Kamis, 19 Juli 2012 0 komentar

Acara Pembinaan Kader Remaja Oleh Dinas Kesehatan

Aku nggak percaya, aku bisa ikut dalam acara Pembinaan Kader Remaja yang dilaksanain sama Dinas Kesehatan di kotaku. Sebenernya aku nggak mau ikut acara beginian, mengingat aku susah banget buat bersosialisasi dan beradaptasi di lingkungan baru. Tapi ibuku yang merupakan salah satu kader di RW aku, maksa aku buat ikut. Begitu juga dengan bapakku. Katanya aku harus latihan bersosialisasi dan beradaptasi di masyarakat dan lingkungan baru. Akhirnya dengan terpaksa aku ikut, mewakili RW 09 di kelurahanku. Jadi selama tanggal 16 sampe tanggal 18 kemaren, tepatnya hari Senin sampe Rabu, aku ikut acara itu bareng Mbak Tiyas, yang juga mewakili RW 09.

Acara itu dilaksanain di hotel baru. Namanya Hotel Bagus Inn. Aku kira cuma remaja doang yang ikut acara ini, tapi ternyata ada ibu-ibu juga. Selama ikut acara itu, para peserta pembinaan dibina untuk menjadi kader yang baik. Kami juga dikasih penjelasan mengenai berbagai macam masalah kesehatan, seperti bahaya merokok dan narkoba, masalah gizi, masalah kesehatan reproduksi.. macem-macem deh. Ada tiga buah materi yang disampaikan tiap harinya. Selama ngikutin acara itu, aku berasa kayak orang penting yang ngadain meeting-meeting gitu. Hahaha..

Di hari pertama, aku ngerasa enjoy aja, walaupun aku cuma duduk dan ngedengerin orang-orang dari Dinas Kesehatan itu ngomong sambil sesekali mencatat hal-hal penting aja. Tapi di hari kedua, munculah masalah itu. Disalah satu materi, para peserta diharuskan berdiskusi. Tapi sebelum itu, kami diharuskan membentuk kelompok yang terdiri dari sepuluh orang per kelompoknya.
Pembentukan kelompok itu dilakukan dengan cara menghitung. Kebetulan hitungan sepuluh jatuh di Mbak Tiyas. Otomatis aku harus terpisah dari dia. Damn! Padahal satu-satunya orang yang aku kenal disana cuma dia. Dan kelompok aku waktu itu isinya ibu-ibu dan anak-anak cowok. Parah! Parah banget!

Aku nggak ngerti kenapa itu terjadi sama aku. Kenapa ini kayak udah diatur? Kenapa harus aku yang dipisah sama orang yang aku kenal? Mood aku langsung berantakan seketika itu juga. Aku ngerasa Tuhan sengaja bikin aku bad mood. Dia tau aku nggak bisa bersosialisasi, Dia tau bahwa aku paling payah dalam kerja kelompok, makanya Dia pisahin aku dari Mbak Tiyas dan masukin aku ke kelompok yang semuanya ibu-ibu dan anak-anak cowok. Aku jadi inget waktu aku jadi peserta English Debate Competition dua tahun lalu.

Waktu temen-temen satu tim aku nyampein argumen, nggak ada yang menginterupsi atau mengajukan pertanyaan. Giliran aku yang nyampein argumen, aku malah dilempar pertanyaan. Aku yang gampang nervous nggak bisa menangkap apa yang ditanyakan, dan akhirnya aku nggak bisa jawab. Itu parah banget!

Kenapa itu semua bisa kebetulan terjadi pada aku? Udah kayak adegan di film-film aja.
Itulah kenapa, aku bilang bahwa Tuhan sengaja bikin aku bad mood.

Selama acara diskusi, aku cuma duduk manis di kursiku. Aku nggak tau gimana harus berkomunikasi sama anggota-anggota kelompok aku yang usianya jauh lebih tua dari aku itu. Aku cuma terkagum-kagum aja sama para peserta lain yang bicara didepan buat menyampaikan argumen kelompoknya.
Malu banget aku. Aku ngerasa nggak berguna. Tapi gimana dong. Nggak mudah bagi aku buat beradaptasi, apalagi aku baru berkunjung ke tempat itu dua kali. Nggak bisa aku beradaptasi dalam waktu sesingkat itu.

Ah.. bener-bener nggak bisa diungkapin dengan kata-kata perasaan aku waktu itu. Aku udah kayak anak ilang aja. Rasanya aku pengen ngikutin kata-katanya Bang Raditya Dika, "PURA-PURA MATI!" -__-

Di hari ketiga, baru deh aku enjoy lagi. Malah di hari ketiga ini aku lebih ngerasa seneng dibanding hari-hari sebelumnya. Apalagi materi terakhir disampein sama seorang psikolog. Dari dulu, aku kagum banget sama yang namanya psikolog. So, walaupun dia ngobrol panjang lebar selama kurang lebih dua jam, aku nggak bosen atau ngantuk dengernya.

Sebelum pulang, di hari terakhir itu aku dan para peserta pembinaan berfoto bareng. Kami juga dikasih uang saku. Nggak lebih dari 50 ribu sih, tapi lumayanlah. Selama tiga hari itu kami dapet makan siang, dapet snack, dapet tas, dapet block note, dapet pensil, dapet pulpen, dapet duit, dapet pengalaman, dan yang paling penting dapet ilmunya. Hehe..


Kamis, 12 Juli 2012 0 komentar

Addicted to Death Note


Mungkin aku telat nonton film yang satu ini, Death Note. Film Jepang yang muncul sekitar tahun 2006 ini baru aku tonton baru-baru ini.
Sebenernya aku tertarik sama film ini sejak tahun 2009. Waktu itu sodaraku ngirimin aku tema bergambar Death Note buat diaplikasikan ke HP Nokia-ku waktu itu. Begitu liat gambarnya, aku langsung suka. Tapi karena waktu itu aku belom punya notebook, aku belom bisa download filmnya.

Sekitar bulan Maret 2012, ortu-ku baru beliin notebook buat aku dan sekitar bulan Mei aku baru unduh tuh film dari Youtube. Awalnya aku ngerasa biasa aja, sampe akhirnya aku dibuat tertarik sama salah satu tokoh dalam film itu, Ryuzaki atau L (diperankan oleh Matsuyama Kenichi).

Kesan yang pertama aku tangkap dari sosok L adalah aneh dan misterius.
Tubuhnya kurus tinggi dibalut kaos putih polos panjang dan celana jeans. Dia selalu pake pakaian yang sama setiap harinya. Well, mungkin dia nggak pernah mandi. Hahaha..
Kulitnya putih pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata. Sikapnya aneh. Dia selalu duduk dengan posisi jongkok dan tangan megang lutut. Kadang meletakkan telunjuk atau ibu jarinya di bibir. Dia juga biasa megang sesuatu dengan ujung telunjuk dan ibu jarinya. Kalo berdiri, punggungnya bungkuk dan tangannya dimasukin ke kedua saku celananya. Kadang sikapnya kayak anak kecil. Selain itu dia selalu makan makanan manis. Tapi selebihnya, dia adalah seorang cowok cute dan seksi dimataku.

Siapa sangka, dibalik penampilan dan sikapnya yang aneh dan kayak orang abnormal, tapi dia punya otak yang luar biasa cerdas. Walau mukanya kayak orang bego *oh I'm so sorry for saying it* tapi dia adalah seorang detektif muda kelas dunia. Dialah orang yang mengungkapkan siapa ‘Kira’ sebenarnya dan memecahkan misteri Death Note.

Dari informasi yang aku peroleh, dia duduk dengan posisi jongkok karena dengan posisi seperti itu, dia bisa lebih berkonsentrasi. Kalo dia duduk normal, tingkat konsentrasinya berkurang sekitar 40%. Dan makanan manis yang dia konsumsi bisa memperkuat daya ingatnya. Itulah kenapa aku tertarik sama tokoh yang satu ini. Entah kenapa aku selalu tertarik dan penasaran sama cowok smart, cool, dan misterius. Ketiga karakter itu ada di sosok L. Selain itu karena dia cakep. Hahaha..
Sekilas aku liat dia mirip Kevin Aprilio. Tapi L lebih keren, of course :D




Sebenernya Light atau Kira (diperankan oleh Tatsuya Fujiwara), tokoh utama yang lainnya juga nggak kalah awesome sih. Dia juga keren. Kecerdasannya pun setara sama L. Hanya aja dia normal, nggak aneh dan kekanak-kanakan kayak L. Tapi entah kenapa aku lebih interest sama L. Kemisteriusannya selalu bikin aku penasaran dan mendorongku buat mencari tau lebih banyak hal tentang dia.

Sampe saat ini, aku udah nonton Death Note (movie), Death Note 2 : The Last Name (movie), Death Note (anime), dan Death Note 3 : L Change the World.
Aku sempet merinding liat ending cerita Death Note 2. Tragis banget, coz kedua tokoh favoritku mati di akhir cerita. Sedangkan di Death note 3, aku dibuat terkagum-kagum sama aksi L menyelamatkan kedua anak kecil bernama Boy dan Maki. Jealous juga aku waktu liat adegan Maki nyenderin kepalanya di bahu L. Ada juga adegan di pesawat pas L meluk kepala Maki. Gila, kok rasanya nyesek ya. Emangnya dia siapa aku coba? Mhuahahaha..

Walau agak kurang ngerti apa hubungan Death Note dan Death Note 2 dengan Death Note 3, tapi aku acungin empat jempolku buat film-film ini. Sumpah, aku speechless nonton keseluruhan filmnya. Selain karena ceritanya yang seru, aku juga kagum sama tokoh-tokohnya. Aku kagum setengah mati sama kecerdasan Light dan L yang luar biasa. Pengen banget aku punya otak seencer mereka. Aku juga kagum sama ayah Light yang seorang kepala polisi itu. Sebagai seorang kepala polisi, dia bijaksana dan tegas banget. Walau anaknya sendiri adalah seorang pembunuh, tapi dia tetep tegas dan nggak pandang bulu dalam menegakkan hukum dan keadilan. Andai polisi di Indonesia kayak gitu ya.. Haha.. :P

Ah, yang jelas akhir-akhir ini aku lagi terobsesi sama tokoh L.
Aku pengen banget jadi detektif sehebat dia. Kayaknya seru aja kalo memecahkan misteri kayak gitu. Tapi apakah bisa orang kayak aku ini jadi detektif? Kayaknya nggak mungkin banget deh ya.. xP

Aahh.. L.. I can't stop to shout 'omaigaaawwdd' when I see you.. ^^



Minggu, 17 Juni 2012 0 komentar

About My Dream and Failure

Well, ternyata bukan cuma melamar pekerjaan yang menuntut banyak syarat, tapi juga mendaftar ke Perguruan Tinggi. Hal ini aku alamin tiga hari yang lalu.

Kamis, 14 Juni aku mendaftarkan diri ke salah satu Perguruan Tinggi Kesehatan di kota aku. Ada tiga pilihan  jurusan di Perguruan Tinggi itu, ada Kebidanan, ada Keperawatan, dan ada Gizi. Aku ambil jurusan Gizi. Sebenernya aku agak pesimis sih. Untuk masuk ke Perguruan Tinggi itu, tentu aja kita aku harus menghadapi tes tertulis dulu. Dan pelajaran yang di-tes-kan adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA Terpadu. Well, kalo mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris mah aku optimis bisa menghadapinya. Tapi yang jadi masalah aku adalah, aku lemah dalam pelajaran Matematika dan IPA. Apalagi aku bukan berasal dari kelas IPA, tapi aku dari kelas IPS.

Tapi meskipun rasa pesimis itu ada, aku nggak mau nyerah gitu aja. Aku janji aku bakal belajar sebagai persiapan buat menghadapi tes itu. Lagian aku juga nggak bego-bego amat tuh. Haha..

Kamis siang, aku dan ibu mendatangi Perguruan Tinggi itu. Kami tiba disana sekitar jam setengah satu siang. Tapi ternyata kami nggak bisa langsung mendaftar. Siang itu para panitia pendaftaran lagi istirahat. So, kami nunggu dulu bareng para pendaftar lainnya.

Sekitar jam satu lebih, pendaftaran kembali dibuka. Kami pun menghadap panitia pendaftaran.
Ketika giliran aku, Bapak Panitia itu mempersilahkan aku untuk diukur tinggi badannya. Deg-degan banget aku waktu itu. Aku takut tinggi badan aku nggak memenuhi syarat. Dan ternyata apa yang aku khawatirkan itu bener juga. Bapak Panitia itu nyamperin ibu, trus ngomongin sesuatu yang nggak bisa aku denger. Bukan karena aku budeg, tapi karena tuh bapak suaranya kecil banget waktu ngomong sama ibu aku, seolah nggak mau didenger sama orang-orang disekitarnya. Tapi feeling aku udah mengatakan bahwa ada yang nggak beres.
Aku langsung samperin ibu aku, trus nanya, "Nggak bisa masuk ya?"
Kemudian Bapak Panitia itu bilang, "Maaf ya, De.."

JLEB! Cuma tiga kata, "Maaf ya, De.." tapi tuh kata serasa nusuk banget sampe ke ulu hati. Jleb banget sumpeh ditolak kayak gitu. Konyol banget kan, alasan aku ditolak di Perguruan Tinggi itu hanya karena aku kurang tinggi! Daaamn.. ternyata aku lebih pendek dari yang aku duga. Aku kira tinggi badan aku nyampe 148-150 cm, tapi ternyata kurang dari itu! Konyol! Konyol banget!
Perasaan aku campur aduk. Rasanya aku pengen nangis dan teriak sambil ketawa. Batin aku teriak, "Ya Allah.. perlukah saya makan tiang biar badan saya tinggi..?!!"

Bukan cuma alasan ditolak doang yang bikin aku nyesek, tapi juga aku nggak suka sama tatapan orang-orang yang waktu itu ada disana. Kok kayaknya mereka ngeliat aku dengan tatapan mengejek gitu. Gimana aku nggak makin down? Bener deh ya. Andai aku adalah seorang psikopat yang nggak peduli sama hukum, mungkin aku udah gorok mereka semua, atau aku bom sekalian tempat itu. Hahahaha.. *evil laugh*

Bener deh, aku nggak habis pikir. Kenapa ya sekarang-sekarang ini nggak kerja, nggak kuliah.. semuanya menuntut tinggi badan. Selalu tinggi badan yang diutamakan. Kenapa bukan skill?
Sumpah, ini nggak adil buat orang pendek kayak aku. Tapi ya sudahlah. Mungkin ini emang yang terbaik buat aku. Nggak ada gunanya aku nyalah-nyalahin diri sendiri yang emang udah pendek dari sananya. Lagian aku juga harusnya bersyukur sih dikasih tinggi badan yang normal meskipun nggak tinggi-tinggi banget. Masih banyak orang yang jauh lebih pendek dari aku.

Well, sebenernya sekolah di Perguruan Tinggi Kesehatan itu juga bukan keinginan aku sendiri sih, tapi keinginan ortu aku. Sebenernya aku pengen banget masuk jurusan Psikologi, secara dari dulu aku tertarik banget sama ilmu kejiwaan. Tapi ortu aku nggak setuju. Makanya aku mutusin buat belajar sendiri dengan baca-baca berbagai macam artikel. Untuk saat ini aku lagi tertarik banget mencari tau informasi tentang masalah Kepribadian Ganda dan Psikopat.

Aku pengen banget tuh punya novel Sybil yang best seller itu. Udah lama aku cari tuh novel, tapi di toko buku yang biasa aku kunjungin ngga ada. Padahal aku penasaran banget tuh sama kisah nyata tentang seorang cewek yang punya 16 kepribadian berbeda itu.

Aku pengen banget ya, suatu saat nanti aku bisa jadi seorang ahli Psikologi. Yah, mudah-mudahan Allah ngasih aku kemudahan buat mencapai mimpi aku itu. Semoga..


Sabtu, 26 Mei 2012 0 komentar

Graduation Day

Hari ini adalah hari yang paling dinantikan sekaligus menegangkan bagi sebagian besar pelajar SMA/SMK/MA di tanah air, termasuk aku. Yap, hari ini adalah hari dimana hasil kelulusan diumumkan. Jujur aku takut. Berbagai pemikiran negatif muncul di otakku. Takut beginilah, takut begitulah. Tapi aku coba buat tetep tenang.

Aku ke sekolah sekitar jam 9, pake seragam batik. Ternyata disana udah lumayan rame. Begitu dateng, aku langsung disambut sama pertanyaan salah satu temenku dari kelas sebelah, si Marla.
Dia nanya, "Eh, kamu nge-post postingan tentang perpisahan sekolah ya di blog? Yang namanya Vidialesta itu.."
Aku jawab, "Iya"
Didalem hati, aku lumayan surprised dan excited juga sih. Ternyata ada juga temenku yang baca blogku ini. Haha.. :P

Disekolah, entah kenapa aku seneng banget. Rasanya aku seneng bisa kumpul-kumpul lagi sama temen-temen setelah sekian lama kami nggak saling ketemu. Jujur, aku kangen banget sama saat-saat bareng mereka.

Sebelum pengumuman kelulusan, kami disuruh masuk ke kelas masing-masing. Disana kami dikasih pengarahan-pengarahan sama wali kelas. Setelah dikasih pengarahan, baru deh kami disuruh keluar dari kelas dan kumpul dilapangan buat dengerin arahan-arahan dari Bapak Kepala Sekolah dan menerima hasil keputusan kelulusan.

Kami berbaris dilapangan seperti ketika kami melaksanakan upacara bendera. Disana kami dikasih wejangan-wejangan dari Bapak Kepala Sekolah. Setelah beliau bicara, Pak Dedi maju. Beliau mengatakan beberapa hal. Aku nggak begitu memperhatikan. Yang ada dipikiranku adalah, apakah aku bisa lulus? apa yang bakal aku lakuin setelah ini? Apakah setelah ini aku masih bisa ketemu sama temen-temen dan guru-guruku?

Nggak tau kenapa aku jadi pengen nangis. Belom apa-apa aku udah pengen nangis!
Aku nengok temen-temen disekitarku. Mereka keliatan cemas. Mungkin apa yang mereka rasain sama seperti apa yang aku rasain.

Kemudian wali kelas masing-masing membagikan satu buah amplop kecil ke masing-masing siswa. Ketika nerima amplop itu, entah kenapa aku jadi deg-degan.
Pak Dedi mengarahkan kami untuk mengangkat amplop itu tinggi-tinggi dengan tangan kanan.
Kemudian beliau memberi kami aba-aba. Ketika beliau berseru, "BUKA!!", serentak kami membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya.

Aku buka amplop itu dengan mengucapkan "Subhanallah" beberapa kali. Ketika aku buka, didalam amplop yang aku pegang terdapat secarik kertas bertuliskan HOREEEE.. GUE LULUS CUY...



Spontan aku langsung ngucapin "alhamdulillah". Aku peluk Rohayati, temen sebangkuku, yang ada disebelahku. Temen-temenku berpelukan. Suara jerit dan tangis kebahagiaan memenuhi lapangan sekolah. Yak! SMA Widya Utama Cirebon lulus 100%

Aku sujud syukur di lapangan itu. Aku juga menyalami guru-guru dan temen-temenku.
Aku sempet meneteskan air mata. Nggak banyak, tapi sesungguhnya apa yang aku rasain lebih dari tetesan air mata itu. Aku seneng karena aku lulus, aku seneng karena temen-temenku lulus semua, tapi disamping itu aku juga sedih karena aku takut setelah ini aku nggak bisa ketemu lagi sama temen-temenku. Kalopun ketemu, atmosfernya juga pasti bakal beda banget. Ah, andai mereka tau.. Rasanya aku pengen banget meluk mereka satu persatu.

Suasana bahagia dan haru memenuhi lapangan SMA Widya Utama pagi itu. Beberapa murid dan guru saling bersalaman dan berpelukan. Sementara Pak Kohar menyiram-nyiramkan air ke arah kami sampe kami basah kuyup. Well, kalo selama ini acara kelulusan identik dengan euforia berlebihan kayak coret-coret baju seragam dan sebagainya, aku dan temen-temen sepakat untuk nggak ngelakuin itu. Coz kasian juga kan kalo ada temen kita dari sekolah lain yang nggak lulus. Dia pasti bakal semakin sedih kalo ngeliat kami bereuforia kayak gitu. Sama aja kan kita berbahagia diatas penderitaan orang lain. Makanya kami sepakat buat nggak ngelakuin aksi coret-coret seragam dan sebagainya.

Oh ya, aku juga turut prihatin atas kejadian yang menimpa dua orang temenku, Riska dan Euis. Mereka kecelakaan ditengah perjalanan menuju ke sekolah. Entah gimana keadaan mereka, sampe ketika aku nulis entri ini aku belum tau kabar tentang mereka. Jujur, aku khawatir juga sama mereka. Coz meskipun berbeda kelas, tapi mereka juga temen baik aku.

Setelah pengumuman kelulusan, kami disuruh kembali lagi ke kelas. Disana wali kelas kami, Ibu Marfuati membagikan sebuah amplop yang lebih panjang. Amplop itu dibagikan ke masing-masing anak. Ternyata isinya adalah secarik ketas berisi keterangan kelulusan yang lebih resmi.


Well, meskipun aku belom nerima nilai-nilai Ujian Nasional-ku, tapi dengan lulus pun aku udah cukup bahagia. Sekarang saatnya menentukan masa depan.. dan aku masih bingung..


*                                           *                                           *

Kita Untuk Selamanya by Bondan feat. Fade2Black

It's not the end.. It's just beginning..

Ok.. detak detik tirai mulai menutup panggung
Tanda skenario baru mulai diusung
Lembaran kertas barupun terbuka
Tinggalkan yang lama, biarkan sang pena berlaga
Kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu
Pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu
Masa jaya putih biru atau abu-abu
Memori cerita cinta aku, dia dan kamu

Saat dia masuki alam pikiran
Ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan
Cinta masa sekolah yang pernah terjadi
That was the moment a part of sweet memory
Kita membumi, melangkah berdua
Kita ciptakan hangat sebuah cerita
Mulai dewasa, cemburu dan bungah
Finally now, it's our time to make a history

Bergegaslah, kawan.. sambut masa depan
Tetap berpegang tangan, saling berpelukan
Berikan senyuman tuk sebuah perpisahan
Kenanglah sahabat.. kita untuk selamanya

Satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori
Satu cerita teringat didalam hati
Karena kau berharga dalam hidupku, teman
Untuk satu pijakan menuju masa depan

Saat duka bersama, tawa bersama
Berpacu dalam prestasi hal yang biasa
Satu persatu memori terekam
Didalam api semangat yang tak mudah padam
Kuyakin kau pasti sama dengan diriku
Pernah berharap agar waktu ini tak berlalu
Kawan.. kau tahu, kawan? Kau tahu kan?
Beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan


Congratulations to our graduation, guys!

Sukses buat kita semua. Aamiin.. ;)
Jumat, 11 Mei 2012 0 komentar

Acara Pelepasan Siswa-Siswi SMA Widya Utama Cirebon

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Itulah yang terjadi kemarin pagi..

Perasaanku campur aduk kemarin. Kesel, malu, sedih, seneng, semuanya campur jadi satu. Gimana nggak? Kemarin pagi, Kamis 10 Mei 2012, sekolahku, Widya Utama High School menyelenggarakan acara Pelepasan Siswa-Siswi SMA Widya Utama Tahun Ajaran 2011-2012.

Well, acara pelepasan atau perpisahan disekolahku ini emang nggak seperti sekolah-sekolah lainnya yang umumnya mengadakan acara perpisahan dengan tur ke tempat-tempat wisata diluar kota. Acara perpisahan disekolah aku sederhana aja.. syukuran di rumah makan Roso Eco di daerah Sumber. Yak, masih daerah Cirebon. Tapi walaupun begitu, acara ini aku rasa cukup berkesan.

Di acara perpisahan ini, kami diwajibkan mengenakan pakaian kebaya (bagi cewek) dan jas atau batik (bagi cowok), dan of course yang cewek harus pake make up. Aku sempet mengeluh karena hal ini. Well, aku suka pake kebaya, walau nggak suka-suka banget. Tapi yang nggak aku suka adalah pake make up. Aku risih aja kalo harus pake make up yang macem-macem. Pake bedak lah, pake lipstik lah, pake blush on lah, eyes shadow, maskara, eye liner, de el el. Aku lebih suka make up yang natural aja. Tapi aku nggak bisa nolak.

Pagi itu aku pake kebaya warna merah hati dengan rambut di ikat kebelakang plus jambul. Bibi aku yang make up-in. Sumpah, pagi itu aku ngerasa bahwa aku yang waktu itu bukan aku banget. Aneh banget rasanya waktu aku ngeliat wujud aku di cermin. Dan entah kenapa tiba-tiba aku kepikiran, gimana kalo seandainya aku datang ke acara perpisahan itu dengan make up dan penampilan ala Black Veil Brides? Ah, aku lebih suka itu. Kan keren tuh, gothic. Aku yakin aku bakal jadi yang paling unik.. dan tentunya bakal dikira pasien yang baru kabur dari RSJ.. -__-

Berhubung ibuku diundang ke acara itu, aku berangkat ke sekolah bareng ibuku. Yah, kami emang diharuskan kumpul disekolah dulu. Setelah semuanya kumpul disekolah, barulah kami berangkat bareng-bareng ke Sumber. Aku dan ibu berangkat ke sekolah naik becak. Malu banget, aku sempet jadi pusat perhatian dijalan. Aku berasa jadi putri Keraton. Haha..

Sampe disekolah.. tadaaaaa..!! Semua temenku keliatan beda! Mereka tampil lebih dewasa dari biasanya. Yang cewek-cewek keliatan anggun, dan yang cowok-cowok keliatan gagah. Seneng banget ngeliatnya. Well, entah kenapa aku suka kalo ngeliat cowok pake jas, kemeja, atau baju koko. Keliatan lebih rapi dan bersih aja. Beda kalo aku ngeliat cowok yang urakan dengan jins belel robek-robek, atau berpenampilan ala anak punk rock jalanan. Malah serem aku liatnya. Kecuali kalo musisi luar yang berpenampilan kayak gitu.. itu mah lain lagi ceritanya.
Tapi pagi itu aku bener-bener belum cukup PD sama penampilan aku sendiri. Sampe nggak sanggup mandang lawan bicara. Hahaha.. konyol :P

Setelah semuanya kumpul, barulah kami berangkat ke Sumber. Setelah sampe, kami cari tempat duduk. Ditengah acara, seperti yang udah direncanakan, kelas aku, XII IPS 2 mempersembahkan lagu dan puisi buat temen-temen dan guru-guru. Waktu itu kami mempersembahkan lagu Hymne Guru dan Semua Tentang Kita secara koor. Sempet agak berantakan ketika sesi pembacaan puisi. Malu juga, coz beberapa tamu undangan sampe ketawa geli ngeliat performance kami waktu itu. Untungnya rasa malu itu ditanggung bareng-bareng. Kalo waktu itu aku sendirian yang tampil didepan mereka, behh.. udah semaput ditempat kali..


Yah, walaupun agak berantakan, tapi selebihnya alhamdulillah lancar. Aku ngeliat beberapa tamu undangan meneteskan air mata waktu kami membawakan lagu Semua Tentang Kita. Entah mereka nangis karena menghayati isi lagu itu, entah mereka nangis karena lagu itu punya kenangan, dan entah mereka nangis karena ngeliat performance kami yang menyedihkan..
Ah, maklum sajalah. Kami bukan artis. Tapi dengan ngeliat adanya tamu undangan yang nangis, aku menyimpulkan bahwa waktu itu penampilan kami nggak begitu mengecewakan. Hahaha.. Thanks God..

Aku juga seneng banget ngeliat adik-adik kelas yang berpartisipasi di acara itu. Beberapa dari mereka menyumbangkan lagu buat kami. Ah, kami berasa jadi tamu spesial pagi itu.

Salah satu sesi acara yang paling berkesan yaitu ketika acara sungkeman. Aku dan Safira bertugas mewakili kelas XII IPS 2. Dari kelas XII IPS 1 ada perwakilan dari Eva dan Marla, dari kelas XII IPA ada perwakilan dari Yopi dan Sanjar, sedangkan yang mewakili seluruh kelas XII adalah Albet dan Fuji. Kami berbaris dibelakang ruangan. Di barisan pertama ada Albet dan Fuji—maskot sekolah kami—, di barisan kedua ada Sanjar dan Yopi, di barisan ketiga ada Marla dan Eva, dan di barisan keempat ada Safira dan aku. Sementara dibelakang kami ada Erfan, murid kelas XI yang waktu itu ditugasin mengiringi kami dengan payung. Fuji, Yopi, Marla, dan Safira bawa bunga yang nantinya bakal diberikan ke wali kelas masing-masing yang udah duduk di bagian depan ruangan.


Menjelang sesi acara sungkeman


Acara sungkeman dimulai dengan pembacaan puisi. Setelah puisi dibacakan, musik sunda pun diputar. Empat orang penari menari didepan kami. Kemudian masing-masing dari mereka mengambil sebuah mangkok yang didalemnya udah ditaruh bunga-bunga.
Kemudian kami berjalan perlahan-lahan kedepan. Empat penari itu melemparkan bunga-bunga kearah kami. Semua mata tertuju pada kami. Jujur, malu banget aku sebenernya waktu itu. Rasanya pengen cepet-cepet udahan aja. Omaigaaawwdd..

Para penari melemparkan bunga kepada para wakil kelas
Setelah kami sampe didepan wali kelas kami masing-masing, kami menyerahkan bunga itu pada beliau-beliau. Setelah itu kami pun sungkem dihadapan wali kelas kami masing-masing. Selama kami sungkem, Bu Christine membacakan puisi, dan puisi itulah yang sukses bikin kami nangis! Ketika itu munculah potongan-potongan flashback dipikiranku. Aku inget ketika pertama kali aku bersekolah disana, sekolah yang dulunya pernah aku benci banget karena waktu itu aku nggak punya temen. Aku inget waktu aku naksir sama kakak kelas. Aku inget waktu aku kumpul bareng temen-temen baikku disekolah itu.. dan ketika aku inget bahwa sebentar lagi kami bakal berpisah dan mungkin nggak ketemu lagi, aku sukses meneteskan air mata.

Well, meskipun aku sering dibuat gondok sama hal-hal yang pernah terjadi disekolah itu, dan meskipun aku sering kesel sama temen-temen, tapi aku juga sayang sama sekolah itu. Mereka, temen-temen dan guru-guru udah kayak keluarga kedua buatku. Aku seneng banget bisa kenal mereka. Aku seneng pernah jadi bagian dari sekolah ini. Aku sempat berpikir, setelah ini, apakah kami bisa bertemu lagi?  Dan ketika suatu saat nanti kami bertemu lagi, apakah kami bisa seakrab ini?
Ketika itu, rasanya aku pengen peluk Bu Marfuati, wali kelasku yang udah aku anggap sebagai ibu sendiri. Aku juga pengen meluk temen-temenku. Jujur, sebenernya aku iri ngeliat temen-temen yang saling berpelukan satu sama lain. Tapi aku malu untuk itu.

Dan tibalah sesi acara pemberian penghargaan kepada siswa berprestasi terbaik. Dan yang berhak ngedapetin penghargaan itu hanya satu orang dari masing-masing kelas. Itu artinya hanya tiga orang yang berhak ngedapetinnya, yaitu dari kelas IPA, kelas IPS 1, dan kelas IPS 2. Surprise banget rasanya ketika namaku dipanggil kedepan ruangan untuk menerima penghargaan itu. Nggak nyangka banget. Selain aku, ada Yopi dan Eva yang juga menerima penghargaan itu.

Lucunya, setelah pemberian penghargaan itu, beberapa guru berebut foto bareng dengan kami. Didepan kami juga ada beberapa fotografer. Aku bingung mau liat kamera yang mana. Hahaha..Kami bertiga diberi sebuah bingkisan dan piagam penghargaan.
Ketika itu aku berpikir, apakah begini rasanya jadi artis?
Bener deh, kami berasa jadi artis. Disalamin banyak orang, diminta foto bareng, difoto banyak fotografer.. untungnya nggak dimintain tanda tangan..



*Maaf ya, foto nggak aku tampilkan, karena waktu itu aku belum pakai hijab. Hehe..
(edited 25 Januari 2019)



 Ketika foto bareng itu, sebenernya aku malu banget. Nggak biasa foto banyakan kayak gitu. Tapi yah, terpaksa deh tuh malu dibuang jauh-jauh. Aku pikir, kapan lagi bisa foto bareng sama guru-guru kayak gini?
Aku seneng banget waktu guru-guru menyalamiku satu persatu sambil ngucapin selamat. Aku juga seneng banget ngeliat ibu yang nggak berhenti senyum waktu aku nerima penghargaan itu.Thanks God, today I could make my parents proud of me..
Untuk saat ini, mungkin cuma ini yang bisa aku tunjukkan ke orangtuaku. Tapi aku harap suatu saat nanti aku bisa bikin beliau bangga lebih dari ini. Amin.

Setelah itu, kami makan bersama. Kami boleh makan sepuasnya disana, asal nggak boleh dibawa pulang. Hahaha..
Karena kami dibolehkan makan sepuasnya, banyak temen-temenku (khususnya cowok) yang makannya nggak kira-kira. Hampir semua menu makanan yang ada disana diembat semua. Ckckckck..

Sambil makan, kami ditemenin sama lagu-lagu yang dibawain sama beberapa adik kelas kami dan Bu Santi. Waktu mereka bawain lagu dangdut, spontan deh tamu-tamu pada goyang. Hahaha.. tapi aku nggak ikutan :P

Setelah kami makan, kami foto-foto didepan rumah makan. Kami juga sempet nebus foto-foto kami yang dijual disana. Sebelum pulang, aku buka bingkisan hadiah dari acara Pemberian Penghargaan Kepada Siswa Terbaik itu. Ternyata isinya jam tangan!
Well, bukan jam tangan mahal dan bermerk sih.. tapi aku suka.

Haaahh.. kemarin bener-bener hari yang cukup berkesan. Walau kemarin adalah perpisahan, tapi aku harap ini bukanlah perpisahan yang sesungguhnya. Aku harap kemarin itu bukan bener-bener hari terakhir kami ketemu. Aku pengen suatu hari nanti kami bisa kumpul kayak gini lagi, dan seakrab ini.
Dan semoga tanggal 24 nanti kami bisa menangis bahagia mendengar bahwa kami lulus dengan hasil yang memuaskan. Aamiin.

Total Tayangan Halaman

 
;