Jumat, 15 Oktober 2021 0 komentar

Pertama Kali USG 4D

Siapa sih orangtua yang nggak penasaran, akan mirip siapa anaknya kelak? Nggak heran kalo di jaman modern ini, banyak aplikasi yang menawarkan fitur memprediksi wajah bayi. Cukup dengan mengunggah foto kita dan pasangan, lalu VOILA! Hasil analisa dan prediksi wajah bayi kita pun akan muncul di layar.

Namun bagaimanapun, aplikasi seperti itu ditujukan hanya untuk seru-seruan semata, karena seperti yang kita tau, kemiripan wajah seseorang dipengaruhi oleh gen kedua orangtuanya dengan perhitungan yang sangat rumit. Ada yang gen ibunya lebih dominan sehingga si anak cenderung mirip ibunya, namun ada juga yang sebaliknya.

Masku pernah iseng menggunakan aplikasi serupa untuk memprediksi bagaimana wajah anak kami kelak. Dan terbukti, meski bentuk bibirnya mirip bibir Mas dan matanya mirip mataku, namun hasil prediksi wajah anak yang ditampilkan pada aplikasi tersebut jauh lebih terlihat seperti anak blasteran Asia Timur dan Western ketimbang anak keturunan kami. Wkwkwk.

Sore ini, untuk pertama kalinya aku mendapatkan kesempatan untuk melakukan pemeriksaan USG 4D secara gratis dari dr. Wildan. Well, jadi ceritanya dokter kandungan kesayangan kami ini baru saja meresmikan tempat prakteknya yang mulai beroperasi pada hari Selasa lalu. Dan dalam rangka grand opening ini, beliau memberikan free biaya USG 4D bagi 20 orang setiap harinya selama satu minggu.

Mengetahui hal itu, tentunya aku dan Mas sangat antusias. Seperti calon orangtua pada umumnya, kami tentunya penasaran dengan wajah anak kami dan bagaimana kondisi fisiknya secara lebih jelas. Awalnya kami berencana melakukan pemeriksaan USG 4D saat usia kandunganku memasuki bulan ketujuh. Namun karena adanya pemeriksaan USG 4D gratis di minggu ini, kami tentunya nggak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.

Akhirnya, pada hari Senin, aku memutuskan untuk mendaftar melalui pesan WhatsApp. Yup, satu hari sebelum tempat praktek tersebut beroperasi. Setelah menunggu balasan dari staf dr. Wildan dengan was-was, aku kebagian jadwal periksa di hari Jumat ini. It meaaaaans, yang mendaftar tentunya sudah banyak banget. Huhu.. Untung masih kebagian 😂

Singkat cerita, aku dan Mas meminta ijin ke atasan kami masing-masing untuk pulang satu jam lebih awal dari berakhirnya jam kerja, yakni jam empat sore. Meski praktek dokter baru dimulai pukul lima, namun dengan datang lebih awal, kami berharap mendapat nomor antrian paling awal pula. Sesampainya di sana, rupanya sudah ada beberapa pasien yang duduk di ruang tunggu. Luar biasa memang antusiasme para pasien dr. Wildan ini. Wkwk

Pertama-tama, aku dipersilahkan untuk mendaftar ulang. Kemudian dua orang staf dr. Wildan yang bertugas di bagian pendaftaran itu menimbang berat badanku, memeriksa tekanan darahku, dan menanyakan keluhan yang kurasakan. Setelah itu, aku dipersilahkan untuk menunggu.

Aku mendapat nomor antrian ke-6. Giliranku bertepatan dengan masuknya waktu Magrib. Dokter Wildan meminta ijin sejenak untuk sholat Magrib dulu. Kurang dari sepuluh menit kemudian, beliau kembali ke Ruang Dokter dan melanjutkan prakteknya. 

Ruang praktek dr. Wildan nyaman sekali. Ruangannya cukup luas. Di sana ada dua sofa panjang, meja dokter, ranjang pasien, dan dua layar LED; yang satu menghadap ke arah sofa, yang satu lagi menghadap ke ranjang pasien. Dengan begitu, baik pasien ataupun pendampingnya bisa melihat gambar hasil pemindaian rahim dengan nyaman di tempatnya (nggak perlu nengok-nengokin kepala lagi).

Setelah menanyakan perihal keluhan-keluhan yang kurasakan, pemeriksaan USG pun dimulai. Jantungku berdebar-debar. Ah, sebentar lagi aku akan mengetahui seperti apa rupa bayiku. Namun ternyata, nggak mudah mencari wajah janin dengan angle yang pas. Tapi syukurlah, Si Dede nggak menutupi wajahnya, sehingga kami bisa menerka-nerka, akan mirip siapa ia nantinya. Hmm.. kalo melihat bentuk hidung, sepertinya hidungnya mirip dengan hidungku. Tapi secara keseluruhan, ia tampak mirip Mas waktu kecil dulu. Tapi kalo dilihat-lihat, ia juga tampak mirip dengan anaknya A Yogi, teman Mas. Nah lho? Wkwkwk..

Aah rasanya gemas melihat Si Dede yang aktif bergerak di dalam sana. Terkadang kepalanya menengadah, kadang bibirnya tampak tersenyum, bahkan ia sempat 'meledek' dokter. Posisinya menyamping, sehingga wajahnya kurang terlihat jelas. Saat dr. Wildan berkata, "Dek, ayo hadap sini", Si Dede tampak membuka mulutnya seperti tertawa, tapi tetap enggan berbalik 😂

Well, alhamdulillah, hasil pemeriksaan kandunganku baik. Hanya aja, tekanan darahku sangat rendah. Mungkin itulah yang menyebabkan aku pingsan di kantor kemarin. Oleh karena itu, dokter menyarankanku untuk bed rest selama dua hari di rumah. Ia membuatkanku surat agar perusahaan memberiku ijin untuk nggak ngantor. 

Setelah pemeriksaan, aku dan Mas ke luar dari ruang dokter dengan rasa cukup puas. Kami hanya diminta untuk membayar biaya administrasi sebesar sepuluh ribu rupiah, dan kami pun pulang dengan membawa satu lembar foto hasil pemindaian USG 4D tadi dan sebungkus kue donat. Hehe..

Keren memang dokter satu ini. Dengan biaya pemeriksaan yang hampir gratis pun, beliau tetap memberikan pelayanan yang sangat baik. Kalo begini kan, kami jadi enggan move on ke dokter lain :')

Rabu, 13 Oktober 2021 2 komentar

Fainted

Kata orang-orang, trimester kedua adalah fase paling nyaman dalam kehamilan, namun sepertinya hal ini nggak berlaku buatku. Pada trimester pertama, aku hanya merasakan mual saat mencium aroma-aroma tertentu. Namun menginjak trimester kedua, semakin banyak keluhan yang kurasakan. Migrain semakin sering muncul, punggung mulai terasa nyeri, sakit gigi seringkali menyerang. Aku yang berharap bisa menaikkan berat badanku justru masih kesulitan makan karena rasa nyeri yang luar biasa. Padahal rasanya aku pingin banget makan ini itu, terlebih martabak cokelat keju yang sudah cukup lama aku idam-idamkan. Tapi aku nggak mau mengambil resiko dengan nekat membeli dan memakannya. Kapok, karena pernah waktu itu aku kepingin banget makan kue cubit. Suatu hari, Mas membelikannya untukku dan aku memakannya dengan sukacita. Namun hanya dalam hitungan menit, sakit gigiku kambuh, dan aku nggak bisa tidur semalaman.

Selain itu, belakangan ini terkadang aku merasakan tiba-tiba badanku lemas dan pandangan mataku berkunang-kunang. Aku pernah menanyakan hal ini pada bidan Puskesmas, juga pada dokter kandunganku mengenai ada atau enggaknya masalah pada kandunganku. Namun keduanya sama-sama menyatakan bahwa kandunganku baik-baik aja. Tekanan darah dan kadar hemoglobinku pun juga normal. Aku rasa sepertinya hal ini berhubungan dengan sakit gigi atau migrain yang kurasakan, entahlah. Pasalnya, hal ini selalu aku rasakan ketika sakit gigi dan migrain tengah menyerang.

Pernah waktu itu aku diserang sakit gigi semalaman. Pagi harinya, sakit gigi itu mereda. Meski masih sedikit merasakan nyeri di gigi dan kepala sebelah kiri, aku memaksakan untuk tetap ngantor, karena aku rasa nyerinya sudah nggak begitu mengganggu. Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba aku merasakan energiku seperti tersedot dengan cepat. Badanku tiba-tiba melemas dan sekitarku seakan berputar. Aku yang saat itu dibonceng Mas bahkan kehilangan kekuatan hanya untuk sekedar berpegangan pada pinggang Mas. Tubuhku dengan pasrah bersandar di punggungnya. Untungnya aku nggak sampai hilang kesadaran. Hal itu nggak hanya terjadi satu kali, melainkan beberapa kali dalam beberapa hari belakangan ini. Tapi sejauh ini, hal itu sama sekali nggak menghalangiku untuk tetap beraktifitas.

Sampai akhirnya pada hari ini, hal itu terjadi lagi. Namun kali ini lebih parah. Seumur hidup, baru kali ini aku merasakan yang namanya pingsan. Astaga.
Well, hal ini bermula ketika malam tadi, sakit gigiku kambuh. Paginya, gigiku masih terasa nyeri, namun seperti biasa, aku memaksakan untuk ngantor meski Mas sudah memperingatkanku untuk istirahat dulu.

Waktu itu sekitar pukul setengah sepuluh, aku tengah duduk di belakang meja kerjaku. Aku baru aja membalas pesan WhatsApp Mas ketika tiba-tiba aku merasakan perutku mual dan mulas di waktu yang bersamaan disusul dengan rasa pusing yang teramat sangat. Aku memejamkan mata dan menutup wajahku dengan kedua tangan, berharap bisa mengusir rasa pusing itu. Namun rasa mual dan mulas yang semakin menjadi mendorongku bangkit untuk pergi ke toilet. Ketika membuka pintu ruangan, aku merasa sekelilingku berputar, aku berhenti sejenak, kemudian berjalan meski dengan terhuyung-huyung. Di depan ruanganku, aku berpapasan dengan Bu Yeyen.
"Mau kemana, Nok?" tanyanya. 'Nok' dalam bahasa Cirebon itu sama seperti panggilan 'Neng' dalam bahasa Sunda atau 'Nduk' dalam bahasa Jawa.
"Mau ke toilet, Bu", jawabku dengan lemas. Karena pusing yang semakin menjadi, kusandarkan kepalaku di bahunya.
"Kenapa? Pusing tah?" tanyanya lagi sambil merengkuh bahuku.
"Iya, Bu. Kayak berkunang-kunang gitu".

Setelah itu, aku merasa badanku meringan dan semuanya gelap. Aku bisa mendengar orang-orang di sekitarku berteriak, berkerumun, dan memanggil-manggil namaku.
"Putri, Putri.. Astaghfirulloh sadar, Nok. Putri.." panggil seorang wanita di sebelah kananku. Aku bisa mengenalinya. Itu suara Bu Mila. Juga teriakan seseorang yang meminta tolong untuk menelepon suamiku. Ada yang menyarankanku untuk dibawa ke Puskesmas. Ramai sekali. Namun entah kenapa aku nggak bisa membuka mataku, ataupun berkata-kata. 

Aku baru bisa membuka mataku ketika aku dibaringkan di sebuah sofa di showroom. Ada Bu Yeyen, Bu Mila, Pak Kusnama, Bu Lia, Bu Hani, Mas Febri, dan Inggit, juga Pak Wirja, Isnaeni, dan Bu Nur yang memijit-mijit kakiku. Jilbabku berantakan, bajuku basah dengan keringat dingin, dan hidungku bau minyak angin.
"Kenapa, Sayang?" tanya Bu Hani.
"Nggak tau, Bu", jawabku. Bu Lia menyodorkan teh manis hangat yang kusesap sedikit demi sedikit. Bu Yeyen menceritakan kronologi kejadian sebelumnya, ketika aku bilang bahwa ingin ke toilet, kemudian memeluknya karena pusing, dan akhirnya hilang kesadaran.

Sedangkan Bu Mila menceritakan betapa paniknya ia, karena mengira aku kesurupan. Wkwkwk. Menurut penuturannya, ketika pingsan tadi, wajahku benar-benar pucat seperti nggak dialiri darah. Ia juga sempat menekan jempolku, namun aku nggak merespon.

Kemudian setelah itu, mereka menyarankanku untuk membawa gunting kuku, pisau kecil, atau peniti yang disematkan di bajuku.
“Tau sendiri kan, Nok, penunggu di sini kayak gimana”.
Well, menurut kepercayaan masyarakat Jawa, benda-benda tajam itu bisa menangkal gangguan jin ataupun makhluk jahat, karena konon katanya ibu hamil itu ‘wangi’. Sebenarnya aku sudah tau dan sudah nggak heran dengan kepercayaan itu, karena memang nggak sedikit orang-orang di sekitarku yang menerapkannya. Namun karena aku nggak mempercayai hal itu (dan tau bahwa hal itu pun bertentangan dengan agamaku), aku nggak pernah menerapkannya. Aku percaya bahwa Tuhan adalah sebaik-baiknya pelindung.

Pak Teguh, atasanku menawarkan diri untuk mengantarku ke dokter atau pulang ke rumah, namun aku menolak. Aku memutuskan untuk menyelesaikan dulu laporan harianku, lalu pulang menjelang jam istirahat dengan dijemput Mas. Yup, benar sekali. Sampai di rumah, Mas ngomel-ngomel karena aku nggak menurutinya untuk istirahat di rumah. Wkwk. Maaf ya, Mas.

Ya Allah, jangan lagi-lagi pleeease. Apalagi sampai pingsan di kantor seperti itu. Malu banget, astaga, menyusahkan orang-orang dan membuat orang lain khawatir. Rencananya lusa nanti aku dan Mas akan memeriksakan kembali kandunganku pada Dokter Wildan. Semoga kondisi aku dan bayiku baik-baik aja.

Jumat, 03 September 2021 0 komentar

Gender Reveal?

Sore ini aku kembali menjalani pemeriksaan USG. Ini ketiga kalinya aku menjalani pemeriksaan USG. Pemeriksaan pertama di akhir bulan Juni, pemeriksaan kedua di awal bulan Agustus. Pemeriksaan pertama dan kedua lalu, aku memeriksakannya ke klinik yang sama, namun dengan dokter yang berbeda.

Dokter yang pertama memeriksaku ramah sekali. Ia juga menjelaskan segalanya dengan detail dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan baik. Dokter Wildan, namanya. Namun sayang, di pemeriksaan kedua, beliau nggak bertugas di klinik itu lagi. Sebenarnya Dokter Wildan memiliki apotik dan tempat praktik di kawasan Drajat, nggak begitu jauh dari tempat tinggal aku dan Mas dulu. Namun karena tempat praktik itu baru aja berdiri, perizinannya belum selesai. Oleh karena itu, maka dokter yang menangani pemeriksaanku di klinik tersebut kali itu adalah dokter lain yang kurang detail menjelaskan dan kurang ramah. Aku menanyakan perihal penggunaan beberapa obat dan vitamin pada masa kehamilanku, namun ia menjawab dengan kata-kata yang kurang jelas yang membuatnya terkesan ragu dan malas melayani pasien. Alhasil aku dan Mas pulang dengan rasa kurang puas.

Kali ini, aku dan Mas memutuskan untuk memeriksakan kandunganku di rumah sakit tempat Dokter Wildan kini bertugas. Waktu itu sekitar jam setengah empat sore. Sesampainya di rumah sakit itu, kami langsung mengambil nomor antrian dan melakukan pendaftaran. Kami sempat kecewa karena rupanya pendaftaran untuk ke poli kandungan sudah ditutup karena hanya dibatasi sampai lima belas pasien. Namun syukurlah, Dokter Wildan mau berbaik hati menerima kami sebagai pasien terakhirnya hari ini. Huhu.. GBU, Dok.

Setelah mendaftar, aku menjalani pemeriksaan tekanan darah dan berat badan. Alhamdulillah tekanan darahku normal dan berat badanku naik tiga kilogram dari bulan lalu, padahal sebelumnya aku sudah pesimis berat badanku bakal stuck karena belakangan ini aku sedang agak susah makan karena sakit gigi yang menyerang setiap hari. Berdasarkan informasi yang kubaca dan kudapat dari orang-orang di sekitarku yang lebih berpengalaman, sakit gigi memang menjadi salah satu masalah pada ibu hamil. Hal ini terjadi karena peningkatan hormon selama kehamilan yang dapat meningkatkan resiko terbentuknya plak dan pembengkakan gusi. Ada juga yang menyebutkan bahwa hal ini bisa terjadi karena kekurangan kalsium selama kehamilan, sehingga janin 'mengambil' stok kalsium dari tubuh ibunya. Untuk pernyataan yang terakhir aku kurang yakin bahwa itu penyebabnya sih, karena aku yakin asupan kalsiumku cukup mengingat aku rajin minum susu dan suplemen kalsium setiap hari.

Well, back to the story. Setelah pemeriksaan tekanan darah dan berat badan, kami dipersilahkan menunggu. Karena praktik dokter baru saja dimulai dan kami mendapat nomor antrian terakhir, alhasil aku dan Mas harus menunggu lama. 

Lapar, ngantuk, dan BT, semuanya bercampur jadi satu. Berdasarkan keterangan rumah sakit, jadwal praktik dokter berlangsung sampai jam lima sore, namun kami yakin dengan jumlah pasien enam belas orang dan praktik dokter yang baru saja dimulai di jam setengah empat sore, praktik dokter nggak akan berakhir tepat sesuai jadwal. Alhasil aku yang belum sempat makan siang ditemani Mas pergi ke kantin sebentar untuk membeli mi instan cup. 

Singkat cerita, namaku baru dipanggil ke ruang dokter ketika menjelang waktu Isya, ketika Mas mulai misuh-misuh karena lapar. Wkwkwk.
Meski merupakan pasien terakhir (yang daftar dadakan ketika pendaftaran sudah ditutup), namun Dokter Wildan tetap menyambut kami dengan ramah dan bersemangat. Seperti biasa, aku ditanyai mengenai keluhan-keluhan yang kurasakan. Setelah itu beliau mempersilahkan aku untuk berbaring di ranjang pasien dan memulai pemeriksaannya.

"Wah.." gumam dokter ketika layar sudah menunjukkan sebuah citra. "Sudah kelihatan nih." Beliau menunjuk layar. Aku dan Mas memperhatikan, but we didn't have any idea mengenai apa yang dokter tunjuk itu.
"Bisa tebak jenis kelaminnya apa?" tanya dokter pada kami. Aku dan Mas hanya terdiam dengan diliputi rasa penasaran.
"Enggak, Dok".
"Masa nggak tau?"
Kemudian dokter mengetikkan satu kata dalam bahasa Inggris di layar tersebut yang menunjukkan prediksinya mengenai jenis kelamin bayi kami. Aku dan Mas langsung memekik senang ketika mengetahuinya. Senang karena prediksi dokter sesuai dengan harapan kami. Namun kami memutuskan untuk merahasiakannya dulu. Kami khawatir sudah sesumbar sana-sini bahwa jenis kelaminnya A, setelah lahir ternyata B. Kan namanya manusia, bisa saja salah prediksi kan?

Dokter juga menjelaskan bahwa air ketubanku cukup, bayi kami sehat, dan detak jantungnya normal. Hanya saja berat badannya kurang sedikit dari berat badan normal. Yah mungkin karena problem sakit gigi dan susah makan ini. Huhu.. Maafin Mama ya, Nak. Doakan agar sakit gigi ini nggak sering-sering kambuh lagi, biar Mama bisa makan banyak buat kamu :')

Saat ini kami hanya berharap, bayi kami tumbuh dengan sehat dan normal tanpa kekurangan satu apapun. Aamiin yaa robbal alamiin.

Minggu, 08 Agustus 2021 0 komentar

Pulang

Kurang lebih setengah tahun aku dan Mas tinggal mengontrak di sebuah rumah kecil di kawasan Drajat, hari ini kami pulang ke rumah orangtuaku di Kesenden. Bukan hanya untuk satu-dua hari seperti biasanya, tapi untuk beberapa tahun ke depan. Sebenarnya Mas sudah mengambil rumah di sebuah komplek perumahan di kawasan Mundu, namun kondisi saat ini nggak memungkinkan bagi kami untuk tinggal disana.

Mundu adalah salah satu kecamatan di kabupaten Cirebon. Jaraknya cukup jauh, baik dari tempat kerja maupun tempat tinggal kami saat ini. Belum lagi kondisi jalan menuju komplek perumahan yang nggak rata. Semua kondisi itu agaknya terlalu beresiko untuk ditempuh ibu hamil ataupun bayi yang masih rentan masuk angin jika dibawa bepergian. Well, aku memang memutuskan untuk tetap bekerja selama hamil dan setelah memiliki anak. Dan selama bekerja, untuk sementara kami akan menitipkannya pada orangtuaku. Kasihan kalo anak kecil kami ajak bolak-balik Mundu-Kesenden dan Kesenden-Mundu. Maka dari itu kami
—tentunya setelah berunding dengan orangtua—memutuskan untuk tinggal di rumah orangtuaku, seenggaknya sampai anak kami lahir dan kondisi fisiknya sudah memungkinkan untuk diajak bepergian.

Awalnya kukira kami baru akan pindah di pertengahan Agustus, namun Mas memutuskan untuk mempercepat kepindahan kami. Toh, barang-barang kami sudah rampung dikemas sejak beberapa hari lalu, tinggal mengemas barang-barang yang beberapa hari terakhir digunakan aja, seperti pakaian, peralatan makan, dan peralatan mandi. Barang-barang itu nantinya nggak semuanya dibawa ke rumah orangtuaku, melainkan dibagi dua. Sebagian dibawa ke rumah orangtuaku, sebagian lagi dibawa ke rumah di Mundu.

Sekitar jam sepuluh siang, beberapa orang tukang mulai mengangkut barang-barang kami ke atas mobil bak terbuka. Barang-barang yang dibawa ke rumah orangtuaku didahulukan untuk diangkut. Setelah beres, kami berangkat bersama-sama. Aku tentu aja dibonceng Mas.

Setelah menurunkan barang-barang itu di rumah orangtuaku (tepatnya di salah satu kamar kost milik orangtuaku yang kebetulan sedang kosong), mobil itu kembali ke Drajat untuk mengangkut barang-barang yang akan dibawa ke rumah di Mundu. Mas ikut dengan mereka, sementara aku tetap di rumah. 

Baru kali ini aku merasakan rasanya pindahan, ternyata repot banget yah. Bukan hanya repot dan capek mengemas, tapi juga repot dan capek menata kembali. Setibanya di rumah, kami bahkan nggak bisa langsung memasukkan pakaian kami ke dalam lemari. Lemari pakaianku penuh, apalagi jika ditambah pakaian Mas. Sepertinya mengeluarkan pakaian-pakaian yang sudah jarang kupakai pun masih belum cukup ruang. Sebenarnya Mas punya lemari plastik minimalis, namun lemari itu diangkut ke rumah di Mundu. Akhirnya kami memutuskan untuk menaruh sebagian pakaian kami di kardus dulu untuk sementara waktu. Biar nanti kalo ada waktu, Mas akan meminta tolong temannya untuk membantu membawa lemari itu ke rumah ini.

Meninggalkan rumah kontrakan di Drajat sebenarnya agak berat sih, karena aku sudah merasa cukup kerasan. Meski belum begitu mengenal tetangga-tetangga disana (karena aku memang jarang ke luar rumah), namun sebagai tukang jajan, senang rasanya karena selama tinggal disana, mau jajan apa aja dekat. Mau jajan es krim, tinggal pergi ke warung belakang rumah; mau jajan martabak, roti bakar, tahu tegal, atau cari jajan di Indomaret, tinggal jalan sebentar ke seberang jalan. Mau alpukat kocok atau berbagai minuman kekinian, tinggal motoran beberapa ratus meter ke pusat jajanan di kawasan Kesambi. Mau beli makan pun harganya murah-murah. Empat ribu rupiah kita sudah bisa dapat satu porsi docang, nasi uduk, atau nasi kuning. Hanya aja memang karena dekat dengan tukang jualan, pengeluaran kami jadi jauh lebih banyak. Wkwkwk.

Menetap di rumah orangtuaku tentunya membutuhkan waktu adaptasi yang nggak sebentar untuk Mas. Tapi Mas mengaku merasa lebih tenang jika kami tinggal disini ketimbang langsung menempati rumah di Mundu dan hanya berdua, karena selain alasan yang sudah kutulis di atas tadi, dengan tinggal bersama orangtua selama aku hamil, ibu jadi bisa memantauku. Mas juga jadi nggak perlu khawatir jika harus meninggalkanku apabila dirinya dapat job manggung malam atau hari libur.

Bismillah. Semoga dengan berkumpul kembali, keluarga kami semakin diberkahi kebahagiaan. Aamiin.

Rabu, 04 Agustus 2021 3 komentar

Hi, 2nd Trimester

Trimester pertama sudah berlalu. Aku cukup bersyukur karena selama trimester pertama kemarin, kandunganku bisa dibilang nggak rewel, karena meski tetap merasakan mual dan malas makan, namun aku nggak sampai mengalami muntah-muntah seperti yang kebanyakan dirasakan para bumil. Aku juga nggak banyak ngidam macam-macam, apalagi yang aneh-aneh seperti yang banyak dikeluhkan oleh rekan-rekanku di kantor yang berstatus sebagai calon bapak.

Namun beberapa minggu belakangan ini, aku mulai merasakan sakit kepala yang hebat setiap hari. Bukan sakit kepala biasa, melainkan migrain di bagian kepala sebelah kiri. Sebenarnya migrain bukanlah hal yang nggak biasa buatku. Sejak dulu, aku sudah terbiasa diserang migrain yang munculnya seperti terjadwal. Ia menyerang setiap hari, biasanya mulai dari jam sepuluh pagi, dan kemudian mereda dengan sendirinya sekitar jam dua belas siang atau bahkan lebih lama. Jika sudah begitu, aku hanya cukup tidur atau minum segelas kopi, lalu nyerinya perlahan-lahan hilang. Begitu terus setiap hari. Tapi migrain yang kurasakan kali ini benar-benar menyiksa, dan nggak bisa diredakan dengan tidur ataupun minum kopi. Berbaring justru membuat kepalaku semakin sakit, dan minum kopi sama sekali nggak membantu.

Kondisi seperti ini benar-benar membuatku bingung, apalagi mengingat bahwa seseorang yang sedang hamil disarankan untuk nggak mengkonsumsi obat karena khawatir membahayakan janin, apalagi pada usia kehamilan yang terbilang muda. Aku bertanya pada rekan-rekanku yang lebih dulu berpengalaman mengandung, rata-rata mereka pun nggak mengkonsumsi obat saat merasakan nyeri. Mereka memilih untuk mengoleskan minyak angin yang jauh lebih aman karena nggak dicerna dalam tubuh.

Rasanya tersiksa sekali. Sudah beberapa minggu ini tidurku terganggu karena saat malam nyerinya semakin menjadi. Aku juga merasa semakin bersalah karena nggak jarang Mas ikut terbangun di tengah tidurnya karena mendengar aku meringis, dan sudah beberapa minggu ini pula Mas melarangku untuk melakukan pekerjaan rumah dan membantunya mengepak barang (karena pertengahan Agustus ini kami akan pindah).

Dua hari lalu, aku bertanya pada dokter kandungan perihal aman nggaknya mengkonsumsi obat saat hamil muda, dan dokter menyarankanku untuk mengkonsumsi paracetamol 500mg, karena obat ini dinilai paling aman untuk dikonsumsi ibu hamil. Namun rupanya mengkonsumsi paracetamol hanya meredakan nyeri migrainku sesaat. Beberapa jam setelah mengkonsumsinya, khasiat obatnya hilang, dan nyerinya kembali muncul. Aku tentu nggak mau mengambil resiko dengan mengkonsumsi paracetamol setiap hari untuk meredakan nyeri migrain yang menyerangku setiap hari. Huhu..

Soal penggunaan obat luar pun rupanya nggak bisa sembarangan. Sekitar dua minggu lalu, kulit bagian pahaku mengalami iritasi cukup serius. Aku menyadarinya ketika merasakan sakit di bagian paha kiri saat mandi pagi. Ketika kulihat, rupanya ada luka sepanjang dua belas sentimeter disana. Awalnya kukira itu luka tergores, karena lukanya merah, panjang, dan rasanya perih seperti terkena goresan. Waktu itu aku pikir, ah mungkin aku nggak sadar menggaruk terlalu kuat saat tidur, jadi timbul luka. Namun nggak disangka, beberapa jam setelah itu, lukanya semakin parah. Bagian lukanya menebal, seperti ruam dengan bintil-bintil berisi cairan seperti luka lepuh.

"Gara-gara makan ijoan kali", celetuk Masku, karena memang malam sebelumnya, kami sempat mengkonsumsi kerang hijau. Rasanya nggak mungkin, karena aku nggak memiliki alergi seafood. Lagipula saat itu aku cuma makan satu kerang. Setelah aku browsing Google, barulah aku tau bahwa luka itu berasal dari racun tomcat. Dari situ juga aku baru tau bahwa tomcat nggak menggigit ataupun menyengat, melainkan mengeluarkan racun. Itulah kenapa lukanya bisa sepanjang itu. Tentunya luka ini membuatku sangat merasa nggak nyaman. Berjalan saja rasanya perih, karena lukanya bergesekan dengan pakaian yang kukenakan.

Ada beberapa merk salep ataupun obat luar yang bisa mengatasi luka ini. Namun sayangnya, kebanyakan dari obat-obatan itu merupakan obat keras yang harus digunakan berdasarkan resep dokter (apalagi untuk ibu hamil dan menyusui). Aku sempat berkonsultasi online dengan dokter umum langgananku dan bertanya apakah ada obat untuk mengobati ini yang aman bagi ibu hamil. Memang ada. Obat itu berupa salep, dua macam obat minum, dan satu botol sabun antiseptik. Namun aku kaget melihat harganya. Hampir setengah juta rupiah. Huhu.. Mau nangis. Skincare-ku aja nggak sampai segitu 😭

Tentu saja aku nggak menebusnya. Akhirnya kuputuskan saja untuk membiarkan luka itu sembuh dengan sendirinya. Kadang-kadang aku taburi dengan bedak salicyl. Alhamdulillah sekarang lukanya sudah agak mengering dan tentunya sudah nggak perih. Memang rasanya agak gatal, tapi aku nggak berani menggaruknya karena takut lukanya kembali parah.

Jadi yah, tinggal migrain satu ini yang jadi masalah terbesarku saat ini. Beberapa hari belakangan ini rasanya semakin parah karena gigiku juga sakit, dan nyerinya menyebar hingga ke telinga, leher, dan bahu. Banyak yang bilang, ini adalah pengaruh hormon dan akan menghilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia kehamilan. Jika iya, aku harap ini nggak akan lama :')

Total Tayangan Halaman

 
;