Selasa, 12 Januari 2016 0 komentar
Beberapa waktu lalu sebelum hari kelulusan, aku sempet bertekad untuk kuliah lagi dan ambil jurusan Sastra Inggris di sekolah tinggi ilmu bahasa asing di kotaku, setelah awalnya aku sempat bingung memilih antara Sastra Inggris dan Sastra Jepang. Tapi setelah itu, aku kembali bimbang. Aku pengen memperdalam English skill-ku, tapi juga pengen belajar bahasa Jepang, sehingga aku memutuskan untuk ambil kursus aja, kursus Bahasa Inggris dan kursus Bahasa Jepang.

Well, dari dulu aku memang antusias banget belajar bahasa. Aku udah mulai antusias sama bahasa Inggris sejak kelas dua SD. Aku selalu terkagum-kagum setiap kali denger orang bicara pake bahasa itu. Aku yang hobi surat-suratan sama sepupuku terkadang menulis surat pake bahasa Inggris. Eit, jangan mikir berlebihan dulu. Aku menulis dengan bantuan kamus, menterjemahkan kata perkata dan bahasanya amat sangat nggak karuan :
"Hello, Gege. What news? News I fine fine only. I hope you fine too.."
*Silahkan terjemahkan sendiri*

Kemudian di kelas tiga, aku paling rajin dateng ke les Bahasa Inggris yang waktu itu belum jadi mata pelajaran wajib di sekolah. Bahasa Inggris baru jadi mata pelajaran wajib pas kelas empat, dan ini selalu jadi mata pelajaran favoritku.

Ketika masuk SMP, aku mulai ngefans sama Nidji, dan termotivasi buat memperdalam bahasa Inggris setelah denger sang vokalis berbicara pake bahasa Inggris di sebuah acara talkshow. Sejak saat itu, aku mulai iseng menterjemahkan lagu-lagu Nidji yang berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia.. masih pake kamus, dan masih nggak karuan. Misalnya aja, lagu Child :
"Aku adalah satu.. Aku adalah anak.. Aku adalah orang suci yang pawai di cinta.. Aku adalah rasa sakit.. Rasa sakit listrik.. Baut guntur dalam hujan.." -_-

Bahasa Inggris selalu jadi mata pelajaran favoritku. Aku juga selalu suka guru-guru yang mengajarnya (kecuali guru Bahasa Inggris di kelas dua SMP yang pernah menuduhku mencontek saat ulangan Bahasa Inggris cuma gara-gara murid kesayangannya di-remed, sementara aku enggak). Tapi walaupun udah lama mempelajarinya dan selalu menjadikannya sebagai mata pelajaran favoritku, aku nggak pernah ikut les (kecuali les Bahasa Inggris di kelas tiga SD yang aku ceritain tadi), alhasil ya ilmuku masih segitu-segitu aja. Jujur, aku masih sering kesulitan menyusun kalimat panjang dalam bahasa Inggris, apalagi mempraktekannya secara lisan. Itulah kenapa aku pengen mempelajarinya lebih dalam lagi.

Di kelas satu SMP juga, aku mulai belajar bahasa Jepang. Itupun belajarnya cuma lewat radio. Saat itu, ada stasiun radio RI yang menyiarkan acara belajar bahasa Inggris setiap hari Rabu sore. PRO-2 FM namanya, sedangkan nama acaranya Moshi-Moshi. Pembicaranya adalah sensei dan mahasiswa jurusan Bahasa Jepang dari Stiba Invada. Aku selalu antusias nyimak acara ini, apalagi acaranya diselingi lagu-lagu Jepang gitu. Sambil menyimak, aku juga biasanya menulis materi yang disampaikan sama Si Pembicara. Beberapa bulan kemudian, aku lupa kenapa, aku nggak lagi belajar bahasa Jepang via radio, sampe akhirnya beberapa tahun kemudian pelajaran ini jadi mata kuliah di kampus di semester tiga dan empat.

Tapi karena belajar Bahasa Jepang di kampus hanya berlangsung selama kurang lebih satu tahun, dan mata kuliah itu cuma ada dua kali seminggu, kadang juga satu kali seminggu, maka pelajaran yang aku dan temen-temen terima masih sedikit banget. Aku belum menghafal huruf hiragana, bahkan belum mengenal huruf katakana, apalagi kanji. Makanya aku pengen banget mempelajarinya juga.

Aku pengen.. Pengen banget mulai belajar saat ini juga. But yeah, biayanya belum tersedia. Haha..
Aku nggak mungkin minta dikuliahin lagi ataupun minta les sama orangtuaku. Adikku yang baru lulus SMK aja belum sempat dikuliahin, masa aku yang baru wisuda minta kuliah lagi. Nggak adil juga kan..

Saat ini aku masih belum bekerja lagi pasca resign bulan November lalu. Aku butuh ijazah D3-ku. Aku penasaran pengen melamar kerja sebagai Librarian di sekolah elit di dekat rumahku. Sebuah pekerjaan yang aku yakin bakal membuat aku nyaman. Gimana enggak? Dengan menjadi Librarian, aku bakal dikelilingi banyak buku dari dalam maupun luar negeri—mengingat sekolah itu adalah sekolah bertaraf internasional. Selain itu, orang-orang internal di sekolah itu juga sehari-harinya menggunakan bahasa Inggris buat berkomunikasi. Kalo aku bekerja disana, aku juga bisa sekaligus mengasah English speaking skill-ku. Kemudian upah kerjanya bisa aku pake buat ambil les. Huaaahh..

Sayangnya pihak kampus belum mengundang aku dan temen-temen alumni seangkatanku buat ngambil ijazah itu. Makanya sekarang aku cuma bisa nunggu, walaupun rasanya bosan banget di rumah seharian. Mau melamar kerja, tapi aku nggak Pe-De kalo melamar kerja dengan ijazah SMA, apalagi melamar pekerjaan di sekolah yang aku sebutkan tadi.
Tahun lalu, aku sempat bermimpi bisa mulai ambil les di sekitar pertengahan tahun inki, tapi kalo ngeliat kondisi sekarang, kayaknya sangat mustahil kalo aku bisa kuliah ataupun ambil les tahun ini. That's why, aku berpikir.. kayaknya untuk sekarang-sekarang ini lebih baik aku belajar otodidak aja kali ya..

Iya. Aku pengen cepet fasih berbahasa Inggris dan bisa berbahasa Jepang, tapi aku nggak bisa nunggu lama untuk bisa ambil les. Toh, sambil nunggu ijazah, aku punya banyak waktu luang buat belajar. Aku juga punya buku-buku, materi yang didapat selama kuliah, dan kamus. Internet pun punya semuanya. Aku bisa belajar dari itu semua. 

OK then..
Gitu aja. Mulai besok aku mau belajar. Wish me luck ^^
Rabu, 06 Januari 2016 1 komentar

TV SERIES : Gangaa. Kisah Gadis India Memperjuangkan Hak Asasi Wanita dan Kasta Rendah

Siapa sih yang nggak pernah nonton Opera Sabun alias Serial TV alias Sinetron? Seenggaksuka-enggaksukanya seseorang sama sinetron, pasti pernah deh setidaknya nonton satu dua kali. Apalagi cewek dan mereka yang punya tivi, tentu saja.

Aku sendiri udah lama kenal sinetron. Aku nggak inget kapan kenalannya, yang jelas aku udah mulai nonton sinetron sejak jauh beberapa tahun yang lalu.. ketika aku masih menyebut semua acara tivi adalah 'film', apapun jenis acaranya (e.g : Film Berita, Film Gosip, Film Ceramah, Film Konser, Film Adzan, etc..); ketika aku masih berpikir bahwa adegan makan yang aku liat di tivi itu bohongan (karena ibuku pernah bilang bahwa semua adegan didalam film itu cuma akting dan nggak nyata), dan ketika aku masih belum bisa membedakan antara 'nikah' dengan 'kawin'. *WTF?!*

Itu karena pada waktu itu, tivi masih dikuasai orangtuaku, khususnya ibu. Seperti ibu-ibu pada umumnya, ibuku suka nonton sinetron. Aku bahkan masih inget beberapa judul sinetron yang dulu sering kami pantengin, baik itu sinetron dewasa (e.g : Cinta Terbagi Lima, Tujuh Tanda Cinta, Rahasia Perkawinan, Melodi Cinta, etc), maupun sinetron anak-anak (e.g : Saras 008, Panji Manusia Milenium, Indera Keenam, Bidadari, etc).

Tapi hobi kami menonton sinetron itu menguap sejak sinetron nggak lagi menjadi acara tivi yang layak tonton. Bukan hanya karena ceritanya yang selalu terlalu klise (anak ketuker, rebutan harta, rebutan pacar, etc), tapi juga karena sinetron-sinetron sekarang banyak yang mengesampingkan kualitas, dan minus pesan positif. Malah ada yang jalan ceritanya nggak konsisten. Judulnya A, tapi ceritanya B.

Kami nggak lagi nonton sinetron. Apalagi aku, yang lebih cenderung 'anti' sama sinetron. Aku bahkan lebih suka menyebutnya 'SHITnetron'.

But.. Belakangan ini ada satu sinetron yang sedang aku dan keluargaku gandrungi. Setiap jam setengah satu siang, kami selalu siap didepan tivi dengan nggak sabar menunggu acara Liputan 6 Siang selesai, hingga kemudian akhirnya layar menampilkan sebuah judul dengan latar belakang sosok seorang gadis kecil cantik berambut panjang dan berpakaian putih yang tengah berlari sambil tersenyum lebar.

'Gangaa', judul sinetron itu. Dilihat dari judulnya aja, udah keliatan kan kalo sinetron ini bukan sinetron Indonesia. Yup, memang bukan, melainkan sinetron India. Well, sebenernya agak aneh sih kalo menyebut ini sebagai 'sinetron', lebih cocok 'TV series'. But whatevs! Toh keduanya sama aja. Haha..




Menurutku, kisah dalam sinetron ini berbeda dari yang lain. Menceritakan tentang seorang gadis yang hidup menjanda sejak kecil. Waktu nonton episode-episode awal, aku sempet berpikir, "Ini sinetron India apa banget sih. Aneh banget. Kecil-kecil kok udah kawin," begitu waktu layar menampilkan seorang anak kecil dengan balutan pakaian pengantin wanita India. Rasanya enggan banget buat nonton, apalagi drama India itu kan terkenal dengan banyaknya scene nyanyi-nyanyi dan joget-joget gitu.

Suatu hari aku iseng ikut nimbrung ibu dan adikku nonton sinetron ini. Namanya juga cuma iseng, nontonnya pun nggak fokus. Aku sibuk dengan smartphoneku waktu itu. Entah episode keberapa yang tayang waktu itu, yang jelas masih episode-episode awal dimana gadis kecil bernama Gangaa—yang notabene adalah pemeran utama dalam kisah itu—dikejar-kejar oleh beberapa wanita dewasa—bahkan bisa dibilang tua—yang semuanya berpakaian putih seperti dirinya. Cerita masih tampak konyol bagiku karena adegan kejar-kejaran satu lawan keroyokan itu terjadi cuma karena si gadis kecil itu nggak mau memotong rambutnya yang panjang tergerai itu. Tapi lama kelamaan, cerita yang awalnya tampak konyol bagiku berubah menjadi seru dan bikin penasaran.

Ternyata anggapanku salah, Readers. Drama India yang satu ini bukannya aneh, melainkan unik. Ya seperti yang udah aku sebutkan tadi, ceritanya berbeda dengan yang lain. Coz ketika kebanyakan drama  mengangkat kisah tentang cinta, persahabatan, atau keluarga, tapi drama ini mengangkat kisah tentang isu sosial perbedaan kasta dan pemasungan hak asasi wanita.

Alright, sebelum aku uraikan sinopsis dramanya, terlebih dahulu, aku perkenalkan dulu beberapa tokoh utama dari serial ini.


Ruhana Khanna, as Gangaa

Cantik dan imut. Itulah kesan pertama yang tampak dari tokoh utama yang satu ini. Usianya memang masih sangat muda, tapi jangan salah, dia ini kecil-kecil cabe rawit lho. Gangaa berbeda dengan anak kecil pada umumnya. Nggak hanya cerdas, dia juga tangguh, bijak, jujur, dan pemberani. Terkadang ia sangat keras kepala dan cerewet. Tapi itu semua karena ia memiliki pendirian yang teguh. Ia percaya bahwa semua manusia memiliki derajat yang sama di mata Tuhan. Itulah kenapa, ia nggak pernah ragu untuk memperjuangkan haknya, dan juga hak mereka yang nggak diperlakukan secara adil oleh masyarakat.


Hiten Tejwani, as Niranjan Chaturvedi








Adalah seorang pengacara ternama. Kebijaksanaannya nggak diragukan lagi. Ia selalu menjunjung tinggi keadilan dan membela kebenaran. Disamping itu, ia juga merupakan suami sekaligus ayah yang baik tapi juga tegas, dan sangat menghormati ibunya meskipun seringkali sang ibu terlalu otoriter dan berbeda pandangan dengannya.








Sushmita Mukherjee, as Kanta Chaturvedi






Merupakan ibu dari Niranjan Chaturvedi. Ia sangat kolot dan menjunjung tinggi adat. Ia sangat menentang kehadiran Gangaa di rumahnya, karena ia percaya bahwa membiarkan seorang janda—apalagi dari kasta rendah—tinggal di rumahnya dapat membawa keburukan bagi keluarganya. Aneh juga sih, padahal dia sendiri juga janda.






Swar Hingonia, as Sagar Chaturvedi



Si ganteng imut yang khas dengan matanya yang sayu ini adalah anak bungsu dari Niranjan dan juga merupakan sahabat Gangaa. Ia pandai, tapi juga manja. Neneknya sayang banget sama dia. Kalo aja Sagar nggak merengek agar Gangaa diperbolehkan tinggal di rumahnya, mungkin Gangaa nggak akan tinggal di rumah keluarga Chaturvedi dalam waktu yang lama. Sagar seringkali bertengkar dengan Gangaa, tapi biar bagaimanapun mereka saling peduli satu sama lain. Setiap kali bertengkar, nggak lama mereka pasti baikan lagi. Manisnya.. ^^



Gunguun Uprari, as Madhvi Chaturvedi






Wanita berparas cantik nan keibuan ini merupakan istri dari Niranjan. Sebagai seorang ibu, ia juga sangat menyayangi anak-anaknya. Ia bahkan menganggap Gangaa seperti anaknya sendiri. Selain itu, Madhvi bukan hanya ibu yang baik, tapi juga merupakan seorang istri yang patuh pada suami dan juga menantu yang sangat menghormati ibu mertuanya.









Vedant Sawant, as Phulkit Chaturvedi


Ini nih, tokoh yang diidolakan para audiences remaja cewek. Yah, nggak heran sih, sebab Phulkit memang punya tampang cukup good-looking dan postur tubuh yang tegap. Belum lagi senyumnya yang manis itu. Haisshh..
Anyway, Phulkit merupakan putra sulung dari Niranjan Chaturvedi dan Madhvi, yang berarti merupakan kakak dari Sagar. Phulkit memang nggak pintar secara akademik seperti adiknya, tapi ia cerdik. Ngerjain orang, bohongin orang.. dia jagonya. Nggak jarang kelakuannya membuat orangtuanya kesal. But however, Phulkit adalah abang yang baik. Dia nggak pernah tuh iri sama Sagar meskipun adiknya itu lebih dimanja sama orangtuanya. Dia juga cukup sering membantu Gangaa apabila ia tengah menghadapi kesulitan.


Rakhee Tandon, as Prabha


Audiences pasti setuju kalo aku bilang Prabha adalah tokoh utama paling nyebelin di serial ini. Senyebelin-nyebelinnya Nenek Kanta, Prabha jauh lebih nyebelin. Ia adalah adik ipar Madhvi yang kerjaannya menghasut dan memfitnah. Dia selalu membicarakan hal-hal buruk dan sangat cerewet. Prabha paling senang kalo keluarga Chaturvedi ribut, itu seperti hiburan baginya. Kalimat yang sering diucapkannya adalah sebuah sumpah seperti, "Aku bersumpah demi handphone-ku.." atau "Aku bersumpah kalau aku berbohong, aku takkan menerima pesan lagi dari siapapun". Anehnya, Nenek Kanta seringkali termakan hasutannya.



Udah kenal sama pemeran-pemerannya. OK then, lanjut ke sinopsis.

"Cerita Gangaa berasal dari sebuah tradisi di Uttar Pradesh, India Utara. Di sana, anak perempuan dinikahkan di usia dini untuk mempererat tali persaudaraan, memperbaiki ekonomi keluarga, dan menghindari kejahatan. Suami Gangaa meninggal, dan ia harus menjalani hidup sebagai seorang janda. Sesuai tradisi, seorang janda hanya boleh memakai baju putih dan mengemis makanan. Mereka tidak boleh bekerja, sekolah maupun bermain."

Begitulah bunyi sinopsis yang dibacakan oleh narator setiap awal acara. Awalnya, aku dan keluargaku pikir, kisah dalam drama ini merupakan kisah nyata dan ada sangkut pautnya dengan sejarah nama Sungai Gangga yang terkenal di India itu. Tapi ternyata bukan.

Anyway.. Walaupun kisah Gangaa ini bukan merupakan kisah nyata, seperti yang dituliskan dalam sebuah postingan di jadwaltelevisi.com, kisah ini diangkat dari kehidupan nyata, dimana ada ribuan anak di India yang mengalami hal serupa dengan tokoh Gangaa dalam drama ini. Di India, wanita yang menikah atau anak yang dinikahkan kemudian menjadi janda akan dikutuk dan dikucilkan. Menurut kepercayaan mereka, melihat wajah janda—baik yang dewasa maupun anak-anak—di pagi hari akan membuat mereka terkutuk seumur hidup. Lebih tragisnya lagi, karena dikucilkan, ketika mereka meninggal pun banyak yang mayatnya nggak dikubur secara layak. Mereka pun dilarang berambut panjang, dilarang memakai perhiasan, dan harus mengenakan kain sari warna putih untuk membedakannya dengan wanita-wanita lain yang belum menikah ataupun masih bersuami.

Selain itu, seorang janda dari kasta terendah di India nggak diijinkan menikah lagi. Kalopun dia menikah lagi, sangat wajar kalo nantinya si suami baru akan melakukan kekerasan domestik terhadap istrinya. How terrible! Apalagi hal seperti ini masih sering terjadi disana meskipun udah banyak relawan yang memperjuangkan hak-hak wanita yang tertindas seperti ini.

Nah, dalam drama ini, Gangaa kecil dikisahkan berasal dari Kasta Sudra, yakni kasta paling rendah di India. Ia dinikahkan ayahnya di usia yang masih sangat belia, 5 tahun. Malangnya, ayah dan suami Gangaa meninggal saat perang saudara terjadi. Gangaa bahkan belum sempat melihat wajah suaminya.

Karena ditinggal suami, Gangaa pun menyandang status sebagai seorang janda muda. Dalam usia semuda itu dia harus menghadapi tekanan dari masyarakat sekitarnya. Dia nggak bisa lagi bermain dan bersekolah seperti layaknya anak-anak seusianya. Gangaa bahkan terpaksa harus hidup di pondok janda bersama para janda yang usianya jauh diatasnya.

Namun ternyata tinggal bersama para wanita yang senasib dengannya itu nggak membuat Gangaa aman dan nyaman. Disana, para wanita janda itu memusuhinya dan membuat Gangaa merasa terkekang oleh banyaknya peraturan—termasuk larangan berambut panjang, sehingga Gangaa pun kabur dari sana (yang mengakibatkan kejar-kejaran yang aku ceritakan sebelumnya itu terjadi). Ketika itulah, Gangaa bertemu oleh Niranjan Chaturvedi, seorang pengacara kondang yang tegas, bijaksana, dan menjunjung tinggi keadilan. Ia juga memperjuangkan keseimbangan antara hak laki-laki dan perempuan. Oleh Niranjan, Gangaa dibawanya ke rumahnya yang besar.

Kedatangan Gangaa di rumah Niranjan disambut kurang baik oleh Kanta "Ammaji" Chaturvedi yang notabene merupakan ibu dari Niranjan. Ia melarang Gangaa tinggal di rumah itu, terlebih ketika mengetahui bahwa Gangaa adalah seorang janda dan berasal dari kasta terendah. Padahal Ammaji sendiri merupakan seorang janda, hanya aja bedanya ia berasal dari kasta yang tinggi, sehingga dia masih sedikit terbebas dari aturan-aturan janda yang terlalu mengekang dan penindasan. Namun karena Sagar, cucu Ammaji tersayang yang sebaya dengan Gangaa merengek agar Gangaa diperbolehkan tinggal dirumah mereka untuk menjadi temannya, Ammaji pun melunak, dan memperbolehkan Gangaa tinggal disana, namun tentu aja Gangaa harus menjalani berbagai peraturan yang diberikan oleh Ammaji yang sangat kolot dan menjunjung tinggi adat itu. Belum lagi Gangaa juga harus menghadapi berbagai macam fitnah yang ditujukan padanya oleh orang-orang yang nggak menyukainya.

Memang faktanya, banyak gadis kecil di India yang tertindas, namun nggak mampu berbuat banyak. Bahkan ada yang dibakar oleh massa apabila keberadaan mereka dianggap mengganggu. Tapi Gangaa dalam drama ini, bukan merupakan sosok yang cengeng dan pasrah pada nasib. Seperti yang udah aku sebutkan diatas, Gangaa memiliki karakter yang kuat, tangguh, dan selalu berjuang demi haknya. Ia juga nggak berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk mereka yang senasib dengannya.

Yup, that's why I really love this TV series! Memang sih, drama ini sering menyuguhkan konflik tak berkesudahan yang bikin kesel dan geregetan, nggak jauh berbeda dengan sinetron-sinetron pada umumnya. Tapi meskipun begitu, drama ini sarat akan nilai positif yang bisa kita petik. Makanya ketika Gangaa stop tayang selama beberapa hari, banyak pemirsa yang protes dan meminta agar drama ini lanjut tayang. Dan nggak heran pula, drama ini berhasil meraih penghargaan sebagai Favorite Programme With Social Message di Indian Television Award 2015 lalu. Ruhana Khanna pun berhasil meraih penghargaan sebagai Favorite Child Actor atas kebolehannya memerankan Gangaa kecil di drama ini.

Gangaa tayang di SCTV setiap hari pada pukul 12.30 sampai pukul 14.00. Kemungkinan episodenya bakal panjang. Denger-denger sih kisah tentang Gangaa kecil aja sampai mencapai 200 episode, dan kabarnya setelah itu bakal disambung dengan kisah Gangaa dewasa. I dunno..

Semoga aja kisahnya tetep mengalir sebagus sekarang. Dan aku sih berharap drama-drama Indonesia bisa sebagus itu, nggak cuma mengedepankan rating serta kegantengan, kecantikan, dan kepopuleran para pemerannya aja.

BTW, aku diem-diem nge-fans sama Ruhana Khanna. Dia cantik dan cute banget :)


Kamis, 31 Desember 2015 2 komentar

My New Year : 2016

Suara bledak-bleduk kembang api semakin keras terdengar sejak sekitar setengah jam yang lalu, tapi aku sama sekali nggak berminat buat ngeliat bunga-bunga api itu bermekaran di langit. Well, aku suka kembang api. Aku selalu takjub setiap kali ngeliat mereka langsung walau suaranya berisik minta ampun. Tapi malam ini rasanya males banget buat beranjak dari kasur. Rasanya kamar ini adalah tempat paling nyaman buatku saat ini dibanding tempat manapun di dunia. Tapi sesuka-sukanya aku sama kembang api, di sisi lain, aku juga menyayangkan apa yang orang-orang itu lakukan. Nggak kebayang berapa banyak uang yang ‘dibakar’ dan terbuang cuma-cuma, sementara di luar sana banyak orang yang susah-susah cari uang cuma buat makan.

Dulu, selain malam tahun baru, aku selalu merengek minta jalan-jalan sama ibu. Aku selalu pengen ngerasain rasanya jalan-jalan malam di pusat kota, berbaur sama masyarakat lainnya. Yah, sebenernya aku memang nggak suka tempat ramai. Tapi selama aku bareng sama orang yang udah sangat akrab, itu nggak masalah. Selain itu, jalan-jalan di tempat ramai pada malam hari lebih bisa bikin aku nyaman ketimbang di waktu terang. Haha.. Vampir kali. Tapi memang begitulah..

Sekarang, keinginanku buat jalan-jalan di malam tahun baru udah menguap. Cirebon udah nggak aman lagi sekarang. Gank motor nakal berkeliaran, belum lagi para begal. Mereka buas dan liar, cari mangsa nggak liat-liat, nggak peduli apa dan siapa yang mereka serang. Mereka kayak orang-orang yang nggak kenal apa itu hukum dan dosa. Aku nggak ngerti kenapa di bumi Indonesia ini semakin banyak aja manusia-manusia sebusuk itu. Meresahkan masyarakat. Semoga mereka cepet dapet hidayah. Aamiin.

Semenjak tahun 2010 menuju ke 2011, malam tahun baru seenggaknya selalu aku lewatin dengan makan malam bareng keluarga besar dari ibuku, tapi enggak untuk tahun ini. Acara malam tahun baruan bareng keluarga besar ini biasanya diadakan sama adik ibuku yang paling tua. Tapi berhubung suami bibiku itu meninggal bulan Juli lalu, keadaan ekonomi keluarga bibiku itu jadi berubah. Alhasil kalo mau ngadain acara, beliau pasti harus berpikir beberapa kali dulu mengingat masih banyak hal lain yang lebih penting yang harus dipenuhi.

Nggak seperti yang aku harapkan, tahun 2015 rupanya berjalan biasa-biasa aja, nggak seberkesan tahun 2014 dimana begitu banyak hal baru dan mengesankan yang aku peroleh di tahun itu. Walaupun good moments-nya ada, tapi rasanya hal-hal yang bikin kecewanya lebih banyak terjadi di tahun 2015.

Tahun 2015 adalah tahun terakhir aku kuliah. Jadwal kuliah nggak sepadat dulu, tapi aku malah semakin males. I dunno.. rasanya semenjak kerja, kuliah jadi nggak semangat lagi. Apalagi di semester-semester akhir, jam kuliah diadakan pada pukul lima—jam-jamnya para karyawan pulang dari tempat kerjanya masing-masing. Alhasil, tiap ngampus pasti bawaannya lapar, ngantuk, dan yang pasti capek. Selain itu, mata kuliah pada semester-semester akhir kebanyakan boring buatku. Business Plan, Statistika, Service Excellence, MICE.. Sama sekali nggak ada mata kuliah bahasa, ditambah suasana kelas yang sangat jauh berubah karena disatukan dengan anak-anak dari jurusan lain yang mostly nggak cocok dengan kepribadianku. Alhasil moment ngampus jadi moment yang nge-BT-in banget buatku.

Di bulan Mei, aku mulai kehilangan semangat kerja dan rasa nyaman di kantor karena beberapa karyawan kantor yang aku anggap penting hengkang dari tempat kerja. Belum lagi lokasi kantor yang berpindah membuat suasana kerja jadi berubah total, nggak sekompak dan sehangat dulu lagi. Bahkan kedatangan temen lamaku pada jaman SD dulu sebagai karyawan baru di perusahaan itu nggak mampu bikin semangat kerja dan rasa nyamanku di kantor kembali lagi.

Di bulan Juni 2015, aku juga menginjak umur 21 tahun. Aku kesel karena dikerjain rekan-rekan satu kantor di hari ultah. Aku bukan tipe orang yang suka jadi pusat perhatian.  Jadi walau ngerjainnya nggak keterlaluan, tapi keadaan saat itu cukup bikin aku merasa kurang nyaman. Apalagi itu pertama kalinya aku dikerjain di hari ultah.

Beberapa bulan di tahun 2015 juga aku lewati dengan menyusun tugas akhir. Betapa bulan-bulan yang penuh perjuangan, karena selama itu aku harus rela bolak-balik kampus buat bimbingan Tugas Akhir. Aku harus bolak-balik ke Batik Store buat minta Company Profile sekaligus mewawancarai karyawan disana  di sela-sela kesibukan ngantor. Aku juga harus bolak-balik perpustakaan, toko dan lapak buku buat nyari buku untuk referensi karya ilmiahku, walau akhirnya malah dapet sedikit. Dan karena cuma dapet sedikit buku referensi, aku kudu sedia banyak kuota buat download E-Book. Belum lagi malemnya aku harus perang sama nyamuk-nyamuk yang seperti nggak ada habisnya itu disela-sela penulisan Tugas Akhir. Gila deh!

Sampe akhirnya di bulan Juli, aku menjalani Sidang Tugas Akhir. Saat itu adalah ujian banget buatku. Bukan hanya karena aku deg-degan, tapi juga karena sidang itu digelar di kampus pusat di Bandung, udah gitu suasananya pun suasana bulan puasa, dan diuji langsung oleh dosen-dosen kampus pusat. Sangat berbeda dengan Sidang Tugas Akhir yang dijalani sama temen-temen seangkatanku yang udah lebih dulu menjalani sidang di gelombang pertama. Tapi syukurnya semuanya berjalan baik dan lancar.

Empat hari setelah aku menjalani Sidang Tugas Akhir di bulan Juli, tepatnya pada tanggal sembilan, om-ku meninggal dunia karena penyakit stroke dan diabetes yang dideritanya. Kabar duka itu terlalu pagi untuk kami dengar. Saat itu kurang dari jam empat subuh, aku dan keluargaku sedang sahur ketika nenek menelepon ibuku dan menyampaikan berita duka itu. Dan karena hal itu, aku dan keluarga besar ibuku melewati hari Idul Fitri tanpa almarhum om-ku itu untuk pertama kalinya. Di hari Idul Fitri itu juga, untuk pertama kalinya aku bisa bagi-bagi rejeki sama adik, orangtua, sepupu-sepupu dan keponakan-keponakanku. Kertas-kertas bergambar pahlawan itu aku masukkan kedalem amplop-amplop kecil warna-warni yang aku buat sendiri pake kertas origami. Yah, walau jumlahnya nggak seberapa sih, tapi cukuplah bikin mereka senyum.

Di bulan Agustus, long time no see, akhirnya aku bisa ngeliat kakak itu lagi—youwillknowwhoishimifyouknowmewell—di acara Agustusan. Rasanya seneng, walau aku sempat kecewa karena dia nggak nyanyi sekaligus main gitar kayak yang dia lakukan beberapa tahun lalu. Pada bulan ini juga aku mengajukan surat resign-ku kepada Mbak Ati dan General Manager perusahaan. Waktu itu memang bertepatan dengan berakhirnya kontrak kerjaku selama satu tahun di perusahaan itu. Tapi alasanku resign sama sekali bukan karena kontrak kerjaku berakhir, melainkan karena aku udah ngerasa kurang nyaman bekerja disana. Selain itu juga karena jarak kantor yang terlalu jauh. Duitku tekor cuma buat transport. Tapi pengajuan resign-ku itu nggak dipenuhi atasan karena General Manager baru aja mengajukan agar kontrak kerjaku diperpanjang. “Minimal kamu disini tiga bulan lagi deh,” kata beliau waktu itu. Akhirnya aku mengiyakan juga. Toh mereka belum punya penggantiku. Aku juga masih punya tanggung jawab buat serah terima jabatan dan membimbing Admin Purchasing penggantiku nanti.

Di bulan September, aku seneng karena bisa ngasih special gift di hari ulang tahun adikku yang ke-18 tahun. Waktu itu adikku ngiler sama Zenfone yang beberapa hari sebelumnya aku beli dan merengek minta dibelikan sama ibuku. Karena aku tau ibu nggak mungkin ngabulin permintaan adikku itu dan aku tau adikku nggak bakal berhenti minta sebelum dibelikan, akhirnya aku yang beli dan aku kasih sebagai hadiah ultahnya. Seneng deh bisa liat dia girang gitu pas nerima hadiahnya ^^

Di bulan November.. haaahh.. banyak kekecewaan yang terjadi di bulan ini. Mulai dari cuaca yang panas banget, hujan yang jarang banget turun walau udah masuk di musim penghujan, kabar nggak enak tentang kampusku, dan kabar bahwa wisuda aku dan temen-temenku harus diundur bulan berikutnya. Di bulan ini juga untuk pertama kalinya aku jalan-jalan bareng rekan-rekan kantor ke Trans Studio Bandung. Tapi tetep aja sih, ujung-ujungnya disana juga kecewa karena entah kenapa aku kurang menikmati moment­ jalan-jalan disana. Kemudian di akhir bulan, aku pamit sama rekan-rekan kantor setelah tiga bulan sebelumnya aku mengajukan surat resign-ku, dan setelah seminggu sebelumnya aku menjalani serah terima jabatan sama Mbak Pipit—Admin Purchasing penggantiku.

Finally, di bulan Desember aku dan temen-temen seangkatan di kampus resmi melepas status kami sebagai mahasiswa. Tapi berbeda dengan temen-temenku yang menyambutnya dengan suka cita, aku justru ngerasa luar biasa hampa. Hampa karena beberapa orang yang aku harapkan dateng tapi nggak dateng hari itu, hampa karena moment wisuda yang aku rasa kurang berkesan, hampa karena aku belum merasa puas atas apa yang aku dapatkan selama kuliah, dan hampa karena.. ah untuk alasan lainnya biar cuma aku dan Tuhan aja yang tau. Pokoknya bad mood banget rasanya waktu itu. But however.. aku juga seneng karena keesokan harinya dua temen baikku main kerumah, pake bawa gifts pula. Kemudian besoknya lagi, untuk pertama kalinya aku dapet kiriman paket hadiah dari seorang temen dari luar kota.

Dan malam ini, di penghujung tahun 2015 ini, rasanya nggak ada hal lain yang mau aku lakuin selain berbaring-baring di kamar sambil menulis tulisan ini (walau harus kutulis di handphone dulu sebelum akhirnya kuketik ulang di netbook karena netbook-ku ada di ruang tengah) dan menggoreskan drawing pen diatas kertas.

Harapanku di tahun 2016?
Aku berharap bisa segera menerima sertifikat D2 dan ijazah D3-ku.
Aku berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan penghasilan yang lebih tinggi dari sebelumnya, biar bisa bantu ibu dan bapak.
Aku berharap bisa ngirim adikku ke perguruan tinggi, sekaligus bisa kuliah lagi di jurusan yang aku inginkan dengan uang hasil jerih payahku sendiri.
Aku berharap bisa bikin ibu dan bapak bahagia dan bangga sama aku.
Aku berharap bisa jadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.
Dan terakhir.. harapan yang selalu aku panjatkan setiap tahun, setiap hari, setiap saat.. aku berharap KEBAHAGIAAN. Karena satu kata itu mewakili segalanya :)


Well, akhir kata.. Happy new year, Everyone :) 
Senin, 21 Desember 2015 46 komentar

Tato One Ok Rock

Setelah beberapa bulan belakangan ini aku menulis tentang One Ok Rock di blog ini, tampaknya ada beberapa penggemar mereka yang penasaran dengan arti tato di tubuh para personil One Ok Rock. Alhasil aku jadi termotivasi untuk mengorek informasi, daaaaann.. inilah yang aku peroleh..


TATO TAKA


1.       Lengan atas sebelah kanan


·         Yang paling atas itu, adalah tato berbentuk matahari dengan dua garis-garis sinarnya menunjuk ke angka 12 dan angka 1 yang berarti jam 1 tepat (one o’clock)
·         Di bawah gambar matahari itu, terdapat tato bertuliskan ‘CHAOSMYTH’. Seperti yang kita ketahui, CHAOSMYTH merupakan salah satu judul lagu One Ok Rock yang didedikasikan untuk teman-temannya

2.       Lengan bawah sebelah kanan


·         Bertuliskan :
Watch your thoughts they become words
Watch your words because they will become actions
Watch your actions for they become habits
Watch your habits they become your character
And finally watch your character because it will ultimately become your destiny

.. yang artinya ‘Perhatikan pikiranmu, ia akan menjadi kata-katamu. Perhatikan kata-katamu, ia akan menjadi tindakanmu. Perhatikan tindakanmu, ia akan menjadi kebiasaanmu. Perhatikan kebiasaanmu, mereka akan menjadi karaktermu. Dan perhatikan karaktermu, karena akhirnya ia akan menentukan takdirmu’.

Kalo diperhatikan dari jauh, tato ini berbentuk seperti sebuah tanda panah.

3.       Lengan atas sebelah kiri


Banyak tato yang tergambar disini, diantaranya adalah 4 simbol, yakni simbol hati, otak, tanda tanya dengan huruf ‘y’ didalamnya—yang berarti ‘why?’, dan sebuah segitiga dengan satu mata yang disebut-sebut sebagai simbol all seing eye. Nah, simbol-simbol inilah yang paling bikin para fans penasaran, dan beberapa ada yang salah paham dengan beberapa simbol yang tergambar disitu.  Padahal, dari letak simbol-simbol itu, keempat simbol itu merupakan satu kesatuan yang mewakili ‘pandangan, perasaan, dan pemikiran’.
·         Simbol otak, digambarkan memiliki dua sisi, yakni sisi kiri dan sisi kanan, yang berarti otak kiri dan otak kanan, dan terletak dibagian tengah atas.
·         Simbol hati, terletak di bagian bawah dari simbol otak sebelah kanan, karena seperti yang kita ketahui bahwa otak kanan bertugas mengontrol emosi atau perasaan
·         Simbol ‘?’ dengan huruf ‘y’ didalamnya—yang berarti ‘why?’ terletak di bagian bawah dari simbol otak sebelah kiri untuk mewakili pikiran atau logika
·         Sedangkan simbol all seeing eye yang digambarkan dengan simbol segitiga dan mata satu adalah simbol yang mewakili ketiga simbol di atas tadi
·         Ada juga gambar sepasang telapak tangan. Gambar telapak tangan sebelah kanan bertuliskan ‘LOVE’—cinta, sedangkan gambar telapak tangan sebelah kiri bertuliskan ‘HATE’—benci. Tangan menggambarkan keputusan seseorang. Dengan kata lain, masing-masing orang berhak memutuskan untuk ‘mencintai’ ataupun ‘membenci’
·         Taka juga memiliki tato bergambar tiga simbol petir, dan tato bertuliskan ‘TTR’ yang berarti ‘Toru, Tomoya, Ryota’
·         Ada juga sebaris tato dengan simbol-simbol berukuran kecil : gigi geraham, bintang, salib-salib, obat nyamuk bakar (?) dan apalah itu.. nggak keliatan. Nggak tau tuh artinya apaan..

4.       Lengan bawah sebelah kiri


·         Bertuliskan ‘xx.xv’ yang merupakan angka romawi dari ‘35’. Taka percaya bahwa ‘35’ adalah angka keberuntungannya.
·         Bertuliskan sebuah kutipan dari Elmer G. Letterman, “A man may fall many times, but he won’t be a failure until he says that someone pushed him”
5.       Pergelangan tangan sebelah kiri
·         Bergambar seekor kelelawar


TATO TOMOYA

1.       Lengan sebelah kanan
·         Bertuliskan sebuah kutipan, “If not us, who? If not now, when?”

2.       Lengan sebelah kiri
·         Bertuliskan “TTR” yang berarti ‘Taka, Toru, Ryota’
3.       Area dada



·         Bergambar mirip pagar gitu deh. Tomoya dapetin tato ini saat ia dan One Ok Rock tour ke Thailand. Tomoya percaya bahwa tato itu merupakan jimat yang bisa melindungi dirinya.
4.       Punggung



·         Bergambar sepasang Ganesha—salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu yang digambarkan berkepala gajah dan berperut buncit
5.       Kaki


·         Tato yang melingkar di betis sebelah kiri, dan tato yang memanjang di sekitar punggung kaki kanan itu.. entahlah artinya apaan (=__=)


TATO RYOTA

1.       Bintang-bintang di area dada


2.       Tato berbentuk mirip segitiga-segitiga di area tulang rusuknya


3.       Tato bintang bertuliskan TTT—yang berarti Taka, Toru, Tomoya—didalamnya yang terletak di salah satu lengannya
4.       Tato bertuliskan ‘STAY COOL’ di lengan sebelah kiri, dan ‘STAY FOOL’ di lengan sebelah kanan


5.       Tiga simbol petir di lengan sebelah kanan

6.       Ada tulisan ‘Kiss my bass’, dan tato bergambar buku di lengan sebelah kiri. Well, seperti yang kita ketahui, Ryota suka baca buku ^^


TATO TORU

Hah? Emang Toru punya tato?
Jawabannya adalah 'enggak', Pembaca. Coz seperti yang kita ketahui, Toru takut alias fobia sama jarum, maka nggak ada satupun tato di tubuhnya, kecuali kalo dia nge-doodle tubuhnya sendiri pake marker :v



Yup, mungkin cuma segitu yang bisa aku tuliskan. Well, sebenernya aku bukan tipe cewek yang suka sama cowok bertato. Tapi dalam hal ini beda lho ya. Mereka adalah para musisi yang aku kagumi karyanya. Jadi mau bertato ataupun enggak ya nggak masalah. That's all, One Ok Rockers. Semoga informasinya bermanfaat. Maaf kalo ada yang kurang ^^


Sumber : Pera Pera Sakura, ONE OK ROCK Wiki, dan sumber lainnya

Selasa, 15 Desember 2015 0 komentar
Mungkin dua hari lalu aku terlalu kecil hati dan egois karena memandang diriku sendiri sebagai orang paling nggak beruntung di hari wisuda (God, forgive me), tapi kemudian aku sadar bahwa there are still those who care about me.

Dua hari yang lalu, di hari kelulusan, aku sempet gigit jari karena temen-temenku nggak dateng ke acara wisudaku. Hal ini bikin aku envy berat ngeliat temen-temenku yang didatengin sobat-sobatnya dan mengutuki diri kenapa aku nggak seberuntung mereka.

Tapi kemudian aku sadar bahwa aku terlalu egois. Aku nggak ingat kalo temen-temenku masih pada kuliah dan lagi sibuk-sibuknya, berbeda dengan temen-temen dari temen-temenku yang udah pada lulus dan punya free time. Pandanganku juga sempit saat itu. Aku nggak melihat bahwa aku bukanlah satu-satunya orang yang ngerasa hampa di hari wisuda. Aku nggak melihat bahwa aku juga bukanlah satu-satunya orang yang nggak didatengin satupun temen di hari itu. Diantara raut-raut wajah bahagia temen-temenku itu pastilah ada beberapa orang yang menyembunyikan perasaan hampanya karena orangtuanya nggak bisa hadir, atau bahkan cuma bisa menyaksikan anaknya mengenakan toga dari atas sana. Mungkin ada juga mereka yang mengharapkan kehadiran temen-temennya, ataupun orang-orang yang berarti bagi mereka, sama seperti aku. Dan aku nggak sadar bahwa sebenarnya, biar bagaimanapun, aku masih beruntung karena kedua orangtuaku bisa hadir ke acara wisudaku. Aku nggak sadar akan hal itu. Aku baru menyadarinya sesaat sebelum aku tidur.

Keesokan harinya, tepatnya hari Minggu pagi, Rohayati dan Ayu dateng kerumah. Aku jelas surprised dengan kedatangan mereka yang mendadak gitu, coz biasanya mereka kalo mau main ke rumah pasti bilang dulu. Mana dateng-dateng mereka langsung nyuruh aku pake toga dan maksa foto bareng dengan keadaan penampilanku yang sangat jauh dari kata charming.

Selain itu, mereka juga ngasih aku kadoooo..
Haiishh.. kurang baik apa coba mereka? Ya ampun.. Aku udah memaklumi mereka yang nggak bisa dateng ke acara wisudaku karena mereka emang lagi sibuk. Rohayati lagi persiapan nyusun Tugas Akhir, sementara Ayu lagi sibuk Ristek. Aku udah seneng hanya dengan mereka mengucapkan selamat dan dateng pagi-pagi ke rumahku. Eh, ini malah repot-repot ngasih gifts segala. Rohayati ngasih jam tangan warna hitam, dan Ayu ngasih hijab monochrome. Gaaawwdd.. Aku nggak tau gimana caranya mereka membaca pikiranku. Sebelumnya aku emang sempet memasukkan dua item ini kedalam daftar barang yang pengen aku beli. Karena nggak terlalu dibutuhkan, akhirnya ya belum aku beli juga. Eh, nggak taunya dua temen baikku yang ngasih. Sankyuuuuu, Bestiiies.. ^^
Daaaann.. sore ini, ketika aku tengah sibuk dengan Sims City, ibu yang lagi duduk di teras memanggilku. Ada petugas JNE berdiri disana, menyerahkan sebuah bingkisan berbalut kertas coklat dan memintaku buat menandatangani tanda terima. Setelah menandatangani tanda terima dan mengucapkan terima kasih ke petugas itu, aku membaca tulisan yang tertera di kertas putih di bagian atas kotak itu.

Pengirim :
Puji Novitasari
No HP : 08xxxxxxxxxx
Jl. Ciwaruga ....

Kyaaa!! Ternyata kiriman dari Puji, temen dunia mayaku yang tinggal di Bandung. Kami bertemen di Facebook sejak jaman-jamannya aku masih tergila-gila sama My Chemical Romance. Well, dia emang bukan MCRmy sih, hanya aja dia kenal sama salah satu temen MCRmy-ku, jadi kebawa kenal deh, dan sampe sekarang aku dan Puji sering BBM-an. Beberapa minggu yang lalu, dia menanyakan alamat rumahku. Mau kirim paket, katanya. Dan baru kemarin aku tau bahwa paket inilah yang dia maksud.

Aku telanjangi bingkisan itu dari kertas coklat yang membalutnya. Adikku yang ngeliat aku menelanjangi bingkisan itu menduga kalo isinya sepatu, karena setelah aku telanjangi, yang terlihat adalah kotak sepatu. Tapi Puji nggak tau nomor sepatuku. Mustahil kalo dugaan adikku bener.

Aku buka kotak sepatu itu, dan.. Tadaaaaa..!! Sebuah Teddy-Bear dengan pakaian wisuda—plus wangi parfum! Gaaawwwdd.. kali ini aku kembali bertanya-tanya bagaimana Puji bisa membaca pikiranku. You know what? Jauh beberapa bulan yang lalu, aku meminta ibu membelikanku boneka wisuda di hari kelulusan. Lalu, satu hari sebelum hari wisuda, aku lagi-lagi minta dibelikan boneka itu ketika aku ngeliat boneka Teddy-Bear dengan pakaian wisuda digantung di sebuah toko di PGC—Pusat Grosir Cirebon. Tapi ibu menolak. Buat apa? Cuma bisa jadi pajangan. Sayang uangnya, katanya. Aku kecewa waktu itu, terlebih ketika aku ngeliat beberapa temenku menimang-nimang boneka wisuda di hari kelulusan kami. Eh, nggak taunya finally boneka itu sampe ke tanganku juga, persis seperti yang aku liat di PGC waktu itu, dan bukan karena aku yang minta, melainkan hadiah. Haisshh.. Pujiii.. Arigatou gozaimashitaaaaa..


Dan aku juga seneng karena nerima banyak ucapan dan doa dari sodara dan temen-temen, baik itu temen-temen deket, rekan-rekan kantor, dan temen-temen dunia maya. Selain keluarga, Rohayati, Putri Ayu, dan Puji, thanks a lot juga buat Gege, Tri, Dewi, Sist Tifanny, Shinta, Dini, Mbak Erna, Sist Alfi Sabila, Mbak Ayu, Mbak Pipit, Mas Zaelani, A’ Rizky, dan Sist Riany yang udah ngucapin dan mendoakan, baik itu langsung, via BBM, ataupun Instagram. Terima kasih banyak, Semuanya ^^



Total Tayangan Halaman

 
;