Tampilkan postingan dengan label Pregnancy Happenings. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pregnancy Happenings. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 Januari 2022 0 komentar

Minggu-Minggu Menjelang Persalinan

Sudah sebelas hari sejak aku resmi cuti dari kantor. Sebenarnya dengan hari kelahiran bayi yang diperkirakan jatuh pada tanggal 30 Januari, aku berencana mengajukan cuti mulai tanggal 18 Januari. Maksudnya agar tanggalnya nggak terlalu jauh dari HPL, sehingga aku bisa berada di rumah lebih lama selama waktu pemulihan setelah melahirkan. Namun Dokter Wildan menyarankanku untuk mengambil cuti lebih awal.
"Karena ibu hamil itu nggak hanya butuh mempersiapkan materi, tapi juga fisik dan mental. Jangan sampai ketika mendekati HPL, bumil terlalu capek dan banyak pikiran karena pengaruh omongan sana-sini", katanya.

Akhirnya, aku pun merevisi surat cutiku. Tanggal cuti yang semula dimulai pada tanggal 18 kumajukan ke tanggal 11, itu pun nggak langsung di-acc karena Pak Teguh memintaku untuk bekerja satu hari lagi lantaran karyawan penggantiku dikhawatirkan belum begitu memahami job desk-nya. 

Jadi, sejak akhir bulan Desember lalu, kami mulai sibuk merekrut karyawan baru untuk meng-handle pekerjaanku selama aku cuti. Aku bertugas memasang iklan lowongan kerja dan memberikan tes komputer, Pak Ben bertugas menyortir lamaran yang masuk dan memberi tes tertulis, sementara Pak Teguh dan Pak Faisal yang mewawancarai para calon karyawan. 

Meski peminat untuk posisi Staf Admin sangat bejibun, namun mendapatkan kandidat yang cocok rasanya lumayan sulit. Ada yang nggak meminta upah tinggi dan nggak keberatan dengan ketentuan perusahaan namun hasil tesnya kurang baik. Ada yang sesuai kriteria namun keberatan dengan ketentuan perusahaan. Ada yang hasil tesnya baik tapi mengajukan gaji yang tinggi. Ada pula yang hasil tesnya kurang baik tapi berani meminta gaji tinggi. Wkwkwk.

Karena sulit mendapatkan kandidat yang benar-benar cocok, akhirnya kami pun memilih untuk memanggil calon karyawan dengan hasil tes yang dinilai cukup. Hari Senin tanggal 10 Januari, penandatanganan surat kontrak kerja dan serah terima jabatan pun dilakukan. Nama karyawan baru itu, Diah. Hari itu, dari pagi sampai sore aku sibuk menjelaskan apa-apa aja tugas yang kukerjakan setiap harinya yang nantinya akan ia handle selama aku cuti. Namun tampaknya ia masih bingung, sehingga sore harinya, ketika aku berpamitan pada Pak Teguh, atasanku itu memintaku untuk bekerja satu hari lagi untuk memastikan bahwa Diah sudah benar-benar paham dengan tugasnya.
"Kali ini Putri hanya mengawasi aja, biar dia yang kerjakan tugasnya", kata beliau. Akhirnya aku menyetujuinya. Keesokan harinya, aku membiarkan Diah mengerjakan sendiri tugasnya, sementara aku hanya mengawasi, membimbing, dan mengoreksi apabila ada sesuatu dari tugasnya yang belum dikerjakan dengan benar. Berbeda dengan hari kemarin yang benar-benar sibuk, hari Selasa itu aku benar-benar kebanyakan nganggur sehingga waktu terasa berjalan sangat lambat.

Jujur, menghabiskan waktu di rumah tentunya membuatku cukup jenuh dan kesepian. Meski memiliki banyak waktu untuk melakukan senam hamil, tapi entah kenapa rasanya lebih menyenangkan 'berolahraga' dengan berjalan bolak-balik dari satu ruangan ke ruangan lain seperti yang biasa kulakukan di kantor. Wkwk. Tapi di sisi lain, ada baiknya juga sih aku mengambil cuti lebih cepat, pasalnya belakangan ini kulit wajahku breakout parah sehingga membuatku nggak PD untuk bertemu orang lain.

Duluuuu sebelum menikah dan akhirnya hamil, aku mengira bahwa keluhan wanita hamil hanya sebatas pada perut yang membuncit, mual muntah, berat badan meningkat, dan kaki bengkak. Tapi ternyata, setelah mengalaminya sendiri, realitanya keluhan ibu hamil bisa bermacam-macam dan lebih dari itu. Selain berbagai hal tadi, aku juga mengalami sakit gigi, migrain, pusing, napas terasa engap, nyeri punggung dan selangkangan, perut ngilu, dan yah.. kulit kering dan gatal.

Mula-mula hanya masalah kulit kering dan mengelupas di bawah mata. Keluhan ini muncul ketika usia kehamilanku memasuki delapan bulan. Namun lama kelamaan, area tersebut terasa gatal, mendorongku untuk menggaruk hingga akhirnya timbul luka. Seiring bertambahnya usia kehamilan, kulit kering dan gatal itu terasa semakin parah hingga meninggalkan bekas berwarna merah kehitaman. Di hari-hari terakhir aku ngantor, teman-temanku sudah memperhatikan kondisi kulitku itu. Beberapa mengira aku kena herpes, sementara ibuku bilang wajahku terlihat seperti wanita yang babak belur karena KDRT. Huhu..

Dokter Wildan menyarankanku untuk berkonsultasi ke dokter kulit. Awalnya aku berpikir nggak perlu, karena dari yang aku dengar dan aku baca katanya kondisi ini muncul karena hormon kehamilan. Aku pikir toh sebentar lagi aku akan melahirkan dan kondisi kulitku akan kembali normal. Lagipula berkonsultasi dan berobat ke dokter kulit tentunya memerlukan biaya yang nggak sedikit. Sayang uangnya. Namun karena kondisinya semakin parah dan membuatku uring-uringan, aku pun akhirnya memutuskan untuk mengkonsultasikan kondisi kulitku ke salah satu klinik kecantikan di kotaku secara online. Dari reviewnya sih, klinik ini cukup bagus dan terkenal karena memiliki beberapa cabang di kota lain, selain itu harga resepnya pun nggak terlalu mahal.

Namun rupanya, pelayanan klinik yang kuharapkan bisa menangani permasalahanku dengan cepat itu nggak sesuai ekspektasi. Aku mengajukan permintaan konsultasi pada hari Rabu 12 Januari, dan baru ditanggapi keesokan harinya. Itu pun responnya lambat sekali hingga aku merasa akan meledak. Bayangkan, aku mengajukan permintaan konsultasi di hari Rabu, dan baru menerima resep yang kubutuhkan pada hari Sabtu :')

Dari konsultasi itu, aku menerima satu botol sabun pembersih wajah, satu botol toner, dan dua krim wajah. Sejauh ini, semua itu belum memberi hasil yang signifikan. Tapi alhamdulillah aku merasa kondisi kulitku cukup membaik meski jejak-jejak berwarna merah kehitaman itu belum hilang dan kini terlihat seperti bekas luka bakar. Ya Allah, sabar, sabar :')

Dan oh ya, tanggal 17 lalu, untuk pertama kalinya aku merasakan gelombang cinta dari Si Kecil. Malam itu, aku merasakan kram yang cukup hebat di sekitar perut. Rasa kram itu bukan hanya kurasakan di area perut bawah, tapi juga menjalar hingga pinggang, punggung, dan kaki, persis seperti nyeri haid hari pertama. Senyum Mas merekah. Ia memang sangat menantikan kelahiran bayi kami, namun ia juga tampak bingung dengan apa yang harus kami lakukan. Apakah kami perlu segera ke bidan saat itu juga?
"Nanti aja, Mas", ucapku sambil menahan sakit. Aku masih yakin ini belum saatnya. Selama belum muncul flek (seperti yang kudengar dan kubaca dari berbagai sumber), sepertinya kami harus menahan diri. Alhasil, malam itu Mas hanya bisa menenangkan seraya mengelus-elus pinggangku

Hingga lebih dari pukul tiga dini hari aku sulit sekali untuk tidur, karena disamping merasakan kontraksi yang hilang timbul, aku juga terus menerus ke toilet untuk buang air kecil. Kontraksi yang aku rasakan bisa dibilang cukup intens. Frekuensinya bisa mencapai tiga sampai lima menit tiap waktu dua menit hingga aku merasa bayi kami mungkin akan lahir hari itu juga. 

Namun hingga hari ini, gelombang cinta selanjutnya belum lagi aku rasakan. Padahal waktu itu aku sudah yakin sekali bahwa aku akan melahirkan dalam waktu dekat. Mungkin memang belum saatnya kali yah. Toh, HPL-nya masih satu minggu lagi. Jujur aku cemas, namun tetap berusaha untuk tenang dan nggak terlalu overthinking. Semoga semuanya akan baik-baik aja.

Selasa, 21 Desember 2021 0 komentar

Menghadiri Kelas Ibu Hamil di Puskesmas

Hari ini aku diundang untuk mengikuti Kelas Ibu Hamil di Puskesmas Kejaksan. Karena diselenggarakan secara gratis, tentunya aku nggak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Sebelumnya aku meminta ijin atasanku untuk terlambat ngantor karena acara itu digelar jam setengah sembilan pagi.
"Setelah acara selesai, saya langsung ke kantor, Pak", begitu isi pesan WhatsApp yang kukirimkan pada beliau.

Singkat cerita, aku dan ibu tiba di Puskesmas. Acara itu digelar di lantai dua, di sebuah ruang rapat. Kami tiba sekitar dua puluh menit lebih lambat dari jadwal, namun ruangan itu tampak sepi. Hanya ada satu peserta kelas yang tengah berpangku tangan di salah satu meja peserta paling depan dan satu staf Puskesmas yang tengah mempersiapkan bahan persentasi. Staf itu langsung mengenali ibuku. Kebetulan ibu memang Kader Posyandu, jadi tentunya sudah kenal dan cukup sering berinteraksi dengan para staf di sana. 

Di ruangan itu, ada enam meja panjang dan delapan belas kursi yang disediakan untuk peserta. Meja-meja dan kursi-kursi itu diatur menjadi dua baris. Aku mengambil tempat duduk di meja peserta paling depan di sebelah kiri ruangan. Entah berapa orang sebenarnya yang diundang untuk menghadiri kelas tersebut karena nggak semua kursi peserta terisi. Mungkin karena cuaca mendung, jadi banyak yang lebih memilih untuk diam di rumah kali yah.

Topik yang dibahas pada kelas ini adalah mengenai kondisi stunting pada anak, pentingnya pemberian ASI, dan 1000 hari pertama kehidupan yang disampaikan oleh tiga orang pembicara. Pembicara pertama sempat bertanya mengenai usia kehamilanku dan tampak kaget ketika aku bilang bahwa usia kandunganku sudah 34 minggu. Katanya aku nggak tampak seperti ibu hamil. Ia pun memintaku untuk berdiri, dan ketika itu lah ia melihat perutku yang besar. Well, beliau bukan orang pertama yang bilang begitu. Entah aku harus bersyukur atau bersedih dengan kondisi ini, karena ketika sebagian besar ibu hamil begitu mudah membuat tubuhnya lebih berisi, aku justru segini-segini aja :')

Sumber : Instagram @kejaksanpuskesmas

Di sela-sela pemberian materi, para peserta juga dipanggil satu persatu untuk mengukur lingkar lengan dan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan hemoglobin. Dan yah, bisa ditebak, ukuran lingkar lengan dan kadar hemoglobinku masih kurang. Padahal di pemeriksaan Hb yang pertama beberapa bulan lalu, kadar hemoglobinku dinyatakan cukup. Huhu..

Jumat, 19 November 2021 0 komentar

Hello, 3rd Trimester

Time is running so fast yah. Rasanya baru kemarin aku membangunkan Mas, mengabarinya bahwa ia akan segera jadi bapak, tiba-tiba sekarang kandunganku sudah memasuki bulan-bulan terakhir. Tendangan-tendangan dari dalam yang semula kecil kini semakin kuat kurasakan. Entah apa yang dilakukan Si Kecil di dalam sana. Berlatih drum mungkin. Sepertinya ia ingin menjadi penerus papanya. Ah, aku yakin kelak ia akan lebih keren dari papanya. Wong sekecil ini aja kurasa dia sudah mampu melakukan double pedal. Wkwkwk.

Jum'at, 05 November lalu, aku dan keluarga mengadakan syukuran kecil-kecilan. Nggak ada acara khusus. Kami hanya membuat bubur lolos, rujak serut, dan nasi kotak untuk dibagikan kepada saudara, tetangga, dan teman-teman. Rasanya senang, pagi-pagi rumahku sudah ramai dengan kehadiran nenek, bibi, sepupu, dan keponakan-keponakanku. Hari itu aku ngobrol-ngobrol dengan sepupuku, Gege, seputar kehamilan dan persiapan melahirkan, juga bermain-main dengan Naura dan Shanum. Naura ini sebenarnya anak ayah banget. Kemana-mana selalu menempel dengan ayahnya. Tapi karena hari itu ayahnya nggak ikut, kami jadi lebih mudah mendekatinya. Aku juga senang melihat Naura yang cepat akrab dengan Mas, juga Shanum yang tenang berada di gendongan Mas. Ah, tampaknya Masku sudah lebih siap menjadi orangtua ketimbang aku. Ia tampak menikmati momen-momen bersama Shanum, menggendongnya, membawanya ke halaman rumah untuk melihat burung-burung peliharaan bapak. Sementara aku, menggendong anak kecil aja belum berani. Huhu..

Pekerjaan kami baru selesai sekitar jam setengah lima sore. Aku sempat cemas, khawatir semuanya baru selesai menjelang waktu Magrib, karena aku sudah berniat untuk membawa rujak dan bubur lolos itu ke kantor untuk dibagikan kepada rekan-rekanku. Ditambah lagi, motor Mas sempat dipinjam oleh teman ibu. Namun syukurlah, waktunya masih keburu. Aku menitipkan kardus berisi rujak dan bubur itu pada Inggit dan meminta tolong padanya untuk dibagikan kepada orang-orang di kantor.

Jum'at, 12 November, aku dan Mas kembali mengunjungi tempat praktek dr. Wildan untuk kembali melakukan USG. Kali ini, Mas janjian dengan dua orang temannya untuk memeriksakan kandungan istri mereka bersama-sama. Wkwkwk. Yah, dengan begitu, kami jadi nggak begitu bosan menunggu. Mas menunggu di luar bersama Mas Ipank dan A Yogi. Sementara aku bersama Teh Indri dan Teh Nike menunggu giliran untuk dipanggil ke ruang dokter. 

Hari itu hasil pemeriksaan kandunganku sedikit mengkhawatirkan. Tekanan darahku masih rendah, berat bayiku kurang 100 gram, dan posisinya melintang ☹️ Dokter menyarankanku untuk melakukan 'sujud anti sungsang' setiap lima kali sehari agar posisi kepala bayiku berputar ke bawah. Dokter juga menyuruhku untuk terus menanamkan sugesti positif dan membuang pikiran-pikiran negatif dalam hal apapun. Ah, semoga semuanya akan baik-baik aja sampai waktu persalinan nanti. Aamiin.

Saat di-USG, bayiku tampak malu-malu. Ia terus menutup wajahnya dengan tangan. Ia sempat menguap, kemudian menutup sebagian wajahnya lagi. Ya ampun, gemas sekali.

Oh ya, kami juga menerima kabar baik. Teh Indri hamil. Ya, setelah awal Maret tahun lalu ia mengalami keguguran dan selama lebih dari satu tahun menantikan testpack-nya menunjukkan dua garis, akhirnya hari itu ia kembali dinyatakan hamil. Alhamdulillah. Namun hari itu kandungannya masih sangat muda, yakni enam minggu, sehingga ketika di USG yang terlihat baru kantungnya. Dokter menyarankannya untuk kembali melakukan pemeriksaan dua minggu kemudian. Aku dan Mas tentunya mengharapkan yang terbaik untuk teman kami ini.

Hari Minggunya, aku dan Mas melihat-lihat perlengkapan bayi di salah satu toko khusus perlengkapan ibu dan bayi di kota kami. Banyak yang bilang murah, tapi rupanya ketika kami lihat-lihat kesana, harganya lumayan juga. Lumayan mahal, maksudnya 😂 Memang persoalan harga itu relatif sih ya. Selain itu, aku juga merasa kurang nyaman karena selama berbelanja harus diawasi staf toko. Well, aku bukan tipe orang yang nyaman dilihatin selama melakukan suatu kegiatan, makanya aku suka agak malas kalo belanja di tempat yang stafnya selalu stand by mendampingi calon konsumen. Alhasil, setelah membeli beberapa perlengkapan bayi, aku dan Mas pun langsung ke luar dari tempat itu tanpa tertarik untuk melihat-lihat perlengkapan lainnya. "Beli di online shop aja ya, Mas", kataku. Mas pun mengiyakan.

Hmm.. sepertinya aku harus berusaha untuk lebih berhemat dengan mendahulukan hal-hal yang dibutuhkan dahulu ketimbang hal-hal yang diinginkan. Selama ini aku masih suka jajan, padahal kami harus menabung untuk membeli keperluan bayi. Aku juga perlu mencatat perlengkapan bayi apa aja yang perlu kubeli dan nggak perlu kubeli, karena tentunya sepupuku memiliki beberapa perlengkapan bayi yang bisa dilungsurkan padaku. Sayang juga kalo sudah beli berbagai macam perlengkapan bayi, namun akhirnya malah nggak terpakai. Apalagi mengingat harganya yang nggak murah. Huhu.. Semoga Tuhan senantiasa melancarkan rejeki kami. Aamiin.

Jumat, 15 Oktober 2021 0 komentar

Pertama Kali USG 4D

Siapa sih orangtua yang nggak penasaran, akan mirip siapa anaknya kelak? Nggak heran kalo di jaman modern ini, banyak aplikasi yang menawarkan fitur memprediksi wajah bayi. Cukup dengan mengunggah foto kita dan pasangan, lalu VOILA! Hasil analisa dan prediksi wajah bayi kita pun akan muncul di layar.

Namun bagaimanapun, aplikasi seperti itu ditujukan hanya untuk seru-seruan semata, karena seperti yang kita tau, kemiripan wajah seseorang dipengaruhi oleh gen kedua orangtuanya dengan perhitungan yang sangat rumit. Ada yang gen ibunya lebih dominan sehingga si anak cenderung mirip ibunya, namun ada juga yang sebaliknya.

Masku pernah iseng menggunakan aplikasi serupa untuk memprediksi bagaimana wajah anak kami kelak. Dan terbukti, meski bentuk bibirnya mirip bibir Mas dan matanya mirip mataku, namun hasil prediksi wajah anak yang ditampilkan pada aplikasi tersebut jauh lebih terlihat seperti anak blasteran Asia Timur dan Western ketimbang anak keturunan kami. Wkwkwk.

Sore ini, untuk pertama kalinya aku mendapatkan kesempatan untuk melakukan pemeriksaan USG 4D secara gratis dari dr. Wildan. Well, jadi ceritanya dokter kandungan kesayangan kami ini baru saja meresmikan tempat prakteknya yang mulai beroperasi pada hari Selasa lalu. Dan dalam rangka grand opening ini, beliau memberikan free biaya USG 4D bagi 20 orang setiap harinya selama satu minggu.

Mengetahui hal itu, tentunya aku dan Mas sangat antusias. Seperti calon orangtua pada umumnya, kami tentunya penasaran dengan wajah anak kami dan bagaimana kondisi fisiknya secara lebih jelas. Awalnya kami berencana melakukan pemeriksaan USG 4D saat usia kandunganku memasuki bulan ketujuh. Namun karena adanya pemeriksaan USG 4D gratis di minggu ini, kami tentunya nggak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.

Akhirnya, pada hari Senin, aku memutuskan untuk mendaftar melalui pesan WhatsApp. Yup, satu hari sebelum tempat praktek tersebut beroperasi. Setelah menunggu balasan dari staf dr. Wildan dengan was-was, aku kebagian jadwal periksa di hari Jumat ini. It meaaaaans, yang mendaftar tentunya sudah banyak banget. Huhu.. Untung masih kebagian 😂

Singkat cerita, aku dan Mas meminta ijin ke atasan kami masing-masing untuk pulang satu jam lebih awal dari berakhirnya jam kerja, yakni jam empat sore. Meski praktek dokter baru dimulai pukul lima, namun dengan datang lebih awal, kami berharap mendapat nomor antrian paling awal pula. Sesampainya di sana, rupanya sudah ada beberapa pasien yang duduk di ruang tunggu. Luar biasa memang antusiasme para pasien dr. Wildan ini. Wkwk

Pertama-tama, aku dipersilahkan untuk mendaftar ulang. Kemudian dua orang staf dr. Wildan yang bertugas di bagian pendaftaran itu menimbang berat badanku, memeriksa tekanan darahku, dan menanyakan keluhan yang kurasakan. Setelah itu, aku dipersilahkan untuk menunggu.

Aku mendapat nomor antrian ke-6. Giliranku bertepatan dengan masuknya waktu Magrib. Dokter Wildan meminta ijin sejenak untuk sholat Magrib dulu. Kurang dari sepuluh menit kemudian, beliau kembali ke Ruang Dokter dan melanjutkan prakteknya. 

Ruang praktek dr. Wildan nyaman sekali. Ruangannya cukup luas. Di sana ada dua sofa panjang, meja dokter, ranjang pasien, dan dua layar LED; yang satu menghadap ke arah sofa, yang satu lagi menghadap ke ranjang pasien. Dengan begitu, baik pasien ataupun pendampingnya bisa melihat gambar hasil pemindaian rahim dengan nyaman di tempatnya (nggak perlu nengok-nengokin kepala lagi).

Setelah menanyakan perihal keluhan-keluhan yang kurasakan, pemeriksaan USG pun dimulai. Jantungku berdebar-debar. Ah, sebentar lagi aku akan mengetahui seperti apa rupa bayiku. Namun ternyata, nggak mudah mencari wajah janin dengan angle yang pas. Tapi syukurlah, Si Dede nggak menutupi wajahnya, sehingga kami bisa menerka-nerka, akan mirip siapa ia nantinya. Hmm.. kalo melihat bentuk hidung, sepertinya hidungnya mirip dengan hidungku. Tapi secara keseluruhan, ia tampak mirip Mas waktu kecil dulu. Tapi kalo dilihat-lihat, ia juga tampak mirip dengan anaknya A Yogi, teman Mas. Nah lho? Wkwkwk..

Aah rasanya gemas melihat Si Dede yang aktif bergerak di dalam sana. Terkadang kepalanya menengadah, kadang bibirnya tampak tersenyum, bahkan ia sempat 'meledek' dokter. Posisinya menyamping, sehingga wajahnya kurang terlihat jelas. Saat dr. Wildan berkata, "Dek, ayo hadap sini", Si Dede tampak membuka mulutnya seperti tertawa, tapi tetap enggan berbalik 😂

Well, alhamdulillah, hasil pemeriksaan kandunganku baik. Hanya aja, tekanan darahku sangat rendah. Mungkin itulah yang menyebabkan aku pingsan di kantor kemarin. Oleh karena itu, dokter menyarankanku untuk bed rest selama dua hari di rumah. Ia membuatkanku surat agar perusahaan memberiku ijin untuk nggak ngantor. 

Setelah pemeriksaan, aku dan Mas ke luar dari ruang dokter dengan rasa cukup puas. Kami hanya diminta untuk membayar biaya administrasi sebesar sepuluh ribu rupiah, dan kami pun pulang dengan membawa satu lembar foto hasil pemindaian USG 4D tadi dan sebungkus kue donat. Hehe..

Keren memang dokter satu ini. Dengan biaya pemeriksaan yang hampir gratis pun, beliau tetap memberikan pelayanan yang sangat baik. Kalo begini kan, kami jadi enggan move on ke dokter lain :')

Rabu, 13 Oktober 2021 2 komentar

Fainted

Kata orang-orang, trimester kedua adalah fase paling nyaman dalam kehamilan, namun sepertinya hal ini nggak berlaku buatku. Pada trimester pertama, aku hanya merasakan mual saat mencium aroma-aroma tertentu. Namun menginjak trimester kedua, semakin banyak keluhan yang kurasakan. Migrain semakin sering muncul, punggung mulai terasa nyeri, sakit gigi seringkali menyerang. Aku yang berharap bisa menaikkan berat badanku justru masih kesulitan makan karena rasa nyeri yang luar biasa. Padahal rasanya aku pingin banget makan ini itu, terlebih martabak cokelat keju yang sudah cukup lama aku idam-idamkan. Tapi aku nggak mau mengambil resiko dengan nekat membeli dan memakannya. Kapok, karena pernah waktu itu aku kepingin banget makan kue cubit. Suatu hari, Mas membelikannya untukku dan aku memakannya dengan sukacita. Namun hanya dalam hitungan menit, sakit gigiku kambuh, dan aku nggak bisa tidur semalaman.

Selain itu, belakangan ini terkadang aku merasakan tiba-tiba badanku lemas dan pandangan mataku berkunang-kunang. Aku pernah menanyakan hal ini pada bidan Puskesmas, juga pada dokter kandunganku mengenai ada atau enggaknya masalah pada kandunganku. Namun keduanya sama-sama menyatakan bahwa kandunganku baik-baik aja. Tekanan darah dan kadar hemoglobinku pun juga normal. Aku rasa sepertinya hal ini berhubungan dengan sakit gigi atau migrain yang kurasakan, entahlah. Pasalnya, hal ini selalu aku rasakan ketika sakit gigi dan migrain tengah menyerang.

Pernah waktu itu aku diserang sakit gigi semalaman. Pagi harinya, sakit gigi itu mereda. Meski masih sedikit merasakan nyeri di gigi dan kepala sebelah kiri, aku memaksakan untuk tetap ngantor, karena aku rasa nyerinya sudah nggak begitu mengganggu. Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba aku merasakan energiku seperti tersedot dengan cepat. Badanku tiba-tiba melemas dan sekitarku seakan berputar. Aku yang saat itu dibonceng Mas bahkan kehilangan kekuatan hanya untuk sekedar berpegangan pada pinggang Mas. Tubuhku dengan pasrah bersandar di punggungnya. Untungnya aku nggak sampai hilang kesadaran. Hal itu nggak hanya terjadi satu kali, melainkan beberapa kali dalam beberapa hari belakangan ini. Tapi sejauh ini, hal itu sama sekali nggak menghalangiku untuk tetap beraktifitas.

Sampai akhirnya pada hari ini, hal itu terjadi lagi. Namun kali ini lebih parah. Seumur hidup, baru kali ini aku merasakan yang namanya pingsan. Astaga.
Well, hal ini bermula ketika malam tadi, sakit gigiku kambuh. Paginya, gigiku masih terasa nyeri, namun seperti biasa, aku memaksakan untuk ngantor meski Mas sudah memperingatkanku untuk istirahat dulu.

Waktu itu sekitar pukul setengah sepuluh, aku tengah duduk di belakang meja kerjaku. Aku baru aja membalas pesan WhatsApp Mas ketika tiba-tiba aku merasakan perutku mual dan mulas di waktu yang bersamaan disusul dengan rasa pusing yang teramat sangat. Aku memejamkan mata dan menutup wajahku dengan kedua tangan, berharap bisa mengusir rasa pusing itu. Namun rasa mual dan mulas yang semakin menjadi mendorongku bangkit untuk pergi ke toilet. Ketika membuka pintu ruangan, aku merasa sekelilingku berputar, aku berhenti sejenak, kemudian berjalan meski dengan terhuyung-huyung. Di depan ruanganku, aku berpapasan dengan Bu Yeyen.
"Mau kemana, Nok?" tanyanya. 'Nok' dalam bahasa Cirebon itu sama seperti panggilan 'Neng' dalam bahasa Sunda atau 'Nduk' dalam bahasa Jawa.
"Mau ke toilet, Bu", jawabku dengan lemas. Karena pusing yang semakin menjadi, kusandarkan kepalaku di bahunya.
"Kenapa? Pusing tah?" tanyanya lagi sambil merengkuh bahuku.
"Iya, Bu. Kayak berkunang-kunang gitu".

Setelah itu, aku merasa badanku meringan dan semuanya gelap. Aku bisa mendengar orang-orang di sekitarku berteriak, berkerumun, dan memanggil-manggil namaku.
"Putri, Putri.. Astaghfirulloh sadar, Nok. Putri.." panggil seorang wanita di sebelah kananku. Aku bisa mengenalinya. Itu suara Bu Mila. Juga teriakan seseorang yang meminta tolong untuk menelepon suamiku. Ada yang menyarankanku untuk dibawa ke Puskesmas. Ramai sekali. Namun entah kenapa aku nggak bisa membuka mataku, ataupun berkata-kata. 

Aku baru bisa membuka mataku ketika aku dibaringkan di sebuah sofa di showroom. Ada Bu Yeyen, Bu Mila, Pak Kusnama, Bu Lia, Bu Hani, Mas Febri, dan Inggit, juga Pak Wirja, Isnaeni, dan Bu Nur yang memijit-mijit kakiku. Jilbabku berantakan, bajuku basah dengan keringat dingin, dan hidungku bau minyak angin.
"Kenapa, Sayang?" tanya Bu Hani.
"Nggak tau, Bu", jawabku. Bu Lia menyodorkan teh manis hangat yang kusesap sedikit demi sedikit. Bu Yeyen menceritakan kronologi kejadian sebelumnya, ketika aku bilang bahwa ingin ke toilet, kemudian memeluknya karena pusing, dan akhirnya hilang kesadaran.

Sedangkan Bu Mila menceritakan betapa paniknya ia, karena mengira aku kesurupan. Wkwkwk. Menurut penuturannya, ketika pingsan tadi, wajahku benar-benar pucat seperti nggak dialiri darah. Ia juga sempat menekan jempolku, namun aku nggak merespon.

Kemudian setelah itu, mereka menyarankanku untuk membawa gunting kuku, pisau kecil, atau peniti yang disematkan di bajuku.
“Tau sendiri kan, Nok, penunggu di sini kayak gimana”.
Well, menurut kepercayaan masyarakat Jawa, benda-benda tajam itu bisa menangkal gangguan jin ataupun makhluk jahat, karena konon katanya ibu hamil itu ‘wangi’. Sebenarnya aku sudah tau dan sudah nggak heran dengan kepercayaan itu, karena memang nggak sedikit orang-orang di sekitarku yang menerapkannya. Namun karena aku nggak mempercayai hal itu (dan tau bahwa hal itu pun bertentangan dengan agamaku), aku nggak pernah menerapkannya. Aku percaya bahwa Tuhan adalah sebaik-baiknya pelindung.

Pak Teguh, atasanku menawarkan diri untuk mengantarku ke dokter atau pulang ke rumah, namun aku menolak. Aku memutuskan untuk menyelesaikan dulu laporan harianku, lalu pulang menjelang jam istirahat dengan dijemput Mas. Yup, benar sekali. Sampai di rumah, Mas ngomel-ngomel karena aku nggak menurutinya untuk istirahat di rumah. Wkwk. Maaf ya, Mas.

Ya Allah, jangan lagi-lagi pleeease. Apalagi sampai pingsan di kantor seperti itu. Malu banget, astaga, menyusahkan orang-orang dan membuat orang lain khawatir. Rencananya lusa nanti aku dan Mas akan memeriksakan kembali kandunganku pada Dokter Wildan. Semoga kondisi aku dan bayiku baik-baik aja.

Jumat, 03 September 2021 0 komentar

Gender Reveal?

Sore ini aku kembali menjalani pemeriksaan USG. Ini ketiga kalinya aku menjalani pemeriksaan USG. Pemeriksaan pertama di akhir bulan Juni, pemeriksaan kedua di awal bulan Agustus. Pemeriksaan pertama dan kedua lalu, aku memeriksakannya ke klinik yang sama, namun dengan dokter yang berbeda.

Dokter yang pertama memeriksaku ramah sekali. Ia juga menjelaskan segalanya dengan detail dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan baik. Dokter Wildan, namanya. Namun sayang, di pemeriksaan kedua, beliau nggak bertugas di klinik itu lagi. Sebenarnya Dokter Wildan memiliki apotik dan tempat praktik di kawasan Drajat, nggak begitu jauh dari tempat tinggal aku dan Mas dulu. Namun karena tempat praktik itu baru aja berdiri, perizinannya belum selesai. Oleh karena itu, maka dokter yang menangani pemeriksaanku di klinik tersebut kali itu adalah dokter lain yang kurang detail menjelaskan dan kurang ramah. Aku menanyakan perihal penggunaan beberapa obat dan vitamin pada masa kehamilanku, namun ia menjawab dengan kata-kata yang kurang jelas yang membuatnya terkesan ragu dan malas melayani pasien. Alhasil aku dan Mas pulang dengan rasa kurang puas.

Kali ini, aku dan Mas memutuskan untuk memeriksakan kandunganku di rumah sakit tempat Dokter Wildan kini bertugas. Waktu itu sekitar jam setengah empat sore. Sesampainya di rumah sakit itu, kami langsung mengambil nomor antrian dan melakukan pendaftaran. Kami sempat kecewa karena rupanya pendaftaran untuk ke poli kandungan sudah ditutup karena hanya dibatasi sampai lima belas pasien. Namun syukurlah, Dokter Wildan mau berbaik hati menerima kami sebagai pasien terakhirnya hari ini. Huhu.. GBU, Dok.

Setelah mendaftar, aku menjalani pemeriksaan tekanan darah dan berat badan. Alhamdulillah tekanan darahku normal dan berat badanku naik tiga kilogram dari bulan lalu, padahal sebelumnya aku sudah pesimis berat badanku bakal stuck karena belakangan ini aku sedang agak susah makan karena sakit gigi yang menyerang setiap hari. Berdasarkan informasi yang kubaca dan kudapat dari orang-orang di sekitarku yang lebih berpengalaman, sakit gigi memang menjadi salah satu masalah pada ibu hamil. Hal ini terjadi karena peningkatan hormon selama kehamilan yang dapat meningkatkan resiko terbentuknya plak dan pembengkakan gusi. Ada juga yang menyebutkan bahwa hal ini bisa terjadi karena kekurangan kalsium selama kehamilan, sehingga janin 'mengambil' stok kalsium dari tubuh ibunya. Untuk pernyataan yang terakhir aku kurang yakin bahwa itu penyebabnya sih, karena aku yakin asupan kalsiumku cukup mengingat aku rajin minum susu dan suplemen kalsium setiap hari.

Well, back to the story. Setelah pemeriksaan tekanan darah dan berat badan, kami dipersilahkan menunggu. Karena praktik dokter baru saja dimulai dan kami mendapat nomor antrian terakhir, alhasil aku dan Mas harus menunggu lama. 

Lapar, ngantuk, dan BT, semuanya bercampur jadi satu. Berdasarkan keterangan rumah sakit, jadwal praktik dokter berlangsung sampai jam lima sore, namun kami yakin dengan jumlah pasien enam belas orang dan praktik dokter yang baru saja dimulai di jam setengah empat sore, praktik dokter nggak akan berakhir tepat sesuai jadwal. Alhasil aku yang belum sempat makan siang ditemani Mas pergi ke kantin sebentar untuk membeli mi instan cup. 

Singkat cerita, namaku baru dipanggil ke ruang dokter ketika menjelang waktu Isya, ketika Mas mulai misuh-misuh karena lapar. Wkwkwk.
Meski merupakan pasien terakhir (yang daftar dadakan ketika pendaftaran sudah ditutup), namun Dokter Wildan tetap menyambut kami dengan ramah dan bersemangat. Seperti biasa, aku ditanyai mengenai keluhan-keluhan yang kurasakan. Setelah itu beliau mempersilahkan aku untuk berbaring di ranjang pasien dan memulai pemeriksaannya.

"Wah.." gumam dokter ketika layar sudah menunjukkan sebuah citra. "Sudah kelihatan nih." Beliau menunjuk layar. Aku dan Mas memperhatikan, but we didn't have any idea mengenai apa yang dokter tunjuk itu.
"Bisa tebak jenis kelaminnya apa?" tanya dokter pada kami. Aku dan Mas hanya terdiam dengan diliputi rasa penasaran.
"Enggak, Dok".
"Masa nggak tau?"
Kemudian dokter mengetikkan satu kata dalam bahasa Inggris di layar tersebut yang menunjukkan prediksinya mengenai jenis kelamin bayi kami. Aku dan Mas langsung memekik senang ketika mengetahuinya. Senang karena prediksi dokter sesuai dengan harapan kami. Namun kami memutuskan untuk merahasiakannya dulu. Kami khawatir sudah sesumbar sana-sini bahwa jenis kelaminnya A, setelah lahir ternyata B. Kan namanya manusia, bisa saja salah prediksi kan?

Dokter juga menjelaskan bahwa air ketubanku cukup, bayi kami sehat, dan detak jantungnya normal. Hanya saja berat badannya kurang sedikit dari berat badan normal. Yah mungkin karena problem sakit gigi dan susah makan ini. Huhu.. Maafin Mama ya, Nak. Doakan agar sakit gigi ini nggak sering-sering kambuh lagi, biar Mama bisa makan banyak buat kamu :')

Saat ini kami hanya berharap, bayi kami tumbuh dengan sehat dan normal tanpa kekurangan satu apapun. Aamiin yaa robbal alamiin.

Rabu, 04 Agustus 2021 3 komentar

Hi, 2nd Trimester

Trimester pertama sudah berlalu. Aku cukup bersyukur karena selama trimester pertama kemarin, kandunganku bisa dibilang nggak rewel, karena meski tetap merasakan mual dan malas makan, namun aku nggak sampai mengalami muntah-muntah seperti yang kebanyakan dirasakan para bumil. Aku juga nggak banyak ngidam macam-macam, apalagi yang aneh-aneh seperti yang banyak dikeluhkan oleh rekan-rekanku di kantor yang berstatus sebagai calon bapak.

Namun beberapa minggu belakangan ini, aku mulai merasakan sakit kepala yang hebat setiap hari. Bukan sakit kepala biasa, melainkan migrain di bagian kepala sebelah kiri. Sebenarnya migrain bukanlah hal yang nggak biasa buatku. Sejak dulu, aku sudah terbiasa diserang migrain yang munculnya seperti terjadwal. Ia menyerang setiap hari, biasanya mulai dari jam sepuluh pagi, dan kemudian mereda dengan sendirinya sekitar jam dua belas siang atau bahkan lebih lama. Jika sudah begitu, aku hanya cukup tidur atau minum segelas kopi, lalu nyerinya perlahan-lahan hilang. Begitu terus setiap hari. Tapi migrain yang kurasakan kali ini benar-benar menyiksa, dan nggak bisa diredakan dengan tidur ataupun minum kopi. Berbaring justru membuat kepalaku semakin sakit, dan minum kopi sama sekali nggak membantu.

Kondisi seperti ini benar-benar membuatku bingung, apalagi mengingat bahwa seseorang yang sedang hamil disarankan untuk nggak mengkonsumsi obat karena khawatir membahayakan janin, apalagi pada usia kehamilan yang terbilang muda. Aku bertanya pada rekan-rekanku yang lebih dulu berpengalaman mengandung, rata-rata mereka pun nggak mengkonsumsi obat saat merasakan nyeri. Mereka memilih untuk mengoleskan minyak angin yang jauh lebih aman karena nggak dicerna dalam tubuh.

Rasanya tersiksa sekali. Sudah beberapa minggu ini tidurku terganggu karena saat malam nyerinya semakin menjadi. Aku juga merasa semakin bersalah karena nggak jarang Mas ikut terbangun di tengah tidurnya karena mendengar aku meringis, dan sudah beberapa minggu ini pula Mas melarangku untuk melakukan pekerjaan rumah dan membantunya mengepak barang (karena pertengahan Agustus ini kami akan pindah).

Dua hari lalu, aku bertanya pada dokter kandungan perihal aman nggaknya mengkonsumsi obat saat hamil muda, dan dokter menyarankanku untuk mengkonsumsi paracetamol 500mg, karena obat ini dinilai paling aman untuk dikonsumsi ibu hamil. Namun rupanya mengkonsumsi paracetamol hanya meredakan nyeri migrainku sesaat. Beberapa jam setelah mengkonsumsinya, khasiat obatnya hilang, dan nyerinya kembali muncul. Aku tentu nggak mau mengambil resiko dengan mengkonsumsi paracetamol setiap hari untuk meredakan nyeri migrain yang menyerangku setiap hari. Huhu..

Soal penggunaan obat luar pun rupanya nggak bisa sembarangan. Sekitar dua minggu lalu, kulit bagian pahaku mengalami iritasi cukup serius. Aku menyadarinya ketika merasakan sakit di bagian paha kiri saat mandi pagi. Ketika kulihat, rupanya ada luka sepanjang dua belas sentimeter disana. Awalnya kukira itu luka tergores, karena lukanya merah, panjang, dan rasanya perih seperti terkena goresan. Waktu itu aku pikir, ah mungkin aku nggak sadar menggaruk terlalu kuat saat tidur, jadi timbul luka. Namun nggak disangka, beberapa jam setelah itu, lukanya semakin parah. Bagian lukanya menebal, seperti ruam dengan bintil-bintil berisi cairan seperti luka lepuh.

"Gara-gara makan ijoan kali", celetuk Masku, karena memang malam sebelumnya, kami sempat mengkonsumsi kerang hijau. Rasanya nggak mungkin, karena aku nggak memiliki alergi seafood. Lagipula saat itu aku cuma makan satu kerang. Setelah aku browsing Google, barulah aku tau bahwa luka itu berasal dari racun tomcat. Dari situ juga aku baru tau bahwa tomcat nggak menggigit ataupun menyengat, melainkan mengeluarkan racun. Itulah kenapa lukanya bisa sepanjang itu. Tentunya luka ini membuatku sangat merasa nggak nyaman. Berjalan saja rasanya perih, karena lukanya bergesekan dengan pakaian yang kukenakan.

Ada beberapa merk salep ataupun obat luar yang bisa mengatasi luka ini. Namun sayangnya, kebanyakan dari obat-obatan itu merupakan obat keras yang harus digunakan berdasarkan resep dokter (apalagi untuk ibu hamil dan menyusui). Aku sempat berkonsultasi online dengan dokter umum langgananku dan bertanya apakah ada obat untuk mengobati ini yang aman bagi ibu hamil. Memang ada. Obat itu berupa salep, dua macam obat minum, dan satu botol sabun antiseptik. Namun aku kaget melihat harganya. Hampir setengah juta rupiah. Huhu.. Mau nangis. Skincare-ku aja nggak sampai segitu 😭

Tentu saja aku nggak menebusnya. Akhirnya kuputuskan saja untuk membiarkan luka itu sembuh dengan sendirinya. Kadang-kadang aku taburi dengan bedak salicyl. Alhamdulillah sekarang lukanya sudah agak mengering dan tentunya sudah nggak perih. Memang rasanya agak gatal, tapi aku nggak berani menggaruknya karena takut lukanya kembali parah.

Jadi yah, tinggal migrain satu ini yang jadi masalah terbesarku saat ini. Beberapa hari belakangan ini rasanya semakin parah karena gigiku juga sakit, dan nyerinya menyebar hingga ke telinga, leher, dan bahu. Banyak yang bilang, ini adalah pengaruh hormon dan akan menghilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia kehamilan. Jika iya, aku harap ini nggak akan lama :')

Total Tayangan Halaman

 
;