Sabtu, 21 Juli 2018 0 komentar

A Good Bro Knows What His Sister Needs

Did you ever feel so tired of everything? Ketika segalanya terasa menguras pikiran, tenaga, dan perasaan, ketika kamu ingin pergi ke suatu tempat untuk melepas penat, namun nggak punya kesempatan. Well, I did. And I'm grateful that I have a very nice younger bro. He saved me.

Hari Sabtu lalu, ia mengirimiku pesan WhatsApp tentang rencana jalan-jalan dan ia memintaku untuk memilih salah satu diantara tanggal 19, 20, dan 21. Aku menengok kalender. Ketiganya bukan hari libur, namun tanpa pikir panjang, kuputuskan untuk mengambil cuti satu hari. Aku benar-benar butuh refreshing, dan aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku memang sering mengeluh tentang perusahaan tempatku bekerja yang hampir nggak pernah mengadakan karyawisata seperti perusahaan yang lain. He knows that his sister needs to go somewhere. Kupilih tanggal 21, karena kupikir hari itu berdekatan dengan hari Minggu, sehingga kami punya kesempatan untuk beristirahat sebelum akhirnya kembali beraktifitas seperti biasanya.

Sabtu pagi, sekitar lima lebih, kami berangkat dari rumah dengan berboncengan motor. Lokasi tujuan kami nggak lain dan nggak bukan adalah Lembang, Bandung. Just two of us. Ini pertama kalinya aku dan adik jalan-jalan berdua ke tempat yang jauh dan hanya berbekal Google Maps sebagai penunjuk jalan. Kami bersyukur karena jalanan cukup lancar meski weekend. Mungkin karena masih pagi juga kali ya. Wkwk..

Namun, meski jalanan lancar, aku nggak lantas menjadi tenang. Jalanan menuju Bandung rupanya kayak lagunya Ninja Hatori, mendaki gunung dan melewati lembah. Haha.. Entah berapa kali motor kami melintasi tikungan tajam, tanjakan, dan turunan khususnya di daerah Sumedang, yang mungkin orang-orang sebut kawasan Cadas Pangeran (aku sebut 'mungkin' karena sepanjang jalan aku nggak menemukan namanya, dan nggak tercantum pula di Google Maps, hanya melihat kontur jalannya yang meliuk-liuk serta diapit tebing dan jurang). Well, rasanya kurang lebih seperti naik roller-coaster. Aku merasa senang sekaligus takut. Motor kami meluncur dengan mulus di atas aspal, namun karena banyak tikungan tajam, seringkali kami nggak melihat kendaraan lain yang berbelok dari arah berlawanan. Rasanya ngeri membayangkan apabila kendaraan kami melenceng sedikit aja dari jalur. Sepanjang jalan, aku berdzikir, karena aku tentu nggak mau hal buruk terjadi pada kami. Apalagi mengingat mitos-mitos yang tersebar di tengah masyarakat tentang kawasan itu, ditambah melihat jumlah kecelakaan sekaligus korban jiwa yang terpampang di papan informasi jumlah kecelakaan yang kulihat di tepi jalan. Naudzubillah..

Menempuh perjalanan jauh dengan hanya berbekal Google Maps sebagai penunjuk jalan rupanya nggak begitu mudah. Di suatu daerah di Sumedang, kami sempat kehilangan sinyal. Kami juga sempat salah jalan. Well, sebenernya nggak salah jalan juga sih, hanya aja jalannya kurang nyaman untuk dilalui. Karena kami memilih rute khusus motor, Google Maps menuntun kami ke jalan-jalan kecil yang permukaannya nggak begitu mulus. Aku sempat hampir jatuh di sebuah jalan menanjak. Saat itu kami akan berbalik arah karena salah jalan. Namun adikku kehilangan keseimbangan saat membelokkan motor, sehingga motor oleng. Aku bersyukur karena mengenakan sepatu boots dengan hak tinggi, sehingga ketika motor itu oleng, kakiku langsung menjejak aspal. Kalo aja saat itu aku nggak pakai sepatu dengan hak, mungkin aku udah jatuh kali, coz jok motor kami tinggi banget bagi aku yang pendek ini. Kami juga sempat melalui jalan kecil dengan tanjakan, turunan, dan jurang di sisinya. That was horrible! "Ganti rute khusus mobil aja kalo kayak gini", kata adikku. Buuut.. meski begitu, kami nggak bisa menimpali bahwa pemandangan sekitar cukup memanjakan mata. It was green everywhere. Aku pengen banget memotretnya, hanya aja kedua tanganku sibuk memegang hape untuk Google Maps dan pundak adikku. Kalo nggak pegangan dia, bisa-bisa aku jatuh terjengkang karena turunan dan tanjakannya tajam.

Memasuki daerah Subang, kami bisa bernapas lebih lega karena kami nggak lagi dipertemukan dengan jalanan yang mengasah adrenalin. Sebagai gantinya, kami melalui jalanan dengan perkebunan di sisi kanan dan kiri jalan. Di Jalan Cagak, perkebunan teh terhampar. Di kawasan ini juga terdapat banyak pedagang nanas yang buahnya menguning dan besar-besar. Memasuki kawasan Ciater, lebih banyak lagi kebun teh yang terlihat. Aku pernah kesana, sekitar tiga tahun yang lalu bareng rekan-rekan di tempat kerjaku yang lama, beberapa hari sebelum akhirnya aku resign dari sana. Waktu itu kami datang sebelum jam tujuh pagi, sehingga perkebunan masih berkolaborasi dengan kabut. Indah. Sayang, kali ini aku dan adik nggak mampir kesana. For God's sake. Bandung nggak pernah gagal membuatku jatuh cinta berulang kali. I always love this city and its people. Sejak melihatnya di film Petualangan Sherina yang kutonton belasan tahun lalu, aku jatuh cinta, dan setiap kali ke kota itu aku selalu ingin kembali.




Semakin mendekati Lembang, udara semakin dingin. Aku agak menyesal karena nggak mengenakan jaket yang lebih tebal. Udara di Tangkuban Perahu pasti lebih dingin, seenggaknya itu kata adikku yang pernah kesana. Tapi bagaimanapun, itu lebih baik ketimbang panas menyengat seperti yang biasa kami rasakan di kota kami. Aku jadi berpikir, kalo aja aku tinggal di Bandung beberapa bulan aja, mungkin kulitku bisa jadi lebih cerah. Hahaha..

Sekitar jam setengah sepuluh, kami tiba di lokasi tujuan. Ternyata tiket masuk ke Tangkuban Perahu cukup mahal. Adikku mengeluarkan uang tujuh puluh sembilan ribu untuk dua orang. Belum lagi untuk biaya parkir (walaupun sekali parkir nggak sampai lima ribu sih), dan beli masker. Well, sebenarnya kami bawa masker sendiri dari rumah. Hanya aja akang-akang yang menyambut para pengunjung itu terkesan memaksa kami untuk membelinya. Lima ribu rupiah untuk dua lembar masker. Katanya sih disana wajib pakai masker karena bau belerangnya cukup menyengat, tapi ternyata sampai disana everything's okay. Nggak ada bau belerang yang menyengat, nggak ada kabut, nggak ada debu yang mengganggu pernapasan kami. Pengunjungnya ramai, dan sebagian besar nggak mengenakan masker. Hahh.. dasar trik pedagang.

Forget that.
Kami bersyukur karena udara pagi itu nggak sedingin yang kami khawatirkan. Padahal waktu adikku kesana beberapa bulan lalu, udara dingin banget sampai-sampai membuat nafasnya mengeluarkan asap. Tapi kemarin pagi, suhu udara tujuh belas derajat celcius (seenggaknya itu yang tertera di layar hapeku), cukup hangat jika dibanding suhu AC di tempat karaoke yang aku dan Tri kunjungi dua pekan lalu yang membuat kami gemetar kedinginan. Daaaan.. rupanya keindahan Tangkuban Perahu bukanlah sekedar isapan jempol. Viewnya baguuuus banget. Pengunjungnya nggak hanya orang Bandung, tapi juga banyak yang dari luar kota seperti kami, bahkan turis mancanegara. Mereka sibuk mengabadikan moment jalan-jalan mereka di Tangkuban Perahu. Kebanyakan dari mereka tampak fotogenic. Bahkan ada teteh-teteh cantik yang tampaknya merupakan seorang model. Ia santai aja mengenakan kaos putih lengan pendek, celana jeans di atas lutut, dan sepatu boots dengan high heels tipis. Bayangkaaaan.. di kawasan pegunungan yang berbatu-batu gitu dia nyantai pakai sepatu dengan high heels tipis! Dengan percaya diri, ia berpose dengan berbagai gaya di depan fotografernya.
"Lihat deh. Pinter banget ya gayanya," celetukku pada adik sambil menunjuk orang itu dengan isyarat gerakan kepala.
Adikku menoleh ke arah orang yang kumaksud dan menjawab, "Iya, tapi kalo Teteh berfoto dengan gaya kayak gitu pasti aneh."
Yeah, he was right. Aku udah khas dengan gaya berfoto andalanku : membelakangi kamera sambil memberi salam dua jari. Well, thanks for being honest, Bro.




















Selain para wisatawan, ada juga beberapa pria bertopi yang menawarkan souvenir atau jasa foto. Ada juga yang menjelaskan asal-usul Tangkuban Perahu kepada para pelancong. Aku dan adik sedang berfoto-foto ria ketika salah satu dari pria bertopi yang membawa souvenir menghampiri kami dan menawarkan diri untuk memotret kami.
"Sini saya fotokan berdua, biar romantis", katanya. Haha.. Sepertinya ia mengira kami adalah couple.
"Adik kakak, Pak", sahutku.
"Ya gapapa, biar hubungannya makin dekat", katanya lagi. Kuserahkan hapeku padanya, kemudian ia meminta kami berpose dalam berbagai gaya. Rupanya bapak itu cukup pandai memotret. Aku aja baru tau kalo memotret panorama bisa menggandakan satu objek dengan teknik khusus. Misalnya membuat foto seolah tanganku sedang ditarik adikku dan 'kloningannya'. Dengan begitu, foto yang dihasilkan jadi nggak biasa. Sebagai gantinya, adikku membeli salah satu souvenir yang ia jual. Bapak itu menjual gelang, kalung, dan tasbih dari sejenis manik-manik. Adikku memilih gelang, harganya dua puluh lima ribu. Well, sebenarnya nggak ada keinginan buat beli sih, hanya aja pria itu terus merayu kami. Jadi nggak enak juga, apalagi ia udah membantu memotret (but sorry, foto-foto hasil jepretan beliau nggak aku post disini).

Setelah asik berfoto-foto ria dan menikmati pemandangan Gunung Tangkuban Perahu dan kawahnya, aku dan adik pun berkeliling kawasan itu. Awalnya kami mau makan siomay bandung, tapi nggak jadi karena harganya yang lumayan mahal. Satu porsi siomay dengan telur harganya dua puluh ribu rupiah, padahal di tempat lain, sepuluh ribu aja udah komplit. Akhirnya kami memilih membeli beberapa potong gorengan hangat, harganya dua ribu rupiah perpotong. Maklum sih ya, di tempat wisata seperti itu, harga-harga pasti lebih mahal dibanding di tempat lain. Kami duduk-duduk di sebuah tempat dimana pengunjung bisa duduk sambil menikmati pemandangan hijau dari atas.


Disitu juga terdapat spot-spot bagus buat berfoto, salah satunya adalah lukisan 3D. Kemudian kami berkeliling ke kawasan pedagang souvenir. Yap, di kawasan wisata Gunung Tangkuban Perahu ini juga terdapat kios-kios yang berjejer menawarkan berbagai souvenir mulai dari gelang-gelang, kalung dan tasbih dari manik-manik yang ditawarkan para pria bertopi tadi; gantungan kunci; wayang; tas dan dompet rajut; cincin batu; kaos, jaket dan sweater; pajangan-pajangan dari kayu; dream catcher berbagai ukuran; dan berbagai jenis topi mulai dari kupluk, fedora, topi pantai yang bundar, sampai topi berbentuk kepala anjing yang membuat penggunanya merasa hangat karena permukaannya yang berbulu.




Setelah puas berkeliling, kami pun keluar dari kawasan itu. Kami sempat bingung mau kemana lagi. Wkwkwk.. Kami sempat berencana ke Grafika Cikole buat melihat-lihat kebun stroberi, tapi nggak jadi. Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) yang masih berada dalam kawasan Lembang, Bandung Barat. Di tempat itu, kita bisa membeli susu murni dengan harga murah. Kami berencana membeli beberapa sebagai oleh-oleh. Namun sebelum itu, kami makan batagor dulu di kantin yang ada disitu.


Related image



Puas menikmati batagor, kami pun beranjak untuk membeli susu. Disitu terdapat papan informasi apa aja jenis susu yang mereka jual lengkap dengan harganya. Satu liter susu murni harganya enam ribu rupiah. Kalo kurang suka susu murni, disini juga ada susu pasteurisasi aneka rasa dalam kemasan cup 150ml harganya empat ribu rupiah. Atau buat yang suka yoghurt, disini juga menjual yoghurt aneka rasa dalam berbagai kemasan. Ada yang kemasan botol 1 liter seharga dua puluh lima ribu rupiah, kemasan plastik 1 liter seharga dua puluh tiga ribu rupiah, kemasan botol 250ml seharga delapan ribu rupiah, kemasan cup 180ml seharga lima ribu rupiah, atau es yoghurt yang dikemas dalam plastik kecil-kecil dengan berbagai varian harga : tujuh ribu rupiah isi 10pcs, lima belas ribu rupiah isi 25pcs, dan tiga puluh ribu rupiah isi 50pcs. Selain itu, ada juga tahu susu keju dan tahu susu sosis seharga lima belas ribu rupiah perkemasan.

Setelah berdiskusi sejenak, kami memutuskan untuk membeli tiga pak es yoghurt, tiga botol yoghurt stroberi kemasan 250ml, dan sepuluh cup susu pasteurisasi rasa cokelat dan stroberi. Untunglah bagasi motor adikku lumayan besar, sehingga semua itu muat di dalam sana. Habis itu, kami pulang deh.
Lho, kok langsung pulang?
Iya, karena bingung mau kemana lagi. Mau mampir ke kebun teh, tapi bingung parkir dimana. Lagipula, ibu kami berpesan agar kami segera sampai di Cirebon sebelum Magrib. Di perjalanan, nggak lupa kami membeli empat keranjang tahu sumedang sebagai oleh-oleh.

Perjalanan pulang terasa menyebalkan buatku. Kami nggak melewati jalan yang sama dengan yang kami lalui ketika berangkat, melainkan lewat jalan yang lebih kecil, dan kondisi jalannya kurang mulus, membuat tubuh kami terguncang-guncang di atas motor, dan pinggangku jadi sakit. Perjalanan jadi terasa lebih lama, karena aku berharap cepat sampai. Sedangkan yang dirasakan adikku justru sebaliknya, lebih cepat perjalanan pulang, katanya.

Kami baru sampai di Cirebon ketika Magrib tiba. Kami memutuskan mampir dulu ke rumah nenek untuk mengantarkan oleh-oleh buat nenek beserta keluarga Bi Elly, keluarga Bi Cicih, dan keluarga Wak Agus, masing-masing satu keranjang tahu dan satu pak es yoghurt. Sesampainya di rumah nenek, aku langsung meluruskan tubuhku di ruang keluarga. Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Mungkin gini kali ya rasanya mudik naik motor seperti orang-orang perantauan itu. Aku bersyukur karena aku dan keluarga besar kebanyakan tinggal di kota ini, sehingga aku nggak perlu merasakan mudik naik motor setiap tahun. Tapi entahlah di tahun-tahun mendatang. Lagipula kalo besok-besok adikku ngajak jalan-jalan lagi, aku nggak nolak sih. Muehehe.. Coz meskipun perjalanannya melelahkan, tapi pikiranku kembali segar. So, thank you, Lil Bro ^^
Jumat, 06 Juli 2018 0 komentar

Kembali Berlatih

Aahh.. I really thank God for blessing me. Akhir-akhir ini langit Cirebon cerah. Aku bahkan bisa melihat guratan-guratan di tubuh Ciremai dari kotaku, padahal biasanya cuma sebatas siluet gunung. Dua hari ini pun mood-ku baik. Benar-benar baik. Biasanya para cewek kalo lagi period bawaannya pasti bete dan malas ngapa-ngapain, apalagi kalo hari-hari pertama. Tapi kali ini yang aku rasakan berbeda. Tetep sakit sih, tapi hal itu nggak lantas membuat suasana hatiku jadi buruk dan semangatku menurun. Entah kenapa, hampir seluruh isi kepalaku dipenuhi pikiran positif. Rasanya damai banget.

Hari ini, aku dan teman-teman dari MusTanG kembali latihan ngeband setelah libur selama beberapa minggu pasca puasa dan lebaran. Sekitar jam setengah enam, aku, Mas Febri, Inggit dan Ryan langsung menuju salah satu studio musik yang biasa kami sewa untuk latihan yang letaknya gak begitu jauh dari kantor. Aku dan Mas Febri tiba berbarengan dengan Dhea (yang lagi-lagi langsung datang dari Bekasi bareng supirnya). Mister Chokai udah menunggu disana entah sejak kapan, lalu beberapa menit kemudian menyusul Inggit dan Ryan.

Anyway, studio itu nampaknya mengalami cukup banyak perkembangan sejak terakhir kali kami latihan disana. Sekarang mas-mas owner-nya nggak cuma punya studio musik doang, tapi juga punya semacam usaha clothing gitu. Pintu rumahnya pun udah nggak pake pintu biasa lagi, melainkan pintu kaca yang digeser. Microphone yang biasa kupakai pun udah lebih nyaman sekarang, nggak ngilang-ngilang lagi suaranya. Wkwk.. Sayang, mas-mas owner-nya sepertinya nggak berminat buat menambah satu mic lagi. Alhasil, aku dan Dhea harus bergantian pakai, dan nggak bisa berduet seperti biasanya.

Ditengah-tengah check sound, Mas Win menyusul datang, dan dimulailah latihan kami. Hari ini kami membawakan list lagu-lagu baru, bukan lagi lagu-lagu yang biasa kami bawakan kemarin. Buku liriknya pun aku buat baru dengan file holder sehingga lebih rapi dan nggak mudah terlipat. Kami bertekad latihan lebih serius karena kami semakin dekat dengan jadwal manggung untuk anniversary kantor cabang Riau.

Kami berlatih selama dua jam, and it was fun. Tapiiii.. di akhir latihan, aku dan Mister Chokai dikejutkan dengan penuturan Dhea yang justru nggak tau apa-apa tentang jadwal manggung kami di Riau itu. Ini aneh, karena sebagai staff kantor pusat, harusnya dia tau dong. Tapi bukankah Pak Direktur udah berjanji? Kami pernah batal manggung satu kali, ketika beliau menelepon Mister Chokai tepat di malam sebelum hari keberangkatan, lima belas menit sebelum latihan terakhir kami selesai. Berita itu membuat kami lumayan kecewa karena latihan yang kami lakukan cukup menguras waktu dan tenaga. Namun beliau memastikan bahwa jadwal manggung kali ini benar-benar akan terlaksana. Tapi apa yang diucapkan Dhea tadi benar-benar di luar dugaan. Ah, kalo begini, aku jadi pesimis. Sepertinya.. ada bau-bau ketidakjadian. Wkwkwk..

Yah, we will see..
Sabtu, 30 Juni 2018 0 komentar

#24 : Sebuah Renungan


Aku pernah berpikir, untuk apa aku diciptakan. Aku pernah berpikir, untuk apa aku hidup. Aku sering bertanya-tanya, kenapa hidupku terkadang seperti lelucon. Aku sering bertanya-tanya, kenapa hidupku nggak sebahagia orang lain.

Dalam sebuah buku pendidikan agama, dijelaskan bahwa setiap makhluk diciptakan semata-mata dengan tujuan untuk beribadah kepada Tuhan. Aku pernah berpikir, kenapa aku nggak ditakdirkan mati sesaat setelah dilahirkan saja? Kenapa Tuhan panjangkan umurku?

Aku pernah berada di titik dimana aku muak dengan hidupku dan diriku sendiri. Aku pernah berpikir, apakah hidup ini adil? Apa salahku, sehingga orang lain bisa dengan sangat mudah melukai?

Belasan tahun lalu.. Ah, aku nggak akan lupa masa itu. Sebuah masa yang aku rasa paling berat dalam dua puluh empat tahun perjalanan hidupku, ketika sebagian teman-teman satu kelas berubah membenciku tanpa alasan. Could you imagine how it feels when ppl around suddenly hate you but you don’t even know your mistake? Dan yang lebih menyakitkan adalah bahwa semua itu bermula dari teman dekatmu sendiri. That’s what happened to me. Aku masih ingat bagaimana sakitnya dijadikan bulan-bulanan setiap hari, difitnah, disakiti baik secara fisik maupun mental, and nobody helped.

Apa salahku? Pernah aku menyakiti mereka? Pernah?
Mereka jahat padaku. Pernahkah aku balas? Pernah?

Dulu, saat pertama kali berita penyalahgunaan formalin pada makanan merebak, aku ingatkan mereka agar berhati-hati dalam memilih makanan. Aku tuliskan pesanku di atas kertas, aku bagikan pada mereka, karena apa? Karena aku peduli. Tapi respon mereka justru buruk sekali. Mereka menudingku sok tau, dan menyerangku habis-habisan.

Saat bagian dari mereka dimusuhi teman-teman satu gengnya, mereka datang padaku. Apakah aku menolak dan ikut memusuhi mereka? Enggak. Aku terima mereka, dengan harapan hubungan pertemanan kami kembali membaik hingga seterusnya. Tapi yang terjadi justru mereka kembali memusuhiku setelah mereka kembali bergabung dengan teman-teman satu gengnya.

Waktu itu bisa aja aku balas perlakuan mereka semua. Aku memang nggak bisa berlaku kasar, seperti yang mereka lakukan. Bisa aja aku membalas dendam dengan memberi mereka jawaban-jawaban salah saat mereka menanyakan jawaban untuk soal-soal Ujian Nasional, membiarkan mereka mendapat rapor dengan nilai merah, atau bahkan nggak lulus sekalian. Biar mereka tau diri. Apakah kulakukan? Enggak. Tapi apakah sikap mereka padaku lantas berubah setelah itu? Enggak juga. Aku bahkan masih ingat kata-kata yang mereka ucapkan di hari perpisahan sekolah :
“NAJIS KAMU!”

Jadi jangan heran kenapa aku tumbuh sebagai sosok pendiam dan tertutup. You know the answer.

Aku pernah merasa sangat terpuruk. Merasa nggak ada seorangpun yang menyukaiku. Merasa nggak ada seorangpun yang tulus berteman denganku. Pernah kukayuh sepedaku melawan arah di kelokan tajam jalan Diponegoro, berharap ada kendaraan lain yang melaju kencang dari arah berlawanan, lantas menghantam sepedaku, dan Tuhan mencabut nyawaku saat itu juga.

Tapi seketika itu pula aku tersadar bahwa apa yang kulakukan benar-benar salah. Aku sadar bahwa kalaupun aku mati saat itu karena kecelakaan, tapi di hatiku udah terukir niat untuk mencelakai diri sendiri, dengan kata lain itu sama aja bunuh diri, dan orang yang bunuh diri nggak akan diberi kesempatan mencium bau surga. Tuhan masih sayang aku. Setitik iman di hatiku menyelamatkanku.

Tuhan sayang aku. Kalo nggak sayang, mungkin Dia udah membiarkan aku mati dihantam reruntuhan atap kamarku yang ambruk beberapa tahun silam, atau bahkan membuatku cacat karenanya. Waktu itu aku baru pulang sekolah dan menemukan pintu rumah dikunci dari luar. Nggak ada seorangpun di rumah saat itu, dan aku lupa nggak bawa kunci sehingga nggak bisa masuk, membuatku terpaksa menunggu di luar. Ketika itulah aku mendengar suara benda jatuh sangat keras dari dalam rumah. Kuintip jendela ruang tengah yang terbuka. Nggak ada yang aneh, kecuali kamarku yang aku lihat tampak terang benderang dari lubang ventilasinya. Aku nggak bisa mengintip ke dalam kamar karena jendelanya ditutup. Jadi kuputuskan untuk menunggu, sampai akhirnya ibu datang. Kami langsung mengecek keadaan kamarku, dan benar aja, reruntuhan bata, kayu, dan genteng berceceran di atas lantai dan tempat tidurku. Aku bergidik. Kebiasaanku sepulang sekolah nggak lain adalah masuk kamar dan berbaring di kasur. Kalo bukan karena nggak ada orang di rumah, dan kalo bukan karena aku lupa bawa kunci, maka sangat mungkin kalo aku jadi korban reruntuhan itu. Aku bersyukur pada Tuhan, Dia masih melindungiku.

Tuhan sayang aku. Kalo bukan karena sifat pendiamku, aku mungkin udah terjerumus kedalam pergaulan yang salah, seperti kebanyakan remaja di daerah tempatku tinggal. Perempuan dan laki-laki berbaur, berdekatan tanpa rasa malu, nongkrong sampai malam di luar rumah. Na’udzubillahimindzalik. Nggak terbayang betapa malunya ibu dan bapak kalo itu sampai terjadi.

Aku yakin Tuhan sayang aku dengan cara-Nya. Semua hal buruk yang terjadi padaku mungkin terjadi karena Tuhan ingin aku menjadi pribadi yang tahan banting dan nggak cengeng, meski aku sadar, hatiku masih rapuh.

Aku yakin Tuhan sayang aku dengan cara-Nya. Aku sering meminta banyak hal, bahkan nggak jarang hingga menangis tersedu dihadapan-Nya, namun nggak kunjung Ia kabulkan. Ia justru membalas pintaku dengan hal-hal yang berlawanan dengan apa yang kuinginkan. Aku sering bertanya-tanya, kenapa Tuhan seolah senang mengerjaiku? Tapi kini aku sadar bahwa memang begitu cara kerja Tuhan. Apa yang menurutku baik, belum tentu baik di mata Tuhan. Ia lebih tau apa yang baik bagi hamba-Nya. Seharusnya aku nggak meragukan skenario-Nya. Bukankah dulu Tuhan pernah menunjukkan skenario terbaik-Nya, ketika pertemuan-pertemuan tak terduga terjadi berulang kali diantara aku dan kakak kelas yang pernah aku taksir selama beberapa tahun. Meski ternyata dia bukan orang yang ditakdirkan untuk jadi life partner-ku di masa depan, tapi aku nggak menyesal pernah memendam rasa sama dia selama bertahun-tahun. I feel enough just by loving him silently. Itu adalah skenario terindah yang pernah Tuhan tulis dalam dua puluh empat tahun aku hidup.

Seharusnya aku nggak berprasangka buruk pada Tuhan. Aku sering iri dengan kehidupan orang lain yang aku rasa begitu bahagia. Tapi suatu hari seorang teman pernah bilang padaku, “Banyak orang di luar sana yang juga iri sama kamu”. Aku rasa dia benar. Aku mungkin iri dengan mereka yang hidup kaya raya, berpenampilan menarik, pandai berkomunikasi, dan punya banyak teman. Tapi aku lupa dengan mereka yang ada di bawahku. Aku nggak kaya raya, tapi kebutuhan hidupku tercukupi, sedangkan di luar sana masih banyak yang bahkan nggak mampu beli makanan meski hanya satu kali sehari. Aku mungkin bertubuh pendek dan nggak cantik, tapi tubuhku berfungsi sempurna, sementara di luar sana masih banyak orang-orang yang difabel dan berkebutuhan khusus. Aku memang nggak cukup pandai berkomunikasi, tapi aku bisa berkomunikasi secara langsung tanpa harus dengan bantuan alat atau bahasa isyarat. Aku juga punya sedikit teman, dan orangnya itu-itu aja, tapi mereka tulus menerima kurang dan lebihku, dan yang terpenting aku nggak sebatang kara. Lagipula mereka yang aku lihat bahagia belum tentu sebahagia yang terlihat kan? Mereka yang kaya raya mungkin aja sebenarnya kesepian, atau mungkin memiliki masalah hidup yang pelik. Seperti halnya salah satu vokalis favoritku, Chester Bennington. Ia kaya raya dan punya banyak penggemar. Tapi ironisnya ia justru merasa nggak bahagia dan memutuskan bunuh diri, padahal profesinya sendiri adalah sebagai seorang entertainer, penghibur, bikin orang bahagia. That’s it.

Seharusnya aku nggak berprasangka buruk pada Tuhan. Aku sering merasa bahwa aku udah cukup sering bersabar atas segala hal buruk yang menimpaku, tapi aku nggak kunjung menuai buah manis dari kesabaran yang Tuhan janjikan. Kini aku sadar bahwa mungkin aku belum mengiringi kesabaranku dengan rasa ikhlas. Selain itu, mungkin Tuhan ingin agar aku terus mendekatkan diri pada-Nya.

Sebagaimana sebuah ayat yang disebut berulang kali dalam Surat Ar-Rahman, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Aku seharusnya berterima kasih atas nikmat hidup yang Tuhan beri. Aku sadar aku nggak cukup baik. Aku takut dengan kematian. Seharusnya aku berterima kasih karena Tuhan masih memberiku nafas hingga hari ini, detik ini. Karena dengan begitu aku bisa berkesempatan untuk merubah diri menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Ia juga belum bosan mengingatkanku jika aku khilaf. Kurang sayang apa Tuhan padaku? Harusnya aku sadar itu.

This year must be one of the best years in my 20’s years life. I’m happy too much, hurt too much, cry too much, think too much, and learn too much. Hari ini aku berjanji, bahwa aku akan lebih menghargai hidupku dengan banyak bersyukur dan berprasangka baik pada Tuhan, karena aku percaya, Tuhan menyayangiku dengan cara-Nya :)
Minggu, 24 Juni 2018 0 komentar

A Day With Safira, Dzikri & Yuda

First of all aku mau mengucapkan happy wedding day buat teman SMA-ku Hary Sugiarto. Semoga jadi keluarga kecil yang rukun dan bahagia selalu. Aamiin yaa robbal alamiin.

Jadi ceritanya, hari ini aku dan Safira kondangan ke nikahan teman kami yang satu ini, dan perjalanannya tuh lumayan panjang. Well, awalnya sih hari ini kami berdua berencana meet up lagi sama Shinta. Tapi kemarin, Fira nge-WhatsApp aku kalo Hary mau nikah dan mengundang kami ke acara pernikahannya. Awalnya aku berniat datang dengan menumpang GrabBike dan ketemuan sama Fira disana (coz aku yakin kalo Fira bakal pergi dengan suaminya). Eh nggak taunya dia ngajak boncengan naik motornya, which means dia nggak bareng suaminya dan dia sendiri yang nyetir. Jadi ya udah deh, rencananya siang itu kami kondangan, sorenya baru lanjut meet up bareng Shinta.

Singkat cerita, aku dan Fira ketemuan di depan SMAN 3, Perumnas. Cukup lama juga aku menunggu dia disana, coz pas aku sampai di lokasi, dia baru berangkat. Ya aku maklum aja sih, soalnya dia bawa Dzikri, anaknya yang masih berumur empat tahun. Kasian kalo mereka yang nunggu. Dua puluh menit kemudian, Fira dan Dzikri muncul. Fira langsung mengomentari penampilanku yang katanya cewek banget (emangnya kemarin-kemarin aku keliatan macho apa ya?).

Setelah bersalaman dan berbasa-basi sebentar, kami pun berangkat. Aku yang duduk di jok belakang bertugas mengawasi Google Maps dan berkomunikasi sama Hary tentang lokasi hajatnya. Perjalanan berlangsung selama setengah jam, sebuah perjalanan terjauh yang pernah Fira lakukan dengan menyetir motor sendiri. Itupun alamatnya nggak langsung ketemu. Kami sempat nyasar ke suatu daerah, karena Hary salah memberi petunjuk. Harusnya belok kiri, malah belok kanan. Hahh.. Fira must be so tired. Kalo aku berani nyetir mah gantian deh. Tapi karena nggak bisa gantian nyetir, sebagai gantinya aku yang beli bensin dan jajanin Dzikri. Wkwkwk.. Di sisi lain aku bersyukur karena nggak jadi menumpang GrabBike. Karena kalo aku kondangan ke pernikahan Hary dengan menumpang GrabBike, bisa-bisa aku nyasar, dan nyasarnya bisa jadi lebih parah dari yang tadi.

Acara pernikahan berlangsung di sebuah rumah kecil di kawasan Cempaka, Plumbon, tepatnya di kediaman mempelai wanita. Hary sedang duduk sendirian di pelaminan ketika kami tiba.
"Mana pendampingnya, Har?" tanya Fira.
"Ini, di sebelah," katanya sambil tersenyum lebar dan menunjuk anak perempuan kecil di sudut pelaminan. Becanda. "Dia lagi ke dalam sebentar", katanya lagi. Kami manggut-manggut dan memberinya selamat, lalu menuju meja prasmanan untuk menikmati makan siang. Kami ngobrol-ngobrol sambil menikmati makanan selama beberapa lama, sekalian istirahat sejenak. Sebelum pulang, kami sempat berfoto bersama pengantin.

Waktu menunjukkan sekitar jam setengah tiga saat itu. Karena udah sore, acara meet up bareng Shinta jadi batal, karena Shinta nggak mau nantinya pulang malam (karena jalanan masih dalam kondisi arus balik, sehingga jalan dekat menuju rumah Shinta ditutup dan harus memutar). Sebagai gantinya, Fira mengajakku main ke kontrakannya di kawasan Gombol Gede. Namun sebelum itu, kami mampir ke minimarket dan beli bakso dulu di warung bakso yang nggak begitu jauh dari tempat tinggalnya.

Fira dan keluarga kecilnya tinggal di sebuah rumah kontrakan yang mereka sewa sebesar lima ratus ribu perbulan. Menurutku cukup murah untuk rumah dengan ruang tamu, dua buah kamar, satu kamar mandi, dan satu dapur. Dengan kata lain, bisa dibilang besar. Mungkin karena di kabupaten kali ya. Kalo di kota, susah nyari kontrakan dengan ruangan selengkap itu dengan harga segitu. Hari itu Doni, suami Fira sedang nggak ada di tempat. Sedang sibuk sebar undangan untuk Pilkada, katanya. Disana, sambil mengobrol, kami bertiga menikmati bakso bersama sambil minum es campur yang Safira pesan di tetangganya. We talked a lot. Safira bercerita tentang suka dukanya menjadi istri sekaligus ibu rumah tangga yang ternyata nggak bisa dibilang mudah. Her husband loves her and their little son so much, tapi ada aja orang yang nggak suka dan bikin beban pikiran. Well, that's life.

Aku juga suka menggoda Dzikri. Dia yang awal bertemu sangat pendiam, lama kelamaan nggak malu lagi buat tersenyum, bersuara, bahkan menggandeng tanganku. Asli, aku seneng deh kalo ada anak kecil yang deket sama aku kayak gitu. Rasanya langka aja. Wkwkwk.. Soalnya biasanya mereka takut. Tapi belakangan ini tampaknya aku nggak menakutkan lagi bagi mereka, entah kenapa. Haha.. ^^

Sekitar jam setengah lima sore, Yuda menghubungiku, bilang kalo dia mau main ke rumah. Karena saat itu aku masih di rumah Fira, aku bilang ke dia, "Ntar tak kabarin kalo udah balik".
Jam setengah tujuh, aku baru pulang. Aku diantar Fira, sekalian dia mau minta tolong transfer uang di ATM dan mau tau rumahku juga. Di perjalanan pulang, Yuda kirim WhatsApp, ngasih kabar kalo dia udah tiba di daerah rumahku. Aku menepuk jidat. Aku dan Safira baru tiba di kawasan Cipto waktu itu, which means masih jauh, ditambah lagi aku mau nemenin Fira dulu ke ATM. Nggak enak juga kan kalo aku minta Fira buat cepat-cepat. Jadi ya udah deh, biarin aja. Toh, salah Yuda sendiri kenapa nggak tunggu kabar dari aku, kan sebelumnya aku udah bilang ke dia kalo aku bakal nge-WhatsApp dia kalo aku udah di rumah. Wkwkwk..

Beres dari ATM (itupun transfer uangnya nggak jadi karena ada kendala di rekening Fira), kami melanjutkan perjalanan ke rumahku. Ketika masuk gang, kami terheran-heran melihat Yuda yang ternyataaaa dari tadi menunggu di mulut gang.
"Hey, kamu malah nunggu disini, bukannya langsung ke rumah", kataku. Dan dia cuma membalas dengan senyuman menyebalkan. Kami pun bersama-sama menuju rumahku. Sesampainya di rumah, setelah bersalaman, aku kembali bertanya kenapa Yuda lebih memilih menunggu di mulut gang ketimbang langsung ke rumah. Mana di situ kan gelap.
"Mending gitu, daripada langsung ke rumah kamu tapi bengong doang, nggak ngapa-ngapain", jawabnya.
Lah emang tadi di mulut gang dia nggak bengong? Malah serem, gelap-gelapan. Kalo orang yang nggak kenal dia liat dia disitu mungkin dikiranya dia lagi ngawasin rumah orang, mau maling. Haha..

Setelah mengantarku, Fira nggak langsung pulang. Kami ngobrol-ngobrol dulu bertiga di teras depan. Kenapa Fira kenal Yuda? Karena waktu SMP dulu kami bersekolah di sekolah yang sama, dan pernah satu kelas di kelas dua SMP. Jadi ya gitu deh, kami jadi kayak reuni kecil jadinya. Namun karena udah cukup malam, Fira pamit. Kasihan juga Dzikri udah agak mengantuk.
"Kapan-kapan Fira main kesini lagi ya. Rumah kamu enak deh," kata Fira sebelum pulang. Aku mengangguk. Why not? Meet up bareng Shinta disini pun boleh banget.

Tinggallah Yuda. Well, sebenarnya di awal puasa kemarin, kami sempat berencana buat meet up di minggu ketiga Ramadhan, sekalian buka puasa bareng. Tapi rupanya nggak sempat karena justru di minggu itu aku lagi padat-padatnya kegiatan, jadi kami baru bisa meet up hari ini. Kami mengobrol ringan tentang teman-teman SMP kami, tentang pekerjaannya, tentang kesibukan kami masing-masing.. Intinya hari ini minus obrolan tentang hal-hal di luar nalar yang biasa kami obrolin deh. Dia juga main di rumahku nggak lama sih. Sekitar jam sembilan malam dia pamit pulang. Kami sempat merencanakan reuni bareng teman-teman SMP yang lain. Tapi untuk yang satu itu, kami lihat sikon dulu, mengingat ngumpulin orang itu nggak gampang. Buat merencanakan acara buka puasa bareng teman-teman satu geng aja kadang susah, apalagi ngumpulin yang jauh lebih banyak.

Yah, that's all, Folks. See you next time :)
Senin, 18 Juni 2018 0 komentar

Last Holiday

And finally, it's the last day of my holiday. Besok aku udah harus kembali ngantor dan beraktifitas seperti biasanya. Anyway, sebelumnya aku mau mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1439H. Taqobalallahu minna wa minkum. Mohon maaf kalo ada kata-kata atau sikapku yang kurang berkenan, khususnya tulisanku yang mungkin menyinggung perasaan kamu. Semoga Idul Fitri menjadikan kita pribadi yang lebih baik, dan semoga kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bertemu bulan Ramadhan selanjutnya. Aamiin yaa robbal alamiin :)

Idul Fitri tahun ini aku rasa kurang berkesan. Aku yang berharap bisa mengikuti ibadah sholat Ied justru harus menerima kenyataan bahwa aku masih belum 'bersih' sehingga nggak bisa ikut orangtua dan adikku ke masjid pagi itu. Selain itu rasanya Idul Fitri tahun ini sepi banget. Mungkin karena banyak anggota dari keluarga besar yang nggak pulang ke Cirebon kali ya. Selebihnya, aku bersyukur karena di momen Idul Fitri aku kembali dipertemukan sama orang-orang yang sempat 'hilang', lalu kemudian muncul lagi untuk saling bermaafan. Salah satunya adalah teman masa kecilku yang dulu hitam dan kucel kayak anak ilang. Sekarang, setelah bertahun-tahun kami nggak bertemu, dia udah kayak artis, putih, ramping, dan terawat. Bahkan kabarnya sekarang dia pacaran sama oppa-oppa (tolong jangan salah-artikan sebagai lelaki renta yang udah bercucu). Memang sih setelah kami bersalam-salaman, kami nggak melanjutkan komunikasi lagi. Entahlah. Feel nya udah beda aja gitu. Teman-teman sepergaulannya kini udah sangat berbeda, begitupun dengan gaya hidupnya. Ibaratnya kami itu udah beda aliran. Waktu dulu, kami mungkin bisa sangat enjoy ngobrolin soal musik yang lagi ngehits di radio, ngobrolin tentang teman satu sekolah, atau tentang siapa naksir siapa. Tapi sekarang, obrolan yang menarik baginya mungkin seputar tempat-tempat nongkrong yang ngehits dan instagramable, gaya fashion terbaru atau tentang event-event yang asik buat seru-seruan dimana para cewek dan cowok dengan penampilan menarik berbaur menjadi satu, yang mana sangat bertolak belakang dengan obrolan yang biasa kami (aku dan teman-teman masa kecilnya yang lain) bahas. At least I'm glad to know that she still remember us :)

Siang harinya, seperti biasa, aku dan keluarga pergi ke rumah nenek di Perumnas. Dan yah, lagi-lagi kami nggak ketemu dengan beberapa orang anggota keluarga besar. Keluarga Wa Agus, tepatnya. Padahal aku kangen sama cerewetnya Azka, keponakanku yang masih berumur tiga tahun. Terakhir kami bertemu hari Minggu lalu, saat keluargaku menggelar acara buka puasa bersama. Aku ingat dia sempat ketakutan waktu nongkrong bareng Awan—suami Gege—di teras rumahku. Waktu itu Magrib, Azka mengaku melihat 'patung' dibalik pohon sawo yang tumbuh di pekarangan rumahku, padahal disana nggak ada patung. Spontan kami—para orang dewasa—antusias memberondongnya dengan pertanyaan : seperti apa wujudnya, pakai baju apa, bagaimana warna matanya, karena konon katanya anak balita mampu melihat dan merasakan apa yang nggak bisa dilihat dan dirasakan oleh orang dewasa. Errr.. Do you think he really saw ghost or something?

Di hari kedua Lebaran, aku, ibu dan adik kembali pergi ke rumah nenek. Kali ini lebih pagi, coz kami akan bersilaturahmi mengunjungi keluarga nenek di Kuningan, dan kalo nggak berangkat pagi-pagi, kami bisa terjebak macet. Tapi untungnya jalanan cukup lancar meski kami berangkat lebih siang dari yang direncanakan. Dari empat tempat tujuan kami, yang paling berkesan adalah saat kami berkunjung ke kediaman Mak Neng—adik kandung nenek—dan Abah Bening yang sebenarnya sederhana aja, tapi kami suka suasananya yang mengingatkan kami pada masa kecil.

Rumah Mak Neng dan Abah Bening terletak di kaki Gunung Ciremai. Waktu kelas tiga SD aku pernah berlibur selama beberapa hari disana bersama adik, sepupu-sepupu dan keluarga besar ibu. Selama disana, setiap hari kami mandi dengan air pegunungan yang hampir sedingin es. Setiap pagi, kami disambut pemandangan indah di seberang jalan menuju rumah : pematang sawah dan tentu aja, Gunung Ciremai yang menjulang gagah, yang nggak terlihat sejelas dan seindah itu di kota tempat kami tinggal. Di Cirebon, Ciremai terlihat biru, tapi dari tempat tinggal Mak Neng, gunung itu terlihat hijau. Kami bisa melihat rimbunnya pepohonan di atas sana dan jalannya yang berkelok-kelok. Terakhir kami main-main ke sawah disana adalah sekitar delapan tahun yang lalu. Waktu itu Almarhum Om Sukim masih hidup. Aku, adik, dan sepupu-sepupu iseng menjahili beliau. Awalnya kami cuma berniat melihat-lihat sawah, tapi sesampainya disana, kami meninggalkan beliau. Kami pergi ke tengah sawah melalui jalan-jalan setapak, nggak peduli dengan teriakan beliau yang menyuruh kami untuk kembali. Di tengah sawah, aku, adik, dan sepupu-sepupu kami berfoto bersama dengan kamera ponsel yang dulu nggak sebagus sekarang.

Kali ini kami nggak lagi mencuri kesempatan main ke sawah kayak dulu. Saat ini Gege sedang hamil lima bulan, bahaya juga kalo main-main ke sawah. Kami cukup menikmati pemandangan hijau dari pinggir jalan, meski Gunung Ciremai nggak terlihat karena tertutup awan, dan menikmati segarnya udara yang nggak sesejuk dulu, tapi juga nggak panas. Dan.. oh ya, sepupuku, Arul mengalami love at the first sight sama seorang cewek yang merupakan tetangga Mak Neng. Pertemuan mereka bisa dibilang cukup drama sih. Mereka saling tatap ketika si cewek lagi ngangkatin jemuran. Menggelikan, udah kayak adegan-adegan di FTV yang judulnya aneh-aneh itu. Kepentok Cinta di Tiang Jemuran, misalnya. Lalu dengan sangat pedenya, Arul nanya-nanya soal cewek itu sama Mak Neng, malah sempat titip salam segala. Tapi sepertinya si Arul ini nggak naksir sendirian sih, karena beberapa saat sebelum kami pulang, Bibi Elly mengaku melihat cewek itu mengintip dari jendela. Mengetahui hal itu, Arul cengar-cengir aja. "Sering-sering main kesini ah", katanya.

Hari Minggu-nya, aku jalan-jalan bareng Tri ke CSB Mall. Rencana awalnya sih sebenarnya cuma nganter Tri ke bank. Tapi setelah itu, kami memutuskan buat pergi jalan-jalan sebentar. Yah, sekedar mengusir penat, sekalian cari jajan. Disana kami cuma nongkrong di Foodlicious, makan crispy chicken dan kentang goreng sambil ngobrol-ngobrol. 

Daaan.. hari ini, aku menghabiskan hari libur terakhirku bersama adik dan dua teman masa kecil kami, Tri dan Dewi. Kami berkumpul di kediamanku selepas Magrib, lantas menumpang Gr*bC*r ke CSB Mall. Kenapa ke CSB Mall terus? Karena disana banyak tempat nongkrong yang enak. Muehehe..
Dan baru aja kami saling maaf-maafan berkat momen Lebaran kemarin, tapi sepanjang perjalanan menuju CSB Mall, kami udah bikin dosa lagi dengan ngetawain adikku yang di-bully sama Dewi. Bukan bully yang gimana-gimana sih. Jadi ceritanya adikku itu punya tahi lalat di atas bibir sebelah kirinya. Nah, tahi lalat itu jadi bahan ledekan. Waktu itu pemutar musik di mobil tengah memutar lagu Cinta Sejati-nya Bunga Citra Lestari, liriknya Dewi ganti dengan kalimat-kalimat ejekan. Aku nggak mau ngetawain, tapi lirik yang Dewi ciptakan secara spontan itu kelewat kreatif. But however, adikku kalem-kalem aja sih melihat kami ketawa-ketawa. Well, dia memang udah terbiasa digituin, dan dia tau kami cuma bercanda.

Sesampainya di CSB Mall, Tri minta antar ke toilet untuk beresin kerudung. Jadi, aku dan Dewi antar dia dulu deh, sementara adikku menunggu di luar. Aaaannd.. lagi-lagi hal absurd terjadi. Kami bertiga menelusuri lorong menuju toilet. Dengan bersenandung ria, Dewi berjalan paling depan dan masuk ke salah satu pintu, sebelum akhirnya kami menyadari bahwa dia masuk toilet cowok. Sedetik kemudian, Dewi berbalik dan ngibrit keluar lorong, nggak balik-balik lagi. Aku dan Tri yang melihat insiden itu ketawa sejadi-jadinya. Tri bahkan sampai terjongkok-jongkok, bikin semua mata pengunjung toilet tertuju padanya. Hmm.. mungkin Si Dewi ini kurang Aqua, atau mungkin insiden yang terjadi itu merupakan bentuk dari doa adikku yang teraniaya, langsung diijabah sama Allah. Dengan kata lain, Dewi kualat. Wkwk..

Setelah mengantar Tri ke toilet, kami berempat naik ke lantai tiga. Kami berencana makan di Tea House, tapi ternyata tempatnya penuh, jadi kami terpaksa harus menunggu. Sambil menunggu meja kosong, aku mengantar Tri beli tteokbokki dan crispy chicken di Holdak. Nggak menunggu waktu begitu lama, kami akhirnya mendapat meja kosong di Tea House. Tempatnya cukup nyaman. Kami mengobrol, bercanda, dan berfoto-foto di sela-sela makan. Disini untuk kesekian kalinya kami tertawa karena suatu hal. Waktu itu kami sedang asyik ngobrol, aku lupa ngobrolin apa. Tiba-tiba, Tri cengengesan sendiri. Karena nggak menemukan ada yang lucu, kami pun bertanya sama dia, kenapa tiba-tiba ketawa sendiri.
"Coba lihat orang di belakang Teteh", bisiknya. Kami pun celingukan, mencari orang yang dia maksud.
"Mana sih? Arah jam berapa?" tanya Dewi.
"Oh.." tiba-tiba adikku menggumam dan langsung cengengesan. "Itu lho, bapak yang ketutupan pilar".
Kami sontak melihat ke arahnya, dan langsung mengerti apa yang ditertawakan Tri tadi : belahan tubuh bagian belakang *you know what I mean, right?Jadi bapak itu nggak sadar kalo bagian bawah kaosnya tersingkap dan celananya agak melorot saat ia duduk sehingga menampilkan aurat.
"Mata kamu punya auto-focus ya?" ledekku. Tri ketawa-ketawa aja. Nggak lama setelah itu, kami pun beranjak dari sana.

Dari Tea House, kami nggak langsung pulang sih, tapi sempat lihat-lihat aksesoris cewek dan aksesoris handphone dulu. Dari situ, Dewi membeli ikat rambut, sedangkan aku membeli tempered glass buat hapeku. Habis itu, baru deh kami pulang.

Haaaaahh.. I was soooo happy today. Hope we can spend time together again next time. Di Tea House tadi kami sempat merencanakan refreshing ke Bandung bulan Juli mendatang, hanya aja belum fix sih. Mudah-mudahan aja bisa terlaksana. Aamiin.

Total Tayangan Halaman

 
;