Minggu, 06 Februari 2022 1 komentar

Dunia Baru

Kini aku betul-betul paham kenapa Allah begitu memuliakan ibu ketimbang bapak. Satu minggu ini benar-benar luar biasa buatku, ketika Allah menunjukkan bagaimana perjuangan ibu begitu berat, dan kuasa Allah begitu besar.

Dini hari Minggu, 30 Januari, aku merasa tidurku kurang nyenyak. Ada saat di mana aku merasakan kram perut dan nyeri pinggang hingga membuatku terbangun. Hal itu terjadi berulang-ulang meski nggak terjadi dalam waktu yang berdekatan.

Pagi harinya, aku menemukan lendir bercampur darah di pakaian dalamku. Sebenarnya aku sudah mengalami hal itu beberapa hari belakangan, namun kali ini berjumlah lebih banyak ketimbang sebelumnya. Aku menceritakan hal itu pada Mas, namun hal itu nggak menyurutkan niat kami untuk jalan-jalan pagi.

Memang, pada minggu-minggu terakhir menjelang persalinan, aku dan Mas rutin berjalan-jalan ke alun-alun kota setiap hari Minggu pagi. Kami membeli beberapa potong gorengan, kemudian menyantapnya berdua di alun-alun. Kami juga sempat membeli dan menyantap beberapa tusuk dadar gulung di sana. Setelah cukup kenyang, Mas baru menemani aku berjalan kaki memutari alun-alun, namun kali ini aku hanya kuat memutarinya sebanyak dua putaran, padahal biasanya bisa lebih dari itu. Perutku benar-benar nggak nyaman waktu itu. Akhirnya kami pun pulang.

Beberapa jam kemudian, aku merasakan kontraksi. Hal itu terjadi selama sekitar satu menit dalam interval waktu kira-kira setengah jam. Karena terjadi beberapa kali, akhirnya setelah Dhuhur, aku dan Mas memutuskan untuk memeriksakan kondisiku ke bidan. Awalnya kami berencana menghubungi Bidan Oom, namun karena kliniknya tutup dan pesan WhatsApp yang dikirim Mas nggak direspon, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke klinik Bidan Evi di kawasan Suratno.

Singkat cerita, pertama-tama Asisten Bidan melakukan pemeriksaan berat badan dan tekanan darahku. Alhamdulillah tekanan darahku normal, padahal aku sudah khawatir tekanan darahku tinggi karena stres menjelang persalinan. Setelah itu, Bidan Evi mempersilahkan aku masuk ke Ruang Pemeriksaan di mana ia melakukan pemeriksaan bagian dalam untuk mengetahui apakah jalan lahirku sudah terbuka atau belum.

Setelah itu, bidan pun berkata pada Mas bahwa waktu persalinan sudah dekat, dan jalan lahirku sudah masuk pembukaan dua yang berarti kami masih harus menunggu delapan pembukaan lagi. Aku pun diperbolehkan untuk kembali ke rumah. 

"Kalo sudah merasa mulas seperti mau BAB, langsung kesini lagi ya. Tapi langsung dibawa semua perlengkapan ibu dan bayinya", katanya. Bidan Evi ramah sekali. Ia bicara kepada pasien seperti seorang ibu yang bicara pada anaknya. Hangat dan bersahabat. Sesekali ia juga melemparkan candaan yang membuat kami terkekeh.

Akhirnya aku dan Mas pun kembali ke rumah dengan membawa beberapa plastik obat yang diberikan bidan. Sesampainya di rumah, aku meminum obat seperti yang sudah dianjurkan sebelumnya oleh Bidan Evi.

Menjelang jam tiga sore, aku merasakan kontraksi dengan jarak waktu yang lebih dekat, yakni durasi sekitar satu menit dalam interval waktu sekitar tiga menit. Mas pun mendesakku untuk segera kembali ke bidan karena aku masih bilang 'nanti aja'. 

"Kalo nunggu nanti-nanti, Mas khawatir kamu bakal susah jalan", katanya.

Akhirnya aku dan Mas kembali ke klinik tersebut, namun kali ini kami membawa dua tas besar berisi perlengkapan keperluan aku dan bayi. Awalnya ibu dan adikku mau ikut, namun aku menyarankan mereka untuk menunggu kabar dariku. Kasihan juga kalo mereka harus ikut menunggu terlalu lama. 

Sesampainya di sana, bagian dalamku diperiksa oleh salah satu asisten bidan. Ternyata pembukaannya masih bukaan dua setengah. Waktu itu aku diperiksa dua kali. Pertama dengan asisten bidan, selanjutnya dengan Bidan Evi sendiri. Mungkin untuk memastikan. Jujur, mengecek pembukaan jalan lahir adalah tindakan yang membuatku ngilu.

Karena aku sudah merasakan mulas-mulas yang cukup sering, Bidan Evi mempersilahkan aku untuk berbaring dan menunggu di Ruang Bersalin. Ruang yang dihiasi wallpaper bermotif flamingo dan didominasi warna pink itu terdiri dari dua ranjang pasien, satu baby box, satu meja panjang, satu meja kecil, satu wastafel, pendingin ruangan, kipas angin, dan berbagai peralatan lainnya.

Aku memilih berbaring di ranjang pasien yang paling dekat dengan pintu. Sementara Mas menyiapkan segala perlengkapan aku dan bayi, sambil menemani dan sesekali menenangkan aku.

Sekitar jam lima sore, aku diminta asisten bidan untuk pindah ke ranjang sebelahnya karena spacenya lebih luas. Waktu itu rasa mulasku semakin menjadi. Di situ, aku dipasangi selang infus. Ini pertama kalinya dalam hidup aku mengenakan infus. Aku selalu membayangkan sesakit apa rasanya, ditusuk di pergelangan tangan selama berjam-jam. Namun kini ketika merasakannya sendiri, rasanya nggak lebih sakit ketimbang rasa mulas yang saat itu aku rasakan. Setiap kali bidan melakukan pemeriksaan bukaan jalan lahir membuat aku meringis. Mas dan ibu (yang datang setelah dikabari oleh Mas) berdiri di sisi kiri dan kananku. 

Seiring berjalannya waktu, pemeriksaan bukaan nggak lagi membuat aku meringis, melainkan berteriak. Rasa mulasku semakin nggak tertahankan. Aku mulai meracau, mengaduh, dan meneriakkan istighfar. Terkadang aku terdorong untuk mengejan, namun bidan dan para asistennya melarang aku melakukannya dan menyuruh aku untuk mengatur napas.

"Mules banget, Teh. Pingin ngeden!" sergahku.

"Belum boleh, Sayang. Masih bukaan lima. Kalo ngeden, nanti jalan lahirnya bengkak". Masya Allah, baru bukaan lima sudah sesakit ini, bagaimana di bukaan-bukaan selanjutnya, pikirku.

Pada bukaan ke tujuh, ketubanku pecah (tapi menurut ibu dan Mas sengaja dipecahkan oleh bidan). Rasanya seperti ada yang meletus di dalam, kemudian aku merasa ada cairan hangat merembes begitu aja. Rasa mulas yang aku rasakan pun sudah nggak bisa digambarkan lagi. Aku dipaksa untuk terus berbaring ke kiri untuk mempertahankan detak jantung bayiku. Namun berbaring ke kiri benar-benar membuatku begitu tersiksa. Setiap kali aku mengubah posisi, bidan dan asistennya akan mendorong punggungku agar tetap berbaring ke kiri. Ketika itulah aku akan berteriak-teriak. Sakit sekali rasanya. Kakiku juga kram. Mereka bilang, itu karena kakiku terlalu tegang. Aku diminta untuk melemaskan kakiku, namun sulit sekali. Setiap kali rasa mulas mendera, aku nggak bisa menahannya. Kakiku menjejak-jejak, keringat menjalari tubuhku, namun aku merasakan dingin hingga tanganku gemetar. Bahkan infus yang terpasang pun sempat terlepas dari lenganku, dan Asisten Bidan segera memasangkannya lagi. Aku peluk Mas yang terus menerus membisikkan istighfar dan kata-kata penyemangat di telingaku. Sementara ibu yang juga menemani aku terus memperingatkan aku untuk melafalkan doa. Saat itu rasanya seperti berada dalam penantian panjang. Menanti untuk mengejan dan mengakhiri semua itu dengan air mata bahagia.

Akhirnya tiba lah waktu di mana Bidan mulai meminta aku untuk mengejan. Aku pun mengejan sekuat tenaga. Namun rupanya cara mengejanku dianggap kurang tepat.

"Nok, tarik napas dari hidung, trus ngeden. Jangan bersuara! Matanya lihat ke perut!" katanya. Aku pun menurut. Namun seringkali rasa mulasnya tiba-tiba hilang ketika aku tengah mengejan. Hal itu membuat tenaga yang aku keluarkan menjadi nggak maksimal. Salah satu asisten bidan pun meminta Mas untuk menyingkir dari sisiku, karena waktu persalinan benar-benar akan dimulai.

Mas pun pindah ke sudut ruangan, menunggu bersama ibu. Aku dipasangi selang kateter. Dan mungkin karena melihat kondisiku yang banyak membuang tenaga untuk berteriak, Bidan Evi memasang selang oksigen untukku. Ia juga memanggil seorang temannya yang merupakan salah satu dokter dari RS Sumber Kasih untuk membantunya. Selama proses persalinanku, Bidan Evi didampingi oleh dua asistennya dan dokter tadi. Bidan yang memberi komando, satu asisten bidan menahan paha kiri aku agar terbuka, sementara asisten bidan yang satunya dan dokter itu bertugas untuk mendorong perutku. Namun lagi-lagi ketika mereka tengah berusaha mendorong bayi untuk ke luar, rasa mulasku hilang dan aku berhenti mengejan. Ketika itulah Bidan Evi murka. Yah, memang bukan marah-marah, melainkan memperingatkan aku untuk terus mengejan jika ia perintahkan, karena akan fatal akibatnya jika aku terus berhenti mengejan di tengah-tengah usaha mereka mengeluarkan bayi. Bidan juga menyuruh aku untuk membuka pahaku dan menahannya dengan kedua tangan.

Akhirnya, dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki, aku mengejan dan terus mengejan. Mungkin karena pegangan di pahaku kurang kencang, di detik-detik terakhir, Bidan Evi memanggil Mas dan memintanya untuk membantu memegangi pahaku. Mas yang tengah berdiri di sudut ruangan hanya bisa manut. Aku bisa melihat raut kecemasan di wajahnya.

"Ya! Terus, terus! Sedikit lagi!" Bidan Evi memberi komando. Aku mengejan sekuat tenaga. Kemudian kris, kris, kris, aku mendengar suara gunting. Seketika rasa sakit dan mulas luar biasa yang aku rasakan bertambah dengan rasa perih. Seketika aku berteriak-teriak, sakit. Entahlah, sepertinya hari ini aku mengguncang seantero klinik dengan teriakan-teriakanku.

Hana waladat Maryam, Maryam waladat 'Iisa, ukhruj ayyuhal mauluud, biqudratil malikil ma'buud.

Dan yah, malam ini, sekitar pukul setengah sembilan malam, Si Kecil lahir. Ketika bayi keluar, aku bisa melihat perutku yang bergetar sesaat. Namun salah satu Asisten Bidan mengatakan bahwa bayiku terlilit tali pusar. Nggak ada tangisan bayi terdengar. Sesaat setelah mereka mengeluarkan bayiku dari rahim, mereka menjatuhkannya ke pangkuanku, kemudian membungkusnya dengan kain, dan membawanya ke meja panjang. Entah apa yang mereka lakukan, hingga akhirnya suara tangis bayi pecah di ruangan itu. Seketika ungkapan syukur menggema. Alhamdulillah. Bayi kami selamat. Nggak terbayang rasanya jika sampai segala perjuanganku tadi berakhir sia-sia.

"Makasih, Sayang", ucap Mas sambil memeluk dan mencium keningku. Suaranya bergetar menahan tangis bahagia. Baru kali ini aku melihatnya menangis. Yah, bagaimana enggak? Hari ini kami terlahir sebagai orang tua :') 

Setelah membersihkan bayi dan memakaikannya popok dan topi, Bidan meletakkan bayi mungil itu ke dadaku. Aku lantas memeluk dan menciumnya.

"Makasih ya, Sayang. Sudah berjuang bareng sama Mama".

Ya Allah, rasanya baru kemarin aku merengek pada ibu minta dibelikan gelang Panji Manusia Milenium, dan kini aku resmi menjadi seorang ibu.

"Alhamdulillah. Sudah ya. Sekarang tenang, nggak usah ngeden-ngeden lagi. Sisanya tinggal tugas kita", ucap Bidan Evi. Aku pun menghembuskan napas lega. Mereka lantas melepaskan selang oksigen dan selang kateter di tubuhku karena sudah nggak dibutuhkan lagi.

Tapi rupanya aku merasa lega terlalu cepat. Masih ada satu tindakan lagi yang harus mereka lakukan kepadaku : menjahit luka bekas guntingan tadi. Aku meringis. Periiiih sekali rasanya.

"Nok fokus sama dedenya aja, jangan sama rasa sakitnya. Seneng kan udah ada dede?"

Ya senang sih, tapi ya tetap ajaaa.. :')

Selesai menjahit lukaku dan memakaikan aku popok dewasa, mereka pun membawa bayiku untuk dibersihkan lagi, karena ia sempat buang air besar. Bahkan kotorannya menempel di perutku. Hahaha. Kali ini bayiku nggak hanya dibersihkan, tapi juga dibedong agar ia merasa hangat. Setelahnya, Mas mengadzankan bayi kami. 

Aku yang masih berbaring di ranjang pun membersihkan kotoran bayi yang menempel di atas perutku dengan tisu basah. Ibu memanggil adikku yang sedari sore setia menunggu di luar, memperkenalkan ia pada keponakan barunya.

Singkat cerita, aku dipindahkan dari Ruang Bersalin ke Ruang Nifas yang terletak di seberangnya. Saat itu klinik kedatangan satu orang lagi yang akan bersalin. Sepasang suami-istri yang segera akan memiliki anak ketiga. Aku dipindahkan dengan menggunakan kursi roda. Ruangan Nifas tentunya berukuran lebih kecil. Luasnya mungkin hanya 2,5m x 2,5m dan hanya terdiri dari satu ranjang pasien, satu boks bayi, satu bangku sudut panjang, satu meja dengan laci-laci yang bisa digunakan untuk menyimpan barang-barang dan pakaian pasien, dan sebuah gym ball.

Setelah membantu membaringkan aku dan menyimpan segala perlengkapanku, ibu dan adikku pamit. Malam itu, kami hanya bertiga : Aku, Mas, dan bayi kami.

Malam itu menjadi malam yang panjang bagi kami. Bayi kami menangis terus, dan kami nggak tau harus melakukan apa. Aku belum bisa duduk, namun aku juga nggak tega melihat Mas yang terus begadang menjaga dan menenangkan bayi kami. Sesekali ia membaringkan badannya di kursi sudut atau di lantai untuk meluruskan tubuhnya, namun ketika bayi kami menangis, ia langsung sigap menghampirinya. Begitu terus berulang-ulang. Ia tentu capek sekali. Nggak sabar rasanya menunggu pagi datang.

Dan yah, sejak hari itu, lembar baru aku dan Mas dimulai. Tidur kami tentu aja nggak lagi setenang dulu karena ada Si Jagoan yang harus kami prioritaskan kebutuhannya. Jika ia tidur, kami ikut tidur. Jika ia terbangun, kami ikut bangun. Kadang aku dan Mas menjaga bergantian. Melelahkan memang, tapi kami jadi belajar bahwa menjadi orangtua itu nggak mudah. 

***

Fathian, nama bayi kami, dengan tambahan satu nama tengah, dan satu nama belakang. Awalnya aku ingin menambahkan nama lain di depannya, namun Mas berpikir nama itu terlalu panjang dan khawatir memberatkan anak kami di kemudian hari. Akhirnya kami memutuskan untuk lebih menyederhanakannya.

Nama 'Fathian' dipilih Mas, memiliki arti 'kemenangan' atau 'keberuntungan'. Nama tengahnya diambil dari nama tengah Mas yang juga merupakan versi laki-laki dari namaku. Sedangkan nama belakangnya aku yang pilih, terinspirasi dari nama 'Zafran' yang muncul di film 5 Cm. Wkwkwk. Entahlah, menurutku nama itu terdengar sangat laki-laki dan seperti menggambarkan sosok laki-laki yang tampan, penuh semangat, dan percaya diri. Selain itu, nama itu juga memiliki arti yang bagus, yakni 'bunga yang berwarna keemasan'. Bunga identik dengan keindahan, dan emas identik dengan kesuksesan. Dengan begitu kami berharap anak kami kelak akan menjadi anak laki-laki tampan yang selalu beruntung dan sukses. Aamiin. 

Fathian lahir dengan berat 2,9 kg dan panjang 48 cm, ukuran yang terbilang normal untuk bayi baru lahir. Ia lahir tepat pada HPL, yang Bidan Evi bilang jarang terjadi. Bidan Evi juga mengaku bahwa awalnya ia pesimis bisa membantuku. Melihat postur tubuhku yang kurus, pendek, dan ringkih, kecil rasanya kemungkinan untukku melahirkan secara normal. 

Ah, jangankan Bidan Evi, orang awam pun mungkin akan berpikir demikian. Bahkan sejak awal hamil, aku sudah banyak di-underestimate orang. Teman-teman kantorku misalnya. 

"Lahiran caesar aja, Put. Enak, nggak sakit".

" Nggak mau ah, Pak. Nggak sakit, tapi pemulihannya lama. Pingin normal aja, biar pemulihannya cepat", jawabku. 

"Lahiran normal? Memang kamu bisa?" ejeknya. 

Ada juga yang selalu julid mengomentari apa yang aku makan dan minum, menanyakan hasil pemeriksaan berat badan bayiku kemudian menyebut bahwa berat badan bayiku kurang, mengomentari bentuk perutku yang menurutnya terlalu turun, dan yah.. meragukan bahwa aku bisa melahirkan secara normal. 

But see? Takdir bukan berasal dari omongan orang lain. Tuhan yang punya kuasa atas segalanya. Aku benar-benar bersyukur, sangat bersyukur bahwa aku bisa, meski aku nggak yakin komentar mereka akan berhenti sampai di sini. Ke depannya, pasti akan tetap ada komentar-komentar baru. Aku harus bisa kebal. 

Sabtu, 22 Januari 2022 0 komentar

Minggu-Minggu Menjelang Persalinan

Sudah sebelas hari sejak aku resmi cuti dari kantor. Sebenarnya dengan hari kelahiran bayi yang diperkirakan jatuh pada tanggal 30 Januari, aku berencana mengajukan cuti mulai tanggal 18 Januari. Maksudnya agar tanggalnya nggak terlalu jauh dari HPL, sehingga aku bisa berada di rumah lebih lama selama waktu pemulihan setelah melahirkan. Namun Dokter Wildan menyarankanku untuk mengambil cuti lebih awal.
"Karena ibu hamil itu nggak hanya butuh mempersiapkan materi, tapi juga fisik dan mental. Jangan sampai ketika mendekati HPL, bumil terlalu capek dan banyak pikiran karena pengaruh omongan sana-sini", katanya.

Akhirnya, aku pun merevisi surat cutiku. Tanggal cuti yang semula dimulai pada tanggal 18 kumajukan ke tanggal 11, itu pun nggak langsung di-acc karena Pak Teguh memintaku untuk bekerja satu hari lagi lantaran karyawan penggantiku dikhawatirkan belum begitu memahami job desk-nya. 

Jadi, sejak akhir bulan Desember lalu, kami mulai sibuk merekrut karyawan baru untuk meng-handle pekerjaanku selama aku cuti. Aku bertugas memasang iklan lowongan kerja dan memberikan tes komputer, Pak Ben bertugas menyortir lamaran yang masuk dan memberi tes tertulis, sementara Pak Teguh dan Pak Faisal yang mewawancarai para calon karyawan. 

Meski peminat untuk posisi Staf Admin sangat bejibun, namun mendapatkan kandidat yang cocok rasanya lumayan sulit. Ada yang nggak meminta upah tinggi dan nggak keberatan dengan ketentuan perusahaan namun hasil tesnya kurang baik. Ada yang sesuai kriteria namun keberatan dengan ketentuan perusahaan. Ada yang hasil tesnya baik tapi mengajukan gaji yang tinggi. Ada pula yang hasil tesnya kurang baik tapi berani meminta gaji tinggi. Wkwkwk.

Karena sulit mendapatkan kandidat yang benar-benar cocok, akhirnya kami pun memilih untuk memanggil calon karyawan dengan hasil tes yang dinilai cukup. Hari Senin tanggal 10 Januari, penandatanganan surat kontrak kerja dan serah terima jabatan pun dilakukan. Nama karyawan baru itu, Diah. Hari itu, dari pagi sampai sore aku sibuk menjelaskan apa-apa aja tugas yang kukerjakan setiap harinya yang nantinya akan ia handle selama aku cuti. Namun tampaknya ia masih bingung, sehingga sore harinya, ketika aku berpamitan pada Pak Teguh, atasanku itu memintaku untuk bekerja satu hari lagi untuk memastikan bahwa Diah sudah benar-benar paham dengan tugasnya.
"Kali ini Putri hanya mengawasi aja, biar dia yang kerjakan tugasnya", kata beliau. Akhirnya aku menyetujuinya. Keesokan harinya, aku membiarkan Diah mengerjakan sendiri tugasnya, sementara aku hanya mengawasi, membimbing, dan mengoreksi apabila ada sesuatu dari tugasnya yang belum dikerjakan dengan benar. Berbeda dengan hari kemarin yang benar-benar sibuk, hari Selasa itu aku benar-benar kebanyakan nganggur sehingga waktu terasa berjalan sangat lambat.

Jujur, menghabiskan waktu di rumah tentunya membuatku cukup jenuh dan kesepian. Meski memiliki banyak waktu untuk melakukan senam hamil, tapi entah kenapa rasanya lebih menyenangkan 'berolahraga' dengan berjalan bolak-balik dari satu ruangan ke ruangan lain seperti yang biasa kulakukan di kantor. Wkwk. Tapi di sisi lain, ada baiknya juga sih aku mengambil cuti lebih cepat, pasalnya belakangan ini kulit wajahku breakout parah sehingga membuatku nggak PD untuk bertemu orang lain.

Duluuuu sebelum menikah dan akhirnya hamil, aku mengira bahwa keluhan wanita hamil hanya sebatas pada perut yang membuncit, mual muntah, berat badan meningkat, dan kaki bengkak. Tapi ternyata, setelah mengalaminya sendiri, realitanya keluhan ibu hamil bisa bermacam-macam dan lebih dari itu. Selain berbagai hal tadi, aku juga mengalami sakit gigi, migrain, pusing, napas terasa engap, nyeri punggung dan selangkangan, perut ngilu, dan yah.. kulit kering dan gatal.

Mula-mula hanya masalah kulit kering dan mengelupas di bawah mata. Keluhan ini muncul ketika usia kehamilanku memasuki delapan bulan. Namun lama kelamaan, area tersebut terasa gatal, mendorongku untuk menggaruk hingga akhirnya timbul luka. Seiring bertambahnya usia kehamilan, kulit kering dan gatal itu terasa semakin parah hingga meninggalkan bekas berwarna merah kehitaman. Di hari-hari terakhir aku ngantor, teman-temanku sudah memperhatikan kondisi kulitku itu. Beberapa mengira aku kena herpes, sementara ibuku bilang wajahku terlihat seperti wanita yang babak belur karena KDRT. Huhu..

Dokter Wildan menyarankanku untuk berkonsultasi ke dokter kulit. Awalnya aku berpikir nggak perlu, karena dari yang aku dengar dan aku baca katanya kondisi ini muncul karena hormon kehamilan. Aku pikir toh sebentar lagi aku akan melahirkan dan kondisi kulitku akan kembali normal. Lagipula berkonsultasi dan berobat ke dokter kulit tentunya memerlukan biaya yang nggak sedikit. Sayang uangnya. Namun karena kondisinya semakin parah dan membuatku uring-uringan, aku pun akhirnya memutuskan untuk mengkonsultasikan kondisi kulitku ke salah satu klinik kecantikan di kotaku secara online. Dari reviewnya sih, klinik ini cukup bagus dan terkenal karena memiliki beberapa cabang di kota lain, selain itu harga resepnya pun nggak terlalu mahal.

Namun rupanya, pelayanan klinik yang kuharapkan bisa menangani permasalahanku dengan cepat itu nggak sesuai ekspektasi. Aku mengajukan permintaan konsultasi pada hari Rabu 12 Januari, dan baru ditanggapi keesokan harinya. Itu pun responnya lambat sekali hingga aku merasa akan meledak. Bayangkan, aku mengajukan permintaan konsultasi di hari Rabu, dan baru menerima resep yang kubutuhkan pada hari Sabtu :')

Dari konsultasi itu, aku menerima satu botol sabun pembersih wajah, satu botol toner, dan dua krim wajah. Sejauh ini, semua itu belum memberi hasil yang signifikan. Tapi alhamdulillah aku merasa kondisi kulitku cukup membaik meski jejak-jejak berwarna merah kehitaman itu belum hilang dan kini terlihat seperti bekas luka bakar. Ya Allah, sabar, sabar :')

Dan oh ya, tanggal 17 lalu, untuk pertama kalinya aku merasakan gelombang cinta dari Si Kecil. Malam itu, aku merasakan kram yang cukup hebat di sekitar perut. Rasa kram itu bukan hanya kurasakan di area perut bawah, tapi juga menjalar hingga pinggang, punggung, dan kaki, persis seperti nyeri haid hari pertama. Senyum Mas merekah. Ia memang sangat menantikan kelahiran bayi kami, namun ia juga tampak bingung dengan apa yang harus kami lakukan. Apakah kami perlu segera ke bidan saat itu juga?
"Nanti aja, Mas", ucapku sambil menahan sakit. Aku masih yakin ini belum saatnya. Selama belum muncul flek (seperti yang kudengar dan kubaca dari berbagai sumber), sepertinya kami harus menahan diri. Alhasil, malam itu Mas hanya bisa menenangkan seraya mengelus-elus pinggangku

Hingga lebih dari pukul tiga dini hari aku sulit sekali untuk tidur, karena disamping merasakan kontraksi yang hilang timbul, aku juga terus menerus ke toilet untuk buang air kecil. Kontraksi yang aku rasakan bisa dibilang cukup intens. Frekuensinya bisa mencapai tiga sampai lima menit tiap waktu dua menit hingga aku merasa bayi kami mungkin akan lahir hari itu juga. 

Namun hingga hari ini, gelombang cinta selanjutnya belum lagi aku rasakan. Padahal waktu itu aku sudah yakin sekali bahwa aku akan melahirkan dalam waktu dekat. Mungkin memang belum saatnya kali yah. Toh, HPL-nya masih satu minggu lagi. Jujur aku cemas, namun tetap berusaha untuk tenang dan nggak terlalu overthinking. Semoga semuanya akan baik-baik aja.

Selasa, 21 Desember 2021 0 komentar

Menghadiri Kelas Ibu Hamil di Puskesmas

Hari ini aku diundang untuk mengikuti Kelas Ibu Hamil di Puskesmas Kejaksan. Karena diselenggarakan secara gratis, tentunya aku nggak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Sebelumnya aku meminta ijin atasanku untuk terlambat ngantor karena acara itu digelar jam setengah sembilan pagi.
"Setelah acara selesai, saya langsung ke kantor, Pak", begitu isi pesan WhatsApp yang kukirimkan pada beliau.

Singkat cerita, aku dan ibu tiba di Puskesmas. Acara itu digelar di lantai dua, di sebuah ruang rapat. Kami tiba sekitar dua puluh menit lebih lambat dari jadwal, namun ruangan itu tampak sepi. Hanya ada satu peserta kelas yang tengah berpangku tangan di salah satu meja peserta paling depan dan satu staf Puskesmas yang tengah mempersiapkan bahan persentasi. Staf itu langsung mengenali ibuku. Kebetulan ibu memang Kader Posyandu, jadi tentunya sudah kenal dan cukup sering berinteraksi dengan para staf di sana. 

Di ruangan itu, ada enam meja panjang dan delapan belas kursi yang disediakan untuk peserta. Meja-meja dan kursi-kursi itu diatur menjadi dua baris. Aku mengambil tempat duduk di meja peserta paling depan di sebelah kiri ruangan. Entah berapa orang sebenarnya yang diundang untuk menghadiri kelas tersebut karena nggak semua kursi peserta terisi. Mungkin karena cuaca mendung, jadi banyak yang lebih memilih untuk diam di rumah kali yah.

Topik yang dibahas pada kelas ini adalah mengenai kondisi stunting pada anak, pentingnya pemberian ASI, dan 1000 hari pertama kehidupan yang disampaikan oleh tiga orang pembicara. Pembicara pertama sempat bertanya mengenai usia kehamilanku dan tampak kaget ketika aku bilang bahwa usia kandunganku sudah 34 minggu. Katanya aku nggak tampak seperti ibu hamil. Ia pun memintaku untuk berdiri, dan ketika itu lah ia melihat perutku yang besar. Well, beliau bukan orang pertama yang bilang begitu. Entah aku harus bersyukur atau bersedih dengan kondisi ini, karena ketika sebagian besar ibu hamil begitu mudah membuat tubuhnya lebih berisi, aku justru segini-segini aja :')

Sumber : Instagram @kejaksanpuskesmas

Di sela-sela pemberian materi, para peserta juga dipanggil satu persatu untuk mengukur lingkar lengan dan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan hemoglobin. Dan yah, bisa ditebak, ukuran lingkar lengan dan kadar hemoglobinku masih kurang. Padahal di pemeriksaan Hb yang pertama beberapa bulan lalu, kadar hemoglobinku dinyatakan cukup. Huhu..

Jumat, 19 November 2021 0 komentar

Hello, 3rd Trimester

Time is running so fast yah. Rasanya baru kemarin aku membangunkan Mas, mengabarinya bahwa ia akan segera jadi bapak, tiba-tiba sekarang kandunganku sudah memasuki bulan-bulan terakhir. Tendangan-tendangan dari dalam yang semula kecil kini semakin kuat kurasakan. Entah apa yang dilakukan Si Kecil di dalam sana. Berlatih drum mungkin. Sepertinya ia ingin menjadi penerus papanya. Ah, aku yakin kelak ia akan lebih keren dari papanya. Wong sekecil ini aja kurasa dia sudah mampu melakukan double pedal. Wkwkwk.

Jum'at, 05 November lalu, aku dan keluarga mengadakan syukuran kecil-kecilan. Nggak ada acara khusus. Kami hanya membuat bubur lolos, rujak serut, dan nasi kotak untuk dibagikan kepada saudara, tetangga, dan teman-teman. Rasanya senang, pagi-pagi rumahku sudah ramai dengan kehadiran nenek, bibi, sepupu, dan keponakan-keponakanku. Hari itu aku ngobrol-ngobrol dengan sepupuku, Gege, seputar kehamilan dan persiapan melahirkan, juga bermain-main dengan Naura dan Shanum. Naura ini sebenarnya anak ayah banget. Kemana-mana selalu menempel dengan ayahnya. Tapi karena hari itu ayahnya nggak ikut, kami jadi lebih mudah mendekatinya. Aku juga senang melihat Naura yang cepat akrab dengan Mas, juga Shanum yang tenang berada di gendongan Mas. Ah, tampaknya Masku sudah lebih siap menjadi orangtua ketimbang aku. Ia tampak menikmati momen-momen bersama Shanum, menggendongnya, membawanya ke halaman rumah untuk melihat burung-burung peliharaan bapak. Sementara aku, menggendong anak kecil aja belum berani. Huhu..

Pekerjaan kami baru selesai sekitar jam setengah lima sore. Aku sempat cemas, khawatir semuanya baru selesai menjelang waktu Magrib, karena aku sudah berniat untuk membawa rujak dan bubur lolos itu ke kantor untuk dibagikan kepada rekan-rekanku. Ditambah lagi, motor Mas sempat dipinjam oleh teman ibu. Namun syukurlah, waktunya masih keburu. Aku menitipkan kardus berisi rujak dan bubur itu pada Inggit dan meminta tolong padanya untuk dibagikan kepada orang-orang di kantor.

Jum'at, 12 November, aku dan Mas kembali mengunjungi tempat praktek dr. Wildan untuk kembali melakukan USG. Kali ini, Mas janjian dengan dua orang temannya untuk memeriksakan kandungan istri mereka bersama-sama. Wkwkwk. Yah, dengan begitu, kami jadi nggak begitu bosan menunggu. Mas menunggu di luar bersama Mas Ipank dan A Yogi. Sementara aku bersama Teh Indri dan Teh Nike menunggu giliran untuk dipanggil ke ruang dokter. 

Hari itu hasil pemeriksaan kandunganku sedikit mengkhawatirkan. Tekanan darahku masih rendah, berat bayiku kurang 100 gram, dan posisinya melintang ☹️ Dokter menyarankanku untuk melakukan 'sujud anti sungsang' setiap lima kali sehari agar posisi kepala bayiku berputar ke bawah. Dokter juga menyuruhku untuk terus menanamkan sugesti positif dan membuang pikiran-pikiran negatif dalam hal apapun. Ah, semoga semuanya akan baik-baik aja sampai waktu persalinan nanti. Aamiin.

Saat di-USG, bayiku tampak malu-malu. Ia terus menutup wajahnya dengan tangan. Ia sempat menguap, kemudian menutup sebagian wajahnya lagi. Ya ampun, gemas sekali.

Oh ya, kami juga menerima kabar baik. Teh Indri hamil. Ya, setelah awal Maret tahun lalu ia mengalami keguguran dan selama lebih dari satu tahun menantikan testpack-nya menunjukkan dua garis, akhirnya hari itu ia kembali dinyatakan hamil. Alhamdulillah. Namun hari itu kandungannya masih sangat muda, yakni enam minggu, sehingga ketika di USG yang terlihat baru kantungnya. Dokter menyarankannya untuk kembali melakukan pemeriksaan dua minggu kemudian. Aku dan Mas tentunya mengharapkan yang terbaik untuk teman kami ini.

Hari Minggunya, aku dan Mas melihat-lihat perlengkapan bayi di salah satu toko khusus perlengkapan ibu dan bayi di kota kami. Banyak yang bilang murah, tapi rupanya ketika kami lihat-lihat kesana, harganya lumayan juga. Lumayan mahal, maksudnya 😂 Memang persoalan harga itu relatif sih ya. Selain itu, aku juga merasa kurang nyaman karena selama berbelanja harus diawasi staf toko. Well, aku bukan tipe orang yang nyaman dilihatin selama melakukan suatu kegiatan, makanya aku suka agak malas kalo belanja di tempat yang stafnya selalu stand by mendampingi calon konsumen. Alhasil, setelah membeli beberapa perlengkapan bayi, aku dan Mas pun langsung ke luar dari tempat itu tanpa tertarik untuk melihat-lihat perlengkapan lainnya. "Beli di online shop aja ya, Mas", kataku. Mas pun mengiyakan.

Hmm.. sepertinya aku harus berusaha untuk lebih berhemat dengan mendahulukan hal-hal yang dibutuhkan dahulu ketimbang hal-hal yang diinginkan. Selama ini aku masih suka jajan, padahal kami harus menabung untuk membeli keperluan bayi. Aku juga perlu mencatat perlengkapan bayi apa aja yang perlu kubeli dan nggak perlu kubeli, karena tentunya sepupuku memiliki beberapa perlengkapan bayi yang bisa dilungsurkan padaku. Sayang juga kalo sudah beli berbagai macam perlengkapan bayi, namun akhirnya malah nggak terpakai. Apalagi mengingat harganya yang nggak murah. Huhu.. Semoga Tuhan senantiasa melancarkan rejeki kami. Aamiin.

Kamis, 11 November 2021 0 komentar

SQUID GAME : Ketika Crazy Rich Gabut

Aku tau, aku bisa dibilang telat nonton serial ini. Squid Game pernah menjadi Trending Topic di Twitter pada bulan September lalu. Pengguna Instagram pun banyak yang memposting foto atau video yang berkaitan dengan serial ini. Namun ketika itu aku belum tertarik buat menontonnya. Aku baru merasa tertarik ketika Pak Dedi, salah satu rekanku di tempat kerja, dengan antusias menceritakan betapa serunya film ini. Saking antusiasnya, ia sampai membeberkan plot twist-nya. 

Kesal sih karena sudah ada yang spoiler begitu, tapi aku tetap tergoda untuk menonton serial Netflix dengan episode sebanyak 9 episode ini. 

Squid Game atau Permainan Cumi-Cumi sejatinya merupakan salah satu permainan tradisional anak-anak Korea. Permainan ini dinamakan Permainan Cumi-Cumi karena arena permainan ini terdiri dari gambar bentuk geometris yang berbeda di atas tanah yang secara keseluruhan berbentuk seperti cumi-cumi. Dalam permainan ini, peserta dibagi menjadi penjaga dan penyerang. Cara bermainnya yakni penyerang harus masuk ke arena dan berlari melewati berbagai pertahanan yang ada, kemudian menginjak area kecil yang disebut kepala cumi-cumi. Sementara penjaga harus berusaha menghalangi si penyerang dan mendorongnya ke luar arena. Yah mirip-mirip gobak sodor gitu deh. Namun dalam serial ini, Squid Game nggak sesederhana itu, karena Squid Game yang diceritakan dalam serial ini adalah serangkaian permainan bertahan hidup yang dimainkan oleh sekumpulan orang yang disatukan dalam permainan ini karena latar belakang masalah yang sama, yakni masalah finansial.

 
 
SPOLER ALERT! Aku akan menceritakan sebagian besar cerita dalam series ini. Jangan diteruskan kalo kamu belum pernah menonton film ini, atau ceritanya jadi nggak greget lagi.

Pemeran utama dalam serial ini adalah Seong Gi-hun, seorang pria yang hobi menghambur-hamburkan uang dengan berjudi. Kebiasaan buruknya ini tentunya berimbas pada keluarga dan kondisi finansialnya. Istrinya menceraikannya, ibunya sakit diabetes dan nggak mampu berobat, dan dirinya terlilit utang ratusan juta won.

Suatu malam di stasiun, Gi-hun dihampiri seorang pria asing yang menawarinya untuk bertaruh dalam permainan Ddakji. Ada dua kartu dalam permainan ini, yakni kartu merah dan kartu biru. Kedua pemain harus memilih satu warna, kemudian masing-masing pemain harus melempar kartu mereka ke lantai untuk membalikkan kartu lawannya. Apabila pemain tersebut gagal membalikkan kartu lawan, maka pemain tersebut akan mendapatkan hukuman. Pria asing tersebut bertaruh, apabila salah satu dari mereka gagal membalik kartu lawan, maka pemain yang gagal tersebut harus memberikan uang sebesar 10 ribu won kepada lawannya sebagai hukuman. Apesnya, Gi-hun terus-terusan gagal membalik kartu lawannya, dan karena ia nggak memiliki uang, ia harus merelakan pipinya ditampar berkali-kali sebagai ganti uang taruhan. Hingga akhirnya, di percobaan yang kesekian kalinya, Gi-hun berhasil membalik kartu lawannya dan mendapatkan uang sebesar 10 ribu won itu. Tanpa diduga kemudian, sang pria asing menawarkan kesempatan untuk memainkan lebih banyak permainan dengan taruhan yang jauh lebih tinggi. Pria tersebut memberikannya secarik kartu dengan logo berbentuk geometris dan nomor telepon di baliknya.


Singkat cerita, Gi-hun menerima tawaran pria asing tersebut. Ia menghubungi nomor telepon yang tertera pada kartu. Dari percakapan di telepon itu, Gi-hun diminta datang ke suatu tempat hingga ada sebuah mobil yang menjemputnya. Begitu masuk ke mobil, Gi-hun dibius, pingsan, dan terbangun di sebuah asrama bersama 455 orang lainnya. Mereka nggak saling mengetahui nama para pemain, kecuali nomor yang tertera di baju mereka. Di asrama itu, Gi-hun yang merupakan Pemain Nomor 456 berkenalan dengan Pemain Nomor 001, yakni seorang pria tua bernama Oh Il-nam yang menderita tumor otak dan demensia. Ia juga bertemu dengan teman masa kecilnya, Cho Sang-woo, dan seorang gadis bernama Kang Sae-byeok yang mencopet uang yang Gi-hun dapatkan dari taruhan pacuan kuda.



Sekelompok prajurit bertopeng dengan jumpsuit merah menjelaskan bahwa mereka yang dikumpulkan di sana adalah orang-orang yang memiliki masalah finansial yang parah. Jika mereka berhasil memenangkan enam permainan dalam enam hari, maka mereka berhak memenangkan hadiah uang sebesar 45,6 milyar won. Namun sebelum itu, setiap pemain terlebih dahulu harus menandatangani Formulir Persetujuan Pemain yang terdiri dari tiga pasal : 1. Pemain tidak diperbolehkan berhenti bermain 2. Pemain yang menolak bermain akan dieliminasi 3. Permainan dapat dihentikan apabila mayoritas setuju. Setelah itu, permainan pun dimulai. Oh ya, seluruh kegiatan yang dilaksanakan di tempat itu diawasi oleh sesosok pria bertopeng hitam yang disebut Front Man.

https://cdn-2.tstatic.net/tribunnews/foto/bank/images/front-man-dan-penjaga-dalam-squid-game.jpg

Permainan pertama adalah Lampu Merah, Lampu Hijau.  Seluruh pemain dikumpulkan di sebuah lapangan dimana terdapat sebuah robot besar yang bertugas sebagai 'Penjaga'. Para pemain harus berjalan maju dan boleh bergerak selama Penjaga mengucapkan 'mogunghwa kkoci pieot seumnida'. Di luar itu, mereka harus diam mematung. Jika ada pergerakan yang terdeteksi, maka pemain akan dieliminasi. Sebaliknya, mereka yang nggak tertangkap dan mampu mencapai garis akhir dalam lima menit, maka mereka lolos dalam permainan ini. Terdengar mudah, memang. Ya, nggak ada satupun yang mengira bahwa yang dimaksud 'dieliminasi' dalam permainan ini adalah ditembak mati. Kepanikan mulai terjadi ketika satu-dua korban jatuh. Suasana menjadi sangat kacau ketika para pemain berlarian berusaha menyelamatkan diri, namun sia-sia karena gerakan mereka otomatis terdeteksi dan sebagian besar dari para pemain harus meregang nyawa. Berkat bantuan Sang-woo dan Pemain Nomor 199, Gi-hun berhasil lolos dari permainan babak pertama ini. 

Lebih dari setengah pemain terbunuh di babak pertama. Sebagian dari mereka yang selamat pun menuntut untuk dibebaskan. Maka dengan mengacu pada pasal ketiga yang terdapat pada Formulir Persetujuan Pemain, mereka pun melakukan voting. Sebagian besar dari mereka menginginkan untuk membatalkan permainan. Tuntutan mereka pun dikabulkan. Mereka berhasil pulang ke rumah masing-masing meski tanpa membawa hadiah apapun. 

Tapiiii rupanya para komplotan misterius itu nggak menyerah sampai disitu. Mereka kembali menyebarkan undangan permainan. Rencana mereka pun berhasil. Sebagian besar dari para pemain yang semula menuntut untuk membatalkan permainan justru kembali bergabung karena putus asa. Bagi mereka, kehidupan mereka di luar pun nggak jauh lebih baik. Begitu juga yang terjadi pada Gi-hun. Dirinya terlanjur menandatangani surat penyerahan organ tubuh kepada rentenir yang diutanginya, ia terancam terasing dari anak kandungnya sendiri, ditambah lagi penyakit ibunya yang semakin parah hingga kakinya terancam diamputasi. Gi-hun memutuskan kembali bermain. Baginya seenggaknya di sana ada harapan, daripada mati sia-sia di tangan rentenir. 

Di asrama, Gi-hun membentuk sebuah tim. Ada Sang-woo, teman masa kecilnya yang cerdas; Ali Abdul, Pemain Nomor 199 yang menyelamatkannya di permainan babak pertama; dan Il-nam, pria tua yang menjadi Pemain Nomor 001. Namun, di episode ke-3, aku mulai menyadari bahwa Sang-woo ini licik. Pada permainan Gulali dimana para pemain harus memotong permen dalgona sesuai bentuk yang mereka pilih sebelumnya, sebetulnya Sang-woo mengenali permainan itu, namun ia nggak memberitahukan hal itu pada rekan-rekan satu timnya. Ia memilih bentuk segitiga, yakni bentuk termudah di antara bentuk lainnya, dan membiarkan rekan-rekan timnya memilih bentuk yang lebih sulit.

https://lookingglass.montroseschool.org/wp-content/uploads/Dalgona-candy-article.png

Anyway, aku paling suka episode ke-6, karena episode ini yang menurutku paling emosional dimana para pemain menunjukkan sifat aslinya masing-masing. Kawan bisa jadi lawan. Di sisi lain, seseorang yang tampak nggak peduli justru menjadi penyelamatmu. 

Di episode ini, para pemain dipersilahkan memilih pasangan bermain untuk permainan keempat. Mereka yang berpikir bahwa permainan selanjutnya ini membutuhkan kerjasama tim pun memilih pasangan yang sekiranya akan menguntungkan. Mereka enggan memilih pasangan yang tampak lemah. Sang-woo menunjuk Ali sebagai pasangan bermainnya. Ia berpikir bahwa kercerdasan dirinya dan kekuatan tubuh Ali akan sangat menguntungkan mereka. Sementara Gi-hun yang awalnya ingin mengajak Sang-woo akhirnya memilih berpasangan dengan Il-nam, itu pun karena kasihan, khawatir si kakek tua ini nggak dapat pasangan dan akhirnya tereliminasi. 

https://asset.kompas.com/crops/zg2VfAxXiUGp05NTe0OtgcBJ9ks=/54x0:831x518/750x500/data/photo/2021/09/28/6152770640437.png

Namun rupanya dugaan mereka meleset. Alih-alih bermain sebagai tim, mereka justru harus bermain sebagai lawan dari pasangannya. Permainan yang akan mereka mainkan adalah kelereng. Mereka bebas menentukan bagaimana cara mereka memainkannya. Bisa dengan menebak jumlah kelereng di tangan adalah ganjil atau genap, memasukkan kelereng ke dalam lubang di tanah, melemparnya hingga mendekati dinding, dan cara-cara lainnya. Intinya, pemain yang berhasil memiliki seluruh kelereng milik lawannya, maka ia otomatis lolos dari babak ini. Sementara pemain yang kalah, tentu aja harus menerima headshot dari para prajurit Squid Game. 

Dalam permainan ini, semakin jelas kelicikan Sang-woo. Seharusnya Ali bisa menang darinya. Namun Sang-woo berusaha memanipulasi Ali, ditambah mengungkit-ngungkit kebaikan dirinya hingga Ali yang polos merasa berhutang budi dan nggak enak hati. Ia terlalu percaya pada Sang-woo yang ia anggap begitu baik, hingga ia nggak menyadari bahwa kantung kelerengnya diisi kerikil dan seluruh kelereng miliknya direbut oleh Sang-woo. Dan yah, bisa ditebak lah ya, apa yang terjadi selanjutnya.

Bagaimana dengan Gi-hun? Disini agak aneh sih, karena Gi-hun yang dari awal kita kenal baik pada orang lain dan gampang kasihan, justru tega memanfaatkan kekurangan lawannya. Mengetahui Il-nam menderita demensia, Gi-hun dapat dengan mudahnya memanipulasi pria tua itu. Hmm, mungkin dia berpikir bahwa dirinya lebih butuh hadiah uang itu kali ya karena toh pria tua itu pun bakal segera mati karena tumor otaknya. Menjelang akhir permainan, Il-nam sebenarnya menyadari bahwa Gi-hun sudah memanipulasinya. Tapi ia nggak marah. Ia memasukkan kelereng terakhirnya ke dalam genggaman Gi-hun seraya berkata, "Ini milikmu. Kita adalah gganbu, kau lupa? Kita sudah berjanji untuk menjadi gganbu bagi satu sama lain. Dan ketika menjadi gganbu, kita berbagi segalanya. Terima kasih. Berkat kau, aku bisa bersenang-senang". Menyentuh banget. Iya. But watch until the end of the series deh.

https://img-9gag-fun.9cache.com/photo/aAbW28d_460s.jpg

Dan yaaaaang paling menyesakkan adalah pasangan Sae-byeok dan Ji-yeong. Berbeda dengan para pemain lain yang langsung bermain ketika permainan dimulai, mereka justru menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk berbincang-bincang mengenai kehidupan masing-masing dan memutuskan untuk bermain di tiga menit terakhir. Awalnya mereka nggak saling kenal. Mereka memutuskan berpasangan karena sama-sama merasa bahwa nggak ada satupun pemain yang ingin berpasangan dengan mereka. Namun selama 27 menit perbincangan mereka, mereka mampu membentuk pertemanan singkat yang menyentuh. Di sini, mereka saling menceritakan kisah kelam masing-masing, juga apa yang akan mereka lakukan jika berhasil memenangkan hadiah uang dari Squid Game.
"Setelah kita keluar dari sini, aku akan mengajarkanmu bagaimana cara menghabiskan uang di Korea Selatan", kata Ji-yeong dengan berapi-api. "Mau ke Pulau Jeju bersama?" Tapi sedetik setelah mengucapkannya, ia sadar bahwa mereka nggak bisa keluar bersama dari permainan.

https://m.media-amazon.com/images/M/MV5BYTM4MWMyYzgtMzU2NC00YTYxLWIyZWMtY2ExZDA3OTU1N2MxXkEyXkFqcGdeQXVyMzQwMDU3NDA@._V1_.jpg

Di tiga menit terakhir permainan, sesuai perjanjian, Sae-byeok dan Ji-yeong pun mulai bermain. Aturan bermainnya sangat sederhana, siapapun yang berhasil melempar kelereng paling dekat dengan dinding, maka ia adalah pemenangnya. Sae-byeok mendapat kesempatan pertama untuk melempar kelereng, sementara Ji-yeong mendapat kesempatan setelahnya. Namun alih-alih melempar kelereng, Ji-yeong justru sengaja menjatuhkan kelerengnya. Ia sadar bahwa dirinya yang sebatangkara nggak memiliki apapun lagi untuk diperjuangkan. Ia membiarkan Sae-byeok memenangkan permainan itu.
"Aku tak punya apapun. Kau punya alasan untuk ke luar dari sini, tapi aku tak punya. Sejak kau bertanya, aku terus memikirkan apa yang akan aku lakukan setelah ke luar dari sini. Meski kocoba memikirkannya, tak terpikir sama sekali. Orang yang memiliki alasan yang harus ke luar, seharusnya begitu. Kau harus meninggalkan tempat ini hidup-hidup, lalu bertemu ibumu, menjemput adikmu, dan pergi ke Pulau Jeju." Sumpah sih, ini heartbreaking banget :')
"Terima kasih sudah bermain bersamaku", ucap Ji-yeong sebelum timah panas menembus kepalanya. 

https://styleheavens.com/wp-content/uploads/2021/10/SQUID-GAME-DEATHS-FORESHADOW.jpg

Setelah permainan kelereng ini, banyak di antara para pemain yang merasa depresi atas kehilangan rekannya. Salah satunya adalah seorang pemain yang akhirnya memutuskan untuk gantung diri karena pasangan bermainnya dalam permainan kelereng adalah istrinya sendiri.

Singkat cerita, permainan kelima—Pijakan Kaca—menyisakan tiga orang pemain, yakni Gi-hun, Sang-woo, dan Sae-byeok. Namun di akhir babak ini, pinggang kiri Sae-byeok terluka parah akibat tertusuk pecahan kaca. Hal ini membuat dirinya begitu lemah di malam menjelang permainan babak terakhir. Gi-hun yang mengkhawatirkan kondisi Sae-byeok menghampirinya dan mengajak Sae-byeok untuk bersekutu melawan Sang-woo. Alih-alih mengiyakan, Sae-byeok justru meminta Gi-hun berjanji, bahwa siapapun di antara mereka yang berhasil memenangkan Squid Game harus menjaga keluarga dari yang gugur. Sebenarnya Gi-hun berniat untuk membunuh Sang-woo malam itu juga, namun niatnya itu dihentikan oleh Sae-byeok, karena menurutnya Gi-hun bukanlah seorang pembunuh yang tega melakukan hal itu. Sementara itu, luka di pinggang Sae-byeok semakin parah. Gi-hun yang melihat Sae-byeok sekarat pun panik dan menggedor-gedor pintu asrama untuk meminta bantuan. Pintu pun terbuka. Para Prajurit datang, namun bukan untuk memberi bantuan, melainkan membawa peti mati untuk jasad Sae-byeok. Malam itu, Sae-byeok akhirnya gugur, bukan karena lukanya, melainkan ditikam oleh Sang-woo.

Babak terakhir Squid Game menyisakan Gi-hun dan Sang-woo, dua orang yang berteman sejak kecil, namun akhirnya harus saling membunuh. Dalam pertarungan terakhir itu, Gi-hun berhasil melumpuhkan Sang-woo, namun enggan membunuhnya. Ia justru mengajak Sang-woo untuk membatalkan permainan. Namun Sang-woo malah menikam lehernya sendiri. Sebelum gugur, ia meminta Gi-hun untuk menjaga ibunya.

Gi-hun yang berhasil memenangkan Squid Game pun dikembalikan ke Seoul dengan membawa kartu ATM yang berfungsi untuk mengakses hadiah uang yang ia dapatkan. Namun sayang, sekembalinya ia ke rumah, ia mendapati ibunya telah meninggal.

Satu tahun lamanya, Gi-hun hidup dalam rasa trauma. Ia bahkan nggak menyentuh hadiah uang yang ia dapatkan dari Squid Game. Suatu hari, ia menerima sebuah undangan tanpa nama. Si pengirim undangan hanya menyebutkan bahwa dirinya adalah gganbu Gi-hun. Undangan itu mengantarkan Gi-hun pada sebuah apartemen mewah. Di sebuah kamar, sesosok pria tua terbaring. Betapa kagetnya Gi-hun ketika mengenali siapa pria tua itu. Iya, Oh Il-nam, kakek yang menjadi pasangan bermainnya dalam permainan kelereng.

Dari sinilah kebenaran terkuak, bahwa Oh Il-nam adalah dalang dari seluruh kegilaan Squid Game. Il-nam mengungkapkan bahwa dirinya menciptakan Squid Game sebagai sarana untuk menghibur diri sendiri dan orang-orang superkaya yang bosan karena terlalu banyak uang. WTF! Memang kamvret ini aki-aki gabut 😂

https://releasedate.news/wp-content/uploads/2021/09/Squid-Game-Season-1-Why-did-Oh-Il-Nam-create.jpg

Malam itu, Oh Il-nam meninggal dunia karena tumor otaknya. Setelah malam itu, Gi-hun merombak penampilannya, kemudian menjemput adik Sae-byeok dari panti asuhan dan menyerahkannya pada ibu Sang-woo untuk dirawat. Sebelum pergi, Gi-hun meninggalkan koper berisi sebagian uang yang ia dapatkan dari Squid Game.

Gi-hun pergi ke bandara untuk berhubungan kembali dengan putrinya di Amerika. Di sana, ia melihat pria asing yang dulu pernah mengajaknya untuk bergabung dengan Squid Game tengah bertaruh dalam permainan Ddakji dengan seorang pria lainnya. Setelah pria itu mendapatkan kartu undangan Squid Game, Gi-hun menghampiri pria itu dan merebut kartu itu darinya. Sebelum naik ke pesawat, Gi-hun menghubungi nomor yang tertera pada kartu itu dan memaksa si penerima telepon untuk memberitahunya tentang siapa yang kembali menjalankan Squid Game (karena Oh Il-nam kan sudah mati, harusnya permainannya sudah nggak ada lagi). Alih-alih menjawab, si penerima telepon malah meminta Gi-hun untuk segera naik ke pesawat, namun Gi-hun memilih untuk memutus sambungan telepon dan kembali ke bandara.

***

Seriouslyyy.. serial ini tuh seru dan membekas banget. Saking serunya, sembilan episode mampu aku habiskan dalam waktu dua hari. Menariknya lagi, serial ini memperkenalkan kita pada permainan tradisional anak-anak Korea yang ternyata nggak jauh berbeda dengan permainan tradisional kita.

Hanya aja, ada beberapa hal dalam serial ini yang mengganjal buatku. Aku heran, kenapa selama satu tahun setelah Gi-hun memenangkan Squid Game, ia nggak pernah memakai sepeser pun hadiah uangnya? Dan ia tetap hidup, meski dirinya tampak nggak terurus. Padahal di episode pertama diceritakan bahwa Gi-hun ini dikejar-kejar rentenir dan dipaksa menyerahkan organ tubuhnya apabila dirinya nggak mampu melunasi utang-utangnya. Kira-kira kemana rentenir yang kemarin mengejar-ngejar dia yah? 😅 Selama itu pula, ia nggak segera menepati janjinya untuk menjemput adik Sae-byeok dari panti asuhan dan menjaga ibunda Sang-woo. Padahal adik Sae-byeok sudah begitu depresi karena kakaknya hilang tanpa kabar.

Selain itu, aku juga menyayangkan detektif muda yang mati sia-sia, ditembak kakaknya sendiri, setelah selama beberapa hari dirinya menjadi penyusup dan menyamar menjadi prajurit Squid Game demi mengungkap kebenaran tentang siapa dalang di balik permainan-permainan itu. Well, kalo aja detektif itu berhasil, Squid Game sepertinya nggak akan berlanjut setelah Il-nam, si kakek tua gabut itu meninggal. Aku kira sepertinya bakal ada Squid Game Season 2 sih. Mungkin Gi-hun akan menjadi the next Front Man di Squid Game berikutnya, who knows kan? Seperti halnya Haymitch dalam film Hunger Games yang menjadi mentor peserta karena pernah menjadi pemenang dalam Hunger Games sebelumnya. Entahlah, we will see :)

Total Tayangan Halaman

 
;