Kamis, 23 Januari 2020 0 komentar
There is not a single word, in the whole world
That could describe the hurt the dullest knife just sawing and back and forth
And ripping through the softest skin there ever was

How were you to know?
Well, how were you to know?

And I, I hate to see your heart break
I hate to see your eyes get darker as they close
But I've been there before
And I, I hate to see your heart break
I hate to see your eyes get darker as they close
But I've been there before

Love, happens all the time, to people who aren't kind
And heroes who are blind,
Expecting perfect script in movie scenes
Once an awkward silence mystery

How were you to know?
Well how were you to know, oh, oh?

And I, I hate to see your heart break
I hate to see your eyes, get darker as they close
But I've been there before
And I, I hate to see your heart break
I hate to see your eyes, get darker as they close
But I've been there before

For all the air that's in your lungs
For all the joy that is to come
For all the things that you're alive to feel
Just let the pain remind you hearts can heal

Well, how were you to know?
Well, how were you to know?

(Paramore - Hate To See Your Heart Break)


Source : @febrmdhn on Instagram


Mana yang kamu pilih, berbohong untuk mendapatkan permen, atau jujur namun harus menelan pil pahit?

Hari ini aku memilih pilihan kedua, dan akibatnya aku harus menerima pahitnya kenyataan yang harus kutelan, ketika kejujuran yang kuungkapkan bukanlah sesuatu yang ingin ia dengar.

"Maaf," kataku.
"Sudah ya, cukup. Terima kasih", balasnya, "Saya nggak akan ganggu kamu lagi".
Aku terhenyak. Bukan ini akhir yang kuinginkan. Bukankah baru beberapa saat lalu kami melepas rindu, saling berbincang, dan semuanya berjalan baik-baik saja?

Can I have my last 6 hours, please? Aku ingin pinjam bahunya untuk pertama, atau mungkin terakhir kali, aku nggak tahu kedepannya bagaimana. Untuk apa? Entahlah. Selama ini aku nggak pernah mampu menangis di depannya. Tapi seenggaknya, aku ingin bersandar walau sebentar. Sedih, karena begitu banyak hal menyangkut dirinya yang aku rasakan dan sulit kupahami, apalagi dijelaskan. Aku saja nggak paham, apalagi dia. Yang kulakukan justru menyakitinya, padahal sungguh aku nggak bermaksud begitu.

Aku pernah tersakiti karena kecewa, hari ini aku yang menyakiti seseorang. Hal ini membuatku sadar, there's no better feeling between being hurt or hurting. Keduanya sama-sama menyakitkan. Dan menyakitinya berarti menyakiti diriku sendiri. I always hate to see his heart break, but ironically I'm the one who breaks it. I'm not fine with that, of course. Sesakit ini rasanya.

Maaf..

:'(
Senin, 20 Januari 2020 0 komentar

Minggu Seru di JFans Ciayumajaku

Aahh.. Aku excited banget mau nulis ini. Yesterday was soooo fun!

Setelah perform bersama Ophelia di event Juunigatsu Festival Tahun Ke-4 pada bulan Desember lalu, kami kembali perform di acara JFans Ciayumajaku 2020. Sama seperti Juunigatsu Festival, event JFans Ciayumajaku ini juga merupakan festival seni dan kebudayaan Jepang yang diselenggarakan rutin setiap tahunnya.



Untuk event ini, aku menyiapkan sebuah seifuku dress dan topeng neko (atau kitsune yah? habisnya agak mirip sama topeng dalam video klip Megitsune-nya Babymetal, hanya aja punyaku half-face). Niatnya aku mau mengenakan seifuku dress dengan topeng itu yang menutupi wajahku, kayak Nano pas jaman masih jadi mysterious singer gitu. Toh sah-sah aja kok, namanya juga performer. Meski sebenarnya itu akal-akalanku untuk meredam rasa malu saat tampil, karena kukira akan lebih baik kalo wajahku tersembunyi. Wkwkwk..

Tapi kemudian aku berubah pikiran. Aku nggak jadi pakai seifuku dress, dan topeng itu aku pakai di samping kepalaku.

Dari rundown acaranya, Ophelia dijadwalkan perform sekitar jam dua. Tapi Jack bilang acaranya ngaret. Checksound yang dijadwalkan jam delapan pagi aja baru terlaksana sekitar jam sebelas siang. Tapi aku kurang teliti membaca informasi yang temanku share di grup. Kukira Jack bilang 'performnya jam setengah tiga', jadi aku prepare dari jam setengah dua belas siang, dan beres sekitar jam setengah dua. Jam dua siang aku bersiap berangkat, namun aku cek lagi informasi yang Jack sampaikan di grup, ternyata yang dia sampaikan adalah 'performnya nggak jam setengah tiga', dan masih ada lanjutannya lagi setelah itu, hanya aja aku nggak baca. Haissh..

Akhirnya aku yang udah rapi pun memutuskan buat tidur sebentar, tapi sambil duduk gitu, nggak tiduran. Biar nanti aku baru berangkat kalo udah ada yang ngabarin OTW, begitu niatku.

Jam tiga kurang dua belas menit, aku dibangunkan dengan suara denting bel yang menandakan ada pesan WhatsApp masuk ke hapeku. Rupanya pesan dari salah satu masku yang paling baik.
Guess who?
Mas Adhe.
Guess what?
Dia nanya, kok bandku belum mulai perform.

Rasa kantukku seketika menguap. Astaga. Memangnya dia datang ke acara?? Well, sebelumnya dia memang bilang sih kalo dia mau datang untuk lihat aku perform, tapi aku nggak anggap serius karena tau banget dia orangnya kayak gimana. Tapi mengetahui dia beneran datang, aku jadi surprised 😂
Kubilang kalo acaranya ngaret, tapi aku nggak bilang kalo aku masih di rumah. Wkwkwk.. Kemudian dia balas, "Ah, udah dateng juga!"
Aku pun langsung melesat keluar kamar dan pamit pada ibu dengan terburu-buru. Kasihan juga dia, udah bela-belain datang, akunya masih di rumah. Wkwkwk..

Sesampainya di lokasi, aku berjalan sambil celingukan mencari Si Jangkung itu. Dia bilangnya nunggu di belakang replika bus London, but I didn't find him.
"Kamu ngapain muter-muter?" tanya sebuah suara di belakangku. Aku pun berbalik dan menemukan orang yang kucari. Dia nggak sendiri, melainkan bareng Mas Anzar. Spontan aku langsung nyengir lebar, excited banget ketemu mereka lagi.
"Teman-teman kamu mana?" tanyanya.
"Nggak tau. Belum datang deh kayaknya," jawabku sambil celingukan.
"Dih, aneh", ucapnya sambil ketawa meledek. "Kalo nggak dateng, ntar saya sama Anzar nih yang gantiin".

Sambil menunggu teman-temanku, aku, Mas Adhe, dan Mas Anzar pun turun untuk membeli minum. Ketika sedang membayar di kasir, Inggit meneleponku, menanyakan keberadaanku. Kubilang kalo aku lagi beli minum sebentar.
"Udah waktunya perform, Teh. Ini udah dipanggil," ucapnya dengan nada panik. Astagaa.. Kukira belum pada datang, kukira performnya masih lamaa..
"Mas, udah mau perform nih," kataku sambil berjalan tergesa-gesa. Kami pun kembali ke atas, hanya aja aku berjalan lebih dulu, meninggalkan mereka. Jahat banget ya. Huhu..

Kutelepon Inggit, "Dimana?"
"Inggit di depan panggung, Teh. Tunggu aja di backstage. Ini jadinya Clover dulu yang main", jawabnya. Yup, karena aku datang terlambat, alhasil Ophelia yang seharusnya perform pertama jadi tukeran jadwal sama Clover. Aku pun menghembuskan napas lega. Yah, seenggaknya aku jadi punya waktu buat menarik napas dan menenangkan diri dulu pasca panik dan berjalan cepat dari bawah ke atas tadi. Kukirimkan permintaan maafku pada Mas Adhe via WhatsApp. However aku merasa nggak enak sama Mas Adhe dan Mas Anzar. Rasanya nggak sopan banget meninggalkan mereka yang udah bela-belain meluangkan waktunya untuk datang. Huhu.. Maaf ya, Mas..

Anyway, aku belum bilang ya kalo Ryan dan Jack bermain untuk dua band. Selain bermain untuk Ophelia, mereka juga bermain untuk Clover. Sebagai band pertama yang perform saat itu, harusnya Clover bisa perform dengan sangat baik mengingat pembawaan Anton, sang vokalis yang cukup powerful, ditambah lagu yang mereka bawakan semuanya bikin atmosfer jadi panas, salah satunya adalah lagu Kyouran Hey Kids milik The Oral Cigarettes. Hanya aja sayangnya, entah kenapa suara drumnya (saat itu mereka menggunakan drumpad alias drum elektrik) mati nyala gitu. Kemungkinan sih karena kabelnya bermasalah. Akibat hal ini, performance mereka dalam membawakan tiga dari empat lagu menjadi kurang maksimal. Bahkan ada satu momen ketika penonton berkurang sedikit demi sedikit. Gemas banget lihatnya. Padahal kalo udah check-sound sebelumnya, harusnya hal seperti ini nggak terjadi.
"Bilang ke soundman-nya, suara drumnya benerin dulu nanti pas band kamu main," kata Mas Adhe via WhatsApp. Sebagai seorang drummer, dia geregetan sendiri menyaksikan insiden itu. Mungkin kalo dia yang main, dia udah ngamuk-ngamuk sama soundman dan panitia. Wkwk..
Masalah sound baru terselesaikan ketika mereka memutuskan untuk mengganti kabel, dan performance terakhir Clover pun terselamatkan.

Singkat cerita, tibalah waktunya Ophelia untuk on stage. Ketika itulah jantungku mulai berdebar-debar. Kebiasaan banget. Apalagi ketika MC mulai mengajakku berbicara dan memintaku untuk memperkenalkan diri. Melihat ratusan pengunjung di depanku, ditambah Mas Adhe yang cengar-cengir di belakang sana membuatku jadi gugup. Entah ledekan apa lagi nanti yang meluncur dari mulutnya.

Lagu pertama yang kami bawakan adalah salah satu original soundtrack Digimon yang berjudul Butterfly. Sayangnya suara yang dihasilkan dari mikrofonku kurang terdengar. Namun hal itu nggak membuat semangat audience mengendur. Mereka dengan semangat terus ikut bernyanyi dan jejingkrakan mengikuti alunan musik. Huhu.. Jadi terharu, dan itu cukup memberi energi tersendiri buatku. Rasa gugupku berangsur-angsur berkurang, aku pun jadi lebih fokus pada musik dan audience. Di tengah penampilan kami, sekilas aku melihat Yuda di sisi stage sebelah kananku. Aku sempat melempar senyum sebagai sapaan. Tapi kayaknya dia nggak lama sih disitu, karena beberapa waktu kemudian dia nggak lagi nampak.




Selanjutnya, kami membawakan lagu Silhouette milik Kana-boon. Lagu yang menjadi salah satu soundtrack Naruto ini sukses membuat audience semakin menggila. Area depan stage menjadi arena moshpit dimana para audience berjingkrak-jingkrak, saling membenturkan badan dengan audience lainnya, dan berputar-putar. Namun semua aman terkendali kok. Semuanya asik menikmati musik dengan baik.




Di penampilan ketiga, kami membawakan lagu Angels Trip milik VAMPS. Namun lagu ini nampaknya kurang populer, sehingga kerumunannya nggak sebanyak di lagu-lagu sebelumnya. Tapi alhamdulillah, masih ada beberapa orang yang tetap asik menikmati lagu yang kami bawakan dengan nge-dance nge-dance gitu di depan stage. Uwu banget 😂




Daaaan akhirnya tibalah kami di penampilan terakhir, kami membawakan lagu Ceria milik J-Rocks. Ketika itu, para audience yang semula mundur mulai maju lagi ke arena moshpit dan kembali melakukan 'kerusuhan'. Wkwkwk..




Selesai perform, aku menghampiri Mas Anzar dan Mas Adhe yang masih cengar-cengir. Well, aku udah siap diledek, dihina, dikomentarin.. apapun itu lah 😂 Tapi ternyata..
"Cieee sukses nih yee.." kata mereka. Mas Anzar menyalamiku, memberi selamat.
"Alhamdulillah", ucapku sambil tersenyum lebar, bersyukur performanceku nggak malu-maluin disaksikan mas-mas yang udah lebih senior dalam dunia permusikan ini. Bersyukur juga mereka nggak berkomentar yang aneh-aneh kecuali soal insiden suara drum yang mati nyala dan vokalku yang kurang terdengar di lagu pertama.
"Udah kan performnya? Mau main ke rumah Ipank?" tanya Mas Adhe. Yah, tadinya Mas Ipank dan Teh Indri juga memang berencana datang untuk menonton performanceku. Namun sayangnya Mas Ipank kerja dan baru pulang sekitar jam lima sore.
"Hmm.. Boleh deh," jawabku.
"Ya udah, ayo".
" Eeh saya pamit sama teman-teman dulu. Kalian duluan aja".

Akhirnya mereka berdua pun pamit, sementara aku menghampiri Inggit yang sedang mengecek hasil dokumentasinya, nggak jauh dari stage.
"Yang lain kemana?" tanyaku.
"Tuh, di belakang", jawabnya sambil menunjuk backstage dengan gerakan kepala. Kemudian Ryan muncul dan mengajak kami untuk bergabung dengan teman-teman yang sedang berbagi nasi kotak di backstage. Setelah masing-masing udah mendapatkan satu nasi kotak, kami pun duduk mengelilingi salah satu meja di depan Food Court, nggak jauh dari area event. Kami pun ngobrol-ngobrol sambil menemani beberapa orang dari kami makan.

Beberapa lama kemudian, Mas Adhe menelponku via WhatsApp. Karena Inggit sedang mentransfer video hasil dokumentasinya ke hapeku, sinyalnya jadi buruk. Akhirnya kutelpon balik dia.
"Saya nggak jadi ke rumah Ipank ya. Nanggung banget nih, ntar malemnya ada manggung", katanya. Memang sih, tiap Sabtu atau Minggu malam, dia manggung bareng Aghatri di cafe atau rumah makan gitu.
"Oh ya udah gapapa, Mas. Sukses ya," jawabku.
Aku pun kembali bergabung dengan teman-temanku.

Aku juga sempat ngobrol bareng Yuda yang waktu itu lagi duduk juga di salah satu meja depan Food Court bareng Wira, pacarnya. Ini bukan pertama kalinya sih aku ketemu Wira. Kami pertama kali ketemu waktu aku mau nonton performance J-Rocks di Grage City Mall tahun 2017 lalu. Hanya aja saat itu kami nggak ngobrol. Sebenarnya Yuda sempat ingin memperkenalkan aku pada pacarnya itu mengingat kami yang sama-sama memiliki minat dalam bidang tulis-menulis (FYI, Wira memiliki bakat dalam menulis novel dan saat ini tengah kuliah di jurusan English Literature). Siapa tau kami bisa jadi teman diskusi yang baik, katanya. Hanya aja aku canggung. Jadi baru kemarin itu kami ngobrol walau nggak banyak. Itupun hanya soal kondisi sound dan jadwal acara yang ngaret. Wkwkwk..

Aku dan teman-temanku baru beranjak dari area Transmart ketika jam menunjukkan waktu sekitar pukul setengah tujuh malam.

OPHELIA & CLOVER. Ki-Ka : Ikbal, Ryan, aku, Kholis, Anton, Jack.

Alhamdulillah, aku benar-benar bersyukur banget. Meski saat Ophelia tampil ada sedikit kendala di mikrofon, tapi kami merasa cukup puas dengan performance kami. Jujur, selama aku perform di depan publik, baru kali ini aku berhadapan dengan para audience yang memiliki animo sepositif itu menikmati lagu-lagu yang kami bawakan, dan itu nggak cuma segelintir orang. Nggak tau deh kalo teman-temanku yang lain. Makanya aku terharu, merasa dihargai gitu jadinya. Huhu.. Maaf kalo lebay. Maklum, namanya juga baru. Wkwkwk.
Selasa, 31 Desember 2019 0 komentar

New Year : 2020

Hmm.. Nggak terasa kita udah sampai di penghujung tahun 2019 ya. How do you feel, Guys?
Kalo aku pribadi, jujur, sedih. Yah, hampir setiap pergantian tahun, aku selalu merasakan ini sih, terlebih jika tahun itu memiliki banyak momen indah dan berharga yang nggak akan terulang lagi. Aku orangnya hobi banget flashback sih ya, suka banget mengenang hal-hal berkesan di masa lalu. Jadi ketika tahun berganti, itu artinya makin banyak momen indah di masa lalu yang bakal kurindukan di masa mendatang.

Tahun ini kurasakan baik, sangat baik, meski diawali dengan momen buruk, karena bulan Januari ibuku sakit selama sekitar sebulan lamanya sampai harus rawat inap di Rumah Sakit. Apalagi ketika dugaan awal dokter menyebutkan bahwa ibu terkena gejala kanker. Ketika itu perasaanku hancur banget. Namun setelah dirujuk ke Rumah Sakit dan menjalani pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa ibu hanya kelelahan aja karena memang sebelum jatuh sakit, ibu sering banget tidur larut malam lantaran disibukkan dengan tugas-tugas kadernya. Alhamdulillah di bulan Februari, kondisi ibu membaik dan bisa kembali beraktifitas.

Di bulan Februari juga aku bertemu kembali dengan salah satu penulis favoritku, Fiersa Besari. Ini adalah pertemuan kedua kami setelah sebelumnya kami bersua pada tahun 2017, tepatnya saat ia mengadakan tur untuk promosi Albuk Konspirasi Alam Semesta. Kali ini kami bersua dalam perjalannnya mempromosikan Albuk 11:11 yang rilis pada bulan November 2018 lalu. Pertemuan kami saat itu harusnya jauh lebih berkesan ketimbang pertemuan sebelumnya, karena di pertemuan kali ini kami nggak hanya bisa minta tanda tangan, tapi juga foto berdua dengan dia. Namun yang terjadi adalah mood-ku jatuh begitu aja ketika hasil foto yang kuterima sangat-sangat nggak memuaskan. Huhu..

Pada bulan Maret, perusahaan tempatku bekerja merayakan hari jadinya yang ke-7 tahun di Gedung Auditorium Perundingan Linggarjati. Hari itu, untuk pertama kalinya aku bersama MUSTunable perform di hadapan rekan-rekan kantor cabang Cirebon. It was so fun, meski kami harus perform tanpa Mas Win yang awal tahun 2019 lalu mengundurkan diri dari perusahaan karena penglihatannya bermasalah. Sedih banget rasanya waktu dengar kabar itu. Kabar terakhir yang kudengar darinya, sekarang ia menjadi pedagang keliling. Semoga rejekimu lancar ya, Mas :')
Hengkangnya Mas Win dari perusahaan nggak lantas membuat personil MUSTunable Band berkurang, namun justru bertambah, karena Inggit dan Badar resmi bergabung dengan kami. Inggit pada posisi Vokalis, mendampingiku, sementara Badar pada posisi Drummer, bergantian dengan Mas Febri yang terkadang mengisi posisi Rhythm.

Di bulan April, aku membeli sebuah gitar akustik berukuran sedang. Pada awalnya aku memang niat belajar bermain gitar. Tapi kok ternyata susah banget. Huhu.. Jariku juga gampang banget sakit. Kata temanku sih, senar gitar itu terlalu tebal. Harus ganti yang lebih tipis kalo mau lebih nyaman dipakai. Nanti deh, aku kumpulkan niat dulu buat belajar lagi, baru aku ganti senarnya. Wkwk..
Di bulan April ini juga, aku kehilangan kucing kesayanganku, Toothless. Aku yakin seseorang membawanya, karena terakhir kali aku melihatnya, dia sehat, nggak sakit. Sampai sekarang aku nggak tau dimana dia berada, dan sampai sekarang juga aku masih mencoba buat ikhlas. Aku berharap dia bersama orang yang memelihara dan menjaganya dengan baik. I miss him so bad :')

Bulan Mei bertepatan dengan bulan Ramadhan, dan bulan Ramadhan rasanya kurang afdol kalo nggak mengadakan buka puasa bersama. Di bulan Ramadhan tahun ini, aku mengadakan buka puasa bareng keluarga pada tanggal 12 Mei yang mana terasa sedikit lebih spesial dengan kehadiran Naura di tengah-tengah kami. Kemudian tanggal 29 Mei, aku berbuka puasa di kantor bersama rekan-rekan, namun rasanya kurang berkesan karena banyak karyawan yang nggak hadir. Huhu..
Tanggal 30 Mei berkesan banget. Aku berkunjung ke rumah Rohayati yang baru aja melahirkan anak pertamanya. Sore harinya, aku berbuka puasa bersama adik dan dua teman rumah kami di D'Forty Cafe & Resto, dan dilanjut dengan berkumpul di rumahku sampai malam.
Di penghujung bulan Mei, aku berbuka puasa di Hotel Amaris bersama beberapa rekan kantorku yang paling dekat. Ada Pak Ben, Bu Hani, Bu Lia, Mbak Tika, Mas Febri, A' Putra, Bu Rohayati, dan Pak Ading. Acaranya kurang berkesan, tapi tetap senang sih rasanya.

Bulan Juni, one of the best months of 2019. Pada bulan ini, seluruh umat muslim merayakan Idul Fitri. Meski perayaan Idul Fitri dirasa kurang berkesan lantaran banyaknya kerabat yang nggak sempat ketemu karena tinggal di kota lain, tapi kami tetap menyambutnya dengan suka cita. Di hari kedua lebaran, aku bertemu dengan Emak (ibu tiri bapak). Ketika kuhampiri, beliau langsung memeluk dan menciumku. Kangen katanya. Hanya aja aku agak prihatin karena kondisi beliau nggak seprima dulu. Beliau yang dulu nggak pernah betah duduk diam, kini cuma bisa duduk karena kedua kakinya nggak lagi kuat untuk berjalan tanpa bantuan. Bicaranya pun udah sedikit nggak karuan, yah seperti orang lanjut usia pada umumnya.
Kemudian pada tanggal 16, Empit, anak kedua Wak Agus menikah. Hari itu untuk pertama kalinya aku perform didepan keluargaku dengan menyumbang beberapa buah lagu. Meski perform di depan keluarga sendiri, tapi entah kenapa rasanya tetap nervous. Mending perform di depan teman-teman kantor, serius 😂
Lalu di penghujung bulan Juni, tepat di hari ulang tahunku, aku berkenalan dengan Mas Ipank dan Bang Fais, serta bertemu kembali dengan Mas Adhe yang kukenal di tempat les vokalku tahun lalu. Pertemuan dan perkenalan inilah yang menjadi awal terbentuknya Black Party. Sampai sekarang, meski udah nggak aktif ngeband bareng mereka lagi (karena Mas Adhe dan Bang Fais mau fokus cari duit) dan udah lumayan lama juga nggak ketemu Bang Fais (kami terakhir ketemu dan ngeband bareng pada bulan Oktober), tapi aku sangat-sangat bersyukur bisa mengenal mereka. They're one of the greatest birthday gifts I have 🙂

Bulan Juli, adalah bulan dimana aku dan teman-teman dari Black Party sering menghabiskan waktu bareng. Entah itu latihan di studio, kumpul bareng, atau beres-beres studio bareng, studio yang pernah kami rencanakan akan menjadi studio pribadi kami, tapi nggak kunjung terwujud. Haha..
Kami juga sempat bergabung dengan DCDC meski akhirnya kami memutuskan untuk nggak lanjut.

Bulan Agustus, another best month of 2019. Pada bulan ini, Mas Ipank melepas masa lajangnya dengan meminang teteh cantik, Teh Indri. Aku datang ke pesta pernikahannya bersama Bang Fais. Hari itu, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan para personil Aghatri (salah satu band Mas Adhe) dan diminta untuk berduet bersama Wangi (ex-vokalis Last Dream yang kini menjadi vokalis di Aghatri). Senang sih rasanya bisa kenal dan berduet sama dia. Tapi rasanya minder eh, coz her voice is gold :')
Tanggal 11-nya, aku dan teman-teman Black Party merayakan hari ulang tahun Mas Adhe di kediamannya di kawasan Drajat. Nggak cuma kami berempat, ada juga Teh Indri, Mas Diwan, Mas Bagas, dan Mas Anjar yang bergabung bersama kami. Hari ultah Mas Adhe yang bertepatan dengan hari raya qurban itu kami rayakan dengan bakar sate dan makan bersama. Sederhana, tapi berkesan banget.
Kemudian pada tanggal 17, bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan RI, aku, Teh Indri, Mas Adhe, Mas Ipank, Mas Awal beserta istri dan keponakannya jalan-jalan ke Pondok Pinus, Kuningan. Namun sesampainya disana, kami malah jadi bingung mau ngapain, dan akhirnya cuma foto-foto doang. Wkwk..

Di bulan September, Black Party melakukan rekaman single pertama kami. Proses rekaman yang dilaksanakan di salah satu home recording di kawasan Beber ini memakan waktu sekitar enam jam. Namun meskipun waktunya nggak sebentar, rasanya enjoy aja gitu bareng mereka, nggak bete sama sekali, dan nggak secapek waktu rekaman bareng MUSTunable dulu.
Akhir bulan September ini juga, Black Party perform perdana di acara launching perumahan baru milik Om Fajar. Performance kami saat itu memang jauh dari kata memuaskan sih, khususnya aku yang memang messing up our whole performance dengan kegugupanku. Tapi beruntungnya abang-abang keceku nggak ambil pusing dengan hal itu :')

Bulan Oktober. Ah, lagi-lagi ini adalah salah satu bulan terbaik di 2019. Banyak kejutan dan hal manis yang terjadi di bulan ini. Pada bulan ini, untuk pertama kalinya di hidupku, salah satu teman laki-lakiku datang ke rumah dan memberanikan diri menghadap orangtuaku untuk meminta restu menjadi menantu mereka :') It's funny to remember how silly it was, ketika dia mengutarakan niatnya pada orangtuaku, aku malah meninggalkan mereka karena malu dan gugup. Sounds uwu, huh? Tapi kenyataannya nggak juga, karena orangtuaku nggak lantas memberinya restu, tapi juga nggak melarang kami untuk tetap berhubungan. However I really appreciate his courage. Semenjak hari itu, hubungan kami nggak lantas merenggang, tapi justru jadi makin dekat, and every moment spent with him is precious. I love the way he treats me, seperti betapa ia menghargai prinsipku yang nggak mau memanggil dengan panggilan sayang atau berpegangan tangan seperti pasangan pada umumnya, kecuali kalo udah sah di mata agama dan hukum :)

Pada bulan November, aku dan rekan-rekan kantor melakukan perjalanan ke Jogjakarta. Jogja adalah salah satu kota yang ingin aku kunjungi sejak dulu, dan baru kesampaian tahun ini. Meski perjalanannya panjang dan melelahkan, tapi rasanya senang banget bisa berkesempatan mengunjungi Candi Borobudur dan Tebing Breksi, terlebih kami bisa sempurna menikmati pesona sunset disana. Nggak lupa aku juga membelikan oleh-oleh untuk Mas Kesayangan : sehelai kaos Jogja warna putih dengan motif hitam, yang sebenarnya mungkin akan ia protes karena ia pernah bilang bahwa ia nggak PD mengenakan pakaian putih karena warna kulitnya yang gelap. Tapi aku justru berpikir ia akan terlihat keren dengan kaos itu. And that's true. Moreover I'm glad he loves it 😊
Namun pada bulan November ini juga kami memutuskan untuk break up. Nggak ada yang salah, kami berpisah baik-baik. Namun biar berpisah baik-baik, jujur nggak mudah juga sih. Aku nggak ingat kapan terakhir kali aku nangis, dan baru kali ini nangis lagi, entah itu saat sedang sendirian di kamar, atau saat bibirku melangitkan namanya dalam doa. Minggu-minggu awal itu berat banget rasanya. Bukan karena kecewa, toh kecewa karena apa? Tapi masalahnya, menghilangkan dan memalingkan dia itu susah banget rasanya. I missed him so bad. Setiap hari dalam doaku, aku selalu meminta agar aku bisa ikhlas melepasnya. Tapi terkadang kalo rasa kangen sedang berat-beratnya, aku sering meminta pada Tuhan agar Ia membagi rasa kangen itu padanya, biar aku nggak memikul rasa itu sendirian. Haha.. Dan aku percaya doaku menembus langit dan didengar Tuhan, karena udah beberapa kali Ia mengijabah doaku secara instan. Namun bodohnya sampai sekarang aku nggak mengerti apakah doa yang Tuhan ijabah itu adalah bukti sayang-Nya padaku atau bentuk pelajaran yang ingin Ia beri, karena setiap kali rasa rinduku terobati dengan chatting, telepon, atau pertemuan dengan dia, rasa rinduku akan terasa dua kali lipat lebih berat di hari selanjutnya. Seperti candu :')

Bulan Desember, bulan yang kurasa cukup berat. Entah kenapa pada bulan ini aku merasa Tuhan lagi senang mengajakku bercanda. Banyak banget kejutan-kejutan dari-Nya yang menguras perasaan dan terkadang membuatku merasa sedang menjadi tokoh utama dalam serial FTV.
Hal baiknya, pada bulan ini aku diajak bergabung dengan Ophelia, band yang digawangi Ryan dan dua temannya. Rasa hausku dengan kegiatan ngeband sekaligus tekadku untuk meningkatkan rasa percaya diri mendorongku untuk menerima ajakan itu. Bersama mereka, aku tampil perdana di acara Juunigatsu Festival yang diselenggarakan di Gramedia World Cipto tanggal 15 lalu. Rencananya sih, bulan depan kami akan mengisi acara Japan Festival lagi. Doakan penampilan kami lebih baik ya ^^
Dan kembali lagi ke soal hubunganku dengan Mas Kesayangan yang sekarang udah jadi Ex. Huhu..
Hubungan kami sampai sekarang tetap baik. Kami tetap berteman dan masih cukup sering ketemu, meski rasanya nggak sama lagi dengan pertemanan kami yang dulu. Nggak ada benci di antara kami, dan aku harap selamanya akan seperti itu. Mungkin ya.. Mungkin suatu saat nanti, cepat atau lambat, dia bakal menjauh. Terlebih saat dia udah menemukan perempuan baik yang akan mendampinginya dan menjadi penyempurnanya, begitu juga sebaliknya, sangat mungkin bagi kami untuk kembali menjadi asing. Sebenarnya aku nggak mau itu terjadi. Maksudku, aku ingin agar pertemanan kami nggak putus. Tapi mau nggak mau, aku harus terima kan? Karena nggak baik untuk hubungan kami dengan pasangan masing-masing nantinya.

Aaah.. Jujur, rasanya berat banget ninggalin tahun ini. It was a great year! Yah memang sih, seperti yang udah aku sebutkan di awal tulisan ini, rasanya hampir setiap tahun aku merasakan hal seperti ini, berat melangkah ke masa yang akan datang. Kayak pengen stay aja gitu di waktu sekarang, nggak mau kemana-mana. Malah kalo bisa, pengen putar balik waktu aja. Haha.. Konyol ya.




Entah kejutan apalagi yang akan Tuhan kasih di masa mendatang. Yang pasti, di tahun 2020 mendatang aku berharap agar aku bisa lebih ikhlas menerima segala rencana dan ketetapan Tuhan. He knows what's better for me. Aku harus yakin bahwa skenario-Nya indah. Aku juga ingin belajar untuk lebih mencintai diriku sendiri, dan mulai untuk kembali banyak membaca. Kemarin aku baru sadar bahwa mengisi waktu luang dengan membaca atau menonton film jauh lebih baik ketimbang nge-scroll feeds Instagram atau Facebook, atau ngecek WhatsApp tapi nggak ada pesan baru disana. Wkwk.. 🤭 Kurasa dengan kegiatan membaca atau menonton film itu, aku bisa lebih bahagia 😊

Alright, that's all Kaleidoskop untuk tahun ini. Aku berterima kasih untuk teman-teman yang berpartisipasi menjadikan tahun 2019 ini sangat berkesan. I wish you a happy new year! 😄
Senin, 16 Desember 2019 0 komentar

Pertama Kali Perform di Japan Festival

Ingat ceritaku tentang event yang akan diisi oleh aku bersama Ryan dkk?
Yup, itu udah kami lalui kemarin dan aku akan ceritakan semuanya disini.

Jujur, sampai dengan hari Sabtu kemarin, aku nggak tau acara apa yang bakal kami isi. Mereka bilang acara jejepangan ya aku pikir nggak jauh beda dengan acara jejepangan yang diisi oleh Ryan dan bandnya beberapa waktu lalu. Jadi tanggal 17 November lalu, Ryan dan rekan-rekan bandnya (beda orang, bukan Jack dan Kholis) mengisi acara jejepangan yang diselenggarakan di Grage City Mall. Aku nggak nonton sih, cuma waktu itu kebetulan lewat pas lagi main kesana. Kalo yang aku lihat sekilas sih acaranya nggak begitu besar, karena nggak rame-rame banget. Nah, kukira acara yang kami isi itu ya yang seperti itu. Tapi ternyataaa.. acara yang kami isi kemarin itu rupanya merupakan acara tahunan, dan lebih besar lagi. Mereka nggak bilang kalo itu acara keren. Huhu..

Juunigatsu Festival, namanya. Merupakan J-Fest atau Japan Festival yang diselenggarakan setiap menjelang akhir tahun di kota kami, dan tahun ini merupakan tahun keempat acara ini diselenggarakan. Seperti J-Fest pada umumnya, di acara ini kita bisa menikmati ataupun ikut berpartisipasi dalam kompetisi cosplay, lomba karaoke, dan stage performance. Selain itu, disana juga kita bisa mengunjungi berbagai booth merchandise anime seperti poster, jaket, kaos, dan gantungan kunci. Ada juga manga yang dijual murah banget, cuma dua ribu lima ratus perak perbuah. Booth makanan dan minuman juga ada sih, tapi sayangnya bukan makanan dan minuman khas Jepang yang dijual. Huhu..

Hari Sabtu lalu, kami melakukan latihan terakhir dengan membawakan enam buah lagu, yakni Jiyuu E No Shoutai nya Laruku, Evanescent nya VAMPS, Wherever You Are nya One Ok Rock, Heavy Rotation nya JKT48, Ceria nya J-Rocks, dan Kau Curi Lagi nya J-Rocks.
Lho, kok lagunya jadi makin banyak?
Well, kemarin kami memang berencana hanya membawakan tiga lagu. Tapi karena band yang tampil hanya dua, jadi jaga-jaga aja, siapa tau kami diminta membawakan lebih dari tiga lagu. Selesai latihan, kami sepakat standby di Gramedia World Cipto sekitar jam dua siang, karena jadwal kami on stage sekitar jam tiga sore.

Jam setengah dua siang, aku berangkat ke Gramedia World Cipto dengan menumpang ojek online. Kukira Ryan dan Inggit udah standby di lokasi karena Inggit bilang Ryan udah jemput dia dari jam dua belas siang. Rajin banget, astaga. Tapi sesampainya disana, ternyata mereka berdua lagi nongkrong di Transmart. Ckck.. Jadi, aku langsung naik aja ke lantai tiga dimana acara J-Fest itu digelar. Seenggaknya disana aku bisa nunggu sambil nonton acara atau lihat-lihat penampilan para cosplayer daripada nunggu sambil baca dan lihat-lihat novel, bisa-bisa aku khilaf pengen beli. Wkwk..

Belum dua menit aku menginjakkan kaki di area J-Fest, pandanganku menangkap sosok yang sangat kukenal. Ada Yuda dong di antara ratusan pengunjung situ. Dia lagi lihat-lihat merchandise gitu di salah satu booth yang memang letaknya nggak begitu jauh dari pintu masuk. Langsung aja aku hampiri dia dan colek bahunya.
"Hey, kamu.. kesini juga?" katanya dengan ekspresi wajah surprised. Kami pun berjabat tangan seperti biasa.
"Iya nih. Mau manggung disini".
"Oh, mau manggung".
"Hu'um. Bareng siapa kesini?"
"Bareng teman. Tuh, lagi lihat-lihat komik. Mentang-mentang dijual sepuluh ribu dapat empat", jawabnya sambil melemparkan pandangan ke booth manga. "Bawain lagu apa nih?"
"Yaa biasalah.. One Ok Rock, Laruku.."

Nggak lama ngobrol, aku pun pamit. Pas balik badan, rupanya Inggit dan Ryan udah berdiri di belakangku.
"Yang lainnya mana?" tanya Ryan.
Aku mengangkat bahu, nggak tau. Beberapa menit kemudian, baru deh Jack dan Kholis bergabung bersama kami. Sambil menunggu giliran perform, kami pun menikmati acara yang saat itu sedang menggelar sesi lomba karaoke.




Ironisnya, meski pengunjungnya banyak, namun mereka lebih tertarik berfoto dengan para cosplayer dan menyerbu booth-booth merchandise ketimbang menonton para peserta lomba karaoke tersebut. Alhasil penonton lomba itu nggak begitu banyak. However, aku dan teman-teman lebih memilih untuk menonton lomba karaoke itu meskipun kebanyakan lagu yang mereka bawakan nggak aku kenal. Wkwk.. Tapi penampilan mereka keren-keren deh. Salah satunya penampilan seorang cewek dengan seifuku warna pink. Suaranya imut-imut gitu khas cewek-cewek kawaii di anime, dan dia juga sangat ekspresif, jadi sama sekali nggak terlihat kaku.

Acara disambung dengan penampilan idol group semacam JKT48 gitu (sebut aja CRB48 lah yaa, meskipun jumlah mereka nggak sampai 48 orang). Mereka menari dengan diiringi beberapa lagu yang dipopulerkan JKT48. Sontak para pengunjung yang kebanyakan para cowok maju ke depan panggung dan berseru-seru seolah benar-benar menonton performance JKT48. Lucunya gitaris kami ikut-ikutan ngidol bareng mereka. Wkwkwk..




Setelah itu, giliran grup band Deux yang naik stage. Ketika itulah Ryan memberi info bahwa giliran kami naik stage adalah jam setengah tujuh malam. What the hell? 😂 Jam baru menunjukkan pukul setengah lima waktu itu. Itu artinya kami harus menunggu sekitar dua jam lagi. Akhirnya aku dan Inggit pun memutuskan buat cari makan dulu di luar. Kami makan rice box di KFC Transmart. Nggak beberapa lama, Ryan dkk menyusul kami. Disana kami ngobrol-ngobrol sambil menunggu waktu giliran perform. Dari obrolan kami waktu itu, aku dapat informasi bahwa hari itu kami kebagian membawakan tiga lagu aja. Akhirnya kami sepakat membawakan lagu Heavy Rotation, Evanescent, dan Wherever You Are.

Singkat cerita, tibalah waktunya kami untuk perform. Ketika band kami dipanggil, kami langsung menuju stage untuk bersiap-siap. You know what? Pemandangan di area J-Fest saat itu benar-benar kontras dengan pemandangan area J-Fest sebelum kami tinggal ke KFC tadi. Sebelum kami nongkrong di KFC, kondisinya masih ramai banget. Tapi menjelang kami perform, pengunjungnya tinggal sedikit. Yuda juga udah balik. Huhu.. Sedih. Mungkin karena break Magrib ya, jadi mostly udah pada pulang. Lagipula waktu itu acaranya udah hampir selesai sih, tinggal pengumuman pemenang kompetisi aja.

Keadaan yang nggak sesuai ekspektasi ini tentunya membuat kami kecewa. Kami sengaja milih lagu Heavy Rotation untuk dibawakan di awal, berharap area di depan panggung ramai dan panas. Tapi kenyataannya yang mantengin stage cuma segelintir orang, termasuk dua orang MC yang hari itu cosplay sebagai pasangan gila Joker dan Harley Quinn. Mereka duduk-duduk beberapa meter dari stage. Sama sekali nggak ada yang berdiri tepat di depan stage seperti yang kami harapkan. But show must go on. Kami tetap bermain, meski yang kelihatan ikutan nyanyi dan menggerakkan badan mengikuti alunan musik cuma satu dua orang. Hal ini masih berlanjut di lagu kedua, Evanescent. Sumpaah.. Kalo kondisinya kayak gitu rasanya garing banget. Mau interaksi juga bingung woy, nggak ada yang nanggapin. Huhu.. 😂

Akhirnya tibalah kami di lagu terakhir.
"Ada yang One Ok Rocker disini?" tanyaku setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih kepada Gramedia dan para panitia penyelenggara acara.
"Kita nyanyi bareng ya.."
Ketika itulah, satu, dua orang mendekat ke depan stage. Ketika Kholis memetikan intro Wherever You Are, ada yang mendekat lagi, dan semakin bertambah ketika aku mulai menyanyikan bait pertama.
"I'm telling you.. I softly whisper..
Tonight, tonight..
You are my angel.."

Mereka yang berdiri tepat di depan stage itu nggak bisa dibilang banyak sih, mungkin cuma sebelas, dua belas, tiga belas orang.. aku lupa tepatnya. Tapi itu cukup bikin aku terharu. Apalagi mereka juga ikut nyanyi dengan semangat. Lucunya ada juga salah satu orang yang iseng mungut bunga mawar yang jadi properti cosplayer dan memberikannya padaku di tengah-tengah lagu. Wkwkwk..


Arigatou, Mas Rambut Ijo 😂

Para sobat ambyar. Itu Mas yang di kursi
merah kenapa dah 😂


Pokoknya aku berterima kasih banget sama teman-teman yang kemarin berdiri di depan stage dan nyanyi bareng. Senang banget bisa berinteraksi sama mereka, meski singkat dan nggak sempat kenalan sebagai sesama One Ok Rocker Cirebon. Huhu.. Tapi seenggaknya berkat mereka, performance kami jadi nggak garing garing banget :)

Sumpah yaa.. Kemarin tuh benar-benar campur aduk banget rasanya. Senang, tapi banyak kecewanya. Udah jadwal ngaret, kondisi nggak sesuai ekspektasi, ditambah beberapa hal lain terkait crew di belakang stage yang kurang kooperatif terhadap performer (sorry to say that). Dan beberapa temanku yang kemarin-kemarin bilang 'insya Allah' mau datang pun nggak ada :') Tapi ya udahlah. Seenggaknya ada pengalaman yang bisa diceritakan dan jadi kenangan suatu hari nanti.

BTW performance-ku dapat kritik dari Mas Adhe. Katanya aku masih kurang jelalatan di panggung sebesar itu. Well, iya sih, kuakui aku memang masih banyak diam, belum pede jadi seorang frontman yang petakilan. But I'll always try. Jujur lho, bahkan sampai sekarang, tampil di depan orang banyak tuh masih jadi pressure sendiri buatku. Nggak jarang setiap sebelum perform aku stres sendiri, anxiety kumat. But I'll never stop selama masih ada kesempatan dan nggak ada yang melarangku, karena sejak awal bergabung dalam band, niatku yang paling kuat adalah niat untuk berubah jadi aku yang lebih percaya diri dan berkembang. Aku nggak mau terus-terusan jadi Putri yang cupu, kebanyakan di rumah, dan nggak punya teman. Anggap aja manggung itu suatu bentuk terapi yang menyenangkan. Anyway, thanks banget masukannya, Senior 😊

"Putri mau kan manggung sama kita lagi kalo besok besok ada acara J-Fest lagi?" tanya Jack sebelum kami pulang.
"Boleh aja kalo kalian nggak kapok. Hehe.."
Jujur aku khawatir banget performance ku mengecewakan mereka. Mereka mainnya keren-keren, akunya sucks banget.

Oh ya, aku belum bilang ya nama band kami apa. Call us OPHELIA. Mungkin selama beberapa waktu kedepan, aku bakal lumayan sering main bareng mereka. Mungkin..
Hanya aja, jujur, sampai sekarang aku belum bisa 'nyampur' sama mereka. Entah kenapa aku masih merasa ada batasan dan rasa canggung aja gitu. Sebenarnya sama aja kayak mas-masku di Black Party, mereka gila. Lihat aja obrolan ini :




Pernah juga mereka suit batu-kertas-gunting cuma buat nentuin siapa yang ngasihin duit ke operator studio gara-gara malu lantaran duitnya receh semua (lagian Jack patungan sewa studio pake duit logaman semua, macam habis ngamen). Nggak jelas banget kan? Gila. Tapi nggak tau kenapa aku belum merasa klop. Aku terlalu normal buat mereka, sering dibuat bingung sama obrolan mereka. Huhu.. Yah, pelan-pelan lah ya. Tampaknya bakal cukup lama bagiku untuk terkontaminasi virus edan mereka 😂
Senin, 11 November 2019 0 komentar

Trip to Jogja

Bagi sebagian teman-temanku, melancong ke Jogjakarta udah bukan pengalaman baru lagi. Beberapa dari mereka bahkan udah bosan pergi kesana. Tapi bagiku, ini adalah pengalaman yang sangat baru.

Tanggal 8 November kemarin, perusahaan tempatku bekerja mengadakan tour bersama ke Jogjakarta. Seluruh karyawan wajib ikut (kecuali bagi yang benar-benar berhalangan untuk ikut). Hal ini tentunya disambut dengan sangat antusias oleh seluruh karyawan, mengingat selama delapan tahun perusahaan ini berdiri, perusahaan ini sama sekali belum pernah melakukan rekreasi ke luar kota untuk seluruh karyawannya. Kalopun ada rekreasi, palingan untuk tim-tim tertentu aja. Tapi kali ini, seluruh karyawan bisa menikmatinya, bukan hanya untuk para karyawan kantor cabang Cirebon, tapi juga untuk para karyawan kantor cabang Bekasi, Tasikmalaya, Pekanbaru, dan tentu aja kantor pusat.

Saking antusiasnya, rekan-rekanku di kantor, khususnya para ladies udah mempersiapkan perlengkapan tour jauh-jauh hari. Bahkan ada aja gitu yang kepikiran buat beli tas baru, jaket baru, hijab baru, sepatu baru, sandal baru, sampai make-up baru. Aku mah boro-boro kepikiran beli barang baru, ingat bawa sikat gigi dan lotion ketiak aja udah bersyukur banget.


***

Hari Jum'at 8 November, pukul 16.00, seluruh peserta tour dari kantor cabang Cirebon diimbau untuk berkumpul di kantor dengan mengenakan kaos seragam dengan logo perusahaan. Aku baru tiba di kantor menjelang pukul lima sore dengan menumpang ojek online. Kukira aku datang terlambat, karena ketika aku tiba, seluruh peserta udah berkumpul di halaman dan berfoto bersama dengan memegang spanduk besar, nyatanya kami masih harus menunggu cukup lama karena Bus I belum tiba (FYI, kantor cabang Cirebon menyewa dua unit bus untuk mengangkut 87 peserta tour dari kantor cabang Cirebon ini). Seriously, waktu itu rasanya BT dan kesel banget nunggunya. Kalo tau busnya bakal datang terlambat sih, mending nge-charge powerbank aja dulu di rumah.

Sementara menunggu Bus I datang, sebagian rekan-rekan kerjaku memanfatkan waktu dengan berselfie, sedangkan aku sendiri cuma sibuk mondar-mandir nggak jelas (karena memang nggak ada yang ngajakin selfie. Huhu..).

Hingga waktu Magrib tiba, Bus I belum juga datang. Akhirnya kami pun memutuskan buat sholat Magrib dulu, itu pun gantian, mengingat ruang mushola kantor yang nggak luas.

Setelah sholat Magrib, aku kembali ke showroom dan duduk di sebelah Bu Herlina yang langsung mengajakku buat selfie bareng. Kuajak pula Mbak Aam yang berdiri nggak jauh dari situ.
"Sini, Mbak. Kita foto bareng", kataku sambil menepuk ruang kosong di sofa yang kududuki. Mbak Aam pun manut. Bertiga, kami mengambil beberapa gambar. Habis itu, kami pun ngobrol-ngobrol.


Ki-Ka : Bu Herlina, aku, Mbak Aam

Can you see that sadness on her face?
Ki-Ka : Mbak Aam, aku, Bu Herlina, Bu Ade


BTW Mbak Aam ini salah satu sales di perusahaan ini. Belum lama bekerja, baru sekitar dua bulan. Orangnya pendiam banget. Dia sering banget menyendiri dan melamun. Kalo ngobrol pun ia selalu tampak gugup dan terbata-bata. Menurut Supervisornya, ia mengalami pressure dari keluarganya yang membuat kondisi mentalnya agak terganggu.

Namun meskipun begitu, Mbak Aam memiliki obsesi yang begitu besar terhadap musik. Ia hobi menyanyi dan mendengarkan musik, juga semangat belajar memainkan piano. Ajaibnya, musik membuatnya bisa begitu percaya diri. Ia memiliki akun Youtube yang berisi puluhan video yang merekam dirinya sendiri sedang bernyanyi. Ia juga pernah beberapa kali mengikuti audisi pencarian bakat di radio, meski hasilnya belum sesuai harapan. Salut! Aku aja nggak se-PD itu. Huhuu..

Oh ya, Mbak Aam juga bahkan memiliki beberapa buah karya berupa lirik lagu yang ia tulis di buku khusus dan berharap suatu saat ada musisi yang menyempurnakan karyanya menjadi sebuah lagu. Makanya, ketika pertama kali melamar kerja ke perusahaan ini dan mendengar bahwa perusahaan ini memiliki band sendiri (MUSTunable Band) ia begitu bersemangat. Setiap kali aku dan teman-teman MUSTunable akan latihan, Mbak Aam selalu berharap bisa ikut. Sayangnya rumah dia jauh banget, sedangkan setiap kali band kami latihan, kami selalu pulang malam. Kasihan kalo dia pulang terlalu larut, apalagi dia perempuan. Andai kami nggak latihan malam hari atau rumahnya nggak sejauh itu, aku akan dengan senang hati mengajaknya ikut latihan. Yah, biar dia nggak merasa sendirian terus. Setiap kali aku melihat dia, aku selalu ingat lagu 'Samar' milik Bung Fiersa : Wahai gadis bermata sendu.. Mengapa kau merenung? Tertunduk di sudut dunia.. Apa yang kau sesali? Tak tahukah dirimu hidup tak kan menunggu? Buka sedikit hati.. Agar kau tahu kau tidak sendiri..

Hari itu, kami ngobrol-ngobrol soal musik. Ia juga bertanya tentang bagaimana awal mula aku bergabung dengan MUSTunable dan Black Party. Aku pun menjawabnya dengan antusias. Sayangnya kesempatan itu terlalu singkat, karena Koordinator Bus sudah memerintahkan para peserta tour untuk bergegas masuk ke bus masing-masing dan menempati tempat duduk yang sudah ditentukan sehari sebelumnya.


Andai boleh tukar tempat duduk, rasanya aku pingin duduk di sebelah Mbak Aam aja deh, biar kami bisa sharing lebih lama. Habisnya, ini kesempatan langka banget. Biasanya kalo di kantor, Mbak Aam lebih banyak diam, atau diledekin sama rekan-rekan gitu.

Dalam acara tour ini, partner seperjalananku adalah Bu Damayanti. Ketika mengetahui partner seperjalananku adalah beliau, beberapa rekan kerjaku menyarankanku untuk selalu sedia earphones mengingat sifat beliau yang memang agak cerewet. Well, Bu Damayanti yang merupakan seorang Sales ini memang terkenal suka ngomong dan suaranya nyaring, berbanding terbalik denganku yang banyak diam, terlebih saat dalam perjalanan, karena aku lebih suka melihat ke luar jendela sambil mendengarkan musik. Nggak tau kenapa, serasa di video klip gitu. Wkwkwk.. Adakah yang juga merasa demikian, atau cuma aku aja?

Sebelum berangkat, kami pun berdoa dipimpin oleh seorang senior yang sebenarnya bukan karyawan perusahaan sih, tapi sedikit punya peran gitu di perusahaan ini. Hanya aja doanya agak ngaco dan menjurus ke musyrik gitu, jadi aku memutuskan untuk nggak mengikuti beliau.

Pukul 07.14, bus kami pun bergerak. Beberapa menit setelah bus berangkat, Koordinator Bus membagikan air mineral dan sekotak nasi padang untuk makan malam. Yup, kami makan malam dalam perjalanan. Musik koplo yang diputar Pak Sopir menemani perjalanan kami malam itu. Ada yang asik bernyanyi mengikuti musik, ada yang berselfie, ada yang ngemil, dan ada yang cuma ngobrol-ngobrol. Semakin malam, suasana bus semakin sepi karena satu persatu, penumpang memutuskan untuk tidur. Ketika itulah Mas Febri selaku Seksi Dokumentasi beraksi. Ia mendekati rekan-rekan yang tidur dengan mulut terbuka dan iseng memotretnya. Aku sudah mengira keisengan semacam ini bakal terjadi, makanya aku jaga-jaga, bawa masker dari rumah. Wkwk..

Sekitar jam dua dini hari, kami baru tiba di Jogjakarta. Bus kami singgah di RM Dapur Limasan Borobudur untuk beristirahat. Sedikit kecewa sih, karena kami pikir kami bakal istirahat di penginapan gitu. Tapi ya sudahlah. Seenggaknya di tempat ini aku bisa mengisi daya handphone dan powerbank-ku serta berbaring dan meluruskan kaki meski hanya beralas bangku kayu panjang. Huhu..

Rupanya aku sempat tertidur ketika berbaring di bangku itu. Aku terbangun sekitar jam empat subuh dan melihat rekan-rekanku tengah mengantre kamar mandi. Aku pun bergabung bersama mereka. Waktu itu rasanya kesal banget, karena beberapa kali giliranku disalip, sehingga aku baru kebagian masuk kamar mandi sekitar pukul setengah enam (derita orang terlalu sabar tuh gini nih). Karena udah terlalu siang dan takut nggak sempat sholat Subuh, akhirnya aku pun memutuskan untuk sikat gigi, cuci muka, dan wudhu aja.

Selesai sholat dan berdandan kilat, aku bergabung bersama rekan-rekanku untuk sarapan. Pagi itu kami sarapan dengan lauk lele goreng. Habis itu, kami foto-foto. Kami juga dibagikan kaos seragam Tour Jogja yang harus langsung kami kenakan saat itu juga. Sekitar jam tujuh, kami baru berpindah lokasi, yakni menuju lokasi wisata tujuan pertama kami : Candi Borobudur.

Setibanya di kawasan wisata Candi Borobudur, seluruh karyawan peserta tour, baik itu dari kantor pusat maupun kantor cabang berkumpul jadi satu kemudian berfoto bersama. Habis itu, baru deh kami berpencar-pencar dari rombongan. Aku berjalan bersama Mbak Tika, Bu Hani, dan Bu Lia. Kami berfoto-foto bersama sampai puas. Alhamdulillah hari itu cuaca sangat cerah, sehingga kami bisa menikmati betapa cantiknya pemandangan dari puncak Borobudur. Mataharinya memang terbilang terik sih, tapi nggak masalah karena kami mengenakan kacamata hitam. Bu Hani dan Bu Lia bahkan membawa topi bundar agar kepala dan wajah mereka juga terlindung dari panas dan paparan sinar matahari. 





Setelah puas berfoto-foto, kami pun turun dari kawasan candi, tapi nggak langsung ke mobil sih, karena di area taman, kami foto-foto lagi, kali ini bareng Pak Teguh, Pak Wirja, Pak Ben, A Putra, Badar, dan Mas Febri. Begitu keluar dari area wisata, kami disambut oleh para pedagang keliling yang langsung menawarkan dagangannya pada kami. Ada yang menjual minuman, makanan, tapi mostly mereka jual cenderamata sih. Mereka mengerubuti kami seperti wartawan yang akan mewawancarai tokoh publik, sementara kami sedikit kewalahan menghadapi mereka. Bu Hani dan Bu Lia membeli beberapa cenderamata dari mereka. Lucunya, ketika tawar menawar, Bu Hani menggunakan bahasa Cirebon saat berbicara dengan pedagang, sedangkan pedagangnya menggunakan bahasa Jawa. Tapi bisa nyambung gitu lho. Wkwkwk..

Kami berjalan terus hingga memasuki area pasar. Di pasar ini, penjual cenderamatanya lebih banyak lagi, hanya aja mereka menjajakan dagangannya di kios-kios gitu, nggak keliling seperti pedagang-pedagang yang kami temui sebelumnya. Aku ingat, adikku kepingin punya kain ikat kepala. Akhirnya aku pun mampir ke salah satu kios dan membeli selembar kain ikat kepala bercorak batik warna coklat. Disitu juga aku membeli dua buah tas rajut warna navy untuk Rohayati dan Ayu. Murah-murah deh harganya. Tiga item itu total kudapatkan dengan harga tujuh puluh ribu rupiah. Sebenarnya mungkin bisa lebih murah lagi sih, hanya aja aku bukan tipe cewek yang pandai menawar. Huhu..

Sayangnya waktu kami nggak banyak disana. Padahal yaa kalo waktu kami banyak di kawasan Magelang sana, bisa kali ya meet up sama Tifanny. Toh, waktu tempuh dari Magelang ke Kertosari, Temanggung hanya sekitar satu jam. Ini kesempatan yang langka banget. Tapi jangankan meet up sama Tif deh, aku bahkan nggak sempat melihat-lihat dan mencari cenderamata untuk yang lainnya, karena Pak Yosep sudah memerintahkan kami untuk segera kembali ke bus. Mister Chokai dan Inggit bahkan berkali-kali meneleponku untuk bergegas.
“Gimana sih kamu? Kan udah dikasih tau, jam sepuluh harus udah kumpul di mobil Pak Yosep”, omel Mister Chokai dari telepon. Hah, kok kumpul di mobil Pak Yosep?
Well, berbeda dengan rekan-rekanku yang lain yang harus segera kembali ke bus, aku dan teman-teman dari MUSTunable Band justru diharuskan berkumpul di mobil Direktur Utama kami itu. Kenapaaa? Karena kami harus tiba lebih dulu di lokasi selanjutnya untuk segera melakukan check sound. Yup, kami bakal perform di lokasi wisata tujuan kami selanjutnya, yakni Tebing Breksi. Sialnya, aku dan teman-teman nggak bisa langsung menemukan dimana lokasi parkir kendaraan kami. Alhasil, jadinya malah mutar-mutar nggak karuan. Wkwkwk..

Akhirnya kami ketemu Mister Chokai dan rekan-rekan lain yang sudah lebih dulu kumpul. Belum sempat dia ngomel-ngomel, aku omelin dia duluan. Habisnya kesel juga. Masa di telepon dia bilang, “Udah kamu jalan duluan aja sini, nggak usah nungguin Bu Hani dan yang lainnya”. Lah, kalo aku nyasar gimana coba?

Pak Yosep pun mempersilahkan aku untuk masuk mobil. Didalam situ sudah ada Dhea, Badar, Mas Febri, Ryan, dan Inggit, yang berarti semua personil sudah lengkap. Aku duduk di kursi belakang bersama Inggit dan Ryan. Setelah semua personil masuk mobil, Pak Yosep pun langsung menyetir mobilnya keluar dari kawasan itu. Sumpah deh ya, waktu itu rasanya posisi duduk nggak nyaman banget. Mobil yang dikemudikan Pak Yosep saat itu bukanlah jenis mobil yang bisa menampung banyak penumpang. Ruangnya terlalu sempit untuk kami yang keseluruhan berjumlah delapan orang. Terlebih perjalanan yang kami tempuh memakan waktu sekitar satu setengah jam. Alhasil sepanjang perjalanan aku harus menahan kaki dan punggung yang pegal. Rasanya pengen cepat-cepat sampai aja.

Sesampainya di lokasi Tebing Breksi, Pak Yosep langsung mengendarai mobilnya sampai ke puncak tertinggi lokasi. Bukan di puncak tebing seperti yang gambarnya berseliweran di Google itu sih, tapi di sebuah lokasi dimana terdapat sebuah pendopo untuk acara tertentu gitu. Tapi dari tempat itu, kita tetap bisa kok menikmati pemandangan Jogja dari ketinggian. Begitu turun dari mobil, Pak Yosep membagikan kaos band kepada kami yang harus langsung kami kenakan. Baru deh, setelah mengenakan kaos MUSTunable, kami pun melakukan check sound. Sesi check sound sempat kacau di awal karena suaraku fals banget dan nggak pernah berhasil masuk di nada. Waktu itu rasanya khawatir banget. Khawatir performance-ku nanti memalukan dan mengecewakan. Setelah check sound, kami pun makan siang sembari menunggu rekan-rekan lainnya tiba.

Check sound duluuu..

Singkat cerita, sebagian peserta tour sudah berkumpul di lokasi dan duduk bersila di tempat yang sudah disediakan. Sementara mereka menikmati makan siang (yang sebenarnya bisa dibilang telat karena waktu sudah menjelang sore), aku dan teman-teman MUSTunable pun mulai menghibur mereka dengan beberapa lagu. Aku bersyukur banget karena apa yang kukhawatirkan di awal (tentang nada yang selalu gagal masuk), nggak terjadi saat kami perform. Dan yang terpenting, aku sama sekali nggak merasa nervous saat perform. Aku bahkan bisa sedikit berinteraksi dengan penonton tanpa berkata dengan terbata-bata seperti yang sudah-sudah. Bisa dibilang ajaib sih ini. Huhu.. Makasih ya Allah :')
BTW, saat kami perform kemarin, ada seorang penonton cewek berwajah manis (yang sepertinya merupakan karyawan kantor cabang Tasik) yang terus memperhatikanku. Setiap kali pandangan mataku tertuju ke dia, dia selalu tersenyum. Rasanya seneng deh kalo lagi perform diperhatiin kayak gitu. Kayaknya dia ramah sih orangnya. Hmm.. Jadi pengen temenan deh.

Setelah seluruh peserta berkumpul, acara inti pun dimulai yang dibuka dengan pemberian sambutan-sambutan, kemudian dilanjut dengan pengumuman pemenang lomba fotografi (yang nantinya akan dimuat di kalender perusahaan), pengenalan sistem pembayaran yang terbaru (FYI buat yang belum tau, kami adalah perusahaan yang bergerak di bidang cash & kredit), dan pembagian doorprize. Pembagian doorprize ini tentunya nggak dilakukan sekaligus, melainkan diselingi oleh penampilan band kami. Yang paling kusukai adalah momen ketika kami membawakan salah satu jingle perusahaan yang berjudul Bersama Kita Bisa. Saat itu seluruh peserta diminta berdiri sambil bernyanyi bersama. Rasanya seneng banget melihat rekan-rekan yang bernyanyi dengan semangat, khususnya rekan-rekan dari kantor cabang Cirebon. Ketika aku menyanyikan bagian lirik, "Kita rayakan.." kemudian kuserahkan microphone ke arah mereka yang serempak menyambut dengan lirik, ".. BERSAMA KITA PASTI BISA". Acara berakhir menjelang magrib diiringi lagu pamungkas berjudul Kemesraan dengan latar belakang sunset. Huhu.. syahdu banget..

 
Sementara sinar surya perlahan mulai tenggelam
Suara gitarmu mengalunkan melodi tentang cintaaa..


Setelah acara selesai, kami pun nggak menyia-nyiakan waktu. Mumpung matahari belum sempurna tenggelam, kami pun berfoto dengan sunset sebagai latar belakang. Uuh.. benar-benar momen yang aku inginkan dari dulu deh :')



MUSTunable dan fans. Wkwk..



Setelah seluruh peserta bubar, aku dan teman-teman dari MUSTunable pun bersiap-siap kembali ke bus. Karena kami malas turun ke parkiran dengan berjalan kaki, akhirnya kami pun sepakat menumpang mobil Pak Faisal. Tapi sayangnya, ditengah perjalanan turun, mobil kami terjebak macet.
"Gimana nih?" teman-temanku mulai bimbang.
"Ya udah, jalan kaki aja yuk. Daripada kejebak macet gini".
Akhirnya aku, Inggit, Ryan, Mas Febri, dan Badar pun memutuskan keluar dari mobil Pak Faisal dan turun ke parkiran dengan berjalan kaki, sementara Mister Chokai tetap bersama Pak Faisal. Namun sial, bus-bus kami rupanya sudah bergerak. Kondisi lokasi yang sulit sinyal membuat komunikasi kami dengan rekan-rekan kami yang lain terhambat. Alhasil kami berlima pun berlari-larian hilir mudik mencari bus kami.
"Ngenes banget ya kita, artis kok gini amat nasibnya".
" Iya, udah manggung nggak dibayar, sekarang malah ditinggal bus".
Kami ngedumel sepanjang jalan. Yah, sambil ketawa-ketawa juga sih karena geli sendiri sama nasib kami. Syukurlah, bus kami masih belum jauh dari area parkir. Sesampainya di bus, kami malah diketawain sama rekan-rekan. Huhu..

Kami pun melanjutkan perjalanan untuk mencari oleh-oleh. Waktu itu waktu menunjukan sekitar pukul sepuluh malam. Bus kami berhenti di area parkir Ngabean. Dari situ, seluruh peserta tour berpencar-pencar. Aku, Bu Lia, Bu Hani, Mbak Tika, Bu Yeyen, dan Mbak Selvi pergi ke pusat oleh-oleh dengan menumpang bentor. Kami berhenti di salah satu toko oleh-oleh. Teman-temanku pun langsung mengambil keranjang untuk berbelanja, sementara aku menunggu di luar setelah nggak menemukan apa yang kucari di toko itu, yakni kue mochi dan wingko babat. Lho, kenapa nggak beli bakpia kayak yang lain? Karenaaa beberapa hari yang lalu ibuku juga baru dari Jogja dan membawa pulang beberapa kotak bakpia. Makanya aku cari oleh-oleh jajanan yang lain.

Kondisi udara di luar toko itu rasanya pengap banget. Banyak pengemudi bentor yang mangkal disitu. Asap knalpot dan rokok berbaur jadi satu, nggak heran kalo jadinya pengap. Setelah teman-temanku selesai belanja di toko itu, kami pun berpindah lokasi untuk melihat-lihat batik dan kaos. Aku nggak ingat nama jalannya, tapi di tempat itu harga barangnya mahal-mahal gitu. Atau apa memang standarnya segitu ya? Habisnya kalo dibandingkan dengan harga barang di pasar yang di dekat Borobudur itu kok jauh banget bedanya. Huhu.. Rasanya pengen banget balik ke pasar itu lagi, karena bahkan hingga ke Malioboro, aku belum juga membeli satupun oleh-oleh.

Ada kejadian mengesalkan ketika kami tiba di Malioboro. Saat itu, Bu Hani ditelepon Bu Ati yang merupakan perwakilan dari salah satu supplier. Dari telepon, Bu Ati meminta tolong untuk dijemput di suatu tempat. Jadi ceritanya, sore tadi Bu Ati berencana pulang duluan ke Cirebon dengan menumpang kereta jam delapan. Namun karena situasi dan kondisi yang nggak bisa ditebak, ia terlambat datang ke stasiun dan ketinggalan kereta. Waktu itu sekitar jam sebelas malam, itu artinya Bu Ati sudah sekitar tiga jam kebingungan sendiri di posisinya saat itu.

"Ya udah, Mbak Ati kesini aja, ke titik nol kilometer, depan gedung Bank BNI. Saya lagi disini, bareng Bu Lia, Tika, dan Putri", ucap Bu Hani.
Namun mengarahkannya ternyata nggak mudah. Ada kali satu jam kami disitu, nggak kemana-mana. Bu Hani sudah kesal mengarahkan, Mbak Tika dan Bu Lia ngedumel, aku sendiri bersungut-sungut dalam hati. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk berburu oleh-oleh jadi terbuang hanya untuk menunggu satu orang aja. Bukannya gimana-gimana, hanya aja sebelumnya teman-temanku sudah menyarankan Bu Ati untuk lebih bersabar dan pulang bareng-bareng dengan rombongan, namun ia tetap bersikeras untuk pulang sendiri. Nah, akhirnya terjadi hal yang nggak diinginkan kan. Kalo sudah begitu, bukan dia sendiri yang rugi, tapi kami pun jadi kehilangan waktu.

Kawasan Malioboro saat itu penuh dengan manusia, mayoritas anak-anak mudah sih. Mungkin karena malam minggu, ditambah lagi hari itu bertepatan dengan pelaksanaan upacara panjang jimat di keraton. Jadi boro-boro deh bisa nunggu sambil foto-foto disana.

Singkat cerita, Bu Ati pun akhirnya menemukan kami. Masih terlihat jelas raut kepanikan di wajahnya. Ia bahkan terlihat hampir menangis saat menceritakan apa-apa yang ia alami dan rasakan saat 'nyasar'. Sambil ngobrol-ngobrol, kami lanjut jalan. Namun sayang, karena waktu sudah larut malam, banyak toko oleh-oleh jajanan yang sudah tutup. Hanya pedagang pakaian dan souvenir yang tampak masih banyak menjajakan dagangannya, selebihnya adalah pedagang-pedagang makanan seperti bakso, telur gulung, gudeg, dan sebagainya. Aku menghampiri salah satu pedagang kaus dan membeli dua helai kaus. Kaus biru oleh-oleh untuk bapak, dan kaus putih oleh-oleh untuk Mas Pacar (plus beberapa buah cenderamata dalam kotak kecil berhias pita hijau). Muehehe..
"Orang Jogja kok dikasih oleh-oleh dari Jogja", kata dia. Masih untung dibawain oleh-oleh kamu tuh, Mas 😛

Sekitar jam setengah dua dini hari, kami baru kembali ke bus untuk pulang ke kota kami, Cirebon. Awalnya aku sempat kecewa sih karena nggak bawa oleh-oleh jajanan buat orang-orang rumah. Tapi ketika bus kami berhenti di salah satu rest area di Semarang, aku melihat sebuah kios yang menjajakan oleh-oleh jajanan gitu, jadi aku memutuskan untuk membeli oleh-oleh disitu. Aku membeli dua kotak kue mochi dan dua bungkus wingko babat. Alhamdulillah, akhirnya dapat juga apa yang dicari walau bukan dari Jogja. Hehe..

Kami baru tiba di Cirebon hari Minggu sekitar jam tujuh pagi. Setibanya di rumah, setelah membagikan oleh-oleh kepada orang-orang rumah, aku langsung mandi. Seger banget rasanya, ya ampun. Maklum, dua hari nggak mandi. Wkwk.. Habis itu tidur deh sampai sore, nyenyak banget kayak orang pingsan. Saking apanya coba 😂

Total Tayangan Halaman

 
;