Minggu, 07 Mei 2017 0 komentar

MYSTIC WAVE, Si Akun Instagram Yang Bikin Kepo

Yak, kalau beberapa waktu yang lalu aku nge-share tentang akun-akun sosmed yang suka berbagi video-video gore dan disturbing, kali ini aku mau nge-share tentang sebuah akun Instagram yang bikin aku SOOOOOO DAMN CURIOUS tentang siapa sih orang dibalik akun ini?

Mystic Wave (@mwv.mystic), namanya, merupakan sebuah akun Instagram yang banyak membahas tentang hal-hal mistis dan dikendalikan sama admin 'gaib' alias misterius, alias nggak pernah 'buka kedok' apalagi menampakkan wujud. Well, akun ini memang bukan satu-satunya akun yang dikendalikan sama admin yang enggan menampakkan wujud sih. Masih banyak akun-akun sejenis di luar sana yang juga punya admin 'gaib' kayak dia. Tapi.. yah, entahlah. Aku merasa akun ini beda aja dari akun-akun misterius kebanyakan.

Yang bikin akun ini berbeda adalah, dia sangat anti dalam memposting sesuatu yang sekedar copy-paste. Sebagian besar dari tulisan, foto penampakan, dan cerita-cerita mistis yang dia share adalah true story yang dia terima langsung dari narasumbernya, itupun melalui proses seleksi terlebih dahulu. Jadi, cerita-cerita mistis dan foto-foto penampakan yang dia terima dari narasumber itu nggak langsung dia posting ke akunnya. Dia bakal menyeleksi cerita-cerita dan foto-foto tersebut, apakah cerita-cerita tersebut mengada-ada atau enggak, fotonya editan atau bukan.. begitulah. Terkadang dia juga menyisipkan.. well, katakanlah pembenaran mindset yang bertujuan untuk meluruskan persepsi-persepsi yang salah, misalnya tentang apa itu jin, apakah arwah penasaran benar-benar ada, apakah upacara-upacara adat itu diperbolehkan dalam Islam, de el el. Ini yang menurutku menarik, karena nggak semua admin dari akun-akun sejenis bertanggung jawab sama apa yang dia posting. Kan banyak tuh akun-akun yang memposting informasi-informasi menarik, tapi begitu ditanya sama pembaca, dia nggak bisa jawab, sedangkan Mystic Waves nggak begitu, dan ini menurutku keren banget dan sangat recommended buat para pecinta horor.

Nggak heran sih kalo banyak banget penggemar dari akun satu ini, apalagi para followers cewek yang nampaknya banyak yang jatuh cinta sama si admin meskipun si admin sama sekali nggak pernah menampakkan wujud. Apalagi pas dia melakukan live streaming. Wuuuhh.. aku lihat banyak banget followers ceweknya yang melting dan (katanya sih) gagal fokus gara-gara denger suara si admin yang (katanya lagi) seksi. Sementara aku, meskipun ngefans juga, tapi aku sendiri lebih suka jadi silent follower. Kalo soal suara.. well, memang sih suaranya lumayan kece waktu aku dengar di live streaming tadi malam, tapi menurutku yaa nggak beda jauh sama suara penyiar-penyiar radio yang sering aku dengar. Apakah dia mantan penyiar radio? Entahlah. Yang aku tau, dia adalah seorang mahasiswa perantauan jurusan Analisis Kimia. Kalo dilihat dari tulisan-tulisannya sih, aku yakin dia bukan mahasiswa sembarangan. Melihat wawasannya yang luas dan kegemarannya membaca buku (dia bilang sering ke Gramedia tiap akhir minggu dan bisa ngasih rekomendasi buku-buku bagus), aku yakin kalo dia pasti salah satu mahasiswa yang menonjol di kampusnya.

Kalo soal tampang.. yah, aku akui aku juga penasaran. Aku udah sampaikan di awal, aku penasaran berat. Tapi di sisi lain, aku sangat mendukung keputusan si admin untuk tetap merahasiakan identitasnya. Karena apa? Pertama, menjadi misterius sangat cocok dengan tema Mystic Wave yang 'gelap'. Kedua, salah satu hal yang membuat orang lain tertarik untuk terus mengikuti adalah karena rasa penasaran. Dan seseorang yang penasaran kalo rasa penasarannya udah terbayar maka akan berkurang rasa tertariknya. Memang nggak semua orang begitu, tapi mostly yang sering aku lihat sih demikian. Ketiga, kebayang nggak sih bahayanya kalo si admin menampakkan wujud dan ternyata punya tampang good-looking? Yah, yang pasti sih dia bakal banyak yang muji dan bukan nggak mungkin bakal menimbulkan sifat takabur bagi yang dipuji. I'm sorry for saying it, tapi kebanyakan orang suka atau nggak suka pasti mengembang idungnya kalo dipuji. Selebihnya, aku yakin sih dia punya alasan baik kenapa dia 'sembunyi' gitu.

Anyway, aku menulis ini bukan dengan tujuan promosi atau gimana ya. Cuma nge-share opiniku tentang akun ini aja. Dan buat Admin Mystic Wave (itu juga kalo dianya baca), just keep your good work. Sukses terus!
Rabu, 03 Mei 2017 2 komentar
Hari ini benar-benar kusut. Lagi-lagi aku melakukan kesalahan dalam perhitungan kompensasi Sales dan Pramuniaga. Sore tadi, setelah para tenaga Marketing menerima hasil jerih payah mereka selama satu bulan, salah satu dari mereka menghampiriku dan mengajukan protes karena nominal uang yang diterimanya kurang. Memang sih, dia nggak marah, toh kekurangan itu bisa ia terima setelah aku mengajukan Berita Acara Revisi Perhitungan Kompensasi kepada Bapak Kepala Cabang. Tapi tetap aja aku merasa nggak enak. Apalagi ia berkata bahwa saat ini ia benar-benar butuh uang.

Setelah aku telusuri, ternyata kesalahan itu terjadi karena input rumus fungsi yang nggak sesuai. Aku sendiri nggak ngerti kenapa itu bisa terjadi karena sebelum Laporan Perhitungan Kompensasi Marketing itu aku serahkan kepada Staff Akunting, aku udah yakin kalo apa yang aku kerjakan itu udah benar semua. Apalagi laporan itu pun melalui beberapa tahapan dulu sebelum akhirnya ditandatangani Kepala Cabang dan uangnya cair. Hal ini benar-benar bikin mood-ku berantakan. Bukannya apa-apa. Aku bukan cuma nggak enak sama Sales yang bersangkutan, tapi juga sama Bapak Kepala HRD selaku atasan langsung. Aku juga malas kalo harus mendengar ocehan Bapak Kepala Akunting. Beliau paling cerewet, apalagi kalo ada revisi-revisi kayak gini. Lebih-lebih kalo dia pun menyalahkan anak buahnya karena dinilai kurang teliti memeriksa hasil pekerjaanku. Entah apa yang akan terjadi besok. Semoga nggak seburuk yang kupikirkan.


***

Hari ini pula dua orang tenaga Marketing dari showroom cabang mengajukan pengunduran diri mereka. Sore tadi, menjelang jam pulang, mereka menemuiku untuk mengambil dokumen jaminan mereka—ijazah asli—sekaligus pamit. Nggak tau kenapa, kok aku rada sedih ya sama kepergian mereka? Anyway.. salah satu dari mereka adalah One Ok Rocker juga, sama sepertiku. Sedangkan satu orang lainnya bukan One Ok Rocker, tapi well, entahlah.. setiap kali melihat matanya, aku seakan melihat tatapan yang bersahabat. Aku menyesal karena selama kami sama-sama bekerja di perusahaan ini, kami belum sempat berteman akrab dan ngobrol seru, meskipun rasanya sangat ingin. Nggak tau kenapa, aku merasa mereka berdua adalah orang-orang yang mungkin banget dijadikan teman baik. Haaaahh.. if only they know how I wanna hug them before they go. Will we be good friends, someday?
Senin, 24 April 2017 0 komentar

Deep Web

Aku selalu tertarik pada hal-hal berbau misterius. Apapun itu, mulai dari yang nyata sampai yang gaib, rasional maupun irasional. Seperti misalnya tentang alien dan UFO, misteri Segitiga Bermuda dan blackhole, foto-foto misterius yang terekam Google Earth, astral projection, kisah-kisah mistis dan urban legend, psikologi manusia, dan lain-lain, termasuk yang lagi banyak disebut-sebut di sosial media saat ini : Deep Web.

Berawal dari hobiku menonton film-film gore—film-film yang banyak menampilkan adegan sadis dan berdarah-darah. Pertama kali aku menonton film jenis ini adalah sekitar tiga tahun yang lalu, yakni saat adikku menyimpan film House of Wax di notebook. Awalnya kukira film hantu, eh nggak taunya film psikopat yang penuh dengan adegan penyiksaan dan pembunuhan. Memang, rasanya ngeri dan ngilu melihat adegan-adegan itu. Tapi lama kelamaan aku pikir, kok seru ya, dibanding nonton film hantu-hantuan. Lebih dapet aja gitu tegangnya. Sejak saat itu, aku malah jadi addicted sama film-film gore. Aku nggak peduli sama nasehat adikku untuk nggak terlalu sering nonton film-film semacam itu. Toh, memang nggak sering kok. Film-film gore di laptopku pun nggak sampai dua puluh, dan itupun hanya sekelas Final Destination, The Brain Man, I Saw the Devil, Rumah Dara, Pintu Terlarang, The Lesson of the Evil, dan Belenggu, belum sekelas The Human Centipede yang dilarang tayang karena konon terlalu disturbing.

Suatu hari, adikku memperkenalkanku pada sebuah nama : Deep Web.
"Coba cari di Youtube deh, banyak gambar-gambar greget, " katanya waktu itu.
Aneh memang adikku yang satu itu. Dia melarang kakaknya ini untuk menonton adegan-adegan sadis, tapi dia juga ngasih 'jalan' untuk menonton lebih banyak lagi.


Kemudian aku carilah Si Deep Web di Youtube, seperti yang disebut-sebut adikku. Awalnya kukira Deep Web itu semacam nama fanspage, nama akun Youtube, atau nama sebuah web, tapi rupanya aku salah besar. Aku sempat berharap keyword 'Deep Web' yang kumasukkan di kolom pencarian Youtube akan mengantarku ke deretan video-video 'menarik', tapi nyatanya yang aku temukan justru video-video yang menampilkan foto-foto aneh (creepy lebih tepatnya) dan juga penjelasan apa itu Deep Web.

Deep Web merupakan bagian dari World Wide Web namun nggak termasuk dalam web-web yang dapat dicari dengan mudah dengan search enginee seperti Google, Yahoo, dll. Dengan kata lain, kita nggak bisa mengakses situs-situs tersebut dengan sekedar browsing. Kenapa? Karena Deep Web adalah sarang iblis! Bukan iblis macam jin dan dedemit lho ya, melainkan para pelaku kriminal kelas kakap. Well, untuk informasi lebih jelasnya, silahkan baca Wikipedia atau artikel lain yang khusus membahas tentang ini ya. Bisa panjang kalo aku bahas detail disini, apalagi dengan pengetahuanku yang terbatas. Haha..

Intinya, di Deep Web ini kita bisa menemukan hal-hal gila dan video-video adegan yang biasa kita lihat di film-film gore. Bedanya, adegan di film gore itu settingan, fiktif. Sedangkan yang kita saksikan di Deep Web adalah nyata, benar-benar terjadi, mulai dari pemerkosaan, penyiksaan dan pembunuhan secara live, sampai human experiment. Yang lebih gilanya lagi, dalam live streaming, audience bisa berpartisipasi dengan menyuruh Si Oknum (melalui chat) untuk melakukan penyiksaan kepada korban, dengan bitcoin—mata uang virtual—sebagai bayarannya. Dan nggak hanya itu, di tempat ini pula jual beli narkoba, jual beli organ tubuh, jasa kontrak pembunuh bayaran, prostitusi anak, dan perdagangan manusia dapat dilakukan secara bebas.

Mengerikan kan? Iya, tapi juga bikin penasaran (apalagi buat yang naluri keponya gede kayak aku gini), nggak cukup hanya dengan menyimak penjelasan. Tapi kalaupun aku memiliki kemampuan untuk bisa mengaksesnya, aku memilih untuk nggak melakukannya. Pertama, karena virus-virus komputer yang disebarkan lewat Deep Web itu kelas berat dan nggak bisa disembuhkan, Kedua, karena Deep Web juga merupakan sarang hacker. Memangnya mau data-data di komputer hilang gara-gara dibegal hacker?

Dan sekarang, rasa penasaranku (dan rasa penasaran orang-orang yang juga kepo soal konten Deep Web) sedikitnya terjawab. Belakangan ini udah cukup banyak situs dan akun sosmed yang menampilkan konten-konten Deep Web baik berupa foto atau video, dan semuanya serba creepy, gelap, dan misterius. Yang sering aku temui sih mostly di Instagram, karena aku memang mengikuti beberapa akun yang khusus memposting segala sesuatu yang berbau mistis dan creepy. Video-video tersebut diantaranya adalah video berjudul I Feel Fantastic. Video ini sebenarnya hanya menampilkan sebuah manekin wanita yang bisa bergerak dan bernyanyi dengan suara aneh. Tapi entah kenapa hanya dengan mendengarnya aja, feeling-ku jadi nggak enak. Lalu ada Blank Room Soup yang menampilkan video seorang pria yang tengah memakan sup sambil ditemani dua orang yang mengenakan topeng. Konon, dua orang bertopeng itu adalah para pembunuh yang udah membunuh istri dari pria tersebut, dan sup yang dimakan Si Pria adalah sup yang berisi usus istrinya sendiri. Ada juga sebuah video yang kuduga adalah bentuk dari human experiment. Aku nggak tau apa judulnya, yang jelas video itu menampilkan seorang pria dengan tangan dan kaki terikat tampak memohon (dari bahasanya sih kayak bahasa Thailand). Namun anehnya, lengan Si Pria lebih terlihat seperti kaki. Kukira posisi kaki dan lengan ditukar gitu, tapi ternyata aku salah, karena yang terpasang di posisi kaki justru sepasang kaki hewan (entah kaki kuda, atau kambing). Benar-benar gila!

Selain video-video tersebut, akun-akun tersebut juga menampilkan video-video disturbing diluar konten Deep Web seperti video-video kecelakaan tragis, bunuh diri, penyiksaan, dan pembunuhan sadis, baik itu yang sengaja direkam atau terekam kamera pengawas, dan semuanya ditampilkan tanpa sensor. Dari video-video itu, aku jadi tau bahwa di dunia ini banyak banget manusia-manusia nggak berperasaan dan entah gimana pola pikirnya. Yang paling membuatku geram adalah video seorang remaja laki-laki yang dipukuli oleh beberapa orang yang sebaya dengannya dengan menggunakan kayu. Entah kesalahan apa yang udah diperbuat anak itu, tapi menurutku apa yang dilakukan sama beberapa orang itu sama sekali nggak jantan. Udah keroyokan, pake senjata lagi. Dan mereka melakukannya bertubi-tubi hingga kayu-kayu yang mereka gunakan patah dan Si Remaja tersebut nggak berdaya. Lalu ada video tawuran anak-anak SMA yang mirisnya terjadi di Indonesia (tepatnya di kawasan flyover Pasar Rebo, Jakarta). Video itu menampilkan adegan kejar-kejaran antara siswa-siswa dari sekolah satu dengan sekolah lainnya. Kemudian salah satu dari mereka yang mengenakan hoodie terjatuh di aspal dan menjadi korban serangan anak-anak SMA dari pihak lawan. Parahnya, mereka menyerang dengan menggunakan senjata tajam berupa celurit dengan membabi buta. Nggak puas dengan hanya membacok, mereka juga menendang dan meninju si korban sampai nggak bergerak. Gilaaaa.. Nggak habis pikir aja, kok gini banget ya generasi muda Indonesia. Masalah sepele diperbesar, nyawa manusia seakan nggak ada harganya.

Trus yang nggak habis pikir lagi, para commenters di postingan-postingan itu lho. Kok banyak yang freak, bilang "Mantap banget. Posting yang lebih sadis dong!" atau "Nggak greget banget, Min. Kurang banyak darahnya, jadi kurang keren". What the hell did you mean 'keren', Peps?  Aneh aja, kok bisa-bisanya musibah orang lain seolah jadi hiburan. Ini real lho, bukan adegan film! Yang lebih aneh lagi, ada orang yang seneng disebut psycho, atau bahkan dengan bangga ngaku psikopat. Mana ada psikopat nyadar bahwa dia psycho? Lagian psycho kan penyakit kejiwaan ya. Sakit jiwa kok bangga (=.=')

BTW, semenjak nonton video-video itu nggak tau kenapa aku jadi rada parnoan. Berasa kayak ada yang mengawasi gitu. Udah gitu sering kepikiran yang aneh-aneh. Masuk pom bensin, takut pom bensin meledak; naik motor, takut jatoh; lewatin truk, takut truknya keguling.. begitulah, nggak jauh-jauh sama segala sesuatu berbau death. Am I the only one who feels this way?

Tapi hal positifnya, dengan mengingat itu, aku jadi berpikir bahwa yang namanya kematian itu bisa terjadi dengan cara apa aja dan kapan aja, sehingga bisa lebih waspada dan berhati-hati dalam bertindak. Well, may Allah bless and protect us :)
Senin, 20 Maret 2017 4 komentar

Nyata VS Maya

Beberapa minggu yang lalu, aku sempat dibuat envy berat gara-gara melihat beberapa foto yang diunggah sohibku, Yuda, di akun Facebooknya. Foto-foto itu menunjukkan moment-moment dimana dia lagi have fun sama Teh Tyas (aku biasa memanggilnya Teh Yaz). Well, ini kesekian kalinya dia bikin aku envy. Gimana nggak envy coba? Aku udah lama lhoo kenal sama Teh Yaz, dan udah lama pula punya keinginan buat meet-up sama dia dari jaman ngalay bareng dan geng-gengan gitu, tapi belom kesampaian juga sampai sekarang. Eh, Si Kuda Yuda yang baru kenal malah ketemu Teh Yaz duluan. Udah beberapa kali pula. Dan pas dia tau kalo aku ngiri, dia malah ngakak. Kan kesel..

Dan tercetuslah ide itu : Liburan bareng ke Cibinong dan menemui Teh Yaz.
Saat itu aku pikir, that's not a bad idea. Pasti bakalan seru banget kalo ngumpul sama dua manusia setengah koplak ini.

Tapi sekarang aku jadi bimbang sama ide itu. Aku ragu. Apa iya bakal seru? Apa iya bakal menyenangkan? Kalo mengingat karakterku yang serupa patung bernapas ini sepertinya hal itu hampir mustahil.

Bukannya aku pesimis. Beberapa tahun yang lalu, saat komunikasi antara aku dan teman-teman Facebook-ku masih kuat, aku, Teh Tyas, dan Maya pernah melakukan conference call. Tapi bukannya ngobrol seru, yang terjadi justru aku lebih banyak diam mendengarkan karena bingung mau ngomong apa dan nervous juga. Padahal selama ini kalo chat di Facebook obrolannya selalu seru-seru aja dan nggak pernah garing.

Selama ini aku selalu berharap besar bisa bertemu dengan teman-teman dunia mayaku yang kukenal baik dan klop banget, termasuk Tifanny yang kuharap someday bisa explore bareng surga-surga di atas bumi. Juga mereka yang memiliki kesukaan sama sepertiku, khususnya dalam hal hobi dan selera musik. Iya, kami memang klop ngobrol di instant messenger, tapi apa iya bakal klop juga kalo ngobrol secara nyata? Bisa jadi mereka malah menganggapku garing dan membosankan. Hahaha..

Dulu juga aku sering berpikir, alangkah menyenangkan kalo orang-orang yang memiliki kesukaan yang sama sepertiku itu nggak jauh dari tempat tinggalku. Masih satu kota misalnya, tentu kami akan berteman baik. Tapi apa?
Zezet, salah satu teman MCRmy yang kukenal via Facebook saat jaman My Chemical Romance masih berjaya merupakan orang Cirebon asli dan tinggal disini, tapi sekalipun kami nggak pernah bertemu langsung. Bahkan chatting pun hampir nggak pernah. Lalu ada Yuli, rekan satu perusahaan di tempatku bekerja yang ternyata merupakan seorang One Ok Rockers. Ya ampun, padahal bisa aja kan kami ngobrol-ngobrol seru, diskusi tentang album baru mereka, dateng bareng ke gath, ketemu sama teman-teman baru yang memiliki kesukaan sama juga? Huaaaahh..

Trus aku harus gimana? Lanjutkan, atau urungkan?
Sabtu, 18 Maret 2017 0 komentar

Gangguan Orang Asing

Tadi malam aku benar-benar kurang tidur. Aku baru memejamkan mata menjelang jam satu dini hari karena mengerjakan tugas kantor yang kubawa pulang, kemudian terbangun sekitar jam setengah dua karena terganggu oleh nyamuk dan mencoba buat tidur lagi. Baru beberapa detik mataku terpejam, aku dikejutkan sama suara-suara gaduh di luar. Awalnya sih hanya suara langkah kaki, tapi setelah itu yang terdengar adalah suara orang berbicara. Awalnya kupikir orang yang ngekos di sebelah rumahku sedang mengobrol dengan temannya. Aku cuekin aja. Tapi kok lama kelamaan makin berisik. Nggak hanya suara seseorang berbicara, tapi juga disertai suara gedebak gedebuk, suara nafas, dan erangan.

Akhirnya aku memutuskan buat keluar kamar dan mengecek keadaan di luar lewat jendela ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu, rupanya ibu dan bapak udah lebih dulu keluar kamar dan mengecek keadaan di luar. Pintu depan tertutup, ibuku memandang ke luar jendela, sementara bapak berbicara dengan seseorang—si pembuat gaduh itu.
"Siapa itu, Bu?" tanyaku. Ibu menggeleng nggak tau dengan ekspresi wajah cemas. Si pembuat gaduh itu—laki-laki yang mungkin usianya nggak jauh dari usia bapak—meracau dengan kata-kata yang kurang jelas, seperti orang yang terganggu akalnya. Ia duduk di beranda rumah kami dengan nafas terengah-engah. Bapak memberinya beberapa uang logam dan menyuruhnya pulang, tapi ia menolak. Ia memang sempat berdiri dan hampir meninggalkan rumah ini. Tapi sesampainya di ujung jalan masuk rumahku, ia malah berteriak-teriak, menjatuhkan diri, dan menggelepar di atas jalan beraspal seperti kerasukan. Terkadang ia seperti ketakutan pada sesuatu yang nggak kami lihat dan dengar. Mungkin dia berhalusinasi atau.. entahlah.

Setelah menggelepar, laki-laki itu bangkit dan berjalan cepat ke arah kami sampai hampir menubruk pintu depan. Bapak menahannya dan meminta ibu untuk mengunci pintu. Aku dan ibu yang masih berdiri di ruang tamu benar-benar bingung harus berbuat apa. Kami khawatir sama bapak. Tubuh laki-laki itu lumayan besar jika dibandingkan sama bapakku yang kurus. Lebih-lebih kalo mengingat rumor yang lagi santer belakangan ini tentang pelaku kriminal yang berpura-pura gila. Well, memang sih, keluargaku bukan termasuk keluarga yang bisa dibilang cukup berada dan sangat jauh dari kriteria target perampokan, tapi kan tetep aja khawatir. Mana si om yang ngekos di sebelah rumah malah cuma nonton doang, nggak berbuat apa-apa.

Saking khawatirnya, ibu sampai menelpon Pak RW dan Wak Apip—kakak kandung bapak yang kebetulan masih tetangga. Namun respon yang kami terima dari Pak RW sungguh mengecewakan.
"Cuekin aja, Bu", gitu katanya. Gimana nyuekinnya coba? Meresahkan gitu. Sementara Wak Apip datang dengan membawa pentungan kayu. Yah, nggak bermaksud menyakiti sih, buat jaga-jaga aja kalau-kalau terjadi hal yang nggak diinginkan.

Tiga orang membujuk laki-laki itu pergi : Bapak, Wak Apip, dan A' Maman—sepupuku, tapi nggak berhasil. Laki-laki itu tetap bersikeras untuk tetap disitu. Takut anjing, katanya, padahal nggak ada apa-apa. Wak Apip dan A' Maman nyerah duluan, dan lagi-lagi bapak harus menghadapi laki-laki itu sendirian. Tapi untungnya sih dia nggak ngamuk-ngamuk lagi, sehingga setelah dirasa aman dan yakin bahwa laki-laki itu nggak berbahaya, kami pun meninggalkan dia di luar rumah. Waktu itu jam menunjukkan hampir jam setengah empat dini hari, kami baru bisa kembali ke kamar masing-masing.

Laki-laki itu baru mau pergi ketika pagi datang. Haaahh.. syukurlah. Semoga besok-besok nggak ada lagi hal-hal menegangkan kayak gitu. Seriously, semenjak kejadian semalam itu, aku jadi trauma kalo melihat pintu depan yang dibiarkan terbuka saat hari udah gelap. Entahlah.. Serem aja kalo keinget gimana laki-laki itu berjalan cepat ke arah pintu. Mungkin besok-besok akan lebih baik kalo didepan rumah dibangun pagar, biar lebih aman.

Total Tayangan Halaman

 
;