Tampilkan postingan dengan label Interpretasi Lagu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Interpretasi Lagu. Tampilkan semua postingan
Kamis, 21 Mei 2026 0 komentar

The Party's Over, But The Feelings Aren't

One Ok Rockers, masih PCD alias Post-Concert Depression? Kayaknya pertanyaan itu udah nggak perlu dijawab lagi deh ya. Siapa juga yang bisa langsung move on dari konser se-dar-der-dor itu, yekan?

Well, I didn't make it to the party, but my heart was there. Aku masih jadi penonton feed dan story orang-orang, as always :') I thank you all yang ngepost dokumentasi banyak-banyak. Euforianya benar-benar nembus layar sampai aku yang cuma nonton dari timeline aja malah ikutan PCD. Normal nggak sih? Atau ini efek doom scrolling fancam tiga hari berturut-turut? Wkwkwk. Jujur, meskipun ikut happy, rasa iri dan sedih itu tetap ada. Tapi, konser One Ok Rock kali ini buatku rasa sedihnya double karena bercampur kecewa.

FYI, aslinya aku baru dengar album Detox-nya One Ok Rock ini secara keseluruhan itu di awal April lalu, karena sebelumnya aku masih belum move on dari album Luxury Disease, hingga kemudian kabar itu muncul : CGV dan Cinepolis akan menayangkan Konser One Ok Rock DETOX Japan Tour 2025 At Nissan Stadium.

Pas baca pengumuman itu, aku langsung excited sendiri. Pasti asik banget ya kalo bisa nonton konser OOR di layar lebar dan nyanyi bareng. Fangirling pun bisa lebih diekspresikan, nggak sebatas teriakan tertahan kayak kalo nonton sendirian di Youtube. Dan karena merasa ini masih mungkin dijangkau, tanpa pikir panjang aku langsung memutuskan buat nonton. Toh walaupun nggak bisa menggantikan konser asli, seenggaknya aku bisa ikut merasakan hype-nya dengan harga yang jauh lebih realistis untuk dompet kaum mendang-mending. Wkwk.

Tapi nonton konser nggak afdol kalo nggak hafal atau minimal tau lagunya dong ya? Jadilah aku dengar semua lagu di album itu sambil terus mantengin info tentang penayangannya. Udah pede banget gitu kan bakal nonton. But my hopes ended up torn into tiny pieces. Begitu pengumuman lokasi penayangan keluar, rupanya CGV di kotaku nggak kebagian. Kenapa siiiih? Kenapaaa? Memangnya One Ok Rockers di Cirebon sesedikit itu kah? Begitu batinku.

Lalu tanggal 10 April, seseorang mengirim DM ke akun Instagramku. Isinya ajakan untuk ngevote di polling yang diadakan oleh Kimochi Management, komunitas jejepangan di kotaku. Mereka lagi cek ombak gitu buat ngajuin penayangan konser itu di CGV Cirebon kalo peminatnya tembus 60 orang. Of course, aku langsung ngevote dengan penuh harapan.

Dan yahh... setelah ditunggu berhari-hari, nggak ada kabar lanjutan lagi. Harapanku pupus untuk kedua kalinya. Kecewa. Berat. Banget, karena bahkan dalam hal yang kukira bisa kujangkau pun aku nggak punya kesempatan. 

Selain itu, mungkin salah satu alasan kenapa konser ini terasa begitu emosional buatku adalah, karena aku sadar bahwa ternyata aku udah mengagumi mereka selama kurang lebih 12 tahun. Aku memang bukan fans yang mengikuti mereka sejak awal debut sih, tapi cukup lama untuk melihat bagaimana mereka berkembang.

Aku masih ingat dulu pelafalan English Taka tuh masih "Jepang banget", kayak "from" jadi "flom", "wherever" jadi "whelevel", "everybody" jadi "evelybody".
Tapi sekarang? Kerasa banget kan perkembangan pronunciation dia? Udah jauh lebih natural dan "ngenglish" dibanding dulu. Dan entah kenapa, sebagai fans lama, melihat perkembangan itu tuh rasanya membuatku bangga :')

Bukan cuma soal kemampuan bahasa aja, tapi juga karena setelah semua kritik, perubahan musik, sampai masa-masa berat yang mereka lewati, mereka tetap bertahan dan berkembang. Makanya mungkin rasa sedih karena belum pernah nonton mereka secara langsung itu juga datang dari sana kali yaa.

Tapi hikmah dari semua ini adalah, aku jadi dengerin semua lagu di album Detox, yang ternyata sebagian besar lagu dalam album ini tuh terdengar sangat emosional.


DELUSION:ALL

Aku yakin semua pendengar pasti setuju bahwa lagu ini adalah suara hati rakyat, khususnya mereka yang frustrasi dan kecewa pada sistem dan demokrasi. Dalam lagu ini, One Ok Rock menyuarakan kritik terhadap perpecahan sosial dan politik, dan menekankan pentingnya persatuan dan perlawanan terhadap manipulasi. Dan ketika melihat bagaimana lagu ini menggema di Indonesian Arena di tengah kondisi negara yang rasanya absurd banget belakangan ini, astaga, aku merinding. Sebagai WNI, rasanya lagu ini sangat relate dengan isi hati kita sekarang ya?

PUPPETS CAN'T CONTROL YOU
Masih membawa tema serupa, lewat lagu ini, Taka CS mengkritik para penguasa yang mencoba mengendalikan masyarakat, seperti manipulasi, politisi yang nggak jujur, dan media yang bias. Lagu ini juga mengingatkan kita untuk nggak gampang tertipu oleh kebohongan yang disebarkan kepada publik, apalagi di tengah gempuran teknologi AI, di mana kebenaran dan kebohongan bisa dengan mudah dipelintir, dan... para buzzer di sekitar kita 🙃

NASTY
Ini lagu yang ketika pertama kali dengar, rasanya kayak, "Gila, liar banget". Vibes berontaknya tuh terasa banget. Aku merasa lagu ini seperti ditujukan untuk para pendengar One Ok Rock, khususnya untuk mereka yang belakangan ini ngejudge perubahan musik mereka. Kalian pasti tau kan bahwa setelah album Ambitions, banyak banget yang berpendapat bahwa One Ok Rock tuh kayak kehilangan identitas? Mereka udah nggak se-jepang dulu lagi, akhirnya banyak fans lama yang menuntut mereka untuk kembali seperti dulu. Tapi faktanya, One Ok Rock jadi mendunia karena musik mereka yang sekarang. So, lewat lagu ini tuh, Taka CS seolah mengungkapkan, "Kami udah dengar semua opini kalian. Intinya ini kami yang sekarang. Kalian mau dengar, syukur. Mau nggak dengar pun, terserah. Kami nggak peduli", gitu. Ini menurutku yaa. CMIIW. Oiya, yang "unik", One Ok Rock menyisipkan sound mirip desahan perempuan di beberapa part lagu. Jujur, aku sempat kaget pas pertama dengar (untung pakai earphones).

PARTY'S OVER
Lagu ini seperti ungkapan getir bercampur amarah dan muak atas hubungan yang membuat seseorang akhirnya benar-benar capek secara emosional. Capek ngasih kesempatan terus-menerus ke orang yang sama, capek dibohongi, dimanfaatkan, dan dikhianati berulang kali. 

TINY PIECES
Kadang kita baru bisa merasakan betapa berharganya seseorang setelaeh orang itu pergi meninggalkan kita. Mungkin itu yang diungkapkan dalam lagu ini. Lagu ini menceritakan tentang sepasang kekasih yang terjebak dalam hubungan toxic (kusebut toxic karena ada part lirik yang menyebutkan bahwa mereka bertengkar untuk masalah yang sama selama dua puluh kali), hingga akhirnya si wanita memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu, menyisakan penyesalan yang sangat dalam bagi pasangannya.

BTW aku lihat fan-project One Ok Rockers di konser kemarin. Mereka bersama-sama menyalakan flashlight yang ditempel stiker dengan warna-warna berbeda ketika lagu ini dibawakan. Indaaah banget. Dengar-dengar Taka sempat nangis yah?

DYSTOPIA
Lewat lagu ini, One Ok Rock ingin mengajak pendengar untuk nggak menyerah, tetap semangat, dan terus berpegang teguh pada iman meskipun tengah berada di masa-masa sulit dan titik terendah. 

TROPICAL THERAPY
Lagu ini kayaknya bakal jadi one of my anthems kalo lagi penaaaaat banget sih, kayak, "Ya Allah, pingin healing", karena liriknya sangat relate untuk aku dan mungkin kalian yang jenuh sama rutinitas, para budak korporat yang udah too exhausted sama tekanan pekerjaan, atau ibu-ibu rumah tangga yang overstimulated sama toddlernya yang nempel melulu. Wkwkwk. Part "My spirit is guiding me to a place where demons can't find me. I'm looking for heaven like golden gates surrounded by palm trees" tuh menggambarkan suatu keinginan yang kuat untuk berada di suatu tempat yang tenang dan indaaah banget, saking indahnya rasanya kayak ada di surga, sampai lupa sama semua rasa sakit dan hal-hal yang stressful.

+MATTER
Aku pernah membaca sebuah komik digital (aku lupa siapa pembuatnya) yang dishare di sebuah platform sosial media. Ceritanya tentang seseorang yang merasa dirinya nggak berguna dan nggak berarti bagi siapapun. Dia mengeluhkan hal itu sambil membuang air dari botol minumnya. Air itu tertampung dalam sebuah wadah. Beberapa lama kemudian, datang seekor burung yang sangat kehausan. Ia meminum air dari wadah itu, dan merasa sangat bersyukur.

Sama seperti yang digambarkan di komik itu, lagu ini maknanya dalam dan heartwarming banget. Lewat lagu ini One Ok Rock ingin mengingatkan bahwa meskipun hidup terasa berat, kita nggak pernah sendirian. Setiap individu bernilai. Mungkin banyak dari kita yang merasa nggak berarti bagi siapapun, tapi kita nggak sadar bahwa keberadaan kita berarti untuk individu lain. "Do I matter to you? You matter to me. You matter, and we all matter". 

C.U.R.I.O.S.I.T.Y
Jujur, aku kurang paham sih sama makna lagu ini. Tapi kalo dari part lirik "We can stay walking on the dotted line, or we can make our own", sepertinya lagu ini mengungkapkan ajakan untuk berani menjadi diri sendiri, bahkan jika itu melawan arus. Sesuai dengan makna lagunya, beat dari lagu ini juga membakar semangat banget sih. Apalagi ada part scream dan rap yang bikin lagunya semakin ciamik. Di lagu ini, bagian rap diisi oleh Chico Carlito, tapi di konser kemarin bagian ini diisi oleh Toru. Hayo, siapa yang senyam-senyum dan teriak-teriak lihat Toru ngerap? Aku sih melongo lihat Taka yang muter-muter setelah headbang sambil menghentak-hentakan kaki, lalu berdiri tegak sambil mengulurkan tangan ke depan dengan jari-jari yang membentuk cakram dan berseru, "MY CURIOSITY!"
Haisshhh... sugooooiiii!!

THIS CAN'T BE US
I think... ini lagu paling sedih di album ini. Awalnya vibe lagu ini sedikit terasa kayak Pierce, tapi kemudian ketika masuk ke Verse 2, aku merasa makna lagu ini jauh lebih menyesakkan. Bayangkan, kamu punya seseorang yang kamu anggap "rumah" dan jadi bagian terpenting dalam hidupmu, lalu kamu harus kehilangan orang itu secara tiba-tiba. Part "This can't be us, I don't know how to say goodbye" dan "This can't be us, I think I'm going outta my mind" itu mencerminkan guncangan dan ketidakpercayaan yang mendalam atas kehilangan itu.

Awalnya aku nggak tau lagu ini ditujukan untuk siapa. Hingga suatu hari ketika lagu ini kumainkan di Youtube Music, official lyrics videonya ikut terputar. Bentuknya cuma animasi sederhana, diawali sosok anak kecil yang menangis. Lalu seorang wanita tua dengan senyum lembut menghampiri sambil mengulurkan kedua tangannya. Anak kecil itu pun lantas tersenyum. Lalu mereka berdua berjalan bergandengan tangan, tampak bahagia. Waktu-waktu berlalu, anak kecil itu semakin tumbuh dewasa dan mulai mandiri, nggak lagi dituntun. Ketika anak itu berbalik, perempuan tua itu masih tersenyum hangat. Dari situ, dan dari beberapa komentar di video itu, aku bari tau... bahwa lagu itu, didedikasikan Taka untuk mendiang neneknya yang selalu mendukung dan merawatnya selama masa-masa sulit dalam hidupnya 🥲

THE PILOT <\3
Aah, ini dia. Kemarin-kemarin aku sempat berniat untuk nulis tentang lagu ini di blog terpisah, tapi karena belum sempat, jadi kutulis sekalian di sini aja. Karena itu, tulisan tentang lagu ini bakal agak panjang, dan disisipi curhat pribadi. Hehehe.

The Pilot<\3 adalah salah satu karya Taka yang paling personal, karena menceritakan hubungan antara ia dan ayahnya. As we know, Taka dan adik-adiknya tumbuh dari keluarga broken home. Melihat kedua orangtuanya bertengkar, ditambah keinginan anak-orangtua yang berseberangan, nggak mudah untuk diterima oleh Taka yang saat itu baru beranjak remaja. 

Banyak One Ok Rockers yang menjadikan lagu ini sebagai anthem of the broken home kid. Tapi menurutku, nggak hanya anak-anak yang mengalami broken home, anak yang memiliki orangtua yang utuh tapi nggak dekat secara emosional pun agaknya cukup relate, dan aku adalah salah satunya.

Aku tumbuh di bawah didikan seorang bapak yang cukup keras. Kalo bahasa anak-anak sekarang sih "didikan VOC" ya. Selain itu, beliau juga tipe yang terlalu serius, judgemental, dan otoriter. Bahkan hal kecil yang kulakukan, yang sebenarnya sangat wajar dilakukan oleh anak kecil pun nggak lepas dari pengadilannya. Dampaknya lumayan besar, aku jadi takut salah ngomong dan nggak berani untuk melakukan hal spontan, terlebih di depan beliau. Semua hal yang beliau lontarkan padaku, cuma bisa kutelan mentah-mentah tanpa berani kubantah, meskipun hal itu bertentangan. 

Dan ya, hubungan emosional kami pun jadi nggak dekat. Kami jarang ngobrol, apalagi bercanda. Pernah beliau membuka obrolan, tapi karena canggung, aku cuma bisa merespon pendek dan sekenanya. Sering aku merasa kasihan dengan beliau yang tampak kesepian di hari tuanya. Sehari-hari menghabiskan waktu di teras, sendirian. Tapi ketika beliau mulai menegurku dengan nada tingginya, kali ini aku bisa melawan, meresponnya dengan nada yang juga tinggi, meskipun sejurus itu, di dalam hati aku menyesal. "If I break your heart, forgive my broken heart", this line hits me so hard.

Tapi part yang paling perih menurutku ada di Verse 2:
"I'm going home, wherever home is
I've gotten used to having nobody around
I was asleep behind a bar, but I was dreaming of your arms
Within myself I've come to find my safe and sound"

Part yang sangat relate untuk anak-anak yang kedua orangtuanya udah berpisah. Aku tentunya nggak di level ini, tapi sedikit yang bisa kugambarkan, part ini tuh kayak ungkapan kerinduan seorang anak yang teramat sangat ke orangtuanya. Kayak... kangen pelukan hangat, tapi dia nggak punya "rumah" karena yang dia miliki hanya dirinya sendiri. Akhirnya kerinduan itu cuma bisa dia bawa tidur karena kenyataannya dia nggak bisa dapat pelukan itu lagi. 

Dan kenapa judulnya The Pilot? Aku merasa "pilot" di lagu ini bukan cuma tentang sosok bapak, tapi tentang sosok yang memegang arah dan harusnya membuat kita merasa aman. Dan keluarga itu ibarat pesawat. Maka ketika sosok itu gagal menjalankan perannya, rumah jadi nggak lagi terasa seperti tempat pulang. 

***

Hmm rasanya vibe album ini tuh kayak gloomy gitu yah? Well, Taka dan yang lainnya juga memang mengakui hal itu sih. Hal ini Taka ungkapkan di konser kemarin, bahwa tema di album ini lebih berat ketimbang album-album sebelumnya, karena selain lagu-lagunya yang penuh lirik mendalam tentang hidup, mereka juga mengangkat isu sosial, politik, dan pemerintah yang korup. Taka CS menyadari betapa dunia saat ini begitu chaos, dan sebagai musisi rock, mereka merasa harus bersuara.

Doc : @selvselv on Threads


Dan kalian juga pasti notice kan, selama konser kemarin mereka tuh kayak yang capek banget? Aku lihat nggak sedikit juga yang membandingkan performance mereka kemarin dengan konser tur Luxury Disease tiga tahun silam. Yah, perjalanan mereka selama tur album Detox ini memang nggak mudah sih. Mulai dari Taka yang cedera kaki, kena panic attack, sakit tenggorokan sampai suara serak, ditambah konser mereka di Hongkong dan Shanghai pun terpaksa dicancel karena ketegangan politik antara Cina dan Jepang. Tapi mereka tetap tampil all out untuk konser penutup tur mereka ini.

Taka juga sempat curhat di postingan Instagramnya pasca konser kemarin. Jujur, ih kayak sedih nggak sih baca captionnya? 

"Jujur, aku merasa lelah baik mental maupun fisik. Tapi aku merasa semuanya pantas. Untuk sementara waktu, aku akan fokus bertumbuh sebagai seorang individu sambil menghadapi kesepian yang besar selama melalui album dan tur ini, dan aku akan kembali lebih kuat dari sebelumnya". 

Banyak juga yang mengira Taka CS bakal hiatus selama beberapa lama. Tapi... enggak kan yah? Kurasa dia dan kawan-kawan cuma butuh istirahat sejenak. So, just let them get their tropical therapy lah ya, Guys.

Dan mungkin suatu hari nanti, aku benar-benar bisa nonton mereka secara langsung. Bukan cuma lewat fancam, livestream, atau layar bioskop. Sebenarnya kalo dipikir-pikir, bukan berarti hal itu mustahil banget buatku sih. Aku masih bisa nabung untuk tiket dan transport, meskipun mungkin cuma sanggup ambil kategori paling murah. Wkwk. Tapiiii masalah terbesarnya adalah mental “mendang-mending” yang selalu muncul.
“Mending buat liburan sama anak dan suami.”
“Mending buat upgrade HP.”
“Mending buat invest emas.”
“Mending buat kebutuhan lain.”

Dan ujung-ujungnya, keinginan buat nonton konser selalu kalah prioritas.

Jadi kalo someday akhirnya aku benar-benar bisa hadir di venue mereka sambil nyanyi sekeras mungkin bareng ribuan One Ok Rockers lainnya… semoga saat itu aku udah nggak lagi merasa bersalah untuk memilih sesuatu yang sebenarnya juga aku inginkan ^^


Rabu, 17 Juni 2020 2 komentar

Old But Gold : Nobody's Child, Lagu Pilu Dengan Irama Riang Gembira

Hampir setiap pagi, sambil bersiap-siap pergi ngantor aku selalu memutar lagu. Hal ini ampuh banget membuatku menjadi lebih bersemangat di pagi hari dan membuat mood menjadi lebih baik. Namun pagi ini hatiku justru dibuat ambyar gara-gara satu lagu yang kukira bertema ceria.




Aku pertama kali mendengarkan lagu ini belasan tahun lalu. Waktu itu aku masih duduk di bangku SD, lagu ini (dalam versi Karen Young) diputar dari kaset pita milik bapak. Irama lagunya terdengar asik, dan aku lumayan menyukainya. Hanya menyukainya, karena memang lagunya terdengar cukup enak di telingaku.

Dan pagi ini, lagu Nobody's Child versi Foster and Allen terputar secara shuffle dari playlist Spotify-ku. Sambil meratakan make-up di wajahku, aku mencerna kata demi kata yang dilantunkan sang penyanyi (meski nggak sepenuhnya, karena listening skill-ku sebenarnya nggak begitu baik). Saat itulah, it turned incredibly dark all of a sudden. Aku baru memahami makna sebenarnya dari lagu ini yang rupanya sangat jauh dari ceria seperti yang dulu kukira.

***


As I was slowly passing an orphans' home one day
And stopped for just a moment to watch the children play
Alone a boy was standing, and when I asked him why

He turned with eyes that could not see and he began to cry

I'm nobody's child, I'm nobody's child
Just like the flowers, I'm growing wild
No mummy's kisses and no daddy's smile
Nobody wants me, I'm nobody's child

People come for children and take them for their own
But they all seem to pass me by, and I am left alone
I know they'd like to take me but when they see I'm blind

They always take some other child and I am left behind 


I'm nobody's child, I'm nobody's child
Just like the flowers, I'm growing wild
No mummy's kisses and no daddy's smile
Nobody wants me, I'm nobody's child


No mommy's arms to hold me or soothe me when I cry
Sometimes it gets so lonely, I wish that I could die
I'll walk the streets of heaven where all blind can see
And just like all the other kids there'd be a home for me 

***
Lagu ini menceritakan tentang seorang anak yatim piatu penyandang tuna netra yang merindukan kasih sayang orangtua. Pada bait pertama lagu ini, dikisahkan bahwa si penyanyi tengah lewat di depan sebuah panti asuhan. Ia berhenti sejenak untuk melihat anak-anak panti bermain. Namun ia tertegun ketika melihat seorang anak laki-laki berdiri sendirian. Ia pun menghampiri anak itu dan bertanya kenapa ia nggak bergabung bersama anak-anak lainnya. Ketika itulah si penyanyi menyadari bahwa kedua mata anak itu buta. Anak itu pun mulai menangis.

Bait kedua, dan seterusnya berisi tentang curahan hati si anak. "Aku bukan anak siapa-siapa. Aku seperti bunga yang tumbuh dengan liar. Tak ada ciuman ibu ataupun senyuman ayah. Tak ada yang menginginkanku. Aku anak sebatang kara".

Bait ketiga, si anak bercerita bahwa orang-orang datang untuk mengadopsi anak, namun nggak ada satupun yang memilihnya untuk diadopsi. Padahal sebenarnya ia tau bahwa orang-orang itu tertarik untuk mengangkat dirinya sebagai anak, namun ketika mereka menyadari bahwa dirinya buta, ia pun tersisihkan. Mereka memutuskan untuk mengadopsi anak lain.

Bait keempat adalah yang paling heartbreaking menurutku, karena bait ini, mengungkapkan keputusasaan si anak. Betapa ia begitu menginginkan kehadiran seorang ibu yang bersedia memeluk atau menenangkannya kala ia menangis. Ia benar-benar merasa kesepian hingga ia merasa ingin mati. Ia berharap Tuhan segera memanggilnya. Ia yakin bahwa di surga nanti, para tuna netra seperti dirinya akan mampu melihat dan mendapatkan kebahagiaan seperti anak-anak normal lainnya.

***

Aku lahir dan tumbuh di tengah-tengah keluarga yang lengkap. Meski begitu, aku sering iri setiap kali melihat orang lain yang memiliki hubungan begitu baik dengan para orangtua mereka, dimana peran orangtua mereka nggak hanya sebatas sebagai ibu dan ayah, tapi juga sebagai kawan. Sementara aku dengan bapak aja jarang banget ngobrol. Sedih banget rasanya. Tapi begitu mendengar dan memahami makna lagu ini, aku jadi sadar bahwa begitu banyak anak yang terlahir kurang beruntung di luar sana. Ada yang terlahir tanpa orangtua, ada yang terlahir dengan kondisi fisik kurang sempurna, bahkan ada yang mengalami keduanya seperti yang diceritakan pada lagu Nobody's Child ini. Ada rasa trenyuh di dada, membayangkan bagaimana rasanya menjadi anak yang dikisahkan dalam lagu ini. Aku seharusnya bersyukur karena terlahir normal, serta tumbuh dengan keluarga yang lengkap sampai sekarang. Hidupku yang kukeluhkan saat ini adalah hidup yang didambakan mereka yang kurang beruntung di luar sana. 

A-ah, nggak kusangka bahwa pagi-pagi begini hatiku dibuat terluka oleh sebuah lagu sedih yang dinyanyikan dengan nada riang. Aku cengeng banget kalo mendengar lagu-lagu yang liriknya deep kayak gini. Mendengar lagu ini aja perasaanku sebegini hancurnya, nggak kebayang bagaimana perasaan mereka yang mengalaminya :')
Selasa, 21 April 2020 0 komentar

Tumbuh dan Patah




AND I NEED YOU
By : Fiersa Besari

The silhouette that almost burn
Siluet yang nyaris terbakar
All pictures in my head are gone
Seluruh gambaran di kepalaku hilang
But one still remains and I see it clear
Namun satu yang tersisa dan kulihat jelas
Your voice's guiding me through the dark
Suaramu membimbingku melewati kegelapan
As if it never let me go
Seolah tak pernah membiarkanku pergi
You teach me how to fly with broken wings
Kau mengajariku terbang dengan sayap yang patah
I'm lying naked in your arms
Aku berbaring di pelukmu
Well let me sleep as tears run dry
Biarkan aku terlelap seiring keringnya air mata
Please hold me close, my heart is getting weak
Kumohon peluk aku erat, hatiku kian lemah
You whisper me those symphonies
Kau bisikkan simfoni itu padaku
The lies that never been this sweet
Kebohongan yang tak pernah semanis ini
You're everything and everything is you
Kau adalah segalanya, dan segalanya adalah kau
And I need you...
Dan aku membutuhkanmu
Like the earth needs the sun
Seperti bumi membutuhkan matahari
Like the flowers need rain
Seperti bunga membutuhkan hujan
Like a song needs a poem
Seperti lagu yang butuh syair
Like the child needs a blanket
Seperti anak membutuhkan selimut
***
 

GLIMPSE
By : Fiersa Besari 

Is there an island of hope?
Adakah sebuah pulau harapan?
So I could rest my head
 Agar aku bisa mengistirahatkan kepalaku
I'm tired of this journey
Aku lelah dengan perjalanan ini
And those nightmares from past
Dan mimpi-mimpi buruk dari masa lalu
I'm letting go all of the boxes
Kulepaskan segala kenangan
All the boxes of you
Segala kenangan tentangmu
Sometimes pain hurts me bad
Terkadang rasa sakit begitu menyakitiku
Let the rain sweep it away
Biarkan hujan menyapu
Glimpse of memories about you stays forever
Sekilas ingatan tentangmu menetap selamanya
I'm not okay
Aku memang tidak baik-baik saja
But I'll be just fine without you
Tapi aku akan baik-baik saja tanpamu
You broke my heart
Kau patahkan hatiku
But I'll be just fine 
Tapi aku akan baik-baik saja
Yeah I'll be just fine without you
Ya aku akan baik-baik saja tanpamu
And now we walk on our own path
Dan kini kita berjalan di jalan kita masing-masing
Time for me to sail the sea
Saatnya bagiku untuk berlayar
Facing tides and the wind
Menghadapi ombak dan angin
I'll find another reason to live
Aku akan menemukan alasan lain untuk hidup
I'm not okay
Aku memang tidak baik-baik saja
But I'll be just fine without you
Tapi aku akan baik-baik saja tanpamu
You broke my heart
Kau patahkan hatiku
But I'll be just fine 
Tapi aku akan baik-baik saja
Yeah I'll be just fine without you
Ya aku akan baik-baik saja tanpamu 
Don't cry anymore
Jangan menangis lagi 
You did nothing wrong
Kau tak melakukan kesalahan apapun
Get back on your feet
Bangkitlah kembali
So you could learn to smile once more
Hingga kau bisa belajar tersenyum lagi

Total Tayangan Halaman

 
;