Sabtu, 13 April 2024 0 komentar

Tiga Hari Dua Malam di Depok

 Lebaran hari kedua kemarin, aku, Mas Agus, dan anak kami Fathian silaturahmi ke rumah Om Tip di Depok. Om Tip ini adik dari almarhum mama mertuaku. Beliau merupakan satu-satunya saudara mama mertua yang masih hidup. Aku dan mas udah merencanakan keberangkatan ini sejak akhir bulan Maret lalu. Kebetulan istri dari salah satu kenalan mas dan dua anak mereka mau mengunjungi saudaranya di Bogor. Jadi kami berangkat bareng dari rumah mereka, lalu pulangnya kami bertiga naik kereta.

Ini pertama kalinya aku berkunjung ke rumah Om Tip, dan pertama kalinya Fathian pergi ke luar kota. Aku dan mas sempat khawatir karena kemarin anak kami terserang pilek. Hidungnya meler terus sehingga membuatnya sedikit rewel selama hari H lebaran. Alhamdulillah setelah dua kali minum sirup pereda pilek, di hari keberangkatan kami ke Depok, pileknya mendingan dan nggak meler lagi.

Awalnya, aku dan mas berencana menginap di rumah Om Setya, kenalan mas itu. Maksudnya sih biar nggak terlalu diburu-buru saat berangkat nanti. Namun sayangnya, malam itu taksi online sulit sekali didapat. Semua drivernya sibuk. Mungkin karena suasana lebaran, jadi banyak orang yang menggunakan jasa mereka. Mungkin juga mereka sedang sibuk dengan keluarga masing-masing sehingga nggak menerima orderan dulu. Entahlah. Akhirnya aku dan mas memutuskan untuk berangkat pagi-pagi ke rumah Om Setya.

Hari Kamis 11 April, jam empat subuh. Setelah mencuci botol dan kotak susu Fathian agar siap dibawa, aku mengecek lagi apa-apa aja yang nanti harus kami bawa ke sana, memastikan nggak ada yang tertinggal. Aku bangun sepagi itu juga buat jaga-jaga kalo taksi online susah dipesan lagi seperti sebelumnya.

Fathian baru bangun sekitar jam setengah enam dan nggak sempat mandi. Itu pun bangun dengan terpaksa. Ia sulit sekali dibangunkan, jadi kuganti popok dan pakaiannya saat ia masih tidur. Karena merasa tidurnya keganggu, ia mengamuk dan menangis cukup lama. Ia juga menolak untuk ganti baju, jadi aku dan Mas Agus terpaksa membiarkannya pergi dengan baju tidurnya. Ia baru berhenti mengamuk saat adikku membujuknya dengan balon air.

Seperti dugaanku sebelumnya, pagi itu kami sempat kesulitan mencari taksi online. Ada yang nyantol satu, tapi kemudian ditolak. Untung pas dicoba lagi, akhirnya ada yang mau menerima orderan kami.

Singkat cerita, kami sampai di rumah Om Setya di kawasan Perumahan Sabrang Permai. Karena Fathian udah tenang, aku mengganti bajunya dengan baju yang bersih. Sambil menunggu mobil, kami duduk-duduk di teras sambil ngobrol bareng Om Setya. Fathian seperti biasa, nggak betah duduk diam. Jadi ya gitu deh, dia asyik melihat burung peliharaan si empunya rumah, lihat lukisan ikan, lihat buah jambu di halaman rumah sebelah, lari-lari, lompat sana-sini, nggak kapok meskipun jatuh sampai nangis dan dengkulnya lecet. Wkwk.

Akhirnya mobil pun tiba untuk menjemput kami. Kami berangkat sekitar jam tujuh pagi. Selain aku, mas, dan Fathian, ada juga istri Om Setya (aku dan mas memanggilnya 'mamah'), dan dua anaknya : Ikhsan dan Nayla. Selama perjalanan, Fathian memilih duduk dipangku Mas Agus sambil makan snack. Satu setengah jam perjalanan, Pak Dwi (supir kami) bertanya apakah ada di antara kami yang ingin mampir ke toilet. "Boleh, Pak", jawabku. Kebetulan aku sedang haid hari kedua, aku khawatir menstrual cup-ku penuh. Saat itu pukul 09:04, mobil kami berbelok ke Rest Area Tol Cipali KM 86. Sebenarnya jalur menuju rest area itu kayaknya ditutup, karena ada beberapa water barrier terpasang menghalangi jalan. Tapi karena water barrier itu dipasang renggang dan cukup untuk dilewati mobil (sepertinya sih ada orang yang sengaja menggeser), jadi Pak Dwi cuek aja membelokkan mobil kami ke rest area itu. Wkwkwk.

Rest area yang kami kunjungi itu terlihat sepi. Nggak ada siapapun di sana. Rumah makan pun semuanya tutup. Tapi karena yang kubutuhkan adalah ke toilet, jadi ya nggak masalah. Aku dan mamah langsung menuju toilet, Nayla memilih duduk di dalam mobil bersama Fathian yang saat itu tertidur, sementara para cowok merokok di luar. Toilet di tempat itu cukup bersih. Tapi ternyataaa semua kran di toilet itu mati dong. Meski begitu, ada beberapa ember kecil yang menampung air di dalam tiap bilik toiletnya. Jadi ya lumayan aja deh. Dalam kondisi seperti ini, kerasa banget praktisnya pakai menstrual cup saat haid. Tinggal buang cairannya ke kloset, bilas menstrual cupnya dengan air mengalir, lalu pakai lagi. Coba kalo pakai pembalut, repot cuci-cuci, gulung, bungkus plastik, lalu buang. Mana airnya terbatas banget kan. Cukup sepuluh menitan kami di tempat itu, lalu kami pun melanjutkan perjalanan.

Menjelang jam sebelas siang, kami berhenti buat makan siang di resto padang di Rest Area Cibubur. Di resto itu, Fathian sempat menangis karena dagunya terbentur meja saat ia turun dari kursi. Jadi kuajak ia melihat-lihat sekitar biar tangisnya reda. Fathian juga sempat digendong oleh Ikhsan, sesuatu yang sangat langka terjadi mengingat Ikhsan termasuk orang asing baginya. Biasanya Fathian menolak digendong orang asing, tapi kepada Ikhsan, ia kelihatan nyaman gitu, bahkan sampai dadah-dadah ke mama papanya. Ckck.

Rest Area Cibubur

Jam satu siang, kami sampai di lokasi tujuan mamah, Ikhsan, dan Nayla, yakni sebuah rumah di kawasan Kedunghalang Bogor. Rumahnya pas banget di sisi jalan raya Jakarta-Bogor dekat lampu lalu lintas, jadi kita bisa melihat aktifitas para pengendara dan badut pengamen yang lalu lalang. Fathian yang takut badut (tapi penasaran ngintip-ngintip) terus merengek sambil memeluk mas atau aku. Di sana juga Fathian asik main bola dan lihat kura-kura dalam akuarium yang terletak di meja teras rumah itu. Ia juga sempet tertarik dengan litter box yang ditaruh di teras. Mungkin ia pikir, itu pasir mainan. Ia berkali-kali menghampiri kotak itu, tapi buru-buru kucegah sebelum ia mengobok-obok isinya.

Jam setengah dua siang, kami melanjutkan perjalanan tanpa mamah, Ikhsan, dan Nayla. Fathian duduk di depan bareng Mas Agus, sedangkan aku sendirian di kursi tengah. Aku menyimak mas dan Pak Dwi yang asyik mengobrol. Kami bersyukur karena Pak Dwi bukan sekedar supir, tapi juga teman perjalanan yang menyenangkan. Beliau banyak bercerita tentang suka dukanya menjadi driver selama bertahun-tahun. Dia juga bercerita tentang bagaimana ia membesarkan anak-anaknya sambil sesekali memberi aku dan mas nasehat-nasehat kecil untuk menjaga dan mendidik Fathian sebaik-baiknya. 

Fathian yang sesekali melihat Pak Dwi menggerakkan tuas persneling diam-diam menirukannya dengan menggerakkan botol minum plastik yang terletak di cup holder pintu mobil. Mas dan Pak Dwi yang melihat hal itu tertawa.
"Itulah, Kang. Anak umur segini masih polos, cepat menyerap dan niru apa yang dia lihat. Kalo sering lihat orangtuanya ke masjid, dia juga ikut rajin ke masjid. Kalo lihat orangtuanya rajin ngaji, dia juga rajin ngaji. Kalo lihat orangtuanya rajin sholat, dia juga rajin sholat. Kalo lihat papanya suka merokok, anak juga pasti penasaran pingin coba. Kayak anak saya, Kang. Dia sering bilang pingin jadi seperti ayah. Karena dia sering lihat ayahnya merokok, diam-diam dia ngikutin, pura-pura merokok. Uh, saya sampai dicarekan (dimarahi) istri saya, katanya ngasih contoh nggak baik", tuturnya bercerita. Aku yang mendengar cerita itu langsung mencolek bahu mas. Tuh dengerin!
"Makanya mumpung anak masih umur segini, masih bisa dibentuk", sambungnya lagi.

 Aku juga kagum karena beliau adalah salah satu dari sedikit orang dewasa yang berpikir bahwa anak bukan semata-mata rejeki, tapi juga tanggung jawab. Baginya lebih baik punya satu anak yang berkualitas daripada punya banyak anak yang nggak terjamin hidupnya. Setuju sih, karena faktanya banyak banget orangtua yang masih punya mindset 'banyak anak banyak rejeki'. Iya, memang benar rejeki anak itu ada, tapi bukan berarti sebagai orangtua jadi nggak punya planning dan persiapan. Pendidikan itu mahal, belum lagi kalo anak tiba-tiba sakit dan butuh biaya besar. Apa belum cukup bukti dari banyaknya anak-anak yang terlantar di jalan-jalan? Alih-alih sekolah, malah disuruh cari uang.

Oke, balik lagi ke cerita. Sekitar jam setengah tiga sore, akhirnya kami sampai di gang masuk rumah Om Tip di kawasan Pengasinan, Sawangan Depok. Setelah menurunkan barang-barang kami dan memastikan nggak ada yang ketinggalan, Pak Dwi pamit. Sebelum pergi, beliau mencium tangan Fathian bolak balik, mendoakan, dan mencium ubun-ubunnya. Aku jadi terharu, bersyukur juga dipertemukan sama beliau. Kami baru kenal, tapi rasanya kayak udah kenal lama.

Sampai di rumah Om Tip, kondisi rumahnya sepi. Cuma ada seorang bapak tua yang duduk di halaman, katanya semua penghuni rumah sedang jajan bakso di luar, kecuali Om Tip yang sedang istirahat. Mas Agus meminta bapak itu buat panggilkan beliau. Nggak lama kemudian, Om Tip keluar dan menyambut kami. Beliau memeluk Mas Agus dan menangis terharu karena baru ketemu mas lagi setelah tiga tahun, ditambah mas juga nggak mengabari kalo kami mau datang. Sengaja, biar surprise. Eh, saat mas dan Om Tip sedang pelukan sambil menangis terharu begitu, Fathian malah teriak-teriak dan memisahkan mereka berdua. Wkwkwk. Fathian memang suka cemburu kalo lihat orangtuanya pelukan.

Beberapa menit kemudian, orang-orang rumah kembali dari jajan bakso. Mereka juga menyambut kami. Beberapa anak langsung mengajak Fathian main, tapi seperti biasa, ia butuh waktu cukup lama buat beradaptasi. Pertama-tama mereka membujuk Fathian dengan cemilan, lalu dengan mainan mobil-mobilan dan puzzle block berbentuk kereta. Lalu setelah Fathian mulai nyaman, aku dan mas mengajaknya mandi, itupun harus dibujuk dengan melihat ikan-ikan di kolam belakang . Setelah mandi dan mengganti pakaian, Fathian pun diajak mas duduk-duduk di teras. Di situ Fathian main kendaraan-kendaraan kecil bersama Rafan, anak bungsu Mbak Rena (sepupu mas) yang usianya empat tahun di atas Fathian, lari-lari, lompat-lompat. Happy banget. Alhamdulillah, adaptasi berhasil. Hahaha.

***

Awalnya, aku dan Mas Agus berencana menginap bareng Fathian di penginapan atau hotel selama kami di Depok. Tapi ternyata, di Kecamatan Sawangan tempat Om Tip tinggal itu nggak ada penginapan atau hotel. Sedangkan kalo kami menginap di luar kecamatan dengan kondisi Depok yang padat dan rawan macet, rasanya tentu bakal capek di jalan. Jadi selama di sana, kami tidur di rumah Om Tip di lantai dua. Di lantai dua itu ada tiga kamar : kamar Mbak Leni, kamar Mbak Elis, dan kamar yang mereka siapkan untuk kami tidur. Waktu pertama kali aku masuk ke kamar yang mereka siapkan untuk kami itu, aku kaget, karena kamar itu hanya dibatasi gorden dan langsung berhadapan dengan tangga. Kebayang kan ngerinya? Dengan Fathian yang super aktif begitu, aku jadi kepikiran yang enggak-enggak. Mana anak tangganya tinggi-tinggi, dan jarak teralis di pagar pengamannya jarang-jarang. Jadi aku sampaikan kekhawatiranku itu ke Mas Agus. Akhirnya kami 'bertukar kamar' dengan Mbak Elis.

Selama di sana, Fathian hobi banget naik turun tangga. Setiap kali aku dan mas naik atau turun tangga, Fathian selalu minta ikut. Kalo dituntun naik atau turun tangga, jalannya cepat sekali, sampai-sampai yang nuntun kewalahan. Bahkan Fathian pernah hampir nyelonong sendiri dari kamar ke tangga buat turun. Untung keburu aku cegah. Kalo engga, haduuuhh, membayangkannya aja rasanya seram.

***

Jum'at 12 April, kami jalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan. Selain Fathian, aku, Mas Agus, dan Mbak Rena, ada juga Mas Handoko (suami Mbak Rena), Fathan (anak kedua Mbak Rena), Rafan, Mbak Elis, Bulik Yam (istri Om Tip), Mbak Leni, dan Mbak Lia yang ikut serta. Kami berangkat dari rumah Om Tip sekitar jam sepuluh siang, naik empat motor.

Perjalanan sempat terhambat karena ban motor yang ditumpangi Mbak Leni dan Mbak Lia bermasalah, jadi kami mampir makan bakso dulu deh. Kebetulan waktu itu udah jam sebelas, hampir jam makan siang. Sayangnya Fathian nggak mau makan, malah nontonin Rafan makan. Setelah makan bakso dan ban motor Mbak Leni 'sembuh', kami melanjutkan perjalanan ditemani gerimis kecil. Seperti biasa, karena perjalanannya jauh, Fathian tidur di tengah perjalanan.

Singkat cerita, kami sampai di Kebun Binatang Ragunan sekitar jam setengah satu siang. Baru masuk dari loket pemeriksaan tiket, Fathian udah disambut oleh mbak fotografer yang memintanya melihat ke kamera. Wkwkwk. Fathian yang mungkin masih ngantuk, kelihatan lemes banget waktu aku dan Mas Agus tuntun. Karena Fathian anaknya aktif banget, akhirnya aku bilang ke mas untuk membiarkan Fathian jalan sendiri tanpa dituntun, siapa tau dengan begitu Fathian bakal jadi lebih semangat gitu. Ternyata bener dong. Begitu tangannya dilepas dari genggaman kami, Fathian kelihatan lebih happy gitu jalan bareng Rafan dan Fathan, khususnya Rafan sih. Mungkin karena perbedaan umur mereka nggak begitu jauh kali ya, jadi Fathian merasa klop gitu. Lucu banget, selama di sana Fathian selalu pingin gandengan dengan Rafan. Bahkan ketika Rafan mengeluh capek gandengan mulu, dan Fathan menawarkan diri untuk menggandeng Fathian, Fathian menolaknya. Ia keukeuh pingin gandengan dengan Rafan. Wkwk. 

Ki-Ka : Rafan, Fathian, Fathan

Hewan yang kami lihat pertama adalah jerapah. Harapanku sih Fathian bakal excited gitu, eh ternyata reaksinya biasa aja. Yah, Fathian kelihatan tertarik sih melihat si jerapah, tapi nggak banyak nanya dan heboh kayak biasanya, malah lebih kayak kelihatan bingung gitu. Kami juga lihat burung pelikan. Trus kami juga sempat naik kereta wisata selama kurang lebih sepuluh menitan.




Selama di sana, kalo nggak sedang gandengan dengan Rafan, Fathian pinginnya digendong Mas Agus. Ia kelihatan kurang enjoy jalan-jalan di sana. Mungkin karena banyak orang kali yah, jadi ia nggak nyaman di tengah keramaian gitu. Saat kami istirahat untuk makan, Fathian merengek dan membuat mas kewalahan. Akhirnya Mas Agus mengajaknya pergi. Lalu saat kembali ke tempat, Fathian udah menenteng jaring berisi bola karet. Wkwkwk. Bola itu ia mainkan bersama Rafan dan Fathan. Di situ Fathian kelihatan happy banget main bola bareng mereka, nggak peduli meskipun beberapa kali jatuh. Aku dan Mas Agus cuma bisa geleng-geleng melihat kaos putih dan sepatu putihnya yang belepotan tanah basah :')

Setelah itu, kami lanjut lagi keliling-keliling melihat hewan. Gerimis kembali menemani kami, membuat tanah semakin basah dan licin. Kami melihat-lihat gajah, singa afrika, harimau sumatera, kapibara, rusa, kancil, kura-kura, buaya, berbagai jenis ikan, ular, dan berbagai jenis burung. Sayangnya di sana nggak ada burung hantu. Padahal Fathian suka banget dengan burung hantu. Saat melihat-lihat spesies primata, Fathian merengek dan tampak takut. Padahal orangutan yang kami lihat kemarin lucu banget. Dia tampak narsis bergelayutan sambil mengulurkan tangan ke pengunjung. Entahlah. Mungkin Fathian pikir, "Ini orang tapi kok badannya berbulu, telanjang, mukanya hitam dan aneh", gitu kali ya? 😅


Sekitar jam empat sore, kami memutuskan untuk pulang. Di tengah perjalanan, lagi-lagi Fathian tidur. Karena hujan, Mbak Rena meminjamkan jas hujan kecil untuk menutupi kepalanya. Mas Agus ngebut menyetir. Ngeri juga rasanya, apalagi kata Mas Agus gasnya terasa berat dan remnya sedikit blong. Aku sampai dzikir mulu sepanjang perjalanan. Alhamdulillah, sekitar jam lima sore, kami sampai di rumah Om Tip dengan selamat.

***

Pagi tadi, kami bangun lebih pagi untuk bersiap pulang ke Cirebon. Untunglah jam setengah enam Fathian udah bangun. Jam tujuh, kami sarapan. Fathian seperti biasa menggelayut pada mas sampai papanya itu nggak bisa makan. Dibujuk makan bareng aku, dia nggak mau. Fathian baru mau lepas dari Mas Agus ketika diajak Om Tip melihat ikan-ikan di kolam belakang.

Jam delapan pagi, kami berangkat naik taksi online ke Stasiun Citayam. Ada Mbak Rena, Rafan, Mbak Elis, dan Mbak Lia yang ikut mengantar kami ke sana. Dari sana, kami naik KRL menuju stasiun transit Manggarai. Ini pertama kalinya Fathian naik kereta, dan pertama kalinya aku naik KRL. Awalnya Fathian duduk dipangkuanku, tapi kemudian ia berontak minta digendong Mas Agus. Karena mas berdiri, jadi aku dan Mas Agus bertukar posisi. Mas yang duduk sambil memangku Fathian, aku yang berdiri dekat pintu keluar-masuk.

Tiba di Stasiun Manggarai, Fathian mulai tantrum kepingin naik turun tangga dan membuat Mas Agus yang menenteng koper jadi kewalahan. Dari stasiun Manggarai itu, kami naik KRL lagi menuju stasiun transit Jatinegara. Nah, di stasiun Jatinegara ini, harusnya kami naik KRL ketiga menuju stasiun Pasar Senen untuk naik kereta Tegal Bahari yang akan mengantar kami ke Cirebon. Tapi nggak seperti di stasiun sebelumnya, kali ini kami cukup lama menunggu KRL datang. Akhirnya sambil mengisi waktu, kami foto-foto di situ. Lalu seorang petugas menghampiri kami dan menyampaikan bahwa siang itu KRL-nya sedang ada trouble. Karena waktu benar-benar sempit, jadi kami dibantu petugas stasiun untuk naik kereta Tegal Bahari tanpa harus ke stasiun Pasar Senen. Alhamdulillah. Akhirnya sebelum masuk lift menuju peron, kami berpamitan pada Mbak Rena dan yang lainnya.

Ketika kereta Tegal Bahari tiba, Bapak Kondektur Kereta membimbing kami untuk naik ke sembarang gerbong dan duduk di kursi manapun. Sampai di Stasiun Senen, baru deh kami naik ke gerbong dan duduk di tempat yang sesuai dengan yang tertera di tiket. Kami dapat gerbong paling belakang, di tempat duduk kedua dari belakang. Fathian masih terus merengek dan berteriak ke Mas Agus, entah maunya apa. Mungkin bosan. Penumpang di belakang kami membawa anak bayi. Bayinya menangis, kaget mendengar teriakannya. Ibunya buru-buru menenangkan. Aku yang merasa nggak enak pun meminta maaf. Susah banget rasanya waktu itu membujuk Fathian untuk diam. Alih-alih menurut, Fathian malah mengoceh semakin keras, "Cici, caca, cici, CAACAAAA!" seolah-olah aku Mas Agus sedang mengajaknya bercanda‍. 

Entah berapa kali bayi itu menangis kaget mendengar ocehan Fathian dan berapa kali ibu bayi itu menenangkan bayinya sambil mengucap "It's okay". Akhirnya apa? Fathian baru bisa diam saat ibu bayi itu menatapnya sambil berkata lembut, "Kakak jangan berisik dulu yaa. Dede bayinya kaget, mau tidur" :') Setelah tenang, dan berhenti mengoceh, Fathian tidur di pelukan mas.

Singkat cerita, sekitar jam setengah dua, kami sampai di Stasiun Kejaksan Cirebon. Lagi-lagi Fathian merengek manja pada papanya. Andai dua tanganku nggak penuh dengan tas jinjing berisi pakaian, bekal, dan oleh-oleh, pasti udah kubawa koper itu biar mas bisa menggendong Fathian. Tapi situasi sore tadi benar-benar repot, sedangkan Fathian belum bisa mengerti  kerepotan kami. Akhirnya mas yang nggak pernah memarahi Fathian, sore tadi harus sedikit lebih tega mengomel dan membiarkannya tantrum dengan berbaring di trotoar saat kami menunggu jemputan :')

Bahkan ketika sampai di rumah pun Fathian masih rewel, yah walaupun nggak separah saat di stasiun tadi. Well, sepertinya ia kehilangan teman kali ya. Sepi. Kemarin-kemarin happy banget punya teman baru, sekarang harus main sendiri lagi. 

Sabtu, 09 Maret 2024 0 komentar

Bebas Beraktifitas Saat Haid Dengan Menstrual Cup

 Pertama kali aku tau ada sebuah benda ajaib bernama menstrual cup alias cangkir menstruasi itu dari sebuah thread di Twitter. Aku lupa kapan tepatnya, tapi kalau nggak salah sekitar empat tahun yang lalu. Setelah membaca thread itu, aku merasa tertarik buat beralih dari penggunaan pembalut ke menstrual cup ini. Tapi karena pada saat itu aku belum nikah dan khawatir penggunaan menstrual cup akan berakibat pada robeknya selaput dara, jadi aku memutuskan untuk menunda penggunaannya.

Awal Januari 2021 aku menikah, dan tiga bulan kemudian qodarullah aku diberi amanah untuk hamil. Beberapa hari setelah melahirkan, seperti ibu-ibu pada umumnya, aku mengalami masa nifas. Pada saat itu aku bisa ganti pembalut nifas lima belas menit sekali saking derasnya. Waktu itu kerasa banget repotnya, lemasnya dan capeknya harus bolak-balik kamar mandi buat mencuci dan membuang pembalut bekas pakai.

Beberapa bulan setelah melahirkan, baru deh aku memutuskan untuk menggunakan menstrual cup. Alasanku memutuskan menggunakan menstrual cup ini adalah, selain lebih praktis, juga karena aku memiliki kulit yang sensitif, dan kondisi kulitku semakin sensitif pasca hamil dan melahirkan. Hampir setiap kali menggunakan pembalut, area selangkanganku terasa gatal dan nggak nyaman hingga timbul iritasi. Selain itu, setiap kali membuang pembalut bekas pakai, aku selalu merasa bersalah. Setiap hari aku membuang popok bekas pakai anak, dan aku juga menambah 'beban' lingkungan dengan membuang pembalut bekas setiap bulannya. Dengan menggunakan menstrual cup, aku berharap bisa sedikit mengurangi beban lingkungan. Hehehe.

Tapi sebelum beli menstrual cup ini tentunya aku baca-baca dulu artikel-artikel dan review dari mereka yang udah lebih dulu menggunakannya, mulai dari cara pakai, ukuran apa yang cocok, sampai rekomendasi merk menstrual cup yang nyaman dipakai, karena biar gimana pun aku nggak mau menyesal setelah membelinya. Harganya pun bervariasi, dari yang hanya puluhan ribu, sampai ratusan ribu. Takutnya udah beli mahal-mahal, eh malah nggak kepakai.

Singkat cerita, pilihanku jatuh pada menstrual cup merk Momi Homi. Aku membelinya di salah satu e-commerce dengan harga kurang dari enam puluh ribu rupiah. Produknya bisa dibeli di sini. 

Ada tiga pilihan ukuran cup untuk menstrual cup merk Momi Homi ini, yakni ukuran XS, S, dan L. Sayangnya deskripsi produk hanya menyebutkan ukuran S untuk wanita yang belum pernah melahirkan normal, dan ukuran L untuk wanita yang pernah melahirkan normal. Nggak ada deskripsi untuk ukuran XS. Mungkin ukuran XS untuk anak gadis yang baru aja mengalami menstruasi kali yah?

Awalnya aku terpikir untuk membeli menstrual cup ukuran S karena aku baru mau coba pakai, dan pada panduan yang aku baca, tertulis bahwa lebih baik memilih ukuran yang lebih kecil kalo merasa nggak yakin. Kira-kira penjelasannya seperti ini :


Tapi aku juga teringat pada thread di Twitter yang pernah aku baca, ada yang menyebutkan bahwa ukuran menstrual cup yang L pun ukurannya nggak lebih besar dari (maaf) penis. Wkwk. Sedikit nyeleneh sebenarnya yaa, tapi anehnya statement itu yang justru meyakinkan aku untuk memutuskan membeli menstrual cup ukuran L. Wkwkwk.


Jujur, di awal-awal aku merasa sedikit takut melihat ukuran menstrual cup yang kubeli, ternyata kalo dilihat-lihat besar juga yah. Wkwk. Tapi karena udah beli, jadi mau nggak mau ya tetap kucoba lah. Pertama-tama, tentu aja sebelum digunakan, kita perlu mensterilkan produknya terlebih dahulu. Aku pribadi sih cukup merendam menstrual cupnya di air panas aja sih selama beberapa menit.


Dari beberapa cara melipat menstrual cup, aku memilih bentuk C or U yang paling mudah. Jujur, awal masukinnya memang agak sakit sih. Lebih baik pakai lubricant kalo nggak mau sakit. Beberapa orang juga mengalami kesulitan waktu awal pakai, salah satunya adalah menstrual cupnya masih terlipat dan nggak terbuka saat udah di dalam. Tapi alhamdulillah banget, waktu itu aku langsung bisa.

Biasanya kalo pakai pembalut, rasanya mengganjal, gatal, dan nggak nyaman. Tapi ini ajaib. Begitu menstrual cupnya terpasang, rasanya kayak nggak pakai apa-apa. Nyaman banget. Saking nyamannya, kadang suka lupa kalo sedang mens. Mau gerak seaktif apapun, tidur jumpalitan kayak apapun, nggak akan bocor. 

Lho, kalo bisa bikin lupa bahwa sedang mens, ntar lupa buang dong? 
Nggak lah ya. Meski menstrual cup ini anti bocor, tapi tetap aja cairan yang dia tampung bisa 'meluap' kalo nggak dibuang. Biasanya kalo merasa seperti ada gelembung udara atau 'letupan' di dalam sana, itu artinya cairan yang dia tampung udah hampir meluap dan harus segera dibuang. 

Kalo aku pribadi sih biasanya kalo hari pertama mens dan sedang deras-derasnya, bisa tiga kali buang. Nggak repot. Tinggal tarik keluar menstrual cupnya, buang cairan, cuci menstrual cupnya dengan air mengalir, lalu pakai lagi. Kayaknya cuma butuh waktu lima menitan. Nggak kayak pembalut yang harus repot cuci-cuci sampai nggak ada sisa darah, peras, lipat, masukin kantong plastik, lalu buang. Udah repot, buang waktu, meninggalkan sampah pula. Trus repot juga kan kalo mau bepergian harus bawa satu bag pembalut dan kantong plastik. Kalo pakai menstrual cup, cukup bawa satu untuk dipakai berkali-kali. Mana awet banget, satu menstrual cup bisa sampai lima tahun, nggak perlu beli tiap bulan kayak pembalut. Hehe. Kalo udah selesai menstruasi, cukup cuci menstrual cup-nya dengan sabun, bilas dengan air mengalir, trus disterilkan atau rendam dengan air panas selama beberapa menit, trus keringkan, dan taruh lagi di kotaknya. Sepraktis itu.

Sampai saat ini, mungkin udah hampir satu setengah tahun aku pakai menstrual cup. Pembalut udah nggak ada lagi dalam list kebutuhan bulanan. Sisa stok pembalut yang aku punya, kubawa ke kantor buat teman kantor yang sedang mens dan lupa bawa pembalut, juga buat jaga-jaga kalo aku tiba-tiba mens dan nggak bawa menstrual cup. Wkwk. 

Aku sempat meracuni dua rekan kerjaku sih, biar mereka beralih ke menstrual cup juga. Alhamdulillah dua-duanya tertarik. Malah salah satu dari mereka udah beli menstrual cup dengan merk dan ukuran yang sama dengan menstrual cup punyaku. Tapi sayangnya dia belum berhasil memakainya. Dia mengaku bingung kenapa aku bisa tapi dia nggak bisa. Sementara rekanku yang satunya baru sebatas tertarik aja, belum berani untuk beli dan memakainya. Yah, semoga aja mereka dipermudah untuk segera beralih dari penggunaan pembalut ke menstrual cup juga 😁
Rabu, 13 Juli 2022 3 komentar

Till We Meet Again

"Habis dicek bukaan, jadi makin mules nih".
"Iya, Teh. Kayak dibukain jalan gitu ya sama bidannya".
"Iya. Udah mau lahiran masih aja dikasih obat sama bidan. Boro-boro mau minum".
"Iya, Teh. Tapi saya mah tetap diminum sih".
"Obat apa sih itu?"
"Lupa euy, Teh. Kalo nggak salah sih vitamin B".

Percakapan WhatsApp itu terhenti di situ. Pukul 14.13. Bahkan hingga sore, pesan WhatsApp terakhirku belum juga menunjukkan centang biru. 

***

Beberapa waktu belakangan ini, aku dan Teh Indri cukup intens berkomunikasi via WhatsApp. Setelah tahun 2020 lalu kehilangan janin yang dikandungnya, Teh Indri diberi amanah untuk mengandung lagi. Usia kandungannya hanya berjarak lima bulan denganku. Karena itu, saat masih mengandung Fathian, kami sempat dua kali kontrol bareng di klinik Dokter Wildan. Mendekati HPL bayinya, ia semakin sering menghubungiku via chat, bertanya seputar kehamilan, pengalaman melahirkan, dan persiapan menuju persalinan. Dan aku selalu menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan antusias. Rasanya senang bisa berbagi pengalaman. 

HPL anak Teh Indri jatuh pada tanggal 11 Juli. Namun ia udah was-was sejak jauh-jauh hari. Ia sering bercerita padaku bahwa ia khawatir anaknya akan lahir melebihi HPL dan harus operasi caesar karena menjelang HPL ia belum merasakan tanda-tanda persalinan apapun. Aku pun hanya bisa menenangkannya agar nggak terlalu memikirkan hal yang justru akan memicu stres.
"Kan belum sampe HPL, Teh. Bayi tau kapan dia mau lahir kok. Saya dulu juga kepikiran kayak Teteh, tapi akhirnya kebukti, Fathian lahir tepat di HPL", kataku waktu itu mencoba menenangkannya.

***

Minggu, 10 Juli.
Teh Indri mengeluh kram perut. Ia juga bertanya soal flek kecoklatan yang ia temui di pakaian dalamnya pagi itu. Aku menyarankannya untuk segera menghubungi bidan. Aku kira hari itu ia akan segera melahirkan, tapi ternyata belum. 

Senin, 11 Juli, pukul 11.35.
Teh Indri mengabariku bahwa ia baru aja pulang dari klinik bidan dan mengecek pembukaan jalan lahir. Rupanya saat itu udah masuk pembukaan satu menuju pembukaan dua. Ia bilang kalo ia mau tidur dulu. Tapi karena rasa sakit di perutnya, ia jadi nggak bisa tidur dan akhirnya kami chatting terus hingga jam dua siang itu. Ketika pesan WhatsApp terakhirku nggak kunjung dibacanya, aku hanya berpikir, ah, mungkin dia udah mules banget dan siap-siap balik ke bidan lagi, jadi nggak sempat baca chat.

Rasanya aku ikut bahagia. Teh Indri akan segera jadi ibu. Anak kami sama-sama laki-laki. Bahkan ketika sama-sama masih mengandung, kami udah membayangkan, kelak mereka akan jadi sepasang sahabat seperti kedua orangtuanya.

Pukul 16.33.
Masku mengabari bahwa Teh Indri dan Mas Ipank udah tiba di klinik. Ia mengajakku untuk mampir sebentar ke klinik sepulang kerja nanti. Aku pun mengiyakan.

Sepulang kerja, aku meminta mas untuk mampir sebentar ke Indomaret karena aku ingin beli Cappuccino Iced di Outlet Point Coffee. Tanpa diduga, ketika tengah menunggu kopiku jadi, aku melihat Mas Ipank yang baru aja dari kasir. Aku pun menyapanya. Ia juga sempat mengobrol sebentar dengan mas di parkiran. Sore itu, kami batal untuk mampir ke klinik.
"Nanti aja habis Magrib Mas ke sana", kata masku waktu itu.

Sesuai janji, setelah sholat Magrib, masku pergi ke klinik di mana Teh Indri akan segera melahirkan, sementara aku tetap di rumah untuk menunggui Fathian. Oh ya, bidan yang menangani persalinan Teh Indri adalah bidan yang sama dengan yang menangani persalinanku dulu. Iya, kami kontrol di dokter yang sama, dan bersalin di klinik bidan yang sama :)

Pukul 18.28.
Mas mengabari bahwa pembukaan udah lengkap. Ia juga menghubungiku via video call. Tapi ia mengarahkan kameranya pada mama Teh Indri yang rupanya menunggu di Ruang Tunggu.
"Sehat, Ma?" sapaku pada beliau.
"Alhamdulillah sehat".
"Nggak nemenin Teteh di dalam?"
"Nggak ah, Ivan aja. Takut lihat darah".
"Oh yaudah bener, mas di sana nemenin Mama ya".
"Iya, kasihan mama sendirian", sahut mas.
"Doain aja lancar lahirannya", ucap beliau.
"Pasti, Ma. Semoga lancar, selamat dua-duanya."
"Aamiin".

Pukul 18.38.
Masku mengabari bahwa anak Teh Indri udah lahir. Tapi ketika kutanya gimana kondisi Teh Indri, mas belum bisa menjawab.
"Nanti Mas kabari, fotoin dedenya juga", katanya.
Saat itu yang bisa kulakukan hanya bersyukur. Alhamdulillah prosesnya cepet banget, hanya sepuluh menit setelah pembukaan lengkap, batinku. Teringat proses melahirkan Fathian bulan Januari lalu yang terasa lamaa banget. Nggak sabar rasanya ketemu Teh Indri dan mendengar ceritanya.

Pukul 19.20.
Mas meneleponku, mengabari bahwa Teh Indri harus dirujuk ke rumah sakit terdekat karena mengalami pendarahan. Hanya Mas Ipank, bidan, dan asistennya yang membawa Teh Indri ke sana. Sementara masku menemani mama Teh Indri dan bayinya di klinik.

Sekitar jam sembilan malam (aku nggak ingat kapan tepatnya karena begitu banyaknya panggilan telepon yang mas lakukan untuk mengabariku), mas bertanya tentang siapa di antara keluargaku yang memiliki golongan darah A, karena Teh Indri butuh donor darah. Saat itu ia udah menyusul ke rumah sakit, sementara mama Teh Indri tetap menunggui bayi di klinik. Kebetulan di keluargaku, ada ibu dan Hardi yang memiliki golongan darah A. Karena dulu ibu sering menjadi pendonor darah, aku pun bertanya pada beliau apakah beliau bersedia jika jadi pendonor darah untuk Teh Indri. Namun sayang, rupanya usia ibu udah nggak memenuhi syarat untuk jadi pendonor darah. Akhirnya aku pun bertanya pada Hardi. Ia bersedia, meski membutuhkan waktu agak lama untuk memutuskan (ia takut karena belum pernah donor darah).

Setelah mendapatkan keputusan itu, aku segera menghubungi mas. Namun rupanya di sana udah ada tante Teh Indri yang bersedia mendonorkan darahnya. 
"Di rumah sakit juga stoknya masih banyak kok. Nanti Mas kabari lagi ya kalo mereka butuh," kata masku. Waktu itu di sana juga berkumpul teman-teman dekat masku dan Mas Ipank. 

Menit-menit berlalu. Nggak ada lagi telepon atau pesan WhatsApp dari mas setelah itu. Aku benar-benar harap-harap cemas. Biasanya jam segitu aku udah tidur, atau sedang mencuci botol-botol susu Fathian. Apalagi Fathian udah tidur, aku bisa bebas meninggalkannya kalo aku mau. Tapi sebelum mendapatkan kabar baik dari Teh Indri, rasanya aku belum bisa tenang dan nggak bisa meninggalkan hapeku.

Hingga akhirnya pukul 22.16, mas kembali meneleponku. Namun bukan kabar baik yang kudengar.
"Sayang, Indri udah nggak ada", ucap mas dengan suara bergetar. Aku hampir nggak mempercayai apa yang kudengar. Tapi mendengar isak tangis orang-orang di sekitar mas kala itu, aku jadi yakin bahwa aku nggak salah dengar.
"Innalillahi wa innailaihi rojiuun", ucapku lirih.

Teteh, kenapa secepat ini..?


Proses persalinan Teh Indri baik sekali. Dari pembukaan empat ke pembukaan sepuluh nggak membutuhkan waktu lama. Begitu juga saat proses mengeluarkan bayi. Namun situasi mendadak gawat setelah ari-ari bayi keluar, darah mengalir dengan deras dan nggak kunjung berhenti. Akhirnya ia dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih. Mas Ipank, bunda (sebutan kami untuk bidan yang menangani), dan asisten bunda pergi dengan mobil. Bunda sendiri yang menyetir. Sementara mama Teh Indri dan bayinya tetap di klinik, ditemani masku dan ART klinik.

Di rumah sakit, baru diketahui bahwa Teh Indri memiliki kelainan pembekuan darah. Dalam kasus ini, seharusnya kelainan ini diketahui lebih awal agar bisa segera dicegah atau diobati, karena apabila baru diketahui saat mendekati persalinan atau bahkan saat udah terjadi pendarahan, nyawa pasien yang akan jadi taruhan. Bahkan jika dilakukan operasi caesar, resikonya akan jauh lebih tinggi ketimbang persalinan normal.

Teh Indri belum sempat menerima transfusi darah saat ia keburu 'pergi'. Sesuatu yang nggak kami duga akan terjadi, karena beberapa waktu sebelum kepergiannya, ia masih sempat makan, minum, dan berkomunikasi dengan baik.

"Maafin Bunda ya, Nok. Bunda udah berusaha, tapi teman Nok Putri nggak ketolong," ucap bunda dengan suara penuh penyesalan. Sepanjang karirnya, baru kali ini ia mengalami hal seperti ini. Hal yang kemudian memberinya pelajaran bahwa untuk selanjutnya, ia mewajibkan pasien-pasien hamilnya untuk benar-benar mengecek kondisi kesehatannya dulu, memastikan bahwa nggak ada kelainan apapun. Waktu itu pukul 22.52. Bunda meneleponku dan menceritakan semuanya. Ia meminta maaf berkali-kali, meski aku mengerti bahwa ia nggak harus melakukannya. Memang udah takdir Teh Indri pergi dengan cara seperti ini, dan bunda beserta asistennya udah berusaha sebaik mungkin. Mereka bahkan ikut mengantar jenazah Teh Indri ke kediaman orangtua Mas Ipank di Kedawung.

***

Mas pulang sekitar jam setengah dua belas malam. Tangisku kembali pecah di pelukannya. Kali ini lebih hebat ketimbang saat pertama kali mendengar kabar dan saat ditelepon bunda. Belum genap tiga tahun aku mengenal Teh Indri, tapi ia udah kayak saudara untukku.

Teringat momen-momen kami dulu. Waktu ia dan Mas Ipank masih nge-kost berdua tahun 2020 lalu, karena Mas Ipank sering pulang kerja malam atau pagi, aku cukup sering mengunjungi kediaman mereka untuk menemani Teh Indri. Setiap main ke sana, kami selalu pesan fire chicken-nya Richeese Factory lewat Grabfood. Kami juga ngobrol-ngobrol. Sesekali aku juga curhat soal masku (waktu itu aku dan mas belum menikah, of course). Ketika mereka pindah ke perumahan Puri Hasna, kami juga sering jajan berdua ke warung di belakang rumah. Pemilik warung sering mengira kami kakak beradik, karena menurutnya wajah kami mirip dan kami sama-sama memiliki postur tubuh mungil. Tapi berbeda jauh dengan aku yang mageran, Teh Indri pintar memasak dan membuat camilan. Kue kering, cake dan salad buah buatannya enak. Setiap menjelang Idul Fitri, aku selalu memesan kue kering buatannya. Nggak nyangka, kastengel yang kupesan darinya bulan April lalu adalah kue keringnya yang terakhir :')


Aku benar-benar menyesal karena sepulang kerja waktu itu aku nggak sempatkan waktu untuk menemui Teh Indri di klinik sebentaaaar aja. Terakhir kali kami ketemu tanggal 12 Juni. Iya, satu bulan yang lalu. Kami bareng-bareng pergi ke bidan. Aku menemani Fathian baby spa, sementara dia cek HB. Waktu itu kami sempat becanda kalo suatu saat nanti bisa ajak anak-anak kami baby spa bareng.

Sedih banget rasanyaa. Teh Indri bukan sekedar teman, tapi juga kakak, teman curhat, teman ngegibah, teman jajan, teman sharing apapun. Sulit bagiku untuk menemukan teman yang satu frekuensi. Maka ketika dia pergi, rasanya ada yang hilang. 

***

Kemarin aku dan mas ijin nggak masuk kerja. Kami ikut mengantar almarhumah Teh Indri ke peristirahatan terakhirnya. Sekitar jam tujuh pagi, kami meluncur ke rumah orangtua Mas Ipank di Kedawung. Begitu masuk ruang tamu, yang pertama kali kulihat adalah keranda jenazah yang diletakkan di sebelah kiri ruangan. Beberapa orang perempuan duduk bersimpuh di seberangnya. Mama Mas Ipank mempersilahkan kami masuk. Begitu melihat mama Teh Indri yang duduk bersandar di dinding, mas langsung memeluk beliau sambil mengucapkan belasungkawa. Beliau memukul-mukul bahu mas. Aku tau beliau melampiaskan sedikit kekesalannya karena mas adalah salah satu orang yang 'membohonginya' malam itu. 

Malam itu, sepeninggal Teh Indri, nggak ada satu orang pun yang tega mengabari mama mengenai kepergian almarhumah. Bahkan ketika mas kembali ke klinik untuk mencari kain yang akan digunakan untuk menutupi jasad almarhumah, mas nggak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Ketika mama bertanya mengenai kondisi almarhumah, mas hanya menjawab, "Masih ditangani, Ma".

Mama juga masih belum tau apa-apa ketika bunda datang menjemputnya ke klinik untuk ikut bersamanya ke Kedawung dengan membawa serta bayi.

"Indri udah dipulangin ke Kedawung, Bu", ucap bunda waktu itu.

"Alhamdulillah, berarti anak saya nggak dirawat ya, Bun? Anak saya sehat ya?", kata mama dengan penuh syukur. Namun mendengar itu bunda nggak bisa menjawab lagi, dan mama pun nggak menaruh curiga apapun. Bunda nggak menjemput mama sendirian, tapi bersama asistennya dan juga A Mulpi (salah satu teman dekat masku dan Mas Ipank). Di mobil, mereka mengobrol santai, mama juga meladeni mereka yang banyak becanda sepanjang perjalanan.

Mama baru merasa heran ketika melihat banyak orang berkumpul di depan rumah orangtua Mas Ipank. Namun A Mulpi menjawab, "Ah, biasa itu, Ma. Penyambutan".
Keheranan mama baru terjawab ketika beliau melihat seseorang membawa tempat untuk memandikan jenazah. Seketika keceriaan berubah duka. Beliau syok dan menjerit histeris memanggil anaknya. I can't imagine that :') 

Tangisku pecah ketika kupeluk beliau.
"Put, Pitri tuh pingin samaan sama Putri, lahiran di tempat bunda. Tapi takdirnya lain," ucap beliau sambil terisak.
"Yang tabah ya, Ma. Yang ikhlas. Teteh udah tenang. Insya Allah syahid. Husnul khotimah ya, Ma". Kuusap-usap punggung beliau.
"Mama sih ikhlas, mama terima, tapi mama belum bisa lupa".
Yah, kehilangan memang nggak pernah mudah. Terlebih, almarhumah adalah anak semata wayang.

Yang membuatku terharu, mama kadang salah memanggilku. Alih-alih memanggil 'Put', ia malah menyebut 'Pit'. Nama lengkap almarhumah adalah Fitri Indriani, dan orang-orang terdekatnya biasa memanggil 'Fitri' (atau 'Pitri' dalam logat Cirebon). Ada satu momen ketika beliau salah menyebut dan masku mengoreksi. Beliau bilang, "Gapapa lah. Putri, Pitri, sama aja. Putri udah kayak anak Mama." :')

Singkat cerita, jenazah Teh Indri baru dibawa ke pemakaman sekitar jam sepuluh. Niatnya memang lebih pagi, tapi pihak keluarga sedikit menunda penguburan karena menunggu papa almarhumah yang tengah menempuh perjalanan pulang dari rantau. Imagine how badly it hurts, tinggal di perantauan, jarang bertemu anak, sekalinya bertemu malah dalam kondisi udah nggak bernyawa :')


Matahari cukup terik saat kami berjalan mengiringi jenazah ke pemakaman. Setibanya di sana, aku berkesempatan melihat prosesi penguburannya dari dekat. Biasanya aku takut melihat jenazah berbungkus kain kafan. Namun kali ini aku mengabaikan perasaan itu. Aku berdiri di sisi kanan mas yang merangkul bahuku, sementara lengan kiri mas merangkul bahu mama. Di situ aku kembali terisak, sampai seorang bapak menegurku untuk nggak meratapi almarhumah.

***

Aaah, intinya kemarin itu berkecamuk banget rasanya. Sedih pasti. Menyesal karena belum sempat ketemu. Dan juga iri. Bukankah Allah menjanjikan surga untuk perempuan yang meninggal karena melahirkan? Aku iri karena Teh Indri pergi dengan semulia itu. Aku yakin, calon anaknya yang gugur dua tahun lalu udah menunggunya di gerbang surga sana :') Di sisi lain, aku juga kasihan pada Mas Ipank dan terlebih putranya yang harus menjadi piatu sejak baru lahir. Semoga jika suatu saat Mas Ipank kembali menikah, ia menikah dengan perempuan yang penuh kasih sayang sehingga bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk putranya. Aamiin yaa robbal alamiin. 


Teteh sayang.. 
Entah amalan apa yang Teteh perbuat hingga bisa pergi dengan sebaik itu, semulia itu. Semoga segala perjuangan Teteh melahirkan Adnan menjadi pemberat timbangan amal baik Teteh di sana. Istirahat yang tenang ya, Teh. Tugas Teteh di dunia udah selesai. Insya Allah, Allah juga udah menyiapkan tempat yang indah buat Teteh di sana, saya yakin. Sementara saya masih harus lanjutin tugas saya. Doain saya ya, Teh, biar bisa jadi istri dan ibu yang baik, biar suatu hari nanti bisa ketemu Teteh lagi di sana. Maafin saya yang kemarin banyak nangis. Orang-orang mungkin mikir saya lebay karena saya bukan siapa-siapa Teteh. Tapi bodo amat, Teh. Sedih karena kehilangan bisa dirasakan siapapun, kan? See you again, Teteh. You'll be missed :') 

Allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wafuanha. 

Rabu, 13 April 2022 0 komentar

Back to Work Day-1

Akhirnya setelah tiga bulan beristirahat dari kegiatan kantor, hari ini aku kembali pada rutinitasku sebagai karyawan perusahaan. Perasaanku campur aduk. Meski senang, tapi aku juga sedih karena harus ninggalin Fathian dari pagi hingga sore. Gimana nggak sedih? Tiga bulan lamanya, hampir seluruh waktuku buat dia, dan ketika masa cutiku habis, aku harus rela membagi waktuku. Pagi tadi sebelum berangkat, kutatap lamat-lamat wajahnya yang sedang tertidur pulas. Rasanya kayak berat banget, nggak tega.

Sesampainya di kantor, aku bertemu Bu Mila di parkiran. Ia menyambutku dengan gaya lebay khasnya. Rata-rata mereka yang kutemui menyapaku, menanyakan kabar, dan tentunya pertanyaan-pertanyaan umum seperti "anaknya perempuan atau laki-laki?", "nama anaknya siapa?", "dedenya di rumah sama siapa?" Yaaah begitulah.

Everything went well sampai aku masuk ke Ruang HRD untuk menemui Pak Teguh dan Pak Ben. Kami berbasa-basi sebentar, dan tiba-tiba Pak Teguh meminta Pak Ben untuk ke luar ruangan karena mau bicara empat mata denganku. Tiba-tiba perasaanku nggak enak. Dari dulu aku selalu gugup setiap kali ada orang yang tiba-tiba pingin bicara empat mata. Entahlah, aku takut mendengar berita buruk, atau diberi pertanyaan yang nggak bisa kujawab. 

Setelah Pak Ben ke luar ruangan, beliau langsung mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan yang intinya adalah mengenai jabatanku di perusahaan. Selama menjadi bagian dari Divisi HRD, aku seringkali dituntut untuk pulang terlambat, dan aku nggak begitu merasa keberatan dengan hal itu. Tapi melihat kondisiku sekarang yang sudah berkeluarga, Pak Teguh khawatir aku jadi nggak bisa bekerja dengan tuntutan seperti itu lagi. Oleh karena itu, beliau bermaksud untuk memindahkanku ke Divisi Collection sebagai Admin AR (Account Receivable), karena menurutnya dengan bekerja sebagai Admin AR, aku bisa pulang tepat waktu dan nggak sering-sering dituntut pulang terlambat. Tapi beliau nggak langsung memutuskan, melainkan memintaku untuk memilih.

Intinya beliau memberiku pilihan, apakah ingin tetap menjadi Admin HRD dengan tuntutan sering pulang terlambat atau pindah ke posisi Admin AR. Saat itu aku bingung. Aku sempat berpikir, apakah Pak Teguh sebenarnya ingin menggantiku dengan Diah, karyawan baru yang kemarin meng-handle pekerjaanku selama cuti, namun dengan cara yang halus? Karena jujur aja, aku sudah nyaman dengan jabatanku saat ini, dan ketika kuutarakan hal itu, beliau membanding-bandingkan kinerjaku dengan kinerja Diah (yang menyiratkan bahwa kinerjanya lebih baik dari kinerjaku). "Kerjanya cepat. Yang lain belum selesai, dia sudah bisa santai," katanya. Siapa coba yang nggak panas dibanding-bandingkan seperti itu? I'm pretty sure I'm better than her. Jelas kerjanya cepat, karena sebagai karyawan baru, tuntutan pekerjaannya belum sebanyak pekerjaan yang selama ini aku handle. Aku bisa aja bilang begitu, tapi aku nggak berani. Jadi kutelan mentah-mentah aja kata-kata beliau. 

Beliau nggak menuntutku untuk memutuskan saat itu juga. Maka aku pun menemui Bu Mila untuk menanyakan alur pekerjaan Admin AR itu seperti apa. Alih-alih menjawab pertanyaanku, Bu Mila malah bilang bahwa pekerjaan di divisinya ribet banget 😂 Ia pun meminta tolong pada Ryan untuk menjelaskan padaku mengenai alur pekerjaannya.

Jadi lah siang itu Ryan menjelaskan alur pekerjaan Admin AR, panjang lebar, dari awal hingga akhir. Hebatnya Ryan mengelola data konsumen yang bejibun itu dengan caranya sendiri, tapi tetap terarah, dan surprisingly minim kesalahan. Dan yah, seperti yang kukhawatirkan di awal, bahwa pressure di Divisi AR itu berat. Kita dituntut untuk sangat teliti dan tegas, khususnya pada Collector, karena jika ada di antara mereka yang bermain curang dengan uang angsuran konsumen, maka Admin AR pun akan kecipratan imbasnya. Belum lagi berkomunikasi dengan konsumen dengan berbagai karakter.

Setelah diberi penjelasan oleh Ryan dan mengucapkan 'terima kasih', aku pun ke luar dari Ruang AR dan duduk di depan mushola. Di sana aku menelepon Mas untuk meminta pendapatnya. Melihat pressure pekerjaan di AR lebih berat, tentunya Mas menyarankan aku untuk tetap pada jabatanku yang sekarang, di mana aku hanya berhubungan dengan karyawan dan calon karyawan. Nggak masalah pulang terlambat, toh nggak setiap hari, dan nggak sampai larut malam. Daripada being under pressure setiap hari.

Selesai menelepon Mas, aku pun pergi ke ruangan Pak Teguh untuk mengutarakan keputusanku. Kubilang aku ingin tetap pada jabatanku yang sekarang. Setelah memastikan keyakinanku atas keputusan yang kubuat, Pak Teguh pun memintaku untuk memanggil Diah. Kami berbicara enam mata di ruangan itu. Singkat cerita, ditetapkanlah bahwa aku tetap pada jabatanku sebagai Admin HRD, dan Diah sebagai Admin AR. Win win solution, karena Diah sendiri puas dengan keputusan itu.

Dan yah, setelah melakukan serah terima tugas dengan Diah, aku pun mulai bekerja. Namun karena baru kembali bekerja setelah sekian lama libur, rasanya agak bingung. Apalagi aku juga dituntut untuk segera melakukan update data karyawan dan menyiapkan data untuk pengajuan THR, aku bingung mana dulu yang harus lebih dulu kukerjakan. Ditambah suasana hati yang tiba-tiba berubah melankolis. I miss my lil boi. Dia lagi apa? Apakah anteng bersama ibu dan bapak di rumah?

Sepulang bekerja, Fathian sedang bersama bapak di teras. Ia berbaring di stroller, sementara bapak mengajaknya ngobrol. Ketika motor kami masuk ke halaman, tiba-tiba ia merengek.
"Lhaaa.. mau anteng. Mbok karo bapae teka jeh nangis (tadi anteng. Mama papanya dateng kok nangis)", kata bapak. Wkwkwk.

Yaaaaah begitulah pengalaman hari pertama bekerja lagi. Rasanya masih agak bingung, juga pusing melihat tumpukan berkas formulir pengajuan kredit calon konsumen beserta hasil survey Analis di bawah kursi yang harus kuarsip (karena Diah nggak mengarsip itu semua). Mungkin hari Sabtu nanti akan kubereskan. Semoga aku bisa menuntaskan semuanya.

Jumat, 08 April 2022 0 komentar

 Kemarin sore, aku membuka kembali akun Facebookku. Well, memang semenjak menikah, aku akhirnya memutuskan untuk menutup akun Facebookku, meski nggak secara permanen, karena biar bagaimanapun, aku nggak rela untuk kehilangan momen-momen yang pernah terjadi di sana : kenangan-kenangan bersama teman-teman MCRmy, keluh kesah di status, bahkan status-status alayku yang udah aku private semua. Wkwkwk. 

Alasanku menutup akun Facebookku karena untuk menghindari hal yang nggak diinginkan sih. Sedikit trauma karena beberapa hari sebelum menikah, aku sempat ada selisih paham dengan Mas gara-gara Facebook. Makanya untuk menghindari hal semacam itu terjadi lagi, aku memutuskan untuk menutupnya, meski sebenarnya Mas nggak pernah menyuruhku untuk melakukannya.

Nah, kemarin entah kenapa tiba-tiba aku penasaran dengan kabar teman-teman MCRmy yang masih aktif di sana. Tentunya sebagian besar dari mereka udah berkeluarga, dan tentunya ada juga yang masih mencari kebahagiaannya.

Satu akun yang nggak luput dari perhatianku adalah akun milik seorang teman MCRmy berinisial VS. Hmm.. Sebenarnya aku nggak yakin apakah hubungan kami bisa disebut teman, karena sebenarnya kami hanya terhubung di Facebook dan hampir nggak pernah berinteraksi. Kami hanya pernah beberapa kali berinteraksi pada statusku atau statusnya, entah itu dengan komentar singkat atau sekedar 'like'. Hanya aja, selama kami terhubung di Facebook, aku selalu tertarik dengan status-status yang ia tulis. Entah kenapa apa yang ia tuliskan seringkali relate dengan apa yang aku rasakan. Seperti bercermin. Jujur, aku pingin banget mengenalnya dan jadi temannya, tapi aku selalu khawatir nggak bisa jadi teman yang baik dan akhirnya mengecewakannya, karena kurasa aku bukan tipe orang yang bisa menjaga komunikasi dan pertemanan dengan baik 😕

Bertahun-tahun aku mengenalnya dalam diam, sampai akhirnya ia berhenti aktif di Facebook. Status terakhirnya diupdate pada Oktober 2018. Sebelum menutup akunku, aku masih sering menjenguk akunnya, berharap ada kabar darinya yang kuharap kabar baik mengingat selama ini ia sering mengeluh soal kehidupan yang ia rasa nggak seindah cerita-cerita dalam novel yang ia baca. Namun isinya tetap nihil.

Dan yah, kemarin sore pun akun milik VS nggak menunjukkan aktifitas baru. Namun kali ini, aku melihat ada dua pesan dinding yang dikirim oleh seorang teman dekatnya. Pesan itu dikirim pada Februari dan November 2021, isinya menanyakan kabar dan harapan bahwa dirinya baik-baik aja.

Aku terkejut, karena bahkan teman dekatnya pun nggak mengetahui kabar VS dan jujur, ini membuatku khawatir. Bahkan hingga saat ini. Beberapa menit lalu, ketika kubuka playlist Spotify-ku dan menekan 'play' pada lagu Disenchanted milik My Chemical Romance, tiba-tiba aku kembali teringat dia. Sungguh, aku berharap di manapun VS berada, aku harap dirinya baik-baik aja. Dulu ia merasa dunia lebih berwarna saat ia menutup mata, aku harap kini ia bisa melihat dunia yang berwarna dengan mata terbuka. Kuharap ia hidup bahagia. May Allah bless her wherever she is.

Total Tayangan Halaman

 
;