Selasa, 25 September 2018 0 komentar

MusTanG's First Flight : To the Stage


Kamu tau ‘heartquake’? Kata itu tiba-tiba muncul di kepalaku saat memikirkan aksi panggung kami nanti. Awalnya kukira istilah itu hanya muncul dari kepalaku, tapi rupanya ketika aku iseng browsing di Google, kata itu cukup banyak bermunculan. Aku pribadi mendefinisikannyanya sebagai perasaan deg-degan dan gemetar, dan itulah yang aku rasakan. Beberapa waktu belakangan, aku banyak membaca artikel tentang cara mengatasi rasa cemas berlebihan, dan konon cokelat hitam bisa sedikit mengurangi perasaan itu (ditambah banyak berdzikir dan berdoa tentunya).

Sabtu, 15 September.

Sekitar jam tujuh pagi, aku dan Bu Fitri naik ke lantai lima untuk sarapan. Disana nggak ada rombongan kami, cuma Pak Yosep sendiri. Mungkin teman-teman masih bermalas-malasan di kamar. Aku dan Bu Fitri pun lantas mengambil makanan. Aku mengambil nasi goreng dalam porsi sedikit dan menyantapnya dengan malas. Tubuhku rasanya kurang fit. Bahu kiriku masih terasa sakit meski udah ditempel koyo yang kuminta dari Dhea. Sepertinya aku juga hampir terserang flu, ditambah hati yang deg-degan dan perasaan nervous, rasanya semakin memperburuk keadaan.

Aku dan Bu Fitri pun ngobrol-ngobrol sambil sarapan, tentang suaminya yang juga ternyata bermain musik, juga tentang minimnya tempat wisata di Pekanbaru.
“Orang sini kalo mau refreshing ya larinya ke Sumbar. Disana banyak sekali tempat wisata. Kalo disini sedikit sekali. Paling-paling cuma Alam Mayang dan tempat konservasi gajah itu”, tuturnya. Yah, kurang lebih Pekanbaru ini nggak beda jauh sama Cirebon lah. Di Cirebon juga tempat wisatanya sedikit. Sebaliknya, café dan hotel justru menjamur. Yah, memang nggak cuma ada satu dua tempat wisata sih. Pekanbaru pun aku yakin sebenarnya memiliki beberapa tempat wisata lain, hanya aja mungkin dua tempat itu yang paling terkenal. Seperti di Cirebon misalnya, Goa Sunyaragi, Keraton, dan Cirebon Waterland adalah yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Kalo mau yang lebih banyak, kita bisa bergeser agak jauh ke Kuningan. Disana banyak tempat-tempat yang bisa banget buat refreshing, karena nggak hanya pemandangannya yang memanjakan mata, tapi juga udaranya yang sejuk.

Ketika kami tengah asik mengobrol, Pak Yosep bergabung ke meja kami. Mungkin bosan karena duduk sendirian dari tadi.
“Kok makannya gitu doang?” tanya beliau sambil menyeret kursi ke meja kami. Aku hanya tersenyum.
“Sebentar, saya ambilkan yang enak.”
Kemudian beliau berlalu sebentar dan kembali dengan membawakan kami teh manis hangat dan agar-agar. Duh, kok ada Presiden Direktur kayak gini :’))
“Terima kasih, Pak”, ucapku. Beliau pun duduk di sebelah kami.
“Putri ini kayak anak saya, makannya susah, makanya badannya kecil”, kata beliau. Aku nyengir.
“Yosi susah makan juga, Pak?” tanya Bu Fitri, bertanyatentanganak Pak Yosep.
“Iya, sayur nggak suka, buah nggak suka. Maunya makan ayam terus.”
“Tapi kalo buah sih saya suka, Pak”, kataku.
“Makanya disini Putri saya kasih makan terus.”
“Iya nih. Kayaknya pulang dari sini berat saya nambah, Pak”.
Beliau pun terkekeh. Kemudian selanjutnya kami membicarakan tentang acara yang nanti digelar. Beliau juga sempat memberiku sedikit arahan untuk penampilan MusTanG nanti.

Singkat cerita, setelah sarapan aku dan Bu Fitri kembali ke kamar untuk berkemas sambil melanjutkan nonton film Disney (kami sama-sama suka film Disney. Wkwk..). Teman-teman menitipkan barang-barangnya di kamar kami, karena pagi itu juga kami check-out dari CitiSmart. Lucunya mereka sempat salah mengetuk pintu kamar dan baru ‘ngeh’ saat mereka melihat Bu Fitri keluar dari kamar kami yang berada beberapa meter dari kamar yang mereka ketuk.
“Pantesan aja diketuk nggak ada yang nyahut, ternyata salah ngetuk kamar”, kata Mas Febri sambil ketawa-ketawa.
“Untung nggak ada orangnya. Kalo ada yang keluar, malu juga”, sambung Pak Faisal.
Setelah barang-barang kami terkumpul di kamar, kami pun check-out dari situ. Barang-barang yang dikumpulkan di kamar itu nantinya akan dijemput oleh sopir Pak Yosep untuk kemudian dipindahkan ke penginapan kami yang selanjutnya, sementara kami bergegas menuju Alam Mayang.

Waktu itu sekitar jam sembilan pagi, kami tiba di Alam Mayang. Kali ini aku dan teman-teman menyempatkan diri untuk berfoto di depan patung batu.
“Mumpung penampilannya masih belum berantakan,” kata Mas Febri.
Sayangnya aku lupa berfoto dengan gaya andalanku (memunggungi fotografer atau buang muka ke samping, buat aku upload ke sosmed. Wkwk..), atau berfoto berlima dengan teman-teman MusTanG sambil bergaya ala cover album (pasang muka tanpa ekspresi, atau mimik blagu sok keren. Haha..).
Ternyataaa.. panggung dan area tempat duduk penonton itu udah di-booking khusus untuk kami doang (karyawan perusahaan dan para undangan yang diundang ke acara itu), dalam artian nggak diperuntukkan bagi pengunjung Alam Mayang yang lain. Mengetahui hal itu, aku jadi merasa sedikit lega karena itu artinya yang menonton kami nantinya nggak sebanyak yang aku khawatirkan. Hahahaha..Tapi bukan berarti rasa gugupku menghilang. Baru menginjakkan kaki di lokasi acara aja aku udah kebelet pipis.
“Toilet disini dimana ya, Bang?” tanyaku pada seorang karyawan kantor cabang.
“Disana..” jawabnya sambil menunjuk sebuah mushola. Setelah mengucapkan terima kasih, aku segera menuju ke lokasi yang ditunjuk tadi. Agak seram juga sih toiletnya. Bukan seram yang gimana-gimana ya, tapi pintunya itu lho, cuma setengah. Ngeri aja kalo ada yang ngintip. Oh ya, di toiletnya terdapat tulisan ‘Dilarang Berwudhu di Toilet’, sesuatu yang baru kutemukan di toilet-toilet umum. Benar juga sih, memang nggak sepatutnya toilet itu dijadikan tempat berwudhu, karena dikhawatirkan ada najis yang nyiprat sehingga bikin wudhu jadi nggak sah.

Setelah dari toilet, aku langsung bergabung bersama teman-temanku yang saat itu udah mengambil posisi untuk check-sound. Sementara mereka check-sound, aku pergi ke belakang panggung untuk menaruh tas. Disana ada perempuan bersuara cempreng yang kemarin menyapa kami dengan riang itu.
“Titip tas disini ya”, ucapku.
“Boleh, taruh aja”, katanya. Kemudian aku duduk di sebelahnya.
“Jadi MC, Kak?” tanyaku kemudian, berbasa-basi.
“Iya. Eh, Putri kelahiran tahun berapa?”
“1994”.
“Ah, seumuran. Panggil nama aja”.
“Kakak namanya siapa? Lupa. Hehehe..” tanyaku sedikit nggak enak, karena dia sendiri ingat namaku.
“Panggil aja Ola”, jawabnya. Aku manggut-manggut.
“Ola jadi MC sendiri?” tanyaku lagi.
“Berdua sih, sama yang dari Kerinci. Tapi orangnya belum datang”.

Selesai check-sound, aku dan teman-teman MusTanG sempat duduk-duduk di area café yang terletak bersebelahan dengan area stage.
“Putri kepikiran ya?” celetuk Mas Febri.
“Hah?”
“Keliatan dari mukanya, pasti kepikiran. Nervous. Tenang, Put, tenang..” kata Mas Febri sambil ketawa. Mendengar itu, teman-teman yang lain ikut meledekku.
“Mangats!” ucapku hambar sambil mengacungkan kepal dan nyengir getir. You won’t understand what I feel, Guys *mewek dalam hati*

Beberapa lama kemudian, acara pun dimulai. Karyawan di kantor cabang Pekanbaru nggak sebanyak karyawan di kantor cabang Cirebon, jadi mereka diperbolehkan membawa keluarga untuk memeriahkan acara. Itupun masih belum bisa dibilang banyak. Kurang dari seratus orang. Acara dibuka dengan pelaksanaan ceremonial sebagaimana yang biasa kami lakukan setiap kali menggelar acara, seperti pembacaan doa, pembacaan visi dan misi perusahaan, menyanyikan lagu mars perusahaan dll, setelah itu disambung dengan kata-kata sambutan dari keyperson dan perwakilan undangan. Pak Faisal yang diberi kesempatan untuk memberi kata-kata sambutan nggak lupa untuk memperkenalkan kami, MusTanG Band. Well, aku belum cerita ya kalo sebenarnya nama band kami udah ganti, meski masih ada embel-embel ‘MUST’ nya. Tapi karena aku lebih suka nama yang lama, jadi ya sebut aja demikian. Wkwkwk..
“Lihat langitnya deh..” bisikku pada Mister Chokai. Cuaca berubah mendung saat acara ceremonial berlangsung. Diam-diam aku bersyukur juga, karena hawanya jadi nggak panas-panas banget.
“Gapapa. Pas banget nih nanti kalo kita bawain lagu Hujan”, katanya menyebut salah satu lagu yang memang udah kami persiapkan. Anyway, kami mempersiapkan kurang lebih tiga puluh lima lagu. Yah, hanya sebatas persiapan, karena nggak mungkin lagu-lagu itu dibawakan semuanya.

Waktu terus berlalu, dan tibalah waktu makan siang. Setelah menerima nasi kotak dari Seksi Konsumsi acara, aku dan teman-teman MusTanG (nggak termasuk Dhea) berkumpul di sebuah saung. Aku yang menerima nasi kotak dengan lauk ayam goreng dan Ryan yang menerima nasi kotak dengan lauk ikan sempat bertukar kotak, karena aku bosan makan ayam dan Ryan nggak suka ikan. Wkwk..

Oh ya, di tempat ini juga banyak kucing liar. Sayangnya kucing-kucing itu nggak cukup jinak. Ketika aku menyodorkan secuil daging ikan pada salah satu dari mereka, kucing itu langsung menyambar dengan salah satu kaki depannya, sehingga kukunya yang tajam menusuk jariku. Padahal kukira sikap mereka bakal semanis kucing yang kulihat di bandara waktu itu.
“Mas, ada korek?” tanya Mas Win pada salah satu karyawan cowok yang lewat di depan kami. Well, diantara kami berlima, cuma Mas Win yang smoker.
“Adanya ini, Bang”, jawab cowok itu sambil mengacungkan sebuah pemantik api gas.
“Ya itu korek kan?”
“Bukan, Bang. Kalo korek itu yang dari batang kayu”.
“Nah, kalo ini apa namanya?”
Mancis, Bang”, jawab cowok itu.
Dan sejak saat tampaknya obrolan tentang perbedaan nama ini cukup berkesan bagi mereka, karena sekembalinya dari Alam Mayang mereka sempat ngobrolin itu lagi, dan beberapa kata dari bahasa Minang yang mereka dengar selama disana.

Setelah makan siang, aku dan teman-teman MusTanG pun mengganti pakaian kami dengan kaos seragam band kami. Dan.. SHOW TIME!!

“ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH!!” seruku pada penonton.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”, jawab mereka serempak.
“APA KABAR??”
“Baiiiiikk..”
“Masih kurang semangat. APA KABAR??”
“Baiiiiiikkkk..”
“Siap seru-seruan bareng ya!”
Hari itu penampilan kami dibuka dengan lagu Bendera milik Cokelat. Aku bersyukur karena kali ini aku nggak sampai lupa lirik kayak waktu check-sound sehari sebelumnya. Tapiya tetap aja, waktu itu rasanya jantungku mau loncat sehingga ketika berkomunikasi dengan penonton, aku beberapa kali salah ucap. Tapi untunglah ketika menyampaikan ucapan terima kasih, aku bisa menyampaikannya dengan lancar.
“Pertama-tama, kami berterima kasih kepada teman-teman dari ******* Riau, khususnya kepada Pak Yosep yang telah mengundang kami jauh-jauh dari Cirebon. Benar-benar suatu kehormatan bagi kami untuk bisa tampil disini”, ucapku, “Dan tentunya kami juga mengucapkan selamat ulang tahun kepada******* Riau, semoga selalu jaya, profitnya semakin meningkat, dan gaji karyawannya pun meningkat! Betul, Pak?” Aku melirik Pak Yosep yang tersenyum lebar di tengah para penonton.

Selanjutnya, giliran Dhea yang tampil membawakan lagu Kangen milik Dewa 19. Seperti biasa, meski ia mengaku nervoustapi ia tampak percaya diri dan lebih mampu ‘membawa’ penonton. Jelas, da dia mah urat malunya udah putus kali, ditambah ini bukan pertama kalinya ia berada di Pekanbaru. Mungkin seluruh karyawan kantor cabang sana juga udah bosan kali ketemu dia. Wkwk..
Setelah itu, kami membawakan lagu berjudul Tua Tua Keladi. Kali ini aku berduet bersama Dhea.
“Siapa yang masih… eh, udah tua tapi masih kecentilan?” saking nervous-nya, lagi-lagi aku salah ucap. Tapi melihat beberapa orang yang ikut bernyanyi dan menggerakkan badannya mengikuti lagu, rasanya menyenangkan banget. Walau hanya segelintir orang, tapi hal itu cukup membesarkan hatiku. Aku jadi paham bahwa respon audience itu berarti banget buat para performer.

Saat break, Mister Chokai ngomel-ngomel padaku.
“Put, kamu kok tadi nyanyinya langsung masuk Reff sih?”
“Iya, harusnya sebelum Reff tadi masih ada satu bait”, Ryan ikut menyambung.
“Hah? Yang mana?” tanyaku heran, karena sepanjang bernyanyi tadi aku nggak merasa ada yang salah.
“Yang sebelum Reff, itu harusnya jadi bagian Dhea, tapi kamu malah langsung ke Reff.”
Aku masih berusaha mengingat-ngingat. Tapi kalo ada lebih dari satu orang yang bilang gitu, berarti aku memang salah.
“Makanya kalo nyanyi tuh yang tenang, jangan buru-buru, jangan nervous! Santai aja”, ujar Mister Chokai lagi. Aku bersungut-sungut dalam hati. Ini udah mati-matian berusaha tenang lhooo.. Siapa juga yang kepengen nervous coba?  :’(

Lagu keempat, kelima..aku masih berusaha melawan rasa gugup, sehingga sempat blank di salah satu baris lagu It’s My Life milik Bon Jovi. Sungguh, perihal menghafal lagu itu mudah. Aku sebenarnya bisa menyanyikan lagu itu tanpa teks. Tapi jika diserang rasa gugup luar biasa, apapun yang udah di luar kepala rasanya buyar. Untuk menyamarkannya, aku menyodorkan mikrofonku pada penonton seolah-olah meminta mereka untuk bernyanyi. Tapi Alhamdulillah, beberapa waktu setelah itu, rasa gugupku berangsur-angsur menghilang. Dan ajaibnya, sakit di bahuku juga ikut hilang. Wkwk..

Hari itu aku membawakan sepuluh lagu, nggak termasuk lagu ‘Happy Birthday’ yang dibawakan saat acara tiup lilin dan 'We Are The Champion’ yang dibawakan saat pengumuman pemenang hadiah utama. Saat menyanyikan lagu Pergilah Kasih yang di-cover D’Masiv, aku mengajak Ola untuk berduet, karena sejak awal acara ia bilang bahwa ia ingin duet denganku membawakan lagu Jika Cinta Dia-nya Geisha. Tapi sayangnya hari itu, lagu itu nggak kami bawakan.


Oh ya, aku dan teman-teman MusTanG juga berkesempatan buat ikut undian door prize lho. Tapi rupanya diantara kami dan Pak Faisal, hanya Ryan dan Mas Win yang ketiban rejeki nomplok. Ryan mendapat hadiah lemari hias, dan Mas Win mendapatkan hadiah dispenser. Sementara yang lainnya mendapatkan hadiah door prize yang kecil-kecil. Pak Faisal mendapat kotak plastik (semacam Tupperware) kecil, Dhea mendapatkan kemoceng, Mas Febri mendapatkan gayung kecil, Mister Chokai entah dapat apa aku lupa, sedangkan aku sendiri mendapatkan steker T tiga lubang. Lumayan lah, buat jaga-jaga kalo butuh banyak colokan. Wkwkwk..
“Lemari bawanya gimana ya?” Ryan bingung sendiri. Kami ketawa-ketawa aja. Yakali bawa-bawa lemari ke pesawat.
“Udah, ntar dilelang aja sama karyawan sini. Pasti banyak yang mau”, kata Dhea. Ryan pun setuju

Singkat cerita, acara pun selesai. Waktu itu sekitar jam lima sore. Kami berfoto dan bareng dengan seluruh karyawan kantor cabang Pekanbaru, dan beberapa orang yang mengajak aku dan teman-teman MusTanG untuk berfoto bareng. Begitu juga dengan Bu Fitri yang meminta untuk difotokan berdua denganku. Sejenak kami merasa seperti artis dadakan. Wkwkwk..
“Terima kasih ya. Kapan-kapan kesini lagi”, ucap seorang karyawan sambil menyalami kami. Seneng banget dengarnya ^^

Sebelum meninggalkan Alam Mayang, aku dan teman-teman sempat menonton performance sebuah band yang main setelah acara kemarin (band yang sama yang main sebelum kami check-sound sehari sebelumnya). Band ini keren deh. Suara vokalis ceweknya memukau. Mister Chokai aja sampai mengajukan buat duet bareng. Dan kami semakin terpukau ketika vokalis cowoknya yang bertubuh gempal perform. Daaaaaamnnn.. suaranya melengking banget! Ia mampu membawakan lagu-lagu dengan nada tinggi seperti Sweet Child O’ Mine dan She’s Gone dengan saaaangat epic. Benar rupanya bahwa mostly penyanyi Sumatra itu range suaranya tinggi. Keren. Kereeeen banget. Nggak ada diantara kami yang nggak terkagum-kagum dengan performance-nya. Aku aja sampai megap-megap saking kagumnya. Dengar-dengar sih dia ini seorang polisi juga. Duh, keren banget sih, Udaaaa :’))

Dhea sedang lipsync dengan latar belakang lagu She's Gone

Sekitar jam setengah enam sore, kami keluar dari Alam Mayang dan langsung check-in di Hotel Pangeran. Berbeda dengan dua hotel tempat kami menginap sebelumnya, hotel ini letaknya sangat strategis karena berdiri di pusat kota. Di hotel ini, aku tidur sekamar dengan Dhea dan Mbak Eka—Sekretaris Kantor Pusat. Tempatnya nyaman banget. Sayang, letak kamar kami kurang strategis, sehingga ketika kami membuka tirai jendela, yang kami lihat bukanlah pemandangan kota ataupun pemandangan kolam renang seperti yang kami harapkan, melainkan atap bangunan. Wkwkwk..


Setelah beristirahat sejenak, aku, Dhea, dan Mbak Eka turun ke area kolam renang. Aku cuma nemenin mereka aja waktu itu. Sebenarnya aku juga kepingin ikut renang sih, hanya aja saat itu aku merasa badanku agak meriang. Jadi ya aku cuma duduk-duduk aja di tepi kolam bareng Pak Faisal, Pak Yosep, dan Ryan yang waktu itu juga nggak ikut berenang. Waktu itu Pak Yosep iseng banget ngerjain ‘anak-anaknya’ yang nggak renang. Mister Chokai yang nggak berniat nyebur ke kolam beliau dorong. Dan karena udah terlanjur basah, akhirnya Mister Chokai malah jadi ngajarin Mbak Eka renang. Aku juga hampir aja jadi korban keisengan Pak Yosep. Kursi plastik tempatku duduk udah siap beliau angkat, tapi aku bilang kalo aku nggak enak badan. Begitu juga dengan Ryan yang sibuk dengan hapenya.
“Ryan, saya pinjam hapenya, Yan. Hape saya lowbat, saya mau nelpon penting”, ucap Pak Yosep bohong, padahal sengaja biar Ryan lepas dari hapenya dan bisa beliau ceburin ke kolam.
“Jangan ah, Pak. Ini ‘senjata’ saya”, jawab Ryan yang rupanya udah ngerti akal-akalannya Pak Yosep. Wkwk..

Dhea berbaring tengkurap di bagian pembatas kolam sambil menopang kepalanya dengan satu tangan.
“Berasa jadi mermaid ya?” seruku pada Dhea.
“Iya, gua lagi jadi mermaid nih”, katanya sambil ketawa.
“Difoto, Put, kirim ke grup MusTanG,” bisik Pak Faisal padaku.
Aku memotretnya, tapi kualitas gambarnya kurang bagus. Akhirnya Pak Faisal yang iseng memotretnya dan mengirimkannya ke grup. Dan bukannya disebut mermaid, Dhea malah habis diledekin. ‘Paus terdampar’. Tapi memang dasar urat malunya udah putus, dia girang-girang aja diledekin gitu.

Setelah berenang, kami kembali ke kamar. Aku mempersilahkan Dhea dan Mbak Eka yang habis berenang untuk mandi duluan. Sementara sambil menunggu mereka, aku melanjutkan membaca buku Garis Waktu. Sebenarnya dalam keadaan badan meriang, rasanya malas banget buat mandi. Apalagi di kamar hotel itu, hawa dingin AC juga sangat terasa di kamar mandi, sehingga ketika melepas pakaian, rasa dingin langsung menusuk kulit. Hanya aja badanku terasa lengket karena keringat. Pekanbaru rupanya lebih panas dibanding kota kami. Kalo aku tinggal disini, mungkin aku bisa mandi tiga kali sehari. Wkwk.. Benar aja, ketika air mulai membasahi punggungku, rasanya badanku semakin nggak enak. Aku mulai merasa nyaman ketika suhu air berangsur-angsur menghangat, membuatku jadi ingin berlama-lama. Tapi begitu mematikan shower, rasa dingin kembali menjalari tubuh. Samarasa banget deh pokoknya.

Sekitar jam setengah sembilan malam, kami semua keluar hotel untuk dinner. Malam itu Pak Yosep mengajak kami makan di Warung Era 51 di Jalan Kaharuddin Nasution. Kami duduk berhadap-hadapan didepan sebuah meja panjang.
“Ayo, ayo, mau pesan apa?” Pak Yosep menyodorkan daftar menu. Sebelum melihat daftar menu, aku sempat mengira bahwa rumah makan itu adalah rumah makan masakan Minang, tapi ternyata bukan, meski ada juga menu dendeng disana. Ketika melihat daftar menu, aku langsung tertarik pada satu makanan yang paling aku suka : sate. Aku pun memesan seporsi sate, sup, dan segelas es jeruk. Dan rupanya kebanyakan dari kami juga memesan sate dan sup. Sambil menunggu hidangan tersaji, kami mencemil beberapa bungkus makaroni yang memang udah tersedia di atas meja.

Beberapa lama kemudian, pelayan mulai menata pesanan kami di atas meja. Kami yang baru makan di rumah makan itu memperhatikan sate yang kami pesan. Seporsi sate terdiri dari enam tusuk yang masing-masing berisi tiga daging dengan potongan yang cukup besar, disajikan di atas piring berwarna oranye, lengkap dengan potongan mentimun dan tomat.
“Ini sate rusa,” kata Pak Yosep. Kami pun surprised, nggak terkecuali aku yang semula mengira bahwa sate yang kupesan terbuat dari daging ayam atau kambing. Mula-mula aku mencoba mencium aromanya yang ternyata nggak berbeda jauh dengan sate-sate pada umumnya. Lalu aku menuangkan bumbu di dalam sebuah mangkuk kecil ke atas sate, dan mulai menyantap. Awalnya kukira sate rusa itu alot seperti sate kambing, tapi rupanya enggak lho. Meski bertekstur padat, tapi dagingnya benar-benar lembut dan empuk. Yah mungkin tergantung cara pengolahannya juga kali ya, entahlah. Rasa sate rusa ini agak manis. Mungkin karena mereka menggunakan kecap manis sebagai bumbunya. Dan memesan sup sebagai pendamping makan sate ini adalah pilihan yang ternyata sangat tepat, karena rasa gurih dari sup ini bisa membuatnya jadi balance. Ah, mantap deh pokoknya.

Kenyang makan malam, kami pun kembali ke hotel. Tapi begitu tiba di halaman hotel, aku, Dhea, Mbak Eka, dan teman-teman MusTanG berubah pikiran. Malam itu malam Minggu, dan rasanya kurang afdol kalo kami nggak menikmati satnight di tempat yang jauh dari kota kelahiran kami itu. Akhirnya kami bertujuh pun kembali ‘ngebolang’, sementara kedua ‘bapak kami’ kembali ke hotel. Kami berjalan kaki menelusuri trotoar di Jalan Sudirman. Malam itu kami hangout di sebuah cafe yang sepertinya merupakan cafe yang cukup digemari oleh anak-anak muda Pekanbaru, karena tempatnya yang cukup ramai, padahal waktu menunjukkan sekitar pukul sepuluh malam. Karambia Cafe, namanya. Letaknya nggak begitu jauh dari Hotel Pangeran. Tempatnya lumayan nyaman dan instagramable. Selain itu, di tempat itu ada live music nya juga. Mula-mula Mister Chokai dan Dhea masuk duluan untuk memastikan apakah ada meja kosong untuk kami, dan syukurlah ada. Kami pun menempati sebuah meja panjang yang terletak di salah satu sudut cafe. Muat untuk kami bertujuh.
“Ingat cerita Pak Yosep tentang nasi dengan wadah batok kelapa? Nah, disini tempatnya,” tutur Dhea. Well, beberapa waktu lalu, Pak Yosep memang menceritakan sebuah cafe di Pekanbaru yang menyajikan hidangan unik dimana nasinya disajikan di dalam batok kelapa, dan beliau sempat berniat untuk mengajak kami mencobanya, juga teh talua—teh dengan campuran telur dan jeruk nipis khas Sumatera Barat. Tapi sepertinya beliau lupa. Tapi rasanya malam itu nggak mungkin bagi aku ataupun teman-teman untuk mencoba nasi dalam wadah batok kelapa itu, karena kami baru aja makan dan perut kami masih cukup penuh.

Akhirnya malam itu, kami memesan cemilan yang bisa kami makan bareng-bareng, yakni seporsi french fries dan seporsi chicken fingers. Untuk minumnya, awalnya aku memesan yoghurt stroberi, tapi karena yoghurt sedang kosong, aku menggantinya dengan strawberry milkshake.
“Saya ini aja deh...” ucap Mas Win sambil melihat buku menu, “Tebemelebebele”.
“HAH?” kami mengernyit, nggak ngerti Mas Win ngomong apa.
“Tebemelebebele,” ulang Mas Win.
“Apaan sih?” Kami pun serempak melihat menu minuman yang ditunjuk Mas Win di buku menu.
“Ya ampun..”
Kalian tau apa? Memang ada lho menu dengan nama itu. Tebe Melebe Bele. Kami ketawa-ketawa, bukan hanya karena namanya yang aneh, tapi lebih karena pengucapan Mas Win yang nggak tau kenapa kedengaran lucu, apalagi dia kan kalo ngomong ada sedikit medhok Jawa gitu.
“Tau nggak apa? Aku kira dia becanda lho ngomong gitu,” kata Mbak Eka sambil ketawa geli. Aku iseng browsing, cari tau apa itu Tebe Melebe Bele, tapi nggak ketemu.
“Kayaknya itu cuma satu-satunya disini deh”, kata Ryan. Aku manggut-manggut. Mungkin ya, dan sengaja dibuat aneh biar pengunjung cafe penasaran. Ketika pelayan menghampiri meja kami, Mas Win menanyakan apa itu Tebe Melebe Bele.
“Itu jeruk belanda dengan campuran soda”, jawab pelayan. Sayangnya kami lupa bertanya kenapa dinamakan aneh begitu. Tapi aku yakin sih kalo itu memang semacam strategi marketing, biar pengunjung penasaran. Namun meskipun begitu, Mas Win tetap memesan minuman tadi karena penasaran gimana rasanya jeruk belanda (yang ternyata setelah ia coba, dia bilang rasanya mirip jambu biji juga, nggak beda jauh sama terong belanda, tapi lebih asam), Mbak Eka juga memesan minuman yang sama, Dhea pesan Cadbury, Mas Febri pesan kopi vietnam, Ryan pesan mojito, dan Mister Chokai pesan melon squash.

Selanjutnya yaa begitulah.. Kami ngemil-ngemil, minum-minum (bukan mabok lho ya), dan foto-foto tentunya. Jujur, acara hangout malam itu bisa jadi menyenangkan buatku kalo aja badanku lebih fit, karena selama nongkrong di cafe itu, aku merasa benar-benar payah. Kepalaku sakit dan perutku perih, entah kenapa. Mas Win bilang kalo wajahku kelihatan pucat waktu itu, tapi aku meyakinkan mereka kalo aku gapapa. Well, sebenarnya aku benar-benar pengen cepat kembali ke hotel waktu itu, tapi aku nggak mau ngecewain mereka, karena aku yakin mereka pasti nggak mau kalo kesempatan mereka berada di pulau orang ini sia-sia cuma buat berdiam di hotel doang.

Kami baru kembali ke hotel ketika waktu menunjukkan sekitar jam setengah duabelas malam. Pak Yosep dan Pak Faisal rupanya belum kembali ke kamar mereka. Mereka tampak sedang berbincang-bincang berdua di tempat semacam cafe gitu di dekat lobby, ditemani lagu Minang mengalun mendayu-dayu. Pak Yosep melambai ke arah kami, mengajak bergabung, namun aku, Dhea, dan Mbak Eka memilih untuk kembali ke kamar. Entahlah keempat cowok itu. Aku sebenarnya mau aja bergabung bersama mereka, karena kalo soal mata, aku belum merasa ngantuk. Tapi masalahnya tubuhku udah nggak bisa diajak kompromi. Maka ketika kurebahkan tubuhku di kasur.. hahh.. nikmat, nikmat sekali rasanya.

Malam itu malam terakhir kami di Pekanbaru. Besoknya kami harus terbang lagi, kembali ke pulau kelahiran kami.

*Bersambung*
Jumat, 21 September 2018 0 komentar

MusTanG's First Flight : Berkenalan Dengan Kota Madani


Alhamdulillah, aku, Pak Faisal, dan teman-teman dari MusTanG tiba di Pekanbaru dengan selamat. Rasanya hampir nggak percaya bahwa akhirnya aku menjejakkan kedua kaki ini disana. Ini perjalanan terjauhku dalam dua puluh empat tahun aku hidup, dan mungkin juga perjalanan terjauh bagi beberapa orang lainnya dalam rombongan kami.

Well, cerita kali ini bakal cukup panjang.

***

Jum’at, 14 September.

Sekitar jam setengah delapan pagi, kami turun untuk sarapan. Aku nggak makan banyak. Cuma beberapa potong melon, sepiring omelet, dan seiris puding mangga. Perutku nggak karuan rasanya. Begah gitu. Makanya makan pun males banget. Aku nggak ingat kalo hari itu jadwal kami bakal sangat padat.

Pagi itu, aku dan teman-teman MusTanG mengenakan kaos seragam band kami, kecuali Dhea (dia mengaku kaosnya tertinggal). Setelah sarapan, kami check-out dari Hotel Amaris dan menuju kantor cabang Pekanbaru. Begitu keluar dari hotel, aku dan Pak Faisal dibuat tersenyum ketika melihat warna angkot di Pekanbaru yang rupanya sama dengan warna angkot di Cirebon, biru telur asin. Di kanan kiri jalan pun rupanya banyak toko dan rumah makan dengan nama yang Jawa banget. Jadi meskipun sedang berada di pulau orang, rasanya nggak jauh beda dengan di pulau Jawa. Dan rupanya bukan cuma aku yang merasakan itu, tapi juga teman-temanku yang lain. Ya iya lah ya.. Kayaknya meski berada di pulau lain, tapi selama itu masih di Indonesia, rasanya mungkin nggak akan jauh berbeda dengan berada di pulau sendiri. Kecuali kalo melancong ke luar negeri. Wah, kalo itu udah pasti bakal terasa banget bedanya.

Mobil kami meluncur membelah pusat kota. Sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan dengan arsitektur gedung-gedung pemerintahan Pekanbaru yang berdesain unik dan megah. Misalnya kantor Badan Perpustakaan dan Kearsipan, dan kantor Gubernur Riau.Fly-over nya pun diwarnai dengan warna biru dan emas, dan ada motifnya gitu. Cantik deh. Tata kotanya benar-benar mengagumkan. Dan satu lagi, meski merupakan ibukota, namun jalannya cukup bersih. Entah kami yang nggak melihat atau gimana, tapi kami nggak menemukan ada sampah menumpuk di pinggir jalan. Salut.

Akhirnya tiba juga lah kami di kantor cabang Pekanbaru yang terletak di kawasan jalan Tuanku Tambusai. Kami memasuki showroom depan, menyalami pramuniaga yang berjaga, lalu terus ke ruang selanjutnya. Di ruang itu kami bertemu tiga orang karyawan yang salah satunya menyambut kami dengan suara riang.
“Ah, ada artis! Ini nih vokalisnya. Ntar mau request ah”, celetuknya. Ia cewek berhijab, mungkin seumuran denganku. Wajahnya lumayan cantik, dan suaranya cempreng, cocok dengan tubuhnya yang mungil. Ia mengingatkanku pada Arafah Rianti, komika yang terkenal itu. Dari sikapnya, aku yakin dia adalah tipe orang yang mudah akrab dengan siapapun. Sejenak aku heran darimana dia tau aku vokalis, namun kemudian aku menyadari bahwa mungkin ia melihat dari kaos band yang aku dan teman-teman MusTanG kenakan.

Kemudian kami naik ke lantai dua. Disana, beberapa orang karyawan tampak tengah berjoget-joget mengikuti alunan musik dangdut di sebuah ruangan yang lebih lapang dari ruangan lainnya (semacam ruang pertemuan).

"Bukan satu kali kamu buat begini..
Bukan satu kali kamu bikin makan hati..
Kalau terus begini serong kanan cari lain lebih baik.."

Aku dan teman-teman berpandang-pandangan.
Jam kerja begini kok karyawan nyantai banget pada joget-joget di kantor?
Kemudian kami masuk ke ruang kerja Pak Yosep. Disana, kami ngobrol-ngobrol sebentar. Pak Yosep memperkenalkan kami pada Bu Leni, selaku HRD kantor cabang Pekanbaru. Beliau juga memberi kami multivitamin agar tubuh kami fit saat manggung nanti.

Bu Leni ini blasteran Jawa-Minang. Ibunya dari Jawa, dan bapaknya asal Solok. Hari itu beliau tampak cantik dan anggun dengan baju merah dan rok panjang beserta kerudung dengan warna senada. Tutur katanya halus dan sikapnya ramah. Beliau mengajak kami berkeliling kantor dan memperkenalkan kami pada seluruh karyawan disana. Aku tersenyum lega dan senang. Sambutan di kantor cabang Pekanbaru ini ramah banget, nggak beda jauh dengan waktu hari pertama aku bekerja di kantor cabang Cirebon. Itulah faktor yang bikin aku betah bekerja di perusahaan tempat bekerjaku yang sekarang. Orangnya ramah-ramah. Aku jadi merasa hangat.

Setelah berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lainnya, aku, Mas Win, Ryan, dan Mas Febri berkumpul di ruang Admin Marketing & Purchasing yang terletak di samping ruang pertemuan tadi. Dari situ kami bisa melihat aktifitas para karyawan—sales, lebih tepatnya—yang masih berjoget-joget dengan lagu yang sama.
“Ini memang tiap hari nyantai begini kerjanya, Kak?” tanyaku pada Admin Marketing yang saat itu tengah sibuk dengan komputernya, tapi masih ramah meladeni kami. Namanya Ana. Ia cantik, dan wajahnya mirip dengan Bu Hanny, Staff Akunting di kantor kami di Cirebon. Teman-teman MusTanG pun setuju dengan hal itu.
“Oh enggak. Ini karena besok ada acara aja. Mereka ini lagi bikin yel-yel”, jelasnya. Aku manggut-manggut. Selanjutnya, kami jadi asik memperhatikan para sales itu berjoget.
“Put, ntar jangan bilang-bilang ke yang lain ya kalo disini bikin yel-yelnya kayak gini. Nanti disana juga ikutan lagi, trus saya disuruh joget-joget kayak gini”, celetuk Ryan.
“Ya gapapa. Bagus malah, kreatif gitu,” kataku.

“Mas Win, ikutan, Mas Win!” seruku pada Mas Win yang fokus liatin orang joget. Padahal aku becanda doang. Eh, dia ngikutin, masa. Dengan pedenya gabung sama mereka dan bergerak mengikuti koreografi. Beberapa detik kemudian, aku tergoda untuk bergabung dengan mereka juga. Akuberdiri di sebelah Mas Win, dan mulai mengikuti gerakan mereka. Bodo amat gerakanku ngaco. Well,sebenarnya ini salah satu upayaku untuk mengakrabkan diri dengan mereka, biar pas manggung di hadapan mereka nanti aku nggak begitu canggung. Sementara aku, Mas Win, dan yang lainnya bergerak mengikuti alunan musik, Ryan merekam aksi kami dengan kamera hapenya.
“Hfff..capek juga ya”, kata Mas Win sambil berkacak pinggang setelah satu lagu selesai.
“Iya, padahal bentar doang”, sahutku. Kemudian kami kembali duduk dan memperhatikan aktifitas mereka.

Setelah itu, kami diajak duduk-duduk di ruang HRD yang dihuni oleh Bu Leni sendiri. Dari banyaknya ruangan di gedung itu, ruang inilah yang menurutku paling rapi dan nyaman. Disana kami disuguhi permen jahe kelapa yang katanya merupakan favorit orang Pekanbaru. Rasanya unik sih, tapi aku lebih suka permen jahe biasa ketimbang dengan campuran rasa kelapa. Beberapa lama kemudian, kami  pun pamit untuk check sound di lokasi dimana acara kantor cabang Pekanbaru akan digelar. Alam Mayang.

Setibanya di Alam Mayang, kami disambut oleh beberapa orang yang tengah duduk-duduk di area loket. Petugas ticketing mungkin? Entahlah.
“Kami mau check sound”, kata Pak Yosep pada mereka. Kemudian mereka mempersilahkan mobil kami masuk.
“Wah, besok-besok kalo kesini lagi bilang aja mau check sound gitu ya,” celetuk Ryan.
“Hahaha.. biar masuknya gratis ya”. Dianggapnya password apa gimana.

Alam Mayang merupakan salah satu (atau mungkin satu-satunya, mengingat minimnya tempat wisata di Pekanbaru) objek wisata di Pekanbaru yang memiliki konsep rekreasi di alam terbuka. Letaknya di pinggir kota, namun masih bisa dijangkau dengan kendaraan umum. Begitu melalui gerbang masuk, kami disambut oleh pemandangan beberapa patung batu yang menjadi ikon khas Alam Mayang. Namun kami nggak sempat berfoto-foto disana karena diburu waktu.


Mobil kami berhenti di depan sebuah panggung kecil yang terletak di depan sebuah kolam besar. Panggung itu nggak kosong, ada sebuah band yang sedang ‘main’ disitu. Setelah mereka menyelesaikan satu lagu, mereka pun turun dan mempersilahkan kami untuk melakukan check sound. Kami pun lantas mengambil posisi masing-masing. Mister Chokai dan Mas Win mencoba-coba gitar, Ryan mencoba-coba bass, dan Mas Febri mencoba-coba drum, kecuali aku yang malah asyik memotret mereka dan memperhatikan panggung yang ternyata lebih kecil dari yang aku bayangkan. Kemudian kami pun mencoba membawakan tiga buah lagu. Sialnya, belum juga manggung beneran, aku udah nervous sehingga sempat lupa lirik beberapa kali. Ampun deh :’)

Check-sound
Sekitar jam setengah dua belas, kami pun kembali ke mobil dan meninggalkan Alam Mayang. Dari situ, kami keliling-keliling mencari hotel untuk tempat kami menginap selanjutnya. Pengennya Pak Yosep sih cari hotel yang dekat-dekat situ, tapi sayangnya nggak ketemu. Karena udah mendekati waktu sholat Jum’at, akhirnya kami pun beralih untuk mencari masjid.

Singkat cerita, mobil kami berhenti di dekat salah satu masjid di Jalan Sekolah. Pak Yosep memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah bank yang saat itu tutup.
“Orang-orang Sumatra itu begini nih, kalo waktunya sholat, bank dan toko-toko ditutup. Nanti setelah waktu sholat, mereka baru buka lagi”, jelas Pak Yosep yang menambah penilaian positifku tentang kota ini. Pak Faisal, Mister Chokai, Mas Win, Ryan, dan Mas Febri pun bergegas menuju masjid, sementara aku dan Dhea tetap di mobil.

Sambil menunggu rekan-rekan yang sholat Jum’at, kami pun meninggalkan tempat itu untuk mencari rumah makan. Namun sebelum itu, Pak Yosep mengantar aku dan Dhea dulu ke pom bensin karena kami kebelet pipis. Di toilet pom bensin, aku menemukan bahwa airnya keruh. Aku hampir lupa bahwa Pekanbaru merupakan pusat pertambangan minyak, sehingga di kota ini, air yang jernih sulit ditemukan.

Setelah itu, baru deh kami mencari rumah makan. Aku dan Dhea terheran-heran ketika Pak Yosep membawa mobil kami  berbelok ke sebuah tempat yang bisa dibilang agak terpencil. Kanan kiri kebun, dan rumah penduduknya jarang-jarang.
“Mana ada rumah makan terkenal di tempat kayak gini, Pak”, kata Dhea. Aku sendiri sependapat dengannya. Rupanya Pak Yosep sendiri belum pernah kesitu. Beliau hanya mengikuti rekomendasi dari Bu Leni. Akhirnya setelah beberapa ratus meter mobil kami meluncur dari jalan besar, tampaklah sebuah bangunan sederhana dengan papan nama besar di atasnya bertuliskan “RM Racha” lengkap dengan gambar berbagai jenis masakan yang mungkin merupakan menu andalan mereka. Beberapa unit mobil dan motor terparkir di halaman depannya yang nggak bisa dibilang luas. Aku terbengong-bengong. Pemikiran aku dan Dhea jelas terpatahkan. Lingkungan di sekitarnya boleh sepi, tapi rumah makan itu bukan main ramainya. Pak Yosep dan Dhea lalu turun buat booking tempat.
“Saya perlu turun juga nggak nih?” tanyaku.
“Nggak usah, tunggu disini aja. Bentaran doang kok,” jawab Dhea sambil menutup pintu mobil dan berlalu kedalam rumah makan. Nggak berapa lama kemudian, mereka pun kembali.
“Nggak bisa booking,” kata Dhea sambil masuk ke dalam mobil.
“Jadi..?”
“Ya siapa cepat, dia dapat.”
“Jadi ntar kita makannya misah-misah dong ya.”
“Ya gitu deh..”

Kami pun kembali ke masjid tadi untuk menjemput rekan-rekan kami. Kami tiba tepat pada waktunya, sholat Jum’at udah selesai.
“Siang ini kita makan di rumah makan yang unik”, kata Pak Yosep setelah semuanya sempurna masuk ke dalam mobil.

Singkat cerita, mobil kami kembali berhenti di depan RM Racha. Kali ini Pak Yosep memarkirkan mobil kami disitu. Hal pertama yang membuat rumah makan ini unik adalah, kita harus melepas alas kaki saat masuk ke dalamnya. Di depan pintu masuk ada rak sepatu, kita tinggal masukkan aja alas kaki kita disitu. Hal unik kedua, disana nggak bisa booking tempat duduk, sehingga kalo rumah makan penuh ya pengunjung yang mau makan disitu harus rela menunggu. Dan kalo datangnya itu rombongan, maka harus rela makan berpencar-pencar, kecuali kalo rombongan kita datangnya berbarengan dengan bubarnya rombongan pengunjung lain yang makan dalam satu meja. Tapi ini kayaknya jarang terjadi sih.

Rombongan kami pun mengantre untuk mengambil makanan. FYI, menunya buanyaaaaak banget, dan kita dipersilahkan untuk mengambil sendiri nasi dan lauknya, seperti prasmanan pada hajatan. Kalo nggak biasa makan di rumah makan Minang, pasti bingung deh mau ambil apa. Aku contohnya. Wkwkwk.. Alhasil aku hanya mengambil telur dan sup daging sapi. Hanya aja, aku nggak tau kalo sup daging sapi itu ngambilnya harus satu porsi gitu. Waktu lagi menyendokkan sup itu ke piring, tiba-tiba abang pelayannya nyerobot dan bilang kalo sup itu dihitung satu porsi. Ia lantas mengambilkan sup itu kedalam satu mangkuk, dan rupanya itu lumayan banyak, bisa buat tiga orang. Tadinya niatnya sup itu mau dimakan barengan bareng Mas Febri dan Ryan, coz mereka juga sempat mau ambil sup itu. Eh nggak taunya, kami malah berpencar. Mereka udah dapat tempat, sementara aku dan Dhea masih bingung mau makan dimana karena hampir semua tempat udah terisi. Syukurlah, akhirnya kami dapat tempat kosong di sebelah Pak Faisal. Alhasil, aku harus menghabiskan sup itu sendirian. Haaah.. aku rasa rumah makan itu butuh memperbesar tempat mereka. Ini pertama kalinya aku makan di rumah makan dan dibikin bingung sama tempat, sampai muter-muter gitu cari meja dan kursi kosong. Daaaan.. satu lagi minusnya adalah, pengunjung diperbolehkan merokok di dalam ruangan. Itu sungguh mengurangi kenyamanan. Tapi positifnya, masakan disana enak-enak, dan nasinya nggak ‘berderai’ seperti kebanyakan nasi di wilayah Sumatra. Harganya pun muraaaaaahhh banget, dan minumnya gratis dengan dua pilihan minuman, yakni es teh manis dan es mentimun. Kami makan berdelapan orang cuma habis sekitar dua ratus ribuan. Benar-benar murah.

Setelah kenyang, kami pun melanjutkan perjalanan. Siang itu, Pak Yosep mengajak kami ke pusat latihan gajah. Perjalanannya cukup panjang, dan aku sempat mengantuk. Oh ya, di rumah makan tadi, Dhea membeli beberapa buah bolu kemojo mini. Ia menawarkannya padaku dan pada Pak Faisal. Ternyata rasanya enak. Bolu kemojo sendiri merupakan kue basah khas Pekanbaru. Warnanya hijau, berbentuk bunga. Teksturnya kasar di luar, tapi lembut di dalam.
“Berapa harganya ini?” tanyaku pada Dhea.
“Lima ribu dapat tiga”, jawab Dhea. Murah banget. Nyesel juga aku nggak beli.

Akhirnya, tiba juga lah kami di pusat latihan gajah. Awalnya kukira pusat pelatihan gajah ini semacam tempat rekreasi keluarga dimana kita bisa melihat gajah-gajah sirkus dengan berbagai atraksinya, tapi rupanya bukan. Di tempat itu, selain bisa melihat gajah, kita juga bisa ikut memandikan dan menunggangi mereka. Di dalam rombongan kami, hanya Dhea dan Mas Febri yang turun ke sungai untuk memandikan gajah, sementara yang lainnya menonton dari atas jembatan. Gajah-gajah itu pintar sekali. Disuruh duduk, mereka duduk, disuruh berdiri, mereka berdiri, disuruh berbaring, mereka pun berbaring. Saat dimandikan, mereka pun diam, nggak berontak. Hanya aja ada satu ekor gajah yang ketika dimandikan, ia malah buang air besar. Wkwkwk..



Setelah dimandikan, gajah-gajah itupun naik ke daratan dan bersiap untuk kami tunggangi. Awalnya aku nggak mau, namun Pak Yosep terus menggodaku.
“Kapan lagi bisa naik gajah? Mumpung disini lho,” kata beliau.
Akhirnya aku pun mencobanya. Aku menunggang gajah bersama Dhea dan seorang pawang. Gajah yang kami tunggangi Doni namanya. Seorang bapak menawarkan diri untuk memotret kami. Kuserahkan hapeku pada beliau. Gajah-gajah kami berjalan pelan melintasi hutan dan sungai-sungai kecil, dan selama itu pula bapak yang memegang hapeku itu mengikuti kami untuk memotret. Beliau nggak sendirian sih. Ada juga beberapa orang rekan beliau yang juga melakukan hal yang sama, menjadi ‘juru potret’ bagi gajah-gajah yang lain. Hal itu mereka lakukan agar para penunggang gajah nggak melakukan selfie di atas gajah, berbahaya.

Menunggang gajah ternyata cukup mengasyikan dan memicu adrenalin. Apalagi ketika gajah itu melalui turunan ataupun tanjakan. Namun aku tertegun ketika melihat ada jejak airmata di sekitar mata para gajah. Nggak hanya satu, tapi semua gajah yang kami tunggangi mengeluarkan airmata (entah Doni, karena aku berada di atasnya dan nggak melihat). Aku jadi teringat pada satu artikel yang pernah kubaca bahwa menunggangi gajah dapat membuat tulang punggung gajah cedera. Mungkinkah mereka merasa sakit, sehingga mereka mengeluarkan airmata? Ah, mengingat hal itu, aku jadi merasa bersalah udah menungganginya. Maafkan kami, Doni dan kawan-kawan. Semoga kalian selalu sehat.



Setelah menghabiskan waktu di pusat pelatihan gajah, kami melanjutkan perjalanan lagi. Hari udah sore waktu itu. Pak Yosep mengajak kami makan gorengan di pinggir jalan, masih di kawasan Minas. Sementara menikmati gorengan, Dhea browsing-browsing hotel tempat menginap kami selanjutnya. Akhirnya pilihan jatuh pada Hotel CitiSmart.

Kami check-in di Hotel CitiSmart sekitar jam enam sore. Sore itu, kami baru check-in aja, belum memindahkan barang, karena barang-barang kami masih dititipkan di mes Pak Yosep pasca check-out dari Hotel Amaris.

Aku mendapatkan sebuah kamar di lantai dua, hampir bersebelahan dengan kamar Dhea (kamar kami dipisahkan oleh satu kamar). Kamar itu terdiri dari dua ranjang. Malam itu, aku dan Dhea nggak lagi tidur satu kamar, namun saat itu aku belum tau siapa teman sekamarku nantinya.

Sekitar jam tujuh malam, aku merebahkan tubuhku di kasur. Rasanya nikmat banget. Hari itu benar-benar melelahkan. Beberapa bagian tubuhku terasa sakit, khususnya bagian bahu sebelah kiri. Lama kelamaan rasa sakit itu menghilang. Rasa kantuk membawaku tertidur pulas.

Aku terbangun ketika mendengar suara ketukan di pintu kamarku. Aku buka, rupanya Dhea.
"Tidur ya? Aku telpon dari tadi nggak kamu angkat", katanya.
"Iya nih, capek banget. Hehe.."
"Barang-barang kamu ada di bawah. Masukin ke kamar aja sekarang", katanya lagi sambil berlalu ke kamarnya.
Kuambil hapeku. Ada beberapa panggilan tak terjawab, juga WhatsApp dari Pak Yosep yang belum kubaca. Waktu itu sekitar jam setengah sembilan. Rupanya aku tidur selama satu setengah jam. Cukup lama juga. Dan selama itu pula aku nggak kebangun. Itu tidur apa pingsan coba?

Aku pun turun ke lantai satu dengan menggunakan lift. Di lobby, Pak Yosep tengah duduk di sofa bersama seorang perempuan yang mungkin berusia sekitar empat puluh tahunan. Di depan beliau ada koperku. Pak Yosep lalu memperkenalkan aku pada perempuan itu yang kemudian aku panggil Bu Fitri. Bu Fitri ini merupakan salah satu karyawan dari kantor cabang Duri. Beliau lah yang akan menjadi teman sekamarku malam itu.

Setelah berkenalan, aku dan Bu Fitri pun menuju kamar. Nggak lupa aku membawa koperku. Di kamar kami ngobrol-ngobrol sedikit. Rupanya Bu Fitri ini asli Medan, tapi tinggal di Duri. Saat belum menikah, beliau juga pernah bekerja di Bandung.

Sekitar jam sembilan, Pak Yosep mengajak kami makan malam. Aku kira makan malamnya di dekat-dekat hotel, nggak taunya lumayan jauh. Malam itu kami makan mie pangsit ijo di Jalan Rajawali. Yang lain udah pada seger-seger gitu kan, nah aku masih kucel karena baru bangun, belum sempat mandi, dan nggak pakai make-up. Wkwkwk.. Bodo amat lah, udah malam juga.




Setelah kenyang, kami pun kembali ke hotel. Sebenarnya Pak Yosep kayaknya masih pengen ngajak kami jalan-jalan gitu, tapi aku bilang kalo aku pengen istirahat. Akhirnya kami pun kembali ke hotel.

Sesampainya di hotel, aku dan Bu Fitri mandi bergantian. Di hotel ini kamar mandinya menggunakan kaca buram, sehingga kalo kita sedang berada di dalam kamar mandi, maka partner sekamar kita bisa melihat siluet tubuh kita. Wkwkwk.. Kalo malu dan nggak mau terlalu terlihat, cukup matikan aja lampu kamar mandinya.

Menjelang waktu tidur, aku dan Bu Fitri dibuat panik dengan kondisi AC kamar yang bocor. Kami pun menghubungi Pak Yosep yang kemudian memanggil roomkeeper. Sayangnya perihal AC bocor itu di luar kemampuan pihak hotel untuk memperbaikinya (jelas karena itu tugasnya teknisi AC). Kami pun mengajukan untuk pindah kamar, dan akhirnya kami pindah ke sebuah kamar di lantai satu. Kamar baru kami ini sedikit lebih luas dan terdapat jendela lebar yang menghadap langsung ke halaman depan hotel. Setelah merasa nyaman, kami pun tidur.

Besok adalah hari yang mendebarkan, seenggaknya buatku.

*Bersambung*

Total Tayangan Halaman

 
;