Jumat, 07 November 2014 0 komentar

THE DEVIL LOVES CINNAMON

Aku jatuh cinta sama setan! Iya, bener. Dan setan itu bukan setan biasa. Pasalnya dia punya tampang yang absolutely ganteng dan sempurna. Selain itu, dia juga suka banget sama cokelat dan kayu manis.

Mau kenalan sama Si Setan?

Yak! Dia ada di buku ini.




THE DEVIL LOVES CINNAMON.
Buku karya Ima Marsczha ini aku temukan diantara tumpukan ratusan buku di baazar buku murah Grage Mall tanggal 2 November lalu. Berapa harganya? Cuman sepuluh ribu perak!
Well, sebenernya waktu itu aku cuman iseng sih mampir ke baazar itu pas pulang kuliah. Soalnya aku udah yakin kalo di baazar itu aku nggak akan mungkin dapetin novel-novel yang aku cari dan terdaftar di daftar-novel-wajib-beli aku. Lagian novel Refrain yang aku beli sebulan yang lalu aja belom aku buka segelnya karena keterbatasan waktu buat baca. Makanya aku nggak antusias-antusias banget sebenernya buat beli buku lagi. Tapi tetep aja jiwa aku terpanggil buat kesana :v

Dan akhirnya, buku ini ada di tangan aku!

Oke, langsung aja deh aku beberin isi bukunya.

***

Widya baru aja merayakan pesta kelulusan S1-nya bersama temen-temennya ketika sebuah kabar buruk menyapa kupingnya. Bundanya kecelakaan dan kini dirawat dirumah sakit dalam keadaan koma. Sebagai seorang anak yang of course sangat menyayangi bundanya, Widya ngerasa terpukul banget mendengar hal itu. Apalagi selama ini bundanya itulah yang paling sering nemenin dia mengingat Widya adalah anak semata wayang, sementara ayahnya selalu sibuk dengan pekerjaan di kantor.

Setiap hari, Widya rajin muterin lagu-lagu dan bacain buku buat bundanya, berharap bundanya itu bisa denger dan cepet sadar dari komanya. Suatu hari, Widya nganter Kasandra—sahabatnya—beli vas ke Pasar Ular. Disana, Widya bertemu sama seorang kakek penjual buku bekas. Karena kasian ngeliat kakek yang tampak kehausan itu, Widya ngasih kakek itu sebotol teh dan membeli tiga buah novel bekas dari kakek itu dengan harga lima puluh ribu, padahal kakek itu ngasih harga lima belas ribu doang buat tiga novel itu. Sebagai tanda terima kasih, kakek itu ngasih dia sebuah buku dengan sampul depan warna item.

Buku bersampul item itu misterius banget. Nggak ada tulisan apa-apa disampulnya. Isinya juga nggak menarik, dan banyak tulisan-tulisan yang udah sulit buat dibaca—saking tuanya buku itu. Di buku itu, Widya menemukan cara memanggil setan. Karena penasaran, dia praktekin deh cara itu dirumah. Malem itu dia bikin lingkaran yang dia buat dari bubuk kayu manis dan cokelat leleh di dapur rumahnya, sesuai dengan apa yang tertulis di buku misterius itu. Karena nggak terjadi apa-apa, Widya pun ngerasa geli sendiri sama apa yang dia lakuin, kemudian dia masuk kamer buat tidur.

Baru aja Widya mau merem, tiba-tiba matanya menangkap sosok cowok ganteng—tapi telanjang di kamernya. Yang namanya cewek normal, kalo liat cowok telanjang plus nggak dikenal—apalagi di kamer pribadinya—pasti teriak dong. Gila aja.. Itu orang gila nyasar apa penjahat kelamin?

Ternyataaa.. cowok ganteng tapi telanjang itu adalah setan yang dipanggil Widya dengan lingkaran bubuk kayu manis dan cokelat yang Widya buat itu. Dan karena Widya yang manggil setan itu, maka Widya-lah satu-satunya manusia yang bisa liat Si Setan. Si Setan berkata bahwa dia bisa mengabulkan permintaan Widya.

Permintaan Widya cuman satu. Dia pengen bundanya segera sadar dari koma. Tapi karena permintaan Widya menyangkut nyawa manusia, Si Setan nggak mau ngabulin permintaan itu. Kalo dia kabulin permintaan Widya, itu sama aja dia melanggar aturan Tuhan. Dan kalo dia melanggar aturan Tuhan, dia bakal dibuang ke bumi dan jadi manusia, atau dimusnahkan. Karena Si Setan nggak bisa mengabulkan permintaan Widya, akhirnya Si Setan pun terjebak didunia manusia, coz dia baru bisa pulang ke Neraka kalo udah bisa mengabulkan permintaan Widya.

Esoknya, bunda Widya meninggal. Hal ini membuat Widya jadi benci banget sama Si Setan yang nggak mau ngabulin permintaannya.

Singkat cerita, ayah Widya berencana menikahkan Widya sama anak dari salah satu rekan kerjanya. Namanya Ananta Putra Wildansyah. Pertemuannya dengan Ananta bener-bener bikin Widya tercengang. Bukan karena Ananta ganteng dan punya postur tubuh sempurna (tapi emang ganteng bin perfect sih), tapi karena wujud Ananta bener-bener kayak pinang dibelah kapak sama Si Setan!! Nah lho, kok bisa?

***

Well, novel keluaran Gagas Media emang nggak usah diragukan lagi deh isinya. Salah satunya ya novel ini. Temanya menarik dan penuturannya ringan. Remaja banget lah (tapi untuk yang 18+ yaaa..). Novel ini bener-bener bikin aku senyum-senyum sendiri bacanya. Apalagi kalo udah baca dialog perdebatan antara Widya sama Si Setan. Gokil abis. Si Setan bawel, Si Widya-nya lemot (kebanyakan kenapa-kenapa-kenapa) :v

Yaaahh.. awalnya sih emang biasa aja. Aku sempet nggak suka juga sama tokoh Widya yang manja dan sering hura-hura (such as clubbing, drinking, pulang malem..). Tapi begitu tokoh Si Setan muncul, ceritanya mulai hidup dan menarik.. mendorong aku buat membuka lembar-lembar selanjutnya sehingga novel setebal 243 halaman ini bisa aku lahap dalam waktu dua hari. Dan seperti yang aku bilang di awal, the devil really makes me fall in love!!

Salah satu adegan yang paling aku suka adalah ketika Si Setan nganterin Widya ke gerbang surga buat nemuin bundanya yang udah meninggal. Dan sebagai konsekuensinya, Si Setan harus rela dibuang ke bumi dan jadi manusia selamanya.. menyatu dengan tubuh Ananta. Aisshh.. gila! Itu sweet banget. Itulah yang bikin aku jatuh cinta sama Si Setan alias Ananta.

Anyway, novel ini mengajarkan kepada kita bagaimana kita harus rela berkorban demi orang yang kita sayang. Kayak Si Setan itu, yang rela mengorbankan kehidupan abadinya yang bebas, demi seorang manusia yang dia cintain. Iya, setan juga bisa jatuh cinta :D
Rabu, 05 November 2014 0 komentar

GUILTY PLEASURE

Dear, Readers!
Aku kembali buat mengulas novel yang baru aja selesai aku baca. Guilty Pleasure by Christian Simamora. Sebelumnya, aku bersyukur banget karena akhirnya aku selesai juga baca novel ini. Yah, kalo biasanya aku cuman butuh waktu paling lama seminggu buat melahap sebuah novel, tapi kali ini aku butuh waktu lebih dari sebulan. Maklumlah, kalo dulu kan aku punya banyak free time. Tapi sekarang, hampir setiap hari selama sepuluh jam kan aku kerja, dan hampir nggak ada waktu luang buat baca. Jadi yaa gitu deh..

Aku beli novel ini tanggal satu Oktober lalu (baca : hari gajian) dengan harga enam puluh lima ribu. Tadinya gaji pertama aku itu mau aku beliin dua novel karya Christian Simamora. Niatnya aku mau beli Guilty Pleasure dan Come On Over. Tapiiiii.. harga novel Come On Over-nya kok naek ya? Beberapa bulan yang lalu aku liat harganya masih enam puluh lima ribu lho. Masa pas aku kesitu lagi, harganya udah naek jadi tujuh puluh ribu? (-__-)

Oke, langsung aja aku kupas isi novel yang merupakan salah satu J-Boyfriend Series-nya Bang CS ini.



Novel, pembatas buku, dan paper doll khas J-Boyfriend series

Seperti yang tertulis di bagian belakang cover novel ini, cerita dalam novel ini dimulai dengan adegan paling klise di sepanjang sejarah fiksi, yakni TABRAKAN, coz menurut Bang CS, cara ini adalah cara paling pas buat mempertemukan dua tokoh utamanya—Julien dan Devika, mengingat keduanya berasal dari dunia yang benar-benar berbeda.

Bukan. Ini bukan cerita khas FTV.. I mean kisah cinta antara Si Kaya dan Si Miskin. Bukan. Bukan itu.

Devika Kirnandita adalah seorang artis yang terkenal sebagai the TV bitch karena sosoknya yang sering wara-wiri di TV sebagai tokoh antagonis licik dan manipulatif. Dan sebagai seorang artis—apalagi artis profesional yang langganan menang Award, Dev memiliki seorang manager yang juga merupakan gay bestie-nya, Ren. Seperti manager pada umumnya, Ren ini cerewet banget kalo udah menyangkut urusan pekerjaan. Sampe-sampe suatu hari ketika Ren lagi ngomel-ngomel di telepon, Dev nggak menghiraukannya. Dia taro hapenya di dashboard mobilnya dan dengan santai nyeruput kopi sambil nyetir.. hingga akhirnya dia nabrak.

Parahnya, yang dia tabrak adalah mobil impor yang dikendarai Julien Ang, seorang CEO Beauty of the Earth—perusahaan yang terkenal memproduksi buah-buahan berkualitas tinggi dan memenuhi standar internasional. Alhasil, Dev kudu bertanggung jawab mengganti bumper mobil Julien yang rusak karena dia tabrak itu. 

Gara-gara hal itu, mereka sempet saling sebel gitu deh. Tapi masing-masing dari mereka nggak bisa membohongi perasaan bahwa ada rasa tertarik satu sama lain. Gimana enggak? Dev itu cantik dan punya segudang prestasi dalam dunia pertelevisian, sementara Julien itu tajir dan of course ganteng walau umurnya udah memasuki usia kepala empat! Akhirnya, setelah sekian lama mereka sering ngabisin waktu bareng, mereka pun jadian.

Masa-masa pacaran mereka lalui dengan momen-momen manis, sampe akhirnya kebenaran itu terungkap. Hati Julien ternyata nggak semuanya diperuntukkan buat Dev, karena kenyataannya dia masih belom move on dari mantannya yang meninggal dunia tujuh tahun yang lalu, namanya Miranda. Nggak heran, di usianya yang udah bisa disebut tua, dia masih aja single (sebelum sama Devika).

Well, cewek mana sih yang nggak cemburu kalo cowoknya masih nyimpen foto mantannya—yang bahkan udah nggak ada lagi di dunia—dirumahnya, dikamernya, dan bahkan didompetnya?! Dev jelas ngerasa cemburu dan sakit hati. Akhirnya Dev pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka walau Julien sangat nggak menghendaki keputusan itu.

Tapi bukan true man kalo nggak memperjuangkan cinta. Dengan hati terluka (halah!) Julien bersikeras untuk membuang jauh masa lalunya—masa lalunya bersama Miranda—dan memberikan hatinya sepenuhnya untuk Dev, hingga akhirnya they live happily ever after! Horeeeee..!!

***

Berbeda dengan dua novel yang aku baca sebelumnya—Pillow Talk dan All You Can Eat—kali ini kayaknya Bang CS gagal bikin aku jatuh cinta sama tokoh utama cowoknya. Nggak tau kenapa, walau tokoh cowoknya (seperti biasa) digambarkan punya tampang ganteng, cool, dan bertubuh atletis, tapi Julien kurang berhasil bikin aku in love sama dia. Apa mungkin karena dia digambarkan udah berkepala empat? Entahlah. Tapi masa iya gara-gara itu? Mwahaha..

Selain itu juga menurut aku, novel ini nggak lebih bagus kalo dibandingin sama dua novel karya Bang CS yang aku baca sebelumnya itu. Menurut aku yaa.. kurang menggigit gimana gitu ceritanya (kecuali hot scenes-nya) ^^v

Udah ah, segitu aja ngulas Guilty Pleasure-nya. The last, aku mau ngasih beberapa quotes bagus dari novel ini. Kali aja bisa dijadiin status :v

"Pemalas melakukan segala hal dengan terburu-buru."
- Bab 1 -

"Pada akhirnya, kita harus pasrah pada seperti apapun kekurangan pasangan kita. Karena memang begitulah prinsipnya cinta."
- Devika's mother -

"Cewek itu dinyatakan bersalah hanya sampai dia meneteskan air mata saja. Setelah itu, tak seorangpun yang bisa menghakiminya."
- Bab 2 -

"Terkadang selamat tinggal jadi sesuatu yang teramat sulit untuk diucapkan."
- Bab 5 -

"Mantan : Dulu sumber kebahagiaan, sekarang pencuri kebahagian."
- Bab 7 -

"Forget what you feel, remember what you deserve."
- Bab 8 -

"Begitulah keajaiban fotografi. Nggak hanya mengabadikan momen penting dalam hidup, tapi juga membekukan kenangan yang ingin diingat selamanya."
- Julien's thoughts -

"Berhentilah mencari laki-laki untuk membuatmu bahagia. Mulailah menjadi perempuan bahagia yang dicari laki-laki."
- Bab 8 / back cover -

Devika : "I'm awfully curious, how come a perfect gentleman like you stays single?"
Julien : "Actually.. aku menunggu orang yang tepat untuk dicintai penuh waktu."
- halaman 180 -

"Behind every great woman, there is a fabulous gay man."
- Bab 12 / Dave Singleton's quote -

"Kenangan : Jejak rekam masa lalu yang tak rela kamu lepas."
- Bab 18 -

"Orang-orang yang jatuh cinta sering lupa, bahagia yang mereka alami sekarang sepadan dengan rasa sakit saat berpisah kelak."
- Bab 20 -

"Terkadang kita harus berani berkorban besar demi mendapatkan hal terbaik yang kita inginkan dalam hidup."
- Miranda -

"Memaafkan bukan berarti lantas mengubah masa lalu, memaafkan artinya kamu punya kesempatan untuk memperbaiki masa depan."
- Bab 21 -

"Jantungku berdebar hebat hanya karena mendengar namamu. Dan aku sering nggak bisa tidur karena selalu memikirkanmu. Semua bagian dari dirimu begitu indah, begitu sempurna. Kamu membuat semua lirik lagu cinta jadi terdengar sangat masuk akal."
- Julien Ang -

"Kamu tak akan pernah merasa sendiri. Aku akan selalu ada untukmu. Aku rela menunggubecause you're the only one that worth waiting for."
- Julien Ang -

"Relationship bukan sekedar ikatan dua orang yang jatuh cinta, melainkan juga alasan untuk menolak menyerah saat keduanya menghadapi masalah."
- Ren -

"It's never too late to live happily ever after"
- Bab 22 -

"Kamu adalah kekuatan saat lemahku. Kamu adalah cahaya saat gelapku. Bagiku, cintamulah alasan jantungku berdetak sampai sekarang."
- Julien Ang -

"Tak ada yang benar-benar bisa persis menjelaskan bagaimana caranya hingga kamu bisa menjadi sosok yang teramat berarti untukku, Jules.
Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, mungkin terjadinya seperti keran yang tak sengaja terbuka. Tetes-tetes airnya jatuh pelan-pelan, seperti tak mau menyerah untuk melembutkan hati batuku.
Hingga tanpa kusadari, hatiku kini dipenuhi oleh cintamu. Pikiranku disesaki semua kenangan tentangmu. Bahagiaku genap karena hadirmu.
Oh, betapa aku sangat mencintaimu. Dan syukur kepada Tuhan, kamu melakukannya lebih baik daripada aku.
Jules, suamiku..
Kalau kamu tak keberatan, tetaplah menetes untukku, sayangku. Aku janji tak akan pernah menumpahkannya, demi alasan apapun."
- Devika -


Selasa, 16 September 2014 0 komentar

My Lovely Kitten, MUTUN

Dari dulu, aku pengen banget punya kucing. Apalagi pas nonton video kucing jenis Scottish Fold dari Jepang yang terkenal itu, Maru, aku jadi makin pengen pelihara kucing. Kayaknya asik aja gitu, pulang kerja, pulang kuliah, lagi capek, trus ngajak main dia. Dipeluk-peluk, dicium-cium, di-bully.. *eh..
Tapi ortu aku nggak pernah ngijinin.

Sampe pada akhirnya, datanglah Pantat. Oke, jangan dulu berpikiran ada pantat berkaki yang datang menghampiri aku. Bukan. Maksud aku bukan pantat yang sesungguhnya, melainkan seekor kucing betina yang bernama Pantat. Jangan pernah ngira bahwa aku yang ngasih kucing malang itu dengan nama yang kelewat vulgar, tapi salahkan adik aku. Entah kenapa dia ngasih nama kucing itu dengan nama anggota tubuh bagian belakang tersebut. Yang aku tau, si kucing tampaknya nggak keberatan dikasih nama Pantat (ya iyalah.. emang dia tau apa itu pantat?)

Well, aku pribadi lebih sering menyebutnya dengan panggilan standar.. Pusi atau Mpush. Tadinya sih dia mau aku panggil Shima. Tapi karena dia nggak pernah nengok kalo aku panggil demikian, akhirnya aku panggil dia Mpush aja.

Pada tanggal 18 Juni, Mpush melahirkan enam butir anak kucing. Aku dan kedua ortu aku ngeliat langsung proses persalinannya. Dari situ aku jadi tau bahwa kucing (dan semua jenis hewan) itu hebat.. coz mereka nggak memerlukan dokter dalam proses persalinan mereka. Buktinya Mpush bisa melahirkan enam butir anak, dan semuanya sehat. Padahal awalnya kami kira dia bakal cuman melahirkan empat anak doang. Bahkan bapak menduga anaknya itu cuman tiga. Eh, ternyata kenyataannya lebih banyak dari yang kami duga. Anak Mpush hampir semuanya berwarna item putih, kecuali satu yang warnanya item polos, yakni yang paling bungsu.

Awalnya kami memperbolehkan Mpush dan keenam anaknya tidur didalem rumah. Tapi gara-gara suatu hari Mpush pernah buang aer di pojokan ruang tengah, ortu aku lantas menaruh tempat tidur mereka di teras. Intinya sih kalo malem mereka tidur di luar rumah gitu.

Saat itu, setiap hari rumah aku jadi rame sama suara kucing. Apalagi anak-anak kucing itu.. hadeeehh.. cerewet banget kalo udah berinteraksi sama ibunya. Anak-anak kucing itu juga cepet banget gedenya. Baru juga beberapa minggu, mereka udah bisa jalan. Bahkan beberapa dari mereka udah bisa lari dan hobi ngejer-ngejer pembeli yang mampir ke warung ortu aku.

Sekitar sebulan setelah Mpush melahirkan keenam anaknya itu ke dunia, bapak aku memutuskan untuk membuang mereka, memisahkan mereka dari ibunya. Nggak tega banget rasanya. Kasian gitu.. Kucing umur segitu kan masih belom bisa cari makan sendiri. Begitu juga ibunya yang kayaknya ngerasa kehilangan banget. Coz malem harinya, dia kayak yang nyari-nyariin anaknya gitu deh. Tapi ya mau gimana lagi.. -_-

But, diantara keenam anak Mpush itu, kami memutuskan untuk mengadopsi salah satu dari mereka. Ini dia..


Namanya Mutun. Lagi-lagi ini nama pemberian dari adik aku. Alasan dia ngasih nama kucing kecil itu dengan nama Mutun bukan karena dia mirip Raditya Dika (buat yang nggak tau, Mutun itu salah satu julukannya Raditya Dika), melainkan karena muka si kecil ini lucu, kayak kartun. Makanya dijulukin Mutun.. atau Muka Kartun. Tapi aku dan ibu lebih sering manggil dia Utun. Dan karena dari kecil dia udah dipanggil demikian, tampaknya dia udah ngerti bahwa Mutun atau Utun adalah namanya. That's why kalo dipanggil dengan nama itu dia pasti nengok, nyahut, atau bahkan nyamperin :D

Kenapa dia yang kami adopsi?
Well, lemme tell you that Mutun itu salah satu yang paling beda diantara kelima sodaranya. Emang sih ada si Item Polos yang udah jelas-jelas paling beda. Tapi masalahnya kami nggak suka kucing item polos. That's why kami lebih memilih Mutun. Bedanya dimana?

Mutun punya bulu-bulu yang lebih panjang kalo dibandingin sama sodara-sodara dia yang lain. Dia juga punya kumis yang melengkung, nggak lurus kayak kucing kampung pada umumnya. Selain itu juga mukanya berwarna agak kuning waktu itu. Foto diatas itu bisa dibilang foto pertama Mutun yang aku ambil pake kamera HP aku pada tanggal 8 Agustus lalu. Sayang, muka kekuningannya nggak begitu terlihat disini :P

Mutun emang nggak punya temen maen sejak sodara-sodaranya dibuang. Tapi dia nggak sendirian kok, coz aku dan keluarga juga sering ngajak dia maen. Dia juga sering maen-maen sama ibunya. Mutun ini aktif banget. Dia suka banget sama tali, kardus, dan benda apapun yang bergerak. Dia suka main-main sama sepatu bertali. Kerjaan dia ya gigit-gigitin talinya gitu deh. Jangankan tali, kabel aja dia mainin. Salah satu kabel di ruang tengah malah ada yang kebuka gara-gara digigit-gigit Mutun. Bahaya juga tuh..

Kalo ada kardus nganggur juga dia suka iseng keluar masuk benda itu. Pernah dia loncat dari pinggir mesin jahit ke tumpukan kardus minuman, trus kardus itu jatoh dan dia kekurung didalemnya. Haha..
Mutun juga suka sama jari atau kaki. Kadang kalo kita duduk, dia suka iseng garuk-garuk kaki kita atau nangkep jari kita pake tangannya untuk kemudian dia gigitin.

Selain ituuuuuu.. Mutun juga narsis. Dia ngerti kamera. Lemme show you some of her photos..







   

 










See? Innocent banget kan tuh muka? Berasa pengen nelen gimana gitu. Ugh!

Mutun ini manja banget sama ibunya. Umurnya udah hampir tiga bulan, tapi masih suka nyusu sama ibunya. Aku lumayan sering bikinin dia susu instan, tapi nggak pernah diminum. Kayaknya dia nggak suka gitu deh. Padahal maksud aku bikinin susu instan kan biar dia nggak nyusu sama ibunya terus. Kasian juga kalo Mpush harus nyusuin Mutun setiap hari. Tapi kayaknya si Mpush juga sayang banget sama dia. Pasalnya, meskipun dia udah mulai suka pacaran sama kucing jantan, dia nggak lantas ninggalin Mutun.  Dia masih nyusuin Mutun, masih ngebagi makanannya juga buat Mutun. Dia nggak akan makan kalo Mutun belom makan. Makanya kalo dia dapet makanan di luar, dia bakal bawa makanan itu kerumah buat Mutun. Pernah waktu itu dia bawa ikan lele mentah yang entah dapet darimana. Tentu aja Mutun nggak bisa makan, karena ukuran ikan itu terlalu gede buat dia. Pernah juga dia bawain kadal buat Mutun. Kadal itu masih hidup dan bergerak-gerak. Alhasil bukannya dimakan, tuh kadal malah dimainin gitu sama Mutun. Huaaahh.. ibu yang baik deh pokoknya si Mpush ini.

Bukti kedekatan Mutun dan ibunya. Hmm.. like mother, like daughter.. (^w^)

Seluruh anggota keluargaku sayang banget sama Mutun. Bahkan bapak yang nggak suka kucing aja sering main-main sama dia. Padahal si Mutun udah beberapa kali bandel. Suka pipis di pojokan gitu deh. 

Kira-kira pas udah gede nanti, dia masih ngegemesin kayak sekarang nggak ya?
Hmm.. aku sih pengennya dia nggak tumbuh gede lagi. Biar aja dia kontet. Biarin aja ukuran tubuhnya kecil terus, biarin juga suaranya cempreng terus.. Biar aku bisa terus uwel-uwelin dia (=^w^=)

Mutun :  "Yang bener aje lo! Masa doain gue jadi kontet?"

Jumat, 05 September 2014 0 komentar

My First Work Experience

Well, setelah sekian lama nggak blogging, baru hari ini aku bisa blogging lagi. Hal ini dikarenakan aku udah nggak punya free time lagi.. Huaaaahh..
Kenapa? Karena sekarang aku kerja!

Iya, kerja. Jadi kampus aku tuh kan punya fasilitas menyalurkan mahasiswa-mahasiswinya ke perusahaan-perusahaan. Nah, beberapa minggu yang lalu, staff C&P kampus minta konfirmasi ke aku untuk mengirimkan CV dan berkas lamaran aku ke kantor tempat aku kerja sekarang ini. Aku ditawarin di posisi Admin. Aku terima, coz aku emang lagi butuh kerjaan.

Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 11 sore, aku di-SMS HRD perusahaan itu. Isinya adalah panggilan interview. Huaahh.. seneng sih, tapi nervous juga. Yah, siapa sih yang nggak nervous kalo mau ngadepin job interview? Hanya aja nervous aku kali ini lebih mending daripada pas aku ngadepin job interview buat pertama kalinya di salah satu perusahaan rotan dua bulan yang lalu.

Keesokan harinya, sekitar jam delapan pagi, aku dateng ke kampus. Awalnya aku kira aku cuman sendirian gitu, ternyata di ruang C&P aku ketemu sama Ecin (temen sekelas aku yang bekerja sebagai staff) dan Nur. Aku yang tadinya ngerasa nervous jadi rada tenangan karena nggak sendirian. Nur bilang kalo dia dipanggil interview juga hari itu, dan itu adalah job interview pertamanya.

Kami dikumpulkan di ruang dua. Disana udah berkumpul temen-temenku yang juga bakal ngadepin job interview hari itu. Untuk perusahaan tempat aku kerja sekarang, kampus aku mengirim aku, Nur, Mbak Dwi, Pepey, Nurul, Pipit, Devi, sama siapa lagi ya? Lupa. Intinya sih ada delapan orang.

Sebelum ke lokasi, Pak Furqon ngasih kami wejangan dulu tentang hal-hal yang harus kami perhatiin selama diwawancarai. Diantaranya, kami harus selalu menjaga eye-contact dengan si pewawancara; mengetuk pintu sebelum masuk lalu mengucapkan salam; menjabat tangan si pewawancara dengan mantap; jangan duduk sebelum dipersilahkan; duduk dengan punggung lurus tapi nggak tegang; jangan menaruh tangan diatas meja; menjawab pertanyaan si pewawancara seperlunya; de el el. Setelah mendengarkan wejangan dari Pak Furqon, kami pun berangkat dengan menumpang mobil kampus.

Perusahaan itu terletak di kawasan Trusmi Kulon. Disana kami diminta menunggu sampe sekitar jam setengah sebelas gitu deh. Kemudian kami diminta masuk ke ruang meeting untuk menjalani psikotest. Psikotest berjalan selama kurang lebih dua puluh menit. Kemudian kami diminta menunggu di sebuah ruangan di sebelah ruang HRD, sampe akhirnya nama kami dipanggil satu persatu. Nur yang baru kali ini ngadepin job interview mendapatkan panggilan paling pertama.

Aku mendapat giliran ke-enam (kalo nggak salah). Aku ditanya berbagai macam pertanyaan yang biasa ditanyakan pada job interview. Yah, misalnya apa yang kamu ketahui tentang Admin?, apa kelebihan kamu?, apa yang memotivasi kamu buat kerja disini? Banyak deh! Bahkan aku diminta buat nyanyi!

Iya, nyanyi! Seriously! Awalnya interviewer yang bernama Pak Jodi itu nanya ke aku,
”Kamu suka nyanyi nggak?”
Aku jawab, “Suka, Pak. Sedikit..”
Dan beliau bilang, “Coba kamu nyanyi apa aja, dari awal sampe akhir.”
OH-MY-GOD! Aku nggak percaya kalo hal kayak gini bakal ada dalam sebuah job interview. Ini rekruitmen pegawai apa rekruitmen peserta Indonesian Idol sih?

Belom abis perasaan geli aku, Bapak HRD yang duduk di meja belakang aku nyeletuk,
”Sambil berdiri dong! Pake ekspresi juga ya!” Oh myyyyyyyy..
Akhirnya berdirilah aku menghadap mereka berdua, dan nyanyi. Didepan aku ada sebuah cermin besar setinggi badan. Alhasil aku bisa ngeliat bayangan diri aku sendiri lagi nyanyi sambil mengayunkan badan aku ke kanan-ke kiri. For God’s sake, itu geli banget!

Aku menyanyikan lagu milik Ten2Five yang judulnya I Will Fly, lagu yang pernah aku nyanyiin pas Ujian Praktek Seni Budaya dan Kesenian pas SMA dulu, lagu yang bikin aku dapet nilai praktek nyanyi lumayan bagus. Sialnya, gara-gara nervous aku jadi lupa lirik. Awalnya aku cuman salah menyanyikan part “there’s a chance for me to say” jadi “there’s a words for me to say”. Parah! Lebih parahnya lagi, setelah part itu aku malah jadi blank. Alhasil aku jadi diem aja gitu sambil nerawang nginget-nginget liriknya. Awkward banget lah pokoknya! Udah gitu aku disuruh ganti lagu, lagu Indonesia gitu. Jadilah aku nyanyiin lagunya Maudy Ayunda yang Perahu Kertas, tapi cuman reff-nya doang sih..

Setelah itu, Pak Jodi bertanya,
“Kalo saya tantangin kamu buat bertemu langsung dengan Direktur Utama kami, kamu siap?”
Aku jawab, “Siap, Pak.”
Kemudian beliau meminta aku buat nunggu lagi bersama temen-temen aku yang lain.

Setelah semuanya selesai interview, aku dipanggil buat menghadap langsung ke Direktur Utama perusahaan itu. Aku dianter Ibu Neng ke sebuah ruangan. Di dalem ruangan itu, duduklah seorang perempuan muda cantik berbaju dan berkerudung biru. Aku kira dia itulah Direktur Utamanya. Seketika aku pun kembali nervous sampe-sampe salah ngucapin selamat siang jadi selamat pagi. LOL! :v

Ternyata aku salah gitu. Di ruangan yang nggak begitu besar, bahkan terbilang sempit itu, ada tiga ruangan lagi, yakni kamer mandi, sebuah ruangan berjendela dibelakang kursi perempuan berbaju dan berkerudung biru itu (yang kemudian aku ketahui sebagai ruang kerja Admin Keuangan), dan sebuah ruangan tertutup. Aku dianter ke ruangan tertutup itu. Nah, disanalah sang Direktur Utama duduk. Aku pun dipersilahkan duduk, dan kemudian ditanya-tanya gitu deh. Yah, pertanyaannya sih nggak jauh beda dari pertanyaan-pertanyaan yang diajuin sama staff HRD. BTW, awalnya aku kira Direktur Utamanya itu udah berumur empat puluh atau lima puluh tahun keatas gitu, ternyata enggak. Aku jadi nggak tegang-tegang banget, walaupun rasa nervous masih ada.

Setelah interview bersama beliau selesai, Pak Direktur manggil seseorang. Aku pikir, pasti perempuan berbaju dan berkerudung biru itu.  “Nggun.. Anggun..” Tapi yang dipanggil nggak nyahut-nyahut. Kayaknya sih lagi ke luar ruangan gitu deh. Kemudian beliau menyodorkan sebundel kertas yang aku ketahui merupakan berkas lamaran aku beserta lampiran hasil wawancara sambil bilang, “Minta hasil psikotest kamu ke HRD!” gitu.

Aku pun keluar ruangan, kemudian menyerahkan sebundel berkas lamaran aku dan lampiran hasil wawancara itu ke Mbak Anggun yang waktu itu ada didepan ruang HRD. How awkward! Aku nggak diladenin..
Akhirnya aku duduk deh, gabung lagi sama temen-temenku. Temen-temen aku nanya sambil nunjuk berkas yang aku bawa, “Itu apa, Put?”
Mereka minta liat gitu kan, ya aku kasih. Trus salah satu dari mereka bilang, “Put, kamu pasti diterima deh. Liat tuh, kamu direkomendasikan.”
Penasaran, aku baca juga deh. Di kolom hasil wawancara itu ada tiga pilihan : ditolak, dipertimbangkan, dan direkomendasikan. Di kertas itu, pilihan ‘direkomendasikan’ itu diberi tanda ceklis gitu deh. Pas ngeliat itu, aku jadi berpikiran positif gimana gitu. Aku mikir, apa ini berarti saya diterima bekerja di perusahaan ini?

Kemudian aku dipanggil lagi ke Office 1 dengan dianter Pak Jodi. Disana, aku menyerahkan berkas yang aku bawa tadi. Kemudian ekspresi mereka jadi kayak bingung gitu. Trus aku malah disuruh nunggu lagi di tempat yang tadi. Nggak berapa lama kemudian, aku dipanggil ke ruang HRD buat menghadap Pak Jodi lagi. Beliau nanya, “Mbak Putri, kamu tau kan kalo berkas ini bersifat personal? Pelamar nggak boleh tau ini. Jadi gimana ceritanya berkas ini bisa ada di kamu?” Beliau nanya sambil mengacungkan berkas tadi. Aku rada kaget plus heran sih, coz nada beliau kedengeran agak sedikit sinis gitu. Tapi kan berkas itu Pak Direktur yang ngasih. Karena nggak ngerti, ya aku terima. Akhirnya aku jelasin deh kronologisnya kenapa berkas itu bisa ada di tangan aku. Setelah menjelaskan hal itu dengan sebenar-benarnya, aku pun dipersilahkan buat bergabung lagi dengan temen-temenku.

Setelah semuanya beres, kami pun dipersilahkan buat kembali ke rumah masing-masing dan menunggu panggilan di hari selanjutnya.

***

Keesokan harinya, HRD perusahaan itu kembali menghubungi aku. Katanya sih bakal ada interview lagi. Aku dateng langsung kesana sekitar jam delapan. Aku nggak sendirian, ada Nurul, Pepey, dan Mbak Dwi juga yang dipanggil kesana.

Setelah beberapa lama nunggu di ruangan sebelah ruang HRD, nama aku dipanggil. Aku kira, aku bakal berhadapan sama Direktur Utama lagi, tapi ternyata enggak. Kali ini interviewer aku adalah Ibu Gina (selanjutnya aku panggil dengan Mbak Gina, karena ternyata kami seumuran, cuman beda beberapa bulan doang). Mbak Gina ini nantinya bakal jadi partner kerja aku. You know what? Aku sempet di-tes ngomong pake bahasa Inggris gitu sama dia. Oh myyyyyy.. Nggak tau aja nih kalo kamus bahasa Inggris di otak aku suka ngilang kalo lagi nervous -_- Alhasil, pas ngomong aku jadi kayak orang yang baru belajar bahasa. Nggak jauh beda sama pas first interview aku di perusahaan rotan dua bulan yang lalu itu. Silly banget!

Setelah interview sama Mbak Gina, aku jadi hopeless gitu deh. Gimana nggak hopeless? Wawancaranya aja menyedihkan dan memalukan gitu. Udah gitu perusahaan ini mengharapkan karyawannya punya motor, atau minimal bisa nyetir motor.. sementara aku cuman bisa naeknya doang. Pokoknya udah pesimis banget lah. Kemudian aku pulang dengan perasaan kecewa. Eh, di tengah perjalanan pulang, aku malah ditelepon HRD lagi. Aku disuruh balik lagi kesana, coz katanya manager HRD (Pak Jodi) pengen ketemu sama aku. Ya udah, aku balik lagi deh sambil berharap bahwa ada kabar baik yang bisa aku denger.

Sampe disana, Pak Jodi udah nungguin aku. Aku dibawa ke ruangannya dan kemudian menyatakan bahwa.. AKU DITERIMA KERJA DISITU! Thank God! :D
Aku nggak sendirian, ada Pepey yang juga diterima kerja disana. Selain itu, ada juga Mbak Viny (pelamar yang melamar kerja di hari yang sama pas aku dan temen-temen ngadepin interview hari pertama) yang juga diterima kerja disitu. Mbak Viny ini ramah banget, makanya gampang deket sama orang. Nggak heran kalo dia diterima sebagai Staff Marketing.

Sebagai karyawan baru, tentu aja aku, dan yang lainnya harus menjalani On the Job Training (OJT) terlebih dahulu. Dan OJT itu bakal kami jalanin selama tiga bulan. Tapi selama dua minggu pertama, kami nggak boleh libur. Intinya harus masuk kerja terus. Kami baru mulai kerja keesokan harinya, masuk jam delapan pagi, dan pulang jam enam sore. Kami juga diminta untuk menyerahkan ijazah asli SMA kami. Ijazah itu bakal ditahan selama kami jadi karyawan disana.

***

Esoknya, aku dateng kesana jam delapan kurang sambil bawa ijazah asli SMA aku yang dimasukin kedalem amplop coklat. Gara-gara bawa amplop coklat itu, aku malah dikira pelamar baru yang mau ngasih berkas lamaran gitu deh. Aku pengen nunggu di ruang tunggu HRD, tapi dilarang sama security. Aku malah disuruh gabung sama para SPG yang lagi briefing. Ya udah deh, aku ikut-ikut aja. Briefing-nya lumayan lama juga, sampe sekitaran jam sembilan. Waktu itu aku rada was-was juga, takut dikira telat. Oh ya, pas briefing itu, aku ngeliat salah satu penyiar radio favorit aku. Kalo aja waktu itu Supervisor yang mimpin briefing itu nggak nyapa dia, aku nggak akan tau bahwa dia adalah penyiar radio itu. Nggak nyangka aja gitu, ternyata dia kerja disitu. Katanya sih jadi Staff Marketing. Tapi kok dia jutek banget yak sama aku? Aku ajak senyum, dia nggak bales. Huaaaahh.. Padahal di radio atau di Facebook dia ramah banget lho. Well, dia emang termasuk kedalam friendlist Facebook aku. Masa iya gitu aku kudu nyapa dia sambil bilang, saya suka denger siaran Kakak lho. Saya juga pernah request lagu pas Kakak siaran. Temenan di Facebook juga malah. Nggak ngenalin ya, Kak?
Lagipula di lingkungan kerja ini aku bingung harus manggil dia Kakak, atau Bapak.. atau Jeung, ngikutin para SPG yang biasa memanggilnya. BTW, kalo ngeliat dia, aku selalu inget salah satu penulis favorit aku, Christian Simamora. I dunno..

Setelah briefing, aku menuju ruang tunggu HRD. Disana udah ada Pepey. Syukurlah, ternyata aku nggak telat. Kemudian kami pun melakukan serah terima ijazah dengan Bu Neng, bikin absent sidik jari, lalu dianter ke Office 1 (ruang yang pernah aku masukin pas mau interview sama Direktur itu). Disana kami duduk di sebelah Mbak Anggun yang ternyata merupakan sekretaris di perusahaan itu. Kami ngobrol-ngobrol sedikit, sampe akhirnya Pepey dipanggil untuk keluar dari ruangan itu, coz dia kan ditugaskan sebagai Admin Keuangan Batik di Office 2 (ruangan sebelah Office 1), sementara aku tetap di Office 1 karena disitulah aku akan bekerja menjadi partner Mbak Gina sebagai Admin Legal, yang berarti selama bekerja aku akan selalu diawasin Pak Direktur, karena kami satu ruangan gitu lhooooo! Eh, tapi nggak satu ruangan juga deng. Pak Direktur kan punya ruangan pribadi. Tapi tetep aja intinya satu ruangan, karena ruangan pribadi Pak Direktur ada didalem Office 1 itu.

Oh ya, waktu memasuki Office 1 ini, hal yang paling menarik perhatian aku adalah stiker larangan kentut yang ditempel di jendela kaca ruang Admin Keuangan Properti. Aku pikir, gila.. keren banget orang-orang yang bekerja di ruangan itu. Mereka bisa menahan diri untuk nggak kentut selama jam kerja. How great!

Disana nggak cuman ada aku dan Mbak Anggun aja, tapi juga waktu itu ada dua orang karyawan cewek lagi, yakni Mbak Leny dan Mbak Lela. Ada juga Mas Haris, satu-satunya karyawan cowok disitu. Tapi hari itu aku nggak ngeliat Mbak Gina yang katanya bakal jadi partner aku. Lagi sakit katanya. Jadi, seharian itu cuman Mbak Leny yang ngasih aku arahan. Mbak Leny ini karyawan paling muda disitu. Umurnya baru 19 tahun. Nggak heran kalo cewek bersuara imut-imut kayak Naysilla Mirdad ini selalu diledekin sama rekan-rekan kerjanya. Well, dia mah mau ngomong diimut-imutin juga ngegemesin. Lah, coba kalo aku yang gaya ngomongnya kayak gitu.. behh minta ditimpuk namanya :v

Dan selama kerja disana, pandangan aku tentang seorang Sekretaris itu berubah setelah ngeliat Mbak Anggun. Awalnya aku kira jadi sekretaris itu harus jaim dan tampil serapih-rapihnya. Tapi Mbak Anggun kebalikannya.. koplak dan absurd abis (itu kalo lagi nggak ada tamu lho ya..). Dia yang paling sering mancing kekoplakannya anak-anak Office 1. Kalo nggak ada dia, Office 1 bakal terasa kurang hidup. Tapi tampaknya aku terlalu normal buat ketularan koplaknya mereka. Virus koplak mereka mental, nggak mampu menulari aku -_-

***

Beberapa hari kerja disitu, barulah aku tau bahwa pekerjaan aku yang sebagai Admin Legal ini adalah mengurus perijinan pembangunan perumahan. Jadi, Direktur Utama yang merupakan owner dari Pusat Grosir Batik ini tuh mau membangun beberapa perumahan di beberapa daerah di Kabupaten Cirebon ini, dan tugas aku adalah berpetualang ke berbagai kantor dinas dan notaris buat menyerahkan berkas-berkas dokumen perijinan, mengirimkan surat permohonan dari perusahaan,.. de el el.

Ngomongin Pak Direktur, aku sempet kaget lho waktu menemukan suatu fakta bahwa bos besar aku itu ternyata masih berusia dua puluh lima tahun! Waktu itu Mbak Leny mempersilahkan aku buat baca-baca dokumen-dokumen di laptop gitu. Dan waktu aku lagi liat-liat isi salah satu folder, aku nemu data riwayat hidup Pak Direktur gitu deh, trus aku baca. Ternyata beliau memulai usahanya sejak umur tujuh belas tahun, tepatnya setelah beliau lulus SMA dan menikah. Salut deh. Gimana nggak salut? Umur beliau masih muda banget, dan beliau udah punya berbagai macem usaha. Pusat grosir batik aja ada empat (tiga diantaranya berada di Jakarta, Surabaya, dan Medan). Lalu beliau juga punya beberapa toko batik, sebuah café, sebuah yayasan panti, dan beberapa perumahan. Keren ya? Selama ini aku cuman mengenal Top Ittipat, pengusaha asal Thailand itu sebagai pengusaha sukses termuda yang pernah ada. Tapi ternyata dugaan aku salah. Di bumi Cirebon ini ternyata ada seorang pengusaha yang lebih muda ketimbang pengusaha cemilan rumput laut Tao Kae Noi itu.. ya Pak Direktur itulah! Pengen banget deh bisa kayak beliau. Tapi masalahnya adalah, I have no idea mengenai bisnis yang mau aku rintis -_-

Oke, balik ke cerita. Petualangan pertama aku adalah mengunjungi tiga kantor notaris. Aku nggak sendirian. Aku kesana bareng Mbak Leny dan seorang driver. Waktu itu hari Sabtu tanggal 16 Agustus, hari pertama kalinya aku ketemu Mbak Gina lagi semenjak interview itu. Mbak Gina itulah yang menugaskan kami buat ke kantor notaris-notaris itu. Kami ketemu dia juga cuman sebentar sih, coz setelah dia ngasih kami tugas, dia pamit pulang karena masih sakit. Katanya sih dia sakit magh gitu deh. Aku liat juga mukanya emang pucet banget waktu itu.

Dan hari Senin-nya, barulah petualangan aku yang sesungguhnya dimulai. Aku ditugaskan Mbak Gina buat ngunjungin beberapa kantor sendirian! Well, sebenernya nggak bener-bener sendirian sih.. coz berhubung aku nggak bisa ngendarain motor, aku minta tolong seorang helper buat nganterin aku, namanya Mas Dodi. Karena belom pernah ke tempat-tempat itu sebelumnya, kami jadi bingung gitu deh, makanya nyari-nyari alamatnya pake feeling gitu. Kami bahkan sempet salah masuk kantor. Haha..
Untungnya Mas Dodi ini orangnya lumayan enak diajak keliling-keliling. Nggak bawel gitu deh. Yang susah itu waktu ke kantor PDAM. Aku ditugaskan buat ketemu sama Ibu Yeni. Tapi petugas  security disitu malah mengatakan bahwa di kantor itu nggak ada yang namanya Yeni. Bahkan saat keesokan harinya aku kesana lagi pun, aku tetep nggak nemuin yang namanya Ibu Yeni.

***

Aku suka pekerjaan aku. Ya know, aku jarang jalan-jalan keluar rumah. Dan dengan bekerja sebagai Admin Legal, aku jadi sering jalan-jalan. Seneng deh waktu muter-muter ke daerah Sumber yang banyak kantor-kantornya itu. Coz lingkungannya tuh asri banget. Seger dan enak diliat deh pokoknya. Tapi jujur.. selama aku bekerja sebagai Admin Legal, aku kurang ngerasa nyaman sama suasananya. Well, lemme tell you (again) that aku bukan tipe orang yang gampang beradaptasi sama lingkungan baru. Lingkungan kerja aku ini adalah lingkungan baru aku.. dan aku tentu aja nggak bisa dengan mudahnya langsung ngerasa nyaman disini. Apalagi yaaahh tau sendirilah lingkungan kerja itu kayak gimana. Selalu adaaaaa aja karyawan senior yang memandang karyawan junior seperti aku ini dengan tatapan aneh. Ada juga yang mukanya aseeeeem terus. Diajakin senyum pun dia nggak bales. Mukanya tetep asem, kayak lipetan lengan (baca : kelek). Aku jadi curiga, tuh orang sehari-harinya nenggak cuka gitu deh, makanya mukanya asem gitu. Perlu ditaprukin gula kali ya, biar manisan dikit? Atau mungkin aku emang punya tampang yang bikin muka orang semanis apapun berubah jadi asem. Entahlah..

Aku selalu bertanya sama diri aku sendiri, apa sih yang salah sama aku?

Hal ini sempet bikin aku down dan males berangkat. Rasanya waktu itu aku pengen banget sendirian dan nggak ketemu orang sama sekali. I dunno.. Aku selalu ngerasa ada yang salah sama cara orang lain ngeliat aku. Selain itu, rasanya kesepian banget selama kerja. Aku pengen banget ngobrol kayak rekan-rekan kerja aku yang lain, tapi aku nggak bisa nimbrung. Kalopun nimbrung dan iseng-iseng nyeletuk, becanda gitu, mereka kayaknya kok cuek gitu. Aku jadi ngerasa garing. Aku butuh banget temen waktu itu.

Eh, tepat di hari itu, Allah ngirimin hadiah buat aku. Sesuatu yang aku butuhkan. Yup, seorang temen. Siang itu, Office 1 kedatangan seorang karyawan baru. Namanya Lina. Sebenernya aku pernah ngeliat dia beberapa hari sebelumnya pas dia mau interview sama Pak Direktur. Kami juga sempet ngobrol-ngobrol sedikit waktu itu. Waktu itu dia sempet cerita kalo dia ngelamar sebagai SPG di perusahaan itu. Tapi aku nggak nyangka gitu lho, ternyata dia ditempatin di posisi Admin di Office 1, tempat aku kerja. Aku bersyukur banget, of course :D

Awalnya aku yang negur dia duluan, basa-basi sedikit, trus dia tanya ini-itu tentang kerjaan.. Lalu Mbak Gina nugasin aku buat ngasih penjelasan gitu ke dia. Akhirnya aku jelasin tentang apa-apa aja yang aku tau tentang pekerjaan Admin Legal. Aku juga sempet ngejelasin tentang dokumen apa aja yang dibutuhin buat minta perijinan ataupun rekomendasi dari instansi tertentu. Lama kelamaan kami malah jadi akrab gitu deh. Aneh emang. Seminggu lamanya aku di Office 1, tapi nggak ada satupun rekan satu ruangan aku yang akrab sama aku. Tapi Lina, baru beberapa jam aja aku kenal dia, kami udah langsung akrab. Lina juga tampaknya lebih nyaman ngobrol dan nanya-nanya sama aku ketimbang sama yang lain sih..

Lina itu innocent, kalo ngomong selalu apa adanya. Kadang dia juga suka diketawain sama rekan-rekan karena kepolosannya. Dia ngingetin sama salah satu temen SMP aku, Inna. Hanya aja, Lina sedikit lebih dewasa karena dia punya perjalanan hidup yang lumayan sulit, nggak seberuntung Inna. Tapi Lina maupun Inna buat aku adalah dua oran g yang enak buat diajak temenan. Andai dia tau betapa bersyukurnya aku pas tau dia kerja satu ruangan sama aku.

***

Sehari setelah perkenalan aku dengan rekan kerja baru aku itu, aku dan Lina dipanggil ke ruang HRD. Kami kesana nggak cuman berdua sih, tapi ada Mbak Anggun dan Mbak Aty juga. Kami berempat duduk di hadapan Pak Jodi. Awalnya aku dan Lina ditanya tentang apa aja yang kami kerjain selama di kantor. Kemudian Pak Jodi menyatakan sesuatu yang bisa dibilang bad news waktu itu. Aku harus pindah tugas dari Admin Legal ke Admin Purchasing dengan alasan pekerjaan aku dan Lina sama, sementara perusahaan ini butuh pembagian tugas. Itu berarti aku nggak kerja bareng Mbak Gina dan Lina lagi di Office 1, tapi bareng Mbak Aty di kantor pemasaran perumahan yang jaraknya beberapa ratus meter dari kantor tempat aku kerja waktu itu.

Jujur aku kecewa juga waktu itu. Aku baru aja seneng karena dapet temen yang bener-bener klop di tempat kerja aku. Eh, baru sehari seneng-seneng, aku malah dipindahin. Itu berarti aku harus beradaptasi lagi dong?

***

Selama beberapa hari, aku masih bekerja di Office 1, sampe akhirnya suatu hari Mbak Tya, salah satu partner Mbak Aty meminta aku buat bikin data barang-barang inventaris. Waktu itu Selasa tanggal 26 Agustus, aku pertama kalinya ke kantor pemasaran perumahan. Sayangnya, Mbak Aty dan Mbak Tya ternyata lagi nggak ada di tempat. Aku nunggu disana bareng Mbak Septy, salah satu Sales Counter perumahan. Lumayan lama juga aku nunggu disana. Pas Mbak Tya dateng, aku ikut dia ke salah satu proyek pembangunan perumahan buat bertemu sama salah satu rekan kami, namanya Mas Uki. Sebenernya aku udah lumayan sering liat dia, tapi baru kali itu aku komunikasi sama dia. Orangnya lumayan asik sih, rada koplak juga, trus kayaknya enak kalo diajak curhat (coz Mbak Tya sempet curhat masalah pribadinya gitu sama dia). Tapi karena aku baru kenal dia, aku belom bisa ikutan koplak, apalagi curhat-curhat gitu (padahal pengen banget). Apalagi katanya dia itu kan mantan penulis, dan juga ngerti ilmu Psikologi. Aku surprised banget waktu tau itu. I was like, “You know what, Mas Uki? You’re the one I’ve been looking for! I really need your help!”
Aku nggak cuman pengen curhat sama dia, tapi juga pengen banget tanya ini itu soal teknik menulis yang baik dan juga tanya-tanya tentang Psikologi. Gaaaaaaahhh.. Tapi kapan? Kapaaaaann..??

***

Sekarang aku udah resmi kerja di tempat yang baru ini. Emang sih, kerjaan disini lebih banyak ketimbang di Office 1. Aku juga punya komputer yang khusus dipake sama aku di kantor ini, nggak perlu gentian kayak di Office 1. Tapi walaupun kerjaan disini lebih banyak, bukan berarti aku punya kerjaan terus. Kadang aku juga jenuh karena nggak ada yang bisa aku kerjain disini. So, yang bisa aku lakuin ya beginilah.. nulis blog di waktu luang. Hahaha..

Di ruangan yang aku pake sekarang, aku kerja sendirian. Selama beberapa hari kemaren, aku sempet ditemenin sama Mbak Dewi, karyawan baru yang berposisi sebagai Drafter. Orangnya baik. Aku lumayan sering ngobrol sama dia. Tapi sayangnya baru tiga hari dia kerja disini, dia memutuskan buat resign. Aku nggak tau pasti apa alasan dia resign. Dia cuman bilang capek. Yah, kalo aku duga sih kayaknya dia kurang ngerasa nyaman deh kerja disini. Oke, aku akuin, fasilitas disini kurang. Menurut aku, kantor ini butuh peningkatan fasilitas dan kualitas kenyamanan. Misalnya aja kursi. Kursi disini nggak ada sandaran punggungnya. Wajar aja kalo yang duduk disitu selama berjam-jam ngeluh capek. Semoga cepet-cepet ditingkatin deh fasilitas dan kualitas kenyamanannya.

Oh ya, beberapa hari yang lalu pas aku mau ke ruang HRD buat minta hari libur, aku ketemu sama Lina di musholla. Dia bilang, “Kangen, Mbak.. pengen ngobrol-ngobrol lagi.”
Haiiiiissshh.. sumpah, aku ngerasa gimana gitu waktu dia bilang gitu. Saya juga kangen sama Mbak lhooooo..

Di hari ketika Mbak Dewi resign, aku sempet dikira resign juga sama Mbak Aty dan beberapa karyawan lain. I dunno kenapa mereka bisa mikir gitu. Aku kira sih kayaknya gara-gara waktu itu aku ikut Mbak Dewi ke HRD. Padahal waktu itu aku ke HRD mau nanyain soal hari libur, bukan buat minta resign. OMG.. Aku nggak bakal resign secepet itu lah. Belom juga aku kerja sebulan disini, masa langsung ngundurin diri aja. Apa kata ortu aku nanti? Just to let you know that kadang aku juga ngerasa kerja itu berat. Bukan pekerjaan aku yang berat, tapi paksaan untuk beradaptasi dan bersosialisasi dengan orang-orang berbagai karakter itu yang bikin semua ini kerasa berat buat aku. Buat orang lain, mungkin ini biasa aja. Tapi buat aku, ini tantangan yang harus ditempuh dan nggak mudah. Dan satu-satunya yang bikin aku terus maju adalah orangtua aku. Aku memaksakan diri untuk orangtua aku. Aku juga tau diri lah. Sebentar lagi kuliah aku mau memasuki semester lima. Aku pengennya biaya kuliah di tahun terakhir ini aku sendiri yang nanggung, jadi ortu aku nggak perlu ikut mikirin. 

Anyway, sejauh ini aku udah mulai ngerasa betah di tempat aku yang baru. Aku seneng mengenal Mbak Aty dan Mbak Tya yang jadi partner aku. Mereka baik banget sama aku. Begitu juga karyawan lainnya, yang selalu bisa ngeliat keberadaan aku walau aku masih sering canggung buat nyampur sama mereka. 


Well, I think Allah has given me His best decision :)
Selasa, 12 Agustus 2014 0 komentar

BUKU : Don't Cry & Restart

Kayaknya belakangan ini aku khilaf deh.. khilaf dengan memuaskan hasrat membacaku. Sebulanan ini aku nggak tau udah berapa ratus ribu uang yang aku abisin cuman buat beli novel doang. BTW, aneh nggak sih? Ketika kebanyakan cewek menghabiskan uangnya buat ke salon atau shopping tas, aksesoris, sepatu or baju-baju unyu, aku malah lebih seneng ngabisin uang aku buat beli buku atau makanan. Seriously! Entah kenapa, kebahagiaan kecil itu bisa aku dapetin hanya dengan membaca rangkaian-rangkaian kata dari Mbak-Mbak dan Mas-Mas penulis yang bikin imajinasi aku hidup, atau memanjakan lidah aku dengan satu pint es krim atau beberapa batang SilverQueen. Mwahahaha.. :P

Nah, setelah habis melahap novel All You Can Eat-nya Christian Simamora, minggu lalu aku abis hunting novel lagi. Tadinya aku sempet mengurungkan niat hunting ini gara-gara duit enam puluh ribu aku ilang entah kemana. Gila! Duit segitu lumayan buat beli donat J.Co atau novel baru! Tapi karena hasrat aku buat hunting novel ini nggak bisa dibendung, akhirnya aku kabur juga ke Gramed dan membeli dua buah novel.

Tadinya aku mau beli novel Come On Over-nya Christian Simamora. Tapi ternyata novel itu tinggal dua buah disitu dan dua-duanya udah kebuka segelnya. Kemudian aku nimang-nimang novel Restart-nya Nina Ardianti dan novel Me and My Prince Charming-nya Orizuka. Tapi sialnya, aku baru nyadar bahwa sebagian duitku ketinggalan dirumah, sehingga menyebabkan duit aku kurang dua ribu kalo buat beli kedua novel itu. Akhirnya novel Me and My Prince Charming-nya Orizuka aku taro kembali ke rak dan berjanji bahwa aku akan membelinya di lain kesempatan. Sebagai gantinya, aku bawa pulang novel Don't Cry karya Adytya Fitriani.



***

Novel yang pertama aku baca adalah Don't Cry. Aku nggak ngerti ya, kenapa gitu aku beli novel ini? Pasalnya, novel ini nggak ada dalam daftar novel wajib beli yang udah aku catet didalem note di HP aku. Novel ini menceritakan tentang kisah percintaan dua orang remaja SMA. Takeru adalah seorang cowok populer di sekolahnya. Ia jatuh cinta pada seorang gadis biasa bernama Hikari yang telah mampu mencuri hatinya sejak ia pertama kali melihatnya menjelang upacara penerimaan siswa baru. Awalnya Takeru cuma bisa memandang Hikari dari kejauhan tanpa memiliki keberanian buat ngungkapin perasaannya, sampe akhirnya suatu hari dia memberanikan buat nembak Hikari. Tanpa diduga, Hikari menerima cintanya. Hubungan cinta mereka berjalan awet hingga dua tahun lamanya. Pada suatu hari, Hikari mengalami kecelakaan ketika hendak menyebrang sepulang membeli kado ulang tahun untuk Takeru. Dia mengalami koma selama dua bulan. Dan ketika Hikari tersadar dari koma, dia nggak menemukan Takeru di sisinya. Takeru menghilang.

Dua tahun berlalu, Hikari belum juga mengetahui keberadaan Takeru, meskipun dia udah berusaha mencarinya. Rumah Takeru pun selalu tampak kosong, padahal menurut tetangganya, keluarga Takeru nggak pernah pindah rumah. Tanpa Hikari ketahui, Takeru sebenernya sengaja menghindari Hikari, karena saat itu dia menderita kanker otak stadium 4B. Dia nggak mau bikin Hikari sedih kalo tau dia punya penyakit itu. Ibu Hikari sebenernya tau tentang itu, tapi dia udah janji sama Takeru untuk merahasiakannya pada Hikari. Tapi akhirnya suatu hari ibu Hikari membuka kartu. Ia menyerahkan diary Takeru kepada Hikari. Akhirnya Hikari tau deh kenapa Takeru menghilang, dan kemudian menjenguk Takeru yang lagi sekarat di rumah sakit. Akhirnya disana mereka bertemu dan saling berjanji untuk terus bersama-sama selamanya.

Komentar aku buat novel ini :
Covernya manis, semanis isi ceritanya. Tapiiii.. menurut aku ceritanya gampang banget ketebak, sehingga kurang greget. Alurnya juga terlalu singkat. Baru juga baca halaman sepuluh, Takeru yang belum bener-bener mengenal Hikari udah jadian aja gitu sama dia. Kemudian ketika Takeru menghilang selama dua tahun, selama dua tahun itu pula rumahnya terlihat kosong padahal menurut tetangga, keluarga Takeru nggak pernah pindah rumah, dan faktanya mereka emang masih tinggal disana. Itu kurang masuk akal. Masa sih selama dua tahun itu, Hikari nggak pernah sekalipun mergokin adanya 'kehidupan' didalem rumah itu? Dan kenapa ibu Hikari tega untuk tetep ngerahasiain tentang Takeru dari anaknya dalam waktu selama itu? Padahal dia tau bahwa Hikari bener-bener down dan kehilangan semangat hidup karena kehilangan Takeru selama dua tahun lamanya. Selain itu, didalem novel ini ada beberapa kata yang nggak sesuai penggunaannya. Misalnya kata 'kepalaku berkunang-kunang'. Padahal seharusnya yang bener adalah 'mataku berkunang-kunang'.

Novel ini tergolong ringan, jadi selama baca novel ini, aku nggak perlu mengulang baca kalimatnya biar bisa ngerti. Didalemnya juga sama sekali nggak ada kata-kata yang sulit dipahamin kayak yang sering aku temuin di novelnya Christian Simamora dan Andrea Hirata. Daaaann.. kalo menurut aku, ceritanya itu rada mirip film remaja Jepang gitu deh, yang judulnya Koizora itu. Coz tokoh utama cowoknya sama-sama punya penyakit kanker otak dan sama-sama menghilang setelah mengetahui bahwa dirinya menderita penyakit itu plus setelah tokoh utama ceweknya mengalami kecelakaan. Kalo di dalem novel ini tokoh utama ceweknya tertabrak ketika menyebrang, sementara di film Koizora tokoh utama ceweknya jatoh gara-gara didorong sama ex-girlfriend dari tokoh utama cowoknya sehingga menyebabkan dirinya mengalami keguguran. Tokoh utama cowoknya juga sama-sama nitipin diary gitu deh buat dikasihin ke tokoh utama ceweknya. Hanya aja novel Don't Cry berakhir bahagia karena kedua tokoh utamanya memutuskan untuk menjalani hidup bersama, sementara film Koizora berakhir tragis karena pada akhirnya tokoh utama cowoknya meninggal. Apa mungkin penulis novel ini terinspirasi dari film itu? Entahlah..
Dan karena aku udah pernah menyimak kisah semacam ini dalam bentuk film itu, aku jadi agak nyesel beli novel ini. Apalagi novel ini juga kan nggak termasuk dalam daftar novel wajib beli yang udah aku catet itu. Kenapa aku nggak ambil novel Refrain aja yak? (=__=')


 ***


Setelah melahap novel Don't Cry, giliran novel Restart yang aku sikat. Novel ini cocok banget buat move on. Syiana Syahrizka Alamsyah a.k.a Syiana adalah seorang banker di salah satu bank terkemuka di Indonesia. Ia merasa hidupnya hancur ketika memergoki Yudha—cowok yang dia pacari selama tiga tahun—berselingkuh dengan mantan ceweknya. Alhasil, hubungan yang udah dirajut selama tiga tahun itu pun kandas. Berkali-kali Yudha mencoba buat minta maaf atas perbuatannya, tapi Syiana nggak bisa memaafkan dia begitu aja walaupun jauh didalem lubuk hatinya, Syiana masih sayang sama Yudha, dan rasanya susah banget buat move on dari cowok itu.


Suatu hari, Syiana menjalani training mengenai pengembangan produk dan strategi untuk bisnis kartu kredit di Hongkong bersama teman sebelah kubikelnya, Aulia. Tiga hari berada di Hongkong dan jauh dari Jakarta, Syiana manfaatkan buat ngebuang bayang-bayang Yudha dari pikirannya Eh, tanpa diduga mereka malah ketemu di sebuah kafe di Hongkong. Syiana syok banget dong karena hal itu. So, dia langsung pergi dari tempat itu dan masuk ke sebuah beer garden. Disana Syiana mengalami konflik dengan Fedrian Arsjad a.k.a Ian dan Riza gara-gara Riza yang waktu itu lagi mabuk tanpa sengaja muntah di kakinya, dan kemudian Ian malah nuduh Syiana yang bikin dia mabuk. Syiana pun marah dan menyiramkan birnya ke muka mereka berdua. Lucunya, Syiana nggak tau bahwa mereka berdua adalah personil band Dejavu yang lagi naik daun.

Selanjutnya, Syiana ketemu mereka dimana-mana.. di pesawat ketika mau pulang ke Indonesia, di Starbucks, dimana-mana deh.. bahkan ternyata Dejavu menjadi salah satu brand ambassador untuk seri kartu kredit yang diterbitkan sama Divisi Consumer Card tempat dia bekerja. Syiana yang kesel sama dua dari empat personil Dejavu akibat peristiwa di beer garden itu jadi makin kesel karena dia jadi sering banget ketemu sama mereka. Lebih-lebih ketika Fedrian mulai ngedeketin dia. Emang sih Fedrian itu ganteng, effortlessly charming dan punya aura seksi.. kayak Ian Somerhalder—pemeran tokoh Damon Salvatore di Vampire Diaries.. Syiana sendiri mengakui itu. Tapi kalo inget sikap nyebelin Ian alias Fedrian di beer garden Hongkong itu, rasanya Syiana pengen menujes-nujes mukanya pake high heels. Tapiii.. lama kelamaan Syiana jatuh cinta juga sama Ian dan mulai bisa melupakan bayang-bayang Yudha. Perjalanan cinta Syiana dan Ian tentu aja nggak berjalan mudah. Cukup banyak konflik yang menghadang, mengingat Ian adalah seorang superstar berprestasi yang terkenal, sementara Syiana adalah cewek normal yang bukan artis.

Komentar aku buat novel ini :
Covernya warna favorit aku banget deh.. kombinasi merah, item, putih gitu ^_^
Dan ceritanyaaaaa... huaaaahh.. bagus banget, banget, banget!! Seru, dan tentunya romantis. Aku suka sama kedua karakter tokoh utamanya. Syiana yang digambarkan cantik, cerdas, ambisius, mandiri, namun bermulut tajam itu mengagumkan banget. Apalagi dia bisa ngambil hati keluarga Fedrian hanya dalam satu kali pertemuan. Sementara Ian yang digambarkan ganteng dan punya aura seksi, serta cerdas dan punya segudang prestasi tapi tetep humble, itu aku jamin bisa bikin cewek manapun jatuh cinta.

BTW, karena Ian dalam novel ini digambarkan mirip Ian Somerhalder, aku jadi ngebayangin muka Ian Somerhalder mulu sepanjang baca novel ini. Kebetulan aku emang pernah ngefans sama dia (dan sekarang ngefans lagi gara-gara novel ini!). Sementara tokoh Syiana dalam imajinasi aku adalah Nina Dobrev. Well, imajinasi aku nyasar ke Vampire Diaries :v


Here they are! Syiana dan Fedrian Arsjad, dalam imajinasiku :P
They're cute, right? (◦^w^◦)
Hmm.. jadi kangen sama film itu (◦'w'◦)

Intinya sih, aku nggak nyesel beli novel ini. Mbak Nina Ardianti bener-bener bikin aku jatuh cinta deh. Dia berhak aku masukkin ke list penulis favoritku. Hehe..

And now, lemme give you some quotes from this novel.

"Ada hal-hal dalam hidup yang lo tahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan tapi lo nggak akan bener-bener tau bahwa itu adalah sebuah kesalahan.. karena satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa hal tersebut merupakan kesalahan adalah dengan membuat kesalahan itu terjadi."
- Aulia -


"Setiap orang itu patah hati. All you have to do is moving on."
- Edyta -


"Satu-satunya hal yang bisa menyembuhkan patah hati adalah waktu.. atau orang baru."
- Edyta -


"If he isn't man enough to treat his woman right, he better moves over and let me try."
- Fedrian Arsjad -


"The only one who responsibles for the way your life works out is you. Kamu nggak bisa mengubah masa lalu, tapi kamu bisa bertanggung jawab terhadap masa depan kamu."
- Ibu Fedrian (disampaikan oleh Fedrian) -


"Love really is worth fighting for, risking everything for. And the trouble is, if you don't risk everything, you risk even more."
- Erica Jong, penulis novel Fear of Flying (disampaikan oleh Fedrian) -




***

Oh ya, selama aku baca novel, aku diomelin terus sama ortu. Mereka nggak suka gitu deh kalo aku baca novel. Apalagi bapak. Beliau menganggap bahwa novel cuman ngasih efek buruk buat aku. Huaaahh.. nggak ngerti deh aku sama yang namanya ortu. Aku pengen kuliah jurusan Sastra nggak boleh, baca karya sastra nggak boleh juga.. trus aku harus ngapain? Mereka tau nggak sih kalo baca novel tuh salah satu hobi utama aku? Dan ini hiburan bagi aku karena nggak diijinin masuk jurusan Sastra.. karena aku punya mimpi pengen bikin karya tulis dan mengirimkannya ke penerbit. Itu mimpi aku dari dulu, dari aku kecil. Jadi dengan membaca banyak karya tulis inilah aku bisa belajar dari tulisan-tulisan para author. Lagipula emangnya semua novel ngasih dampak jelek? Mungkin iya ada, tapi untuk mereka, para bocah yang belom atau nggak ngerti moral. Puh-leeezz.. aku kan udah gede. Aku tau mana yang baik mana yang enggak. Tapi yang namanya ortu tuh ya, kayaknya seneng banget menganggap anaknya masih kecil gitu (=__=')

BTW, aku lagi ada project pembuatan novel gitu deh. Udah aku bikin dari sekitar dua atau tiga bulan yang lalu gitu, tapi yang aku ketik belom banyak. Haha.. :P
Rencananya kalo udah jadi mau aku kirim ke penerbit gitu deh. Kira-kira bakal diterima nggak ya? Yaa.. iseng aja sih. Aku nggak ngarep-ngarep banget. Kalo nggak diterima ya mungkin bakal aku muat di Wattpad. Nanti deh, kalo ada waktu dan tentunya kalo ada inspirasi dateng lagi, mungkin bakal aku ketik lagi. Rasanya pengen banget cepet selesai. Haha.. :D

Total Tayangan Halaman

 
;