Senin, 22 Februari 2016 0 komentar

Lucid Dream

Belakangan ini aku lagi hobi banget baca cerita-cerita yang diposting di Wattpad, khususnya kisah-kisah Creepy Pasta. Tau Creepy Pasta kan? Creepy Pasta sebenernya plesetan dari kata ‘copy paste’, yakni istilah slang di internet untuk hal-hal yang dicopas dari sebuah situs ke situs yang lain. Tapi sesuai namanya, Creepy Pasta, maka yang di-copy paste ini adalah hal-hal yang bertema creepy atau menyeramkan, biasanya berupa cerita pendek, urban legend, atau gambar/foto yang sangat mudah untuk di-copas dan disebarluaskan. Kalo dulu, aku lebih sering baca Creepy Pasta yang di-share di fanpage Facebook. Tapi berhubung sekarang aku udah jarang banget mengakses Facebook, jadi sekarang aku lebih milih baca di Wattpad

Yaaahh.. bukannya kekurangan bahan bacaan atau apa, kenyataannya aku masih punya dua novel Tere Liye yang masih tersegel rapi di rak novelku. Aku cuma butuh bahan bacaan yang beda aja, abisnya novel yang aku punya kebanyakan bertema romance, komedi, dan keluarga.

Nah, dari sekian banyak judul kisah Creepy Pasta yang aku baca di Wattpad, ada salah satu kisah Creepy Pasta yang paling berkesan buatku, judulnya The Monkey Dream. The Monkey Dream adalah urban legend yang berasal dari Jepang. Rumor mengatakan apabila kita membaca atau mendengar kisah ini, maka kita akan bermimpi buruk atau mengalami kesialan. Ceritanya tentang seseorang yang bermimpi menumpang sebuah kereta aneh dimana di kereta tersebut, semua penumpang dibantai satu persatu dengan cara yang berbeda-beda. Orang tersebut sadar bahwa dirinya sedang bermimpi, maka ketika gilirannya untuk dibantai, dia segera memerintahkan dirinya sendiri untuk bangun dari mimpi tersebut.

Kisah itu mengingatkan aku sama Lucid Dream. Apa lagi tuh Lucid Dream? Lucid Dream adalah satu keadaan dimana kita sadar bahwa kita sedang bermimpi. Dan nggak seperti mimpi biasa yang terlihat buram, Lucid Dream biasanya terlihat sangat nyata, sehingga meskipun sedang tidur dan bermimpi, kita tetap bisa melihat, mendengar, merasakan, dan membau dengan jelas mimpi kita itu.

Aku udah cukup lama mendengar istilah Lucid Dream, hanya aja aku nggak menyangka kalo Lucid Dream bisa berdampak mematikan seperti yang dituliskan di kisah The Monkey Dream itu. Jadi, jika orang tersebut—yang dikisahkan dalam The Monkey Dream—nggak segera membangunkan dirinya dari mimpi buruk itu, dia bisa mati karena serangan jantung. Well, di dalam mimpi itu, mungkin dia mati karena dibantai di dalam kereta, tapi di alam nyata dia mati karena serangan jantung.

Aku sendiri bisa dibilang cukup sering mengalami yang namanya Lucid Dream, dan semuanya terjadi secara alami alias nggak disengaja (coz ada Lucid Dream yang bisa terjadi karena direncanakan). Tapi alhamdulillah, nggak pernah separah seperti yang dikisahkan dalam The Monkey Dream itu. Mungkin karena apa yang aku impikan nggak menegangkan kali ya, apalagi berbau pembunuhan. Haha..

Gimana sih rasanya mengalami Lucid Dream?
Hmm.. menurutku sih asik—selama itu bukan mimpi buruk—coz kita jadi bisa mengatur seperti apa mimpi kita dan bisa melakukan apapun yang nggak bisa kita lakukan di alam nyata.

Mimpi sadar yang pernah aku alami itu diantaranya kayak gini :
  1. Aku berada di sebuah bazar makanan, atau entah apa namanya. Yang jelas tempatnya lumayan megah gitu dan ruangannya didominasi dengan warna emas. Aku berjalan mengelilingi ruangan itu, dari stand satu ke stand lainnya sampe kemudian aku berhenti di deket stand pastry & bakery gitu. Aku mau beli, tapi sialnya aku nggak punya duit. Saat itu entah kenapa aku sadar kalo itu adalah mimpi. Aku pikir, “Ini cuma mimpi, jadi mencuri itu nggak salah. Nggak ada hukum disini”. Trus ya udah deh, aku ngambil beberapa roti tanpa bayar. Hahaha..
  2. Aku dikejar-kejar makhluk yang tampaknya bukan manusia.  Larinya cepet banget. Ketika itulah aku berpikir, “Ini cuma mimpi. Aku bisa terbang. Terbang.. biar makhluk itu nggak bisa nangkep aku. Ayo terbang!” Dan bener aja, aku bisa terbang dengan sendirinya, nggak pake sayap. Mimpi semacam ini adalah yang paling sering, dan asli.. paling menguras tenaga, coz setiap kali bermimpi semacam ini, aku seolah harus mengerahkan seluruh tenaga buat terbang.
  3. Kiki dan Dewi—teman masa kecilku—dan adikku menunggu aku di ruang tamu, sementara aku masih sibuk mengepak kebutuhan berkemah dan berburu kedalam ransel. Hari itu kami berencana berburu anaconda kedalem hutan (efek nonton film Thailand yang judulnya The Trek itu. WTF!? :v). Ketika mau berangkat, tiba-tiba aku kebelet pipis. Langsung aja aku pergi ke toilet. Tapi sebelum menunaikan ‘panggilan alam’ itu, tiba-tiba aku berpikir, “Jangan pipis sekarang. Ayo bangun, ini cuma mimpi. Kalo nggak cepet bangun, ntar bisa-bisa ngompol.” Untung aja aku bisa bangun. Kalo enggak.. bisa-bisa paginya aku disuruh jemur kasur (-.-“)


Well, sebenernya masih cukup banyak Lucid Dream yang aku alami, tapi mostly nggak bisa diceritain karena terlalu aneh dan gimana gitu lah kalo diceritain. Hahaha..


Ngomong-ngomong, tentang kisah The Monkey Dream itu.. aku udah baca dua kali, dan alhamdulillah nggak terjadi kesialan atau mimpi buruk apapun setelah aku membacanya. Padahal di kolom komentar banyak yang mengaku bermimpi aneh ataupun bermimpi dikejer-kejer pembunuh setelah membacanya. Yah, mungkin karena mereka terlalu menghayati kisahnya kali ya, jadi tersugesti gitu. I dunno..
Minggu, 21 Februari 2016 0 komentar

Daripada Sakit Gigi, Lebih Baik.. Enggak Sakit

“Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi..”

Tau kan lirik lagu dangdut yang terkenal itu?
Rasanya pengen banget aku teriak didepan batang hidung penciptanya, “Lebih baik sakit gigi, ndasmu!” I wonder, pencipta lagu itu mungkin nggak pernah merasakan sakit gigi itu gimana rasanya.

Udah semingguan ini tidurku nggak nyenyak. Penyebabnya nggak lain dan nggak bukan ya gara-gara sakit gigi yang extremely nyiksa ini. Selama lebih dari dua puluh satu tahun aku hidup dan merasakan yang namanya sakit gigi, for God’s sake, ini yang paling paling menyiksa. Makanya, pas inget lirik lagu dangdut itu, aku bener-bener nggak habis pikir dengan apa yang ada di kepala si pencipta lagu itu. Sakit hati masih bisa makan, Bung. Tapi sakit gigi..??

Well.. Awalnya sih cuma sakit gigi biasa—yang bisa dibilang ringan—di gigi geraham sebelah kanan. Maklum, salah satu gigi geraham sebelah kananku memang berlubang lumayan besar sehingga udah nggak memungkinkan buat dipake mencerna makanan. Ya know, dengan kondisi gigi geraham yang berlubang lumayan besar, udah pasti kalo dipake makan bakal ada makanan yang nyelip disitu, dan rasanya so damn ngiluuu banget. Hal ini memaksa aku mencerna makanan pake gigi-gigi sebelah kiri. Gigi geraham kanan yang berlubang itu awalnya cuma sakit kalo kemasukan makanan atau kalo sengaja dikorek-korek aja. Tapi beberapa hari belakangan ini sakitnya muncul tanpa kedua faktor itu, dengan kata lain muncul tanpa sebab.

Lama kelamaan, rasa sakit itu semakin menjadi. Sakit yang tadinya cuma menyerang gigi geraham, sekarang seakan-akan menyebar ke gigi-gigi tetangganya. Dan yang namanya sakit gigi, pasti kepala jadi kebawa sakit juga. Alhasil, kepalaku jadi sakit sebelah. Sejak saat itu, aktifitasku jadi bener-bener terganggu. Kalo sakit kepala atau migrain doang sih, biasanya cuma dengan tiduran atau minum kopi aja sakitnya bisa agak mendingan. Tapi dalam kasus sakit gigiku ini, nggak ada yang bisa menaklukannya selain obat pereda nyeri. Well, aku udah berusaha untuk nggak minum obat. Sebagai gantinya, aku pake koyo yang aku tempelin di pipi—mendekati mulut—sebelah kanan dan area tengkuk sebelah kanan juga (coz sakitnya nyebar sampe ke belakang kepala sebelah kanan).

Setelah ditempel koyo, sakitnya memang berkurang, tapi belum cukup untuk disebut ‘mendingan’. Alhasil selama beberapa hari itu aku jadi kayak orang yang ketergantungan obat. Setiap kali rasa sakitnya nggak tertahankan, aku minum obat. Lalu setelah khasiat obatnya hilang, rasa sakitnya muncul lagi dan memaksaku buat minum obat lagi.. Terus aja kayak gitu selama beberapa hari.

Adikku menyarankan aku buat tambal gigi. Coz berdasarkan ceritanya mengenai pengalamannya menambal gigi, setelah ditambal, giginya nggak sakit lagi. Tapi karena cerita dia pula, aku jadi enggan buat ditambal gigi. Abisnya dia bilang, sebelum ditambal, gigi bakal dibor dulu. Haisshh.. Kebayang deh ngilunya. Yah, memang sih gigi pasien bakal dibius dulu sebelum dibor, tapi tetep aja ngebayanginnya serem. Udah gitu masa dia bilang, tambalan itu cuma bertahan sementara, coz akhirnya lama kelamaan tambalan itu bakal terkikis. Kan lucu. Aku nggak mau lah kalo akhirnya harus tambal lagi untuk kedua kalinya.

Suatu sore—beberapa hari yang lalu, tepatnya aku lupa—ibu nawarin air seduhan daun sirih gitu. Aku nggak mau. Aku memang nggak suka jamu, I admit it. Trus kata ibu, “Nggak diminum, cukup kumur-kumur aja sampe tiga kali.” Ya udah deh aku mau, walaupun ragu juga sih, coz walau cuma berkumur, tetep aja bau dan rasa daun sirihnya bakal nempel di hidung dan lidahku.

Setelah air seduhan daun sirih itu siap, aku berkumur-kumur seperti yang disuruh ibu. Tentunya aku nunggu sampe airnya hangat dulu lah ya, nggak panas-panas langsung dipake berkumur gitu. Sebelum berkumur, aku tutup lubang hidungku dengan dua jari. Maksudnya biar baunya nggak tercium dan rasanya juga jadi nggak berasa gitu. Tapi berkumur dengan kondisi hidung tertutup rupanya nggak enak. Nggak bisa napaaaasss.. Akhirnya aku buka jepitan jariku di hidung, and suddenly aroma sirih langsung memenuhi lidah dan hidung.

Walau cuma berkumur, tapi ternyata berkumur dengan daun sirih itu nggak enak. Rasanya pahit banget, nggak karuan deh menurutku. Mungkin itu bakal jadi pertama dan terakhir kalinya aku nyicip air seduhan sirih. Tapi meskipun nggak enak, ternyata cara ini cukup ampuh lho buat mengurangi nyeri gigi. Beberapa waktu setelah berkumur dengan air seduhan daun sirih sebanyak tiga kali, sakit gigiku lumayan mendingan gitu deh. Yah, memang sih nyerinya nggak totally hilang, tapi cukuplah buat bikin aku berhenti nangis gara-gara sakit gigi.

Sejak saat itu, aku jadi bener-bener memperhatikan kebersihan mulut. Aku memang suka banget sama makanan dan minuman manis. Baru aja nyeri giginya berkurang, aku mulai lagi minum es, makan coklat, makan marshmallow.. Tapi setelah itu, aku pasti langsung sikat gigi.

Dua hari setelah itu, rasa sakitnya nongol lagi, apalagi setelah aku melepas koyo yang tadinya aku tempel di area tengkuk itu. Lagi-lagi aku nggak bisa ngapa-ngapain. So, hari Jum’at pagi itu, ibu nganter aku ke Puskesmas. Kondisi Puskesmas saat itu bisa dibilang penuh, dan nunggunya pun jadi lama banget. Kami baru pulang menjelang adzan Dzuhur, dan tentu aja sambil bawa obat-obat yang nggak sedikit. Haissshh.. malesin (ーー”)


Tapi yah, karena obat-obat itu juga aku jadi bisa ngetik sekarang. Yup, sekarang aku udah bisa ngapa-ngapain lagi, tidur pun udah mulai nyenyak. Tinggal nunggu saatnya buat tambal gigi aja, mudah-mudahan nggak seseram yang aku bayangkan..  ( ̄□ ̄”)
Selasa, 16 Februari 2016 1 komentar

No Plastic Bags, Please!

Sedikit terlambat aku memposting tulisan ini lantaran sakit gigi yang selama beberapa hari terakhir ini bikin aku tersiksa dan aktifitasku terbatas. Pengennya tiduran mulu, atau duduk sambil nyenderin kepala. Tapi tetep aja, sambil tiduran atau nyenderin kepala pun, aku nggak bisa ngetik. Pusing. Extremely sakit banget. I guess something in my tooth is tryna kill me! 

Nah, berhubung rasa sakitnya sedang hilang—efek minum obat pereda nyeri, mudah-mudahan nggak kumat lagi—akhirnya aku putuskan buat menulis apa yang sejak kemarin sore pengen banget aku tulis.

Kemarin sore, berita di sebuah stasiun TV swasta mengungkapkan mengenai adanya kebijakan kantong plastik berbayar. Jadi, nantinya kalo kita berbelanja di supermarket atau retail sejenisnya, kita bakal dikenakan biaya tambahan sebesar 500 IDR untuk membeli satu kantong plastik. Hal ini diberlakukan sebagai bentuk upaya menurunkan konsumsi plastik. Jadi diharapkan dengan adanya kebijakan kantong plastik berbayar ini, masyarakat bakal bawa kantong plastik sendiri dari rumah.

Pembaca berita tersebut juga mengungkapkan sebuah fakta mencengangkan bahwa Indonesia dinobatkan sebagai 'negara penyumbang sampah plastik ke laut' terbanyak kedua di dunia. Memalukan banget kan?

FYI, selama sepuluh tahun terakhir ini sekitar 9,8 miliar lembar kantong plastik digunakan oleh masyarakat Indonesia setiap tahunnya, dan dari jumlah itu hampir 95% kantong plastik menjadi sampah. Itu baru di Indonesia lho, belum di negara-negara lainnya. Kalo sampah-sampah plastik di dunia disatukan dan dibentangkan, maka itu bisa lho dipake buat membungkus bumi sampai sepuluh kali. Selain itu, pasti banyak yang udah tau kalo tanah butuh waktu 200 s.d 400 tahun untuk bisa menguraikan plastik secara alami. Nggak heran kalo sampah-sampah plastik semakin menggunung, dan karena hal ini banyak hewan yang mati karena terbelit sampah plastik yang dibuang ke lingkungan. Kalo dibakar, asap pembakaran sampah plastik bersifat racun yang bisa mengurangi tingkat kekebalan tubuh dan menambah resiko penyakit kanker. Tuh kan.. kurang serem apa coba bahaya sampah plastik terhadap bumi ini?

Anehnya, upaya pemerintah yang baik ini masih aja menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat. Kenapa sih? Kenapa harus ada mereka yang kontra? Ribet kalo harus bawa kantong plastik sendiri dari rumah? Ya tinggal bayar gopek buat beli plastik. Kan pemerintah ngasih option : Bawa kantong sendiri, atau bayar lima ratus perak perkantong. Syukur-syukur sih pada sadar buat bawa kantong sendiri dari rumah. Tapi kalo keberatan, dan masih juga keberatan dengan option kedua, wah itu sih keterlaluan namanya.

C'mon, People! Ini upaya penyelamatan bumi kita lho. Just to let you know that uang lima ratus perak yang harus kita keluarkan buat beli kantong plastik itu nggak sepenuhnya buat perusahaan retail tempat kita belanja kok. Sebagian dari hasil penjualan kantong plastik itu nantinya bakal didonasikan buat lingkungan. Jadi kok rasanya jahat banget, selama ini kita hidup di bumi, tapi melakukan hal kecil buat bumi aja susah. Ntar kalo ada apa-apa malah menyalahkan pemerintah. Padahal pemerintah udah berupaya, masyarakat yang justru kurang mendukung.

Well, kalo aku pribadi sih pro sama kebijakan ini. Sejak jaman masih aktif kuliah, aku udah terbiasa untuk nggak pake kantong plastik kalo nggak terlalu perlu. Misalnya kalo ke minimarket, kan biasanya barang yang dibeli cuma dikit, jadi ya nggak perlu pake kantong plastik. Toh aku biasa bawa tas kemana-mana, jadi kalo ditanya ribet atau enggak ya buatku sih nggak ribet. 

Soooo.. Bandung udah mulai menerapkan kebijakan ini lho. Kota lainnya kapan? :)
Minggu, 14 Februari 2016 3 komentar

Can Anybody Hear Me?

Can anybody hear me?
Or am I talking to myself?
My mind is running empty
In the search for someone else
Who doesn't look right through me.
It's all just static in my head
Can anybody tell me why I'm lonely like a satellite?

'Cause tonight I'm feeling like an astronaut
Sending SOS from this tiny box
And I lost all signal when I lifted up
Now I'm stuck out here and the world forgot
Can I please come down?
'Cause I'm tired of drifting around and round
Can I please come down?

I'm deafened by the silence
Is it something that I've done?
I know that there are millions
I can't be the only one who's so disconnected
It's so different in my head.
Can anybody tell me why I'm lonely like a satellite?

'Cause tonight I'm feeling like an astronaut
Sending SOS from this tiny box
And I lost all signal when I lifted up
Now I'm stuck out here and the world forgot
Can I please come down?
'Cause I'm tired of drifting around and round
Can I please come down?

Now I lie awake and scream in a zero gravity
And it's starting to weigh down on me.
Let's abort this mission now
Can I please come down?

So tonight I'm calling all astronauts
All the lonely people that the world forgot
If you hear my voice come pick me up
Are you out there?
'Cause you're all I've got!


[Astronaut - Simple Plan]


***


Sebenarnya aku nggak mau berpikiran kayak gini. Aku juga nggak mau menulis ini. Aku tau Tuhan nggak suka. Tapi aku nggak tau harus gimana lagi mengungkapkannya. Kalo nggak aku ungkapkan, rasanya aku mau meledak.

Aku mulai jenuh. Aku mulai muak dengan sikap orang-orang di sekitarku. Rasanya aku nggak perlu bilang siapa mereka. Cukuplah aku sebut mereka orang—homosapiens—manusia.

Sungguh, aku nggak keberatan jika orang lain menganggapku aneh. Ralat, bukan 'nggak keberatan' tapi 'nggak lagi keberatan'. Bahkan silahkan aja kalo orang lain mau bilang "Kamu aneh" didepan batang hidungku. Toh, aku sadar kok kalo aku memang aneh. Aku kekanak-kanakan. Aku garing. Aku suka mentertawai hal yang mungkin menurut orang lain nggak lucu. Aku suka mencemaskan sesuatu yang mungkin menurut orang lain nggak perlu dicemaskan. I'm a weirdo, I admit it. Aku udah kenyang dengan pandangan itu sejak dulu. Buatku itu nggak masalah selama mereka masih melihatku, mendengarku, menghargaiku..

Tapi belakangan ini aku merasa invisible banget. Manggil nggak disahut, nanya nggak dijawab, ngobrol dicuekin.. Siapa orang waras yang nggak tersinggung diperlakukan seperti itu? Apalagi diperlakukan seperti itu oleh orang yang bukan orang lain—semoga kamu ngerti maksudku. Hey, aku tau aku aneh, tapi aku bukan orang gila yang bisa kamu biarkan berkomunikasi sendirian.

Cukuplah aku nggak punya mereka yang bisa ngertiin aku. Tapi bukan berarti aku juga harus kehilangan orang-orang yang menghargaiku kan?
Senin, 18 Januari 2016 0 komentar

NOVEL : PULANG, by TERE LIYE


Sekitar tiga minggu yang lalu—tepatnya tanggal 7 Januari, aku, adikku, dan dua teman masa kecil kami—Tri dan Dewi—mengunjungi toko buku baru yang berdiri di kawasan Cipto. Hari itu Dewi baru aja mentraktir kami makan di Urban Chicken, coz di hari ultahnya—tanggal 19 Desember—lalu dia belum sempat nraktir kami. Karena letak toko buku itu nggak jauh dari tempat kami makan, makanya kami mampir ke toko buku baru yang memiliki bangunan tersendiri itu.

Toko buku baru itu jauh lebih luas dibanding toko pertamanya yang terletak di dalam salah satu mall terbesar di kota Cirebon. Kalo toko pertamanya cuma memiliki dua lantai, toko baru ini memiliki tiga lantai (nggak termasuk lahan parkir yang terletak di lantai dasar) dengan ruangan yang jauh lebih luas dan lahan parkir sendiri. Lantai satu berisi berbagai macam mainan anak dan dekorasi ruangan; lantai kedua berisi berbagai macam ATK dan alat musik; dan baru deh lantai paling atas berisi berbagai buku, kamus, kitab, dan novel. Sebelumnya aku sempat pikir, wah, dengan toko seluas ini, koleksi bukunya pasti luar biasa lengkap. Tapi ternyata dugaanku nggak sepenuhnya bener, karena di toko buku—yang kukira lengkap—ini aku tetep nggak menemukan novel Lucian karya Isabel Abedi. Padahal aku penasaran banget sama kisah tentang pria misterius tanpa masa lalu itu sejak salah satu rekan dunia mayaku menggembar-gemborkan betapa serunya novel itu dua tahun yang lalu. Jangankan novel itu deh, novel pertama My Creepy Diary karya Ayumi Chintiami aja nggak ada. Eh tapi ada novel Sybil lho. Novel yang aku idamkan sejak jaman SMA itu ternyata lebih tebal dari yang aku kira, dan baru liat label harganya aja aku udah ciut duluan. Hahaha..

Memasuki tahun 2016 lalu, aku sempat berharap bahwa novel berjudul Matahari yang disebut-sebut bakal terbit tahun ini akan menjadi novel karya Tere Liye yang pertama aku baca di tahun 2016 ini. Tapi ketika aku baru sadar sesuatu ketika aku melihat novel karya Tere Liye dengan cover berwarna tosca yang terpajang di etalase toko itu. ‘Pulang’, judul novel itu. Aku baru sadar bahwa aku belum punya karya terbaru Tere Liye yang rilis bulan September 2015 itu, makanya aku memutuskan buat menambahkan novel ini ke perpustakaan miniku.

Jadi, dua hari kemudian aku memesan buku itu kepada Bu Imas—pemilik lapak buku di depan Cirebon Mall—bersama beberapa buku karya Tere Liye lainnya. Seminggu kemudian, tepatnya hari Sabtu lalu, aku menebus buku-buku itu. Aku beli tiga buku, dan semuanya karya Tere Liye. Selain Pulang, aku juga membawa pulang Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.

Sepulang dari lapak buku Bu Imas, aku langsung menelanjangi buku itu. Pulang. Waktu pertama kali melihat judulnya, membaca sinopsis di back cover novelnya, dan membaca sedikit bagian perkenalan di bab pertama, aku sempat menebak-nebak bahwa novel ini akan bercerita tentang seorang pejuang yang pergi ke medan perang untuk melawan penjajah. Hahaha..




Tapi ternyata tebakanku benar-benar salah. Harusnya aku sadar bahwa seorang author yang aktif menelurkan karya sekelas Tere Liye nggak akan menulis kisah yang gampang tertebak seperti itu.

Lewat novel ini, Bang Tere Liye alias Bang Darwis mengajak pembaca untuk menyelami kehidupan seorang anak dari desa terpencil yang akhirnya  bertransformasi menjadi seseorang yang disegani. Jangan salah. ‘Seseorang yang disegani’ yang aku maksud bukanlah presiden, menteri, maupun pejabat, melainkan tukang pukul yang kuat dan jenius dari sebuah keluarga yang bermain ekonomi dalam pasar gelap.

Awalnya, Bujang—si tokoh utama—hanyalah seorang remaja berusia lima belas tahun yang pendiam. Ia tinggal bersama ibunya yang sangat mengasihinya dan ayahnya yang berwatak keras di sebuah rumah panggung di sebuah desa terpencil di pedalaman Sumatera. Suatu hari, desa terpencil itu kedatangan beberapa pemburu dari kota. Mereka datang untuk berburu babi hutan yang kerapkali meresahkan masyarakat. Rupanya, pimpinan pemburu itu kenal dekat dengan ayah Bujang, dan Bujang ditawarinya untuk ikut berburu.

Singkat cerita, setelah perburuan, pimpinan pemburu yang disebut Tauke Muda itu menawarkan diri untuk membawa Bujang ke kota dan menjadikan ia sebagai anak angkatnya. Ayah Bujang menyambut tawaran itu dengan senang hati. Bujang pun setuju dengan tawaran itu. Sedangkan ibunya harus terpaksa melepasnya, karena ia tau akan jadi apa anaknya di kota. Satu pesan ibunya, “Apa pun yang akan kau lakukan di sana, berjanjilah Bujang, kau tidak akan makan daging babi atau daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan segala minuman haram. Berjanjilah kau akan menjaga perutmu dari semua itu, Bujang. Agar besok lusa, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.”

Bujang tumbuh menjadi pemuda yang tinggi dan gagah. Ia dibesarkan oleh Keluarga Tong, sebuah keluarga penggerak shadow economy, yang dikepalai oleh Tauke Muda. Oleh Tauke Muda, ia dididik untuk mendalami dunia hitam—menjalani bisnis pasar gelapnya. Ia disekolahkan hingga ke perguruan tinggi, dan diberi pelatihan fisik agar menjadi petarung yang unggul. Benar-benar diperlakukan secara istimewa. Well, dari sudut pandang pembaca, hal ini pasti merupakan sesuatu yang negatif dan tercela ya mengingat pasar gelap merupakan suatu kejahatan bisnis yang merugikan banyak pihak, termasuk negara. But don’t worry, however masih banyak kok hal positif yang terselip yang bisa kita ambil dari tokoh-tokoh itu, diantaranya kesetiaan, perhatian, dan sikap pantang menyerah.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Hal ini memberikan efek seakan kita adalah Bujang, si tokoh utama dalam novel ini. Kita juga bisa merasakan perubahan karakter si tokoh utama dari waktu ke waktu lewat alur ceritanya yang maju mundur.

Aku membaca novel ini selama tiga hari. Mulai baca hari Sabtu, dan selesai baca sore ini. Membaca novel ini, rasanya seperti menonton film action. Adegan baku tembak, baku hantam, permainan pedang, dan pertarungan ala ninja berkelebat di kepalaku. Seru banget. Apalagi ada tokoh-tokoh yang menurutku unik, yakni si kembar Yuki dan Kiko. Siapa sangka bahwa dua cewek imut yang terlihat seperti turis Jepang itu merupakan pencuri kelas dunia? Gila! Kalo aja novel ini difilmkan, aku sangat mendukung, tapi seenggaknya minimal harus sebagus The Raid. I think Iko Uwais cocok berperan jadi Bujang. Hahaha.. :P

***

Berikut ini adalah beberapa quotes yang aku ambil dari novel ini :

“Kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain.”

“Hidup ini adalah perjalanan panjang yang tidak selalu mulus. Pada hari keberapa dan pada jam keberapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. Satu-dua keputusan itu membuat kita bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan.”

“Sejatinya, dalam hidup ini kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang, maka pertempuran lainnya akan mudah saja.”

“Sepanjang kita mau melihatnya, maka kita selalu bisa menyaksikan masih ada hal indah di hari paling buruk sekalipun.”


“Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran.”

Total Tayangan Halaman

 
;