Sabtu, 04 November 2017 0 komentar

Hey, Welcome to the New Journey!

I bet it’s a freaking great and unforgettable day buat sepupu perempuan terdekatku, Gege. Kenapaaaa? Coz today is her wedding day dengan pacarnya, Awan. Yaaahh sekarang sih udah jadi mantan pacar lah yaa, kan statusnya udah beda. Hahaha..

Well, it’s so unbelievable bahwa anak tunggal dari salah satu adik ibuku ini baru aja melangkah naik ke satu anak tangga baru dalam hidupnya, ke satu masa yang kata orang adalah ‘awal kehidupan’. Awal perjalanan hidup yang sesungguhnya. Bagaimana nggak unbelievable? Hampir sebagian masa kecilku kuhabiskan untuk bermain bareng dia.

Aku bahkan masih ingat bagaimana asiknya kami waktu main boneka di kamarnya, berpura-pura menjadi ibu dari boneka-boneka itu. Berbekal kain panjang dan dua buah payung, kami membangun tenda-tendaan di teras rumah nenek, seolah-olah kami sedang berkemah; bermain rujak-rujakan di depan rumah nenek; lalu bermain sepeda roda tiga di lapangan BAPERMAS yang letaknya nggak jauh dari rumah nenek, berpura-pura menjadi tukang ojek dan penumpang; bolak-balik jajan ke warung; menghanyutkan perahu kertas bersama-sama ketika banjir dan bersorak girang di tengah paniknya para orangtua yang menghalau banjir masuk ke rumah; berebut bermanja-manja dengan kakek; menunggu ibu-ibu kami pulang bekerja, dan girang bukan kepalang saat mereka membawa buah tangan..

Anyway, kedua orangtuaku masih bekerja ketika umurku tiga tahun, sehingga mereka menitipkanku pada nenek, hampir setiap hari. Sampai usiaku lima tahun, rasanya berkunjung ke rumah nenek bisa dilakukan setiap pekan. Gege yang memang tinggal bersama nenek dan mamanya sejak lahir menjadi teman bermainku saat itu. Usia kami yang hanya terpaut sembilan bulan membuat kami benar-benar akrab seperti kakak beradik. Ibu dan bibi-bibiku seringkali membelikan kami barang-barang dan pakaian yang sama. Haaahh.. semua itu terjadi sekitar sembilan belas tahun silam, tapi rasanya baru terjadi hanya beberapa tahun yang lalu. Masih lekat banget dalam ingatan.


Ki-Ka : Gege usia satu tahun, aku beberapa bulan setelah lahir

Ki-Ka : aku, Gege
Foto Kiri : Aku dan Gege memetik jambu air di teras depan rumah nenek.
Foto Kanan : Aku dan Gege berpura-pura menelepon satu sama lain.
Tapi karena telepon mainannya cuma satu, aku pakai ayam jago mainan
buat dijadikan telepon :'v

Ki-Ka : Aku & Gege, bermain di Taman Ade Irma Suryani

Love this pict so much!

Pakai topi dan kantung mini kembaran (kantungnya ketutup flashlight.
Topinya ada rambut palsunya gitu :3

Ki-Ka : Aku (dengan boneka dibalik baju, jadi kelihatan buncit) & Gege.

Another picture of our moments together

Naik beberapa tahun kemudian, kami berboncengan sepeda besar milik Wak Agus; disuruh nenek belanja ke pasar berdua; bertukar surat; bertukar rahasia masing-masing dengan menuliskannya dalam buku khusus yang kami sebut 'Buku Rahasia'; berlomba membuat puisi; menonton film dan menertawakan para pemeran serta adegan-adegan yang menurut kami lucu; jalan-jalan pagi ke sawah, melihat matahari terbit, dan dimarahi nenek setelahnya karena nenek khawatir kami dipatuk ular sawah; menyewa becak mini.. Ahh, ini yang paling unforgettable. Waktu itu usiaku sebelas tahun, dan Gege dua belas tahun. Kami—aku, Gege, adikku, dan Agis—menyewa dua buah becak mini untuk kami gunakan memutari komplek. Biaya sewanya cukup murah, waktu itu satu becak cuma seribu rupiah untuk sejam ato berapa jam gitu, lupa. Satu becak dikayuh Gege dengan aku sebagai penumpangnya, sedangkan yang lainnya dikayuh adikku dengan Agis sebagai penumpangnya. Setelah mendapatkan becak, kami beli Pop Ice Blend di sebuah warung. Karena Gege dan adikku mengayuh becak, jadi minuman mereka dibawa sama penumpang mereka masing-masing. Kami pun asik memutari komplek. Di tengah perjalanan, aku bilang ke Gege, “Ge, Pop Ice kamu mencair!” sambil ngacungin gelas gitu, biar dia bisa lihat.
“Mana?” tanyanya.
Tiba-tiba..
GUSRAKK!!!
Becak yang kutumpangi tiba-tiba terbalik. Dua gelas Pop Ice yang kupegang seketika tumpah membasahi wajah dan bajuku. Kepalaku terbentur besi penyangga atap becak. Gege lebih parah. Beberapa bagian tubuhnya lecet, bahkan ada bagian yang lebam biru juga. Selain itu, salah satu bagian becak ada yang besinya lepas. Rupanya becak mini itu menghantam trotoar hingga terbalik. Salahku juga sih yang nunjukkin gelas Pop Ice pas Gege lagi nyetir. Dia jadi hilang fokus. Kami memang nggak nangis sih, tapi ya lumayan juga sakitnya. Sejak insiden itu, kami jadi kapok main becak lagi.

Sampai menginjak usia dewasa, hubungan kami masih dekat. Kami masih suka membicarakan berbagai hal setiap kali bertemu. Satu-satunya topik yang nggak pernah kami bicarakan cuma soal love life. Nggak tau kenapa, sejak dulu itu nggak pernah dilakukan, kecuali waktu jaman SD dulu, tapi itu nggak bisa dibilang love life sih ya, melainkan cuma naksir-naksiran.

Time flies. Kini perempuan yang menemani separuh masa kecilku itu duduk di pelaminan bersama lelaki yang akan menemani sisa hidupnya.

***

Jam delapan malam kemarin, sepulang ngantor dan berkemas, aku berangkat ke rumah nenek di kawasan Perumnas dengan menumpang Gr*bB*ke dengan driver yang sama untuk ketiga kalinya dalam minggu ini, yakni seorang bapak yang usianya mungkin sekitar empat puluh tahunan. Serem juga, sampe tiga kali gitu. Well, mungkin karena beliau mangkal di Hotel Neo tiap hari kali ya, dan kebetulan rumahku memang nggak jauh dari situ.

Rumah nenek udah ramai saat aku tiba, karena ada keluarga dari Kuningan yang juga membantu mempersiapkan segala sesuatunya. Setelah menyalami semua orang yang ada disitu, aku masuk kamar si Calon Ratu Semalam yang rupanya udah dihias setengah jadi, dan kebetulan orangnya juga ada disitu, duduk di tepi tempat tidur.
“Cieee.. Calon Penganten, deg-degan ya?” sindirku sambil menjabat tangannya.
“Ya begitulah..” jawabnya. Tapi anehnya, dia bisa tidur cepat. Sekitar jam sebelas dia udah tidur nyenyak. Kalo aku ada di posisinya, mungkin aku baru bisa tidur menjelang subuh -_-

Aku sendiri baru tidur sekitar jam satu dini hari, coz aku nyoret-nyoret kertas dulu, bikin surat ucapan selamat buat dia, pake gambar-gambar ilustrasi dia berdua bareng Awan gitu, biar nggak mainstream. Jangan tanya bagaimana hasilnya. Aku berharap Awan nggak tersinggung, karena perbandingan antara dia yang asli dengan dia yang di gambarku itu jadi kayak Bondan Prakoso dengan Dede yang di acara Ini Talkshow itu (well, ibaratkan saja demikian).

Jam empat pagi, aku bangun. Agak pusing, karena mungkin waktu tidurnya kurang, plus agak kurang nyenyak juga. Aku mandi di rumah Bibi Cicih karena kamar mandi di rumah nenek antreannya banyak. Hari ini aku mengenakan celana jeans dan baju batik yang baru kubeli dua minggu yang lalu untuk acara ini. Aku menolak untuk menggunakan kebaya dan didandani seperti Agis, Empit, dan Yessica—tiga sepupuku yang lain—karena nggak mau ribet. Tapi ujung-ujungnya aku agak menyesal juga sih, coz Gege kayak yang rada kecewa gitu. Trus pas berfoto, aku jadi beda sendiri. Haaahh.. kenapa di acara pernikahan sepupu terdekatku aja aku masih nggak mau tampil ribet sih (-.-“) Satu lagi yang aku sesali adalah, fotoku bareng dia ataupun bareng kedua mempelai nggak banyak, karena selain canggung, aku juga banyak mondar mandir kesana-kesini; bikin kopi buat crew panggung lah, bawa ini-bawa itu.. Jadi rada envy ngeliat adik dan sepupu-sepupuku saling kirim foto gitu dari hape masing-masing.

Oh ya, sebenarnya siang tadi aku pengeeeeen banget tampil di panggung, membawakan seenggaknya satu buah lagu. Aku kepikiran buat membawakan salah satu lagu yang lagi super duper hits banget belakangan ini. Ya know.. lagu Akad-nya Payung Teduh. Pas banget kan tuh, dibawakan di hari pernikahan. Yaaah meskipun sebenarnya honestly—so sorry to say—aku sangat sangat muak dengan lagu ini. Bukan apa-apa, pasalnya lagu ini benar-benar terdengar anytime anywhere. Nonton TV, ada lagu ini; scrolling Instagram timeline, ada lagu ini; buka Smule, ada invitation dan rekomendasi buat menyanyikan lagu ini; masuk Showroom, ada lagu ini; bahkan staff Akunting di kantorku memutar lagu ini setiap hari berulang-ulang. Bayangkaaaan.. setiap hari dan berulang-ulang! Dan timeline BBM pun begitu. ‘Si Anu listening to Akad (Payung Teduh)’. Oke, ini kenapa aku jadi bahas lagu Akad? Well, intinya aku sempat berniat mau membawakan lagu ini. Nggak apa-apalah, kupikir, hitung-hitung hadiah buat kedua mempelai. Kebetulan Pembawa Acara nya memberi kesempatan pada siapapun buat sumbang suara. Tapi niat untuk tampil ke atas panggung itu kuurungkan. Pertama, karena aku nggak yakin lagu ini ada di playlist crew panggung; kedua, karena aku malu, nggak ada orang seumuranku yang tampil; ketiga, karena aku nggak hafal lagu ini *ditimpuk Readers*

Daaaan.. seperti biasa, di acara pernikahan seperti ini hampir selalu ada aja yang melempar pertanyaan, “Kapan nyusul?”
Mbak Eni misalnya—anak dari salah satu kakak bapakku—yang bilang, “Puput kapan? Itu, Gege ngeduluin.” Tapi lebih banyak yang mendoakan sih, ketimbang melempar pertanyaan ini. Yaaah meskipun yang mereka doakan adalah agar aku cepat menyusul jejak sepupuku ini, bukan mendoakan agar mata hati dan pikiranku terbuka, karena problem terbesarku yang sesungguhnya adalah aku nggak yakin apakah yang namanya ketulusan cinta benar-benar ada di jaman ini. That’s why, meski masih bisa merasakan fall in love, aku cenderung canggung untuk akrab dengan lawan jenis, meski aku menyukai orang itu, apalagi sampai menjalani hubungan relationship.


Forget that. Well, sebagai sepupu yang baik, aku mendoakan yang terbaik buat Gege. Semoga dia dan Awan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah, dikaruniai anak-anak yang ganteng-cantik, dan sholeh-sholehah, serta bahagia sampai akhir hayat. Aamiin. Dan aku juga berharap, semoga ini semua nggak lantas membuat hubungan keluarga kami jadi renggang. Semoga dia tetap Gege yang aku kenal :)

Dear, Sist. Happy Wedding Day!
Minggu, 17 September 2017 0 komentar
Dua hari ini aku banyak main. Haha..
Hari Sabtu kemarin, aku dan sohibku, Tri malmingan sampai malam. Niat awalnya nggak gitu sih. Sore itu aku janjian sama Pak Herman—tukang service gitar—buat ketemuan di rumahnya. Oke, jangan salah paham dulu. Kami janjian bukan mau malmingan, melainkan mau ‘memulihkan’ gitarku yang bermasalah. Kebetulan, Tri mau nganterin, sekalian mau cari jajanan katanya, coz entah kenapa hari itu dia banyak keinginan : ingin otak-otak, ingin mi ayam, ingin cakwe, ingin pizza, ingin ini, ingin itu, banyak sekali, kek Nobita.

Sooo.. sore itu, sepulang kerja, aku langsung sambar tas gitarku dan menyandangnya di punggung, nggak lupa helm biar aman dari polisi. Setelah itu aku nunggu Tri yang rupanya baru bangun tidur. Haisshh.. (=_=’)

Beberapa lama kemudian, Tri dan motornya tiba. Setelah pamit ke ibu, aku langsung loncat ke jok belakang. Berbekal WA location yang dikirim Jaka bulan lalu, kami langsung meluncur ke kediaman Pak Herman di kawasan Stadion Bima. Awalnya kupikir bakal susah nyari rumahnya, karena adikku yang pertama survey kesana bulan lalu nggak langsung nemu. Tapi ternyata nggak sesulit itu. Ryan pernah bilang kalo cat pagarnya warna oranye, dan rumahnya nggak begitu jauh dari gang. Langsung ketemu deh. Memang benar, tempatnya cuma rumah biasa, tapi ruangan di bagian samping rumahnya itu disulap jadi semacam toko kecil gitu. Ada berbagai jenis gitar di belakang etalase, pick gitar berbagai warna didalam toples, dan aksesori-aksesori lainnya. Selain itu di bagian depan rumah juga aku lihat ada beberapa sound system gitu.

Setelah mengucapkan salam, nggak butuh waktu lama, seorang ibu—yang kuduga adalah istri beliau—membukakan gerbang.
“Pak Herman nya ada, Bu?” tanyaku.
“Pak Herman nya sedang keluar sebentar”, jawab ibu itu ramah.
Well, agak kecewa juga sih, coz aku nggak bisa langsung menyampaikan masalah gitarku sama orang yang bersangkutan. Tapi ya aku juga sih yang salah karena datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Jadi ya udah deh, aku titipkan aja gitarku ke si ibu. Setelah beliau menuliskan namaku, nomor hape, jenis gitar, dan masalah gitarku di secarik kertas, aku dan Tri pamit.

Sepeninggal dari rumah Pak Herman, kami meluncur ke Yogya Grand. Sekarang giliran Tri yang berkepentingan. Dia nyari cakwe gitu di food court, tapi ternyata nggak ada. BTW, ini kedua kalinya aku nganter Tri ke Yogya Grand buat nyari cakwe, tapi nggak nemu sama yang jual. Aku juga nggak tau sih apa istimewanya tuh cakwe sampai kudu bolak-balik nyari di Yogya Grand, padahal cakwe yang dijual gerobakan di pinggir jalan juga banyak yang enak. Akhirnya aku cuma nemenin dia minum teh disitu sambil diskusi habis itu mau nyari jajan apa lagi.

Setelah Tri menghabiskan minumannya, kami keluar dari Yogya Grand. Niatnya mau ke Tasmania Burger yang nggak jauh dari rumah kami, tapi di tengah perjalanan, aku bilang, “Eh, nonton Festival Keraton yuk. Mumpung malam minggu nih..”
Sebenarnya waktu itu aku nggak serius ngajak, karena aku yakin kalo si Tri bakal nolak diajak nonton pertunjukan seni tradisional gitu, beda kalo diajak nonton konser K-Pop atau event Korean Culture. Tapi di luar dugaan, dia langsung menyambut ajakanku dengan semangat. Tumben amat, pikirku. Sooo.. kami pun meluncur ke Taman Sari Sunyaragi dimana pergelaran akbar itu dilaksanakan.

FYI, Festival Keraton Nusantara (FKN) merupakan sebuah event seni budaya bernuansa keraton yang digelar setiap dua tahun sekali. Event ini pertama kali digelar pada tahun 1995 di Yogyakarta, kemudian dua tahun berikutnya digelar di Cirebon. Nah, tahun ini, Keraton Kasepuhan Cirebon menjadi tuan rumah FKN untuk kedua kalinya. That’s whyyy.. rasanya sayang banget kalo melewatkan acara ini, karena kita nggak tau kapan lagi FKN bakal digelar di kota ini.

Sekitar jam lima sore, kami tiba disana. You know what? Biaya masuknya gratis. Kami cuma diminta tarif parkir kendaraan tiga ribu perak. Nggak heran kalo pengunjungnya banyak. Setelah memarkirkan motor, kami beli air mineral dulu di Indomaret Truck, kemudian setelah itu masuk ke kawasan taman. Kami foto-foto disana. And the most exciting thing was.. aku bisa menikmati langit senja yang waktu itu cukup cantik sepuas-puasnya, meskipun sunset nya terhalang pepohonan.

Ketika hari gelap, aku dan Tri naik ke tribun penonton. Tempatnya belum terlalu ramai, sehingga kami bisa memilih mau duduk dimana. Kami memilih tempat duduk di tengah. Di posisi itu kami bisa melihat panggung pertunjukan dengan jelas. Belum ada apa-apa sih di panggung itu, cuma ada beberapa orang yang mondar-mandir mempersiapkan alat musik, sound, lighting, dan berbagai macam properti.

Pertunjukan seni baru dimulai sekitar jam tujuh malam. Seorang pria berpostur tubuh tegap dan berstelan jas rapi yang bertugas sebagai MC menyapa penonton dengan semangat. Penampil pertama malam itu adalah dari Keraton Bali. MC membacakan sebuah sinopsis pendek tentang sejarah dari seni yang akan ditampilkan. Setelah itu, munculah seorang penari cantik berpakaian merah muda cerah dari belakang panggung. Penarinya cantik banget, usianya pun kemungkinan masih belasan tahun. Kemudian beberapa menit kemudian muncul dua orang penari cantik lain berpakaian hijau. Mereka bertiga meliuk di atas panggung dengan sangat memukau.

Sementara itu, arena tribun semakin malam kian padat. Para pengunjung yang nggak kebagian tempat duduk di tribun memadati pintu masuk tribun, belum lagi ratusan penonton yang lesehan di bagian depan tribun. Duhh..
Aku dan Tri pun kehilangan fokus. Pikiran kami langsung terfokus pada bagaimana cara kita keluar dari tempat itu kalo pintu keluar masuknya aja ‘mampet’ begitu. Lho, kok malah mikirin cara keluar? Yup, karena acara itu diperkirakan baru selesai jam sebelas, which is terlalu larut bagi kami buat berkendara di jalanan Cirebon yang mulan rawan. Ditambah lagi Tri yang mulai khawatir sama keamanan motornya. Kami nyesel kenapa tadi kesitunya nggak naik Grab aja gitu.

Kami baru memutuskan turun dari tribun ketika satu keluarga turun, diikuti beberapa penonton lainnya. Aku dan Tri pun mengikuti mereka, mencari celah keluar diantara kepadatan penonton. Aku di depan, Tri di belakangku. Ketika sampai tribun bawah, aku menoleh ke belakang, dan nggak nemu Tri disana. Agak panik sih, tapi aku nggak mungkin diam disitu, jadi aku lurus aja, menyeruak kerumunan penonton yang berdiri karena nggak kebagian tempat duduk. Setelah keluar dari area pertunjukan, baru deh aku tungguin Tri disitu. Aku telpon dia, tapi nggak nyambung-nyambung. Aku chat deh via WA. Untung langsung dibalas. Ternyata dia udah nunggu di area jembatan. Parah, aku lupa jalan ke jembatan itu kemana, jadi aku minta ketemuan di depan Indomaret Truck. Aku berjalan cepat. Dari arah berlawanan, berjalanlah seorang ibu-ibu tapi kepalanya nengok ke samping mulu. Entah dia melihat apa, intinya dia nggak lihat-lihat jalan di depannya, sementara jalan lagi padat-padatnya dan aku nggak sempat menghindar. Tabrakan dah tuh. Kesal, tapi aku positive thinking aja, mungkin pas tidur siang tadi si ibu salah bantal. Who knows (-,-)

Di depan Indomaret Truck, muka Tri udah asem banget. Terbayang betapa berat perjuangannya untuk sampai disitu. Well, kalo aku yang berpostur mini aja nggak luput dari insiden nginjek kaki dan nabrak orang, apalagi dia yang size nya jauh lebih besar dariku. Setelah mengeluarkan motor dari parkiran, kami pun langsung keluar dari kawasan Taman Sari Sunyaragi.

Setelah membelah jalanan kota Cirebon yang entah kenapa hari itu lebih padat dari biasanya, motor Tri menepi di parkiran Tasmania Burger. Yup, rupanya dia tetap keukeuh kepengen makan burger. Jadi ya udah deh, kami makan disitu dulu, trus pulang.

***

Nah, hari Minggu ini, giliran main bareng besties since Senior High School. Yup, siapa lagi kalo bukan Rohayati dan Putri Ayu. Rasanya hampir nggak pernah kami ‘bolos’ ketemuan setiap bulannya. Bulan ini kami udah dua kali ketemuan malah.

Awalnya sih aku sempat galau. Bukan galau yang gimana-gimana ya. Jadi ceritanya hari ini tuh aku ada undangan pernikahan dari salah satu teman sekelas di kampus. Aku pengen banget datang, tapi bingung sama transport, karena lokasi hajatnya yang nggak dekat. Majalengka gitu lho. Aku BBM Sherly nggak dibalas dari kemarin. Yah, kalopun nggak bisa nebeng, minimal aku mau nitip amplop gitu. Tapi karena nggak dibalas-balas (boro-boro dibalas, di-read aja nggak), akhirnya aku memutuskan buat main aja deh sama dua besties-ku itu.

Sore ini, kami ketemuan di Grage Mall, karena acara kami hari ini adalah.. ber-photobox! Aku yang sampai di lokasi duluan, seperti biasa lebih memilih nunggu di Gramedia. Nggak BT lah pokoknya kalo nunggu disitu, yah seenggaknya buatku pribadi. Setelah cipika-cipiki dan berbasa-basi sebentar, kami turun dulu buat makan bakso di samping Grage Mall. Cuma bakso gerobakan pinggir jalan, tapi rasanya nggak kalah sama bakso yang udah terkenal di kawasan M. Toha itu. Harganya juga lumayan murah. Satisfying lah pokoknya. Oh ya, disitu kami sempat ketemu seorang karyawan mall yang kami duga adalah Ella, teman sekelas kami di SMA. Tapi kami ragu buat menegur karena postur badannya yang agak gemukan. Selain itu dia juga cuek-cuek aja waktu melihat kami. Jadi kalo menegur duluan, takutnya salah orang. Hahaha..

Karena saat itu udah memasuki waktu Maghrib, akhirnya setelah mengisi perut, kami menuju mushola buat sholat. Setelah sholat, baru deh kami naik lagi ke gedung mall buat ber-photobox. Buuuuut.. kami menyesal karena salah milih tempat. Pasalnya ruangannya kecil banget. Layarnya juga kurang besar, sehingga kami membutuhkan cukup banyak waktu buat mengatur posisi agar kami bertiga terlihat di layar. Mana Si Teteh penjaganya jutek banget lagi. Ngomong kayak ketus gitu, dan nggak ada senyum-senyumnya. Rohayati yang mudah tersinggung jadi males duluan buat diskusi soal background foto. Belum lagi hasil cetakan fotonya yang kurang bagus, kayak agak pecah gitu. Haaaahh.. parah lah pokoknya.

Setelah ber-photobox ria (well, nggak ria juga sih ya, karena faktanya kami jadi kapok ber-photobox disitu), kami pun keluar dari gedung. Si Rohayati dan Ayu ini sering ngerasa nggak afdol kalo habis main bareng di luar tapi nggak mampir ke rumahku dulu. Bisa dibilang, rumahku ini udah kayak markas bagi kami bertiga, karena hampir setiap bulannya mereka pasti main ke rumah. Ibu dan bapakku aja udah hafal banget sama mereka. Jadiiii.. sore itu kami pun CengLu alias bonceng telu alias boncengan naik motor bertiga menuju rumahku. Hahaha.. Tadinya aku mau naik angkot aja, tapi Rohayati bersikeras mau bawa aku juga. Nekat banget emang. Padahal lampu lalu lintas di Cirebon sekarang kan udah dilengkapi sama CCTV. Khawatir aja kalo sampai tercyduck :v

Sesampainya di rumahku, kami ngobrol-ngobrol sampai malam, ngemil-ngemil, godain Ayu yang sempat-sempatnya telpon-telponan sama cowoknya padahal lagi ngumpul bertiga.. yah, begitulah. Mereka baru pamit pulang ketika jam menunjukan pukul sepuluh malam.

Anyway.. rasanya nggak nyangka kami udah berteman baik selama sekitar tujuh tahunan, dan alhamdulillah dalam kurun waktu selama itu kami nggak pernah sekalipun terlibat konflik serius. Boro-boro marahan berhari-hari, marahan berjam-jam aja nggak pernah. Yah, kalo tersinggung sih pernah lah ya, namanya juga temenan. Tapi biasanya kami bakal diskusikan bareng-bareng hari itu juga biar nggak ada rasa nggak enak yang berlarut-larut. Aku berharap pertemanan baik kami bakal berlanjut sampai kami tua nanti. Aku bersyukur banget punya mereka :)
Rabu, 16 Agustus 2017 0 komentar

The Battle of the Angkots and Online Ojeks

Bukan. Ini bukan review film yang baru kutonton ataupun novel tentang pertarungan Raja Angkot melawan Raja Ojek yang baru aja kubaca, melainkan sebuah masalah yang sedang ramai-ramainya muncul di News Feed beranda sosmedku sejak kemarin.

Hmm.. kalian yang tinggal di Cirebon tentu tau, apa yang sedang jadi Trending Topic diantara para masyarakat Cirebon baru-baru ini. Yup, tentang para supir angkot yang melakukan aksi mogok massal dan berdemo untuk menuntut transportasi online dihentikan. Awalnya aku yang setiap hari berangkat dan pulang kerja naik angkot (tapi juga mendukung adanya transportasi online) nggak begitu ambil pusing tentang hal ini, karena toh mereka mogok narik cuma hari ini, dan aku yakin dengan makin berkembangnya jaman, transportasi online akan terus ada meski angkutan umum konvensional melakukan demo seperti apapun. Untuk sementara ini aku bisa pakai jasa ojek online dulu, meskipun yaaah tarifnya memang dua kali lipat dibanding naik angkot. Kalo naik angkot biasanya dari rumah ke kantor cuma butuh tarif empat ribu, sedangkan kalo pakai ojek online tarifnya sembilan ribu.

Dari pesan WA berantai yang kuterima, demo yang dilakukan para supir angkot itu dilaksanakan pada hari Selasa—kemarin—jam sembilan pagi. Aku yang berangkat kerja jam setengah delapan pagi berpikir bahwa saat itu masih ada angkot. Eh, ternyata apa? Pas udah sampai di jalan raya, ternyata jalan raya sepi banget, cuma ada becak dan kendaraan-kendaraan pribadi. Angkot ada sih segelintir.. tapi bukan angkot jurusan tempat kerjaku. Aku nggak bisa nunggu lebih lama karena jam udah menunjukkan pukul delapan kurang dua puluh menit. Ya udah deh, aku buka aplikasi Gr*b-ku dan order satu ojek.

Sekitar tiga menitan, ojek orderanku datang. Ia meminta maaf karena nggak pakai atribut Gr*b-nya. Aku segera paham. Ia juga menghindari kawasan Balai Kota, karena menurut penuturannya, para supir angkot udah berkumpul disana sejak pagi.
“Hari ini saya udah cancel tiga orderan, Mbak, karena takut ada apa-apa di jalan. Setelah nganter Mbak juga rencananya saya mau langsung pulang saja”, katanya.

Jam delapan kurang enam menit, kami tiba di depan gedung tempat kerjaku. Aku membayar ongkos dan nggak lupa juga mengucapkan terima kasih. “Hati-hati di jalan, Pak”, kataku. Ia mengangguk. Semoga ia tiba di rumah dengan selamat.

Pulang ngantor, aku diantar Pak Benny. Nggak sampai rumah sih, coz aku minta diantar ke rumah Dokter Indah Mira. Pulang dari rumah dokter, baru deh aku pakai jasa Gr*bb*k* lagi. Itu juga ordernya butuh waktu beberapa menit, karena tiga orang driver menolak orderanku.

Nah, hari iniiiiii.. baru deh aku benar-benar merasakan dampak dari masalah ini. Pasalnya, mogoknya angkot yang kukira hanya terjadi satu hari rupanya masih berlanjut hingga hari ini. Well, aku masih bersyukur karena angkot dari rumah menuju tempat kerja udah lumayan banyak yang narik, tapi angkot dari tempat kerja menuju rumah itu yang nggak ada sama sekali. Aku tengok berita online seputar Cirebon di Instagram, rupanya angkot-angkot itu masih mogok narik. Angkot D4 misalnya, yang biasa kutumpangi dari tempat kerja menuju rumah. Angkot-angkot itu berkumpul di kawasan Diponegoro. Nggak beroperasi sama sekali.

Aku yang baru aja beli siomay langganan di depan kampus sampai hampir lumutan di pinggir jalan. Order Gr*bb*k* malah gagal mulu. Sekalinya nemu driver, orangnya nggak jalan jalan (kelihatan dari maps). Banyak sih tukang ojek konvensional disitu. Tapi ketika kutanya, tarifnya mahal banget. Lima belas ribu sekali jalan. Geez.. itu sih bisa jadi ongkos naik angkot dua hari. Ditawar sepuluh ribu nggak mau. Beruntunglah mereka yang punya dan bisa bawa kendaraan, atau punya seseorang yang bisa dimintai tolong untuk antar jemput. Sedangkan kendalaku tiga. Pertama, aku nggak bisa bawa motor di jalan besar. Kedua, motornya nggak ada (karena dibawa adikku ke Karawang). Ketiga, aku bukan tipe orang yang suka ngerepotin orang dengan minta antar sana sini, meski orang itu adalah teman dekatku. Apalagi kalo orang itu nggak punya kepentingan yang sama. Tri misalnya. Meski berteman sejak kecil, tapi rasanya hampir nggak pernah aku minta tolong antar. Sekalinya minta antar palingan waktu datang ke acara Meet and Greet bareng Fiersa Besari dua bulan lalu. Yah, kecuali kalo orang itu nawarin.

Well, back to the story.
Ketika rasa muak mulai menuju ujungnya, tiba-tiba ada tukang ojek konvensional yang nawarin jasanya. Dia mau dibayar sepuluh ribu. Aku sempat nolak karena udah keburu order Gr*bb*k*, tapi karena Gr*bb*k* yang aku order nggak kunjung datang, akhirnya aku cancel dan pakai jasa ojek tadi. Ini pertama kalinya aku pakai jasa ojek konvensional. BTW, Mang Ojek nya rada serem deh. Sepanjang jalan dia ngajak ngobrol dan dia buka-buka aib dua perempuan yang katanya dulu nolak dia gitu. Mana dia pake nanya-nanya statusku, trus kepengen ngenalin aku sama temannya gitu. Whatthehell? Semoga besok-besok nggak ketemu Mang Ojek itu lagi.

Forget that!
Anyway.. dengar-dengar Pak Walikota mengabulkan protes para pengusaha angkot dan sopir angkot itu. Beliau melarang transportasi online untuk beroperasi. For God’s sake, aku kecewa sama keputusan Pak Walikota ini, dan aku bukan satu-satunya yang kecewa. Di luar sana juga banyak yang merasa terbantu dengan adanya transportasi online dan sangat menyayangkan sikap Pak Walikota yang terkesan ambil keputusan sendiri. Kebanyakan masyarakat lebih berpihak pada transportasi online ketimbang angkot karena dianggap lebih nyaman, aman, cepat, dan murah. Berbeda dengan angkot yang kebanyakan ngetem, sering asal menurunkan penumpang, merokok di dalam angkutan, dan kurang aman. Udah gitu kadang-kadang maksa penumpang naik. Orang nggak ngacungin jari, dia bunyiin klakson. Udah gelengin kepala, dia malah berhenti didepan. Dibilang enggak malah sewot. Kan aneh.  “Lebih baik angkot aja yang ditiadakan!” komentar salah satu netizen yang kubaca di akun berita online seputar Cirebon di Instagram.

Aku pribadi, sebagai pengguna jasa keduanya, kurang setuju dengan komentar netizen tadi. Siapa bilang semuanya akan baik-baik aja kalo angkot ditiadakan? Buktinya, kemarin dan hari ini banyak lho adik-adik pelajar yang terlantar di pinggir jalan karena nggak ada kendaraan buat ke sekolah atau kampus. Apalagi hari ini ditambah dengan diberhentikannya jasa transportasi online. Duh, kasian. Kemarin siang Mas Febri melihat beberapa orang siswa SMA berjalan kaki dari sekolah ke rumah. Hari ini giliran aku yang lihat.

Ojek, angkot, dan becak juga berguna banget buat para ibu-ibu yang mau ke pasar, juga masyarakat menengah ke bawah, khususnya mereka yang belum menggunakan hape jenis Android. Bahkan aku sendiri yang udah pakai Android (dengan aplikasi Gr*b yang siap pakai) pun masih sangat membutuhkan jasa angkot karena tarifnya yang lebih murah buat karyawan swasta yang gajinya nggak seberapa ini :(

Transportasi online pun nggak kalah penting. Siapa yang kalo pulang ngampus atau pulang kerja pas hari gelap? Nah, ketika hari udah gelap, penumpang pasti memilih transportasi yang cepat dan aman (apalagi cewek. Ya know lah, kalo hari udah gelap setan astral maupun non astral makin banyak yang keliaran). Atau seseorang yang mendadak harus segera dibawa ke rumah sakit, sementara waktu udah di atas jam sepuluh malam. Nah, disinilah transportasi online berperan. Selain itu, bukankah dengan adanya perusahaan transportasi online, itu sama aja mengurangi jumlah pengangguran?

Jadi intinya menurutku, baik transportasi umum konvensional maupun transportasi online, keduanya sama-sama berperan penting bagi mobilitas masyarakat. Jadi jangan sampai lah ada yang diberhentikan. Jangan juga ada kecemburuan. Miris deh, tadi sore aku baca berita, ada driver taksi online yang dijotos supir angkot gitu. Miris plus kesel bacanya.

Dear, Mang Kot. Kenapa sih pada anarkis gitu? Udah demo, sekarang main jotos orang. Sama-sama cari nafkah, Mang! Rejeki juga udah diatur Tuhan. Lagipula, apa Mang Kot pikir dengan menjotos driver taksi online itu, lantas pendapatan Mang Kot bertambah? Penumpang angkot makin banyak? Enggak, Mang. Sekarang media banyak yang meliput, image Mang Kot makin jelek. Sekarang Mang Kot nggak hanya dikenal sebagai tukang ngetem, tukang nurunin penumpang sembarangan, dan pengemudi yang nggak peduli sama keamanan dan kenyamanan penumpang, tapi juga tukang anarkis. Penumpang makin enggan naik angkot. Lihat tuh, para pengemudi online itu. Ketika Mang Kot mogok narik, mereka sampai narik penumpang sembunyi-sembunyi, bahkan ada yang rela nggak dibayar buat nganterin adik-adik pelajar ke sekolah. Nggak ada yang anarkis. Jadi daripada cemburuan kayak gitu, mending introspeksi diri dulu deh. Apakah Mang Kot udah memberikan pelayanan yang baik pada penumpang? Apakah Mang Kot bisa menjamin keamanan dan kenyamanan penumpang? Apakah Mang Kot juga bisa tertib di jalanan dan menunjukkan attitude yang baik? Ini kok malah anarkis, kayak yang nggak diajarin tatakrama (-.-“)

Sejauh ini, Pak Walikota menuturkan bahwa penghentian operasional transportasi online ini hanya bersifat sementara. Yah, semoga memang sementara, karena hey.. ini udah tahun 2017. Jaman udah makin maju. Kemajuan teknologi nggak bisa dibendung. Sekarang apa-apa udah pakai internet. Masa iya mau pakai cara konvensional mulu. Kalo gitu sih boro-boro ngarep Cirebon bisa kayak Bandung *sigh*

Yah, semoga polemik ini segera berakhir dan segera menemukan win win solution, biar nggak ada salah satu pihak yang untung dan salah satu pihak yang rugi. Aamiin.
Sabtu, 05 Agustus 2017 2 komentar

Good August

Awal bulan yang cukup baikkk..!!
Meski belakangan ini aku lagi banyak mellow, tapi ada beberapa hal yang membuatku bersyukur atas hal-hal positif yang terjadi sehingga awal Agustus-ku nggak kelabu seperti Agustus tahun kemarin. Anyway, sebenernya 'banyak mellow' pun bisa jadi termasuk hal positif sih, karena itu artinya hatiku nggak completely painted black kayak lagunya Rolling Stones. Hahaha..

Well, aku nggak bisa ceritakan semuanya. Tapi untuk beberapa hal, okelah. Aku bakal ceritakan tiga diantaranya.

Hal positif yang pertama adalah.. Totton, kucingku yang gendut berbulu kuning itu udah bisa kawin! Yup, setelah sekian lama dia mencoba dan selalu gagal sehingga gebetannya, Si Putih—kucingku yang lain—keburu ilfil duluan, akhirnya dia berhasil juga membuat Si Putih 'takluk'. Aku dan keluarga yang selama ini beranggapan bahwa Si Totton ini kucing banci, jelas senang ketika mengetahui hal ini. Banci? Ya karena selain nggak bisa kawin, dia juga nggak bisa loncat tinggi, berantem, apalagi panjat memanjat. Lari aja dia sering kepleset. Mungkin karena kelebihan beban (baca: lemak). Kehebatannya cuma makan, udah. Tapi toh akhirnya dia bisa membuktikan bahwa dirinya juga pejantan yang cukup tangguh. Sip! Semoga dengan bersatunya mereka, maka akan tercipta anak-anak yang lucu-lucu, cantik-cantik, dan ganteng-ganteng. Aamiin.

Hal baik selanjutnya adalah.. adikku pulang ke Cirebon. Ya memang sih setiap sebulan sekali dia pulang kesini untuk menghabiskan waktu liburan barang dua-tiga hari. Cuma bulan Juli kemarin aja dia nggak pulang. You know what? Dia pulang-pulang bawa gitar. Sebuah gitar akustik berukuran cukup besar. Yah, not too surprising sih, karena sebenarnya dia udah ngabarin jauh-jauh hari via BBM kalo dia beli gitar, dan saat itu aku meminta agar gitar itu dia bawa pas pulang ke Cirebon. Yang surprising adalah.. dia menghadiahkan gitar itu untukku! Hadiah ultah katanya (padahal udah lewat sebulan lebih). Astaga, rasanya saat itu perasaanku hampir nggak bisa tergambarkan. Bungah banget banget lah pokoknya. Gimana enggak? Aku udah bermimpi untuk punya benda ajaib ini dan bisa memainkannya sejak mengagumi salah satu Pinoy actor sekaligus penyanyi yang kalo manggung suka sambil main gitar itu, tepatnya tahun 2014 lalu. Tapi ya karena duit limit dan dipakai untuk hal-hal yang lebih penting dulu, alhasil keinginan itu nggak juga terealisasi dan hampir menguap. Dan pas adikku pulang bawa gitar, kupikir itu cuma buat dipinjamkan, ternyata enggak. Hahaha.. Aku excited banget waktu pertama kali memegang dan memetik senarnya. Percaya atau enggak, honestly itu pertama kalinya aku menyentuh dan memetik senar gitar secara langsung ! I felt so good, kepengin cepat bisa memainkannya. Buuuuutt.. adikku bilang kalo gitar itu butuh sedikit service karena neck-nya sedikit bengkok sehingga berpengaruh sama suaranya. Nggak parah sih.. tapi ya entahlah, aku masih awam banget soal ini. Kemarin aku udah nanya sama beberapa orang teman yang kemungkinan tau tempat repair gitar di Cirebon. Mostly menyarankanku untuk membawanya ke Pak Herman yang tinggal di kawasan Bima. Kebetulan ada rekan kantor yang rumahnya dekat kawasan itu, dan dia berbaik hati nge-share lokasi tempatnya via WhatsApp. Sialnya aku lupa tanya ciri-ciri rumahnya kayak gimana, karena ternyata saat adikku survey kesana, dia nggak nemu. Pengen nanya lagi ke dia, tapi nggak enak. Haha.. (^.^") Well, hari ini aku udah mulai belajar sih, walau belum banyak. Ternyata nggak gampang ya.. Jangankan aku deh, adikku yang udah sebulan belajar aja belum mahir juga. Ditambah lagiiii dengan tampilan tanganku yang kecil dan jari-jariku yang kurang panjang. Ya ampun, gitarnya aja tampak lebih gede dibanding badanku. Hahaha.. :'v

Hal positif terakhir..
I'd like to say selamat untuk Teh Tyas, temanku nun di Cibinong sana yang hari ini berulang tahun sekaligus merayakan hari pernikahannya dengan Mas Bule, Jeremy Johansen. Ya ampun, aku benar-benar turut bahagia dengan hal ini. Beberapa hari yang lalu, aku bahagia dan bersyukur mengetahui kabar bahwa Jeremy masuk Islam, dan hari ini aku bahagia karena akhirnya mereka udah sah menyandang title Mr & Mrs Johansen. Aku kecewa karena nggak bisa datang, padahal beberapa bulan lalu aku sempat punya planning buat mengunjungi kediaman Teh Tyas bulan ini. Yah, apalah daya, kendalaku bukan hanya di waktunya aja, melainkan juga kondisi financial. Haha.. So all I can do is just pray for her and them. Semoga Allah memberinya umur panjang, rejeki berlimpah, dan kesehatan. Semoga hubungan mereka langgeng sampai akhir hayat, diberi keturunan yang ganteng-cantik dan soleh-solehah, serta bahagia dunia akhirat. Aamiin yaa robbal alamiin. Their wedding must be the best birthday gift for her :)




Yah, segitu aja yang bisa kuceritakan. Semoga masih ada hal-hal baik lain yang terjadi di hari-hari selanjutnya. Aamiin. Thank you, Allah ^^
Minggu, 23 Juli 2017 0 komentar

I Got New Friends

Well, jadi ceritanya, belakangan ini kantor tempatku bekerja kedatangan beberapa mahasiswa magang. Selama aku bekerja di perusahaan ini, baru kali ini kantor tempatku bekerja menerima mahasiswa magang. Kebetulan Departemen Sewa Beli lagi butuh banget tenaga tambahan buat sementara menggantikan Bu Iis yang sedang cuti hamil. Sooo, pada awal Juli, mulailah mahasiswa magang yang awalnya terdiri dari dua mahasiswi cantik itu menjadi tenaga bantuan di kantor selama sebulan.

Mereka masing-masing bernama Nunung dan Narita. Keduanya merupakan mahasiswi dari salah satu Sekolah Tinggi Ekonomi di Kota Kembang. Yah, mereka sebenarnya bukan asli warga sana sih, dan mereka berasal dari jurusan yang berbeda. Nunung yang mengambil jurusan Manajemen Operasional berasal dari Indramayu. Sedangkan Narita yang mengambil jurusan Manajemen SDM berasal dari Cirebon, dan kebetulan dia merupakan keponakan dari Pak Dedi, SPV General Affair di kantor. Rencana awalnya memang mereka berdua bakal ditempatkan di Departemen Sewa Beli, tapi karena tugas Pak Dedi pun banyak, akhirnya Narita ditugaskan buat membantunya, sambil sesekali ditugaskan juga di Departemen Sewa Beli.

Awalnya aku pikir, aku yang introvert akut ini nggak akan akrab sama mereka. Tapi rupanya dugaanku salah. Baru beberapa hari mereka magang di kantor ini, kami yang cuma selisih usia dua tahun ini udah saling tabok dan ledek-ledekan, khususnya sama Narita. Berbeda dengan kawannya, Nunung yang kalem dan innocent, Narita yang bertubuh tinggi besar itu orangnya lumayan rame, gampang akrab sama orang yang baru dikenal, dan bisa banget menghidupkan suasana. Setiap hari ada aja yang dia ceritakan, dan nggak jarang ceritanya itu bikin aku dan Nunung ngakak sampai keluar air mata, entah karena itu ceritanya yang memang lucu atau karena cara berceritanya yang ekspresif banget. Mulai dari kisah tentang rumahnya yang berhantu (bukannya serem, aku dan Nunung malah banyak ketawanya), tentang bangunan kampusnya yang terkenal angker, tentang teman sekelasnya yang bau badan, tentang dosennya yang super matre (si dosen ini suka morotin mahasiswanya dengan menjanjikan nilai tinggi bagi mereka yang memberinya traktiran dan hadiah-hadiah mahal, dan gak akan memberi nilai tinggi bagi mahasiswa yang 'pelit' sepintar apapun dia. heran, kok ada dosen kayak gini..), banyak deh..

Dia juga tipe cewek yang cuek banget. Dia dengan santainya meceritakan hal-hal yang sangat mungkin membuat lawan jenisnya ilfil.
CAUTION! Cerita berikut ini udah disetujui sama orang yang bersangkutan untuk dipublikasikan, jadi ini sama sekali bukan perusakan nama baik :p

Dia pernah bercerita tentang aroma kentutnya yang bikin dia sendiri muntah-muntah. Lalu di suatu sore, dia yang mengalami kesulitan boker selama satu minggu bernapas lega ketika sore itu ia berhasil mengeluarkan timbunan ampas perutnya di toilet kantor hanya dalam satu kali ngeden. "Tau nggak, aku kaget pas ngeden trus liat isi WC udah langsung penuh gitu. Aku ketawa sendiri di toilet, sumpah. Itu bentuknya kayak adonan bala-bala Ibu Kantin, cuma beda warna aja," ceritanya dengan volume suara maksimal. Aku dan Nunung ngakak-ngakak jijik sampai keluar air mata. Deeeymm.. bisa dipastikan beberapa waktu kedepan kami ogah makan bala-bala. Nggak hanya itu, nggak jarang dia juga meracuni aku dan Nunung dengan gas perutnya. Meski seringnya nggak berbau, tapi bunyinya itu sungguh polusi suara, "Plek", gitu. Gezz, aku cengengesan sendiri lho ngetik ini, ya ampun..
Yah, syukurnya sejauh ini sih aroma gas perut Narita nggak pernah berhasil memasuki rongga hidungku, karena aku selalu langsung menutup hidung setiap kali dia bilang kepengin kentut (untungnya dia kalo mau kentut selalu bilang dulu). Pernah suatu hari dia kentut, kemudian aku dan Nunung spontan menutup hidung. Lewat beberapa detik, Narita meyakinkan kami bahwa kentutnya nggak bau. aku dan Nunung lantas membuka penutup hidung kami. Tapi sedetik kemudian, Nunung memekik, "Ih bau, Narita!" dan menutup hidungnya lagi.
Lalu si empunya kentut mengendus-endus, "Eh, iya sih *sniff sniff*"
Aku langsung menutup hidung lagi, meski nggak sempat mencium baunya. Lalu masuklah OB ke ruanganku, mau bersih-bersih, dan.. "Ih, bau apaan nih?" katanya, dan langsung balik kanan, nggak jadi bersih-bersih. Wakakakak.. anjir.. aku cerita apaan sih xD

Sekitar dua minggu mereka magang, tepatnya dua hari yang lalu, datanglah Aldi, yang juga merupakan mahasiswa magang. Namun berbeda dengan Nunung dan Narita, Aldi magang untuk mengisi waktu liburan. Dia sendiri berasal dari kampus yang berbeda, meski sama-sama kuliah di Bandung. Oh ya, Aldi ini merupakan anak angkat Pak Dedi.

Kedatangan Aldi sukses membuatku jadi bahan ledekan sebagian karyawan kantor. Kenapa? Karena dia ganteng! Dan dia ditempatkan di sebelahku, menggantikan Narita yang dipindahkan ke Departemen Sewa Beli bersama Nunung.

Setiap kali melihat kami berdua, ada aja yang ngeledek, "Wah, Putri matanya bakal seger terus nih, liat yang ganteng", atau "Putri sombong sekarang, punya yang ganteng," atau "Wah, kayaknya Putri bakal betah nih di ruangan". Ya ampun, padahal biasanya juga aku di ruangan terus selama jam kerja, nggak kemana-mana selain ke toilet dan mushola (-_-") Belum lagi beberapa karyawati yang kayak histeris gitu setiap liat dia, macam liat seleb Korea. Ibu-ibu lho padahal.. ("-,-) 

Berbeda dengan mereka, aku yang jadi partner kerjanya justru bersikap sebaliknya. You know like.. keep silent all day, dan bicara seperlunya. Hahaha.. Orang lain mungkin berpikir aku sombong, bahkan ada yang bilang aku nggak normal, masa L. Aku tau dan mengakui kok kalo penampilan cowok itu memang diatas rata-rata : tubuh tinggi tegap, kulit putih, rambut rapi, hidung mancung, alis tebal, wajah macam pemain FTV.. Kalo ada public figure yang bisa menggambarkannya, kupikir dia itu mirip-mirip Fatih Seferagic (tanpa kumis dan jenggot). Nah, siapa coba cewek straight yang bilang jelek? Ya ampun, bahkan cowok normal pun pasti berpendapat sama. Tapi orang-orang yang mengenalku tau, aku nggak akan banyak bicara sama orang baru kalo nggak dipancing. Jadi intinya, kecuekanku sama dia ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan ketidaknormalan yang mereka pikirkan (-_-")

Tapi semenjak Narita pindah ke Departemen Sewa Beli, aku kok jadi merasa agak kehilangan gimana gitu. Pasalnya dia udah menemaniku selama dua minggu, dan selama dua minggu itu pula dia bikin aku jadi nggak merasa kesepian lagi di kantor. Honestly, selama sekitar satu tahun aku bekerja di perusahaan ini, baru kali ini ada orang yang berhasil bikin aku ngakak sampai keluar air mata di kantor, meski usia perkenalan kami masih dalam hitungan hari. Kebayang deh kalo mereka udah kelar magangnya..

Oh ya, di kantor juga, ada dua orang karyawan baru yang kuharap bisa jadi teman baik suatu saat. Keduanya cowok, dan sama-sama memiliki ketertarikan pada musik Jepang. Sejauh ini kami baru mengobrol sedikit banget, baik itu secara langsung maupun via chat, meski masih banyak awkward nya setiap kali ketemu ataupun ngobrol langsung. Salah satu dari mereka bahkan pernah mengajakku untuk iseng-iseng membentuk band dengan aku sebagai vokalis. Aku senang sih diajak gitu. However, I used to wish to have a band someday. Tapi untuk saat ini aku belum berani, apalagi menyadari kualitas suaraku yang masih pas-pasan banget.

Well, perlu postingan tersendiri untuk menceritakan mereka berdua dan bagaimana aku mengenal mereka pada awalnya. Mungkin besok-besok bakal aku ceritakan tentang mereka. Kami berencana untuk berkaraoke bersama di salah satu family KTV awal bulan depan nanti. Nggak cuma bertiga, melainkan berempat, bareng satu rekan kami yang lain. Kemungkinan bisa juga jadi berlima, karena Tri, teman dekatku juga aku ajak. Itupun kalo situasi dan kondisinya memungkinkan sih, coz dengar-dengar bulan depan pun Tri bakal kedatangan salah satu temannya yang dari Korea. Kalo waktunya bentrok, maka dipastikan dia nggak bisa ikut dan aku harus kesana sendirian (karena Tri satu-satunya temanku yang bisa diajak). Anyway, aku excited banget untuk ini! We will see, bagaimana jalannya rencana kami awal bulan depan nanti. Aku bakal ceritakan semuanya. Semoga segalanya berjalan baik ;)

Total Tayangan Halaman

 
;