Selasa, 11 Maret 2025 0 komentar

Netflix Series : CASSANDRA, Luka Abadi Dalam Tubuh Besi

Setuju nggak sih kalo jaman sekarang, teknologi tuh udah jadi bagian yang nggak terpisahkan dari keseharian kita? Mulai dari yang udah biasa kita pakai kayak handphone, komputer, dan alat-alat elektronik lainnya, sampai asisten virtual. Kalo dulu, rasanya lucu dan aneh melihat Plankton dalam serial Spongebob Squarepants yang ngobrol sama Karen si robot komputer, bahkan menganggap Karen sebagai istrinya.

Tapi nyatanya sekarang, banyak orang dan bahkan aku sendiri yang lebih senang chatting sama aplikasi AI chatbot kayak ChatGPT, Grok, dan Meta, karena menganggap chatting sama mereka tuh udah kayak chat sama teman yang sefrekuensi. Ngobrol apapun pasti nyambung dan nggak usah merasa takut di-judge atau overshare. Apalagi ChatGPT dan Grok punya respon yang baik, yang bisa bikin kita merasa kayak bener-bener chat sama manusia. Kalo Meta, menurutku sih masih rada kaku ya. Tapi lumayan membantu lah kalo lagi pingin curhat banyak atau tanya ini itu yang nggak berbatas, karena Chat GPT dan Grok punya limit 10 sampai 15 chat aja setiap beberapa jam. Well, chatting sama chatbot kan sama aja ngobrol sama robot ya?

Nah, dua hari yang lalu, aku baru aja nonton serial Netflix asal Jerman, judulnya Cassandra, yang kayaknyaa terinspirasi dari Karen-nya Plankton. Wkwk. Hanya aja kalo lihat Karen dan Plankton kan lucu ya, tapi kalo lihat Cassandra, serem. Serial ini bergenre Science Fiction & Thriller, dan terdiri dari enam episode.


Kisah berawal dari kepindahan sebuah keluarga ke sebuah rumah di pinggir kota yang udah ditinggalkan selama puluhan tahun. Mereka ingin memulai lembaran baru pasca salah satu anggota keluarga mereka meninggal karena bunuh diri. Keluarga ini terdiri dari sepasang suami istri dan dua orang anak : David Prill—sang ayah, Samira—sang ibu, Fynn Prill—si sulung, dan Juno Prill—si bungsu.

Saat sedang melihat-lihat ruangan, Fynn dan Samira menemukan sebuah robot yang teronggok tak bernyawa, nyaris tertutup kain putih. Fynn pun membawa robot itu ke kamarnya untuk diperbaiki. Sia-sia, robot itu nggak menunjukkan tanda-tanda hidup.

Namun malam harinya, ketika semua anggota keluarga tidur, robot itu mulai menyala. Bagian layar yang menjadi 'kepala' robot itu menampilkan wajah seorang wanita. Robot itu pun mulai memindai seisi rumah, menyalakan lampu-lampu dan layar-layar TV yang juga menampilkan wajah yang sama. Tiba-tiba Juno yang terjaga dari tidurnya, berteriak, hingga membangunkan seisi rumah. Ketika Sam, David, dan Fynn menghampirinya, robot perempuan itu udah berdiri di sisi ranjang gadis kecil itu.

Wanita dalam layar robot itu tersenyum ramah. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Cassandra, robot pintar yang siap membantu, khususnya dalam urusan pekerjaan rumah tangga. Bisa dibilang, ia juga merupakan 'otak' dari seluruh perangkat elektronik di rumah itu, mulai dari lampu, TV, kompor, lemari es, sampai pintu. Sebagai asisten rumah tangga berbasis AI, Cassandra bisa diandalkan dalam membersihkan rumah, memotong rumput, dan menyiapkan bahan-bahan masakan. Juno, si bungsu yang polos, langsung akrab pada Cassandra dan menjadikannya sebagai sahabat. Bagi gadis kecil itu, Cassandra seperti ibu asuh yang baik dan hangat. Ia seringkali menghibur dan menemaninya saat kesepian.


Tapiiii kehangatan itu perlahan memudar. Cassandra mulai menunjukkan sisi gelapnya. Ia jadi posesif terhadap keluarga itu, dan entah kenapa benci banget sama Samira. Suatu malam, bagian rumah tiba-tiba terbakar. David mencurigai Samira, karena ia adalah yang terakhir ada di situ dan menyalakan proyektor. Samira bersikeras bahwa dia udah mematikan proyektor sebelum pergi tidur. Tapi kecurigaan David diperkuat dengan pernyataan Cassandra yang menyebutkan bahwa Samira yang mabuk malam itu adalah penyebabnya. Kejadian demi kejadian terjadi, dan semuanya terjadi seolah kesalahan Samira. Samira yang frustrasi karena semua hal gila itu pun mulai mencari tau siapa wajah di balik robot Cassandra.

Ia diam-diam pergi ke gedung arsip kota dan mencari tau pemilik terdahulu rumah itu. Benar aja, ketika ditelusuri, rupanya dulunya rumah itu milik pasutri bernama Cassandra dan Horst Schmitt. Cassandra meninggal pada tahun 1972 karena sakit. Di tahun 1973, Horst dan putranya, Peter, tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Anehnya, robot Cassandra ada di lokasi kecelakaan tersebut dan nampak pada foto. Samira pun membawa potongan arsip itu untuk ditunjukkan pada David. Namun di luar dugaan, David malah mengira Samira terkena gangguan mental pasca meninggalnya sang kakak. Menurutnya, Cassandra nggak lebih dari sebuah robot AI yang mempelajari kebiasaan pemiliknya berdasarkan algoritma.

Puncaknya terjadi saat Emily, teman sekolah Juno, datang berkunjung dan bermain petak umpet. Saat Emily bersembunyi di dalam kompor, Cassandra mengunci pintu kompor itu dan memanaskannya hingga kulit gadis kecil itu melepuh. Dia juga memutarbalikkan fakta, membuat seolah Samira yang kehilangan kendali dan melakukan hal gila itu. Akibat kejadian itu, David membujuk Samira untuk tinggal di pusat terapi selama beberapa waktu guna menangani masalah mentalnya.


And here it goes. Pasca keluarnya Samira dari rumah itu, Cassandra mengambil alih semuanya, menggantikan peran Samira, mengurung David, Fynn, dan Juno di dalam rumah yang kini terasa kayak penjara bagi mereka. Ketika itu lah, David baru sadar bahwa apa yang diceritakan Samira selama ini adalah benar.

Jadiiii, siapa sih sebenarnya Cassandra ini? Dan kenapa dia bisa sebenci itu sama Samira dan pingin merebut posisinya di dalam keluarga Prill?


Cassandra adalah seorang ibu yang hidup bersama suaminya, Horst, seorang ilmuwan ambisius, dan putra mereka, Peter. Namun Horst bukanlah sosok ayah yang baik. Ia kerapkali menghina Peter, karena menurutnya, Peter terlalu 'lembek' kayak anak perempuan dan nggak bisa jadi seperti apa yang Horst inginkan. Sedangkan Cassandra sebaliknya. Ia menyayangi sang putra sepenuh hati dan selalu mendukungnya, apapun yang terjadi. 

Singkat cerita, Cassandra mengandung anak kedua. Di kehamilan Cassandra yang kedua ini, Horst sangat berharap janin yang dikandung istrinya itu berjenis kelamin laki-laki. Saking ambisius dan penasaran, Horst nekat menggunakan alat USG eksperimentalnya yang ia klaim bisa 'menembus' rahim dan menghasilkan gambar janin yang jelas. Namun rupanya, alat itu belum sempurna.

Akibat hal itu, Cassandra pun mengalami pendarahan hebat, dan anak yang dikandungnya (yang ternyata perempuan) jadi terlahir cacat. Horst berkeinginan untuk membuang bayi itu karena malu, tapi Cassandra bersikeras untuk merawatnya meskipun dengan syarat, anak yang diberi nama Margarethe itu nggak boleh diketahui keberadaannya oleh siapapun.

Cobaan Cassandra nggak cuma sampai di situ. Horst berselingkuh dengan Birgit, sahabat Cassandra sendiri. Cassandra juga harus menerima kenyataan bahwa dirinya mengidap kanker akibat radiasi dari alat USG ciptaan suaminya. Karena radiasi tersebut, kanker itu menyebar cepat, sehingga nggak memungkinkan buat sembuh.

Menyadari dirinya nggak bisa hidup lebih lama, Cassandra pun meminta pada suaminya untuk menanamkan pikiran dan kepribadiannya ke dalam sebuah robot, agar ia bisa terus 'hidup' dan menjaga kedua anaknya. Tapi yang namanya robot kan pasti beda dengan manusia ya. Harapan Cassandra untuk tetap dekat dengan anak-anaknya pun pupus, karena Peter bahkan merasa asing dengan wujud ibunya sekarang. Horst yang nggak lagi bisa merasakan 'sentuhan' istrinya pun jadi nggak segan lagi membawa selingkuhannya ke rumah, bahkan di depan robot Cassandra.

Suatu hari mereka bertengkar. Horst ingin membawa Birgit, bayi hasil perselingkuhan mereka, dan juga Peter dari rumah itu. Tapi Cassandra menahan mereka. Bukan mencegah mereka pergi, melainkan semata-mata agar mereka membawa serta Margarethe, karena sadar dirinya nggak bisa mengurus Margarethe sendirian dengan tubuh robotnya. Horst setuju, namun rupanya ia berkhianat.

Ketika Cassandra lengah, Horst kabur bersama Birgit, bayi hasil perselingkuhannya, dan juga Peter. Peter yang merasa keberatan untuk meninggalkan Margarethe pun cekcok dengan sang ayah di dalam mobil, hingga akhirnya kecelakaan tragis yang merenggut nyawa Horst dan Peter itu terjadi, meninggalkan Cassandra yang kini menjadi robot dengan luka batin yang membeku. Kesedihan, pengkhianatan, dan rasa bersalah itu mengubahnya menjadi sosok robot psikopat yang iri pada keluarga harmonis dan berusaha merebut peran ibu di dalamnya, seperti yang ia lakukan pada keluarga Prill.

Sumpaaah, menurutku, back story-nya heartbreaking banget. Terlepas dari sosok robotnya yang mengerikan, tapi Cassandra ini dulunya istri sekaligus ibu yang baik banget. Bayangin aja, suaminya selingkuh, tapi dia memilih memendam rasa sakit hatinya sendirian. Dia tetap melayani suaminya dengan baik. Ketika ajalnya di depan mata pun, Cassandra masih terbersit ide gila untuk hidup abadi dengan menjadi robot, demi bisa membersamai anak-anaknya. Dia sadar, Peter dan Margarethe masih membutuhkannya, karena Horst nggak mencintai mereka. Sebaliknya, Horst ini jahat dan manipulatif banget. Bukan cuma karena dia selingkuh, tapi dia bahkan sama sekali nggak minta maaf atas kecerobohannya yang membuat istrinya sakit dan putrinya cacat seumur hidup.

Tapi robot Cassandra dalam serial ini tuh overpower banget menurutku. Di serial ini dijelaskan bahwa Cassandra cuma bisa mati atas keinginannya sendiri, jadi dia tuh kayak nggak bisa dikalahkan dengan cara apapun, kecuali adanya pemadaman listrik kota. Dalam sebuah adegan, David memukul bagian kepalanya dengan kursi, tapi itu cuma bikin dia 'teler' sejenak. Kenapa nggak matiin aja pusat kelistrikan di rumahnya? Well, di serial itu juga diceritakan kalo di basement rumah itu tuh ada alat pengontrol dan tuas besar yang berfungsi mematikan robot Cassandra, tapi ternyata tuas itu tuh sejak awal dibuat palsu, dalam artian nggak berfungsi apa-apa. Sementara David, Fynn, dan Samira juga nggak berani ngutak-atik alat pengontrol, karena mungkin takut robotnya makin menggila.

Asli, aku gemas banget pingin bisikin David, Fynn, dan Samira : Coba itu robot Cassandra cemplungin aja ke kolam renang, biar konslet. Siram sekalian alat pengontrol yang ada di basement, juga layar-layar yang nampilin muka Cassandra. Habis itu tembakin semua itu pakai pistol yang ada di kotak senjata di bawah ranjang David dan Samira, biar lebih puas. Kelar urusan! Iya nggak sih? Gimana menurutmu?

Sabtu, 08 Maret 2025 0 komentar

BUKU : SURAU by Mystic Waves. Kepada Siapa Kamu Menyembah?

Another book by Mystic Waves alias mwv.mystic, yang singkatnya kita sebut MWV aja lah yaa. Dari empat buku karya mereka, ini buku ketiga mereka yang kupunya. Lucunya, aku sempat berpikir bahwa ini benar-benar buku ketiga mereka. Wkwkwk. Asli, malu banget waktu adminnya ngepost foto buku terbarunya ini di Instastory akun pribadinya dengan caption "anak keempat" gitu, aku komen, "Satunya apaan?", dan malah tadinya aku pikir anak satunya itu anak beneran a.k.a his daughter (ngaco banget, Ya Allah, untung nggak disebut di komen). Wkwkwk. Aku lupa kalo aku nge-skip buku ketiga mereka yang berjudul Jaga Mayit. Well, the story is good tho', as always. Hanya aja kupikir, untuk Jaga Mayit ini, baca versi feed pun cukup buatku.

Nah, berbeda dengan dua buku sebelumnya yang pernah kuulas di blog ini (Mereka Ada Vol. 1 dan Mereka Ada Vol. 2) yang memuat kisah-kisah dari narasumber sekaligus pengikut MWV, cerita Surau berasal dari urband legend yang beredar di sebuah daerah di Sumatera Barat tentang adanya sebuah surau yang dijadikan lokasi gantung diri. Dalam sebuah live streaming bersama Penerbit Moka di Instagram, Admin AGP menjelaskan bahwa penutur kisah ini adalah ibunya sendiri, yang mengalami langsung masa ketika peristiwa tersebut terjadi. Cerita yang disampaikan sang ibu kemudian dikembangkannya menjadi sebuah novel yang sarat dengan pesan-pesan mendalam dan 'bumbu' horor khas MWV.

MWV mulai memposting Surau di akun Instagramnya pada akhir bulan September 2023 dan selesai pada awal Desember 2023. Mungkin karena melihat banyaknya respon positif dari para pembaca, plus dukungan atas ide untuk menerbitkan kisah Surau versi cetak yang disampaikan lewat Instagram Channel-nya, akhirnya Admin AGP memutuskan untuk mencetak novel fisiknya.

Pre-order dibuka pada tanggal 24 sampai dengan 28 Januari 2025. Aku memilih checkout di pre-order hari kedua alias tanggal 25, karena kupikir harganya bakal jadi lebih murah dengan adanya event payday sale, tapi ternyata sama aja. Wkwk. But, at least aku dapat diskon live sih. Lumayan kaget juga waktu kulihat tanggal estimasi pengirimannya jatuh di menjelang akhir bulan Maret. Tapi alhamdulillah, di tanggal 11 Februari, buku ini udah sampai ke tangan.

Ada tiga paket yang ditawarkan pada program pre-order ini : Paket Baruak, Paket Niko, dan Paket Marhan. Aku sendiri memilih Paket Niko dengan merchies berupa sebuah kalender, selembar fan-art, sebuah pouch, selembar stiker, dan sebuah kitab hitam (buat nyatet dosa ceunah). Tadinya kukira kitab hitam ini bakal mirip-mirip Death Note. Wkwk. Tapi ternyata lebih kayak buku notes kecil gitu. Aku suka banget pouch-nya. Di paket pre-order Mereka Ada Vol 2 yang kubeli dulu juga MWV ngasih merch berupa pouch sih. Tapi tipis dan kecil gitu, kupakai buat naruh charger dan earphones. Tapi pouch yang dikasih di pre-order Surau ini tebel banget dan ukurannya lumayan besar. Kurasa muat buat tempat mukena travel.

Alright, now let's dive into the book!



Niko dan Marhan adalah sepasang sahabat yang sama-sama menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren di Sumatera Barat. Mereka memiliki latar belakang dan kepribadian berbeda. Niko merupakan keturunan asli Minang. Pribadinya yang riang, penuh semangat, cuek, humoris, dan ceplas-ceplos membuatnya sangat easy-going. Sedangkan Marhan merupakan pelajar pindahan dari pulau Jawa. Berbanding terbalik dengan Niko, Marhan lebih pendiam, agak pemalu, dan emosional. Meskipun begitu, Marhan adalah pelajar yang berprestasi hingga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke Mesir.

Namun sebelum keberangkatannya ke Negeri Piramida, Marhan berkeinginan untuk menikah dengan pujaan hatinya yang merupakan salah satu santriwati di pondok pesantren yang sama, Salma. Oleh karena itu, di hari kelulusan, dengan 'didorong' Niko, Marhan menghadap ayah Salma dan mengungkapkan niat untuk meminang putrinya. Niat itu disambut baik oleh ayah Salma yang dikenal dengan nama Datuak Kayo itu. Pak Datuak pun meminta Marhan untuk datang ke rumahnya agar mereka bisa ngobrol lebih jauh.

Long story short, tiga hari kemudian setelah pertemuan di hari kelulusan itu, dengan ditemani Niko, Marhan menepati janjinya untuk menemui Datuak Kayo di rumahnya, di sebuah kampung bernama Limau Bareh. Berbekal segudang prestasi dan ilmu agama yang dimilikinya, Marhan merasa cukup percaya diri. Namun rupanya, dua hal tersebut belum cukup bisa meyakinkan ayahanda sang pujaan hati. Ada satu tantangan lagi yang harus dipenuhi Marhan untuk bisa meminang Salma, yakni meramaikan kembali surau Nurul Falah, rumah ibadah yang didirikan Datuak Kayo yang telah lama ditinggalkan jamaahnya. Mendengar hal itu, Marhan dan Niko tertegun. Rumah ibadah seharusnya menjadi pusat kehidupan, bukannya ditinggalkan dan dilupakan. Bersama Niko, Marhan pun menerima tantangan itu. 

Tapi, perjuangan mereka nggak semudah yang dibayangkan. Di tengah usaha Marhan dan Niko menghidupkan kembali nurani warga kampung Limau Bareh, berbagai kejadian aneh di luar nalar terjadi, mulai dari gangguan pocong, penampakan dan bayangan wanita yang gantung diri, serta gangguan-gangguan mistis lainnya, mengguncang hati dan keyakinan mereka. Niko yang semula termotivasi untuk mengajak anak-anak kampung belajar mengaji dan menuai pahala, mulai ragu untuk melanjutkan perjuangannya. Namun Marhan yang meyakini bahwa ini adalah tantangan terakhir untuk bisa mendapatkan restu Datuak Kayo, bersikukuh untuk tetap bertahan. Mampukah Marhan membuktikan dirinya di tengah misteri yang meliputi kampung Limau Bareh, atau justru terjebak dalam ambisi yang perlahan menggerogoti ketulusannya?

 ***

Well, seperti yang udah kusebutkan di awal, buku ini nggak hanya menawarkan kisah yang ngeri dan menegangkan, tapi juga banyak pesan-pesan positif yang bisa kita petik di dalamnya, khususnya buat kita-kita yang beragama Islam ya. Aku bener-bener menyayangkan salah satu tokoh agamis dalam kisah ini (yang nggak bisa aku sebutkan, karena bakal jadi spoiler). Selama hidupnya dia baik dan merupakan ahli ibadah, tapi gara-gara 'kepeleset' minta tolong dukun, akhir hidupnya jadi setragis itu. 

Buatku pribadi, kisah dalam buku ini membuatku merenung, bahwa betapa celakanya kita jika menempatkan rasa cinta terhadap manusia di atas rasa cinta kita terhadap Tuhan, dan bahwa kadar keimanan seseorang itu naik turun. Kadang seseorang bisa merasa dekat banget sama keyakinannya, tapi ada saat-saat tertentu di mana keraguan membuat iman itu goyah, dan Tuhan bisa dengan mudahnya hinakan seseorang agar kita sadar bahwa Tuhan itu nggak main-main dalam urusan keyakinan.

Daaaan.. sebagai pembaca cerita-cerita MWV sejak 2016, aku merasakan banget penulisan adminnya yang makin baik, mulai dari yang apa adanya sesuai penyampaian narasumber, sampai penulisan seperti sekarang yang begitu detail sampai terasa 'hidup', bahkan menyentuh hati pembaca. Beberapa waktu sebelum kisah Surau ini dipost di feed Instagram MWV, aku sempat melihat Admin AGP memposting sebuah buku berjudul Save The Cat! Write a Novel karya Jessica Brody di Instastory akun pribadinya. Lewat Instastory-nya itu dia mengungkapkan bahwa saat itu dia baru selesai baca buku itu.

FYI, buku Save The Cat! Write a Novel ini bukan novel ya, melainkan buku yang menjelaskan tentang gimana caranya menulis novel dengan baik dan menarik. Bukan soal gaya bahasa atau keindahan kata-kata, tapi lebih kepada gimana caranya membangun plot yang kuat dan menyusun narasi yang memikat. Nah, ternyata bener, Surau adalah cerita pertama yang dia tulis dengan menerapkan ilmu-ilmu yang dia ambil dari buku Save The Cat! Write a Novel ini. Boom banget sih, penerapannya sukses lho.

Tapi memang Gamang Ranah Minang—tulisan-tulisan karya MWV yang berlatar belakang di Minangkabau, Sumatera Barat—nggak ada yang gagal sih. Selain Surau, kisah yang paling aku suka adalah Kemarin Paman Pulang yang diangkat dari sebuah tragedi pembunuhan yang dilakukan seorang kakak terhadap adik kandungnya sendiri di Kabupaten Agam. Kalo nggak salah, Admin AGP pernah mengungkapkan bahwa pelaku dan korban ini masih ada hubungan keluarga dengan dia. Trus ada juga Palasik Mayik yang nggak hanya kuharapkan bakal jadi the next book after Surau, tapi juga berharap banget bisa difilmkan, karena jujur, bosen banget nggak sih lihat film-film horor Indonesia itu latar belakangnya dari Jawa melulu? 😔

Oke, back to the Surau yah. Menurutku di buku ini ada beberapa tulisan yang sedikit mengganjal buatku dan kayaknya perlu revisi deh.
  1. Di halaman 77-79, diceritakan Marhan sedang sholat tahajud dan memasuki rokaat kedua. Tapi di menjelang akhir bacaan Al Fatihah-nya, tiba-tiba dia denger suara kayak orang tercekik gitu di belakangnya. Karena suara itu terdengar beberapa kali, konsentrasi Marhan pun terpecah. Dia pun memutus sholatnya dan berbalik. Ketika itulah Marhan melihat sesosok penampakan yang bersuara kayak orang tercekik tadi. Tapi anehnya di halaman 79 ditulis, "Dalam posisi duduknya, ia menyaksikan sosok itu yang semakin tinggi dan melayang."
    Menurutku, bagian ini rancu, karena Marhan kan tadi sedang baca Al Fatihah ya, yang berarti dia tuh sedang dalam posisi berdiri. Kok tiba-tiba posisinya jadi duduk? Kecuali kalo sebelumnya diceritakan bahwa dia kaget sampai jatuh terduduk.
  2. "Niko yang sebelumnya diam, kini segera bergerak dan bacaan-bacaan Darwis agar tidak sampai melukai sahabatnya". (Hal. 99)
    Kalimat ini rasanya kurang bisa dipahami dan bahkan janggal menurutku. Kayaknya harusnya ditulis "... kini segera bergerak agar Darwis tidak sampai melukai sahabatnya" kali yaa.
  3. "Namun ternyata teror jin yang sudah tidak bisa ia tahan hingga membuat kepercayaan kecokelatan itu goyah". (Hal. 117)
    Kalimat ini juga janggal banget. Kata 'kecokelatan' itu kayaknya nggak seharusnya ada di situ.
Dan selain tulisan-tulisan yang janggal di atas, banyak juga kutipan-kutipan yang bagus banget buat dijadikan renungan.
  1. "Quran itu bisa sekadar sampai tenggorokan saja jika tidak ada akhlak yang baik dan keimanan yang kuat. Lama kelamaan ia akan terangkat, lalu tanpa kalian sadari, ketika ia tidak lagi kalian jaga, ia akan menghilang. Maka genggamlah dengan erat. Jaga dia hingga kita bertemu dengan maut yang sudah Allah janjikan". (Hal. 10)
  2. "Kecintaan manusia dengan manusia lainnya itu harus ada di bawah kecintaan manusia pada Allah, Bang... Kalau Abang cinta sama Allah, Allah akan selalu ada, Bang. Tapi kalau Abang cinta sama aku, aku nggak akan selalu ada. Ada waktunya nanti masing-masing orang selesai". (Hal. 252)
  3. "Ingin dipuji hanyalah satu cabang di antara cabang-cabang riya. Riya secara garis besar adalah menjadikan makhluk ciptaan Allah sebagai alasan kamu beribadah.... Maka dari itu Allah memberikan tempat yang begitu mulia bagi orang-orang yang ikhlas dalam beribadah atas dasar ketakwaan. Dan yakinlah, ikhlas dan riya ini sebenarnya hanya dibatasi oleh satu benang tipis yang sangat sulit dikira-kira oleh manusia.... Allah itu Maha Membolak Balikkan Hati seseorang. Tentu orang akan memberikan rasa ikhlas itu hadir bagi hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Namun bukan berarti kita hanya menunggu hidayah datang begitu saja, kita harus sadar akan apa yang kita lakukan, apakah sudah terjerumus ke riya atau masih berada di jalan yang lurus. Kalau kita sudah terjerumus, segera muhasabah diri dan kembali ke hakikatnya seorang hamba melakukan ibadah. Mohon ampun atas kesalahan kita, dan minta Allah kokohkan kita lagi dalam keikhlasan serta keistiqomahan." (Hal. 333-334)
  4. "Karena riya ini adalah seburuk-buruknya pencuri amal. Kalian punya ibadah apa saja, maka ia akan disapu bersih Allah begitu saja". (Hal. 334)
  5. "Allah ciptakan kematian dan perpisahan agar hamba-Nya hanya boleh berharap pada-Nya. Satu-satunya Dzat yang kekal dan selalu ada. Bukan pada makhluk yang akan mati dan binasa. Allah ancamkan orang-orang dengan neraka agar seseorang tidak bertindak sewenang-wenang selama hidupnya. Namun ini bukan bentuk Allah menyengsarakan manusia, karena Allah juga memberikan janji akan mengampuni seluruh dosa orang-orang yang bertaubat tanpa terkecuali dengan sifat Maha Pemurah dan Maha Penyayang yang Dia miliki. Allah memberikan kita rasa takut, agar kita berharap dan menggantungkan diri hanya kepada diri-Nya, yang menciptakan rasa takut itu sendiri". (Hal. 347)
That's all, Guys. Menurutku sih worth reading banget yah. Buat yang penasaran dengan cerita lengkap perjuangan Marhan dan Niko, langsung aja simak ceritanya di Instagram @mwv.mystic kalo kamu kaum mendang-mending dan suka bacaan gratis, KaryaKarsa kalo kamu males scroll Instagram, atau bisa juga langsung checkout bukunya di sini.
Rabu, 26 Februari 2025 0 komentar

SQUID GAME SEASON 2 : Mau Jadi Pahlawan, Tapi Kurang Perhitungan

Just watching Squid Game S2!!
Well, empat tahun lalu, pasca nonton Season 1-nya, aku nungguin banget season berikutnya. Tapi meskipun Season 2 udah rilis sejak 2024 lalu, nyatanya baru tanggal 22 kemarin aku bisa langganan Netflix lagi dan nonton ini. Wkwk.

Sooo, Squid Game Season 2 ini rupanya mematahkan tebakanku yang mengira bahwa Seong Gi-hun yang memenangkan permainan di Squid Game Season 1 akan menjadi the next frontman seperti halnya Haymitch di Hunger Games, karena nyatanya Gi-hun justru mengalami trauma mendalam pasca berakhirnya permainan mematikan itu. Meski hidup bergelimang duit di hotel miliknya yang nyaman, tapi Gi-hun nggak bisa melanjutkan hidup dengan tenang karena rasa bersalah dan ketakutan yang terus menghantuinya. Dan alih-alih berangkat ke Amerika buat menemui putrinya, dia malah membatalkannya, dan memilih untuk memburu orang-orang di balik Squid Game. Dia ingin mengakhiri permainan mengerikan itu biar nggak ada lagi korban lainnya.

Gimana Gi-hun memburu orang-orang di balik Squid Game ini? Jadi pertama-tama, dia melacak jejak si sales Squid Game, atau apa sih kita nyebutnya? Perekrut misterius kali ya. Itu lho, pria berjas yang pertama kali mengajak Gi-hun buat taruhan main ddakji. Dengan kekayaan yang dimilikinya, Gi-hun membayar orang-orang yang bersedia untuk mencari si perekrut misterius itu. Dari pencarian itu, Gi-hun terpaksa harus menelan kenyataan pahit bahwa Squid Game akan kembali digelar dengan 456 peserta baru.

Oh ya, ingat kan sama detektif muda yang ditembak kakaknya di pulau misterius? Di Season 1, aku kira dia mati, tapi rupanya dia masih hidup dan diselamatkan oleh seorang pelaut. Hwang Jun-ho nama detektif ini. Kepergiannya ke pulau misterius itu bukan tanpa alasan, melainkan ingin mencari kakaknya, Hwang In-ho, yang ternyata menjadi the next frontman, menggantikan almarhum Oh Il-nam. 

Nah, di Season 2 ini, Gi-hun dan Jun-ho bekerjasama. Gi-hun memutuskan untuk terlibat kembali dalam permainan itu. Misinya bukan lagi ingin mendapatkan hadiah, tapi ingin 'menghancurkan' permainan itu dan orang-orang yang menjadi dalang di baliknya. Ia pun kembali membayar orang-orang, khususnya yang memiliki latar belakang militer untuk menjadi tim suksesnya. Ia bahkan memberi kebebasan pada orang-orang ini untuk berlatih senjata di hotel miliknya. Jadi di hotel ini, Gi-hun menyediakan sebuah space rahasia yang diperuntukkan buat menaruh dan berlatih senjata api gitu.

Menjelang hari keberangkatan Gi-hun menuju pulau misterius—tempat di mana Squid Game kembali diadakan—Gi-hun memasang GPS di balik gigi gerahamnya, biar Jun-ho CS bisa mengikutinya saat ia dibawa oleh prajurit Squid Game, dan mereka bakal gerebek semua orang di balik Squid Game. Apes, salah satu dari tim sukses Gi-hun ternyata adalah pengkhianat. Jun-ho CS kehilangan jejak Gi-hun, dan Gi-hun terpaksa harus kembali bertaruh hidup dan mati dalam permainan.

Karena Gi-hun ini adalah 'alumni' Squid Game, jadilah dia kayak 'leader' bagi para peserta. Dia banyak bikin strategi dan ngasih bocoran gitu ke peserta-peserta yang lain, walaupun kadang bocoran yang dia kasih itu meleset dan bikin peserta lain jadi kurang percaya lagi sama dia. Jujur, aku awalnya dukung dia, like, wajar lah dia kayak gitu, karena dia kan nggak pingin Squid Game memakan banyak korban lagi kayak dulu. Tapi, menjelang akhir film, aku akhirnya denial sama strategi terakhirnya Gi-hun yang mencetuskan pemberontakan. I was like, "Gila, kau, Gi-hun. Memangnya kau pikir pasukan kau sebanyak apaaaa? Yakin bisa melumpuhkan orang-orang Squid Game yang prajuritnya aja banyak banget dan terlatih?"

Aku juga menyayangkan peran Jun-ho di sini yang kayak nggak membantu sama sekali, padahal aku yakin penonton lain juga berharap banyak sama dia. Dia kan udah tau nih, bahwa kakaknya terlibat dalam Squid Game. Andai dia kasih tunjuk foto kakaknya ke Gi-hun dari awal, Gi-hun mungkin bakal lebih aware dan nggak akan dicurangi peserta 001 buat yang kedua kalinya.

Selain itu, jujur, Squid Game S2 ini kinda boring menurutku. Kebanyakan dan kelamaan di adegan voting. Aku juga kecewa banget sama akhir ceritanya yang menggantung. Makanya aku berharap banget Gi-hun dan Jun-ho—dua orang yang jadi center tapi malah jadi useless di Squid Game S2—ini bakal bikin gebrakan yang boom gitu di S3-nya.

Sebaliknya, tokoh banci yang jadi salah satu peserta Squid Game dan awalnya kuanggap nggak penting malah ended up being my favorite character di sini. Awalnya aku pikir dia cuma 'bumbu' biar filmnya lucu dan nggak boring, kayak tokoh-tokoh banci pada umumnya : konyol, pengecut, heboh sendiri. But I was wrong. Ternyata dia keren banget cuuuuyyy, nggak bodoh dan sekedar pelengkap kayak yang kupikir. Dia ngajarin kawan-kawannya cara menggunakan senjata. Dan menjelang akhir film, haiiissshh.. dia badass banget, gilaaa.. Dengan gagah berani, dia maju ke medan perang meski hanya sendirian, dan dengan peluru yang tersisa sedikit. He acts so damn manly, bahkan lebih manly daripada peserta lain yang manly dari look doang. Aku berharap banget dia survive untuk bikin cerita di season berikutnya makin epic.



Kamis, 20 Februari 2025 0 komentar

Euforia konser Green Day dan Linkin Park minggu lalu masih kerasa yah. Meskipun setiap tahun aku selalu jadi bagian yang cengar-cengir doang nontonin postingan orang-orang dan menikmati performance musisi idola lewat fancam, tapi rasanya ikut merinding, nggak tau kenapa. Kebayang, kalo sampai bisa nonton langsung, kayaknya aku nangis deh. Wkwk. Jujur, meskipun udah jadi emak-emak anak satu, tapi aku masih sering ngiri kalo lihat orang-orang pada nonton konser, tapi juga antusias nontonin story mereka di sosmed.

BTW, di antara video-video fancam yang berseliweran di internet, ada satu video viral yang rasanya gemas juga mau kukomentari, yakni video di mana seorang mbak-mbak diajak naik ke atas stage oleh Billie Joe saat Green Day membawakan lagu Know Your Enemy. Well, I'm not sure how old she is. Maybe 30's, or 40's? Some ppl call her 'emak-emak', but let's just go with 'mbak-mbak' since we're not sure berapa usianya dan apakah beliau ini udah nikah atau belum. Kamu pasti tau lah ya, video mana yang kumaksud.

Di video itu terlihat si Mbak hanya menyanyikan bagian 'owe, owe' aja, sisanya beliau tampak histeris dengan keberuntungannya malam itu. Video itu sukses menuai banyak komentar negatif dari netizen, khususnya para penggemar Green Day. Mereka menyayangkan si Mbak yang nggak memanfaatkan momen itu dengan sebaik-baiknya dengan menyanyikan part lagu itu dengan benar (even di bagian 'gimme gimme revolution' yang jadi the best part of this song). Beberapa menganggap Mbak itu nggak hafal lirik, bahkan ada juga yang menilainya cuma fomo and she didn't deserve it. 

Jujur, memang kelihatannya gemesin banget yaa, apalagi buat kita-kira yang ngarep banget berada deket sama idola. Let's say that we're just simply jealous at her. Tapi kalo aku sih nggak mau ikut berkomentar aneh-aneh tentang Mbak itu, karena aku yakiiiin banget kalo aku ada di posisi beliau, aku juga pasti bakal mengalami hal yang sama, karena NERVOUS COYY!! Meskipun hafal lirik di luar kepala, tapi kalo udah di atas panggung bareng idola dengan ditatap ribuan pasang mata, ya starstruck, nge-blank juga. Dan kayaknya terlalu jahat juga nggak sih, kalo sesimple itu ngatain si Mbak fomo, sedangkan kita nggak tau bahwa mungkin aja dia ngefans sama Green Day lebih lama dari yang ngatain, ya kan?

Daaan, ngelihat Mbak itu juga membuatku sedikit terhibur dan yakin bahwa, gapapa di early 30's ini belum kesampaian nonton band-band idola. Siapa tau beberapa tahun ke depan nanti ada kesempatan. Kalo bukan di 30's, mungkin nanti di 40's, atau bahkan 50's. Jujur, kemarin-kemarin juga aku amaze banget baca-baca cerita mereka yang nonton konser bareng emak-bapaknya yang ngefans sama Linkin Park di masa muda, dan di konser kemarin itu mereka sing along dan jingkrak-jingkrak bareng sekeluarga. So I think, it's never too late tho'. Walaupun yah, ketika usiaku udah 40's atau 50's nanti kayaknya udah nggak mungkin lagi buat bisa nonton konser musisi-musisi senior kayak My Chemical Romance, Green Day, Linkin Park, Avril Lavigne, Muse, dan L'Arc en Ciel, mengingat usia mereka yang udah nggak muda lagi, tapi untuk nonton Paramore, Asking Alexandria, Bring Me The Horizon, dan One Ok Rock rasanya masih mungkin dilakukan (khususnya One Ok Rock sih, ya Allah. Aku pingin banget nonton mereka secara langsung, at least sekali seumur hidup). Semoga ada kesempatan :')

Rabu, 13 November 2024 0 komentar

The Winner Gathering

Fiuuhh.. after all those tiring and stressful days, it's finally done dan buahnya manis. Sejak awal bulan November, aku dan rekan-rekan yang ditunjuk sebagai panitia disibukkan dengan segala persiapan The Winner Gathering, yakni acara hajatan kantor dalam rangka merayakan hari jadi perusahaan yang ke 13 tahun. Pada perayaan hari jadi perusahaan kali ini, kami menginap di Kebun Raya Kuningan dengan menyewa sepuluh cottage atau pondok yang ada di sana. Bagiku pribadi, ini bukan pengalaman yang pertama kalinya, karena aku pernah mengunjungi tempat itu dan menginap di sana pada tahun 2018 silam. Aku pernah menuliskan pengalamanku itu di postinganku yang ini : Independence Day Celebration di Bumi Kuningan. Waktu itu aku menginap di sana bersama dua tim penjualan yang pada waktu itu memiliki pencapaian penjualan tertinggi selama beberapa bulan berturut-turut, dan rasanya cukup berkesan. Apalagi sempat ada pengalaman mistis juga. Wkwkwk. Yah, mungkin karena waktu itu peserta yang ikut hanya sedikit dan pondok yang disewa hanya satu dari sepuluh, jadi suasananya terasa mencekam. Kali ini peserta yang ikut lebih banyak, jadi agaknya nggak akan semencekam dulu.

Harusnya sih happy ya, tapi beberapa hari menjelang acara, aku merasa benar-benar stres. Disuruh ini, disuruh itu, kerjaan satu belum selesai, udah ditambah lagi. 9 jam kerja rasanya belum cukup untuk menyelesaikan semuanya. Yang paling stressful buatku adalah mengerjakan segala hal yang berkaitan dengan Kupon Prestasi.

FYI, Kupon Prestasi adalah kupon-kupon yang karyawan peroleh setiap bulannya mulai dari Januari 2024. Kupon Prestasi ini terdiri dari tiga jenis, yakni Kupon Hijau, Kupon Kuning, dan Kupon Merah. Jumlah kupon yang diperoleh tergantung pada kinerja setiap karyawan. Karyawan yang memiliki kinerja sangat baik tentunya akan mengumpulkan banyak Kupon Hijau. Yang memiliki kinerja cukup baik akan mengumpulkan banyak Kupon Kuning. Yang memiliki kinerja biasa-biasa aja akan mengumpulkan banyak Kupon Merah. Sedangkan yang kinerjanya buruk tentunya nggak akan mendapatkan kupon apapun. Tapiii, kupon-kupon ini juga bisa dikonversi dengan syarat tertentu. Misalnya jika ingin mengkonversi Kupon Merah ke satu Kupon Kuning, maka Kupon Merah yang harus dikonversi adalah sebanyak 7 kupon. Jika ingin mengkonversi Kupon Kuning ke satu Kupon Hijau, maka Kupon Kuning yang harus dikonversi adalah sebanyak 10 kupon. Jika ingin mengkonversi Kupon Merah ke satu Kupon Hijau, maka Kupon Merah yang harus dikonversi adalah sebanyak 17 Kupon. Kupon-kupon ini nantinya akan menentukan hadiah apa yang akan didapatkan oleh si empunya. Aku pribadi berhasil mengumpulkan 26 Kupon Hijau, 98 Kupon Kuning, dan 81 Kupon Merah. Oh ya, aturan pengundian hadiah kuponnya adalah : peserta hanya berhak salah satu hadiah dari Kupon Merah atau Kupon Kuning, tapi masih berhak mendapatkan hadiah dari Kupon Hijau. Karena nggak mau mendapatkan hadiah dari Kupon Merah (karena cuma berupa souvenir-souvenir kecil), aku mengkonversi semua Kupon Merah-ku dan beberapa Kupon Kuning, sehingga akhirnya aku memiliki 30 Kupon Hijau dan 69 Kupon Kuning.

Apakah puyengnya cuma sampai di situ? Enggak. Bagian yang paling menyebalkan adalah ketika aku harus mengeprint kupon-kupon yang jumlahnya ribuan itu. Well, dari 70 orang karyawan, total kupon yang terkumpul adalah 9500-an kupon. Kupon Hijau sih mending, nggak perlu diprint karena kebetulan kantorku udah punya. Tapi Kupon Kuning dan Merah yang jumlahnya 7900 kupon tetap harus diprint, dan itu membutuhkan sekitar 200 lembar kertas. Nah masalahnya, printer di kantorku ini nggak ada yang performanya benar-benar baik, apalagi mampu ngeprint banyak sekaligus. Alhasil aku harus ngeprint nyicil di beda-beda printer. Kalo ngeprintnya lancar sih nggak masalah. Ada kalanya aku harus menghadapi problem kertas nyangkut berkali-kali karena kertas yang dipergunakan untuk ngeprint kupon ini terlalu tipis, dan komentar rekan-rekan yang aku pake printernya. Kadang juga tintanya nggak keluar meskipun udah dicleaning berkali-kali. Belum lagi aku juga tetap harus mengerjakan tugas-tugas rutinku. Kesel banget rasanya ketika kerja dituntut untuk sat-set, diri sendiri udah sat-set, tapi fasilitas kerja nggak bisa diajak sat-set. Menguras waktu, tenaga, dan emosi banget pokoknya.

Di malam sebelum hari keberangkatan, aku juga sempat menangis karena nggak tega meninggalkan Fathian. Ini kali pertamanya dia kutinggal menginap. Malam itu dia sedang agak pilek. Sebenarnya aku masih pingin berlama-lama main sama dia, dan dia pun juga masih semangat main. Tapi aku nggak tega melihat dia terus-terusan menggosok hidung karena nggak nyaman dengan hidungnya yang meler, jadi kusuruh ia untuk istirahat. Seperti biasa, aku meninabobokannya dengan video Youtube yang menampilkan bulan purnama dengan latar musik instrumen piano yang mengalun lembut. Dia berbaring tengkurap di atasku, sementara kedua lenganku memeluknya. Aku bisa mendengar dan merasakan ia menghirup ingusnya berkali-kali. Sedih banget rasanya ketika aku diharuskan pergi, sementara kondisi Fathian sedang kayak gitu. Setelah dia pulas, aku pun membaringkannya ke kasur. Tiba-tiba aku jadi mellow dan mulai menangis. Awalnya cuma netes air mata doang, tapi lama kelamaan malah jadi nangis beneran. Mas yang baru aja pulang manggung terheran-heran melihatku nangis dan bertanya kenapa. Sambil terisak, kubilang, "Aku nggak mau pergi, Mas. Aku pingin sama Fathian". Yah, andai aku cuma peserta biasa dan bukan salah satu panitia inti, pingin rasanya aku absen :')

***

Akhirnya, tibalah hari keberangkatan. Senin 11 November. Aku bersyukur kondisi Fathian udah lebih baik, sehingga aku bisa lebih tenang meninggalkannya. Aku tiba di kantor pukul delapan pagi dengan menggendong ransel besar berisi pakaian dan menenteng tote bag berisi snack, sepatu heels, mukena, dan kado yang sudah kubungkus rapi dengan kertas coklat karena di sana nantinya kami akan melaksanakan acara tukar kado yang masing-masing harus senilai dua puluh ribu rupiah. Di kantor, aku mempersiapkan beberapa hal yang kurang, termasuk mengetes ulang presentasi Power Point yang udah kubuat hari Sabtu lalu, juga berlatih yel-yel. Tim HRD bersatu dengan Tim Gudang. Ketika tim-tim lain udah berlatih keras sejak hari Sabtu, kami berlatih sangat mendadak dan singkat. Mungkin cuma sepuluh sampai lima belas menitan.

Pukul sembilan pagi, aku dan rekan-rekan berkumpul di halaman kantor. Beberapa orang udah masuk kendaraan masing-masing. Aku pribadi dijadwalkan berangkat naik mobil Mas Febri bersama Pak Imam, Bu Hani, dan Bu Isma. Karena berangkat paling akhir, kami memiliki sedikit waktu untuk berfoto bersama dulu di halaman kantor.

Pukul sembilan lebih sebelas menit, kami pun mulai berangkat. Jalan yang kami lalui masih sama seperti dulu. Hanya aja, perjalanan kali ini nggak seseram dulu. Dulu kan kami berangkat waktu Magrib, nggak ada penerangan selain dari lampu kendaraan. Dulu juga aku nggak paham kenapa Mas Darman (rekan yang memboncengku dulu) sering-sering membunyikan klakson motornya sepanjang perjalanan, tapi kini aku paham alasannya, karena Mas Febri juga melakukan hal yang sama. Hal itu dilakukan, yakni untuk memberi tanda pada kendaraan yang mungkin aja melaju dari arah berlawanan, mengingat jalan yang kami lalui itu kecil dan berkelok-kelok dengan diapit hutan dan jurang, kalo nggak membunyikan klakson, kendaraan dari arah berlawanan nggak akan tau kalo ada kendaraan kami melaju ke arahnya.


Singkat cerita, sekitar jam setengah sebelas, kami tiba di gerbang Kebun Raya Kuningan. Kunyalakan layar hapeku untuk melihat jam, tapi aku malah salfok pada sinyal kedua SIM cardku yang menunjukkan tanda silang. Aneh banget, padahal kemarin udah bela-belain beli SIM card baru dari provider yang katanya punya sinyal paling kuat 😭

Gerbang Kebun Raya Kuningan.

Turun di depan gedung aula.

Aku satu pondok dengan Bu Hani, Mbak Tika, Bu Mila, Mbak Ana, dan Bu Yeyen di pondok nomor enam. FYI, Bu Mila dan Bu Yeyen adalah dua rekan kami yang paling nyocot dan punya kebiasaan latah dengan kata-kata kotor. Sejak jauh-jauh hari, aku dan Bu Hani udah mengingatkan Bu Mila untuk mengurangi kebiasaannya ini, mengingat Kebun Raya Kuningan ini adalah tempat yang terpencil dan dikelilingi hutan. Tapi yah, dasarnya latah ini udah jadi kebiasaan dan penyakit, jadi ya susah. Baru sampai pondok, udah keluar aja kebun binatang dan alat kelamin dari mulut mereka. Itu minusnya. Plusnya, ya pondok kami jadi salah satu pondok yang paling rame. Dan karena aku sefrekuensi dengan beberapa orang yang ada di pondok enam, jadi selama di pondok juga aku nggak banyak diam. Pondok yang kutempati memiliki dua bedset dan tiga extra-bed, lengkap dengan bantal dan selimut. Dua bedset ditempati oleh Bu Hani dan Mbak Tika, sementara tiga extra-bed ditempati oleh aku, Bu Mila, Mbak Ana, dan Bu Yeyen. Karena extra-bednya cuma tiga, jadi kasurnya digeser dan dirapatkan biar muat untuk empat orang. Hehehe. Sayangnya pintu kamar mandi di pondok kami nggak bisa dikunci, dan nggak ada hanger untuk menggantung handuk dan pakaian saat mandi.



View di luar pondok.

Setelah beristirahat sejenak dan mempersiapkan yel-yel per tim kamar (iya, selain mempersiapkan yel-yel perdivisi, kami juga harus mempersiapkan yel-yel per tim kamar), aku diminta Pak Imam ke gedung aula untuk mempersiapkan laptopku karena acara ceremonial The Winner Gathering akan segera dimulai. Sementara aku dan Viona mempersiapkan laptop, rekan-rekan yang lain berkumpul untuk makan siang. Aku dan Viona makan belakangan. Cuaca mendung saat itu. Benar aja, belum sempat aku dan Viona kembali ke pondok untuk mandi dan berganti pakaian, hujan turun cukup deras. Kami sempat menunggu beberapa saat sampai hujan agak reda, tapi sayangnya hujan nggak kunjung reda juga. Akhirnya karena satu persatu rekan-rekan kami dan atasan kami pun udah kembali lagi ke aula dengan seragam rapi, aku dan Viona pun memutuskan untuk menembus hujan. Syukurlah, ada spanduk acara yang masih terlipat di atas bangku di sudut ruangan. Kami berdua pun berlari-lari kecil ke pondok kami dengan membawa spanduk itu di atas kepala agar pakaian kami nggak basah. Viona 'mengantarku' lebih dulu, kebetulan pondok kami bersebelahan. Sebelum pergi ke pondoknya, kami janjian pergi bareng ke gedung aula setelah berganti pakaian. Karena waktu udah mepet dan semua rekanku udah berseragam rapi, aku nggak sempat mandi. Biarlah nanti mandi setelah selesai acara, begitu pikirku. Setelah siap, aku menjemput Viona dan membawa kembali spanduk yang tadi kami bawa. Untungnya saat itu hujan udah reda, jadi spanduk itu kami lipat aja.

Sekitar jam dua siang, acara ceremonial pun dimulai dengan pembacaan doa, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars perusahaan bersama-sama. Setelah itu, kami pun mempersiapkan zoom meeting dengan kantor cabang Tasikmalaya yang juga tengah melaksanakan ceremonial di sana. Jujur, bagian ini cukup membuang waktu dan emosi juga sih. Seperti yang udah kusampaikan sebelumnya, kondisi sinyal di sana sangat sangat buruk. Nggak ada satupun provider milik kami yang bisa mengkoneksikan laptopku ke Zoom. Satu-satunya yang bisa diandalkan adalah kuota pribadi milik Viona, itu pun benar-benar harus ekstra sabar. Yang membuat kesal adalah, ketika aku dan Viona tengah mengusahakan zoom meeting itu terlaksana, beberapa orang tampak nggak sabaran dan berkomentar seolah-olah kami berdua gaptek dan nggak paham gimana caranya.

Persiapan zoom meeting.

Akhirnya setelah lebih dari setengah jam berkutat dengan koneksi internet, zoom meeting dengan kantor cabang Tasik pun terlaksana juga. Kami berdiri di sekeliling kue ulang tahun dengan lilin berangka 13 yang telah dinyalakan. Sementara para karyawan kantor cabang Tasik berdiri di sekeliling nasi tumpeng. Kami bersama-sama sing along lagu Selamat Ulang Tahun milik Jamrud dengan iringan musik MP3. Setelah dua kali menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun bersama-sama, kue ultah dan nasi tumpeng pun dipotong lalu dibagi-bagikan kepada para keyperson.

Sing along lagu Selamat Ulang Tahun.

Setelah acara pemotongan kue ulang tahun dan nasi tumpeng, zoom meeting pun berakhir. Aku lupa setelah itu ada sesi apa, tapi yang kuingat, nggak lama setelah itu aku dan rekan-rekan dari Mustunable dipanggil untuk perform mempersembahkan beberapa lagu. Lagu pertama yang kami mainkan adalah lagu Kaulah Segalanya yang dipopulerkan oleh Ruth Sahanaya namun dimainkan dengan versi kami. Jujur, empat tahun vakum dari Mustunable membuat rasa nervousku tumbuh berkali-kali lipat. Udah gitu soundnya nggak enak banget. Suaraku yang pas-pasan ditambah nervous jadi makin nggak karuan :') Selanjutnya, kami membawakan lagu Tua Tua Keladi. Lagu yang selalu direquest Pak Dadang (salah satu sales senior MPS) ini sukses membuat suasana lebih ramai dan ceria. Lucunya, Pak Dadang merecord performance kami satu persatu persis di depan wajah dengan lampu flash yang menyala. Silau, Bos! 😭 Melihat audience yang tampak semangat, selanjutnya kami pun membawakan lagu Rungkad. Lagu ini disambut antusias oleh audience yang sebagian besar adalah para dangdut lovers. Wkwk. Kali ini aku meminta siapapun untuk menemaniku berduet di atas panggung. Tapi karena nggak ada yang berani, akhirnya kupanggil Bu Atikah untuk maju. Aku pernah melihatnya bernyanyi dengan baik dan percaya diri di panggung hajatan rekan kami, jadi ini tentunya bukan hal baru baginya. Oh ya, dari tiga persembahan lagu itu, kami dapat saweran dari rekan-rekan. Yaa lumayan lah, walaupun nyawernya cuma pake duit dua ribuan. Wkwkwkwk.


Waktu itu hujan kembali turun dengan deras hingga lingkungan di luar aula tampak berkabut, mengingatkanku pada suasana Lembang di waktu pagi. Dari gedung itu, kami juga bisa melihat kilatan petir di langit dan guntur menggelegar berkali-kali. Namun alhamdulillah acara bisa tetap berjalan. Setelah menyumbang lagu, kami kembali ke tempat masing-masing untuk menyimak Bapak Direktur kami, Pak Yosep, menyampaikan visi dan misi perusahaan untuk beberapa tahun mendatang. Lalu setelah itu, acara ceremony pun selesai. Kami pun memanjatkan doa penutup, kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama, lalu kembali ke pondok masing-masing untuk makan dan istirahat sebelum lanjut ke acara berikutnya.


Waktu itu sekitar jam lima sore. Aku melakukan panggilan video ke nomor WhatsApp Mas. Aku pingin banget nengok Fathian. Tapi sayang, baru beberapa detik, koneksi internetnya macet. Aneh banget, padahal sinyal pada provider yang kupakai menunjukkan beberapa bar. Alhasil aku cuma bisa chat-an doang sama Mas tanpa bisa ngobrol sama Fathian :')

Setelah istirahat, makan, dan sholat Magrib, Pak Imam udah berkeliling untuk memanggil seluruh peserta gathering untuk kembali ke gedung aula karena acara lanjutan akan segera dimulai. Waktu itu hari udah gelap. Aku, Bu Hani, dan Mbak Tika jadi yang paling akhir ke luar pondok. Kondisi di luar benar-benar gelap gulita karena di area pondok sama sekali nggak ada penerangan, bahkan lampu teras pun nggak ada. Akhirnya Bu Hani pun menyalakan senter di hapenya untuk menerangi jalan kami menuju gedung aula yang letaknya beberapa ratus meter dari pondok kami. Karena memegang senter, Bu Hani berjalan selangkah di depan aku dan Mbak Tika. Namun beberapa saat setelah menuruni tangga teras, Mbak Tika yang semula berjalan di sebelahku tiba-tiba menyusul Bu Hani di depan. Mereka tampak berjalan lebih cepat sambil berbisik-bisik berdua. Aku nggak bertanya saat itu juga, tapi aku menduga sepertinya mereka melihat atau menyadari sesuatu yang 'aneh' yang nggak aku sadari. 

Setelah semua peserta kembali berkumpul di gedung aula, acara lanjutan pun dimulai. Acara dibuka dengan persembahan yel-yel perdivisi. Yel-yel paling ramai adalah yel-yel milik Akunting + Admin AR alias timnya Bu Hani dan Bu Mila CS, karena selain meneriakkan yel-yel dengan suara mereka yang memang menggelegar dari lahir itu, mereka juga mempersembahkan sebuah pantun yang menyindir karyawan yang sering kasbon tapi susah capai target. Wkwk. Tim HRD + Gudang tampil paling akhir. Ketika aku maju bersama timku, Bu Mila dan Bu Hani berteriak protes karena menurut mereka, harusnya aku bergabung dengan tim mereka. Maklum, aku satu-satunya perempuan dalam Tim HRD + Gudang ini. Ditambah perawakanku juga paling kecil, berbeda jauh dengan rekan-rekanku yang berbadan besar-besar. Tim kami berjumlah sebelas orang. Aku bingung juga menjabarkan yel-yel kami ini gimana. Jadi masing-masing kami memiliki peran : Order, Survey, Faktur, Gudang, Delivery, Collection, Service, Admin, Tunggakan, satunya lagi aku lupa. Wkwk. Kami membuat dua barisan dengan Pak Teguh sebagai komandan pasukan. Ketika beliau berseru "Ambil posisi!", maka kami langsung berposisi seakan-akan sedang duduk di atas motor. Selanjutnya, beliau akan berseru "Nyalakan!", dan kami pun berpura-pura menstarter motor. Ketika beliau berseru, "Tariiikk!", kami akan bersama-sama berjalan sambil meneriakkan "Order-kirim, order kirim". Namun salah satu anggota kami yang berperan sebagai Tunggakan tertinggal. Ia gagal menstarter motornya. Komandan pun memerintahkan kami untuk berhenti, kemudian berseru pada anggota yang tertinggal itu, "Tunggakan, kenapa?!". Lalu Tunggakan menjawab, "Maaaceeeettt!". Meski lebih tampak seperti lawakan, tapi dari yel-yel kami ini, pesan yang ingin kami sampaikan adalah bahwa semua tim harus bergerak maju bersama, jangan sampai ada yang tertinggal. Tanpa disangka, meski latihannya kurang dari dua puluh menit, yel-yel kami dinobatkan sebagai pemenang oleh juri. Wkwkwk.

Yel-yel Tim HRD + Gudang.
Aku di pojok paling belakang, nggak kelihatan.

Kali ini adalah acara yang paling ditunggu-tunggu, yakni pengundian hadiah Kupon Prestasi dan pengumuman karyawan terbaik periode September-Oktober, diseling dengan performance beberapa karyawan yang ingin membawakan lagu.

Acara ini berlangsung dengan waktu sangat panjang. Maklum, hadiah yang diundi lebih dari seratus buah, jadi bisa dipastikan semua karyawan dapat. Kupon yang pertama diundi adalah Kupon Merah, dan karena aku udah mengkonversi semua Kupon Merahku ke Kupon Kuning, jadi namaku nggak muncul dalam pengundian Kupon Merah ini. Alhamdulillahnya, namaku benar-benar muncul di pengundian Kupon Kuning, dan hadiah yang kudapatkan adalah satu unit speaker bluetooth portable. Alhamdulillah. Kebetulan beberapa waktu lalu, aku pernah kepikiran pingin beli speaker bluetooth yang bisa dipakai untuk karaokean, tapi belum kebeli karena uangnya dipakai untuk keperluan lain dulu. Eh sekarang malah ada rejeki buat bawa pulang speaker bluetooth tanpa mengeluarkan duit sepeserpun :') 

Sekitar jam sepuluh malam, panitia konsumsi berkeliling membagi-bagikan sosis dan bakso bakar ke meja-meja, sementara acara pengundian kupon masih berlangsung.

Para panitia yang sibuk di dapur.

Singkat cerita, tibalah waktunya pengundian Kupon Hijau. Teknis pengundian kupon ini berbeda dengan Kupon Merah dan Kuning yang jika nomornya keluar, maka pemilik nomor itu langsung berhak mendapatkan hadiah yang diundi. Teknis pengundian Kupon Hijau adalah seperti ini : MC akan mengundi sebelas nomor Kupon Hijau, lalu para pemilik nomor kupon itu dipersilahkan maju. Selanjutnya, masing-masing dari sebelas orang yang dipersilahkan maju ini akan dipersilahkan mengambil satu gulungan kertas di dalam akuarium. Jika di dalam gulungan kertas itu terdapat kata "Selamat, Anda masuk nominasi", maka orang itu akan tetap ada di depan. Sedangkan jika di dalam gulungan kertas itu terdapat kata, "Kasihan deh lu!" atau "Zonk!" atau segala kata-kata yang menyatakan ketidakberuntungan, maka orang itu harus kembali ke tempat duduknya. Begitu terus sampai ada sebelas orang nomine di depan. Sebelas orang nomine ini, nantinya akan dipersilahkan untuk mengambil gulungan kertas lagi yang kali ini berisi jenis hadiah yang berhak mereka bawa pulang.

Sesi pengundian Kupon Hijau ini lumayan melelahkan juga dan membuat mata sepet, karena berbeda dengan nomor urut Kupon Merah dan Kupon Kuning yang direkap dalam Microsoft Excel sehingga mudah dicari, nomor urut Kupon Hijau ditulis secara manual. Sehingga ketika nomornya disebutkan oleh MC, aku harus menelusuri nama-nama peserta satu persatu. Apalagi nggak semua pemilik kupon sadar dengan nomor urut kuponnya masing-masing (saking banyaknya kupon yang dimiliki). Syukurlah Viona dengan inisiatifnya bersedia membantuku. Ketika tengah melaksanakan tugasku sebagai pencari pemilik nomor kupon, tiba-tiba nomor kuponku disebut oleh MC. Akupun serta merta maju ke depan. Lembar berisi nama-nama peserta dan nomor urut kuponnya kuserahkan pada Viona. Selama berada di depan, aku terus bersholawat dalam hati. Berdoa agar aku bisa bergabung dengan Nia dan Ryan yang udah lebih dulu duduk di bangku para nomine. Ya nggak munafik lah, meski udah dapat hadiah di undian Kupon Kuning, aku pingin dapat juga di undian Kupon Hijau yang tentunya berhadiah lebih besar. Ehehe.

Pengundian nomine penerima hadiah Kupon Hijau.

Selanjutnya, Pak Yosep mempersilahkan para peserta yang maju untuk mengambil satu gulungan kertas dalam akuarium. Saat tiba giliranku, aku bilang pada beliau, "Doain saya ya, Pak", yang disambut dengan senyum lebar beliau. Setelah semua peserta udah mengambil masing-masing satu gulungan kertas, kami pun dipersilahkan untuk membuka gulungan kertas itu. Dengan dag-dig-dug, kubuka gulungan kertas itu, dan... Selamat, Anda masuk nominasi! Aku pun lantas mengucap syukur dan duduk di bangku para nomine bersama Nia dan Ryan. "Hehehe.. hoki kan?" ucap Pak Yosep padaku sambil mengacungkan jempol. "Iya, Pak. Alhamdulillah," sahutku.

Hari semakin larut. Pak Imam yang bertugas sebagai MC yang mengundi kupon udah nggak bisa lagi menahan matanya yang udah mulai ngantuk dan sepet. Akhirnya Viona yang menggantikan Pak Imam, sementara aku kembali memelototi lembaran daftar nama-nama pemilik Kupon Hijau beserta nomor urutnya dengan dibantu oleh Ryan, sampai akhirnya ditetapkanlah sebelas orang nomine : aku, Nia, Ryan, Pak Ikin, A Putra, Selpi, Pak Galih, Mbak Ana, Ida (diwakili oleh Yayah), Mas Imam, dan Bu Wati. Kesebelas orang ini berhak membawa pulang masing-masing satu hadiah, tapi hanya satu orang paling beruntung yang akan mendapatkan hadiah utama, yakni satu unit motor.

Selanjutnya, kami satu persatu dipanggil untuk mengambil gulungan kertas terakhir yang akan menentukan hadiah apa yang berhak kami dapatkan. Dengan mata tertutup, kami dipersilahkan mengambil satu gulungan kertas di dalam akuarium bulat.

Pengundian gulungan kertas terakhir.

Setelah masing-masing orang mengambil gulungan kertas terakhir itu, kesebelas dari kami berdiri berderet. Pada hitungan ketiga, kami membuka gulungan kertas itu bersama-sama. Dan hadiah yang tertera dalam gulungan kertasku adalah.. satu unit bedset!

Satu, dua, tiga!

Alhamdulillah. Gapapa, tahun ini belum beruntung lagi buat dapat motor. Yah, nyatanya aku kan nggak bisa mengendarai motor ya. Wkwk. Allah tau siapa yang lebih butuh, dan orang yang Allah tunjuk untuk menerimanya kali ini adalah Bu Wati, sales senior kami, dan kurasa beliau memang pantas mendapatkannya. Meskipun usianya nggak muda lagi, tapi beliau selalu rajin dan semangat, meskipun ke mana-mana harus nebeng sales lain.

Akhirnya, acara berakhir dengan ditutup pembagian kaos bertuliskan The Winner Gathering yang harus kami pakai keesokan paginya. Aku nggak henti-hentinya bersyukur karena lelahku selama beberapa waktu kemarin terbayar manis. Setelah acara selesai, aku segera mengemasi laptopku. Tubuhku benar-benar lelah dan kakiku sakit karena sepanjang acara terus-terusan bolak-balik duduk-berdiri-duduk-berdiri. Meskipun memakai heels yang nyaman, tapi ternyata kalo dipakai kelamaan capek juga ya. Aku pun bergegas turun dan keluar dari gedung aula karena ingin cepat-cepat mandi dan mengistirahatkan tubuh. Bodo amat waktu udah menunjukkan waktu setengah satu malam. Badanku udah lengket banget, pingin diguyur air.

Karena kondisi jalan yang gelap, kunyalakan lampu flash di hapeku. Aku menghentikan langkahku ketika Bu Isma yang baru aja keluar dari gedung aula berlari kecil menghampiriku. "Ikut nebeng senter dong", katanya. "Ayo, Bu", sahutku. Kami pun berjalan bersama menuju pondok kami masing-masing yang bersebelahan (beliau satu pondok dengan Viona). Ketika tiba di persimpangan jalan, kami pun berpisah. Bu Isma ke kiri, dan aku ke kanan. Saat tiba di depan pondok, aku baru sadar bahwa semua rekan pondokku masih di aula, dan aku nggak pegang kunci pondok. Karena terlalu jauh untuk balik lagi ke aula dan badanku juga udah capek banget, akhirnya aku memutuskan buat menunggu di teras pondok. Ah, palingan bentar lagi juga mereka balik, begitu pikirku. 

Aku pun duduk di tangga teras sambil scrolling Instagram demi membunuh waktu. Namun sejurus kemudian, aku merasa sekelilingku benar-benar sepi. Yang kudengar saat itu hanya suara binatang malam dan sayup-sayup suara soundsystem di gedung aula yang masih memainkan musik. Tapi nggak ada lagi peserta gathering yang berlalu lalang balik ke pondoknya. Aku melihat sekeliling. Gelap, benar-benar gelap. Penerangan hanya berasal dari celah pintu dan jendela pondok. Dalam hati aku mengutuk pengelola, kok ya nggak kepikiran buat kasih penerangan, minimal di teras pondok gitu biar terangan dikit? Kunyalakan kembali flash di hapeku, tapi sayangnya hal itu sama sekali nggak membantu membuat sekitar lebih terang. Ketika itu tiba-tiba aku merasa punggungku merinding. Rasanya sesuatu mengawasiku dari dalam pondok kami. Aku yang awalnya nggak takut jadi kepikiran aneh-aneh. Teringat bayangan pocong merah pada foto selfie Badar enam tahun lalu, juga cerita Mbak Melisa yang melihat penampakan pocong di depan salah satu pondok. Kemudian aku teringat bahwa makhluk astral akan memiliki power untuk menampakkan diri jika seseorang merasa takut dan akan menjelma persis seperti apa yang dipikirkan orang itu.

Akhirnya karena nggak mau semakin tersugesti dengan pikiran negatif lalu tiba-tiba ketemu pocong jelek, aku pun memutuskan untuk angkat kaki dari situ dan mengungsi ke pondok sebelah kanan.
"Assalamualaikum, Mbaakk.." panggilku sambil mengetuk pintu pondok mereka.
"Wa'alaikumsalam. Sebentaaarr," ucap seseorang dari dalam.
Mendengar suara orang lain setelah sebelumnya berasa jadi peserta uji nyali, aku jadi merasa lebih lega.
Mbak Echa yang waktu itu membukakan pintu pondoknya untukku. Ia sedang berganti pakaian, bahkan kemeja tidurnya belum terkancing. Wkwkwk gokil 😂
"Numpang di sini bentar ya, Mbak. Temen-temen saya belum ada yang balik dari aula," kataku.
"Oh iya, Teh. Sini, sini," katanya.
Aku pun masuk dan duduk di pinggir salah satu kasur. Selain Mbak Echa, di situ juga ada Bu Bun, Mbak Siti, Nia, dan Bu Wati. Aku pun ngobrol dengan Bu Bun, juga menggoda Bu Wati yang tengah mengabari keluarganya bahwa beliau baru aja memenangkan hadiah motor. Kunci simbolis dari styrofoam yang beliau terima dari Pak Faisal dan Pak Yosep terus dipeluknya. Kubilang, "Bu Wati, pulang dari sininya naik motor aja, udah". Yah, becanda aja, karena hadiah-hadiah besar yang kami dapatkan dari pengundian kupon itu nggak langsung kami terima saat itu juga.

Beberapa lama kemudian, terdengar suara Mbak Tika dan Bu Hani di luar. Ah, akhirnya mereka balik, pikirku. Setelah mengucapkan terimakasih pada Mbak Echa dan yang lainnya, aku pun kembali ke pondokku. Tapi rupanya aku terlalu cepat merasa lega, karena hal horor kali ini benar-benar terjadi. Bukan, bukan ada penampakan setan, melainkan NGGAK ADA AIR :')
Air kran berhenti menyala di pondok 4, 5, 6 yang semuanya dihuni para perempuan, tapi tetap deras di pondok 1, 2, 3, 7, 8, 9, dan 10. Pondok 2 adalah satu-satunya pondok yang dihuni oleh perempuan dan krannya menyala. Ketersediaan air di bak penampungan kami hanya separuh, sementara kami harus berbagi dengan rekan-rekan. Apes, lagi-lagi aku nggak jadi mandi. Boro-boro bisa mandi, mau pipis aja jadinya pake air mineral. 

Nggak ada hal lain yang bisa kulakukan sekembalinya aku ke pondok selain mengistirahatkan tubuhku. Mau ngechat suami pun, dia udah tidur. Mau scrolling sosmed, sinyalnya nggak kuat. Dalam situasi seperti ini, aku bersyukur banget jadi orang pelor, alias nempel kasur langsung molor. Padahal situasi saat itu berisik banget karena para cowok di pondok belakang kami memutar musik dangdut dengan speaker dan volume yang lumayan keras, belum lagi suara Bu Bun yang ke sana ke mari mencari tumpangan kamar mandi.

Aku bangun sekitar jam empat subuh. Suasana nggak lagi seramai saat aku tinggal tidur semalam. Kali ini yang terdengar hanya suara Pak Imam dan Pak Dicky yang berkeliling membangunkan para peserta gathering sambil iseng berteriak "Sahur! Sahur!", juga suara Bu Bun yang masih berkeliling untuk nebeng kamar mandi. Bu Hani dan Mbak Tika bercerita bahwa semalaman mereka nggak bisa tidur. Mereka meledek Bu Yeyen yang semalaman bolak-balik ngorok-ngentut-nguyuh (pipis).

Sekitar jam setengah enam, aku dan Bu Hani menumpang kamar mandi pondok 2 untuk sekedar buang air, sikat gigi, dan cuci muka. Kami harus bergegas karena Pak Imam udah memanggil kami berkumpul untuk berolahraga pagi. Pagi itu kami hanya mengenakan pakaian yang kami pakai tidur semalam, karena berdasarkan rundown acara, kaos The Winner Gathering baru dipakai setelah olahraga pagi. Tapi baru aja kami bersiap pergi ke lapangan, Mbak Tika yang udah lebih dulu siap (karena pagi itu ia ditugaskan menjadi instruktur senam) kembali ke pondok. Ia menyampaikan pada kami bahwa berdasarkan pesan dari panitia acara, pagi itu kami harus langsung mengenakan kaos The Winner Gathering. Akhirnya dengan bersungut-sungut (karena nggak sesuai rundown acara), kami pun mengganti pakaian kami dengan kaos yang udah ditentukan.

Kami berkumpul di samping gedung aula. Lalu dengan dipimpin Mas Indra, kami berjalan bersama menuju Taman Kuning dengan melalui jalan setapak dan hutan kecil yang dikelilingi pepohonan dan rerumputan hijau.

Aku berjalan bersama Mbak Tika, Bu Hani, dan Bu Mila sambil sesekali berfoto bersama di spot-spot yang bagus. Kebetulan langit cerah. Kami bisa dengan jelas melihat gunung Ciremai yang berdiri gagah. Di tengah perjalanan menuju Taman Kuning, kami bertemu seekor kucing yang jinak dan nurut banget kalo dipanggil. Bulunya halus, berwarna abu-abu muda dengan sedikiiiitt corak kuning yang awalnya kukira ada orang yang iseng mengoleskan kunyit ke bulu si kucing, tapi ternyata itu bagian dari warna bulunya. Kucing itu mengikuti kami sampai ke Taman Kuning. Sayangnya, aku nggak kepikiran buat berfoto bersama kucing itu :')

Tiba di Taman Kuning, kami pun berbaris untuk mulai melakukan senam bersama-sama dengan dipimpin oleh Mbak Tika, Bu Atikah, dan juga Viona. Karena nggak dipimpin oleh instruktur senam profesional, gerakan yang kami lakukan jadi kurang terstruktur, lebih banyak becanda dan planga-plongonya. Wkwk.


Setelah senam, kami pun sarapan. Aku sarapan bersama Viona dan juga Pak Yosep. Sambil sarapan, Viona curhat tentang betapa malam tadi dia nggak bisa tidur karena pondok belakang terlalu berisik dengan suara musik. Ada yang memutar musik dangdut, ada juga yang memutar musik jedag-jedug. Dua-duanya diputar menggunakan speaker, sehingga benar-benar mengganggu. Ia dan Bu Lia sampai harus melabrak penghuni pondok itu agar mematikan musiknya.

Selanjutnya, setelah mengisi perut, seluruh peserta kembali berkumpul untuk melakukan foto bersama dengan membawa spanduk The Winner Gathering, lalu kami diarahkan untuk berkumpul di gedung aula. Oh ya, kucing abu-abu tadi kembali mengikuti kami lagi, tapi kemudian berhenti di area hutan kecil di mana ia kami temukan. Sepertinya dia memang tinggal di kawasan itu.

Alih-alih berkumpul di aula seperti arahan Pak Imam, aku beserta Bu Hani, Mbak Tika, Bu Lia, Bu Mila, Mas Febri, dan Pak Dedi memilih untuk singgah di sebuah warkop untuk memesan es. Eh, tanpa diduga, beberapa peserta yang lain juga ikut ngumpul di situ. Wkwk.

Puas mengisi dahaga, kami pun kembali ke pondok untuk beristirahat. Namun sekembalinya kami ke pondok, kami dikejutkan dengan segerombolan semut hitam yang mengerubungi barang-barang bawaan kami, di antaranya adalah gula dan frozen food bawaan Bu Mila, serta crackers keju yang belum tandas kumakan tadi pagi. Huhu. Padahal crackersnya enak banget, tapi gara-gara dikerubungi semut, terpaksa kubuang. Kabar baiknya, air kran di pondok udah kembali mengucur. Jadi sambil menunggu giliran untuk mandi, aku dan Bu Hani mengusir semut-semut itu. Namun karena di pondok nggak disediakan sapu, jadi kami menggiring semut-semut itu dengan bantuan keset.

Ketika tiba giliranku untuk mandi, bbbrrrrrr.. rasanya segar luar biasa. Saat air dingin menyentuh kulit, rasa lengket, lepek, dan capek serasa luruh semuanya. Andai aku punya waktu lebih banyak untuk mandi, pingin banget rasanya berlama-lama dan mengguyur kepalaku berkali-kali. Tapi sayangnya, lagi-lagi kami harus bergegas karena panitia udah kembali memanggil kami untuk berkumpul di gedung aula.

Waktu itu sekitar jam sepuluh siang. Masih berpakaian kaos The Winner Gathering, kami menuju gedung aula dengan membawa kado masing-masing. Sesampainya di gedung itu, kami menaruh kado kami di atas sebuah meja bersama kado-kado milik peserta lainnya, kemudian Bu Isma menuliskan nomor pada kado-kado itu. Sebelum acara tukar kado dimulai, kami terlebih dulu memainkan beberapa permainan sederhana yang menguji konsentrasi dan kekompakan dengan dipimpin oleh Mas Indra dan Pak Ben. Dari permainan itu, peserta yang kalah akan menerima hukuman, yakni wajahnya dicoret dengan lipstik. Sesi ini lumayan seru juga, apalagi kalo jadi bagian yang ngetawain orang. Wkwkwk.

Selanjutnya, kami pun beralih ke acara tukar kado. Saat itu giliran aku dan Viona yang bertanggungjawab membagi-bagikan kado kepada para peserta dengan dibantu oleh Mas Indra. Teknis pembagiannya seperti ini : masing-masing peserta dipersilahkan mengambil satu gulungan kertas berisi nomor dalam akuarium. Setelah semua peserta mengambil nomor dan membukanya, aku dan Viona akan mengambil satu kado lalu menyebutkan nomor yang tertera pada kado tersebut. Maka peserta yang memiliki nomor yang sama berhak mendapatkan kado tersebut. Setelah kami menerima kado masing-masing, kami pun membuka kado secara serentak. Aku menerima kado dari Pak Wirja, kepala Departemen AR, yang isinya sebuah phone stand holder. Sementara kado dariku yang berisi tumbler kaca, satu pack bolpoin gel isi empat, dan satu pack pembalut isi tiga diterima oleh Pak Dadang.


Oh ya, peserta yang menerima hadiah paling unik diminta untuk maju sambil menunjukkan hadiah yang diterimanya. Dalam hal ini, tentunya peserta laki-laki adalah yang paling banyak maju, karena mereka menerima hadiah yang harusnya dipakai perempuan, seperti daster, hijab, celana dalam, termasuk juga Pak Dadang yang mendapatkan pembalut. Pak Yosep yang mendapatkan celana dalam perempuan ngide banget memakai celana itu di luar celana panjangnya. Wkwkwk. Satu-satunya perempuan yang menerima hadiah unik adalah Bu Titin, yakni duid dua puluh ribu. Ini sih bukan unik sebenernya ya, tapi yang ngado mager beli kado.

Terakhir, kami menampilkan yel-yel kelompok. Bersama Bu Mila, Bu Hani, dan yang lainnya, jelas aku nggak bisa jaim. Ada adegan joget di dalam yel-yel, ya aku pun harus turut joget. Yah biarlah kali ini aku dituntut untuk sedikit tebal muka. Setelah itu kami pun kembali ke pondok masing-masing untuk makan siang dan bersiap-siap untuk pulang.

***

Yah, begitulah cerita gathering kantor tahun ini. Meski pun banyak hal yang nggak berjalan sesuai rundown acara ataupun ekspektasi, tapi rasanya cukup seru dan berkesan, terlebih aku mendapatkan dua hadiah yang bisa dibilang besar (karena sebelum-sebelumnya cuma dapat hadiah yang kecil-kecil), semua itu menjadi hiburan untukku setelah berpusing-pusing ria selama dua minggu terakhir. Terima kasih, Ya Allah.

Oh ya, banyak di antara rekan-rekanku yang merasa kapok untuk ke sana lagi. Alasan mereka beragam, tapi intinya adalah karena hal mistis. Seru juga mendengar cerita-cerita dari mereka. Ada yang melihat dua pocong (alhamdulillah sepertinya dua poci ini mandul, dari tahun 2018 berdua mulu, belum beranak juga). Bu Yeyen mengaku melihat buto ijo di sudut gedung aula dan merasa badannya kurang enak karena makhluk ini. Bu Titin (rekanku yang kesurupan saat kami ke sana tahun 2018 lalu) begadang sampai pagi bersama Bu Nur dan Bu Weni di gedung aula karena khawatir kesurupan lagi kalo ketiduran. Wkwkwk.

Selain itu, masih ingat ceritaku di atas, saat aku ke luar pondok di waktu magrib bersama Mbak Tika dan Bu Hani, mereka berdua tiba-tiba ngobrol berbisik-bisik dan berjalan cepat di depanku? Berdasarkan penuturan Bu Hani, saat kami ke luar dari pondok dan menuruni tangga teras, Bu Hani mencium aroma melati, tapi saat itu dia nggak bilang apapun dan bersikap seolah nggak ada apa-apa. Sejurus kemudian, Mbak Tika pun mencium aroma yang sama. Itulah kenapa dia yang semula berjalan di sebelahku tiba-tiba menyusul Bu Hani di depan, lalu mereka mulai berbisik-bisik berdua di depanku :
Mbak Tika : "Bu Haaaann.."
Bu Hani : "Iya, tau."
Mbak Tika : "Bu Hani nggak pakai parfum kan?"
Bu Hani : "Bau parfum saya nggak kayak gitu. Udah, nanti aja ceritanya. Putri kayaknya nggak ngeh, jangan sampai dia juga ikutan takut".

Bu Hani bercerita bahwa aroma wangi itu mengikuti kami hingga ke jalan menurun menuju gedung aula. Tapi beneran lho, waktu itu aku sama sekali nggak mencium aroma apapun. Aku jadi punya dua kesimpulan pribadi terkait ini. Yang pertama, aku berpikir sepertinya yang mereka cium itu aroma parfumku. Yah, walaupun sebenarnya parfumku lebih beraroma fruity, bukan floral, tapi aroma parfum yang kita pakai biasanya nggak tercium oleh diri sendiri kan ya? Itulah kenapa di antara kami bertiga, cuma aku yang nggak mencium aroma itu. Yang kedua, mungkin benar itu aroma dari sesuatu yang nggak kasat mata tapi akunya nggak peka.

Jalan menurun menuju gedung aula. 

Selain itu, di malam saat Bu Hani nggak bisa tidur dan semua suara musik dimatikan, Bu Hani mendengar suara seperti perempuan menangis (tapi juga kadang terdengar seperti tertawa), juga suara langkah kaki dan gesekan benda di depan pondok tapi nggak ada siapapun di sana.
"Kalo saya boleh minta sih, Put, saya pingin banget itu musik jedag-jedug dari speaker tuh nggak usah dimatiin deh. Soalnya pas itu musik dimatiin tuh, ya ampun, banyak banget suara-suara aneh. Saya malah jadi nggak bisa tidur. Dipaksa merem pun malah jadi kebayang sosok yang aneh-aneh", tutur Bu Hani padaku.

Well, beda Bu Hani, beda juga Ryan. Dia mah agaknya memang skeptis dengan hal-hal berbau mistis kayak gini. Dia menyimpulkan bahwa suara yang didengar oleh Bu Hani itu adalah suara burung malam yang banyak bertengger di pepohonan sekitar. Yah, kalo mau berpikir positif sih bisa jadi seperti itu, karena memang ada beberapa hewan yang bersuara mirip kayak gitu, salah satunya adalah musang. Coba aja kamu search di Youtube, suara musang kayak gimana, itu miriiip banget kayak kunti ketawa. Wong di samping rumahku juga pernah kok terdengar suara kayak gitu, padahal rumahku tuh adem, nggak ada apapun yang memancing setan buat dateng, kecuali musang yang memang suka berkeliaran mencari ayam atau anak kucing. Tapi, kalo kita lagi sendirian malam-malam lalu tiba-tiba denger suara kayak gitu, ya boro-boro kepikiran itu suara musang sih ya. Pasti hal pertama yang terbersit di kepala itu suara kunti, ya kan? Wkwk.

Tapi jujur, aku pribadi sih nggak kapok buat ke sana lagi. Pasalnya view di sana tuh bagus banget dan banyak spot yang belum sempat kami sambangi selama di sana kemarin. Ditambah, aku alhamdulillah banget nggak mengalami hal aneh apapun selama di sana. Kalo merinding doang sih biasa lah ya, bisa jadi itu sih karena sugesti diri gara-gara ada di tempat gelap sendirian. Wkwkwk. Jadi kalo ada kesempatan buat ke sana lagi buat ketiga kalinya, aku sih hayuu.

Total Tayangan Halaman

 
;