Minggu, 27 Mei 2018 0 komentar

Buka Puasa Bareng Safira dan Shinta


Hey there. How’s life, Everyone?

Haaaah.. senangnya bisa menulis disini lagi setelah sekian lama blog ini vakum. Rasanya seperti pulang ke rumah. Maklum, belakangan ini aku sibuk dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia nyata dan masa depan. Haha.. Bukannya benar-benar nggak punya waktu luang ya, hanya aja aku sering butuh waktu lebih dari satu jam untuk menulis sesuatu, meskipun itu sekedar menceritakan daily life. Selama vakum itu, sebenarnya cukup banyak hal yang berkesan dan ingin kutulis, karena pada dasarnya dari dulu aku adalah tipe orang yang suka mengenang masa lalu, khususnya hal-hal menyenangkan, karena dengan begitu aku bisa lebih bersyukur pada Tuhan atas nikmat hidup yang Ia beri. Tapi karena semua itu udah lewat, jadi ya udah, biarkan aja semua itu cukup aku simpan dalam ingatan. Hanya aja memang ada sekelumit kisah yang bersifat abu-abu sih, dalam artian kalo diceritakan aku enggan, nggak diceritakan jadi beban, dan nggak tau pula mau cerita sama siapa. Doesn’t mean that I have nobody, I just don’t believe anyone (kecuali Allah). Jadi tulisan itu aku publikasikan secara tersembunyi (dipublikasikan tapi tersembunyi, gak ngerti kan? Ya udah). Biar lebih plong aja sih.

Well, udah lebih dari seminggu Ramadhan berjalan. Setiap tahun selalu jadi agenda rutin bagi aku dan teman-teman untuk melaksanakan buka puasa bersama, sekaligus mempererat tali pertemanan gitu. Hanya aja tahun ini entah kenapa kok pada diam-diam aja meskipun Ramadhan udah berjalan selama beberapa hari. Sooo.. beberapa hari yang lalu, aku sindir mereka via status WA :

“Adem ayem aja. Nggak ada yang ngajak buka puasa bersama apa?”

Sindiranku rupanya berhasil. Beberapa temanku merespon statusku, diantaranya Tri, Yuda, Safira, dan Shinta. Karena Tri adalah teman dekat sekaligus tetangga, maka bukbernya udah pasti nunggu adikku pulang ke Cirebon, biar nantinya kami bukber berempat bareng Dewi yang juga merupakan teman dekat sekaligus tetangga kami. Sementara Yuda mengajak bukber di minggu ketiga Ramadhan. Berbeda dengan Safira dan Shinta yang langsung merencanakan acara bukber sesegera mungkin. Anyway, aku sangat menyayangkan dua sohibku, Rohayati dan Putri Ayu yang cuma read doang. Padahal dulu mereka sangat antusias soal ini. Yah, aku hanya bisa maklum, situasi sekarang beda, nggak akan sama lagi kayak dulu ketika Rohayati masih lajang.

Oke, balik ke persoalan acara bukber bareng Safira dan Shinta. Kemarin kami putuskan acara bukber kami dilaksanakan hari Minggu, yak hari ini. Hanya aja tempat makannya yang belum kami pastikan, rencananya nanti setelah ketemu baru didiskusikan. Kami pun janjian ketemuan di kawasan Jalan Ampera, karena disana memang banyak sih cafe-cafe dan rumah makan, tadinya. Namun Safira kemudian sadar bahwa Jalan Ampera bukanlah tempat yang asik buat jalan-jalan, karena nantinya kami disana cuma makan doang, nggak jalan-jalan dulu. Akhirnya lokasi pertemuan kami ubah ke kawasan CSB Mall. “Jam 16.00 ya, biar nggak terlalu mepet sama waktu Magrib”, kataku. FIX.

Singkat cerita, jam empat sore aku berangkat dengan menumpang GrobBak. Sesampainya disana, sesuai perjanjian, aku menunggu di depan sebuah toko sepatu. Yap, teman-temanku telat. Belum berangkat semua malah. Parah banget kan. Akhirnya aku tunggu mereka deh disitu, sendirian kayak anak ilang.  Mana lama banget lagi. Sekitar jam lima baru Shinta doang yang nongol. Kami berdua pun memutuskan untuk naik ke lantai dua CSB Mall dan menunggu di depan tangga. Beberapa menit menunggu disitu, akhirnya Fira tiba juga. Dia habis nunggu anaknya dulu, katanya, makanya telat.

Waktu berbuka puasa tinggal beberapa menit lagi, dan seluruh tempat makan di kawasan itu udah penuh. Yap, seluruhnya. Salah kami juga sih yang nggak lebih dulu pesan tempat, hitung-hitung sambil menunggu Safira tadi. Well, kalopun pesan tempat duluan pun, aku dan Shinta nggak tau Safira maunya makan dimana. Takutnya ntar pas udah dipilihkan, dia malah nggak sreg. Ditanya pun dia nggak jawab. Alhasil kami jadi keliling-keliling deh cari tempat makan yang masih punya meja kosong, tapi hasilnya nihil, karena setiap tempat benar-benar penuh. Bahkan bukan penuh lagi. Beberapa tempat makan bahkan ada yang antrian di luarnya sampai berjubel. Para waiter dan waitress kewalahan melayani mereka. Finally, terpaksa deh kami turun dulu buat beli minum, sekedar untuk membatalkan puasa.

Setelah membeli minum (yang harganya digetok jauh lebih tinggi, 7k hanya untuk satu cup es teh manis), kami pun duduk-duduk di tangga. Kami ngobrol-ngobrol disana. Yah, seperti biasa, tentang nostalgia jaman sekolah, bahas teman-teman seperjuangan yang udah berkeluarga..
Anyway, sempat kaget juga sih tadi, dengar cerita dari Safira tentang salah satu teman sekelas kami di SMA yang nasibnya kurang beruntung karena dimanfaatkan sama suaminya sendiri. Sebagai perempuan, dia yang justru menjadi tulang punggung bagi suami dan ibu mertuanya. Belum lagi menghadapi amarah suaminya yang sering meledak-ledak. Miris deh dengernya. Aku jadi ikut prihatin, apalagi mengingat sosoknya yang dulu innocent dan periang. Membayangkannya diperlakukan seperti itu rasanya nggak tega banget. Semoga Allah selalu melindungi dan menguatkannya :’)

Sekitar jam setengah delapan, kami kembali mencari tempat makan. Alhamdulillah, akhirnya kami dapat meja, meski harus menunggu sebentar. Sambil menunggu, kami pun memilih menu. Ish, itu tempat makannya benar-benar penuh banget. Seluruh karyawan benar-benar sibuk. Saking sibuknya, mereka yang biasanya ramah jadi jutek, bahkan hanya untuk sekedar senyum pun susah. Well, nggak masalah. Maklum, dengan konsumen sebanyak itu dan dalam keadaan berpuasa, mereka pasti capek banget. Hanya aja yang jadi masalah adalah.. penyajiannya itu lho, lamaaaaaaa banget. Benar-benar lama. Lebih mengesalkannya lagi, orang-orang yang datang setelah kami justru mendapat pelayanan lebih dulu. Bahkan beberapa orang yang datang setelah kami itu ada yang udah selesai makan, sedangkan pesanan kami belum datang sama sekali. Entahlah kenapa bisa seperti itu. Bayangkan aja, kami datang kesitu sekitar jam setengah tujuh, pesanan baru datang sekitar jam delapan. Haaaaahh.. Benar-benar waktu terlama yang pernah kami habiskan di sebuah tempat makan hanya untuk menunggu pesanan jadi. Fira yang tadinya mau cerita banyak sambil makan jadi bad mood duluan. Yah, sudahlah. Memang kalo bulan Ramadhan, nyari tempat makan pas waktu berbuka puasa tuh butuh sedikit perjuangan. Haha..

Setelah kenyang (kekenyangan lebih tepatnya, karena porsinya banyak banget buat cewek-cewek minimalis seperti kami), kami pun berjalan bersama ke lobby utama. Sebenarnya masih pengen menghabiskan waktu bareng sih ya, hanya aja kami nggak mau pulang terlalu larut, akhirnya kami berpisah disana.

Well, sampai jumpa di lain kesempatan, Kawan-kawan. Dan semoga lain kali lebih menyenangkan :D
Minggu, 28 Januari 2018 0 komentar

Welcome to the New Journey, Soul Sister

Pernah nggak sih kamu merasa waktu berjalan begitu lambat saat ditunggu, namun ketika flashback, kita melihat jauh ke belakang, ke sepuluh tahun lalu misalnya, itu rasanya baru terjadi kemarin?
Aku pribadi sering banget merasakan hal itu. Seperti saat ini. Rasanya baru kemarin aku, Ayu, dan Rohayati saling berbagi cerita tentang laki-laki yang sedang ditaksir oleh masing-masing kami, membicarakan kekonyolan teman-teman di kelas, makan bakso di koridor sekolah, berjalan pulang sekolah beriringan, bertiga.. Selalu bertiga. Namun rupanya itu terjadi sekitar enam dan tujuh tahun lalu. Dan bahkan jauh setelah kami lulus SMA, kami masih sering main bareng. Setidaknya sebulan sekali kami bertiga berkumpul dan menghabiskan waktu berjam-jam. Nggak harus di mall ataupun tempat-tempat nongkrong kekinian. Faktanya kami lebih sering ngumpul bareng di rumahku, ngobrolin banyak hal, mulai dari nostalgia masa SMA hingga soal love life.

Yah, seperti perempuan-perempuan normal pada umumnya, kami tentu memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis. Namun sangat berbanding terbalik dengan Ayu yang udah beberapa kali gonta-ganti pacar dan hobi yayang-yayangan di telepon, aku dan Rohayati justru hampir nggak peduli dengan hubungan percintaan. Kami cukup bahagia hanya perasaan naksir-naksiran terhadap lawan jenis tanpa harus menjalani relationship yang rumit dan belum tentu membuat kami lebih bahagia. We were single, we were free.

Suatu waktu, kami pernah menebak-nebak siapa diantara kami bertiga yang akan melepas masa lajang lebih dulu. Tentu aja saat itu kami yakin bahwa Ayu lah yang mendahului kami. Tapi skenario Tuhan memang penuh misteri. Dua tahun setelah itu, Rohayati datang padaku dan bercerita bahwa ada seorang laki-laki yang tengah menaruh hati padanya. Lucunya lelaki ini nggak berani untuk mendekatinya langsung, melainkan hanya menitip salam pada saudara dari temanku itu. Kebetulan rumah mereka berdekatan. Tetanggaan lah, bisa dibilang. Dan tanpa diduga lagi, laki-laki ini rupanya udah cukup tau banyak mengenai Rohayati, padahal mereka nggak pernah ngobrol. Kemungkinan besar si laki-laki ini melakukan survey gitu deh, tanya-tanya gitu ke saudara-saudaranya. Dan karena sering seperti itu, Rohayati mengaku jadi sering diledekin sama sepupu-sepupunya.

Singkat cerita, laki-laki itupun memberanikan diri untuk menyatakan niatnya melamar Rohayati kepada kedua orangtua temanku itu. Tanpa diduga, kedua orangtua Rohayati menyambut niat itu dengan sangat baik. “Yang mau dilamar saya, tapi yang girang setengah mati malah ibu,” tutur Rohayati padaku saat itu.

Namun berbanding terbalik dengan orangtuanya, Rohayati justru nggak siap dengan hal itu. Pertama, meski bertetangga, namun ia nggak mengenal laki-laki itu dengan cukup baik. Kedua, perbedaan usia mereka terpaut cukup jauh, 10 tahun. Ketiga laki-laki itu berniat menikahinya di bulan Januari, which is terlalu cepat bagi Rohayati yang baru aja wisuda dan masih punya mimpi untuk bekerja dan membahagiakan orangtuanya. But however, Mas Solihin—begitulah panggilannya—merupakan pria sopan dan berakhlak baik. Ia juga udah mapan, udah sangat matang untuk membangun keluarga. Tapi ya tetap aja kan, yang namanya pernikahan nggak bisa diburu-buru. Bukan hanya soal perasaan Rohayati yang belum tumbuh, tapi juga soal kesiapan mentalnya yang sama sekali belum matang.
“Saya masih pingin main, Put. Pengen juga ngerasain kerja, cari duit sendiri,” katanya. Tapi Rohayati yang berhati lembut nggak sampai hati melihat raut kebahagiaan di wajah kedua orangtuanya. Yah, orangtua mana yang nggak senang putrinya dilamar laki-laki baik. Apalagi mereka bertetangga, jadi udah sama-sama tau gimana keseharian mereka. Tapi kalo aku ada di posisi Rohayati, aku juga pasti akan merasakan hal yang sama. Bimbang. Namun sebagai salah satu teman terdekatnya, aku hanya bisa membesarkan hatinya. “Seenggaknya Allah langsung mempertemukan kamu sama orang yang baik, Roha. Nggak ada rasa sakit hati karena diputusin, rasa kecewa karena diselingkuhi, dan yang pasti nggak ada label ‘mantan’ di diri kamu. Kamu seutuhnya buat dia. Dia segitu baiknya sama kamu, saya yakin kamu bakal bahagia sama dia”, kataku. Di hari terakhir kami bertemu sebelum hari pernikahannya, aku peluk dia. Sebuah pelukan singkat, tapi hatiku berkata banyak. Setelah hari itu, kita nggak akan bertemu sesering ini lagi kan? Semuanya tentu akan berubah, nggak akan lagi sama. Tapi saya harap kamu tetap Rohayati yang saya kenal.

Kurang dari satu Minggu sebelum hari pernikahannya, Rohayati bertandang ke rumahku bersama calon suaminya dengan membawa beberapa lembar undangan. Tapi aku masih di kantor waktu itu, alhasil ibu yang nerima. Undangan-undangan itu ditujukan kepadaku dan beberapa teman SMA kami. Dia meminta tolong padaku untuk menyampaikannya kepada mereka. Karena waktunya yang mepet banget, sehingga beberapa undangan aku sampaikan via Facebook. Untuk Rizka dan Diny, aku sempat berkeinginan untuk menyampaikannya langsung kepada mereka. Setauku Rizka bekerja di sebuah toserba, aku bisa mampir kesana sepulang ngantor. Sementara rumah Diny sebenarnya nggak bisa dikategorikan dekat dari rumahku, hanya aja aku pernah kesana waktu masih sekolah dulu. Tapi sebelum itu, kupastikan dulu apakah mereka ada di tempat. Bukan apa-apa. Masalahnya untuk menuju kesana aku cuma bisa mengandalkan transportasi umum, nggak pake kendaraan pribadi. Jadi kalo sampe di tempat orangnya nggak ada atau udah nggak disana lagi kan sayang juga ongkosnya -,- Namun sayangnya, Rizka nggak segera membalas private message-ku, sedangkan Diny entah kenapa tiba-tiba lost contact,padahal kemarinnya dia sempat ngomentarin postinganku, ngajak pergi kondangan bareng.




Yang paling menyesakkan dari semuanya adalah, satu hari sebelum hari pernikahan Rohayati, aku pulang ngantor dengan membawa setumpuk tugas, dan yang lebih kampretnya lagi, hari ini yang notabene hari Minggu pun, aku dan rekan-rekan diwajibkan ngantor. Padahal beberapa hari sebelum hari ini, aku sempat berniat untuk main ke rumah Rohayati sepulang ngantor di hari Sabtu dan menemaninya sampai malam. Aku yakin, sehari sebelum hari pernikahan, perasaannya pasti berkecamuk. Hey, siapa coba yang nggak deg-degan menjelang satu hari penting dalam hidup? Seenggaknya dengan menemani dia, aku bisa memberi dia sedikit motivasi, walau aku nggak yakin itu membantu banyak. Dan aku juga sempat berniat untuk datang ke hari pernikahannya sedari pagi untuk melihat prosesi akad. Sebagai teman baik, rasanya kurang afdol jika aku nggak menyaksikan momen paling sakral baginya itu.

Lepas waktu Dzuhur, aku baru bisa hadir ke acara itu bareng ibu. Rohayati yang siang itu tampil dengan balutan gaun merah muda kelihatan extremely cantiiiiiiiiik banget. Mungkin karena sehari-harinya dia jarang banget dandan, jadi kelihatannya pangling gitu. Absolutely awesome deh. Ia tersenyum lebar saat melihatku. Kupeluk dia dan kuucapkan selamat.
“Foto bareng dulu dong,” katanya. Kemudian kami berfoto bersama.




Setelah berfoto, aku dan ibu pun lanjut ke meja prasmanan dan menikmati hidangan. Harusnya hari ini aku bahagia, tapi yang ada perasaanku berkecamuk antara bahagia dan sedih, tapi lebih banyak sedihnya sih. Bukan sedih karena pernikahan sahabatku ini ya, tapi karena siang tadi itu aku memang benar-benar lagi bad mood banget. Bad mood karena disuruh ngantor di hari penting, dan bad mood karena satu masalah pribadi.

Setelah makan dan menyaksikan sajian hiburan, aku dan ibu beranjak, dan sekali lagi aku meminta foto bareng. Hanya aja kali ini aku meminta foto berdua bareng Rohayati menggunakan hapeku. Habis itu kami berpelukan lagi. Haaaahh.. will it be still  the same after this?

Selepas pulang dari hajatan itu, penyesalanku semakin menjadi karena waktu iseng stalking Facebook nya, banyak teman kampus Rohayati yang mengupload foto kebersamaan mereka sejak menjelang akad sampai acara resepsi. Seketika aku berpikir, teman kampusnya aja hadir pas akad nikah, aku yang udah sohiban sama dia sejak SMA dan sering menghabiskan waktu bareng malah telat banget hadirnya.Haaahh.. perasaanku nggak karuan banget deh pokoknya. Tapi yaaah.. nggak ada gunanya juga menyesal ya.



Well, teruntuk soul sister-ku, Rohayati..
Mulai hari ini peran orangtuamu digantikan oleh laki-laki yang akan menjadi teman hidup sekaligus imam kamu, penyempurna agamamu, yang mana surgamu ada dalam ridhonya. Selamat datang di bab kehidupanmu yang baru, Kawan. Bahagia terus yaa.. Bahagialah lebih dari sebelumnya :)
Selasa, 02 Januari 2018 0 komentar

New Year : 2018

Selamat tahun baru, Everyone! Kuharap ini belum terlalu telat untuk mengucapkannya, mengingat sekarang udah hari kedua di tahun 2018.

Sooo this is my first post in 2018. Kalo biasanya kau banyak menuliskan momen-momen berkesan selama satu tahun terakhir, kali ini rasanya nggak banyak hal yang ingin aku tuliskan. Tahun kemarin benar-benar tahun paling melelahkan, karena sebagian besar waktuku kuhabiskan di kantor, bekerja, melakukan aktifitas yang sama berulang-ulang. Rasanya hampir nggak ada waktu untuk memanjakan diri sendiri. Bahkan enam buah novel yang kubeli beberapa bulan lalu masih tersegel utuh.

Namun tahun 2017 berjalan bukan tanpa hal berkesan, entah itu kesan nggak menyenangkan ataupun sebaliknya. Bagiku sendiri, hal paling nggak menyenangkan terjadi pada bulan Maret. Tepatnya pada tanggal 11. Hari itu Kantor Cabang menggelar acara ulang tahun yang cukup besar. Biasanya hanya dirayakan bersama orang-orang internal kantor, kali ini kami mengundang beberapa perwakilan dari Kantor Pusat dan Kantor-Kantor Cabang lain, para Supplier, perwakilan konsumen, dan beberapa pihak eksternal lainnya. Aku menjadi salah satu panitia acara. Baru kali ini aku menjadi panitia acara besar, dan rasanya gugup banget. Rasa gugupku benar-benar parah, dan itu cukup fatal karena hingga menyebabkan beberapa sesi acara berantakan. Hal itu menjadi perbincangan para tamu undangan, beberapa orang menertawaiku. Belum lagi aku harus menelan mentah-mentah teguran dari atasan. Rasanya malu luar biasa, dan itu nggak hilang selama dua minggu lamanya.

Yang menyenangkan itu waktu meet and greet bareng Bvng Fiersa Besari di awal Juli. Rasanya kayak mimpi, meski nggak sempat foto bareng karena keterbatasan waktu, tapi bisa dengerin dia bercerita dan bernyanyi, serta bertegur sapa itu rasanya udah seneng banget. Ternyata Bvng Fie memang pribadi yang ramah dan hangat.

Di tahun ini juga aku medapatkan banyak teman baru. Ada Nunung, Narita, dan Aldi yang merupakan mahasiswa magang dari universitas di Bandung. Lalu ada juga Ryan dan Jaka yang merupakan rekan kerjaku (meski kemudian Jaka resign di bulan September), yang ternyata menyukai all about Jepang dan ngefans banget sama Laruku. Well, pertemanan kami memang nggak bisa disebut akrab, tapi aku cukup senang karena pernah menghabiskan waktu bareng mereka, khususnya bareng Ryan, Jaka, dan juga Inggit—Ryan’s GF, rekan kerjaku juga. Kami pernah pergi karaoke berempat, dan nonton J-Rocks bertiga (minus Jaka) sampai larut malam.

Di bulan November, sepupu terdekatku melepas masa lajangnya, sesuatu yang membuatku merasa bahagia sekaligus takut. Bahagia karena dia bahagia, takut karena khawatir keakraban kami memudar pasca ia berkeluarga. Tapi ternyata kekhawatiranku nggak terbukti kok. Kami tetap akrab, bahkan hampir setiap Minggu pagi jalan-jalan pagi menikmati Car Free Day.

***

Biasanya aku hampir nggak peduli dengan pergantian tahun. Yah, aku memang selalu punya harapan setiap tahunnya, sama seperti kebanyakan orang. Hanya aja seringkali harapan-harapan itu nggak terwujud karena memang pada dasarnya aku kurang usaha. Wkwkwk.. Karenanya, setiap tahun tampak sama, hampir nggak ada yang berubah. Tapi untuk tahun ini, aku bertekad untuk memperbaiki diri. Aku ingin berubah menjadi lebih baik, itu ikrarku di awal tahun ini. Well, mungkin nggak dalam waktu singkat, karena negative thoughts dan kemalasan masih menjadi musuh terbesarku hingga saat ini. Tapi aku akan mencobanya pelan-pelan.

Daaaaaaaann.. hal pertama yang aku ubah adalah dari penampilan. Mulai awal tahun ini, aku ingin konsisten mengenakan hijab, dan meninggalkan kebiasaanku berpenampilan tomboy. Yap, seperti yang beberapa kali kukatakan di beberapa postinganku sebelumnya, bahwa mungkin orang-orang yang akrab mengenalku menilai aku sebagai pribadi yang tomboy dan hampir nggak pernah mau mengenakan rok. Sekalinya pake rok itu hanya saat Idul Fitri, which is cuma satu tahun sekali, itupun cuma paginya doang. Hahaha.. Dan kali ini aku ingin meninggalkan kesan itu dari diriku. Aku memang nggak (atau mungkin belum) total menghilangkan kebiasaanku mengenakan celana panjang, hanya aja mulai sekarang aku nggak mau cuma setahun sekali mengenakan rok.

Jadiiiii mulai hari ini juga hal itu aku terapkan. Pagi tadi kukeluarkan dua helai rok panjang yang udah hampir jamuran di lemari karena saking lamanya disimpan tanpa sekalipun pernah dipakai (perihal jamuran itu cuma becanda lho ya, jangan dianggap serius. Yakali pakaian jamuran dipake). Pagi ini aku melenggang ke kantor mengenakan rok abu-abu dan blouse biru dongker.

Dan kalian tau apa? Sesampainya di kantor, sebagian besar rekan kerjaku heboh dengan perubahan penampilanku. Terlihat manis, anggun dan dewasa, kata mereka. Oke, it means secara nggak langsung sebelumnya mereka menilaiku kayak anak kecil. Haha..

Yah, yang namanya perubahan memang terasa sulit di awal. Rasanya kaku, tapi pasti lama kelamaan akan terbiasa juga kan. Semoga aku bisa. Seenggaknya pujian dan support dari teman-teman membuatku merasa lebih percaya diri J

Selain ituuuuu.. aku rasa tahun ini akan menjadi tahun yang nggak biasa. Apapun itu, semoga itu baik, terlebih untuk satu hal yang sangat aku tunggu di tahun ini. Apa itu? Well, nanti juga kalian tau kok. I’ll tell you later, kalo memang udah tiba waktunya bagiku untuk menceritakannya.


So, 2018.. please, be good J
Minggu, 26 November 2017 5 komentar

Irasional

Hmm.. mungkin ini terdengar aneh, bahwa jika seseorang bertanya lebih menarik mana antara menyimak cerita tentang kehidupan orang lain, dengan menyimak cerita tentang hal-hal mistis dan misterius, maka aku akan menjawab yang kedua. Apapun itu. Mulai dari yang bisa dijelaskan dengan ilmu sains, sampai dengan yang sangat irasional.

Aku udah tertarik dengan cerita horor dan hal-hal mistis sejak kecil. Sejak duduk di kelas satu Sekolah Dasar, aku udah hobi mengoleksi buku saku ataupun komik misteri yang kubeli seharga lima ratus rupiah dari penjual mainan di sekolahku. Kamu tau komik tentang siksa neraka? Atau komik Petruk-Gareng karya Om Tatang S? Mereka adalah dua dari sekian banyak koleksi karya tulis misteri yang aku punya pada saat itu. Aku bahkan rela nggak jajan demi mendapatkan buku ataupun komik-komik itu. Khususnya komik Petruk-Gareng. Mungkin ada sekitar belasan atau puluhan judul komik Petruk-Gareng yang aku punya, paling banyak diantara yang lain. Aku nggak peduli dengan efek setelah membaca komik-komik itu. Well, seringnya setelah membaca komik-komik itu aku jadi nggak berani ke kamar mandi ataupun tidur sendirian, karena sering terbayang wujud setan yang tergambar di komik-komik itu. Ya know.. bahkaaaaaann saat membaca komiknya pun, sebisa mungkin jariku nggak menyentuh gambar setan pada komik yang sedang kubaca, karena aku khawatir setan itu akan menggigit jariku.

Sampai sekarang, hobi membaca cerita horor dan misteri masih menempel padaku. Aku memang nggak lagi mengoleksi buku saku dan komik-komik seperti yang kukoleksi saat jaman SD dulu. Buku-buku saku dan komik-komik itu pun sekarang entah kemana. Kemungkinan dibuang ibuku. Sekarang ini, di jaman yang lebih maju ini, aku lebih banyak membaca cerita-cerita horor dan misteri itu di internet, khususnya di Instagram, karena kisah-kisahnya update banget. Setiap kali Admin dari akun misteri yang aku follow memposting cerita baru, notifikasinya langsung muncul di layar hapeku, sehingga aku hampir nggak pernah ketinggalan cerita.

Belakangan ini sepertinya aku makin gencar menyimak cerita-cerita horor. Bahkan sekarang rasanya nggak cukup hanya di Instagram. Cerita-cerita horor yang pernah jadi trending obrolan di KasKus pun nggak ketinggalan aku acak-acak. Saking asiknya menyimak cerita-cerita horor di Internet, enam novel yang kubeli bulan Juli lalu bahkan belum aku telanjangi. Masih utuh di kantong plastik dengan logo toko buku.

Aaaanywayy.. meski menyukai cerita-cerita mistis, tapi jujur, aku pribadi hampir belum pernah mengalami hal-hal di luar nalar. Berbeda dengan Bi El—adik ibu—yang di masa remajanya cukup sering mengalami kejadian menyeramkan.

Well, keluarga ibuku dulu tinggal di sebuah asrama tua di kawasan Kesambi. Asrama itu udah lama banget berdiri. Mungkin pas jaman penjajahan Belanda pun udah ada, dan letaknya itu pas banget di depan kawasan makam. Menurut penuturan beliau, asrama itu nggak menyediakan kamar mandi dalam (entahlah kalo sekarang). Kamar mandinya terletak di luar, di kawasan makam. Suatu malam, bibiku itu mengantar temannya buang air kecil ke kamar mandi itu. Bi El tentu menunggu di bagian luar kamar mandi, sendirian menghadap pintu kamar mandi.. ketika berbalik, tiba-tiba di belakangnya udah ada kepala superbesar di atas atap rumah. Yup, cuma kepala, dan besarnya tuh benar-benar besar banget, dan berwarna merah dengan sepasang mata yang bergerak-gerak menatap sekitar. Saat itu Bi El cuma bisa membeku di tempat, nggak bisa teriak, apalagi lari. Selain itu, di belakang asrama itu juga terdapat pohon sawo yang lumayan besar, dan Bi El pernah melihat beberapa butir kepala melayang, persis seperti yang dia lihat di atas atap itu, hanya aja ukurannya jauh lebih kecil dari ukuran kepala manusia normal. Anak-anak dari Si Kepala Besar mungkin? Entahlah..

Pernah juga suatu hari, saat Bi El sedang tidur, seorang perempuan berambut panjang berbaring di sebelahnya dengan posisi membelakangi. Beliau sama sekali nggak curiga, karena mengira perempuan itu adalah Bi Cicih—adik tertua ibuku, kakak Bi El—karena pada masa itu Bi Cicih memang memiliki rambut yang panjang sampai ke pinggangnya. Tapi ketika Bi El menceritakan hal itu pada Bi Cicih, beliau membantah. Bi Cicih nggak merasa bahwa saat itu ia tidur di samping Bi El.

Sementara ibuku yang juga tinggal di rumah yang sama, justru hampir nggak pernah mengalami hal-hal menyeramkan seperti yang dialami Bi El. Kalopun ada, palingan hanya sebatas perasaan merinding dan suara-suara aneh.

Sedangkan aku sendiri, yah, seperti yang kubilang tadi. Aku hampir belum pernah mengalami hal-hal di luar nalar. Yap, hampir, which is bukan berarti nggak pernah. Hanya aja memang dari semua pengalamanku yang menyangkut kejadian horor itu nggak ada satupun yang ‘nampak’. Tapi ada satu yang paling membekas di ingatan, suatu kejadian aneh yang terjadi beberapa tahun silam.

Aku nggak ingat kapan tepatnya. Yang kuingat, pada waktu itu aku dan adikku masih sama-sama duduk di bangku sekolah. Aku SMP, sedangkan adikku masih SD, dan kebetulan hal itu terjadi pada hari Kamis menjelang malam. Yep, malam Jum’at. Yang namanya kakak-adik, pasti ada suatu moment dimana kami bertengkar. Itulah yang terjadi sore itu. Entah apa yang kami ributkan pada saat itu, bahkan kata-kata ibu tak kuasa menghentikan kami.
“Ini Magrib, jangan ribut!” kata beliau, namun kami masih tetap pada urusan kami. Karena kesal, ibu pun keluar dari rumah. Kami pikir beliau mau pergi, jadi kami mengikutinya. Eh, ternyata beliau cuma mau menutup kandang ayam di samping kiri rumah. Well, waktu itu keluarga kami masih memelihara ayam, dan oh ya.. aku belum cerita kalo di samping kanan rumahku dulu masih ada tanah luas yang ditanami berbagai jenis tanaman, salah satunya pohon sawo yang berdiri sejajar dengan teras depan. Yah, kira-kira letaknya sekitar tiga atau empat meter di samping kanan teras. Nah, sementara ibuku menutup kandang ayam, aku dan adikku menunggu di teras depan rumah. Dan ketika itulah penglihatanku menangkap pemandangan ganjil. Pohon sawo itu bergoyang! Bukan goyang yang kayak tertiup angin, tapi goyangnya tuh yang benar-benar goyang dari atas sampai bawah, dan gerakannya sangat kencang sehingga menimbulkan bunyi gemerisik, sementara pohon-pohon di sekitarnya biasa aja. Sontak akupun berpandang-pandangan dengan adikku, memastikan bahwa ia juga melihat apa yang aku lihat. Dan ternyata ia juga melihat hal yang sama.

Mengetahui hal itu, kami langsung menghambur ke arah ibu dan menceritakan apa yang baru aja kami lihat. Ibuku menenangkan kami dengan mengatakan bahwa kemungkinan itu adalah ulah Wak Apip—kakak bapakku yang tinggal tepat di sebelah rumah—yang terganggu dengan kami yang ribut. Tapi aku sendiri yakin bahwa itu bukan ulah manusia. Ukuran pohon sawo itu nggak bisa dibilang kecil. Siapa pula yang kuat menggoyang-goyangkannya sekencang itu? Lagipula baik aku dan adikku nggak melihat siapapun dan apapun dibalik pohon itu.

Well, nggak ada yang lebih impressive dari itu, karena yang lainnya hanya sebatas perasaan merinding, munculnya aroma kentang bakar saat melewati tempat sepi dan gelap (yang kata orang merupakan tanda-tanda adanya sosok genderuwo), ataupun suara-suara yang nggak diketahui darimana sumbernya. Bahkan sampai sekarang, meski bekerja di sebuah gedung yang (katanya) angker, rasanya nggak ada pengalaman mistis yang impressive yang aku alami disana. Berbeda dengan rekan-rekan kerjaku yang mengaku mengalami hal-hal yang benar-benar sulit diterima akal sehat. Pak Ben misalnya, yang pernah mendengar suara seperti suara kebetan kertas-kertas di gudang dokumen yang terletak tepat di sebelah kiri ruang kerjaku; lalu TV di Ruang HRD yang menyala dengan sendirinya. Berbeda dengan Pak Rudin yang mengaku melihat Mbak Popi—Admin HRD sebelum aku—yang masih nugas di meja kerjanya di sore menjelang malam, padahal Mbak Popi udah keluar dari ruangannya pada saat itu. Kemudian ada Mbak Eka yang melihat pintu geser Ruang Sewa Beli menutup dengan sendirinya.

Eh tapi aku juga pernah deng ngalamin. Hanya aja aku masih belum yakin sih apakah yang kulihat itu benar manusia atau jin yang menyerupai. Jadi ceritanya suatu sore di hari Sabtu, aku melihat salah satu Sales duduk sendirian menghadap komputer yang menyala didalam Ruang Akunting. Dan ternyata bukan cuma aku yang lihat, tapi juga Pak Ben. Buat kami, ini aneh. Karena.. pertama, kunci Ruang Akunting cuma dipegang sama Staff Akunting, dan pada saat itu mereka udah pulang karena hari Sabtu jam kerja selesai jam dua siang; kedua, Ruang Akunting pada saat itu dalam kondisi gelap, sehingga rasanya aneh melihat Sales itu sendirian di tempat gelap; ketiga, Sales itu bahkan nggak mengerti komputer! Kalopun ngerti, dia nggak akan berani lancang masuk ruangan yang sama sekali bukan ranahnya. Haaah.. banyak deh pokoknya kejadian aneh yang kudengar terjadi di sekitar kantor. Ironisnya, mostly kejadian-kejadian aneh itu terjadi disekitar Ruang Marketing & HRD yang notabene merupakan ruangan tempatku bekerja sehari-harinya. Makanya cukup banyak rekan kerjaku yang nggak berani sendirian disitu. Tapi ya seperti yang aku bilang tadi, alhamdulillah, selama ini aku nggak pernah mendapatkan pengalaman aneh yang seberkesan pengalaman rekan-rekan kerjaku di ruangan itu. Kalo cuma soal gelas pecah sendiri di pojok ruangan, aku masih bisa positive thinking kalo itu kerjaan kucing, coz kantor kami memang cukup sering didatangi kucing liar. Yang lainnya paling-paling hanya sebatas suara langkah kaki (paling sering terdengar, dan udah sering terjadi sejak pertama kali aku bekerja disitu) dan bau-bauan yang untungnya harum, bukan bau kemenyan, bau bangkai, bau amis, bau kelek, bau kentut, apalagi bau kaki.

Ngomong-ngomong soal bau-bauan, sekitar dua minggu yang lalu, aku mencium aroma parfum cowok yang entah darimana sumbernya. Jadi ceritanya, siang itu aku mau ke toilet. Ketika melewati pintu gudang dokumen, samar-samar hidungku mencium aroma parfum cowok, dan baunya semakin tajam hingga ke lorong kecil yang membatasi antara Ruang Collector dengan Ruang Marketing & HRD. Ini aneh, karena aku yakin nggak ada seorangpun yang masuk ke Ruang Marketing & HRD. Selain itu, seingatku nggak ada staff kantor (selain pekerja lapangan) yang menggunakan parfum dengan aroma menyengat, kecuali Mas Febri, tapi aromanya nggak kayak gitu. Dan normalnya, aroma parfum semenyengat apapun pasti akan hilang beberapa menit setelah pemakainya meninggalkan ruangan, sedangkan aroma parfum itu nggak kunjung hilang berpuluh-puluh menit lamanya.

Aku update status deh tuh di WA soal bau parfum misterius itu. Eh, nggak taunya dikomen..
Him : “Apa bau parfumnya mirip bau parfum punya saya?”
Me : “Nggak tau. Parfum kamu kemarin nggak kecium”
Him : “That’s me”

Tau nggak siapa yang komen?
Yah, siapa lagi kalo bukan sohibku yang paling antik, paling unik, paling ajaib, dan paling misterius seantero jagat : Yuda (Yud, saya udah minta ijin kamu lho ya, buat nulis tentang kamu disini. Kalo ada kata-kata yang kurang berkenan bilang aja. Haha..)

Jadi menurut penuturannya, itu tuh semacam bentuk Astral Projection (AP), yaitu teknik pelepasan jiwa dari raga. Well, untuk lebih jelasnya tentang AP, silahkan browsing. Hahaha..
Anyway, aku udah lama tertarik sama topik tentang AP, tepatnya sejak acara The Master Season I booming. Aku juga udah baca beberapa artikel yang membahas itu, karena buatku menarik banget, meski nggak ada niat buat mencoba melakukan (karena terlalu beresiko buat orang awam, apalagi belum punya benteng berupa keimanan yang cukup kuat). Tapi dari artikel-artikel yang kubaca itu, nggak ada satupun yang menyebutkan bahwa aroma tubuh atau parfum dari tubuh astral seseorang bisa tercium sama orang lain yang nggak melakukan AP.

Awalnya aku pikir Yuda mengada-ada, hingga kemudian beberapa hari setelah itu, tepatnya pas ketemuan di Grage City Mall minggu lalu, dia menyodorkan botol parfumnya dan bilang, “Kayak gini bukan baunya?” Aku endus-endus deh itu botol, dan.. DAMN, PERSIS!!

Nggak cukup membuktikan dengan hanya botol parfumnya, tiga hari yang lalu, dia bahas soal pengalamannya ‘main’ ke kantorku dengan tubuh astralnya itu via WA. Aku nggak pernah cerita tentang gedung kantorku, tapi dia tau tentang gudang di sebelah ruanganku. Dia bilang, waktu itu dia main pas jam makan siang, dan itu bener banget.. persis di waktu aku mencium aroma parfum itu. “Orang-orang pada makan. Makan seenaknya disitu”, katanya. Ah, rupanya dia juga tau kalo di kantorku, karyawan bebas makan di ruang kerja.
“Bahkan saya bisa ngeliat kamu barusan yang cekikikan walaupun merinding”.
WHATTHEHELL?!
“Nahan ketawamu suaranya nggak enak”.
DAAAAAMN, KEDENGERAN!

Haissshh.. pokoknya kemarin lusa itu aku dibuat speechless lah sama tuh orang. Kok jadinya lebih serem dia daripada hantu. Gimana enggak? He can do and see anything he wants, TANPA TERLIHAT! Bayangkaaaan.. Isn’t it scary?


Well, tapi sisi positifnya, aku jadi punya teman buat sharing lebih banyak tentang segala hal berbau Metafisika dan supranatural, memuaskan rasa penasaranku pada hal-hal diluar nalar. Sebagai orang awam, aku memang nggak bisa menilai apakah penuturannya benar atau enggak. Aku cuma bisa percaya, itu aja.
Sabtu, 18 November 2017 0 komentar

Malam 'Satu Spirit'

I got a bunch of stories today!

Bisa dibilang ini adalah hari yang sejak seminggu lalu aku tunggu. Berawal dari pesan WA yang dikirim Yuda hari Sabtu lalu..


Mengetahui hal itu, aku tiba-tiba excited. Aku langsung mengorek info tentang benar atau enggaknya kabar itu. Cari info di Facebook, di Instagram.. Dan ternyata dia nggak bohong. Jadiiii.. hari ini adalah hari ulang tahun PILARadio—salah satu stasiun radio di Cirebon—yang ke-17 tahun. Untuk merayakan hari jadinya yang bertema ‘17ice’ (baca : ‘nice’) ini, mereka mengadakan kolaborasi perdananya dengan SoundsAtions. Di hari jadinya ini, mereka menggelar sebuah event yang terdiri dari Cosplay Competition, BMX Freestyle, Action Figure Exhibition, Sand Animation, dan live music dengan Nadya Fatira dan Jorocks J-Rocks sebagai guest stars. Acara itu digelar di Lapangan Parkir Grage City Mall (GCM) mulai jam tiga sore sampai jam sepuluh malam. Acaranya gratis. Syaratnya, penonton yang mau masuk ke area stage harus berusia 18+ dan menunjukkan KTP asli kepada panitia.

Aaaanywayyy.. sebenarnya aku bukan (lagi) penggemar J-Rocks. Yap, bukan lagi. Aku sempat menggandrungi mereka saat masih duduk di bangku kelas dua SMP, tepatnya sekitar sembilan tahun lalu. Waktu itu album Spirit belum lama rilis dan video klip ‘Cobalah Kau Mengerti’ dan ‘Kau Curi Lagi’ cukup gencar ditayangkan di acara-acara musik di TV (waktu itu aku masih suka nonton Inbox, Dahsyat dkk). Saat itu aku pikir, “Ih, kok mereka cool banget sih..”
Kemudian sejak saat itu aku mulai mengagumi mereka, yang kelak menjadi cikal bakal aku menyukai L’arc~en~Ciel. Well, orang lain mah kayaknya mostly suka L’arc~en~Ciel dulu, baru suka J-Rocks (atau bahkan justru membenci Bang Iman dkk), aku malah kebalik. Trus setelah itu, adikku ikut menggandrungi J-Rocks juga (Entahlah, kayaknya sering banget selera musiknya terpengaruh dengan selera musikku), hanya aja sepertinya dia lebih parah. Aku mengoleksi musik mereka cukup sampai album Road to Abbey, sedangkan adikku punya lagu-lagu mereka yang rilis setelah album itu, contohnya Madu & Racun, yang lebih dulu aku dengar dari versinya Richie Ricardo. Haha.. Jadul banget ya..), kemudian Ya Aku.. Dia juga sering memutar lagu-lagu mereka dengan volume keras, namun kemudian berhenti setelah lagu Topeng Sahabat sering menuai komentar dari Bapak. “Ini lagu apa sih? Nyanyi kok kayak orang cacingan”, begitu kata beliau. Yang J-Rockstar harap jangan marah. Wkwk..

Okay, back to the story.
Ketika mendengar J-Rocks mau datang ke Cirebon dan dibarengi sama event Jejepangan begini, aku jadi excited pengen datang. Pertama, karena aku pengen sedikit keluar dari zona nyaman (biasanya aku nggak terlalu suka keramaian); kedua, karena aku pengen mewujudkan mimpi buat nonton mereka secara langsung yang dulu belum kesampaian; ketiga, karena biar ada bahan buat nulis di blog. Haha..
Dan kebetulan Yuda mau datang bareng teman-temannya yang satu komunitas gitu. Sooo ya udah aja aku gabung sama mereka. Lagian Yuda juga bilang kalo ada satu hal penting yang mau dia omongin.

Aku sempat mengajak Inna, coz dia kan suka Jejepangan juga. Siapa tau dia terhibur melihat para Cosplayer gitu. Sayangnya Inna nggak bisa ikut karena mau ke Tasik. Alright then, akhirnya aku berangkat sendirian langsung dari kantor. BTW, aku cukup kesal juga sih, pasalnya menjelang pulang itu aku dikasih tugas tambahan yang kudu diselesaikan di rumah. Geeeezzz.. rasanya saat itu aku mau nangis. Nggak dikasih tugas tambahan aja me-time ku dikit banget (karena memang tiap hari Sabtu aku pasti bawa pulang satu tugas), ini malah ditambahin :’)

“Ayo berangkat!” seruku pada Inggit dan Ryan yang waktu itu lagi ngumpul bareng rekan-rekannya di Showroom. Yaahh mereka kan J-Rockstars gitu lho, dan malam sebelumnya Inggit cerita via BBM kalo dia mau datang ke acara itu bareng Ryan. Mereka menggeleng, bilang kalo baru mau datang selepas Magrib. Sore itu, sekitar jam empat kurang lima belas menit, aku berangkat dengan menumpang Gr*bB*k*.

Sesampainya di GCM, aku langsung menuju Amphitheater, tempat dimana Yuda nongkrong. Sempat susah juga sih nyari dia. Aku baru ketemu dia pas dia nelpon. Rupanya disana udah nunggu bareng Bima—adiknya—dan tiga orang temannya, hanya aja beberapa dari mereka duduk terpisah. Beberapa lama kemudian, datanglah seorang cewek berambut pendek dengan dress hitam selutut dan motif kotak-kotak di bagian lengan. Aku langsung mengenalinya sebagai Wira, dan usianya masih tujuh belas tahun, karena Yuda pernah bercerita sedikit tentang dia di pertemuan kami sebelumnya. Kemudian Yuda pamit sebentar untuk mengantar Wira pakai wig di toilet. Sore itu, katanya sih si Wira ini mau tampil dengan tema gothic. BTW, sekilas teman Yuda yang satu ini mengingatkanku sama salah satu staff HRD di tempat kerjaku yang lama. Entahlah. Menurutku wajahnya agak mirip, hanya aja tanpa kerudung. Cara bicaranya juga. Well, forget that!

Awalnya, aku cuma duduk bareng salah satu teman Yuda. Tapi kemudian temannya ini beranjak ke area event. Karena nggak mau duduk sendirian, akhirnya aku ngikut deh. Aku tertarik buat nonton Cosplay Competition. Lagu Clock Strikes-nya One Ok Rock diputar berulang-ulang sebagai backsound acara itu. Kostum para pesertanya bagus-bagus, hanya sayangnya mereka belum cukup luwes memperagakan aksi andalan mereka. Lucunya, ada satu peserta Cosplay Competition yang mengenakan kostum Driver G*j*k lho! Hahaha.. Awalnya aku sama sekali nggak menyangka bahwa cowok yang berdiri di tengah acara dengan kupluk rajut dan seragam G*j*k-nya sambil menggenggam smartphone itu adalah peserta Cosplay Competition. Aku pikir dia penggemar salah satu Cosplayer dan berniat memotret Cosplayer favoritnya dengan smartphone di tangannya itu. Beberapa penonton cengengesan aja melihat si ‘Driver G*j*k’ ini cengar-cengir di tengah acara. Hingga kemudian aku mendengar percakapan beberapa penonton di sebelahku.
“Weh, itu G*j*k ngapain berdiri disono?”
“Itu Cosplayer tau.”
“Lah, Cosplay jadi tukang ojek?”
“Iya, Cosplay kan temanya bebas.”
Nah, dari situlah aku baru tau kalo ‘Driver G*j*k’ ini adalah salah satu peserta Cosplay Competition itu.

Para peserta Cosplay Competition
Source : Instagram @pilaradio886fm
Para Cosplayer, dari Wonder Woman sampai Driver G*j*k!
Lihat pojok sebelah kiri.
Source : Instagram @pilaradio886fm

Tiba-tiba, PING!!
Ada BBM masuk. Rupanya dari Inggit.
“Udah disana tah, Teh?” tanyanya.
“Udah dari tadi. Saya kesorean kayaknya. Wkwk..”
Iya, kesorean, karena ternyata acaranya belum terlalu rame.
“Lah, kenapa? Udah kelar?”
Kemudian terbersit di benakku buat ngerjain dia.
Kubilang, “Udah kelaaaaaaar.. Joroknya udah mangguuuuuuuunnngggg..”
“Seriusssss..?? Ah, masa sihh..?”
Aku cengengesan aja baca BBM-nya.
Beberapa menit kemudian, baru aku balas, “Belum kok, masih Cosplay Competition”.
Tapi ternyata apa? Dia malah terprovokasi sama kata-kataku yang sebelumnya tadi dan langsung buru-buru meluncur ke lokasi bareng Ryan. Wakakakak..

Akhirnya Cosplay Competition pun selesai. Aku celingukan. Eh, kok temannya Yuda ngilang? Padahal tadi masih terpisah sekitar dua meteran dari tempatku berdiri. Kukontak Yuda, tapi rupanya dia masih di toilet. Jadi kuputuskan buat melihat-lihat sekitar.

PING!!
Ada BBM lagi dari Inggit.
“Teh, dimana?”
Sambil jalan, aku mengetikkan balasan. Tapi belum jauh aku berjalan, sosok Inggit dan Ryan udah kelihatan.
“Hey!” seruku sambil melambaikan tangan, dan mereka tersenyum lebar saat melihatku.
“Kesini sendirian, Teh?” tanya Inggit dengan wajah heran gitu.
“Sama teman, tapi nggak tau tuh.. pada mencar. Ada yang lagi nganter temannya juga ke toilet buat pakai wig,” jawabku. Yakali datang sendirian ke acara kayak gitu. Mencar sebentar dari mereka aja udah kayak anak ilang. Hahaha..
Mereka manggut-manggut. Jadi ya udah deh, aku ngobrol-ngobrol bareng mereka. Ryan sempat bercerita tentang kakaknya yang merupakan seorang desainer kostum Cosplay dan menjual hasil pekerjaannya hingga ke luar negeri.
“Bedanya, kakak saya ngebuat kostum Cosplay nya pake bahan bioplastic. Memang lumayan mahal sih jadinya, makanya peminatnya kebanyakan dari luar negeri,” katanya sambil menunjukkan beberapa hasil karya kakaknya itu di layar smartphone. Memang keren-keren sih kostum karya kakaknya Ryan ini. Penggunanya pasti kelihatan stunning banget. Well, ada harga ada kualitas sih yaa..

“Lagi dimana, Put?” tiba-tiba masuk WA dari Yuda.
“Didepan Foodtruck. Kamu dimana?” balasku.
“Di Amphitheater. Habis foto-foto. Mau ikutan?”
Karena nggak mau ganggu quality time-nya Inggit dan Ryan, akhirnya aku pamit buat ke Amphitheater, nemuin Yuda yang waktu itu lagi bareng Wira—yang udah lengkap pakai wig panjang bergelombang. Looks pretty, I admit. Kami sempat beli minum sebentar, trus kumpul lagi bareng teman-teman Yuda di pinggir area event.
“Katanya mau foto bareng?” kata Yuda sambil menunjuk Wira lewat isyarat mata. Well, sebelum ke GCM, gara-gara Yuda bilang kalo ada temannya yang mau pakai kostum dengan tema gothic, aku jadi tertarik buat foto bareng sama temannya itu. Tapi pas ketemu sama orangnya..
“Nggak jadi ah, Yud,” jawabku.
“Kenapa?”
“Kata kamu, dia lebih pendek dari kamu, tapi ternyata tinggi!”
“Ya memang lebih pendek dari saya.”
“Iya, tapi saya pikir dia nggak setinggi itu. Kirain tinggi saya sama dia setara.” Oke, intinya aku minder kalo difoto nanti kelihatan jauh lebih pendek dari cewek tujuh belas tahun.

Tiba-tiba adik Yuda, Bima, menerima telepon dari ayah mereka. Dengar-dengar sih ada salah satu saudara mereka yang meninggal, dan mereka diminta pulang secepatnya.
“Kamu mau balik atau mau lanjut?” tanya Yuda.
Disitu aku bingung antara mau lanjut atau pulang juga.
“Kamu duluan aja,” kataku akhirnya.
“Duh, kalo lagi main ke luar tuh ada aja kendalanya. Gak bisa lihat orang senang,” keluhnya.
“Ya masa kamu mau nyalahin takdir,” sergahku. Dia nyengir. Gendeng emang -,-
Akhirnya kami pun berpisah. Kemudian aku BBM Inggit, “Udah masuk gate belum?”
Tadinya aku berniat join bareng Inggit dan Ryan lagi, tapi kemudian kuurungkan, coz nggak enak juga. Takutnya aku malah jadi ganggu sweet couple ini. Akhirnya aku beranjak dari situ. Tapi baru beberapa langkah, Inggit membalas BBM-ku dan ngajak gabung. Aku menolak.
“Yaaah nggak asik aaahh.. Tanggung ada disini,” katanya.
Iya juga sih.. tapi..
“Cepetan kesini. Ntar keburu anak-anak gembel yang masuk. Hahaha..”
Akhirnya aku gabung deh sama mereka, pake lari segala, karena khawatir area stage-nya beneran dipenuhi anak-anak punk. Tapi ternyata apa? Area stage masih legaaaaaaa banget! Hanya ada beberapa puluh orang yang duduk-duduk di pinggir. Dasar! Sekarang aku yang kena dikerjain.
Inggit menyambutku dan langsung ngajak gabung. Nggak cuma kami bertiga, ada Mbak Melisa—salah satu Sales di perusahaan tempatku bekerja—bersama cowoknya (meski ia sendiri datang agak terlambat), dan dua teman lama Inggit yang juga bergabung bersama kami.

Hingga jam tujuh malam, area stage masih adem ayem. Padahal aku udah berniat meninggalkan tempat itu sekitar jam tujuh. Tapi aku penasaran kalo J-Rocks belum muncul. Yah, seenggaknya aku bisa nonton performance mereka barang satu sampai dua lagu, setelah itu baru balik. Pantatku udah mulai panas karena kelamaan duduk, namun diatas stage, beberapa crew masih sibuk melakukan check sound dengan suara kentut (seriusan lho, mereka checking sound pake suara mirip kentut gitu), kemudian disambung dengan mencoba memainkan seluruh instrumen dengan lagu Sing For Absolution-nya Muse. Lucunya, crew yang mencoba microphone vokalis menyanyikan lagu itu dengan lirik asal-asalan. Yang jelas cuma di bagian ‘Sing for absolution.. I will be singing..’ nya doang. Hahaha..

Setelah checking sound, MC pun naik, disusul dengan pertunjukan Sand Animation yakni seni lukis pasir dari seorang Magician. Lalu ada sambutan-sambutan juga dari beberapa orang dibalik suksesnya PILARadio, acara tiup lilin dan potong kue, pembagian hadiah, dan nggak ketinggalan penampilan Wakapolres Cirebon yang membawakan lagu Bento-nya Iwan Fals. Aseeekk!!


Squad PILARadio menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun bersama
Wakapolres Cirebon Kompol Djarot Sungkowo,
perwakilan Grage Group, dan PT Sampoerna.
Source : Instagram @pilaradio886fm

Setelah itu, naiklah Hira Band. BTW, aku dan Inggit sempat salah fokus sama bassist mereka karena penampilannya yang sekilas mirip Bang Wima. Haha..
Kami nggak kenal band Hira ini, tapi untungnya mereka membawakan lagu-lagu yang familiar di kuping. Penampilan mereka dibuka dengan lagu milik Keane, Everybody’s Changing, disambung dengan Sempurna-nya Andra And The Backbone. Area stage makin memanas ketika lagu Ku Tak Bisa-nya Slank dibawakan, dan nggak tau kenapa orang-orang yang berdiri di luar gate tiba-tiba rusuh. Inggit menarikku ke tengah area stage yang lebih aman.
“KAMPUNGAN!! KAMPUNGAN!!” seru para penonton di luar gate kepada para oknum yang rusuh. Iya, benar. KAMPUNGAN. Kenapa sih di Indonesia ini masih ada aja orang yang gemar bikin ribut? Apa sih manfaatnya? Just enjoy the music, Dudes! Lebih baik nyanyi bareng, nge-jump bareng, tanpa bikin masalah. Kalo mau cari ribut mending di luar sana, bukan di tempat dimana orang-orang mau menikmati musik. Kampungan. Nggak tau tempat. Ups, sorry, jadi emosi.

Setelah itu, vokalis Hira Band mengajak salah satu penonton cewek berkacamata naik ke atas stage, sambil menyanyikan lagu Kangen-nya Dewa 19. Anyway, jujur aku kurang suka dengan bagaimana vokalis band ini memperlakukan penonton cewek yang bahkan asing baginya. Rangkul pundak dan gandeng tangan sih masih bisa dibilang wajar, tapi kissing hand..?? Well, I dunno.. menurutku sih agak kurang sopan ya. Entahlah kalo mereka atau si vokalis berasal dari belahan bumi lain yang memiliki budaya dan aturan etika berbeda. You know what I mean, right?

Setelah Hira Band tampil, naiklah Nadya Fatira, seorang penyanyi muda yang bisa dibilang baru di blantika musik Tanah Air, membawakan lagu Happy milik Pharrell Williams. Kemudian disusul dengan lagu Across The Universe dan Hey Jude-nya The Beatles, Bebas-nya Iwa K, and of course lagu terbarunya yang berjudul Penyendiri, sebuah lagu yang baru banget kudengar tapi udah mengena.

Aku ini penyendiri
Yang tak butuh keramaian
Yang ku butuh satu teman
Tempat berbagi cerita..

Penampilan Nadya Fatira, bikin penonton jatuh cinta.
Source : Instagram @rickiridwansyah

Selesai membawakan single terbarunya, Nadya Fatira pamit undur diri.

Acara dilanjut dengan pengumuman pemenang Cosplay Competition. Mereka di panggil untuk naik ke atas stage. Sayangnya mereka semua udah melepas kostum mereka (yakali mau dipake terus dari siang sampai malam), beberapa bahkan ada yang hanya mengirim perwakilan.

Daaaaaaannn.. finally, this is it! Yang kami tunggu-tunggu.. performance J-Rocks!!
Begitu mendengar MC meneriakkan nama mereka, aku dan Inggit langsung merangsek ke depan, melangkahi Mbak Melisa dan cowoknya yang duduk dua langkah di depan kami. Wakakak..
Seluruh penonton yang tadinya duduk pun sontak berdiri, dan berebut tempat paling depan. Satu persatu, personil J-Rocks naik ke atas panggung. Teriakan penonton semakin kencang ketika Bang Iman yang naik ke atas stage paling akhir muncul. Anyway, tampaknya Bang Iman dkk vakum terlalu lama, hingga ketika mereka muncul kembali ke permukaan, mereka semua sudah beruban, kecuali Bang Anton (hairstyle woy, bukan uban!). Haha..
Oh ya, ternyataaaaaaa.. Bang Iman aslinya ganteng yaa, meski terlihat lebih chubby dari yang dulu biasa aku lihat di layar kaca.

Malam itu, J-Rocks membuat panggung kembali panas dengan lagu pertama yang mereka bawakan. Lepaskan Diriku, sebuah lagu yang selalu bikin flashback setiap kali aku mendengarnya. Well, ada dua hal yang kualami terkait dengan lagu ini yang salah satunya terjadi pada masa-masa kelas satu SMA dulu. One of my best moments. Tapi yah, udahlah.. Toh, udah lama lewat. Sekarang cukup dikenang aja, nggak perlu lagi digenggam.

Sebenarnya, di posisiku itu aku bisa melihat performance Bang Iman dkk dengan cukup jelas, sebelum semua itu direnggut sama salah seorang penonton egois yang berdiri paling depan. Ia melepas kaos yang dikenakannya, kemudian duduk di pundak temannya dengan bertelanjang dada. Nggak cukup dengan hanya itu, ia juga mengibarkan kaosnya ke kanan dan ke kiri, which is sangat mengganggu pemandangan. Jadi, teman-teman yang baca ini, tolong ya, kalo nonton pertunjukan musik, dan kamu udah berdiri paling depan, nggak usah pake naik ke pundak teman segala, karena yang mau menikmati pertunjukan bukan hanya kamu.

Awalnya, aku dan Inggit enjoy aja lompat-lompat dan bernyanyi mengikuti musik, sebelum akhirnya keadaan mulai rusuh. Nggak rusuh yang gimana-gimana sih, hanya aja pada dorong-dorongan gitu.
“Maju ke depan aja, Teh. Yang cewek-cewek maju ke depan aja,” kata seorang cowok J-Rockstar pada aku dan Inggit. Maksudnya biar kami—para cewek—nggak jadi korban para ‘kampungers’ itu. Kami pun merangsek lagi ke depan. Sejenak aku kagum dengan sikap solidaritas J-Rockstar ini.

Ketika break, para J-Rockstars meneriakkan yel-yel mereka, “J-Rockstars! Satu spirit!” Merinding dengernya. Anehnya, ada juga yang meneriakkan nama ‘Laruku’, dan berharap J-Rocks membawakan salah satu lagu dari Hyde dkk. Salah satunya penonton cowok di sebelahku yang berkali-kali menyerukan ‘Jiyuu E No Shoutai’. Hahaha..
Selain lagu Lepaskan Diriku, mereka juga membawakan lagu-lagu hits mereka yang lain, seperti Ceria, Fallin’ in Love, dan Madu & Racun. Nggak lupa, mereka juga membawakan dua lagu dari album terbaru mereka—Let’s Go—yakni Selamat Jalan, dan Aku Kamu & Kalian. Aku berharap mereka membawakan lagu Spirit—one of my favorite J-Rocks’ songs—tapi sayangnya enggak. Penampilan mereka ditutup dengan lagu pamungkas, Meraih Mimpi. Setelah itu mereka bagi-bagi beberapa pick gitar kepada penonton.

Source : Instagram @missisviina
Source : Instagram @pilaradio886fm
Source : Instagram @sepasanglangkah
The Audiences. Eh, ada aku tuh. Tebak yang mana? Haha..
Source : Instagram @pilaradio886fm

Usai J-Rocks turun panggung, aku, Ryan dan Inggit pun pulang. Sambil menunggu Ryan mengambil motor di parkiran, aku dan Inggit duduk-duduk di pinggir jalan belakang mall. Inggit sempat bercerita kalo kepalanya pusing dan tadi ia sempat mau pingsan gara-gara cewek yang ‘menggila’ di sebelahnya bau kelek. Wakakakakak..
Kenapa baru ngomong pas udah kelar acara coba? Kalo dia ngomong pas masih di tengah acara aja, aku kasih deodoran deh tuh. Kebetulan aku bawa deodoran tiap hari, kali aja sewaktu-waktu lupa pakai deodoran dari rumah. Haha..

Mereka mengantarku hingga driver Gr*bB*k* yang Inggit pesan datang. Iya, aku order jasa Gr*bB*k* via aplikasi Gr*b milik Inggit, coz punya dia ada promonya, punyaku enggak. Hahaha..

Anyway, aku nggak menyesal hadir ke event itu dan menikmati performance J-Rocks malam tadi. Tapi aku rasa, ini bakal jadi pertunjukan musik ‘panas’ pertama dan terakhir yang aku nikmati. Nggak lagi-lagi deh. Selama J-Rocks tampil semalam, aku beberapa kali kena tubruk. Untung nggak sampai jatuh. Boro-boro kepikiran buat balik badan dan pulang di tengah-tengah penonton yang menggila. Inggit sih enak, punya ‘tameng’ (baca : Ryan). Hahaha.. But well.. however I really thank her karena selama J-Rocks perform, Inggit terus menggandeng tanganku dan nggak ngebiarin aku jatuh ataupun terpisah jauh dari mereka.

Hmm.. aku sempat punya rencana buat nonton One Ok Rock secara langsung kalo suatu saat mereka ke Indonesia. Tapi demi mendapat pengalaman hari ini, sepertinya niat itu sebaiknya aku urungkan. Yah, untuk band skala nasional aja udah rusuh begitu kan? Gimana dengan band sekelas One Ok Rock yang udah melanglang buana kemana-mana. Kecuali kalo penontonnya bisa seadem penonton konser Mighty Long Fall di Yokohama Arena :v

Intinyaaaa.. hari ini luar biasa. Terima kasih untuk PILARadio dan SoundsAtion yang udah menggelar event keren ini, juga terima kasih kepada Inggit dan Ryan yang berbaik hati ngajak gabung dan nggak membiarkan saya menjadi obat nyamuk diantara kalian. Hahaha.. Well, I humbly admit that I'm glad to spend time with you guys.

Aku baru tiba di rumah dengan selamat sekitar jam sepuluh malam dengan disambut wajah asem ibu.

“JAM SEGINI BARU PULANG!”


(XoX”)

Total Tayangan Halaman

 
;