Jumat, 12 Juli 2019 4 komentar

BUKU : MEREKA ADA by Mystic Waves

Rasanya sudah cukup lama aku nggak mengulas tentang buku ya. Kali ini, tanganku gatal banget mau mengulas tentang buku yang satu ini. Tapi sebelumnya, aku mau bahas sedikit tentang alasan aku membeli buku ini. Jujur, meski aku menyukai kisah horor, tapi aku kurang tertarik dengan buku ataupun novel horor, karena kebanyakan ceritanya terlalu berlebihan. Dibuat seram, tapi nggak memberi efek merinding gitu, salah satunya buku kumpulan cerpen horor yang beberapa bulan lalu kubeli di bazaar buku. Baru baca beberapa halaman, rasanya udah malas aja gitu. Akhirnya buku itu nggak aku baca sampai tuntas. Tapi, buku yang mau aku ulas sekarang ini berbeda.

Pernah baca postinganku tentang Mystic Waves? Well, biar kujelaskan lagi. Mystic Waves (atau mwv.mystic) adalah sebuah akun Instagram yang sebagian besar postingannya adalah cerita-cerita horor yang diangkat berdasarkan true story, atau kisah nyata. Di postinganku waktu itu, aku menceritakan sedikit tentang adminnya yang membuat aku dan pembaca lainnya penasaran karena Si Admin ini nggak pernah mau menunjukkan wajahnya.

Kali ini aku bukan lagi mau membahas tentang Si Admin ya, karena disamping jati dirinya yang belum terungkap juga karena yaa nggak penting juga sih buat dibahas. Wkwkwk.. Sorry buat Admin AGP yang mungkin baca postingan ini. Maksudku bukan nggak penting yang gimana-gimana sih. Maksudku, nggak peduli bagaimana tampang Admin dan bagaimana latar belakang Admin, tapi selama Admin AGP masih bersama Mystic Waves dan Mystic Waves masih konsisten dengan konten Instagramnya, kami pasti bakal terus support.

Aku nggak ingat kapan pertama kali aku mem-follow akun ini, yang jelas, itu beberapa tahun yang lalu, kemungkinan tahun 2016. Adikku yang merekomendasikan akun ini, karena dia tau aku menyukai hal-hal mistis. Haha.. Dulu lumayan banyak akun horror yang aku ikuti. Tapi dari akun-akun itu, Mystic Waves adalah yang paling lama menempati kolom Following di akunku. Kenapa?

Karena cerita true story yang diposting di akun ini nggak sembarangan copy paste dari narasumber, melainkan dipilah-pilih dulu oleh admin. Cerita-cerita itu harus memiliki kriteria tertentu untuk bisa terpilih. Bukan hanya menarik dan seram, tapi juga harus berasal dari sumber yang terpercaya (narasumber harus berusia minimal 17 tahun atau dalam artian sudah dewasa dan bisa membedakan mana halusinasi, mana kenyataan, dan mengalami sendiri kejadian tersebut atau diceritakan langsung oleh orang yang mengalami, untuk menghindari hoax). Selain itu, Admin juga seringkali menyisipkan berbagai opini dan teori yang bertujuan untuk meluruskan persepsi-persepsi yang salah. Misalnya, kebanyakan orang kan percaya kalo arwah orang meninggal itu bisa gentayangan, padahal sebenarnya (khususnya dalam kepercayaan agama Islam) nggak ada itu yang namanya arwah gentayangan, melainkan adalah jin qarin yang menyerupai. Intinya buatku pribadi, akun ini nggak hanya menyajikan hiburan bagi penikmat cerita horor, tapi juga memberikan informasi yang bermanfaat.

Nah, bulan Februari lalu, akun ini menerbitkan buku horor pertamanya. Tapi baru tanggal 21 Juni kemarin aku mendapatkan buku ini dari toko buku online. Sama seperti Mystic Waves, buku ini berisi kumpulan cerita horor true story yang pernah dimuat di akun Instagram Mystic Waves, hanya aja tentu, cerita-cerita yang dimuat adalah cerita-cerita terbaik dan mendapat banyak respon positif dari para Followers, karena ya nggak mungkin juga mereka memuat semua cerita yang pernah diposting di akun Mystic Waves, mengingat cerita yang pernah diposting banyak banget jumlahnya.




Ada empat judul cerita terbaik yang dimuat dalam buku ini :

  1. Petaka Dukun Beranak
    Kisah ini diambil dari sudut pandang narasumber yang merupakan seorang anak dukun bayi yang bersekutu dengan jin dalam pelaksanaan praktiknya. Narasumber ini memiliki orangtua yang keluarganya bertolak belakang pandangan. Ibunya berasal dari keluarga yang menganut kepercayaan kejawen, sedangkan ayahnya merupakan seorang muslim yang taat. Perbedaan pandangan ini membuat keluarga mereka mengalami konflik yang sangat pelik. Disini diceritakan bagaimana si narasumber yang memilih berada di jalan yang lurus bertahan dari serangan mental maupun fisik yang dikirimkan oleh keluarga besar ibunya sendiri dengan maksud agar ia mengikuti jejak mereka.
  2. Teror Santet Cinta yang didasari oleh nafsu yang menggebu memang bahaya banget. Bisa bikin buta, hingga menghalalkan segala cara. Kisah ini menceritakan tentang kakak narasumber yang mengalami teror santet menjelang pernikahannya. Membaca kisah ini sukses membuatku jadi lebih berhati-hati kalo buang sampah ataupun memajang foto, karena semua media itu rupanya bisa banget jadi media santet ataupun pelet. 
  3. Hadi Sebuah cerita cinta beda dunia. Bermula ketika si narasumber mengalami 'ketempelan' sosok makhluk laki-laki tak kasat mata yang disebut-sebut naksir dengan dirinya. Lambat laun, si narasumber merasa nyaman dengan kehadiran sosok ini hingga akhirnya mereka terlibat hubungan asmara. Gokil banget sih. Namun hubungan itu justru menjadi boomerang bagi si narasumber sendiri ketika sosok itu menjadi semakin posesif terhadap dirinya. Kisah ini sukses banget bikin para pembaca cewek baper dan penasaran dengan sosok Hadi saat masih utuh sebagai manusia. Malah ada orang iseng yang bikin akun palsu atas nama Hadi. Ckckck..
  4. Dozer Nah ini dia, kisah yang paling ditunggu oleh sebagian besar MWVers. Saking ditunggunya, komentar pembaca tentang kelanjutan kisah ini selalu ada di hampir setiap postingan MWV. Nggak salah sih, karena kisah si Dozer ini memang paling menegangkan dan menguras emosi. Bercerita tentang hilangnya seorang sahabat pada saat pendakian. Kisahnya panjang banget, mulai dari pengalaman mereka berkemah di kawasan Ranca Upas, teror pocong yang menghantui mereka sekembalinya dari kegiatan berkemah, hilangnya sahabat mereka, hingga proses pencarian sahabat yang hilang ini yang tentunya melewati berbagai konflik yang nggak mudah karena penuh dengan hal-hal di luar nalar. 

That's all. Sebenarnya, sebelum memiliki buku ini pun, aku udah terlebih dahulu baca semua kisah itu di postingan Instagram MWV. Tapiii karena aku ngefans sama akun Instagram satu ini (best horror page, I think, walau memang kadang kalo penyakit gajenya kumat, si admin suka posting sesuatu di luar tema horor. Video kucing misalnya), aku jadi merasa wajib punya. Plus, di buku ini juga dimuat bagaimana akhir kisah si Dozer yang banyak ditunggu MWVers. Dan bagi kalian yang merupakan pembaca baru ataupun pengikut baru Mystic Waves yang mencari kisah-kisah di atas tadi di akun Mystic Waves, kalian nggak akan menemukannya secara utuh, karena postingan-postingan itu sudah di take down dari Instagram. Tentu dong.. Kalo nggak gitu, ntar sedikit orang yang penasaran dan beli bukunya, ya kan?

Well, sekarang beralih ke pendapatku mengenai buku ini. Hmm.. Tentunya karena berbentuk buku, tulisannya jadi lebih rapi dan nyaman dibaca lah ya. Hanya aja cukup banyak typo, penggunaan huruf kapital yang nggak pada tempatnya, kesalahan penulisan, dan kurangnya peletakan tanda koma sebelum kata sapaan. Misalnya pada kalimat, "Guru Dozer pak?", harusnya ditulis " Guru Dozer, Pak?". Lalu ada juga kalimat "for you information" yang seharusnya ditulis "for your information". CMIIW.

Tapi yah, itu bisa dibilang kesalahan kecil lah ya. Nggak terlalu jadi masalah kok. Bukunya tetap enak dibaca. Semoga jika dibuat cetakan kedua, kesalahan-kesalahan penulisan itu bisa lebih disempurnakan.
Kamis, 06 Juni 2019 0 komentar

Eid Mubarak : 1440H


Aku harap ini belum terlambat untuk mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri bagi teman-teman Muslim yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin yaa, khususnya jika mungkin ada kata-kataku yang kurang berkenan di hati teman-teman yang membaca blog ini. Taqobbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum, taqabbal yaa kariim, ja’alanallahu wa’iyyakum minal aidin wal faizin. Aamiin..

Hmm.. Ngerasa nggak sih kalo semakin bertambahnya umur, Lebaran itu rasanya makin biasa aja? Yaa kayak kurang aja gitu suasana Lebarannya. Beda sama waktu dulu, jauh beberapa tahun silam, hari Lebaran selalu disambut dengan sukacita, khususnya buat kita yang waktu itu masih kecil. Iya nggak sih?

Mungkin ada benarnya bahwa dulu, ketika masih kecil, kita belum memahami makna Idul Fitri. Kita taunya Idul Fitri itu yaa ada baju baru, banyak permen dan kue-kue enak, serta dapat uang banyak dari orangtua, sepupu, om, dan tante. Beda dengan sekarang, yang justru rasanya sedih dan menyesal ketika Ramadhan berakhir, karena merasa belum maksimal beribadah di moment yang tepat. Selain itu, dulu keluarga besar masih lengkap. Jadi setiap Lebaran pasti ramai-ramai berkumpul di rumah anggota keluarga yang paling tua. Kalo sekarang, banyak sepupu-sepupu yang udah menikah dan tinggal di kota lain, ada pula beberapa anggota keluarga yang udah meninggal. Jadi untuk berkumpul bersama dalam satu waktu itu rasanya kurang memungkinkan.

***

Ramadhan tahun ini, aku belum merasa udah melakukan ibadah sebaik mungkin sih. Tapi alhamdulillah, rasanya lebih baik ketimbang tahun lalu.

Oh ya, di bulan Ramadhan, rasanya acara buka puasa bersama selalu jadi tradisi ya. Nggak terkecuali aku. Tanggal 12 Mei lalu, aku dan keluarga besar dari ibuku mengadakan buka puasa bersama di rumahku. Rasanya seneng banget, mengingat rasanya udah cukup lama kami nggak berkumpul bersama. Menu buka puasanya banyak banget, Untuk menu pembuka ada es kelapa, so’un, dan kerupuk sambel. Hidangan utamanya ada nasi, empal daging, opor ayam, dan tempe goreng tepung. Sedangkan dessert-nya adalah puding mangga. It was so fun, seperti acara buka puasa bersama keluarga sebelum-sebelumnya. Yang membedakan hanyalah kehadiran Naura (putri kecil Gege—sepupuku) di tengah-tengah kami.

Kemudian tanggal 29 Mei, aku berbuka puasa di kantor bersama rekan-rekan. Sayangnya acaranya kurang berkesan kurasa, entah kenapa. Mungkin karena banyak yang nggak hadir kali ya..

Tanggal 30-nya, aku berbuka puasa bersama adik dan dua teman rumahku, Dewi dan Tri di sebuah cafe & resto di kawasan Ampera. Boleh dibilang, tanggal 30 itu hari yang cukup berkesan. Jadi hari itu, pagi harinya aku berkunjung ke rumah Rohayati yang hari Sabtu lalu baru melahirkan anak pertamanya yang diberi nama Rizky Ramadhan. Sebuah nama yang bagus. Ia dianggap sebgai rezeki di bulan Ramadhan oleh kedua orangtuanya yang baru aja ‘terlahir’ sebagai ibu dan bapak :) Lucu deh anaknya. Matanya sipit, kepala & alisnya gundul, dan pipinya gembul. Kalo kata Mas Hansol sih ‘ginuk ginuk’. Hihi.. Rizky lahir secara normal dengan berat 3 kg dan panjang 30 cm. Aku nggak menjenguk sendirian. Beberapa menit setelah aku tiba, Ayu datang. Seperti biasa, kami ngobrol-ngobrol. Rasanya seneng banget. Kebetulan, udah lama kami nggak meet up. 





Sepulang dari rumah Rohayati, aku mengantar ibu ke PGC untuk menukar baju yang beliau beli tempo hari karena ukurannya kekecilan. Namun sayang, sepulang dari sana, dompet ibu hilang. Isinya sih nggak seberapa, kemungkinan dua ratus ribuan. Tapi tetap aja namanya duit :( Nah, sore harinya, baru deh, aku, adik, Tri, dan Dewi berangkat ke cafe & resto tersebut. Hari itu kami menyantap nasi putih dengan kwetiaw siram seafood, udang kriuk, cumi saus padang, ayam saus mentega, tauge jambal roti, buncis balacan, dan segelas lemon tea. Makanannya enak sih, hanya aja sayangnya acara makan kami sedikit terganggu dengan aroma nggak sedap dari selokan di sebelah resto. Yah, dasar lagi kurang beruntung sih, dapat tempat outdoor. Padahal kalo kebagian tempatnya di bagian indoor, mungkin kami terhindar dari aroma nggak sedap itu. Nggak puas dengan hanya berkumpul di resto, sepulang dari sana kami berkumpul di rumahku sampai malam. Haaahh.. what an impressive day!





Tanggal 31-nya, aku kembali berbuka puasa bersama rekan-rekan kantor. Hanya aja kali ini, aku berbuka puasa bersama beberapa orang rekan kantor yang paling dekat.  Ada Pak Ben, Bu Hani, Bu Lia, Mbak Tika, Mas Febri, A’ Putra, Bu Rohayati, dan Pak Ading. Kami berbuka puasa di Hotel Amaris Siliwangi. Sepulang ngantor, aku, Bu Hani, dan Bu Lia berangkat bersama Mas Febri dengan menumpang mobilnya, sementara sisanya naik motor. Sialnya, karena menumpang mobil, kami terjebak macet di kawasan Tuparev sehingga tiba belakangan. Singkat cerita, kami tiba di Hotel Amaris dan kebagian tempat di dalam ruangan dengan beberapa meja persegi yang disejajarkan sehingga membentuk meja panjang. Kami pun langsung mengambil menu karena udah mendekati waktu berbuka puasa. Sebenarnya makanan dan minumannya sih biasa aja ya, hanya aja pilihannya banyak. Ada kopi, teh, infused water, sirup, sop buah, agar-agar, aneka gorengan, karedok, kerupuk sambel, pedesan ayam, ayam kecap, kentang & tempe saus asam manis, sayur sop, lalapan, so’un, dan kerupuk. Sebenarnya ada dadar gulung juga sih, hanya aja kayaknya udah habis, jadi kami nggak kebagian. Wkwkwk..




Dan tibalah saatnya, hari Lebaran. Seperti yang kubilang di awal tadi, Lebaran tahun ini terasa biasa aja dan nggak begitu berkesan. Banyak kerabat yang bahkan hingga hari ini belum kutemui karena tinggal di kota lain. Yang berkesan cuma acara kumpul-kumpul di rumah nenek (ibu dari ibuku), karena disana ada Naura yang bisa selalu aku uwel-uwel pipinya.



Si pipi mochi


Lalu hari ini, di hari kedua Lebaran ini, aku dan keluarga besar dari ibu bersilaturahmi ke daerah Kuningan. Ini juga merupakan kegiatan rutin setiap Idul Fitri mengingat banyaknya keluarga besar nenek yang tinggal disana. Kami berangkat pagi-pagi. Beberapa pergi dengan motor, yakni aku yang dibonceng adikku, Gege & Empit yang dibonceng suaminya masing-masing, dan Rizky yang dibonceng Fahrul. Sementara sisanya yakni ibuku, nenek, Bi Elly, Bi Cicih, Wak Agus, Wak Ning, Agis, dan Naura pergi dengan angkutan umum yang kami sewa untuk hari ini.

Karena masih pagi, jalanan belum terlalu ramai. Memang sih, di kawasan Beber agak macet, namun kami yang pergi dengan motor nggak sampai terjebak macet karena masih bisa melipir-melipir. Hihi..
Sebelum bersilaturahmi, kami ziarah dulu ke makam kakek.





Ada bunga cantik di sebelah makam.

Setelah ziarah, baru deh kami bersilaturahmi, mengunjungi satu persatu rumah saudara nenek, mulai dari rumah Abah Rukana, kemudian rumah Mak Encang, Mak Eem, Mak Eni, dan terakhir rumah Mak Neng yang terletak di kaki Gunung Ciremai—rumah yang sederhana namun menyimpan kenangan masa kecil kami. Sayangnya, kami nggak bisa melihat Ciremai sepanjang hari ini, karena tampaknya hari ini ia malu menampakkan diri. Tubuhnya yang tinggi besar tersembunyi awan, hanya kakinya yang terlihat.



Kunjungan di rumah Mak Encang


Oh ya, Fahrul excited banget saat berkunjung ke rumah Mak Neng. Ingat ceritaku tentang kunjungan kami di Lebaran tahun lalu? Saat itu dia mengalami love at the first sight sama tetangga Mak Neng ketika cewek itu sedang mengangkat jemuran di halaman rumahnya. Sayangnya hari ini, Si Cewek nggak terlihat sama sekali. FYI, rumah Si Cewek dengan rumah Mak Neng itu benar-benar bersebelahan. Jaraknya kira-kira cuma dua meteran. Ketika tiba di halaman rumah Mak Neng, Fahrul memanggil-manggil cewek itu, “Neeeng.. Neeengg..”. Nggak keras sih suaranya, tapi cukup membuat aku, adik, dan sepupu terpingkal-pingkal dan menganggap Fahrul lancang.
“Nang, neng, nang, neng, kayak manggil teman sebangku”, celetuk adikku sambil menahan tawa.
Fahrul lupa kalo kami sedang mengunjungi rumah Mak Neng. Gimana kalo Mak Neng dengar dan mengira anak itu lagi manggil beliau? Wkwkwk.. Sampai ketika Mak Neng menyambut kami dan mempersilahkan kami masuk, kami masih terkikik-kikik karena hal itu. Kemudian Fahrul memberanikan diri bertanya pada Mak Neng, “Mak, kalo eneng yang disitu ada nggak sih?” tanyanya sambil menunjuk rumah sebelah.
“Oh, ada di dalam”, jawab beliau, kemudian melanjutkan dengan berbisik, “Mau kawin dua minggu lagi”.
Mendengar hal itu, kami semangat menyorakinya, kecuali Fahrul yang langsung memasang tampang ngenes. Wkwkwk.. Kasihan banget. Baru ketemu tahun lalu dan langsung naksir, tahun berikutnya kesana lagi malah udah mau nikah aja. Haha..

Sore harinya, kami pun pulang. Jalanan menuju Cirebon benar-benar padat. Sialnya lagi, aku, adik, Fahrul, dan Rizky sempat nyasar sehingga membuat waktu yang kami tempuh selama perjalanan benar-benar panjang. Lepas Magrib, kami baru tiba di rumah nenek. Haaahh.. melelahkan.

Sekitar jam setengah delapan, aku, ibu, dan adik pamit untuk pulang. Namun sebelum pulang kami mampir dulu ke rumah Ang Be’ah (adik tiri bapak) di kawasan Arya Kemuning. Disana juga ada nenek kami (ibu tiri bapak yang biasa kami panggil ‘Emak’) yang baru tiba dari Bogor. Begitu kuhampiri, Emak langsung memeluk dan menciumku.
“Emak kangen Puput katanya,” kata Ang Be’ah.
Kondisi tubuh Emak udah nggak sesegar dulu. Tahun lalu beliau masih sehat. Meski jalannya tertatih-tatih, namun tubuhnya nggak bungkuk. Beliau pun masih bisa berjalan sendiri. Emak memang rajin, kelewat rajin malah. Beliau nggak pernah betah duduk diam. Beberapa tahun lalu, beliau pernah jatuh dari tangga bambu saat sedang membersihkan langit-langit rumah seorang diri, sehingga gigi depannya rontok semua. Namun beliau nggak pernah kapok. Ada aja yang beliau kerjakan, entah itu berkebun, memberi makan ayam, atau sekedar berjalan-jalan di lingkungan sekitar rumahnya. Namun sekarang, beliau cuma bisa duduk dan berjalan dengan menggunakan alat bantu. Bicaranya pun udah sedikit nggak karuan. Memprihatinkan banget.

Well, that’s all ceritaku hari ini. Selamat Lebaran, selamat liburan, selamat makan enak ^^

Jumat, 10 Mei 2019 0 komentar

Little Gift

Ada yang spesial di bulan Mei ini. Yah, khususnya buatku dan Kawan Mengagumkan Cirebon. Kenapaaa..?? Look at this!

Iseng motret pas lewat sepulang kerja. Haha..

Yup, coba lihat tulisan di bagian tengah sebelah kiri. FIERSA BESARI!
Bung Fie akan perform tanggal 19 mendatang di Grage City Mall.

Well, kabar ini nggak lantas membuatku senang sih, karena jujur aku dilema. Aku selalu ragu untuk menghadiri event yang diselenggarakan secara outdoor seperti itu. Beberapa waktu sebelumnya, Bung Fie datang ke Cirebon dan tanpa berpikir panjang aku langsung memutuskan untuk hadir. Kenapa nggak ragu? Karena acaranya indoor, di dalam Gramedia, dengan seluruh penonton yang duduk dengan tertib. Aku jadi merasa aman, meski datang kesana sendirian.

Tapi untuk event kali ini, Bung Fie akan tampil bersama beberapa musisi lainnya secara outdoor (kemungkinan sih di Amphitheater). Itu pasti bakal rameeeeeeee banget. Aku jadi ingat acara ulang tahun salah satu radio lokal Cirebon yang mendatangkan J-Rocks dua tahun lalu. Penonton saling dorong, bahkan di luar pagar ada yang rusuh. Serem banget. Kalo bukan karena ada teman yang juga datang kesana, aku juga nggak bakal hadir. 

Ah, kalo ada teman yang bisa diajak kesana sih, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk datang. Sebenarnya ada sih dua orang temanku yang interest sama Bung Fie. Tapi sepertinya mereka cuma menyukai karyanya aja deh, nggak ngefans kayak aku gini.

***
Beralih ke cerita lainnya. Masih sedikit tentang Bung Fiersa sih. Jadi ceritanya, satu bulan kemarin, tiga buku karya Bung Fie milikku dipinjam Zahara, salah satu teman sesama book lover yang aku kenal di dunia maya. How could I do that? Kok bisa-bisanya pinjamin buku kesayangan ke orang lain?

Yup, biasanya sih aku merasa keberatan kalo ada teman yang pinjam novel milikku, karena selama ini, hampir semua novel ataupun buku yang aku pinjamkan kepada orang lain, kalo nggak kembali dengan kondisi terlipat ya robek (seperti buku Perahu Kertas yang covernya terlipat, Cinta Brontosaurus yang kembali dalam kondisi cover yang kotor dan lecek, dan Manusia Setengah Salmon yang robek di salah satu bagian halaman). Tapi itupun masih syukur bisa balik. Beberapa buku malah ada yang nggak balik sama sekali (seperti buku Koala Kumal, Sunshine Becomes You, Rindu, dan buku catatan Bahasa Jepang yang kupelajari bersama Erni Sensei semasa kuliah, yang kutulis dengan sepenuh hati). Entah kenapa kok banyak orang-orang yang nggak menghargai buku seperti itu. Tapi Zahara, dia itu beda.

Kami saling kenal di dunia maya sekitar tahun 2014 silam, berkat salah satu entri yang aku tulis di blog ini. Waktu itu kami sama-sama menyukai beberapa seleb tomboy Thailand. Mula-mula kami saling berkirim komentar di blog, kemudian obrolan berlanjut ke BBM, lalu ke Line, juga WhatsApp. Awalnya kami banyak mengobrol soal seleb tomboy Thailand yang kami suka itu, trus lama kelamaan merambah ke film, hingga akhirnya kami mengetahui bahwa kami juga sama-sama memiliki ketertarikan pada buku.

Memang sih, genre dan theme yang kami sukai itu jauh berbeda. Dalam hal musik, misalnya. Dia menyukai K-Pop, sementara aku suka musik Rock. Dan untuk buku, ia sangat menyukai bacaan dengan tema romantis, sementara aku suka bacaan dengan tema persahabatan. Aku juga sangat menggilai bacaan horror true story, sementara dia sangat menghindari bacaan seperti itu. Tapi meski demikian, kami tetap saling sharing tentang buku-buku yang pernah ataupun sedang kami baca. Paling sering dia sih yang sharing, karena kalo kulihat, koleksi bukunya jauh lebih banyak dibanding buku-bukuku. Ia juga mengetahui banyak nama-nama penulis yang bahkan masih sangat asing di telingaku. Bahkan akun Instagramnya penuh dengan foto buku-buku yang pernah ia baca yang ia upload dengan sangat rapi, lengkap dengan review-nya. 

Tau nggak apa persamaan dan perbedaan Penyuka Buku dengan Pecinta Buku?
Mereka sama-sama gemar membaca buku. Yang membedakan adalah perlakuannya terhadap buku. Pecinta Buku cenderung menggunakan pembatas buku untuk menandai batas baca. Bahkan meskipun di bukunya nggak disediakan pembatas buku pun, mereka akan mencari benda lain untuk dijadikan pembatas. Daun kering misalnya, atau bulu burung. Sedangkan bagi penyuka buku, menandai batas baca dengan melipat ujung halaman aja cukup. Wkwk.. Nah, Si Zahara ini orangnya sama kayak aku, paling risih kalo ada bagian buku yang terlipat. Hal inilah yang membuatku mempercayakan buku-buku kesayanganku itu untuk ia pinjam, lengkap dengan CD musiknya.

Dua hari yang lalu, ia mengembalikan buku-buku itu melalui kurir yang tiba kemarin siang. Bungkusannya benar-benar rapi, lengkap dengan kotak karton tebal dan stiker bertuliskan 'fragile'. Ya ampun, padahal aku sendiri mengirimkan buku-buku itu ke dia nggak sampai segitunya. Cuma modal plastik dan kertas bekas pembungkus HVS. Dengan kondisi paket yang ia kirimkan seperti itu, aku yakin buku-bukuku semuanya kembali dalam kondisi baik, maka aku nggak membukanya dan hanya menaruhnya di kamar.

Dan tadiiii.. Zahara mengirimkan pesan WhatsApp, memastikan bahwa buku-buku yang kuterima dalam keadaan lengkap. Saat itulah aku baru membuka paket itu, dan.. seketika aku terharu.

Nggak hanya membungkusnya dengan kotak karton tebal dan stiker 'fragile', Zahara juga membungkus buku-buku itu dengan bubble wrap. Selain itu.. yang membuatku benar-benar tersentuh adalah, ia menyisipkan 'hadiah kecil' di dalamnya : sebungkus Nextar cokelat, dua sachet kopi Esprecielo, dan dua lembar pembatas buku yang cantik. Seriouslyyyy.. this is too much! Dia menjaga dan mengembalikan buku-buku kesayanganku dengan sebaik-baiknya aja, aku berterima kasih banget, tapi ia justru repot-repot memberiku 'hadiah kecil' yang.. ah, bahkan aku sama sekali nggak menganggap ini sebagai hadiah kecil karena aku suka dan dia tulus banget ngasihnya. Sumpah, aku bahkan nggak nyangka dia tau merk dan rasa kopi favoritku.




Thanks a lot, Za. You’re the best 💙
Rabu, 24 April 2019 0 komentar
It happens again. I lost one of my beloved ones. Toothless, kucing kesayanganku hilang. Awalnya aku dan keluarga berpikir ia hanya menginap di rumah tetangga barang satu sampai dua hari (karena kucingku yang lain pernah seperti itu). Apalagi dia sedang birahi. Kami pikir ia pergi mencari betina, dan akan pulang dengan sendirinya. Namun ini udah hari keenam dia nggak pulang, and it really breaks my heart.

Aku jadi ingat ketika Mutun 'pergi' tahun 2016 silam. Meski berbeda kasus, yang satu mati, yang satu hilang, tapi rasa sakitnya sama. Aku memang nggak menangis mengetahui Toothless nggak pulang selama lebih dari dua hari, berbeda dengan ketika Mutun menghembuskan napas terakhirnya di pangkuanku, aku menangis sesenggukan saat itu juga. Tapi kemarin lusa, melihat video Toothless yang diupload adikku di Instagram, tangisku pecah. Untung aja saat itu nggak ada orang lain disana. Aku menangis sendiri di ruang kerjaku.

Rasanya buruk, buruk banget. Karena beberapa waktu setelah Mutun yang kami sayangi pergi, Toothless lahir dan jadi obat bagi aku dan adik yang paling terpukul dengan kepergiannya. Kami bahkan menganggap Toothless adalah reinkarnasi dari Mutun, meski sebenarnya mereka sangat berbeda jauh. Mutun betina, dan Toothless jantan; Mutun manja, Toothless cuek; bulu mereka sama-sama panjang, namun bulu-bulu Toothless lebih panjang sehingga membuat kepalanya yang sebenarnya kecil dan tirus terlihat bulat dan besar. Persamaan mereka hanya dari warna matanya yang sama-sama kuning kehijauan dan warna bulunya yang sama-sama hitam putih. 

Kami udah mencarinya kemanapun, ke rumah tetangga, ke rumah sepupu-sepupuku yang tinggal nggak jauh dari rumah, adikku bahkan mencarinya hingga ke Pasar Kanoman, siapa tau ada orang yang membawanya dan menjualnya disana. Aku juga memposting berita kehilangan di Twitter, WhatsApp, dan Instagram, serta mencarinya di forum jual beli kucing Cirebon, tapi hasilnya nihil. Kucing berbulu panjang memang rawan hilang, apalagi kalo bebas berkeliaran seperti kucing-kucingku. Moli, kucing persia milik tetanggaku aja hilang, padahal dia jarang keluar rumah. Kalo kucing-kucingku sih memang sering kami biarkan berkeliaran, karena di rumah kan ada warung, jadi pintu rumah jarang ditutup, sedangkan kalo dimasukkan ke kandang, kami nggak tega. Toh selama ini kami nggak pernah kehilangan kucing, karena seperti yang udah kukatakan di atas tadi, kucing-kucingku yang main jauh selalu pulang dengan sendirinya, dan nggak pernah lebih dari dua hari. Setiap hari, aku seringkali mengecek WhatsApp, berharap menemukan kabar dari adikku bahwa Toothless pulang. Setiap hari, sepulang kerja, aku selalu berharap dia ada di teras, berbaring dengan santainya. Atau berlari-lari dengan ekor fluffy-nya yang bergoyang-goyang.

Aku berharap banget suatu hari dia bakal pulang. Rasanya nggak tega membayangkan dia dikurung di tempat sempit, diperjual belikan, terlantar, atau sampai pada tangan orang yang salah. Toothless itu pendiam dan penakut banget. Dia nggak bisa berkelahi, dan nggak bisa manjat, sama kayak bapaknya, tapi dia lebih parah. Dia takut suara motor, suara deru mesin cuci, dan suara geluduk. Setiap kali ada suara geluduk, dia bakal lari terbirit-birit dan bersembunyi di kolong meja. Meski bukan kitten lagi, dia tetep aja kayak kucing kecil yang selalu butuh perlindungan :')




Kalaupun memang dia nggak pulang, aku berharap siapapun yang menemukannya akan memperlakukan dan memeliharanya dengan baik, lebih baik dari kami.

Baik-baik ya, Anak Ganteng, dimanapun kamu berada ❤
Sabtu, 30 Maret 2019 0 komentar

Hampir dua minggu berlalu pasca hari jadi kantor cabang perusahaan tempatku bekerja yang ketujuh tahun, sebagian besar karyawan di kantor terserang wabah penyakit. Kusebut demikian karena keluhannya hampir sama semua, yakni batuk, pilek, demam, sakit kepala, dan meriang. Aku sendiri baru dua hari lalu mengajukan ijin nggak ngantor selama satu hari gara-gara keluhan di atas tadi, plus sariawan di bawah lidah. Alhamdulillah, meski hanya istirahat di rumah dan minum obat dari warung, rasanya sudah mendingan (kecuali sariawan yang masih menimbulkan rasa perih setiap kali makan).

Yah, sebagian besar dari para karyawan di kantor yang terserang sakit memang cukup hanya istirahat sehari dua hari di rumah, banyak juga yang tetap memaksa bekerja, namun ada juga yang sampai dirawat di rumah sakit. Dalam dua minggu ini saja total sudah tujuh orang karyawan di kantorku yang masuk rumah sakit. Hal ini tentu menjadi perbincangan di kantor. Banyak yang berpendapat kalo ini semua ada hubungannya dengan perayaan hari jadi kami tanggal 16 lalu. Ya nggak tau juga sih apakah mereka benar-benar serius mempercayai hal itu atau cuma becandaan doang. Temenku malah lebih absurd lagi pemikirannya. Waktu aku cerita soal karyawan di kantorku yang sakit massal, dia malah bilang, “Jangan-jangan diganggu ‘pengunggu’ kantor tuh”. Ngaco, kami kan bukan penghuni baru disitu. Yaa logika saja sih. Karyawan di kantor tempatku bekerja mostly adalah pekerja lapangan yang sudah pasti sering diterjang cuaca yang nggak menentu, panas, hujan, dan debu jalanan. Maka ketika salah satu atau beberapa dari mereka terserang penyakit, penyakitnya ikut  terbawa ke kantor, udara berputar di ruangan, tertularlah rekan-rekan yang lain. Jadi nggak ada hubungannya sama yang mistis-mistis begitu.

Pertengahan bulan April mendatang, aku dan teman-teman dari Mustunable dijadwalkan manggung di Tasikmalaya. Harusnya tiga hari yang lalu kami latihan di rumahku. Namun yang terjadi, latihan itu harus diundur karena Mister Chokai sakit, ditambah kondisiku yang mulai terasa nggak fit waktu itu. Daann.. baru hari ini kami melaksanakan latihan, padahal Mister Chokai baru hari ini ngantor lagi. Itupun karena Pak Yosep ingin melihat kami latihan, dan dilaksanakannya tentu di studio langganan kami.

Singkat cerita, kami janjian kumpul di studio jam lima sore. Menjelang jam lima, aku bilang pada Dhea kalo aku pengen pergi ke studio bareng dia, nebeng mobilnya Pak Yosep.
“Iya, tungguin aja”, katanya.
Karena diminta nunggu, akhirnya aku duduk di ruanganku, nyanyi-nyanyi gitu, melemaskan pita suara sambil nge-back up file kerjaan yang seharian ini kukerjakan.

Menit-menit berlalu, nggak terasa sudah mendekati jam enam sore.
Eh.. kok Dhea belum muncul juga?
Aku pun berdiri dari duduk dan berniat menghampiri dia. Tapi sebelum aku melangkah, tiba-tiba sebuah pesan WhatsApp masuk. Dari Dhea :
“Put, kamu tadi dimana?”
DEG! Feeling-ku nggak enak. Belum sempat kubalas, pesan kedua masuk :
“Aku lupa kalo kamu mau ikut. Maaf *emot nangis*”
Astaga, AKU DITINGGAL DONG!

Seketika situasi berubah seolah adegan slow motion dengan suara Ariel NOAH sebagai backsong.
“Dan terjadi lagi.. Kisah lama yang terulang kembali..”
Seriusan, ini sudah kesekian kalinya aku mengalami kejadian ‘ditinggalkan’ seperti ini. Aku terlalu kecil dan diam kali ya, jadi benar-benar invisible gitu :’)
But it’s okay, aku nggak marah sama Dhea. Toh dia juga minta maaf dan menebus kesalahannya dengan memesankan aku ojek online. Wkwk..

Tapi ternyata masalahnya nggak cuma sampai disitu. Aku menunggu si Abang Ojol di pinggir jalan itu lumayan lama, sekitar lima belas menitan. Eh, nggak taunya, begitu tiba, si Abang Ojol ngomel-ngomel, katanya dia muter-muter daritadi karena titik jemput di maps-nya nggak sesuai. Oalaaah.. Jadi deh tadi itu aku dijutekin Abang Ojol, padahal kan yang salah maps-nya, kenapa naruh titiknya nggak akurat coba (-.-“)

Sore ini ada sepuluh orang berkumpul di studio, yakni aku, Dhea, Inggit, Ryan, Mas Febri, Mister Chokai, Zhovy, Badar, Pak Yosep, dan Pak Faisal. Senang sih rasanya, tapi karena kondisiku belum benar-benar fit, ditambah tenggorokan yang masih terasa gatal, jadi rasanya kurang enjoy aja.

Sekitar jam delapan kurang, kami meninggalkan studio, kecuali Mas Febri yang ijin pulang jam tujuh, karena istrinya sudah nungguin. Sebenarnya aku berniat langsung pulang waktu itu, hanya aja Pak Yosep membujuk kami untuk ikut beliau makan malam. Karena nggak enak untuk menolak, akhirnya aku pun ikut.

Malam ini kami makan di sebuah warung nasi jamblang di kawasan Cipto. Believe it or not, sebagai orang Cirebon asli dan sudah tinggal di Cirebon sejak brojol, ini adalah kali pertama aku makan nasi jamblang yang notabene adalah salah satu makanan khas dari kota ini. Wkwkwk.. Padahal wisatawan luar kalo mampir ke Cirebon merasa wajib lho nyicip makanan ini, tapi aku yang asli sini malah baru kali ini mencoba. Dhea aja sampai surprised gitu waktu aku kasih tau hal itu.
“Lu asli sini kan? Lah gua yang bukan orang sini aja udah beberapa kali”, katanya. Haha..

Jadi kesannya makan nasi jamblang pertama kali?
ENAAAK! Well, sebenarnya sih lauknya sederhana aja. Aku sendiri hanya mengambil telur pindang, tempe goreng, dan sambal sebagai lauk karena nasi yang kuambil pun setara porsi makan kucing. Hanya aja yang membedakan dari nasi jamblang adalah nasinya yang dibungkus dengan daun jati. Daun jati inilah yang membuat aroma nasi menjadi lebih harum. Rasanya pun lebih sedap dan khas.

Belum tandas makanan kami, hujan turun dengan deras, lengkap dengan petir dan geluduk. Jadi yaa kami terjebak cukup lama di warung itu, nunggu hujan yang entah kapan redanya, karena hujan deras seperti itu kemungkinan bakal lama. Kelamaan nunggu, akhirnya Pak Yosep dan Dhea nekat pulang lebih dulu, menerobos hujan. Mau nggak mau sih, karena mereka harus kembali ke Bekasi malam ini juga. Sementara kami masih menunggu dengan sabar.

Sepeninggal Pak Yosep, suasana meja berubah awkward. Gimana nggak awkward, lah wong ada Pak Faisal di tengah-tengah kami. Berbeda dengan Pak Yosep yang suka bicara, Pak Faisal ini orangnya pendiam, jadi agak canggung ngajak ngobrolnya. Hihi..
Akhirnya Inggit berinisiatif meminjam payung untuk mengantar aku dan Pak Faisal ke mobil beliau. Yup, aku pulang diantar Pak Faisal. Pertama-tama Ryan dulu, mengantar Pak Faisal. Begitu kembali, celana bagian bawahnya basah kuyup.
“Parah, disananya banjir!” serunya melawan suara deras hujan.
“Sini, sini, payungnya sama saya aja. Sekalian saya mau ambil sesuatu di motor,” kata Zhovy.
“Itu digulung dulu celananya!” ujarku.
“Udahlah, gapapa”, dia ngeyel. Okelah. Akhirnya aku dan Zhovy pun melangkah tertatih-tatih ke tempat mobil Pak Faisal diparkir. Di tengah perjalanan menuju parkiran, banjir semakin tinggi.
“Oalaaah.. banjirnya tinggi banget!” seru Zhovy. Aku sendiri pun surprised, nggak nyangka banjirnya bakal setinggi itu. Kirain cuma sebatas pergelangan kaki, nggak taunya hampir selutut. “Wah, besok saya nggak pakai celana ini mah!”
Bodoamat dah, kan tadi udah dikasih tau banjir, disuruh celananya digulung, malah ngeyel. Wkwk..

Setibanya di parkiran, kami bingung, yang mana mobil Pak Faisal? Kami celingukan. Alhamdulillah aku ingat nomor platnya. Hampir aja kami berjalan ke pintu keluar.
“Itu tuh!” seruku sambil menunjuk ke salah satu mobil yang terparkir.
“Mana? Mana?”
“Ituuu yang ****”
“Manaaaa?”
Wkwkwk.. lucu deh kalo inget waktu itu. Geli, kesal, dan panik campur jadi satu. Begitu tiba di mobil Pak Faisal, aku langsung masuk. Bodo amat sepatu penuh air. Masalahnya hari ini aku bawa laptop. Kalo tasku sampai kemasukan air, gawat juga.

Soo ya, begitulah yang terjadi hari ini. Entah kapan kami bakal latihan lagi, belum direncanakan. Yang pasti sih tentunya kami berharap penampilan kami di Tasikmalaya nanti nggak mengecewakan, karena jujur, lagi-lagi aku gugup (^^”)

Total Tayangan Halaman

 
;