Tampilkan postingan dengan label IMO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMO. Tampilkan semua postingan
Minggu, 23 Agustus 2026 0 komentar

Curhat Rakyat

Belakangan ini sedih banget rasanya lihat berita yang seliweran tentang negeri ini. Well, aku sebenernya jarang banget bahas politik karena jujur, ini di luar kapasitasku. Aku awam soal politik, ekonomi, apalagi tata kelola negara. Tapi sebagai rakyat, rasanya kali ini aku nggak tahan buat ngeluarin unek-unekku, or at least ngeluarin sedikit energi negatif, karena rasanya mengganjal banget di hati dan kepala.

Ada beberapa hal yang belakangan ini bikin aku overthinking.

Sehari setelah pesta peringatan kemerdekaan RI beberapa hari lalu, mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) melakukan demo dengan membawa delapan tuntutan utama, di antaranya penghentian penjajahan negara atas rakyat sendiri, pemberantasan KKN, perwujudan reforma agraria sejati, serta penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM. Beritanya rame banget di sosmed, meskipun nggak di-up di TV nasional (kecuali Kompas TV. Hats off to them). I dunno why 🙃

Sumber: Instagram @kaynaraleica

Banyak rakyat yang mendukung karena merasa tuntutan mereka mewakili suara masyarakat. Tapi nggak sedikit juga yang malah mencemooh dengan sebutan "mahasewa".

Yang aku heran, orang-orang yang teriak "mahasewa, mahasewa" itu sebenarnya mikir para mahasiswa ini dibayar sama siapa buat demo? Kalo mereka dibayar buat membela pemerintah, ya mungkin masuk akal buat curiga ada pihak yang punya kepentingan kan yaa? Tapi ini mereka turun ke jalan justru menentang kebijakan pemerintah. Siapa yang mau bayar? Rakyat patungan bayar mereka gitu?

Lagipula orang gila mana yang segitunya ngarep recehan sampai mau panas-panasan, capek-capek teriak orasi, belum lagi berhadapan dengan aparat yang jumlahnya bahkan jauh lebih banyak dari peserta orasi? Memangngnya dibayar berapa sampai sebanding dengan resiko begitu? 🙃

Lain halnya kalo yang disebut pendemo sewaan ini para emak-emak dukung MBG di Monas tanggal 22 Juni lalu (sumber: Tribunnews). Naaaahhh.. berbeda banget sama demo para mahasiswa UI yang dihadang-hadang aparat, demo yang satu ini malah dikawal, bahkan dapat duit transport, wajan, roti, susu, dan buah-buahan. Hmmm...

Rasanya topik tentang MBG ini memang nggak ada hentinya disorot yah? Habisnya begitu-begitu mulu sih, kayak nggak ada perubahan. Aku bersyukur sih karena MBG di kawasan tempat tinggalku cukup baik, tapi di luar sana masih banyak MBG yang jauh dari kata layak, bahkan kasus keracunan massal masih terjadi. Di sisi lain, sedih juga lihat makanan yang banyak terbuang, padahal dana yang digelontorkan untuk program ini nggak kecil, dan itu diambil dari pajak-pajak kita. Mana harga bahan-bahan pokok jadi pada naik pula, bikin puyeng para emak-emak.

"Halah, beli kopi Butterscotch harga 40 ribu biasa aja, tapi harga ayam naik protes", begitu kata manusia anomali, dia pikir semua orang minum kopi harga 40 ribu kali ya?

Selain itu tentang Kopdes Merah Putih. Aku pernah lihat postingan yang menunjukkan bangunan Kopdes di tempat yang terpenciiiil banget, sangat jauh dari pemukiman warga, di kaki Gunung Ciremai (sumber: Suara Nusantara). Pertanyaanku, siapa yang mau belanja kalo lokasinya kayak gitu? Dedemit?

Kalo memakai dana APBN untuk makanan yang mubazir di banyak tempat dan membangun bangunan yang akhirnya berpotensi nggak berfungsi sebagaimana mestinya, kenapa memperbaiki sekolah yang bangunannya kurang layak dan jembatan yang menjadi akses warga kok susah banget direalisasikan? Padahal itu kan mendasar banget ya, kenapa sulit banget gitu? 

Terus ada juga Aceh yang terkena banjir besar dan kayu gelondongan tahun lalu dan sampai sekarang masih belum sepenuhnya pulih. Soal bantuan dari pusat, aku sendiri nggak tahu mana informasi yang benar ya, karena infonya sendiri pun simpang siur. Ada yang bilang bantuan nggak datang, ada juga yang bilang bantuan udah datang tapi ditimbun sama pemda.

Tapi kalo benar ada pihak yang sengaja menahan bantuan buat masyarakat yang lagi susah, entah itu bantuan dari pusat ataupun bantuan yang harusnya jadi hak warga, aku benar-benar nggak habis pikir sih, gila.

Orang udah kehilangan rumah, kehilangan harta benda, banyak juga yang kehilangan anggota keluarga. Orang udah susah, kok tega-teganyaa masih dibikin lebih susah?

Baru-baru ini NTT diguncang gempa dan hutan di Kalimantan kembali terbakar. Perihal kebakaran hutannya, aku pribadi bahkan masih wondering sih apakah semuanya benar-benar murni karena faktor alam atau ada pembakaran yang disengaja, karena aku nggak punya bukti buat memastikan itu. Tapi kalo memang ada yang sengaja membakar hutan demi kepentingannya, jujur aku nggak ngerti lagi.

Aku pernah nonton film dokumenter tentang dinosaurus yang terjebak dalam kebakaran hutan pasca bumi dihantam meteor. Filmnya dibuat dengan teknologi yang kelihatan nyata banget sampai aku dibuat merinding dan sedih melihat hewan-hewan itu berusaha menyelamatkan diri. Bahkan Ankylosaurus yang dijuluki dinosaurus berbaju zirah karena kulitnya yang tebal kayak mesin tempur aja nggak mampu selamat dari kobaran api.

Tapi itu film, sedangkan yang terjadi di Kalimantan bukan film. Aku lihat foto bangkai ular dan trenggiling yang mati terpanggang, lihat video orangutan yang "tersesat" sampai masuk ke pemukiman dan jalan-jalan karena habitatnya terbakar. Dan aku jadi kepikiran hewan-hewan lain yang bahkan nggak punya kemampuan untuk lari secepat dan sejauh itu.

Mereka mau menyelamatkan diri ke mana? Habitatnya dibakar, dirusak manusia yang merasa bahwa mereka adalah pusat semesta. Pas hidup di tempat lain, mereka dianggap mengganggu, bahkan dibunuh dan diburu. I'll never forget ibu gajah yang hamil dan mati karena diberi makan nanas berisi petasan sama manusia dajjal. Memang kejadiannya bukan di Indonesia, tapi tetap merupakan bentuk kekejaman yang dilakukan oleh manusia. That's one of the saddest things I've ever known, masih nyesek sampai sekarang rasanya. Ditaruh di kebun binatang, ada yang dana pakannya dikorupsi. Mereka diam di habitat, habitatnya dirusak.

Ya Allah, perih banget hatiku, sumpah. This world is too cruel buat makhluk-makhluk nggak berdaya seperti mereka. Manusia-manusia tamak dan biadab ini, I hope they'll burn in hell. Rot in hell.

Jujur, aku juga resah melihat respons Presiden terhadap kritik masyarakat. Statement kayak "emang gue pikirin" dan gesture "nyenyenye" itu menurutku terkesan tonedeaf dan kayak mengejek rakyat. Entah memang maksudnya begitu atau bukan, tapi menurutku statement seperti itu nggak sepantasnya dilontarkan sama orang yang harusnya punya tanggungjawab paling besar buat memikirkan rakyat dan negara :')

Suatu hari, aku sempat ngobrol dengan seorang temanku yang mengaku menyesal karena dulu memilih presiden sekarang. Tapi dari obrolan itu, aku nggak lantas lega mendengar penyesalannya, kayak, apa penyesalan itu bakal membuat mereka yang menyesal ini benar-benar belajar ya?

Waktu itu kami sempat ngobrol soal uang hasil korupsi yang berhasil disita negara, juga tentang tunjangan anggota DPR yang waktu itu lagi panas banget dibahas. Kami membahas kira-kira uang sebanyak itu lebih baik digunakan buat apa.

Aku bilang, menurutku akan jauh lebih bermanfaat kalo dialokasikan ke pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan. Karena selain banyak sekolah, jembatan, dan jalan yang bobrok, miris juga nggak sih mendengar banyak masyarakat yang BPJS Kesehatannya tiba-tiba nonaktif (kebetulan temanku ini salah satunya), atau masih aktif tapi ketika sakit malah mendapat penanganan yang lambat.

Nah, temanku ini malah punya pikiran:

"Bisa nggak sih ya itu duit sitaan dibagiin aja ke rakyat? Daeipada mubazir didiemin aja".

Dan soal uang tunjangan DPR yang terlalu banyak itu dia berpendapat:

"Bagiin aja duitnya ke rakyat apa nggak bisa? Serumah minimal 3 juta aja, pasti kebagi tiap bulan"

Aku ngerti sih mungkin sebagai orang awam, yang dia bayangkan uang hasil korupsi yang jumlahnya triliunan ditambah uang tunjangan pejabat yang dianggap terlalu besar setiap bulannya itu kalo dibagi ke rakyat Indonesia bakal lumayan banget, bisa dapat jutaan.

Tapi rakyat Indonesia itu juga kan banyak banget yak, ada 280 jutaan kepala. Kalo uang sitaan korupsi sebanyak apa pun dibagi rata ke ratusan juta orang, belum tentu masing-masing dapat banyak. Dan itu bakal habis dipakai buat kebutuhan sehari-hari doang. 

Dan kalo setiap rumah tangga dapat minimal 3 juta setiap bulan hasil dari pemangkasan tunjangan anggota DPR, itu artinya negara harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang luar biasa besar dan terus-terusan. Waduuuhh, utang negara aja udah banyak, masa mau ditambah lagi, yekan? Selain itu, hal ini sangat bisa membuka peluang korup. MBG yang dananya belasan ribu perorang aja yaaah, you know how lah ya gimana pelaksanaan dan penyalurannya. Gimana dengan uang yang jumlahnya sebesar itu?

Sementara kalo uang itu dipakai memperbaiki sekolah, satu bangunan bisa dipakai ratusan anak selama bertahun-tahun. Kalo dipakai membangun jembatan, satu jembatan bisa dipakai satu kampung atau bahkan lebih banyak lagi. Kalo dialokasikan ke bidang kesehatan, manfaatnya juga bakal besar banget buat banyak orang.

Well, sebagai orang awam juga, mungkin banyak pemikiranku yang masih naif yah. Tapi jujur, aku kayak hopeless gitu lho. Bukan hanya soal pemerintah kita yang kayak gini, tapi juga rakyatnya yang nggak belajar dari kesalahan. Temanku menyesal udah memilih orang yang sekarang. Itu bagus lah ya, seenggaknya ada evaluasi. Tapi kalo setelah menyesal, mindsetnya masih sama kayak sebelumnya, masih kegoda sama keuntungan instan yang ditawarkan, bukan nggak mungkin kita bakal mengulangi kesalahan yang sama kan?

Haaaahh.. masih banyak banget sebenarnya yang mau kuutarakan, tapi biar segini dulu deh. Seenggaknya beban di kepalaku udah sedikit berkurang sekarang.

Aku nggak punya jawaban tentang gimana negara ini harus dibenahi. Aku nggak punya kapasitas di situ. Aku cuma rakyat biasa yang belakangan ini terlalu sering melihat berita, terlalu overthinking, dan akhirnya malah sedih dan mumet sendiri. Tiap hari nengok feed sosmed bawaannya istighfar melulu, kayak nggak ada berita baik gitu. 

Lihat foto lewat di feed, gambar anak gelandangan tidur di lantai stasiun, sementara di belakang tubuh kecilnya ada spanduk bertuliskan "Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur". Hhhh.. how ironic. Sedih banget lihatnya, ya Allah. Rakyat mana yang makmur? Kutanya. Rakyat yang duduk di kursi-kursi gedung DPR? Atau yang mana?

Sumber: Instagram @undercover.id

Banyak juga statement yang bilang negara ini baik-baik aja, mau apa aja semuanya ada, masih bisa hidup tenang dan bahagia. Tapi mereka lupa, hidup tenang dan bahagia versi mereka dan versi orang lain itu beda. "Mau apa aja semuanya ada", katanya. Memang iya. Tapi apa itu terjangkau bagi mereka yang memenuhi kebutuhan dasar aja kudu benar-benar berjuang keras?

Aku cuma berharap Indonesia suatu hari nanti nggak cuma terlihat merdeka di upacara dan spanduk, tapi benar-benar terasa merdeka bagi rakyatnya. Kita.

Dan semoga, sebelum memilih lagi, kita semua nggak cuma mikir kita bakal dapat apa nantinya, karena negara ini tuh bukan cuma punya kita hari ini doang. Ada anak-anak kita yang suatu hari kelak hidup di dalamnya.

Sabtu, 09 Maret 2024 0 komentar

Bebas Beraktifitas Saat Haid Dengan Menstrual Cup

 Pertama kali aku tau ada sebuah benda ajaib bernama menstrual cup alias cangkir menstruasi itu dari sebuah thread di Twitter. Aku lupa kapan tepatnya, tapi kalau nggak salah sekitar empat tahun yang lalu. Setelah membaca thread itu, aku merasa tertarik buat beralih dari penggunaan pembalut ke menstrual cup ini. Tapi karena pada saat itu aku belum nikah dan khawatir penggunaan menstrual cup akan berakibat pada robeknya selaput dara, jadi aku memutuskan untuk menunda penggunaannya.

Awal Januari 2021 aku menikah, dan tiga bulan kemudian qodarullah aku diberi amanah untuk hamil. Beberapa hari setelah melahirkan, seperti ibu-ibu pada umumnya, aku mengalami masa nifas. Pada saat itu aku bisa ganti pembalut nifas lima belas menit sekali saking derasnya. Waktu itu kerasa banget repotnya, lemasnya dan capeknya harus bolak-balik kamar mandi buat mencuci dan membuang pembalut bekas pakai.

Beberapa bulan setelah melahirkan, baru deh aku memutuskan untuk menggunakan menstrual cup. Alasanku memutuskan menggunakan menstrual cup ini adalah, selain lebih praktis, juga karena aku memiliki kulit yang sensitif, dan kondisi kulitku semakin sensitif pasca hamil dan melahirkan. Hampir setiap kali menggunakan pembalut, area selangkanganku terasa gatal dan nggak nyaman hingga timbul iritasi. Selain itu, setiap kali membuang pembalut bekas pakai, aku selalu merasa bersalah. Setiap hari aku membuang popok bekas pakai anak, dan aku juga menambah 'beban' lingkungan dengan membuang pembalut bekas setiap bulannya. Dengan menggunakan menstrual cup, aku berharap bisa sedikit mengurangi beban lingkungan. Hehehe.

Tapi sebelum beli menstrual cup ini tentunya aku baca-baca dulu artikel-artikel dan review dari mereka yang udah lebih dulu menggunakannya, mulai dari cara pakai, ukuran apa yang cocok, sampai rekomendasi merk menstrual cup yang nyaman dipakai, karena biar gimana pun aku nggak mau menyesal setelah membelinya. Harganya pun bervariasi, dari yang hanya puluhan ribu, sampai ratusan ribu. Takutnya udah beli mahal-mahal, eh malah nggak kepakai.

Singkat cerita, pilihanku jatuh pada menstrual cup merk Momi Homi. Aku membelinya di salah satu e-commerce dengan harga kurang dari enam puluh ribu rupiah. Produknya bisa dibeli di sini. 

Ada tiga pilihan ukuran cup untuk menstrual cup merk Momi Homi ini, yakni ukuran XS, S, dan L. Sayangnya deskripsi produk hanya menyebutkan ukuran S untuk wanita yang belum pernah melahirkan normal, dan ukuran L untuk wanita yang pernah melahirkan normal. Nggak ada deskripsi untuk ukuran XS. Mungkin ukuran XS untuk anak gadis yang baru aja mengalami menstruasi kali yah?

Awalnya aku terpikir untuk membeli menstrual cup ukuran S karena aku baru mau coba pakai, dan pada panduan yang aku baca, tertulis bahwa lebih baik memilih ukuran yang lebih kecil kalo merasa nggak yakin. Kira-kira penjelasannya seperti ini :


Tapi aku juga teringat pada thread di Twitter yang pernah aku baca, ada yang menyebutkan bahwa ukuran menstrual cup yang L pun ukurannya nggak lebih besar dari (maaf) penis. Wkwk. Sedikit nyeleneh sebenarnya yaa, tapi anehnya statement itu yang justru meyakinkan aku untuk memutuskan membeli menstrual cup ukuran L. Wkwkwk.


Jujur, di awal-awal aku merasa sedikit takut melihat ukuran menstrual cup yang kubeli, ternyata kalo dilihat-lihat besar juga yah. Wkwk. Tapi karena udah beli, jadi mau nggak mau ya tetap kucoba lah. Pertama-tama, tentu aja sebelum digunakan, kita perlu mensterilkan produknya terlebih dahulu. Aku pribadi sih cukup merendam menstrual cupnya di air panas aja sih selama beberapa menit.


Dari beberapa cara melipat menstrual cup, aku memilih bentuk C or U yang paling mudah. Jujur, awal masukinnya memang agak sakit sih. Lebih baik pakai lubricant kalo nggak mau sakit. Beberapa orang juga mengalami kesulitan waktu awal pakai, salah satunya adalah menstrual cupnya masih terlipat dan nggak terbuka saat udah di dalam. Tapi alhamdulillah banget, waktu itu aku langsung bisa.

Biasanya kalo pakai pembalut, rasanya mengganjal, gatal, dan nggak nyaman. Tapi ini ajaib. Begitu menstrual cupnya terpasang, rasanya kayak nggak pakai apa-apa. Nyaman banget. Saking nyamannya, kadang suka lupa kalo sedang mens. Mau gerak seaktif apapun, tidur jumpalitan kayak apapun, nggak akan bocor. 

Lho, kalo bisa bikin lupa bahwa sedang mens, ntar lupa buang dong? 
Nggak lah ya. Meski menstrual cup ini anti bocor, tapi tetap aja cairan yang dia tampung bisa 'meluap' kalo nggak dibuang. Biasanya kalo merasa seperti ada gelembung udara atau 'letupan' di dalam sana, itu artinya cairan yang dia tampung udah hampir meluap dan harus segera dibuang. 

Kalo aku pribadi sih biasanya kalo hari pertama mens dan sedang deras-derasnya, bisa tiga kali buang. Nggak repot. Tinggal tarik keluar menstrual cupnya, buang cairan, cuci menstrual cupnya dengan air mengalir, lalu pakai lagi. Kayaknya cuma butuh waktu lima menitan. Nggak kayak pembalut yang harus repot cuci-cuci sampai nggak ada sisa darah, peras, lipat, masukin kantong plastik, lalu buang. Udah repot, buang waktu, meninggalkan sampah pula. Trus repot juga kan kalo mau bepergian harus bawa satu bag pembalut dan kantong plastik. Kalo pakai menstrual cup, cukup bawa satu untuk dipakai berkali-kali. Mana awet banget, satu menstrual cup bisa sampai lima tahun, nggak perlu beli tiap bulan kayak pembalut. Hehe. Kalo udah selesai menstruasi, cukup cuci menstrual cup-nya dengan sabun, bilas dengan air mengalir, trus disterilkan atau rendam dengan air panas selama beberapa menit, trus keringkan, dan taruh lagi di kotaknya. Sepraktis itu.

Sampai saat ini, mungkin udah hampir satu setengah tahun aku pakai menstrual cup. Pembalut udah nggak ada lagi dalam list kebutuhan bulanan. Sisa stok pembalut yang aku punya, kubawa ke kantor buat teman kantor yang sedang mens dan lupa bawa pembalut, juga buat jaga-jaga kalo aku tiba-tiba mens dan nggak bawa menstrual cup. Wkwk. 

Aku sempat meracuni dua rekan kerjaku sih, biar mereka beralih ke menstrual cup juga. Alhamdulillah dua-duanya tertarik. Malah salah satu dari mereka udah beli menstrual cup dengan merk dan ukuran yang sama dengan menstrual cup punyaku. Tapi sayangnya dia belum berhasil memakainya. Dia mengaku bingung kenapa aku bisa tapi dia nggak bisa. Sementara rekanku yang satunya baru sebatas tertarik aja, belum berani untuk beli dan memakainya. Yah, semoga aja mereka dipermudah untuk segera beralih dari penggunaan pembalut ke menstrual cup juga 😁
Selasa, 29 Maret 2016 4 komentar

FAKER [Part 2]

Postingan sebelumnya : FAKER [Part 1]



PENGALAMAN DI-FAKER-IN

Sekitar tahun 2011 sampai 2012, aku berteman dekat sama Teh Tyas dari Bogor, Maya dari Nganjuk, dan Teh Fany dari Bandung. Ketiganya adalah temen Facebook-ku, dan sama-sama tergabung dalam keluarga MCRmy—penggemar My Chemical Romance. Saking dekatnya, kami sering chat via Facebook, dan saling memanggil dengan awalan ‘Jeng’. Ya know.. panggilan ala ibu-ibu arisan : Jeng Putri, Jeng Tyas, Jeng Maya, dan Jeng Fany.

Suatu hari, dalam sebuah perbincangan di SMS, Teh Tyas tanya, “Jeng, kamu pernah curiga nggak sih kalo Jeng Fany itu sebenernya akun palsu yang dikendalikan sama seseorang?”
Karena heran, aku tanya balik, “Hah? Maksudnya gimana, Jeng?”
“Ya aku curiga aja kalo dia itu sebenernya Faker,” jawab Teh Tyas.
Well, saat itu aku nggak pernah mencurigai siapapun diantara temen-temenku itu. Tapi semenjak Teh Tyas melemparkan pertanyaan itu, aku jadi kepikiran sesuatu, yakni foto-foto di album Teh Fany yang selama ini diakui sebagai foto-foto miliknya. Foto-fotonya tuh extremely pretty banget. Rambut hitam panjang dan lurus, kulit putih, bibir penuh, tubuh langsing dan tinggi semampai (dia pernah bilang kalo dia punya tinggi badan sekitar seratus tujuh puluhan centimeter). Aku yakin, cowok straight manapun nggak ada yang berpendapat kalo dia nggak cantik. Dengan penampilan secantik itu, dia sangat pantas jadi model ataupun pramugari.




Kemudian setelah itu, aku memutuskan untuk melakukan penyelidikan. Pertama-tama, diam-diam aku selidiki akunnya. Memang aneh sih rasanya. Dia cantik, punya banyak temen, tapi nggak ada satupun foto dia bareng temen-temennya disitu. Aku denger dia adalah mahasiswi jurusan Ekonomi. Pastilah (harusnya) dia punya banyak temen, apalagi didukung sama penampilan fisiknya yang menarik dan kepribadiannya yang supel. Kemudian aku ambil satu fotonya buat aku selidiki. Ya know what? Penyelidikan itu langsung membuahkan hasil dalam satu langkah aja! Akun orang yang selama ini aku kenal bernama Fany Silvia itu, yang selama sekitar setahun lamanya satu gank bareng aku.. ternyata dia FAKE! Geezz.. How the hell didn’t we notice it? Selama ini dia pake fotonya Hoang Thuy Linh—penyanyi asal Vietnam. Langsung aja aku kabarin hal itu ke Teh Tyas.




Nggak cukup sampai disitu, aku terus melakukan penyelidikan. Bersama Teh Tyas, kami berdua mencoba mengungkap siapa pengendali akun Fany itu. Kami telusuri akunnya dari awal pembuatan sampe terakhir kali dia update status. Tapi disamping melakukan penyelidikan, kami masih berkomunikasi sama dia seperti biasa, seolah-olah fakta bahwa dia adalah Faker itu nggak pernah kami ketahui.

Dari penyelidikan itu, kami memperoleh banyak kejanggalan dari akun itu. Nggak hanya janggal dari fotonya, tapi juga dari bahasa dan kata-katanya dari waktu ke waktu. Di awal-awal pembuatan, dia alay banget, kalimat-kalimat di statusnya pun nggak jauh dari kegalauan dan hal-hal berbau cinta. Oke, ini masih bisa dibilang wajar, sebagian besar orang pernah mengalami fase ini, mungkin aja saat itu dia belum ‘dewasa’. Kemudian beberapa lama setelah itu, dia mulai jadi manusia yang ‘normal’, alias nggak alay. Dia jadi sering update status dengan bahasa Indonesia yang bisa dibilang baku. Di sebuah status yang dia update, ada komentar dia yang menyatakan bahwa dia berasal dari sebuah pulau di luar Jawa (Kalimantan atau dimana gitu, aku lupa), sehingga dia nggak bisa berbahasa Sunda dan nggak ngerti kalo ada orang yang ngomong bahasa Sunda. Tapi anehnya, setelah dia mengungkapkan bahwa dia sama sekali nggak bisa berbahasa Sunda di salah satu statusnya, beberapa bulan kemudian dia jadi sering update status dan komen-komenan dengan bahasa Sunda. Bukankah itu aneh? Rasanya mustahil kalo seseorang bisa memahami suatu bahasa dan menggunakannya dalam kurun waktu beberapa bulan aja. Selain itu, status yang dia update pun jadi ‘kecowok-cowokan’ : ngebahas bola, ngebahas kalo dia abis nge-drift dari Bandung ke Jakarta trus balik lagi, ngebahas kalo dia abis minum suatu merk kopi trus mencret setelahnya.. Sangat berbeda dengan bahasa Fany yang dulu pas awal-awal dia bikin akun, sangat ‘kecewek-cewekan’ dan terkesan innocent gitu. Tapi memang justru Fany yang ‘kecowok-cowokan’ inilah yang aku, Teh Tyas, dan Maya kenal selama ini. Kami pikir dia tomboy dan cuek gitu orangnya. Tapi kalo ngeliat perubahan perilaku dia dari waktu ke waktu (yang saat itu baru kami sadari) itu, jelas aja hal ini bikin kami bertanya-tanya.

Selain kejanggalan-kejanggalan itu, aku dan Teh Tyas juga mencurigai seorang cowok yang sebut aja bernama Doing. Doing ini mantannya si Fany, dan kami curiga bahwa si Doing lah si pengendali akun itu. Kami mau menyelidikinya, tapi nggak tau gimana caranya. Aku mau add dia, tapi takut dia mikir macem-macem. Aku nggak puas dengan hanya mengetahui bahwa akun Fany itu fake. Aku penasaran pengen tau siapa dalang dibalik akun palsu itu. Aku terus memutar otak, sampai akhirnya aku mendapat ilham. Haha..

Namanya temen deket, pasti nggak afdol kalo nggak tuker-tukeran nomor kontak. Dan sebagai salah satu temen deket Fany, tentu aku punya nomor hapenya. Kami memang cukup sering SMS-an, tapi sekalipun kami nggak pernah telponan. Teh Tyas pernah bilang bahwa Fany memang selalu menolak kalo diajak telponan. Dia punya masalah pendengaran, katanya. Anehnya, sebelumnya Fany pernah cerita kalo dia suka dengerin musik pake headset selama berjam-jam. Makanya aku terdorong untuk melakukan cara ini untuk membongkar kedoknya. Aku beli kartu perdana baru, lalu aku telpon dia, yah missed call lebih tepatnya, coz aku sama sekali nggak berniat buat ngobrol sama dia. Aku cuma mau dengar suaranya, hanya mau memastikan apakah pemilik nomor hape itu cewek atau cowok. Ketika aku telpon, si pemilik nomor mengangkat telponku, tapi dia nggak ngucapin sepatah katapun. Aku matiin, lalu aku telpon lagi, tapi responnya tetap sama, dia mengangkat telponku tapi nggak ngucapin apa-apa. Akhirnya aku SMS aja dia. Aku nggak yakin bahwa si Doing adalah dalang dibalik akun Fany, tapi aku mencurigainya, jadi aku gambling aja. Aku SMS dengan hanya menyapa, “Doing!”
Dan berhasil! Si pemilik nomor membalas SMS-ku, pake bahasa Sunda, “Ieu saha? Dewi nya?”
Yes! Semakin kuatlah kecurigaanku.
Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku justru tanya balik. Sengaja, buat memastikan apakah trikku bener-bener tepat sasaran. “Lagi apa, Doing?”
Aku lupa dia jawab apa waktu itu, tapi aku inget dia nanya, “.... Dewi kumaha damang?”
Lagi-lagi aku nggak jawab. Aku malah telpon dia lagi. Berhasil! Dia angkat telponku, dan finally bilang “Halo?” Suara cowok.

Damn!

Langsung aja aku sampein hal itu sama Teh Tyas. Awalnya hal ini cuma aku dan Teh Tyas aja yang tau, tapi karena Maya juga satu gank sama kami, akhirnya aku memutuskan untuk memberitahu Maya juga. Maya shock waktu aku kasih tau hal itu, coz dia sering curhat hal pribadi sama Fany palsu itu, dan dia menyesal banget. “Kalo aku tau dia cowok, aku nggak akan curhat hal-hal pribadiku ke dia, Jeng,” katanya.

Awalnya, aku, Teh Tyas, dan Maya berniat ngerjain dia dengan tujuan membongkar kedok dia di Facebook, biar para MCRmy lain yang bertemen sama dia—termasuk mereka yang naksir setengah mati sama dia—pada tau soal kepalsuan akun itu. Tapi niat itu kami urungkan, coz takutnya hal itu malah mengundang bullying, baik itu kepada mereka yang naksir Fany maupun kepada si Doing itu sendiri. Selain itu, kami kan berpengalaman jadi Faker juga. Kok kayaknya gimana gitu kalo kita mengungkap kedok Faker, tapi kitanya sendiri juga berpengalaman jadi Faker (walaupun dalam dunia per-faker-an kami nggak bisa sejago dia dalam menjalin hubungan pertemanan. just so you know aja, walaupun fake dan fotonya mudah terlacak, tapi dia nggak pake akun palsu lain ataupun autolike lho buat bikin akunnya rame dan hidup). Akhirnya kami memutuskan untuk menyelesaikan hal itu secara personal.

Menjelang Idul Fitri 2012 itu, aku dan temen-temen satu gank-ku itu saling mengirim SMS permohonan maaf lahir batin, termasuk si Fany. Nah, disitulah aku bilang ke dia—via SMS, “Udah mau Lebaran nih, Jeng. Udah maap-maapan juga, jadi topengnya dibuka dong.”
“Maksudnya gimana, Jeng?” balasnya.
Kemudian aku membeberkan semuanya ke dia.. tentang kecurigaan kami, tentang penyelidikan itu, tentang foto dan akun palsunya.. sampe akhirnya dia mengakui kesalahannya. Dia minta maaf atas hal itu, dan meminta aku buat menyampaikan permintaan maafnya juga ke Teh Tyas dan Maya. Dia juga sempat mewanti-wanti kami buat berhati-hati karena diantara para MCRmy Indonesia di sekitar kami, ada enam akun palsu lagi. Kemudian beberapa lama setelah pengakuan itu, akun Fany pun udah nggak ada lagi. Kemungkinan si Doing menonaktifkannya.

Beberapa hari pasca hilangnya akun Fany, grup MCRmy heboh. Banyak yang nyariin dia, banyak yang kehilangan, banyak yang ngerasa kangen.. Well, jujur.. aku, Teh Tyas, dan Maya juga kangen sama sosok Fany. Dan yang pasti yang kami kangenin itu Fany, bukan Doing. Kami kangen nge-chat dan seru-seruan bareng. Andai Fany Silvia itu beneran ada, dia adalah sosok yang bisa banget jadi temen baik kami. Setelah kepalsuan itu kebongkar, kami tentu kecewa berat. Kami nggak bisa bertemen sama Doing. Kalopun bisa, hubungan pertemanan kami tentu nggak bakal sama kayak hubungan pertemanan kami dengan Fany, meskipun mereka adalah orang yang sama.


Gambar ilustrasi kami berempat. Ini temen Teh Tyas lho yang bikin.
[Ki-Ka : aku, Teh Tyas, Fany, Maya]


[Ki-Ka : aku, Maya, Fany, Teh Tyas]


[Ki-Ka : Maya, Fany, Teh Tyas, aku]



PENGALAMAN JADI FAKER

Aku melakukannya beberapa tahun yang lalu, waktu statusku masih merupakan seorang pelajar. Aku pake foto seorang seleb cowok yang kurang terkenal saat itu, dan berperan sebagai seorang mahasiswa dari suatu universitas di sebuah kota besar di Jawa Barat. Tujuan aku membuat akun ini adalah karena aku bosen jadi diriku sendiri.  Aku pengen mencoba jadi orang lain, khususnya jadi cowok. Yah, mungkin karena kepribadianku yang agak boyish juga, makanya aku mencoba ‘menjadi sosok yang berbeda’ di dunia maya. Selain itu saat itu aku juga lagi nge-stalk sebuah grup Facebook yang menghina Islam gitu, dan dengan akun palsuku itu, aku ikut berpartisipasi disana. Bukan koar-koar dengan kata-kata kasar lho ya, melainkan dengan memberikan opini dan pemikiranku terhadap penghinaan mereka.

Aku juga sempat bekerjasama dengan dua Faker lainnya. Yang satu usianya tiga tahun dibawahku. Tapi akhirnya aku memutuskan hubungan kerjasama kami karena Faker yang satu itu kurang hati-hati dalam mengelola akun palsunya (asal comot dan upload foto, dan pura-pura jadi cowok blasteran Thailand, tapi bahasa Inggris dan Thailandnya berantakan karena hasil copy gugel trenslet). Sedangkan Faker yang satunya jarang banget aktif, bahkan dia pensiun duluan dari dunia per-faker-an.

Gimana sih rasanya jadi Faker?
Aku akui rasanya asik. Apalagi saat berperan menjadi sosok yang berbeda dengan gender yang berbeda pula. Dan yang pasti karena aku berperan menjadi seorang cowok yang good-looking, aku jadi menuai banyak pujian dari banyak orang. Percaya atau enggak, inilah hal yang paling disukai oleh Faker pada umumnya, apalagi Faker yang suka banget cari perhatian orang : Sering upload foto, sering nge-tag orang yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan postingan dia, sering mancing komen.. haisshh.. -_-
Tapi selama jadi Faker, aku nggak pernah tuh mencari perhatian dengan sembarangan nge-tag orang kayak gitu, karena ya memang tujuan utamaku bukan buat tebar pesona. Haha..

Karakter asliku yang agak boyish juga membuatku bisa mendalami peran ini. Percaya atau enggak, cowok nge-faker jadi cewek itu gampang. Tapi cewek nge-faker jadi cowok itu susah. Bukan susah MENJALANI-nya, tapi susah MENDALAMI perannya, karena menurutku cewek yang mau jadi Faker untuk jenis kelamin ini harus punya sisi maskulin dulu (ceilah..). Kalopun enggak punya sisi maskulin, seenggaknya dia harus mengetahui, memahami, atau bahkan menyukai hal-hal yang identik dengan cowok, misalnya bola. Semua cowok—apalagi cowok straight alias normal—pasti suka sepak bola, futsal, atau basket. Dan sangat aneh kalo ada cowok straight yang SERING update status tapi sama sekali nggak pernah update status berbau bola, malah cinta-cintaan dan galau-galauan terus yang di-update. Yah, kalo nggak update tentang bola ya update apa kek yang berbau maskulin. Inilah yang sering jadi problem. Sangat jarang Faker cewek yang nge-fakerin cewek. Mereka cenderung nge-fakerin cowok, tapi nggak bisa ‘menjadi cowok’ yang baik (dalam artian sama sekali nggak punya sisi kecowok-cowokan).

Saat itu aku tau.. tau banget kalo apa yang aku lakukan ini adalah salah satu perbuatan tercela, karena meskipun aku nggak melakukan suatu kejahatan kriminal, tapi intinya sama aja ‘bohongin orang’, dan Tuhan nggak suka ini. Tapi nggak tau kenapa, sesuatu yang tercela itu selalu menimbulkan efek ‘nikmat’, semua orang pasti tau itu. Godaan setan banget ya..
Yah, intinya aku nggak sepenuhnya khilaf. Aku melakukan suatu hal yang aku tau bahwa itu salah. Kesadaran akan kesalahan itu membuat aku terpikir untuk melakukan sedikit hal baik, yakni bantuin temen-temen dunia mayaku mengerjakan tugas sekolahnya. Eit, don’t say “Whut!?” :v

Well, temen-temen Facebook dari akun palsuku mostly adalah para pelajar SMP dan SMA. Mereka biasanya sering minta bantuan gitu deh kalo mereka dapet tugas sekolah. Mungkin karena mereka ngeliat title-ku yang sebagai mahasiswa kali ya. Dan jangan tanya kenapa mereka minta tolongnya ke aku, karena aku juga nggak ngerti. Mungkin ini amanah yang dikasih Tuhan biar dosaku nggak numpuk-numpuk banget. Entahlah :v
 Untung tugasnya nggak susah-susah banget dan nggak melampaui kemampuanku, jadi ya sekalian aja aku ajarin. Aneh juga sih sebenernya, aku bisa ngajarin orang via dumay, tapi nggak bisa ngajarin orang secara langsung -_-

Aku baru berhenti jadi Faker ketika aku ‘yang bukan aku’ itu ditaksir sama dua orang cewek di Facebook. Cewek yang pertama adalah seorang pelajar dan bisa dibilang agak freak. Dengan beraninya dia menyatakan perasaannya dan bilang bahwa dia pengen banget jadi pacar aku ‘yang bukan aku’ tersebut. Kadang dia juga minta aku membantunya ngerjain tugas sekolah. Hal itu tentu masih bisa aku penuhi, tapi yang lebih gilanya lagi, dia berani minta diisiin pulsa. WTF!!

Sedangkan cewek yang satunya adalah seorang karyawan sebuah produk. Berbeda dengan cewek yang pertama, cewek yang satu ini baik banget, dan kami sangat klop. Kami bisa ngobrolin apapun sampe berjam-jam dan hampir nggak ada putusnya karena setiap kami berkomunikasi, ada aja topik yang dibahas. Dia memang nggak pernah menyatakan perasaannya secara langsung kayak cewek yang pertama itu, hanya aja dia sering ngasih kode baik itu lewat kata-katanya saat kami berkomunikasi maupun lewat status-statusnya. Dia juga mengaku kagum sama aku ‘yang bukan aku’ yang care sama dedek-dedek itu (temen-temen Facebook-ku yang masih pelajar yang sering aku bantuin itu). Dari situ aku jadi sadar bahwa dia mulai punya perasaan khusus terhadap aku ‘yang bukan aku’ itu. Karena aku nggak mau bikin dia tenggelam terlalu jauh kedalam perasaannya, akhirnya ya begitulah.. Aku pensiun jadi Faker.

Awalnya memang sulit. Di awal-awal pensiun, aku masih suka log in akun palsuku walau nggak sesering dulu. ‘Menjadi orang lain’ di dunia maya rasanya udah menjadi candu saat itu, sehingga rasanya beteeee banget kalo aku menghentikan aktifitas itu. Tapi lama-lama akhirnya aku berhenti juga sih dari aktifitas pemalsuan identitas itu, walaupun kadang-kadang masih iseng log in buat sekedar nengokin aja (barangkali ada pesan gitu, dan memang bener, cukup banyak yang kehilangan aku dan mengirim pesan gitu, tapi of course nggak aku balas). Pernah suatu hari adikku memergoki aku saat aku lagi log in ke akun palsuku itu. Trus dia bilang, “Masih aja ngerjain orang. Awas lho, setiap kali log in ke situ, dosa nambah satu,” gitu katanya. Dia kira aku masih nge-faker, padahal sebenernya cuma nengokin doang. Sebenernya tanpa dia bilang gitu pun aku tau itu kok. Bahkan aku pikir, dosa itu mungkin bukan cuma nambah setiap kali log in, melainkan nambah dari setiap kata atau kalimat yang kita sampaikan dari akun palsu itu. Naudzubillah..

***

Intinya, buat para Faker—khususnya buat para Faker yang merugikan, mending berhenti deh eksis di dunia maya dengan cara kayak gitu. Well, sebenarnya sah-sah aja sih jadi Faker, toh semua orang butuh hiburan dan dosa juga diri sendiri yang nanggung. Nggak masalah juga bagi kita yang bukan Faker tapi mau berteman sama Faker, karena toh memang dunia maya itu dunia penuh tipuan (yang real aja banyak yang menipu, apalagi yang jelas-jelas fake). Asalkan si Faker itu ya seperti yang aku sebut tadi : nggak merugikan orang lain.

Faker yang merugikan tuh yang kayak gimana?

Faker yang membuat kita/orang lain percaya sepenuhnya.
Ada Faker yang berusaha membuat kita nyaman dan percaya, sehingga kita merasa si Faker ini sahabat yang baik, sampe-sampe rahasia kita yang paling pribadi pun diungkapin ke dia.
Faker yang membuat kita/orang lain sampe jatuh cinta.
Banyak banget Faker semacam ini, dan ini bahaya banget. Dengan penampilan yang good looking, sangat mudah bagi para Faker buat menarik lawan jenis. Apalagi kebanyakan dari para Faker itu nggak cuma good looking doang, tapi biasanya mereka itu jaim dan manis (ada yang smart, sopan, alim, baik, romantis.. pokoknya baik deh, nggak tau aslinya kayak gimana). Mudah bagi para Faker itu buat bikin orang lain suka bahkan sampe in love segala. Nah, kalo rasa sukanya udah level berat—pakai perasaan—gitu, gimana coba perasaan korban kalo sampe si Faker ketauan palsu? Pasti kecewa banget kan? Lebih gawat lagi kalo si Faker menghilang (atau pura-pura meninggal, misalnya) tanpa korban pernah tau bahwa dia itu palsu. Itu pasti bakal sangat memukul dia banget. Bahkan bukan nggak mungkin lho si korban bakal kepikiran atau depresi karena kehilangan.

Ah, si Putri lebay nih. Mana ada yang kayak gitu!
Hey, just so you know aja, Guys. Aku menulis ini karena aku pernah melakukan, mendengar, mengamati, dan mengalami. Kan diatas tadi udah aku ceritain pengalamanku di-faker-in dan nge-faker. Kejadian nyatanya juga udah ada, bahkan pernah diangkat kasusnya di salah satu episode reality show Rumah Uya lho.
Tapi masa bisa sampe depresi segala?
Bisa. Bukan nggak mungkin. Namanya udah percaya dan jatuh cinta gimana sih rasanya? Bayangin, kita udah buang banyak waktu buat dia—si Faker, udah ngasih apa yang dia minta (misalnya si Faker minta dikirimin pulsa atau barang gitu), udah nutup hati buat orang lain demi dia.. tapi dianya malah menghilang ninggalin kita. Apa nggak kecewa? Apa nggak sakit dan sedih rasanya? Nah, kalo korban udah nge-down gitu, apa si Faker bakal tanggung jawab? I don’t think that they would :)


Gitu aja sih pesanku. Jangan gampang percaya sama orang asing, khususnya mereka yang kamu kenal lewat dunia maya. Apalagi kalo mau cari pasangan. Jangan terlalu mudah tertarik sama penampilan luar. Kenali dulu dia dengan baik, ajak komunikasi, ajak ketemuan.. baru kalo udah klop, terserah deh mau dipacarin, mau dinikahin, atau apalah. REMEMBER? Orang baik di dunia maya itu banyak, tapi yang nakal lebih banyak :)

Mau tau lebih banyak tentang Faker? Tengok page ini aja, or like this page if you don't mind :)   >>   All About Faker
0 komentar

FAKER [Part 1]

Mungkin ini kesekian kalinya aku menulis topik tentang ini. Faker, yakni julukan keren bagi para pemalsu identitas di dunia maya. Well, aku yakin, di dunia ini banyak banget pengguna akun media sosial yang jadi pemalsu identitas, mulai dari akun Facebook, Line, WhatsApp, KakaoTalk, Twitter, bahkan Instagram dan BBM-pun these days banyak yang memalsukan.

Mungkin diantara Pembaca juga ada yang pernah jadi Faker. Bahkan aku sendiri mengakui bahwa aku pernah melakukannya. Hahaha.. ^^v

Alright, menurut pengalaman dan pengamatanku, seseorang bisa menjadi Faker karena beberapa faktor :
  1.  Bosen menjalani peran sebagai diri sendiri
  2.  Pengen cari ribut, memprovokasi, atau mengolok-olok seseorang, suatu grup, atau komunitas tanpa diketahui identitas aslinya
  3. Pengen cari temen buat diajak ngobrol soal *ifyouknowwhatImean*
  4. Pengen mata-matain / nge-stalk seseorang atau mencari tau informasi tentang sesuatu
  5. Kelewat jones , jadi bikin akun palsu buat dijadiin partner (palsu)-nya
  6. Benci sama seseorang, jadi bikin akun palsu atas nama orang yang dia benci buat merusak nama baiknya
  7. Gila jempol alias likers ataupun followers. Saking kepengennya postingan dia banyak yang nge-like atau akunnya di-follow banyak orang, jadi sampe bela-belain bikin akun-akun palsu buat jadi likers ataupun followers (palsu)-nya
  8. Pengen cari perhatian dan sensasi
  9. Sengaja pengen ngejahilin orang.

Aku pribadi menyebut ini sebagai ‘kegiatan bermain peran’, walaupun sebenernya ‘bermain peran’ merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh para Roleplayer sih ya.

Well, Roleplayer dan Faker memang serupa tapi nggak sama. Seperti yang aku sebut di atas tadi, Roleplayer adalah mereka yang membuat akun sosial media atas nama idolanya dan menggunakan akun tersebut untuk memerankan idolanya tersebut. Status-status yang mereka update juga bener-bener mencerminkan kelakuan si artis yang sebenernya. Yup, HANYA MEMERANKAN, bukan mengaku-ngaku bahwa dia adalah real artis yang diperankannya. Sedangkan Faker adalah mereka yang melakukan pemalsuan identitas dengan mengaku-ngaku sebagai orang lain. Jadi, Roleplayer bisa dibilang sama sekali bukan merupakan bentuk penipuan, karena para Roleplayer mengakui bahwa mereka hanyalah penggemar yang sedang bermain peran menjadi tokoh idolanya, jadi orang lain nggak bakal salah mengira bahwa Si Roleplayer itu adalah artis atau tokoh idola yang sesungguhnya.

Berbeda dengan Faker. Karena niat mereka memalsukan identitas, jadi ya nama yang mereka pakai berbeda-beda, alias nggak sesuai dengan nama orang yang fotonya mereka pakai atau mereka akuin sebagai foto mereka. Mereka biasanya nyari foto dari tokoh idola yang mereka pikir kurang dikenal masyarakat. Misalnya, (sebut aja) Si A pengen jadi Faker. Lalu dia bikin akun media sosial dengan nama Alexander Kevin (maaf nih kalo ada yang namanya sama). Setelah itu, dia ngambilin foto-foto Mario Maurer buat dia upload ke akun palsu tadi dan dia akui sebagai foto-foto miliknya, karena dia pikir masyarakat Indonesia nggak bakal tau kalo foto-foto yang dia pake di akun itu sebenernya  adalah foto Mario.

Tapi Faker sekarang udah banyak yang pinter lho. Kalo dulu, Faker biasanya menggunakan foto artis ataupun foto tokoh terkenal, tapi sekarang, Faker udah banyak banget yang menggunakan foto-foto orang lain yang bukan artis atau tokoh terkenal—tapi tentu aja dengan penampilan yang menarik. Kenapa mereka nggak lagi pake foto artis atau foto tokoh terkenal? Karena sekarang foto artis dan foto tokoh terkenal bisa dengan gampang terlacak. Yah, ada sih Faker yang masih nge-faker pakai foto artis dan foto tokoh terkenal, hanya aja biasanya foto yang dia pakai adalah foto artis atau tokoh terkenal dari negara yang masih tetanggaan dekat dengan Indonesia (karena orang-orang yang berasal dari negara tetangga biasanya wajahnya mirip dengan wajah orang Indonesia), itupun biasanya foto-foto itu udah dimodifikasi ataupun diedit biar nggak mudah terlacak. Kecuali kalo Faker-nya masih pemula banget, biasanya dia nggak mempertimbangkan apakah fotonya bakal terlacak atau enggak.

Dalam mengupload foto orang pun, Faker yang ‘mikir’ biasanya pilih-pilih dalam mencomot dan mengunggah foto. Mereka biasanya mencomot dan mengupload foto yang ‘masuk akal’ agar nggak mudah dicurigai. Sedangkan Faker pemula biasanya asal upload. Misalnya nih, seorang Faker pengen mengupload foto orang—yang dia akui sebagai dirinya—yang sedang menyetir mobil dengan caption “Jalan-jalan ke Ciwalk dulu ah”. Foto itu dia ambil dari akun orang Vietnam. Kita tau kan kalo posisi kemudi mobil di negara kita terletak di sebelah kanan, sedangkan posisi kemudi mobil di Vietnam terletak di sebelah kiri. Faker Pro biasanya akan mengedit foto itu dulu sebelum diunggah. Sedangkan Faker pemula mungkin nggak memikirkan hal ini.

Faker dulu juga biasanya cuma punya satu akun. Tapi Faker sekarang udah banyak yang punya akun palsu lebih dari tiga. Apa tujuannya? Jelas, agar akun palsunya terlihat lebih real.

Logikanya gini. Kita yang punya akun asli pasti sering, atau seenggaknya pernah saling komen atau saling nge-wall sama temen ‘nyata’ atau temen deket kita. Misalnya gini :
A   : “Eh, Curut. Hape lo kenapa? Gw telpon nggak aktif mulu”
B   : “Maap, Nyet, hape gw rusak. Ngapain lo telpon gw?”
A   : “Gapapa, cuma mo ngajak lo jalan-jalan. Sumpek dirumah terus.”
B   : “Ayo. Kapan? Kemana?”
A   : “Pangandaran yuk, ntar Sabtu. Ajak Si Buncul juga sekalian.”

Yah, begitulah kira-kira. Nah, Faker juga sama. Pasti mencurigakan kan kalo ada akun milik seseorang dengan penampilan menarik tapi akunnya sepi banget, nggak ada yang komen, nggak ada yang nge-wall.. Mungkin aja sih kalo dia kelewat pendiam, menderita Fobia Sosial, ataupun memiliki masalah sosial lainnya, makanya dia nggak punya temen. Tapi kalo hampir atau bahkan setiap hari mereka bisa upload foto lebih dari lima alias kelewat narsis, rasanya pemikiran bahwa mereka memiliki masalah sosial itu mustahil banget. Makanya, seorang Faker bisa bikin akun palsu sampe lebih dari tiga agar nggak dicurigai demikian. Faker yang punya akun banyak ini biasanya punya satu atau dua akun utama (paling menonjol, paling sering update, paling sering online, paling eksis lah pokoknya). Nah, akun palsu lainnya itu ya untuk mendukung akun utama itu agar terlihat lebih rame dan real. Biasanya akun-akun itu berperan sebagai teman, keluarga, atau pacar dari akun utama, dan biasanya mereka sering muncul kalo si akun utama posting sesuatu (beberapa akun ada juga yang memenuhi wall si akun utama). Akun-akun itu juga biasanya baru dibuat dan jarak waktu pembuatannya nggak jauh antara akun yang satu dengan akun lainnya. Lalu, apabila akun utama mati (vakum, dinonaktifkan, ketauan palsu, etc..) maka biasanya akun palsu lainnya pun bakal stop beroperasi.

Tapi ada juga lho Faker yang bekerjasama dengan sesama Faker lainnya agar akun palsu buatan mereka bener-bener terlihat rame seperti akun real. Hanya aja, meskipun asik (karena akun palsu bisa terlihat lebih real), metode kerjasama ini resikonya lebih besar. Karena kalo satu akun ketauan palsu, maka kedok akun lainnya pun terbongkar, termasuk akun milik Faker yang melakukan kerjasama dengan Faker yang kedoknya terbongkar tersebut. Lalu ada juga Faker yang pakai aplikasi autolike. Yah, pokoknya banyak lah cara yang dilakukan Faker biar akunnya ‘hidup’.

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya di awal September tahun lalu, aku dikejutkan dengan sebuah akun Facebook atas namaku. Well, bukan namaku sih, melainkan nama penaku, ‘Vidialesta’. Sejauh ini, yang aku tau, nama Vidialesta itu cuma aku yang menggunakan. Berbeda dengan nama ‘Vidia Lestari’ yang sangat berjibun. Makanya aku terdorong untuk nge-stalk akun itu. Apalagi akun itu menggunakan foto Zee Matanawee sebagai foto profilnya. Sebenernya beberapa tahun yang lalu juga pernah ada sih akun Facebook palsu yang mengatasnamakan aku. Aku pernah mengeluhkan hal ini di salah satu status yang aku posting, dan kebetulan aja ada anak MCRmy yang komen dan mengaku bahwa akun itu dibuat sama temannya yang berniat buat merusak nama baikku, hanya aja dia nggak mau nyebut nama temannya itu. Aku memang mencurigai satu nama sih, cewek, anak MCRmy juga dan pernah ada di friendlist Facebookku sebelum akhirnya dia memblokirku dari friendlist-nya. Tapi syukurnya, perusakan nama baik itu nggak bener-bener terjadi. Semua itu akhirnya berlalu, dan nggak lama setelah itu akun palsu atas nama ‘Putri Vidialesta’ itu menghilang dari peredaran. Aku lega atas hal itu, sebelum akhirnya dibuat kesel lagi sama akun palsu bernama ‘Vidialesta’ yang baru kutemukan awal September tahun lalu itu.

Si pemilik akun palsu itu memang nggak berniat buat merusak nama baikku sih, hanya aja yang bikin kesel, akun berjenis kelamin cowok (tapi aku yakin pengelolanya adalah cewek) itu menggunakan foto-foto yang diposting di blogku. Nggak cuma foto-foto Zee aja yang dia comot dan dia akui sebagai foto-fotonya, tapi juga foto temen-temen kampusku pas tanding futsal dua tahun lalu pun dia upload ke Facebooknya. Nah, gimana nggak kesel coba? Udah pakai namaku, pakai foto-foto dari blogku juga.


Foto pertandingan futsal kampusku tahun 2013 lalu
yang dicomot sama Si Vidialesta abal-abal


Selain itu, ada juga wallpaper dengan teks ‘I’m sick of this life’ yang pernah aku buat tahun 2010 lalu, dan foto My Chemical Romance dengan formasi lama—Gerard Way, Mikey Way, Ray Toro, Frank Iero, dan Bob Bryar—yang pernah aku posting ke blog pas jaman-jamannya nama MCR masih berkibar. Di foto MCR yang Si Vidialesta Abal-Abal upload ke Facebook itu, dia kasih caption, “MCR. Fans berat gue nih, Gan. Gak berat-berat banget sih. Takut ngga kuat ngangkat. Hahaha.. Kalo kamu suka nggak?”


Udah jadi Vidialesta abal-abal, jadi MCRmy abal-abal
juga nih orang :v

Well, yang beneran MCRmy alias fans alias penggemar MCR pasti tau kalo MCR udah bubar sejak tahun 2013 lalu. Kalo dia beneran penggemar MCR, maka caption yang sangat mungkin dia tulis adalah, “Kangen banget sama MCR..” atau “Gue harap MCR muncul lagi dan bersatu dengan formasi ini lagi kayak jaman-jamannya The Black Parade dulu”, atau caption-caption serupa lainnya.

Di awal-awal pembuatan akun, dia sering banget upload foto Zee Keenan, dan semuanya adalah foto-foto Zee yang pernah aku posting di blogku. Kemudian setelah SEMUA foto Zee yang (kuduga kuat) ia comot dari blogku itu dia upload di Facebooknya, dia sempat vakum ngupload foto. Eh, nggak taunya setelah vakum ngupload foto, dia nongol lagi dengan foto orang baru berwajah sangat Indonesia, berkulit gelap, dengan poni lempar. Lalu di foto-dengan-wajah-baru yang dia upload itu,
seseorang berkomentar, “Ini beneran foto kamu?”
Kemudian beberapa hari setelah itu, dia ganti foto lagi, kali ini foto seorang cowok putih berwajah Asia. Kali ini seorang cewek asal Myanmar berkomentar, “I think I know him.” Dan beberapa hari kemudian setelah itu, Si Vidialesta Abal-Abal ganti foto lagi dengan foto orang yang lain—yang sampai sekarang dia gunakan. Foto-foto Zee, foto cowok polem berkulit gelap, dan foto orang yang dikomen sama cewek Myanmar itu dihapusnya. Hahaha.. Konyol kan xD

Aku yakin banget sih kalo Si Vidialesta abal-abal itu sekarang pakai foto-foto cowok Myanmar. Coz ada salah satu foto dia dengan latar belakang pagoda putih di Myanmar gitu. Konyolnya, dia mengaku bahwa foto itu dia ambil di Bali, dan aku cuma bisa ketawa geli ketika cewek Myanmar yang waktu itu mengomentari fotonya kembali berkomentar, “It has in Myanmar (mungkin artinya, “Ini ada di Myanmar”). Haisshh.. Mungkin harusnya Faker itu piknik ke Bali dulu, dan memastikan apakah ada pagoda seperti itu di Bali :v
Sayangnya foto itu udah di-delete sama dia (mungkin takut ketauan gara-gara komentar cewek Myanmar itu), jadi nggak bisa aku publikasikan disini. Tapi ada sih beberapa foto yang membuktikan bahwa dia itu bukan orang Indonesia.


Liat tulisan yang ada di tas itu kan? Tulisannya MYAN MAR


Produk yang dia konsumsi juga tampaknya bukan produk Indonesia :3

Mirisnya, Si Vidialesta abal-abal ini pacaran sama seorang cewek innocent yang nggak sadar kalo dia palsu. Setauku cewek ini udah berteman di Facebook sama Vidialesta abal-abal sejak dia pake foto Zee. Kok bisa cewek itu nggak nyadar? (=__=)

Dan ini.. temennya Si Vidialesta abal-abal yang udah pasti fake juga. Ngakunya mau sholat Magrib, padahal jagat masih terang benderang. Hahaha..
Just to let you know, Guys. Sebagian besar cowok di Myanmar hampir setiap hari memakai sarung (kalo disana namanya ‘longyi’), termasuk kalo berangkat sekolah.


Mau sholat Magrib katanya :3

Anyway, setahuku, Vidialesta punya beberapa teman fake, dan semuanya menggunakan foto-foto cowok Myanmar (hanya aja aku belum tau siapa nama-nama pemilik asli foto-fotonya). Akun-akun itu juga merupakan akun-akun yang baru dibuat (akun Vidialesta dibuat tahun 2015, sementara akun teman-temannya ada yang dibuat tahun 2015 dan tahun 2016). Aneh kan? Masa serombongan akunnya baru semua :3 Aku yakin sih, akun-akun ini dikelola sama orang yang sama, dan aku udah mencurigai satu nama. Tapi ya biarlah.. Liat aja nanti. Aku masih pengen tau sejauh mana Faker ini beraksi :3

Kemudian ada lagi akun Facebook seseorang yang mengaku blasteran Inggris-Indonesia.
Ia mengaku lahir dan besar di Manchester, Inggris dan hanya saat liburan aja dia bisa ke Indonesia. Dia juga mengaku bahwa saat ini dia sedang belajar berbahasa Indonesia. Memang sih, setiap kali berbahasa Indonesia, orang itu menggunakan bahasa Indonesia yang baku layaknya orang bule baru belajar Bahasa. Tapi anehnya, bahasa Inggris dia pun banyak yang keliru. Contoh kecilnya kayak gini :


Dari penulisan jam aja udah salah. Jam 6.35 kok pake "o'clock" -_-


Sebenarnya ini ajakan yang baik sih dari Si Faker, ngajakin belajar
bahasa asing gitu. Tapi caranya salah :v


Lucunya lagi, dia juga sering banget memamerkan iris matanya yang berwarna cognac. Upload foto matanya lah, atau foto tampak wajah dia dengan teks ‘look my eyes’.
Rasanya pengen aku komen aja, “Lantas kenapa gitu kalo saya lihat mata situ? Saya bakal kehipnotis?” Geez.. Teknologi sekarang sudah maju, Buddy. Semua orang juga bisa punya iris mata berwarna kalo pake lensa kontak -_-
Lagipula faktanya, orang yang beneran punya warna iris mata yang berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya, pasti nggak akan merasa perlu buat menonjolkan (atau memamerkan) perbedaan itu.


Si Faker pamer kalo dia itu blasteran.


Ada juga Faker yang merasa dirinya jelek, tapi rajin upload foto. Padahal kenyataannya, orang yang merasa jelek kebanyakan minder dan jarang upload foto. Kalaupun jelek tapi pede, biasanya mereka nggak perlu mencantumkan caption yang memancing komen atau pendapat bahwa dirinya jelek atau enggak.

Lalu ada Faker yang menyanjung-nyanjung dirinya sendiri kayak gini.



Oh ya, mungkin sebagian dari kita berpikir bahwa akun sosmed yang fake itu biasanya baru dibuat. Emang bener sih. Tapi ada juga lho akun fake yang udah lama dibuat, itupun akunnya transgender, kayak gini :v

Profilnya sih pake nama cowok, tapi coba liat link akunnya :v


Huaaahh.. pokoknya banyak banget deh orang-orang kayak gitu, apalagi di Facebook yang aksesnya mudah. Mudah buat akunnya, mudah cari temannya, mudah cari likers dan commenters.. Begitu juga dengan BBM yang sekarang bisa digunakan lebih dari tiga akun dalam satu device.


Anehnya masih banyak aja yang ketipu sama orang-orang kayak gitu, khususnya para cewek. Aku sendiri udah nggak mudah percaya lagi sama seseorang dengan penampilan good-looking di dumay, apalagi mereka yang kelewat friendly banget, sampe-sampe temen-temen dumaynya disapa, di-tag, ataupun di-summon gitu di postingan yang sebenernya nggak penting dan nggak berhubungan dengan orang yang mereka tag. Karena apa? Sangat jarang orang—yang benar-benar good-looking—yang seramah itu, bahkan sama temen-temen dumay-nya yang notabene nggak mereka kenal secara langsung. Apalagi cowok, mereka biasanya dingin. Seperti yang udah aku bilang sebelumnya, para Faker biasanya haus like dan comment, makanya mereka hobi nge-tag ataupun summon orang untuk mengundang perhatian agar postingan mereka di-like ataupun di-comment. Padahal logikanya, orang yang REALLY good-looking nggak butuh tuh pengakuan dari orang lain atas kegantengan atau kecantikannya. Nggak percaya? Gampang kok cara buktiinnya. Coba ajak mereka ketemuan, atau video call. Kalo mereka mau, dan ternyata sosoknya sama dengan yang kamu kenal di dunia maya, berarti kamu beruntung, nggak kena tipu. Tapi kalo dia nggak mau, nah itu patut dicurigai. Kayak si Vidialesta abal-abal ini nih, diajak video call sama ceweknya sendiri tapi ngeles. Aku yakin kalo diajak ketemuan, nih orang pasti bakal ngeles, ngilang, atau nggak pura-pura mati :3




Mau tau lebih banyak tentang Faker? Tengok page ini aja, or like this page if you don't mind :)   >>   All About Faker
Selasa, 16 Februari 2016 1 komentar

No Plastic Bags, Please!

Sedikit terlambat aku memposting tulisan ini lantaran sakit gigi yang selama beberapa hari terakhir ini bikin aku tersiksa dan aktifitasku terbatas. Pengennya tiduran mulu, atau duduk sambil nyenderin kepala. Tapi tetep aja, sambil tiduran atau nyenderin kepala pun, aku nggak bisa ngetik. Pusing. Extremely sakit banget. I guess something in my tooth is tryna kill me! 

Nah, berhubung rasa sakitnya sedang hilang—efek minum obat pereda nyeri, mudah-mudahan nggak kumat lagi—akhirnya aku putuskan buat menulis apa yang sejak kemarin sore pengen banget aku tulis.

Kemarin sore, berita di sebuah stasiun TV swasta mengungkapkan mengenai adanya kebijakan kantong plastik berbayar. Jadi, nantinya kalo kita berbelanja di supermarket atau retail sejenisnya, kita bakal dikenakan biaya tambahan sebesar 500 IDR untuk membeli satu kantong plastik. Hal ini diberlakukan sebagai bentuk upaya menurunkan konsumsi plastik. Jadi diharapkan dengan adanya kebijakan kantong plastik berbayar ini, masyarakat bakal bawa kantong plastik sendiri dari rumah.

Pembaca berita tersebut juga mengungkapkan sebuah fakta mencengangkan bahwa Indonesia dinobatkan sebagai 'negara penyumbang sampah plastik ke laut' terbanyak kedua di dunia. Memalukan banget kan?

FYI, selama sepuluh tahun terakhir ini sekitar 9,8 miliar lembar kantong plastik digunakan oleh masyarakat Indonesia setiap tahunnya, dan dari jumlah itu hampir 95% kantong plastik menjadi sampah. Itu baru di Indonesia lho, belum di negara-negara lainnya. Kalo sampah-sampah plastik di dunia disatukan dan dibentangkan, maka itu bisa lho dipake buat membungkus bumi sampai sepuluh kali. Selain itu, pasti banyak yang udah tau kalo tanah butuh waktu 200 s.d 400 tahun untuk bisa menguraikan plastik secara alami. Nggak heran kalo sampah-sampah plastik semakin menggunung, dan karena hal ini banyak hewan yang mati karena terbelit sampah plastik yang dibuang ke lingkungan. Kalo dibakar, asap pembakaran sampah plastik bersifat racun yang bisa mengurangi tingkat kekebalan tubuh dan menambah resiko penyakit kanker. Tuh kan.. kurang serem apa coba bahaya sampah plastik terhadap bumi ini?

Anehnya, upaya pemerintah yang baik ini masih aja menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat. Kenapa sih? Kenapa harus ada mereka yang kontra? Ribet kalo harus bawa kantong plastik sendiri dari rumah? Ya tinggal bayar gopek buat beli plastik. Kan pemerintah ngasih option : Bawa kantong sendiri, atau bayar lima ratus perak perkantong. Syukur-syukur sih pada sadar buat bawa kantong sendiri dari rumah. Tapi kalo keberatan, dan masih juga keberatan dengan option kedua, wah itu sih keterlaluan namanya.

C'mon, People! Ini upaya penyelamatan bumi kita lho. Just to let you know that uang lima ratus perak yang harus kita keluarkan buat beli kantong plastik itu nggak sepenuhnya buat perusahaan retail tempat kita belanja kok. Sebagian dari hasil penjualan kantong plastik itu nantinya bakal didonasikan buat lingkungan. Jadi kok rasanya jahat banget, selama ini kita hidup di bumi, tapi melakukan hal kecil buat bumi aja susah. Ntar kalo ada apa-apa malah menyalahkan pemerintah. Padahal pemerintah udah berupaya, masyarakat yang justru kurang mendukung.

Well, kalo aku pribadi sih pro sama kebijakan ini. Sejak jaman masih aktif kuliah, aku udah terbiasa untuk nggak pake kantong plastik kalo nggak terlalu perlu. Misalnya kalo ke minimarket, kan biasanya barang yang dibeli cuma dikit, jadi ya nggak perlu pake kantong plastik. Toh aku biasa bawa tas kemana-mana, jadi kalo ditanya ribet atau enggak ya buatku sih nggak ribet. 

Soooo.. Bandung udah mulai menerapkan kebijakan ini lho. Kota lainnya kapan? :)

Total Tayangan Halaman

 
;