Tampilkan postingan dengan label Fiersa Besari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiersa Besari. Tampilkan semua postingan
Selasa, 21 April 2020 0 komentar

Tumbuh dan Patah




AND I NEED YOU
By : Fiersa Besari

The silhouette that almost burn
Siluet yang nyaris terbakar
All pictures in my head are gone
Seluruh gambaran di kepalaku hilang
But one still remains and I see it clear
Namun satu yang tersisa dan kulihat jelas
Your voice's guiding me through the dark
Suaramu membimbingku melewati kegelapan
As if it never let me go
Seolah tak pernah membiarkanku pergi
You teach me how to fly with broken wings
Kau mengajariku terbang dengan sayap yang patah
I'm lying naked in your arms
Aku berbaring di pelukmu
Well let me sleep as tears run dry
Biarkan aku terlelap seiring keringnya air mata
Please hold me close, my heart is getting weak
Kumohon peluk aku erat, hatiku kian lemah
You whisper me those symphonies
Kau bisikkan simfoni itu padaku
The lies that never been this sweet
Kebohongan yang tak pernah semanis ini
You're everything and everything is you
Kau adalah segalanya, dan segalanya adalah kau
And I need you...
Dan aku membutuhkanmu
Like the earth needs the sun
Seperti bumi membutuhkan matahari
Like the flowers need rain
Seperti bunga membutuhkan hujan
Like a song needs a poem
Seperti lagu yang butuh syair
Like the child needs a blanket
Seperti anak membutuhkan selimut
***
 

GLIMPSE
By : Fiersa Besari 

Is there an island of hope?
Adakah sebuah pulau harapan?
So I could rest my head
 Agar aku bisa mengistirahatkan kepalaku
I'm tired of this journey
Aku lelah dengan perjalanan ini
And those nightmares from past
Dan mimpi-mimpi buruk dari masa lalu
I'm letting go all of the boxes
Kulepaskan segala kenangan
All the boxes of you
Segala kenangan tentangmu
Sometimes pain hurts me bad
Terkadang rasa sakit begitu menyakitiku
Let the rain sweep it away
Biarkan hujan menyapu
Glimpse of memories about you stays forever
Sekilas ingatan tentangmu menetap selamanya
I'm not okay
Aku memang tidak baik-baik saja
But I'll be just fine without you
Tapi aku akan baik-baik saja tanpamu
You broke my heart
Kau patahkan hatiku
But I'll be just fine 
Tapi aku akan baik-baik saja
Yeah I'll be just fine without you
Ya aku akan baik-baik saja tanpamu
And now we walk on our own path
Dan kini kita berjalan di jalan kita masing-masing
Time for me to sail the sea
Saatnya bagiku untuk berlayar
Facing tides and the wind
Menghadapi ombak dan angin
I'll find another reason to live
Aku akan menemukan alasan lain untuk hidup
I'm not okay
Aku memang tidak baik-baik saja
But I'll be just fine without you
Tapi aku akan baik-baik saja tanpamu
You broke my heart
Kau patahkan hatiku
But I'll be just fine 
Tapi aku akan baik-baik saja
Yeah I'll be just fine without you
Ya aku akan baik-baik saja tanpamu 
Don't cry anymore
Jangan menangis lagi 
You did nothing wrong
Kau tak melakukan kesalahan apapun
Get back on your feet
Bangkitlah kembali
So you could learn to smile once more
Hingga kau bisa belajar tersenyum lagi

Jumat, 10 Mei 2019 0 komentar

Little Gift

Ada yang spesial di bulan Mei ini. Yah, khususnya buatku dan Kawan Mengagumkan Cirebon. Kenapaaa..?? Look at this!

Iseng motret pas lewat sepulang kerja. Haha..

Yup, coba lihat tulisan di bagian tengah sebelah kiri. FIERSA BESARI!
Bung Fie akan perform tanggal 19 mendatang di Grage City Mall.

Well, kabar ini nggak lantas membuatku senang sih, karena jujur aku dilema. Aku selalu ragu untuk menghadiri event yang diselenggarakan secara outdoor seperti itu. Beberapa waktu sebelumnya, Bung Fie datang ke Cirebon dan tanpa berpikir panjang aku langsung memutuskan untuk hadir. Kenapa nggak ragu? Karena acaranya indoor, di dalam Gramedia, dengan seluruh penonton yang duduk dengan tertib. Aku jadi merasa aman, meski datang kesana sendirian.

Tapi untuk event kali ini, Bung Fie akan tampil bersama beberapa musisi lainnya secara outdoor (kemungkinan sih di Amphitheater). Itu pasti bakal rameeeeeeee banget. Aku jadi ingat acara ulang tahun salah satu radio lokal Cirebon yang mendatangkan J-Rocks dua tahun lalu. Penonton saling dorong, bahkan di luar pagar ada yang rusuh. Serem banget. Kalo bukan karena ada teman yang juga datang kesana, aku juga nggak bakal hadir. 

Ah, kalo ada teman yang bisa diajak kesana sih, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk datang. Sebenarnya ada sih dua orang temanku yang interest sama Bung Fie. Tapi sepertinya mereka cuma menyukai karyanya aja deh, nggak ngefans kayak aku gini.

***
Beralih ke cerita lainnya. Masih sedikit tentang Bung Fiersa sih. Jadi ceritanya, satu bulan kemarin, tiga buku karya Bung Fie milikku dipinjam Zahara, salah satu teman sesama book lover yang aku kenal di dunia maya. How could I do that? Kok bisa-bisanya pinjamin buku kesayangan ke orang lain?

Yup, biasanya sih aku merasa keberatan kalo ada teman yang pinjam novel milikku, karena selama ini, hampir semua novel ataupun buku yang aku pinjamkan kepada orang lain, kalo nggak kembali dengan kondisi terlipat ya robek (seperti buku Perahu Kertas yang covernya terlipat, Cinta Brontosaurus yang kembali dalam kondisi cover yang kotor dan lecek, dan Manusia Setengah Salmon yang robek di salah satu bagian halaman). Tapi itupun masih syukur bisa balik. Beberapa buku malah ada yang nggak balik sama sekali (seperti buku Koala Kumal, Sunshine Becomes You, Rindu, dan buku catatan Bahasa Jepang yang kupelajari bersama Erni Sensei semasa kuliah, yang kutulis dengan sepenuh hati). Entah kenapa kok banyak orang-orang yang nggak menghargai buku seperti itu. Tapi Zahara, dia itu beda.

Kami saling kenal di dunia maya sekitar tahun 2014 silam, berkat salah satu entri yang aku tulis di blog ini. Waktu itu kami sama-sama menyukai beberapa seleb tomboy Thailand. Mula-mula kami saling berkirim komentar di blog, kemudian obrolan berlanjut ke BBM, lalu ke Line, juga WhatsApp. Awalnya kami banyak mengobrol soal seleb tomboy Thailand yang kami suka itu, trus lama kelamaan merambah ke film, hingga akhirnya kami mengetahui bahwa kami juga sama-sama memiliki ketertarikan pada buku.

Memang sih, genre dan theme yang kami sukai itu jauh berbeda. Dalam hal musik, misalnya. Dia menyukai K-Pop, sementara aku suka musik Rock. Dan untuk buku, ia sangat menyukai bacaan dengan tema romantis, sementara aku suka bacaan dengan tema persahabatan. Aku juga sangat menggilai bacaan horror true story, sementara dia sangat menghindari bacaan seperti itu. Tapi meski demikian, kami tetap saling sharing tentang buku-buku yang pernah ataupun sedang kami baca. Paling sering dia sih yang sharing, karena kalo kulihat, koleksi bukunya jauh lebih banyak dibanding buku-bukuku. Ia juga mengetahui banyak nama-nama penulis yang bahkan masih sangat asing di telingaku. Bahkan akun Instagramnya penuh dengan foto buku-buku yang pernah ia baca yang ia upload dengan sangat rapi, lengkap dengan review-nya. 

Tau nggak apa persamaan dan perbedaan Penyuka Buku dengan Pecinta Buku?
Mereka sama-sama gemar membaca buku. Yang membedakan adalah perlakuannya terhadap buku. Pecinta Buku cenderung menggunakan pembatas buku untuk menandai batas baca. Bahkan meskipun di bukunya nggak disediakan pembatas buku pun, mereka akan mencari benda lain untuk dijadikan pembatas. Daun kering misalnya, atau bulu burung. Sedangkan bagi penyuka buku, menandai batas baca dengan melipat ujung halaman aja cukup. Wkwk.. Nah, Si Zahara ini orangnya sama kayak aku, paling risih kalo ada bagian buku yang terlipat. Hal inilah yang membuatku mempercayakan buku-buku kesayanganku itu untuk ia pinjam, lengkap dengan CD musiknya.

Dua hari yang lalu, ia mengembalikan buku-buku itu melalui kurir yang tiba kemarin siang. Bungkusannya benar-benar rapi, lengkap dengan kotak karton tebal dan stiker bertuliskan 'fragile'. Ya ampun, padahal aku sendiri mengirimkan buku-buku itu ke dia nggak sampai segitunya. Cuma modal plastik dan kertas bekas pembungkus HVS. Dengan kondisi paket yang ia kirimkan seperti itu, aku yakin buku-bukuku semuanya kembali dalam kondisi baik, maka aku nggak membukanya dan hanya menaruhnya di kamar.

Dan tadiiii.. Zahara mengirimkan pesan WhatsApp, memastikan bahwa buku-buku yang kuterima dalam keadaan lengkap. Saat itulah aku baru membuka paket itu, dan.. seketika aku terharu.

Nggak hanya membungkusnya dengan kotak karton tebal dan stiker 'fragile', Zahara juga membungkus buku-buku itu dengan bubble wrap. Selain itu.. yang membuatku benar-benar tersentuh adalah, ia menyisipkan 'hadiah kecil' di dalamnya : sebungkus Nextar cokelat, dua sachet kopi Esprecielo, dan dua lembar pembatas buku yang cantik. Seriouslyyyy.. this is too much! Dia menjaga dan mengembalikan buku-buku kesayanganku dengan sebaik-baiknya aja, aku berterima kasih banget, tapi ia justru repot-repot memberiku 'hadiah kecil' yang.. ah, bahkan aku sama sekali nggak menganggap ini sebagai hadiah kecil karena aku suka dan dia tulus banget ngasihnya. Sumpah, aku bahkan nggak nyangka dia tau merk dan rasa kopi favoritku.




Thanks a lot, Za. You’re the best 💙
Kamis, 14 Februari 2019 4 komentar

Rabu Temaram

Rindu ini menggema
Sampai di ujung luka
Kau yang bertabur sinar
Hanya membias dalam imaji

***
 
Bukan, yang di atas tadi bukan puisi galau, apalagi lagu yang tengah mewakili perasaanku hari ini, melainkan sebuah lagu yang kemarin malam menggema di langit-langit aula Gramedia World Cipto, dinyanyikan penyanyi aslinya dengan petikan gitar yang dimainkannya sendiri. Siapa lagi kalo bukan Bung Fiersa Besari?
 
Sumber : google.com

Well, ini kedua kalinya aku menghadiri acara Meet & Greet bersama Bung Fie. Sebelumnya, aku hadir di acara Meet & Greet bersama Bung Fie dalam perjalanannya mempromosikan Albuk Konspirasi Alam Semesta, dua tahun lalu (baca : Senja Bersama Fiersa Besari). Waktu itu aku hadir bersama teman dekatku, Tri. Tapi karena dia bukan penggemar Bung Fie, sepanjang acara ia malah mengajakku ngobrol, aku jadi nggak fokus menyimak performance Bung. Maka untuk Meet & Greet kali ini, aku memutuskan untuk pergi sendiri.

Sumber : Instagram @fiersabesari

Sebenarnya aku sudah menantikan pertemuan dengan Bung Fie lagi semenjak ia menerbitkan buku Arah Langkah nya. Namun sayangnya, Cirebon nggak ada dalam daftar kunjungannya sepanjang tahun 2018 (maksudku untuk Meet & Greet, entahlah kalo untuk tujuan lain seperti misalnya liburan. hehe..). Maka ketika Bung Fie mengumumkan perihal perjalanan sebelas kotanya, rasanya terharu banget. Jauh-jauh hari, aku sudah mengambil ancang-ancang. Seperti biasa pula aku stalking IG para penggemar Bung Fie yang sudah lebih dulu berkesempatan hadir di acara itu, bacain komentar-komentar.. yah pokoknya mengorek informasi lah, jaga-jaga biar disana nggak cupu-cupu banget. Hehe..

Sekitar jam tiga sore, aku ijin kepada atasan untuk keluar kantor lebih awal. Anyway, atasanku bukan tipe atasan yang suka menyulitkan bawahannya yang mau ijin karena suatu keperluan sih. Bagi beliau asalkan kerjaan sudah beres, ya boleh aja keluar kantor lebih awal (asalkan tentu ada alasan mau ngapain, dan nggak terlalu sering dilakukan). 

Sebelum ke Gramedia World Cipto, aku mampir dulu ke McD untuk mengganjal perut. Maklum, belum makan siang, dan karena acara Meet & Greet nya bakal sampai malam, jadi nggak mungkin juga aku membiarkan perutku keroncongan sepanjang acara. Kenapa di McD? Karena selain lapar, aku juga lagi penasaran sama salah satu produk dessert-nya McD gara-gara baca review yang diposting Admin @mwv.mystic di akun Instagram pribadinya (makasih lho, Min. gara-gara lu, gw segininya dihantui rasa penasaran sama makanan). BTW aku baru tau kalo sekarang beberapa resto tengah menggalakkan aksi go green dengan meminimalkan penggunaan sedotan plastik, termasuk di McD yang aku kunjungi kemarin. Konyol juga kalo inget kemarin aku sempat bingung cari sedotan. Wkwk.. Alhasil kemarin minum softdrink-nya ya diseruput dari gelasnya langsung. Saranku sih, mending mulai sekarang bawa sedotan stainless steel kemana-mana, biar nggak repot kalo nggak ada sedotan pas mau minum. Syukur-syukur ya bisa ngilangin kebiasaan pakai sedotan plastik sama sekali. Hehe..

Setelah kenyang melahap seporsi nasi dan ayam goreng, serta dessert yang bikin penasaran tadi (yang ternyata rasanya biasa aja, tapi alhamdulillah jadi nggak penasaran lagi), aku pun langsung meluncur ke Gramedia World Cipto. Waktu itu jam menunjukkan pukul empat sore, Gramedia nggak bisa dibilang ramai, nggak juga bisa dibilang sepi. Sesampainya di lantai tiga, aku bertanya pada security apakah sudah bisa naik ke aula untuk registrasi atau belum.
"Belum, Mbak. Nanti jam lima", jawabnya. Oh iya, aku belum cerita ya kalo acara Meet & Greet bareng Bung Fie ini sebenarnya dimulai jam tujuh malam, hanya aja bagi yang mau minta tanda tangan dan foto bareng, harus terlebih dahulu melakukan registrasi yang mana meja registrasinya itu dibuka pada jam lima sore.

Karena masih satu jam lagi, akhirnya aku keliling-keliling dulu. Sekitar jam lima kurang lima belas menit, aku bertanya pada salah satu pramuniaga perempuan yang berdiri nggak begitu jauh dari tangga menuju aula, "Teh, maaf, sudah boleh naik belum ya?"
"Oh boleh, Kak, silahkan", ucapnya ramah.
Setelah mengucapkan terima kasih, aku pun langsung berjalan cepat, naik ke aula. Di ujung tangga, seorang mas-mas berkaos hijau sudah menunggu. Ia meminta aku dan para pengunjung lainnya untuk menunjukkan Albuk 11:11 yang dipergunakan sebagai 'tiket masuk' kedalam acara ini. Yang membuatku sedikit kecewa adalah, ternyata didalam aula itu sudah terdapat beberapa puluh peserta Meet & Greet yang sudah duduk manis diatas karpet hijau. Ya heran aja sih, tadi mas-mas security bilang nggak bisa naik ke aula dulu sebelum jam lima, tapi pas aku naik kok udah banyak yang duduk anteng gitu? Yakali orang dalem (=.=')

Beruntung, antrian meja registrasi nggak terlalu panjang. Proses registrasi terdiri dari pengecekan keaslian Albuk 11:11 yang dibawa peserta; penulisan nama, alamat dan nomor telepon peserta; serta penempelan stiker nomor urut di atas Albuk 11:11 yang dilakukan oleh petugas registrasi. Beres registrasi, aku langsung bergabung dengan puluhan peserta Meet & Greet lainnya di karpet hijau.

Dapat nomor urut 99

"Sini, Mbak", ucap seorang perempuan sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. Aku yang duduk dua jengkal di belakangnya tersenyum lantas menyeret pantat untuk mengisi tempat kosong yang dia tepuk tadi. Alhamdulillah, aku mendapat tempat duduk di saf ketiga, sehingga dari posisi itu aku bisa melihat stage dengan cukup jelas.

Perempuan yang menawariku tempat duduk di sampingnya itu, namanya Dea. Sepertinya ia sebaya denganku, tapi ia mengira aku mahasiswa. Haha.. Bukan, kataku. Ia sendiri bekerja sebagai guru IPS di sebuah SMP Swasta di kota ini, dan ia baru pertama kali menghadiri Meet & Greet Bung Fie. Senyum dan perawakannya yang mungil mengingatkanku pada Tifanny. Sayangnya aku nggak ngobrol banyak sama dia, karena dia nggak datang sendiri.

Sambil menunggu acara dimulai, aku melanjutkan membaca buku Catatan Juang yang kubawa saat itu. Well, selain membawa 11:11, aku juga membawa serta Catatan Juang dan Garis Waktu untuk minta ditandatangani juga. Dan karena aku belum rampung membaca Catatan Juang, jadi aku lanjutkan. Lumayan, selain mampu membunuh waktu, aku juga jadi makin mendekati halaman akhir. Tapi ketika tiba di suatu bab yang membahas tentang ortu, aku tiba-tiba baper dan nggak berani lanjut karena khawatir mewek di tempat. BTW, sudah beberapa kali aku ke Gramedia World Cipto, tapi baru tau kalo aula itu terletak di rooftop. Waktu itu aku mau ke toilet, dan salah satu crew acara mengarahkanku ke pintu keluar sebelah kanan. Ketika keluar, aku justru disambut oleh pintu masuk ke mushola, dan alih-alih menemukan toilet, aku justru menemukan tempat lapang dimana kita bisa melihat pemandangan kota Cirebon dari atas.

Pemandangan dari salah satu sisi rooftop Gramedia World Cipto

Sumber : Instagram @fiersabesari

Tau foto Bung Fie yang di atas itu kan? Nah, foto itu juga diambil di salah satu sisi rooftop Gramedia World Cipto lho. Aku juga sebenarnya pingin berlama-lama disitu buat melihat-lihat dan mengambil beberapa gambar, tapi malu aja kalo ada yang liat. Bukan apa-apa, masalahnya tembok pembatasnya lumayan tinggi, dan makhluk pendek sepertiku perlu naik ke undakan yang lebih tinggi dan berjinjit kalo mau lihat pemandangan dibawah sana. Wkwkwkwk..

Singkat cerita, jam menunjukkan pukul tujuh malam. Aku dan peserta Meet & Greet lainnya deg-degan menunggu idola kami muncul. Lucu juga sih waktu itu, kami celingukan gitu, menerka-nerka Bung Fie bakal muncul darimana. Dari pintu sebelah kanan? Sebelah kiri? Tangga menuju aula? Atau dari bawah ubin?

Dan ketika sebuah siluet muncul dari balik pintu sebelah kiri, peserta pun sontak histeris begitu menyadari siapa pemilik siluet itu. Lantas Bung Fie muncul dan melambaikan tangan, menyapa kami dengan senyum gingsulnya yang menawan. Aaa..
Seriously, sebagai seorang Pegiat Alam, ia mematahkan mindset orang-orang yang beranggapan bahwa 'anak gunung' itu berkulit gelap, karena nyatanya warna kulit Bung Fie itu nggak termasuk gelap. Wajahnya pun bersih, meski ditumbuhi jenggot dan kumis. Kasep pisan lah pokokna mah.

Setelah menyapa para peserta dan berbasa-basi sedikit, dimulailah dongeng hari itu. Bung Fie pun membuka Albuk 11:11 nya dan bertanya kepada para peserta Meet & Greet, mau dibacakan cerita apa. Karena kebanyakan dari kami meminta dibacakan Temaram, akhirnya Bung Fie pun memutuskan untuk membacakan cerita nomor enam dalam Albuk 11:11 itu. Padahal sebelumnya aku pikir, Bung Fie akan membacakan Acak Corak, mengingat itu merupakan cerita nomor tiga, sesuai dengan nomor urut Kota Cirebon sebagai kota tujuan Bung Fie yang ketiga dalam perjalanan 11 kota ini. Tapi aku senang sih, karena Temaram sendiri merupakan salah satu cerita sekaligus lagu favoritku dalam buku ini. Syukurlah, suasananya nggak dibikin remang-remang juga (biar sesuai sama judulnya). Yakali baca dengan cahaya remang-remang :'v

"Udah yaa.. Udah yaa.. Turunin hapenya," kata Bung Fie sambil tersenyum melihat beberapa peserta yang masih sibuk merekam dirinya dengan kamera smartphone.
"Pokoknya pilihannya cuma dua", katanya lagi sambil mengacungkan dua jari, "Kalian mau nyimak cerita atau mau lihatin muka saya."
Wkwkwk..

Sumber : Instagram @arwannnie


Dan mulailah Bung Fie membacakan ceritanya. Nggak hanya sekedar membaca. Terkadang ia juga menyelipkan lelucon-lelucon yang sebenarnya cringe, tapi karena penyampaiannya yang kocak (ditambah aksen khas akang-akang sundanese-nya), kami jadi ketawa.

Sumber : Doc. pribadi



Sumber : Instagram @arwannnie


Sumber : Instagram @arwannnie
 
Nggak terasa, pembacaan cerita pun usai. Tibalah saatnya Bung Fie bernyanyi. Ia pun meraih gitarnya dan mulai memetik.
"Hening ya semuanya," ucapnya.

Rindu ini menggema
Sampai di ujung luka
Kau yang bertabur sinar
Hanya membias dalam imaji

Engkau pencuri hati
Tanpa pernah sadari
Aku dipeluk nanar
Tiada bergeming, usah peduli



Seluruh peserta Meet & Greet pun terbawa suasana. Hening, sunyi.. Namun ketika memasuki refrain, kami serempak bernyanyi bersama..

Aku sadar siapa diriku yang tidak mungkin menggapaimu
Kau terlalu indah untuk jadi kenyataan
Namun bila ada sedikit ruang hati tuk kusinggahi
Takkan pernah kusakiti..

Usai Temaram dinyanyikan, tepuk tangan para peserta Meet & Greet menggema di seantero ruangan. Bung Fie tersenyum lebar.
"Enak ya lagu Temaram?" tanyanya yang kemudian diiyakan oleh seluruh peserta Meet & Greet.
"Jadi bilangin ya ke teman-teman kalian kalo lagu Fiersa Besari itu nggak cuma April dan Waktu Yang Salah. Jujur saya bosan setiap kali dapat tag cover lagu saya, yang saya dengar Waktu Yang Salah lagi, Waktu Yang Salah lagi", kelakarnya lagi sambil mengibaskan tangan. Wkwkwk..

Setelah itu, Bung Fie pun mengunggah Instagram Story bersama kami. Ia merekam video lewat kamera depan di hapenya, berteriak "Apa kabar Cirebon jeh??!" kemudian mengarahkan kameranya ke arah kami, para peserta Meet & Greet yang bersorak-sorak. Ramai sekali.

Sayangnya, hari itu nggak ada sesi Q&A seperti yang direncanakan sebelumnya, melainkan langsung ke sesi tanda tangan dan foto bareng. Yah, mungkin waktunya nggak memungkinkan kali ya. Beruntung lah bagi 200 orang pertama yang melakukan registrasi, karena mereka mendapatkan kesempatan untuk tanda tangan dan foto bareng Bung Fie, sementara sisanya hanya berkesempatan menyaksikan performance Bung Fie aja. Alhamdulillah, aku termasuk kedalam 200 orang itu (thanks banget buat mas-mas yang komen di postingan Bung Fie dan berbaik hati ngasih saran).

Para peserta Meet & Greet pun dipersilahkan maju satu persatu ke atas stage berdasarkan nomor urut. Sebelum maju, kami dihimbau oleh crew untuk mengaktifkan kamera pada ponsel kami masing-masing. Nanti di atas stage itu sudah ada petugas yang akan memfotokan kami. Ah, aku iri sama peserta-peserta yang mendapatkan nomor urut lebih awal, karena Bung Fie masih terlihat antusias, masih mau meladeni permintaan para penggemarnya yang aneh-aneh. Ada yang minta tanda tangan di gitarnya, ada yang minta peluk, malah ada yang ndusel-ndusel.. Duh.. (curiga Bung Fie pake parfum yang terkenal itu lho, yang slogannya 'Bikin Cewek Lupa Diri'). Makin lama, Bung Fie makin terlihat capek, dan waktu buat berdua di atas stage bareng dia semakin singkat.

Akhirnya tibalah giliranku untuk naik ke atas stage. Kuserahkan hapeku pada petugas yang berdiri satu meter di depan Bung Fie.

"Halo, Bung", ucapku sambil menjabat tangannya.
"Halo", balasnya.
"Bung, buku saya sudah dicoret-coret sama Bung," ucapku sambil menyodorkan buku 11:11 yang kupunya (dan sudah bertanda tangan Bung Fie, karena beli online di hari peluncuran bukunya). Maksudnya aku mau minta ia menandatangani buku karyanya yang lain. Namun Bung Fie nggak menjawab dan langsung menggoreskan tinta hitamnya di bawah tanda tangan dalam buku 11:11 yang kusodorkan. ILYA, tulisnya disitu.


"Pasti nggak tau deh artinya," katanya.
"Tau dong!" jawabku.
"Apa?"
"I Love You Always".
"Ih kok tau sih?"
"Tau dong, kan baca KoLaSe".
"Seneng deh," ucapnya  sambil tersenyum lebar. Akunya deg-degan. Haha..

Keasikan ngobrol, aku lupa kalo petugas foto sudah mengarahkan kameranya ke arah kami.
KLIK!
Tanpa aba-aba, Si Petugas sudah menekan tombol shutter dan menyerahkan padaku.
Kok cepet banget, pikirku.
 "Sukses ya!" ucap Bung Fie.
Aku pun menjabat tangannya lagi sambil mengucapkan terima kasih, kemudian turun stage.

And you know what?Rasanya aku pingin banget protes sama mas-mas yang fotoin. Hasilnya jelek banget. Posisiku belum sepenuhnya siap, maka yang terjadi adalah mataku terlihat setengah terbuka. Kecewa banget, apalagi itu cuma foto satu-satunya, padahal rencananya foto itu kan mau aku cetak dan pajang :'(


Ya aku tau sih, waktunya terbatas, tapi ya nggak gitu juga. Kalo aku jadi mas-mas petugas foto itu, untuk momen yang terbilang langka begitu, aku bakal fotoin orang seenggaknya dua kali : saat sesi tanda tangan, dan saat foto bareng. Atau kalo memang nggak sempat ya seenggaknya kasih aba-aba kek. Duhh..

Jujur, bad mood sih rasanya. Tapi ya sudahlah. Seenggaknya aku senang bisa ketemu lagi sama salah satu orang yang menginspirasiku ini. Semoga ini bukan yang terakhir kalinya. Aamiin. Jangan bosan datang ke Cirebon ya, Bung!

BTW, ada Kawan Mengagumkan asal Cirebon yang membaca ini? Kalo ada, mungkin kita bisa berkawan. Siapa tau bisa datang ke Meet & Greet bareng. Hihi.. ^^

Total Tayangan Halaman

 
;