Minggu, 04 Oktober 2015 2 komentar
Ada beberapa hobi yang pengen banget bisa aku kembangkan. Salah satunya adalah : nulis. Aku udah suka nulis sejak aku kecil. Yah, bahkan mungkin aku udah punya hobi ini sejak aku mengenal alfabet berikut cara baca dan nulisnya, karena aku seringkali menemukan barang-barang lama (buku, album foto jadul dll) yang mana disana terdapat coret-coretanku—dengan bentuk tulisan yang masih sangat abstrak—entah itu cuman nama dan alamatku, ataupun pesan agar barang itu nggak diambil orang lain.


Album foto masa kecil, dengan tulisan abstrak hasil coretan tanganku

Ketika awal-awal masuk SD pun aku punya buku khusus nulis catatan random. Di buku itu, biasanya aku nulis apapun yang ada di pikiran, entah itu lirik lagu anak-anak yang waktu itu lagi aku suka, lagu soundtrack anime, cerita tentang mimpi yang aku alamin semalam, daftar seleb yang aku kenal namanya, jadwal acara anak Minggu pagi.. banyak lah pokoknya. Nggak penting banget yak (sama kayak blog ini. Mwahaha..). Dengan umur semuda itu pula, aku udah punya hobi nulis surat (yang juga nggak penting), walau surat-surat itu hanya aku layangkan ke sepupuku yang sebenernya sering aku temui. Ngiriminnya pun langsung ke orangnya, nggak lewat pos. Huahaha..

Kemudian ketika aku SD kelas tiga atau empat (aku lupa kapan tepatnya), aku mulai suka nulis karya, entah itu cerpen, dongeng, atau puisi. Aku bersyukur karena waktu itu bapakku bekerja di perusahaan printing. Karenanya, bapakku seringkali ngasih aku beberapa buku polos dan tebal. Ada yang panjang kayak buku gambar, ada juga yang ukurannya sama dengan buku tulis. Buku yang ukurannya sama dengan buku tulis itu biasanya adalah kumpulan lembar jawaban ujian SMA. Bagian belakang dari tiap lembarnya kan kosong tuh, biasanya aku jadiin media coret mencoret.  Biasanya sih yang ukurannya sedang itu aku jadiin media khusus menggambar. Nah, kalo yang ukurannya panjang kayak buku gambar, aku jadiin media khusus nulis puisi-puisiku. Sedangkan kalo cerpen dan dongeng biasanya aku tulis di buku tulis beneran.

Aku juga sering diminta temen-temenku untuk nulis puisi ataupun cerpen buat mereka. Aku sendiri sebenernya mungkin nggak akan inget bahwa dulu aku sering nulis puisi buat temen-temenku kalo aja ibu dari almarhum temenku, si Oki, nggak menyampaikannya ke ibu, dan ibu nggak menyampaikannya ke aku.

Hanya aja seiring bertambahnya usia, hobiku buat menulis karya semakin lama semakin menguap. Cuma hobi nulis diary aja yang masih bertahan sejak aku masih duduk dikelas tiga SD sampe sekarang, karena emang nulis diary adalah menulis yang paling mudah menurutku. Hanya aja bedanya dulu aku pake buku diary ataupun buku tulis beneran buat nulis daily stories aku (believe it or not, buku-buku itu masih ada sampe sekarang, hanya boleh dibuka oleh aku sendiri, dan kalo dibaca bikin cengar-cengir sendiri), sedangkan kalo sekarang ada blog dan bisa dibaca semua orang. Hehehe..
Kalopun ada daily stories yang isinya sangat pribadi, biasanya aku tulis di netbook dan diamankan dengan password.


Diary tahun 2004. Iya, aku tau ini menggelikan :v

Sebenernya pengen sih nulis karya lagi kayak dulu. Kali ini aku lebih condong ke cerpen ataupun novel, bukan puisi lagi. Cukup banyak ide cerita yang muncul di kepalaku, hanya aja aku seringkali bingung gimana menuangkannya kedalam tulisan. Ada beberapa ide yang udah tertuang, tapi akhirnya malah stuck di tengah jalan. Kadang aku nggak tau gimana caranya bikin konflik menanjak secara perlahan tanpa terkesan buru-buru, dan kadang pula aku nggak tau gimana caranya mengakhiri sebuah cerita dengan mengesankan tanpa terkesan maksa. Itulah yang jadi masalah. Makanya karyaku banyak yang nggak (atau belum) selesai. Dan ternyata yang punya masalah kayak gini bukan cuman aku doang. Penulis-penulis pemula yang lain juga banyak yang ngalamin, bahkan Mas Ukai—ex rekan kantorku—pun pernah.

Aku pengen banget jadi penulis yang produktif. Nggak harus seperti mereka yang berhasil membukukan karyanya, atau bahkan sampe jadi best seller. Enggak, aku nggak berharap semuluk itu. Aku cukup kagum sama mereka yang aktif nulis karya kayak para penulis fanfiction atau Wattpad. Aku pengen banget bisa kayak gitu. Ngenes juga rasanya, aku punya akun Wattpad tapi belom nulis satu karya pun. Ada sih.. tapi ya gitu, masih dalam bentuk draft. Hahahaha..
Makanya aku pengen banget setelah wisuda nanti aku bisa kuliah lagi di jurusan Sastra Inggris, dengan harapan bisa ngedapetin ilmu menulis yang baik.

Selain pengen mengembangkan hobi menulis, aku juga pengen banget mengembangkan hobi menggambar. Seperti yang udah aku ungkapkan diatas bahwa selain suka menggunakan blank paper sebagai media menulis, aku juga suka menggunakannya sebagai media pengganti buku gambar. Yaaa emang sih kebanyakan dari gambar yang aku buat itu bukan gambar-gambar yang terlukis berdasarkan imajinasiku. Kebanyakan gambar-gambar itu adalah hasil nyontek dari objek lain. Mwehehe.. Whatever. Mau gimana lagi? Masih sulit bagiku untuk menuangkan imajinasi kedalam bentuk gambar. Aku masih harus banyak belajar untuk itu.

Untuk sekarang sih aku lagi suka ngegambar-gambar anime dan doodle art. Itupun belum banyak sih. Aku aja berhasil ngegambar anime itu baru pas beberapa bulan yang lalu. Sedangkan doodle art sendiri baru berhasil bikin dua. Dan media menggambar yang biasa aku pake selain blank paper yaitu pensil dan penghapus. Yups, cuma itu. Anyway, baru-baru ini aku lagi coba-coba ngegambar pake drawing pen. Itupun aku nyobanya atas saran Mas Yudi, Graphic Designer (atau apalah itu, aku nggak tau posisi dia apa :p) di kantor, dan ngegambarnya pun masih kudu pake pensil dulu, nggak langsung pake drawing pen. Maklum, masih pemula, belom expert :v

Aku pake drawing pen merk Artline. Drawing pen pertamaku berukuran 0,4. Harganya sembilan ribu. Sebenernya aku beli dua buah drawing pen waktu itu. Yang satunya itu merk Snowman. Harganya lebih murah, enam ribu lima ratus. Hanya aja aku salah beli. Yang aku beli malah drawing pen ukuran 2,0 buat bikin kaligrafi atau lettering (yang mata penanya miring kayak ujung stabilo) (=.=’) Alhasil drawing pen Snowman itu jarang banget aku pake. Palingan dipake buat latihan lettering aja, coz aku juga tertarik sama seni menulis dengan bentuk huruf-huruf unik itu. Dengan begitu, latihannya jadi double sulit. Gimana enggak? Lettering itu nggak mudah buat beginner kayak aku ini, ditambah lagi kalo bikinnya pake drawing pen jenis ini. Kaku gimana gitu kalo belum terbiasa pake. Kadang garis yang aku buat terlalu tipis, kadang juga jadi terlalu tebal.

Selain berlatih, aku juga nge-follow­ orang-orang yang hobi lettering atau ngegambar anime dan meng-upload­ karyanya di Instagram. Dan dari orang-orang yang aku follow itu, aku paling suka sama karya-karyanya @niksdrawingss. Asli, aku kagum banget sama dia. Udah cewek, cantik, pinter ngegambar pula. Pewarnaan gambarnya juga sempurna. Really. Aku butuh tangan-tangan berbakat kayak gitu. Satu kali aku pernah bertanya sama dia lewat kolom komentar di gambar Cloud Strife—karakter Final Fantasy—yang dia buat. Aku bertanya tentang alat apa yang dia pake buat ngegambar itu. Dia jawab, “I just used pencil and gelly roll for this.”
Satu lagi nilai positif buat dia : dia nggak pelit balas komen. Soalnya ada ya orang yang aku kagumin karyanya tapi nggak bisa diajak sharing, jadi bikin ilfeel duluan (-__-‘)

Kadang aku juga browsing di Google tentang tips menggambar anime. Ternyata banyak banget peralatan yang dibutuhkan. Selain kertas, pensil, penghapus, dan drawing pen, ada juga penggaris, jangka, dan berbagai macam tinta. Jangankan tinta deh yang banyak macemnya, pensil aja banyak. Ada pensil 2B, pensil HB, pensil biru (bukan pensil warna biasa), dan pensil mekanik.

Setelah browsing cukup banyak artikel mengenai tips menggambar anime, aku ke toko alat tulis. Hari itu aku beli dua buah drawing pen Artline ukuran 0,1 dan 0,2 dan sebuah pensil mekanik ukuran 0,5, coz menurut artikel yang aku baca, menggambar anime lebih cocok pake drawing pen ukuran segitu dan pensil mekanik. Aku pikir kali aja kualitas gambarku meningkat kalo pake alat-alat itu. Eh nggak taunya pas dicobain sama aja. Wakakakak.. Emang dasar nggak ber-skill, mau pake alat gambar sebagus apapun juga nggak bakal jadi bagus gambarnya kalo dasarnya nggak berbakat. Kayaknya aku butuh banyak latihan :v

Anyway, salah satu hal yang membuat aku bahagia bekerja di tempat kerjaku sekarang adalah : aku bekerja di antara para seniman. Beberapa dari rekan-rekan kerjaku adalah Musisi, Photo Editor, Graphic Designer, Sastrawan, atau Penggambar. Musisi itu adalah Mas Kholik (yang katanya dulu pernah jadi vokalis, gitaris, dan penulis lagu di band-nya), Mas Rizki—eks rekan kerja—(yang pernah jadi gitaris juga di band-nya), dan Mas Daus (yang bisa mainin beberapa alat musik kayak gitar, bass, dan drum). Mas Daus juga mahir ngedit-ngedit foto. Graphic Designer-nya siapa lagi kalo bukan Mas Yudi? Mendesain logo, bikin doodle art, dan lettering, dia jagonya. Bisa dibilang, aku adalah salah satu orang yang mengagumi coretan-coretan tangannya. Yups, kalo enggak, ngapain juga aku follow dia di IG? Lalu, siapa Sastrawan-nya? Itu sebutan untuk Mas Ukai (panggilan sebenernya ‘Uki’)—eks rekan kerja—yang sering update kata-kata puitis di PM BBM-nya dan ngasih aku rekomen novel bagus.

Semenjak Mas Ukai keluar dari pekerjaan, nggak ada lagi yang aku pandang sebagai Sastrawan di tempat kerja sampe pada akhirnya baru-baru ini aku menemukan fakta bahwa Mbak Ida—Staff Marketing Properti—hobi nulis dan udah menelurkan beberapa karya tulis dalam bentuk puisi.

Well, walaupun bekerja di satu perusahaan, tapi kami nggak pernah ngobrol karena sifatku yang kelewat pendiem dan kurang mahir mengakrabkan diri dengan orang lain :v Alhasil kalo ketemu ya cuman lempar senyum doang :v
Kemudian beberapa hari yang lalu, ketika lagi iseng scrolling-scrolling beranda BBM, aku tertarik sama display picture Mbak Ida yang waktu itu menampilkan nama penanya, ‘Idhay Sapphira’ di atas kertas dengan huruf-huruf unik ala font komputer yang sama sekali bukan hasil cetakan, melainkan hand-writing. Aku puji deh DP-nya. Dan akhirnya terciptalah obrolan itu. Kami jadi chatting di BBM soal hobi masing-masing. Nah, dari situlah aku jadi tau bahwa Mbak Ida ternyata udah expert dalam merangkai kata. Aku stalk blognya, puisi-puisinya bagus banget. Jangankan puisi deh, biografinya aja dia tulis dengan pilihan kata yang baik. Aku nggak setuju dengan pernyataan dia, “Isi blog aku nggak jelas.”
Dear, Mbak Ida. Blogmu jauh lebih bermakna dibanding blog saya yang hanya berisi catatan harian ini. Who cares kan? Siapa juga yang peduli sama kehidupan saya yang random ini? :3

Surprising-nya lagi, beberapa puisinya bahkan udah dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul Suara Sajak-Sajak. Walaupun dia bilang bahwa dia belum menerbitkan buku secara tunggal, melainkan masih antologi bersama para penulis puisi Indonesia yang lain, tapi menurut aku itu udah luar biasa, awal yang baik. Minder deh kalo blog-ku yang random ini dibaca sama dia :’3

Yang bikin mindernya lagi pas dia follow IG-ku (yang juga nggak jelas). Duh, dia pake muji gambar anime yang aku buat, padahal hasil coretan tangannya jauh lebih bagus dan rapi dibanding coretan tanganku. You know what? Selain jago merangkai kata, ternyata dia juga bisa ngegambar dan lettering dengan type huruf mirip Edwardian Script, Castellar, dan Old English Text. Mana rapi banget lagi. Kemungkinan dia bisa nulis dengan type font yang lain. Huaaahh.. kagum deh pokoknya.. Aku pengen banget kayak dia. Udah kayak Kugy dan Keenan (tokoh-tokoh utama novel Perahu Kertas, Dee) dijadiin satu. Damn! I do always admire them!
Kamis, 24 September 2015 1 komentar

Be The Light, by One Ok Rock

Just the thought of another day
How did we end up this way
What did we do wrong?
God

Even though the days go on
So far, so far away from
It seems so close

Always weighing on my shoulder
A time like no other
It all changed on that day
Sadness and so much pain

You can touch the sorrow here
I don’t know what to blame
I just watch and watch again
O...

Even though the days go on
So far, so far away from
It seems so close

Even though the days go on
So far, so far away from
It seems so close

What did it leave behind?
What did it take from us and wash away?
It may be long
But with our hearts start a new
And keep it up and not give up
With our heads held high

You have seen hell and made it back again
How to forget? We can’t forget
The lives that were lost along the way
And then you realize that wherever you go
There you are
Time won’t stop
So we keep moving on

Yesterday’s night turns to light
Tomorrow’s night returns to light
O... Be the light

Always weighing on my shoulder
A time like no other
It all changed on that day
Sadness and so much pain

Anyone can close their eyes
Pretend that nothing is wrong
Open your eyes
And look for light
O...

What did it leave behind?
What did it take from us and wash away?
It may be long
But with our hearts start a new
And keep it up and not give up
With our heads held high

Yeah, yeah...

You have seen hell and made it back again
How to forget? We can’t forget
The lives that were lost along the way
And then you realize that wherever you go
There you are
Time won’t stop
So we keep moving on

Yesterday’s night turns to light
Tomorrow’s night returns to light
O... Be the light

Some days just pass by and
Some days are unforgettable
We can’t choose the reason why
But we can choose what to do from the day after
So with that hope, with that determination
Let’s make tomorrow a brighter and better day



***


This song has just stolen my heart. Well, mungkin aku terlalu terbuai dengan lagu Wherever You Are yang sensasi menghanyutkannya melebihi coklat Cadbury, sehingga meskipun udah dua tahun lamanya aku jadi penikmat lagu-lagu One Ok Rock, tapi baru sekarang-sekarang ini aku menyadari bahwa mereka punya lagu sedahsyat ini.

Be The Light. Aku baru aja download dan denger lagu ini kemarin setelah iseng nge-stalk salah satu thread di Kaskus yang membahas tentang lagu-lagu dari band asal Jepang ini, dan langsung jatuh cinta sejak pertama kali dengar, sampe-sampe dalam sekejap lagu ini udah ada di posisi teratas Most Played di playlist-ku setelah lagu Wherever You Are saking seringnya didengerin. Yeah, I just can’t stop listening to this powerful song. Ya, aku sebut lagu ini powerful karena lagu ini punya efek lumayan besar bagi pendengarnya. You know what? I was crying. Gimana enggak? Lagu yang emosional dan sarat akan renungan ini dibawakan dengan penuh penghayatan oleh sang vokalis. Kebetulan juga waktu itu aku lagi down dan butuh siraman motivasi serta sesuatu untuk meluapkan emosi. Lagu ini bener-bener masuk ke playlist-ku pada waktu yang tepat.

Ketika dengerin lagu itu, it feels like Taka was singing for me. It feels like.. I wanna hug everyone in the band and thank them for making this awesome song. Iya, aku tau, lagu ini sebenernya didedikasikan bagi para korban Tsunami yang melanda Jepang tahun 2011 lalu. Tapi coba resapi liriknya.. Penerima pesan dari lagu ini sebenernya luas, nggak hanya sebatas pada para korban Tsunami Jepang aja, dan aku adalah salah satu—dari sekian banyak pendengar lagu ini yang bukan korban Tsunami Jepang—yang tersentuh dengan lagu ini. Aku yakin, kalo saat ini juga ada orang yang ngasih aku motivational video dengan backsound lagu ini, aku pasti bakal nangis kejer :’))

“Tidak ada gunanya meratapi masalah yang Tuhan berikan, karena waktu akan terus berjalan, dan meratap bukanlah jalan untuk membuat segalanya menjadi lebih baik. Yang harus kita lakukan adalah bangkit, lihat ke depan, terus melangkah, dan jangan menyerah, karena hanya dengan cara itu kita bisa membuat hari esok menjadi lebih baik,” kira-kira begitulah makna dari lagu ini.

Well, siapa bilang itu semua mudah? Terkadang memang sulit rasanya menerima apa yang sama sekali nggak kita inginkan : kekurangan, kehilangan, kekecewaan.. masalah apapun itu. Betapa rasanya Tuhan  beserta dunia ini nggak adil, tanpa kita sadari bahwa Tuhan punya maksud lain dibalik masalah itu. Mungkin kita bersalah, dan Tuhan ingin kita menyadari kesalahan apa yang udah kita perbuat. Mungkin Tuhan ingin menguji kita, menempa kita agar menjadi insan yang lebih dewasa dan bijak.

Wait, wait.. Aku kok bisa bilang gini yak?
Baiklah, aku akui, aku juga ngerasain kok yang namanya kecewa akan sesuatu yang Tuhan berikan. Ada satu kekurangan dalam diri aku yang bener-bener mengganggu dan membelengguku selama bertahun-tahun.. Sesuatu yang membuatku mungkin keliatan berbeda dengan orang lain.. Sesuatu yang membuatku terkadang membenci diri sendiri.. Sesuatu yang sama sekali nggak aku ngerti kenapa bisa ada padaku.. Dan sesuatu yang aku sebut sebagai masalah terbesar dalam diri, karena sangat mempengaruhi pandangan orang lain terhadapku.

Aku akui, cukup sering aku meratap sama Tuhan, kenapa aku kayak gini, dan kenapa Tuhan nggak kunjung mengangkat kekuranganku itu meskipun hatiku udah menjerit dan memohon berulang-ulang. Dan yang bisa aku lakuin hanyalah ngejalanin hidupku seperti biasanya sambil berharap suatu saat nanti aku bisa menjadi lebih ‘normal’.


So, hanya dengan kalimat bijakku yang diatas tadi bukan berarti aku tangguh, karena pada dasarnya kalimat-kalimat tadi juga ditujukan buat diri aku sendiri yang masih berusaha yakin bahwa Tuhan punya maksud baik dibalik kekurangan dan setiap masalah yang Dia kasih ke aku. Hopefully..
Kamis, 03 September 2015 0 komentar

Welcome Home, New Gadgetfriend!

Hari ini aku punya ‘pacar’ baruuuu..
Kenalin nih, si ganteng yang kutebus dengan gaji keduabelas-ku, Zenfone 4C!





Oke, aku tau barang ini bukan barang baru mengingat dia udah lahir sejak tahun lalu. Tapi ya whatevs lah.. mau barang lama, mau barang baru, yang penting kan speknya :3

Sebenernya sebelumnya aku nggak pernah denger nama ‘Asus Zenfone’. Aku baru tau nama ini ketika salah satu temen dumayku—yang waktu itu sering ngobrol via chat di BBM—mengungkapkan betapa tergila-gilanya dia sama Asus Zenfone 5, dan dia kepengen banget punya. Karena penasaran, akhirnya aku browsing. Pengen tau gitu, yang mana sih yang namanya Asus Zenfone 5.

Setelah browsing-browsing, baru deh aku tau bahwa Asus Zenfone Series merupakan salah satu seri Android terlaris saat itu, bahkan maybe sampe saat ini. Aku jadi ikutan ngiler Asus Zenfone juga. Beda dengan temenku yang ngiler Zenfone 5, aku justru jatuh cinta sama Zenfone Pegasus. Sayangnya Pegasus ternyata nggak masuk ke pasar Indonesia. Akhirnya pilihanku jatuh di Zenfone 4S, karena selain ukurannya yang nggak begitu besar—4,5 inch—juga karena harganya yang lebih ramah di kantongku. Mwehehe..

Daaann.. setelah penantian selama beberapa bulan, akhirnya ketebus juga. Walau duit limited sih. Andai aku nggak butuh-butuh banget, mungkin bisa ditunda. Masalahnya android Evercoss-ku yang umurnya sekitar kurang lebih setahunan itu udah menurun gitu performanya. Masa setiap data internetnya ‘on’, hape itu mati. Dan nggak cuman pas data internetnya ‘on’ aja, tapi juga saat aku nyalain kamera atau muter musik pun kadang-kadang hape itu suka mati. Kalo mau tetep hidup, charger-nya harus nyambung. Aku duga sih masalahnya ada di baterainya. Pasalnya baterainya udah obesitas gitu, macam orang kelebihan lemak. Selain itu kamera belakangnya buram entah kenapa, dan audio sound-nya naik turun (kalo ini udah jelas bukan masalah baterai).

Akhirnya putuslah hubunganku dengan si Evercoss A28B itu. Aku kasih ke ibuku. Tapi untuk sementara ini sih hape itu dipegang adikku dulu, buat main game gitu deh, coz layarnya kan emang lumayan gede. Yah, setidaknya lebih gede dari layar hape adikku. Nanti kalo aku udah beli pengganti baterainya, baru hape itu resmi jadi hak milik ibuku. Aku bakal ajarin pake BBM nanti. Mwehehe..

Well, Asus Zenfone yang aku beli emang agak melenceng dari rencana sih. Aku sempet berubah minat gitu, yang tadinya interested sama Zenfone 4S jadi interested sama Zenfone 5 Lite karena kapasitas baterai dan ukuran resolusi kamera yang lebih besar. Toh, perbedaan harganya nggak jauh-jauh banget.

Jadilah hari Rabu itu—tepatnya kemaren—aku mengunjungi salah satu toko seluler terbesar di bumi Cirebon ini sepulang kerja. Begitu menginjakkan kaki di depan pintu masuk toko, aku disambut dengan seorang cowok berkemeja hitam kotak-kotak. Dia nyamperin aku dan bertanya, “Cari hape apa, Teh?”
“Asus ada?” tanyaku balik.
“Oh ada.” Kemudian cowok itu nganter aku kedalem toko. Dari stylenya sih aku duga dia itu supervisor toko. Coz pakaiannya berbeda dengan rekan-rekannya yang mengenakan kaos atau kemeja yang masing-masing mengusung berbagai nama brand perangkat seluler yang mereka promosikan.

Eh, pas nyampe didalem toko dan nyebutin tipe Asus yang aku cari, aku malah dihadapkan sama hape-hape Zenfone second. “Wah, Zenfone-nya kosong, Teh. Adanya ini aja,” katanya. Kemudian seorang cowok dengan gaya bicara agak feminin yang berdiri disebelahku nyambung, “Pake O*** aja, Teh. Lebih bagus lho. Processor-nya aja udah quadcore. Tapi harganya nggak beda jauh kok, malah lebih murah..,” katanya. Dari bordiran nama brand di kaos bagian dada kanannya sih aku menyimpulkan bahwa cowok itu pastilah SPB dari brand yang dia sebut tadi.

Kemudian dua orang itu membawaku ke rak-rak dimana produk-produk brand O*** dipajang. Trus mulai deh mereka menyebutkan kelebihan-kelebihan dari produk itu sambil mempraktekannya, dan membujukku buat beli. Kebetulan tiga rekan kerjaku—Mas Aris, Mas Daus, dan Pak Zuhri—pake produk ini. Lumayan bagus sih.. Aku suka dengan cara kamera dari produk itu mengambil gambar kita. Kita cukup bilang ‘cheers’, dan secara otomatis, kameranya nge-shoot. Selain itu, kalo kita males ngetik pesan, kita cukup ngomong aja didepan mikrofon produk tersebut, dan secara otomatis, apa yang kita omongin itu muncul di layar dalam bentuk teks. Keren, emang keren. Tapi karena tiga rekanku pake produk itu, aku juga jadi tau kelemahannya, dan apa-apa aja yang sering dikeluhkan dari produk itu. Makanya aku kurang tertarik. Aku tetep prefer ke Asus. Lagipula dari awal aku cuman fokus browsing mengenai Asus, mulai dari harga, kelebihan, kekurangan, sampe testimoni-testimoni para user-nya. Well, aku emang selalu melakukan ini sebelum membeli gadget. Biar nggak nyesel gitu. Jadi nggak bisa asal beli produk yang lain. So, aku pamit deh dari tempat itu. Kasian juga dua mas-mas itu udah ngomong sampe mulutnya berbusa-busa gitu. Mana mereka sempet banting-banting hape itu lagi (maksudnya buat ngebuktiin kalo produk itu kuat, anti retak dan goresan).

Heran deh.. Di toko seluler sebesar itu kok Asus Zenfone aja nggak ada? Menurutku nggak sesuai dengan nama tokonya yang jelas-jelas mengesankan bahwa toko itu merupakan toko seluler serba ada (I can’t mention its name, Guys. sorry..). Setelah dari toko itu, tadinya aku mau ngunjungin toko seluler yang lain. Tapi karena keburu males, plus karena saat itu aku lagi kurang enak badan, akhirnya aku memutuskan buat pulang.

Dan hari ini.. baru deh kesampean beli Zenfone. Siang tadi, aku pergi dianter adik. Sebelumnya kami ke Asia Supermarket dulu buat beli tissue titipan ibu dan makanan kucing. Setelah itu, baru deh kami ke toserba di sebelahnya buat nyari si Zenfone 5 Lite. Ternyataaa.. nggak gampang nyarinya. Yang aku temuin disana justru Zenfone 4C. Nggak tertarik, kami ke PGC. Eh, di PGC malah nggak ada sama sekali. Akhirnya kami meluncur ke Grage Mall.

Aku dan adik masuk ke Grage Mall dari pintu masuk Grage Mall yang menghadap langsung ke parkiran motor. Kami jadi nggak perlu jalan terlalu jauh deh. Kami jalan luruuuus aja dari situ, sampe kemudian seorang mbak-mbak berkerudung yang berdiri didepan sebuah toko nawarin, “Cari apa, Mbak? S*ms**g, O***, Asus..”
Kami langsung berenti disitu. “Zenfone 5 Lite, ada?”

Langsung deh, si pemilik toko yang berwajah Chinese itu ngeluarin produk yang aku cari. Tapi pas aku liat kardusnya kok tertera ‘Asus Zenfone 5’, nggak ada ‘Lite’-nya. Harganya pun berbeda jauh dengan yang disebutkan di internet. “Ini Zenfone 5 yang biasa ya? Bukan yang Lite?” Tapi si pemilik toko malah keukeuh bilang bahwa itu adalah produk yang sama. Padahal jelas-jelas dari spek aja mereka berbeda, dan harga Zenfone 5 Lite nggak nyampe dua juta seratus ribu seperti yang mereka tawarkan. Akhirnya karena barang yang dicari susah banget ditemuin, aku memutuskan buat menebus Zenfone 4C.

Bisa dibilang Zenfone 4C ini kembarannya Zenfone 4S. Hanya aja speknya lebih bagus. Kapasitas baterainya lebih besar (nggak beda jauh dengan Zenfone 5) dan bersifat removable (beda dengan baterai Zenfone 4S yang non-removable). Produk ini tersedia dalam dua pilihan ukuran RAM. Ada yang 1 GB dengan harga sejuta dua ratus ribu, dan ada yang 2 GB dengan harga sejuta lima ratus. Aku ambil yang 2 GB.

Asli, aku suka banget sama kameranya, terutama kamera belakang. Tajem dan bening gitu. Udah gitu fitur bawaannya banyak. Nggak cuman filter, tapi ada juga fitur GIF, fitur selfie, depth of field, de el el.. Bahkan fitur panorama—yang kata karyawan toko tadi itu nggak tersedia di produk ini—ternyata ada. Dan ternyata aku juga nggak perlu-perlu banget beli antigores. Salah kalo karyawan toko tadi bilang bahwa hape ini butuh antigores, karena hape ini udah punya lapisan oleophobic coating di layarnya sebagai lapisan pelindung :D


So, the point is.. produk ini cukup memuaskan! Yang mengecewakan cuman jenis font-nya yang nggak bisa ganti secara keseluruhan—selain di root—dan paketnya yang nggak menyediakan earphone. Dengan kata lain, earphone-nya harus beli sendiri (=__=’) Whatever, tunggu tiga minggu setelah ini. Semoga nggak ada penyesalan yang berarti setelah aku menebus hape ini.
Senin, 17 Agustus 2015 0 komentar
Bahagia itu simple. Seperti kemaren siang.. Aku bisa bahagia hanya dengan menghabiskan sebagian uangku untuk membeli beberapa novel. Sebenernya tadinya niatku hari ini nggak gitu sih..

Well, aku dan Rohayati emang udah niat pengen belanja novel sejak bulan lalu. Karena kesibukan masing-masing, makanya baru kesampean sekarang. Ini aja tadinya aku mau ngebatalin acara kami itu, coz rencananya pagi itu, aku, ibu, dan adek mau ke Perumnas buat ikut acara Jalan Sehat. Kebetulan, daerah tempat tinggal nenekku itu kalo ngadain acara Agustusan hadiahnya selalu bagus-bagus, makanya kami tertarik buat ikut berpartisipasi dalam acara mereka walaupun kami bukan warga sana. Mwehehe..

Tapiii.. akhirnya kami malah nggak jadi ke Perumnas pagi-pagi gara-gara aku dan adek bangun kesiangan. Hahaha..
Salah aku juga sih, coz malem sebelumnya aku begadang sampe jam tiga buat re-watch anime Death Note di laptop.

Karena gagal ke Perumnas pagi-pagi buat ikut Jalan Sehat, akhirnya siang itu aku maen bareng Rohayati. Kami jalan-jalan ke Arjawinangun. Yak, kami berburu novel! Beberapa bulan yang lalu, aku ke Arjawinangun pertama kali buat berburu buku itu dianter Mas Ukai, dan setelah itu aku berjanji bakal ke tempat itu lagi di bulan Juli. Eh, nyatanya malah telat sebulan. Aku baru bisa kesana lagi justru di bulan Agustus ini.

Ngajak Rohayati berburu buku di tempat yang jauh ternyata bukan ide bagus. Dia nggak terbiasa nempuh perjalanan jauh pake mobil. Walhasil, dia jadi mual-mual selama perjalanan. Aku jadi ngerasa bersalah juga sama dia. Gimana enggak? Sebagai temen deket harusnya aku ngerti kondisinya (=__=') Ya emang sih, Sebelumnya aku udah bilang ke dia kalo perjalanannya bakal jauh banget. Hanya aja Rohayati  nggak nyangka kalo perjalanannya bakal lebih jauh dari yang dia perkirakan. Makanya dia menyanggupi waktu aku peringatkan, "Kamu yakin mau kesana? Perjalanannya jauh banget lho.."

Sesampainya di lapak buku itu, mata kami langsung seger ngeliat deretan buku-buku di rak. Sayangnya pilihan bukunya nggak sebanyak waktu aku kesana bareng Mas Ukai. But no problem, seenggaknya masih ada pilihan buku yang menarik disana. Masing-masing dari kami beli empat buku. Rohayati beli novel Magic Hour, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, dan dua buah buku psikologi Muslim. Aku lupa judulnya apa. Sementara aku sendiri beli buku Rindu dan Bulan-nya Tere Liye, Ayah-nya Andrea Hirata, dan Koala Kumal-nya Raditya Dika. Yeaaayy.. akhirnya bisa nambah juga koleksi buku Raditya Dika-ku. Mwehehe..

Untuk delapan buku itu, kami cukup ngeluarin uang seratus tujuh puluh ribu doang. Aku juga sempet minta nomor kontak penjualnya. Bukan, bukan mau PeDeKaTe, tapi maksudnya biar aku bisa order buku ke beliau. Selain itu, kalo mau besok-besok mau kesana lagi kan aku bisa nanya dulu apakah beliau jualan atau enggak. Kan nggak lucu kalo udah jauh-jauh kesana, eh pas nyampe ternyata lapaknya tutup. Masalahnya ongkos sekali jalan bisa nyampe sepuluh ribu gitu lho.. Sayang uangnya.

Setelah belanja buku, kami mampir sebentar ke Indomaret buat beli minum, habis itu baru deh pulang. Huaaahh.. puas banget rasanya. Nggak sabar banget buat menelanjangi buku-buku itu satu persatu, coz untuk saat ini aku nggak bisa menelanjangi mereka dulu karena petualanganku sama Peter Pan belom selesai. Aku masih harus menyelesaikan setengah lagi dari buku itu.

***

Bahagia itu simple. Seperti malam ini.. Aku bahagia bisa ngeliat dia lagi setelah pertemuan nggak terduga di Masjid At-Taqwa dua tahun yang lalu. Ini kedua kalinya aku ngeliat dia di acara Agustusan yang diselenggarakan di Balai Pertemuan Masyarakat deket rumah nenekku. Well, kali ini aku akui bahwa aku sengaja datang ke tempat itu karena aku udah bener-bener yakin bahwa dia bakal ada disana.

Acara itu dibuka dengan pertunjukan pawai obor dan alunan instrumen lagu Nasional yang dimainkan oleh drum band dari SMKN 1 Cirebon. Pertunjukannya keren banget. Aku aja sampe merinding dengernya. Tentu aja bukan karena musik yang mereka mainkan mengandung unsur magis, tapi karena mereka memainkan lagu-lagu itu dengan sangat memukau.

Ditengah-tengah momen nikmat itu, mataku menangkap sosok itu.. Sosok dengan postur tubuh tinggi ramping dan berkulit putih dengan senyum secerah matahari pagi itu. He was just.. perfect, with his black shirt. Dan kupikir, statement dia di akun Instagram-nya yang secara nggak langsung mengungkapkan bahwa dia nggak seganteng dulu lagi itu salah, karena nyatanya dimataku dia tetap menarik apa adanya. Yang membedakan mungkin cuma kumis tipis yang mulai tumbuh diatas bibirnya itu, nemenin janggut tipisnya yang udah dia pelihara lebih dulu sejak beberapa tahun yang lalu.

Dan, yak.. Kupu-kupu di perutku beterbangan lagi. Dia berdiri beberapa meter disebelah kananku. Entah dia sadar atau enggak ada aku disana, karena mungkin dari tempatnya berdiri, sosokku terhalang sepupuku yang waktu itu duduk di sebelah kananku. Mungkin iya, dia tau.. karena kami sempat bertabrakan pandangan selama sepersekian detik, itupun kalo benar aku yang dia liat waktu itu.. dan kalo dia belum lupa sama aku.

Hanya aja yang bikin aku sedikit kecewa adalah, dia nggak perform. Well, aku emang berharap banget di acara itu dia bakal nyumbangin suaranya lagi kayak tahun 2010 lalu. Main gitar diatas panggung, dan bersinar layaknya superstar. Ah, I really wanna see that again. Sayangnya kali ini dia cuma bertindak sebagai penonton. Hanya aja dia bukan lagi penonton yang slengean kayak di jaman-jaman sekolah dulu—jelalatan, loncat-loncat, joget, teriak-teriak—layaknya penonton konser. Sebaliknya, dia anteng banget di tempatnya berdiri sambil menyilangkan tangan didepan dada. Bahkan ketika tiga orang dancer cewek mempertunjukan dance Heavy Rotation dan para penonton cowok teriak-teriak ala fans JKT 48 aja dia tetep kalem, sambil sesekali tersenyum lebar ngeliat tingkah temen-temennya.

Ah, senyum itu.. Aku bahagia bisa liat senyum itu lagi.. Jenis senyum yang bisa mengundang orang lain buat ikut tersenyum juga :)

God.. Aku dosa nggak sih? Aku nggak mandang dia lebih dari tiga detik kok, coz aku sadar kalo itu dilarang. Lagian aku udah cukup bahagia hanya dengan ngeliat senyumnya aja.
Jumat, 31 Juli 2015 0 komentar

Nightmare

Entah ini keberapa kalinya aku memimpikan sesuatu yang bikin aku was-was setiap menjelang tidur malem. Tapi kalo mimpi itu berbau-bau makhluk gaib dan bikin parno, ini yang kedua kalinya.

Entah jam berapa aku merem buat tidur. Yang aku inget, ketika merem itu posisi aku adalah tidur menyamping ke sebelah kiri dengan kedua tangan memeluk guling, Chibi, dan Jack. Trus aku ngerasa baru aja lelap, tiba-tiba sosok Mbak Cindy—staff Finance di kantor—muncul. Dia berbaring di sebelah kiri aku, dan dia kesurupan. Dia mencengkeram kedua tangan aku—yang aku pake buat meluk guling, Chibi, dan Jack tadi—sampe ke bahu. Nggak hanya mencengkeram, dia juga mengguncangnya, sambil menggeram, "Aaaarrgh.." Karena orang di samping aku kesurupan, aku spontan baca Ayat Kursi. Baru beberapa kata aku ucapin, sosok Mbak Cindy ilang. Semuanya gelap. Aku kayak setengah sadar gitu, tapi guncangan dan suara itu masih aku rasain dan aku denger. Waktu itu aku pikir, "Ya Allah, ini bukan mimpi!" Tapi aku nggak bisa melek, semacam ketindihan gitu. 

Setelah memaksakan diri buat buka mata, akhirnya aku melek juga, seiring dengan menghilangnya suara dan guncangan itu. Ketika aku melek, posisi aku masih sama ketika baru merem, yang menandakan bahwa aku tidur belum begitu lama. Tapi anehnya.. ranjang yang aku tidurin masih goyang! Hanya aja nggak sekeras yang aku rasain ketika makhluk didalem mimpi aku itu mengguncang bahu aku. Siapa yang nggak parno kalo kejadian kayak gitu terjadi? Aku memandang sekeliling kamar aku.. nggak ada apa-apa, dan nggak ada gempa, tapi ranjang aku goyang. Damn!

Jam menunjukkan pukul satu kurang waktu itu. Langsung aja aku play MP3 Ayat Kursi dari hape aku dan aku repeat berulang-ulang. Hal itu sukses bikin aku nggak bisa tidur lagi. Akhirnya aku BBM-an deh sama Rohayati dan Tri yang waktu itu masih melek. Ketika aku ceritain kejadian itu ke Rohayati, dia bilang kalo aku direp-rep, alias ketindihan, alias sleep paralyzed. Tapi sejauh pengalaman aku ketindihan ya, nggak ada tuh yang kayak gini. Ketindihan itu kan perasaan kaku ketika tidur, mau melek dan bangun nggak bisa. Tapi yang aku alamin malem tadi adalah : Tangan dan bahu aku serasa dicengkeram dan diguncang-guncang disertai geraman. Dan ketika bayangan mimpi aku ilang, guncangan dan suara itu masih ada, hanya aja aku nggak bisa melek. Tapi aku udah bisa berpikir, ini bukan mimpi.

Rasa parno aku berkurang sih setelah BBM-an, tapi tetep aja aku nggak berani buat tidur lagi walaupun mata aku sepet. Akhirnya aku minta ibu aku buat tidur di kamer aku deh. Haha.. Kasian sih, ibu aku udah pulas gitu, tapi mau gimana lagi? Kalo nggak gitu, aku nggak bisa tidur, dan kalo aku nggak bisa tidur, maka aku bakal bangun kesiangan (=__=')

Kejadian ini mengingatkan aku sama kejadian yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Mungkin beberapa bulan yang lalu, hanya aja kejadiannya nggak secepat yang aku alamin tadi malem. Kejadian itu sebelumnya disertai mimpi.

Yang aku inget sih aku mimpi ngobrol-ngobrol sama Mas Rizki dan Mas Aris gitu (rekan-rekan aku di kantor), dan satu orang lagi aku lupa siapa. Di mimpi itu, Mas Aris punya kemampuan kayak Parapsikolog gitu deh. Dia berkomunikasi dengan suatu makhluk yang nggak bisa aku dan dua rekan lainnya liat. Karena kami penasaran dengan makhluk yang diajak berkomunikasi dengan Mas Aris, Mas Aris pun membuka mata batin kami sehingga akhirnya kami bisa ngeliat sosok makhluk itu. Eh, ketika ngeliat sosok makhluk itu, kami malah ketawa. Apalagi Mas Rizki, dia blak-blakan bilang kalo makhluk itu mukanya abstrak. Karena nggak terima dengan celoteh kami, makhluk itupun marah dan deketin kami satu persatu. Dia menjerit dengan suara yang mengerikan. Nah, ketika makhluk itu menghampiri aku, makhluk itu menarik jempol kaki aku dan mencoba merasuki aku lewat situ. Aku berontak dan baca Ayat Kursi sekuat tenaga, dan makhluk itu menjerit.. lagi-lagi dengan suara yang mengerikan, tapi kali ini memekakkan telinga. Ngeri deh pokoknya. Dan setelah itu aku sadar dari tidur aku.

Sampe sekarang aku masih inget gimana sosok makhluk itu. Makhluk itu berupa sosok perempuan kurus tinggi dan berbaju putih panjang..





.. Tapi rambut dan mukanya kurang lebih kayak gini :


Dan suaranya itu persis kayak suara makhluk yang ngeganggu aku dengan geraman tadi malem.

Asli, aku penasaran pengen tau apakah itu mimpi atau kenyataan. Aku pengen percaya itu mimpi, tapi rasanya terlalu nyata, dan aku nggak yakin sepenuhnya kalo itu cuman mimpi, karena hal itu terjadi lebih dari satu kali dan terjadi di jam-jam yang sama. Emang sih, terjadinya itu karena aku lupa baca doa (saking ngantuknya, karena biasanya aku selalu baca doa tiap mau tidur). Jadi ya minimal dengan adanya kejadian-kejadian itu, aku jadi sadar bahwa doa sebelum tidur tuh ternyata penting banget. Selain itu penting juga yang namanya ngafalin Ayat Kursi dan nyimpen file MP3-nya di gadget, karena nyatanya mimpi / gangguan itu ilang setiap kali aku sadar buat baca Ayat Kursi. Sangat berbeda dengan mimpi buruk masa kecil aku dimana ketika aku baca doa, si setan yang ada didalem mimpi aku malah ikutan baca doa (=__=')

Yaah.. aku sih berharap besok-besok nggak ada mimpi ataupun gangguan semacem ini lagi. Hopefully..

Total Tayangan Halaman

 
;