Minggu, 08 Agustus 2021 0 komentar

Pulang

Kurang lebih setengah tahun aku dan Mas tinggal mengontrak di sebuah rumah kecil di kawasan Drajat, hari ini kami pulang ke rumah orangtuaku di Kesenden. Bukan hanya untuk satu-dua hari seperti biasanya, tapi untuk beberapa tahun ke depan. Sebenarnya Mas sudah mengambil rumah di sebuah komplek perumahan di kawasan Mundu, namun kondisi saat ini nggak memungkinkan bagi kami untuk tinggal disana.

Mundu adalah salah satu kecamatan di kabupaten Cirebon. Jaraknya cukup jauh, baik dari tempat kerja maupun tempat tinggal kami saat ini. Belum lagi kondisi jalan menuju komplek perumahan yang nggak rata. Semua kondisi itu agaknya terlalu beresiko untuk ditempuh ibu hamil ataupun bayi yang masih rentan masuk angin jika dibawa bepergian. Well, aku memang memutuskan untuk tetap bekerja selama hamil dan setelah memiliki anak. Dan selama bekerja, untuk sementara kami akan menitipkannya pada orangtuaku. Kasihan kalo anak kecil kami ajak bolak-balik Mundu-Kesenden dan Kesenden-Mundu. Maka dari itu kami
—tentunya setelah berunding dengan orangtua—memutuskan untuk tinggal di rumah orangtuaku, seenggaknya sampai anak kami lahir dan kondisi fisiknya sudah memungkinkan untuk diajak bepergian.

Awalnya kukira kami baru akan pindah di pertengahan Agustus, namun Mas memutuskan untuk mempercepat kepindahan kami. Toh, barang-barang kami sudah rampung dikemas sejak beberapa hari lalu, tinggal mengemas barang-barang yang beberapa hari terakhir digunakan aja, seperti pakaian, peralatan makan, dan peralatan mandi. Barang-barang itu nantinya nggak semuanya dibawa ke rumah orangtuaku, melainkan dibagi dua. Sebagian dibawa ke rumah orangtuaku, sebagian lagi dibawa ke rumah di Mundu.

Sekitar jam sepuluh siang, beberapa orang tukang mulai mengangkut barang-barang kami ke atas mobil bak terbuka. Barang-barang yang dibawa ke rumah orangtuaku didahulukan untuk diangkut. Setelah beres, kami berangkat bersama-sama. Aku tentu aja dibonceng Mas.

Setelah menurunkan barang-barang itu di rumah orangtuaku (tepatnya di salah satu kamar kost milik orangtuaku yang kebetulan sedang kosong), mobil itu kembali ke Drajat untuk mengangkut barang-barang yang akan dibawa ke rumah di Mundu. Mas ikut dengan mereka, sementara aku tetap di rumah. 

Baru kali ini aku merasakan rasanya pindahan, ternyata repot banget yah. Bukan hanya repot dan capek mengemas, tapi juga repot dan capek menata kembali. Setibanya di rumah, kami bahkan nggak bisa langsung memasukkan pakaian kami ke dalam lemari. Lemari pakaianku penuh, apalagi jika ditambah pakaian Mas. Sepertinya mengeluarkan pakaian-pakaian yang sudah jarang kupakai pun masih belum cukup ruang. Sebenarnya Mas punya lemari plastik minimalis, namun lemari itu diangkut ke rumah di Mundu. Akhirnya kami memutuskan untuk menaruh sebagian pakaian kami di kardus dulu untuk sementara waktu. Biar nanti kalo ada waktu, Mas akan meminta tolong temannya untuk membantu membawa lemari itu ke rumah ini.

Meninggalkan rumah kontrakan di Drajat sebenarnya agak berat sih, karena aku sudah merasa cukup kerasan. Meski belum begitu mengenal tetangga-tetangga disana (karena aku memang jarang ke luar rumah), namun sebagai tukang jajan, senang rasanya karena selama tinggal disana, mau jajan apa aja dekat. Mau jajan es krim, tinggal pergi ke warung belakang rumah; mau jajan martabak, roti bakar, tahu tegal, atau cari jajan di Indomaret, tinggal jalan sebentar ke seberang jalan. Mau alpukat kocok atau berbagai minuman kekinian, tinggal motoran beberapa ratus meter ke pusat jajanan di kawasan Kesambi. Mau beli makan pun harganya murah-murah. Empat ribu rupiah kita sudah bisa dapat satu porsi docang, nasi uduk, atau nasi kuning. Hanya aja memang karena dekat dengan tukang jualan, pengeluaran kami jadi jauh lebih banyak. Wkwkwk.

Menetap di rumah orangtuaku tentunya membutuhkan waktu adaptasi yang nggak sebentar untuk Mas. Tapi Mas mengaku merasa lebih tenang jika kami tinggal disini ketimbang langsung menempati rumah di Mundu dan hanya berdua, karena selain alasan yang sudah kutulis di atas tadi, dengan tinggal bersama orangtua selama aku hamil, ibu jadi bisa memantauku. Mas juga jadi nggak perlu khawatir jika harus meninggalkanku apabila dirinya dapat job manggung malam atau hari libur.

Bismillah. Semoga dengan berkumpul kembali, keluarga kami semakin diberkahi kebahagiaan. Aamiin.

Rabu, 04 Agustus 2021 3 komentar

Hi, 2nd Trimester

Trimester pertama sudah berlalu. Aku cukup bersyukur karena selama trimester pertama kemarin, kandunganku bisa dibilang nggak rewel, karena meski tetap merasakan mual dan malas makan, namun aku nggak sampai mengalami muntah-muntah seperti yang kebanyakan dirasakan para bumil. Aku juga nggak banyak ngidam macam-macam, apalagi yang aneh-aneh seperti yang banyak dikeluhkan oleh rekan-rekanku di kantor yang berstatus sebagai calon bapak.

Namun beberapa minggu belakangan ini, aku mulai merasakan sakit kepala yang hebat setiap hari. Bukan sakit kepala biasa, melainkan migrain di bagian kepala sebelah kiri. Sebenarnya migrain bukanlah hal yang nggak biasa buatku. Sejak dulu, aku sudah terbiasa diserang migrain yang munculnya seperti terjadwal. Ia menyerang setiap hari, biasanya mulai dari jam sepuluh pagi, dan kemudian mereda dengan sendirinya sekitar jam dua belas siang atau bahkan lebih lama. Jika sudah begitu, aku hanya cukup tidur atau minum segelas kopi, lalu nyerinya perlahan-lahan hilang. Begitu terus setiap hari. Tapi migrain yang kurasakan kali ini benar-benar menyiksa, dan nggak bisa diredakan dengan tidur ataupun minum kopi. Berbaring justru membuat kepalaku semakin sakit, dan minum kopi sama sekali nggak membantu.

Kondisi seperti ini benar-benar membuatku bingung, apalagi mengingat bahwa seseorang yang sedang hamil disarankan untuk nggak mengkonsumsi obat karena khawatir membahayakan janin, apalagi pada usia kehamilan yang terbilang muda. Aku bertanya pada rekan-rekanku yang lebih dulu berpengalaman mengandung, rata-rata mereka pun nggak mengkonsumsi obat saat merasakan nyeri. Mereka memilih untuk mengoleskan minyak angin yang jauh lebih aman karena nggak dicerna dalam tubuh.

Rasanya tersiksa sekali. Sudah beberapa minggu ini tidurku terganggu karena saat malam nyerinya semakin menjadi. Aku juga merasa semakin bersalah karena nggak jarang Mas ikut terbangun di tengah tidurnya karena mendengar aku meringis, dan sudah beberapa minggu ini pula Mas melarangku untuk melakukan pekerjaan rumah dan membantunya mengepak barang (karena pertengahan Agustus ini kami akan pindah).

Dua hari lalu, aku bertanya pada dokter kandungan perihal aman nggaknya mengkonsumsi obat saat hamil muda, dan dokter menyarankanku untuk mengkonsumsi paracetamol 500mg, karena obat ini dinilai paling aman untuk dikonsumsi ibu hamil. Namun rupanya mengkonsumsi paracetamol hanya meredakan nyeri migrainku sesaat. Beberapa jam setelah mengkonsumsinya, khasiat obatnya hilang, dan nyerinya kembali muncul. Aku tentu nggak mau mengambil resiko dengan mengkonsumsi paracetamol setiap hari untuk meredakan nyeri migrain yang menyerangku setiap hari. Huhu..

Soal penggunaan obat luar pun rupanya nggak bisa sembarangan. Sekitar dua minggu lalu, kulit bagian pahaku mengalami iritasi cukup serius. Aku menyadarinya ketika merasakan sakit di bagian paha kiri saat mandi pagi. Ketika kulihat, rupanya ada luka sepanjang dua belas sentimeter disana. Awalnya kukira itu luka tergores, karena lukanya merah, panjang, dan rasanya perih seperti terkena goresan. Waktu itu aku pikir, ah mungkin aku nggak sadar menggaruk terlalu kuat saat tidur, jadi timbul luka. Namun nggak disangka, beberapa jam setelah itu, lukanya semakin parah. Bagian lukanya menebal, seperti ruam dengan bintil-bintil berisi cairan seperti luka lepuh.

"Gara-gara makan ijoan kali", celetuk Masku, karena memang malam sebelumnya, kami sempat mengkonsumsi kerang hijau. Rasanya nggak mungkin, karena aku nggak memiliki alergi seafood. Lagipula saat itu aku cuma makan satu kerang. Setelah aku browsing Google, barulah aku tau bahwa luka itu berasal dari racun tomcat. Dari situ juga aku baru tau bahwa tomcat nggak menggigit ataupun menyengat, melainkan mengeluarkan racun. Itulah kenapa lukanya bisa sepanjang itu. Tentunya luka ini membuatku sangat merasa nggak nyaman. Berjalan saja rasanya perih, karena lukanya bergesekan dengan pakaian yang kukenakan.

Ada beberapa merk salep ataupun obat luar yang bisa mengatasi luka ini. Namun sayangnya, kebanyakan dari obat-obatan itu merupakan obat keras yang harus digunakan berdasarkan resep dokter (apalagi untuk ibu hamil dan menyusui). Aku sempat berkonsultasi online dengan dokter umum langgananku dan bertanya apakah ada obat untuk mengobati ini yang aman bagi ibu hamil. Memang ada. Obat itu berupa salep, dua macam obat minum, dan satu botol sabun antiseptik. Namun aku kaget melihat harganya. Hampir setengah juta rupiah. Huhu.. Mau nangis. Skincare-ku aja nggak sampai segitu 😭

Tentu saja aku nggak menebusnya. Akhirnya kuputuskan saja untuk membiarkan luka itu sembuh dengan sendirinya. Kadang-kadang aku taburi dengan bedak salicyl. Alhamdulillah sekarang lukanya sudah agak mengering dan tentunya sudah nggak perih. Memang rasanya agak gatal, tapi aku nggak berani menggaruknya karena takut lukanya kembali parah.

Jadi yah, tinggal migrain satu ini yang jadi masalah terbesarku saat ini. Beberapa hari belakangan ini rasanya semakin parah karena gigiku juga sakit, dan nyerinya menyebar hingga ke telinga, leher, dan bahu. Banyak yang bilang, ini adalah pengaruh hormon dan akan menghilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia kehamilan. Jika iya, aku harap ini nggak akan lama :')

Minggu, 25 Juli 2021 0 komentar

Menguji Mental, Nonton THE HUMAN CENTIPEDE

Belakangan ini aku mengalami gangguan tidur. Migrain menyerang setiap hari, membuat diri ini selalu ingin berbaring. Hal ini membuatku selalu jatuh tertidur lebih awal, yakni selepas Isya, namun kemudian terbangun di tengah malam ketika Mas sudah tertidur pulas. Kalo sudah begini, biasanya aku jadi sulit buat tidur lagi. Maka untuk menunggu rasa kantuk kembali, aku biasanya memilih untuk scrolling postingan di medsos, menonton Youtube, atau membaca cerita horor.

Namun beberapa hari terakhir ini, aku sedang suka menonton film. Memang nggak berturut-turut sih. Aku melakukan kegiatan itu hanya jika aku terbangun di jam-jam yang nggak terlalu mendekati waktu dini hari. Sejauh ini baru empat judul film yang kutonton. Ada A Quiet Place 2, Rurouni Kenshin : The Final, The Human Centipede 1, dan The Human Centipede 2.

Di tulisan ini, aku ingin sekali membahas tentang dua film yang terakhir kutonton, yakni The Human Centipede 1 & 2 mengingat film ini adalah film yang membuatku penasaran selama bertahun-tahun. 


Aku pertama kali mendengar mengenai film ini dari Teh Tyas, dan itu sudah lama banget, ketika aku masih sekolah dan kami berdua masih saling terhubung di Facebook. Waktu itu kami sedang membicarakan film-film bergenre Thriller dengan adegan-adegan sadis, dan Teh Tyas menyebut film The Human Centipede sebagai salah satunya. Ia berkata bahwa film ini terlalu sadis sehingga dilarang tayang di beberapa negara. Ia sendiri nggak cukup bernyali untuk menonton film tersebut. Ketika itu, aku penasaran, namun rasa takutku mengalahkan rasa penasaran itu, mengingat menonton adegan-adegan sadis di film Rumah Dara saja mampu membuatku mendesis ngilu.

Beberapa waktu lalu, salah satu menfess di Twitter mengangkat topik tentang film ini, dan ternyataa cukup banyak yang bilang bahwa film ini nggak semengerikan yang dipikirkan. Tapi memang film ini akan sangat mengganggu bagi mereka yang nggak kuat menonton adegan sadis dan mudah jijik.

Mengetahui hal itu, rasa penasaranku terhadap film ini kembali bangkit. Aku pikir, sepertinya nggak masalah. Palingan 11-12 ngerinya sama film I Saw The Devil, pikirku, karena film Thriller yang berasal dari Korea tersebut juga penuh dengan adegan sadis dan beberapa adegan menjijikan, namun aku berhasil menontonnya hingga akhir.

Akhirnya, hari Jum'at dini hari lalu, aku mulai menonton The Human Centipede 1.

***

The Human Centipede : First Sequence

Sepasang sahabat asal Amerika, Lindsay dan Jenny, tengah berwisata di Jerman. Nggak ada yang lebih apes dari keduanya malam itu. Dua gadis malang itu tersesat di tengah hutan di dalam perjalanan mereka menuju klab malam tempat di mana mereka akan berpesta. Di tengah kepanikan mereka karena tersesat, ban mobil yang mereka tumpangi kempes, sementara mereka nggak tau gimana caranya mengganti ban, dan mereka juga kesulitan menghubungi layanan perbaikan mobil karena sulitnya sinyal telepon.



Beberapa lama kemudian, sebuah mobil melintas dan menepi di samping mobil mereka. Dua gadis itu berharap pria yang mengendarai mobil tersebut bisa mereka mintai bantuan. Namun alih-alih membantu, pria tersebut malah menggoda mereka dengan kata-kata nggak senonoh. Karena takut, mereka berdua nggak menggubris pria tersebut hingga ia berlalu dari tempat itu.



Nggak tahan berlama-lama di dalam mobil, mereka memutuskan keluar dari mobil untuk berjalan mencari bantuan. Namun lagi-lagi, mereka justru tersesat jauh ke dalam hutan. Di tengah kebingungan dan hampir putus asa, Lindsay melihat sebuah cahaya di kejauhan. Hujan mulai turun. Mereka berlari-lari kecil menuju cahaya tersebut yang rupanya berasal dari sebuah rumah. Lindsey berseru mengucap syukur, tanpa tau bahwa rasa syukurnya kelak akan berubah menjadi penyesalan seumur hidup.

Adalah Josef Heiter yang mendiami rumah tersebut. Ia adalah seorang dokter ahli bedah yang sudah lama pensiun dan memiliki obsesi gila untuk menyatukan tiga manusia dalam satu tubuh. Dan yah, Lindsay dan Jenny yang malang adalah korban dari eksperimen gila ini. Dr. Heiter pun membius mereka dan menahan mereka di basement, tempat sang dokter melakukan prakteknya. Di ruangan tersebut, nggak hanya ada mereka berdua, tapi juga ada seorang pria gemuk yang dr. Heiter culik sebelum mereka. Namun karena dr. Heiter nggak cocok dengan pria tersebut (entah karena alasan apa), dr. Heiter membunuhnya dengan cara suntik mati. Sebagai gantinya, ia menculik seorang pria Jepang bernama Katsuro.


Dr. Heiter membaringkan dan mengikat ketiga korbannya di atas tiga bangsal terpisah. Setelah memperkenalkan dirinya di depan para korbannya, ia menjelaskan secara rinci bagaimana ia akan menghubungkan ketiga tubuh korbannya dari mulut ke anus sehingga mereka berbagi satu sistem pencernaan. Gambarannya begini, tubuh manusia pertama berada di depan dan memiliki mulut untuk makan, kemudian mulut manusia yang berada di rangkaian kedua dijahit pada dubur manusia pertama, dan seterusnya hingga bentuk ketiganya menyerupai kelabang. Sebelumnya, dr. Heiter pernah melakukan eksperimen ini kepada tiga anjingnya. Namun eksperimen pertamanya tersebut gagal karena ketiga anjing yang sudah ia satukan itu tewas. Oleh karena itu, kali ini ia mencoba bereksperimen dengan tubuh manusia.


Maka dimulailah operasi itu. Dr. Heiter menempatkan Katsuro di posisi depan, Lindsay di posisi tengah (posisi paling menyakitkan, dr. Heiter sengaja menempatkannya pada posisi ini karena ia pernah mencoba melarikan diri), dan Jenny di belakang; ia mencabut gigi depan serta bibir Lindsey dan Jenny, kemudian memutilasi bagian bokong Katsuro dan Lindsey; rahang Lindsey dan Jenny disayat membentuk U kemudian mencangkoknya dari daging bagian bokong Katsuro dan Lindsey. Nggak cukup hanya itu, dr. Heiter juga memutuskan jaringan tempurung lutut mereka agar mereka nggak bisa berdiri.

Gila kan? Gila banget. But suprisingly, nggak banyak adegan menjijikan dan berdarah-darah dalam film ini. Bahkan setelah menonton film ini aku berpikir, gini doang? Mana adegan sadisnya? Katanya jijik banget sampai bisa bikin susah makan berhari-hari. Mana?
Yang ada malah geregetan. Gemas sama tokoh Lindsay yang dalam situasi mendesak sempat-sempatnya kepikiran untuk menyelamatkan Jenny yang sedang dalam kondisi pingsan karena obat bius. Jadi ceritanya, di malam sebelum operasi, Lindsay sempat berhasil melepaskan diri dari ikatan di bangsalnya. Namun ia nggak tega meninggalkan Jenny, sehingga ia memutuskan untuk menyeret Jenny keluar dari tempat itu dengan susah payah. Namun baru beberapa meter keluar dari rumah dr. Heiter, sang dokter mengetahui percobaan pelarian itu dan akhirnya membawa mereka kembali ke ruang operasi. Bayangkaaaaann.. berapa lama waktu yang Lindsay butuhkan untuk menyeret Jenny dari basement ke halaman rumah? Tentunya sangat cukup kalo waktu sebanyak itu ia gunakan untuk melarikan dirinya sendiri tanpa membawa Jenny. Daaamn! Lindsay yang bodoh, atau aku yang jahat yah? Huhu..


Mungkin yah adegan sadis dan menjijikan dalam The Human Centipede 1 ini bisa dibilang terlalu sedikit karena dalam operasinya, dr. Heiter tetap mengikuti prosedur pembedahan seperti membius korbannya terlebih dahulu, memakai masker dan sarung tangan bedah selama operasi, dan menggunakan peralatan bedah yang steril. Ia benar-benar melakukan eksperimennya dengan ilmu kedokteran yang mumpuni. Oleh karena itu, bagi penikmat film gore yang mengharapkan banyaknya adegan sadis, sebaiknya nggak berekspektasi lebih terhadap film ini deh yaa.

Karena nggak cukup puas dengan film ini, aku memutuskan untuk menonton film keduanya. 

***

The Human Centipede : Full Sequence

Martin Lomax adalah seorang pria dengan keterbelakangan mental dan gangguan jiwa. Penyakit mentalnya dilatarbelakangi oleh perbuatan ayahnya yang pernah melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya saat masih kecil. Martin Lomax tinggal berdua bersama ibunya yang kasar dan sering menyalahkannya karena ia menganggap Martin lah penyebab suaminya dipenjara. Martin sangat, sangat, sangat terobsesi dengan film The Human Centipede. Ia bisa menonton film itu berulang kali. Ia bahkan memiliki sebuah album yang berisi sketch dan foto-foto adegan film tersebut (semacam kliping gitu), dan menganggap dr. Heiter adalah inspiratornya. Ia sangat kagum dengan ide gila dr. Heiter, dan hal itu mendorong dirinya untuk meniru apa yang dr. Heiter lakukan : menciptakan kelabang manusianya sendiri. Bahkan lebih gila lagi, ia ingin membuat rangkaian 'kelabang' yang lebih panjang dengan dua belas tubuh manusia.


Sehari-harinya, Martin bekerja di sebuah lahan parkir sambil menonton film The Human Centipede berulang-ulang dari laptopnya. Dari tempat ini pula lah ia menculik banyak korban yang kemudian ia sekap di sebuah gudang suram. Ia bahkan tega membunuh ibunya setelah sang ibu merobek-robek album klipingnya. Perempuan tua itu ia pukul berkali-kali di bagian kepala dengan menggunakan linggis hingga tengkoraknya hancur.




Singkat cerita, Martin telah berhasil mengumpulkan dua belas orang manusia. Salah satu diantaranya adalah Miss Yennie, artis yang memerankan tokoh Jenny di film The Human Centipede yang ia tonton. Lho gimana caranya Martin menculik si artis? Jadi si Martin ini berpura-pura menjadi agen casting gitu yang menawarkan Yennie untuk menjadi salah satu pemeran dalam film Quentin Tarantino. Ini menurutku aneh banget sih. Disini kan Yennie berperan sebagai seorang artis yang sudah berpengalaman main film, tapi kok bisa dengan mudahnya tertipu dengan si Martin? Memangnya dia nggak cari tau dulu gitu di internet tentang kebenaran adanya casting film tersebut? Kok mau-maunya dia ketemuan sendirian sama si Martin tanpa manajer artis atau bodyguard gitu? Dan sepanjang film, sama sekali nggak ada adegan Martin menelepon atau menghubungi pihak si artis karena kita cuma diperlihatkan adegan pihak si artis menghubungi Martin melalui voice mail. Aneh banget, banget. Terkesan amat memaksa agar ada alasan si artis kejebak Martin. Pantesan banyak yang bilang film ini film sampah. *Eh 😅

Dan dimulai lah 'perakitan' kelabang manusia oleh Martin. Persiapkan mentalmu untuk adegan berdarah-darah yang lebih banyak disini. Martin memotong jaringan lutut para korbannya satu persatu. Ia juga menggunakan palu untuk merontokkan gigi-gigi mereka. Ia mengiris bokong salah satu korbannya hingga korbannya tersebut kehabisan darah dan tewas. Ya, apa yang bisa diharapkan dari sebuah operasi yang dilakukan oleh seorang pria keterbelakangan mental yang sakit jiwa? Martin bukanlah seorang dokter. Operasi dilakukan di lantai gudang suram yang tentu saja kotor. Dan boro-boro menggunakan peralatan bedah yang steril, Martin menggunakan peralatan seadanya yang ia miliki : perkakas rumah tangga seperti gunting, pisau dapur, tang, corong, selang, palu, stapler besar untuk 'menjahit' mulut, dan lakban. Dan yah, tentu saja tanpa obat bius. Semua adegan operasi diperlihatkan, penuh darah dan teriak kesakitan. Adegan yang paling membuatku ngilu adalah ketika Martin mengiris jaringan lutut, dan memukul gigi-gigi korbannya dengan palu. Ketika gigi-gigi itu rontok hingga mulut sang korban penuh darah, rasanya aku seperti merasakan sesuatu mengganjal di tenggorokanku. Rasanya kayak, ya ampun pingin udahan, tapi penasaran.

Martin memang gagal membuat rangkaian kelabang manusia dari dua belas orang karena dua korbannya tewas saat operasi (sebenarnya salah satunya cuma pingsan, tapi Martin nggak tau), namun Martin cukup puas dengan rangkaian kelabang manusia dari sepuluh orang yang ia ciptakan dengan tubuh Miss Yennie yang berada di posisi paling depan.

Setelah rangkaian itu siap, Martin memulai uji cobanya. Ia memaksa rangkaian itu untuk mulai merangkak. Ia juga menyodorkan mangkuk berisi makanan anjing dan memerintahkan Yennie untuk memakannya. Namun perempuan itu melemparkan mangkuk itu hingga isinya berhamburan. Martin lantas menggunakan corong dan selang untuk menuangkan makanan ke kerongkongan Yennie dengan paksa. Oh ya, karena Yennie terus berteriak-teriak, Martin mencabut lidah Yennie dengan tang agar perempuan itu nggak lagi bersuara. 

Mau tau apa yang paling menjijikkan? Martin yang nggak sabar menunggu para korbannya untuk ekskresi akhirnya menyuntikkan cairan obat pencahar ke setiap korban, memaksa masing-masing dari mereka untuk secara eksplosif mengeluarkan isi perut mereka ke dalam mulut orang di belakang mereka. Saking dahsyatnya 'ledakan' itu, kotoran mereka terciprat kemana-mana, bahkan ke layar yang kita tonton. Sungguh pemandangan yang sangat, sangat, sangat menjijikkan. 

Kini aku tau kenapa film ini bisa dilarang tayang di beberapa negara dan kenapa banyak orang yang nggak kuat menonton film ini, karena adegan-adegannya memang sesadis dan semenjijikkan itu. 

Untungnyaaa film The Human Centipede 2 ini diproduksi dengan cinematografi hitam putih. Bisa dibayangkan gimana kalo film ini diproduksi dengan cinematografi berwarna, dimana kita bisa melihat warna dan bentuk luka, darah, muntah, dan kotoran dengan jelas. Tentu bakal berkali-kali lipat menjijikkan, dan kayaknya aku bakal beneran nggak bisa makan karena terus terbayang, atau bahkan nggak kuat menonton film itu hingga akhir. 

Kayaknya ini film gore tergila yang pernah kutonton deh. Meski ada skenario yang ngaco (tentang bagaimana Martin menjebak Yennie), tapi film ini benar-benar sukses membuat aku dan para penonton di luar sana nggak nyaman hampir sepanjang film. Tapi meski begitu, aku nggak kapok sih untuk menonton film Thriller sejenis ini. Kalo teman-teman ada rekomendasi film gore lainnya, bisa kasih tau aku yah, tapi film produksi tahun 2000's aja. Hehe. 

Jumat, 09 Juli 2021 1 komentar

Sebuah Bingkisan

Hari Rabu lalu, sebuah panggilan suara mampir ke nomor WhatsApp pribadiku. Nomor asing tanpa nama dengan foto profil yang juga asing. Seperti biasanya, aku enggan mengangkat panggilan suara dari nomor yang sama sekali nggak aku kenal. Maka kuabaikan panggilan itu.

Nggak lama kemudian, si pemilik nomor mengirimkan pesan WhatsApp. Rupanya nomor itu milik seorang kurir yang ingin mengantarkan paket untukku. Agak heran juga rasanya karena aku nggak memesan barang apapun dari online shop. Dan kalopun aku membeli barang dari online shop, aku nggak pernah mencantumkan nomor itu. Lewat pesan chat, si kurir mengirimkan foto paket yang ditujukan untukku itu. Dari foto itu lah, akhirnya aku tau darimana paket itu berasal. Salah seorang teman yang kukenal lewat sosial media yang mengirimkannya untukku.

Selanjutnya, mas kurir kembali menghubungiku melalui panggilan suara. Kali ini aku berani menerima panggilannya. Rupanya ia bingung mencari alamatku (alamat orangtuaku sih lebih tepatnya, karena semenjak menikah aku tinggal berdua bersama Mas di daerah lain, namun masih di kota yang sama). Wajar sih, karena si pengirim mencantumkan nama 'Vidia' yang mana nama itu nggak dikenal oleh orang-orang di lingkungan tempat tinggalku, karena mereka mengenalku dengan nama depanku, 'Putri'. Wkwkwk. Akhirnya kuarahkan si mas kurir hingga ia bertemu dengan bapak yang kebetulan saat itu sedang berada di teras. Kuminta padanya agar menyerahkan paket itu pada bapak.

Paket itu baru sampai di tanganku siang ini. Isinya sebuah tas selempang cantik warna coklat. Tifanny yang mengirimkannya. Masya Allah. Sebuah amplop berisi surat hampir luput dari perhatianku, karena Tif meletakannya di luar pembungkus dan di belakang kertas bertuliskan alamat tujuan. Ketika melihat kertas bertuliskan alamat tujuan itu, aku pikir, kok bagian ini terlihat tebal yah? Terlalu tebal kalo hanya untuk menuliskan nama penerima dan alamat tujuan. Bagian itu dilapisi oleh plastik bening. Kubongkar plastik itu, dan benar aja, ada amplop berisi surat terselip di sana. Ucapan dan doa ditulisnya dengan rapi disana. Terharu rasanya.


 

Lebih dari sepuluh tahun silam kami berkenalan via Facebook. Kami nggak pernah bertemu langsung satu kali pun. Selama ini kami lebih sering berkirim pesan chat. Kami pernah bertatap muka lewat video call. Itupun hanya satu kali, tahun 2019 silam. Saat itu aku tengah mengunjungi bazar buku, dan aku menghubunginya lewat video call agar ia juga turut merasakan suasana bazar yang kukunjungi sementara aku memperlihatkan buku-buku yang dijual disana. Namun meski begitu, aku bersyukur karena kami masih berkomunikasi satu sama lain hingga kini meski memang nggak sering.

Terima  kasih bingkisannya, Tif. Tentunya tas ini akan sangat bermanfaat. Semoga pandemi cepat berlalu dan Tuhan memberi kita kesempatan untuk benar-benar bertemu, menyesap kopi bersama sembari membicarakan hal apapun. Bahagia dan sehat selalu untukmu dan keluarga 😊

Rabu, 30 Juni 2021 4 komentar

#27 : Greatest Gift

Awal bulan Juni lalu, tepat di tanggal 1, Tuhan memberiku hadiah besar. Pagi itu, aku mendapati dua garis merah pada testpack yang kugunakan. Tanganku bergetar saat menggenggamnya. Rasanya hampir nggak percaya, ada yang sedang bertumbuh dalam tubuh ini.

Kuusap pelan kepala Mas Kesayangan yang masih terlelap, "Mas.."
Ia hanya menggumam dengan mata yang masih terpejam. Kugoyang sedikit bahunya, "Mas, lihat, lihat!" kataku sambil menyodorkan testpack itu di hadapannya. Ia menggeliat sejenak dan membuka mata perlahan.
"Siap jadi bapak?" kataku lagi dengan suara bergetar. Ia lantas tersenyum, kemudian merengkuhku ke dalam pelukannya sambil mengucap syukur, "Alhamdulillah".

Selanjutnya, aku mengabarkan berita itu pada ibu lewat pesan WhatsApp yang langsung disambut dengan ucapan syukur dan sedikit wejangan. Hihi..

Well, menjelang akhir bulan Mei lalu, aku memang sudah mulai merasa kurang enak badan. Perutku seringkali terasa kembung, terkadang pula terasa sedikit kram, namun haid nggak kunjung datang. Setelah browsing sana-sini, aku dan Mas mulai menduga bahwa aku hamil. Untuk menguatkan dugaan kami itu, diputuskanlah untuk mendeteksinya dengan testpack. Dan rupanya benar aja, hasilnya positif.

Beberapa hari setelah itu, perutku mulai diserang rasa mual. Nggak sampai muntah, tapi cukup membuatku pusing karena terus 'hoekk hoekk'. Nafsu makanku juga berkurang, bahkan es krim Haku Tiramisu yang biasanya menjadi salah satu es krim favoritku nggak lagi terasa nikmat. Dan, ya.. sifat magerku pun semakin meningkat. Wkwk..

Aku sangat bersyukur karena Mas sangat mengerti kondisiku. Sebenarnya untuk urusan pekerjaan rumah, kami memiliki tugas masing-masing. Namun semenjak mengetahui kehamilanku, disamping mengerjakan bagiannya, Mas juga ikut membantu menyelesaikan bagianku. Dan karena nafsu makanku berkurang, rasanya diri ini malas sekali untuk makan nasi, lontong, ataupun bubur sekalipun, tapi nggak menolak untuk makan bakso atau mie instan. Huhu.. Tapi bukan berarti aku makan bakso dan mie instan terus lho ya. Aku tetap mengisi perutku dengan nasi kok (meski seringkali harus disuapi Mas. wkwk..). Selebihnya, aku banyak ngemil biskuit, roti, dan buah.

***

Pada hari Selasa 8 Juni, aku diantar ibu ke Puskesmas untuk pemeriksaan laboratorium. Sayangnya sesampainya di sana, laboratorium Puskesmas sedang digunakan untuk apa gitu, aku kurang tau persis. Intinya aku belum bisa menjalani pemeriksaan laboratorium hari itu. Akhirnya hari Selasa itu, aku cuma ditimbang berat badan (yang ternyata masih bertahan di angka 38 kg sejak terakhir aku menimbang berat badanku tahun lalu. Hiks), diukur lingkar lengan atas, diperiksa tekanan darah, dan mendaftar untuk mendapatkan buku KIA (buku Kesehatan Ibu dan Anak). Ketika itu bidan juga menanyaiku beberapa hal, seperti rencana melahirkan di mana, dan rencana pakai KB jenis apa, yang sama sekali nggak aku duga bakal dipertanyakan. Alhasil kebanyakan dari pertanyaan itu aku jawab sekenanya dan dengan rasa gugup luar biasa. Sebelum keluar dari Puskesmas, bidan memberiku beberapa tablet vitamin yang berguna mendukung perkembangan janin; beberapa tablet obat yang boleh kuminum saat pusing, demam, ataupun mual; dan satu boks makanan tambahan ibu hamil berupa biskuit dengan krim nanas. Aku sebenarnya senang ketika diberi biskuit itu, karena aku pernah melihat postingan menfess Twitter di salah satu base seputar makanan yang menyebutkan bahwa biskuit itu sangat enak. Sayangnya yang aku terima bukan biskuit dengan krim stroberi. Huhu.. 

Kamis 10 Juni, aku dan ibu kembali ke Puskesmas untuk pemeriksaan laboratorium yang tertunda. Pertama-tama, bidan menanyakan apakah aku siap untuk suntik TT atau enggak. Ketika mendengar hal itu untuk pertama kalinya, aku merasa jeri. Aku kira yang disebut bidan adalah suntik tete (suntik payudara), tapi ternyata yang ia maksud adalah suntik imunisasi Tetanus Toxoid. Wkwkwk.
Ketika itulah, setelah bertahun-tahun nggak berhadapan dengan jarum suntik, baru kali ini aku merasakan nyerinya ditusuk jarum suntik lagi. Belum cukup sampai disitu, menjelang pemeriksaan laboratorium, aku kembali disuntik di bagian lipatan lengan untuk diambil sampel darah. Tapi rasa sakit pada bekas suntikan di bagian lipatan lengan ini nggak begitu terasa lagi setelahnya. Berbeda dengan bekas suntik TT yang rasa sakitnya terasa hingga berhari-hari. Aku bahkan sempat menangis di hari ketiga pasca suntik karena rasa sakitnya yang menjadi-jadi. Namun syukurlah, hasil pemeriksaan lab semuanya menunjukkan hasil yang baik. 

***

Kemarin sore, untuk pertama kalinya aku menjalani pemeriksaan USG. Setelah bertanya sana-sini, berdasarkan rekomendasi dari istri salah satu teman Mas, kami pun memutuskan untuk mengunjungi salah satu maternity clinic di kota kami. Waktu itu jam tujuh malam. Ketika sampai di klinik tersebut, aku diminta Staff Admin untuk mendaftar terlebih dahulu. Aku ditanyai beberapa informasi mengenai data diri dan beberapa hal mengenai kehamilanku. Aku juga diminta menimbang berat badan (yang masih stuck di angka 38kg). Alhamdulillah, seenggaknya berat badanku nggak turun. Kami mendapat antrian ke enam, sehingga mengharuskan kami untuk menunggu. Singkat cerita, tibalah giliranku untuk masuk ke ruang dokter. Disitu terdapat meja dokter beserta kursi dokter dan dua kursi untuk pasien dan pendamping, satu buah sofa panjang, satu buah ranjang pasien dan satu peralatan USG di sisinya, satu layar LED besar di depan ranjang pasien, dan satu buah kursi untuk Asisten Dokter. Aku duduk di salah satu kursi di seberang meja dokter, sementara Mas memilih duduk di sofa.

Di sana, aku kembali ditanya beberapa hal oleh dokter. Setelah itu, beliau mempersilahkan aku untuk berbaring di ranjang pasien. Mbak Asisten Dokter membantu menyingkap sedikit pakaianku sehingga hanya bagian perutku yang terlihat. Ia pun mengoleskan semacam gel di atas perutku, yang awalnya aku bingung untuk apa, tapi kemudian aku mengerti bahwa gel itu berfungsi agar kulitku nggak bergesekan dengan transducer. Setelah itu, dokter pun memulai pemeriksaannya. Ia menggerakkan transducer di atas perut bagian bawahku hingga muncul sebuah citra di layar.
"Eh, sudah kelihatan", ucap dokter. Jantungku berdebar. Layar itu menunjukkan sebentuk sosok kecil yang bergerak. Ah, itu calon bayiku yah?

Sebelum dokter menjelaskan, Mas meminta ijin untuk merekam momen itu dengan kamera hape.
"Boleh kok. Bahkan kalo Mas mau bikin live IG atau video call keluarga di rumah juga gapapa", jawab dokter. Mas hanya senyum-senyum mendengar kelakar dokter. Setelah Mas siap dengan video recording-nya, dokter pun mulai menjelaskan bagian-bagian yang ditampilkan oleh monitor. Dan ya, dugaanku sama sekali nggak salah. Sosok kecil bergerak itu memanglah janin, calon bayi aku dan Mas. Ia dikelilingi cairan ketuban yang ditampilkan monitor dengan warna gelap. Ukurannya baru 2,5 cm, namun aku sudah bisa melihat bakal kaki dan tangannya yang mungil. Ah, aku merasa hatiku menghangat melihat kedua kaki dan tangan calon bayiku yang aktif bergerak lucu.
"Pada usia kehamilan ini, kita juga sudah bisa mendengar detak jantungnya. Mau dengar?" tanya dokter. Tentu aja aku mau. Kemudian dokter pun memperdengarkan suara detak jantung si janin pada kami. Detak jantungnya terdengar cepat, namun kata dokter itu adalah detak jantung normal untuk janin usia kehamilan sembilan minggu ini.

Ada momen awkward dan memalukan ketika kami selesai menjalani pemeriksaan USG. Setelah keluar dari ruang dokter, aku dan Mas pun langsung berjalan menuju pintu keluar klinik. Namun Mbak Asisten Dokter memanggilku.
"Hasil foto USG-nya belum diambil, Teh", katanya. Ketika itu, aku langsung istighfar. Astaga, kami kan belum bayar. Mas tampaknya nggak menyadari hal itu. Ia terus saja berjalan ke arah parkiran, sementara aku putar balik ke loket di sebelah ruang dokter.
"Ini, Teh", ucap Mbak Asisten Dokter sambil menyerahkan amplop kecil berisi foto hasil USG.
"Jadi berapa, Teh?" tanyaku. Ia pun menyebutkan sebuah nominal, namun kemudian aku sadar bahwa dompetku ada di tas Mas. Aku pun meminta Si Mbak untuk menunggu sebentar, sementara aku memanggil Mas yang sudah keburu naik ke atas motor. Setelah membayar, kami pun segera berlalu dari klinik. Di tengah perjalanan kami ketawa-ketawa geli mengingat kebodohan kami itu. Haduuuhh.. sepertinya kami terlalu bahagia sampai-sampai lupa bayar 😂 Malu banget. Mana di depan loket banyak pengunjung klinik pula. Untung saja kami pakai masker, dan Mbak Asistennya pun nggak sampai berteriak "Teh, belum bayar". Kalo saja kami nggak pakai masker dan Mbak Asistennya berteriak seperti itu.. huh, mau ditaruh di mana muka kami? Wkwkwk.

***

Sore tadi.

"Kulkas di rumah kayaknya mulai nggak beres nih. Pintunya nyetrum", ucap Mas ketika datang menjemputku sepulang kerja. "Ini aja tangan Mas kena, kaget banget pas buka. Eh, kok nyetrum", katanya lagi.
"Hah, kok bisa, Mas?" sahutku sambil naik ke atas motor.
"Nggak tau. Kayaknya dalemannya ada yang rusak. Kamu jangan buka-buka kulkas dulu ya. Bahaya."
"Hmm.. Udah coba browsing Google belum, Mas? Barangkali bisa dibenerin sendiri kayak mesin cuci waktu itu".
"Belum. Nanti deh di rumah".
Aku hanya manggut-manggut, meski sedikit kecewa. Teringat dengan manisan mangga buatan ibu di dalam kulkas yang tadinya ingin segera kunikmati sepulang ngantor.

Sesampainya di rumah, "Kamu cepat mandi, mumpung belum Magrib. Lagi musim penyakit gini, takutnya kamu bawa virus dari kantor".
Lagi-lagi aku manut pada Mas. Nggak salah sih kalo ia begitu khawatir, karena belakangan ini wabah C19 nampaknya semakin mengganas. Belum lagi melihat kondisi kantor yang semakin sepi karena satu persatu karyawan jatuh sakit :')

Selepas mandi, aku langsung berwudhu karena adzan Magrib sudah berkumandang. Well, semenjak hamil, aku nggak berani lagi berlama-lama di kamar mandi. Padahal sebelum hamil, aku bisa betah berlama-lama di kamar mandi, entah itu luluran, atau maskeran. Namun sekarang, asal sudah mandi rasanya cukup, kemudian bergegas menuju kamar. Dengan hanya berbalut handuk, kudorong pintu kamar yang setengah terbuka.

"SELAMAT ULANG TAHUN, SAYAAAANGG!"
Aku memekik. Surprised. Di hadapanku, Mas Kesayangan tersenyum lebar. Kedua tangannya memegang kue ulang tahun dengan dua lilin menyala di atasnya. Aku lantas memeluknya, tanpa peduli dengan handuk dan rambutku yang setengah basah membasahi kausnya.
"Hey, ini ditiup dulu dong lilinnya. Capek ini tangan Mas pegang kue dari tadi", protes Mas. Kulepas pelukanku. "Make a wish dulu dong", ucapnya lagi.
Aku pun memejamkan mata dan melangitkan doa, agar keluarga kami senantiasa rukun dan bahagia sampai akhir hayat, dan selalu berada dalam lindungan-Nya :')


Bergetar rasanya bibirku saat itu. Rasanya ingin menangis, tapi nggak bisa. Jujur ini pertama kalinya aku mendapat kejutan seperti ini. Dikerjai plus diberi kejutan untuk tiup lilin. Ingat kan, sebelumnya Mas bercerita bahwa pintu kulkas rusak, dan ia menyuruhku untuk segera mandi sepulang kerja? Rupanya itu hanya akal-akalannya agar bisa mempersiapkan itu semua. Ia melarangku membuka kulkas karena ia menyimpan kue itu di sana. Rupanya siang tadi ia sempat minta ijin keluar sebentar dari tempat kerja untuk mengambil kue dari toko. Setelah mengambil kue dari toko, ia menyimpannya di kulkas, dan kembali lagi ke tempat kerja. Mas juga menyuruhku untuk bergegas mandi agar ia bisa menaruh lilin menyala di atasnya dan bersiap mengejutkanku dari balik pintu kamar. Anehnya aku sama sekali nggak curiga dengan semua akal-akalan itu, karena dia ngomongnya meyakinkan banget. Huhu..

Mungkin juga karena sebenarnya aku nggak berharap diberi apa-apa di hari ulangtahun kali yah. Selama ini aku nggak pernah menanti-nanti tanggal ulangtahun. Aku nggak memunculkan tanggal ulangtahunku di media sosial. Aku juga enggan menjawab saat teman atau siapapun bertanya kapan aku berulangtahun (kecuali tanggal lahir, untuk data penting). Entahlah, rasanya sedih aja gitu diingatkan bahwa diri ini semakin tua. Hiks.

Tapi hari ini, aku hanya ingin bersyukur. Tuhan baik sekali. Di usia ini aku mendapatkan hadiah terhebat-Nya. This year has been amazing. Aku menikah. Aku dinyatakan hamil setelah empat bulan pernikahan. Aku diberi kesempatan untuk melihat pergerakan dan denyut jantung calon bayiku. Dan ada sosok pria pengertian di sampingku, yang mengerti sifat manjaku, yang ingin selalu ndusel-ndusel di punggung dan ketiaknya setiap saat. Wkwk.

Semoga bahagia ini selamanya. Aamiin.

Total Tayangan Halaman

 
;