Kamis, 12 Maret 2026 0 komentar

Tinggal Meninggal : Seberapa Jauh Kita Berpura-pura Demi Dilihat?

Aku yakin banyak di antara kita yang pernah atau bahkan sering merasa invisible di tengah keramaian. Ada di kantor, ada di grup chat, tapi nggak pernah benar-benar terlibat. Tinggal Meninggal, mengajak kita menyelami sisi gelap kebutuhan manusia akan perhatian, lewat kisah Gema, seorang cowok awkward yang selama ini "nggak terlihat", tapi tiba-tiba jadi pusat perhatian karena satu kabar duka. Dengan dibalut komedi, film ini nggak cuma bikin cengengesan, tapi juga membuat kita bertanya pada diri sendiri tentang seberapa jauh kita akan berpura-pura demi dilihat orang lain.

Sejak kecil, Gema tumbuh dalam keluarga yang tampak sempurna di mata publik, tapi kosong di dalam. Papanya merupakan seorang pendiri investasi bodong yang dalam setiap akhir sesi seminar selalu memeluk anak dan istrinya di depan para calon investornya. Yang nggak mereka tau, adegan tadi adalah sesuatu yang dilatih puluhan kali, agar tercipta image keluarga bahagia. Sementara mamanya selalu sibuk dengan kegiatan arisan. Gema terbiasa ditinggal sendiri di rumah, dibiarkan asik bermain, menggambar, atau nonton TV sendiri. Orangtuanya tampak nggak pernah punya waktu untuknya, bahkan untuk sekedar mendengar pendapat dan keinginannya. Di sekolah pun, Gema nggak punya teman.


Long story short, orangtua Gema bercerai. Papanya menikah dengan wanita lain, dan mamanya pacaran lagi. Tragisnya, Gema dipaksa harus memanggil mamanya dengan sebutan "Kakak", karena mamanya takut pacar barunya tau bahwa dia adalah janda beranak satu. Gema juga terpaksa tinggal di rumah sendirian karena mamanya jarang pulang. Karena kurang punya tempat untuk berbagi, Gema jadi memiliki satu kebiasaan, bicara dengan diri sendiri. Nggak hanya sebagai bentuk self regulation, tapi juga sebagai cara untuk mengurai isi kepalanya karena kekosongan interaksi. Kebiasaan ini pun ia bawa sampai dewasa.

Gema bekerja di sebuah agensi kreatif. Di tempat kerjanya pun, Gema nggak punya teman. Interaksi di kantor hanya sebatas urusan pekerjaan. Namun semuanya berubah ketika papanya meninggal dunia. Tiba-tiba Gema dihujani ucapan belasungkawa dan perhatian dari rekan-rekan kerjanya, termasuk diajak nongkrong dan makan siang bareng di London Fried Chicken, resto favoritnya. Segala perhatian dari rekan-rekan kerjanya itu membuat Gema merasakan kehangatan yang selama ini cuma ada di wish-listnya. Namun seiring berlalunya masa duka, suasana kembali dingin. Rekan-rekannya mulai bosan makan di London Fried Chicken, mereka juga mulai kembali asyik ngobrol tanpa melibatkan Gema.

Merasa kosong dan kesepian, Gema mulai merancang strategi agar perhatian mereka kembali tertuju padanya. Dalam keputusasaan, ia mengambil jalan pintas dengan berbohong bertubi-tubi, berpura-pura ada keluarganya yang meninggal lagi. Kebohongan kecil yang semula hanya akal-akalan kecil itu perlahan menjadi pusaran masalah yang menjebak Gema ke dalam kekacauan.

Menjelang akhir, ada twist menarik yang membuat kita sadar bahwa Gema bukanlah satu-satunya orang yang haus perhatian dan rela berpura-pura. Dari sini kita diingatkan bahwa sebenarnya banyak dari kita yang menyimpan kebohongan kecil demi mendapatkan validasi di lingkungan kerja atau sosial.

Jujur, kalo nggak dibungkus komedi, kayaknya aku bakal nangis di 20 menit pertama deh. Melihat Gema yang harus memanggil mamanya "Kakak" dan melihat mamanya bersenang-senang dengan laki-laki asing, sementara ia ditinggal sendirian di rumah, itu sedih banget. Lalu di pertengahan film juga ada scene di mana Gema dan papanya berlatih image keluarga bahagia : Papa merentangkan kedua tangan menghadap Gema sambil teriak, "Gema!", lantas Gema akan berlari ke pelukan papanya sambil teriak, "Papa!" Lalu papa akan mengangkat Gema tinggi-tinggi, sambil keduanya tertawa-tawa. Setelah sesi latihan berakhir, Gema minta papanya main bola sama dia. Tapi alih-alih nemenin anaknya, papanya malah panggil ART mereka untuk nemenin Gema :')

Dalam beberapa hal, aku merasa relate sama Gema. Bukan relate tentang kebohongan-kebohongan yang dia lakukan, bukan juga tentang latar belakang keluarganya, tapi tentang bagaimana dia berbicara pada diri sendiri, atau merasa awkward saat di situasi sosial. Misalnya ketika melihat rekan-rekan kerjanya berkumpul di kantin, Gema ingin menghampiri mereka tapi bingung gimana caranya menyapa mereka. Trus ada satu momen di mana Gema berhasil melemparkan satu lelucon yang bikin rekan-rekannya ketawa, dan dia terus mengulang-ulang hal itu di kepalanya dengan bangga seolah dia baru aja melemparkan lelucon paling konyol yang pernah ada, lalu kemudian merevisinya kayak "harusnya gue tadi bilang gini ya" dengan anggapan bahwa kalo dia bilang gitu leluconnya saat itu bakal lebih pecah. Asliiii, aku pernah kayak gitu. Wkwkwk. Nggak cuma lelucon sih, tapi juga kata-kataku yang kupikir nggak seharusnya kuucapkan begitu ke orang lain.

Sedikit spoiler, endingnya menurutku nyesek banget ANDAI AJA nggak ada adegan di surga, karena adegan itu cringe banget menurutku. Kalo adegannya di-cut di satu scene sebelum itu, kurasa efeknya bakal lebih "ngena". Tapi yah, mungkin karena ini film komedi, jadi terciptalah adegan di surga itu.

Well, overall, menurutku Tinggal Meninggal sukses jadi film dark comedy yang lucu, absurd, tapi juga menyentuh. Two thumbs up juga buat aktingnya Omara Esteghlal as Gema yang bagus banget (beneran kayak orang sakit mental, OMG!). Meskipun endingnya kurang sesuai ekspektasi (yaa karena cringe tadi), tapi film ini berhasil mengajak kita merenung tentang betapa rapuhnya kebutuhan manusia akan validasi.

Total Tayangan Halaman

 
;