluh persen penduduk bumi yang selamat dari bencana mematikan itu. Lail yang saat itu masih berusia tiga belas tahun diselamatkan oleh seorang remaja laki-laki bernama Esok setelah sebelumnya mereka sama-sama terjebak dalam lorong kereta bawah tanah bersama ratusan penumpang kereta yang mereka tumpangi. Meski keduanya selamat, namun mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa kedua orangtua Lail dan empat kakak kandung Esok nggak bisa diselamatkan. Sejak saat itu Lail dan Esok pun bersahabat baik, lebih tepatnya seperti adik dan kakak, karena dimana ada Esok, disitu ada Lail; dimana ada Lail, Esok ada disampingnya. Setiap bertemu, mereka selalu menghabiskan waktu dengan berboncengan naik sepeda, berkeliling kota. Namun beberapa tahun kemudian, Lail menyadari bahwa dirinya nggak mau hanya dianggap adik oleh Esok.


Ilustrasi. Self-edited.

Well, mungkin nampaknya klise. Sahabat jadi cinta. Tapi bukan Tere Liye namanya kalo nggak mengemas kisah ini berbeda dengan kisah sahabat jadi cinta kebanyakan. Karena novel ini berbalut science-fiction, maka nggak hanya diajak baper, kita juga diajak berimajinasi tentang bagaimana kehidupan bumi di masa depan dan mengenal berbagai istilah-istilah 'sulit'. Oh ya, novel ini juga bercerita tentang persahabatan. Aku dibuat tersenyum dan cengar-cengir sama kisah persahabatan antara Lail dan Maryam, teman sekamarnya di Panti Sosial. Meski digambarkan sebagai sosok yang kurus, berambut kribo, dan berwajah jerawatan, tapi aku suka banget sama tokoh Maryam ini, karena selain humoris (dia lah tokoh yang paling konyol disini), dia juga setia, nggak mudah tersinggung, cuek, tangguh, peduli, dan bisa dipercaya.

Endingnya?
Gaaahh.. sangat menegangkan! Dan benar-benar membuatku tenggelam. Aku nggak akan menyebutkan ceritanya berakhir seperti apa, yang pasti, emosi kita diaduk-aduk disini. Esok yang jenius dan menjadi ilmuwan muda di masa depan, ikut andil dalam misi penyelamatan dunia dari bencana. Hal inilah yang menjadi salah satu konflik menjelang akhir cerita, yang menentukan bagaimana hubungannya dengan Lail. Apakah mereka akhirnya bisa bersama, atau bahkan terpisah. Aku yakin, mostly pembaca pasti pada geregetan di part menjelang akhir cerita ini. Daaaann.. lagi-lagi Tere Liye menyangkal tebakanku. Akhir ceritanya (lagi-lagi) nggak seperti yang kupikirkan. 

Anyway, bukan novel romance kalo nggak ada bumbu-bumbu manisnya. Tapi menurutku, kebayakan novel romance itu lebay, manisnya bikin diabetes dan baper sedalam-dalamnya. Tapi novel ini enggak. Well, sejauh yang pernah kubaca, novel karya Tere Liye yang bergenre romance memang nggak ada yang berlebihan sih menurutku. Manisnya selalu pas. Jadi makin suka sama penulis satu ini :)

Akhir kata, ada satu quote bagus dari novel ini,
"Barangsiapa yang bisa menerima (mengikhlaskan semua kenangan buruk yang pernah terjadi), maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan."
Senin, 29 Mei 2017 6 komentar

BUKU : Konspirasi Alam Semesta

Thank God, di sela-sela kesibukan akhir bulan yang menyita hampir seluruh waktu luang dan istirahatku, aku bisa menyelesaikan membaca dan mendengar sepaket karya manis dari salah satu tokoh publik favoritku, Fiersa Besari.



ALBUK #1 Konspirasi Alam Semesta.
Sepaket karya yang terdiri dari sebuah buku dan sebuah CD musik berjudul sama ini merupakan karya yang dilahirkan kembali setelah sebelumnya albuk—album buku—ini rilis untuk pertama kalinya pada tahun 2015. Bahkan sebelum dibukukan, Bang Fiersa pernah memposting karya tulisnya itu di blog pribadinya. 

Well, aku nggak tau apakah ini pantas diakui atau enggak, tapi aku mau mengakui bahwa jujur pada awalnya aku nggak berniat untuk membeli albuk ini selain untuk diberikan kepada salah seorang teman baikku sebagai hadiah ulang tahunnya. Awalnya kupikir, biarlah untukku pribadi, aku beli buku preloved nya aja, makanya saat itu aku cuma membeli satu albuk. Tapi, demi melihat pengumuman ini diposting di akun Instagram si Abang..


... aku lantas berubah pikiran. Aku ingin datang kesana! Ini benar-benar kesempatan yang udah kutunggu sejak sekitar satu setengah tahun yang lalu. Aku ingin mendengar suaranya secara langsung, aku ingin foto bareng, aku ingin tanda tangannya ada di bukuku. Masa iya aku menemuinya dengan buku preloved? Oleh karena itu, satu hari setelah melihat postingan itu aku langsung meluncur ke Gramedia Cipto untuk membeli albuk satu lagi.

Sampai di rumah, 'kutelanjangi' dia. Lalu seperti biasa, hal pertama yang kulakukan setelah menelanjangi buku selain mencari pembatasnya adalah.. mencium aroma kertasnya! Haha.. entahlah. Aku selalu suka aroma kertas dari buku yang baru aja dibuka segelnya. 

Beralih ke jalan cerita. Buku ini menceritakan tentang kisah cinta seorang freelance jurnalist dan petualang bernama Juang Astrajingga dengan seorang mahasiswi Fakultas Pertanian bernama Ana Tidae. Pertemuan awal mereka bisa dibilang klise : tabrakan. Dan ketika mereka bertabrakan itulah, Juang mengalami love at the first sight terhadap Ana. Tanpa diduga, profesi Juang yang sebagai freelance jurnalist ini mengantarkan dia dan Ana pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Saat itu Juang ditugaskan untuk mencari informasi mengenai Shinta Aksara, seorang sinden yang pernah mengharumkan nama Indonesia di mancanegara namun namanya terlupakan oleh negerinya sendiri sampai akhir hayatnya. Ketika itulah alam berkonspirasi. Narasumber berita yang merupakan anak kandung dari si sinden itu tak lain adalah Ana Tidae. Karena sering bertemu, mereka pun akhirnya saling jatuh cinta.

Namun kisah cinta mereka tentunya diwarnai oleh berbagai konflik, mulai dari penyakit yang diderita Ana, kisah cinta masa lalu Ana, dan hobi bertualang Juang yang mengharuskan mereka sering menghadapi hubungan jarak jauh. 

Oh ya, nggak cuma kisah cinta, buku ini juga berkisah tentang keluarga, persahabatan, dan kecintaan terhadap alam dan negeri. Bagaimana dengan ending ceritanya? Asli, aku shock! Karena akhir ceritanya benar-benar nggak aku duga bakal seperti itu.

Anyway, selama membaca buku ini, sosok Juang yang tergambar dalam imajinasiku nggak lain dan nggak bukan adalah Bang Fiersa sendiri. Entahlah, rasanya susah buat membayangkan sosok lain. Sedangkan sosok Ana Tidae, nggak tau kenapa yang terbayang adalah sosok cewek bernama Ainy. Well, kalo kamu mengikuti postingan Instagram Bang Fiersa, dia pernah memposting foto dan sekelumit kisah tentang cewek ini. Katanya sih mereka pernah dekat, katanya sih si Ainy ini adalah seseorang yang menjadi inspirasi Bang Fiersa dalam penulisan lagu And I Need You (And I Need You, yang kalo diakronimkan menjadi AINY), namun sayangnya dia meninggal bulan Februari 2016 lalu. Dan dari buku ini, sedikitnya aku jadi tau seorang Fiersa Besari itu romantisnya kayak apa. 

Oh ya, aku lupa cerita kalo kemarin-kemarin itu aku apes banget. Waktu itu aku berniat memutar CD musik Konspirasi Alam Semesta di laptopku. Sialnya, CD musik itu tersangkut disitu. Sampai sekarang CD itu masih terjebak didalam laptop. Aku bingung harus digimanain. Padahal kan niatnya CD itu bakal dibawa sepaket sama bukunya tanggal empat nanti :(

Soal event di Gramedia Cipto itu, aku merasa wajib datang. Hanya aja sampai sekarang aku masih bingung mau mengajak siapa. Temanku nggak banyak, apalagi yang sesama penggemar Fiersa Besari. Waktu itu aku tanya Ecin, teman kampusku apakah dia mau datang ke acara itu atau enggak, coz kebetulan denger-denger dia punya albuk Konspirasi Alam Semesta juga. Tapi sayangnya pesanku itu nggak dia respon. Aku mau ajak Rohayati, tapi dia lagi sibuk sama persiapan sidang Tugas Akhir-nya. Aku nggak mau mengusiknya. Satu-satunya harapanku cuma Tri. Aku tau dia sama sekali bukan penggemar buku, apalagi Fiersa Besari, tapi dia satu-satunya teman terdekatku yang bisa aku harapkan. Mudah-mudahan dia mau. Kalopun (misalnya) nggak mau, biar aja aku datang sendiri kesana.

So, Bang Fiersa.. sampai jumpa hari Minggu ya :)
Senin, 18 Januari 2016 0 komentar

NOVEL : PULANG, by TERE LIYE


Sekitar tiga minggu yang lalu—tepatnya tanggal 7 Januari, aku, adikku, dan dua teman masa kecil kami—Tri dan Dewi—mengunjungi toko buku baru yang berdiri di kawasan Cipto. Hari itu Dewi baru aja mentraktir kami makan di Urban Chicken, coz di hari ultahnya—tanggal 19 Desember—lalu dia belum sempat nraktir kami. Karena letak toko buku itu nggak jauh dari tempat kami makan, makanya kami mampir ke toko buku baru yang memiliki bangunan tersendiri itu.

Toko buku baru itu jauh lebih luas dibanding toko pertamanya yang terletak di dalam salah satu mall terbesar di kota Cirebon. Kalo toko pertamanya cuma memiliki dua lantai, toko baru ini memiliki tiga lantai (nggak termasuk lahan parkir yang terletak di lantai dasar) dengan ruangan yang jauh lebih luas dan lahan parkir sendiri. Lantai satu berisi berbagai macam mainan anak dan dekorasi ruangan; lantai kedua berisi berbagai macam ATK dan alat musik; dan baru deh lantai paling atas berisi berbagai buku, kamus, kitab, dan novel. Sebelumnya aku sempat pikir, wah, dengan toko seluas ini, koleksi bukunya pasti luar biasa lengkap. Tapi ternyata dugaanku nggak sepenuhnya bener, karena di toko buku—yang kukira lengkap—ini aku tetep nggak menemukan novel Lucian karya Isabel Abedi. Padahal aku penasaran banget sama kisah tentang pria misterius tanpa masa lalu itu sejak salah satu rekan dunia mayaku menggembar-gemborkan betapa serunya novel itu dua tahun yang lalu. Jangankan novel itu deh, novel pertama My Creepy Diary karya Ayumi Chintiami aja nggak ada. Eh tapi ada novel Sybil lho. Novel yang aku idamkan sejak jaman SMA itu ternyata lebih tebal dari yang aku kira, dan baru liat label harganya aja aku udah ciut duluan. Hahaha..

Memasuki tahun 2016 lalu, aku sempat berharap bahwa novel berjudul Matahari yang disebut-sebut bakal terbit tahun ini akan menjadi novel karya Tere Liye yang pertama aku baca di tahun 2016 ini. Tapi ketika aku baru sadar sesuatu ketika aku melihat novel karya Tere Liye dengan cover berwarna tosca yang terpajang di etalase toko itu. ‘Pulang’, judul novel itu. Aku baru sadar bahwa aku belum punya karya terbaru Tere Liye yang rilis bulan September 2015 itu, makanya aku memutuskan buat menambahkan novel ini ke perpustakaan miniku.

Jadi, dua hari kemudian aku memesan buku itu kepada Bu Imas—pemilik lapak buku di depan Cirebon Mall—bersama beberapa buku karya Tere Liye lainnya. Seminggu kemudian, tepatnya hari Sabtu lalu, aku menebus buku-buku itu. Aku beli tiga buku, dan semuanya karya Tere Liye. Selain Pulang, aku juga membawa pulang Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.

Sepulang dari lapak buku Bu Imas, aku langsung menelanjangi buku itu. Pulang. Waktu pertama kali melihat judulnya, membaca sinopsis di back cover novelnya, dan membaca sedikit bagian perkenalan di bab pertama, aku sempat menebak-nebak bahwa novel ini akan bercerita tentang seorang pejuang yang pergi ke medan perang untuk melawan penjajah. Hahaha..




Tapi ternyata tebakanku benar-benar salah. Harusnya aku sadar bahwa seorang author yang aktif menelurkan karya sekelas Tere Liye nggak akan menulis kisah yang gampang tertebak seperti itu.

Lewat novel ini, Bang Tere Liye alias Bang Darwis mengajak pembaca untuk menyelami kehidupan seorang anak dari desa terpencil yang akhirnya  bertransformasi menjadi seseorang yang disegani. Jangan salah. ‘Seseorang yang disegani’ yang aku maksud bukanlah presiden, menteri, maupun pejabat, melainkan tukang pukul yang kuat dan jenius dari sebuah keluarga yang bermain ekonomi dalam pasar gelap.

Awalnya, Bujang—si tokoh utama—hanyalah seorang remaja berusia lima belas tahun yang pendiam. Ia tinggal bersama ibunya yang sangat mengasihinya dan ayahnya yang berwatak keras di sebuah rumah panggung di sebuah desa terpencil di pedalaman Sumatera. Suatu hari, desa terpencil itu kedatangan beberapa pemburu dari kota. Mereka datang untuk berburu babi hutan yang kerapkali meresahkan masyarakat. Rupanya, pimpinan pemburu itu kenal dekat dengan ayah Bujang, dan Bujang ditawarinya untuk ikut berburu.

Singkat cerita, setelah perburuan, pimpinan pemburu yang disebut Tauke Muda itu menawarkan diri untuk membawa Bujang ke kota dan menjadikan ia sebagai anak angkatnya. Ayah Bujang menyambut tawaran itu dengan senang hati. Bujang pun setuju dengan tawaran itu. Sedangkan ibunya harus terpaksa melepasnya, karena ia tau akan jadi apa anaknya di kota. Satu pesan ibunya, “Apa pun yang akan kau lakukan di sana, berjanjilah Bujang, kau tidak akan makan daging babi atau daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan segala minuman haram. Berjanjilah kau akan menjaga perutmu dari semua itu, Bujang. Agar besok lusa, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.”

Bujang tumbuh menjadi pemuda yang tinggi dan gagah. Ia dibesarkan oleh Keluarga Tong, sebuah keluarga penggerak shadow economy, yang dikepalai oleh Tauke Muda. Oleh Tauke Muda, ia dididik untuk mendalami dunia hitam—menjalani bisnis pasar gelapnya. Ia disekolahkan hingga ke perguruan tinggi, dan diberi pelatihan fisik agar menjadi petarung yang unggul. Benar-benar diperlakukan secara istimewa. Well, dari sudut pandang pembaca, hal ini pasti merupakan sesuatu yang negatif dan tercela ya mengingat pasar gelap merupakan suatu kejahatan bisnis yang merugikan banyak pihak, termasuk negara. But don’t worry, however masih banyak kok hal positif yang terselip yang bisa kita ambil dari tokoh-tokoh itu, diantaranya kesetiaan, perhatian, dan sikap pantang menyerah.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Hal ini memberikan efek seakan kita adalah Bujang, si tokoh utama dalam novel ini. Kita juga bisa merasakan perubahan karakter si tokoh utama dari waktu ke waktu lewat alur ceritanya yang maju mundur.

Aku membaca novel ini selama tiga hari. Mulai baca hari Sabtu, dan selesai baca sore ini. Membaca novel ini, rasanya seperti menonton film action. Adegan baku tembak, baku hantam, permainan pedang, dan pertarungan ala ninja berkelebat di kepalaku. Seru banget. Apalagi ada tokoh-tokoh yang menurutku unik, yakni si kembar Yuki dan Kiko. Siapa sangka bahwa dua cewek imut yang terlihat seperti turis Jepang itu merupakan pencuri kelas dunia? Gila! Kalo aja novel ini difilmkan, aku sangat mendukung, tapi seenggaknya minimal harus sebagus The Raid. I think Iko Uwais cocok berperan jadi Bujang. Hahaha.. :P

***

Berikut ini adalah beberapa quotes yang aku ambil dari novel ini :

“Kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain.”

“Hidup ini adalah perjalanan panjang yang tidak selalu mulus. Pada hari keberapa dan pada jam keberapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. Satu-dua keputusan itu membuat kita bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan.”

“Sejatinya, dalam hidup ini kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang, maka pertempuran lainnya akan mudah saja.”

“Sepanjang kita mau melihatnya, maka kita selalu bisa menyaksikan masih ada hal indah di hari paling buruk sekalipun.”


“Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran.”
Senin, 18 Mei 2015 0 komentar

BUKU : Bumi, by Tere Liye

Haaahh.. akhirnya, walau membaca novel jadi pantangan keras bagi diri aku sendiri untuk masa-masa menjelang pelaksanaan Sidang Tugas Akhir ini, tapi aku kelar juga baca novel ini.. novel berjudul Bumi karya Tere Liye, hasil hunting buku bareng Mas Uki beberapa waktu lalu. Kebetulan novel ini juga dibeli karena rekomendasi dia.

Dari dua novel yang aku beli waktu itu—Bumi, karya Tere Liye dan Sunshine Becomes You, karya Ilana Tan—justru aku lebih memilih buat baca Bumi lebih dulu. Padahal selama ini novel Sunshine Becomes You-lah yang aku idam-idamkan. Ketertarikan aku terhadap novel Sunshine Becomes You menguap sementara, dikalahkan sama rasa penasaran aku terhadap novel Bumi. Gimana enggak? Sinopsis di back cover-nya misterius gitu :

“Namaku Raib. Usiaku 15 tahun, kelas sepuluh. Aku anak perempuan seperti kalian, adik-adik kalian, tetangga kalian. Aku punya dua kucing, namanya si Putih dan si Hitam. Mama dan papaku menyenangkan. Guru-guru di sekolahku seru. Teman-temanku baik dan kompak. Aku sama seperti remaja kebanyakan, kecuali satu hal. Sesuatu yang kusimpan sendiri sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan..
Namaku Raib. Dan aku bisa menghilang.”

Sebelum membuka segelnya, aku nggak pernah menyangka kalo novel ini berbau fantasi. Bahkan dengan sok tahunya, aku menyangka kalo novel ini sedikit berkisah tentang kehidupan aku. Pasalnya, di bab pertama, ada kalimat kayak gini :

“Di kelas sepuluh sekolah baru ini, aku lebih suka menyendiri dan memperhatikan.. Aku duduk diam di keramaian di kantin, di depan kelas, dan di lapangan. Sebenarnya sejak kecil aku terbilang anak pemalu. Tidak pemalu-pemalu sekali memang, meskipun satu-dua kali jadi bahan tertawaan teman atau kerabat. Normal-normal saja, tapi sungguh urusan pemalu inilah yang membuatku berbeda dari remaja kebanyakan..”

Waktu itu aku pikir.. Wah, ini kayak aku nih. Menarik sekali.
Aku pikir, ‘menghilang’ yang dimaksud di novel ini adalah ‘nggak terlihat’, seperti aku saat berada di lingkungan sosial. Tapi ternyata, aku salah, Pemirsaaa..
Ternyata kata ‘menghilang’ disini memang bermakna sebenarnya.

Ketika membaca novel ini, aku serasa menyimak anime versi novel. Yah, mungkin karena yang aku imajinasikan didalem kepala aku selama membaca novel ini adalah visualisasi berbentuk anime. Mungkin juga karena novelnya yang berbau fantasi.

Walaupun sempet kecewa karena isi ceritanya nggak seperti yang aku pikir sebelumnya, tapi akhirnya rasa kecewa itu menguap juga, karenaaa.. ceritanya seru banget. Didalem novel ini dikisahkan bahwa bumi memiliki beberapa lapisan. Orang-orang biasa seperti kita berada di lapisan bumi terendah, sehingga kita disebut Makhluk Tanah.

Tokoh utama dalam kisah ini adalah seorang anak berumur lima belas tahun bernama Raib yang sebenarnya berasal dari lapisan bumi yang setingkat lebih tinggi dari lapisan bumi tempat kita tinggal, tapi nyasar ke lapisan bumi terendah ini, sehingga meskipun dirinya terlihat sama seperti anak-anak pada umumnya, tapi sebenernya dia punya kelebihan yang nggak orang lain punya dan nggak orang lain tau. Pada awalnya kehidupan Raib berjalan aman-aman aja sampe kemudian muncul orang asing yang ingin memanfaatkan kekuatan yang ia miliki dan mencoba membawanya ke dunia lain untuk dijadikan pengikutnya. Untungnya Raib nggak sendirian ngadepin masalah itu. Ada dua temannya—yang sama-sama luar biasa—dan beberapa penduduk bumi yang berbaik hati membantunya.

Meskipun didalem kisah ini Raib jadi tokoh utama, tapi aku justru kagum sama Ali, salah satu temen Raib yang ikut terlibat dalam masalah. Bukan hanya karena si Ali digambarkan punya sosok ganteng dan cute, tapi karena si Ali mengagumkan dengan caranya sendiri, meskipun dia adalah Makhluk Tanah yang berasal dari lapisan bumi terendah.

Asli, setelah aku baca dua karya Tere Liye, aku jadi bener-bener jatuh cinta sama penulis yang satu ini. Aku suka sama gaya tulisannya yang selalu bikin penasaran. Dia sering banget menyisipkan kalimat misterius di akhir bab, sehingga kalo kita berniat pengen berhenti di akhir suatu bab, kita pasti dibuat penasaran sama bab selanjutnya sehingga mendorong kita untuk ngelanjutin bacaan. Dan rasanya setiap kali baca tulisan dia, aku nggak ngerasa kayak baca novel lokal, melainkan novel terjemahan. Keren lah pokoknya. Satu yang disayangkan adalah ending-nya yang terlalu maksa menurut aku. Aku kecewa disitunya aja sih..

Huaaahh.. aku berterima kasih banget sama Mas Uki yang udah merekomendasikan karya-karya Tere Liye ke aku. Aku jadi pengen ngoleksi buku-bukunya yang lain. So, bulan Juli nanti, rasanya wajib buat beli beberapa novel-novel tulisan Tere Liye lagi, termasuk novel Bulan yang merupakan kelanjutan dari kisah didalem novel ini. Maaf, Bang CS.. Maaf, Bang Radit.. Aku move on dari kalian :’)


Oke, mungkin aku lebay pake minta maap segala. Toh, mereka berdua nggak akan bangkrut hanya karena kehilangan satu pembaca doang. Lagipula, meskipun mungkin aku berhenti membeli karya mereka, tapi buku tulisan mereka yang aku koleksi akan selalu ada di perpustakaan kecil aku, dan aku masih jadi pengikut setia mereka di sosmed. Apalagi Bang Radit, bagaimanapun, aku masih jadi pengagumnya :)


Jumat, 07 November 2014 0 komentar

THE DEVIL LOVES CINNAMON

Aku jatuh cinta sama setan! Iya, bener. Dan setan itu bukan setan biasa. Pasalnya dia punya tampang yang absolutely ganteng dan sempurna. Selain itu, dia juga suka banget sama cokelat dan kayu manis.

Mau kenalan sama Si Setan?

Yak! Dia ada di buku ini.




THE DEVIL LOVES CINNAMON.
Buku karya Ima Marsczha ini aku temukan diantara tumpukan ratusan buku di baazar buku murah Grage Mall tanggal 2 November lalu. Berapa harganya? Cuman sepuluh ribu perak!
Well, sebenernya waktu itu aku cuman iseng sih mampir ke baazar itu pas pulang kuliah. Soalnya aku udah yakin kalo di baazar itu aku nggak akan mungkin dapetin novel-novel yang aku cari dan terdaftar di daftar-novel-wajib-beli aku. Lagian novel Refrain yang aku beli sebulan yang lalu aja belom aku buka segelnya karena keterbatasan waktu buat baca. Makanya aku nggak antusias-antusias banget sebenernya buat beli buku lagi. Tapi tetep aja jiwa aku terpanggil buat kesana :v

Dan akhirnya, buku ini ada di tangan aku!

Oke, langsung aja deh aku beberin isi bukunya.

***

Widya baru aja merayakan pesta kelulusan S1-nya bersama temen-temennya ketika sebuah kabar buruk menyapa kupingnya. Bundanya kecelakaan dan kini dirawat dirumah sakit dalam keadaan koma. Sebagai seorang anak yang of course sangat menyayangi bundanya, Widya ngerasa terpukul banget mendengar hal itu. Apalagi selama ini bundanya itulah yang paling sering nemenin dia mengingat Widya adalah anak semata wayang, sementara ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaan di kantor.

Setiap hari, Widya rajin muterin lagu-lagu dan bacain buku buat bundanya, berharap bundanya itu bisa denger dan cepet sadar dari komanya. Suatu hari, Widya nganter Kasandra—sahabatnya—beli vas ke Pasar Ular. Disana, Widya bertemu sama seorang kakek penjual buku bekas. Karena kasian ngeliat kakek yang tampak kehausan itu, Widya ngasih kakek itu sebotol teh dan membeli tiga buah novel bekas dari kakek itu dengan harga lima puluh ribu, padahal kakek itu ngasih harga lima belas ribu doang buat tiga novel itu. Sebagai tanda terima kasih, kakek itu ngasih dia sebuah buku dengan sampul depan warna item.

Buku bersampul item itu misterius banget. Nggak ada tulisan apa-apa disampulnya. Isinya juga nggak menarik, dan banyak tulisan-tulisan yang udah sulit buat dibaca—saking tuanya buku itu. Di buku itu, Widya menemukan cara memanggil setan. Karena penasaran, dia praktekin deh cara itu dirumah. Malem itu dia bikin lingkaran yang dia buat dari bubuk kayu manis dan cokelat leleh di dapur rumahnya, sesuai dengan apa yang tertulis di buku misterius itu. Karena nggak terjadi apa-apa, Widya pun ngerasa geli sendiri sama apa yang dia lakuin, kemudian dia masuk kamer buat tidur.

Baru aja Widya mau merem, tiba-tiba matanya menangkap sosok cowok ganteng—tapi telanjang di kamernya. Yang namanya cewek normal, kalo liat cowok telanjang plus nggak dikenal—apalagi di kamer pribadinya—pasti teriak dong. Gila aja.. Itu orang gila nyasar apa penjahat kelamin?

Ternyataaa.. cowok ganteng tapi telanjang itu adalah setan yang dipanggil Widya dengan lingkaran bubuk kayu manis dan cokelat yang Widya buat itu. Dan karena Widya yang manggil setan itu, maka Widya-lah satu-satunya manusia yang bisa liat Si Setan. Si Setan berkata bahwa dia bisa mengabulkan permintaan Widya.

Permintaan Widya cuman satu. Dia pengen bundanya segera sadar dari koma. Tapi karena permintaan Widya menyangkut nyawa manusia, Si Setan nggak mau ngabulin permintaan itu. Kalo dia kabulin permintaan Widya, itu sama aja dia melanggar aturan Tuhan. Dan kalo dia melanggar aturan Tuhan, dia bakal dibuang ke bumi dan jadi manusia, atau dimusnahkan. Karena Si Setan nggak bisa mengabulkan permintaan Widya, akhirnya Si Setan pun terjebak didunia manusia, coz dia baru bisa pulang ke Neraka kalo udah bisa mengabulkan permintaan Widya.

Esoknya, bunda Widya meninggal. Hal ini membuat Widya jadi benci banget sama Si Setan yang nggak mau ngabulin permintaannya.

Singkat cerita, ayah Widya berencana menikahkan Widya sama anak dari salah satu rekan kerjanya. Namanya Ananta Putra Wildansyah. Pertemuannya dengan Ananta bener-bener bikin Widya tercengang. Bukan karena Ananta ganteng dan punya postur tubuh sempurna (tapi emang ganteng bin perfect sih), tapi karena wujud Ananta bener-bener kayak pinang dibelah kapak sama Si Setan!! Nah lho, kok bisa?

***

Well, novel keluaran Gagas Media emang nggak usah diragukan lagi deh isinya. Salah satunya ya novel ini. Temanya menarik dan penuturannya ringan. Remaja banget lah (tapi untuk yang 18+ yaaa..). Novel ini bener-bener bikin aku senyum-senyum sendiri bacanya. Apalagi kalo udah baca dialog perdebatan antara Widya sama Si Setan. Gokil abis. Si Setan bawel, Si Widya-nya lemot (kebanyakan kenapa-kenapa-kenapa) :v

Yaaahh.. awalnya sih emang biasa aja. Aku sempet nggak suka juga sama tokoh Widya yang manja dan sering hura-hura (such as clubbing, drinking, pulang malem..). Tapi begitu tokoh Si Setan muncul, ceritanya mulai hidup dan menarik.. mendorong aku buat membuka lembar-lembar selanjutnya sehingga novel setebal 243 halaman ini bisa aku lahap dalam waktu dua hari. Dan seperti yang aku bilang di awal, the devil really makes me fall in love!!

Salah satu adegan yang paling aku suka adalah ketika Si Setan nganterin Widya ke gerbang surga buat nemuin bundanya yang udah meninggal. Dan sebagai konsekuensinya, Si Setan harus rela dibuang ke bumi dan jadi manusia selamanya.. menyatu dengan tubuh Ananta. Aisshh.. gila! Itu sweet banget. Itulah yang bikin aku jatuh cinta sama Si Setan alias Ananta.

Anyway, novel ini mengajarkan kepada kita bagaimana kita harus rela berkorban demi orang yang kita sayang. Kayak Si Setan itu, yang rela mengorbankan kehidupan abadinya yang bebas, demi seorang manusia yang dia cintain. Iya, setan juga bisa jatuh cinta :D

Total Tayangan Halaman

 
;