Rabu, 01 Agustus 2018 1 komentar

TV SERIES : 13 Reasons Why

Bagaimana rasanya jika kamu mengetahui bahwa dirimu adalah salah satu tersangka atas penyebab seseorang membunuh dirinya sendiri? Masa bodoh saja dan membiarkan semuanya berlalu? Atau menyesali apa yang pernah kamu lakukan? Namun sayang, semua itu sudah terlambat.

Kau tak bisa menghentikan masa depan
Kau tidak bisa mengulang masa lalu
Satu-satunya cara untuk mengetahui rahasia itu
Adalah menekan.. Play.




STORYLINE

Clay Jensen pulang dari sekolah dan menemukan sebuah paket berisi setumpuk kaset. Namun, ternyata pengirim kaset-kaset itu adalah Hannah Baker, teman sekolahnya yang bunuh diri dua minggu lalu. Dalam kaset-kaset itu, Hannah menjelaskan alasan-alasan kenapa ia bunuh diri dan siapa saja yang terlibat di dalamnya. Clay menjadi salah satunya. Hannah Baker sudah tiada. Seharusnya rahasia-rahasia itu terkubur bersamanya. Namun, setelah mendengarkan isi kaset, Clay paham kenapa dia menjadi salah satu alasan Hannah.

CAUTION! Tulisan ini mengandung spoiler (walau nggak semua diuraikan, karena bakalan panjang banget) . Jangan teruskan apabila kamu belum pernah menonton, atau ceritanya jadi nggak greget lagi.


Cantik dan periang. Mungkin itu yang dilihat orang lain dari sosok Hannah Baker (diperankan oleh Katherine Langford). Namun siapa sangka bahwa gadis itu memiliki persoalan hidup yang ditanggungnya sendirian. Intimidasi, perundungan, hingga pelecehan seksual ia alami di masa remajanya, dan ironisnya semua itu ia terima dari teman-teman sekolahnya. Di tengah orang-orang yang memperlakukannya dengan tidak baik, Hannah masih percaya bahwa masih ada orang baik di dunia ini, namun kepercayaannya dipatahkan oleh kenyataan bahwa orang-orang yang ia yakini baik pun akhirnya mengecewakannya, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.


Hannah Baker




Setelah kematian Hannah Baker, Clay Jensen (diperankan oleh Dylan Minnette) yang diam-diam menaruh hati pada gadis itu mulai berhalusinasi tentang Hannah. Ia merasa melihat Hannah di aula dan di lorong Liberty High School, sekolah dimana mereka berdua menuntut ilmu.


Sepulang sekolah, Clay menemukan sebuah paket yang ditujukan kepadanya di depan pintu rumahnya. Ia terkejut ketika melihat nama pengirimnya : Hannah Baker. Ia langsung meminjam boombox tua milik ayahnya untuk memutar kaset-kaset itu, namun sayangnya boombox itu rusak. Akhirnya dengan bersepeda, Clay pergi ke rumah sahabatnya, Tony Padilla (diperankan oleh Christian Navarro). Diam-diam, ia mengambil walkman milik Tony dan membawanya pulang untuk memutar kaset-kaset itu yang ternyata merupakan sekumpulan rekaman suara Hannah yang direkamnya beberapa saat sebelum ia mengakhiri hidupnya.


"Hey, aku Hannah. Hannah Baker. Betul. Jangan dengarkan di perangkat apapun milikmu. Ini aku, hidup dan di dalam stereo. Tidak ada perjanjian, tidak ada pengulangan, dan kali ini sungguh tidak ada permintaan. Siapkan cemilan, tetap disini. Aku akan menceritakan kisah hidupku, khususnya alasan mengapa hidupku berakhir. Dan jika kau sedang mendengarkan rekaman ini, kau adalah salah satu alasannya. Tapi jangan takut, kalau kau menerima kotak kecil yang indah ini, namamu akan muncul, aku berjanji. Pokoknya aturan disini cukup sederhana. Hanya ada dua. Peraturan pertama, kau mendengarkan. Peraturan kedua, kau menyebarkannya... Setelah selesai mendengarkan semua 13 sisi, karena ada 13 sisi untuk setiap cerita, mundurkan kaset, taruh kembali kedalam kotak, lalu teruskan ke orang berikutnya...".


Clay terheran-heran kenapa dirinya termasuk dalam orang-orang yang menjadi alasan Hannah bunuh diri. Ia pun mulai mendengarkan isi kaset itu satu persatu, bersama dengan peta yang Hannah sediakan dalam paket itu. Setiap lokasi yang tertera dalam peta memiliki kisah. Lama kelamaan, Clay menjadi terobsesi untuk menuntut keadilan atas Hannah. Ia memberi pelajaran pada orang-orang yang disebutkan dalam rekaman agar mereka menyesal dengan apa yang pernah mereka perbuat terhadap Hannah. Beberapa orang yang nggak suka dengan cara Clay mencoba untuk menghentikannya. Hingga akhirnya tibalah saatnya bagi Clay untuk mendengarkan rekaman tentangnya. Tape 6 Side A. Clay sempat enggan mendengarkan bagian ini. Namun Tony, sahabatnya, terus mendukungnya dan menemaninya. Setelah mendengarkan rekaman tentang dirinya secara lengkap, Clay bingung, hingga hampir bunuh diri. Beruntung, Tony mencegahnya hingga akhirnya Clay mau mendengarkan keseluruhan isi kaset hingga tuntas.


"Aku merekam dua belas kaset, mulai dari Justin kemudian Jessica yang keduanya telah menghancurkan hatiku. Alex, Tyler, Courtney, Marcus yang telah membantu merusak reputasiku. Lalu Zach dan Ryan yang telah menghancurkan semangatku. Kemudian rekaman nomor dua belas, Bryce Walker, yang menghancurkan jiwaku."


Setelah mendengarkan Tape 6 Side B, Clay mendatangi Bryce Walker (diperankan oleh Justin Prentice) di kediamannya untuk mendapatkan pengakuan darinya tentang pemerkosaan yang Bryce lakukan terhadap Hannah. Awalnya, Clay mengaku bahwa ia ingin membeli ganja dari Bryce, hingga kemudian ia menuduh Bryce telah melakukan pelecehan seksual terhadap Hannah. Usaha Clay nggak sia-sia. Bryce mengakui perbuatannya, namun tanpa ia ketahui bahwa pembicaraan mereka diam-diam direkam oleh Clay di sisi terakhir kaset Hannah yang nggak digunakan, yakni Tape 7 Side B. Dengan rekaman itu, Clay ingin menjadikannya bukti agar Hannah mendapatkan keadilan. Ia pun merahasiakannya kepada siapapun, kecuali kepada Tony, orang yang paling ia percaya, sahabat baiknya.


Dengan membawa ketigabelas kaset rekaman Hannah, Clay menemui Mr. Porter (diperankan oleh Derek Luke), Guru Konseling di sekolah mereka, yang merupakan alasan ketiga belas mengapa Hannah memutuskan untuk bunuh diri. Saat itu Mr Porter nggak membantu Hannah setelah gadis itu mengaku bahwa ia menerima pelecehan seksual dari murid lain. Clay pun meninggalkan kaset-kaset itu bersama Mr Porter, berharap gurunya itu melakukan sesuatu agar nggak ada lagi murid lain yang bernasib sama seperti Hannah.


***

Sebenarnya udah dari minggu lalu aku gemas banget pengen mengulas tentang 13 Reasons Why ini. Tapi berhubung belakangan ini aku lagi sibuk dengan pekerjaan, ditambah kondisi badan yang kurang fit, baru sekarang aku sempat nulis.

Huhh.. I really thank Zahara yang udah merekomendasikan aku TV series yang awesome ini. Beberapa waktu lalu, dalam sebuah obrolan di WhatsApp chat ia bertanya apa aku pernah nonton TV series ini, dan aku jawab belum, karena aku kurang update dalam hal ini, apalagi untuk drama Western, coz aku lebih prefer ke drama Asia sih. Tapi teman baikku yang satu itu meyakinkan aku bahwa ceritanya seru, dan akhirnya aku tertarik untuk nonton.

Beberapa hari setelah obrolan itu, aku memanfaatkan jaringan internet di kantor untuk mendownloadnya. Jumlah semuanya tiga belas episode. Aku download video HD, jadi size tiap episodenya lumayan besar : 600MB. Tapi untungnya koneksi internet kantor cukup baik, sehingga untuk mendownload file sebesar itu nggak sampai lima menit. Hanya aja kapasitas flashdisk-ku terbatas banget. Jadi ngopy file-nya kudu nyicil. Wkwkwk..

Dan ternyata benar.. setelah nonton, aku jadi ketagihan. Setiap satu episode berakhir, aku selalu didorong rasa penasaran untuk melanjutkan ke episode berikutnya. Ceritanya benar-benar membuat penasaran dan cukup mengaduk-aduk emosi. Dari semua tokoh dalam TV series ini, aku menyukai tokoh Tony Padilla, Alex Standall dan Jeff Atkins. Well, rasanya memang aneh sih. Di awal menonton TV series ini, aku pikir aku menyukai tokoh Clay Jensen. Entahlah, aku suka sama pribadinya yang pendiam dan cerdas. Ditambah wajah tampannya yang jadi nilai plus. Namun sayangnya, meskipun dia terlihat sebagai anak baik-baik, ia juga memiliki sifat pembangkang. Terlihat dari betapa orangtuanya sering kewalahan menghadapi dia. Dan seiring berjalannya cerita dan mendalami karakter setiap tokohnya, aku malah jatuh cinta pada tiga tokoh yang lain.


Alex Standall (diperankan oleh Miles Heizer), merupakan salah satu orang yang disebutkan namanya dalam kaset rekaman Hannah Baker, which means dia adalah salah satu orang yang terlibat dalam kasus bunuh diri Hannah. Kenapa aku suka dengan tokoh ini? Well, sebenarnya bukan suka sih ya, tapi lebih ke tertarik. Waktu pertama kali lihat dia di Monet—cafe tempat Hannah Baker dan teman-temannya biasa nongkrong bareng—aku justru berpikir dia ini punya penampilan yang agak kebanci-bancian. Wkwkwk.. Tapi lama kelamaan anggapan itu hilang. I dunno why I think he’s cute. Dan rambutnya mengingatkanku sama Gerard Way di era The Black Parade dulu. Haha..
Alex ini merupakan mantan teman dekat Hannah. Mereka dulunya sering nongkrong bertiga, bareng Jessica. Namun seiring waktu, persahabatan mereka merenggang ketika Alex dan Jessica memutuskan untuk berpacaran. Berbagai konflik terjadi setelah itu, sehingga hubungan mereka bertiga benar-benar berantakan. Terlepas dari kesalahannya terhadap Hannah, namun Alex sebenarnya memiliki sifat baik, peduli, dan mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Terlihat dari bagaimana ia menyesal atas apa yang pernah ia lakukan terhadap Hannah dulu, dan bagaimana ia menyarankan pada teman-temannya untuk mengakui kesalahan mereka masing-masing. Sayangnya di akhir cerita, ia menembak kepalanya sendiri dan meninggal. Ya, ia depresi karena penyesalannya yang terlalu dalam terhadap Hannah. WHY, ALEX? WHY??

Tony Padilla. Jujur, awalnya aku kok sebal gitu ya lihat tokoh ini. I thought, “Ini orang ngapain sih ngikutin Clay mulu? Kenapa dia hampir selalu ada dimanapun Clay berada? Kenapa juga dia dekat sama keluarga Hannah? Apa diam-diam dia ini pernah naksir Hannah dan nikung Clay?”
Di awal-awal cerita, Tony memang tampak misterius. Tapi seiring berjalannya kisah, kita akan tau bahwa Tony sama sekali nggak seburuk itu. Ia adalah sosok sahabat terbaik yang mungkin setiap orang butuhkan. Kenapa? Pertama, dia adalah sahabat yang sangat bisa dipercaya. Ia adalah satu-satunya teman Hannah yang ada di TKP saat Hannah dibawa ke rumah sakit dengan ambulans. Itulah kenapa ia dekat dengan keluarga Hannah. Ia juga yang diberi kepercayaan oleh Hannah untuk memastikan agar semua ‘tersangka’ yang ada di daftar rekamannya mendengar keseluruhan isi rekaman itu dan mengikuti aturan Hannah. Kenapa Tony selalu ada dimanapun Clay berada? Bukan untuk memastikan agar Clay mendengarkan rekaman-rekaman itu, melainkan untuk mengawasi apabila Clay melakukan tindakan-tindakan yang nggak diinginkan. Tony tau banget kalo Clay itu orangnya gampang panik, depresi, dan kadang suka berhalusinasi. Ia khawatir kalo Clay akan melukai atau bahkan mencelakakan dirinya sendiri ditengah aktifitasnya mendengarkan isi rekaman Hannah. Itulah kenapa, ia memilih untuk berada di samping Clay saat Clay mendengarkan rekaman tentangnya. Coba kalo nggak ada Tony di sisinya, mungkin Clay udah mati karena loncat dari tebing tuh. Lalu saat Clay tiba-tiba menyerangnya karena kesal, Tony sama sekali nggak membalas. Ia justru berbaik hati memperbaiki sepeda Clay yang rusak dan berkata bahwa ia akan selalu membantu Clay. Daaaan.. Tony juga lah yang memutarkan musik romantis untuk Clay dan Hannah di pesta dansa. Haaahh.. salah satu tokoh terbaik lah pokoknya. Minus dia cuma satu sih. He’s a gay, that’s it. Iya, jadi kecurigaanku bahwa dia naksir Hannah dan nikung Clay itu terpatahkan, karena nyatanya ia punya boyfriend. Well, awalnya aku juga kaget sih waktu tau si Tony ini gay. Ia tampak manly dengan kulitnya yang gelap dan tubuh gempal—meski agak pendek—berbalut jaket kulit hitam. Ditambah lagi kemana-mana ia selalu mengendarai mobil Mustang jadul, dan hobinya memanjat tebing. Lihat aja adegan hiking-nya bersama Clay. Uuuh.. machonyaa.. Benar-benar jauh dari kesan gay. Tapi ya begitulah adanya.

Jeff Atkins (diperankan oleh Brandon Larracuente) merupakan salah satu teman dekat Clay. Selain ganteng, Jeff ini baiiiiiikkk banget. Dia tau banget kalo Clay naksir berat sama Hannah. Ia sering banget memotivasi Clay untuk mendekati Hannah. Ia yang membujuk Clay untuk memberanikan diri mengajak Hannah berdansa di Prom Night, dan mengajak ngobrol Hannah di pesta yang diselenggarakan Jessica. Pokoknya Jeff ini sahabat sekaligus penasehat asmara yang baik bagi Clay. Namun sayangnya ia meninggal dalam kecelakaan tragis. Mobilnya menabrak mobil pengemudi lain di persimpangan jalan seusai membeli bir untuk pesta di rumah Bryce. Ironisnya, kecelakaan itu terjadi karena kecerobohan Sheri Holland—salah satu teman sekolahnya, yang juga ada pada daftar rekaman Hannah—yang menabrak rambu-rambu peringatan hingga patah sebelum kecelakaan tragis itu terjadi. Namun Sheri justru memilih untuk lari dari tanggungjawab, hingga akhirnya polisi yang menangani insiden itu beranggapan bahwa kecelakaan itu terjadi karena Jeff mengemudi sambil mabuk, padahal kenyataannya Jeff nggak mabuk saat menyetir mobilnya.

***

Sebagai tayangan yang mengangkat kasus bunuh diri remaja, kisah yang diangkat dari novel berjudul sama karya Jay Asher ini menuai banyak pro kontra dari berbagai kalangan. Rumornya, 13 Reasons Why ini menjadi inspirasi bagi anak-anak usia remaja untuk mengakhiri hidupnya, karena ada beberapa kasus remaja bunuh diri usai menonton tayangan ini. Sadisssss.. Bahkan nggak sedikit pula mereka yang nggak menyukai novelnya dan berpendapat bahwa kisah 13 Reasons Why nggak layak dipublikasikan apalagi menjadi tontonan anak-anak.

Well, sebenarnya kalo soal layak nggak layak sih menurutku layak banget kok. Bukankah itu tergantung pola pikir masing-masing penonton? Jika mereka mengambil sisi buruk dari tayangan itu, maka jadinya tentu aja buruk. Tapi kalo mereka mengambil sisi baiknya, maka jadinya pasti baik pula. Kalo dari pandanganku sendiri, sama sekali nggak ada 'ajakan' bunuh diri dalam 13 Reasons Why kok. Dari tayangan ini, kita justru bisa belajar bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang lain.

Aku nggak ada di pihak Hannah, nggak juga ada di pihak pem-bully. Pem-bully-an dalam bentuk apapun itu nggak baik, and I hate it. Seperti yang bisa kita lihat dalam kasus Hannah, pem-bully-an berpengaruh besar pada kondisi mental seseorang. Menurutku, setiap orang harus menghargai satu sama lain, bukannya justru menjatuhkan, dan membuat seseorang merasa bahwa dirinya nggak berharga, nggak berarti, dan nggak dibutuhkan. Ada suatu adegan dimana Hannah mengaku bahwa dirinya terkadang membutuhkan pujian dari orang lain. And I agree with that. Aku pikir setiap orang terkadang membutuhkan itu. Bukannya mereka gila pujian, tapi lebih karena pujian itu membuat mereka merasa dihargai. Apalagi bagi mereka yang mengalami bully, pujian bisa mengembalikan kepercayaan diri mereka.

Dan aku juga sama sekali nggak membenarkan tindakan Hannah yang mengakhiri hidupnya sendiri. Bunuh diri bukanlah pilihan. Kita memang nggak bisa langsung men-judge yang enggak-enggak terhadap Si Pelaku. However, kita nggak tau masalah seberat apa yang tengah ia hadapi. But, we have God, don't we? Tidakkah ia berpikir akan kemana setelah ia mati? Tidakkah ia berpikir bagaimana perasaan orang-orang yang ia tinggalkan?

Well, terlepas dari kisah kehidupan Hannah, dalam 13 Reasons Why, kita juga bisa melihat kisah hidup Justin Foley—salah satu nama yang disebut dalam daftar rekaman Hannah—Si Bad Boy yang menginginkan kasih sayang dari orangtua. Sangat bersebrangan dengan nasib Clay dan Hannah yang berlimpah kasih sayang orangtua, namun mereka sia-siakan. Terlihat dari bagaimana Clay sering membantah ibunya, padahal ibunya ini perhatian banget sama dia meskipun sibuk dengan pekerjaannya sebagai Litigator. Begitu juga dengan Hannah yang memilih untuk mengakhiri hidup tanpa mempertimbangkan tindakannya lebih dulu. Ia memilih untuk bunuh diri, padahal orangtuanya sendiri udah cukup stres dengan usaha mereka yang di ujung tanduk. Lagipula ia sendiri mendapatkan kasih sayang yang cukup dari keduanya. Dan ketika mendengar putri semata wayang mereka mati bunuh diri di usia muda, bayangkan aja apa rasanya.

Haaaahh.. mengaduk-aduk emosi banget pokoknya!
Dan ini semua baru season pertama. Season keduanya belum aku tonton. As soon as possible lah ya. Saat ini aku mau baca novel preloved yang kemarin baru kubeli dari Zahara, baru lanjut nonton 13 Reasons Why season kedua. Udah nggak sabar pengen tau lebih lanjut alasan kenapa Alex Standall memutuskan buat menembak kepalanya sendiri. Pssstt.. yang udah nonton, tolong jangan spoiler ya ^^
Sabtu, 21 Juli 2018 0 komentar

A Good Bro Knows What His Sister Needs

Did you ever feel so tired of everything? Ketika segalanya terasa menguras pikiran, tenaga, dan perasaan, ketika kamu ingin pergi ke suatu tempat untuk melepas penat, namun nggak punya kesempatan. Well, I did. And I'm grateful that I have a very nice younger bro. He saved me.

Hari Sabtu lalu, ia mengirimiku pesan WhatsApp tentang rencana jalan-jalan dan ia memintaku untuk memilih salah satu diantara tanggal 19, 20, dan 21. Aku menengok kalender. Ketiganya bukan hari libur, namun tanpa pikir panjang, kuputuskan untuk mengambil cuti satu hari. Aku benar-benar butuh refreshing, dan aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku memang sering mengeluh tentang perusahaan tempatku bekerja yang hampir nggak pernah mengadakan karyawisata seperti perusahaan yang lain. He knows that his sister needs to go somewhere. Kupilih tanggal 21, karena kupikir hari itu berdekatan dengan hari Minggu, sehingga kami punya kesempatan untuk beristirahat sebelum akhirnya kembali beraktifitas seperti biasanya.

Sabtu pagi, sekitar lima lebih, kami berangkat dari rumah dengan berboncengan motor. Lokasi tujuan kami nggak lain dan nggak bukan adalah Lembang, Bandung. Just two of us. Ini pertama kalinya aku dan adik jalan-jalan berdua ke tempat yang jauh dan hanya berbekal Google Maps sebagai penunjuk jalan. Kami bersyukur karena jalanan cukup lancar meski weekend. Mungkin karena masih pagi juga kali ya. Wkwk..

Namun, meski jalanan lancar, aku nggak lantas menjadi tenang. Jalanan menuju Bandung rupanya kayak lagunya Ninja Hatori, mendaki gunung dan melewati lembah. Haha.. Entah berapa kali motor kami melintasi tikungan tajam, tanjakan, dan turunan khususnya di daerah Sumedang, yang mungkin orang-orang sebut kawasan Cadas Pangeran (aku sebut 'mungkin' karena sepanjang jalan aku nggak menemukan namanya, dan nggak tercantum pula di Google Maps, hanya melihat kontur jalannya yang meliuk-liuk serta diapit tebing dan jurang). Well, rasanya kurang lebih seperti naik roller-coaster. Aku merasa senang sekaligus takut. Motor kami meluncur dengan mulus di atas aspal, namun karena banyak tikungan tajam, seringkali kami nggak melihat kendaraan lain yang berbelok dari arah berlawanan. Rasanya ngeri membayangkan apabila kendaraan kami melenceng sedikit aja dari jalur. Sepanjang jalan, aku berdzikir, karena aku tentu nggak mau hal buruk terjadi pada kami. Apalagi mengingat mitos-mitos yang tersebar di tengah masyarakat tentang kawasan itu, ditambah melihat jumlah kecelakaan sekaligus korban jiwa yang terpampang di papan informasi jumlah kecelakaan yang kulihat di tepi jalan. Naudzubillah..

Menempuh perjalanan jauh dengan hanya berbekal Google Maps sebagai penunjuk jalan rupanya nggak begitu mudah. Di suatu daerah di Sumedang, kami sempat kehilangan sinyal. Kami juga sempat salah jalan. Well, sebenernya nggak salah jalan juga sih, hanya aja jalannya kurang nyaman untuk dilalui. Karena kami memilih rute khusus motor, Google Maps menuntun kami ke jalan-jalan kecil yang permukaannya nggak begitu mulus. Aku sempat hampir jatuh di sebuah jalan menanjak. Saat itu kami akan berbalik arah karena salah jalan. Namun adikku kehilangan keseimbangan saat membelokkan motor, sehingga motor oleng. Aku bersyukur karena mengenakan sepatu boots dengan hak tinggi, sehingga ketika motor itu oleng, kakiku langsung menjejak aspal. Kalo aja saat itu aku nggak pakai sepatu dengan hak, mungkin aku udah jatuh kali, coz jok motor kami tinggi banget bagi aku yang pendek ini. Kami juga sempat melalui jalan kecil dengan tanjakan, turunan, dan jurang di sisinya. That was horrible! "Ganti rute khusus mobil aja kalo kayak gini", kata adikku. Buuut.. meski begitu, kami nggak bisa menimpali bahwa pemandangan sekitar cukup memanjakan mata. It was green everywhere. Aku pengen banget memotretnya, hanya aja kedua tanganku sibuk memegang hape untuk Google Maps dan pundak adikku. Kalo nggak pegangan dia, bisa-bisa aku jatuh terjengkang karena turunan dan tanjakannya tajam.

Memasuki daerah Subang, kami bisa bernapas lebih lega karena kami nggak lagi dipertemukan dengan jalanan yang mengasah adrenalin. Sebagai gantinya, kami melalui jalanan dengan perkebunan di sisi kanan dan kiri jalan. Di Jalan Cagak, perkebunan teh terhampar. Di kawasan ini juga terdapat banyak pedagang nanas yang buahnya menguning dan besar-besar. Memasuki kawasan Ciater, lebih banyak lagi kebun teh yang terlihat. Aku pernah kesana, sekitar tiga tahun yang lalu bareng rekan-rekan di tempat kerjaku yang lama, beberapa hari sebelum akhirnya aku resign dari sana. Waktu itu kami datang sebelum jam tujuh pagi, sehingga perkebunan masih berkolaborasi dengan kabut. Indah. Sayang, kali ini aku dan adik nggak mampir kesana. For God's sake. Bandung nggak pernah gagal membuatku jatuh cinta berulang kali. I always love this city and its people. Sejak melihatnya di film Petualangan Sherina yang kutonton belasan tahun lalu, aku jatuh cinta, dan setiap kali ke kota itu aku selalu ingin kembali.




Semakin mendekati Lembang, udara semakin dingin. Aku agak menyesal karena nggak mengenakan jaket yang lebih tebal. Udara di Tangkuban Perahu pasti lebih dingin, seenggaknya itu kata adikku yang pernah kesana. Tapi bagaimanapun, itu lebih baik ketimbang panas menyengat seperti yang biasa kami rasakan di kota kami. Aku jadi berpikir, kalo aja aku tinggal di Bandung beberapa bulan aja, mungkin kulitku bisa jadi lebih cerah. Hahaha..

Sekitar jam setengah sepuluh, kami tiba di lokasi tujuan. Ternyata tiket masuk ke Tangkuban Perahu cukup mahal. Adikku mengeluarkan uang tujuh puluh sembilan ribu untuk dua orang. Belum lagi untuk biaya parkir (walaupun sekali parkir nggak sampai lima ribu sih), dan beli masker. Well, sebenarnya kami bawa masker sendiri dari rumah. Hanya aja akang-akang yang menyambut para pengunjung itu terkesan memaksa kami untuk membelinya. Lima ribu rupiah untuk dua lembar masker. Katanya sih disana wajib pakai masker karena bau belerangnya cukup menyengat, tapi ternyata sampai disana everything's okay. Nggak ada bau belerang yang menyengat, nggak ada kabut, nggak ada debu yang mengganggu pernapasan kami. Pengunjungnya ramai, dan sebagian besar nggak mengenakan masker. Hahh.. dasar trik pedagang.

Forget that.
Kami bersyukur karena udara pagi itu nggak sedingin yang kami khawatirkan. Padahal waktu adikku kesana beberapa bulan lalu, udara dingin banget sampai-sampai membuat nafasnya mengeluarkan asap. Tapi kemarin pagi, suhu udara tujuh belas derajat celcius (seenggaknya itu yang tertera di layar hapeku), cukup hangat jika dibanding suhu AC di tempat karaoke yang aku dan Tri kunjungi dua pekan lalu yang membuat kami gemetar kedinginan. Daaaan.. rupanya keindahan Tangkuban Perahu bukanlah sekedar isapan jempol. Viewnya baguuuus banget. Pengunjungnya nggak hanya orang Bandung, tapi juga banyak yang dari luar kota seperti kami, bahkan turis mancanegara. Mereka sibuk mengabadikan moment jalan-jalan mereka di Tangkuban Perahu. Kebanyakan dari mereka tampak fotogenic. Bahkan ada teteh-teteh cantik yang tampaknya merupakan seorang model. Ia santai aja mengenakan kaos putih lengan pendek, celana jeans di atas lutut, dan sepatu boots dengan high heels tipis. Bayangkaaaan.. di kawasan pegunungan yang berbatu-batu gitu dia nyantai pakai sepatu dengan high heels tipis! Dengan percaya diri, ia berpose dengan berbagai gaya di depan fotografernya.
"Lihat deh. Pinter banget ya gayanya," celetukku pada adik sambil menunjuk orang itu dengan isyarat gerakan kepala.
Adikku menoleh ke arah orang yang kumaksud dan menjawab, "Iya, tapi kalo Teteh berfoto dengan gaya kayak gitu pasti aneh."
Yeah, he was right. Aku udah khas dengan gaya berfoto andalanku : membelakangi kamera sambil memberi salam dua jari. Well, thanks for being honest, Bro.




















Selain para wisatawan, ada juga beberapa pria bertopi yang menawarkan souvenir atau jasa foto. Ada juga yang menjelaskan asal-usul Tangkuban Perahu kepada para pelancong. Aku dan adik sedang berfoto-foto ria ketika salah satu dari pria bertopi yang membawa souvenir menghampiri kami dan menawarkan diri untuk memotret kami.
"Sini saya fotokan berdua, biar romantis", katanya. Haha.. Sepertinya ia mengira kami adalah couple.
"Adik kakak, Pak", sahutku.
"Ya gapapa, biar hubungannya makin dekat", katanya lagi. Kuserahkan hapeku padanya, kemudian ia meminta kami berpose dalam berbagai gaya. Rupanya bapak itu cukup pandai memotret. Aku aja baru tau kalo memotret panorama bisa menggandakan satu objek dengan teknik khusus. Misalnya membuat foto seolah tanganku sedang ditarik adikku dan 'kloningannya'. Dengan begitu, foto yang dihasilkan jadi nggak biasa. Sebagai gantinya, adikku membeli salah satu souvenir yang ia jual. Bapak itu menjual gelang, kalung, dan tasbih dari sejenis manik-manik. Adikku memilih gelang, harganya dua puluh lima ribu. Well, sebenarnya nggak ada keinginan buat beli sih, hanya aja pria itu terus merayu kami. Jadi nggak enak juga, apalagi ia udah membantu memotret (but sorry, foto-foto hasil jepretan beliau nggak aku post disini).

Setelah asik berfoto-foto ria dan menikmati pemandangan Gunung Tangkuban Perahu dan kawahnya, aku dan adik pun berkeliling kawasan itu. Awalnya kami mau makan siomay bandung, tapi nggak jadi karena harganya yang lumayan mahal. Satu porsi siomay dengan telur harganya dua puluh ribu rupiah, padahal di tempat lain, sepuluh ribu aja udah komplit. Akhirnya kami memilih membeli beberapa potong gorengan hangat, harganya dua ribu rupiah perpotong. Maklum sih ya, di tempat wisata seperti itu, harga-harga pasti lebih mahal dibanding di tempat lain. Kami duduk-duduk di sebuah tempat dimana pengunjung bisa duduk sambil menikmati pemandangan hijau dari atas.


Disitu juga terdapat spot-spot bagus buat berfoto, salah satunya adalah lukisan 3D. Kemudian kami berkeliling ke kawasan pedagang souvenir. Yap, di kawasan wisata Gunung Tangkuban Perahu ini juga terdapat kios-kios yang berjejer menawarkan berbagai souvenir mulai dari gelang-gelang, kalung dan tasbih dari manik-manik yang ditawarkan para pria bertopi tadi; gantungan kunci; wayang; tas dan dompet rajut; cincin batu; kaos, jaket dan sweater; pajangan-pajangan dari kayu; dream catcher berbagai ukuran; dan berbagai jenis topi mulai dari kupluk, fedora, topi pantai yang bundar, sampai topi berbentuk kepala anjing yang membuat penggunanya merasa hangat karena permukaannya yang berbulu.




Setelah puas berkeliling, kami pun keluar dari kawasan itu. Kami sempat bingung mau kemana lagi. Wkwkwk.. Kami sempat berencana ke Grafika Cikole buat melihat-lihat kebun stroberi, tapi nggak jadi. Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) yang masih berada dalam kawasan Lembang, Bandung Barat. Di tempat itu, kita bisa membeli susu murni dengan harga murah. Kami berencana membeli beberapa sebagai oleh-oleh. Namun sebelum itu, kami makan batagor dulu di kantin yang ada disitu.


Related image



Puas menikmati batagor, kami pun beranjak untuk membeli susu. Disitu terdapat papan informasi apa aja jenis susu yang mereka jual lengkap dengan harganya. Satu liter susu murni harganya enam ribu rupiah. Kalo kurang suka susu murni, disini juga ada susu pasteurisasi aneka rasa dalam kemasan cup 150ml harganya empat ribu rupiah. Atau buat yang suka yoghurt, disini juga menjual yoghurt aneka rasa dalam berbagai kemasan. Ada yang kemasan botol 1 liter seharga dua puluh lima ribu rupiah, kemasan plastik 1 liter seharga dua puluh tiga ribu rupiah, kemasan botol 250ml seharga delapan ribu rupiah, kemasan cup 180ml seharga lima ribu rupiah, atau es yoghurt yang dikemas dalam plastik kecil-kecil dengan berbagai varian harga : tujuh ribu rupiah isi 10pcs, lima belas ribu rupiah isi 25pcs, dan tiga puluh ribu rupiah isi 50pcs. Selain itu, ada juga tahu susu keju dan tahu susu sosis seharga lima belas ribu rupiah perkemasan.

Setelah berdiskusi sejenak, kami memutuskan untuk membeli tiga pak es yoghurt, tiga botol yoghurt stroberi kemasan 250ml, dan sepuluh cup susu pasteurisasi rasa cokelat dan stroberi. Untunglah bagasi motor adikku lumayan besar, sehingga semua itu muat di dalam sana. Habis itu, kami pulang deh.
Lho, kok langsung pulang?
Iya, karena bingung mau kemana lagi. Mau mampir ke kebun teh, tapi bingung parkir dimana. Lagipula, ibu kami berpesan agar kami segera sampai di Cirebon sebelum Magrib. Di perjalanan, nggak lupa kami membeli empat keranjang tahu sumedang sebagai oleh-oleh.

Perjalanan pulang terasa menyebalkan buatku. Kami nggak melewati jalan yang sama dengan yang kami lalui ketika berangkat, melainkan lewat jalan yang lebih kecil, dan kondisi jalannya kurang mulus, membuat tubuh kami terguncang-guncang di atas motor, dan pinggangku jadi sakit. Perjalanan jadi terasa lebih lama, karena aku berharap cepat sampai. Sedangkan yang dirasakan adikku justru sebaliknya, lebih cepat perjalanan pulang, katanya.

Kami baru sampai di Cirebon ketika Magrib tiba. Kami memutuskan mampir dulu ke rumah nenek untuk mengantarkan oleh-oleh buat nenek beserta keluarga Bi Elly, keluarga Bi Cicih, dan keluarga Wak Agus, masing-masing satu keranjang tahu dan satu pak es yoghurt. Sesampainya di rumah nenek, aku langsung meluruskan tubuhku di ruang keluarga. Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Mungkin gini kali ya rasanya mudik naik motor seperti orang-orang perantauan itu. Aku bersyukur karena aku dan keluarga besar kebanyakan tinggal di kota ini, sehingga aku nggak perlu merasakan mudik naik motor setiap tahun. Tapi entahlah di tahun-tahun mendatang. Lagipula kalo besok-besok adikku ngajak jalan-jalan lagi, aku nggak nolak sih. Muehehe.. Coz meskipun perjalanannya melelahkan, tapi pikiranku kembali segar. So, thank you, Lil Bro ^^
Jumat, 06 Juli 2018 0 komentar

Kembali Berlatih

Aahh.. I really thank God for blessing me. Akhir-akhir ini langit Cirebon cerah. Aku bahkan bisa melihat guratan-guratan di tubuh Ciremai dari kotaku, padahal biasanya cuma sebatas siluet gunung. Dua hari ini pun mood-ku baik. Benar-benar baik. Biasanya para cewek kalo lagi period bawaannya pasti bete dan malas ngapa-ngapain, apalagi kalo hari-hari pertama. Tapi kali ini yang aku rasakan berbeda. Tetep sakit sih, tapi hal itu nggak lantas membuat suasana hatiku jadi buruk dan semangatku menurun. Entah kenapa, hampir seluruh isi kepalaku dipenuhi pikiran positif. Rasanya damai banget.

Hari ini, aku dan teman-teman dari MusTanG kembali latihan ngeband setelah libur selama beberapa minggu pasca puasa dan lebaran. Sekitar jam setengah enam, aku, Mas Febri, Inggit dan Ryan langsung menuju salah satu studio musik yang biasa kami sewa untuk latihan yang letaknya gak begitu jauh dari kantor. Aku dan Mas Febri tiba berbarengan dengan Dhea (yang lagi-lagi langsung datang dari Bekasi bareng supirnya). Mister Chokai udah menunggu disana entah sejak kapan, lalu beberapa menit kemudian menyusul Inggit dan Ryan.

Anyway, studio itu nampaknya mengalami cukup banyak perkembangan sejak terakhir kali kami latihan disana. Sekarang mas-mas owner-nya nggak cuma punya studio musik doang, tapi juga punya semacam usaha clothing gitu. Pintu rumahnya pun udah nggak pake pintu biasa lagi, melainkan pintu kaca yang digeser. Microphone yang biasa kupakai pun udah lebih nyaman sekarang, nggak ngilang-ngilang lagi suaranya. Wkwk.. Sayang, mas-mas owner-nya sepertinya nggak berminat buat menambah satu mic lagi. Alhasil, aku dan Dhea harus bergantian pakai, dan nggak bisa berduet seperti biasanya.

Ditengah-tengah check sound, Mas Win menyusul datang, dan dimulailah latihan kami. Hari ini kami membawakan list lagu-lagu baru, bukan lagi lagu-lagu yang biasa kami bawakan kemarin. Buku liriknya pun aku buat baru dengan file holder sehingga lebih rapi dan nggak mudah terlipat. Kami bertekad latihan lebih serius karena kami semakin dekat dengan jadwal manggung untuk anniversary kantor cabang Riau.

Kami berlatih selama dua jam, and it was fun. Tapiiii.. di akhir latihan, aku dan Mister Chokai dikejutkan dengan penuturan Dhea yang justru nggak tau apa-apa tentang jadwal manggung kami di Riau itu. Ini aneh, karena sebagai staff kantor pusat, harusnya dia tau dong. Tapi bukankah Pak Direktur udah berjanji? Kami pernah batal manggung satu kali, ketika beliau menelepon Mister Chokai tepat di malam sebelum hari keberangkatan, lima belas menit sebelum latihan terakhir kami selesai. Berita itu membuat kami lumayan kecewa karena latihan yang kami lakukan cukup menguras waktu dan tenaga. Namun beliau memastikan bahwa jadwal manggung kali ini benar-benar akan terlaksana. Tapi apa yang diucapkan Dhea tadi benar-benar di luar dugaan. Ah, kalo begini, aku jadi pesimis. Sepertinya.. ada bau-bau ketidakjadian. Wkwkwk..

Yah, we will see..
Sabtu, 30 Juni 2018 0 komentar

#24 : Sebuah Renungan


Aku pernah berpikir, untuk apa aku diciptakan. Aku pernah berpikir, untuk apa aku hidup. Aku sering bertanya-tanya, kenapa hidupku terkadang seperti lelucon. Aku sering bertanya-tanya, kenapa hidupku nggak sebahagia orang lain.

Dalam sebuah buku pendidikan agama, dijelaskan bahwa setiap makhluk diciptakan semata-mata dengan tujuan untuk beribadah kepada Tuhan. Aku pernah berpikir, kenapa aku nggak ditakdirkan mati sesaat setelah dilahirkan saja? Kenapa Tuhan panjangkan umurku?

Aku pernah berada di titik dimana aku muak dengan hidupku dan diriku sendiri. Aku pernah berpikir, apakah hidup ini adil? Apa salahku, sehingga orang lain bisa dengan sangat mudah melukai?

Belasan tahun lalu.. Ah, aku nggak akan lupa masa itu. Sebuah masa yang aku rasa paling berat dalam dua puluh empat tahun perjalanan hidupku, ketika sebagian teman-teman satu kelas berubah membenciku tanpa alasan. Could you imagine how it feels when ppl around suddenly hate you but you don’t even know your mistake? Dan yang lebih menyakitkan adalah bahwa semua itu bermula dari teman dekatmu sendiri. That’s what happened to me. Aku masih ingat bagaimana sakitnya dijadikan bulan-bulanan setiap hari, difitnah, disakiti baik secara fisik maupun mental, and nobody helped.

Apa salahku? Pernah aku menyakiti mereka? Pernah?
Mereka jahat padaku. Pernahkah aku balas? Pernah?

Dulu, saat pertama kali berita penyalahgunaan formalin pada makanan merebak, aku ingatkan mereka agar berhati-hati dalam memilih makanan. Aku tuliskan pesanku di atas kertas, aku bagikan pada mereka, karena apa? Karena aku peduli. Tapi respon mereka justru buruk sekali. Mereka menudingku sok tau, dan menyerangku habis-habisan.

Saat bagian dari mereka dimusuhi teman-teman satu gengnya, mereka datang padaku. Apakah aku menolak dan ikut memusuhi mereka? Enggak. Aku terima mereka, dengan harapan hubungan pertemanan kami kembali membaik hingga seterusnya. Tapi yang terjadi justru mereka kembali memusuhiku setelah mereka kembali bergabung dengan teman-teman satu gengnya.

Waktu itu bisa aja aku balas perlakuan mereka semua. Aku memang nggak bisa berlaku kasar, seperti yang mereka lakukan. Bisa aja aku membalas dendam dengan memberi mereka jawaban-jawaban salah saat mereka menanyakan jawaban untuk soal-soal Ujian Nasional, membiarkan mereka mendapat rapor dengan nilai merah, atau bahkan nggak lulus sekalian. Biar mereka tau diri. Apakah kulakukan? Enggak. Tapi apakah sikap mereka padaku lantas berubah setelah itu? Enggak juga. Aku bahkan masih ingat kata-kata yang mereka ucapkan di hari perpisahan sekolah :
“NAJIS KAMU!”

Jadi jangan heran kenapa aku tumbuh sebagai sosok pendiam dan tertutup. You know the answer.

Aku pernah merasa sangat terpuruk. Merasa nggak ada seorangpun yang menyukaiku. Merasa nggak ada seorangpun yang tulus berteman denganku. Pernah kukayuh sepedaku melawan arah di kelokan tajam jalan Diponegoro, berharap ada kendaraan lain yang melaju kencang dari arah berlawanan, lantas menghantam sepedaku, dan Tuhan mencabut nyawaku saat itu juga.

Tapi seketika itu pula aku tersadar bahwa apa yang kulakukan benar-benar salah. Aku sadar bahwa kalaupun aku mati saat itu karena kecelakaan, tapi di hatiku udah terukir niat untuk mencelakai diri sendiri, dengan kata lain itu sama aja bunuh diri, dan orang yang bunuh diri nggak akan diberi kesempatan mencium bau surga. Tuhan masih sayang aku. Setitik iman di hatiku menyelamatkanku.

Tuhan sayang aku. Kalo nggak sayang, mungkin Dia udah membiarkan aku mati dihantam reruntuhan atap kamarku yang ambruk beberapa tahun silam, atau bahkan membuatku cacat karenanya. Waktu itu aku baru pulang sekolah dan menemukan pintu rumah dikunci dari luar. Nggak ada seorangpun di rumah saat itu, dan aku lupa nggak bawa kunci sehingga nggak bisa masuk, membuatku terpaksa menunggu di luar. Ketika itulah aku mendengar suara benda jatuh sangat keras dari dalam rumah. Kuintip jendela ruang tengah yang terbuka. Nggak ada yang aneh, kecuali kamarku yang aku lihat tampak terang benderang dari lubang ventilasinya. Aku nggak bisa mengintip ke dalam kamar karena jendelanya ditutup. Jadi kuputuskan untuk menunggu, sampai akhirnya ibu datang. Kami langsung mengecek keadaan kamarku, dan benar aja, reruntuhan bata, kayu, dan genteng berceceran di atas lantai dan tempat tidurku. Aku bergidik. Kebiasaanku sepulang sekolah nggak lain adalah masuk kamar dan berbaring di kasur. Kalo bukan karena nggak ada orang di rumah, dan kalo bukan karena aku lupa bawa kunci, maka sangat mungkin kalo aku jadi korban reruntuhan itu. Aku bersyukur pada Tuhan, Dia masih melindungiku.

Tuhan sayang aku. Kalo bukan karena sifat pendiamku, aku mungkin udah terjerumus kedalam pergaulan yang salah, seperti kebanyakan remaja di daerah tempatku tinggal. Perempuan dan laki-laki berbaur, berdekatan tanpa rasa malu, nongkrong sampai malam di luar rumah. Na’udzubillahimindzalik. Nggak terbayang betapa malunya ibu dan bapak kalo itu sampai terjadi.

Aku yakin Tuhan sayang aku dengan cara-Nya. Semua hal buruk yang terjadi padaku mungkin terjadi karena Tuhan ingin aku menjadi pribadi yang tahan banting dan nggak cengeng, meski aku sadar, hatiku masih rapuh.

Aku yakin Tuhan sayang aku dengan cara-Nya. Aku sering meminta banyak hal, bahkan nggak jarang hingga menangis tersedu dihadapan-Nya, namun nggak kunjung Ia kabulkan. Ia justru membalas pintaku dengan hal-hal yang berlawanan dengan apa yang kuinginkan. Aku sering bertanya-tanya, kenapa Tuhan seolah senang mengerjaiku? Tapi kini aku sadar bahwa memang begitu cara kerja Tuhan. Apa yang menurutku baik, belum tentu baik di mata Tuhan. Ia lebih tau apa yang baik bagi hamba-Nya. Seharusnya aku nggak meragukan skenario-Nya. Bukankah dulu Tuhan pernah menunjukkan skenario terbaik-Nya, ketika pertemuan-pertemuan tak terduga terjadi berulang kali diantara aku dan kakak kelas yang pernah aku taksir selama beberapa tahun. Meski ternyata dia bukan orang yang ditakdirkan untuk jadi life partner-ku di masa depan, tapi aku nggak menyesal pernah memendam rasa sama dia selama bertahun-tahun. I feel enough just by loving him silently. Itu adalah skenario terindah yang pernah Tuhan tulis dalam dua puluh empat tahun aku hidup.

Seharusnya aku nggak berprasangka buruk pada Tuhan. Aku sering iri dengan kehidupan orang lain yang aku rasa begitu bahagia. Tapi suatu hari seorang teman pernah bilang padaku, “Banyak orang di luar sana yang juga iri sama kamu”. Aku rasa dia benar. Aku mungkin iri dengan mereka yang hidup kaya raya, berpenampilan menarik, pandai berkomunikasi, dan punya banyak teman. Tapi aku lupa dengan mereka yang ada di bawahku. Aku nggak kaya raya, tapi kebutuhan hidupku tercukupi, sedangkan di luar sana masih banyak yang bahkan nggak mampu beli makanan meski hanya satu kali sehari. Aku mungkin bertubuh pendek dan nggak cantik, tapi tubuhku berfungsi sempurna, sementara di luar sana masih banyak orang-orang yang difabel dan berkebutuhan khusus. Aku memang nggak cukup pandai berkomunikasi, tapi aku bisa berkomunikasi secara langsung tanpa harus dengan bantuan alat atau bahasa isyarat. Aku juga punya sedikit teman, dan orangnya itu-itu aja, tapi mereka tulus menerima kurang dan lebihku, dan yang terpenting aku nggak sebatang kara. Lagipula mereka yang aku lihat bahagia belum tentu sebahagia yang terlihat kan? Mereka yang kaya raya mungkin aja sebenarnya kesepian, atau mungkin memiliki masalah hidup yang pelik. Seperti halnya salah satu vokalis favoritku, Chester Bennington. Ia kaya raya dan punya banyak penggemar. Tapi ironisnya ia justru merasa nggak bahagia dan memutuskan bunuh diri, padahal profesinya sendiri adalah sebagai seorang entertainer, penghibur, bikin orang bahagia. That’s it.

Seharusnya aku nggak berprasangka buruk pada Tuhan. Aku sering merasa bahwa aku udah cukup sering bersabar atas segala hal buruk yang menimpaku, tapi aku nggak kunjung menuai buah manis dari kesabaran yang Tuhan janjikan. Kini aku sadar bahwa mungkin aku belum mengiringi kesabaranku dengan rasa ikhlas. Selain itu, mungkin Tuhan ingin agar aku terus mendekatkan diri pada-Nya.

Sebagaimana sebuah ayat yang disebut berulang kali dalam Surat Ar-Rahman, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Aku seharusnya berterima kasih atas nikmat hidup yang Tuhan beri. Aku sadar aku nggak cukup baik. Aku takut dengan kematian. Seharusnya aku berterima kasih karena Tuhan masih memberiku nafas hingga hari ini, detik ini. Karena dengan begitu aku bisa berkesempatan untuk merubah diri menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Ia juga belum bosan mengingatkanku jika aku khilaf. Kurang sayang apa Tuhan padaku? Harusnya aku sadar itu.

This year must be one of the best years in my 20’s years life. I’m happy too much, hurt too much, cry too much, think too much, and learn too much. Hari ini aku berjanji, bahwa aku akan lebih menghargai hidupku dengan banyak bersyukur dan berprasangka baik pada Tuhan, karena aku percaya, Tuhan menyayangiku dengan cara-Nya :)
Minggu, 24 Juni 2018 0 komentar

A Day With Safira, Dzikri & Yuda

First of all aku mau mengucapkan happy wedding day buat teman SMA-ku Hary Sugiarto. Semoga jadi keluarga kecil yang rukun dan bahagia selalu. Aamiin yaa robbal alamiin.

Jadi ceritanya, hari ini aku dan Safira kondangan ke nikahan teman kami yang satu ini, dan perjalanannya tuh lumayan panjang. Well, awalnya sih hari ini kami berdua berencana meet up lagi sama Shinta. Tapi kemarin, Fira nge-WhatsApp aku kalo Hary mau nikah dan mengundang kami ke acara pernikahannya. Awalnya aku berniat datang dengan menumpang GrabBike dan ketemuan sama Fira disana (coz aku yakin kalo Fira bakal pergi dengan suaminya). Eh nggak taunya dia ngajak boncengan naik motornya, which means dia nggak bareng suaminya dan dia sendiri yang nyetir. Jadi ya udah deh, rencananya siang itu kami kondangan, sorenya baru lanjut meet up bareng Shinta.

Singkat cerita, aku dan Fira ketemuan di depan SMAN 3, Perumnas. Cukup lama juga aku menunggu dia disana, coz pas aku sampai di lokasi, dia baru berangkat. Ya aku maklum aja sih, soalnya dia bawa Dzikri, anaknya yang masih berumur empat tahun. Kasian kalo mereka yang nunggu. Dua puluh menit kemudian, Fira dan Dzikri muncul. Fira langsung mengomentari penampilanku yang katanya cewek banget (emangnya kemarin-kemarin aku keliatan macho apa ya?).

Setelah bersalaman dan berbasa-basi sebentar, kami pun berangkat. Aku yang duduk di jok belakang bertugas mengawasi Google Maps dan berkomunikasi sama Hary tentang lokasi hajatnya. Perjalanan berlangsung selama setengah jam, sebuah perjalanan terjauh yang pernah Fira lakukan dengan menyetir motor sendiri. Itupun alamatnya nggak langsung ketemu. Kami sempat nyasar ke suatu daerah, karena Hary salah memberi petunjuk. Harusnya belok kiri, malah belok kanan. Hahh.. Fira must be so tired. Kalo aku berani nyetir mah gantian deh. Tapi karena nggak bisa gantian nyetir, sebagai gantinya aku yang beli bensin dan jajanin Dzikri. Wkwkwk.. Di sisi lain aku bersyukur karena nggak jadi menumpang GrabBike. Karena kalo aku kondangan ke pernikahan Hary dengan menumpang GrabBike, bisa-bisa aku nyasar, dan nyasarnya bisa jadi lebih parah dari yang tadi.

Acara pernikahan berlangsung di sebuah rumah kecil di kawasan Cempaka, Plumbon, tepatnya di kediaman mempelai wanita. Hary sedang duduk sendirian di pelaminan ketika kami tiba.
"Mana pendampingnya, Har?" tanya Fira.
"Ini, di sebelah," katanya sambil tersenyum lebar dan menunjuk anak perempuan kecil di sudut pelaminan. Becanda. "Dia lagi ke dalam sebentar", katanya lagi. Kami manggut-manggut dan memberinya selamat, lalu menuju meja prasmanan untuk menikmati makan siang. Kami ngobrol-ngobrol sambil menikmati makanan selama beberapa lama, sekalian istirahat sejenak. Sebelum pulang, kami sempat berfoto bersama pengantin.

Waktu menunjukkan sekitar jam setengah tiga saat itu. Karena udah sore, acara meet up bareng Shinta jadi batal, karena Shinta nggak mau nantinya pulang malam (karena jalanan masih dalam kondisi arus balik, sehingga jalan dekat menuju rumah Shinta ditutup dan harus memutar). Sebagai gantinya, Fira mengajakku main ke kontrakannya di kawasan Gombol Gede. Namun sebelum itu, kami mampir ke minimarket dan beli bakso dulu di warung bakso yang nggak begitu jauh dari tempat tinggalnya.

Fira dan keluarga kecilnya tinggal di sebuah rumah kontrakan yang mereka sewa sebesar lima ratus ribu perbulan. Menurutku cukup murah untuk rumah dengan ruang tamu, dua buah kamar, satu kamar mandi, dan satu dapur. Dengan kata lain, bisa dibilang besar. Mungkin karena di kabupaten kali ya. Kalo di kota, susah nyari kontrakan dengan ruangan selengkap itu dengan harga segitu. Hari itu Doni, suami Fira sedang nggak ada di tempat. Sedang sibuk sebar undangan untuk Pilkada, katanya. Disana, sambil mengobrol, kami bertiga menikmati bakso bersama sambil minum es campur yang Safira pesan di tetangganya. We talked a lot. Safira bercerita tentang suka dukanya menjadi istri sekaligus ibu rumah tangga yang ternyata nggak bisa dibilang mudah. Her husband loves her and their little son so much, tapi ada aja orang yang nggak suka dan bikin beban pikiran. Well, that's life.

Aku juga suka menggoda Dzikri. Dia yang awal bertemu sangat pendiam, lama kelamaan nggak malu lagi buat tersenyum, bersuara, bahkan menggandeng tanganku. Asli, aku seneng deh kalo ada anak kecil yang deket sama aku kayak gitu. Rasanya langka aja. Wkwkwk.. Soalnya biasanya mereka takut. Tapi belakangan ini tampaknya aku nggak menakutkan lagi bagi mereka, entah kenapa. Haha.. ^^

Sekitar jam setengah lima sore, Yuda menghubungiku, bilang kalo dia mau main ke rumah. Karena saat itu aku masih di rumah Fira, aku bilang ke dia, "Ntar tak kabarin kalo udah balik".
Jam setengah tujuh, aku baru pulang. Aku diantar Fira, sekalian dia mau minta tolong transfer uang di ATM dan mau tau rumahku juga. Di perjalanan pulang, Yuda kirim WhatsApp, ngasih kabar kalo dia udah tiba di daerah rumahku. Aku menepuk jidat. Aku dan Safira baru tiba di kawasan Cipto waktu itu, which means masih jauh, ditambah lagi aku mau nemenin Fira dulu ke ATM. Nggak enak juga kan kalo aku minta Fira buat cepat-cepat. Jadi ya udah deh, biarin aja. Toh, salah Yuda sendiri kenapa nggak tunggu kabar dari aku, kan sebelumnya aku udah bilang ke dia kalo aku bakal nge-WhatsApp dia kalo aku udah di rumah. Wkwkwk..

Beres dari ATM (itupun transfer uangnya nggak jadi karena ada kendala di rekening Fira), kami melanjutkan perjalanan ke rumahku. Ketika masuk gang, kami terheran-heran melihat Yuda yang ternyataaaa dari tadi menunggu di mulut gang.
"Hey, kamu malah nunggu disini, bukannya langsung ke rumah", kataku. Dan dia cuma membalas dengan senyuman menyebalkan. Kami pun bersama-sama menuju rumahku. Sesampainya di rumah, setelah bersalaman, aku kembali bertanya kenapa Yuda lebih memilih menunggu di mulut gang ketimbang langsung ke rumah. Mana di situ kan gelap.
"Mending gitu, daripada langsung ke rumah kamu tapi bengong doang, nggak ngapa-ngapain", jawabnya.
Lah emang tadi di mulut gang dia nggak bengong? Malah serem, gelap-gelapan. Kalo orang yang nggak kenal dia liat dia disitu mungkin dikiranya dia lagi ngawasin rumah orang, mau maling. Haha..

Setelah mengantarku, Fira nggak langsung pulang. Kami ngobrol-ngobrol dulu bertiga di teras depan. Kenapa Fira kenal Yuda? Karena waktu SMP dulu kami bersekolah di sekolah yang sama, dan pernah satu kelas di kelas dua SMP. Jadi ya gitu deh, kami jadi kayak reuni kecil jadinya. Namun karena udah cukup malam, Fira pamit. Kasihan juga Dzikri udah agak mengantuk.
"Kapan-kapan Fira main kesini lagi ya. Rumah kamu enak deh," kata Fira sebelum pulang. Aku mengangguk. Why not? Meet up bareng Shinta disini pun boleh banget.

Tinggallah Yuda. Well, sebenarnya di awal puasa kemarin, kami sempat berencana buat meet up di minggu ketiga Ramadhan, sekalian buka puasa bareng. Tapi rupanya nggak sempat karena justru di minggu itu aku lagi padat-padatnya kegiatan, jadi kami baru bisa meet up hari ini. Kami mengobrol ringan tentang teman-teman SMP kami, tentang pekerjaannya, tentang kesibukan kami masing-masing.. Intinya hari ini minus obrolan tentang hal-hal di luar nalar yang biasa kami obrolin deh. Dia juga main di rumahku nggak lama sih. Sekitar jam sembilan malam dia pamit pulang. Kami sempat merencanakan reuni bareng teman-teman SMP yang lain. Tapi untuk yang satu itu, kami lihat sikon dulu, mengingat ngumpulin orang itu nggak gampang. Buat merencanakan acara buka puasa bareng teman-teman satu geng aja kadang susah, apalagi ngumpulin yang jauh lebih banyak.

Yah, that's all, Folks. See you next time :)

Total Tayangan Halaman

 
;