Kamis, 24 September 2015 1 komentar

Be The Light, by One Ok Rock

Just the thought of another day
How did we end up this way
What did we do wrong?
God

Even though the days go on
So far, so far away from
It seems so close

Always weighing on my shoulder
A time like no other
It all changed on that day
Sadness and so much pain

You can touch the sorrow here
I don’t know what to blame
I just watch and watch again
O...

Even though the days go on
So far, so far away from
It seems so close

Even though the days go on
So far, so far away from
It seems so close

What did it leave behind?
What did it take from us and wash away?
It may be long
But with our hearts start a new
And keep it up and not give up
With our heads held high

You have seen hell and made it back again
How to forget? We can’t forget
The lives that were lost along the way
And then you realize that wherever you go
There you are
Time won’t stop
So we keep moving on

Yesterday’s night turns to light
Tomorrow’s night returns to light
O... Be the light

Always weighing on my shoulder
A time like no other
It all changed on that day
Sadness and so much pain

Anyone can close their eyes
Pretend that nothing is wrong
Open your eyes
And look for light
O...

What did it leave behind?
What did it take from us and wash away?
It may be long
But with our hearts start a new
And keep it up and not give up
With our heads held high

Yeah, yeah...

You have seen hell and made it back again
How to forget? We can’t forget
The lives that were lost along the way
And then you realize that wherever you go
There you are
Time won’t stop
So we keep moving on

Yesterday’s night turns to light
Tomorrow’s night returns to light
O... Be the light

Some days just pass by and
Some days are unforgettable
We can’t choose the reason why
But we can choose what to do from the day after
So with that hope, with that determination
Let’s make tomorrow a brighter and better day



***


This song has just stolen my heart. Well, mungkin aku terlalu terbuai dengan lagu Wherever You Are yang sensasi menghanyutkannya melebihi coklat Cadbury, sehingga meskipun udah dua tahun lamanya aku jadi penikmat lagu-lagu One Ok Rock, tapi baru sekarang-sekarang ini aku menyadari bahwa mereka punya lagu sedahsyat ini.

Be The Light. Aku baru aja download dan denger lagu ini kemarin setelah iseng nge-stalk salah satu thread di Kaskus yang membahas tentang lagu-lagu dari band asal Jepang ini, dan langsung jatuh cinta sejak pertama kali dengar, sampe-sampe dalam sekejap lagu ini udah ada di posisi teratas Most Played di playlist-ku setelah lagu Wherever You Are saking seringnya didengerin. Yeah, I just can’t stop listening to this powerful song. Ya, aku sebut lagu ini powerful karena lagu ini punya efek lumayan besar bagi pendengarnya. You know what? I was crying. Gimana enggak? Lagu yang emosional dan sarat akan renungan ini dibawakan dengan penuh penghayatan oleh sang vokalis. Kebetulan juga waktu itu aku lagi down dan butuh siraman motivasi serta sesuatu untuk meluapkan emosi. Lagu ini bener-bener masuk ke playlist-ku pada waktu yang tepat.

Ketika dengerin lagu itu, it feels like Taka was singing for me. It feels like.. I wanna hug everyone in the band and thank them for making this awesome song. Iya, aku tau, lagu ini sebenernya didedikasikan bagi para korban Tsunami yang melanda Jepang tahun 2011 lalu. Tapi coba resapi liriknya.. Penerima pesan dari lagu ini sebenernya luas, nggak hanya sebatas pada para korban Tsunami Jepang aja, dan aku adalah salah satu—dari sekian banyak pendengar lagu ini yang bukan korban Tsunami Jepang—yang tersentuh dengan lagu ini. Aku yakin, kalo saat ini juga ada orang yang ngasih aku motivational video dengan backsound lagu ini, aku pasti bakal nangis kejer :’))

“Tidak ada gunanya meratapi masalah yang Tuhan berikan, karena waktu akan terus berjalan, dan meratap bukanlah jalan untuk membuat segalanya menjadi lebih baik. Yang harus kita lakukan adalah bangkit, lihat ke depan, terus melangkah, dan jangan menyerah, karena hanya dengan cara itu kita bisa membuat hari esok menjadi lebih baik,” kira-kira begitulah makna dari lagu ini.

Well, siapa bilang itu semua mudah? Terkadang memang sulit rasanya menerima apa yang sama sekali nggak kita inginkan : kekurangan, kehilangan, kekecewaan.. masalah apapun itu. Betapa rasanya Tuhan  beserta dunia ini nggak adil, tanpa kita sadari bahwa Tuhan punya maksud lain dibalik masalah itu. Mungkin kita bersalah, dan Tuhan ingin kita menyadari kesalahan apa yang udah kita perbuat. Mungkin Tuhan ingin menguji kita, menempa kita agar menjadi insan yang lebih dewasa dan bijak.

Wait, wait.. Aku kok bisa bilang gini yak?
Baiklah, aku akui, aku juga ngerasain kok yang namanya kecewa akan sesuatu yang Tuhan berikan. Ada satu kekurangan dalam diri aku yang bener-bener mengganggu dan membelengguku selama bertahun-tahun.. Sesuatu yang membuatku mungkin keliatan berbeda dengan orang lain.. Sesuatu yang membuatku terkadang membenci diri sendiri.. Sesuatu yang sama sekali nggak aku ngerti kenapa bisa ada padaku.. Dan sesuatu yang aku sebut sebagai masalah terbesar dalam diri, karena sangat mempengaruhi pandangan orang lain terhadapku.

Aku akui, cukup sering aku meratap sama Tuhan, kenapa aku kayak gini, dan kenapa Tuhan nggak kunjung mengangkat kekuranganku itu meskipun hatiku udah menjerit dan memohon berulang-ulang. Dan yang bisa aku lakuin hanyalah ngejalanin hidupku seperti biasanya sambil berharap suatu saat nanti aku bisa menjadi lebih ‘normal’.


So, hanya dengan kalimat bijakku yang diatas tadi bukan berarti aku tangguh, karena pada dasarnya kalimat-kalimat tadi juga ditujukan buat diri aku sendiri yang masih berusaha yakin bahwa Tuhan punya maksud baik dibalik kekurangan dan setiap masalah yang Dia kasih ke aku. Hopefully..
Kamis, 03 September 2015 0 komentar

Welcome Home, New Gadgetfriend!

Hari ini aku punya ‘pacar’ baruuuu..
Kenalin nih, si ganteng yang kutebus dengan gaji keduabelas-ku, Zenfone 4C!





Oke, aku tau barang ini bukan barang baru mengingat dia udah lahir sejak tahun lalu. Tapi ya whatevs lah.. mau barang lama, mau barang baru, yang penting kan speknya :3

Sebenernya sebelumnya aku nggak pernah denger nama ‘Asus Zenfone’. Aku baru tau nama ini ketika salah satu temen dumayku—yang waktu itu sering ngobrol via chat di BBM—mengungkapkan betapa tergila-gilanya dia sama Asus Zenfone 5, dan dia kepengen banget punya. Karena penasaran, akhirnya aku browsing. Pengen tau gitu, yang mana sih yang namanya Asus Zenfone 5.

Setelah browsing-browsing, baru deh aku tau bahwa Asus Zenfone Series merupakan salah satu seri Android terlaris saat itu, bahkan maybe sampe saat ini. Aku jadi ikutan ngiler Asus Zenfone juga. Beda dengan temenku yang ngiler Zenfone 5, aku justru jatuh cinta sama Zenfone Pegasus. Sayangnya Pegasus ternyata nggak masuk ke pasar Indonesia. Akhirnya pilihanku jatuh di Zenfone 4S, karena selain ukurannya yang nggak begitu besar—4,5 inch—juga karena harganya yang lebih ramah di kantongku. Mwehehe..

Daaann.. setelah penantian selama beberapa bulan, akhirnya ketebus juga. Walau duit limited sih. Andai aku nggak butuh-butuh banget, mungkin bisa ditunda. Masalahnya android Evercoss-ku yang umurnya sekitar kurang lebih setahunan itu udah menurun gitu performanya. Masa setiap data internetnya ‘on’, hape itu mati. Dan nggak cuman pas data internetnya ‘on’ aja, tapi juga saat aku nyalain kamera atau muter musik pun kadang-kadang hape itu suka mati. Kalo mau tetep hidup, charger-nya harus nyambung. Aku duga sih masalahnya ada di baterainya. Pasalnya baterainya udah obesitas gitu, macam orang kelebihan lemak. Selain itu kamera belakangnya buram entah kenapa, dan audio sound-nya naik turun (kalo ini udah jelas bukan masalah baterai).

Akhirnya putuslah hubunganku dengan si Evercoss A28B itu. Aku kasih ke ibuku. Tapi untuk sementara ini sih hape itu dipegang adikku dulu, buat main game gitu deh, coz layarnya kan emang lumayan gede. Yah, setidaknya lebih gede dari layar hape adikku. Nanti kalo aku udah beli pengganti baterainya, baru hape itu resmi jadi hak milik ibuku. Aku bakal ajarin pake BBM nanti. Mwehehe..

Well, Asus Zenfone yang aku beli emang agak melenceng dari rencana sih. Aku sempet berubah minat gitu, yang tadinya interested sama Zenfone 4S jadi interested sama Zenfone 5 Lite karena kapasitas baterai dan ukuran resolusi kamera yang lebih besar. Toh, perbedaan harganya nggak jauh-jauh banget.

Jadilah hari Rabu itu—tepatnya kemaren—aku mengunjungi salah satu toko seluler terbesar di bumi Cirebon ini sepulang kerja. Begitu menginjakkan kaki di depan pintu masuk toko, aku disambut dengan seorang cowok berkemeja hitam kotak-kotak. Dia nyamperin aku dan bertanya, “Cari hape apa, Teh?”
“Asus ada?” tanyaku balik.
“Oh ada.” Kemudian cowok itu nganter aku kedalem toko. Dari stylenya sih aku duga dia itu supervisor toko. Coz pakaiannya berbeda dengan rekan-rekannya yang mengenakan kaos atau kemeja yang masing-masing mengusung berbagai nama brand perangkat seluler yang mereka promosikan.

Eh, pas nyampe didalem toko dan nyebutin tipe Asus yang aku cari, aku malah dihadapkan sama hape-hape Zenfone second. “Wah, Zenfone-nya kosong, Teh. Adanya ini aja,” katanya. Kemudian seorang cowok dengan gaya bicara agak feminin yang berdiri disebelahku nyambung, “Pake O*** aja, Teh. Lebih bagus lho. Processor-nya aja udah quadcore. Tapi harganya nggak beda jauh kok, malah lebih murah..,” katanya. Dari bordiran nama brand di kaos bagian dada kanannya sih aku menyimpulkan bahwa cowok itu pastilah SPB dari brand yang dia sebut tadi.

Kemudian dua orang itu membawaku ke rak-rak dimana produk-produk brand O*** dipajang. Trus mulai deh mereka menyebutkan kelebihan-kelebihan dari produk itu sambil mempraktekannya, dan membujukku buat beli. Kebetulan tiga rekan kerjaku—Mas Aris, Mas Daus, dan Pak Zuhri—pake produk ini. Lumayan bagus sih.. Aku suka dengan cara kamera dari produk itu mengambil gambar kita. Kita cukup bilang ‘cheers’, dan secara otomatis, kameranya nge-shoot. Selain itu, kalo kita males ngetik pesan, kita cukup ngomong aja didepan mikrofon produk tersebut, dan secara otomatis, apa yang kita omongin itu muncul di layar dalam bentuk teks. Keren, emang keren. Tapi karena tiga rekanku pake produk itu, aku juga jadi tau kelemahannya, dan apa-apa aja yang sering dikeluhkan dari produk itu. Makanya aku kurang tertarik. Aku tetep prefer ke Asus. Lagipula dari awal aku cuman fokus browsing mengenai Asus, mulai dari harga, kelebihan, kekurangan, sampe testimoni-testimoni para user-nya. Well, aku emang selalu melakukan ini sebelum membeli gadget. Biar nggak nyesel gitu. Jadi nggak bisa asal beli produk yang lain. So, aku pamit deh dari tempat itu. Kasian juga dua mas-mas itu udah ngomong sampe mulutnya berbusa-busa gitu. Mana mereka sempet banting-banting hape itu lagi (maksudnya buat ngebuktiin kalo produk itu kuat, anti retak dan goresan).

Heran deh.. Di toko seluler sebesar itu kok Asus Zenfone aja nggak ada? Menurutku nggak sesuai dengan nama tokonya yang jelas-jelas mengesankan bahwa toko itu merupakan toko seluler serba ada (I can’t mention its name, Guys. sorry..). Setelah dari toko itu, tadinya aku mau ngunjungin toko seluler yang lain. Tapi karena keburu males, plus karena saat itu aku lagi kurang enak badan, akhirnya aku memutuskan buat pulang.

Dan hari ini.. baru deh kesampean beli Zenfone. Siang tadi, aku pergi dianter adik. Sebelumnya kami ke Asia Supermarket dulu buat beli tissue titipan ibu dan makanan kucing. Setelah itu, baru deh kami ke toserba di sebelahnya buat nyari si Zenfone 5 Lite. Ternyataaa.. nggak gampang nyarinya. Yang aku temuin disana justru Zenfone 4C. Nggak tertarik, kami ke PGC. Eh, di PGC malah nggak ada sama sekali. Akhirnya kami meluncur ke Grage Mall.

Aku dan adik masuk ke Grage Mall dari pintu masuk Grage Mall yang menghadap langsung ke parkiran motor. Kami jadi nggak perlu jalan terlalu jauh deh. Kami jalan luruuuus aja dari situ, sampe kemudian seorang mbak-mbak berkerudung yang berdiri didepan sebuah toko nawarin, “Cari apa, Mbak? S*ms**g, O***, Asus..”
Kami langsung berenti disitu. “Zenfone 5 Lite, ada?”

Langsung deh, si pemilik toko yang berwajah Chinese itu ngeluarin produk yang aku cari. Tapi pas aku liat kardusnya kok tertera ‘Asus Zenfone 5’, nggak ada ‘Lite’-nya. Harganya pun berbeda jauh dengan yang disebutkan di internet. “Ini Zenfone 5 yang biasa ya? Bukan yang Lite?” Tapi si pemilik toko malah keukeuh bilang bahwa itu adalah produk yang sama. Padahal jelas-jelas dari spek aja mereka berbeda, dan harga Zenfone 5 Lite nggak nyampe dua juta seratus ribu seperti yang mereka tawarkan. Akhirnya karena barang yang dicari susah banget ditemuin, aku memutuskan buat menebus Zenfone 4C.

Bisa dibilang Zenfone 4C ini kembarannya Zenfone 4S. Hanya aja speknya lebih bagus. Kapasitas baterainya lebih besar (nggak beda jauh dengan Zenfone 5) dan bersifat removable (beda dengan baterai Zenfone 4S yang non-removable). Produk ini tersedia dalam dua pilihan ukuran RAM. Ada yang 1 GB dengan harga sejuta dua ratus ribu, dan ada yang 2 GB dengan harga sejuta lima ratus. Aku ambil yang 2 GB.

Asli, aku suka banget sama kameranya, terutama kamera belakang. Tajem dan bening gitu. Udah gitu fitur bawaannya banyak. Nggak cuman filter, tapi ada juga fitur GIF, fitur selfie, depth of field, de el el.. Bahkan fitur panorama—yang kata karyawan toko tadi itu nggak tersedia di produk ini—ternyata ada. Dan ternyata aku juga nggak perlu-perlu banget beli antigores. Salah kalo karyawan toko tadi bilang bahwa hape ini butuh antigores, karena hape ini udah punya lapisan oleophobic coating di layarnya sebagai lapisan pelindung :D


So, the point is.. produk ini cukup memuaskan! Yang mengecewakan cuman jenis font-nya yang nggak bisa ganti secara keseluruhan—selain di root—dan paketnya yang nggak menyediakan earphone. Dengan kata lain, earphone-nya harus beli sendiri (=__=’) Whatever, tunggu tiga minggu setelah ini. Semoga nggak ada penyesalan yang berarti setelah aku menebus hape ini.
Senin, 17 Agustus 2015 0 komentar
Bahagia itu simple. Seperti kemaren siang.. Aku bisa bahagia hanya dengan menghabiskan sebagian uangku untuk membeli beberapa novel. Sebenernya tadinya niatku hari ini nggak gitu sih..

Well, aku dan Rohayati emang udah niat pengen belanja novel sejak bulan lalu. Karena kesibukan masing-masing, makanya baru kesampean sekarang. Ini aja tadinya aku mau ngebatalin acara kami itu, coz rencananya pagi itu, aku, ibu, dan adek mau ke Perumnas buat ikut acara Jalan Sehat. Kebetulan, daerah tempat tinggal nenekku itu kalo ngadain acara Agustusan hadiahnya selalu bagus-bagus, makanya kami tertarik buat ikut berpartisipasi dalam acara mereka walaupun kami bukan warga sana. Mwehehe..

Tapiii.. akhirnya kami malah nggak jadi ke Perumnas pagi-pagi gara-gara aku dan adek bangun kesiangan. Hahaha..
Salah aku juga sih, coz malem sebelumnya aku begadang sampe jam tiga buat re-watch anime Death Note di laptop.

Karena gagal ke Perumnas pagi-pagi buat ikut Jalan Sehat, akhirnya siang itu aku maen bareng Rohayati. Kami jalan-jalan ke Arjawinangun. Yak, kami berburu novel! Beberapa bulan yang lalu, aku ke Arjawinangun pertama kali buat berburu buku itu dianter Mas Ukai, dan setelah itu aku berjanji bakal ke tempat itu lagi di bulan Juli. Eh, nyatanya malah telat sebulan. Aku baru bisa kesana lagi justru di bulan Agustus ini.

Ngajak Rohayati berburu buku di tempat yang jauh ternyata bukan ide bagus. Dia nggak terbiasa nempuh perjalanan jauh pake mobil. Walhasil, dia jadi mual-mual selama perjalanan. Aku jadi ngerasa bersalah juga sama dia. Gimana enggak? Sebagai temen deket harusnya aku ngerti kondisinya (=__=') Ya emang sih, Sebelumnya aku udah bilang ke dia kalo perjalanannya bakal jauh banget. Hanya aja Rohayati  nggak nyangka kalo perjalanannya bakal lebih jauh dari yang dia perkirakan. Makanya dia menyanggupi waktu aku peringatkan, "Kamu yakin mau kesana? Perjalanannya jauh banget lho.."

Sesampainya di lapak buku itu, mata kami langsung seger ngeliat deretan buku-buku di rak. Sayangnya pilihan bukunya nggak sebanyak waktu aku kesana bareng Mas Ukai. But no problem, seenggaknya masih ada pilihan buku yang menarik disana. Masing-masing dari kami beli empat buku. Rohayati beli novel Magic Hour, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, dan dua buah buku psikologi Muslim. Aku lupa judulnya apa. Sementara aku sendiri beli buku Rindu dan Bulan-nya Tere Liye, Ayah-nya Andrea Hirata, dan Koala Kumal-nya Raditya Dika. Yeaaayy.. akhirnya bisa nambah juga koleksi buku Raditya Dika-ku. Mwehehe..

Untuk delapan buku itu, kami cukup ngeluarin uang seratus tujuh puluh ribu doang. Aku juga sempet minta nomor kontak penjualnya. Bukan, bukan mau PeDeKaTe, tapi maksudnya biar aku bisa order buku ke beliau. Selain itu, kalo mau besok-besok mau kesana lagi kan aku bisa nanya dulu apakah beliau jualan atau enggak. Kan nggak lucu kalo udah jauh-jauh kesana, eh pas nyampe ternyata lapaknya tutup. Masalahnya ongkos sekali jalan bisa nyampe sepuluh ribu gitu lho.. Sayang uangnya.

Setelah belanja buku, kami mampir sebentar ke Indomaret buat beli minum, habis itu baru deh pulang. Huaaahh.. puas banget rasanya. Nggak sabar banget buat menelanjangi buku-buku itu satu persatu, coz untuk saat ini aku nggak bisa menelanjangi mereka dulu karena petualanganku sama Peter Pan belom selesai. Aku masih harus menyelesaikan setengah lagi dari buku itu.

***

Bahagia itu simple. Seperti malam ini.. Aku bahagia bisa ngeliat dia lagi setelah pertemuan nggak terduga di Masjid At-Taqwa dua tahun yang lalu. Ini kedua kalinya aku ngeliat dia di acara Agustusan yang diselenggarakan di Balai Pertemuan Masyarakat deket rumah nenekku. Well, kali ini aku akui bahwa aku sengaja datang ke tempat itu karena aku udah bener-bener yakin bahwa dia bakal ada disana.

Acara itu dibuka dengan pertunjukan pawai obor dan alunan instrumen lagu Nasional yang dimainkan oleh drum band dari SMKN 1 Cirebon. Pertunjukannya keren banget. Aku aja sampe merinding dengernya. Tentu aja bukan karena musik yang mereka mainkan mengandung unsur magis, tapi karena mereka memainkan lagu-lagu itu dengan sangat memukau.

Ditengah-tengah momen nikmat itu, mataku menangkap sosok itu.. Sosok dengan postur tubuh tinggi ramping dan berkulit putih dengan senyum secerah matahari pagi itu. He was just.. perfect, with his black shirt. Dan kupikir, statement dia di akun Instagram-nya yang secara nggak langsung mengungkapkan bahwa dia nggak seganteng dulu lagi itu salah, karena nyatanya dimataku dia tetap menarik apa adanya. Yang membedakan mungkin cuma kumis tipis yang mulai tumbuh diatas bibirnya itu, nemenin janggut tipisnya yang udah dia pelihara lebih dulu sejak beberapa tahun yang lalu.

Dan, yak.. Kupu-kupu di perutku beterbangan lagi. Dia berdiri beberapa meter disebelah kananku. Entah dia sadar atau enggak ada aku disana, karena mungkin dari tempatnya berdiri, sosokku terhalang sepupuku yang waktu itu duduk di sebelah kananku. Mungkin iya, dia tau.. karena kami sempat bertabrakan pandangan selama sepersekian detik, itupun kalo benar aku yang dia liat waktu itu.. dan kalo dia belum lupa sama aku.

Hanya aja yang bikin aku sedikit kecewa adalah, dia nggak perform. Well, aku emang berharap banget di acara itu dia bakal nyumbangin suaranya lagi kayak tahun 2010 lalu. Main gitar diatas panggung, dan bersinar layaknya superstar. Ah, I really wanna see that again. Sayangnya kali ini dia cuma bertindak sebagai penonton. Hanya aja dia bukan lagi penonton yang slengean kayak di jaman-jaman sekolah dulu—jelalatan, loncat-loncat, joget, teriak-teriak—layaknya penonton konser. Sebaliknya, dia anteng banget di tempatnya berdiri sambil menyilangkan tangan didepan dada. Bahkan ketika tiga orang dancer cewek mempertunjukan dance Heavy Rotation dan para penonton cowok teriak-teriak ala fans JKT 48 aja dia tetep kalem, sambil sesekali tersenyum lebar ngeliat tingkah temen-temennya.

Ah, senyum itu.. Aku bahagia bisa liat senyum itu lagi.. Jenis senyum yang bisa mengundang orang lain buat ikut tersenyum juga :)

God.. Aku dosa nggak sih? Aku nggak mandang dia lebih dari tiga detik kok, coz aku sadar kalo itu dilarang. Lagian aku udah cukup bahagia hanya dengan ngeliat senyumnya aja.
Jumat, 31 Juli 2015 0 komentar

Nightmare

Entah ini keberapa kalinya aku memimpikan sesuatu yang bikin aku was-was setiap menjelang tidur malem. Tapi kalo mimpi itu berbau-bau makhluk gaib dan bikin parno, ini yang kedua kalinya.

Entah jam berapa aku merem buat tidur. Yang aku inget, ketika merem itu posisi aku adalah tidur menyamping ke sebelah kiri dengan kedua tangan memeluk guling, Chibi, dan Jack. Trus aku ngerasa baru aja lelap, tiba-tiba sosok Mbak Cindy—staff Finance di kantor—muncul. Dia berbaring di sebelah kiri aku, dan dia kesurupan. Dia mencengkeram kedua tangan aku—yang aku pake buat meluk guling, Chibi, dan Jack tadi—sampe ke bahu. Nggak hanya mencengkeram, dia juga mengguncangnya, sambil menggeram, "Aaaarrgh.." Karena orang di samping aku kesurupan, aku spontan baca Ayat Kursi. Baru beberapa kata aku ucapin, sosok Mbak Cindy ilang. Semuanya gelap. Aku kayak setengah sadar gitu, tapi guncangan dan suara itu masih aku rasain dan aku denger. Waktu itu aku pikir, "Ya Allah, ini bukan mimpi!" Tapi aku nggak bisa melek, semacam ketindihan gitu. 

Setelah memaksakan diri buat buka mata, akhirnya aku melek juga, seiring dengan menghilangnya suara dan guncangan itu. Ketika aku melek, posisi aku masih sama ketika baru merem, yang menandakan bahwa aku tidur belum begitu lama. Tapi anehnya.. ranjang yang aku tidurin masih goyang! Hanya aja nggak sekeras yang aku rasain ketika makhluk didalem mimpi aku itu mengguncang bahu aku. Siapa yang nggak parno kalo kejadian kayak gitu terjadi? Aku memandang sekeliling kamar aku.. nggak ada apa-apa, dan nggak ada gempa, tapi ranjang aku goyang. Damn!

Jam menunjukkan pukul satu kurang waktu itu. Langsung aja aku play MP3 Ayat Kursi dari hape aku dan aku repeat berulang-ulang. Hal itu sukses bikin aku nggak bisa tidur lagi. Akhirnya aku BBM-an deh sama Rohayati dan Tri yang waktu itu masih melek. Ketika aku ceritain kejadian itu ke Rohayati, dia bilang kalo aku direp-rep, alias ketindihan, alias sleep paralyzed. Tapi sejauh pengalaman aku ketindihan ya, nggak ada tuh yang kayak gini. Ketindihan itu kan perasaan kaku ketika tidur, mau melek dan bangun nggak bisa. Tapi yang aku alamin malem tadi adalah : Tangan dan bahu aku serasa dicengkeram dan diguncang-guncang disertai geraman. Dan ketika bayangan mimpi aku ilang, guncangan dan suara itu masih ada, hanya aja aku nggak bisa melek. Tapi aku udah bisa berpikir, ini bukan mimpi.

Rasa parno aku berkurang sih setelah BBM-an, tapi tetep aja aku nggak berani buat tidur lagi walaupun mata aku sepet. Akhirnya aku minta ibu aku buat tidur di kamer aku deh. Haha.. Kasian sih, ibu aku udah pulas gitu, tapi mau gimana lagi? Kalo nggak gitu, aku nggak bisa tidur, dan kalo aku nggak bisa tidur, maka aku bakal bangun kesiangan (=__=')

Kejadian ini mengingatkan aku sama kejadian yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Mungkin beberapa bulan yang lalu, hanya aja kejadiannya nggak secepat yang aku alamin tadi malem. Kejadian itu sebelumnya disertai mimpi.

Yang aku inget sih aku mimpi ngobrol-ngobrol sama Mas Rizki dan Mas Aris gitu (rekan-rekan aku di kantor), dan satu orang lagi aku lupa siapa. Di mimpi itu, Mas Aris punya kemampuan kayak Parapsikolog gitu deh. Dia berkomunikasi dengan suatu makhluk yang nggak bisa aku dan dua rekan lainnya liat. Karena kami penasaran dengan makhluk yang diajak berkomunikasi dengan Mas Aris, Mas Aris pun membuka mata batin kami sehingga akhirnya kami bisa ngeliat sosok makhluk itu. Eh, ketika ngeliat sosok makhluk itu, kami malah ketawa. Apalagi Mas Rizki, dia blak-blakan bilang kalo makhluk itu mukanya abstrak. Karena nggak terima dengan celoteh kami, makhluk itupun marah dan deketin kami satu persatu. Dia menjerit dengan suara yang mengerikan. Nah, ketika makhluk itu menghampiri aku, makhluk itu menarik jempol kaki aku dan mencoba merasuki aku lewat situ. Aku berontak dan baca Ayat Kursi sekuat tenaga, dan makhluk itu menjerit.. lagi-lagi dengan suara yang mengerikan, tapi kali ini memekakkan telinga. Ngeri deh pokoknya. Dan setelah itu aku sadar dari tidur aku.

Sampe sekarang aku masih inget gimana sosok makhluk itu. Makhluk itu berupa sosok perempuan kurus tinggi dan berbaju putih panjang..





.. Tapi rambut dan mukanya kurang lebih kayak gini :


Dan suaranya itu persis kayak suara makhluk yang ngeganggu aku dengan geraman tadi malem.

Asli, aku penasaran pengen tau apakah itu mimpi atau kenyataan. Aku pengen percaya itu mimpi, tapi rasanya terlalu nyata, dan aku nggak yakin sepenuhnya kalo itu cuman mimpi, karena hal itu terjadi lebih dari satu kali dan terjadi di jam-jam yang sama. Emang sih, terjadinya itu karena aku lupa baca doa (saking ngantuknya, karena biasanya aku selalu baca doa tiap mau tidur). Jadi ya minimal dengan adanya kejadian-kejadian itu, aku jadi sadar bahwa doa sebelum tidur tuh ternyata penting banget. Selain itu penting juga yang namanya ngafalin Ayat Kursi dan nyimpen file MP3-nya di gadget, karena nyatanya mimpi / gangguan itu ilang setiap kali aku sadar buat baca Ayat Kursi. Sangat berbeda dengan mimpi buruk masa kecil aku dimana ketika aku baca doa, si setan yang ada didalem mimpi aku malah ikutan baca doa (=__=')

Yaah.. aku sih berharap besok-besok nggak ada mimpi ataupun gangguan semacem ini lagi. Hopefully..
Minggu, 26 Juli 2015 2 komentar

Sleep-Buddies

Finally, hari ini aku punya temen tidur baru. Kenapa aku bilang ‘finally’? Karena aku udah lama menginginkan dia jadi temen tidur aku, hanya aja baru kesampean sekarang. Ini dia.. namanya, Jack Skellington..




Ada yang tau siapa dia? Aku yakin banyak yang tau, mengingat dia adalah salah satu tokoh dari film buatan Disney. Yups, The Nightmare Before Christmas.

Rasanya nggak percaya bisa menemukan dia di bumi Cirebon ini, di toko kecil pula. Siang itu aku nemenin ibu nyari sprei di Pasar Kanoman. Sekalian aku juga mau cari sprei yang moifnya bendera Amerika buat di kamer aku. Oke, jangan kira aku menghianati bangsa Indonesia dengan lebih mencintai Amerika gara-gara aku beli sprei dengan motif ini. You know.. aku suka sama American English, dan aku suka sama motif benderanya yang didominasi warna favorit aku, merah-putih dengan gambar bintang-bintang. That’s all..

Oke, balik lagi ke cerita. Ceritanya kami udah dapet tuh sprei-spreinya. Aku sempet nyari bantal bulet plus sarungnya disana, tapi nggak ketemu. Setelah itu, kami beli daster buat nenek, coz setelah dari pasar itu kami mau mampir sebentar ke rumah nenek. Kelar beli daster, kami keluar deh dari area pasar.

Pas aku lagi menyapukan pandangan aku ke lingkungan sekitar, pandangan aku akhirnya terpaku pada sebuah toko souvenir kecil di seberang jalan. Tiba-tiba aja aku merasa tertarik. Yang bikin aku tertarik adalah tas-tas lucu berbentuk berbagai karakter yang bergelantungan di bagian depan toko dan boneka-boneka yang berjejal-jejal di dalem lemari toko. Jadi aku minta ke ibu aku buat mampir dulu ke toko itu.

Apa lagi yang aku cari disitu selain Jack Skellington stuffs? Aku udah cari semua hal yang berbau Jack Skellington selama beberapa tahun terakhir, dan Jack Skellington stuff yang aku punya cuman gantungan doang, yang aku beli di Asia Toserba beberapa bulan yang lalu. Harganya 13 ribu.





Aku udah cari Jack Skellington stuff yang lain di Online Shop. Banyak yang bagus sih.. Ada bantal, ada tas, ada sepatu, ada jam, ada bedcover, ada tempat hape, ada pin, ada boneka full body.. banyak lah pokoknya. Tapi kebanyakan mahal harganya. Ada yang bagus plus murah, tapi udah sold out. Haiisshh..

Balik lagi ke cerita hari ini. Aku ngintip-ngintip deh tuh kedalem toko itu. Eh, tiba-tiba aku ngeliat sepasang sendal indoor yang bagian depannya ada kepala Jack-nya. Langsung aja deh aku masuk ke toko itu dan aku samperin. Lucu sih sendalnya. Harganya 42 ribu. Tapi masa iya aku mau pake gituan di dalem rumah? Ibu juga heran kenapa aku tertarik sama sendal itu. Akhirnya aku tanya ke penjaga tokonya yang waktu itu lagi ngelayanin konsumen, “Kalo boneka yang kayak gini ada nggak, Teh?”

Dan jawabannya sungguh bikin aku excited.
“Ada,” katanya.
“Beneran ada? Yang kayak gimana?”
“Ya gimana yaa.. Pokoknya ada,” katanya.
Dengan sabar—yang disabar-sabarin—aku nungguin penjaga toko itu menyelesaikan urusannya dengan si konsumen.

Kemudian dia meminta temennya buat nyariin boneka yang dimaksud. Agak kacau juga sih nanyanya, coz si penjaga toko tampaknya nggak tau nama Jack.
“Kamu tau boneka itu nggak sih? Aduh apa ya namanya.. Itu lho yang halloween halloween gitu..” katanya ke temennya. Trus ibu aku nunjukin sendal yang ada kepala Jack-nya itu, “Yang kayak gini, Mbak.”

Trus temennya si penjaga itu nyariiin deh boneka yang dimaksud. Setelah urusan transaksi dengan konsumen itu kelar, si penjaga toko itu juga ikutan nyari. Aku berdoa aja dalem hati, “Ada dong, ada.. pleeease.. ada, ada..”
Lumayan lama juga nunggunya. Ya udah, aku liat-liat barang dagangan mereka aja.

Beberapa menit kemudian..
“Tuh, Teh.. Ada,” kata ibu ke aku.
Si penjaga toko itu turun dari tangga.. sambil bawa Jack! Aaaa.. Langsung aja aku ambil dan aku peluk dia. Ibu aku langsung komen, “Kamu suka boneka kayak gini? Nggak takut pas nanti tidur malem?” Whut? Takut? Of course not!

Lumayan mahal sih harganya, 88 ribu dengan ukuran kurang lebih 45 senti. Tapi ini lebih murah dibanding beli di Online Shop yang bisa nyampe 100 ribu. Apalagi Jack Skellington stuffs jarang banget ada di bumi Cirebon ini.
“Boneka kayak gini peminatnya sedikit,” kata penjaga toko itu.

Well, aku mungkin adalah salah satu dari segelintir orang yang berpendapat bahwa Jack Skellington adalah sosok yang cute, sementara mayoritas cewek diluar sana beranggapan bahwa dia serem dan lebih menyukai Hello Kitty, Mickey Mouse, Teddy Bear, Spongebob, atau Winnie the Pooh.

Sooo.. mulai sekarang aku tidur ditemenin dia. Eh nggak cuman dia sih, tapi ada Chibbi juga, coz kasian juga kalo Chibbi ditaro di lemari. Bisa jealous dia, kan dulu dia suka aku bawa kemana-mana, udah kayak Mr Bean dan Teddy aja. Masa iya sekarang aku tinggalin? Aku nggak mau kayak gitu.


However, meskipun sekarang aku udah punya Jack Skellington versi kontet, tapi aku masih belom berhenti nyari Jack Skellington stuffs. Jadi, buat Pembaca yang jual atau tau penjual Jack Skellington stuffs khususnya di daerah Cirebon, kabarin yak :)


Total Tayangan Halaman

 
;