Jumat, 21 September 2018 0 komentar

MusTanG's First Flight : Berkenalan Dengan Kota Madani


Alhamdulillah, aku, Pak Faisal, dan teman-teman dari MusTanG tiba di Pekanbaru dengan selamat. Rasanya hampir nggak percaya bahwa akhirnya aku menjejakkan kedua kaki ini disana. Ini perjalanan terjauhku dalam dua puluh empat tahun aku hidup, dan mungkin juga perjalanan terjauh bagi beberapa orang lainnya dalam rombongan kami.

Well, cerita kali ini bakal cukup panjang.

***

Jum’at, 14 September.

Sekitar jam setengah delapan pagi, kami turun untuk sarapan. Aku nggak makan banyak. Cuma beberapa potong melon, sepiring omelet, dan seiris puding mangga. Perutku nggak karuan rasanya. Begah gitu. Makanya makan pun males banget. Aku nggak ingat kalo hari itu jadwal kami bakal sangat padat.

Pagi itu, aku dan teman-teman MusTanG mengenakan kaos seragam band kami, kecuali Dhea (dia mengaku kaosnya tertinggal). Setelah sarapan, kami check-out dari Hotel Amaris dan menuju kantor cabang Pekanbaru. Begitu keluar dari hotel, aku dan Pak Faisal dibuat tersenyum ketika melihat warna angkot di Pekanbaru yang rupanya sama dengan warna angkot di Cirebon, biru telur asin. Di kanan kiri jalan pun rupanya banyak toko dan rumah makan dengan nama yang Jawa banget. Jadi meskipun sedang berada di pulau orang, rasanya nggak jauh beda dengan di pulau Jawa. Dan rupanya bukan cuma aku yang merasakan itu, tapi juga teman-temanku yang lain. Ya iya lah ya.. Kayaknya meski berada di pulau lain, tapi selama itu masih di Indonesia, rasanya mungkin nggak akan jauh berbeda dengan berada di pulau sendiri. Kecuali kalo melancong ke luar negeri. Wah, kalo itu udah pasti bakal terasa banget bedanya.

Mobil kami meluncur membelah pusat kota. Sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan dengan arsitektur gedung-gedung pemerintahan Pekanbaru yang berdesain unik dan megah. Misalnya kantor Badan Perpustakaan dan Kearsipan, dan kantor Gubernur Riau.Fly-over nya pun diwarnai dengan warna biru dan emas, dan ada motifnya gitu. Cantik deh. Tata kotanya benar-benar mengagumkan. Dan satu lagi, meski merupakan ibukota, namun jalannya cukup bersih. Entah kami yang nggak melihat atau gimana, tapi kami nggak menemukan ada sampah menumpuk di pinggir jalan. Salut.

Akhirnya tiba juga lah kami di kantor cabang Pekanbaru yang terletak di kawasan jalan Tuanku Tambusai. Kami memasuki showroom depan, menyalami pramuniaga yang berjaga, lalu terus ke ruang selanjutnya. Di ruang itu kami bertemu tiga orang karyawan yang salah satunya menyambut kami dengan suara riang.
“Ah, ada artis! Ini nih vokalisnya. Ntar mau request ah”, celetuknya. Ia cewek berhijab, mungkin seumuran denganku. Wajahnya lumayan cantik, dan suaranya cempreng, cocok dengan tubuhnya yang mungil. Ia mengingatkanku pada Arafah Rianti, komika yang terkenal itu. Dari sikapnya, aku yakin dia adalah tipe orang yang mudah akrab dengan siapapun. Sejenak aku heran darimana dia tau aku vokalis, namun kemudian aku menyadari bahwa mungkin ia melihat dari kaos band yang aku dan teman-teman MusTanG kenakan.

Kemudian kami naik ke lantai dua. Disana, beberapa orang karyawan tampak tengah berjoget-joget mengikuti alunan musik dangdut di sebuah ruangan yang lebih lapang dari ruangan lainnya (semacam ruang pertemuan).

"Bukan satu kali kamu buat begini..
Bukan satu kali kamu bikin makan hati..
Kalau terus begini serong kanan cari lain lebih baik.."

Aku dan teman-teman berpandang-pandangan.
Jam kerja begini kok karyawan nyantai banget pada joget-joget di kantor?
Kemudian kami masuk ke ruang kerja Pak Yosep. Disana, kami ngobrol-ngobrol sebentar. Pak Yosep memperkenalkan kami pada Bu Leni, selaku HRD kantor cabang Pekanbaru. Beliau juga memberi kami multivitamin agar tubuh kami fit saat manggung nanti.

Bu Leni ini blasteran Jawa-Minang. Ibunya dari Jawa, dan bapaknya asal Solok. Hari itu beliau tampak cantik dan anggun dengan baju merah dan rok panjang beserta kerudung dengan warna senada. Tutur katanya halus dan sikapnya ramah. Beliau mengajak kami berkeliling kantor dan memperkenalkan kami pada seluruh karyawan disana. Aku tersenyum lega dan senang. Sambutan di kantor cabang Pekanbaru ini ramah banget, nggak beda jauh dengan waktu hari pertama aku bekerja di kantor cabang Cirebon. Itulah faktor yang bikin aku betah bekerja di perusahaan tempat bekerjaku yang sekarang. Orangnya ramah-ramah. Aku jadi merasa hangat.

Setelah berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lainnya, aku, Mas Win, Ryan, dan Mas Febri berkumpul di ruang Admin Marketing & Purchasing yang terletak di samping ruang pertemuan tadi. Dari situ kami bisa melihat aktifitas para karyawan—sales, lebih tepatnya—yang masih berjoget-joget dengan lagu yang sama.
“Ini memang tiap hari nyantai begini kerjanya, Kak?” tanyaku pada Admin Marketing yang saat itu tengah sibuk dengan komputernya, tapi masih ramah meladeni kami. Namanya Ana. Ia cantik, dan wajahnya mirip dengan Bu Hanny, Staff Akunting di kantor kami di Cirebon. Teman-teman MusTanG pun setuju dengan hal itu.
“Oh enggak. Ini karena besok ada acara aja. Mereka ini lagi bikin yel-yel”, jelasnya. Aku manggut-manggut. Selanjutnya, kami jadi asik memperhatikan para sales itu berjoget.
“Put, ntar jangan bilang-bilang ke yang lain ya kalo disini bikin yel-yelnya kayak gini. Nanti disana juga ikutan lagi, trus saya disuruh joget-joget kayak gini”, celetuk Ryan.
“Ya gapapa. Bagus malah, kreatif gitu,” kataku.

“Mas Win, ikutan, Mas Win!” seruku pada Mas Win yang fokus liatin orang joget. Padahal aku becanda doang. Eh, dia ngikutin, masa. Dengan pedenya gabung sama mereka dan bergerak mengikuti koreografi. Beberapa detik kemudian, aku tergoda untuk bergabung dengan mereka juga. Akuberdiri di sebelah Mas Win, dan mulai mengikuti gerakan mereka. Bodo amat gerakanku ngaco. Well,sebenarnya ini salah satu upayaku untuk mengakrabkan diri dengan mereka, biar pas manggung di hadapan mereka nanti aku nggak begitu canggung. Sementara aku, Mas Win, dan yang lainnya bergerak mengikuti alunan musik, Ryan merekam aksi kami dengan kamera hapenya.
“Hfff..capek juga ya”, kata Mas Win sambil berkacak pinggang setelah satu lagu selesai.
“Iya, padahal bentar doang”, sahutku. Kemudian kami kembali duduk dan memperhatikan aktifitas mereka.

Setelah itu, kami diajak duduk-duduk di ruang HRD yang dihuni oleh Bu Leni sendiri. Dari banyaknya ruangan di gedung itu, ruang inilah yang menurutku paling rapi dan nyaman. Disana kami disuguhi permen jahe kelapa yang katanya merupakan favorit orang Pekanbaru. Rasanya unik sih, tapi aku lebih suka permen jahe biasa ketimbang dengan campuran rasa kelapa. Beberapa lama kemudian, kami  pun pamit untuk check sound di lokasi dimana acara kantor cabang Pekanbaru akan digelar. Alam Mayang.

Setibanya di Alam Mayang, kami disambut oleh beberapa orang yang tengah duduk-duduk di area loket. Petugas ticketing mungkin? Entahlah.
“Kami mau check sound”, kata Pak Yosep pada mereka. Kemudian mereka mempersilahkan mobil kami masuk.
“Wah, besok-besok kalo kesini lagi bilang aja mau check sound gitu ya,” celetuk Ryan.
“Hahaha.. biar masuknya gratis ya”. Dianggapnya password apa gimana.

Alam Mayang merupakan salah satu (atau mungkin satu-satunya, mengingat minimnya tempat wisata di Pekanbaru) objek wisata di Pekanbaru yang memiliki konsep rekreasi di alam terbuka. Letaknya di pinggir kota, namun masih bisa dijangkau dengan kendaraan umum. Begitu melalui gerbang masuk, kami disambut oleh pemandangan beberapa patung batu yang menjadi ikon khas Alam Mayang. Namun kami nggak sempat berfoto-foto disana karena diburu waktu.


Mobil kami berhenti di depan sebuah panggung kecil yang terletak di depan sebuah kolam besar. Panggung itu nggak kosong, ada sebuah band yang sedang ‘main’ disitu. Setelah mereka menyelesaikan satu lagu, mereka pun turun dan mempersilahkan kami untuk melakukan check sound. Kami pun lantas mengambil posisi masing-masing. Mister Chokai dan Mas Win mencoba-coba gitar, Ryan mencoba-coba bass, dan Mas Febri mencoba-coba drum, kecuali aku yang malah asyik memotret mereka dan memperhatikan panggung yang ternyata lebih kecil dari yang aku bayangkan. Kemudian kami pun mencoba membawakan tiga buah lagu. Sialnya, belum juga manggung beneran, aku udah nervous sehingga sempat lupa lirik beberapa kali. Ampun deh :’)

Check-sound
Sekitar jam setengah dua belas, kami pun kembali ke mobil dan meninggalkan Alam Mayang. Dari situ, kami keliling-keliling mencari hotel untuk tempat kami menginap selanjutnya. Pengennya Pak Yosep sih cari hotel yang dekat-dekat situ, tapi sayangnya nggak ketemu. Karena udah mendekati waktu sholat Jum’at, akhirnya kami pun beralih untuk mencari masjid.

Singkat cerita, mobil kami berhenti di dekat salah satu masjid di Jalan Sekolah. Pak Yosep memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah bank yang saat itu tutup.
“Orang-orang Sumatra itu begini nih, kalo waktunya sholat, bank dan toko-toko ditutup. Nanti setelah waktu sholat, mereka baru buka lagi”, jelas Pak Yosep yang menambah penilaian positifku tentang kota ini. Pak Faisal, Mister Chokai, Mas Win, Ryan, dan Mas Febri pun bergegas menuju masjid, sementara aku dan Dhea tetap di mobil.

Sambil menunggu rekan-rekan yang sholat Jum’at, kami pun meninggalkan tempat itu untuk mencari rumah makan. Namun sebelum itu, Pak Yosep mengantar aku dan Dhea dulu ke pom bensin karena kami kebelet pipis. Di toilet pom bensin, aku menemukan bahwa airnya keruh. Aku hampir lupa bahwa Pekanbaru merupakan pusat pertambangan minyak, sehingga di kota ini, air yang jernih sulit ditemukan.

Setelah itu, baru deh kami mencari rumah makan. Aku dan Dhea terheran-heran ketika Pak Yosep membawa mobil kami  berbelok ke sebuah tempat yang bisa dibilang agak terpencil. Kanan kiri kebun, dan rumah penduduknya jarang-jarang.
“Mana ada rumah makan terkenal di tempat kayak gini, Pak”, kata Dhea. Aku sendiri sependapat dengannya. Rupanya Pak Yosep sendiri belum pernah kesitu. Beliau hanya mengikuti rekomendasi dari Bu Leni. Akhirnya setelah beberapa ratus meter mobil kami meluncur dari jalan besar, tampaklah sebuah bangunan sederhana dengan papan nama besar di atasnya bertuliskan “RM Racha” lengkap dengan gambar berbagai jenis masakan yang mungkin merupakan menu andalan mereka. Beberapa unit mobil dan motor terparkir di halaman depannya yang nggak bisa dibilang luas. Aku terbengong-bengong. Pemikiran aku dan Dhea jelas terpatahkan. Lingkungan di sekitarnya boleh sepi, tapi rumah makan itu bukan main ramainya. Pak Yosep dan Dhea lalu turun buat booking tempat.
“Saya perlu turun juga nggak nih?” tanyaku.
“Nggak usah, tunggu disini aja. Bentaran doang kok,” jawab Dhea sambil menutup pintu mobil dan berlalu kedalam rumah makan. Nggak berapa lama kemudian, mereka pun kembali.
“Nggak bisa booking,” kata Dhea sambil masuk ke dalam mobil.
“Jadi..?”
“Ya siapa cepat, dia dapat.”
“Jadi ntar kita makannya misah-misah dong ya.”
“Ya gitu deh..”

Kami pun kembali ke masjid tadi untuk menjemput rekan-rekan kami. Kami tiba tepat pada waktunya, sholat Jum’at udah selesai.
“Siang ini kita makan di rumah makan yang unik”, kata Pak Yosep setelah semuanya sempurna masuk ke dalam mobil.

Singkat cerita, mobil kami kembali berhenti di depan RM Racha. Kali ini Pak Yosep memarkirkan mobil kami disitu. Hal pertama yang membuat rumah makan ini unik adalah, kita harus melepas alas kaki saat masuk ke dalamnya. Di depan pintu masuk ada rak sepatu, kita tinggal masukkan aja alas kaki kita disitu. Hal unik kedua, disana nggak bisa booking tempat duduk, sehingga kalo rumah makan penuh ya pengunjung yang mau makan disitu harus rela menunggu. Dan kalo datangnya itu rombongan, maka harus rela makan berpencar-pencar, kecuali kalo rombongan kita datangnya berbarengan dengan bubarnya rombongan pengunjung lain yang makan dalam satu meja. Tapi ini kayaknya jarang terjadi sih.

Rombongan kami pun mengantre untuk mengambil makanan. FYI, menunya buanyaaaaak banget, dan kita dipersilahkan untuk mengambil sendiri nasi dan lauknya, seperti prasmanan pada hajatan. Kalo nggak biasa makan di rumah makan Minang, pasti bingung deh mau ambil apa. Aku contohnya. Wkwkwk.. Alhasil aku hanya mengambil telur dan sup daging sapi. Hanya aja, aku nggak tau kalo sup daging sapi itu ngambilnya harus satu porsi gitu. Waktu lagi menyendokkan sup itu ke piring, tiba-tiba abang pelayannya nyerobot dan bilang kalo sup itu dihitung satu porsi. Ia lantas mengambilkan sup itu kedalam satu mangkuk, dan rupanya itu lumayan banyak, bisa buat tiga orang. Tadinya niatnya sup itu mau dimakan barengan bareng Mas Febri dan Ryan, coz mereka juga sempat mau ambil sup itu. Eh nggak taunya, kami malah berpencar. Mereka udah dapat tempat, sementara aku dan Dhea masih bingung mau makan dimana karena hampir semua tempat udah terisi. Syukurlah, akhirnya kami dapat tempat kosong di sebelah Pak Faisal. Alhasil, aku harus menghabiskan sup itu sendirian. Haaah.. aku rasa rumah makan itu butuh memperbesar tempat mereka. Ini pertama kalinya aku makan di rumah makan dan dibikin bingung sama tempat, sampai muter-muter gitu cari meja dan kursi kosong. Daaaan.. satu lagi minusnya adalah, pengunjung diperbolehkan merokok di dalam ruangan. Itu sungguh mengurangi kenyamanan. Tapi positifnya, masakan disana enak-enak, dan nasinya nggak ‘berderai’ seperti kebanyakan nasi di wilayah Sumatra. Harganya pun muraaaaaahhh banget, dan minumnya gratis dengan dua pilihan minuman, yakni es teh manis dan es mentimun. Kami makan berdelapan orang cuma habis sekitar dua ratus ribuan. Benar-benar murah.

Setelah kenyang, kami pun melanjutkan perjalanan. Siang itu, Pak Yosep mengajak kami ke pusat latihan gajah. Perjalanannya cukup panjang, dan aku sempat mengantuk. Oh ya, di rumah makan tadi, Dhea membeli beberapa buah bolu kemojo mini. Ia menawarkannya padaku dan pada Pak Faisal. Ternyata rasanya enak. Bolu kemojo sendiri merupakan kue basah khas Pekanbaru. Warnanya hijau, berbentuk bunga. Teksturnya kasar di luar, tapi lembut di dalam.
“Berapa harganya ini?” tanyaku pada Dhea.
“Lima ribu dapat tiga”, jawab Dhea. Murah banget. Nyesel juga aku nggak beli.

Akhirnya, tiba juga lah kami di pusat latihan gajah. Awalnya kukira pusat pelatihan gajah ini semacam tempat rekreasi keluarga dimana kita bisa melihat gajah-gajah sirkus dengan berbagai atraksinya, tapi rupanya bukan. Di tempat itu, selain bisa melihat gajah, kita juga bisa ikut memandikan dan menunggangi mereka. Di dalam rombongan kami, hanya Dhea dan Mas Febri yang turun ke sungai untuk memandikan gajah, sementara yang lainnya menonton dari atas jembatan. Gajah-gajah itu pintar sekali. Disuruh duduk, mereka duduk, disuruh berdiri, mereka berdiri, disuruh berbaring, mereka pun berbaring. Saat dimandikan, mereka pun diam, nggak berontak. Hanya aja ada satu ekor gajah yang ketika dimandikan, ia malah buang air besar. Wkwkwk..



Setelah dimandikan, gajah-gajah itupun naik ke daratan dan bersiap untuk kami tunggangi. Awalnya aku nggak mau, namun Pak Yosep terus menggodaku.
“Kapan lagi bisa naik gajah? Mumpung disini lho,” kata beliau.
Akhirnya aku pun mencobanya. Aku menunggang gajah bersama Dhea dan seorang pawang. Gajah yang kami tunggangi Doni namanya. Seorang bapak menawarkan diri untuk memotret kami. Kuserahkan hapeku pada beliau. Gajah-gajah kami berjalan pelan melintasi hutan dan sungai-sungai kecil, dan selama itu pula bapak yang memegang hapeku itu mengikuti kami untuk memotret. Beliau nggak sendirian sih. Ada juga beberapa orang rekan beliau yang juga melakukan hal yang sama, menjadi ‘juru potret’ bagi gajah-gajah yang lain. Hal itu mereka lakukan agar para penunggang gajah nggak melakukan selfie di atas gajah, berbahaya.

Menunggang gajah ternyata cukup mengasyikan dan memicu adrenalin. Apalagi ketika gajah itu melalui turunan ataupun tanjakan. Namun aku tertegun ketika melihat ada jejak airmata di sekitar mata para gajah. Nggak hanya satu, tapi semua gajah yang kami tunggangi mengeluarkan airmata (entah Doni, karena aku berada di atasnya dan nggak melihat). Aku jadi teringat pada satu artikel yang pernah kubaca bahwa menunggangi gajah dapat membuat tulang punggung gajah cedera. Mungkinkah mereka merasa sakit, sehingga mereka mengeluarkan airmata? Ah, mengingat hal itu, aku jadi merasa bersalah udah menungganginya. Maafkan kami, Doni dan kawan-kawan. Semoga kalian selalu sehat.



Setelah menghabiskan waktu di pusat pelatihan gajah, kami melanjutkan perjalanan lagi. Hari udah sore waktu itu. Pak Yosep mengajak kami makan gorengan di pinggir jalan, masih di kawasan Minas. Sementara menikmati gorengan, Dhea browsing-browsing hotel tempat menginap kami selanjutnya. Akhirnya pilihan jatuh pada Hotel CitiSmart.

Kami check-in di Hotel CitiSmart sekitar jam enam sore. Sore itu, kami baru check-in aja, belum memindahkan barang, karena barang-barang kami masih dititipkan di mes Pak Yosep pasca check-out dari Hotel Amaris.

Aku mendapatkan sebuah kamar di lantai dua, hampir bersebelahan dengan kamar Dhea (kamar kami dipisahkan oleh satu kamar). Kamar itu terdiri dari dua ranjang. Malam itu, aku dan Dhea nggak lagi tidur satu kamar, namun saat itu aku belum tau siapa teman sekamarku nantinya.

Sekitar jam tujuh malam, aku merebahkan tubuhku di kasur. Rasanya nikmat banget. Hari itu benar-benar melelahkan. Beberapa bagian tubuhku terasa sakit, khususnya bagian bahu sebelah kiri. Lama kelamaan rasa sakit itu menghilang. Rasa kantuk membawaku tertidur pulas.

Aku terbangun ketika mendengar suara ketukan di pintu kamarku. Aku buka, rupanya Dhea.
"Tidur ya? Aku telpon dari tadi nggak kamu angkat", katanya.
"Iya nih, capek banget. Hehe.."
"Barang-barang kamu ada di bawah. Masukin ke kamar aja sekarang", katanya lagi sambil berlalu ke kamarnya.
Kuambil hapeku. Ada beberapa panggilan tak terjawab, juga WhatsApp dari Pak Yosep yang belum kubaca. Waktu itu sekitar jam setengah sembilan. Rupanya aku tidur selama satu setengah jam. Cukup lama juga. Dan selama itu pula aku nggak kebangun. Itu tidur apa pingsan coba?

Aku pun turun ke lantai satu dengan menggunakan lift. Di lobby, Pak Yosep tengah duduk di sofa bersama seorang perempuan yang mungkin berusia sekitar empat puluh tahunan. Di depan beliau ada koperku. Pak Yosep lalu memperkenalkan aku pada perempuan itu yang kemudian aku panggil Bu Fitri. Bu Fitri ini merupakan salah satu karyawan dari kantor cabang Duri. Beliau lah yang akan menjadi teman sekamarku malam itu.

Setelah berkenalan, aku dan Bu Fitri pun menuju kamar. Nggak lupa aku membawa koperku. Di kamar kami ngobrol-ngobrol sedikit. Rupanya Bu Fitri ini asli Medan, tapi tinggal di Duri. Saat belum menikah, beliau juga pernah bekerja di Bandung.

Sekitar jam sembilan, Pak Yosep mengajak kami makan malam. Aku kira makan malamnya di dekat-dekat hotel, nggak taunya lumayan jauh. Malam itu kami makan mie pangsit ijo di Jalan Rajawali. Yang lain udah pada seger-seger gitu kan, nah aku masih kucel karena baru bangun, belum sempat mandi, dan nggak pakai make-up. Wkwkwk.. Bodo amat lah, udah malam juga.




Setelah kenyang, kami pun kembali ke hotel. Sebenarnya Pak Yosep kayaknya masih pengen ngajak kami jalan-jalan gitu, tapi aku bilang kalo aku pengen istirahat. Akhirnya kami pun kembali ke hotel.

Sesampainya di hotel, aku dan Bu Fitri mandi bergantian. Di hotel ini kamar mandinya menggunakan kaca buram, sehingga kalo kita sedang berada di dalam kamar mandi, maka partner sekamar kita bisa melihat siluet tubuh kita. Wkwkwk.. Kalo malu dan nggak mau terlalu terlihat, cukup matikan aja lampu kamar mandinya.

Menjelang waktu tidur, aku dan Bu Fitri dibuat panik dengan kondisi AC kamar yang bocor. Kami pun menghubungi Pak Yosep yang kemudian memanggil roomkeeper. Sayangnya perihal AC bocor itu di luar kemampuan pihak hotel untuk memperbaikinya (jelas karena itu tugasnya teknisi AC). Kami pun mengajukan untuk pindah kamar, dan akhirnya kami pindah ke sebuah kamar di lantai satu. Kamar baru kami ini sedikit lebih luas dan terdapat jendela lebar yang menghadap langsung ke halaman depan hotel. Setelah merasa nyaman, kami pun tidur.

Besok adalah hari yang mendebarkan, seenggaknya buatku.

*Bersambung*
Selasa, 18 September 2018 0 komentar

MusTanG's First Flight : Pekanbaru, Kami Datang

Haaah.. Empat hari yang berkesan. Sejak kemarin, aku nggak sabar banget mau nulis ini. Sebelumnya aku udah sampaikan kan, kalo minggu ini aku dan teman-teman dari MusTanG terbang ke Pekanbaru? Nah, mulai hari ini aku bakal ceritakan semuanya. It will be the veeeeeery long story. Tapi aku membaginya dalam beberapa postingan biar nggak terlalu panjang, dan kemungkinan penulisan pengalaman perjalananku ke dan dari Pekanbaru ini juga membutuhkan waktu beberapa hari. Maklum, sibuk. Mwehehe..

Well, hari Kamis, 13 September sebenarnya bukan hari yang aku tunggu-tunggu. Sejak mendapat tiket sampai dengan hari keberangkatan, perasaanku masih 50:50. Rasanya campur aduk antara ingin dan enggan pergi. Bingung kan? Sama. Sebenarnya yang bikin aku enggan pergi itu pikiran-pikiran negatif di kepala. Aku terus kepikiran performance aku dan teman-teman di hari Sabtu nanti. Apakah bakal sukses atau enggak, berapa banyak orang yang bakal nonton kami, dan bagaimana respon mereka nantinya. Biasa, overthinking. Tapi sisi positifnya, dengan overthinking seperti itu aku jadi semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Wkwkwk..


Kamis, 13 September.

Pagi itu, aku masih ngantor seperti biasa. Hanya aja aku keluar kantor lebih awal. Pagi-pagi, aku menerima serah terima orderan dari para tenaga penjual seperti biasanya. Sekitar jam sebelas siang, aku pamit pulang buat prepare. Namun sebelum itu, aku melakukan serah terima tugas dulu dengan Pak Benny, karena selama aku pergi nanti, beliau yang bakal handle beberapa tugasku.

Sesampainya di rumah, ibu langsung menyambutku. Beliau rupanya udah mempersiapkan sebuah koper yang beliau pinjam dari salah satu sepupuku. Anyway, beberapa hari sebelumnya, aku sempat berniat membeli koper. Tapi setelah aku pertimbangkan lagi, aku batal membelinya, karena kupikir aku jarang banget bepergian jauh, Kalopun pergi jauh, palingan cuma sehari dua hari. Cuma ke Pekanbaru ini aja yang paling jauh dan butuh waktu beberapa hari. Sayang juga kalo beli koper dan cuma dipakai satu kali doang. Aku mau pinjam ke bibiku, tapi koper beliau terlalu besar. Jadi sebagai gantinya, aku memutuskan membawa dua ransel. Itupun ransel satunya juga mendadak beli di online shop. Kebetulan waktu itu sedang ada diskon. Hehe.. Untungnya ransel itu datang sesuai waktu estimasi. Eh, nggak taunya pas tinggal berangkat doang, ibu malah pinjam koper. Alhasil aku harus membongkar kembali perlengkapan menginapku dari ransel dan memindahkannya ke koper itu. Tapi aku bersyukur juga sih, karena ternyata dengan membawa koper, aku jadi nggak terlalu ribet.

Setelah berkemas dan bersiap-siap, ibu menawarkan diri untuk mengantarku hingga stasiun. Kami pergi dengan menumpang Gr*bc*r menuju Stasiun Kejaksan. Rupanya disana Pak Faisal (Bapak Kepala Cabang) dan teman-teman MusTanG udah menunggu di depan Check-in Counter. Untung rumahku nggak begitu jauh dari stasiun, jadi kedatanganku nggak mepet dengan jadwal keberangkatan kereta kami. Setelah ‘menitipkan’ aku pada Pak Faisal dan teman-teman, ibuku pamit pulang. Aku antar beliau ke depan stasiun, lalu aku pesankan Gr*bB*k* untuk beliau. Sayangnya, ojek online rupanya enggan masuk ke depan stasiun karena banyak tukang ojek pangkalan. Akhirnya mau nggak mau, kami harus berjalan sampai ke depan masjid yang terletak nggak jauh dari gang masuk menuju stasiun. Eh, udah jauh jauh berjalan sampai hampir ke gang masuk menuju stasiun, si mas-mas Gr*b nya malah nongol dari tempat kami menunggu di awal tadi. Hadeeehh.. tau gitu mah ngapain capek-capek jalan? Setelah mencium tangan ibu, kami pun berpisah. Ibu pulang ke rumah, aku kembali ke stasiun. Kereta kami berangkat sekitar dua puluh menit lagi.


Sekembalinya aku dari mengantar ibu, teman-teman udah menungguku. Lantas, kami langsung bergegas menuju kereta. Ternyata membawa koper berat dan tas kecil yang tersampir di bahu pun cukup repot rasanya. Belum lagi tali sepatuku yang berkali-kali lepas dari ikatan. Benar-benar rempong deh pokoknya. Dan ketika sampai di tempat duduk di dalam kereta, aku benar-benar lega.

Jam 13.50, kereta Argo Jati yang kami tumpangi meluncur meninggalkan Stasiun Kejaksan. Hari itu aku duduk di sebelah Ryan, dan sebagai rekan sebelahku, ia membantuku memasukkan koper ke bagasi. Ia juga bercerita banyak, mulai dari cerita tentang ayahnya yang berpindah-pindah tempat tugas sehingga mengharuskan ia dan keluarganya tinggal nomaden (berpindah-pindah tempat), tentang pengalaman bermusiknya bersama Jaka dan teman-teman yang ia kenal dari berbagai komunitas, sampai tentang pengalamannya memproduksi musik dengan software yang ia download dari internet. Ia juga sempat memperdengarkan beberapa musik hasil produksinya padaku yang menurutku bagus, tapi ia sendiri belum merasa puas dengan hasilnya. Beberapa waktu lalu, salah satu karyanya pernah ia ikutsertakan dalam Kompetisi Jingle Terbaik Perusahaan saat kantor kami berulang tahun. Ia melakukan rekaman bersama Inggit dan Mbak Weny. Tapi sayangnya, hasil rekaman itu malah nggak sampai ke tangan Pak Yosep selaku juri kompetisi waktu itu.

Beberapa waktu selanjutnya, aku menghabiskan waktu perjalanan dengan mulai membaca Garis Waktu-nya Bvng Fiersa Besari.

Jam 16.15, kereta kami berhenti di Stasiun Bekasi. Kami dijemput oleh Bu Titi yang merupakan salah satu karyawan dari kantor cabang Bekasi. Dari stasiun itu, kami berjalan kaki hingga ke jalan besar, dan lagi-lagi aku kerepotan, ditambah tali sepatuku yang ikatannya lepas berkali-kali benar-benar memperburuk keadaan. Mas Febri menawarkan diri untuk membawakan koperku. Sejak di stasiun, ia memang udah menawarkan bantuan, tapi aku menolak karena nggak enak juga nyusahin orang. Tapi kali ini aku menyerah. Hingga ke jalan besar itu, aku menerima bantuan dari Mas Febri. Kebetulan dia hanya membawa satu ransel di punggungnya. Baru saat tiba di jalan besar, aku bawa lagi koperku sendiri.

Dengan menumpang G*C*r, kami menuju Bandara Halim Perdana Kusuma. Awalnya kami berencana diantar supir perusahaan, tapi beliau ditugaskan buat ngambil paketan di kantor ekspedisi. Jadi akhirnya ya gitu deh.. kami menumpang transportasi online. Sepanjang perjalanan, dua calon bapak—Mister Chokai dan Mas Win—curhat tentang istri mereka yang tengah mengidam dan permintaannya aneh-aneh. Istri Mister Chokai ngidam makan bakso, tapi nggak mau beli di tukang bakso yang lain.
“Masa malam-malam minta dibeliin bakso. Tapi maunya bakso yang dijual sama Mamang itu, nggak mau sama yang lain. Capek banget ubek-ubek kesana kesini nggak ketemu,” kata Mister Chokai.
“Istri saya malah ngidam kacang rebus. Jaman sekarang dimana yang masih jual kacang rebus?” Mas Win ikut menyambung.
“Biasanya dekat kantor Walikota kalo malam ada”, jawab Mister Chokai.
“Tapi jauh banget dari Palimanan.”
“Atau di Kanoman, biasanya banyak,” sambung Mas Febri.
“Iya lho. Masa kepingin kacang rebus aja sampai kebawa mimpi.”
Kami yang mendengar senyum-senyum aja. Haha.. Semangat ya, para Calon Bapak.


Akhirnya, kami pun sampai di Bandara Halim Perdana Kusuma. Sebelum check-in, kami makan dulu di Rumah Makan Sari Bundo yang terletak di depan bandara. Kami makan dengan lahap. Seekor kucing betina berbelang coklat yang nampaknya tengah hamil duduk menunggu di samping meja kami. Aku dan Ryan lantas menyuapinya dengan daging rendang. Kucing itu memakannya dengan lahap, tapi aku lihat matanya kayak berkaca-kaca gitu, entah kenapa. Apakah terharu karena baru kali ini ada pengunjung yang berbaik hati menyuapinya dengan makanan yang dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia? Atau karena kepedesan?
“Mungkin iya kepedesan, Put. Soalnya rendang saya dekat sambel. Tapi ya mau gimana lagi, orang dianya laper,” kata Ryan. Yehh.. Mudah-mudahan aja kamu nggak mencret ya, Cing :’)


Eh si kucing ini jinak banget lho. Sabar aja gitu duduk nungguin. Biasanya kan kalo kucing liar ada yang berdiri-berdiri, loncat naik ke meja atau kursi, atau bahkan langsung menyambar saat kita sodorkan makanan. Tapi kucing ini enggak. Aku jadi ingat kucing-kucingku di rumah. Hahh.. mereka aja nggak sesabar kucing ini. Tiap ada yang makan, mengeong terus nggak sabaran. Kadang berdiri sambil tangannya berusaha menggapai-gapai, apalagi si Totton. Diam-diam aku jadi kangen mereka. Haha.. padahal baru beberapa jam ditinggal.


Setelah makan, kami baru memasuki bandara. Karena udah masuk waktu Maghrib, kami pun sholat dulu di mushola bandara. Habis itu, baru deh aku, Pak Faisal, Mas Febri, Mister Chokai, Ryan, dan Mas Win melakukan check-in dan mendaftarkan bagasi. Setelah check-in dan mendapatkan boarding pass, kami pun duduk-duduk untuk menunggu waktu penerbangan. Lumayan lama juga kami nunggunya. Ditambah pesawat kami yang delay selama setengah jam. Sambil menunggu, kami pun berfoto-foto.

Candid by Mas Febri
Sekitar jam setengah sembilan malam, kami pun bergegas menuju lapangan. Burung-burung besi berdiri gagah disana. Burung besi kami, Batik Air, telah menunggu. Ini pertama kalinya aku melihat pesawat terbang dari dekat, dan tentu, pertama kalinya pula bagiku dan beberapa orang dari kami menaiki pesawat terbang. Aku mendapat kursi tepat di samping jendela. Di sebelah kananku ada Ryan dan Mas Win. Rasanya senang sekali Allah memberiku kesempatan padaku untuk duduk di samping jendela di pengalaman pertamaku ini. Aku terus memandang keluar jendela, mengamati aktifitas bandara yang masih asing bagiku.

Sebelum pesawat meninggalkan bandara, awak kabin memberi kami berbagai instruksi dan peringatan, salah satunya adalah larangan mengaktifkan peralatan elektronik (termasuk charging hape dengan menggunakan powerbank) saat pengisian bahan bakar pesawat. Perangkat elektronik baru boleh diaktifkan setelah pesawat lepas landas, asalkan flight-mode nya pun harus aktif. Jangan lupa juga mengenakan seat-belt. Dan seperti standar penerbangan pada umumnya, pramugari memperagakan bagaimana caranya melakukan penyelamatan apabila terjadi hal-hal yang nggak diinginkan. Karena duduk di pojokan, aku nggak bisa melihat aktifitas peragaan yang dilakukan pramugari itu. Alhasil aku cuma bisa membaca dan melihat gambar ilustrasi dari buku panduan yang udah tersedia di masing-masing kursi penumpang.

Setelah segalanya siap, lampu pesawat dimatikan, dan pesawat pun mulai meluncur. Mula-mula pelan.. meluncur pelan.. berbelok pelan.. pelan.. kemudian mesin berdesing semakin keras dan pesawat meluncur semakin cepat, lalu WUSSSH.. pesawat lepas landas. Ternyata begitu rasanya. Well, ketika roda pesawat lepas dari landasan, rasanya nggak jauh berbeda dengan saat menaiki lift.

Sesaat setelah pesawat take-off, pandanganku nggak lepas dari jendela. Ada ratusan, ribuan, jutaan, milyaran kerlip lampu dibawah sana. Indah. Indah banget. Semakin lama, kerlip lampu kian mengecil seiring pesawat yang membawa kami terbang semakin tinggi. Mengecil, semakin mengecil.. dan SPLASS.. pemandangan pun hilang. Hitam, hanya hitam sejauh mata memandang, dengan bulan sabit sebagai pemanis yang saat itu tampak lebih dekat, meski ukurannya nggak jauh berbeda dengan seperti yang biasa kulihat dari daratan. Kusandarkan punggungku pada sandaran kursi. Bosan, akhirnya kukeluarkan earphone-ku. Aku memutar lagu Iris dan Repray milik Aimer yang belakangan ini lagi sering banget aku dengar berulang-ulang.

Aroma lezat menguar. Awak kabin memerintahkan kami untuk membuka meja lipat di depan kami. Nggak lama kemudian, beberapa orang pramugari cantik membagikan satu kotak persegi panjang dan sebotol air mineral kepada masing-masing penumpang. Rupanya aroma lezat itu berasal dari kotak tadi. Isinya pandan muffin dan focaccia chicken—roti khas Italia dengan toping daging ayam dan keju mozarella. Enak sih, tapi masih kalah enak sama Indomie Rasa Ayam Spesial pakai telor, seenggaknya begitu menurutku.



Sekitar jam setengah sebelas, pesawat kami mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru. Pak Yosep, udah menunggu kami disana bersama keponakannya yang kuliah di Pekanbaru dan seorang supir. Ada dua mobil yang menjemput kami malam itu. Sebagian ikut mobil Pak Yosep, sebagian lagi ikut mobil yang dikendarai supir beliau. Sebelum meninggalkan bandara, kami berfoto-foto sejenak di depan bandara.

Setelah berfoto-foto, mobil kami meluncur meninggalkan bandara. Kukira malam itu kami langsung menuju penginapan, tapi rupanya Pak Yosep mengajak kami dulu ke salah satu warung makan mie aceh di Jalan Arifin Ahmad. Karena udah malam, kondisi warung nggak begitu ramai, sehingga kami bisa langsung mendapatkan meja. Pak Yosep menyodorkan buku menu.
“Wah, ada kopi aceh,” kata Mas Win. Konon Aceh memang surganya kopi. Dengan semangat, Mas Win memesan secangkir kopi aceh pada pelayan.
“Terong belanda kayak apa ya?” kali ini Ryan yang angkat bicara.
“Belum tau kan? Nah, makanya pesan, biar nggak penasaran, mumpung disini”, kata Pak Yosep. Akhirnya Ryan pun memesan segelas jus terong belanda. Ada juga yang pesan jus pinang, entah siapa.

“Putri pesan apa?” Pak Yosep bertanya padaku.
“Masih kenyang, Pak. Hehe..”
“Belum pernah coba mie aceh kan?” tanya beliau lagi.
“Belum, Pak,” jawabku.
“Nah, ya pesanlah.”
Karena merasa nggak enak, akhirnya aku memesan satu porsi mie aceh rebus. Tapi rupanya satu porsi mie aceh rebus itu banyak banget. Mana pedas pula. Kalo tau gitu, mending pesan setengah porsi aja, itupun kalo bisa sih.

Singkat cerita, kami pun makan sambil ngobrol-ngobrol.
“Ternyata kopi aceh gini ya rasanya. Mirip kopi K*p*l *p*”, ucap Mas Win sambil menyebut merk kopi hitam yang biasa ia minum.
“Wah, berarti kopi K*p*l *p* dari Aceh tuh”, timpal Mas Febri.
Jus terong belanda rupanya rasanya nggak jauh beda dengan jus jambu biji, sedangkan jus pinang rasanya mirip jahe (seenggaknya begitu kata Ryan, Mas Win, dan Mas Febri yang mencicipinya). Kami ketawa-ketawa melihat ekspresi Mas Win saat mencicipi jus pinang. Dia bilang rasanya aneh dan terlalu kuat di lidah, sehingga kopi yang dia minum pun nggak mempan menghilangkan rasa anehnya. Aku susah payah menghabiskan mie-ku. Rasanya perutku udah benar-benar penuh dan nggak bisa diisi lagi. Dan ketika tinggal separuh, aku benar-benar menyerah. Maaf ya Allah, maaf Pak Yosep. Nggak sanggup deh, beneran.

Makan mi aceh di Jalan Arifin Ahmad

Setelah selesai makan, kami pun berangkat menuju penginapan. Sebelum itu, Pak Yosep terlebih dahulu mengantarkan keponakannya ke sebuah hotel, baru deh beliau lanjut mengantarkan kami. Mobil kami meluncur dan berhenti di depan Hotel Amaris di Jalan Hangtuah. Setelah menurunkan barang-barang dari mobil, kami pun melakukan check-in.
“Nanti Putri sekamar sama Dhea ya,” kata Pak Yosep. Aku mengangguk.

Setelah semuanya melakukan check-in, Pak Yosep mengantarku ke kamar dimana Dhea udah terlebih dahulu menginap. Beliau juga membantu membawakan koperku. Sesampainya di salah satu kamar, Pak Yosep mengetuk pintu beberapa kali hingga seseorang di dalam membukanya. Dhea menyambutku dengan ekspresi wajah mengantuk. Sepertinya dia udah tidur, dan terbangun saat Pak Yosep mengetuk pintu. Setelah menitipkanku pada Dhea, Pak Yosep beranjak dari situ.

Kondisi kamar itu nggak cukup rapi saat aku datang. Koper milik Dhea tergeletak begitu aja dalam kondisi terbuka. Kutaruh koperku di samping meja rias. Meja itupun berantakan. Ada gelas cup dengan logo restoran cepat saji dan kotak bekas fastfood yang dibiarkan terbuka begitu aja dengan beberapa potong sisa makanan didalamnya. Di sebelahnya, berjejer beberapa botol air mineral yang masih utuh dan tersegel.
“Aku lanjut tidur ya. Ngantuk banget dari kemarin belum tidur”, kata Dhea.
“Iya gapapa, lanjut aja,” jawabku.

Dhea pun kembali pulas, sementara aku mengganti pakaian dengan yang lebih longgar, mencuci kaki, menyikat gigi, mencuci muka, lalu bergabung dengan Dhea. Perjalanan hari itu cukup melelahkan.

*Bersambung*
posted from Bloggeroid
Selasa, 11 September 2018 0 komentar

MusTanG's First Flight


I’m always been a girl that hid my face. Selama dua puluh empat tahun aku hidup, aku nggak pernah suka menjadi pusat perhatian, khususnya di depan banyak orang. Terlebih sejak hari-hari buruk belasan tahun silam itu. Kepercayaan diriku runtuh. Butuh waktu lama untuk membangunnya kembali, itupun nggak sepenuhnya pulih. Aku mudah sekali gugup. Jantungku berdegup hebat setiap kali beberapa pasang mata mengawasiku, dan ketika itu pula aku merasa sulit berpikir.

Menjadi seorang vokalis dalam sebuah band bukanlah mimpiku. Aku memang mengagumi beberapa orang penyanyi yang tampil dengan sangat energetic di depan layar. Hayley Williams dan Avril Lavigne misalnya. Dan terkadang aku meniru gaya mereka sambil bernyanyi-nyanyi sendiri di dalam kamar, namun nggak pernah sekalipun terlintas di pikiranku untuk bisa mengikuti jejak mereka, karena aku sadar sifatku. Hanya karena suatu hal, aku nekat untuk keluar dari zona nyamanku. Ya, akhirnya aku bergabung dalam sebuah band, dan itu karena suatu tujuan. Ah, aku pernah ceritakan soal ini di postinganku sebelumnya kan?

Hampir setengah tahun lamanya aku bergabung bersama MusTanG. Benar-benar suatu kehormatan bagiku untuk bisa bermain musik bersama para mas-mas kece ini. Namun ketika apa yang semula menjadi tujuan itu nggak lagi menjadi tujuanku, entah rasanya bergabung bersama MusTanG menjadi semacam guilty pleasure buatku. Selama ini jujur, aku sangat menikmati sesi-sesi latihan kami. Entah itu rehearsal di studio, ataupun saat berkumpul bersama di rumah salah satu member. Rasanya separuh beban di kepalaku hilang setiap kali kulepaskan suaraku dalam alunan musik. Namun terkadang aku merasa menyesal karena udah bergabung dalam band. Bukannya aku nggak suka bermusik bareng mereka (aku udah bilang kan kalo aku menikmati sesi-sesi latihan kami? Jadi ‘nggak suka bermusik bareng mereka’ jelas bukan alasanku). Aku hanya menyesal setiap kali teringat bahwa apa yang kujalani sekarang ini bukanlah hanya sebatas bersenang-senang. Pak Yosep, Presiden Direktur kami berharap besar pada kami. Beliau ingin suara kami didengar banyak orang dengan mengisi acara dalam event-event yang menggelar panggung musik di dalamnya, yang mana mengharuskanku untuk bisa menjadi pusat perhatian. Kami pernah perform satu kali di sebuah mall, dan rasanya aku hampir semaput.

Beberapa waktu lalu, pada Mister Chokai, aku menyatakan diri untuk mundur dari band. Aku bilang kalo aku capek. Kami dipersiapkan untuk mengisi acara kantor cabang Pekanbaru pada bulan Juli, tapi hingga penghujung bulan Juli, sama sekali nggak ada kejelasan tentang acara itu, maka aku nggak yakin kalo kami akan benar-benar mengisi acara itu. Namun pernyataanku itu ditolak mentah-mentah oleh Mister Chokai.
“Kamu jangan macam-macam. Kita udah setengah jalan, udah buang waktu dan tenaga buat latihan. Kita mau tur ke luar pulau lho, masa mau mundur,” katanya. Aku mencibir. Tar, tur, tar, tur.. Lagaknya udah kayak seolah-olah kami mau world tour aja (-,-)

Beberapa hari setelah itu, Mister Chokai meminta foto KTP kami untuk dikirimkan pada Dhea. Katanya sih untuk pesan tiket. Kami nurut-nurut aja. Mister Chokai sampai meminta foto KTP-ku berulang-ulang.
“Foto KTPnya yang jelas napa”, katanya.
Padahal mah udah sejelas-jelasnya, cuma kondisi KTPku yang memang udah buluk banget.

Rupanya bukan cuma aku yang mulai ogah-ogahan. Mula-mula aku mendengar keluhan dari Mas Win yang merasa pekerjaannya sedikit terbengkalai karena harus membagi waktu antara bekerja dan nge-band. Kemudian ditambah Mas Febri yang sering kena omel istrinya karena quality time mereka yang menjadi terbatas. FYI, Mas Febri ini baru banget jadi bapak. Of course, istri dan bayinya butuh perhatian lebih darinya.
“Ayo sih.. Jangan lihat Pak Choky, tapi lihat Pak Yosep yang udah support kita, udah ngeluarin duit buat latihan, buat bikin kaos band, segala macam. Kita tinggal main aja, ya kita kerjain semaksimal mungkin. Kalo ini udah beres, bubar juga nggak masalah. Anggap aja ini tugas yang harus kita lakuin”, kali ini Ryan angkat bicara. Aku manggut-manggut, karena itu juga yang akhirnya kupikirkan. Aku udah memutuskan untuk memulai ini, jadi mau nggak mau aku harus menghadapinya. Apalagi melihat Pak Yosep yang merangkul kami seperti kawan, padahal kami kan bawahan-bawahan beliau di kantor. Pernah waktu itu aku pulang malam dari studio, Pak Yosep menawariku untuk menumpang mobilnya, bersama Dhea. Kubilang, “Rumah saya jauh, Pak. Nanti jadi bolak-balik”.
“Ah, gapapa. Putri kan anakku juga,” ucap beliau. Entah kenapa mendengar itu aku jadi terharu. Haha.. Beliau juga selalu semangat setiap kali ngobrolin tentang band kami. Rasanya keterlaluan kalo udah di-support seperti itu malah main tinggal begitu aja.

Akhirnya, setelah rehearsal demi rehearsal kami jalani, tibalah saat itu, ketika Dhea menyampaikan perihal acara di kantor cabang Pekanbaru; tentang hari keberangkatan, lokasi acara, dan bagaimana antusiasme warga sana apabila ada pergelaran panggung musik. Kami akhirnya bisa bernafas lega mengetahui latihan kami nggak akan sia-sia. Ya, KAMI AKAN KESANA.

***

Hari ini, rehearsal terakhir kami. Jam sembilan pagi tadi, kami berkumpul di Salsa Music Studio—studio musik dimana belakangan ini kami sering mengadakan rehearsal. Setelah kelima member kumpul, kami langsung masuk studio, karena hari ini kami pengunjung pertama. Hahaha.. Ya iyalah, siapa coba yang iseng main band pagi-pagi banget?

Berbeda dengan latihan-latihan kami sebelumnya, kali ini kami berlatih selama lebih dari dua jam. Kami berlatih dengan semangat, membawakan lebih dari tujuh belas lagu. Sayangnya, Mister Chokai masih belum bisa bermain sambil berdiri pasca operasi punggung seminggu yang lalu. Tapi nggak masalah. Semoga ketika manggung nanti, kondisinya udah pulih kembali.

Well, that’s all for today. Jujur, aku deg-degan. Entah bagaimana nanti jadinya. Kalo acara indoor aja bisa membuatku hampir semaput, gimana jadinya kalo acara outdoor? Ya, acara di Pekanbaru ini outdoor, di sebuah tempat wisata, yang mana berarti performance kami akan disaksikan banyak orang. Jadi, akankah nanti aku semaput beneran? Semoga enggak :’) 

So, see you soon, Pekanbaru. Hari Kamis ini, insya Allah, pesawat kami akan mendarat disana :)
Sabtu, 18 Agustus 2018 0 komentar

Independence Day Celebration di Bumi Kuningan

Seriously, aku antusias banget mau nulis ini. Tapi pertama-tama, meski terlambat satu hari, aku rasa ini belum terlalu terlambat untuk mengucapkan selamat hari ulang tahun RI yang ke-73. Semoga Indonesia yang sebenarnya belum benar-benar merdeka ini bisa benar-benar merdeka. Aamiin.
Kemarin adalah hari libur nasional, dan it was so fun. Hari Kamis lalu aku melenggang ke kantor dengan semangat. Aku membawa ransel besar berisi pakaian dan perlengkapan mandi. Bukan, bukan karena aku kabur dari rumah. Tapi hari itu aku mau pergi nge-camp.

Well, beberapa hari yang lalu, Pak Ben mengabariku bahwa dua tim penjualan di perusahaan kami, Tim Kedawung dan Tim Sumber, mengadakan camping di salah satu tempat wisata di Kuningan, dan beliau berencana untuk ikut, beserta Pak Teguh, kepala divisi kami. Beliau bertanya padaku apa aku berminat dengan acara itu. Tanpa berpikir panjang, aku langsung bilang kalo aku berminat. Terbayang pengalaman nggak biasa yang akan aku dapatkan selama disana. Keesokan harinya, A Putra, salah satu rekan kerjaku juga membahas soal acara itu, dan kebetulan aku pun diundang. Jadilah aku bilang ke dia kalo aku mau ikut. Kemudian dia menyampaikan hal itu ke supervisornya, dan mereka berpesan kalo aku harus siap jam empat sore. Aku yang jam kerjanya baru berakhir jam lima nggak lantas langsung mengiyakan, coz tentu aja aku harus minta ijin Pak Teguh dulu, selaku atasanku. Nggak mungkin aku main keluar kantor di jam kerja tanpa ijin, apalagi aku bagian dari divisi HRD.

Sooo aku berencana berangkat langsung dari kantor, karena kalo aku pulang dulu, otomatis berangkat ke lokasinya malam, sedangkan kami janjian jam empat sore. Makanya hari Kamis itu, aku langsung bawa perlengkapan menginapku ke kantor. Namun sayangnya, setiba di kantor, Pak Ben menyatakan keraguannya untuk ikut.
"Saya sih tergantung Pak Teguh aja. Kalo Pak Teguh ikut, saya juga ikut, karena saya ikut mobil beliau," katanya. Daaaaan unfortunately, udah dua hari itu kepala divisi kami itu meeting sampai malam dengan Kepala Cabang, which means kemungkinan besar beliau batal ikut nge-camp, maka begitu pun juga dengan Pak Ben.

Hal itu nggak lantas membuatku mengurungkan niat. Aku tetap ingin pergi. Apesnya aku nggak mendapatkan kesempatan minta ijin Pak Teguh untuk keluar kantor jam empat, karena dari pagi sampai sore Pak Teguh nggak kunjung keluar dari ruangan Kepala Cabang. Aku kirim pesan WhatsApp malah ceklis. Sementara A Put terus menghubungiku untuk segera bersiap.
"Berangkat duluan aja, A Put. Saya nggak bisa keluar kantor sebelum jam lima", kataku.
"Ya udah, nanti ikut mobil Pak Agus aja kalo gitu. Tapi dia lagi kirim barang. Mungkin sekitar jam setengah enam baru selesai."
"Yah, malem banget dong nanti sampainya."
"Trus gimana dong? Tak jemput sekarang aja ya, kesitu."
"Jangan, A Put.."
Aku galau. Mau berangkat naik motor bareng Tim Penjualan yang berangkat sebelum jam lima, tapi aku belum dapat ijin keluar. Mau berangkat sama Staff Pengiriman, tapi beliau baru datang jam setengah enam (itupun kalo beliau tepat waktu), dan dengan menggunakan mobil, perjalanan tentunya akan menempuh waktu yang lama.
"Ya udah, kita tunggu Putri sampai jam lima", kata A Put akhirnya.

Aku pun menghembuskan napas lega. Akhirnya urusan waktu berangkat selesai. Eh, mendekati waktu jam lima tepat, tiba-tiba muncul masalah baru. Pak Ben menyarankan aku untuk berangkat bareng Staff Pengiriman. Beliau menuturkan tentang betapa mengerikannya perjalanan menuju ke lokasi camping.
"Kamu bakal lebih aman kalo naik mobil bareng Pak Agus", katanya.Lagi-lagi aku galau. Masalahnya aku udah terlanjur bikin A Put dan timnya nunggu lama. Kan nggak enak. Akhirnya dengan mengucap bismillah, aku putuskan untuk tetap pergi bareng A Put dkk dari Tim Sumber. Percaya sama Allah yang Maha Pelindung :)

Karena udah terlalu sore, aku menuju Outlet Sumber dengan menumpang Gr*bB*k*. A Put terus memonitorku via WhatsApp chat. Sepertinya dia gemas nunggu kelamaan. Haha.. Aku sempat khawatir kalo nyasar, karena jujur aku gak begitu hafal jalan menuju kesana. Tapi alhamdulillah, aku sampai juga di Outlet Sumber tanpa nyasar. Thank you Google Maps. Sesampainya di outlet, A Put langsung berlari menghampiri kami dan memberikan beberapa lembar uang kepada Driver Gr*b yang mengantarku. Seriously, it was too much, Teaaam.. Mereka antusias banget waktu tau aku mau ikut acara mereka, soalnya biasanya kalo ada acara-acara gitu aku sering nolak. Wkwk..

Di outlet itu, selain A Put juga ada Bu Rohayati (SPV Tim Sumber), Bu Suwarni, Mas Darman, dan Mas Badar. Sementara sebagian anggota tim mereka yang lain udah berangkat lebih dulu. Beberapa menit setelah aku tiba, datanglah Mbak Melisa (Sales Tim Kedawung) dan suaminya, Zovy yang ternyata juga ikut acara itu. Padahal awalnya aku kira mereka nggak ikut, karena Mbak Mel saat ini tengah hamil lima bulan.

Singkat cerita, kami pun berangkat. Kami berangkat berempat naik motor. Mas Darman membonceng aku, A Put membonceng supervisornya. Sedangkan sisanya nanti ikut mobil Staff Pengiriman. Karena nggak bawa helm, aku meminjam helm milik Mas Badar.

Senja mengiringi perjalanan kami. Indah, dan aku bisa menikmatinya dengan cukup jelas karena sepanjang senja kami banyak melewati areal pesawahan. Namun seiring menggelapnya langit, kendaraan kami semakin memasuki kawasan minim penerangan. Pohon-pohon tinggi tumbuh di kanan kiri jalan kecil yang hanya cukup dilalui satu mobil atau dua motor. Kadang kami juga menemui jurang di sisi kanan jalan. Jalanan juga benar-benar sepi. Sangat jarang kami menemui pengemudi lain disitu. Jalan menanjak, menurun, dan berkelok-kelok menambah kengerian kawasan itu. Saat itu aku baru sadar kenapa Pak Ben mengkhawatirkan keamananku selama di perjalanan. Itu benar-benar perjalanan paling menyeramkan yang pernah aku lalui. Kalo siang sih mungkin nggak seseram itu, tapi ini menjelang malam, gelap. Saking gelapnya, sumber penerangan hanya dari lampu kendaraan kami. Aku bukannya mengkhawatirkan penampakan makhluk astral, melainkan gangguan begal dan kecelakaan yang sangat mungkin terjadi di kawasan ini. Bagaimana tidak? Jalanan ramai aja begal berani nyerang orang, apalagi di jalanan sesepi itu. Kemudian kontur jalanan yang menanjak, menurun, dan berkelok serta kondisi penerangan yang minim bukan nggak mungkin mengakibatkan kendaraan tergelincir kedalam jurang. Naudzubillahimindzalik. Di tengah perjalanan aku sempat melihat beberapa orang pria yang salah satunya memegang senjata. Rasanya tegang banget. Sepanjang jalan, aku terus komat-kamit memohon perlindungan pada Tuhan. Mas Darman sering-sering membunyikan klaksonnya, khususnya di daerah sepi dan gelap. Entah memberi isyarat pada A Put yang mengemudikan motornya dengan cepat di depan kami, atau entah karena maksud lain.

Lepas waktu Magrib, kami tiba di kawasan tempat wisata yang kami tuju. Hanya aja kami sempat kaget melihat pagarnya tertutup dengan plang besar bertuliskan TUTUP. Di pos penjagaannya pun nggak ada orang sama sekali. Bu Yati dan A Put mencoba turun dan mengecek pagar tersebut, dan ternyata nggak dikunci. Mungkin penjaganya udah tau kalo masih ada pengunjung yang mau masuk. Akhirnya kami pun masuk, daaaaan akhirnya tibalah kami di penginapan.





Kami disambut oleh teman-teman yang udah lebih dulu tiba disana. Disana terdapat beberapa cottage. Awalnya kedua supervisor tim berencana menyewa dua cottage dimana peserta laki-laki dan peserta perempuan menginap di cottage terpisah. Namun ternyata jumlah peserta acara itu jauh lebih sedikit dari yang diperkirakan, hanya dua belas orang laki-laki dan sebelas orang perempuan. Akhirnya mereka memutuskan bahwa kami semua menginap dalam satu cottage, namun tentu aja kami tidur di tempat terpisah. Sisi kiri cottage untuk para laki-laki, sisi kanan untuk para perempuan. Di dalam cottage itu udah disediakan sebuah kasur lipat dan dua buah bantal. Di situ juga terdapat satu wastafel, dan satu kamar mandi dengan closet duduk. Karena beberapa orang kepingin tidur di atas kasur, maka kami meminjam satu kasur lagi. Anyway, penginapan kami benar-benar sepi. Selain pengelola penginapan, hanya ada rombongan kami yang menginap. Satu cottage di sebelah kanan cottage kami kosong, cottage di sebelahnya dihuni pengelola penginapan, dan cottage-cottage lainnya yang terletak di belakang kosong. Mungkin karena bukan weekend kali ya, coz dari yang aku baca di internet, tempat wisata yang kami kunjungi itu nggak termasuk sebagai tempat wisata yang sepi pengunjung.

Setelah menaruh tas, aku duduk-duduk di kasur dan berbaur dengan beberapa orang rekan. Aku juga sempat menukar SIM Card-ku dengan provider yang dikenal kuat sinyal, karena provider yang biasa kugunakan kurang bagus digunakan di wilayah itu. Ketika itu, tiba-tiba Bu Suwarni menghampiriku.
"Mbak Putri lihat deh.." katanya sambil duduk dan menyodorkan hapenya padaku. Aku pun memusatkan perhatianku padanya.
"Tadi kan aku ngajak Badar main ludo, eh dia malah selfie pake hape aku, dan kayak gini hasilnya.."
Kemudian beliau membuka file gallery dan menunjukkan dua buah foto. Foto selfie Mas Badar.

Nggak ada yang aneh dari foto pertama yang ditunjukkan oleh Bu Suwarni. Hanya sosok Mas Badar yang tengah tersenyum di depan kamera. Namun di foto kedua, tampaklah sesosok bayangan berwarna merah darah yang terletak tepat di atas kepala Mas Badar.





Foto itu diambil di tempat yang sama, dan waktu yang sama (yah mungkin hanya berbeda beberapa detik aja). Sekilas sosok itu nampak seperti sehelai kerudung, tapi kami yakin dalam rombongan kami malam itu nggak ada yang pakai kerudung warna merah. Waktu itu aku pikir, deeeeeyymm.. belum juga tiga jam nge-camp, udah ada yang aneh aja. Saat itu lepas waktu Isya, Mas Badar dkk lagi duduk-duduk di atas tikar dekat api unggun. Aku sempat bikin status WhatsApp tentang hal ini, dan status itu dikomentari Yuda. Kutunjukkan foto itu padanya, dan dia bilang katanya sih itu sosok perempuan, kemungkinan naksir Mas Badar, dan nggak akan mengganggu kalo kita nggak ganggu. Yuda memperingatkanku untuk jaga sikap, jaga ucapan, jaga kebersihan, jangan menantang, dan jangan pula takut. Well, aku nggak takut. Aku bahkan biasa-biasa aja duduk-duduk di area dimana penampakan itu muncul, liatin beberapa orang temanku yang bakar-bakar bakso dan ubi. Asapnya mengepul tebal, membuat perih mata. Beberapa orang asyik bermain bola, beberapa lagi asyik mengabadikan momen dengan foto dan video. Udara sangat dingin malam itu, bahkan jaketku nggak mampu melawan dinginnya.






Sekitar jam setengah sepuluh, aku asyik mengamati bulan sabit dan bintang-bintang dari teras cottage kami. Bu Yati benar-benar memilih cottage yang tepat. Pemandangan di depan cottage kami cukup memanjakan mata. Bulan dan bintang terlihat jelas di langit, berkolaborasi dengan pemandangan taman dengan bebatuan dan jalan setapak. Di bawahnya lagi, nun jauh disana terlihat ribuan kerlip lampu kota, membuat kita seakan-akan berada di bukit seribu bintang. Ah, kalo senja atau pas sunrise gitu pasti viewnya nggak kalah bagus deh. Tiba-tiba Inggit dan Mbak Novi menggandengku, mengajakku bergabung bersama mereka. Aku, Inggit, Mbak Novi, Mbak Mel, Kariah, dan Alvi bernyanyi-nyanyi di tangga cottage, diiringi alunan gitar yang dimainkan Zovy. Kemudian Bu Yati menyalakan kembang api, membuat perhatian kami teralih. Aku dan para cewek yang tadi bernyanyi-nyanyi beranjak dari tempat kami, meninggalkan Zovy dan gitarnya. Seperti anak kecil, nonton kembang api aja bahagia. Hahaha..










Sekitar jam sepuluh, keadaan di luar mulai sepi. Sebagian besar teman-temanku masuk ke dalam cottage. Aku kembali melanjutkan aktifitasku, duduk di salah satu anak tangga sambil mengamati bulan dan bintang. Di atas tikar dekat api unggun, Pak Agus berbaring ditemani Ryan yang bermain gitar. Sayup-sayup aku dengar dia bawain lagu Heartache-nya One Ok Rock.

"Putri, jangan ngelamun aja, sini gabung!", seru Bu Elin, supervisor Tim Kedawung, dari dalam cottage.
"Iya, Bu", sahutku sambil beranjak dari situ. Aku kembali bergabung bersama mereka, ngobrol-ngobrol, sambil sesekali berkirim pesan WhatsApp dengan Yuda dan Pak Ben di Cirebon.
"Hati-hati, rumah yang kalian tempati saya lihat ditinggali sama pocong. Jangan ngelamun ya.." Pak Ben berpesan via WhatsApp. "Makhluk astralnya banyak dan galak-galak. Jangan ngomong sompral dan banyak tingkah".
Okay.. Dua orang memperingatkanku tentang hal yang sama.

Sekitar jam setengah sebelas, keadaan kembali ramai. Ada yang beraktifitas di luar cottage, ada juga yang memutar musik dengan mini compo. Aku masih asyik berchatting ria ketika Mbak Mel yang semula asyik berduaan dengan suaminya di teras tiba-tiba berjalan cepat ke arahku.
"Ih serem deh, Mbak", katanya padaku sambil bergidik.
"Serem kenapa, Mbak?" tanyaku penasaran.
"Tadi aku lihat pocong di dekat vila nomor satu".
Aku tertegun. Cottage nomor satu berada di sebelah kiri cottage kami, dipisahkan dengan cottage nomor dua. Aku jadi ingat kata-kata Pak Ben. Ternyata beliau benar.

"Aduh, mual banget", ucap Bu Titin yang duduk di atas kasur di sebelahku.
"Kenapa, Bu, sakit?"
"Enggak, tadi Mamih (panggilan beliau) habis minum wedang uwuh (air seduhan berbagai rempah seperti sereh, cengkeh, jahe dll). Biasanya pakai teh dan gula, ini enggak. Setelah minum, nggak tau kenapa jadi mual", jelasnya.
"Mau pakai minyak angin?"
"Udah ada kok".

Semakin malam, suasana semakin nggak karuan. Teman-temanku nampaknya nggak peduli dengan jam istirahat dan rumor tentang malam Jum'at. Musik berdentum semakin keras, beberapa orang asyik berdugem ria. Aku sendiri tidur-tiduran di samping Inggit, sama sekali nggak berminat gabung sama mereka, malah risih aja gitu lihatnya. Cewek cowok berbaur, bahkan ada segelintir cewek yang tanpa malu bergelayut dan peluk pelukan dengan cowok yang bahkan nggak ada status relationship dengan mereka (beberapa orang bahkan udah beristri). What a shame!

Tiba-tiba Zovy yang tengah memijat-mijat bahu Bu Titin memanggil-manggil, "Mamih.. Mamih.. Sadar, Mam".
Diguncang-guncangnya bahu beliau. Bu Titin meresponnya dengan gumaman nggak jelas. Aku dan Bu Elin yang semula berbaring, lantas bangkit dari posisi kami. Sementara Mbak Mel yang semula duduk di samping suaminya pindah ke belakangku.
"Hey, Yaasin, tolong.. Baca Yaasin!"
Sontak keadaan ruangan yang semula hingar bingar menjadi sepi. Musik dimatikan, suara tawa meredup, pintu ditutup. Seisi ruangan langsung mengambil air wudhu dan sibuk dengan bacaan-bacaan ayat Al-Qur'an. Bu Titin masih menggumam-gumam nggak jelas. Zovy berkomat-kamit di telinga Bu Titin, dibantu Mas Didin, kayak diruqyah gitu. Tiba-tiba Bu Titin menunjuk-nunjuk semua orang sambil melotot, "Hey, tolong jangan ada yang video-video ya! Hapus, hapus semuanya! Foto, video, hapus!"
Kami masih terus sibuk dengan bacaan kami, sementara Bu Titin terus memerintahkan hal yang sama.
"Video dan foto tolong dihapus ya," ulang Bu Elin.
"Badar, hapus fotonya, Dar", ucap Mas Makhrus. Maksudnya foto penampakan yang tadi sore itu.
"Ah, ada di hape Bude (panggilan Bu Suwarni)," Mas Badar berujar.
Bu Suwarni lantas mengambil hapenya. Namun karena nggak ngerti (Bu Suwarni ini nggak tau kenapa gaptek sama hapenya sendiri. Wkwk..) beliau menyerahkan hape itu pada Bu Elin. Dengan gemetar, Bu Elin berusaha mencari file galeri di hape Bu Suwarni.
"Hapus!" gertak Bu Titin lagi.
"Eh, iya dihapus", Bu Elin kaget, spontan melemparkan hape Bu Suwarni padaku. Lah.. 😂

Akhirnya kuhapus foto penampakan di foto selfie Mas Badar itu, berikut yang ada di hapeku (karena aku sempat meminta foto itu untuk dikirimkan ke Yuda). Setelah diyakinkan bahwa semua file foto dan video sudah dihapus, Bu Titin pun tenang. Setelah agak tenang, Bu Titin bercerita bahwa salah satu 'penunggu' kawasan itu sedari tadi duduk di pojok ruangan, nggak jauh dari tempat Bu Titin duduk. Ah, pantesan aja pandangan mataku seringkali tertuju pada pojokan itu, ternyata memang ada sesuatu. Beliau juga memperingatkan kami untuk menjaga sikap dan menyiram toilet sampai benar-benar bersih setiap kali buang air. Ah, Pak Ben dan Yuda, lagi-lagi kalian benar.

Setelah insiden itu, Mbak Mel bercerita bahwa dirinya pun sempat dikejar dua makhluk astral saat di perjalanan menuju ke lokasi camp. Pak Agus yang memberitahunya (karena Mbak Mel dan Zovy ikut mobil beliau). Mungkin karena kondisi Mbak Mel yang tengah hamil, jadi makhluk-makhluk itu senang, entahlah. Menurut penuturannya makhluk-makhluk itu baru hilang setelah Zovy menggebrak kaca mobil dan mengusir mereka.

Sekitar jam setengah satu, aku memutuskan untuk tidur, namun tidurku sama sekali nggak nyenyak. Meski udara sejuk dan nggak ada nyamuk, tapi rasanya posisi tidurku nggak nyaman aja gitu. Mungkin karena tidurku nggak pakai kasur kali ya, entahlah. Aku terbangun sekitar jam setengah tiga ketika Kariah pindah ke sebelahku dan memintaku untuk berbagi selimut. Tapi si Kariah ini nggak bisa diem banget. Bentar-bentar grasak grusuk. Dia mengaku mendengar suara orang menyapu, begitu juga dengan Mbak Novi. Tapi aku sendiri nggak dengar suara aneh apapun selain suara cowok ngorok yang entah siapa.

Aku bangun sekitar jam lima pagi, dan langsung mendengar suara gaduh. Beberapa orang meneriaki seseorang di kamar mandi.
"Cepetan dong, ngantri nih!" seru mereka. Namun Mas Darman, orang yang diteriakin itu nggak kunjung keluar. Rupanya Mas Darman terkunci disana. Entah pintunya yang macet, atau dia yang nggak ngerti cara membuka kuncinya. Untungnya dinding kamar mandi itu nggak menempel sampai langit-langit, sehingga Mas Darman bisa keluar dari sana dengan memanjat dinding kamar mandi.

Karena kamar mandi nggak bisa dibuka, kami pun terpaksa menggunakan kamar mandi mushola yang terletak beberapa puluh meter dari cottage kami. Aku ke mushola bersama Inggit dan Ryan. Kami bertiga nggak mandi, hanya menyikat gigi dan mencuci muka. Mwehehe.. Airnya dingin banget gitu looh.. Dan karena lagi haid, aku juga nggak sholat.

Setelah bersih-bersih dan berdandan rapi, Bu Titin mengajakku jalan-jalan ke area taman. Mendengar kami ingin jalan-jalan, Bu Elin pun ikut. Namun karena nggak tau jalan menuju kesana, kami pun mengajak Kariah yang udah pernah kesana sebelumnya. Kami berbocengan naik motor. Bu Titin memboncengku, Bu Elin membonceng Kariah. Sepanjang perjalanan, Bu Titin bercerita padaku tentang insiden semalam, juga tentang ketidaksukaannya pada sikap beberapa orang rekan kami yang dianggapnya kurang pantas.
"Mamih nggak suka lihat si *sensor*. Ya ampun, perempuan kok gitu amat, lendot sana, lendot sini sama laki-laki. Ya yang namanya laki-laki mah senang aja digituin, udah kayak kucing dikasih daging", tuturnya.

Beberapa menit lamanya kami menelusuri jalan, rupanya Kariah malah mengajak kami berputar-putar, sehingga kami nggak kunjung sampai ke area taman. Dia lupa jalan menuju kesana.
"Dasar nggak berbakat jadi Tour Guide! Kalo beneran kerja jadi Tour Guide, baru hari pertama kamu pasti langsung dipecat!" rutuk kami padanya. Yang dikata-katain malah ketawa-ketawa aja. Akhirnya kami bertanya pada pengelola penginapan, dan alhamdulillah sampai. Suasana taman pun masih sangat sepi. Rasanya jadi seperti punya taman pribadi. Kami pun bebas berfoto ria disana. Nggak hanya kami berempat, rekan-rekan kami yang lain pun menyusul berjalan-jalan di area taman.









Puas berjalan-jalan dan berfoto-foto di taman, kami pun kembali ke cottage. Disana Bu Yati udah menunggu dan langsung menawariku sarapan. Aku duduk di sebelah beliau, di teras cottage. Aroma gurih dari nasi liwet (nasi yang dikukus dengan daun salam, sereh dan cabai) menguar, mengundang selera makan. Beliau menyendokkan satu centong nasi ke piring dan menyerahkannya padaku.
“Makasih, Bu”, ucapku. Nasi liwet enak dimakan walau tanpa lauk. Pagi itu aku memilih tahu goreng sebagai teman makanku. Sementara yang lain memilih ayam goreng dan sambal geprek.

Setelah kenyang, kami pun bersiap-siap untuk berlomba. Ada lomba Sepak Bola Pakai Botol, lomba Pindah Karet, dan lomba Menuangkan Air ke Botol. Awalnya aku nggak mau ikut, tapi karena pesertanya sedikit, semuanya wajib ikut lomba. Lomba Sepak Bola Pakai Botol hanya diikuti oleh laki-laki, kecuali Bu Yati karena peserta laki-lakinya kurang. Aturannya adalah, semua peserta mengikat botol berisi air di pinggangnya, dan botol itulah yang nantinya dipakai untuk ‘menyepak’ bola. Tentunya peserta dilarang menggunakan tangan dan kaki di tengah pertandingan. Perlombaan berlangsung kocak. Ada yang saling dorong dan saling tarik, ada yang talinya kepanjangan, ada pula yang botolnya kesangkut tali peserta lain. Mas Darman salah mengikat tali sehingga diomelin sama Bu Yati. Wkwkwk..
“Ryan ayo, Yan, menangin hadiahnya! Kumpulin buat lamaran! Dapet kolor juga lumayan,” teriak Inggit pada Ryan.
“Sayang, ayo, Sayang! P*ps*d*nt dan sabun di rumah udah habis. Kamu harus menang!” Mbak Mel nggak mau kalah neriakin Zovy. Aku dan yang lain ketawa-ketawa aja. Koplak kabeh.









Aku sendiri ikut lomba pindah karet dan lomba tuang air ke botol. Aku kalah di lomba pindah karet, tapi menang di lomba tuang air ke botol. Mwehehe.. Awalnya sempat terancam kalah sih, karena meski paling cepat, tapi aku sempat salah menuangkan air. Bukannya menuangkan air ke botolku, aku malah menuangkan air ke botol Inggit yang kebetulan ada di sebelah botolku. Tapi kemudian perlombaan diulang dengan mengadu empat peserta terbaik, termasuk aku. Daaaan.. alhamdulillah aku menang, seri dengan Alvi karena isi botol kami sama banyak. Sementara Ryan dan Mas Didin mencak-mencak, protes karena mereka merasa paling cepat mengisi botol. Sayangnya mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka kalah karena meski cepat, tapi isi botol mereka paling sedikit. Wkwkwk.. Bu Yati mengacungkan dua hadiah. Alvi dipersilahkan untuk memilih lebih dulu. Ia memilih hadiah dompet, sedangkan aku mendapat hadiah kaos (yang awalnya kukira kebesaran jika kupakai, tapi ketika kubuka pembungkusnya rupanya sangat pas di badanku). Alhamdulillah.

Menjelang jam sebelas, kami pun bersiap pulang. Awalnya aku diajak pulang bareng Mbak Novi, naik motor. Tapi Bu Yati menyarankanku pulang bersama Mas Makhrus. Beliau memintaku untuk mampir dulu ke outletnya. Akhirnya dengan menumpang mobil pengiriman, aku pun kembali ke Cirebon bersama Mas Makhrus dan Mas Imam. Perjalanan naik mobil nggak seseram perjalanan naik motor semalam. Yah mungkin selain karena kami menempuh perjalanan siang, mungkin juga karena Mas Makhrus mengambil rute yang berbeda. Entahlah.

Sekitar jam setengah dua belas, mobil kami tiba di Outlet Sumber. Disana udah ada Kariah, Bu Yati, A Putra, Darman, Mas Badar, Bu Suwarni, dan Pak Gusti. Aku ngobrol-ngobrol di ruang depan bersama Kariah. Kami mengobrol banyak tentang hal-hal berkesan selama di Kuningan, maupun selama di perjalanan menuju kesana. Kariah mengaku menangis saat insiden Bu Titin marah-marah. “Bu Titin nunjuk-nunjuk aku, Mbak, sambil mandang aku dengan tatapannya yang kelihatan beda. Saking takutnya, air mataku sampai netes sendiri. Aku juga nggak berani nyimpan foto dan video selama disana. Semuanya aku hapusin, kecuali foto-foto kita di taman”, jelasnya.

Aku juga sempat bergabung bersama Bu Yati dan yang lainnya di ruang belakang. Di situ kami ngobrol lebih banyak. Bu Yati mengaku bahwa awalnya beliau sempat memilih cottage nomor satu untuk tempat kami menginap, tapi di hari berikutnya, beliau berubah pikiran dan memilih cottage nomor tiga.
“Di hari survey kedua, saya merasa kurang sreg sama rumah itu. Feeling saya nggak enak, makanya saya berubah pikiran,” tuturnya. Aku jadi keingat lagi kata-kata Mbak Mel tentang sosok pocong di dekat cottage nomor satu. Syukurlah, kami nggak jadi menginap disitu. Mas Badar terus mencemaskan nasibnya. Ia takut diikuti oleh sosok astral yang muncul di foto selfienya itu.
“Kira-kira dia ngikutin saya nggak ya, Mbak?” tanyanya padaku.
“Jangan takut, Dar,” ucap Bu Yati.
“Iya, jangan takut, Mas. Kalo kita takut, itu malah ngasih energi ke mereka dan bikin mereka makin kuat,” kataku.

Mas Badar mengaku sempat merasa sakit di area punggung dan bahunya. Ia meminta A Put untuk mengantarnya untuk diruqyah. Kemudian tentang laki-laki pembawa senjata yang aku lihat di tengah perjalanan kami itu, rupanya A Put juga lihat.
“Dia bawa senapan,” katanya. Ih, nggak kebayang deh kalo itu begal beneran. Tapi alhamdulillah kami selamat sampai tujuan. Husnudzon aja kalo mereka cuma pemburu hewan.
“Putri nggak nolak kan kalo sewaktu-waktu kita ajak kesana lagi?” tanya Bu Yati.
“Sama sekali enggak, Bu. Saya suka tempatnya,” jawabku. Sekitar jam setengah tiga, aku baru pulang ke rumah.

Dan hari iniiiii.. cerita masih berlanjut. Baru tiba di kantor, Mbak Novi langsung menyambutku dengan cerita mistis.
“Tau nggak sih, Mbak, kemarin aku diikutin kuntilanak,” katanya.
“Masa? Seriusan, Mbak?”
“Iya. Ada videonya. Nanti aku kirimkan ke WhatsApp Mbak Put ya.”

Singkat cerita, beberapa video dan foto dikirimkan oleh Mbak Novi via WhatsApp. Memang ada beberapa ‘sosok’ putih terlihat di beberapa foto. Di dua foto memang tampak janggal. Mungkin benar itu penampakan. Mungkin. Tapi yang lainnya menurutku hanya dilebih-lebihkan aja oleh rekan-rekanku. Dibilang penampakan, padahal tumbuhan. Yang paling lucu adalah yang di video. Sekilas memang tampak seperti ada penampakan di belakang Ryan dan Novi yang saat itu tengah berdiri di dekat pembakaran, tapi jika diamati, ternyata itu hanya sebuah parit dan bayangan Ryan sendiri. Tapi Mbak Novi geger dengan menyebut itu suster ngesot. Duuuhhh..





Tumbuhan yang dikira penampakan makhluk astral

Suster ngesot? Wkwkwk..

Aku dan Ryan sempat berdiskusi sedikit soal video itu, dan dia pun rupanya sependapat denganku. Kami ketawa-ketawa aja menanggapi rekan-rekan kami yang menurut kami terlalu berlebihan.
“Saya malah sempat kepikiran pura-pura kesurupan, biar pada geger. Tapi saya takut dimarahi Bu Elin,” katanya.
“Nah, kalo ntar malah kesurupan beneran gimana?” kataku.
“Niatnya pura-pura kesurupan, tapi malah kebablasan,” Mas Febri ikut menimpali.
Yah, Ryan memang salah satu orang yang paling tenang menghadapi hal-hal semacam ini. Waktu insiden Bu Titin marah-marah di camp itu, yang lain tegang, dia malah bisa tidur nyenyak. Paginya, dia meniru-niru dialog orang kesurupan yang biasanya tayang di tivi-tivi itu.
“Saha manehh? Aing maung, aing maung. Grr..” 😑

Well, sebagian rekan-rekanku mungkin kapok untuk menghabiskan waktu di tempat itu lagi, tapi aku sendiri sama sekali enggak. Tempatnya nyaman kok, viewnya bagus, dan udaranya sejuk, sangat bisa untuk menghilangkan penat, apalagi untuk kita yang jenuh menghadapi hingar bingar kota. Kalo soal insiden-insiden nggak menyenangkan, apalagi untuk segala yang berhubungan dengan makhluk astral sih tergantung masing-masing kitanya. You know, Guys, yang namanya bangsa jin itu ada dimana-mana, di semua tempat, di belahan bumi bagian manapun. Seperti kata Yuda dalam pesan WhatsApp-nya padaku, “Meninggalkan rumah untuk berkemah bukan berarti menghilangkan adab kita sebagai manusia, karena alam bukan hanya milik manusia, tapi juga milik hewan, tumbuhan, dan makhluk-makhluk lainnya”. Intinya sih kita harus jaga sikap dimanapun kita berada. Karena sama seperti kita, makhluk-makhluk itu pun juga nggak mau keberadaannya terusik, apalagi kalo sampai lingkungannya dicemari dan dirusak. Corat-coret sana sini, berisik, buang sampah dan kencing sembarangan.. Coba kalo kita yang jadi mereka, kita pasti marah dan nggak senang kan kalo ada pendatang yang berperilaku seperti itu di lingkungan kita? Ya begitulah kira-kira. Bukannya kita harus takut ya. Kita justru nggak boleh takut, apalagi kalo sampai tunduk, karena biar bagaimanapun, derajat kita lebih tinggi dibanding mereka. Tapi seenggaknya hormatilah keberadaan mereka. Percaya deh, kalo kita jaga sikap, mereka juga nggak akan ganggu. Yah, kalo sekedar nampak-nampak doang sih, mereka cuma sekedar menunjukkan keberadaan mereka aja. Sekali lagi, kita nggak perlu takut.

Haaahh.. intinya aku sama sekali nggak menyesal ikut Tim Kedawung dan Tim Sumber liburan disana. Pengalaman yang aku dapat cukup berkesan. Pergi kesana lagi? Why not? :)


posted from Bloggeroid

Total Tayangan Halaman

 
;