Selasa, 05 Juni 2018 0 komentar

BUKU : Tentang Kamu by Tere Liye

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita. Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi. Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.




Aaargh.. I really thank to Bang Darwis ‘Tere Liye’ for writing this super-awesome book!
Sebuah kisah yang benar-benar menggugah. Ini bukan pertama kalinya aku terkesan dengan karya Tere Liye. Dari sepuluh buku tulisan Tere Liye yang aku punya sebelumnya, yakni Rindu, Hujan, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Pulang, Negeri Para Bedebah, Serial Bumi (Bumi, Bulan, Matahari, Bintang), aku suka semuanya. Dan sejauh ini, buku inilah yang entah kenapa aku rasa paling mengena. I dunno.. Mungkin karena belakangan ini perasaanku sedang melankolis. Mood swing selama dua pekan terakhir. Dan aku bersyukur buku ini aku baca di saat yang tepat—padahal belinya tahun lalu. Well, rasanya seperti oase di tengah gurun.

***

Kisah berawal ketika Thompson & Co., sebuah firma hukum di Belgrave Square, London, menerima kabar dari sebuah panti jompo di Paris, bahwa salah satu kliennya meninggal dunia. Tak tanggung-tanggung, sang klien yang meninggal di usia tujuh puluh tahun itu meninggalkan harta warisan sebesar satu miliar poundsterling, atau setara sembilan belas triliun rupiah. Namun Sri Ningsih, nama klien tersebut nggak meninggalkan surat wasiat sebelum meninggal, kecuali selembar surat keterangan yang menerangkan jika sang klien adalah pemilik sah 1% surat saham di perusahaan besar, dan amanat kepada firma hukum tersebut untuk menyelesaikan masalah harta warisannya dengan seadil-adilnya sesuai hukum yang berlaku.

Adalah Zaman Zulkarnaen, seorang pengacara muda dari firma hukum tersebut yang ditugaskan untuk mengusut kasus itu (dengan alasan karena sama-sama orang Indonesia). Dengan penuh tanggung jawab, Zaman menelusuri latar belakang dan perjalanan hidup Sri demi mencari siapa pewaris yang berhak atas harta kliennya tersebut. Dari penelusurannya, terkuaklah pahit getir hidup yang dijalani Sri selama puluhan tahun.

Sejak lahir, Sri tinggal di sebuah rumah panggung di Pulau Bungin, Sumbawa, bersama ayahnya yang berprofesi sebagai seorang nelayan besar. Ibu kandungnya meninggal, sesaat setelah melahirkannya. Beberapa tahun kemudian, sang ayah menikah lagi dengan seorang kembang desa di pulau itu. Awalnya segalanya berjalan baik dan indah, sampai pada suatu hari, takdir merenggut kebahagiaan mereka. Ayah Sri meninggal saat berlayar. Ibu tiri Sri yang sangat terpukul dengan kepergian suaminya perlahan-lahan berubah tabiatnya. Ia yang awalnya sangat menyayangi Sri seperti anak kandungnya sendiri, berubah menjadi membencinya. Tanpa belas kasihan, ia menyuruh Sri mengerjakan semua pekerjaan rumah. Ia bahkan tega menyebut Sri dengan sebutan ‘anak kecil yang dikutuk’. Namun Sri selalu menerima segala perlakuan dan nasib buruknya itu dengan hati lapang. Ia bahkan sama sekali nggak membenci ibu tirinya, padahal usianya masih delapan tahun saat itu.

Di usia empat belas tahun, Sri meninggalkan Pulau Bungin untuk mengenyam pendidikan madrasah di Surakarta, Jawa Tengah. Selama empat tahun, Sri menjalani kehidupannya sebagai seorang pelajar di madrasah itu, hingga akhirnya ia lulus dan diangkat menjadi guru pengajar. Namun kesabarannya kembali diuji ketika salah seorang sahabat tega mengkhianatinya.

Di usia ke dua puluh satu tahun, Sri merantau ke ibu kota, Jakarta. Memulai hidup baru. Dengan gigih ia mencari pekerjaan disana, kemudian mengumpulkan modal dan mulai membangun bisnis. Mulai dari berjualan nasi goreng, bakso, mie ayam, hingga berjualan sayur keliling dengan gerobak. Sukses mengumpulkan uang dengan berdagang, Sri berubah haluan menjadi pengusaha rental mobil. Namun sayangnya, sebuah insiden memaksa Sri untuk memulai semuanya dari awal. Setelah insiden itu, Sri bekerja sebagai seorang pengawas pabrik di sebuah pabrik sabun cuci. Di tahun ketiga, Sri berhenti dari pekerjaannya dan kembali memulai bisnis sendiri dengan membangun pabrik sabun mandi. Namun entah kenapa, di puncak karier bisnisnya, Sri justru memilih pergi meninggalkan Indonesia dan memulai kehidupannya lagi dari nol di London. Ia tinggal di sebuah apartemen sederhana, menjalani hidup sebagai seorang supir bus, dan menemukan cinta sejatinya disana.

Well, aku sering menghindari hal-hal berbau romantis dalam cerita. Tapi entah kenapa aku selalu suka bagian romantis dari cerita yang ditulis Tere Liye. Manis, tapi nggak berlebihan. Aku terkesan dengan kisah cinta antara Sri dan Hakan, lelaki asal Turki yang ia temui di bus. Hakan yang tampan dan pemalu jatuh cinta dengan Sri yang digambarkan bertubuh pendek, gempal, dan berkulit gelap. Setiap hari, Hakan selalu menumpang bus yang dikemudikan Sri hanya demi mendapat kesempatan mengobrol bersama Sri selama lima menit, meski Sri sendiri hanya menanggapinya dengan kalimat-kalimat pendek. Karena sering bertemu, akhirnya Sri takluk. Saat itu usianya sudah menginjak tiga puluh tujuh tahun, Sri pertama kalinya merasakan jatuh cinta. Ia akhirnya menikah dengan Hakan. Namun kebahagiaan mereka terenggut tatkala mereka harus kehilangan bayi mereka sebanyak dua kali. Hal itu benar-benar membuat Sri terpukul. Ia benar-benar kehilangan separuh semangat hidup. Namun Hakan berkomitmen penuh menemani istrinya melewati fase itu, selalu ada di sampingnya apapun yang terjadi.

“Kamu tahu, Sri.. Apa yang membuat pernikahan orang tua dulu langgeng berpuluh-puluh tahun? Karena mereka jatuh cinta setiap hari pada orang yang sama. Itulah yang terjadi. Maka, kesedihan apapun, ujian seberat apapun bisa dilewati dengan baik. Aku berjanji, Sri. Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi padaku. Agar aku bisa menyaksikan Sri yang selalu riang. Sri yang selalu sederhana menatap kehidupan ini”. (hal. 385)

Di usia pernikahan mereka yang ketiga belas tahun, Hakan meninggal dunia. Sri kembali banyak merenung, memikirkan betapa banyak pengorbanan yang dulu dilakukan suaminya, sejak PDKT hingga akhir hayatnya.

“Kamu tahu, Sri, kenapa aku baru menikah di usia tiga puluh sembilan tahun?” Hakan bertanya pelan.
“Karena kamu laki-laki yang pemalu”, Sri menjawab.
“Bukan, Sri.” Hakan menggeleng, “Melainkan agar kita bisa bertemu dan menikah.”

***

Seriously, I was crying again and again! Nggak bermaksud berlebihan, tapi setiap lembar buku ini benar-benar mengesankan. Seperti biasanya, Tere Liye mampu menggambarkan sesuatu secara detail, mampu membawa pembaca seakan benar-benar ada disitu, menyaksikan seluruh kejadian yang ada dalam cerita. Dan hampir setiap episode dalam hidup Sri benar-benar mengaduk-aduk perasaan. Saat ia digambarkan bersedih, pembaca ikut merana. Saat ia bersuka cita, pembaca ikut bahagia. Saat ia jatuh cinta, pembaca pun ikut kasmaran. Really, I feel that! Dan kisah asmara antara Sri dan Hakan ini mengingatkanku pada sesuatu.

Someone used to ask me a question, “Mana yang akan kamu pilih : Ditinggalkan oleh seseorang yang kamu sayang (dalam artian pasangan) karena suatu hal? Atau ditinggalkan karena seseorang yang kamu sayang itu meninggal dunia?”
Waktu itu aku memilih pilihan jawaban yang kedua, dengan alasan bahwa aku nggak mau melihat orang yang aku sayangi dimiliki oleh orang lain, dan rasanya tentu sangat menyakitkan ketika kita ditinggalkan seseorang karena orang itu udah nggak sayang lagi, bosan, atau menemukan seseorang yang lebih menarik dari kita. Sekarang aku memiliki alasan lain kenapa aku memilih pilihan jawaban yang kedua. Karena meski rasa sakit karena ditinggalkan itu tetap dan tentu saja ada, tapi seenggaknya kita tau bahwa orang yang kita sayangi itu pun juga menyayangi kita hingga hembusan napas terakhirnya. That’s it :)

Anyway, aku nggak mau spoiler tentang kisah perjalanan hidup Sri Ningsih secara detail, atau kepada siapa harta Sri itu diwariskan, dan bagaimana ending ceritanya. You should read this if you wanna know how powerful this book is. Intinya, lewat novel ini, Tere Liye ingin mengajarkan pembacanya tentang kesabaran tanpa batas melalui sosok Sri Ningsih yang begitu tegar menjalani kisah hidupnya yang begitu pelik.

***

Ibu, Bapak, bagaimana agar kita bisa berdamai dengan begitu banyak kejadian menyakitkan? Bagaimana jika semua hal menyesakkan itu ibarat hujand deras di tengah lapangan, kita harus melewati lapangan menuju tempat berteduh di seberang, dan setiap tetes air hujan laksana setiap hal menyakitkan dalam hidup? Bagaimana agar Sri bisa tiba di tempat tujuan tanpa terkena satu tetes airnya? Sri sekarang tahu jawabannya. Yaitu justru dengan lompatlah ke tengah hujan, biarkan seluruh tubuh kuyup. Menarilah bersama setiap tetesnya, tarian penerimaan, jangan pernah dilawan, karena sia-sia saja, kita pasti basah. Di sini, di kota dengan Menara Eiffel yang indah dipandang mata, Sungai Seine mengalir elok. Di sini, di jantung peradaban budaya dunia, terima kasih telah mengajariku tentang hakikat kehidupan. Sri akan memeluk semua rasa sakit. Dulu. Sekarang. Esok lusa hingga kita bertemu lagi. (hal. 457)
Minggu, 03 Juni 2018 0 komentar

Writing is..


Apa sih menulis itu?

Sebagai seorang Blogger, salah satu penulis favoritku, Raditya Dika mengungkapkan bahwa menulis merupakan pelampiasan hidup sehari-harinya yang biasa aja. Bagiku, menulis adalah salah satu cara untuk bertahan hidup. Kenapa?

Well, menurutku, di dunia ini nggak ada satupun orang yang mampu memendam unek-unek sendirian. Mereka pasti butuh seseorang atau sesuatu untuk menumpahkan semua itu. Bisa dibayangkan nggak sih, gimana rasanya punya masalah atau unek-unek yang menumpuk di pikiran dan nggak terlampiaskan? Pasti rasanya stres dan nyesek banget, bahkan bisa berujung depresi atau bahkan bunuh diri.

Aku hobi menulis diary sejak kelas tiga SD. Waktu itu aku terinspirasi dari sebuah cerita dalam buku kumpulan cerpen yang aku baca tentang seorang gadis yang gemar menulis buku harian. Sejak saat itu, aku tuliskan cerita sehari-hariku dalam sebuah buku. Semuanya. Bahkan meskipun hari itu nggak ada sesuatu yang menarik untuk kuceritakan pun tetap aku tulis :

‘Hai, Diary. Hari ini nggak ada cerita menarik. Maaf ya. Semoga besok ada cerita yang menyenangkan. Dadah..’

Menggelikan juga kalo aku baca ulang. Hahaha.. Iya, semua buku harian yang kutulis masih tersimpan sampai sekarang.

Tiga tahun setelah itu, aku mengalami hari-hari berat di sekolah. Hampir setiap hari, sampai aku lulus SD. Dan ironisnya, setelah lulus SD keadaan nggak kunjung membaik. Hal yang sama aku alami di kelas satu SMP, dan baru berakhir ketika aku naik kelas dua dan pindah kelas. Ketika itulah aku merasa betapa buku harian sangat berperan untuk menumpahkan segala perasaan. Aku yang dulu rata-rata menghabiskan setengah sampai satu halaman buku untuk menuliskan cerita sehari-hariku, tapi sejak keadaan menjadi sulit, aku bisa menuliskannya berlembar-lembar. Aku bukannya nggak butuh orang lain untuk curhat. Aku pernah melakukannya pada salah satu orang yang paling kupercaya. Tapi yang terjadi kemudian adalah cerita itu sampai pada orang ketiga dan berujung aku diolok-olok. Dengan kata lain, semakin memperburuk keadaan.

Sejak saat itu aku jadi canggung untuk menceritakan masalahku pada orang lain. Aku bersyukur karena aku hidup di era millenial dimana internet berperan sangat besar. Media sosial menjamur, orang-orang bebas berekspresi di dunia maya. Menurutku, berkeluh kesah di media sosial itu sah-sah aja, selama itu nggak terlalu berlebihan dan nggak mengumbar aib. Karena seperti kataku tadi, setiap orang butuh menumpahkan unek-unek. Dan kalo mereka nggak punya seseorang yang bisa diajak curhat, media sosial bisa menjadi wadah. Tapi bukan berarti melupakan Tuhan lho ya. Tuhan tetap menjadi pusat bagi siapapun yang beragama untuk berkeluh kesah. Dia pendengar dan pemberi solusi yang terbaik dibanding siapapun. Aku pribadi sering kok curhat sama Tuhan. Tapi entah kenapa rasanya kurang lega aja gitu kalo belum menumpahkannya kedalam sebuah tulisan. Maka kuputuskanlah untuk membuat blog.

Anyway, aku punya dua blog yang berisi curhatan dan catatan harian. Yang pertama adalah blog dengan catatan random, yang sedang kamu baca sekarang, yang dibuat delapan tahun lalu, tepat setelah aku berhenti menggunakan buku harian untuk menulis diary. Yang kedua adalah blog dengan curhatan yang lebih bersifat pribadi. Siapapun nggak akan menemukan namaku disana. Dengan begitu aku bisa lebih bebas menumpahkan unek-unek tanpa harus merasa khawatir dihakimi apalagi diolok-olok. You know, nggak ada siapapun yang benar-benar bisa mengerti dirimu, kecuali Tuhan dan dirimu sendiri.
Jumat, 01 Juni 2018 0 komentar

Buka Puasa Bareng MusTanG

Ini hari pertama aku dan teman-teman satu band mengadakan rehearsal lagi setelah kami manggung di CSB Mall beberapa waktu lalu.

Wait, wait.. seorang Putri Vidialesta jadi anak band?

Enggak kok. Aku masih tetap anak ibu dan bapak :)

Well, aku belum cerita ya? Jadi ceritanya bulan Maret lalu, Bapak Presiden Direktur di tempat aku bekerja mencetuskan sebuah ide untuk mendirikan sebuah band yang personilnya terdiri dari para karyawan dari perusahaan yang beliau pimpin. Band ini nantinya akan berperan dalam pembuatan jingle perusahaan. Selain itu, band ini pun nantinya akan diundang untuk mengisi acara hari jadi kantor-kantor cabang kami yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, yakni Bekasi, Pekanbaru dan Tasikmalaya.

Menjelang hari jadi kantor cabang Cirebon bulan Maret lalu, ditunjuklah beberapa orang karyawan untuk menjadi personil. Nggak sulit untuk menemukan para pemain musik untuk band ini. Yang sulit adalah menentukan vokalis. Sebenarnya pada dasarnya, hampir setiap karyawan di kantor kami memiliki hobi menyanyi. Hanya aja mereka malu untuk unjuk gigi, tak terkecuali aku. Ada beberapa orang yang percaya diri, tapi mereka terbiasa membawakan lagu dangdut atau tarling, sama sekali nggak cocok dengan band kami. Saat Bapak Kepala HRD menentukan beberapa calon kandidat vokalis via WhatsApp Group, Ryan merekomendasikan aku untuk bergabung.
“Beda aliran”, responku waktu itu.
“Putri mah aliran Metal ya”, ledek Mas Febri.
“Bukan, Putri mah aliran kosidah”, Pak Asep ANALIS ikut menimpali.
 Intinya aku menolak ajakan itu.

Sebenarnya perihal beda aliran itu bukan satu-satunya alasanku menolak bergabung. Memang sih, berada dalam sebuah band adalah mimpiku dari dulu. Hanya aja aku memiliki beberapa alasan kenapa aku menolak. Pertama, aku biasa karaokean via Smule, tapi lagu yang kubawakan itu cocok-cocokan. Kebanyakan lagu-lagu seperti yang dibawakan Paramore, One Ok Rock, My Chemical Romance, Automatic Loveletter, dan Versa Emerge yang aku rasa cocok dengan karakter suaraku. Sedangkan dalam band itu cuma Ryan satu-satunya personil yang seenggaknya sealiran denganku. Anyway, Ryan ini udah biasa manggung dan penggemar Japanese Rock. Dia penggemar Laruku dan VAMPS, tapi nggak jarang juga membawakan lagu-lagu One Ok Rock. Tapi kan rasanya nggak mungkin kalo band kantor ini membawakan lagu-lagu mereka nantinya. Nggak semua orang suka musik Rock. Alasan kedua adalah karena aku malu, nggak percaya diri tampil didepan banyak orang. Semua orang yang mengenalku tau itu. Akhirnya diputuskanlah salah seorang Sales untuk menjadi vokalis dalam band itu, dan Presiden Direktur memberi band itu dengan nama MusTanG.

Tapiii.. satu hari sebelum acara hari jadi kantor cabang Cirebon itu berlangsung, aku sempat iseng ikut mereka latihan, duet sama vokalis mereka. Yah, sekedar ingin tau aja sih, gimana rasanya menyanyi dengan diiringi band beneran. Ternyata rasanya asik, lebih mengasyikan dari karaoke, karena di studio, aku bisa menyanyi dengan lebih lepas tanpa harus khawatir diteriakin tetangga. Hanya aja bersamaan dengan itu, aku juga merasa kurang menikmati sensasinya. Mungkin karena lagu yang dibawakan kurang cocok dengan seleraku, atau karena aku kurang cocok dengan partner duetku saat itu.

Namun itu hanya awal. Bulan lalu, aku mantap bergabung dengan MusTanG. Waktu itu di pikiranku muncul sebuah niat yang memotivasiku untuk bergabung. Aku nggak peduli bahwa pertama dan terakhir kali aku tampil didepan umum beberapa tahun silam berujung malu (waktu itu aku didaftarkan mewakili sekolah untuk menjadi peserta debat Bahasa Inggris antar sekolah). Entah gimana penampilanku di panggung nantinya, itu urusan belakangan. Niatku benar-benar menggebu saat itu. Kebetulan saat itu posisi vokalis sedang kosong (karena akhirnya vokalis yang kemarin nggak meneruskan bergabung dalam band), dan para personil MusTanG menerimaku dengan tangan terbuka. Akhirnya setelah beberapa kali bongkar pasang personil—khususnya di posisi vokalis—ditetapkanlah enam orang personil dalam band ini, yakni aku (Vocalist I), Dhea (Sekretaris Direksi, Vocalist II), Mister Chokai (Analis, Lead Guitarist, Mas Win (Customer Service, Rhythm Guitarist), Ryan (Pramuniaga, Bassist), dan Mas Febri (Admin Purchasing, Drummer).

Minggu kedua di bulan Mei, kami manggung di CSB Mall, salah satu mall terbesar di kota kami yang saat itu tengah mengadakan job fair, dan kami menjadi satu-satunya band yang tampil pada hari itu. Itupun Mister Chokai ngabarinnya bisa dibilang mendadak, dan kami (kalo nggak salah) cuma latihan dua kali pasca dikabari soal manggung di mall tersebut

Jadi gimana rasanya manggung di depan umum untuk pertama kali?
Nano-nano banget! Apalagi dalam kondisi mood-ku yang saat itu nggak beraturan. Tapi kalo boleh memilih antara menyanyi atau bicara didepan umum, aku lebih pilih nyanyi deh. Seriously. Ini aneh lho.. Selama manggung waktu itu, aku justru merasa enjoy ketika nyanyi, dan seketika merasa uncomfortable ketika musik berhenti, karena pada saat itu aku harus berkomunikasi dengan penonton dan aku bingung harus ngomong apa. Alhasil selama sesi berkomunikasi dengan penonton itu, aku lebih banyak diam sambil mati-matian menahan rasa gugup. Untung ada Dhea yang bisa diandalkan dalam hal ini. Hahaha..

Dan nggak tau kenapa, ketika manggung itu aku justru senang ketika beberapa orang merekam atau memotret performance kami di atas panggung. Padahal biasanya aku risih kalo direkam atau dipotret tanpa ijin kayak gitu. Wkwk..


***

Alright. Back to today’s story.

Jam empat sore, kami berkumpul di Kanza Music Studio. Ryan seperti biasa bawa buntut (baca : Inggit. Wkwk..). Dhea datang terlambat waktu itu. Yah, wajar sih, dia datang langsung dari Bekasi, jadi kami maklum. Di jalan pasti macet banget. Akhirnya sambil menunggu Dhea, kami pun melakukan check sound. Dhea datang sekitar setengah jam kemudian. Sesi latihan pun berjalan seperti biasa. Tapi entah kenapa untuk latihan kali ini aku merasa nggak se-enjoy dan se-excited biasanya. Rasanya biasa aja gitu, nggak fun kayak latihan sebelum manggung waktu itu.

Sekitar jam enam sore, kami menyudahi latihan dan memutuskan buat makan di Markas Food Camp. Awalnya kami sempat khawatir nggak kebagian tempat, karena you know lah, kalo bulan Ramadhan, jam enam itu dimana-mana rumah makan penuh semua, karena udah masuk waktu buka puasa. Tapi syukurlah, kami nggak perlu cari tempat lain buat ngisi perut. Kami memesan meja untuk delapan orang (aku, Inggit, Ryan, Mas Win, Mas Febri, Mister Chokai, Dhea, dan sopirnya). Aku yang waktu itu memesan nasi goreng seafood diledekin teman-teman karena dilayani paling akhir. Yang lain udah mulai makan, aku masih ngaduk-ngaduk whiped cream di atas segelas black forest mix blend didepanku saking betenya nunggu pesanan jadi. Tapi begitu pesananku jadi, Mas Win, Mas Feb, dan Ryan kasak-kusuk bertiga.
“Ribut apa sih?” tanya Mister Chokai.
“Ini, pada ributin kerupuk. Nasi gorengnya Mbak Put ada kerupuknya, punya mereka nggak ada”, jawab Inggit. Aku cengengesan aja dengernya. Wkwk.. Rejeki orang sabar.

Seluruh biaya makan kami dibayar perusahaan sore itu melalui Dhea. Sekitar jam setengah delapan, kami bubar. Dhea dan supirnya pamit. Malam itu juga mereka kembali ke Bekasi.

Ah, thanks for today, Guys. I didn’t feel fine today, but I felt quite better with you all :)
Minggu, 27 Mei 2018 0 komentar

Buka Puasa Bareng Safira dan Shinta


Hey there. How’s life, Everyone?

Haaaah.. senangnya bisa menulis disini lagi setelah sekian lama blog ini vakum. Rasanya seperti pulang ke rumah. Maklum, belakangan ini aku sibuk dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia nyata dan masa depan. Haha.. Bukannya benar-benar nggak punya waktu luang ya, hanya aja aku sering butuh waktu lebih dari satu jam untuk menulis sesuatu, meskipun itu sekedar menceritakan daily life. Selama vakum itu, sebenarnya cukup banyak hal yang berkesan dan ingin kutulis, karena pada dasarnya dari dulu aku adalah tipe orang yang suka mengenang masa lalu, khususnya hal-hal menyenangkan, karena dengan begitu aku bisa lebih bersyukur pada Tuhan atas nikmat hidup yang Ia beri. Tapi karena semua itu udah lewat, jadi ya udah, biarkan aja semua itu cukup aku simpan dalam ingatan. Hanya aja memang ada sekelumit kisah yang bersifat abu-abu sih, dalam artian kalo diceritakan aku enggan, nggak diceritakan jadi beban, dan nggak tau pula mau cerita sama siapa. Doesn’t mean that I have nobody, I just don’t believe anyone (kecuali Allah). Jadi tulisan itu aku publikasikan secara tersembunyi (dipublikasikan tapi tersembunyi, gak ngerti kan? Ya udah). Biar lebih plong aja sih.

Well, udah lebih dari seminggu Ramadhan berjalan. Setiap tahun selalu jadi agenda rutin bagi aku dan teman-teman untuk melaksanakan buka puasa bersama, sekaligus mempererat tali pertemanan gitu. Hanya aja tahun ini entah kenapa kok pada diam-diam aja meskipun Ramadhan udah berjalan selama beberapa hari. Sooo.. beberapa hari yang lalu, aku sindir mereka via status WA :

“Adem ayem aja. Nggak ada yang ngajak buka puasa bersama apa?”

Sindiranku rupanya berhasil. Beberapa temanku merespon statusku, diantaranya Tri, Yuda, Safira, dan Shinta. Karena Tri adalah teman dekat sekaligus tetangga, maka bukbernya udah pasti nunggu adikku pulang ke Cirebon, biar nantinya kami bukber berempat bareng Dewi yang juga merupakan teman dekat sekaligus tetangga kami. Sementara Yuda mengajak bukber di minggu ketiga Ramadhan. Berbeda dengan Safira dan Shinta yang langsung merencanakan acara bukber sesegera mungkin. Anyway, aku sangat menyayangkan dua sohibku, Rohayati dan Putri Ayu yang cuma read doang. Padahal dulu mereka sangat antusias soal ini. Yah, aku hanya bisa maklum, situasi sekarang beda, nggak akan sama lagi kayak dulu ketika Rohayati masih lajang.

Oke, balik ke persoalan acara bukber bareng Safira dan Shinta. Kemarin kami putuskan acara bukber kami dilaksanakan hari Minggu, yak hari ini. Hanya aja tempat makannya yang belum kami pastikan, rencananya nanti setelah ketemu baru didiskusikan. Kami pun janjian ketemuan di kawasan Jalan Ampera, karena disana memang banyak sih cafe-cafe dan rumah makan, tadinya. Namun Safira kemudian sadar bahwa Jalan Ampera bukanlah tempat yang asik buat jalan-jalan, karena nantinya kami disana cuma makan doang, nggak jalan-jalan dulu. Akhirnya lokasi pertemuan kami ubah ke kawasan CSB Mall. “Jam 16.00 ya, biar nggak terlalu mepet sama waktu Magrib”, kataku. FIX.

Singkat cerita, jam empat sore aku berangkat dengan menumpang GrobBak. Sesampainya disana, sesuai perjanjian, aku menunggu di depan sebuah toko sepatu. Yap, teman-temanku telat. Belum berangkat semua malah. Parah banget kan. Akhirnya aku tunggu mereka deh disitu, sendirian kayak anak ilang.  Mana lama banget lagi. Sekitar jam lima baru Shinta doang yang nongol. Kami berdua pun memutuskan untuk naik ke lantai dua CSB Mall dan menunggu di depan tangga. Beberapa menit menunggu disitu, akhirnya Fira tiba juga. Dia habis nunggu anaknya dulu, katanya, makanya telat.

Waktu berbuka puasa tinggal beberapa menit lagi, dan seluruh tempat makan di kawasan itu udah penuh. Yap, seluruhnya. Salah kami juga sih yang nggak lebih dulu pesan tempat, hitung-hitung sambil menunggu Safira tadi. Well, kalopun pesan tempat duluan pun, aku dan Shinta nggak tau Safira maunya makan dimana. Takutnya ntar pas udah dipilihkan, dia malah nggak sreg. Ditanya pun dia nggak jawab. Alhasil kami jadi keliling-keliling deh cari tempat makan yang masih punya meja kosong, tapi hasilnya nihil, karena setiap tempat benar-benar penuh. Bahkan bukan penuh lagi. Beberapa tempat makan bahkan ada yang antrian di luarnya sampai berjubel. Para waiter dan waitress kewalahan melayani mereka. Finally, terpaksa deh kami turun dulu buat beli minum, sekedar untuk membatalkan puasa.

Setelah membeli minum (yang harganya digetok jauh lebih tinggi, 7k hanya untuk satu cup es teh manis), kami pun duduk-duduk di tangga. Kami ngobrol-ngobrol disana. Yah, seperti biasa, tentang nostalgia jaman sekolah, bahas teman-teman seperjuangan yang udah berkeluarga..
Anyway, sempat kaget juga sih tadi, dengar cerita dari Safira tentang salah satu teman sekelas kami di SMA yang nasibnya kurang beruntung karena dimanfaatkan sama suaminya sendiri. Sebagai perempuan, dia yang justru menjadi tulang punggung bagi suami dan ibu mertuanya. Belum lagi menghadapi amarah suaminya yang sering meledak-ledak. Miris deh dengernya. Aku jadi ikut prihatin, apalagi mengingat sosoknya yang dulu innocent dan periang. Membayangkannya diperlakukan seperti itu rasanya nggak tega banget. Semoga Allah selalu melindungi dan menguatkannya :’)

Sekitar jam setengah delapan, kami kembali mencari tempat makan. Alhamdulillah, akhirnya kami dapat meja, meski harus menunggu sebentar. Sambil menunggu, kami pun memilih menu. Ish, itu tempat makannya benar-benar penuh banget. Seluruh karyawan benar-benar sibuk. Saking sibuknya, mereka yang biasanya ramah jadi jutek, bahkan hanya untuk sekedar senyum pun susah. Well, nggak masalah. Maklum, dengan konsumen sebanyak itu dan dalam keadaan berpuasa, mereka pasti capek banget. Hanya aja yang jadi masalah adalah.. penyajiannya itu lho, lamaaaaaaa banget. Benar-benar lama. Lebih mengesalkannya lagi, orang-orang yang datang setelah kami justru mendapat pelayanan lebih dulu. Bahkan beberapa orang yang datang setelah kami itu ada yang udah selesai makan, sedangkan pesanan kami belum datang sama sekali. Entahlah kenapa bisa seperti itu. Bayangkan aja, kami datang kesitu sekitar jam setengah tujuh, pesanan baru datang sekitar jam delapan. Haaaaahh.. Benar-benar waktu terlama yang pernah kami habiskan di sebuah tempat makan hanya untuk menunggu pesanan jadi. Fira yang tadinya mau cerita banyak sambil makan jadi bad mood duluan. Yah, sudahlah. Memang kalo bulan Ramadhan, nyari tempat makan pas waktu berbuka puasa tuh butuh sedikit perjuangan. Haha..

Setelah kenyang (kekenyangan lebih tepatnya, karena porsinya banyak banget buat cewek-cewek minimalis seperti kami), kami pun berjalan bersama ke lobby utama. Sebenarnya masih pengen menghabiskan waktu bareng sih ya, hanya aja kami nggak mau pulang terlalu larut, akhirnya kami berpisah disana.

Well, sampai jumpa di lain kesempatan, Kawan-kawan. Dan semoga lain kali lebih menyenangkan :D
Minggu, 28 Januari 2018 0 komentar

Welcome to the New Journey, Soul Sister

Pernah nggak sih kamu merasa waktu berjalan begitu lambat saat ditunggu, namun ketika flashback, kita melihat jauh ke belakang, ke sepuluh tahun lalu misalnya, itu rasanya baru terjadi kemarin?
Aku pribadi sering banget merasakan hal itu. Seperti saat ini. Rasanya baru kemarin aku, Ayu, dan Rohayati saling berbagi cerita tentang laki-laki yang sedang ditaksir oleh masing-masing kami, membicarakan kekonyolan teman-teman di kelas, makan bakso di koridor sekolah, berjalan pulang sekolah beriringan, bertiga.. Selalu bertiga. Namun rupanya itu terjadi sekitar enam dan tujuh tahun lalu. Dan bahkan jauh setelah kami lulus SMA, kami masih sering main bareng. Setidaknya sebulan sekali kami bertiga berkumpul dan menghabiskan waktu berjam-jam. Nggak harus di mall ataupun tempat-tempat nongkrong kekinian. Faktanya kami lebih sering ngumpul bareng di rumahku, ngobrolin banyak hal, mulai dari nostalgia masa SMA hingga soal love life.

Yah, seperti perempuan-perempuan normal pada umumnya, kami tentu memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis. Namun sangat berbanding terbalik dengan Ayu yang udah beberapa kali gonta-ganti pacar dan hobi yayang-yayangan di telepon, aku dan Rohayati justru hampir nggak peduli dengan hubungan percintaan. Kami cukup bahagia hanya perasaan naksir-naksiran terhadap lawan jenis tanpa harus menjalani relationship yang rumit dan belum tentu membuat kami lebih bahagia. We were single, we were free.

Suatu waktu, kami pernah menebak-nebak siapa diantara kami bertiga yang akan melepas masa lajang lebih dulu. Tentu aja saat itu kami yakin bahwa Ayu lah yang mendahului kami. Tapi skenario Tuhan memang penuh misteri. Dua tahun setelah itu, Rohayati datang padaku dan bercerita bahwa ada seorang laki-laki yang tengah menaruh hati padanya. Lucunya lelaki ini nggak berani untuk mendekatinya langsung, melainkan hanya menitip salam pada saudara dari temanku itu. Kebetulan rumah mereka berdekatan. Tetanggaan lah, bisa dibilang. Dan tanpa diduga lagi, laki-laki ini rupanya udah cukup tau banyak mengenai Rohayati, padahal mereka nggak pernah ngobrol. Kemungkinan besar si laki-laki ini melakukan survey gitu deh, tanya-tanya gitu ke saudara-saudaranya. Dan karena sering seperti itu, Rohayati mengaku jadi sering diledekin sama sepupu-sepupunya.

Singkat cerita, laki-laki itupun memberanikan diri untuk menyatakan niatnya melamar Rohayati kepada kedua orangtua temanku itu. Tanpa diduga, kedua orangtua Rohayati menyambut niat itu dengan sangat baik. “Yang mau dilamar saya, tapi yang girang setengah mati malah ibu,” tutur Rohayati padaku saat itu.

Namun berbanding terbalik dengan orangtuanya, Rohayati justru nggak siap dengan hal itu. Pertama, meski bertetangga, namun ia nggak mengenal laki-laki itu dengan cukup baik. Kedua, perbedaan usia mereka terpaut cukup jauh, 10 tahun. Ketiga laki-laki itu berniat menikahinya di bulan Januari, which is terlalu cepat bagi Rohayati yang baru aja wisuda dan masih punya mimpi untuk bekerja dan membahagiakan orangtuanya. But however, Mas Solihin—begitulah panggilannya—merupakan pria sopan dan berakhlak baik. Ia juga udah mapan, udah sangat matang untuk membangun keluarga. Tapi ya tetap aja kan, yang namanya pernikahan nggak bisa diburu-buru. Bukan hanya soal perasaan Rohayati yang belum tumbuh, tapi juga soal kesiapan mentalnya yang sama sekali belum matang.
“Saya masih pingin main, Put. Pengen juga ngerasain kerja, cari duit sendiri,” katanya. Tapi Rohayati yang berhati lembut nggak sampai hati melihat raut kebahagiaan di wajah kedua orangtuanya. Yah, orangtua mana yang nggak senang putrinya dilamar laki-laki baik. Apalagi mereka bertetangga, jadi udah sama-sama tau gimana keseharian mereka. Tapi kalo aku ada di posisi Rohayati, aku juga pasti akan merasakan hal yang sama. Bimbang. Namun sebagai salah satu teman terdekatnya, aku hanya bisa membesarkan hatinya. “Seenggaknya Allah langsung mempertemukan kamu sama orang yang baik, Roha. Nggak ada rasa sakit hati karena diputusin, rasa kecewa karena diselingkuhi, dan yang pasti nggak ada label ‘mantan’ di diri kamu. Kamu seutuhnya buat dia. Dia segitu baiknya sama kamu, saya yakin kamu bakal bahagia sama dia”, kataku. Di hari terakhir kami bertemu sebelum hari pernikahannya, aku peluk dia. Sebuah pelukan singkat, tapi hatiku berkata banyak. Setelah hari itu, kita nggak akan bertemu sesering ini lagi kan? Semuanya tentu akan berubah, nggak akan lagi sama. Tapi saya harap kamu tetap Rohayati yang saya kenal.

Kurang dari satu Minggu sebelum hari pernikahannya, Rohayati bertandang ke rumahku bersama calon suaminya dengan membawa beberapa lembar undangan. Tapi aku masih di kantor waktu itu, alhasil ibu yang nerima. Undangan-undangan itu ditujukan kepadaku dan beberapa teman SMA kami. Dia meminta tolong padaku untuk menyampaikannya kepada mereka. Karena waktunya yang mepet banget, sehingga beberapa undangan aku sampaikan via Facebook. Untuk Rizka dan Diny, aku sempat berkeinginan untuk menyampaikannya langsung kepada mereka. Setauku Rizka bekerja di sebuah toserba, aku bisa mampir kesana sepulang ngantor. Sementara rumah Diny sebenarnya nggak bisa dikategorikan dekat dari rumahku, hanya aja aku pernah kesana waktu masih sekolah dulu. Tapi sebelum itu, kupastikan dulu apakah mereka ada di tempat. Bukan apa-apa. Masalahnya untuk menuju kesana aku cuma bisa mengandalkan transportasi umum, nggak pake kendaraan pribadi. Jadi kalo sampe di tempat orangnya nggak ada atau udah nggak disana lagi kan sayang juga ongkosnya -,- Namun sayangnya, Rizka nggak segera membalas private message-ku, sedangkan Diny entah kenapa tiba-tiba lost contact,padahal kemarinnya dia sempat ngomentarin postinganku, ngajak pergi kondangan bareng.




Yang paling menyesakkan dari semuanya adalah, satu hari sebelum hari pernikahan Rohayati, aku pulang ngantor dengan membawa setumpuk tugas, dan yang lebih kampretnya lagi, hari ini yang notabene hari Minggu pun, aku dan rekan-rekan diwajibkan ngantor. Padahal beberapa hari sebelum hari ini, aku sempat berniat untuk main ke rumah Rohayati sepulang ngantor di hari Sabtu dan menemaninya sampai malam. Aku yakin, sehari sebelum hari pernikahan, perasaannya pasti berkecamuk. Hey, siapa coba yang nggak deg-degan menjelang satu hari penting dalam hidup? Seenggaknya dengan menemani dia, aku bisa memberi dia sedikit motivasi, walau aku nggak yakin itu membantu banyak. Dan aku juga sempat berniat untuk datang ke hari pernikahannya sedari pagi untuk melihat prosesi akad. Sebagai teman baik, rasanya kurang afdol jika aku nggak menyaksikan momen paling sakral baginya itu.

Lepas waktu Dzuhur, aku baru bisa hadir ke acara itu bareng ibu. Rohayati yang siang itu tampil dengan balutan gaun merah muda kelihatan extremely cantiiiiiiiiik banget. Mungkin karena sehari-harinya dia jarang banget dandan, jadi kelihatannya pangling gitu. Absolutely awesome deh. Ia tersenyum lebar saat melihatku. Kupeluk dia dan kuucapkan selamat.
“Foto bareng dulu dong,” katanya. Kemudian kami berfoto bersama.




Setelah berfoto, aku dan ibu pun lanjut ke meja prasmanan dan menikmati hidangan. Harusnya hari ini aku bahagia, tapi yang ada perasaanku berkecamuk antara bahagia dan sedih, tapi lebih banyak sedihnya sih. Bukan sedih karena pernikahan sahabatku ini ya, tapi karena siang tadi itu aku memang benar-benar lagi bad mood banget. Bad mood karena disuruh ngantor di hari penting, dan bad mood karena satu masalah pribadi.

Setelah makan dan menyaksikan sajian hiburan, aku dan ibu beranjak, dan sekali lagi aku meminta foto bareng. Hanya aja kali ini aku meminta foto berdua bareng Rohayati menggunakan hapeku. Habis itu kami berpelukan lagi. Haaaahh.. will it be still  the same after this?

Selepas pulang dari hajatan itu, penyesalanku semakin menjadi karena waktu iseng stalking Facebook nya, banyak teman kampus Rohayati yang mengupload foto kebersamaan mereka sejak menjelang akad sampai acara resepsi. Seketika aku berpikir, teman kampusnya aja hadir pas akad nikah, aku yang udah sohiban sama dia sejak SMA dan sering menghabiskan waktu bareng malah telat banget hadirnya.Haaahh.. perasaanku nggak karuan banget deh pokoknya. Tapi yaaah.. nggak ada gunanya juga menyesal ya.



Well, teruntuk soul sister-ku, Rohayati..
Mulai hari ini peran orangtuamu digantikan oleh laki-laki yang akan menjadi teman hidup sekaligus imam kamu, penyempurna agamamu, yang mana surgamu ada dalam ridhonya. Selamat datang di bab kehidupanmu yang baru, Kawan. Bahagia terus yaa.. Bahagialah lebih dari sebelumnya :)

Total Tayangan Halaman

 
;