Selasa, 09 Februari 2021 0 komentar

CHAPTER III : Menjelang Sepasang

Hal yang pertama kami lakukan setelah mendapat restu dari orangtua adalah : menyusun daftar seserahan. Selanjutnya setelah itu, kami menentukan tanggal pernikahan. Sebenarnya aku ingin pernikahan kami digelar pada hari Jum'at yang kupercaya sebagai hari baik, atau pada 'tanggal cantik' 210121. Namun jika digelar pada hari Jum'at, acara kami tentu akan dijeda dengan waktu sholat Jum'at. Sedangkan jika digelar pada tanggal 21, aku akan diprotes teman-temanku karena menggelar hajatan di tanggal tua sekaligus weekday dimana kegiatan kantor sedang sibuk-sibuknya. Wkwkwk. Akhirnya kami pun memutuskan untuk menggelar hari pernikahan pada Sabtu 09 Januari 2021.

Karena status kami merupakan pekerja yang sama-sama disibukkan dengan aktifitas dari pagi hingga sore, maka sebagian besar keperluan seserahan kami dapatkan dengan pembelian melalui online shop. Mas mentransfer uang, sementara aku bebas memilih barang yang kusuka. Uhuy, ternyata begini rasanya menghabiskan duwit orang. Wkwk.. Engga deng. Budgetnya dibatasi, tentu saja 😝 Setelah barang-barang keperluan seserahan itu terkumpul, kami menyerahkannya pada Bibi Cicih, adik ibuku yang bisa mengemas dan menghias barang-barang seserahan dengan cantik. Targetnya, awal bulan Januari semuanya sudah rampung dikemas. 

Dalam menentukan desain undangan, rasanya nggak sulit. Kebetulan aku dan Mas sama- sama menyukai warna hitam. Dan karena kami dipertemukan pertama kali oleh musik, di tempat les musik, dan kemudian bertemu kembali di studio musik saat aku bergabung dengan bandnya, rasanya kurang afdol jika undangan kami nggak mengusung tema musik. Maka undangan dengan background hitam bermotif notasi dan tuts piano hitam-putih menjadi pilihan kami.

Perihal cenderamata untuk tamu pun, awalnya kami berencana memberikan cenderamata yang juga bertema musik. Namun cenderamata dengan tema musik yang banyak dijual dengan harga terjangkau (bahkan bisa dibilang sangat murah) adalah ganci alias gantungan kunci, dan karena harganya yang sangat murah ini maka bahannya pun juga kurang bagus, terbuat dari bahan karet. Ibuku nggak menyukainya. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli cenderamata yang lebih berguna, yakni bolpoin (karena benda ini adalah benda yang sangat berharga buat teman-teman kantor, mengingat benda ini adalah yang paling dibutuhkan sekaligus yang paling sering hilang), pisau pengupas buah, dan lemonade spoon yang semuanya dikemas dalam kotak mika agar terlihat lebih cantik. Yaa sebenarnya tetap ada siiih cenderamata berupa ganci, yakni ganci berbentuk boneka dan ganci motif alat musik yang berbahan resin gitu. Lho, kok tetap beli cenderamata ganci?
Jadi, ganci berbentuk boneka itu dibuat langsung oleh salah satu kerabat Mas yang memiliki usaha kecil-kecilan berupa kerajinan tangan bros dan ganci dari kain flanel. Yah, hitung-hitung kami membantu usahanya itu. Sedangkan ganci bermotif alat musik itu sebenarnya semacam iseng aja sih, sekadar tambahan barangkali cenderamata yang kami sediakan kurang. Wkwk.

Yang cukup sulit adalah ketika mencari Make Up Artist (MUA). Tentunya kami menginginkan MUA yang mampu memberikan hasil baik dengan budget yang terjangkau. Hihi..
Kami mencari informasi sana-sini, entah itu bertanya pada kerabat ataupun teman, atau bertanya langsung pada MUA yang kami temukan lewat media sosial. Setelah bertanya sana-sini, akhirnya kami mendapatkan seorang MUA berdasarkan rekomendasi salah seorang tetangga Mas yang pernah menggunakan jasanya. MUA ini menyediakan paket pernikahan dengan fasilitas cukup lengkap dan harga yang terjangkau. Hasil make-up nya pun cukup bagus, dan koleksi pakaiannya cantik-cantik. Awalnya aku sempat ragu menggunakan jasa MUA ini, karena ia merupakan seorang transpuan. Meskipun dirinya (mungkin) nggak memiliki ketertarikan seksual terhadap perempuan, tapi tetap aja rasanya nggak nyaman memperlihatkan aurat padanya saat berganti pakaian. Namun ketika mengetahui bahwa pergantian pakaian nantinya dibantu oleh asistennya yang seluruhnya perempuan, aku jadi lebih lega.

***

Pada tanggal 30 Agustus 2020, aku dan Mas meresmikan hubungan kami. Keluargaku dan keluarga Mas menggelar acara pertemuan. Acara yang dilaksanakan waktu ba'da Ashar itu digelar di rumahku. Meski aku hanya duduk diam dan mendengarkan orang-orang tua berunding, namun rasanya tetap aja gugup. Alhamdulillah, proses khitbah itu berjalan dengan lancar, meski ada dua kejadian lucu yang terjadi di tengah prosesnya.

Yang pertama adalah ketika kami semua duduk bersila di atas karpet yang digelar di tengah ruangan, alih-alih duduk berdampingan, aku dan Mas malah duduk terpisah. Hal ini tentunya terjadi di luar kehendak kami. Sebenarnya kami ingin sekali duduk berdampingan, namun karena setelah para tamu dipersilahkan duduk, nggak ada lagi celah yang memungkinkan kami untuk duduk berdua, akhirnya kami pun duduk dimanapun yang akhirnya membuat kami jadi duduk berseberangan. Hal ini membuat beberapa kerabatku bingung dengan siapa calon suamiku, padahal aku dan Mas mengenakan batik dengan warna dan motif yang sama hari itu. Entah mereka nggak ngeh atau gimana. Sepupuku mengira calon suamiku adalah A Billy, salah seorang teman baik Mas, karena hari itu dia duduk tepat di sebelahku. Wkwkwk.

Yang kedua adalah di momen puncak ketika Mas menyematkan cincin di jari manisku. Ketika itu kami terlalu gugup sehingga momen itu terjadi begitu cepat dan terburu-buru. Mereka pun memprotes kami karena nggak sempat mengabadikan momen itu. Akhirnya momen penyematan cincin itu pun harus diulang di halaman depan rumahku (untuk sekadar difoto aja sih) 😂

Minggu 15 November, aku dan Mas melakukan pemotretan pre-wedding (sebenarnya bukan pre-wedding juga sih, karena lebih simple) di sebuah studio foto. Kami memilih studio foto itu karena review-nya yang cukup baik di Instagram.

Dua minggu sebelumnya, aku menghubungi pihak studio untuk memesan sebuah paket couple sekaligus mentransfer uang muka. Jadwal pemotretan kami jam dua siang. Ketika tiba hari itu, kami tiba satu jam lebih awal dari jadwal pemotretan kami. Sesampainya disana, kami meminta pada Mbak Admin agar ditunjukkan dressing room untuk mengganti pakaian dan berdandan (karena itulah alasan kenapa kami tiba satu jam lebih awal). Setelah diminta menunggu selama beberapa menit, kami pun dipersilahkan naik ke lantai dua. Tangga menuju lantai dua mengantarkan kami pada sebuah ruang yang dipergunakan sebagai ruang tunggu. Di bagian kanan dan kiri ruang tunggu tersebut, terdapat ruangan lain. Ruang sebelah kanan tampaknya adalah ruang studio foto yang sedang direnovasi, atau mungkin ruang studio yang baru dibuat karena terlihat agak berantakan. Sedangkan ruang sebelah kiri merupakan ruang studio foto yang kami kira akan menjadi tempat dimana kami melakukan pemotretan. Ya, kami kira.

"Sebentar ya, A, masih ada pemotretan anak-anak wisuda", ucap seorang karyawan studio ketika melewati kami berdua. Kami bisa mendengar suara-suara cempreng nan riuh dari ruangan yang karyawan itu maksud, membuatku yakin bahwa peserta pemotretan itu pastilah perempuan semua.
"Iya, A, santai aja. Oh ya, ini kalo mau ganti baju dan dandan dimana yah?" tanya Mas.
"Disitu aja, A", karyawan tadi menunjuk ruangan satunya.
"Oke terimakasih, A".
Aku pun mengecek ruangan yang dimaksud karyawan tadi, ruangan yang kusebut agak berantakan tadi, padahal sebelumnya kukira studio mereka memiliki dressing room. Sayangnya ketika aku mengecek ruangan tersebut, aku melihat disana terdapat beberapa tas dan barang-barang yang sepertinya milik anak-anak yang sedang melakukan pemotretan wisuda itu. Kami jadi ragu untuk bersiap-siap di ruangan tersebut, karena khawatir jika terjadi kehilangan diantara barang-barang milik mereka maka bisa-bisa kami yang diminta bertanggungjawab. Akhirnya aku memutuskan untuk mengganti pakaian di ruang tunggu tadi. Aku mengenakan gamis berwarna dusty pink dan khimar dengan warna senada, dengan begitu aku nggak perlu melepas pakaianku, cukup dirangkap aja. Sedangkan Mas cukup mengganti jaketnya dengan jas hitam.

Nggak berapa lama kemudian, anak-anak wisuda itu keluar dari ruang studio, namun mereka nggak bergegas mengemasi barang-barang mereka, melainkan selfie-selfie dulu. Kami jadi harus menunggu lagi. Waktu itu sekitar jam setengah dua siang. Masih ada waktu sekitar setengah jam bagi kami untuk bersiap. Aku bukan tipe perempuan yang suka menggunakan banyak jenis make up. Cukup pelembab, BB cream, dan lipstik, aku bisa berdandan kurang dari waktu lima belas menit.

"Mas, masih mau dandan kan si Tetehnya? Ini boleh diseling sebentar nggak buat satu pemotretan aja?" tanya salah seorang karyawan lain kepada kami. Aku dan Mas pun mengangguk. Kemudian Mas menyuruhku untuk segera berdandan. "Kamu dandan disini aja, bisa kan?" katanya.
Akhirnya dengan terpaksa, aku pun berdandan di ruang tunggu dengan bantuan cermin kecil seukuran compact powder yang biasa kubawa. Dan yah, kami kira pemotretan itu benar-benar hanya sebentar seperti yang dikatakan karyawan tadi, namun yang nggak kami duga adalah, mereka melakukan pemotretan bayi, atau mungkin foto keluarga bersama bayi. Bayangkan, pemotretan bersama bayi, Gaes! Ditambah lagi si bayi terus menangis dan orang-orang dewasa yang berada di dalam studio terdengar berkali-kali berusaha menenangkannya.

Wah, bakalan lama nih,
batinku. Hingga jam dua siang, pemotretan itu belum selesai, bahkan si bayi masih belum menghentikan tangisnya. Kukira sepertinya si bayi masih merupakan kerabat dari pemilik studio itu deh, karena kami melihat sang pemilik studio dan anak-anaknya yang kembar beberapa kali keluar-masuk ruangan itu.

Sekitar jam setengah tiga sore, seorang fotografer berkacamata dan berkemeja kuning memanggil kami, dan mempersilahkan kami untuk masuk ke.. ruang sebelah kanan dari tangga. Iya, ruang studio foto setengah jadi itu. Sementara pemotretan bersama bayi di ruang sebelahnya masih belum jelas kapan selesainya. Fotografer berkemeja kuning itu sedikit membereskan ruangan tersebut agar sedikit lebih rapi, dan meletakkan beberapa pemanis agar latar belakang foto terlihat sedikit lebih estetik, yang sebenarnya masih cukup jauh dari estetik menurut kami. Latar belakang foto kami adalah sebuah dinding tanpa cat, melainkan hanya dilapisi semen abu-abu dengan warna yang nggak merata, entah sengaja dibuat begitu atau mungkin dinding itu masih setengah jadi, kami nggak tau. Selain itu kami berpijak di atas kain putih yang sangat kontras dengan warna dinding. Kecewa sih, tapi aku dan Mas nggak berani protes saat itu. Mengingat studio foto itu cukup terkenal di kota kami, kami benar-benar mempercayakan sepenuhnya pada karyawan mereka. Mungkin nantinya foto-foto kami akan mereka edit sedemikian rupa sehingga terlihat estetik seperti yang mereka post di Instagram mereka, begitu pikir kami.

Kami berpose sebanyak sekitar 80 jepretan saat itu. Semua file foto itu ditransfer dari komputer mereka ke flashdiskku, kemudian Mbak Admin meminta kami untuk memilih tiga buah foto dari keseluruhan foto tadi untuk diedit.
"Fotonya ditunggu dua sampai tiga minggu ya, Teh. Nanti kami kirimkan hasil editnya melalui WhatsApp", katanya. Kemudian setelah mengucapkan terima kasih, aku dan Mas pun meninggalkan studio tersebut.

Dua minggu setelah hari itu, foto hasil edit yang mereka janjikan nggak kunjung dikirimkan.
"Lama banget ya. Jangan-jangan mereka lupa tuh, foto kita sama sekali belum disentuh", ucap Mas khawatir.
"Sabar, Mas, kan mereka bilang tunggu dua sampai tiga minggu. Kita tunggu seminggu lagi."
"Tapi masa iya lama banget, ngedit doang".
"Mungkin customer mereka kelewat banyak, Mas. Trus mereka ngeditnya telaten banget gitu, jadi hasilnya bakal bagus banget", aku mencoba terus menenangkan.

Namun setelah menunggu selama tiga minggu, foto-foto itu belum juga dikirimkan. Perasaanku jadi nggak enak, sementara Mas sudah mulai kesal karena foto itu harus segera dicetak untuk dipajang di depan pintu masuk tamu pada resepsi pernikahan kami. Akhirnya aku pun mencoba menghubungi pihak studio lewat pesan WhatsApp,

"Selamat siang, Min. Maaf, untuk foto edit Paket Couple atas nama Putri sudah selesai belum ya? Terima kasih sebelumnya."
"Sebentar yah, Kak, kami cek dulu".


Setelah itu, Si Admin membalas lagi,

"Sudah, Kak".

Namun belum sempat kubalas, Si Admin menghapus pesan tadi. Ia baru mengirimkan pesan lagi satu setengah jam kemudian,

"Foto tanggal berapa, Kak?"

Kujawab,

"Tanggal 15 November, Min".

Setelah itu kembali jeda, nggak ada jawaban. Perasaanku tiba-tiba nggak enak.

Lagi-lagi satu setengah jam, Si Admin baru mengirimkan pesan lagi. Kali ini ia mengirimkan tiga buah file dengan format dokumen. Dengan nggak sabar sekaligus was-was, akupun segera membuka file itu. Dan.. ASTAGAAA.. hasil editan fotonya hampir nggak ada bedanya dong! Mereka cuma sedikit memperhalus tampilan wajah kami dan menghilangkan beberapa bagian warna dinding yang terlihat kontras. Hanya itu. Ya ampuuuunn.. Kalo cuma begitu, ngapain harus capek-capek nunggu tiga minggu kan ya? Aku dan Mas bahkan bisa melakukannya sendiri kurang dari sepuluh menit.
"Bener kan kata Mas, mereka pasti lupa. Foto kita selama tiga minggu pasti sama sekali nggak disentuh, dan hari ini baru ngedit mendadak", kata Mas dongkol.
"Iya, Mas, bikin kapok banget".
Ketika kukirimkan hasil foto studio itu pada ibu, ibu tertawa. Kata beliau,

"Mendingan foto di sawah"

😑

Kecewa banget rasanya, karena yang kami terima sangat jauh dari ekspektasi. Tadinya aku berencana mengungkapkan unek-unekku itu di Google Review, mengutuk-ngutuk kenapa foto-foto yang di-post di Instagram bagus-bagus sementara foto aku dan Mas buluk banget. Tapi Mas mencegahku melakukannya. Katanya, "Kita cukup tau aja. Jangan foto di studio itu lagi".

*** 
 
Minggu 26 November, aku dan Mas melakukan fitting pakaian pengantin. Kami nggak hanya pergi berdua, melainkan ditemani ibu, adikku, dan sepasang suami istri yang merupakan tetangga Mas yang merekomendasikan MUA ini pada kami. Pada saat resepsi nanti, aku dan Mas memiliki tiga kesempatan berganti pakaian. Ketika memilih pakaian pengantin, aku benar-benar gugup. Aku bingung menentukan warna pakaian apa yang cocok untukku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk memilih gaun warna putih, hitam, dan pink. Gaun putih adalah gaun wajib yang dikenakan saat akad. Gaun hitam kupilih karena aku menyukai warna hitam. Dan gaun pink..? Hmm.. sebenarnya aku kurang menyukai warna pink. Bahkan dulu aku sempat membenci warna ini karena terlalu girly dan terkesan cemen. Tapi kali ini aku malah memilih warna itu untuk gaun pernikahanku. Entahlah. Aku merasa sepertinya setiap pengantin perempuan selalu terlihat lebih cerah dan cantik jika mengenakan gaun pink. Wkwk.

Dan yah, kukira aku akan kesulitan mencari pakaian pengantin untuk perempuan dengan postur miniatur sepertiku, tapi ternyata nggak juga. Aku pun cukup puas dengan pantulan bayanganku di cermin ketika mengenakan pakaian-pakaian itu, terlebih ketika mengenakan gaun hitam yang kupilih. Gaun itu memiliki bagian rok yang dilapisi petticoat sehingga mekar seperti sangkar burung. Terlihat indah, meski membuatku sedikit merasa berat dan repot saat berjalan. Tak apalah, toh hanya sekali seumur hidup. Oh ya, rasanya lucu sekali melihat ekspresi Mas yang agak tersipu, entah karena melihat calon istrinya mengenakan pakaian pengantin, atau karena tetangganya terus meledeknya. Wkwk.

***

Awal Januari, aku, Mas, Ibu, dan Bapak mulai membagikan undangan pernikahan, baik itu secara langsung maupun melalui media sosial. Sebanyak 600 undangan disebarkan. Rasanya senang sekali mendapati ekspresi teman-temanku yang sebagian besar tampak kaget menerima undangan dariku, apalagi teman-teman kantor.
"Kok tiba-tiba sebar undangan aja? Kapan pacarannya?" ucap mereka. Kemudian mereka memberondongku dengan serentetan pertanyaan. Ketemu dimana? Pacaran berapa lama? Calonnya tinggal dimana? Hal itu membuatku cukup kewalahan menjawab pertanyaan mereka satu persatu. Tapi benar lho, memang benar kata sebuah postingan yang pernah kubaca di Instagram, lebih baik terlihat jomblo kemudian tiba-tiba sebar undangan pernikahan daripada sering mengumbar kemesraan lalu tiba-tiba putus. Muehehehehe.

***

Pada tanggal 3 Januari, untuk pertama kalinya aku memanjakan diri di salon spa. Aku memilih salon muslimah yang tentunya hanya menerima customer wanita, karena tempatnya nggak bercampur dengan laki-laki dan tentunya lebih private dan nyaman. Kebiasaanku sebelum menyambangi suatu tempat baru adalah melakukan survey, salah satunya melalui IG. Aku tuh paling malas kalo survey tempat pelayanan jasa atau jual-beli barang di IG tapi Si Admin nggak mencantumkan tarif jasa ataupun harga barang yang mereka tawarkan. Wkwk.. Maklum, bukan sultan, jadi memastikan ketersediaan budget adalah suatu kewajiban. Hehe.

Ada beberapa salon khusus wanita di kotaku. Kebetulan dari beberapa salon spa wanita yang kusurvey, tarif pelayanan di salon yang kudatangi ini relatif lebih terjangkau dibanding salon spa wanita yang lain. Salon ini terletak di sebuah komplek perumahan. Di salon spa ini, hanya dengan 100 ribu rupiah aja, kita bisa menikmati tiga dari beberapa pilihan layanan yang mereka tawarkan. Ada pijat, lulur tradisional, totok wajah, body mask, creambath, dan masker wajah. Hanya aja yang disayangkan, lokasi salon itu cukup jauh dari rumahku sehingga ongkos untuk pergi kesana cukup mahal. Agak berat sebenarnya. Haha.. Derita orang yang nggak bisa bawa kendaraan sendiri ya begini nih. Namun untuk kali ini aku mengesampingkan kendala perihal ongkos itu. Gapapa deh sekali-kali. Toh nggak ada salahnya memanjakan diri sebelum berubah status, pikirku.


Sebelumnya aku melakukan reservasi dulu via WhatsApp. Aku minta pelayanan jam satu siang. Aku mengambil sebuah paket treatment khusus calon pengantin yang terdiri dari lulur, pijat, sauna, body mask, ratus V, dan mandi susu. Semua itu aku dapatkan dengan tarif dua ratus lima puluh ribu rupiah, belum termasuk panties atau celana dalam sekali pakai karena hari itu aku nggak membawa celana dalam ganti (maklum, kan baru pertama kali).

Begitu masuk ke area salon, suara lantunan ayat suci Al-Qur'an dari speaker langsung memanjakan pendengaran. Aku tiba tepat waktu. Setelah melakukan konfirmasi pesanan pada Resepsionis, aku diminta menunggu sebentar (sambil ngelus-ngelus kucing peliharaan Owner) sementara Mbak Terapis mempersiapkan ruangan dan perlengkapan terapinya. Setelah itu aku dipanggil dan dipersilahkan untuk menaruh barang-barang bawaanku di loker, kecuali hape. Kemudian Mbak Terapis membimbingku masuk ke sebuah ruangan dengan dua ranjang pijat yang disekat oleh gorden. Ruangan itu cukup nyaman dengan pencahayaan kuning redup dan pendingin ruangan. Nggak ada suara bising yang terdengar. Hanya suara pendingin ruangan dan lantunan murottal yang terdengar sayup-sayup di ruangan itu. Mbak Terapis pun meninggalkanku sebentar untuk mengganti pakaianku dengan sehelai kemben dan panties yang sudah ia siapkan. Aku terdiam sejenak. Entah kenapa saat itu aku bingung. Wkwk. Karena bingung ini sepertinya aku memakan waktu cukup lama hanya untuk berganti pakaian, karena si Mbak Terapis bertanya, "Sudah selesai, Mbak?" sebanyak tiga kali 🤣

Setelah aku selesai berganti pakaian dan menaruh pakaianku di hanger dan lemari penyimpanan barang (yang ternyata memiliki fungsi ganda sebagai pintu geser menuju toilet), Mbak Terapis pun mulai melayaniku. Ia melumuriku dengan body scrub, kemudian memijatku dengan pijatan yang nggak terlalu kuat, tapi juga nggak terlalu lembut. Sambil memijatku, ia mengajakku mengobrol ringan, mungkin maksudnya biar suasana nggak terlalu canggung gitu. Namun karena aku nggak pandai bicara (dan karena nggak berminat untuk mengobrol juga sih), aku pun hanya menjawab seperlunya, tapi bukan dalam artian menjawab ketus lho ya.

Setelah selesai memijatku, Mbak Terapis membimbingku keluar ruang pijat dan mempersilahkan aku untuk masuk ke ruang sauna berbentuk kubus berukuran 1x1 meter yang seluruh dinding dan langit-langitnya terbuat dari kayu, begitu juga dengan pintunya yang memiliki jendela kaca kecil berbentuk persegi. Aroma kayu lembab menguar di dalam ruangan itu. Disana aku duduk sendiri, merasakan suhu ruangan yang berangsur-angsur semakin hangat.

Beberapa lama kemudian, Mbak Terapis kembali membimbingku masuk ke ruangan pertama dan lanjut memberiku pelayanan body mask dan ratus V. FYI, ratus V adalah perawatan tradisional yang dilakukan dengan penguapan atau pengasapan rempah pada organ intim wanita. Pada praktiknya, Mbak Terapis mempersilahkan aku untuk duduk di kursi khusus yang dibawahnya sudah dipersiapkan bakaran rempah. Sekitar lima belas menit kemudian, aku diminta membasuh organ intimku, lalu kembali masuk ke ruang sauna, dan kemudian menikmati pelayanan terakhir dari paket perawatanku hari itu, yakni mandi susu.
 

 
 
Sementara Mbak Terapis menyiapkan wedang jahe hangat untuk kunikmati setelah mandi. Rasanya nyaman dan rileks sekali ketika kubenamkan tubuhku ke dalam bath-tub yang sudah terisi air hangat dengan milk bath dan bunga-bunga. Aku jadi berandai-andai jika aku bisa menikmati semua ini seminggu sekali. Huhu.. 😌


NEXT : Chapter IV - Menghitung Hari
0 komentar

CHAPTER II : Skenario Tuhan

 How I Met Him

"Wuih, suka Paramore ya?" tegurnya waktu itu. Saat itu merupakan hari pertamaku mengikuti les vokal di sebuah Lembaga Pendidikan dan Keterampilan dalam bidang musik (yang juga memperjualbelikan berbagai alat-alat musik) di kotaku. Kebetulan ia adalah karyawan disana. Ia menegurku saat dirinya melihat logo band Paramore di hoodie yang kukenakan hari itu. Setelah itu terjadilah perbincangan antara kami. Ia bercerita bahwa bandnya cukup sering membawakan lagu-lagu mereka.
"Kapan-kapan kita coba kolaborasi deh ya", katanya. Kami pun bertukar nomor kontak. Namun 'pertemanan' kami rupanya hanya sekedar lewat. Seiring berakhirnya masa les vokalku (yang sangat singkat karena berlangsung hanya tiga hari), berakhirlah pula pertemanan kami, karena beberapa hari setelah aku berhenti les, sepertinya ia menghapus nomorku (karena status WhatsApp-nya nggak pernah muncul lagi). Kami bahkan sama sekali nggak pernah chatting. Wkwkwk.

Namun sepertinya, kata-katanya yang tampak hanya sekedar basa-basi itu didengar Tuhan. Setengah tahun setelah itu, Tuhan mempertemukan kami kembali secara nggak sengaja. Satu hari sebelum hari ulang tahunku yang keseperempat abad, seseorang mengirimiku direct message melalui Instagram. Ia menuturkan bahwa bandnya tengah mencari vokalis baru, dan bermaksud mengajakku untuk bergabung. Sebelum menyetujui ajakannya, terlebih dahulu aku mencari tau mengenai band ini. Ketika itulah aku terkejut, mengetahui bahwa Mas adalah salah satu personilnya.

Kalo kamu berpikir apakah hal ini di-setting, atau mungkin Mas sendiri yang meminta temannya untuk mengirimiku direct message itu, jawabannya adalah enggak, karena pada pertemuan pertamaku dengan para personil band tersebut, Mas sendiri lupa bahwa kami pernah bertemu dan pernah ngobrol sebelumnya (iya, dia memang sedikit pelupa. hahaha..). Atau mungkin benar, pertemuan kami memang di-setting. Tuhan lah yang men-setting itu semua.


How We Started

Awalnya kami memang nggak lebih dari rekan satu band. Namun diantara para personil, dia adalah yang paling perhatian. Aku seperti menemukan sosok abang dalam dirinya. Iya, kuakui, hubungan yang berawal dari kakak-adikan ini memang sangat klise. Kami cukup sering mengobrol di telepon, membicarakan hal-hal yang sebenarnya nggak penting. Karena aku bukan tipe pencerita, maka aku yang paling sering mendengar cerita-ceritanya; tentang teman-temannya, tentang bandnya, tentang mantan-mantannya, terkadang ia iseng memintaku memperkenalkan dirinya pada teman perempuanku yang single.

Aku pernah memperkenalkannya pada salah satu temanku yang saat itu tengah mengalami sulit move on. Namun perkenalan mereka nggak berlanjut karena ditentang oleh keluarga temanku yang nggak berkenan apabila dirinya dekat lawan jenis yang bertitle 'anak band'.

Singkat cerita, pada Oktober 2019, ia datang ke rumah. Rasanya lucu melihat dirinya yang biasanya tampil cuek dengan kaos dan ripped jeans, hari itu mengenakan kemeja biru rapi, karena tujuan utamanya hari itu memang bukan untuk menemuiku melainkan menemui bapak dan ibu untuk mengutarakan niatnya menjalin hubungan serius denganku. Jujur, sebagai seorang perempuan, aku sangat kagum dan terharu, karena selama dua puluh lima tahun aku hidup, dialah orang pertama yang berani menghadap orangtuaku untuk melakukan hal yang hanya bisa dilakukan oleh laki-laki sejati. Tapi ironisnya persepsi negatif terhadap 'anak band' ini ternyata juga dimiliki oleh orangtuaku. Padahal anak perempuan mereka yang satu ini pun mulai berkecimpung dalam dunia anak band pula. Well, sebagai orangtua, mereka tentu menginginkan seorang menantu laki-laki yang lebih baik dari anak perempuannya, seorang menantu yang kelak mampu menjadi imam yang baik bagi anaknya. Jadi tanpa kusebutkan pun, sepertinya Teman-teman Pembaca bisa menerka lah ya apa respon orangtuaku saat itu. Namun apa yang terjadi sejak hari itu nggak lantas membuat kami menjaga jarak. Hampir setiap pulang mengajar les musik di akhir pekan, ia mengunjungiku ke rumah. Intinya, kami masih keep in touch, meski pada akhirnya di awal tahun 2020, jarak diantara kami perlahan-lahan tercipta.

Our Decision

Selama kami menjaga jarak satu sama lain, aku sempat dekat dengan dua orang laki-laki yang kebetulan keduanya merupakan teman satu kantor. Satu orang merupakan karyawan senior yang tahun 2016 lalu pernah mencoba mendekatiku dan kali ini mencoba mendekatiku lagi; sedangkan yang satunya lagi merupakan karyawan baru yang mengingatkanku pada tokoh Dilan karena dirinya memiliki sisi manis dan puitis tapi juga agak rebel. Begitu juga dengan Mas Agus yang sempat dekat dengan beberapa orang perempuan. Namun masing-masing dari kami nggak pernah memulai hubungan baru dengan siapapun dari mereka karena nggak menemukan kecocokan. Kecuali antara aku dan 'Si Dilan' yang kusebutkan tadi, karena menurutku sebenarnya dia sangat boyfriend material. Hanya aja aku memiliki alasan tersendiri mengapa aku nggak memutuskan untuk menjadikannya pasangan :)

Pada Agustus 2020, Mas kembali menghubungiku (setelah sebelumnya ia sempat memblokir nomor kontakku). Hari itu bertepatan dengan hari ulangtahunnya, dan untuk kedua dan terakhir kalinya ia 'memintaku'.
"Saya pingin (menjalin hubungan) serius sama kamu. Niat saya baik. Sekali lagi, terakhir kalinya, pikirkan ini dengan matang, yakinin ibu ya," katanya waktu itu.

Kalimat itu terus berputar-putar di kepalaku. Dalam setiap doaku, aku terus meminta agar Tuhan membimbingku untuk membuat keputusan terbaik. Aku juga mencoba berbincang dan meminta saran dari orangtuaku. Hingga pada akhirnya ibuku berkata, "Kalo sampai sekarang dia masih 'meminta' Teteh, insya Allah berarti dia benar-benar sayang sama Teteh. Bismillah, semoga dia memang jodoh yang baik buat Teteh".

Ya, dengan kata lain, orangtuaku merestui aku dengan Mas.

Hari itu hari Jum'at, hari yang kupercaya sebagai hari terbaik dari semua hari. Dengan mantap, aku menyampaikan berita itu padanya, dan ia sangat, sangat, sangat bahagia.
"Besok ulangtahun mama. Ini jadi hadiah ulangtahun terbaik buat mama," katanya. Aku terharu.


Dan dimulailah persiapan-menjelang-sepasang kami yang bagai permen Nano-Nano. Hal-hal menyenangkan, menggelikan, mengesalkan, dan menyesalkan, semua kami rasakan selama mempersiapkan pernikahan kami yang kelak akan menjadi momen yang selalu kami ingat dan sesekali kami bahas dalam perbincangan ringan.

NEXT : Chapter III - Menjelang Sepasang

1 komentar

CHAPTER I : The Beginning

Beberapa tahun silam, tepat di hari dimana aku memasuki usia kepala dua, aku pernah memposting tulisan yang mengutarakan kebimbanganku untuk menikah dan membangun rumah tangga seperti perempuan-perempuan seusiaku. Maka ketika perempuan-perempuan seusiaku sudah mulai atau bahkan beberapa kali menjalin hubungan dengan lawan jenis, aku justru menikmati menjadi seorang quirky alone selama bertahun-tahun. Aku cukup bahagia hanya dengan perasaan suka terhadap lawan jenis tanpa harus menjalani hubungan asmara yang belum tentu membuatku bahagia. Aku selalu dihantui oleh kisah kehidupan rumit dunia pernikahan yang kulihat di program televisi dan kudengar dari orang-orang di sekitarku. Perselingkuhan, perceraian, suami toxic, mertua galak, saudara ipar jahat..

Karenanya aku selalu berusaha menghindari topik-topik berbau masalah rumah tangga seperti itu, khususnya tayangan-tayangan drama televisi yang seringkali menyisipkan konflik rumah tangga yang terlalu berlebihan.

Aku pernah berpikir, jika suatu saat aku menikah, aku hanya ingin menikah dengan si Pretty Boy. Iya, kakak kelas yang pernah kuceritakan dalam postinganku tahun 2016 silam ini : Klik disini untuk melihat postingan. Karena di mataku, ia seperti sesosok manusia tanpa cela. Namun takdir tetaplah takdir. Bukan namaku yang tertulis di Lauhul Mahfudz untuknya. Nyatanya Tuhan menyandingkan ia dengan sosok yang juga sempurna. Hingga beberapa tahun kemudian, Tuhan mempertemukan aku dengan dia, Agus Mulyana Putra Setiawan. Sebuah pertemuan yang nggak pernah kusangka akan mengantar kami berdua pada titik ini, dimana kami membuat keputusan terbesar dalam hidup kami. Keputusan untuk melakukan perjalanan sekaligus ibadah terpanjang dalam hidup kami.



Ya, yang akan kutulis ini adalah sebuah kisah yang cukup panjang, karenanya aku membagi tulisanku ini kedalam beberapa bagian agar nggak terlalu panjang dan membingungkan. 

 

Klik untuk membaca :
Chapter II
Chapter III
Chapter IV
Chapter V

Jumat, 01 Januari 2021 0 komentar

New Year : 2021

Tahun 2020 telah usai, dan ya.. aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang berpikir betapa menyebalkannya tahun ini. Bagaimana enggak? Baru memasuki awal tahun, kita digemparkan dengan adanya pandemi C*v*d-19. Di awal kemunculannya, aku sempat mengalami paranoid dan kecemasan berlebihan. Saking paranoid dan cemasnya, aku bahkan berpikir bahwa hidupku akan berakhir tahun ini. Wkwk.. konyol sekali.

Kalo sekarang, aku sudah nggak separanoid dan secemas dulu sih, tapi bukan berarti aku mengabaikan protokol kesehatan. Yah, hanya lebih tenang aja menghadapi pandemi ini. Hanya aja rasa kesalnya tetap ada. Pandemi ini membuat banyak hal berubah. Ingat kan ketika lockdown dan PSBB beberapa bulan lalu? Ruang gerak kita menjadi terbatas. Euforia Ramadhan dan Idul Fitri nggak lagi sama seperti dulu. Nggak ada acara berbuka puasa bersama teman-teman dan keluarga besar, nggak ada jabat tangan, nggak ada silaturahmi. Aku dan keluarga besar dari pihak ibu selalu bersilaturahmi ke rumah kerabat-kerabat di Kuningan setiap tahunnya, tapi tahun ini enggak. Sepi banget rasanya.

Masa PSBB juga membuat aku yang nggak membawa kendaraan pribadi menjadi sangat repot. Jalan-jalan ditutup, angkot menjadi sangat jarang ditemui, sementara tarif ojek online menjadi lebih mahal. Sebal rasanya ketika pergi dan pulang kerja menjadi terlambat karena terlalu banyak waktu yang terbuang hanya untuk menunggu angkot. Huhu.

Namun meski rasa kesalnya lebih dominan, tetap ada hikmah yang bisa dipetik di tahun ini. Tahun ini banyak mengajariku rasa syukur. Bersyukur karena perusahaan tempatku bekerja masih mampu berdiri ketika sekian banyak perusahaan collapse disapu pandemi, bersyukur karena aku masih diberi kesempatan untuk tetap bekerja ketika banyak pegawai perusahaan yang dirumahkan. Melihat fenomena menyedihkan ini, aku benar-benar merasa menyesal karena sebelumnya sering mengeluh tentang pendapatan yang kuterima dari pekerjaanku. Kini aku sadar bahwa bisa jadi pekerjaan yang kukeluhkan adalah pekerjaan yang orang lain inginkan.

Daaaan yah, rupanya meski terbiasa menjadi anak rumahan, ada kalanya di masa pandemi dan lockdown kemarin aku merasa sangat bosan dan ingin melakukan apa yang dulu cukup sering kulakukan di luar rumah. Aku kangen jalan-jalan bareng temanku, Tri. Aku kangen berboncengan naik motor dengannya; hunting jajanan, menemaninya membeli CD drama Korea di Pasar Balong atau membeli kuteks di Heartwarmer, atau meski hanya sekedar mutar-mutar nggak jelas karena hanya dengan hal itu pun kami bisa cukup terhibur dengan hal-hal aneh yang kami temui di jalan. Aku kangen curhat face to face bersama Rohayati, atau mendengar celoteh Putri Ayu. Aku kangen pergi karaoke sendirian, memesan Small Room selama dua jam dan berteriak-teriak sesuka hati untuk melepas penat. Aku kangen nongkrong di outlet fast food, meski hanya sekedar untuk menyesap es kopi susu atau minuman dingin dengan toping es krim sambil menunggu jadwal nge-band. 

Kini masa PSBB sudah berlalu. Kegiatan ngeband sudah bisa kembali dilakukan, meski hanya sekedar latihan dan nggak ada manggung. Aku menginjakkan kaki terakhir kali di atas stage bersama MUSTunable pada tanggal 16 Agustus lalu saat kami mengisi acara peringatan kemerdekaan RI di wilayah tempat tinggal Mister Chokai (FYI : 'Mister Chokai' adalah panggilan akrabku kepada gitaris sekaligus leader kami, karena kalo bicara denganku, ia kadang suka ngenglish nyeleneh gitu. Dia juga kayaknya senang senang aja dipanggil begitu). Okay, back to the topic. Tadinya pertengahan Desember kemarin, kami sempat berencana untuk ikut serta dalam acara Sangkan Park Music Festival. Namun melihat pesertanya yang berjumlah ratusan, belum lagi penontonnya yang bisa jadi nggak kalah banyak, Pak Yosep melarang kami ikut karena terlalu beresiko di masa pandemi ini. Akhirnya kami pun batal ikut serta. Kegiatan nongkrong dan karaokean juga bisa kembali kulakukan kalo aku mau (dan ada budget lebih tentunya. wkwk). Aku juga sudah mulai bisa meet up bersama Rohayati.

Namun sedihnya, aku merasa hubungan pertemananku dengan Tri dan Putri Ayu sedikit merenggang. Khususnya dengan Ayu. Sedih rasanya mengingat betapa dulu, aku, Rohayati, dan Ayu sering meet up seenggaknya sekali dalam sebulan. Tapi kali ini yang kuingat, aku dan Rohayati terakhir kali bertemu dengannya pada tanggal 27 Desember 2019. Itu artinya selama setahun penuh kami nggak ketemu dia. Aku dan Roha masih nggak habis pikir kenapa begitu sulit bagi kami untuk ketemu dia, padahal kami masih berada di kota yang sama. Setiap kali diajak meet up, ada aja alasannya, seolah-olah dirinya nggak memiliki waktu luang. Well, aku dan Roha tau betul, Ayu adalah perempuan yang sangat rajin. Setiap hari ia selalu disibukkan dengan pekerjaan rumah, karena sepeninggal ibundanya sembilan tahun silam, hampir seluruh pekerjaan rumah ia yang mengerjakan. Tapi meskipun sibuk, ia selalu antusias setiap kali kami merencanakan pertemuan. Dan kalo sudah bertemu, ia bahkan bisa memberikan seluruh waktunya pada hari itu untuk kami habiskan bersama. Namun semenjak pandemi ini, ia jadi sulit diajak janjian. Alasannya kalo nggak sibuk, ya karena kekhawatirannya terhadap penularan virus C*v*d19 dari luar dan ayahnya nggak mengijinkan ia keluar rumah. Awalnya aku dan Roha bisa memaklumi, tapi lama kelamaan kami heran juga. Kalo soal sibuk, aku dan Roha juga sibuk kok, terlebih Roha yang sudah berstatus sebagai ibu rumah tangga beranak satu. Tapi kami masih bisa meluangkan waktu untuk bertemu kok. Kalo soal kekhawatirannya terhadap penularan virus C*v*d19 dari luar sehingga ayahnya nggak mengijinkan ia keluar rumah, aku rasa itu nggak make sense mengingat dirinya sering kedatangan saudara dari luar kota. Ia bahkan pernah update status jalan-jalan bersama mereka ke sebuah wisata danau di kabupaten. Aneh aja, orang-orang dari daerah sendiri di waspadai, tapi dirinya nggak aware sama orang-orang dari luar kota. Ia bahkan menolak untuk foto studio bertiga dengan kostum seragam, padahal itu rencana kami sejak jaman kuliah :') Kami jadi berpikir, apa ia sengaja menjauhi kami ya? Tapi kenapa? Well, aku dan Ayu memang sempat memiliki konflik yang sebenarnya orang-orang terdekat kami pun nggak menganggap itu konflik sih. Aku dan Roha sama-sama berpikir mungkin itu alasannya. Aku pernah meminta maaf padanya jika memang ia sengaja menjauh karena hal itu. Tapi ia mengaku dan bersumpah bawah bukan itu alasannya. Aku dan Roha jadi benar-benar bingung. Yah, sangat disayangkan aja, karena pertemanan kami bukan pertemanan yang hanya dua-tiga tahun.

Lewat pertengahan tahun 2020, begitu banyak hal nggak terduga terjadi yang mungkin akan aku tuliskan di entri terpisah, dan yaahh.. nggak pernah menyangka juga bahwa aku akan secepat ini berada di one step closer to the next life chapter. Well, you'll know. I'll write it ASAP.

Aaah.. entah julukan apa yang pantas disandang untuk tahun luar biasa ini. Dibilang tahun terbaik, tapi dominan kecewa, kesal, dan capeknya. Rasanya setiap hari bawaannya pingin sambaaaat terus. Dibilang tahun terburuk, tapi banyak pelajaran hebat yang didapat. 

Ah, dahlah. Intinya aku sangat bersyukur karena Tuhan masih memberi aku dan keluargaku kekuatan untuk tetap survive di tengah pandemi ini, dan juga berterimakasih atas keajaiban-keajaiban doa yang Tuhan tunjukkan sepanjang tahun ini. Now welcome 2021. Aku cuma berharap tahun ini segalanya berjalan baik, dan pandemi C*v*d19 segera berakhir. So 2021, please, please be good :)

Senin, 07 Desember 2020 2 komentar

Tanpa Rasa

Bulan Desember sudah berjalan satu minggu lamanya. Namun sedih rasanya karena aku harus menyambut bulan di penghujung tahun dengan kondisi tubuh yang nggak fit. Sudah hampir dua minggu lamanya aku mengalami anosmia, yakni kehilangan kemampuan untuk mencium bau dan merasakan makanan.

Hal ini berawal pada hari Rabu pagi tanggal 25 November, aku merasakan gejala flu. Kepalaku pusing dan hidungku panas. Benar aja, sepanjang hari itu hidungku meler sehingga harus menghabiskan berlembar-lembar tisu. Untung nggak bersin-bersin. Hari itu aku menghabiskan segelas besar teh hangat, dan dua cangkir susu hangat, berharap kondisiku segera membaik. Namun sorenya, suhu tubuhku malah meningkat. 

Keesokan harinya, suhu tubuhku sudah turun, tapi kepala dan tenggorokanku terasa sakit. Sebenarnya aku ingin sekali istirahat di rumah barang sehari tanpa harus dipusingkan dengan pekerjaan kantor. Hanya aja hari itu aku harus menyelesaikan Laporan Kehadiran Karyawan dan pembayaran tagihan Jamsostek karyawan. Jadi hari itu aku memaksakan diri untuk tetap berangkat kerja sambil berharap tubuh ini mampu dibawa beraktifitas sampai jam kerja berakhir. Namun saat menyantap semangkuk bubur ayam untuk sarapan, aku baru sadar bahwa lidahku nggak mampu merasakan bubur ayam yang kumakan selain rasa dasar asin dan pedas. Nggak ada rasa gurih kaldu. Bahkan hidungku pun nggak mencium aroma apapun. Saat itu aku pikir wajar karena aku baru aja sembuh dari pilek. Namun hari-hari berikutnya, indera penciumanku belum juga berfungsi normal, padahal hidungku sama sekali nggak mampet, aku juga masih bisa bernapas dengan normal. Kondisi indera penciuman yang nggak berfungsi normal ini tentunya mempengaruhi indera pengecapku. Yang bisa dirasakan oleh lidahku hanya rasa-rasa dasar seperti asin, manis, asam, pedas, dan pahit. Misalnya aku minum minuman rasa cokelat, ya yang terasa hanya manisnya, nggak ada rasa cokelatnya.

Dan seperti biasa, nggak ada jatah libur hari Minggu di akhir bulan. Huhu..
Hari Senin siang 30 November, setelah kuselesaikan tugas-tugas utamaku, aku meminta ijin Pak Benny untuk pulang lebih cepat. Waktu itu aku merasa mual. Mungkin karena masuk angin, karena selama beberapa hari itu aku hanya makan dua butir telur rebus setiap harinya, sama sekali nggak makan nasi. Mungkin juga karena waktu itu aku baru saja mengkonsumsi sebutir tablet hisap untuk sakit tenggorokan yang entah kenapa meninggalkan aftertaste rasa pahit di pangkal tenggorokan.

Sore harinya, hujan turun. Mas Kesayangan datang menjengukku. Padahal di-chat WhatsApp dia berkabar kalo dia OTW pulang setelah bekerja, ternyata datang ke rumah sambil membawa kantong keresek besar berisi roti tawar, susu, buah pir, inhaler, dan vitamin C. Aku terharu, apalagi melihat dirinya berbalut jas hujan yang basah. Sayangnya ia nggak lama berkunjung ke rumah karena ada janji dengan customer-nya.
"Cepat sembuh", ucapnya sambil iseng menempelkan kedua telapak tangannya yang basah di pipiku.

Yah, seperti yang kita tau, bulan November dan Desember adalah 'bulan basah', dimana hujan turun hampir setiap harinya. Aku yang biasanya menyukai 'bulan basah', kali ini sedikit kehilangan antusiasme karena nggak bisa menikmati aroma petrichor :(
Jadi kalo hujan turun, ya rasanya cenderung biasa aja gitu.

Pokoknya banyak nggak enaknya deh dari anosmia ini. Memang sih, nilai plusnya, aku jadi nggak perlu tutup hidung jika aku melewati tempat pembuangan sampah, atau orang lain didekatku buang gas. Tapi tetap aja dominan nggak enaknya. Makan kurang nikmat, nggak bisa mencium aroma yang enak-enak, dan yang lebih parah aku jadi nggak bisa mengetahui apakah orang-orang di sekitarku merasa nyaman berada di dekatku atau enggak. Siapa tau badan atau kaos kakiku bau, tapi karena sedang anosmia, aku jadi nggak sadar. Memang sih, kondisiku sekarang sepertinya mengalami sedikit perkembangan. Pada awal-awal menderita ini, aku nggak bisa mencium bau sama sekali. Tapi dua hari terakhir ini, aku mulai bisa mencium aroma parfum, body scrub, dan body lotion yang kupakai meski masih samar-samar. Tapi tetap aja indera penciumanku belum bisa menangkap aroma yang tipis. Seperti kemarin malam ketika Mas main ke rumah, ia menggendong kitten peliharaanku yang sedang diare. Selesai menggendong si kitten, Mas baru sadar bahwa tangan dan rompi yang dikenakannya bau kotoran kucing. Sepertinya kotoran si kitten menempel saat Mas menggendongnya. Bahkan bukan nggak mungkin kotoran si kitten juga menempel di pakaianku karena sebelumnya si kitten duduk di pangkuanku, cuma akunya nggak nyadar aja. Wkwk..
"Coba deh kamu cium, bau apa engga?" tanya Mas sambil sedikit mencondongkan badan padaku. Namun sedetik kemudian ia baru ingat kalo aku sedang anosmia. Wkwk..
 
Mas sih menyarankanku untuk memeriksakan diri ke dokter. Tapi aku menolak. Ya iyalah, wong aku merasa baik-baik aja kok. Cuma indera penciuman dan pengecapku aja yang bermasalah. Khawatirnya hanya karena satu hal ini, dokter malah mencurigaiku kena C*v*d19. Hih, amit-amit, jangan sampai deh.
 
Yah, aku cukup bersyukur karena meski indera penciuman dan pengecapku belum berfungsi normal, namun seenggaknya mengalami sedikit perkembangan. Aku sih berpikir positif aja, mungkin Tuhan memberiku anosmia ini agar aku lebih rajin menabung dan nggak banyak menghabiskan uangku untuk jajan kali ya. Karena memang setiap kali ke supermarket, aku selalu tergoda untuk jajan keripik kentang, cokelat, atau biskuit gandum. Ke minimarket pun aku sering kepingin jajan es krim. Belum lagi jika Gr*bF**d menawarkan banyak promo diskon. Dan benar aja, karena anosmia ini, aku jadi lebih jarang jajan (plus jarang makan). Huhu.. Semoga aja diri ini nggak semakin kurus deh karena hal ini.

Total Tayangan Halaman

 
;