Tampilkan postingan dengan label School Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label School Life. Tampilkan semua postingan
Minggu, 25 September 2016 6 komentar

Tentang Laki-Laki Yang Saat Ini Sedang Di Pelaminan

Mungkin ini postingan paling cheesy, bodoh, dan konyol yang pernah kuposting disini. Dan bukan nggak mungkin, kamu bisa muntah hanya dengan membaca ini. Kenapa? Because it’s gonna be one of my longest posts ever. Terlalu panjang hanya untuk sebuah postingan yang sebenarnya sama sekali nggak penting. But however.. tulisan ini adalah harta karunku. Terkubur lama, dan nggak semua orang tau. Entahlah. Aku rasa aku perlu mengungkapkan ini, karena aku nggak mau memendamnya lagi. Anggaplah ini tulisan terakhirku tentang dia, setelah sebelum-sebelumnya aku hanya menulis tentangnya lewat status-status singkatku, karena setelah hari ini, haram buatku untuk menulis tentangnya lagi.

Yup, it’s all about him..
Sesosok makhluk Adam paling sempurna yang pernah kukenal. Seseorang yang pernah menjadi faktor pendorongku untuk semangat masuk sekolah dan membuatku gemar duduk-duduk di koridor depan kelas hanya untuk melihat sosoknya muncul di depan mataku. Seseorang yang pernah membuatku merasa seperti perempuan paling bodoh di dunia. Seseorang yang paling lama menempati ruang kosong di hatiku.

Well, aku tau ini menggelikan. Aku bukan tipe cewek yang suka menceritakan hal-hal semacam ini pada sembarang orang. Bahkan mungkin beberapa orang berpikir bahwa aku nggak memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis. But no.. Of course, not. Walaupun aku (terduga) bukan manusia, alias makhluk yang (terduga) berasal dari luar bumi, atau mungkin lebih tepatnya makhluk mirip manusia yang nggak seperti manusia biasa, tapi sebenarnya aku juga merasakan  hal yang sama dirasakan sama manusia normal. I do ever fall in love with someone, I admit it. Jangan lanjutkan membaca ini kalo kamu mulai merasa mual ya :)

Aku menjulukinya ‘Pretty Boy’. Bukan, bukan karena dia adalah sesosok lelaki yang cantik, apalagi lelaki jadi-jadian. Sama sekali bukan. Aku menjulukinya ‘Pretty Boy’ karena aku suka banget sama lagu M2M yang berjudul Pretty Boy itu. Kenapa? Karena liriknya yang benar-benar mewakili perasaanku ke dia pada saat itu. Selain itu, karena bagiku dia adalah mahakarya Tuhan, makhluk keturunan Adam paling indah yang pernah kutau.

14 Juli, tujuh tahun yang lalu, aku melihatnya pertama kali di Masa Orientasi Siswa. Dia muncul dihadapanku dan teman-temanku bersama seorang temannya. Mereka berdua mengenakan seragam pramuka, dan status mereka adalah kakak kelas dua belas alias senior. Saat itu mereka berdua mendemokan ekskul pramuka kepada kami—murid-murid junior alias peserta Masa Orientasi Siswa. Saat memperkenalkan diri, temannya menunjuk dia sambil berkata, “Ini, cowok terganteng sejagat sekolah ini!” Dan dia cuma tersenyum lebar tanpa berkomentar. Sebuah senyum simetris yang memperlihatkan gigi-gigi putih yang berderet rapi. Saat itu, aku sama sekali nggak mengira bahwa senyum itulah yang akan membuat hatiku stuck di dia selama bertahun-tahun lamanya. There was no special feeling for him, selain rasa sukaku sama senyumnya yang cerah, secerah matahari pagi. One of the most beautiful smiles I’ve ever seen :)

Dunia ternyata memang sempit. Pemilik senyum secerah matahari pagi itu ternyata merupakan tetangga sepupuku. Bahkan dia itu dulunya merupakan kakak kelas sepupuku saat mereka sama-sama duduk di bangku SD. Dari sepupuku itulah aku jadi tau siapa namanya, dan dari sepupuku itu jugalah aku jadi tahu bahwa dia memang udah jadi siswa populer sejak dulu. Aku yakin, siapapun pasti setuju kalo kubilang dia punya wajah yang manis. Dengan postur tubuh ramping, kulit putih, alis tebal, hidung mancung, dan wajah yang agak kearab-araban (beberapa orang beranggapan wajahnya mirip orang India), bagiku he’s physically perfect. Believe it or not, dia pernah mampir ke mimpiku dengan adegan khas film romantis India. You know, like lari-lari di taman dengan pakaian khas India warna oranye, plus cilukba-cilukbaan di pohon. Damn! I do even still remember that!

Aku beruntung karena aku yang introvert akut ini bisa memiliki kesempatan untuk mengenalnya walau hanya lewat teks. Thanks a lot buat teman sebangkuku yang dengan senang hati membantuku mendapatkan nomor kontaknya, walau awalnya dia sempat salah kasih nomor (temanku itu malah memberiku nomor seseorang yang namanya mirip dengan si Pretty Boy). Aku juga bersyukur karena dia membalas pesan teksku dengan ramah. Memang sih, seringnya pesanku nggak dia balas. Tapi meskipun begitu, aku udah merasa cukup senang. Dari situ aku jadi tau bahwa kalo sore hari dia suka main gitar, aku jadi tau kalo dia memperoleh peringkat dua untuk Ulangan Semester Ganjilnya, dan aku jadi tau kalo dia nervous berat saat ujian praktek drama (saat itu dia berperan double jadi raja dan kurcaci).

Lucunya, setelah sekian lama kami saling berkirim SMS ataupun komentar di Facebook, aku sama sekali nggak pernah berani untuk face to face sama dia. Kalo ketemu pun, aku cuek aja, pura-pura nggak kenal. Hahaha.. Well, saat itu aku memang sengaja menyembunyikan identitas, karena aku terlalu malu untuk menunjukkan siapa aku. Aku nggak cukup percaya diri dengan penampilanku yang  jauh dari kategori cantik. Padahal kukira sepertinya dia diam-diam mencari tau siapa aku, pasalnya semenjak aku dan dia saling berkirim pesan dan komentar di Facebook, beberapa teman sekelasku dihampiri kakak kelas yang bertanya tentang siapa aku. Seketika aku jadi merasa seperti buronan. Aku menyesal udah memberi nama asli dan kelasku ke dia.

Yup, seriously. Aku sama sekali nggak pernah ngobrol langsung sama dia. Sekalinya aku melempar sepatah kata langsung ke dia itu saat suatu hari dia masuk ke kelasku bersama beberapa teman sekelasnya untuk membagikan angket. Aku dan teman-temanku diminta mengisi angket yang mereka bawa itu. Sialnya, temanku yang pernah memberiku nomor kontak si Pretty Boy itu berseru, “Tuh, yang ngefans sama Kak E****, Kak E****-nya udah ada tuuuuh..” Daaaamnn! Temanku itu mengoceh berulang-ulang. Karena risih, si Pretty Boy berujar, “Apaan sih kamu, Ndut?!” Hahaha..

Yang membuatku heran adalah, saat aku sedang mengisi angket, dia terus mondar-mandir di sebelah kananku sampai-sampai aku ragu untuk menulis namaku di angket yang kupegang. Sensasi mirip kesetrum pun aku rasakan berulang-ulang di area tengkuk (sesuatu yang biasa aku rasakan setiap kali berhadapan sama dia). Cukup lama aku menunggu dia berlalu, dia nggak beranjak juga dari tempatnya berdiri—sambil sesekali mondar-mandir—itu. Dia baru pergi saat aku selesai menulis nama. Iya, baru pergi sesaat setelah aku selesai menulis namaku! Mungkinkah dia ingin memastikan bahwa akulah orang yang sering mengirimkan pesan teks ke dia? Entahlah, tapi aku pikir begitu. For God’s sake, hal itu membuatku benar-benar nervous berat. Dan setelah selesai mengisi angket, dengan tangan bergetar dan jantung berdebar, aku memberikan angket yang kupegang itu ke dia sambil bilang, “Ini, Kak”. Ya, cuma itu, dan dengan kepala agak tertunduk karena aku nggak kuasa menatapnya. Pasti kelihatannya aneh banget. Dia menjawab, “ Makasih ya..” dan cuma itu juga sepatah kata yang dia ucapkan langsung ke aku.

Another awkward moment was.. saat upacara bendera di suatu hari Senin pagi. Hari itu, aku dan teman-temanku bertindak sebagai grup paduan suara. Aku dan teman-teman dalam grup paduan suara menghadap ke Timur, sementara para peserta upacara, pemimpin pasukan, dan pemimpin upacara menghadap ke arah Barat. Daaaann.. aku berdiri beberapa meter tepat di depan dia! Ya, kami berada dalam satu garis lurus. Dia jadi pemimpin pasukan—karena dia ketua kelas—dan aku yakin di posisi itu dia bisa dengan jelasnya melihat aku yang berdiri dengan ekspresi wajah yang (mungkin) aneh, atau mungkin enggak karena aku lebih banyak menundukkan kepala ketimbang mengangkat kepalaku, bertabrakan pandangan dengan dia, dan membiarkan ekspresi gugupku terekspos dengan jelas di matanya. Hell no! Saat itu, upacara bendera selama tiga puluh menit serasa seperti tiga puluh jam! Aku bukannya senang bisa berpuas-puas memandang wajahnya selama sekitar tiga puluh menit penuh, tapi yang ada justru sebaliknya. Rasanya aku ingin cepat-cepat angkat kaki aja dari situ.

Ada lagi kejadian awkward saat aku dan beberapa teman sekelasku berniat untuk internetan di sebuah warnet yang letaknya nggak begitu jauh dari rumah nenekku. Waktu itu, kami mau menyebrang jalan setelah turun dari angkot. Eh, tiba-tiba sebuah angkot lain berhenti di depan kami, dan kebetulan banget angkot yang berhenti di depan kami itu adalah angkot yang saat itu sedang ditumpangi si Pretty Boy. Dia duduk di depan, disamping supir). Mengetahui hal itu, teman-temanku menjerit tertahan, “Aaa.. Ada Aa Ganteng!” Sementara aku? P-A-R-A-L-Y-Z-E-D!

Aku merasa bersyukur karena kelas satu terletak di lantai utama dan berhadapan langsung dengan lapangan sepak bola. Karena dari tempat dudukku di kelas, aku bisa menonton dia main bola setiap pelajaran Olahraga hari Rabu, atau sekedar lewat di depan kelas. Dia itu seperti moodbooster. Hanya dengan melihat dia disaat jam pelajaran terasa membosankan, rasanya semangatku kembali penuh. Ibaratnya aku adalah baterai, dan dia chargernya. Setiap hari, setiap berangkat sekolah pun, aku selalu berharap bisa berpapasan sama dia di gang menuju sekolah. Dan benar aja, hal itu cukup sering terjadi diantara kami. Kami cukup sering bertemu mata di pertigaan menuju sekolah. Hal itu selalu jadi suntikan semangat tersendiri buatku ^^

23 November 2009. Hari itu diadakan acara persiapan menuju hari jadi sekolah yang ketiga-puluh tahun. Untuk merayakannya, sekolah menggelar acara fashion show dimana dua pasang perwakilan dari masing-masing kelas wajib tampil dengan mengenakan pakaian muslim di atas panggung yang udah disediakan di lapangan sekolah. Saat itu aku berharap dia jadi salah satu peserta di acara itu, tapi ternyata enggak. Alhasil, ketika warga sekolah lain asyik menonton acara fashion show, aku justru sibuk memperhatikan dia--yang saat itu mengenakan jaket putih garis-garis—yang kadang muncul dan kadang menghilang diantara kerumunan.

Keesokan harinya, aku menonton dia tampil bersama bandnya di acara anniversary sekolah yang ketiga-puluh tahun itu. Saat itu, dia yang berbalut hoodie hitam kesayangannya beryanyi sambil bermain gitar. Dengan lantang, dia menyapa para penonton yang terbakar semangat. Siswa-siswa senior langsung merangsek ke depan panggung, beberapa bahkan ada yang naik ke atas panggung dan bergoyang mengikuti alunan musik. Sisanya adalah para siswi seangkatanku yang berteriak-teriak, “My sweety.. Ya Allah, sweety-kuuuu!!” Ya Tuhan, betapa pesonanya sedemikian kuat. Dia belum jadi artis lho, tapi udah kayak superstar gitu :’) Semnetara para penonton menggila dan fangirling, aku cuma duduk di tempatku, nggak begitu jauh dari kerumunan itu. Rasanya aku pengen banget ikut merangsek ke depan bersama siswa-siswa senior itu dan merekam aksinya biar aku bisa tonton lagi sewaktu-waktu. Tapi aku terlalu malu buat melakukannya. Jadi, yang bisa kulakukan hanyalah duduk manis, mengikuti lagu yang dia bawakan, dan memandang dia dengan kagum dan mata berkaca-kaca. Lebay? I know, but whatever.

Kemudian pada tanggal 20 Februari 2010, sekolahku mengadakan acara peringatan Maulid Nabi, dan saat itu adalah acara peringatan Maulid Nabi paling berkesan buatku dimana untuk pertama (dan mungkin terakhir kalinya) aku mendengar dia membaca Al-Qur’an). Rasanya sejuk banget. Yang dia nggak tau, aku merekam suaranya di HP-ku. Nggak lama, cuma beberapa detik, karena kebetulan HP yang kupakai waktu itu memang nggak bisa merekam dalam waktu lama. Sialnya, HP itu tercebur di laut saat dibawa adikku. Akibatnya, HP itu mati total dan suara rekaman dia saat membaca Al-Qur’an itu nggak bisa aku dengar lagi.

Hari-hari setelah hari peringatan Maulid Nabi itu adalah hari-hari dimana dia jadi jarang kelihatan di sekolah. Hal itu karena dia dan kakak-kakak kelas tiga yang lainnya tengah menghadapi ujian kelulusan, sedangkan aku dan teman-temanku—yang saat itu masih kelas satu—libur. Rasanya ngenes kalo kuingat apa yang aku lakukan selama hari libur itu : mendengarkan lagu-lagu Korea dan Mandarin yang mellow-mellow, like God Bless You—OST Que Sera Sera; Love You—How  Boy; White—F4.. yah, banyak deh. Atau pergi ke warnet untuk download lagu sambil iseng stalking Facebooknya. Hahaha..

24 April 2010, hari dimana acara perpisahan kelas dua belas digelar, aku sempat menangis sendiri di kamar. Kenapa? Karena aku sadar bahwa setelah itu kami nggak bisa bersua sesering dulu lagi, atau bahkan nggak akan pernah lagi. Di sela-sela tangisku, aku cuma bisa membayangkan betapa keren dan gagahnya dia saat mengenakan jas berwarna coklat, kemeja, dan dasi hijau di acara perpisahan hari itu. Well, aku memang nggak ikut ke acara itu untuk melihar penampilannya secara langsung. Tapi aku tau mengenai outfit yang dia kenakan hari itu melalui salah satu teman baikku yang kebetulan ditunjuk untuk hadir mewakili kelas sepuluh.

Setelah hari itu, aku memang hampir nggak pernah melihat dia lagi di sekolah. Honestly, saat itu rasanya kangeeen banget.. Sekalinya dia hadir di sekolah, aku cuma melihat punggungnya saat dia masuk ke ruang guru. Saat itu, dia mengenakan jaket hitam kesayangannya. Well, dia sering banget mengenakan jaket hitam yang polos di bagian depan dan motif abstrak putih di bagian belakang itu. Tapi itu cukup membuatku senang. Bayangkaaan! Hanya dengan melihat punggungnya aja aku bisa bahagia! Aku bisa tersenyum seharian hanya karena dia mengucapkan terima kasih saat aku mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Hey, aku bahkan bisa mengeluarkan air mata hanya dengan mendengar dia mengucapkan ‘halo’ di telepon saat aku iseng misscall dia. Entahlah. Rasanya semua hal—walau hal kecil sekalipun—yang dia lakukan selalu berkesan buatku. Everything he does is beautiful.

Sabtu malam, 7 Agustus 2010, Tuhan menebus rasa kangenku. Saat itu, di lapangan dekat rumah nenekku diadakan acara Agustusan. Salah satu bagian dari acara itu adalah pertunjukan musik. Aku ikut menonton bersama ibu, adik, bibi, dan sepupu-sepupuku. Aneh memang, karena biasanya aku malas menghadiri acara rame-ramean semacam itu. Aku mengikuti panggilan jiwa aja. Eh, saat sedang asyik duduk bersama adik dan sepupuku, tiba-tiba dia lewat di hadapanku naik motor. Aku speechless, of course! Beberapa kali aku melihatnya bolak-balik di sekitarku. Entah dia menyadari keberadaanku atau enggak saat itu, yang jelas, aku merasakan kupu-kupu di perutku beterbangan.

Yang nggak aku duga adalah, dia ikut sumbang suara di acara itu. Yup, dia bernyanyi, dan lagi-lagi sambil main gitar. Namun kali ini dia tampil secara solo. Lagu pertama yang dibawakannya adalah lagu I Will Survive yang dipopulerkan oleh Cake. Awalnya kukira itu lagu Muse (karena dia penggemar Muse). Tapi setelah aku searching lagunya, ternyata aku salah. Hahaha.. Sepertinya nggak banyak orang yang mengetahui lagu itu. Penonton tampak nggak tertarik. Tapi begitu dia membawakan lagu kedua, penonton mulai ikut bersemangat dan mengikuti lagunya. Gimana nggak? Lagu kedua yang dia bawakan adalah Ya Sudahlah milik Bondan Prakoso yang memang saat itu sedang hits banget. Dan saat itu yang aku rasakan bukan lagi kupu-kupu yang beterbangan di perutku, tapi seekor ayam yang berkepak-kepak dengan gila. Rasanya ada sesuatu yang membuncah. Rasanya aku ingin meneriakan namanya layaknya seorang freak fans boyband Korea yang sedang fangirling. Tapi for God’s sake, aku masih waras. Aku tentu nggak mau jadi pusat perhatian, apalagi membuatnya memandangku dengan tatapan kasihan sekaligus ilfeel. Jadi aku hanya bisa terpaku ditempatku sambil merekam suaranya dengan MP4 player yang kubawa (oh I’m sorry for did this again). Sayangnya suara dia yang kurekam di MP4 player itu pun nggak bisa kudengar lagi karena benda berharga itu udah nggak bisa digunakan lagi :’) *RIP my MP4 player*

Kesempatanku buat melihat dia nggak cuma terjadi malam itu aja, karena pagi harinya, saat aku pulang bersama ibu dan adikku dengan menumpang angkot, secara kebetulan aku melihat dia yang sedang berjalan santai bersama tetangga-tetangganya. Aku sempat berpikir bahwa saat itu adalah kali terakhir aku melihat dia, karena memang setelah hari itu kami nggak pernah bersua lagi.

Cukup lama aku nggak melihat dia secara langsung setelah hari itu. Berdasarkan informasi yang aku terima (dari hasil stalking di sosial media), dia pergi ke Batam. Entah untuk bekerja atau apa, karena yang kutau sebelumnya, dia bekerja di salah satu restoran fastfood di kotaku ini. Saat itu yang bisa kulakukan untuk melampiaskan rasa kangen hanyalah dengan melihat-lihat foto yang dia upload dengan latar belakang tempat-tempat indah di Batam.

Oh iya, pernah suatu hari salah satu temannya membagikan sebuah video Youtube dimana didalam video itu, ada si Pretty Boy yang joget-joget dengan backsound lagu Party Rock Anthem. Kukira dia sedang promosi cake gitu deh. Ceritanya, dia makan cake pisang di sebuah toko cake di Batam. Dan saking enaknya cake itu, dia makan sambil joget-joget. Yang membuatku nggak bisa menahan tawa adalah saat dia mengajak joget sebuah manekin yang dipajang di samping pintu masuk toko. Di akhir video, dia pergi dari toko itu, dan bertepatan dengan keluarnya dia dari toko itu, manekin itu jatuh. Hahaha.. gilaaaa..

Suatu sore di tanggal 14 Oktober 2012, aku diminta ibuku untuk menemani beliau menghadiri acara hajatan tetangga nenekku di Gedung Islamic Center, Kejaksan. Awalnya aku malas. Tapi karena ibu memaksa, plus karena ibu mengatakan bahwa sepupuku juga akan hadir di acara itu, aku jadi ikut beliau. Sesampainya di lokasi, aku dan ibuku langsung masuk ke dalam gedung, Baru aja masuk, aku langsung dikejutkan dengan pemandangan tepat di hadapanku. Dia disana! Ya Tuhan.. Aku ingat saat itu dia mengenakan kemeja batik lengan pendek warna biru. Saat itu dia sedang mengambil makanan, dan tampaknya dia sama sekali nggak menyadari kehadiranku. Setelah melihat dia, aku jadi nggak berselera untuk menikmati cream soup yang kubawa dari meja prasmanan. Mataku berkaca-kaca saat itu, nggak tau kenapa. Mungkin saking senangnya karena bisa melihat dia lagi (dan lagi-lagi di situasi yang nggak terduga).

Satu tahun lebih setelah itu, aku merasa dia berubah. Dulu, aku mengenal dia sebagai lelaki yang suka gonta-ganti pacar. Kini dia berubah menjadi seorang lelaki yang menolak dating before marriage. Perubahan itulah yang justru membuatku makin mengaguminya.

Aku membuka mataku di hari Sabtu sore tanggal 23 November 2013 ketika ibu membangunkanku dari tidur siang dan mengajakku ikut ke Tabligh Akbar yang hari itu digelar di depan Masjid Raya At-Taqwa, Kejaksan. Awalnya aku merasa ogah-ogahan karena masih ngantuk, padahal aku tau sih kalo tidur sore itu nggak baik. Tapi lagi-lagi panggilan jiwa itu muncul. Aku terdorong juga buat ikut ibu ke acara itu. Disana udah ada nenek, Bibi Cicih, dan Bibi Elly yang menunggu kami. Tanpa diduga, ternyata tempat itu luar biasa padat. Lokasinya penuh dengan lautan manusia. Aku dan ibuku sempat kesulitan mencari nenek dan dua adik perempuan ibuku itu, sampai akhirnya setelah saling kontak, kami menemukan Bibi Cicih di depan pintu masuk utama masjid. Kami nggak langsung masuk ke dalam masjid karena kondisinya yang hiruk pikuk. Masjidnya penuh banget, berjubel-jubel dengan orang-orang yang nggak tertib. Jadi, yang bisa kami bertiga lakukan hanya menunggu di depan pintu masuk itu. Saat itu, aku berdiri bersandar di salah satu pilar masjid di depan pintu masuk itu sambil menghadap pos penitipan barang.

Dan ketika itulah keajaiban itu terjadi. Dia muncul didepan mataku!
For God’s sake, saat itu aku hampir nggak percaya dengan apa yang kulihat. Gimana enggak? Momen itu benar-benar seperti adegan di film-film drama dimana sesuatu yang nggak mungkin terjadi menjadi sangat mungkin terjadi dan bahkan benar-benar terjadi. Coba, bagaimana mungkin aku bisa ‘menemukan’ dia diantara ribuan jamaah yang berjubel-jubel di tempat itu? Am I joking? Is it just a lie? No! Not at all. It really happened, seriously! Saat itu dia berdiri beberapa meter didepanku sambil mengarahkan kamera Blackberry putihnya ke arah seseorang. Dia mengenakan gamis putih, lengkap dengan sorban berwarna senada. Aku melihat dia dari samping sebelah kirinya. Dan dari tempatku berdiri itu, aku bisa dengan jelas melihat senyumnya yang lebar.

Momen dramatis itu nggak berlangsung lama. Hanya lima detik, maybe. Tapi semuanya terjadi seperti adegan slow motion, lengkap dengan backsound lagu You’re Beautiful yang dipopulerkan oleh James Blunt :
You’re beautiful, you’re beautiful
You’re beautiful, it’s true
I saw your face in a crowded place
And I don’t know what to do..

Dulu aku nggak percaya bahwa yang namanya kebetulan bisa terjadi berulang-ulang, bahkan melebihi dua-tiga kali. Tapi setelah aku mengalami pertemuan-pertemuan tak terduga dengan dia secara berulang-ulang, aku jadi berubah pikiran. Semua itu sangat mungkin terjadi. Tapi nggak juga sih.. Aku lebih meyakini bahwa semua itu bukan kebetulan.. karena sebenarnya memang nggak ada yang namanya kebetulan kan? Semua hal terjadi karena adanya campur tangan Tuhan. Saat itu aku merasa bahwa skenario Tuhan tuh indah banget.

Aku jadi ingat petikan lagu Perahu Kertas yang dipopulerkan oleh Maudy Ayunda :
Kau ada diantara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Entahlah. Setelah semua pertemuan-pertemuan tak terduga itu, aku selalu merasa bahwa aku dan dia memiliki radar yang menghubungkan kami, dan radar itulah yang selalu membantuku untuk menemukan dia. Hal itu bahkan sempat membuatku yakin bahwa dialah yang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi partner hidupku dan kisah kami akan berakhir semanis kisah antara Nam dan Shone di film A Crazy Little Thing Called Love.

Namun rupanya, sering bertemu di saat-saat tak terduga bukan selalu merupakan pertanda bahwa dia adalah jodoh seperti yang kebanyakan orang bilang. Semuanya kembali pada firman Tuhan di Surat An-Nur ayat 26 yang menyebutkan bahwa wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Maka bagaimana mungkin bahwa aku yang sangat jauh dari sempurna berjodoh dia yang too good to be true?

Dan hari ini, Tuhan benar-benar membuktikan firman-Nya.

Laki-laki sempurna itu telah dipertemukan oleh seorang perempuan yang juga sempurna.

Aku sedih? Aku menyesal?
Enggak. Untuk apa? Toh harapanku buat memiliki dia udah putus dua tahun lalu, sejak aku sadar bahwa dia terlalu tinggi untuk aku gapai. Hanya aja memang ada beberapa hal menyangkut dia yang masih kusimpan. Biarlah semua itu nanti aku kumpulkan, lalu kubuang hari ini juga. Aku nggak mau berdosa karena mengagumi suami orang (=__=’)

Anyway, terima kasih untuk Pembaca yang udah baca postingan ini dari awal sampai akhir. Padahal aku udah bilang di awal kalo postingan ini bakal panjang banget. Sekali lagi terima kasih. Segitu keponya ya? :p

***

Well, hello there, The Wedding Man.. Kakak senior berinisial MTE, jika Kakak mampir ke blog ini dan membaca tulisan ini..  Ijinkanlah saya mengucapkan selamat menempuh hidup baru untuk Kakak dan untuk wanita yang saat ini duduk di samping Kakak. Semoga Allah senantiasa mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan, semoga Allah selalu memberkati keluarga Kakak dengan kebahagiaan tak terbatas, dan semoga cinta-Nya senantiasa mengalir untuk kalian. Aamiin yaa robbal alamiin :)

One more thing, saya nggak peduli kalaupun Kakak nggak peduli dengan apapun yang telah saya lakukan selama ini demi bisa mengenal Kakak. Yang pasti, saya sangat bersyukur karena saya pernah memiliki kesempatan untuk mengenal dan berinteraksi langsung dengan Kakak walau yang saya alami nggak sebaik yang saya harapkan. Terima kasih atas segala hal kecil yang Kakak lakukan, those things were really precious for me, walau mungkin Kakak nggak merasa melakukan hal berharga apapun buat saya.

Tetaplah baik, dan jadilah semakin baik. Allah bless you unlimited :)


- Your Stupid Secret Admirer -
Jumat, 28 September 2012 0 komentar

Solid Itu IPS 2 ;)

Haaaahh.. mumet banget aku. Hari ini aku dan temen-temen dikelas Sekretaris ngadepin mata kuliah Akuntansi. Well, nggak cuman hari ini aja aku dibikin pusing sama yang namanya Akuntansi, tapi setiap pelajaran itu ada. Tadi aku dan temen-temen disuruh ngerjain satu soal gitu. Yah, soalnya sih satu, tapi pengerjaannya banyaaaakk banget, dan itu sukses bikin kepalaku nyaris botak!

Aku ngerjain soal itu sendirian, sementara temen-temenku nggak bisa diharapkan. Mereka sibuk sendiri-sendiri. Aku nanya pun percuma, ga bakal diladenin. Saat itu aku berharap banget ada satu orang aja yang nyamperin aku dan bantuin aku. Aku nggak ngarepin dia ngasih tau jawaban dari soal itu, aku cuma pengen diajarin aja biar aku bisa. Tapi sayangnya orang yang aku harapkan itu nggak ada.

So, gara-gara nggak ngerti, aku nggak sampe kelar ngerjain soal itu. Aku cuman ngerjain setengahnya. Itupun aku nggak yakin bahwa jawabanku bener. Ah, parah. Siap-siap aja bakal nerima nilai jeblok..

Aku jadi inget lagi masa-masa waktu aku masih SMA. Aku kangen banget masa-masa belajar bareng temen temen SMA-ku dikelas IPS 2. Aku kangen sama solidaritas mereka. Kami selalu saling bantu. Kalo ada soal yang nggak gampang, kami bakal nyelesain soal itu bareng-bareng. Bahkan lebih enaknya, kita bisa langsung copy paste aja sama yang pinter (ini mah yang males dan nggak mau kerja. hahaha..)

Selalu ada yang bisa aku andalkan di IPS 2. Misalnya kalo pelajaran Akuntansi, biasanya aku mengandalkan Rohayati, temen sebangkuku. Tapi aku nggak asal copy paste dari jawaban dia. Kami biasanya kerja bareng. Dia yang ngerjain, aku yang ngitung. Kalo Matematika, aku mengandalkan Safira dan Luqman. Well, mereka berdua emang bukan cuma andalan buatku, tapi juga buat temen-temen sekelas. Mereka kan anak-anak emasnya guru Matematika disekolah. Sedangkan aku biasanya jadi andalan temen-temen dalam pelajaran Bahasa Inggris. Aku sering ngerjain soal bareng Luqman dan Safira. Yah, meskipun mereka berdua adalah rivalku dikelas, tapi kami sering kerjasama, ga menang sendiri.

Aku kangen banget masa-masa itu. Kapan ya aku bisa kerja bareng lagi sama Rohayati, Luqman, Safira dan temen-temen lainnya? Mereka bener-bener temen-temen paling solid yang pernah aku kenal. Aku yakin aku nggak bakal bisa nemuin temen-temen kayak mereka di kampus. Aaa.. aku kangen merekaaaa..


Minggu, 17 Juni 2012 0 komentar

About My Dream and Failure

Well, ternyata bukan cuma melamar pekerjaan yang menuntut banyak syarat, tapi juga mendaftar ke Perguruan Tinggi. Hal ini aku alamin tiga hari yang lalu.

Kamis, 14 Juni aku mendaftarkan diri ke salah satu Perguruan Tinggi Kesehatan di kota aku. Ada tiga pilihan  jurusan di Perguruan Tinggi itu, ada Kebidanan, ada Keperawatan, dan ada Gizi. Aku ambil jurusan Gizi. Sebenernya aku agak pesimis sih. Untuk masuk ke Perguruan Tinggi itu, tentu aja kita aku harus menghadapi tes tertulis dulu. Dan pelajaran yang di-tes-kan adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA Terpadu. Well, kalo mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris mah aku optimis bisa menghadapinya. Tapi yang jadi masalah aku adalah, aku lemah dalam pelajaran Matematika dan IPA. Apalagi aku bukan berasal dari kelas IPA, tapi aku dari kelas IPS.

Tapi meskipun rasa pesimis itu ada, aku nggak mau nyerah gitu aja. Aku janji aku bakal belajar sebagai persiapan buat menghadapi tes itu. Lagian aku juga nggak bego-bego amat tuh. Haha..

Kamis siang, aku dan ibu mendatangi Perguruan Tinggi itu. Kami tiba disana sekitar jam setengah satu siang. Tapi ternyata kami nggak bisa langsung mendaftar. Siang itu para panitia pendaftaran lagi istirahat. So, kami nunggu dulu bareng para pendaftar lainnya.

Sekitar jam satu lebih, pendaftaran kembali dibuka. Kami pun menghadap panitia pendaftaran.
Ketika giliran aku, Bapak Panitia itu mempersilahkan aku untuk diukur tinggi badannya. Deg-degan banget aku waktu itu. Aku takut tinggi badan aku nggak memenuhi syarat. Dan ternyata apa yang aku khawatirkan itu bener juga. Bapak Panitia itu nyamperin ibu, trus ngomongin sesuatu yang nggak bisa aku denger. Bukan karena aku budeg, tapi karena tuh bapak suaranya kecil banget waktu ngomong sama ibu aku, seolah nggak mau didenger sama orang-orang disekitarnya. Tapi feeling aku udah mengatakan bahwa ada yang nggak beres.
Aku langsung samperin ibu aku, trus nanya, "Nggak bisa masuk ya?"
Kemudian Bapak Panitia itu bilang, "Maaf ya, De.."

JLEB! Cuma tiga kata, "Maaf ya, De.." tapi tuh kata serasa nusuk banget sampe ke ulu hati. Jleb banget sumpeh ditolak kayak gitu. Konyol banget kan, alasan aku ditolak di Perguruan Tinggi itu hanya karena aku kurang tinggi! Daaamn.. ternyata aku lebih pendek dari yang aku duga. Aku kira tinggi badan aku nyampe 148-150 cm, tapi ternyata kurang dari itu! Konyol! Konyol banget!
Perasaan aku campur aduk. Rasanya aku pengen nangis dan teriak sambil ketawa. Batin aku teriak, "Ya Allah.. perlukah saya makan tiang biar badan saya tinggi..?!!"

Bukan cuma alasan ditolak doang yang bikin aku nyesek, tapi juga aku nggak suka sama tatapan orang-orang yang waktu itu ada disana. Kok kayaknya mereka ngeliat aku dengan tatapan mengejek gitu. Gimana aku nggak makin down? Bener deh ya. Andai aku adalah seorang psikopat yang nggak peduli sama hukum, mungkin aku udah gorok mereka semua, atau aku bom sekalian tempat itu. Hahahaha.. *evil laugh*

Bener deh, aku nggak habis pikir. Kenapa ya sekarang-sekarang ini nggak kerja, nggak kuliah.. semuanya menuntut tinggi badan. Selalu tinggi badan yang diutamakan. Kenapa bukan skill?
Sumpah, ini nggak adil buat orang pendek kayak aku. Tapi ya sudahlah. Mungkin ini emang yang terbaik buat aku. Nggak ada gunanya aku nyalah-nyalahin diri sendiri yang emang udah pendek dari sananya. Lagian aku juga harusnya bersyukur sih dikasih tinggi badan yang normal meskipun nggak tinggi-tinggi banget. Masih banyak orang yang jauh lebih pendek dari aku.

Well, sebenernya sekolah di Perguruan Tinggi Kesehatan itu juga bukan keinginan aku sendiri sih, tapi keinginan ortu aku. Sebenernya aku pengen banget masuk jurusan Psikologi, secara dari dulu aku tertarik banget sama ilmu kejiwaan. Tapi ortu aku nggak setuju. Makanya aku mutusin buat belajar sendiri dengan baca-baca berbagai macam artikel. Untuk saat ini aku lagi tertarik banget mencari tau informasi tentang masalah Kepribadian Ganda dan Psikopat.

Aku pengen banget tuh punya novel Sybil yang best seller itu. Udah lama aku cari tuh novel, tapi di toko buku yang biasa aku kunjungin ngga ada. Padahal aku penasaran banget tuh sama kisah nyata tentang seorang cewek yang punya 16 kepribadian berbeda itu.

Aku pengen banget ya, suatu saat nanti aku bisa jadi seorang ahli Psikologi. Yah, mudah-mudahan Allah ngasih aku kemudahan buat mencapai mimpi aku itu. Semoga..


Sabtu, 26 Mei 2012 0 komentar

Graduation Day

Hari ini adalah hari yang paling dinantikan sekaligus menegangkan bagi sebagian besar pelajar SMA/SMK/MA di tanah air, termasuk aku. Yap, hari ini adalah hari dimana hasil kelulusan diumumkan. Jujur aku takut. Berbagai pemikiran negatif muncul di otakku. Takut beginilah, takut begitulah. Tapi aku coba buat tetep tenang.

Aku ke sekolah sekitar jam 9, pake seragam batik. Ternyata disana udah lumayan rame. Begitu dateng, aku langsung disambut sama pertanyaan salah satu temenku dari kelas sebelah, si Marla.
Dia nanya, "Eh, kamu nge-post postingan tentang perpisahan sekolah ya di blog? Yang namanya Vidialesta itu.."
Aku jawab, "Iya"
Didalem hati, aku lumayan surprised dan excited juga sih. Ternyata ada juga temenku yang baca blogku ini. Haha.. :P

Disekolah, entah kenapa aku seneng banget. Rasanya aku seneng bisa kumpul-kumpul lagi sama temen-temen setelah sekian lama kami nggak saling ketemu. Jujur, aku kangen banget sama saat-saat bareng mereka.

Sebelum pengumuman kelulusan, kami disuruh masuk ke kelas masing-masing. Disana kami dikasih pengarahan-pengarahan sama wali kelas. Setelah dikasih pengarahan, baru deh kami disuruh keluar dari kelas dan kumpul dilapangan buat dengerin arahan-arahan dari Bapak Kepala Sekolah dan menerima hasil keputusan kelulusan.

Kami berbaris dilapangan seperti ketika kami melaksanakan upacara bendera. Disana kami dikasih wejangan-wejangan dari Bapak Kepala Sekolah. Setelah beliau bicara, Pak Dedi maju. Beliau mengatakan beberapa hal. Aku nggak begitu memperhatikan. Yang ada dipikiranku adalah, apakah aku bisa lulus? apa yang bakal aku lakuin setelah ini? Apakah setelah ini aku masih bisa ketemu sama temen-temen dan guru-guruku?

Nggak tau kenapa aku jadi pengen nangis. Belom apa-apa aku udah pengen nangis!
Aku nengok temen-temen disekitarku. Mereka keliatan cemas. Mungkin apa yang mereka rasain sama seperti apa yang aku rasain.

Kemudian wali kelas masing-masing membagikan satu buah amplop kecil ke masing-masing siswa. Ketika nerima amplop itu, entah kenapa aku jadi deg-degan.
Pak Dedi mengarahkan kami untuk mengangkat amplop itu tinggi-tinggi dengan tangan kanan.
Kemudian beliau memberi kami aba-aba. Ketika beliau berseru, "BUKA!!", serentak kami membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya.

Aku buka amplop itu dengan mengucapkan "Subhanallah" beberapa kali. Ketika aku buka, didalam amplop yang aku pegang terdapat secarik kertas bertuliskan HOREEEE.. GUE LULUS CUY...



Spontan aku langsung ngucapin "alhamdulillah". Aku peluk Rohayati, temen sebangkuku, yang ada disebelahku. Temen-temenku berpelukan. Suara jerit dan tangis kebahagiaan memenuhi lapangan sekolah. Yak! SMA Widya Utama Cirebon lulus 100%

Aku sujud syukur di lapangan itu. Aku juga menyalami guru-guru dan temen-temenku.
Aku sempet meneteskan air mata. Nggak banyak, tapi sesungguhnya apa yang aku rasain lebih dari tetesan air mata itu. Aku seneng karena aku lulus, aku seneng karena temen-temenku lulus semua, tapi disamping itu aku juga sedih karena aku takut setelah ini aku nggak bisa ketemu lagi sama temen-temenku. Kalopun ketemu, atmosfernya juga pasti bakal beda banget. Ah, andai mereka tau.. Rasanya aku pengen banget meluk mereka satu persatu.

Suasana bahagia dan haru memenuhi lapangan SMA Widya Utama pagi itu. Beberapa murid dan guru saling bersalaman dan berpelukan. Sementara Pak Kohar menyiram-nyiramkan air ke arah kami sampe kami basah kuyup. Well, kalo selama ini acara kelulusan identik dengan euforia berlebihan kayak coret-coret baju seragam dan sebagainya, aku dan temen-temen sepakat untuk nggak ngelakuin itu. Coz kasian juga kan kalo ada temen kita dari sekolah lain yang nggak lulus. Dia pasti bakal semakin sedih kalo ngeliat kami bereuforia kayak gitu. Sama aja kan kita berbahagia diatas penderitaan orang lain. Makanya kami sepakat buat nggak ngelakuin aksi coret-coret seragam dan sebagainya.

Oh ya, aku juga turut prihatin atas kejadian yang menimpa dua orang temenku, Riska dan Euis. Mereka kecelakaan ditengah perjalanan menuju ke sekolah. Entah gimana keadaan mereka, sampe ketika aku nulis entri ini aku belum tau kabar tentang mereka. Jujur, aku khawatir juga sama mereka. Coz meskipun berbeda kelas, tapi mereka juga temen baik aku.

Setelah pengumuman kelulusan, kami disuruh kembali lagi ke kelas. Disana wali kelas kami, Ibu Marfuati membagikan sebuah amplop yang lebih panjang. Amplop itu dibagikan ke masing-masing anak. Ternyata isinya adalah secarik ketas berisi keterangan kelulusan yang lebih resmi.


Well, meskipun aku belom nerima nilai-nilai Ujian Nasional-ku, tapi dengan lulus pun aku udah cukup bahagia. Sekarang saatnya menentukan masa depan.. dan aku masih bingung..


*                                           *                                           *

Kita Untuk Selamanya by Bondan feat. Fade2Black

It's not the end.. It's just beginning..

Ok.. detak detik tirai mulai menutup panggung
Tanda skenario baru mulai diusung
Lembaran kertas barupun terbuka
Tinggalkan yang lama, biarkan sang pena berlaga
Kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu
Pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu
Masa jaya putih biru atau abu-abu
Memori cerita cinta aku, dia dan kamu

Saat dia masuki alam pikiran
Ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan
Cinta masa sekolah yang pernah terjadi
That was the moment a part of sweet memory
Kita membumi, melangkah berdua
Kita ciptakan hangat sebuah cerita
Mulai dewasa, cemburu dan bungah
Finally now, it's our time to make a history

Bergegaslah, kawan.. sambut masa depan
Tetap berpegang tangan, saling berpelukan
Berikan senyuman tuk sebuah perpisahan
Kenanglah sahabat.. kita untuk selamanya

Satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori
Satu cerita teringat didalam hati
Karena kau berharga dalam hidupku, teman
Untuk satu pijakan menuju masa depan

Saat duka bersama, tawa bersama
Berpacu dalam prestasi hal yang biasa
Satu persatu memori terekam
Didalam api semangat yang tak mudah padam
Kuyakin kau pasti sama dengan diriku
Pernah berharap agar waktu ini tak berlalu
Kawan.. kau tahu, kawan? Kau tahu kan?
Beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan


Congratulations to our graduation, guys!

Sukses buat kita semua. Aamiin.. ;)
Jumat, 11 Mei 2012 0 komentar

Acara Pelepasan Siswa-Siswi SMA Widya Utama Cirebon

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Itulah yang terjadi kemarin pagi..

Perasaanku campur aduk kemarin. Kesel, malu, sedih, seneng, semuanya campur jadi satu. Gimana nggak? Kemarin pagi, Kamis 10 Mei 2012, sekolahku, Widya Utama High School menyelenggarakan acara Pelepasan Siswa-Siswi SMA Widya Utama Tahun Ajaran 2011-2012.

Well, acara pelepasan atau perpisahan disekolahku ini emang nggak seperti sekolah-sekolah lainnya yang umumnya mengadakan acara perpisahan dengan tur ke tempat-tempat wisata diluar kota. Acara perpisahan disekolah aku sederhana aja.. syukuran di rumah makan Roso Eco di daerah Sumber. Yak, masih daerah Cirebon. Tapi walaupun begitu, acara ini aku rasa cukup berkesan.

Di acara perpisahan ini, kami diwajibkan mengenakan pakaian kebaya (bagi cewek) dan jas atau batik (bagi cowok), dan of course yang cewek harus pake make up. Aku sempet mengeluh karena hal ini. Well, aku suka pake kebaya, walau nggak suka-suka banget. Tapi yang nggak aku suka adalah pake make up. Aku risih aja kalo harus pake make up yang macem-macem. Pake bedak lah, pake lipstik lah, pake blush on lah, eyes shadow, maskara, eye liner, de el el. Aku lebih suka make up yang natural aja. Tapi aku nggak bisa nolak.

Pagi itu aku pake kebaya warna merah hati dengan rambut di ikat kebelakang plus jambul. Bibi aku yang make up-in. Sumpah, pagi itu aku ngerasa bahwa aku yang waktu itu bukan aku banget. Aneh banget rasanya waktu aku ngeliat wujud aku di cermin. Dan entah kenapa tiba-tiba aku kepikiran, gimana kalo seandainya aku datang ke acara perpisahan itu dengan make up dan penampilan ala Black Veil Brides? Ah, aku lebih suka itu. Kan keren tuh, gothic. Aku yakin aku bakal jadi yang paling unik.. dan tentunya bakal dikira pasien yang baru kabur dari RSJ.. -__-

Berhubung ibuku diundang ke acara itu, aku berangkat ke sekolah bareng ibuku. Yah, kami emang diharuskan kumpul disekolah dulu. Setelah semuanya kumpul disekolah, barulah kami berangkat bareng-bareng ke Sumber. Aku dan ibu berangkat ke sekolah naik becak. Malu banget, aku sempet jadi pusat perhatian dijalan. Aku berasa jadi putri Keraton. Haha..

Sampe disekolah.. tadaaaaa..!! Semua temenku keliatan beda! Mereka tampil lebih dewasa dari biasanya. Yang cewek-cewek keliatan anggun, dan yang cowok-cowok keliatan gagah. Seneng banget ngeliatnya. Well, entah kenapa aku suka kalo ngeliat cowok pake jas, kemeja, atau baju koko. Keliatan lebih rapi dan bersih aja. Beda kalo aku ngeliat cowok yang urakan dengan jins belel robek-robek, atau berpenampilan ala anak punk rock jalanan. Malah serem aku liatnya. Kecuali kalo musisi luar yang berpenampilan kayak gitu.. itu mah lain lagi ceritanya.
Tapi pagi itu aku bener-bener belum cukup PD sama penampilan aku sendiri. Sampe nggak sanggup mandang lawan bicara. Hahaha.. konyol :P

Setelah semuanya kumpul, barulah kami berangkat ke Sumber. Setelah sampe, kami cari tempat duduk. Ditengah acara, seperti yang udah direncanakan, kelas aku, XII IPS 2 mempersembahkan lagu dan puisi buat temen-temen dan guru-guru. Waktu itu kami mempersembahkan lagu Hymne Guru dan Semua Tentang Kita secara koor. Sempet agak berantakan ketika sesi pembacaan puisi. Malu juga, coz beberapa tamu undangan sampe ketawa geli ngeliat performance kami waktu itu. Untungnya rasa malu itu ditanggung bareng-bareng. Kalo waktu itu aku sendirian yang tampil didepan mereka, behh.. udah semaput ditempat kali..


Yah, walaupun agak berantakan, tapi selebihnya alhamdulillah lancar. Aku ngeliat beberapa tamu undangan meneteskan air mata waktu kami membawakan lagu Semua Tentang Kita. Entah mereka nangis karena menghayati isi lagu itu, entah mereka nangis karena lagu itu punya kenangan, dan entah mereka nangis karena ngeliat performance kami yang menyedihkan..
Ah, maklum sajalah. Kami bukan artis. Tapi dengan ngeliat adanya tamu undangan yang nangis, aku menyimpulkan bahwa waktu itu penampilan kami nggak begitu mengecewakan. Hahaha.. Thanks God..

Aku juga seneng banget ngeliat adik-adik kelas yang berpartisipasi di acara itu. Beberapa dari mereka menyumbangkan lagu buat kami. Ah, kami berasa jadi tamu spesial pagi itu.

Salah satu sesi acara yang paling berkesan yaitu ketika acara sungkeman. Aku dan Safira bertugas mewakili kelas XII IPS 2. Dari kelas XII IPS 1 ada perwakilan dari Eva dan Marla, dari kelas XII IPA ada perwakilan dari Yopi dan Sanjar, sedangkan yang mewakili seluruh kelas XII adalah Albet dan Fuji. Kami berbaris dibelakang ruangan. Di barisan pertama ada Albet dan Fuji—maskot sekolah kami—, di barisan kedua ada Sanjar dan Yopi, di barisan ketiga ada Marla dan Eva, dan di barisan keempat ada Safira dan aku. Sementara dibelakang kami ada Erfan, murid kelas XI yang waktu itu ditugasin mengiringi kami dengan payung. Fuji, Yopi, Marla, dan Safira bawa bunga yang nantinya bakal diberikan ke wali kelas masing-masing yang udah duduk di bagian depan ruangan.


Menjelang sesi acara sungkeman


Acara sungkeman dimulai dengan pembacaan puisi. Setelah puisi dibacakan, musik sunda pun diputar. Empat orang penari menari didepan kami. Kemudian masing-masing dari mereka mengambil sebuah mangkok yang didalemnya udah ditaruh bunga-bunga.
Kemudian kami berjalan perlahan-lahan kedepan. Empat penari itu melemparkan bunga-bunga kearah kami. Semua mata tertuju pada kami. Jujur, malu banget aku sebenernya waktu itu. Rasanya pengen cepet-cepet udahan aja. Omaigaaawwdd..

Para penari melemparkan bunga kepada para wakil kelas
Setelah kami sampe didepan wali kelas kami masing-masing, kami menyerahkan bunga itu pada beliau-beliau. Setelah itu kami pun sungkem dihadapan wali kelas kami masing-masing. Selama kami sungkem, Bu Christine membacakan puisi, dan puisi itulah yang sukses bikin kami nangis! Ketika itu munculah potongan-potongan flashback dipikiranku. Aku inget ketika pertama kali aku bersekolah disana, sekolah yang dulunya pernah aku benci banget karena waktu itu aku nggak punya temen. Aku inget waktu aku naksir sama kakak kelas. Aku inget waktu aku kumpul bareng temen-temen baikku disekolah itu.. dan ketika aku inget bahwa sebentar lagi kami bakal berpisah dan mungkin nggak ketemu lagi, aku sukses meneteskan air mata.

Well, meskipun aku sering dibuat gondok sama hal-hal yang pernah terjadi disekolah itu, dan meskipun aku sering kesel sama temen-temen, tapi aku juga sayang sama sekolah itu. Mereka, temen-temen dan guru-guru udah kayak keluarga kedua buatku. Aku seneng banget bisa kenal mereka. Aku seneng pernah jadi bagian dari sekolah ini. Aku sempat berpikir, setelah ini, apakah kami bisa bertemu lagi?  Dan ketika suatu saat nanti kami bertemu lagi, apakah kami bisa seakrab ini?
Ketika itu, rasanya aku pengen peluk Bu Marfuati, wali kelasku yang udah aku anggap sebagai ibu sendiri. Aku juga pengen meluk temen-temenku. Jujur, sebenernya aku iri ngeliat temen-temen yang saling berpelukan satu sama lain. Tapi aku malu untuk itu.

Dan tibalah sesi acara pemberian penghargaan kepada siswa berprestasi terbaik. Dan yang berhak ngedapetin penghargaan itu hanya satu orang dari masing-masing kelas. Itu artinya hanya tiga orang yang berhak ngedapetinnya, yaitu dari kelas IPA, kelas IPS 1, dan kelas IPS 2. Surprise banget rasanya ketika namaku dipanggil kedepan ruangan untuk menerima penghargaan itu. Nggak nyangka banget. Selain aku, ada Yopi dan Eva yang juga menerima penghargaan itu.

Lucunya, setelah pemberian penghargaan itu, beberapa guru berebut foto bareng dengan kami. Didepan kami juga ada beberapa fotografer. Aku bingung mau liat kamera yang mana. Hahaha..Kami bertiga diberi sebuah bingkisan dan piagam penghargaan.
Ketika itu aku berpikir, apakah begini rasanya jadi artis?
Bener deh, kami berasa jadi artis. Disalamin banyak orang, diminta foto bareng, difoto banyak fotografer.. untungnya nggak dimintain tanda tangan..



*Maaf ya, foto nggak aku tampilkan, karena waktu itu aku belum pakai hijab. Hehe..
(edited 25 Januari 2019)



 Ketika foto bareng itu, sebenernya aku malu banget. Nggak biasa foto banyakan kayak gitu. Tapi yah, terpaksa deh tuh malu dibuang jauh-jauh. Aku pikir, kapan lagi bisa foto bareng sama guru-guru kayak gini?
Aku seneng banget waktu guru-guru menyalamiku satu persatu sambil ngucapin selamat. Aku juga seneng banget ngeliat ibu yang nggak berhenti senyum waktu aku nerima penghargaan itu.Thanks God, today I could make my parents proud of me..
Untuk saat ini, mungkin cuma ini yang bisa aku tunjukkan ke orangtuaku. Tapi aku harap suatu saat nanti aku bisa bikin beliau bangga lebih dari ini. Amin.

Setelah itu, kami makan bersama. Kami boleh makan sepuasnya disana, asal nggak boleh dibawa pulang. Hahaha..
Karena kami dibolehkan makan sepuasnya, banyak temen-temenku (khususnya cowok) yang makannya nggak kira-kira. Hampir semua menu makanan yang ada disana diembat semua. Ckckckck..

Sambil makan, kami ditemenin sama lagu-lagu yang dibawain sama beberapa adik kelas kami dan Bu Santi. Waktu mereka bawain lagu dangdut, spontan deh tamu-tamu pada goyang. Hahaha.. tapi aku nggak ikutan :P

Setelah kami makan, kami foto-foto didepan rumah makan. Kami juga sempet nebus foto-foto kami yang dijual disana. Sebelum pulang, aku buka bingkisan hadiah dari acara Pemberian Penghargaan Kepada Siswa Terbaik itu. Ternyata isinya jam tangan!
Well, bukan jam tangan mahal dan bermerk sih.. tapi aku suka.

Haaahh.. kemarin bener-bener hari yang cukup berkesan. Walau kemarin adalah perpisahan, tapi aku harap ini bukanlah perpisahan yang sesungguhnya. Aku harap kemarin itu bukan bener-bener hari terakhir kami ketemu. Aku pengen suatu hari nanti kami bisa kumpul kayak gini lagi, dan seakrab ini.
Dan semoga tanggal 24 nanti kami bisa menangis bahagia mendengar bahwa kami lulus dengan hasil yang memuaskan. Aamiin.
Selasa, 24 April 2012 0 komentar

Kangen Sama Temen-Temen SMP (Lagi..)

Ujian Nasional SMA udah selesai, sekolah juga udah kelar, tinggal nunggu pengumuman kelulusan. Seperti siswa lainnya, tentu aja aku berharap aku bisa lulus dengan hasil yang memuaskan.

Karena udah tinggal nunggu pengumuman, kami nggak diwajibkan dateng ke sekolah. Of course dong. Mau apa dateng ke sekolah? Kan sekolahnya udah kelar. Cuma tadi pagi aku dan temen-temen berangkat sekolah, coz kata Luqman (ketua kelas dikelas aku, XII IPS 2) ada pengumuman yang penting buat disampein.

Sebelum pengumuman disampein, aku dan temen-temen nunggu di perpus. Sumpah, BT banget aku. Rasanya pengen cepet pulang.  Apalagi waktu soulmate aku, si Rohayati ninggalin aku sejenak gara-gara dia dipanggil sama Bu Santi, aku jadi sendirian, dan nggak ada yang ngajakin aku ngobrol. Untungnya ada Riska, Eva, Diny, Putri Ayu, Euis, dan Rohayati 'mini' yang lagi ngumpul. Aku samperin aja mereka. Well, meskipun mereka berbeda kelas sama aku (aku IPS 2 dan mereka IPS 1), tapi aku lebih akrab sama mereka ketimbang temen-temen dari kelas aku sendiri. Setelah aku samperin mereka, rasa BT aku sedikit ilang.

Aku jadi inget memori beberapa tahun yang lalu. Dulu waktu jamannya aku SMP, kalo hari bebas pelajaran kayak begini, biasanya aku ngumpul bareng temen-temen aku. Biasanya kami ngumpul dikantin, atau duduk-duduk di bunderan jalan Kebumen sambil makan jajanan sekolah. Kadang kami nglayap ke Grage Mall walaupun nggak punya duit, atau rame-rame maen ke warnet buat chatting, browsing, atau buka Friendster (waktu itu kami belom mengenal yang namanya Facebook. haha..)

Kangen banget aku sama masa-masa itu. Biasa, tapi cukup berkesan buat aku. Nggak kayak di SMA sekarang. Kelar jam sekolah, langsung balik.
Bener-bener hampir nggak ada yang berkesan.

Waktu istighosah juga sama. Istighosah di SMP begitu berkesan buat aku. Aku dan temen-temen menginap satu malam disekolah. Setelah sholat magrib dan isya, kami kumpul di musholah buat dengerin ceramah dari guru-guru agama kami. Setelah itu, kami tidur bareng. Tentu aja tempat cowok dan cewek dipisah. 
Trus pas dini hari, kami dibangunin buat ngelaksanain sholat tahajud, sholat hajat dan sholat tasbih, kemudian kami berdoa bersama buat memohon kelulusan. Waktu itu kebersamaannya bener-bener kerasa banget. Beda dengan istighosah di SMA yang dilaksanain tanggal 5 April lalu yang biasa aja dan kurang berkesan. Acara cuma dilaksanain beberapa saat aja. Nggak ada acara menginap disekolah. Ah, andai masa-masa SMP itu bisa diulang lagi..


Minggu, 15 April 2012 0 komentar

Keinginan yang Tertunda

Haaaahhh.. nggak kerasa, udah nyampe detik-detik menghadapi Ujian Nasional. Dalam waktu kurang dari lima belas jam lagi, aku bakal ngadepin yang namanya Ujian Nasional. So, hari ini aku yang biasanya duduk berjam-jam didepan notebook buat online harus rela ngurangin waktu buat hal itu. Yah, aku cuma ambil beberapa waktu buat ngetik entri yang satu ini.

Well, karena udah mendekati ujian, aku juga harus rela menunda keinginanku untuk nge-download sekaligus nonton film Secret nya Jay Chou. Jadi ceritanya, kemaren aku sempet baca sinopsis film yang rilis sekitar tahun 2007 ini di Google. Kebetulan aku belum nonton, dan aku tertarik. Apalagi katanya di film ini Jay Chou menunjukkan keahliannya bermain piano. Waaa.. aku langsung antusias. Yah, aku emang tertarik banget sama yang namanya piano. Dulu aku pernah bermimpi buat jadi seorang pianis. Tapi karena ortu aku nggak ngijinin aku masuk sekolah musik, yah terpaksa aku harus mengubur mimpiku yang satu itu.

Anyway, walaupun aku nggak ngerti piano dan nggak bisa maininnya, tapi aku selalu kagum setiap kali aku ngeliat seseorang mainin piano. Aku juga suka banget dengerin suara piano. Aku suka sama musik ciptaan Frederic Chopin. Aku pengen banget bisa bawain musik ciptaannya. Tapi yah itu dia masalahnya.. aku nggak bisa maininnya. Hahaha.. :P

Well, I think piano is the most beautiful instruments ever!

Nah, kemaren aku nge-download film Secret itu di Youtube. Sayangnya aku nggak bisa nge-download secara penuh karena ukurannya yang terlalu besar (lebih dari dua giga). Bukan karena memorinya yang nggak cukup, tapi karena waktu download-nya yang terlalu lama. So, aku download aja part-part filmnya yang berdurasi sekitar 9 menit/part. Secara keseluruhan, ada sebelas part. Tapi karena keterbatasan waktu, aku baru download lima part. Dan hari ini, aku download tiga part lagi. Jadi tinggal tiga part lagi yang harus aku download. Mungkin tiga part itu bakal aku download setelah ujian nanti. Lagipula aku juga baru nonton sampe part empat. Jadi aku harus sedikit bersabar, nunggu sampe Ujian Nasional kelar buat ngelanjutin nge-download dan nonton film itu lagi.

Haha.. sumpah, aku nggak sabar banget pengen nonton film itu sampe selesai. Coz, baru nonton part dua aja aku udah dibikin meleleh sama aksinya si Jay Chou.
Well, aku sempet dibikin nganga saking terpesonanya pas aku nonton adegan piano battle antara Jay Chou (yang berperan sebagai Xiao Lun) melawan Yu Hao, sang piano prince. Aku kagum banget sama permainan piano mereka berdua, khususnya Jay Chou, tentunya. Ah, aku jadi ngebayangin, aku duduk bareng Jay Chou dibelakang sebuah grand piano, trus duet bawain The Minute Waltz atau Grande Valse Brillante. Hahaha.. ngarep amat aku :P

Haahh.. ya sudahlah. Jangan kebanyakan ngayal. Mendingan sekarang aku mikirin ujian yang bakal diselenggarakan besok. Hmm.. pusing juga aku sebenernya. Aku pusing mikirin soalnya nanti kayak apa? Suasananya nanti kayak apa? Dan pengawasnya nanti kayak apa? Hahaha..


Rabu, 11 April 2012 0 komentar

Ujian Nasional didepan Mata

Nggak kerasa Ujian Nasional udah didepan mata. Yep, lima hari lagi! Tapi aku pikir, aku belom mempersiapkannya secara maksimal. Penyebabnya apa lagi kalo bukan males?
Yak, males emang salah satu penyakit manusia yang susah disembuhin.

Well, perasaan baru kemaren aku masuk ke sekolah itu, SMA Widya Utama Cirebon. Aku masih inget waktu aku ngadepin MOS, aku inget aku pernah jatuh cinta sama kakak kelas tiga dan rasa sayang aku ke dia awet sampe aku naik ke kelas tiga. Aku inget waktu aku ngerjain Eva, temen sekelas aku pas dia ulang tahun sampe dia kesel sama aku. Aku rasa semua itu baru terjadi beberapa bulan yang lalu. Tapi nggak. Kenyataannya itu semua terjadi sekitar dua tahun yang lalu, tepatnya waktu aku kelas satu.

Dikelas tiga, aku nemuin temen-temen yang hampir semuanya gokil. Well, semua anak Widya Utama emang hampir nggak ada yang waras sih.. :P
Walaupun aku nggak nemuin banyak temen deket dikelas tiga ini (temen deket aku dikelas ini cuma satu orang, dan dia adalah temen sebangku aku), tapi aku tetep seneng karena semua temen dikelas aku baik-baik. Yah, emang sih, aku sering dibuat kesel sama mereka, coz terkadang beberapa dari mereka suka maksa aku ngelakuin hal-hal yang nggak mau aku lakuin. Tapi aku nggak bisa bohong juga sih bahwa sebenernya aku sayang sama mereka. Aku yakin, sekesel apapun aku sama mereka, setelah aku lulus nanti, aku pasti bakal kangen banget sama mereka. Entah mereka bakal kangen sama aku apa nggak.

Tadi pagi, disekolah, aku dan temen-temen sempet ngadain foto bareng dikelas. Kebetulan waktu itu jam pelajaran lagi kosong. Aku ikutan. Padahal biasanya aku paling males kalo diajakin foto bareng, apalagi banyakan, kecuali kalo aku memotret diri aku sendiri.. wah, aku bisa narsis :P
Yah, aku pikir, sebentar lagi kami bakal pisah. Nggak ada salahnya ngegunain waktu yang singkat ini buat foto bareng temen-temen. Hitung-hitung buat kenang-kenangan.



XII IPS 2 SMA Widya Utama


XII IPS 2 SMA Widya Utama


XII IPS 2 SMA Widya Utama


XII IPS 2 SMA Widya Utama


XII IPS 2 SMA Widya Utama


XII IPS 2 SMA Widya Utama


XII IPS 2 SMA Widya Utama


Well, sebagai murid yang paling diandalkan dalam pelajaran Bahasa Inggris, aku dimintain tolong sama temen-temen aku buat bantuin mereka pas ujian nanti. Yah, aku harap sih aku bisa. Selama mereka baik sama aku, aku juga pasti bantu mereka kok, asal kalo nanya kira-kira aja. Coz ada temen yang kalo nanya jawaban nggak kira-kira, "Put, nomor 1 sampe 5 dong.."
Yah, kalo gitu mah boro-boro aku mau bantu. Dengernya aja aku udah males duluan.. -__-

Tapi ada satu hal yang bikin aku uring-uringan sampe detik ini. Aku paling lemah sama pelajaran Ekonomi dan Matematika. Kalo pas ujian nanti aku bantuin temen-temen aku dalam ujian Bahasa Inggris, lantas siapa yang bakalan bantu aku pas ujian Ekonomi dan Matematika..?? o.O


Total Tayangan Halaman

 
;