Minggu, 25 Juli 2021 0 komentar

Menguji Mental, Nonton THE HUMAN CENTIPEDE

Belakangan ini aku mengalami gangguan tidur. Migrain menyerang setiap hari, membuat diri ini selalu ingin berbaring. Hal ini membuatku selalu jatuh tertidur lebih awal, yakni selepas Isya, namun kemudian terbangun di tengah malam ketika Mas sudah tertidur pulas. Kalo sudah begini, biasanya aku jadi sulit buat tidur lagi. Maka untuk menunggu rasa kantuk kembali, aku biasanya memilih untuk scrolling postingan di medsos, menonton Youtube, atau membaca cerita horor.

Namun beberapa hari terakhir ini, aku sedang suka menonton film. Memang nggak berturut-turut sih. Aku melakukan kegiatan itu hanya jika aku terbangun di jam-jam yang nggak terlalu mendekati waktu dini hari. Sejauh ini baru empat judul film yang kutonton. Ada A Quiet Place 2, Rurouni Kenshin : The Final, The Human Centipede 1, dan The Human Centipede 2.

Di tulisan ini, aku ingin sekali membahas tentang dua film yang terakhir kutonton, yakni The Human Centipede 1 & 2 mengingat film ini adalah film yang membuatku penasaran selama bertahun-tahun. 


Aku pertama kali mendengar mengenai film ini dari Teh Tyas, dan itu sudah lama banget, ketika aku masih sekolah dan kami berdua masih saling terhubung di Facebook. Waktu itu kami sedang membicarakan film-film bergenre Thriller dengan adegan-adegan sadis, dan Teh Tyas menyebut film The Human Centipede sebagai salah satunya. Ia berkata bahwa film ini terlalu sadis sehingga dilarang tayang di beberapa negara. Ia sendiri nggak cukup bernyali untuk menonton film tersebut. Ketika itu, aku penasaran, namun rasa takutku mengalahkan rasa penasaran itu, mengingat menonton adegan-adegan sadis di film Rumah Dara saja mampu membuatku mendesis ngilu.

Beberapa waktu lalu, salah satu menfess di Twitter mengangkat topik tentang film ini, dan ternyataa cukup banyak yang bilang bahwa film ini nggak semengerikan yang dipikirkan. Tapi memang film ini akan sangat mengganggu bagi mereka yang nggak kuat menonton adegan sadis dan mudah jijik.

Mengetahui hal itu, rasa penasaranku terhadap film ini kembali bangkit. Aku pikir, sepertinya nggak masalah. Palingan 11-12 ngerinya sama film I Saw The Devil, pikirku, karena film Thriller yang berasal dari Korea tersebut juga penuh dengan adegan sadis dan beberapa adegan menjijikan, namun aku berhasil menontonnya hingga akhir.

Akhirnya, hari Jum'at dini hari lalu, aku mulai menonton The Human Centipede 1.

***

The Human Centipede : First Sequence

Sepasang sahabat asal Amerika, Lindsay dan Jenny, tengah berwisata di Jerman. Nggak ada yang lebih apes dari keduanya malam itu. Dua gadis malang itu tersesat di tengah hutan di dalam perjalanan mereka menuju klab malam tempat di mana mereka akan berpesta. Di tengah kepanikan mereka karena tersesat, ban mobil yang mereka tumpangi kempes, sementara mereka nggak tau gimana caranya mengganti ban, dan mereka juga kesulitan menghubungi layanan perbaikan mobil karena sulitnya sinyal telepon.



Beberapa lama kemudian, sebuah mobil melintas dan menepi di samping mobil mereka. Dua gadis itu berharap pria yang mengendarai mobil tersebut bisa mereka mintai bantuan. Namun alih-alih membantu, pria tersebut malah menggoda mereka dengan kata-kata nggak senonoh. Karena takut, mereka berdua nggak menggubris pria tersebut hingga ia berlalu dari tempat itu.



Nggak tahan berlama-lama di dalam mobil, mereka memutuskan keluar dari mobil untuk berjalan mencari bantuan. Namun lagi-lagi, mereka justru tersesat jauh ke dalam hutan. Di tengah kebingungan dan hampir putus asa, Lindsay melihat sebuah cahaya di kejauhan. Hujan mulai turun. Mereka berlari-lari kecil menuju cahaya tersebut yang rupanya berasal dari sebuah rumah. Lindsey berseru mengucap syukur, tanpa tau bahwa rasa syukurnya kelak akan berubah menjadi penyesalan seumur hidup.

Adalah Josef Heiter yang mendiami rumah tersebut. Ia adalah seorang dokter ahli bedah yang sudah lama pensiun dan memiliki obsesi gila untuk menyatukan tiga manusia dalam satu tubuh. Dan yah, Lindsay dan Jenny yang malang adalah korban dari eksperimen gila ini. Dr. Heiter pun membius mereka dan menahan mereka di basement, tempat sang dokter melakukan prakteknya. Di ruangan tersebut, nggak hanya ada mereka berdua, tapi juga ada seorang pria gemuk yang dr. Heiter culik sebelum mereka. Namun karena dr. Heiter nggak cocok dengan pria tersebut (entah karena alasan apa), dr. Heiter membunuhnya dengan cara suntik mati. Sebagai gantinya, ia menculik seorang pria Jepang bernama Katsuro.


Dr. Heiter membaringkan dan mengikat ketiga korbannya di atas tiga bangsal terpisah. Setelah memperkenalkan dirinya di depan para korbannya, ia menjelaskan secara rinci bagaimana ia akan menghubungkan ketiga tubuh korbannya dari mulut ke anus sehingga mereka berbagi satu sistem pencernaan. Gambarannya begini, tubuh manusia pertama berada di depan dan memiliki mulut untuk makan, kemudian mulut manusia yang berada di rangkaian kedua dijahit pada dubur manusia pertama, dan seterusnya hingga bentuk ketiganya menyerupai kelabang. Sebelumnya, dr. Heiter pernah melakukan eksperimen ini kepada tiga anjingnya. Namun eksperimen pertamanya tersebut gagal karena ketiga anjing yang sudah ia satukan itu tewas. Oleh karena itu, kali ini ia mencoba bereksperimen dengan tubuh manusia.


Maka dimulailah operasi itu. Dr. Heiter menempatkan Katsuro di posisi depan, Lindsay di posisi tengah (posisi paling menyakitkan, dr. Heiter sengaja menempatkannya pada posisi ini karena ia pernah mencoba melarikan diri), dan Jenny di belakang; ia mencabut gigi depan serta bibir Lindsey dan Jenny, kemudian memutilasi bagian bokong Katsuro dan Lindsey; rahang Lindsey dan Jenny disayat membentuk U kemudian mencangkoknya dari daging bagian bokong Katsuro dan Lindsey. Nggak cukup hanya itu, dr. Heiter juga memutuskan jaringan tempurung lutut mereka agar mereka nggak bisa berdiri.

Gila kan? Gila banget. But suprisingly, nggak banyak adegan menjijikan dan berdarah-darah dalam film ini. Bahkan setelah menonton film ini aku berpikir, gini doang? Mana adegan sadisnya? Katanya jijik banget sampai bisa bikin susah makan berhari-hari. Mana?
Yang ada malah geregetan. Gemas sama tokoh Lindsay yang dalam situasi mendesak sempat-sempatnya kepikiran untuk menyelamatkan Jenny yang sedang dalam kondisi pingsan karena obat bius. Jadi ceritanya, di malam sebelum operasi, Lindsay sempat berhasil melepaskan diri dari ikatan di bangsalnya. Namun ia nggak tega meninggalkan Jenny, sehingga ia memutuskan untuk menyeret Jenny keluar dari tempat itu dengan susah payah. Namun baru beberapa meter keluar dari rumah dr. Heiter, sang dokter mengetahui percobaan pelarian itu dan akhirnya membawa mereka kembali ke ruang operasi. Bayangkaaaaann.. berapa lama waktu yang Lindsay butuhkan untuk menyeret Jenny dari basement ke halaman rumah? Tentunya sangat cukup kalo waktu sebanyak itu ia gunakan untuk melarikan dirinya sendiri tanpa membawa Jenny. Daaamn! Lindsay yang bodoh, atau aku yang jahat yah? Huhu..


Mungkin yah adegan sadis dan menjijikan dalam The Human Centipede 1 ini bisa dibilang terlalu sedikit karena dalam operasinya, dr. Heiter tetap mengikuti prosedur pembedahan seperti membius korbannya terlebih dahulu, memakai masker dan sarung tangan bedah selama operasi, dan menggunakan peralatan bedah yang steril. Ia benar-benar melakukan eksperimennya dengan ilmu kedokteran yang mumpuni. Oleh karena itu, bagi penikmat film gore yang mengharapkan banyaknya adegan sadis, sebaiknya nggak berekspektasi lebih terhadap film ini deh yaa.

Karena nggak cukup puas dengan film ini, aku memutuskan untuk menonton film keduanya. 

***

The Human Centipede : Full Sequence

Martin Lomax adalah seorang pria dengan keterbelakangan mental dan gangguan jiwa. Penyakit mentalnya dilatarbelakangi oleh perbuatan ayahnya yang pernah melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya saat masih kecil. Martin Lomax tinggal berdua bersama ibunya yang kasar dan sering menyalahkannya karena ia menganggap Martin lah penyebab suaminya dipenjara. Martin sangat, sangat, sangat terobsesi dengan film The Human Centipede. Ia bisa menonton film itu berulang kali. Ia bahkan memiliki sebuah album yang berisi sketch dan foto-foto adegan film tersebut (semacam kliping gitu), dan menganggap dr. Heiter adalah inspiratornya. Ia sangat kagum dengan ide gila dr. Heiter, dan hal itu mendorong dirinya untuk meniru apa yang dr. Heiter lakukan : menciptakan kelabang manusianya sendiri. Bahkan lebih gila lagi, ia ingin membuat rangkaian 'kelabang' yang lebih panjang dengan dua belas tubuh manusia.


Sehari-harinya, Martin bekerja di sebuah lahan parkir sambil menonton film The Human Centipede berulang-ulang dari laptopnya. Dari tempat ini pula lah ia menculik banyak korban yang kemudian ia sekap di sebuah gudang suram. Ia bahkan tega membunuh ibunya setelah sang ibu merobek-robek album klipingnya. Perempuan tua itu ia pukul berkali-kali di bagian kepala dengan menggunakan linggis hingga tengkoraknya hancur.




Singkat cerita, Martin telah berhasil mengumpulkan dua belas orang manusia. Salah satu diantaranya adalah Miss Yennie, artis yang memerankan tokoh Jenny di film The Human Centipede yang ia tonton. Lho gimana caranya Martin menculik si artis? Jadi si Martin ini berpura-pura menjadi agen casting gitu yang menawarkan Yennie untuk menjadi salah satu pemeran dalam film Quentin Tarantino. Ini menurutku aneh banget sih. Disini kan Yennie berperan sebagai seorang artis yang sudah berpengalaman main film, tapi kok bisa dengan mudahnya tertipu dengan si Martin? Memangnya dia nggak cari tau dulu gitu di internet tentang kebenaran adanya casting film tersebut? Kok mau-maunya dia ketemuan sendirian sama si Martin tanpa manajer artis atau bodyguard gitu? Dan sepanjang film, sama sekali nggak ada adegan Martin menelepon atau menghubungi pihak si artis karena kita cuma diperlihatkan adegan pihak si artis menghubungi Martin melalui voice mail. Aneh banget, banget. Terkesan amat memaksa agar ada alasan si artis kejebak Martin. Pantesan banyak yang bilang film ini film sampah. *Eh 😅

Dan dimulai lah 'perakitan' kelabang manusia oleh Martin. Persiapkan mentalmu untuk adegan berdarah-darah yang lebih banyak disini. Martin memotong jaringan lutut para korbannya satu persatu. Ia juga menggunakan palu untuk merontokkan gigi-gigi mereka. Ia mengiris bokong salah satu korbannya hingga korbannya tersebut kehabisan darah dan tewas. Ya, apa yang bisa diharapkan dari sebuah operasi yang dilakukan oleh seorang pria keterbelakangan mental yang sakit jiwa? Martin bukanlah seorang dokter. Operasi dilakukan di lantai gudang suram yang tentu saja kotor. Dan boro-boro menggunakan peralatan bedah yang steril, Martin menggunakan peralatan seadanya yang ia miliki : perkakas rumah tangga seperti gunting, pisau dapur, tang, corong, selang, palu, stapler besar untuk 'menjahit' mulut, dan lakban. Dan yah, tentu saja tanpa obat bius. Semua adegan operasi diperlihatkan, penuh darah dan teriak kesakitan. Adegan yang paling membuatku ngilu adalah ketika Martin mengiris jaringan lutut, dan memukul gigi-gigi korbannya dengan palu. Ketika gigi-gigi itu rontok hingga mulut sang korban penuh darah, rasanya aku seperti merasakan sesuatu mengganjal di tenggorokanku. Rasanya kayak, ya ampun pingin udahan, tapi penasaran.

Martin memang gagal membuat rangkaian kelabang manusia dari dua belas orang karena dua korbannya tewas saat operasi (sebenarnya salah satunya cuma pingsan, tapi Martin nggak tau), namun Martin cukup puas dengan rangkaian kelabang manusia dari sepuluh orang yang ia ciptakan dengan tubuh Miss Yennie yang berada di posisi paling depan.

Setelah rangkaian itu siap, Martin memulai uji cobanya. Ia memaksa rangkaian itu untuk mulai merangkak. Ia juga menyodorkan mangkuk berisi makanan anjing dan memerintahkan Yennie untuk memakannya. Namun perempuan itu melemparkan mangkuk itu hingga isinya berhamburan. Martin lantas menggunakan corong dan selang untuk menuangkan makanan ke kerongkongan Yennie dengan paksa. Oh ya, karena Yennie terus berteriak-teriak, Martin mencabut lidah Yennie dengan tang agar perempuan itu nggak lagi bersuara. 

Mau tau apa yang paling menjijikkan? Martin yang nggak sabar menunggu para korbannya untuk ekskresi akhirnya menyuntikkan cairan obat pencahar ke setiap korban, memaksa masing-masing dari mereka untuk secara eksplosif mengeluarkan isi perut mereka ke dalam mulut orang di belakang mereka. Saking dahsyatnya 'ledakan' itu, kotoran mereka terciprat kemana-mana, bahkan ke layar yang kita tonton. Sungguh pemandangan yang sangat, sangat, sangat menjijikkan. 

Kini aku tau kenapa film ini bisa dilarang tayang di beberapa negara dan kenapa banyak orang yang nggak kuat menonton film ini, karena adegan-adegannya memang sesadis dan semenjijikkan itu. 

Untungnyaaa film The Human Centipede 2 ini diproduksi dengan cinematografi hitam putih. Bisa dibayangkan gimana kalo film ini diproduksi dengan cinematografi berwarna, dimana kita bisa melihat warna dan bentuk luka, darah, muntah, dan kotoran dengan jelas. Tentu bakal berkali-kali lipat menjijikkan, dan kayaknya aku bakal beneran nggak bisa makan karena terus terbayang, atau bahkan nggak kuat menonton film itu hingga akhir. 

Kayaknya ini film gore tergila yang pernah kutonton deh. Meski ada skenario yang ngaco (tentang bagaimana Martin menjebak Yennie), tapi film ini benar-benar sukses membuat aku dan para penonton di luar sana nggak nyaman hampir sepanjang film. Tapi meski begitu, aku nggak kapok sih untuk menonton film Thriller sejenis ini. Kalo teman-teman ada rekomendasi film gore lainnya, bisa kasih tau aku yah, tapi film produksi tahun 2000's aja. Hehe. 

Jumat, 09 Juli 2021 1 komentar

Sebuah Bingkisan

Hari Rabu lalu, sebuah panggilan suara mampir ke nomor WhatsApp pribadiku. Nomor asing tanpa nama dengan foto profil yang juga asing. Seperti biasanya, aku enggan mengangkat panggilan suara dari nomor yang sama sekali nggak aku kenal. Maka kuabaikan panggilan itu.

Nggak lama kemudian, si pemilik nomor mengirimkan pesan WhatsApp. Rupanya nomor itu milik seorang kurir yang ingin mengantarkan paket untukku. Agak heran juga rasanya karena aku nggak memesan barang apapun dari online shop. Dan kalopun aku membeli barang dari online shop, aku nggak pernah mencantumkan nomor itu. Lewat pesan chat, si kurir mengirimkan foto paket yang ditujukan untukku itu. Dari foto itu lah, akhirnya aku tau darimana paket itu berasal. Salah seorang teman yang kukenal lewat sosial media yang mengirimkannya untukku.

Selanjutnya, mas kurir kembali menghubungiku melalui panggilan suara. Kali ini aku berani menerima panggilannya. Rupanya ia bingung mencari alamatku (alamat orangtuaku sih lebih tepatnya, karena semenjak menikah aku tinggal berdua bersama Mas di daerah lain, namun masih di kota yang sama). Wajar sih, karena si pengirim mencantumkan nama 'Vidia' yang mana nama itu nggak dikenal oleh orang-orang di lingkungan tempat tinggalku, karena mereka mengenalku dengan nama depanku, 'Putri'. Wkwkwk. Akhirnya kuarahkan si mas kurir hingga ia bertemu dengan bapak yang kebetulan saat itu sedang berada di teras. Kuminta padanya agar menyerahkan paket itu pada bapak.

Paket itu baru sampai di tanganku siang ini. Isinya sebuah tas selempang cantik warna coklat. Tifanny yang mengirimkannya. Masya Allah. Sebuah amplop berisi surat hampir luput dari perhatianku, karena Tif meletakannya di luar pembungkus dan di belakang kertas bertuliskan alamat tujuan. Ketika melihat kertas bertuliskan alamat tujuan itu, aku pikir, kok bagian ini terlihat tebal yah? Terlalu tebal kalo hanya untuk menuliskan nama penerima dan alamat tujuan. Bagian itu dilapisi oleh plastik bening. Kubongkar plastik itu, dan benar aja, ada amplop berisi surat terselip di sana. Ucapan dan doa ditulisnya dengan rapi disana. Terharu rasanya.


 

Lebih dari sepuluh tahun silam kami berkenalan via Facebook. Kami nggak pernah bertemu langsung satu kali pun. Selama ini kami lebih sering berkirim pesan chat. Kami pernah bertatap muka lewat video call. Itupun hanya satu kali, tahun 2019 silam. Saat itu aku tengah mengunjungi bazar buku, dan aku menghubunginya lewat video call agar ia juga turut merasakan suasana bazar yang kukunjungi sementara aku memperlihatkan buku-buku yang dijual disana. Namun meski begitu, aku bersyukur karena kami masih berkomunikasi satu sama lain hingga kini meski memang nggak sering.

Terima  kasih bingkisannya, Tif. Tentunya tas ini akan sangat bermanfaat. Semoga pandemi cepat berlalu dan Tuhan memberi kita kesempatan untuk benar-benar bertemu, menyesap kopi bersama sembari membicarakan hal apapun. Bahagia dan sehat selalu untukmu dan keluarga 😊

Rabu, 30 Juni 2021 4 komentar

#27 : Greatest Gift

Awal bulan Juni lalu, tepat di tanggal 1, Tuhan memberiku hadiah besar. Pagi itu, aku mendapati dua garis merah pada testpack yang kugunakan. Tanganku bergetar saat menggenggamnya. Rasanya hampir nggak percaya, ada yang sedang bertumbuh dalam tubuh ini.

Kuusap pelan kepala Mas Kesayangan yang masih terlelap, "Mas.."
Ia hanya menggumam dengan mata yang masih terpejam. Kugoyang sedikit bahunya, "Mas, lihat, lihat!" kataku sambil menyodorkan testpack itu di hadapannya. Ia menggeliat sejenak dan membuka mata perlahan.
"Siap jadi bapak?" kataku lagi dengan suara bergetar. Ia lantas tersenyum, kemudian merengkuhku ke dalam pelukannya sambil mengucap syukur, "Alhamdulillah".

Selanjutnya, aku mengabarkan berita itu pada ibu lewat pesan WhatsApp yang langsung disambut dengan ucapan syukur dan sedikit wejangan. Hihi..

Well, menjelang akhir bulan Mei lalu, aku memang sudah mulai merasa kurang enak badan. Perutku seringkali terasa kembung, terkadang pula terasa sedikit kram, namun haid nggak kunjung datang. Setelah browsing sana-sini, aku dan Mas mulai menduga bahwa aku hamil. Untuk menguatkan dugaan kami itu, diputuskanlah untuk mendeteksinya dengan testpack. Dan rupanya benar aja, hasilnya positif.

Beberapa hari setelah itu, perutku mulai diserang rasa mual. Nggak sampai muntah, tapi cukup membuatku pusing karena terus 'hoekk hoekk'. Nafsu makanku juga berkurang, bahkan es krim Haku Tiramisu yang biasanya menjadi salah satu es krim favoritku nggak lagi terasa nikmat. Dan, ya.. sifat magerku pun semakin meningkat. Wkwk..

Aku sangat bersyukur karena Mas sangat mengerti kondisiku. Sebenarnya untuk urusan pekerjaan rumah, kami memiliki tugas masing-masing. Namun semenjak mengetahui kehamilanku, disamping mengerjakan bagiannya, Mas juga ikut membantu menyelesaikan bagianku. Dan karena nafsu makanku berkurang, rasanya diri ini malas sekali untuk makan nasi, lontong, ataupun bubur sekalipun, tapi nggak menolak untuk makan bakso atau mie instan. Huhu.. Tapi bukan berarti aku makan bakso dan mie instan terus lho ya. Aku tetap mengisi perutku dengan nasi kok (meski seringkali harus disuapi Mas. wkwk..). Selebihnya, aku banyak ngemil biskuit, roti, dan buah.

***

Pada hari Selasa 8 Juni, aku diantar ibu ke Puskesmas untuk pemeriksaan laboratorium. Sayangnya sesampainya di sana, laboratorium Puskesmas sedang digunakan untuk apa gitu, aku kurang tau persis. Intinya aku belum bisa menjalani pemeriksaan laboratorium hari itu. Akhirnya hari Selasa itu, aku cuma ditimbang berat badan (yang ternyata masih bertahan di angka 38 kg sejak terakhir aku menimbang berat badanku tahun lalu. Hiks), diukur lingkar lengan atas, diperiksa tekanan darah, dan mendaftar untuk mendapatkan buku KIA (buku Kesehatan Ibu dan Anak). Ketika itu bidan juga menanyaiku beberapa hal, seperti rencana melahirkan di mana, dan rencana pakai KB jenis apa, yang sama sekali nggak aku duga bakal dipertanyakan. Alhasil kebanyakan dari pertanyaan itu aku jawab sekenanya dan dengan rasa gugup luar biasa. Sebelum keluar dari Puskesmas, bidan memberiku beberapa tablet vitamin yang berguna mendukung perkembangan janin; beberapa tablet obat yang boleh kuminum saat pusing, demam, ataupun mual; dan satu boks makanan tambahan ibu hamil berupa biskuit dengan krim nanas. Aku sebenarnya senang ketika diberi biskuit itu, karena aku pernah melihat postingan menfess Twitter di salah satu base seputar makanan yang menyebutkan bahwa biskuit itu sangat enak. Sayangnya yang aku terima bukan biskuit dengan krim stroberi. Huhu.. 

Kamis 10 Juni, aku dan ibu kembali ke Puskesmas untuk pemeriksaan laboratorium yang tertunda. Pertama-tama, bidan menanyakan apakah aku siap untuk suntik TT atau enggak. Ketika mendengar hal itu untuk pertama kalinya, aku merasa jeri. Aku kira yang disebut bidan adalah suntik tete (suntik payudara), tapi ternyata yang ia maksud adalah suntik imunisasi Tetanus Toxoid. Wkwkwk.
Ketika itulah, setelah bertahun-tahun nggak berhadapan dengan jarum suntik, baru kali ini aku merasakan nyerinya ditusuk jarum suntik lagi. Belum cukup sampai disitu, menjelang pemeriksaan laboratorium, aku kembali disuntik di bagian lipatan lengan untuk diambil sampel darah. Tapi rasa sakit pada bekas suntikan di bagian lipatan lengan ini nggak begitu terasa lagi setelahnya. Berbeda dengan bekas suntik TT yang rasa sakitnya terasa hingga berhari-hari. Aku bahkan sempat menangis di hari ketiga pasca suntik karena rasa sakitnya yang menjadi-jadi. Namun syukurlah, hasil pemeriksaan lab semuanya menunjukkan hasil yang baik. 

***

Kemarin sore, untuk pertama kalinya aku menjalani pemeriksaan USG. Setelah bertanya sana-sini, berdasarkan rekomendasi dari istri salah satu teman Mas, kami pun memutuskan untuk mengunjungi salah satu maternity clinic di kota kami. Waktu itu jam tujuh malam. Ketika sampai di klinik tersebut, aku diminta Staff Admin untuk mendaftar terlebih dahulu. Aku ditanyai beberapa informasi mengenai data diri dan beberapa hal mengenai kehamilanku. Aku juga diminta menimbang berat badan (yang masih stuck di angka 38kg). Alhamdulillah, seenggaknya berat badanku nggak turun. Kami mendapat antrian ke enam, sehingga mengharuskan kami untuk menunggu. Singkat cerita, tibalah giliranku untuk masuk ke ruang dokter. Disitu terdapat meja dokter beserta kursi dokter dan dua kursi untuk pasien dan pendamping, satu buah sofa panjang, satu buah ranjang pasien dan satu peralatan USG di sisinya, satu layar LED besar di depan ranjang pasien, dan satu buah kursi untuk Asisten Dokter. Aku duduk di salah satu kursi di seberang meja dokter, sementara Mas memilih duduk di sofa.

Di sana, aku kembali ditanya beberapa hal oleh dokter. Setelah itu, beliau mempersilahkan aku untuk berbaring di ranjang pasien. Mbak Asisten Dokter membantu menyingkap sedikit pakaianku sehingga hanya bagian perutku yang terlihat. Ia pun mengoleskan semacam gel di atas perutku, yang awalnya aku bingung untuk apa, tapi kemudian aku mengerti bahwa gel itu berfungsi agar kulitku nggak bergesekan dengan transducer. Setelah itu, dokter pun memulai pemeriksaannya. Ia menggerakkan transducer di atas perut bagian bawahku hingga muncul sebuah citra di layar.
"Eh, sudah kelihatan", ucap dokter. Jantungku berdebar. Layar itu menunjukkan sebentuk sosok kecil yang bergerak. Ah, itu calon bayiku yah?

Sebelum dokter menjelaskan, Mas meminta ijin untuk merekam momen itu dengan kamera hape.
"Boleh kok. Bahkan kalo Mas mau bikin live IG atau video call keluarga di rumah juga gapapa", jawab dokter. Mas hanya senyum-senyum mendengar kelakar dokter. Setelah Mas siap dengan video recording-nya, dokter pun mulai menjelaskan bagian-bagian yang ditampilkan oleh monitor. Dan ya, dugaanku sama sekali nggak salah. Sosok kecil bergerak itu memanglah janin, calon bayi aku dan Mas. Ia dikelilingi cairan ketuban yang ditampilkan monitor dengan warna gelap. Ukurannya baru 2,5 cm, namun aku sudah bisa melihat bakal kaki dan tangannya yang mungil. Ah, aku merasa hatiku menghangat melihat kedua kaki dan tangan calon bayiku yang aktif bergerak lucu.
"Pada usia kehamilan ini, kita juga sudah bisa mendengar detak jantungnya. Mau dengar?" tanya dokter. Tentu aja aku mau. Kemudian dokter pun memperdengarkan suara detak jantung si janin pada kami. Detak jantungnya terdengar cepat, namun kata dokter itu adalah detak jantung normal untuk janin usia kehamilan sembilan minggu ini.

Ada momen awkward dan memalukan ketika kami selesai menjalani pemeriksaan USG. Setelah keluar dari ruang dokter, aku dan Mas pun langsung berjalan menuju pintu keluar klinik. Namun Mbak Asisten Dokter memanggilku.
"Hasil foto USG-nya belum diambil, Teh", katanya. Ketika itu, aku langsung istighfar. Astaga, kami kan belum bayar. Mas tampaknya nggak menyadari hal itu. Ia terus saja berjalan ke arah parkiran, sementara aku putar balik ke loket di sebelah ruang dokter.
"Ini, Teh", ucap Mbak Asisten Dokter sambil menyerahkan amplop kecil berisi foto hasil USG.
"Jadi berapa, Teh?" tanyaku. Ia pun menyebutkan sebuah nominal, namun kemudian aku sadar bahwa dompetku ada di tas Mas. Aku pun meminta Si Mbak untuk menunggu sebentar, sementara aku memanggil Mas yang sudah keburu naik ke atas motor. Setelah membayar, kami pun segera berlalu dari klinik. Di tengah perjalanan kami ketawa-ketawa geli mengingat kebodohan kami itu. Haduuuhh.. sepertinya kami terlalu bahagia sampai-sampai lupa bayar 😂 Malu banget. Mana di depan loket banyak pengunjung klinik pula. Untung saja kami pakai masker, dan Mbak Asistennya pun nggak sampai berteriak "Teh, belum bayar". Kalo saja kami nggak pakai masker dan Mbak Asistennya berteriak seperti itu.. huh, mau ditaruh di mana muka kami? Wkwkwk.

***

Sore tadi.

"Kulkas di rumah kayaknya mulai nggak beres nih. Pintunya nyetrum", ucap Mas ketika datang menjemputku sepulang kerja. "Ini aja tangan Mas kena, kaget banget pas buka. Eh, kok nyetrum", katanya lagi.
"Hah, kok bisa, Mas?" sahutku sambil naik ke atas motor.
"Nggak tau. Kayaknya dalemannya ada yang rusak. Kamu jangan buka-buka kulkas dulu ya. Bahaya."
"Hmm.. Udah coba browsing Google belum, Mas? Barangkali bisa dibenerin sendiri kayak mesin cuci waktu itu".
"Belum. Nanti deh di rumah".
Aku hanya manggut-manggut, meski sedikit kecewa. Teringat dengan manisan mangga buatan ibu di dalam kulkas yang tadinya ingin segera kunikmati sepulang ngantor.

Sesampainya di rumah, "Kamu cepat mandi, mumpung belum Magrib. Lagi musim penyakit gini, takutnya kamu bawa virus dari kantor".
Lagi-lagi aku manut pada Mas. Nggak salah sih kalo ia begitu khawatir, karena belakangan ini wabah C19 nampaknya semakin mengganas. Belum lagi melihat kondisi kantor yang semakin sepi karena satu persatu karyawan jatuh sakit :')

Selepas mandi, aku langsung berwudhu karena adzan Magrib sudah berkumandang. Well, semenjak hamil, aku nggak berani lagi berlama-lama di kamar mandi. Padahal sebelum hamil, aku bisa betah berlama-lama di kamar mandi, entah itu luluran, atau maskeran. Namun sekarang, asal sudah mandi rasanya cukup, kemudian bergegas menuju kamar. Dengan hanya berbalut handuk, kudorong pintu kamar yang setengah terbuka.

"SELAMAT ULANG TAHUN, SAYAAAANGG!"
Aku memekik. Surprised. Di hadapanku, Mas Kesayangan tersenyum lebar. Kedua tangannya memegang kue ulang tahun dengan dua lilin menyala di atasnya. Aku lantas memeluknya, tanpa peduli dengan handuk dan rambutku yang setengah basah membasahi kausnya.
"Hey, ini ditiup dulu dong lilinnya. Capek ini tangan Mas pegang kue dari tadi", protes Mas. Kulepas pelukanku. "Make a wish dulu dong", ucapnya lagi.
Aku pun memejamkan mata dan melangitkan doa, agar keluarga kami senantiasa rukun dan bahagia sampai akhir hayat, dan selalu berada dalam lindungan-Nya :')


Bergetar rasanya bibirku saat itu. Rasanya ingin menangis, tapi nggak bisa. Jujur ini pertama kalinya aku mendapat kejutan seperti ini. Dikerjai plus diberi kejutan untuk tiup lilin. Ingat kan, sebelumnya Mas bercerita bahwa pintu kulkas rusak, dan ia menyuruhku untuk segera mandi sepulang kerja? Rupanya itu hanya akal-akalannya agar bisa mempersiapkan itu semua. Ia melarangku membuka kulkas karena ia menyimpan kue itu di sana. Rupanya siang tadi ia sempat minta ijin keluar sebentar dari tempat kerja untuk mengambil kue dari toko. Setelah mengambil kue dari toko, ia menyimpannya di kulkas, dan kembali lagi ke tempat kerja. Mas juga menyuruhku untuk bergegas mandi agar ia bisa menaruh lilin menyala di atasnya dan bersiap mengejutkanku dari balik pintu kamar. Anehnya aku sama sekali nggak curiga dengan semua akal-akalan itu, karena dia ngomongnya meyakinkan banget. Huhu..

Mungkin juga karena sebenarnya aku nggak berharap diberi apa-apa di hari ulangtahun kali yah. Selama ini aku nggak pernah menanti-nanti tanggal ulangtahun. Aku nggak memunculkan tanggal ulangtahunku di media sosial. Aku juga enggan menjawab saat teman atau siapapun bertanya kapan aku berulangtahun (kecuali tanggal lahir, untuk data penting). Entahlah, rasanya sedih aja gitu diingatkan bahwa diri ini semakin tua. Hiks.

Tapi hari ini, aku hanya ingin bersyukur. Tuhan baik sekali. Di usia ini aku mendapatkan hadiah terhebat-Nya. This year has been amazing. Aku menikah. Aku dinyatakan hamil setelah empat bulan pernikahan. Aku diberi kesempatan untuk melihat pergerakan dan denyut jantung calon bayiku. Dan ada sosok pria pengertian di sampingku, yang mengerti sifat manjaku, yang ingin selalu ndusel-ndusel di punggung dan ketiaknya setiap saat. Wkwk.

Semoga bahagia ini selamanya. Aamiin.

Jumat, 14 Mei 2021 0 komentar

Eid Mubarak : 1442 H

Bulan Ramadhan sudah berlalu, masih dalam kondisi pandemi yang sampai saat ini masih belum ada tanda-tanda membaik (malah nampaknya semakin semrawut dengan peraturan yang plin-plan dan nggak merata). Hmm..

Tentunya Ramadhan tahun ini terasa begitu berbeda bagiku yang awal tahun ini baru aja berubah status dari single menjadi double. Memang sih, aku dan Mas nggak seperti kebanyakan pasutri baru yang mengikuti trend upload foto masakan pertama di hari pertama Ramadhan. Seperti Dewi—teman masa kecilku yang menikah tahun 2020 lalu—misalnya, yang Ramadhan tahun lalu pamer ayam goreng, oseng kangkung, tempe goreng, dan sambel ulek buatannya di WhatsApp Story. Bukan karena nggak mau alay (karena aku dan Mas juga kadang alay kok), tapi lebih karena aku memang nggak pandai masak. Muehehe. Eh, 'belum pandai' sih lebih tepatnya, karena sebenarnya aku suka menonton acara atau tutorial memasak gitu dan kadang kepingin mencoba resep-resep sederhana. Hanya aja sayangnya saat ini dorongan niatku masih kalah oleh dorongan untuk mager. Wkwk. Maka setiap buka puasa dan sahur, kami selalu mengandalkan menu yang kami beli di luar. Terkadang Mas juga sudah cukup puas dengan telur dadar campur tahu orak-arik dan daun bawang yang kubuat. Kecuali hari Sabtu, karena setiap hari Sabtu sore, kami pulang ke rumah ibu dan berbuka puasa di sana, kemudian pulang hari Minggu siang.

Well, bulan Ramadhan di awal-awal pernikahan sedikitnya memberiku pelajaran. Salah satunya adalah pelajaran untuk membiasakan diri bangun tidur lebih awal. Meski mengantuk, mau nggak mau aku harus bangun pukul tiga. Padahal dulu sebelum menikah aku biasa bangun menjelang subuh meskipun sudah memasang alarm berlapis, itupun seringkali dibantu teriakan ibu ataupun ketukan pintu dari bapak. Dan yah, tentunya juga harus membiasakan diri dengan minyak panas dan penggorengan yang kerapkali 'mengamuk'. Meski bukan pertama kali, tapi aku masih takut dengan minyak panas yang meletup saat menggoreng ayam. Dan aku juga ingat ketika minyak panas yang kugunakan untuk mengolah sarden meletup. Setelah menumis bawang, alih-alih menuangkan air, aku justru langsung menuangkan sarden ke wajan. Sontak minyak panas pun berloncatan dari sana. Aku reflek mundur dan menabrak Masku yang tengah membawa kandang burung. Beruntung kandang yang dibawanya nggak jatuh.
"Mundurnya kurang jauh, Yang", ledeknya. Aku jadi sejenak merenung dan menyadari bahwa selama ini sifat magerku benar-benar kelewatan, karena bahkan mengolah makanan yang mudah pun aku masih terlalu kaku. Huhu.

Dan sama seperti Ramadhan tahun lalu, aku melaksanakan sholat tarawih di rumah. Hanya aja sholat tarawih di rumah tahun ini lebih tenang karena nggak ada kucing yang berputar-putar, berbaring, ataupun berguling-guling di atas sajadah saat kami sholat, karena memang di rumah yang aku dan Mas tinggali, kami nggak memelihara kucing seperti di rumah orangtuaku. Mas sih sebenarnya kepingin banget pelihara anak kucing putih, sedangkan aku merasa cukup pelihara kucing di rumah orangtuaku aja, karena rumah tempat kami tinggal nggak memiliki halaman dan nggak ada lahan bertanah di sekitar hunian kami. Berbeda dengan rumah orangtuaku yang memiliki halaman luas dengan tanah dan berbagai tanaman yang bisa menjadi arena para kucing untuk bermain ataupun buang air.

***

Idul Fitri tahun ini, aku dan rekan-rekan staf berkesempatan menikmati hari libur selama empat hari, yakni dari tanggal 13 sampai dengan tanggal 16. Seminggu sebelum libur kerja, aku dan beberapa rekan kantor mengadakan buka puasa bersama di Hotel MD7. Ada Pak Ben, Bu Hani, Bu Lia, Mbak Tika, Mas Febri, Pak Dedi, Mister Chokai, Bu Rohayati, A' Putra, dan Mila—A Putra's wife to be. Sebenarnya awalnya aku menolak untuk ikut karena kasihan sama Mas yang berbuka puasa sendirian di rumah. Namun teman-temanku memaksa aku untuk ikut. Syukurlah, Mas sama sekali nggak keberatan. Sebenarnya kalo Mas mau, aku boleh mengajaknya ikut serta, tapi dia menolak. Malu, katanya.

Hari itu sepulang ngantor, aku, Bu Hani, Pak Ben, Pak Dedi, Mbak Tika, dan Bu Lia berangkat bersama-sama langsung dari kantor. Sementara yang lainnya berangkat  dari rumah masing-masing. Aku pergi dengan nebeng motor Bu Hani. Sore itu jalanan ramai, dan kondisi itu diperparah dengan adanya penutupan jalan di beberapa lokasi, salah satunya di wilayah balai kota. Hal ini membuat kami terpaksa mencari jalan alternatif. Hmm.. Sering aku berpikir, kenapa sih harus ada penutupan jalan? I think, kalo untuk mencegah masyarakat bepergian dan berkerumun di tempat publik, rasanya kurang efektif, karena masyarakat pasti akan mencari jalan alternatif yang justru menimbulkan macet di titik tertentu. Dengan kata lain, yaa percuma aja gituu.

Sesampainya di hotel, kami nggak langsung masuk ke ruang makan, melainkan duduk-duduk dulu di teras hotel, dan sempat foto-foto juga di depan gerbang masuk. Menjelang waktu berbuka puasa, baru lah kami memasuki ruang makan dan menempati meja yang sudah disediakan untuk kami. Kemudian masing-masing kami mengambil makanan, minuman, dan irisan buah segar yang disajikan hotel secara prasmanan. Kami pun menikmati hidangan sambil mengobrol-ngobrol santai. Setelah tandas, kami kembali melakukan foto bersama di area hotel.

Ki-Ka : Pak Dedi, Pak Ben, Mbak Tika, Bu Lia, Bu Rohayati,
aku, Bu Hani, A Putra, Mas Febri, Mila, Mister Chokai



Di malam takbiran, tepatnya ba'da Isya, aku dan Mas pulang ke rumah orangtuaku. Kami sedikitnya tampak seperti sepasang pemudik, karena membawa tas dan kantong-kantong plastik berisi pakaian kami dan baju-baju mendiang mama—yang akan kami berikan untuk ibu. Sayang kalo baju-bajunya nggak dipakai lagi, begitu kata Mas. Waktu itu sekitar jam delapan malam. Jalanan tampak ramai, suara takbir terdengar dimana-mana, walaupun nggak ada takbir keliling seperti dulu. Alun-alun kota pun nggak kalah ramai. Tempat itu dipadati pengunjung, juga para pedagang yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Selama perjalanan, aku asyik melihat-lihat sekitar. Tiba-tiba hatiku trenyuh. Melihat pedagang yang duduk di belakang gerobak dagangannya yang sepi, tukang rongsok yang memanggul karung di pundaknya, tukang becak tanpa penumpang yang menunggu lampu lalu lintas berubah hijau.. Ah, semoga diberikan rezeki yang melimpah kepada para pejuang nafkah yang tetap mengabdikan dirinya untuk keluarga bahkan di malam takbiran sekalipun. Aamiin.

Hari H Lebaran, aku bangun tidur pagi-pagi sekali. Sekitar jam tiga dini hari, aku sudah mengalungkan handuk di leher. Nggak langsung mandi, karena saat itu kamar mandi tengah dipakai bapak yang akan bersiap ke masjid. Sebagai seorang pengurus masjid, bapak memang terbiasa bangun jam tiga dini hari, kemudian pergi ke masjid sekitar pukul setengah empat. Setelah menunggu bapak selesai menggunakan kamar mandi (sambil berburu nyamuk yang sudah gendut-gendut, entah menghisap darah Mas atau aku), aku pun bergegas mandi, bergantian dengan Mas, kemudian ibu, lalu yang terakhir adikku.

Sedihnya, pada Idul Fitri tahun ini, aku sama sekali nggak menikmati opor ayam buatan ibu. Jadi ceritanya, menjelang buka puasa di malam lebaran, ibu memasak opor dengan satu setengah kilogram daging ayam. Saat waktu berbuka puasa tiba, ibu, bapak, dan adikku menikmatinya sebagai menu buka puasa terakhir. Mas juga menikmatinya saat makan malam menjelang tidur. Sementara aku saat itu belum lapar karena masih kenyang. Pagi harinya, saat aku mandi, tiba-tiba ibu yang sedang berada di dapur memekik. Rupanya beliau lupa menghangatkan opor. Bisa ditebak kan, apa yang terjadi dengan opor itu? Kuah opornya basi, Pemirsa. Sayang banget. Akhirnya daging ayam yang tersisa pun terpaksa digoreng agar bisa dimakan. Huhu.. Beruntungnya Mas yang sempat menikmati opor ayam buatan ibu :')

Aku dan Mas juga sempat kecewa dengan baju yang kami kenakan untuk berlebaran. Jadi, saat Ramadhan kemarin, kami berdua berencana memakai baju couple. Tapi ternyata mencari baju couple yang sesuai itu nggak gampang. Ada yang model bajunya Mas suka, tapi aku nggak suka, begitu juga sebaliknya. Memang kalo pingin pakai baju couple itu sebaiknya pesan ke penjahit pakaian lah ya, biar sesuai dengan ukuran dan keinginan. Tapi rasanya waktu sudah nggak memungkinkan. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli pakaian secara terpisah. Yang penting warnanya sama, pikir kami. Kami memilih pakaian dengan warna navy. Eh, setelah pakaian kami disandingkan, ternyata warna navy kemeja milik Mas lebih gelap dibanding warna navy gamis milikku. Huhu..

Sekitar jam enam pagi, aku, Mas, ibu, dan adik bersama-sama pergi ke masjid Al-Amin, tempat biasa kami melaksanakan sholat Ied setiap tahunnya. Namun tentunya melaksanakan sholat Ied di masjid Al-Amin adalah yang pertama kalinya untuk Mas. Kenapa bapak nggak bareng kami? Ya karena beliau di masjid sejak Subuh dan terus lanjut sampai selesai sholat Ied. 

Setelah melaksanakan sholat Ied, kami bersalam-salaman dengan para jamaah lainnya, kemudian pulang dan saling bermaafan dengan anggota keluarga kami.

Kami bersyukur karena Idul Fitri tahun ini, kami kembali melakukan silaturahmi dari rumah ke rumah. Nggak seperti Idul Fitri tahun 2020 lalu dimana kami hanya berdiam diri di rumah karena saat itu pandemi Covid19 baru saja masuk ke Indonesia dan masih sangat menakutkan bagi kami, jadi yah rasanya kayak bukan hari lebaran. Bersilaturahmi dari rumah ke rumah membuat suasana Idul Fitri benar-benar terasa, meski rasanya agak menyebalkan karena masih ada aja tetangga yang melontarkan pertanyaan mainstream. You know lah ya.. Dulu ketika belum nikah, ditanya terus 'kapan nikah'. Sekarang ketika aku datang dalam kondisi sudah menggandeng pasangan sah, pertanyaan berubah jadi 'kapan ngisi', dan ketika dijawab 'belum', mereka tampak memandang kami dengan penuh prihatin. Haduuuh.. orang-orang seperti ini kok ya kelewat peduli gitu deh sama kehidupan pribadi orang lain. Padahal orang yang bersangkutan lagi enjoy pacaran 😌

Meski sudah bisa melakukan tradisi lebaran dengan bersilaturahmi dari rumah ke rumah, namun untuk bersilaturahmi ke keluarga besar nenek di Kuningan masih nggak bisa kami lakukan tahun ini karena kondisi kesehatan nenek yang sedang nggak memungkinkan untuk dibawa bepergian jauh. Sayang banget, nggak bisa nostalgia masa kecil lagi deh.

Sore harinya, sebagai kunjungan terakhir di hari lebaran, aku dan Mas mengunjungi makam mama, papa, dan juga A' Hendri. Aku ingat, Idul Fitri tahun lalu adalah kali pertama aku diajak Mas mengunjungi makam mereka. Waktu itu, beberapa bulan setelah kami break-up, aku berharap saat itu bukan yang terakhir kalinya aku berkunjung ke makam mereka. Dan harapanku benar-benar terwujud, karena berkunjung ke makam mama, papa, dan A' Hendri kini akan menjadi agenda rutin kami setiap hari raya Idul Fitri.

 

Well, demikianlah ceritaku tentang Idul Fitri tahun ini yang biasa-biasa saja. Huhu..
Seperti biasa, aku mohon maaf apabila ada kata-kata dalam postinganku yang menyinggung perasaan Teman-Teman Pembaca. Semoga ibadah kita semua selama bulan Ramadhan diterima Allah dan semoga kita semua diberikan umur panjang agar bisa bertemu Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Aamiin yaa robbal alamiin. Selamat Idul Fitri!

Jumat, 30 April 2021 0 komentar

BUKU : Mereka Ada VOL. 2 by Mystic Waves

Setelah menerbitkan buku pertamanya pada Februari 2019, Mystic Waves (atau mwv.mystic), akun Instagram favoritku yang biasa memposting cerita-cerita horor based on true story akhirnya menerbitkan buku keduanya pada tanggal 1 April kemarin. 

Well, pada awalnya, buku ini dijadwalkan terbit pada 25 Maret. Aku sudah ambil ancang-ancang untuk segera check-out via Shopee. Namun beberapa hari sebelum tanggal tersebut, pihak Loveable selaku penerbit memundurkan jadwalnya menjadi tanggal 1 April. Aku sempat menanyakan hal ini saat Admin AGP, pengelola akun Mystic Waves melakukan live streaming di Instagram, katanya pemunduran jadwal ini dilakukan karena masih adanya beberapa hal yang musti disempurnakan. 

Yup, berbeda dengan penerbitan buku pertamanya, pada penerbitan buku kedua ini, aku antusias banget ikut pre-order. Untuk program pre-order ini, selain mendapatkan harga buku yang lebih murah dari harga normal, peserta pre-order juga berhak mendapatkan bonus, tergantung dari paket yang peserta pre-order pilih. Aku memilih Paket Delima yang mendapatkan bonus berupa sticker pack, pouch, voucher diskon Loveable Store, subsidi ongkir, game Ouija digital, dan satu buah buku terbitan Loveable. 

Kukira buku ini baru akan datang bulan Mei, namun rupanya buku ini tiba lebih cepat dari perkiraanku. Kamis 22 April, buku ini mendarat di kantorku, dan aku langsung menelanjanginya untuk mengecek kelengkapan paket yang kupesan, dan syukurlah semuanya ada, kecuali game Ouija digital yang masih belum aku ngerti aksesnya dimana. Wkwkwk. 

Oke, sekarang pindah ke pembahasan isi bukunya. 

Nggak seperti Mereka Ada VOL 1 yang terdiri dari empat kisah yang ditulis oleh empat narasumber berbeda, empat cerita dalam Mereka Ada VOL 2 ini ditulis oleh satu orang narasumber, yakni Mas Rama Eka Putra, yang memang merupakan narasumber sekaligus MWVers senior. Mas Rama ini bisa dibilang adalah seorang pegiat alam karena hobinya naik turun gunung. Oleh karena itu, sebagian besar kisah yang ia bagikan adalah pengalaman-pengalaman mistisnya selama muncak. Maka dalam buku ini, ia sendiri lah yang menjadi tokoh utamanya. 

Si Cantik Merah Delima

Selain merupakan seorang pegiat alam, Rama merupakan seorang karyawan di sebuah perusahaan asing di Jakarta. Tinggal di kota besar sejak kecil membuatnya tumbuh menjadi seseorang yang skeptis terhadap hal-hal gaib. Suatu hari di tahun 2009, Om Bertus, salah satu kliennya, memberinya sebuah batu merah delima. Karena cantiknya batu itu, Rama menjulukinya 'Si Cantik'. Namun yang nggak ia sadari, batu pemberian kliennya itu rupanya merupakan batu bertuah yang memiliki khodam berupa sesosok jin yang kerapkali menampakkan wujudnya sebagai wanita cantik dengan pakaian adat Dayak. Gangguan demi gangguan Rama alami dari sosok itu. Hanya gangguan-gangguan kecil sebenarnya, karena memang ia hanya ingin menunjukkan eksistensinya kepada Rama. Hingga suatu hari, sosok itu merasuki Vero, rekan kerja Rama di kantor. Melalui Vero, ia memperkenalkan dirinya sebagai 'Rimbun' dan menyatakan ketertarikannya untuk menjadi penjaga untuk Rama. Sejak saat itu, pandangan Rama terhadap dunia gaib perlahan berubah. Ia pun mulai terbiasa dengan hal-hal gaib yang terjadi di sekitarnya. 

Di Balik Pesona Gunung Salak

Sekitar satu bulan setelah Rama berkenalan dengan Rimbun, Rama dan teman-temannya melakukan diklat bersama orang-orang yang tergabung dalam organisasi pecinta alam. Diklat ini dilaksanakan di Gunung Salak. Di tengah-tengah kegiatan tersebut, Rama bertemu dengan seorang pendaki wanita yang kehabisan bekal. Merasa iba pada pendaki wanita yang tampaknya terpisah dari rombongannya tersebut, Rama memberinya bekal yang ia bawa tanpa menaruh kecurigaan apapun. Well, di antara empat cerita dalam buku ini, entah kenapa cerita ini yang paling membuatku merinding. Bahkan meski sudah membaca isi ceritanya sebelum dibukukan, ketika membaca kembali kisah ini di buku, aku masih merasa merinding. Aku membayangkan berada di posisi Rama : Di tengah hutan, berkali-kali bertemu satu orang asing yang sama, ngobrol nyambung, namun kemudian menemukan fakta bahwa orang itu sesungguhnya bukanlah manusia. Hiii..

Satu Suro di Gunung Lawu

Dalam kalender Jawa, ada satu hari yang dianggap keramat, yakni malam Satu Suro, atau kalo dalam kalender hijriyah itu sama dengan tanggal satu Muharram. Cerita pada bab ini berlatar antara tahun 2009 atau 2010. Dua hari menjelang malam Satu Suro, Rama dan enam orang junior di kampusnya pergi mendaki ke Gunung Lawu. Kebetulan pada Malam Satu Suro, Gunung Lawu biasanya ramai dengan pendakian, baik dari kelompok pendaki maupun warga sekitar yang ingin menyaksikan upacara Malam Satu Suro, berbeda dengan rombongan Rama yang hanya berniat muncak lalu kembali ke Jakarta sebelum upacara tersebut dilaksanakan. Namun di pagi hari menjelang kepulangan mereka, mereka mendadak harus memecah tim menjadi dua karena ada beberapa orang yang berubah pikiran, ingin menyaksikan upacara Malam Satu Suro. Rama adalah salah satu orang yang memutuskan untuk tetap pulang hari itu. Ia nggak peduli dengan ucapan beberapa warga yang ia temui, yang mengatakan bahwa pendaki pantang turun sebelum upacara Malam Satu Suro dilaksanakan, tanpa ia tau bahwa keputusannya itu membuat jiwanya terancam.

Astana Ratu Anjani

Cerita pada bab ini berlatar di tahun 2013. Rama dan teman perempuannya, Jani, kembali mendaki ke Gunung Rinjani setelah pertemuan mereka satu tahun sebelumnya. Mereka berencana untuk menyelesaikan pendakian. Namun tanpa Rama ketahui, sebenarnya di balik itu Jani memiliki misi rahasia yang beresiko membahayakan nyawa mereka berdua. 


Well, dari segi cerita, menurutku buku Mereka Ada VOL 2 ini sama serunya ya dengan Mereka Ada VOL 1. Hanya aja penyampaian alurnya lebih rapi dan ketikannya minim typo dibanding buku sebelumnya. Cuma jujur, aku bingung banget sama percakapan antara Rama dan Hana tentang madu dan spiritus di halaman 141. Rama menyuruh Hana pilih salah satu di antara madu dan spiritus, lalu Hana pilih madu. Rama tanya, "Kenapa kamu pilih madu?" tapi alih-alih menjawab pertanyaan itu, Hana malah bilang, "Tumben kamu pinter, Ram. Kirain otakmu isinya bokep doang". Itu maksudnya gimanaaa? Otakku nggak nangkep sama sekali maksudnya. Sayangnya setelah percakapan itu nggak ada penjelasan sama sekali mengenai maksud percakapan madu dan spiritus itu. Huhu. 

Aku berharap Mystic Waves nggak sampai di sini aja menerbitkan buku fisik, mengingat udah banyak banget cerita seru yang diposting di akun Instagramnya, biar nggak perlu repot scroll kalo pingin baca ulang. 

Total Tayangan Halaman

 
;