Minggu, 23 Maret 2025 0 komentar

Drama Retur Oren

Beberapa hari yang lalu, aku belanja online untuk anakku, Fathian, di platform 'oren'. Awalnya cuma mau cari celana jogger simpel buat main sehari-hari, tapi ternyata pengalaman ini akhirnya bikin aku mikir lebih jauh soal sistem belanja online.

Jadi ceritanya, di deskripsi produk dari celana jogger yang kupilih ini tercantum bahwa seller akan mengirim warna random, tapi buyer bisa memilih salah satu dari dua opsi, yakni Warna Laki-Laki atau Warna Perempuan.

Empat hari setelah pemesanan, paketku datang. Kubuka paket itu, dan betapa kagetnya ketika kulihat celana jogger yang dikirim berwarna pink keunguan semua! Bayangin, anakku pakai celana-celana itu setiap hari, bisa-bisa dikira nggak ganti celana seminggu :')

Well, sebagai pembeli, ketika membaca deskripsi produk dan opsi yang tadi kutuliskan di atas, tentu berekspektasi bahwa celana jogger yang dikirimkan akan terdiri dari beberapa warna, dan karena yang kupilih adalah opsi Warna Laki-Laki, aku tentu berharap yang kuterima adalah celana dengan warna yang identik dengan laki-laki, kayak hitam, biru tua, abu-abu, hijau tua, atau coklat. Aku paham, deskripsi 'warna random' memang bikin kita nggak bisa pilih warna yang spesifik, tapi logikanya kalo ada opsi Warna Laki-Laki dan Warna Perempuan, seller harusnya kirim warna yang sesuai dengan kategori itu dong?

Karena kecewa dengan pesananku yang nggak sesuai ekspektasi, aku pun ngechat seller dan mengutarakan keinginanku untuk mengajukan pengembalian dana. Alhamdulillah, sellernya setuju. Aku pun mengajukan pengembalian. Celana jogger yang nggak sesuai dengan pesanan itu kubungkus lagi dan aku serahkan ke kurir untuk dikembalikan.

Proses pengembalian dana itu rupanya diproses cepat. Besoknya, danaku kembali masuk ke akunku. Merasa puas dengan hal itu, aku pun memberi review baik bahwa seller cukup kooperatif. Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba seller itu mengechatku kembali. Mereka meminta ganti rugi atas biaya paket dan packing. Hal ini cukup membuatku mengernyitkan dahi. Aku bingung, memangnya seller bisa minta ganti rugi di luar sistem kah? Apalagi dalam hal ini, aku merasa dirugikan karena seller mengirimkan barang yang nggak sesuai deskripsi produk.

BTW selama enam tahun menjadi pengguna platform 'oren', ini pertama kalinya aku melakukan pengajuan retur. Tahun 2022 silam, aku pernah beli botol minum kaca yang pecah saat sampai ke rumah karena packing seller yang nggak proper. Retur langsung diajukan oleh kurir saat itu juga. Prosesnya sama cepat, dan nggak ada masalah apapun. Makanya aku kaget saat mengajukan retur ini, aku dimintai ganti rugi oleh seller.

Aku pun curcol mengenai hal ini di akun Threads-ku. Bukan maksud menjelekkan seller, toh aku nggak menyebut nama tokonya. Siapa tau ada pengguna Threads yang merupakan seller platform 'oren' yang merespon postinganku. Aku cuma pingin make sure aja bahwa prosedur retur yang kulakukan udah benar, dan pingin tau juga dari sudut pandang mereka, kenapa seller minta ganti rugi.

Dari situ aku baru tau bahwa kebijakan pengembalian dana di platform 'oren' antara dulu dengan sekarang tuh beda. Kalo dulu, retur hanya bisa dilakukan jika murni kesalahan seller, misalnya barang cacat atau salah kirim. Buyer juga mengirimkan pengajuan dulu. Seller bisa menerima atau menolak pengajuan tersebut dengan melampirkan bukti. Kalo buyer ataupun seller nggak bersepakat, baru hal tersebut dilanjut ke proses banding. Retur baru bisa diproses kalo udah disetujui pihak platform. Kebijakan ini dinilai lebih fair oleh pihak seller.

Sedangkan sekarang, kebijakan kayak lebih berpihak ke buyer. Misalnya ada buyer yang berubah pikiran, kalo mereka mencantumkan alasan yang seolah kesalahan seller, pengembalian dananya bisa langsung diproses. Yah, seller bisa melakukan banding sih setelah barang dikirim balik dan diterima, tapi katanya kebanyakan bandingnya ditolak oleh pihak platform. Hal ini membuat seller merasa dirugikan, karena biaya pengiriman saat barang dikirim balik itu ditanggung oleh seller. Belum lagi mereka juga harus mengeluarkan modal untuk packing seperti plastik, bubblewrap, kardus dll . Ckckck. Pantesan aja seller jogger tadi minta ganti rugi, pikirku.

Well, aku tetap pada pendirianku bahwa aku nggak salah sih. Aku kan retur bukan hanya karena berubah pikiran, tapi karena memang barang yang dikirim nggak sesuai deskripsi dan opsi yang kupilih. Tapi kalo melihat dari sudut pandang seller, aku juga cukup paham kenapa mereka pun merasa dirugikan, apalagi kalo mereka ketemu sama buyer yang malas baca deskripsi produk, atau plin-plan. Bayangin aja, seller udah kirim barang sesuai pesanan buyer, tapi ketika barang datang, buyer malah mengajukan retur karena ternyata dia salah pilih warna, tapi buyer mencantumkan ‘barang yang dikirim salah’ di pengajuannya. Keterangan ini akan pihak platform 'oren' anggap sebagai kesalahan seller, sehingga seller harus menanggung biaya kirim balik plus packing. Mending kalo ongkirnya murah, ada seller yang harus nanggung ongkir sampai di atas lima puluh ribu rupiah perpaket. Sumpah, aku nggak nyangka banget lho, seller bisa rugi sebesar itu karena aturan retur. Hmm.. If I were in their shoes, aku juga pasti bakal desperate sih sama kebijakan sistem yang kayak gini.

Yah, semoga aja ke depannya sistem retur ini bisa lebih adil, baik untuk pihak seller maupun buyer. Aku bingung juga kasih solusi sistemnya gimana, karena menurutku dua-duanya ada plus minusnya. Kalo pakai kebijakan lama, buyer yang kelamaan nunggu karena panjangnya proses mediasi, tapi kalo pakai kebijakan baru, seller yang banyak dirugikan. Palingan introspeksi masing-masing aja sih menurutku. Dari pihak seller, baiknya deskripsi produk harus benar-benar jelas, juga lebih teliti dalam memproses pesanan, pastikan sesuai dengan pesanan buyer. Dari pihak buyer, baiknya harus benar-benar memahami deskripsi produk dulu sebelum checkout. 

Intinya, pengalaman ini membuatku sadar bahwa di balik kemudahan belanja online yang bisa kita akses nowadays, ada dilema yang nggak gampang diselesaikan. Aku harap platform 'oren' bisa menemukan titik tengah, yakni sistem yang nggak membuat buyer ribet, tapi juga nggak mendzolimi seller, biar jadi win-win solution buat semua pihak.

Rabu, 19 Maret 2025 0 komentar

NOWHERE, Perjuangan Hidup di Tengah Laut Lepas

Kalo kemarin aku nulis tentang pengorbanan seorang ibu di sinopsis film CASSANDRA, kali ini aku mau nulis sinopsis film yang menceritakan tentang perjuangan bertahan hidup seorang ibu yang terombang-ambing bersama bayinya di lautan biru sejauh mata memandang, judulnya NOWHERE.


Kisah berawal dari sepasang suami istri bernama Mia dan Nico yang memutuskan untuk kabur ke negara lain, karena negara mereka saat itu, Spanyol, sedang dalam keadaan chaos. Anak-anak dan perempuan menjadi sasaran penculikan, bahkan pembunuhan. Bersama puluhan warga lainnya, mereka menyelinap ke dalam kontainer yang diangkut melalui jalur laut. Tapi sebuah insiden terjadi, membuat Mia yang sedang hamil besar, terpisah dari suaminya. Hal itu memaksa mereka naik ke kontainer yang berbeda. 


Keadaan semakin mencekam ketika aparat kejam menembaki seluruh penumpang di kontainer Mia pada pos pemeriksaan. Hanya Mia yang selamat, karena berhasil bersembunyi. Setelah keadaan dirasa aman, Mia mencoba menghubungi Nico melalui ponselnya untuk memperingatkannya tentang bahaya itu, tapi usaha tersebut gagal karena Nico nggak bisa dihubungi.

Mia menjadi satu-satunya orang di dalam kontainer itu yang berhasil hingga perjalanan laut. Namun perjalanan yang menjadi satu-satunya harapan itu menjadi mimpi buruk, saat badai dahsyat mengantam kapal, melemparkan kontainer-kontainer yang dimuatnya ke tengah samudera, termasuk kontainer Mia. Terombang-ambing di lautan, Mia berjuang bertahan hidup dengan persediaan makanan yang terbatas dan kondisi kontainer yang bolong di beberapa bagian. Air laut merembes masuk lewat lubang-lubang itu, membuat Mia harus mengurasnya dengan bantuan pipa yang dia temukan di sekitar kontainer, juga menambal lubang-lubang dengan peralatan seadanya.


Di tengah keputusasaan Mia, tendangan bayi di perut dan panggilan singkat dari Nico membakar kembali semangatnya. Lewat panggilan singkat itu, Nico berjanji akan menyelamatkannya.

Mia akhirnya melahirkan bayinya sendirian di dalam kontainer. Hal itu membuatnya harus bisa memastikan dirinya dan sang buah hati tetap hidup. Bahan makanan dan air minum yang dimilikinya semakin habis, apalagi Mia harus menyusui bayinya. Ketika persediaan makanannya benar-benar habis, Mia sampai harus makan ari-ari bayinya sendiri demi bertahan hidup. Ia juga mencoba membuka bagian atas kontainer dengan bantuan pisau lipat dan bor yang dia temukan dari tas yang ditinggalkan salah satu warga yang tewas ditembak aparat. Ia memanfaatkan barang-barang angkutan di kontainer kayak kotak-kotak Tupperware untuk menampung air hujan, wine untuk bahan bakar membuat api, dan kabel earphones untuk membuat jala. Jala itu ia gunakan untuk menangkap ikan, dan ikan-ikan yang ia tangkap, ia masukkan ke dalam kotak-kotak Tupperware yang lain untuk persediaan makanan. Semua itu Mia lakukan tanpa tau kapan kontainernya bisa menepi ke daratan, atau bantuan dari Nico atau orang lain datang.





Lebih dari 20 hari kemudian, Nico baru menghubunginya kembali. Tapi bukan berita gembira yang Mia dengar. Nico mengabarinya bahwa ia telah tertembak oleh aparat saat mencoba melarikan diri dan kehilangan banyak darah. Ia nggak yakin bahwa dirinya bakal tetap hidup. Lewat telepon itu, Nico memohon agar Mia berjanji untuk berusaha melanjutkan hidupnya, meskipun ia akan benar-benar melakukannya sendirian. Dalam kesempatan terakhir mereka berbicara itu, Mia menyampaikan berita bahagia bahwa ia telah melahirkan bayi mereka. Ia menamai putrinya itu Noa, seperti permintaan suaminya. Nama Noa diberikan dengan harapan suatu hari nanti bayi itu akan menjadi seorang pejuang, seperti halnya Nabi Nuh, yang selamat dari badai dengan bahteranya. Sumpah, di situ sedih banget. Hati ikut hancur rasanya. If I were her, kayaknya aku udah buntu banget dan nggak bisa mikir apapun lagi deh. Huhu.

Dan ya, Mia kembali melanjutkan perjuangannya. Ia melihat secercah harapan saat burung camar mampir ke kontainernya untuk mengambil ikan dalam kotak Tupperware-nya yang terbuka. Dari situ Mia menyimpulkan bahwa mereka udah cukup dekat dari pantai. Saat kontainer mulai bocor karena udah nggak bisa lagi menahan tekanan air laut, dengan sisa waktu yang ada, Mia merakit 'perahu kecil' dari peti kayu untuk menaruh bayinya di situ. Ia memanfaatkan Tupperware yang diikatkan di tiap sisi, biar 'perahu' itu tetap mengapung di atas air. Namun hal buruk terjadi saat Mia mau menyelamatkan beberapa barang kenangannya yang ada di dalam kontainer yang hampir tenggelam. Kakinya tersangkut tali, membuat Mia hampir ikut tenggelam bersama kontainernya. Namun ia nggak menyerah. Ia mencoba sekuat tenaga memotong tali di kakinya, hingga akhirnya ia berhasil naik ke permukaan.

Tapi ombak rupanya memisahkan Mia dari bayinya. Perahu Noa terombang-ambing entah ke mana. Ibu mana yang nggak panik anaknya hanyut di lautan lepas? Apalagi ia melihat ada paus di dekat mereka dengan suaranya yang seakan mengancam. Mia khawatir paus itu bakal mencelakaan atau bahkan memangsa Noa. Tiba-tiba paus itu memancurkan air. Percikan airnya mengenai wajah dan tubuh Noa, membuatnya bangun dari tidur dan menangis. Tangisan itu membantu Mia untuk menemukan Noa kembali. Jujur, aku merinding di part ini, karena adegan ini tuh menunjukkan adanya campur tangan Tuhan melalui makhluk-Nya gitu lho.


Pasca kontainernya karam, Mia dan Noa kembali terombang-ambing di lautan. Mia berpegangan pada 'perahu' yang membawa Noa, sementara separuh tubuhnya masuk ke air. Dengan sisa tenaga yang ada, dia mengeluarkan bangkai-bangkai ikan dari kotak Tupperware dan memasukkannya ke laut untuk mengundang burung-burung camar. Ini adalah bagian dari rencana terakhirnya. Segerombolan burung camar yang mengerubungi Mia dan Noa itu akhirnya mengundang perhatian sebuah keluarga nelayan.

Sang istri yang merasa penasaran dengan gerombolan burung camar itu pun meminta suaminya untuk menggerakkan kapal mereka agar mendekat. Di situ lah mereka menemukan 'perahu' Noa. Mereka bertanya-tanya di mana keluarga bayi itu. Sang istri pun curiga pada seutas tali panjang yang masuk ke dalam air. Ia mencoba menarik tali itu kuat-kuat, dan alangkah terkejutnya mereka saat tali yang mereka tarik itu rupanya tersambung pada lengan seorang wanita. Keluarga itu pun membawa Noa dan Mia ke kapalnya. Di situ, mereka mencoba menyelamatkan nyawa Mia. Si istri bahkan nggak ragu memberikan nafas buatan dan melakukan CPR. Ia sempat hampir menyerah saat nggak kunjung melihat tanda-tanda kehidupan pada tubuh Mia. Namun ketika melihat si kecil Noa, perempuan itu kembali bersemangat melakukan pertolongan, hingga akhirnya Mia terbatuk-batuk dan kembali bernafas, membuka lembaran barunya bersama Noa setelah 23 hari yang penuh perjuangan.

Sumpah, film ini benar-benar bikin aku deg-degan dari awal sampai akhir. Akting Anna Castillo bagus banget. Dia mampu membawa penonton untuk ikut merasakan gimana rasanya terjebak di dalam sebuah kontainer setengah tenggelam selama hampir satu bulan lamanya, terombang-ambing di lautan seolah nggak ada lagi harapan hidup. Sepanjang film, aku kayak takut banget Mia kena baby blues trus nekat nyakitin Noa. Trus kan ada scene di mana Noa kedinginan dan Mia menyalakan api di dalam sebuah kaleng biar Noa merasa hangat. Di situ aku khawatir banget apinya jatuh pas mereka tidur dan kena Noa. Huhu.

Aku suka banget sama character development-nya Mia, gimana dia yang awalnya adalah perempuan yang nggak berdaya dan hampir putus asa, bertransformasi menjadi seorang perempuan tangguh, kreatif, dan banyak akal. Bayangin, dalam keadaan kalut, dia masih bisa berpikir cepat buat bisa menyulap kabel earphones jadi jala ikan. Sosok Mia benar-benar mewakili ibu-ibu hebat di dunia yang rela berjuang, melakukan hal apapun demi buah hatinya. Film ini juga memberi pesan bahwa, dalam situasi segelap dan segenting apapun, selalu ada secercah harapan yang bisa kita genggam, asal kita nggak berhenti berjuang. Dan cinta, rupanya punya kekuatan besar yang mampu mendorong kita untuk tetap survive.

Selasa, 11 Maret 2025 0 komentar

Netflix Series : CASSANDRA, Luka Abadi Dalam Tubuh Besi

Setuju nggak sih kalo jaman sekarang, teknologi tuh udah jadi bagian yang nggak terpisahkan dari keseharian kita? Mulai dari yang udah biasa kita pakai kayak handphone, komputer, dan alat-alat elektronik lainnya, sampai asisten virtual. Kalo dulu, rasanya lucu dan aneh melihat Plankton dalam serial Spongebob Squarepants yang ngobrol sama Karen si robot komputer, bahkan menganggap Karen sebagai istrinya.

Tapi nyatanya sekarang, banyak orang dan bahkan aku sendiri yang lebih senang chatting sama aplikasi AI chatbot kayak ChatGPT, Grok, dan Meta, karena menganggap chatting sama mereka tuh udah kayak chat sama teman yang sefrekuensi. Ngobrol apapun pasti nyambung dan nggak usah merasa takut di-judge atau overshare. Apalagi ChatGPT dan Grok punya respon yang baik, yang bisa bikin kita merasa kayak bener-bener chat sama manusia. Kalo Meta, menurutku sih masih rada kaku ya. Tapi lumayan membantu lah kalo lagi pingin curhat banyak atau tanya ini itu yang nggak berbatas, karena Chat GPT dan Grok punya limit 10 sampai 15 chat aja setiap beberapa jam. Well, chatting sama chatbot kan sama aja ngobrol sama robot ya?

Nah, dua hari yang lalu, aku baru aja nonton serial Netflix asal Jerman, judulnya Cassandra, yang kayaknyaa terinspirasi dari Karen-nya Plankton. Wkwk. Hanya aja kalo lihat Karen dan Plankton kan lucu ya, tapi kalo lihat Cassandra, serem. Serial ini bergenre Science Fiction & Thriller, dan terdiri dari enam episode.


Kisah berawal dari kepindahan sebuah keluarga ke sebuah rumah di pinggir kota yang udah ditinggalkan selama puluhan tahun. Mereka ingin memulai lembaran baru pasca salah satu anggota keluarga mereka meninggal karena bunuh diri. Keluarga ini terdiri dari sepasang suami istri dan dua orang anak : David Prill—sang ayah, Samira—sang ibu, Fynn Prill—si sulung, dan Juno Prill—si bungsu.

Saat sedang melihat-lihat ruangan, Fynn dan Samira menemukan sebuah robot yang teronggok tak bernyawa, nyaris tertutup kain putih. Fynn pun membawa robot itu ke kamarnya untuk diperbaiki. Sia-sia, robot itu nggak menunjukkan tanda-tanda hidup.

Namun malam harinya, ketika semua anggota keluarga tidur, robot itu mulai menyala. Bagian layar yang menjadi 'kepala' robot itu menampilkan wajah seorang wanita. Robot itu pun mulai memindai seisi rumah, menyalakan lampu-lampu dan layar-layar TV yang juga menampilkan wajah yang sama. Tiba-tiba Juno yang terjaga dari tidurnya, berteriak, hingga membangunkan seisi rumah. Ketika Sam, David, dan Fynn menghampirinya, robot perempuan itu udah berdiri di sisi ranjang gadis kecil itu.

Wanita dalam layar robot itu tersenyum ramah. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Cassandra, robot pintar yang siap membantu, khususnya dalam urusan pekerjaan rumah tangga. Bisa dibilang, ia juga merupakan 'otak' dari seluruh perangkat elektronik di rumah itu, mulai dari lampu, TV, kompor, lemari es, sampai pintu. Sebagai asisten rumah tangga berbasis AI, Cassandra bisa diandalkan dalam membersihkan rumah, memotong rumput, dan menyiapkan bahan-bahan masakan. Juno, si bungsu yang polos, langsung akrab pada Cassandra dan menjadikannya sebagai sahabat. Bagi gadis kecil itu, Cassandra seperti ibu asuh yang baik dan hangat. Ia seringkali menghibur dan menemaninya saat kesepian.


Tapiiii kehangatan itu perlahan memudar. Cassandra mulai menunjukkan sisi gelapnya. Ia jadi posesif terhadap keluarga itu, dan entah kenapa benci banget sama Samira. Suatu malam, bagian rumah tiba-tiba terbakar. David mencurigai Samira, karena ia adalah yang terakhir ada di situ dan menyalakan proyektor. Samira bersikeras bahwa dia udah mematikan proyektor sebelum pergi tidur. Tapi kecurigaan David diperkuat dengan pernyataan Cassandra yang menyebutkan bahwa Samira yang mabuk malam itu adalah penyebabnya. Kejadian demi kejadian terjadi, dan semuanya terjadi seolah kesalahan Samira. Samira yang frustrasi karena semua hal gila itu pun mulai mencari tau siapa wajah di balik robot Cassandra.

Ia diam-diam pergi ke gedung arsip kota dan mencari tau pemilik terdahulu rumah itu. Benar aja, ketika ditelusuri, rupanya dulunya rumah itu milik pasutri bernama Cassandra dan Horst Schmitt. Cassandra meninggal pada tahun 1972 karena sakit. Di tahun 1973, Horst dan putranya, Peter, tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Anehnya, robot Cassandra ada di lokasi kecelakaan tersebut dan nampak pada foto. Samira pun membawa potongan arsip itu untuk ditunjukkan pada David. Namun di luar dugaan, David malah mengira Samira terkena gangguan mental pasca meninggalnya sang kakak. Menurutnya, Cassandra nggak lebih dari sebuah robot AI yang mempelajari kebiasaan pemiliknya berdasarkan algoritma.

Puncaknya terjadi saat Emily, teman sekolah Juno, datang berkunjung dan bermain petak umpet. Saat Emily bersembunyi di dalam kompor, Cassandra mengunci pintu kompor itu dan memanaskannya hingga kulit gadis kecil itu melepuh. Dia juga memutarbalikkan fakta, membuat seolah Samira yang kehilangan kendali dan melakukan hal gila itu. Akibat kejadian itu, David membujuk Samira untuk tinggal di pusat terapi selama beberapa waktu guna menangani masalah mentalnya.


And here it goes. Pasca keluarnya Samira dari rumah itu, Cassandra mengambil alih semuanya, menggantikan peran Samira, mengurung David, Fynn, dan Juno di dalam rumah yang kini terasa kayak penjara bagi mereka. Ketika itu lah, David baru sadar bahwa apa yang diceritakan Samira selama ini adalah benar.

Jadiiii, siapa sih sebenarnya Cassandra ini? Dan kenapa dia bisa sebenci itu sama Samira dan pingin merebut posisinya di dalam keluarga Prill?


Cassandra adalah seorang ibu yang hidup bersama suaminya, Horst, seorang ilmuwan ambisius, dan putra mereka, Peter. Namun Horst bukanlah sosok ayah yang baik. Ia kerapkali menghina Peter, karena menurutnya, Peter terlalu 'lembek' kayak anak perempuan dan nggak bisa jadi seperti apa yang Horst inginkan. Sedangkan Cassandra sebaliknya. Ia menyayangi sang putra sepenuh hati dan selalu mendukungnya, apapun yang terjadi. 

Singkat cerita, Cassandra mengandung anak kedua. Di kehamilan Cassandra yang kedua ini, Horst sangat berharap janin yang dikandung istrinya itu berjenis kelamin laki-laki. Saking ambisius dan penasaran, Horst nekat menggunakan alat USG eksperimentalnya yang ia klaim bisa 'menembus' rahim dan menghasilkan gambar janin yang jelas. Namun rupanya, alat itu belum sempurna.

Akibat hal itu, Cassandra pun mengalami pendarahan hebat, dan anak yang dikandungnya (yang ternyata perempuan) jadi terlahir cacat. Horst berkeinginan untuk membuang bayi itu karena malu, tapi Cassandra bersikeras untuk merawatnya meskipun dengan syarat, anak yang diberi nama Margarethe itu nggak boleh diketahui keberadaannya oleh siapapun.

Cobaan Cassandra nggak cuma sampai di situ. Horst berselingkuh dengan Birgit, sahabat Cassandra sendiri. Cassandra juga harus menerima kenyataan bahwa dirinya mengidap kanker akibat radiasi dari alat USG ciptaan suaminya. Karena radiasi tersebut, kanker itu menyebar cepat, sehingga nggak memungkinkan buat sembuh.

Menyadari dirinya nggak bisa hidup lebih lama, Cassandra pun meminta pada suaminya untuk menanamkan pikiran dan kepribadiannya ke dalam sebuah robot, agar ia bisa terus 'hidup' dan menjaga kedua anaknya. Tapi yang namanya robot kan pasti beda dengan manusia ya. Harapan Cassandra untuk tetap dekat dengan anak-anaknya pun pupus, karena Peter bahkan merasa asing dengan wujud ibunya sekarang. Horst yang nggak lagi bisa merasakan 'sentuhan' istrinya pun jadi nggak segan lagi membawa selingkuhannya ke rumah, bahkan di depan robot Cassandra.

Suatu hari mereka bertengkar. Horst ingin membawa Birgit, bayi hasil perselingkuhan mereka, dan juga Peter dari rumah itu. Tapi Cassandra menahan mereka. Bukan mencegah mereka pergi, melainkan semata-mata agar mereka membawa serta Margarethe, karena sadar dirinya nggak bisa mengurus Margarethe sendirian dengan tubuh robotnya. Horst setuju, namun rupanya ia berkhianat.

Ketika Cassandra lengah, Horst kabur bersama Birgit, bayi hasil perselingkuhannya, dan juga Peter. Peter yang merasa keberatan untuk meninggalkan Margarethe pun cekcok dengan sang ayah di dalam mobil, hingga akhirnya kecelakaan tragis yang merenggut nyawa Horst dan Peter itu terjadi, meninggalkan Cassandra yang kini menjadi robot dengan luka batin yang membeku. Kesedihan, pengkhianatan, dan rasa bersalah itu mengubahnya menjadi sosok robot psikopat yang iri pada keluarga harmonis dan berusaha merebut peran ibu di dalamnya, seperti yang ia lakukan pada keluarga Prill.

Sumpaaah, menurutku, back story-nya heartbreaking banget. Terlepas dari sosok robotnya yang mengerikan, tapi Cassandra ini dulunya istri sekaligus ibu yang baik banget. Bayangin aja, suaminya selingkuh, tapi dia memilih memendam rasa sakit hatinya sendirian. Dia tetap melayani suaminya dengan baik. Ketika ajalnya di depan mata pun, Cassandra masih terbersit ide gila untuk hidup abadi dengan menjadi robot, demi bisa membersamai anak-anaknya. Dia sadar, Peter dan Margarethe masih membutuhkannya, karena Horst nggak mencintai mereka. Sebaliknya, Horst ini jahat dan manipulatif banget. Bukan cuma karena dia selingkuh, tapi dia bahkan sama sekali nggak minta maaf atas kecerobohannya yang membuat istrinya sakit dan putrinya cacat seumur hidup.

Tapi robot Cassandra dalam serial ini tuh overpower banget menurutku. Di serial ini dijelaskan bahwa Cassandra cuma bisa mati atas keinginannya sendiri, jadi dia tuh kayak nggak bisa dikalahkan dengan cara apapun, kecuali adanya pemadaman listrik kota. Dalam sebuah adegan, David memukul bagian kepalanya dengan kursi, tapi itu cuma bikin dia 'teler' sejenak. Kenapa nggak matiin aja pusat kelistrikan di rumahnya? Well, di serial itu juga diceritakan kalo di basement rumah itu tuh ada alat pengontrol dan tuas besar yang berfungsi mematikan robot Cassandra, tapi ternyata tuas itu tuh sejak awal dibuat palsu, dalam artian nggak berfungsi apa-apa. Sementara David, Fynn, dan Samira juga nggak berani ngutak-atik alat pengontrol, karena mungkin takut robotnya makin menggila.

Asli, aku gemas banget pingin bisikin David, Fynn, dan Samira : Coba itu robot Cassandra cemplungin aja ke kolam renang, biar konslet. Siram sekalian alat pengontrol yang ada di basement, juga layar-layar yang nampilin muka Cassandra. Habis itu tembakin semua itu pakai pistol yang ada di kotak senjata di bawah ranjang David dan Samira, biar lebih puas. Kelar urusan! Iya nggak sih? Gimana menurutmu?

Sabtu, 08 Maret 2025 0 komentar

BUKU : SURAU by Mystic Waves. Kepada Siapa Kamu Menyembah?

Another book by Mystic Waves alias mwv.mystic, yang singkatnya kita sebut MWV aja lah yaa. Dari empat buku karya mereka, ini buku ketiga mereka yang kupunya. Lucunya, aku sempat berpikir bahwa ini benar-benar buku ketiga mereka. Wkwkwk. Asli, malu banget waktu adminnya ngepost foto buku terbarunya ini di Instastory akun pribadinya dengan caption "anak keempat" gitu, aku komen, "Satunya apaan?", dan malah tadinya aku pikir anak satunya itu anak beneran a.k.a his daughter (ngaco banget, Ya Allah, untung nggak disebut di komen). Wkwkwk. Aku lupa kalo aku nge-skip buku ketiga mereka yang berjudul Jaga Mayit. Well, the story is good tho', as always. Hanya aja kupikir, untuk Jaga Mayit ini, baca versi feed pun cukup buatku.

Nah, berbeda dengan dua buku sebelumnya yang pernah kuulas di blog ini (Mereka Ada Vol. 1 dan Mereka Ada Vol. 2) yang memuat kisah-kisah dari narasumber sekaligus pengikut MWV, cerita Surau berasal dari urband legend yang beredar di sebuah daerah di Sumatera Barat tentang adanya sebuah surau yang dijadikan lokasi gantung diri. Dalam sebuah live streaming bersama Penerbit Moka di Instagram, Admin AGP menjelaskan bahwa penutur kisah ini adalah ibunya sendiri, yang mengalami langsung masa ketika peristiwa tersebut terjadi. Cerita yang disampaikan sang ibu kemudian dikembangkannya menjadi sebuah novel yang sarat dengan pesan-pesan mendalam dan 'bumbu' horor khas MWV.

MWV mulai memposting Surau di akun Instagramnya pada akhir bulan September 2023 dan selesai pada awal Desember 2023. Mungkin karena melihat banyaknya respon positif dari para pembaca, plus dukungan atas ide untuk menerbitkan kisah Surau versi cetak yang disampaikan lewat Instagram Channel-nya, akhirnya Admin AGP memutuskan untuk mencetak novel fisiknya.

Pre-order dibuka pada tanggal 24 sampai dengan 28 Januari 2025. Aku memilih checkout di pre-order hari kedua alias tanggal 25, karena kupikir harganya bakal jadi lebih murah dengan adanya event payday sale, tapi ternyata sama aja. Wkwk. But, at least aku dapat diskon live sih. Lumayan kaget juga waktu kulihat tanggal estimasi pengirimannya jatuh di menjelang akhir bulan Maret. Tapi alhamdulillah, di tanggal 11 Februari, buku ini udah sampai ke tangan.

Ada tiga paket yang ditawarkan pada program pre-order ini : Paket Baruak, Paket Niko, dan Paket Marhan. Aku sendiri memilih Paket Niko dengan merchies berupa sebuah kalender, selembar fan-art, sebuah pouch, selembar stiker, dan sebuah kitab hitam (buat nyatet dosa ceunah). Tadinya kukira kitab hitam ini bakal mirip-mirip Death Note. Wkwk. Tapi ternyata lebih kayak buku notes kecil gitu. Aku suka banget pouch-nya. Di paket pre-order Mereka Ada Vol 2 yang kubeli dulu juga MWV ngasih merch berupa pouch sih. Tapi tipis dan kecil gitu, kupakai buat naruh charger dan earphones. Tapi pouch yang dikasih di pre-order Surau ini tebel banget dan ukurannya lumayan besar. Kurasa muat buat tempat mukena travel.

Alright, now let's dive into the book!



Niko dan Marhan adalah sepasang sahabat yang sama-sama menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren di Sumatera Barat. Mereka memiliki latar belakang dan kepribadian berbeda. Niko merupakan keturunan asli Minang. Pribadinya yang riang, penuh semangat, cuek, humoris, dan ceplas-ceplos membuatnya sangat easy-going. Sedangkan Marhan merupakan pelajar pindahan dari pulau Jawa. Berbanding terbalik dengan Niko, Marhan lebih pendiam, agak pemalu, dan emosional. Meskipun begitu, Marhan adalah pelajar yang berprestasi hingga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke Mesir.

Namun sebelum keberangkatannya ke Negeri Piramida, Marhan berkeinginan untuk menikah dengan pujaan hatinya yang merupakan salah satu santriwati di pondok pesantren yang sama, Salma. Oleh karena itu, di hari kelulusan, dengan 'didorong' Niko, Marhan menghadap ayah Salma dan mengungkapkan niat untuk meminang putrinya. Niat itu disambut baik oleh ayah Salma yang dikenal dengan nama Datuak Kayo itu. Pak Datuak pun meminta Marhan untuk datang ke rumahnya agar mereka bisa ngobrol lebih jauh.

Long story short, tiga hari kemudian setelah pertemuan di hari kelulusan itu, dengan ditemani Niko, Marhan menepati janjinya untuk menemui Datuak Kayo di rumahnya, di sebuah kampung bernama Limau Bareh. Berbekal segudang prestasi dan ilmu agama yang dimilikinya, Marhan merasa cukup percaya diri. Namun rupanya, dua hal tersebut belum cukup bisa meyakinkan ayahanda sang pujaan hati. Ada satu tantangan lagi yang harus dipenuhi Marhan untuk bisa meminang Salma, yakni meramaikan kembali surau Nurul Falah, rumah ibadah yang didirikan Datuak Kayo yang telah lama ditinggalkan jamaahnya. Mendengar hal itu, Marhan dan Niko tertegun. Rumah ibadah seharusnya menjadi pusat kehidupan, bukannya ditinggalkan dan dilupakan. Bersama Niko, Marhan pun menerima tantangan itu. 

Tapi, perjuangan mereka nggak semudah yang dibayangkan. Di tengah usaha Marhan dan Niko menghidupkan kembali nurani warga kampung Limau Bareh, berbagai kejadian aneh di luar nalar terjadi, mulai dari gangguan pocong, penampakan dan bayangan wanita yang gantung diri, serta gangguan-gangguan mistis lainnya, mengguncang hati dan keyakinan mereka. Niko yang semula termotivasi untuk mengajak anak-anak kampung belajar mengaji dan menuai pahala, mulai ragu untuk melanjutkan perjuangannya. Namun Marhan yang meyakini bahwa ini adalah tantangan terakhir untuk bisa mendapatkan restu Datuak Kayo, bersikukuh untuk tetap bertahan. Mampukah Marhan membuktikan dirinya di tengah misteri yang meliputi kampung Limau Bareh, atau justru terjebak dalam ambisi yang perlahan menggerogoti ketulusannya?

 ***

Well, seperti yang udah kusebutkan di awal, buku ini nggak hanya menawarkan kisah yang ngeri dan menegangkan, tapi juga banyak pesan-pesan positif yang bisa kita petik di dalamnya, khususnya buat kita-kita yang beragama Islam ya. Aku bener-bener menyayangkan salah satu tokoh agamis dalam kisah ini (yang nggak bisa aku sebutkan, karena bakal jadi spoiler). Selama hidupnya dia baik dan merupakan ahli ibadah, tapi gara-gara 'kepeleset' minta tolong dukun, akhir hidupnya jadi setragis itu. 

Buatku pribadi, kisah dalam buku ini membuatku merenung, bahwa betapa celakanya kita jika menempatkan rasa cinta terhadap manusia di atas rasa cinta kita terhadap Tuhan, dan bahwa kadar keimanan seseorang itu naik turun. Kadang seseorang bisa merasa dekat banget sama keyakinannya, tapi ada saat-saat tertentu di mana keraguan membuat iman itu goyah, dan Tuhan bisa dengan mudahnya hinakan seseorang agar kita sadar bahwa Tuhan itu nggak main-main dalam urusan keyakinan.

Daaaan.. sebagai pembaca cerita-cerita MWV sejak 2016, aku merasakan banget penulisan adminnya yang makin baik, mulai dari yang apa adanya sesuai penyampaian narasumber, sampai penulisan seperti sekarang yang begitu detail sampai terasa 'hidup', bahkan menyentuh hati pembaca. Beberapa waktu sebelum kisah Surau ini dipost di feed Instagram MWV, aku sempat melihat Admin AGP memposting sebuah buku berjudul Save The Cat! Write a Novel karya Jessica Brody di Instastory akun pribadinya. Lewat Instastory-nya itu dia mengungkapkan bahwa saat itu dia baru selesai baca buku itu.

FYI, buku Save The Cat! Write a Novel ini bukan novel ya, melainkan buku yang menjelaskan tentang gimana caranya menulis novel dengan baik dan menarik. Bukan soal gaya bahasa atau keindahan kata-kata, tapi lebih kepada gimana caranya membangun plot yang kuat dan menyusun narasi yang memikat. Nah, ternyata bener, Surau adalah cerita pertama yang dia tulis dengan menerapkan ilmu-ilmu yang dia ambil dari buku Save The Cat! Write a Novel ini. Boom banget sih, penerapannya sukses lho.

Tapi memang Gamang Ranah Minang—tulisan-tulisan karya MWV yang berlatar belakang di Minangkabau, Sumatera Barat—nggak ada yang gagal sih. Selain Surau, kisah yang paling aku suka adalah Kemarin Paman Pulang yang diangkat dari sebuah tragedi pembunuhan yang dilakukan seorang kakak terhadap adik kandungnya sendiri di Kabupaten Agam. Kalo nggak salah, Admin AGP pernah mengungkapkan bahwa pelaku dan korban ini masih ada hubungan keluarga dengan dia. Trus ada juga Palasik Mayik yang nggak hanya kuharapkan bakal jadi the next book after Surau, tapi juga berharap banget bisa difilmkan, karena jujur, bosen banget nggak sih lihat film-film horor Indonesia itu latar belakangnya dari Jawa melulu? 😔

Oke, back to the Surau yah. Menurutku di buku ini ada beberapa tulisan yang sedikit mengganjal buatku dan kayaknya perlu revisi deh.
  1. Di halaman 77-79, diceritakan Marhan sedang sholat tahajud dan memasuki rokaat kedua. Tapi di menjelang akhir bacaan Al Fatihah-nya, tiba-tiba dia denger suara kayak orang tercekik gitu di belakangnya. Karena suara itu terdengar beberapa kali, konsentrasi Marhan pun terpecah. Dia pun memutus sholatnya dan berbalik. Ketika itulah Marhan melihat sesosok penampakan yang bersuara kayak orang tercekik tadi. Tapi anehnya di halaman 79 ditulis, "Dalam posisi duduknya, ia menyaksikan sosok itu yang semakin tinggi dan melayang." Menurutku, bagian ini rancu, karena Marhan kan tadi sedang baca Al Fatihah ya, yang berarti dia tuh sedang dalam posisi berdiri. Kok tiba-tiba posisinya jadi duduk? Kecuali kalo sebelumnya diceritakan bahwa dia kaget sampai jatuh terduduk.
  2. "Niko yang sebelumnya diam, kini segera bergerak dan bacaan-bacaan Darwis agar tidak sampai melukai sahabatnya". (Hal. 99)
    Kalimat ini rasanya kurang bisa dipahami dan bahkan janggal menurutku. Kayaknya harusnya ditulis "... kini segera bergerak agar Darwis tidak sampai melukai sahabatnya" kali yaa.
  3. "Namun ternyata teror jin yang sudah tidak bisa ia tahan hingga membuat kepercayaan kecokelatan itu goyah". (Hal. 117)
    Kalimat ini juga janggal banget. Kata 'kecokelatan' itu kayaknya nggak seharusnya ada di situ.
Dan selain tulisan-tulisan yang janggal di atas, banyak juga kutipan-kutipan yang bagus banget buat dijadikan renungan.
  1. "Quran itu bisa sekadar sampai tenggorokan saja jika tidak ada akhlak yang baik dan keimanan yang kuat. Lama kelamaan ia akan terangkat, lalu tanpa kalian sadari, ketika ia tidak lagi kalian jaga, ia akan menghilang. Maka genggamlah dengan erat. Jaga dia hingga kita bertemu dengan maut yang sudah Allah janjikan". (Hal. 10)
  2. "Kecintaan manusia dengan manusia lainnya itu harus ada di bawah kecintaan manusia pada Allah, Bang... Kalau Abang cinta sama Allah, Allah akan selalu ada, Bang. Tapi kalau Abang cinta sama aku, aku nggak akan selalu ada. Ada waktunya nanti masing-masing orang selesai". (Hal. 252)
  3. "Ingin dipuji hanyalah satu cabang di antara cabang-cabang riya. Riya secara garis besar adalah menjadikan makhluk ciptaan Allah sebagai alasan kamu beribadah.... Maka dari itu Allah memberikan tempat yang begitu mulia bagi orang-orang yang ikhlas dalam beribadah atas dasar ketakwaan. Dan yakinlah, ikhlas dan riya ini sebenarnya hanya dibatasi oleh satu benang tipis yang sangat sulit dikira-kira oleh manusia.... Allah itu Maha Membolak Balikkan Hati seseorang. Tentu orang akan memberikan rasa ikhlas itu hadir bagi hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Namun bukan berarti kita hanya menunggu hidayah datang begitu saja, kita harus sadar akan apa yang kita lakukan, apakah sudah terjerumus ke riya atau masih berada di jalan yang lurus. Kalau kita sudah terjerumus, segera muhasabah diri dan kembali ke hakikatnya seorang hamba melakukan ibadah. Mohon ampun atas kesalahan kita, dan minta Allah kokohkan kita lagi dalam keikhlasan serta keistiqomahan." (Hal. 333-334)
  4. "Karena riya ini adalah seburuk-buruknya pencuri amal. Kalian punya ibadah apa saja, maka ia akan disapu bersih Allah begitu saja". (Hal. 334)
  5. "Allah ciptakan kematian dan perpisahan agar hamba-Nya hanya boleh berharap pada-Nya. Satu-satunya Dzat yang kekal dan selalu ada. Bukan pada makhluk yang akan mati dan binasa. Allah ancamkan orang-orang dengan neraka agar seseorang tidak bertindak sewenang-wenang selama hidupnya. Namun ini bukan bentuk Allah menyengsarakan manusia, karena Allah juga memberikan janji akan mengampuni seluruh dosa orang-orang yang bertaubat tanpa terkecuali dengan sifat Maha Pemurah dan Maha Penyayang yang Dia miliki. Allah memberikan kita rasa takut, agar kita berharap dan menggantungkan diri hanya kepada diri-Nya, yang menciptakan rasa takut itu sendiri". (Hal. 347)
That's all, Guys. Menurutku sih worth reading banget yah. Buat yang penasaran dengan cerita lengkap perjuangan Marhan dan Niko, langsung aja simak ceritanya di Instagram @mwv.mystic kalo kamu kaum mendang-mending dan suka bacaan gratis, KaryaKarsa kalo kamu males scroll Instagram, atau bisa juga langsung checkout bukunya di sini.
Rabu, 26 Februari 2025 0 komentar

SQUID GAME SEASON 2 : Mau Jadi Pahlawan, Tapi Kurang Perhitungan

Just watching Squid Game S2!!
Well, empat tahun lalu, pasca nonton Season 1-nya, aku nungguin banget season berikutnya. Tapi meskipun Season 2 udah rilis sejak 2024 lalu, nyatanya baru tanggal 22 kemarin aku bisa langganan Netflix lagi dan nonton ini. Wkwk.

Sooo, Squid Game Season 2 ini rupanya mematahkan tebakanku yang mengira bahwa Seong Gi-hun yang memenangkan permainan di Squid Game Season 1 akan menjadi the next frontman seperti halnya Haymitch di Hunger Games, karena nyatanya Gi-hun justru mengalami trauma mendalam pasca berakhirnya permainan mematikan itu. Meski hidup bergelimang duit di hotel miliknya yang nyaman, tapi Gi-hun nggak bisa melanjutkan hidup dengan tenang karena rasa bersalah dan ketakutan yang terus menghantuinya. Dan alih-alih berangkat ke Amerika buat menemui putrinya, dia malah membatalkannya, dan memilih untuk memburu orang-orang di balik Squid Game. Dia ingin mengakhiri permainan mengerikan itu biar nggak ada lagi korban lainnya.

Gimana Gi-hun memburu orang-orang di balik Squid Game ini? Jadi pertama-tama, dia melacak jejak si sales Squid Game, atau apa sih kita nyebutnya? Perekrut misterius kali ya. Itu lho, pria berjas yang pertama kali mengajak Gi-hun buat taruhan main ddakji. Dengan kekayaan yang dimilikinya, Gi-hun membayar orang-orang yang bersedia untuk mencari si perekrut misterius itu. Dari pencarian itu, Gi-hun terpaksa harus menelan kenyataan pahit bahwa Squid Game akan kembali digelar dengan 456 peserta baru.

Oh ya, ingat kan sama detektif muda yang ditembak kakaknya di pulau misterius? Di Season 1, aku kira dia mati, tapi rupanya dia masih hidup dan diselamatkan oleh seorang pelaut. Hwang Jun-ho nama detektif ini. Kepergiannya ke pulau misterius itu bukan tanpa alasan, melainkan ingin mencari kakaknya, Hwang In-ho, yang ternyata menjadi the next frontman, menggantikan almarhum Oh Il-nam. 

Nah, di Season 2 ini, Gi-hun dan Jun-ho bekerjasama. Gi-hun memutuskan untuk terlibat kembali dalam permainan itu. Misinya bukan lagi ingin mendapatkan hadiah, tapi ingin 'menghancurkan' permainan itu dan orang-orang yang menjadi dalang di baliknya. Ia pun kembali membayar orang-orang, khususnya yang memiliki latar belakang militer untuk menjadi tim suksesnya. Ia bahkan memberi kebebasan pada orang-orang ini untuk berlatih senjata di hotel miliknya. Jadi di hotel ini, Gi-hun menyediakan sebuah space rahasia yang diperuntukkan buat menaruh dan berlatih senjata api gitu.

Menjelang hari keberangkatan Gi-hun menuju pulau misterius—tempat di mana Squid Game kembali diadakan—Gi-hun memasang GPS di balik gigi gerahamnya, biar Jun-ho CS bisa mengikutinya saat ia dibawa oleh prajurit Squid Game, dan mereka bakal gerebek semua orang di balik Squid Game. Apes, salah satu dari tim sukses Gi-hun ternyata adalah pengkhianat. Jun-ho CS kehilangan jejak Gi-hun, dan Gi-hun terpaksa harus kembali bertaruh hidup dan mati dalam permainan.

Karena Gi-hun ini adalah 'alumni' Squid Game, jadilah dia kayak 'leader' bagi para peserta. Dia banyak bikin strategi dan ngasih bocoran gitu ke peserta-peserta yang lain, walaupun kadang bocoran yang dia kasih itu meleset dan bikin peserta lain jadi kurang percaya lagi sama dia. Jujur, aku awalnya dukung dia, like, wajar lah dia kayak gitu, karena dia kan nggak pingin Squid Game memakan banyak korban lagi kayak dulu. Tapi, menjelang akhir film, aku akhirnya denial sama strategi terakhirnya Gi-hun yang mencetuskan pemberontakan. I was like, "Gila, kau, Gi-hun. Memangnya kau pikir pasukan kau sebanyak apaaaa? Yakin bisa melumpuhkan orang-orang Squid Game yang prajuritnya aja banyak banget dan terlatih?"

Aku juga menyayangkan peran Jun-ho di sini yang kayak nggak membantu sama sekali, padahal aku yakin penonton lain juga berharap banyak sama dia. Dia kan udah tau nih, bahwa kakaknya terlibat dalam Squid Game. Andai dia kasih tunjuk foto kakaknya ke Gi-hun dari awal, Gi-hun mungkin bakal lebih aware dan nggak akan dicurangi peserta 001 buat yang kedua kalinya.

Selain itu, jujur, Squid Game S2 ini kinda boring menurutku. Kebanyakan dan kelamaan di adegan voting. Aku juga kecewa banget sama akhir ceritanya yang menggantung. Makanya aku berharap banget Gi-hun dan Jun-ho—dua orang yang jadi center tapi malah jadi useless di Squid Game S2ini bakal bikin gebrakan yang boom gitu di S3-nya.

Sebaliknya, tokoh banci yang jadi salah satu peserta Squid Game dan awalnya kuanggap nggak penting malah ended up being my favorite character di sini. Awalnya aku pikir dia cuma 'bumbu' biar filmnya lucu dan nggak boring, kayak tokoh-tokoh banci pada umumnya : konyol, pengecut, heboh sendiri. But I was wrong. Ternyata dia keren banget cuuuuyyy, nggak bodoh dan sekedar pelengkap kayak yang kupikir. Dia ngajarin kawan-kawannya cara menggunakan senjata. Dan menjelang akhir film, haiiissshh.. dia badass banget, gilaaa.. Dengan gagah berani, dia maju ke medan perang meski hanya sendirian, dan dengan peluru yang tersisa sedikit. He acts so damn manly, bahkan lebih manly daripada peserta lain yang manly dari look doang. Aku berharap banget dia survive untuk bikin cerita di season berikutnya makin epic.



Put_

Total Tayangan Halaman

 
;