Another book by Mystic Waves alias mwv.mystic, yang singkatnya kita sebut MWV aja lah yaa. Dari empat buku karya mereka, ini buku ketiga mereka yang kupunya. Lucunya, aku sempat berpikir bahwa ini benar-benar buku ketiga mereka. Wkwkwk. Asli, malu banget waktu adminnya ngepost foto buku terbarunya ini di Instastory akun pribadinya dengan caption "anak keempat" gitu, aku komen, "Satunya apaan?", dan malah tadinya aku pikir anak satunya itu anak beneran a.k.a his daughter (ngaco banget, Ya Allah, untung nggak disebut di komen). Wkwkwk. Aku lupa kalo aku nge-skip buku ketiga mereka yang berjudul Jaga Mayit. Well, the story is good tho', as always. Hanya aja kupikir, untuk Jaga Mayit ini, baca versi feed pun cukup buatku.
Nah
, berbeda dengan dua buku sebelumnya yang pernah kuulas di blog ini (
Mereka Ada Vol. 1 dan
Mereka Ada Vol. 2) yang memuat kisah-kisah dari narasumber sekaligus pengikut MWV, cerita
Surau berasal dari
urband legend yang beredar di sebuah daerah di Sumatera Barat tentang adanya sebuah surau yang dijadikan lokasi gantung diri. Dalam sebuah
live streaming bersama Penerbit Moka di Instagram, Admin AGP menjelaskan bahwa penutur kisah ini adalah ibunya sendiri, yang mengalami langsung masa ketika peristiwa tersebut terjadi. Cerita yang disampaikan sang ibu kemudian dikembangkannya menjadi sebuah novel yang sarat dengan pesan-pesan mendalam dan 'bumbu' horor khas MWV.
MWV mulai memposting Surau di akun Instagramnya pada akhir bulan September 2023 dan selesai pada awal Desember 2023. Mungkin karena melihat banyaknya respon positif dari para pembaca, plus dukungan atas ide untuk menerbitkan kisah Surau versi cetak yang disampaikan lewat Instagram Channel-nya, akhirnya Admin AGP memutuskan untuk mencetak novel fisiknya.
Pre-order dibuka pada tanggal 24 sampai dengan 28 Januari 2025. Aku memilih checkout di pre-order hari kedua alias tanggal 25, karena kupikir harganya bakal jadi lebih murah dengan adanya event payday sale, tapi ternyata sama aja. Wkwk. But, at least aku dapat diskon live sih. Lumayan kaget juga waktu kulihat tanggal estimasi pengirimannya jatuh di menjelang akhir bulan Maret. Tapi alhamdulillah, di tanggal 11 Februari, buku ini udah sampai ke tangan.
Ada tiga paket yang ditawarkan pada program pre-order ini : Paket Baruak, Paket Niko, dan Paket Marhan. Aku sendiri memilih Paket Niko dengan merchies berupa sebuah kalender, selembar fan-art, sebuah pouch, selembar stiker, dan sebuah kitab hitam (buat nyatet dosa ceunah). Tadinya kukira kitab hitam ini bakal mirip-mirip Death Note. Wkwk. Tapi ternyata lebih kayak buku notes kecil gitu. Aku suka banget pouch-nya. Di paket pre-order Mereka Ada Vol 2 yang kubeli dulu juga MWV ngasih merch berupa pouch sih. Tapi tipis dan kecil gitu, kupakai buat naruh charger dan earphones. Tapi pouch yang dikasih di pre-order Surau ini tebel banget dan ukurannya lumayan besar. Kurasa muat buat tempat mukena travel.
Alright, now let's dive into the book!
Niko dan Marhan adalah sepasang sahabat yang sama-sama menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren di Sumatera Barat. Mereka memiliki latar belakang dan kepribadian berbeda. Niko merupakan keturunan asli Minang. Pribadinya yang riang, penuh semangat, cuek, humoris, dan ceplas-ceplos membuatnya sangat easy-going. Sedangkan Marhan merupakan pelajar pindahan dari pulau Jawa. Berbanding terbalik dengan Niko, Marhan lebih pendiam, agak pemalu, dan emosional. Meskipun begitu, Marhan adalah pelajar yang berprestasi hingga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke Mesir.
Namun sebelum keberangkatannya ke Negeri Piramida, Marhan berkeinginan untuk menikah dengan pujaan hatinya yang merupakan salah satu santriwati di pondok pesantren yang sama, Salma. Oleh karena itu, di hari kelulusan, dengan 'didorong' Niko, Marhan menghadap ayah Salma dan mengungkapkan niat untuk meminang putrinya. Niat itu disambut baik oleh ayah Salma yang dikenal dengan nama Datuak Kayo itu. Pak Datuak pun meminta Marhan untuk datang ke rumahnya agar mereka bisa ngobrol lebih jauh.
Long story short, tiga hari kemudian setelah pertemuan di hari kelulusan itu, dengan ditemani Niko, Marhan menepati janjinya untuk menemui Datuak Kayo di rumahnya, di sebuah kampung bernama Limau Bareh. Berbekal segudang prestasi dan ilmu agama yang dimilikinya, Marhan merasa cukup percaya diri. Namun rupanya, dua hal tersebut belum cukup bisa meyakinkan ayahanda sang pujaan hati. Ada satu tantangan lagi yang harus dipenuhi Marhan untuk bisa meminang Salma, yakni meramaikan kembali surau Nurul Falah, rumah ibadah yang didirikan Datuak Kayo yang telah lama ditinggalkan jamaahnya. Mendengar hal itu, Marhan dan Niko tertegun. Rumah ibadah seharusnya menjadi pusat kehidupan, bukannya ditinggalkan dan dilupakan. Bersama Niko, Marhan pun menerima tantangan itu.
Tapi, perjuangan mereka nggak semudah yang dibayangkan. Di tengah usaha Marhan dan Niko menghidupkan kembali
nurani warga kampung Limau Bareh, berbagai kejadian aneh di luar nalar terjadi, mulai dari gangguan pocong, penampakan dan bayangan wanita yang gantung diri, serta gangguan-gangguan mistis lainnya, mengguncang hati dan keyakinan mereka. Niko yang semula termotivasi untuk mengajak anak-anak kampung belajar mengaji dan menuai pahala, mulai ragu untuk melanjutkan perjuangannya. Namun Marhan yang meyakini bahwa ini adalah tantangan terakhir untuk bisa mendapatkan restu Datuak Kayo, bersikukuh untuk tetap bertahan. Mampukah Marhan
membuktikan dirinya di tengah misteri yang meliputi kampung Limau Bareh, atau justru terjebak dalam ambisi yang perlahan
menggerogoti ketulusannya?
***
Well, seperti yang udah kusebutkan di awal, buku ini nggak hanya menawarkan kisah yang ngeri dan menegangkan, tapi juga banyak pesan-pesan positif yang bisa kita petik di dalamnya, khususnya buat kita-kita yang beragama Islam ya. Aku bener-bener menyayangkan salah satu tokoh agamis dalam kisah ini (yang nggak bisa aku sebutkan, karena bakal jadi spoiler). Selama hidupnya dia baik dan merupakan ahli ibadah, tapi gara-gara 'kepeleset' minta tolong dukun, akhir hidupnya jadi setragis itu.
Buatku pribadi, kisah dalam buku ini membuatku merenung, bahwa betapa celakanya kita jika menempatkan rasa cinta terhadap manusia di atas rasa cinta kita terhadap Tuhan, dan bahwa kadar keimanan seseorang itu naik turun. Kadang seseorang bisa merasa dekat banget sama keyakinannya, tapi ada saat-saat tertentu di mana keraguan membuat iman itu goyah, dan Tuhan bisa dengan mudahnya hinakan seseorang agar kita sadar bahwa Tuhan itu nggak main-main dalam urusan keyakinan.
Daaaan.. sebagai pembaca cerita-cerita MWV sejak 2016, aku merasakan banget penulisan adminnya yang makin baik, mulai dari yang apa adanya sesuai penyampaian narasumber, sampai penulisan seperti sekarang yang begitu detail sampai terasa 'hidup', bahkan menyentuh hati pembaca. Beberapa waktu sebelum kisah Surau ini dipost di feed Instagram MWV, aku sempat melihat Admin AGP memposting sebuah buku berjudul Save The Cat! Write a Novel karya Jessica Brody di Instastory akun pribadinya. Lewat Instastory-nya itu dia mengungkapkan bahwa saat itu dia baru selesai baca buku itu.
FYI, buku Save The Cat! Write a Novel ini bukan novel ya, melainkan buku yang menjelaskan tentang gimana caranya menulis novel dengan baik dan menarik. Bukan soal gaya bahasa atau keindahan kata-kata, tapi lebih kepada gimana caranya membangun plot yang kuat dan menyusun narasi yang memikat. Nah, ternyata bener, Surau adalah cerita pertama yang dia tulis dengan menerapkan ilmu-ilmu yang dia ambil dari buku Save The Cat! Write a Novel ini. Boom banget sih, penerapannya sukses lho.
Tapi memang Gamang Ranah Minang
—tulisan-tulisan karya MWV yang berlatar belakang di Minangkabau, Sumatera Barat—nggak ada yang gagal sih. Selain
Surau, kisah yang paling aku suka adalah
Kemarin Paman Pulang yang diangkat dari sebuah tragedi pembunuhan yang dilakukan seorang kakak terhadap adik kandungnya sendiri di Kabupaten Agam. Kalo nggak salah, Admin AGP pernah mengungkapkan bahwa pelaku dan korban ini masih ada hubungan keluarga dengan dia. Trus ada juga
Palasik Mayik yang nggak hanya kuharapkan bakal jadi
the next book after Surau, tapi juga berharap banget bisa difilmkan, karena jujur, bosen banget nggak sih lihat film-film horor Indonesia itu latar belakangnya dari Jawa melulu? 😔
Oke, back to the Surau yah. Menurutku di buku ini ada beberapa tulisan yang sedikit mengganjal buatku dan kayaknya perlu revisi deh.
- Di halaman 77-79, diceritakan Marhan sedang sholat tahajud dan memasuki rokaat kedua. Tapi di menjelang akhir bacaan Al Fatihah-nya, tiba-tiba dia denger suara kayak orang tercekik gitu di belakangnya. Karena suara itu terdengar beberapa kali, konsentrasi Marhan pun terpecah. Dia pun memutus sholatnya dan berbalik. Ketika itulah Marhan melihat sesosok penampakan yang bersuara kayak orang tercekik tadi. Tapi anehnya di halaman 79 ditulis, "Dalam posisi duduknya, ia menyaksikan sosok itu yang semakin tinggi dan melayang." Menurutku, bagian ini rancu, karena Marhan kan tadi sedang baca Al Fatihah ya, yang berarti dia tuh sedang dalam posisi berdiri. Kok tiba-tiba posisinya jadi duduk? Kecuali kalo sebelumnya diceritakan bahwa dia kaget sampai jatuh terduduk.
- "Niko yang sebelumnya diam, kini segera bergerak dan bacaan-bacaan Darwis agar tidak sampai melukai sahabatnya". (Hal. 99)
Kalimat ini rasanya kurang bisa dipahami dan bahkan janggal menurutku. Kayaknya harusnya ditulis "... kini segera bergerak agar Darwis tidak sampai melukai sahabatnya" kali yaa. - "Namun ternyata teror jin yang sudah tidak bisa ia tahan hingga membuat kepercayaan kecokelatan itu goyah". (Hal. 117)
Kalimat ini juga janggal banget. Kata 'kecokelatan' itu kayaknya nggak seharusnya ada di situ.
Dan selain tulisan-tulisan yang janggal di atas, banyak juga kutipan-kutipan yang bagus banget buat dijadikan renungan.
- "Quran itu bisa sekadar sampai tenggorokan saja jika tidak ada akhlak yang baik dan keimanan yang kuat. Lama kelamaan ia akan terangkat, lalu tanpa kalian sadari, ketika ia tidak lagi kalian jaga, ia akan menghilang. Maka genggamlah dengan erat. Jaga dia hingga kita bertemu dengan maut yang sudah Allah janjikan". (Hal. 10)
- "Kecintaan manusia dengan manusia lainnya itu harus ada di bawah kecintaan manusia pada Allah, Bang... Kalau Abang cinta sama Allah, Allah akan selalu ada, Bang. Tapi kalau Abang cinta sama aku, aku nggak akan selalu ada. Ada waktunya nanti masing-masing orang selesai". (Hal. 252)
- "Ingin dipuji hanyalah satu cabang di antara cabang-cabang riya. Riya secara garis besar adalah menjadikan makhluk ciptaan Allah sebagai alasan kamu beribadah.... Maka dari itu Allah memberikan tempat yang begitu mulia bagi orang-orang yang ikhlas dalam beribadah atas dasar ketakwaan. Dan yakinlah, ikhlas dan riya ini sebenarnya hanya dibatasi oleh satu benang tipis yang sangat sulit dikira-kira oleh manusia.... Allah itu Maha Membolak Balikkan Hati seseorang. Tentu orang akan memberikan rasa ikhlas itu hadir bagi hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Namun bukan berarti kita hanya menunggu hidayah datang begitu saja, kita harus sadar akan apa yang kita lakukan, apakah sudah terjerumus ke riya atau masih berada di jalan yang lurus. Kalau kita sudah terjerumus, segera muhasabah diri dan kembali ke hakikatnya seorang hamba melakukan ibadah. Mohon ampun atas kesalahan kita, dan minta Allah kokohkan kita lagi dalam keikhlasan serta keistiqomahan." (Hal. 333-334)
- "Karena riya ini adalah seburuk-buruknya pencuri amal. Kalian punya ibadah apa saja, maka ia akan disapu bersih Allah begitu saja". (Hal. 334)
- "Allah ciptakan kematian dan perpisahan agar hamba-Nya hanya boleh berharap pada-Nya. Satu-satunya Dzat yang kekal dan selalu ada. Bukan pada makhluk yang akan mati dan binasa. Allah ancamkan orang-orang dengan neraka agar seseorang tidak bertindak sewenang-wenang selama hidupnya. Namun ini bukan bentuk Allah menyengsarakan manusia, karena Allah juga memberikan janji akan mengampuni seluruh dosa orang-orang yang bertaubat tanpa terkecuali dengan sifat Maha Pemurah dan Maha Penyayang yang Dia miliki. Allah memberikan kita rasa takut, agar kita berharap dan menggantungkan diri hanya kepada diri-Nya, yang menciptakan rasa takut itu sendiri". (Hal. 347)
That's all, Guys. Menurutku sih
worth reading banget yah. Buat yang penasaran dengan cerita lengkap perjuangan Marhan dan Niko, langsung aja simak ceritanya di Instagram
@mwv.mystic kalo kamu kaum mendang-mending dan suka bacaan gratis,
KaryaKarsa kalo kamu males scroll Instagram, atau bisa juga langsung
checkout bukunya di
sini.