Senin, 23 Maret 2020 0 komentar

Di Tengah Badai Corona: Catatan Kecemasan dan Harapan

Kalian merasa nggak sih kalo tahun 2020 ini berat banget? Bahkan sejak awal tahun, bumi kita udah dihadapkan dengan berbagai musibah. Ingat nggak? Januari ada perang dan banjir, Februari marak kebakaran hutan, dan Maret ini kita dihantui dengan wabah virus Corona :')

Ketika awal virus ini muncul dan diliput di banyak media, masyarakat Indonesia yang terkenal santuy justru menjadikannya olok-olok. Meme-meme bertebaran, beberapa diantaranya mengklaim bahwa wabah Corona nggak akan pernah masuk ke Indonesia. Aku adalah salah satu yang mempercayai hal ini. Bodoh! Maka inilah yang terjadi, sebuah teguran dari Tuhan, buah dari kesombongan kita yang harus kita telan.

Miris. Miris melihat kenyataan yang terjadi sekarang. Masker, handsinitizer dan alkohol mendadak langka di pasaran. Kalopun ada, harganya melambung jauh gila-gilaan. Nggak ngerti lagi, kenapa dalam kondisi gawat seperti ini masih ada aja orang-orang yang mengedepankan ego dan berpikir untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menjual barang-barang itu dengan harga yang nggak masuk akal. Ada lagi produsen masker nakal yang menjual masker daur ulang, tanpa memikirkan dampak dan bahayanya terhadap masyarakat yang memakainya.

Hal yang menyedihkan lainnya, pada suatu postingan di Facebook, seseorang memposting hasil screenshoot yang berasal dari IG Story seorang pegawai Rumah Sakit yang membuktikan betapa sifat kemanusiaan di negara kita ini krisis banget. Kalian pasti tau dong kalo di RS itu suka ada botol berisi cairan handsinitizer yang ditaruh di dekat ranjang pasien atau di depan hampir setiap kamar? Nah, pegawai RS ini bercerita bahwa dalam satu hari, ada beberapa botol handsanitizer yang hilang di Rumah Sakit tempatnya bekerja. Bukan habis lho, tapi beneran hilang gitu sama botol-botolnya. Gila nggak sih? Sumpah, siapa pun yang melakukan itu, itu jahat banget. Please lah.. Handsinitizer itu dibutuhin banget di RS, khususnya untuk para tenaga medis yang langsung menangani pasien sehingga memiliki resiko besar untuk tertular penyakit yang diderita pasien. Jadi tolong.. tolong banget, siapapun yang baca ini, kalo merasa kamu manusia, kurang-kurangin dikit lah egonya. Tolong mikir juga, kalo kita sakit, siapa yang nanganin? Tenaga medis. Kalo tenaga medisnya sakit dan meninggal, siapa yang akan nanganin para pasien? Sumpah, marah dan sedih banget rasanya. Bahkan ngetik ini aja tanganku gemetaran saking emosinya.

Dan lagi.. Belakangan ini anxiety-ku kumat. Tapi penyebabnya beda. Biasanya anxiety-ku kumat kalo dalam keadaan menjelang tampil di depan publik atau setelah melakukan suatu kesalahan atau kejadian memalukan. Tapi kali ini, belakangan aku intens banget memikirkan kematian.

Aku nggak tau apakah kalian pun merasakan hal ini atau enggak. Tapi terkadang aku merasakan tiba-tiba tenggorokanku sakit, badan meriang, dan beberapa gejala yang disebutkan merupakan gejala terkena virus corona, padahal suhu tubuhku normal-normal aja. Kukira aku sendiri yang merasakan, tapi ternyata enggak, karena orang-orang di grup Anxiety pun rupanya merasakan hal serupa. Aku baru menemukan jawaban ketika membaca postingan dr. Andri,spKJ,FACLP yang menyatakan bahwa hal itu merupakan reaksi psikosomatik tubuh yang wajar terjadi saat seseorang mengalami kecemasan berlebih tentang sesuatu yang memicu rasa cemas tersebut, dalam hal ini adalah berita-berita terkait penyebaran virus corona.

Well, jujur aku takut. Bukan hanya takut bahwa suatu saat virus itu akan menyerangku, tapi juga takut jika virus itu menyerang orang-orang di sekitarku, khususnya orang-orang terdekatku (ya Allah, na'uzubillahiminzalik). Di Italia, dalam 19 hari, 20 orang positif terinfeksi virus dan 1 orang meninggal; sedangkan di Indonesia, dalam 19 hari, 369 orang positif terinfeksi dan 32 orang meninggal. Jika di Italia aja dalam 49 hari, 37.860 orang positif terinfeksi dan 4.032 orang meninggal; gimana dengan di Indonesia? Belum lagi informasi tentang para tenaga medis yang satu persatu tumbang :')

Dan lagi.. baru beberapa jam lalu, aku baca sebuah postingan di Facebook yang membuat rasa cemasku semakin menjadi.
"Jika orang kesayangan Anda terkena Covid-19, itulah saat terakhir Anda bersamanya. Karena selepas dibawa ke ICU, Anda tidak bisa melihatnya, dan jika meninggal pun, Anda tidak diijinkan menatap wajahnya. Kematian Covid-19 lebih jahat dari AIDS. Jenazah tidak dimandikan, hanya ditayammum di atas plastik. Semua pakaiannya akan ditanam bersama jasad."

Ya Allah..
Aku takut. Takut banget. Sering aku berpikir, gimana kalo dalam waktu dekat ini aku bakal menyusul mereka, para korban itu? Aku benar-benar belum siap dengan amal-amalku yang masih jauh dari kata baik. Sering juga aku berpikir, gimana kalo yang menyusul adalah orang-orang yang aku sayang? Ya Rabb, rasanya aku lebih-lebih nggak siap untuk itu, entah kenapa. Rasanya aku nggak bisa hidup tanpa mereka Padahal seharusnya aku lebih mencemaskan amal-amalku yang sangat mungkin ibarat raport merah kan ya. Dan.. ahh.. mengingat postingan itu, membacanya aja udah hancur banget perasaan. Sedih banget nggak sih, para korban itu meninggal dengan kesepian, mengingat hanya tenaga medis yang diperbolehkan mengurus jenazah mereka, bukan keluarga. Sementara keluarga yang ditinggalkan nggak bisa mengucapkan kata-kata selamat tinggal, bahkan sekedar menatap mereka untuk terakhir kali pun nggak bisa :') Sedih banget bayanginnya :')

Sering aku berpikir semua ini hanyalah mimpi buruk, berharap aku segera terbangun, dan segalanya baik-baik aja. Aku bener-bener cemas banget. Panik. Stres. Saking stresnya, aku curhat sama Yuda, curhat sama Mas Adhe.. dan mereka menilai aku overthinking. Yah, nggak salah sih, memang iya. Aku berusaha untuk berpikir positif, karena biar bagaimanapun pikiran positif sangat dibutuhkan, karena kalo terlalu sering menanamkan pikiran negatif, yang dikhawatirkan tubuh jadi menerima sugesti negatif dan bikin kita jadi nggak sehat. Tapi rasanya susah banget :(

Yah, mungkin inilah cara Tuhan mengingatkan kita betapa kesehatan itu penting. Sehingga yang perlu kita lakukan sekarang adalah melakukan ikhtiar pencegahan dengan rajin-rajin mencuci tangan, minum vitamin penguat imun, serta lebih memperhatikan kebersihan dan interaksi dengan orang lain (terlebih dengan orang-orang yang terlihat sakit).

Mungkin inilah cara Tuhan menegur hamba-Nya agar mendekat. Mungkin nggak pernah kita merasa sebutuh ini sama perlindungan-Nya kecuali sekarang. Mungkin nggak pernah kita merasa sedekat ini dengan kematian kecuali sekarang.

Ya Allah, lindungilah kami semua dari segala bala dan musibah. Hapuskanlah ia dari muka bumi. Kami ingin kembali hidup tenang. Terlebih sebentar lagi bulan Ramadhan. Kami ingin menyambutnya dengan sukacita. Akhirilah mimpi buruk ini, Ya Allah :')
Namun jika telah habis waktu kami di dunia, maka matikanlah kami dalam keadaan husnul khotimah dan tempatkanlah kami beserta orang-orang yang beriman pada-Mu. Aamiin :')

Stay safe, Everyone 🙂
Kamis, 23 Januari 2020 0 komentar
There is not a single word, in the whole world
That could describe the hurt the dullest knife just sawing and back and forth
And ripping through the softest skin there ever was

How were you to know?
Well, how were you to know?

And I, I hate to see your heart break
I hate to see your eyes get darker as they close
But I've been there before
And I, I hate to see your heart break
I hate to see your eyes get darker as they close
But I've been there before

Love, happens all the time, to people who aren't kind
And heroes who are blind,
Expecting perfect script in movie scenes
Once an awkward silence mystery

How were you to know?
Well how were you to know, oh, oh?

And I, I hate to see your heart break
I hate to see your eyes, get darker as they close
But I've been there before
And I, I hate to see your heart break
I hate to see your eyes, get darker as they close
But I've been there before

For all the air that's in your lungs
For all the joy that is to come
For all the things that you're alive to feel
Just let the pain remind you hearts can heal

Well, how were you to know?
Well, how were you to know?

(Paramore - Hate To See Your Heart Break)


Source : @febrmdhn on Instagram


Mana yang kamu pilih, berbohong untuk mendapatkan permen, atau jujur namun harus menelan pil pahit?

Hari ini aku memilih pilihan kedua, dan akibatnya aku harus menerima pahitnya kenyataan yang harus kutelan, ketika kejujuran yang kuungkapkan bukanlah sesuatu yang ingin ia dengar.

"Maaf," kataku.
"Sudah ya, cukup. Terima kasih", balasnya, "Saya nggak akan ganggu kamu lagi".
Aku terhenyak. Bukan ini akhir yang kuinginkan. Bukankah baru beberapa saat lalu kami melepas rindu, saling berbincang, dan semuanya berjalan baik-baik saja?

Can I have my last 6 hours, please? Aku ingin pinjam bahunya untuk pertama, atau mungkin terakhir kali, aku nggak tahu kedepannya bagaimana. Untuk apa? Entahlah. Selama ini aku nggak pernah mampu menangis di depannya. Tapi seenggaknya, aku ingin bersandar walau sebentar. Sedih, karena begitu banyak hal menyangkut dirinya yang aku rasakan dan sulit kupahami, apalagi dijelaskan. Aku saja nggak paham, apalagi dia. Yang kulakukan justru menyakitinya, padahal sungguh aku nggak bermaksud begitu.

Aku pernah tersakiti karena kecewa, hari ini aku yang menyakiti seseorang. Hal ini membuatku sadar, there's no better feeling between being hurt or hurting. Keduanya sama-sama menyakitkan. Dan menyakitinya berarti menyakiti diriku sendiri. I always hate to see his heart break, but ironically I'm the one who breaks it. I'm not fine with that, of course. Sesakit ini rasanya.

Maaf..

:'(
Senin, 20 Januari 2020 0 komentar

Minggu Seru di JFans Ciayumajaku

Aahh.. Aku excited banget mau nulis ini. Yesterday was soooo fun!

Setelah perform bersama Ophelia di event Juunigatsu Festival Tahun Ke-4 pada bulan Desember lalu, kami kembali perform di acara JFans Ciayumajaku 2020. Sama seperti Juunigatsu Festival, event JFans Ciayumajaku ini juga merupakan festival seni dan kebudayaan Jepang yang diselenggarakan rutin setiap tahunnya.



Untuk event ini, aku menyiapkan sebuah seifuku dress dan topeng neko (atau kitsune yah? habisnya agak mirip sama topeng dalam video klip Megitsune-nya Babymetal, hanya aja punyaku half-face). Niatnya aku mau mengenakan seifuku dress dengan topeng itu yang menutupi wajahku, kayak Nano pas jaman masih jadi mysterious singer gitu. Toh sah-sah aja kok, namanya juga performer. Meski sebenarnya itu akal-akalanku untuk meredam rasa malu saat tampil, karena kukira akan lebih baik kalo wajahku tersembunyi. Wkwkwk..

Tapi kemudian aku berubah pikiran. Aku nggak jadi pakai seifuku dress, dan topeng itu aku pakai di samping kepalaku.

Dari rundown acaranya, Ophelia dijadwalkan perform sekitar jam dua. Tapi Jack bilang acaranya ngaret. Checksound yang dijadwalkan jam delapan pagi aja baru terlaksana sekitar jam sebelas siang. Tapi aku kurang teliti membaca informasi yang temanku share di grup. Kukira Jack bilang 'performnya jam setengah tiga', jadi aku prepare dari jam setengah dua belas siang, dan beres sekitar jam setengah dua. Jam dua siang aku bersiap berangkat, namun aku cek lagi informasi yang Jack sampaikan di grup, ternyata yang dia sampaikan adalah 'performnya nggak jam setengah tiga', dan masih ada lanjutannya lagi setelah itu, hanya aja aku nggak baca. Haissh..

Akhirnya aku yang udah rapi pun memutuskan buat tidur sebentar, tapi sambil duduk gitu, nggak tiduran. Biar nanti aku baru berangkat kalo udah ada yang ngabarin OTW, begitu niatku.

Jam tiga kurang dua belas menit, aku dibangunkan dengan suara denting bel yang menandakan ada pesan WhatsApp masuk ke hapeku. Rupanya pesan dari salah satu masku yang paling baik.
Guess who?
Mas Adhe.
Guess what?
Dia nanya, kok bandku belum mulai perform.

Rasa kantukku seketika menguap. Astaga. Memangnya dia datang ke acara?? Well, sebelumnya dia memang bilang sih kalo dia mau datang untuk lihat aku perform, tapi aku nggak anggap serius karena tau banget dia orangnya kayak gimana. Tapi mengetahui dia beneran datang, aku jadi surprised 😂
Kubilang kalo acaranya ngaret, tapi aku nggak bilang kalo aku masih di rumah. Wkwkwk.. Kemudian dia balas, "Ah, udah dateng juga!"
Aku pun langsung melesat keluar kamar dan pamit pada ibu dengan terburu-buru. Kasihan juga dia, udah bela-belain datang, akunya masih di rumah. Wkwkwk..

Sesampainya di lokasi, aku berjalan sambil celingukan mencari Si Jangkung itu. Dia bilangnya nunggu di belakang replika bus London, but I didn't find him.
"Kamu ngapain muter-muter?" tanya sebuah suara di belakangku. Aku pun berbalik dan menemukan orang yang kucari. Dia nggak sendiri, melainkan bareng Mas Anzar. Spontan aku langsung nyengir lebar, excited banget ketemu mereka lagi.
"Teman-teman kamu mana?" tanyanya.
"Nggak tau. Belum datang deh kayaknya," jawabku sambil celingukan.
"Dih, aneh", ucapnya sambil ketawa meledek. "Kalo nggak dateng, ntar saya sama Anzar nih yang gantiin".

Sambil menunggu teman-temanku, aku, Mas Adhe, dan Mas Anzar pun turun untuk membeli minum. Ketika sedang membayar di kasir, Inggit meneleponku, menanyakan keberadaanku. Kubilang kalo aku lagi beli minum sebentar.
"Udah waktunya perform, Teh. Ini udah dipanggil," ucapnya dengan nada panik. Astagaa.. Kukira belum pada datang, kukira performnya masih lamaa..
"Mas, udah mau perform nih," kataku sambil berjalan tergesa-gesa. Kami pun kembali ke atas, hanya aja aku berjalan lebih dulu, meninggalkan mereka. Jahat banget ya. Huhu..

Kutelepon Inggit, "Dimana?"
"Inggit di depan panggung, Teh. Tunggu aja di backstage. Ini jadinya Clover dulu yang main", jawabnya. Yup, karena aku datang terlambat, alhasil Ophelia yang seharusnya perform pertama jadi tukeran jadwal sama Clover. Aku pun menghembuskan napas lega. Yah, seenggaknya aku jadi punya waktu buat menarik napas dan menenangkan diri dulu pasca panik dan berjalan cepat dari bawah ke atas tadi. Kukirimkan permintaan maafku pada Mas Adhe via WhatsApp. However aku merasa nggak enak sama Mas Adhe dan Mas Anzar. Rasanya nggak sopan banget meninggalkan mereka yang udah bela-belain meluangkan waktunya untuk datang. Huhu.. Maaf ya, Mas..

Anyway, aku belum bilang ya kalo Ryan dan Jack bermain untuk dua band. Selain bermain untuk Ophelia, mereka juga bermain untuk Clover. Sebagai band pertama yang perform saat itu, harusnya Clover bisa perform dengan sangat baik mengingat pembawaan Anton, sang vokalis yang cukup powerful, ditambah lagu yang mereka bawakan semuanya bikin atmosfer jadi panas, salah satunya adalah lagu Kyouran Hey Kids milik The Oral Cigarettes. Hanya aja sayangnya, entah kenapa suara drumnya (saat itu mereka menggunakan drumpad alias drum elektrik) mati nyala gitu. Kemungkinan sih karena kabelnya bermasalah. Akibat hal ini, performance mereka dalam membawakan tiga dari empat lagu menjadi kurang maksimal. Bahkan ada satu momen ketika penonton berkurang sedikit demi sedikit. Gemas banget lihatnya. Padahal kalo udah check-sound sebelumnya, harusnya hal seperti ini nggak terjadi.
"Bilang ke soundman-nya, suara drumnya benerin dulu nanti pas band kamu main," kata Mas Adhe via WhatsApp. Sebagai seorang drummer, dia geregetan sendiri menyaksikan insiden itu. Mungkin kalo dia yang main, dia udah ngamuk-ngamuk sama soundman dan panitia. Wkwk..
Masalah sound baru terselesaikan ketika mereka memutuskan untuk mengganti kabel, dan performance terakhir Clover pun terselamatkan.

Singkat cerita, tibalah waktunya Ophelia untuk on stage. Ketika itulah jantungku mulai berdebar-debar. Kebiasaan banget. Apalagi ketika MC mulai mengajakku berbicara dan memintaku untuk memperkenalkan diri. Melihat ratusan pengunjung di depanku, ditambah Mas Adhe yang cengar-cengir di belakang sana membuatku jadi gugup. Entah ledekan apa lagi nanti yang meluncur dari mulutnya.

Lagu pertama yang kami bawakan adalah salah satu original soundtrack Digimon yang berjudul Butterfly. Sayangnya suara yang dihasilkan dari mikrofonku kurang terdengar. Namun hal itu nggak membuat semangat audience mengendur. Mereka dengan semangat terus ikut bernyanyi dan jejingkrakan mengikuti alunan musik. Huhu.. Jadi terharu, dan itu cukup memberi energi tersendiri buatku. Rasa gugupku berangsur-angsur berkurang, aku pun jadi lebih fokus pada musik dan audience. Di tengah penampilan kami, sekilas aku melihat Yuda di sisi stage sebelah kananku. Aku sempat melempar senyum sebagai sapaan. Tapi kayaknya dia nggak lama sih disitu, karena beberapa waktu kemudian dia nggak lagi nampak.




Selanjutnya, kami membawakan lagu Silhouette milik Kana-boon. Lagu yang menjadi salah satu soundtrack Naruto ini sukses membuat audience semakin menggila. Area depan stage menjadi arena moshpit dimana para audience berjingkrak-jingkrak, saling membenturkan badan dengan audience lainnya, dan berputar-putar. Namun semua aman terkendali kok. Semuanya asik menikmati musik dengan baik.




Di penampilan ketiga, kami membawakan lagu Angels Trip milik VAMPS. Namun lagu ini nampaknya kurang populer, sehingga kerumunannya nggak sebanyak di lagu-lagu sebelumnya. Tapi alhamdulillah, masih ada beberapa orang yang tetap asik menikmati lagu yang kami bawakan dengan nge-dance nge-dance gitu di depan stage. Uwu banget 😂




Daaaan akhirnya tibalah kami di penampilan terakhir, kami membawakan lagu Ceria milik J-Rocks. Ketika itu, para audience yang semula mundur mulai maju lagi ke arena moshpit dan kembali melakukan 'kerusuhan'. Wkwkwk..




Selesai perform, aku menghampiri Mas Anzar dan Mas Adhe yang masih cengar-cengir. Well, aku udah siap diledek, dihina, dikomentarin.. apapun itu lah 😂 Tapi ternyata..
"Cieee sukses nih yee.." kata mereka. Mas Anzar menyalamiku, memberi selamat.
"Alhamdulillah", ucapku sambil tersenyum lebar, bersyukur performanceku nggak malu-maluin disaksikan mas-mas yang udah lebih senior dalam dunia permusikan ini. Bersyukur juga mereka nggak berkomentar yang aneh-aneh kecuali soal insiden suara drum yang mati nyala dan vokalku yang kurang terdengar di lagu pertama.
"Udah kan performnya? Mau main ke rumah Ipank?" tanya Mas Adhe. Yah, tadinya Mas Ipank dan Teh Indri juga memang berencana datang untuk menonton performanceku. Namun sayangnya Mas Ipank kerja dan baru pulang sekitar jam lima sore.
"Hmm.. Boleh deh," jawabku.
"Ya udah, ayo".
" Eeh saya pamit sama teman-teman dulu. Kalian duluan aja".

Akhirnya mereka berdua pun pamit, sementara aku menghampiri Inggit yang sedang mengecek hasil dokumentasinya, nggak jauh dari stage.
"Yang lain kemana?" tanyaku.
"Tuh, di belakang", jawabnya sambil menunjuk backstage dengan gerakan kepala. Kemudian Ryan muncul dan mengajak kami untuk bergabung dengan teman-teman yang sedang berbagi nasi kotak di backstage. Setelah masing-masing udah mendapatkan satu nasi kotak, kami pun duduk mengelilingi salah satu meja di depan Food Court, nggak jauh dari area event. Kami pun ngobrol-ngobrol sambil menemani beberapa orang dari kami makan.

Beberapa lama kemudian, Mas Adhe menelponku via WhatsApp. Karena Inggit sedang mentransfer video hasil dokumentasinya ke hapeku, sinyalnya jadi buruk. Akhirnya kutelpon balik dia.
"Saya nggak jadi ke rumah Ipank ya. Nanggung banget nih, ntar malemnya ada manggung", katanya. Memang sih, tiap Sabtu atau Minggu malam, dia manggung bareng Aghatri di cafe atau rumah makan gitu.
"Oh ya udah gapapa, Mas. Sukses ya," jawabku.
Aku pun kembali bergabung dengan teman-temanku.

Aku juga sempat ngobrol bareng Yuda yang waktu itu lagi duduk juga di salah satu meja depan Food Court bareng Wira, pacarnya. Ini bukan pertama kalinya sih aku ketemu Wira. Kami pertama kali ketemu waktu aku mau nonton performance J-Rocks di Grage City Mall tahun 2017 lalu. Hanya aja saat itu kami nggak ngobrol. Sebenarnya Yuda sempat ingin memperkenalkan aku pada pacarnya itu mengingat kami yang sama-sama memiliki minat dalam bidang tulis-menulis (FYI, Wira memiliki bakat dalam menulis novel dan saat ini tengah kuliah di jurusan English Literature). Siapa tau kami bisa jadi teman diskusi yang baik, katanya. Hanya aja aku canggung. Jadi baru kemarin itu kami ngobrol walau nggak banyak. Itupun hanya soal kondisi sound dan jadwal acara yang ngaret. Wkwkwk..

Aku dan teman-temanku baru beranjak dari area Transmart ketika jam menunjukkan waktu sekitar pukul setengah tujuh malam.

OPHELIA & CLOVER. Ki-Ka : Ikbal, Ryan, aku, Kholis, Anton, Jack.

Alhamdulillah, aku benar-benar bersyukur banget. Meski saat Ophelia tampil ada sedikit kendala di mikrofon, tapi kami merasa cukup puas dengan performance kami. Jujur, selama aku perform di depan publik, baru kali ini aku berhadapan dengan para audience yang memiliki animo sepositif itu menikmati lagu-lagu yang kami bawakan, dan itu nggak cuma segelintir orang. Nggak tau deh kalo teman-temanku yang lain. Makanya aku terharu, merasa dihargai gitu jadinya. Huhu.. Maaf kalo lebay. Maklum, namanya juga baru. Wkwkwk.
Selasa, 31 Desember 2019 0 komentar

New Year : 2020

Hmm.. Nggak terasa kita udah sampai di penghujung tahun 2019 ya. How do you feel, Guys?
Kalo aku pribadi, jujur, sedih. Yah, hampir setiap pergantian tahun, aku selalu merasakan ini sih, terlebih jika tahun itu memiliki banyak momen indah dan berharga yang nggak akan terulang lagi. Aku orangnya hobi banget flashback sih ya, suka banget mengenang hal-hal berkesan di masa lalu. Jadi ketika tahun berganti, itu artinya makin banyak momen indah di masa lalu yang bakal kurindukan di masa mendatang.

Tahun ini kurasakan baik, sangat baik, meski diawali dengan momen buruk, karena bulan Januari ibuku sakit selama sekitar sebulan lamanya sampai harus rawat inap di Rumah Sakit. Apalagi ketika dugaan awal dokter menyebutkan bahwa ibu terkena gejala kanker. Ketika itu perasaanku hancur banget. Namun setelah dirujuk ke Rumah Sakit dan menjalani pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa ibu hanya kelelahan aja karena memang sebelum jatuh sakit, ibu sering banget tidur larut malam lantaran disibukkan dengan tugas-tugas kadernya. Alhamdulillah di bulan Februari, kondisi ibu membaik dan bisa kembali beraktifitas.

Di bulan Februari juga aku bertemu kembali dengan salah satu penulis favoritku, Fiersa Besari. Ini adalah pertemuan kedua kami setelah sebelumnya kami bersua pada tahun 2017, tepatnya saat ia mengadakan tur untuk promosi Albuk Konspirasi Alam Semesta. Kali ini kami bersua dalam perjalannnya mempromosikan Albuk 11:11 yang rilis pada bulan November 2018 lalu. Pertemuan kami saat itu harusnya jauh lebih berkesan ketimbang pertemuan sebelumnya, karena di pertemuan kali ini kami nggak hanya bisa minta tanda tangan, tapi juga foto berdua dengan dia. Namun yang terjadi adalah mood-ku jatuh begitu aja ketika hasil foto yang kuterima sangat-sangat nggak memuaskan. Huhu..

Pada bulan Maret, perusahaan tempatku bekerja merayakan hari jadinya yang ke-7 tahun di Gedung Auditorium Perundingan Linggarjati. Hari itu, untuk pertama kalinya aku bersama MUSTunable perform di hadapan rekan-rekan kantor cabang Cirebon. It was so fun, meski kami harus perform tanpa Mas Win yang awal tahun 2019 lalu mengundurkan diri dari perusahaan karena penglihatannya bermasalah. Sedih banget rasanya waktu dengar kabar itu. Kabar terakhir yang kudengar darinya, sekarang ia menjadi pedagang keliling. Semoga rejekimu lancar ya, Mas :')
Hengkangnya Mas Win dari perusahaan nggak lantas membuat personil MUSTunable Band berkurang, namun justru bertambah, karena Inggit dan Badar resmi bergabung dengan kami. Inggit pada posisi Vokalis, mendampingiku, sementara Badar pada posisi Drummer, bergantian dengan Mas Febri yang terkadang mengisi posisi Rhythm.

Di bulan April, aku membeli sebuah gitar akustik berukuran sedang. Pada awalnya aku memang niat belajar bermain gitar. Tapi kok ternyata susah banget. Huhu.. Jariku juga gampang banget sakit. Kata temanku sih, senar gitar itu terlalu tebal. Harus ganti yang lebih tipis kalo mau lebih nyaman dipakai. Nanti deh, aku kumpulkan niat dulu buat belajar lagi, baru aku ganti senarnya. Wkwk..
Di bulan April ini juga, aku kehilangan kucing kesayanganku, Toothless. Aku yakin seseorang membawanya, karena terakhir kali aku melihatnya, dia sehat, nggak sakit. Sampai sekarang aku nggak tau dimana dia berada, dan sampai sekarang juga aku masih mencoba buat ikhlas. Aku berharap dia bersama orang yang memelihara dan menjaganya dengan baik. I miss him so bad :')

Bulan Mei bertepatan dengan bulan Ramadhan, dan bulan Ramadhan rasanya kurang afdol kalo nggak mengadakan buka puasa bersama. Di bulan Ramadhan tahun ini, aku mengadakan buka puasa bareng keluarga pada tanggal 12 Mei yang mana terasa sedikit lebih spesial dengan kehadiran Naura di tengah-tengah kami. Kemudian tanggal 29 Mei, aku berbuka puasa di kantor bersama rekan-rekan, namun rasanya kurang berkesan karena banyak karyawan yang nggak hadir. Huhu..
Tanggal 30 Mei berkesan banget. Aku berkunjung ke rumah Rohayati yang baru aja melahirkan anak pertamanya. Sore harinya, aku berbuka puasa bersama adik dan dua teman rumah kami di D'Forty Cafe & Resto, dan dilanjut dengan berkumpul di rumahku sampai malam.
Di penghujung bulan Mei, aku berbuka puasa di Hotel Amaris bersama beberapa rekan kantorku yang paling dekat. Ada Pak Ben, Bu Hani, Bu Lia, Mbak Tika, Mas Febri, A' Putra, Bu Rohayati, dan Pak Ading. Acaranya kurang berkesan, tapi tetap senang sih rasanya.

Bulan Juni, one of the best months of 2019. Pada bulan ini, seluruh umat muslim merayakan Idul Fitri. Meski perayaan Idul Fitri dirasa kurang berkesan lantaran banyaknya kerabat yang nggak sempat ketemu karena tinggal di kota lain, tapi kami tetap menyambutnya dengan suka cita. Di hari kedua lebaran, aku bertemu dengan Emak (ibu tiri bapak). Ketika kuhampiri, beliau langsung memeluk dan menciumku. Kangen katanya. Hanya aja aku agak prihatin karena kondisi beliau nggak seprima dulu. Beliau yang dulu nggak pernah betah duduk diam, kini cuma bisa duduk karena kedua kakinya nggak lagi kuat untuk berjalan tanpa bantuan. Bicaranya pun udah sedikit nggak karuan, yah seperti orang lanjut usia pada umumnya.
Kemudian pada tanggal 16, Empit, anak kedua Wak Agus menikah. Hari itu untuk pertama kalinya aku perform didepan keluargaku dengan menyumbang beberapa buah lagu. Meski perform di depan keluarga sendiri, tapi entah kenapa rasanya tetap nervous. Mending perform di depan teman-teman kantor, serius 😂
Lalu di penghujung bulan Juni, tepat di hari ulang tahunku, aku berkenalan dengan Mas Ipank dan Bang Fais, serta bertemu kembali dengan Mas Adhe yang kukenal di tempat les vokalku tahun lalu. Pertemuan dan perkenalan inilah yang menjadi awal terbentuknya Black Party. Sampai sekarang, meski udah nggak aktif ngeband bareng mereka lagi (karena Mas Adhe dan Bang Fais mau fokus cari duit) dan udah lumayan lama juga nggak ketemu Bang Fais (kami terakhir ketemu dan ngeband bareng pada bulan Oktober), tapi aku sangat-sangat bersyukur bisa mengenal mereka. They're one of the greatest birthday gifts I have 🙂

Bulan Juli, adalah bulan dimana aku dan teman-teman dari Black Party sering menghabiskan waktu bareng. Entah itu latihan di studio, kumpul bareng, atau beres-beres studio bareng, studio yang pernah kami rencanakan akan menjadi studio pribadi kami, tapi nggak kunjung terwujud. Haha..
Kami juga sempat bergabung dengan DCDC meski akhirnya kami memutuskan untuk nggak lanjut.

Bulan Agustus, another best month of 2019. Pada bulan ini, Mas Ipank melepas masa lajangnya dengan meminang teteh cantik, Teh Indri. Aku datang ke pesta pernikahannya bersama Bang Fais. Hari itu, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan para personil Aghatri (salah satu band Mas Adhe) dan diminta untuk berduet bersama Wangi (ex-vokalis Last Dream yang kini menjadi vokalis di Aghatri). Senang sih rasanya bisa kenal dan berduet sama dia. Tapi rasanya minder eh, coz her voice is gold :')
Tanggal 11-nya, aku dan teman-teman Black Party merayakan hari ulang tahun Mas Adhe di kediamannya di kawasan Drajat. Nggak cuma kami berempat, ada juga Teh Indri, Mas Diwan, Mas Bagas, dan Mas Anjar yang bergabung bersama kami. Hari ultah Mas Adhe yang bertepatan dengan hari raya qurban itu kami rayakan dengan bakar sate dan makan bersama. Sederhana, tapi berkesan banget.
Kemudian pada tanggal 17, bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan RI, aku, Teh Indri, Mas Adhe, Mas Ipank, Mas Awal beserta istri dan keponakannya jalan-jalan ke Pondok Pinus, Kuningan. Namun sesampainya disana, kami malah jadi bingung mau ngapain, dan akhirnya cuma foto-foto doang. Wkwk..

Di bulan September, Black Party melakukan rekaman single pertama kami. Proses rekaman yang dilaksanakan di salah satu home recording di kawasan Beber ini memakan waktu sekitar enam jam. Namun meskipun waktunya nggak sebentar, rasanya enjoy aja gitu bareng mereka, nggak bete sama sekali, dan nggak secapek waktu rekaman bareng MUSTunable dulu.
Akhir bulan September ini juga, Black Party perform perdana di acara launching perumahan baru milik Om Fajar. Performance kami saat itu memang jauh dari kata memuaskan sih, khususnya aku yang memang messing up our whole performance dengan kegugupanku. Tapi beruntungnya abang-abang keceku nggak ambil pusing dengan hal itu :')

Bulan Oktober. Ah, lagi-lagi ini adalah salah satu bulan terbaik di 2019. Banyak kejutan dan hal manis yang terjadi di bulan ini. Pada bulan ini, untuk pertama kalinya di hidupku, salah satu teman laki-lakiku datang ke rumah dan memberanikan diri menghadap orangtuaku untuk meminta restu menjadi menantu mereka :') It's funny to remember how silly it was, ketika dia mengutarakan niatnya pada orangtuaku, aku malah meninggalkan mereka karena malu dan gugup. Sounds uwu, huh? Tapi kenyataannya nggak juga, karena orangtuaku nggak lantas memberinya restu, tapi juga nggak melarang kami untuk tetap berhubungan. However I really appreciate his courage. Semenjak hari itu, hubungan kami nggak lantas merenggang, tapi justru jadi makin dekat, and every moment spent with him is precious. I love the way he treats me, seperti betapa ia menghargai prinsipku yang nggak mau memanggil dengan panggilan sayang atau berpegangan tangan seperti pasangan pada umumnya, kecuali kalo udah sah di mata agama dan hukum :)

Pada bulan November, aku dan rekan-rekan kantor melakukan perjalanan ke Jogjakarta. Jogja adalah salah satu kota yang ingin aku kunjungi sejak dulu, dan baru kesampaian tahun ini. Meski perjalanannya panjang dan melelahkan, tapi rasanya senang banget bisa berkesempatan mengunjungi Candi Borobudur dan Tebing Breksi, terlebih kami bisa sempurna menikmati pesona sunset disana. Nggak lupa aku juga membelikan oleh-oleh untuk Mas Kesayangan : sehelai kaos Jogja warna putih dengan motif hitam, yang sebenarnya mungkin akan ia protes karena ia pernah bilang bahwa ia nggak PD mengenakan pakaian putih karena warna kulitnya yang gelap. Tapi aku justru berpikir ia akan terlihat keren dengan kaos itu. And that's true. Moreover I'm glad he loves it 😊
Namun pada bulan November ini juga kami memutuskan untuk break up. Nggak ada yang salah, kami berpisah baik-baik. Namun biar berpisah baik-baik, jujur nggak mudah juga sih. Aku nggak ingat kapan terakhir kali aku nangis, dan baru kali ini nangis lagi, entah itu saat sedang sendirian di kamar, atau saat bibirku melangitkan namanya dalam doa. Minggu-minggu awal itu berat banget rasanya. Bukan karena kecewa, toh kecewa karena apa? Tapi masalahnya, menghilangkan dan memalingkan dia itu susah banget rasanya. I missed him so bad. Setiap hari dalam doaku, aku selalu meminta agar aku bisa ikhlas melepasnya. Tapi terkadang kalo rasa kangen sedang berat-beratnya, aku sering meminta pada Tuhan agar Ia membagi rasa kangen itu padanya, biar aku nggak memikul rasa itu sendirian. Haha.. Dan aku percaya doaku menembus langit dan didengar Tuhan, karena udah beberapa kali Ia mengijabah doaku secara instan. Namun bodohnya sampai sekarang aku nggak mengerti apakah doa yang Tuhan ijabah itu adalah bukti sayang-Nya padaku atau bentuk pelajaran yang ingin Ia beri, karena setiap kali rasa rinduku terobati dengan chatting, telepon, atau pertemuan dengan dia, rasa rinduku akan terasa dua kali lipat lebih berat di hari selanjutnya. Seperti candu :')

Bulan Desember, bulan yang kurasa cukup berat. Entah kenapa pada bulan ini aku merasa Tuhan lagi senang mengajakku bercanda. Banyak banget kejutan-kejutan dari-Nya yang menguras perasaan dan terkadang membuatku merasa sedang menjadi tokoh utama dalam serial FTV.
Hal baiknya, pada bulan ini aku diajak bergabung dengan Ophelia, band yang digawangi Ryan dan dua temannya. Rasa hausku dengan kegiatan ngeband sekaligus tekadku untuk meningkatkan rasa percaya diri mendorongku untuk menerima ajakan itu. Bersama mereka, aku tampil perdana di acara Juunigatsu Festival yang diselenggarakan di Gramedia World Cipto tanggal 15 lalu. Rencananya sih, bulan depan kami akan mengisi acara Japan Festival lagi. Doakan penampilan kami lebih baik ya ^^
Dan kembali lagi ke soal hubunganku dengan Mas Kesayangan yang sekarang udah jadi Ex. Huhu..
Hubungan kami sampai sekarang tetap baik. Kami tetap berteman dan masih cukup sering ketemu, meski rasanya nggak sama lagi dengan pertemanan kami yang dulu. Nggak ada benci di antara kami, dan aku harap selamanya akan seperti itu. Mungkin ya.. Mungkin suatu saat nanti, cepat atau lambat, dia bakal menjauh. Terlebih saat dia udah menemukan perempuan baik yang akan mendampinginya dan menjadi penyempurnanya, begitu juga sebaliknya, sangat mungkin bagi kami untuk kembali menjadi asing. Sebenarnya aku nggak mau itu terjadi. Maksudku, aku ingin agar pertemanan kami nggak putus. Tapi mau nggak mau, aku harus terima kan? Karena nggak baik untuk hubungan kami dengan pasangan masing-masing nantinya.

Aaah.. Jujur, rasanya berat banget ninggalin tahun ini. It was a great year! Yah memang sih, seperti yang udah aku sebutkan di awal tulisan ini, rasanya hampir setiap tahun aku merasakan hal seperti ini, berat melangkah ke masa yang akan datang. Kayak pengen stay aja gitu di waktu sekarang, nggak mau kemana-mana. Malah kalo bisa, pengen putar balik waktu aja. Haha.. Konyol ya.




Entah kejutan apalagi yang akan Tuhan kasih di masa mendatang. Yang pasti, di tahun 2020 mendatang aku berharap agar aku bisa lebih ikhlas menerima segala rencana dan ketetapan Tuhan. He knows what's better for me. Aku harus yakin bahwa skenario-Nya indah. Aku juga ingin belajar untuk lebih mencintai diriku sendiri, dan mulai untuk kembali banyak membaca. Kemarin aku baru sadar bahwa mengisi waktu luang dengan membaca atau menonton film jauh lebih baik ketimbang nge-scroll feeds Instagram atau Facebook, atau ngecek WhatsApp tapi nggak ada pesan baru disana. Wkwk.. 🤭 Kurasa dengan kegiatan membaca atau menonton film itu, aku bisa lebih bahagia 😊

Alright, that's all Kaleidoskop untuk tahun ini. Aku berterima kasih untuk teman-teman yang berpartisipasi menjadikan tahun 2019 ini sangat berkesan. I wish you a happy new year! 😄
Senin, 16 Desember 2019 0 komentar

Pertama Kali Perform di Japan Festival

Ingat ceritaku tentang event yang akan diisi oleh aku bersama Ryan dkk?
Yup, itu udah kami lalui kemarin dan aku akan ceritakan semuanya disini.

Jujur, sampai dengan hari Sabtu kemarin, aku nggak tau acara apa yang bakal kami isi. Mereka bilang acara jejepangan ya aku pikir nggak jauh beda dengan acara jejepangan yang diisi oleh Ryan dan bandnya beberapa waktu lalu. Jadi tanggal 17 November lalu, Ryan dan rekan-rekan bandnya (beda orang, bukan Jack dan Kholis) mengisi acara jejepangan yang diselenggarakan di Grage City Mall. Aku nggak nonton sih, cuma waktu itu kebetulan lewat pas lagi main kesana. Kalo yang aku lihat sekilas sih acaranya nggak begitu besar, karena nggak rame-rame banget. Nah, kukira acara yang kami isi itu ya yang seperti itu. Tapi ternyataaa.. acara yang kami isi kemarin itu rupanya merupakan acara tahunan, dan lebih besar lagi. Mereka nggak bilang kalo itu acara keren. Huhu..

Juunigatsu Festival, namanya. Merupakan J-Fest atau Japan Festival yang diselenggarakan setiap menjelang akhir tahun di kota kami, dan tahun ini merupakan tahun keempat acara ini diselenggarakan. Seperti J-Fest pada umumnya, di acara ini kita bisa menikmati ataupun ikut berpartisipasi dalam kompetisi cosplay, lomba karaoke, dan stage performance. Selain itu, disana juga kita bisa mengunjungi berbagai booth merchandise anime seperti poster, jaket, kaos, dan gantungan kunci. Ada juga manga yang dijual murah banget, cuma dua ribu lima ratus perak perbuah. Booth makanan dan minuman juga ada sih, tapi sayangnya bukan makanan dan minuman khas Jepang yang dijual. Huhu..

Hari Sabtu lalu, kami melakukan latihan terakhir dengan membawakan enam buah lagu, yakni Jiyuu E No Shoutai nya Laruku, Evanescent nya VAMPS, Wherever You Are nya One Ok Rock, Heavy Rotation nya JKT48, Ceria nya J-Rocks, dan Kau Curi Lagi nya J-Rocks.
Lho, kok lagunya jadi makin banyak?
Well, kemarin kami memang berencana hanya membawakan tiga lagu. Tapi karena band yang tampil hanya dua, jadi jaga-jaga aja, siapa tau kami diminta membawakan lebih dari tiga lagu. Selesai latihan, kami sepakat standby di Gramedia World Cipto sekitar jam dua siang, karena jadwal kami on stage sekitar jam tiga sore.

Jam setengah dua siang, aku berangkat ke Gramedia World Cipto dengan menumpang ojek online. Kukira Ryan dan Inggit udah standby di lokasi karena Inggit bilang Ryan udah jemput dia dari jam dua belas siang. Rajin banget, astaga. Tapi sesampainya disana, ternyata mereka berdua lagi nongkrong di Transmart. Ckck.. Jadi, aku langsung naik aja ke lantai tiga dimana acara J-Fest itu digelar. Seenggaknya disana aku bisa nunggu sambil nonton acara atau lihat-lihat penampilan para cosplayer daripada nunggu sambil baca dan lihat-lihat novel, bisa-bisa aku khilaf pengen beli. Wkwk..

Belum dua menit aku menginjakkan kaki di area J-Fest, pandanganku menangkap sosok yang sangat kukenal. Ada Yuda dong di antara ratusan pengunjung situ. Dia lagi lihat-lihat merchandise gitu di salah satu booth yang memang letaknya nggak begitu jauh dari pintu masuk. Langsung aja aku hampiri dia dan colek bahunya.
"Hey, kamu.. kesini juga?" katanya dengan ekspresi wajah surprised. Kami pun berjabat tangan seperti biasa.
"Iya nih. Mau manggung disini".
"Oh, mau manggung".
"Hu'um. Bareng siapa kesini?"
"Bareng teman. Tuh, lagi lihat-lihat komik. Mentang-mentang dijual sepuluh ribu dapat empat", jawabnya sambil melemparkan pandangan ke booth manga. "Bawain lagu apa nih?"
"Yaa biasalah.. One Ok Rock, Laruku.."

Nggak lama ngobrol, aku pun pamit. Pas balik badan, rupanya Inggit dan Ryan udah berdiri di belakangku.
"Yang lainnya mana?" tanya Ryan.
Aku mengangkat bahu, nggak tau. Beberapa menit kemudian, baru deh Jack dan Kholis bergabung bersama kami. Sambil menunggu giliran perform, kami pun menikmati acara yang saat itu sedang menggelar sesi lomba karaoke.




Ironisnya, meski pengunjungnya banyak, namun mereka lebih tertarik berfoto dengan para cosplayer dan menyerbu booth-booth merchandise ketimbang menonton para peserta lomba karaoke tersebut. Alhasil penonton lomba itu nggak begitu banyak. However, aku dan teman-teman lebih memilih untuk menonton lomba karaoke itu meskipun kebanyakan lagu yang mereka bawakan nggak aku kenal. Wkwk.. Tapi penampilan mereka keren-keren deh. Salah satunya penampilan seorang cewek dengan seifuku warna pink. Suaranya imut-imut gitu khas cewek-cewek kawaii di anime, dan dia juga sangat ekspresif, jadi sama sekali nggak terlihat kaku.

Acara disambung dengan penampilan idol group semacam JKT48 gitu (sebut aja CRB48 lah yaa, meskipun jumlah mereka nggak sampai 48 orang). Mereka menari dengan diiringi beberapa lagu yang dipopulerkan JKT48. Sontak para pengunjung yang kebanyakan para cowok maju ke depan panggung dan berseru-seru seolah benar-benar menonton performance JKT48. Lucunya gitaris kami ikut-ikutan ngidol bareng mereka. Wkwkwk..




Setelah itu, giliran grup band Deux yang naik stage. Ketika itulah Ryan memberi info bahwa giliran kami naik stage adalah jam setengah tujuh malam. What the hell? 😂 Jam baru menunjukkan pukul setengah lima waktu itu. Itu artinya kami harus menunggu sekitar dua jam lagi. Akhirnya aku dan Inggit pun memutuskan buat cari makan dulu di luar. Kami makan rice box di KFC Transmart. Nggak beberapa lama, Ryan dkk menyusul kami. Disana kami ngobrol-ngobrol sambil menunggu waktu giliran perform. Dari obrolan kami waktu itu, aku dapat informasi bahwa hari itu kami kebagian membawakan tiga lagu aja. Akhirnya kami sepakat membawakan lagu Heavy Rotation, Evanescent, dan Wherever You Are.

Singkat cerita, tibalah waktunya kami untuk perform. Ketika band kami dipanggil, kami langsung menuju stage untuk bersiap-siap. You know what? Pemandangan di area J-Fest saat itu benar-benar kontras dengan pemandangan area J-Fest sebelum kami tinggal ke KFC tadi. Sebelum kami nongkrong di KFC, kondisinya masih ramai banget. Tapi menjelang kami perform, pengunjungnya tinggal sedikit. Yuda juga udah balik. Huhu.. Sedih. Mungkin karena break Magrib ya, jadi mostly udah pada pulang. Lagipula waktu itu acaranya udah hampir selesai sih, tinggal pengumuman pemenang kompetisi aja.

Keadaan yang nggak sesuai ekspektasi ini tentunya membuat kami kecewa. Kami sengaja milih lagu Heavy Rotation untuk dibawakan di awal, berharap area di depan panggung ramai dan panas. Tapi kenyataannya yang mantengin stage cuma segelintir orang, termasuk dua orang MC yang hari itu cosplay sebagai pasangan gila Joker dan Harley Quinn. Mereka duduk-duduk beberapa meter dari stage. Sama sekali nggak ada yang berdiri tepat di depan stage seperti yang kami harapkan. But show must go on. Kami tetap bermain, meski yang kelihatan ikutan nyanyi dan menggerakkan badan mengikuti alunan musik cuma satu dua orang. Hal ini masih berlanjut di lagu kedua, Evanescent. Sumpaah.. Kalo kondisinya kayak gitu rasanya garing banget. Mau interaksi juga bingung woy, nggak ada yang nanggapin. Huhu.. 😂

Akhirnya tibalah kami di lagu terakhir.
"Ada yang One Ok Rocker disini?" tanyaku setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih kepada Gramedia dan para panitia penyelenggara acara.
"Kita nyanyi bareng ya.."
Ketika itulah, satu, dua orang mendekat ke depan stage. Ketika Kholis memetikan intro Wherever You Are, ada yang mendekat lagi, dan semakin bertambah ketika aku mulai menyanyikan bait pertama.
"I'm telling you.. I softly whisper..
Tonight, tonight..
You are my angel.."

Mereka yang berdiri tepat di depan stage itu nggak bisa dibilang banyak sih, mungkin cuma sebelas, dua belas, tiga belas orang.. aku lupa tepatnya. Tapi itu cukup bikin aku terharu. Apalagi mereka juga ikut nyanyi dengan semangat. Lucunya ada juga salah satu orang yang iseng mungut bunga mawar yang jadi properti cosplayer dan memberikannya padaku di tengah-tengah lagu. Wkwkwk..


Arigatou, Mas Rambut Ijo 😂

Para sobat ambyar. Itu Mas yang di kursi
merah kenapa dah 😂


Pokoknya aku berterima kasih banget sama teman-teman yang kemarin berdiri di depan stage dan nyanyi bareng. Senang banget bisa berinteraksi sama mereka, meski singkat dan nggak sempat kenalan sebagai sesama One Ok Rocker Cirebon. Huhu.. Tapi seenggaknya berkat mereka, performance kami jadi nggak garing garing banget :)

Sumpah yaa.. Kemarin tuh benar-benar campur aduk banget rasanya. Senang, tapi banyak kecewanya. Udah jadwal ngaret, kondisi nggak sesuai ekspektasi, ditambah beberapa hal lain terkait crew di belakang stage yang kurang kooperatif terhadap performer (sorry to say that). Dan beberapa temanku yang kemarin-kemarin bilang 'insya Allah' mau datang pun nggak ada :') Tapi ya udahlah. Seenggaknya ada pengalaman yang bisa diceritakan dan jadi kenangan suatu hari nanti.

BTW performance-ku dapat kritik dari Mas Adhe. Katanya aku masih kurang jelalatan di panggung sebesar itu. Well, iya sih, kuakui aku memang masih banyak diam, belum pede jadi seorang frontman yang petakilan. But I'll always try. Jujur lho, bahkan sampai sekarang, tampil di depan orang banyak tuh masih jadi pressure sendiri buatku. Nggak jarang setiap sebelum perform aku stres sendiri, anxiety kumat. But I'll never stop selama masih ada kesempatan dan nggak ada yang melarangku, karena sejak awal bergabung dalam band, niatku yang paling kuat adalah niat untuk berubah jadi aku yang lebih percaya diri dan berkembang. Aku nggak mau terus-terusan jadi Putri yang cupu, kebanyakan di rumah, dan nggak punya teman. Anggap aja manggung itu suatu bentuk terapi yang menyenangkan. Anyway, thanks banget masukannya, Senior 😊

"Putri mau kan manggung sama kita lagi kalo besok besok ada acara J-Fest lagi?" tanya Jack sebelum kami pulang.
"Boleh aja kalo kalian nggak kapok. Hehe.."
Jujur aku khawatir banget performance ku mengecewakan mereka. Mereka mainnya keren-keren, akunya sucks banget.

Oh ya, aku belum bilang ya nama band kami apa. Call us OPHELIA. Mungkin selama beberapa waktu kedepan, aku bakal lumayan sering main bareng mereka. Mungkin..
Hanya aja, jujur, sampai sekarang aku belum bisa 'nyampur' sama mereka. Entah kenapa aku masih merasa ada batasan dan rasa canggung aja gitu. Sebenarnya sama aja kayak mas-masku di Black Party, mereka gila. Lihat aja obrolan ini :




Pernah juga mereka suit batu-kertas-gunting cuma buat nentuin siapa yang ngasihin duit ke operator studio gara-gara malu lantaran duitnya receh semua (lagian Jack patungan sewa studio pake duit logaman semua, macam habis ngamen). Nggak jelas banget kan? Gila. Tapi nggak tau kenapa aku belum merasa klop. Aku terlalu normal buat mereka, sering dibuat bingung sama obrolan mereka. Huhu.. Yah, pelan-pelan lah ya. Tampaknya bakal cukup lama bagiku untuk terkontaminasi virus edan mereka 😂

Total Tayangan Halaman

 
;